
Selingan — Di Bar yang Biasa
──Sudut Pandang Sekjen Ugaki──
Aku
kembali ke kampung halaman setelah sekian lama. Aku sedang menikmati wiski ringan
di bar langgananku.
“Tumben
sekali. Menggunakan bourbon barrel, bukan sherry barrel,
ya?”
Bartender
itu tersenyum ketika aku mengatakan itu.
“Ya,
ini barang eksklusif bebas bea. Aku yang
memesannya.”
“Rasanya manis
dan lembut, siapapun
benar-benar bisa merasakan kualitas minuman aslinya.:
Bartender
itu tersenyum ketika aku menjelaskannya dengan begitu sederhana.
“Baiklah, kalau
begitu, aku juga ingin pesan yang
sama.”
Sebuah
suara terdengar dari belakangku. Suara yang familiar dan penuh nostalgia.
“Minami-san?”
“Ah,
sudah lama sekali tidak ketemu ya,
Ugaki-kun.”
Minami-san
duduk di sampingku, sama seperti
dulu.
Tak berselang lama kemudian, air putih sebagai
minuman pendamping, wiski, dan kacang diletakkan di depan pria tua itu.
“Hmm, rasanya tidak biasa melihat malt ini dimatangkan dalam
bourbon barrel. Mungkin ini adalah minuman yang cukup muda.”
Seperti
yang diharapkan dari mentor wiskiku.
Beliau langsung bisa mengidentifikasi
sebagian besar karakteristiknya hanya dengan mencium dan menyesapnya.
“Aromanya
kuat dengan vanila dan kayu, tapi di balik itu juga terasa citrus dan floral.
Perasaan floral ini pasti menunjukkan kualitas dari spirit aslinya.”
Ketika bartender menuangkan whiskey, aku melihat
botolnya dan di sana memang
tertera delapan tahun. Tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Namun, ini bukan kebetulan. Pasti ada semacam alasan. Beliau pasti datang ke sini untuk
membicarakan sesuatu.
“Tumben
sekali Anda berkunjung kemari. Apa hari
ini tidak ada kegiatan sukarela?”
“Tentu
saja, aku sudah melakukannya. Hari ini, aku mengawasi anak-anak sekolah dasar
pulang.”
“Bagaimana
mungkin Anda bisa melakukan itu dengan tenang di hari
panas seperti ini? Jika Anda minum
whiskey straight dalam keadaan lelah seperti itu, tubuh Anda akan terbebani.”
Dia
memang selalu begitu. Beliau selalu memliki banyak
vitalitas dan kuat dalam minuman.
“Tidak
masalah. Dalam pemeriksaan kesehatanku,
tidak ada satu pun yang buruk.”
“Apa iya...”
Aku tanpa
sadar melihat ke arah kanan. Di
sanalah tempat duduknya yang biasa.
Meskipun aku tahu dirinya tidak
mungkin ada di sana. Seharusnya,
ada balasan dari sana. Aku
tahu Minami-san memperhatikan reaksiku. Dia pasti menyadari makna dari
gerakanku.
“Begitu
ya.”
Beliau
hanya mengatakan itu dengan singkat. Sepertinya beliau
tidak berniat membahas lebih dalam.
“Tapi,
pemuda itu sekarang menjadi sekjen
partai yang berkuasa ya. Aku
tidak pernah menyangka akan melihat seorang politisi yang memecahkan rekor
termuda di dalam posisi kabinet.”
“Aku cuma
beruntung.”
“Begitu
ya? Mungkin ini bukan hal yang perlu
kukatakan padamu, tetapi seorang politisi harus menarik keberuntungan agar bisa
naik pangkat. Itulah bakat yang paling dibutuhkan, bukan?”
Sembari
berkata demikian, Minami-san perlahan-lahan meneguk
minumannya. Aku pun melakukan hal yang sama.
“Apa
yang ingin kulakukan hanya bisa dilakukan setelah aku naik pangkat.”
Jika aku tidak bisa melakukannya,
kerugian yang kutanggung terlalu besar.
“Jika
para politisi besar tahu bahwa rubah besar di dunia politik masih terus maju dengan emosi naif, mereka pasti akan terkejut.”
“Aku
merasa terhormat mendapatkan penilaian sejauh itu. Kurasa aku tidak pantas
mendapatkan pujian setinggi itu.”
Aku hanya
terus bergerak karena janji kepada sahabatku
dan dendam pribadi. Mungkin
karena menyadari suasanaku, Minami-san
mengeluarkan kata-kata pelan.
“Bukankah
sudah saatnya kamu
memaafkan dirimu sendiri?”
Kata-kata
itu terasa seperti senjata tajam yang dingin. Aku tidak bisa memberikan balasan
apa pun.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya