Chapter 1 — Jadi Inilah yang Namanya Sihir……
“……jadi,
kapan mimpi ini bakalan berakhir?”
Masachika yang melangkah keluar ke kota kastil,
menggerutu lelah ketika melihat
pemandangan jalanan yang sangat khas abad pertengahan. Setelah itu, agar tidak terlibat
dalam kegilaan Sang Ratu, mereka bertiga dibawa keluar dari ruang singgasana dengan penjelasan dan persiapan
yang minim, dan segera dievakuasi (atau diusir?) keluar dari kastil.
Dari balik gerbang kastil yang ada di belakang mereka, suara bising dari
kehancuran kastil masih terdengar.
“Meski begitu.... menjelaskannya juga agak
konyol sendiri, memanggil orang biasa dari
dunia lain tanpa memberikan pelatihan bertarung atau pemandu, hanya memberikan
uang dan perlengkapan, lalu berkata ‘semoga berhasil’… seriusan?”
“Mereka sangat tidak ramah… maksudku, permintaan mereka
benar-benar tidak masuk akal.”
“Sudah, sudah, Chisaki-chan… atau bolehkah aku memanggilnya Chisaki-chan? Pokoknya, setidaknya mereka telah
berusaha untuk tidak melibatkan kita dalam kekacauan Ratu, ‘kan?”
Alisa
menghela napas dengan ekspresi muram, sementara Maria mencoba menenangkan
dengan senyum canggung. Namun, Alisa masih tampak tidak puas dan menoleh ke
arah kastil… yang masih mengeluarkan suara kehancuran.
“Lagipula…
jika ratunya begitu kuat, mereka tidak perlu memanggil kita segala, iya ‘kan?”
“Hmm~…”
Maria
tidak bisa membantah logika tersebut
dan hanya bisa tersenyum canggung. Di saat itu, Masachika menghela napas dan
berkata.
“Ya~ aku juga merasa tidak yakin, tapi
jika dipikir-pikir lagi, ada
pola umum di mana dewa tidak langsung turun tangan karena dapat mempengaruhi
hukum dunia, jadi mereka mengirim utusan sebagai gantinya. …Tapi aku belum
pernah mendengar bahwa dunia bakalan hancur jika
Ratu mengamuk.”
“Mereka menyebut ‘aura’ atau apa gitulah… apa? Memangnya Sarashina-senpai adalah raja penakluk?”
“Raja
iblis melawan raja penakluk....kedengarannya
seperti pertarungan epik,
ya~”
Sementara
mereka bertiga berdiskusi demikian, pakaian mereka telah berubah
drastis dari seragam sebelumnya.
Alisa
mengenakan baju berwarna putih dan biru dengan zirah
perak di atasnya, serta membawa pedang bergaya Barat
di punggungnya. Maria mengenakan pakaian pendeta
putih bersih dan memegang tongkat perak. Dari pakaian ini, bisa ditebak bahwa profesi Alisa adalah sebagai
pahlawan, sedangkan Maria adalah seorang Saintess.
(Yah…
meskipun ini juga seharusnya tidak perlu dicurigai, tapi jika dipikir-pikir dengan tenang,
perlengkapan ini cukup
aneh…)
Pakaian pendeta wanita Maria masih
dapat dimaklumi. Jika dikatakan itu pakaian yang meningkatkan kekuatan suci, rasanya masih bisa diterima. Namun,
meskipun begitu, pakaian yang seharusnya melambangkan kesucian ini anehnya
menunjukkan lekuk tubuh dan terlihat seksi, dan ada belahan yang tidak perlu yang
memperlihatkan kulitnya sehingga kelihatan
sangat tidak pantas. Seolah-olah menguji akal sehat para pria yang terperangkap
dalam nafsu duniawi.
Meskipun begitu, jika dikatakan bahwa pakaian
pendeta di dunia lain memang seperti ini, Masachika masih bisa sedikit menerimanya. Menjadi Saintess berarti berada di posisi
dukungan, jadi meskipun tampaknya tidak memiliki pertahanan, itu masih bisa
diterima. Masalahnya adalah Alisa yang jelas-jelas seharusnya menjadi orang yang bertarung di garda depan.
(Tidak, area kepalanya benar-benar terbuka
sepenuhnya.)
Melihat
perlengkapan Alisa yang sama sekali tidak menyembunyikan kecantikan luar
biasanya, Masachika menggerutu dalam hati.
Penampilannya
lebih mirip… seperti fashion daripada
baju zirah. Meskipun ada bagian-bagian
tertentu yang dilindungi oleh zirahnya,
hal itu bahkan tidak bisa menutupi
titik-titik vital dengan baik. Bagian perut dilindungi dengan zirah logam, tetapi yang lebih
penting, bagian dada entah kenapa hanya menggunakan pakaian biasa saja. Lindungi jantungmu dengan baik napa!
(Tidak,
mungkin… dia tidak bisa menemukan baju zirah yang pas?)
Masachika
dengan cepat mengalihkan pandangannya
dari pelindung dada Alisa yang sangat mencolok (buatan alami)
dan membersihkan tenggorokannya dengan ringan. Ya, baiklah, kita anggap saja
tidak ada zirah wanita
yang tersedia. Jika dipikir-pikir, mengenakan baju
zirah adalah hal yang umum bagi pria di dunia ini, jadi
itu tidak sepenuhnya tidak masuk akal. Namun… apa yang terjadi dengan kepala
yang seharusnya dilindungi sama atau bahkan lebih dari dada, hanya memakai
sesuatu yang mirip mahkota atau hiasan rambut yang terinspirasi dari sayap,
yang jelas-jelas bukan
helm pelindung? Dan entah kenapa, dia juga
mengenakan rok mini. Pahanya yang
terlihat jelas dengan pembuluh darah yang tebal membuatnya sangat terbuka. Bertarung
dengan pakaian seperti itu pasti
akan memperlihatkan celana dalamnya.
(Anehnya, cuma aku satu-satunya yang
berpakaian paling tertutup di sini…)
Sementara
itu, Masachika sendiri mengenakan jubah hitam dengan tudung, dan di tangannya
ada buku tebal yang tampak sangat berat dengan sudut yang diperkuat dengan
logam. Dia seharusnya berprofesi sebagai Mahardia,
dan buku ini tampaknya adalah buku sihir, jadi bisa
dibilang bahwa penampilannya
merupakan perlengkapan yang ortodoks.
“Menu.”
Ketika dirinya mengucapkan kata-kata seperti
yang dijelaskan oleh orang-orang di kastil, sebuah jendela biru semi
transparan muncul di depan matanya.
Layarnya terbagi menjadi dua bagian, di
sisi kiri terdapat profil seperti nama dan usia serta keterampilan yang
dimiliki dan berbagai nilai status, sementara di sisi kanan ada model 3D yang
rumit yang menyerupai Masachika saat ini. Bisa dibilang, sebelah kiri adalah
jendela status, dan sebelah kanan adalah model perlengkapan. Selain itu, jika
ia mengetuk pakaian pada model perlengkapannya,
jendela kecil akan terbuka dan menampilkan rincian perlengkapan. Juga, di sudut
kanan, ada jumlah uang yang dimiliki, dan jika mengetuk tab kecil di bagian
atas, dia bisa melompat ke layar Alisa atau Maria yang merupakan anggota kelompoknya, jadi ini benar-benar tampak
seperti layar menu. Namun… sayangnya, tidak ada tombol untuk mengakhiri
permainan di sana.
“Hah…
apa yang harus kulakukan? Seriusan,
apa kita tidak bisa kembali ke dunia
nyata kecuali mengalahkan raja iblis?”
Mungkin
seharusnya ia lebih
cemas. Mungkin dirinya
seharusnya lebih merasakan krisis dan mengeluhkan kenyataan bahwa dirinya terlempar ke dunia lain yang
dipenuhi monster dan ras iblis. Namun… suasana dunia yang sangat terasa seperti
permainan ini, orang-orang yang sangat tidak berkepribadian. Dan yang paling
penting, keberadaan orang-orang yang dikenalnya yang entah bagaimana telah
menjadi karakter utama di dunia ini, entah bagaimana merampas sensasi realitas Masachika.
“Ini
jelas-jelas Ketua, ya ‘kan?… meskipun ini adalah ketua
sebelum dirinya menjadi
ketua.”
Masachika bergumam demikian ketika melihat
gambar sketsa yang diberikan sebagai target penyelamatan. Anak laki-laki yang
digambarkan di sana memanglah Tooya, yang pernah ia lihat
sebelumnya saat baru menjadi siswa SMA.
“Ratunya adalah Sarashina-senpai, dan putri adalah ketua…? Jika
begini, apa Yuki dan Ayano juga akan muncul di suatu tempat?”
“Ahaha,
mungkin saja~”
“Jika mereka berdua adalah perwakilan umat manusia…”
Sampai di
situ, Alisa seketika terdiam.
Namun, Masachika dengan mudah bisa menebak apa yang ada di pikirannya.
“Mungkin bisa jadi raja
iblisnya adalah Yuki. Dan ajudan pribadinya adalah Ayano?”
Alisa menatap Masachika dengan sedikit
menegur ketika ia dengan santai mengatakan sesuatu yang sengaja dia rahasiakan.
Setelah itu, dia menghela napas sebelum berkata kepada Masachika yang tersenyum
lebar.
“Jika memang benar begitu, mungkin kita bisa
menyelesaikannya dengan berdiskusi. Lagipula,
tidak ada gunanya kita tetap berada di
sini, jadi kita harus segera bergerak.”
“Ya,
benar. Meskipun aku tidak
terlalu peduli dengan tatapan orang-orang… tapi rasanya
masih agak tidak nyaman.”
Meskipun mereka mengenakan pakaian yang sangat
mencolok, orang-orang yang lewat di jalan tidak memperhatikan mereka sama
sekali. Mereka hanya bergerak bolak-balik di jalan seperti NPC yang diprogram
untuk bertindak, dan itu terasa sangat menyeramkan ketika dilihat secara
langsung, membuat Masachika sedikit menggigil. Dan, meskipun sudah berapa kali
ia melakukannya, alih-alih mencubit pipinya, ia
menggigit bagian dalam pipinya dengan kuat.
(Hmm…
tidak sakit. Tapi sungguh sensasi yang
aneh, rasanya seperti ditarik atau didorong)
Jadi itu artinya,
ini memang mimpi. Mimpi di mana orang yang melihatnya menyadari bahwa itu
adalah mimpi. Mimpi yang
jelas dan nyata. Namun, Masachika juga
mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya
mungkin terlempar ke ruang permainan dengan sesuatu yang sangat ilmiah, di mana
rasa sakit ditekan dan dirinya dipaksa
untuk bermain dalam permainan kematian, sehingga ia menghentikan kedua orang
yang hendak berjalan.
“Ah, tunggu sebentar. Sebelum kita beneran pergi, aku ingin mencoba sebuah
keterampilan.”
“Eh… apa itu?”
“Lihat
ini, yang namanya 《Pemanggilan Peri》.”
Ketika Masachika menunjuk item di layar
statusnya, Alisa dan Maria juga membuka layar menu dan melihat status
Masachika.
Di sana
ada keterampilan yang tampak seperti keterampilan seorang Mahardika, seperti 《Sihir Elemen Api》 dan 《Sihir Elemen Air》, serta dua keterampilan
unik. Salah satunya adalah 《Pemanggilan Peri》 yang baru saja disebutkan
Masachika. Dan yang lainnya adalah… 《Poin pengalaman yang Didapat Sepuluh
Kali Lipat (kecuali untuk permainan bola). 》
(Tidak, yang ini jelas-jelas lagi mengejekku.)
Situasi
di mana keterampilan yang sering disebutkan oleh adiknya Yuki di dunia nyata
diimplementasikan membuat Masachika merasa kesal. Jika ini benar-benar seperti
yang tertulis, keterampilan tersebut bisa
sangat kuat, tetapi ia tidak bisa menahan perasaan bahwa itu hanyalah lelucon dari seseorang yang
merancangnya. Namun, hak yang
lebih menarik perhatiannya adalah 《Pemanggilan Peri》.
“...Memangnya ada apa dengan ini?”
“Pemanggilan Peri… bukannya itu Salamander atau Undine, dan
semacamnya? Aku bisa memanggil
mereka untuk melakukan serangan besar?”
“Ah, ya,
memang begitu, tapi… kurasa ini lebih condong pada 《Sihir Roh》
atau 《Sihir Pemanggilan》.”
Gambaran
yang diungkapkan Maria merupakan
gambaran panggilan roh yang sering ada dalam permainan. Meski tidak salah untuk menganggapnya
variasi, tetapi… dalam konteks dunia lain, panggilan peri memiliki template
yang berbeda.
“Ini
adalah pola yang sering terjadi dalam panggilan dunia lain atau reinkarnasi
dunia lain, tapi kurasa ini mirip
semacam peri penolong.”
“Peri
penolong?”
“Jika
dalam istilah permainan, seperti peri yang menjelaskan cara mengoperasikan
permainan dalam tutorial? Skill yang memanggil karakter maskot yang membantu
menavigasi dunia lain… Faktanya, lihatlah, keterampilan ini tidak memerlukan
konsumsi MP seperti sihir lainnya, ini adalah keterampilan sekali pakai.”
Di dunia
ini, tampaknya saat menggunakan sihir, MP (Magic Points) harus dikonsumsi, dan
saat menggunakan teknik bela diri, SP (Stamina Points) harus dikonsumsi, tetapi
keterampilan ini tidak mengkonsumsi keduanya. Sebagai gantinya, setelah
digunakan, keterampilan itu sendiri akan menghilang, dan tidak dapat digunakan
lagi.
Ketika
Masachika membaca penjelasan yang muncul setelah mengetuk nama keterampilannya, Alisa dan Maria tampak bingung
dan menggelengkan kepala. Namun, karena keduanya tahu bahwa Masachika lebih
tahu tentang hal ini, mereka segera mengangguk.
“Yah,
baiklah, jika kamu ingin mencobanya.”
“Memang, kurasa
itu ide yang bagus~? Oh, apa sebaiknya
kita menjauh sedikit, ya?”
“Ah… ya,
itu benar. Untuk berjaga-jaga…”
Jika itu keterampilan cheat yang bisa memanggil makhluk
super seperti roh besar atau raja roh, mungkin ada kerusakan di sekitar akibat dampak
panggilan tersebut. Dengan mempertimbangkan kemungkinan itu, Masachika meminta kedua orang itu untuk
bergerak sedikit menjauh.
“Baiklah…
Skill Pemanggilan Peri》, diaktifkan.”
Sambil
merasa sedikit rasa malu, Masachika
mengucapkan kata-kata itu, dan di hadapannya
muncul lingkaran sihir raksasa… atau lebih tepatnya, tidak ada yang terjadi.
Dengan suara ‘pop’ yang sangat mengecewakan dan kepulan asap kecil, Yuki yang berpakaian seperti
iblis kecil muncul di depannya.
‘Huh, apa kamu memanggilku? My Master.’
“Kamu lagi ngapain sih?”
Masachika
melontarkan komentar sarkastik kepada penghuni pikirannya yang telah menjelma.
Kemudian, melihat Yuki yang seukuran telapak tangan dengan seringai yang
benar-benar jahat, ia jatuh tersungkur ke tanah dalam keputusasaan.
‘Oi, oi~
kenapa kamu kelihatan sedih begitu, tuanku? Peri kecil yang sangat imut ini
muncul untukmu, jadi bergembiralah!’
“Siapa yang
kamu bilang peri? Kamu jelas-jelas iblis!”
Melihat Yuki
yang mengepakkan sayap kelelawar dan memiliki tanduk serta ekor, Masachika
menatapnya dengan tatapan tajam. Saat itu, Alisa dan Maria yang sebelumnya
mengamati dari jauh kembali mendekat.
“Umm, Kuze-kun?
Apa jangan-jangan… pemanggilannya sudah selesai?”
“Etto, kami
tidak melihat apa-apa…”
“Eh?”
Ketika
Masachika menoleh ke arah Yuki setelah mendengar kata-kata Maria, Yuki dengan
bangga membusungkan dadanya dan berkata,
‘Fufufu, aku adalah makhluk yang tidak terlihat dan tidak terdengar oleh siapa pun kecuali pemanggilku… dan terlebih lagi, aku adalah eksistensi yang sangat praktis yang dapat berkomunikasi hanya dengan memikirkannya!’
“Yah, karena
sedari awal kamu memang penghuni pikiranku. Dan jangan sebut dirimu eksistensi
yang praktis!”
‘Fufufu,
justru karena aku makhluk yang praktis… aku bisa melakukan hal-hal seperti
ini!’
Setelah
mengatakan itu, Yuki melayang di udara dan… dengan berani mengintip dari bawah
rok Alisa.
“Hey,
jangan! Berhenti!”
‘Hoo… putih.
Putih, ya… hmmm.’
“Hentikan
itu, dasar bodoh!”
Menyaksikan
pelecehan seksual yang terjadi secara terang-terangan di depan matanya,
Masachika secara naluriah mengulurkan tangannya untuk meraih Yuki. Namun,
tangannya justru tidak menyentuh Yuki, melainkan jari-jarinya menyentuh paha Alisa
yang terbuka. Seketika itu juga wajah Alisa langsung memerah.
“!!! Apa
yang kamu lakukan?!”
“Au?!”
Masachika
berdiri sambil berteriak setelah disepak di kakinya. Meskipun tidak ada rasa
sakit yang dirasakan, dirinya melihat bilah HP di sudut pandangnya berkurang
akibat serangan dari karakter petarung garis depan.
“Dasar parah!”
“Ahh~Ahhhh~,
kekerasan itu tidak boleh loh, Alya-chan! Um, sihir penyembuhan, sihir
penyembuhan…”
Sembari mengeluarkan
buku catatan sihir dasar yang diberikan oleh orang-orang di kastil, Maria
dengan canggung menyiapkan tongkat peraknya dan mulai melafalkan mantra.
“【Низший уровень исцеления】”
Pada saat
itu, cahaya berkilau yang keluar dari tongkat perak membungkus tubuh Masachika,
dan bilah HP yang berkurang pulih kembali.
“Terima
kasih, Masha-san.”
“Tidak masalah~”
Sambil
mengucapkan terima kasih kepada Maria, Masachika berpikir.
(Meski
begitu…)
Maria
melanjutkan pembicaraan.
“Tapi mantra
sihir ini beneran dalam bahasa Rusia, ya~”
(Nah itu!!)
Meskipun
dalam hatinya ia sangat setuju, Masachika teringat penjelasan yang kurang jelas
yang diterima mereka di kastil.
◇◇◇◇
“Di sini
adalah senjata untuk para pahlawan. Masing-masing adalah pedang suci, tongkat
suci, dan buku sihir.”
Di dalam
sebuah ruangan di kastil yang masih terdengar suara kehancuran dan getaran,
Masachika dan yang lainnya menerima senjata yang tampaknya legendaris.
“Senjata-senjata
ini memiliki perlindungan ‘Abadi’ dan ‘Pertumbuhan’, yang tidak akan pernah
rusak maupun kotor, dan memiliki kekuatan untuk berkembang kuat seiring dengan
penggunanya.”
Dengan kata
lain, ketika pemiliknya naik level, senjata itu juga secara otomatis akan naik
level. Jika itu pedang suci, ketajamannya akan meningkat atau berbagai
kemampuan akan ditambahkan, jika itu tongkat suci, efek sihirnya akan semakin
kuat atau jangkauan efeknya akan meluas, dan jika itu buku sihir, sihir yang
bisa digunakan akan ditambahkan.
Setelah
mendengar itu, Masachika mengangkat suaranya.
“Tunggu
sebentar. Kami tidak pernah menggunakan sihir sebelumnya, bagaimana caranya
kami menggunakannya?”
“Mengenai
hal itu, jika Anda membaca buku sihir dan melakukan apa yang tertulis di sana,
seharusnya Anda bisa menggunakan sihir…”
“Melakukan
apa yang tertulis…?”
Masachika
membuka buku sesuai arahan dan menatap tulisan yang ada di dalamnya. Dengan
ekspresi serius, dirinya berkata,
“Kenapa ini
dalam bahasa Rusia!?”
Tulisan yang
ada di situ bukan dalam bahasa Jepang maupun Inggris… melainkan sepenuhnya
dalam bahasa Rusia. Sebenarnya, Masachika sudah agak menyadari hal ini sejak
awal. Karena saat dipanggil, tulisan di lingkaran sihir yang bersinar di
kakinya bukanlah rune atau huruf lainnya, melainkan huruf Kiril. Namun,
meskipun ia sudah menduganya, Masachika tetap tidak bisa menerima kenyataan
itu.
(Apa-apaan
ini?! Dalam dunia fantasi, bukannya bahasa Inggris sudah menjadi standar umum
dalam menggunakan sihir! Seperti Fireball, Wind Cutter, atau Stone Wall!)
Jika ini
ditulis dalam bahasa Inggris, mungkin Masachika masih bisa memahami isinya.
Namun, kemampuan bahasa Rusia Masachika terasah melalui pengalaman, sehingga
dia mahir dalam mendengarkan tetapi tidak begitu baik dalam membaca.
Singkatnya, ada bagian dari buku sihir ini yang tidak bisa dibacanya.
(Aku hampir
tidak bisa memahami apa yang harus diucapkan untuk mengaktifkannya.… tetapi,
meskipun ini di dalam mimpi, menggunakan bahasa Rusia di depan Alya rasanya
sedikit──)
“Ah,
omong-omong, mohohn berhati-hatilah saat melafalkan mantranya, karena jika
tidak diucapkan dengan tepat, ada risiko sihir akan meledak. Setiap tahun, ada
banyak orang yang kehilangan nyawa karena ledakan sihir.”
“Bukannya
itu tingkatan mustahil!”
Setelah
menerima nasihat yang mengerikan itu dengan santai, Masachika tidak bisa
menahan diri untuk berkomentar, lalu tiba-tiba ia merasa penasaran.
“Lalu,
bagaimana penyihir biasa berlatih mantra?”
“Tentu saja,
mereka menekan kekuatan sihir mereka agar sihir tidak aktif… Anda juga memiliki
keterampilan pengendalian kekuatan sihir, bukan? Dan level keterampilan Anda
sudah MAX… Apa Anda tidak bisa menekannya? Kekuatan sihir Anda.”
“Aku tidak
bisa menekannya. Lagipula, apa itu kekuatan sihir?”
Setelah
beberapa penjelasan, Masachika tidak bisa merasakan kekuatan sihirnya. Ia
menyimpulkan bahwa meskipun dirinya memiliki kemampuan “mahardika” yang
memungkinkannya untuk mengaktifkan sihir hanya dengan melafalkan mantra,
sebenarnya, ketika ia melafalkan mantra, sihir itu akan aktif secara otomatis
(dan tidak dapat dikendalikan).
“Aku benar-benar
terjebak.”
Dengan
demikian, lahirlah [mahardika yang tidak bisa menggunakan sihir] karena
berbagai alasan.
◇◇◇◇
(Padahal aku
sedikit berharap bahwa keterampilan《Pemanggilan
Peri》 ini bisa membantu mengaktifkan sihir
atau memberikan solusi untuk masalah ini…)
Melihat Yuki
yang tertawa terbahak-bahak setelah dirinya ditendang oleh Alisa, Masachika
menatapnya dengan mata penuh kebencian. Mungkin merasakan tatapan itu, Alisa
sedikit melonggarkan ekspresinya dan bertanya.
“… Apa
jangan-jangan ada peri di sana?”
“Ah… ada
peri yang sangat suka iseng, oke.”
Setelah
sedikit ragu, Masachika melanjutkan.
“Yah, meski
bagaimana pun aku melihatnya, peri ini jelas-jelas Yuki versi chibi sih…”
“Hah?”
“Ara~
Yuki-chan~? Apa kamu bisa melihatku~?”
“Tidak,
meski kamu bertanya ‘apa kamu bisa melihatku?’ Masha-san, kamu tidak
bisa melihatnya, kan?”
Maria
melambai ke arah Yuki, dan Masachika dengan nada skeptis menimpalinya.
Kemudian, Yuki melayang ke depan Maria dan melambai dengan tangan kecilnya.
‘Oh, aku
bisa melihatmu dengan jelas dari sini~. Kamu tidak bisa melihatku? Memang tidak
bisa, ya? Baiklah.’
Setelah
mengangguk kecil, Yuki langsung turun. Dia dengan puas masuk ke dalam belahan
dada Maria yang montok sambil tersenyum lebar.
‘Hehehe,
karena aku memiliki tubuh kecil, aku harus melakukan ini.’
“Oi…”
Masachika
hampir berteriak, tetapi tiba-tiba ia teringat kata-kata Yuki dan bertanya
dalam hati.
‘Kamu ini…
sebenarnya, kamu terlihat seperti bug dalam permainan. Apa kamu merasakan
sesuatu?’
‘Tidak juga?
Paling itu hanya perasaanmu saja. Wah, ini sangat besar… tidak, ini pemandangan
yang luar biasa.’
‘…’
Masachika
yang setengah serius berpikir untuk “mengembalikannya” kepada tempat asalnya,
tapi saat itu Alisa mengeluarkan suara dingin.
“Hei..... kamu
sedang melihat ke mana sih?”
“Eh?”
“Duhh, jika
kamu melihatku seperti itu, aku jadi malu…”
Ditambah
dengan Maria yang menggoyangkan tubuhnya dengan senyum canggung, Masachika
menyadari bahwa dari sudut pandang mereka, dia tampak seperti sedang menatap
dada Maria.
“Tidak,
bukan begitu…! Aku hanya… melihat Yuki…!”
“…
Benarkah?”
“Beneran!
Aku tidak akan secara terang-terangan menatap dada orang lain, kali!?”
“Setelah
baru saja menyentuh pahaku, perkataanmu sama sekali tidak bisa dipercaya.”
“Yah, itu
juga…”
“Kalau
begitu, aku akan bertanya, apa yang sedang dilakukan Yuki-san?”
“Yah, itu…”
Masachika
tidak bisa mengatakan, “Dia baru saja mengintip di bawah rok Alya dan
sekarang bersenang-senang terjebak di antara payudara Masha-san,” sehingga
dirinya terdiam. Akibatnya, tatapan Alisa semakin dingin, dan Masachika menatap
Yuki dengan tajam. Yuki yang melayang di depannya memberikan ekspresi yang
sangat menjengkelkan.
‘Hmm?
Kenapa? Kamu iri, kamu merasa iri, ya~?’
“Dasar kampret…!”
Masachika
berusaha menangkap tubuh kecil Yuki untuk memberinya pelajaran, tetapi
tangannya hanya mencengkeram udara. Dari sudut pandang orang lain, Masachika
terlihat sangat aneh sedang berjuang sendirian, dan Alisa menghela napas sambil
mengangkat bahu.
“… Yah, sudah
cukup. Jadi, apa yang bisa dilakukan Yuki-san?”
“… Hei, kau
ditanya, apa yang bisa kamu lakukan?”
Menanggapi
pertanyaan itu, Yuki yang sebelumnya terus-menerus meledek Masachika kini
berbaring di udara, bersandar pada pipinya.
‘Hmm?
Baiklah…’
Setelah
berpikir sejenak, dia melirik Masachika dan mengedipkan mata.
‘Aku bisa
memberikan keimutan dan keceriaan dalam perjalanan Master. Yey~☆’
“…”
‘Aku bisa
memberikan keimutan dan keceriaan dalam perjalanan Master──’
“Tidak perlu
diulang, tidak perlu diulang!”
Sambil
menepuk dahinya dengan telapak tangannya, Masachika memeriksa kembali.
“Hah? Kamu…
bukan peri penolong? Seharusnya kamu memberi saran selama perjalanan, seperti
tempat toko atau cara menggerakkan mekanisme, bukan?”
‘Oi~ oi oi, My
Master… Aku adalah penghuni dimensi lain, loh? Jadi tentu saja pengetahuanku
tentang hal-hal itu tidak jauh berbeda dengan milikmu.’
“Kamu
seharusnya pulang saja sana!!”
Alih-alih
membantu, si iblis kecil tersebut justru mengganggu, dan Masachika tidak bisa
menahan diri untuk berteriak. Namun, Yuki tidak menunjukkan reaksi apa pun dan
hanya mengangkat kedua tangan sambil mengangkat bahu.
‘Masalahnya,
aku tidak tahu caranya pulang.’
“Hah?”
‘Karena
keterampilan unik Master, 《Pemanggilan Peri》, adalah keterampilan sekali pakai, jadi tidak ada fungsi
pengembalian. Dan karena aku tidak memiliki tubuh, aku tidak memiliki HP, jadi
tidak ada kemungkinan untuk dikalahkan dan dipaksa pulang.’
Setelah
mendengar itu, Masachika memeriksa menu dan memang, seperti yang dia lihat
sebelumnya, tulisan 《Pemanggilan Peri》 di kolom keterampilan uniknya telah menghilang tanpa
jejak, dan petunjuk tentang cara mengendalikannya sepenuhnya lenyap.
‘Jadi, mari
kita bersenang-senang bersama! My Master~☆’
Yuki
melayang turun ke bahu kanan Masachika dan sekali lagi mengedipkan matanya,
sementara Masachika menatapnya dengan dingin. Lalu, Yuki meletakkan kedua
tangan di dagunya dan mengerucutkan bibirnya yang seakan mengeluarkan efek
suara *Kyarurun~♪*sambil berkedip-kedip.
‘Hmm? Apa
yang terjadi? Apa kamu terpesona oleh keimutan yang luar biasa dari Yuki-chan
yang duduk di bahumu?’
“… Kamu
memang makhluk yang cerdik meskipun tidak memiliki tubuh fisik.”
‘Meskipun
tidak bisa disentuh, aku bisa menjaga posisi relatif, loh.’
Mengalihkan
pandangannya dari Yuki yang mengucapkan hal-hal sulit dengan santai, Masachika
berbicara kepada kakak beradik Kujou yang melihatnya dengan bingung.
“Ahh~ pada
akhirnya, keberadaan peri ini hanya untuk menghibur saja. Meskipun aku
mengharapkan sesuatu, sepertinya dia tidak terlalu berguna.”
Mengabaikan
Yuki yang berteriak di telinganya, “Apa maksudnya tidak berguna!” (suara itu
tidak terdengar di telinga tetapi langsung di kepala), Masachika
melanjutkan.
“Dia hanya
bisa dilihat dan didengar olehku, dan sepertinya dia tidak bisa menggunakan sihir
atau apa pun…”
Ketika dia
sampai di situ, dia tiba-tiba menyadari.
“… Hei, jika
kamu tidak bisa diperhatikan oleh siapa pun dan bisa mengirimkan suara langsung
ke kepalaku, bukannya itu sangat berguna untuk pengintaian?”
‘Sepertinya
aku tidak bisa menjauh dari tuanku lebih dari jarak tertentu.’
“Seriusan,
kamu tidak berguna sama sekali.”
Mengabaikan
Yuki yang kembali mengeluarkan suara protes, Masachika berkata lagi.
“Jadi,
sepertinya dia benar-benar hanya untuk hiburan doang. Mari kita abaikan dia dan
pergi.”
“Be-Begitu
ya…”
“Hmm~ rasanya
aneh mengetahui bahwa Yuki-chan ada di sana meski aku tidak bisa melihatnya~…”
Masachika
mendorong kedua temannya yang tampak bingung dan menuju toko alat yang memiliki
papan nama besar di jalan utama, di mana dia membeli “set petualang”
yang berisi item penyembuhan dan makanan darurat untuk ketiga orang.
“Rasanya
seperti metode pembayaran tanpa sentuhan yang paling canggih, ya.”
Tanpa ada
transaksi uang dan item yang sebenarnya, saldo di layar menu berkurang, dan
item “set petualang” ditambahkan ke dalam daftar item. Masachika
bergumam. Setelah mengetuk item tersebut, sebuah jendela baru muncul dengan tas
kulit cokelat di atasnya.
“Obat hijau
ini adalah ramuan HP, sedangkan yang biru adalah ramuan MP. Yang kuning adalah ramuan
penyembuh status… bisa digunakan dengan diminum atau disemprot. Sebaiknya kita
membawa beberapa item penyembuhan seperti ini agar mudah digunakan, kan?”
“Ya, benar.
Barang-barang yang bisa membuat berat sebaiknya tetap di penyimpanan… huh? Apa
ini air suci? Kenapa warnanya putih begini…”
“Ara~ iya ya~?
Kupikir air suci itu lebih transparan…”
Mendengar
pertanyaan Alisa dan Maria, pemilik toko, seorang pria tua, menjawab.
“Air suci
yang transparan adalah barang mahal. Item obat-obatan yang lebih efektif
biasanya memiliki kejernihan dan kilauan yang lebih tinggi.”
“Oh, begitu…
jika dipikir-pikir, ramuan lainnya juga terlihat keruh…”
“Memang…
jujur saja, aku tidak ingin meminumnya…” lalu dia melihat sesuatu. “Eh, apa
ini? Ini tenda lipat?”
“Sepertinya
alat sihir… ada banyak benda aneh lainnya…”
Setelah
memeriksa semua isinya, termasuk alat sihir untuk menyalakan api dan
penerangan, mereka semakin bersemangat sebelum akhirnya menuju gerbang besar
yang menghubungkan ke luar kota. Dalam perjalanan, sambil memeriksa status
semua orang, Masachika berkata sambil mengamati kedua temannya.
“Jika kita melihat
status ini… sepertinya Alya yang menjadi petarung garis depan, Masha-san
sebagai dukungan berada di tengah, dan aku akan menembakkan beberapa sihir dari
belakang, kan?”
Keterampilan
yang dimiliki Masachika mencakup keterampilan sihir dari lima elemen: api, air,
angin, petir, dan tanah, serta beberapa keterampilan lain yang tampaknya wajib
untuk profesi penyihir. Ia sama sekali tidak memiliki keterampilan untuk
pertempuran jarak dekat. Sementara itu, Maria memiliki susunan keterampilan
yang mirip dengan keterampilan sihir lima elemen Masachika, tetapi digantikan
dengan “sihir elemen cahaya.” Dengan “sihir elemen cahaya” ini, ada tiga hal
besar yang bisa dilakukan, yaitu “perlindungan,” “penyembuhan,” dan “penyucian.”
“Perlindungan” berfungsi untuk meningkatkan status rekan dan membangun perisai
pertahanan. “Penyembuhan” jelas sesuai namanya. Sedangkan “penyucian” dapat
menghilangkan racun atau kutukan, serta memberikan kerusakan pada beberapa
monster seperti undead dan iblis.
(Iblis,
ya…)
‘???’
Sambil
melihat Yuki (yang mengaku sebai peri) dengan penampilan iblisnya,
Masachika berpikir, “Apa yang terjadi jika aku menggunakan mantra penyucian padanya?”
dan menggelengkan kepalanya.
(Tapi,
memang beneran ada undead, ya… Jika zombie yang realistis muncul, aku hanya
akan merasa mual dan ingin muntah… yah, jika itu terjadi, aku hanya bisa
meminta bantuan Masha-san.)
Masachika
merasakan betapa beruntungnya memiliki kelas pendeta yang ahli dalam melawan
undead, tetapi di sisi lain, hal itu juga berarti tidak banyak kesempatan bagi Maria
untuk berkontribusi sebagai penyerang. Sebab, Maria tidak memiliki keterampilan
lain yang bisa digunakan untuk menyerang. Dia memiliki keterampilan unik bernama《Mukjizat Bunda Suci》 yang “memiliki
kemungkinan tinggi untuk tersesat tetapi pasti akan mencapai tujuan,” dan
keterampilan kebangkitan bernama 《Welas Asih Saintess》 yang hanya bisa digunakan tiga kali, tetapi keduanya
tidak memiliki daya serang sama sekali.
Dari segi
status, sama seperti Masachika, Maria juga lemah dalam kekuatan fisik dan daya
tahan dan merupakan tipe penyihir yang sepenuhnya terfokus pada sihir dengan
kekuatan serangan sihir dan ketahanan sihir yang tinggi. Perbedaannya, daya
tahan Maria lebih tinggi daripada kekuatan fisiknya, dan ketahanan sihirnya
lebih tinggi daripada serangan sihirnya, sehingga statusnya lebih condong ke arah
pertahanan.
(Jadi, dia
bahkan lebih tidak cocok untuk menyerang dibandingkan aku… Jika ada yang bisa
dilakukan, mungkin dia bisa membuat perisai dan menyerang dengan tubuhnya? Tapi
aku tidak yakin seberapa banyak perisai defensif bisa digunakan untuk
menyerang, jadi mungkin lebih baik tidak berharap terlalu banyak…)
Dengan
demikian, Maria seharusnya berperan sebagai penengah, melindungi dirinya
sendiri dan penyihir belakang sambil memberikan perlindungan dan penyembuhan
kepada karakter depan. Masalahnya adalah…
“Kamu tidak
bisa menggunakan sihir, kan?”
“Yah memang
sih....”
Ini berarti
bahwa Masachika, yang seharusnya menjadi penyihir belakang, benar-benar tidak
berguna.
Seorang Saintess
yang tidak bisa menyerang, dan seorang Mahardika yang tidak bisa menggunakan
sihir. Hanya ada Alisa sebagai penyerang.
“...
Semangat, Pahlawan Alisa!”
“Jangan
bersikap seolah-olah itu bukan urusanmu!? Kamu juga anggota kelompok,
kan!?”
“Habisnya…”
Sambil
mengucapkan kata-kata yang samar, Masachika melihat layar status Alisa. Ada
keterampilan seperti 《Seni Pedang》 dan 《Seni Bertarung》, yang merupakan keterampilan jarak dekat. Selain enam
elemen: api, air, angin, petir, tanah, dan cahaya, ada juga keterampilan khusus
untuk pahlawan bernama “Sihir Cahaya Suci,” yang merupakan keterampilan
serangan khusus terhadap ras iblis. Statusnya seimbang, bisa menggunakan teknik
bertarung dan sihir.
“Sepertinya cuma
Alya saja yang dibutuhkan.”
“Alya-chan....
tidak peduli seberapa hebatnya kamu menjadi pahlawan, kurasa ini sedikit
berlebihan.”
“Aku bingung
harus membalas bagaimana meski kalian mengeluh padaku…”
Meskipun dia
mungkin tidak sehandal kelas profesional, Alisa bisa melakukan semuanya dari
serangan jarak dekat, dukungan, hingga penyembuhan. Selain itu, dia juga
memiliki keterampilan unik bernama 《Serangan Pahlawan》, yang melepaskan serangan super dengan menghabiskan
semua MP dan SP ketika HP-nya di bawah batas tertentu, yang benar-benar
menunjukkan sifat protagonis. Perlu dicatat bahwa, seperti Masachika dan Maria,
Alisa juga memiliki satu keterampilan unik lainnya…
“Khususnya
keterampilan unik ini… 《Putri Penyendiri》 itu sebenarnya apaan sih? ‘Meningkatkan semua status
ketika tidak ada anggota kelompok’…?”
Alisa
mengerutkan keningnya saat mendengar tentang kemampuan uniknya, yang berasal
dari julukannya di sekolah (julukan yang tidak disukainya).
‘Ini sih keterampilan
yang dirancang khusus untuk pemain solo yang penyendiri lol.’
‘Tepat
sekali.’
Sambil tidak
mengucapkannya dengan keras, Masachika menggodanya dan tersenyum samar.
“Hmm~
sebenarnya ini sulit untuk digunakan… Meskipun sepertinya kita bisa bertarung
bersama meskipun terpisah dari kelompok, pengalaman yang didapat tidak akan
dibagikan, dan kita tidak bisa melihat MP atau SP rekan, jadi dukungan yang
efektif tidak bisa dilakukan… Yang paling penting, kita akan dikeluarkan dari
pemulihan dan penguatan seluruh kelompok yang digunakan oleh Masha-san.”
“Yah, kurasa
memang benar. Jika ada tempat yang bisa digunakan… mungkin di dungeon, saat kita
terpisah? Tapi kalau kita tidak bisa melihat HP masing-masing dalam situasi itu,
itu juga akan menjadi masalah~”
“Tapi, sihir
yang menargetkan seluruh kelompok tampaknya berfungsi sampai batas tertentu sepertinya
masih tetap berfungsi meskipun terpisah, jadi sebenarnya lebih baik untuk
menjaga kelompok tetap bersama dalam situasi seperti itu…”
“Memang,
sepertinya tidak ada tempat yang benar-benar berguna untuk ini… yah, tidak
apa-apa sih.”
Sepertinya Alisa
tidak berniat menggunakan keterampilan dengan nama yang tidak disukainya dan
mengangkat bahunya.
“Yah,
sepertinya tidak ada orang lain yang bisa bertarung langsung selain aku, jadi
aku akan bertarung di garus depan. Masha, tolong bantu dengan sihir.”
“Baiklah~.”
“Kalau
begitu, aku…”
Mendapat
tatapan dari kedua kakak beradik Kujou, Masachika berpikir sejenak sebelum
memberi jempol dan berkata.
“... Aku
akan memberikan dukungan dan melemparkan item saat dibutuhkan!”
“Ya,
dukungan itu penting.”
“Kuze-kun,
bukannya kau tidak pandai bermain tangkapan?”
“Selama
bukan bola, aku akan baik-baik saja!”
“Kepercayaan
diri macam apa itu… Lagipula, bukannya ada bola asap di tas tadi? Itu
jelas-jelas bola, ‘kan?”
“Kalau
begitu, aku akan melemparkan ramuan!”
“Tapi kita
punya Masha untuk penyembuhan, ‘kan? Maksudku, bukankah biasanya kamu akan
terluka jika botol dilempar ke arahmu?”
“Maaf, Alya,
sepertinya yang bisa kulakukan hanyalah menyemangati kalian...”
“Jangan
berkecil hati~ Menyemangati itu penting~”
Maria
menepuk-nepuk bahu Masachika dengan lembut untuk menghiburnya saat Masachika
menundukkan kepalanya dengan sedih.
‘Fugyaa!’
Yuki yang
berada di bahunya mengeluarkan suara seperti kucing yang terjepit karena
tepukan mendadak. Namun, suara itu tidak terdengar oleh Alisa dan Maria, dan
Masachika juga mengabaikannya.
“Kalau
begitu, mari kita lakukan dengan cara seperti itu.”
Sambil berbicara,
mereka tiba di depan gerbang besar, dan Alisa memberi isyarat kepada Maria dan
Masachika sebelum melangkah keluar dari kota.
“Uwahh~
padang rumput yang luar biasa!”
Melihat
padang rumput yang membentang hingga cakrawala, Masachika mengeluarkan suara
kagum. Bukan hanya Masachika, tetapi kakak beradik Kujou juga tampak terkesan
saat melihat sekeliling… Namun, tiba-tiba Alisa mengerutkan keningnya dan
berkata.
“Tapi, di
sini pasti ada monsternya, ‘kan?”
“Hmm… yah,
memang.”
Setelah
diajukan pertanyaan itu dan mengamati kembali, di kedua sisi jalan setapak yang
lebarnya sekitar sepuluh meter, terdapat rumput tinggi yang tumbuh lebat, dan
sepertinya sulit untuk melihat jika ada sesuatu yang mengintai di sana.
“Brengsek…
seharusnya aku mengumpulkan informasi tentang monster apa yang akan
muncul.”
Masachika
menyesali keteledorannya, dan saat dirinya berpikir untuk kembali… rumput di
sebelah kiri yang berjarak sekitar lima meter bergetar, dan sesuatu melompat ke
jalan.
“!?”
“!?”
“Eh,
musuh!?”
Keduanya
bersiap-siap untuk pertarungan pertama mereka (Maria hanya berdiri diam), dan
mereka melihat ke arah apa yang muncul…
‘Itu kelinci
bertanduk! Bukannya itu kelinci bertanduk?’
“Itu dia! Kelinci
bertanduk, musuh awal permainan yang umum yang sering terlihat di game fantasi
tetapi tidak pernah terlihat di dalam game itu sendiri!”
Kegembiraan
Yuki dan Masachika tiba-tiba meningkat saat mereka menghadapi kelinci putih
dengan satu tanduk yang tumbuh dari dahinya. Namun...
"Bukankah
grafiknya tampak... agak kasar?”
Masachika
dan Yuki mengangguk dengan diam saat mendengar kata-kata Alisa yang mewakili
perasaan mereka. Selain itu, bukan hanya kasar, tapi bentuknya juga sangat
terdeformasi.
Ekspresi
bulu tubuhnya terlihat sangat kasar, dan tidak ada kesan otot atau kerangka
yang menonjol. Lebih mirip boneka daripada makhluk hidup. Ditambah dengan
adanya bilah HP berwarna hijau yang muncul di atas kepalanya, semuanya terasa
agak surreal.
“Pokoknya, aku akan bertarung! Tidak
apa-apa, kan?”
“Ah, ya… tapi, kamu yakin?”
Meskipun musuk mereka memiliki tanduk dan
tampak ganas, lawannya adalah hewan kecil. Masachika khawatir bahwa memotongnya
dengan pedang mungkin menjadi beban psikologis yang tinggi bagi seorang gadis SMA biasa… Namun,
“Aku akan
melakukannya… kita tidak punya pilihan
lain! Kita tidak bisa berhenti di awal seperti ini!”
“!?”
Masachika
tertegun mendengar suara kuat Alisa yang berusaha membangkitkan semangatnya.
Sementara itu, kelinci bertanduk menguatkan kaki belakangnya dan—
Dengan
cepat menyerang Alisa yang ada di depannya.
Kelinci
bertanduk itu menjulurkan tanduknya, bertujuan untuk menusuk tubuh Alisa. Namun, sebagai pemula dalam
pertempuran, Alisa tidak bisa bereaksi terhadap serangan itu.
“Ah—”
Apa dia
harus menyerang, bertahan, atau menghindar?
Dalam
kebingungan untuk mengambil keputusan, Alisa hanya berdiri kaku dengan pedangnya
terangkat di depan tubuhnya.
“Alya!”
Melihat
situasi tersebut dari belakang,
Masachika berusaha cepat untuk membantu, tetapi kelinci bertanduk itu bergerak lebih cepat—
Hewan buas
itu menyerang dengan kuat ke arah pedang suci yang diangkat oleh Alisa.
“Ah!”
Dalam
sekejap, sebuah garis serangan muncul di kepala kelinci bertanduk itu, mirip
dengan efek kerusakan dalam game, dan bilah HP yang muncul di atas kepalanya
menurun drastis. Seiring dengan itu, warna bilah berubah menjadi kuning, lalu
merah… dengan teriakan “kyui~” sebagai suara kematiannya, tubuhnya
berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang.
“‘…’”
Suasana
hening meliputi mereka, sementara di sudut pandang Masachika, pengalaman yang
didapat muncul, dan levelnya langsung naik hingga tiga.
(Satu
monster lemah di awal bisa membuatku naik dua level…Pengalaman yang didapat sepuluh
kali lipat memang luar biasa.)
Sambil
merasakan kehebatan keterampilan uniknya, Masachika berbicara kepada Alisa.
“Ah~… selamat atas kemenangan pertamamu.”
“… Entah kenapa, rasanya aku tidak
benar-benar bertarung.”
“Yah,
mungkin itu karena bukan kelinci, tetapi babi hutan.”
“Yang
menyerbu begitu saja ke depan,” Ia menambahkan dengan nada
menyinggung sambil mengintip wajah Alisa.
“Jadi…
apa kamu baik-baik saja?”
“Karena mengalahkan hewan? Hmm… karena rasanya tidak terlalu nyata, jadi mungkin aku baik-baik
saja.”
“Yah,
memang.”
Musuh-musuh yang tampak seperti boneka,
tanpa kesan hidup. Saat mereka menebasnya,
tidak ada percikan darah yang menyebar, dan tidak ada mayat yang tersisa.
Ketika Masachika membuka menu untuk melihat item yang didapat, ada beberapa
item bahan yang tampaknya merupakan item hasil drop, jadi mungkin dianggap
sebagai makhluk hidup… Namun, semuanya
terasa seperti dalam game, dan tidak ada rasa nyata. Bahkan, dirinya mulai berpikir apakah ini
benar-benar permainan VR atau semacamnya.
“Yah, aku
tidak tahu bagaimana cara kerjanya… tapi jika efek kengeriannya bisa ditekan, itu sudah lebih
dari cukup.”
“Benar.”
“Apa
Masha-san juga baik-baik saja?”
“Ya,
terima kasih~”
Setelah
memastikan bahwa Maria baik-baik saja, Masachika merasa lega dan mengusulkan
untuk kembali ke kota sejenak untuk mengumpulkan informasi. Alisa dan Maria
setuju, dan ketiganya menuju guild yang juga membeli bahan-bahan, untuk
mengumpulkan informasi tentang monster di sekitar.
“Monster
utamanya adalah kelinci bertanduk,
serigala bertanduk, dan goblin…”
‘Kenapa
ada serigala di dataran? Dan kenapa serigala dan kelinci bisa hidup berdampingan?’
“Itu
benar. Kelinci-kelinci itu biasanya akan
dimangsa, kan?”
Sambil
berkomentar bersama Yuki, mereka bersiap untuk berangkat lagi. Sepanjang perjalanan, kelinci bertanduk
dan serigala bertanduk menyerang secara acak,
tetapi Alisa bisa menangani semuanya tanpa masalah.
“Haaaah!”
Setelah
beberapa kali bertarung, sepertinya Alisa sudah menguatkan
dirinnya, dan dia tanpa
ragu mengayunkan pedang sucinya ke arah serigala bertanduk (yang juga
terlihat seperti boneka). Sepertinya ada tambahan dari keterampilan,
serangan tajam yang dihasilkan tidak tampak seperti milik pemula.
“Gyan!”
Seperti
yang diharapkan dari seorang pahlawan, tampaknya lawan setingkat ini dapat
dikalahkan dalam satu pukulan dengan serangan langsung dari Pedang Suci, dan
serigala bertanduk itu lenyap dalam kilatan cahaya. Namun, seolah-olah bisa menembus cahaya,
tiba-tiba musuh menyodok
ke arah mereka.
“Alya!”
“Eh, eeiii!”
Mendengar
peringatan Masachika, Alisa menyadari serangan kelinci bertanduk dan dengan
cepat melepaskan tangan kanannya dari pedang suci, lalu menepis tanduk kelinci
bertanduk itu dengan pukulan belakang. Sepertinya pukulan itu juga mendapat
tambahan dari keterampilan 《Seni
Bertarung》,
sehingga meskipun itu serangan yang tidak terencana, pukulan tersebut berhasil
mematahkan tanduk kelinci bertanduk itu.
“Kyuiii!”
Kelinci
bertanduk yang tanduknya patah terlempar dengan kekuatan dari pukulan tersebut
dan jatuh ke tanah. Meskipun segera bangkit, langkahnya tampak goyah, dan kelinci itu mulai terhuyung-huyung.
“Hmm…?
Apa itu, stun?”
“Stun?
Apa itu berarti pingsan?”
“Bukan berarti pingsan sepenuhnya, tetapi… sepertinya seperti
gegar otak?”
Ketika
Masachika menjawab Maria, sebuah dugaan muncul di kepalanya.
(Mungkin
karena tanduknya patah… atau lebih tepatnya, karena terkena pukulan? Karena
tanduk terhubung ke tengkorak, jadi dampak dari memukul tanduk itu langsung
terasa di otaknya…?)
Jika memang benar begitu, maka monster ini menggunakan
bagian lemah sebagai senjata… dan itu merupakan
cacat yang cukup serius bagi makhluk hidup.
(Yah, di
dunia nyata juga ada hewan yang giginya tumbuh terlalu panjang hingga menembus
tengkorak dan mati… apa namanya, babirus? Dan di dunia game, mungkin kita tidak perlu terlalu
khawatir…)
Saat Masachika
merenungkan hal itu, Alisa berdiri di depan kelinci bertanduk yang
terhuyung-huyung.
“Eeii!”
Sepertinya
dia sedikit ragu untuk menyerang musuh yang tidak berdaya, tetapi Alisa
menguatkan tekadnya dengan bersuara keras, lalu mengayunkan pedang sucinya dari
atas.
Dengan hentakan kaki kanannya yang kua,pPedang suci yang melesat memotong
udara dan menciptakan angin, dan rok pendek Alisa melambai, persis seperti yang
dikhawatirkan (atau diharapkan?) Masachika—
‘Aku
tidak bisa membiarkanmu melihatnya!’
Pandangan
Masachika terhalang oleh Yuki yang mengeluarkan papan kecil dari entah dari
mana.
“…”
‘Fyuh… aku melakukan pekerjaan yang
baik.’
“Benar
juga.”
Melihat
Yuki yang menyeka keringat
yang bahkan tidak menetes dengan tinju
kecilnya, Masachika menatapnya dengan tatapan skeptis. Kemudian, dia merasakan tatapan
curiga dari Maria di pipinya dan beralih ke percakapan dalam pikirannya.
‘Ngomong-ngomong,
dari mana kamu
mendapatkan papan itu?’
‘Hmph oi~oi~, My Master. Aku
adalah peri penolong, kan? Mematuhi batas usia di dunia ini juga merupakan
salah satu tugasku.’
‘Tidak
mungkin hanya karena tampilan celana dalam bisa membuatnya menjadi R18. Dan
cara bicaramu, apa ini benar-benar ruang permainan?’
‘Entahlah~?’
Yuki
berputar di udara dan menghilangkan papan yang dipegangnya sebelum kembali ke
bahu Masachika. Dirinya
menghela napas melihat ketidakbergunaan adiknya di saat-saat genting seperti
ini.
“Kuze-kun?”
“Eh? Ah,
tidak… aku hanya berpikir tidak ada orang lain di sini.”
Melihat
Maria menatapnya dengan ekspresi bingung, Masachika segera mengatakan ini dan
melihat sekeliling. Mendengar ucapan itu, Alisa yang baru kembali juga
mengangguk.
“Memang,
jika dipikir-pikir, jalan ini merupakan jalan
besar yang menghubungkan ke ibu kota, kan? Seharusnya banyak pedagang yang
bolak-balik di sini…”
Apa yang
dikatakan Alisa sangat masuk akal, tetapi bertolak belakang dengan kenyataan,
di sekeliling mereka tidak ada seorang pun. Yang ada hanyalah monster dengan
tanduk.
“… Yah,
jika ada NPC yang tidak berhubungan berkeliaran di medan pertempuran game, itu
pasti sangat mengganggu. Begitulah adanya.”
“Apa ini
benar-benar game?”
“Entahlah?
Kurasa ini lebih mirip mimpi atau
semacam halusinasi kolektif.”
Saat
mereka berdiskusi, semak-semak di dekat mereka
bergerak-gerak, dan ketiga orang itu terkejut dan segera berbalik. Ternyata,
yang muncul hanyalah
binatang berkaki empat dengan tanduk… tapi
ternyata bukan.
“Apa itu… goblin!?”
Melihat
dua musuh baru muncul sekaligus, ekspresi Alisa menjadi tegang.
“Jadi itu goblin ya… sepertinya, agak mirip boneka
ya?”
Goblin
kecil berwarna hijau yang mengenakan kain kasar, tingginya sedikit lebih dari
satu meter. Meskipun disebut goblin, kesan kotornya tidak
terlihat, dan tidak ada darah atau lumpur di goblin yang ada di depan mereka.
Sebenarnya…
“Seperti
yang kupikirkan tentang kelinci dan serigala… mereka benar-benar menggunakan
grafis yang sama.”
Dua
goblin yang berdiri berdampingan memiliki penampilan yang persis sama,
seolah-olah mereka cuma disalin.
Cara kain mereka robek dan bentuk tongkat kasar yang mereka pegang pun sama
persis.
“Benar-benar
tidak ada sensasi realitas sama sekali… yah, namanya juga mimpi…”
Sambil
bergumam demikian, Masachika memanggil Alisa di
belakangnya.
“Kamu baik-baik saja? Apa perlu aku menangani yang satunya?”
“Tidak
masalah. Penyihir yang tidak bisa menggunakan sihir, silakan mundur.”
“Rasanya
menyedihkan… meskipun itu kenyataannya.”
Di depan
Masachika yang tampak putus asa, Alisa berteriak, “Hah!” sambil menyerang
goblin di sebelah kirinya.
Goblin
juga mengangkat tongkatnya untuk mencoba menghalau serangan itu, tetapi dengan
postur dan senjata yang jauh lebih menguntungkan, serta kekuatan gravitasi yang
mendukung, serangan dari atas yang kuat itu tidak mungkin bisa dihentikan
dengan cara seperti itu.
“Gyaaa!”
Efek
kerusakan muncul di tubuh bagian atas goblin, dan dengan teriakan yang murahan,
tubuhnya menghilang. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.
“Gyagyaa!”
“Ah!”
Satu
goblin yang tersisa dengan berani mengabaikan
Alisa dan menuju ke belakang.
Setelah
mengalahkan satu goblin, Alisa berusaha menyerang dengan gerakan sabetan
menyilang, tapi dia
terkejut oleh gerakan goblin itu. Masachika pun merasakan hal yang sama.
“Eh…!?”
Karena tidak
ada kesempatan untuk bertarung sebelumnya, ketegangan yang tidak disadari telah
melonggar. Dalam waktu kurang dari satu detik untuk mengencangkan kembali
ketegangan itu, goblin sudah mendekat.
(Gawat, aku
harus melindungi Masha-san—!)
Dengan cepat
melindungi Maria di belakangnya, Masachika bersiap.
(Sihir… aku tidak
bisa menggunakannya, pertarungan jarak dekat? Sebaiknya aku tendang—tidak, aku
kan peran belakang, tapi bukan saatnya berpikir seperti itu—)
Dalam
sekejap, dia memutuskan untuk menyambut serangan dengan tinjunya, tetapi dia
menyadari tangan kanannya sedang membawa buku sihir, dan sementara itu, goblin
mengangkat tongkatnya—
“Hmph!”
Tanpa
berpikir panjang, Masachika mengayunkan buku sihirnya ke wajah goblin. Dengan
suara tumpul yang keras, efek kerusakan muncul di wajah goblin… HP-nya
terlempar tanpa ampun, dan tubuhnya menghilang.
“‘…’”
“Wah~
Kuze-kun mirip seperti guru ya~”
“Citra guru
seperti apa yang ada di dalam kepala Masha-san?”
Masachika
mengomentari pandangan Maria yang agak aneh, lalu mengangkat wajahnya untuk
melihat Alisa. Dan terhadap Alisa yang tampak beku dalam posisi berlari ke
arahnya, dia tersenyum santai dan berkata,
“Sihir itu,
ternyata bisa dilakukan dengan memukul menggunakan buku.”
“Jelas-jelas
bukan begitu caranya!”
Meskipun
pernyataan Alisa memang benar, tapi kenyataannya ini berhasil. Semuanya berkat
efek keterampilan unik “Pengalaman yang Didapat Sepuluh Kali Lipat (kecuali olahraga
bola).”
Di dunia
ini, pengalaman tampaknya dibagi rata di dalam kelompok tanpa memperhatikan
kontribusi dalam pertempuran, tetapi keterampilan unik Masachika mengalikan
pengalaman yang dibagi tersebut sepuluh kali lipat hanya untuk dirinya
sendiri.
Alhasil,
meskipun ia hanya melihat dari belakang, levelnya meningkat pesat, melampaui
kedua rekannya. Meskipun dirinya berperan sebagai garda belakang, status kekuatan,
kecepatan, dan daya tahannya menjadi lebih tinggi daripada Alisa yang berperan
di depan. Ditambah dengan pengalaman bela diri dan buku sihir yang takkan
pernah rusak, Masachika kini memiliki kekuatan pertempuran jarak dekat yang
jauh lebih kuat daripada Alisa.
“Jadi
begitulah, aku akan menjadi petarung barisan depan.”
Dan
demikian, Masachika berevolusi dari “Mahardika yang tidak bisa menggunakan
sihir” menjadi “Mahardika yang tidak bisa menggunakan sihir tetapi bisa
memukul.”
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
