Jinsei Gyakuten Jilid 4 Bab 1.5

 

Selingan — Di Bar yang Biasa

 

──Sudut Pandang Sekjen Ugaki──

 

Aku kembali ke kampung halaman setelah sekian lama. Aku sedang menikmati wiski ringan di bar langgananku. 

“Tumben sekali. Menggunakan bourbon barrel, bukan sherry barrel, ya? 

Bartender itu tersenyum ketika aku mengatakan itu.

Ya, ini barang eksklusif bebas bea. Aku yang memesannya. 

“Rasanya manis dan lembut, siapapun benar-benar bisa merasakan kualitas minuman aslinya.: 

Bartender itu tersenyum ketika aku menjelaskannya dengan begitu sederhana

“Baiklah, kalau begitu, aku juga ingin pesan yang sama.

Sebuah suara terdengar dari belakangku. Suara yang familiar dan penuh nostalgia. 

Minami-san?

“Ah, sudah lama sekali tidak ketemu ya, Ugaki-kun. 

Minami-san duduk di sampingku, sama seperti dulu. 

Tak berselang lama kemudian, air putih sebagai minuman pendamping, wiski, dan kacang diletakkan di depan pria tua itu

“Hmm, rasanya tidak biasa melihat malt ini dimatangkan dalam bourbon barrel. Mungkin ini adalah minuman yang cukup muda.

Seperti yang diharapkan dari mentor wiskiku. Beliau langsung bisa mengidentifikasi sebagian besar karakteristiknya hanya dengan mencium dan menyesapnya. 

Aromanya kuat dengan vanila dan kayu, tapi di balik itu juga terasa citrus dan floral. Perasaan floral ini pasti menunjukkan kualitas dari spirit aslinya. 

Ketika bartender menuangkan whiskey, aku melihat botolnya dan di sana memang tertera delapan tahun. Tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Namun, ini bukan kebetulan. Pasti ada semacam alasan. Beliau pasti datang ke sini untuk membicarakan sesuatu. 

“Tumben sekali Anda berkunjung kemari. Apa hari ini tidak ada kegiatan sukarela?

Tentu saja, aku sudah melakukannya. Hari ini, aku mengawasi anak-anak sekolah dasar pulang.

“Bagaimana mungkin Anda bisa melakukan itu dengan tenang di hari panas seperti ini? Jika Anda minum whiskey straight dalam keadaan lelah seperti itu, tubuh Anda akan terbebani.

Dia memang selalu begitu. Beliau selalu memliki banyak vitalitas dan kuat dalam minuman. 

Tidak masalah. Dalam pemeriksaan kesehatanku, tidak ada satu pun yang buruk.

“Apa iya... 

Aku tanpa sadar melihat ke arah kanan. Di sanalah tempat duduknya yang biasa. Meskipun aku tahu dirinya tidak mungkin ada di sana. Seharusnya, ada balasan dari sana. Aku tahu Minami-san memperhatikan reaksiku. Dia pasti menyadari makna dari gerakanku. 

Begitu ya. 

Beliau hanya mengatakan itu dengan singkat. Sepertinya beliau tidak berniat membahas lebih dalam. 

Tapi, pemuda itu sekarang menjadi sekjen partai yang berkuasa ya. Aku tidak pernah menyangka akan melihat seorang politisi yang memecahkan rekor termuda di dalam posisi kabinet. 

“Aku cuma beruntung. 

Begitu ya? Mungkin ini bukan hal yang perlu kukatakan padamu, tetapi seorang politisi harus menarik keberuntungan agar bisa naik pangkat. Itulah bakat yang paling dibutuhkan, bukan?

Sembari berkata demikian, Minami-san perlahan-lahan meneguk minumannya. Aku pun melakukan hal yang sama

Apa yang ingin kulakukan hanya bisa dilakukan setelah aku naik pangkat. 

Jika aku tidak bisa melakukannya, kerugian yang kutanggung terlalu besar. 

Jika para politisi besar tahu bahwa rubah besar di dunia politik masih terus maju dengan emosi naif, mereka pasti akan terkejut.

Aku merasa terhormat mendapatkan penilaian sejauh itu. Kurasa aku tidak pantas mendapatkan pujian setinggi itu.

Aku hanya terus bergerak karena janji kepada sahabatku dan dendam pribadi. Mungkin karena menyadari suasanaku, Minami-san mengeluarkan kata-kata pelan. 

“Bukankah sudah saatnya kamu memaafkan dirimu sendiri?

Kata-kata itu terasa seperti senjata tajam yang dingin. Aku tidak bisa memberikan balasan apa pun.

 


Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama