Chapter 8 — Pertempuran Terakhir
Penglihatannya
kabur ke atas dengan kecepatan tinggi, dan langit-langit berjatuhan menimpa
puing-puing, berguling dan menggelinding menuruni lereng.
“Aduh,
aduh, aduh, ugh!”
Masachika
mendarat dengan bunyi gedebuk di tanah datar dan perlahan bangkit.
“Ugh...
kepalaku pusing banget... sialan, padahal sudah disembuhkan...hei, jangan tiba-tiba memanggilku seperti itu.”
Dia
menatap Yuki dengan penuh kebencian, tapi Yuki hanya berpaling dengan wajah
acuh tak acuh. Merasa sedikit jengkel,
Masachika melihat sekeliling.
Ketika
melihat ke atas, Masachika bisa
melihat lubang tempat dirinya jatuh.
Namun, lubang yang seharusnya berdiameter satu setengah meter itu terlihat jauh
lebih kecil. Itu menunjukkan bahwa langit-langit ruangan ini cukup tinggi.
“...
Jadi, ini di mana?”
Tidak ada
tempat di lantai kastil iblis yang dilalui mereka
sebelumnya yang memiliki langit-langit setinggi ini. Jadi, apa ini berarti dirinya berada di bawah kastil
iblis...?
(Apa yang
harus kulakukan? Kalau terbang sih tidak mungkin... Aku bisa saja
menggunakan sihir elemen tanah untuk mengangkat tanah... tapi, jika menggunakan
sihir, itu sama saja. Aku tidak yakin bisa menggunakan sihir dengan tepat ke
lubang sekecil itu. Lagipula, MP yang dipulihkan tadi hampir habis... Apa ada item yang bisa kugunakan? Tali dengan kait sudah
dipinjamkan kepada Ayano, kira-kira
apa ada item lainnya...)
Setelah
berpikir cepat selama sekitar lima detik, Masachika
memutuskan untuk mencari tangga yang bisa membawanya ke atas permukaan.
“Semoga
mereka berdua baik-baik saja... Alya, Masha-san.”
Masachika
merasa sebagian besar bahaya telah berlalu, tetapi karena Nonoa dan Sayaka
hampir tidak terluka, dirinya masih
harus waspada. Sembari menahan
rasa penasarannya, Masachika mengeluarkan
ramuan MP dan alat sihir penerangan dari itemnya. Cahaya oranye lembut
menerangi kegelapan, tetapi tidak ada dinding yang terlihat di mana pun.
Sepertinya ruang ini sangat luas.
(...
Baiklah, untuk sekarang, aku akan mencari
dinding dulu.)
Setelah
memastikan tidak ada tanda-tanda makhluk hidup di sekitarnya, Masachika mulai
berjalan cepat ke depan sambil meminum ramuan MP. Tiba-tiba,
Vrooommmm!
“Whoa!?”
Lingkaran
sihir berwarna ungu hitam bersinar di bawah
kakinya.
Mengira
itu adalah jebakan, Masachika
melompat mundur dengan panik, dan cahaya ungu hitam menyebar ke segala arah
dari tepi lingkaran sihir. Cahaya itu melewati kakinya, mencapai dinding, dan
dengan kekuatan yang sama, melesat naik ke dinding, berhenti sekitar tiga meter
di atas tanah──
Wus wus wus
wus!
Ketika api
menyembur bertubi-tubi, nyala api tersebut menerangi
ruang bawah tanah yang luas. Api ungu gelap menerangi ruang berbentuk silinder.
Jika dilihat lebih dekat, ada pilar-pilar tempat api itu berasal, dan di antara
tiang-tiang itu, ada patung raksasa iblis yang mirip dengan yang berdiri di
samping pintu lantai lima... tidak, lebih besar dan lebih menyeramkan.
“O-Oi, oi...
jangan bilang kalau semua patung itu akan bergerak? Aku belum
pernah mendengar tentang fenomena monster house di bawah kastil iblis.”
Setelah melihatnya secara sekilas, Masachika memperkirakan
ada lebih dari dua puluh patung raksasa. Ua
merasakan ketegangan di pipinya. Meskipun begitu, dirinya tetap bersiap-siap untuk
kemungkinan terburuk dan menjaga kewaspadaan di sekelilingnya.
“...”
Namun,
seolah-olah mengejek Masachika, patung-patung
itu tidak bergerak sedikit pun. Sambil sedikit mengendurkan kewaspadaannya, Masachika masih melihat sekeliling
dengan hati-hati... dan menyadari.
Tiang-tiang
batu besar yang berdiri berjejer. Patung-patung yang menyeramkan dan megah
berdiri di antara mereka. Mirip
seperti...
“Kuil
suci...?”
Saat
Masachika bergumam diam, Yuki
yang selama ini diam akhirnya menjawab.
“Kamu
akhirnya menyadarinya? My Master...
tidak, Sang Mahardika,
Masachika.”
“?
Yuki?”
Mengabaikan
pertanyaan Masachika yang kebingungan, Yuki melesat pergi.
Kemudian,
saat berdiri di depan patung raksasa yang paling besar dan menyeramkan, Yuki
berbalik menghadap Masachika. Pada saat itu, mata patung yang berdiri di
belakang Yuki memancarkan cahaya merah hitam, dan seolah-olah merespons, semua mata patung
bersinar dengan cahaya merah hitam. Bersamaan dengan itu, tubuh Yuki mulai
dibungkus oleh cahaya merah hitam.
“Tempat ini
adalah kuil yang disembah oleh para
iblis, kuil dewa jahat...”
Suara
Yuki yang bergema tidak hanya terdengar di dalam pikiran Masachika, tetapi juga
menggema di seluruh ruang bawah tanah.
Semakin
keras suaranya, tubuh Yuki yang dibungkus cahaya merah hitam juga semakin
membesar.
“Ya,
ini adalah suaka bagi ras iblis.
Dan aku sendiri tak lain adalah──”
Akhirnya,
cahaya merah hitam yang telah menjadi sebesar manusia bersinar dengan lebih
kuat, dan yang muncul adalah... sosok Yuki yang mengenakan pakaian hitam yang
menggoda, dengan sayap kelelawar dari punggungnya, serta tanduk hitam yang
lebih besar dan menyeramkan daripada milik Nonoa atau Sayaka. Sembari mengembangkan sayapnya dengan anggun serta rambut
hitam panjangnya berkibar, Yuki menatap Masachika dari udara dengan sombong.
“Akulah
penguasa sejati dari kastil ini. Raja Iblis Yuki.”
“Jadi,
bukan sebagai Suou Yuki, melainkan Raja
Iblis Yuki. Bagus juga.”
“Dan──”
Tanpa
memperhatikan interupsi Masachika yang terdengar datar, Yuki mengangkat
dagunya, menggerakkan jarinya di atas mata kanannya, dan dengan percaya diri
berteriak.
“I,
am! Your! Sisterrrrrrrrrrr!!”
“Ah, begitu rupanya, jadi itu yang ingin kamu lakukan.”
Dengan
ekspresi datar, Masachika mengamati Yuki dengan seksama. Setelah mengamatinya... ia mengangguk dengan serius
dan berkata.
“Masih
ada beberapa hal yang ukurannya kecil.”
“Berisik
sekali♡”
Yuki menembakkan serangan sinar
dari ujung jari telunjuknya kepada Masachika yang serius mengatakan hal-hal
yang tidak perlu. Sambil
hanya memiringkan kepala untuk menghindarinya, Masachika mengerutkan dahi dan
berkata.
“Yah,
maksudku... meskipun pakaianmu kelihatan seksi, tapi kamu tidak terlalu glamor, malah
perutmu terlihat ramping dan tinggimu pendek... Apa,
jangan bilang kamu terjebak dalam bentuk ini
setelah disegel dan diubah menjadi loli?”
“Aku
tidak kehilangan kekuatan puncakku, oke?
Apa kamu sudah mulai meremehkanku?”
“Bukannya aku
meremehkanmu, tapi...
setidaknya, jika kamu bisa
terbang, bisakah kamu
membawaku ke tempat Alya dan yang lainnya?”
“Jangan
coba-coba menggunakan Raja Iblis
sebagai pijakanmu. Lagian!
Kenapa kamu tidak terkejut sama sekali!!”
“Yah,
habisnya... jika kamu terus mengucapkan hal-hal meta
seperti itu, ya..."
Itu
adalah sesuatu yang sebenarnya sudah lama mengganggu pikirannya.
Sementara
Ayano dan Chisaki berperilaku sepenuhnya seperti penduduk dunia ini, Yuki
jelas-jelas mengeluarkan pernyataan yang menyadari dunia asalnya. Tentang OSIS, darah Eropa Timur... dan dia
bahkan mengatakan dengan jelas di awal. Dia adalah makhluk dari dimensi lain. Itu berarti, Yuki berada
dalam posisi yang lebih dekat dengan Alisa dan MAlya daripada Ayano atau
Chisaki... dan Masachika
berpikir bahwa mana mungkin keberadaan
yang begitu istimewa cuma berakhir
sebagai peri penolong biasa.
“Jadi,
maksudmu... bisa dibilang kalau kamu
berada dalam posisi seperti GM (Game Master), bukan?”
Saat
Masachika mengajukan pertanyaan itu, Yuki tersenyum lebar dan mendarat di
tanah.
“Hmm~,
gimana ya..... jika kamu
ingin tahu jawabannya, cuma ada satu
hal yang harus kamu
lakukan... kalahkan aku di sini!"
“Aku
khawatir tentang Alya dan Masha-san,
jadi aku ingin pergi ke tempat mereka
dulu.”
“Diam!
Jika kamu juga bagian dari kelompok
pahlawan, percayalah pada teman-temanmu dan persiapkan
dirimu!”
Sambil
mengatakan hal yang tampaknya masuk akal, Yuki mengangkat jari telunjuknya ke
langit-langit. Lalu, tubuhnya dibungkus oleh
aura ungu hitam, dan rambutnya yang melambai tiba-tiba berubah menjadi ekor
kuda. Selanjutnya, Yuki menurunkan tangannya dan langsung menunjuk Masachika
sambil mengaum.
“Ini
adalah pertarungan terakhir yang sebenarnya! Ayo serang aku!!”
Dengan
demikian, pertempuran terakhir yang tidak jelas antara
raja iblis dan sang mahardika
dimulai di bawah kastil iblis.
◇◇◇◇
“...”
Setelah
Masachika menghilang ke lantai bawah akibat ledakan tak
terduga.
“Block”
“!”
Alisa
tersadar dari lamunannya ketika dirinya mendengar suara
Nonoa, dia lalu cepat-cepat mengangkat
wajahnya... dan menyadari bahwa dia tidak bisa melihat Nonoa lagi.
“Agh,
lagi-lagi ini...”
Alisa
menggertakkan giginya ketika menghadapi sihir
yang mirip tetapi berbeda dari keterampilan penyamaran yang digunakan Ayano.
Efeknya tidak berlangsung selamanya, tetapi selama sihir tersebut aktif, Alisa tidak bisa menyerang Nonoa sama
sekali. Tentu saja, jika menyerang dengan cara serangan acak mungkin berbeda,
tetapi...
(Untuk saat ini... kurasa aku tidak punya pilihan lain selain menghadapi
Taniyama, ‘kan?)
Saat Alisa mempertimbangkan kembali dan
memfokuskan perhatiannya pada Sayaka, mantra lain melayang ke arahnya.
“Fumble”
Pada saat
itu, genggaman Alisa pada pedang suci tiba-tiba menjadi tidak stabil.
(Hah, ap-apa ini—)
Meskipun
bingung, dirinya mencoba
untuk memegang pedang suci dengan lebih baik, tetapi Sayaka bergerak lebih
cepat.
“Hah!”
Dengan
langkah cepat, Sayaka menyerang dari arah bawah dengan pedangnya. Alisa segera menangkisnya
dengan pedang suci──
Gyaaaain!!
Dengan
suara logam yang beradu, pedang suci Alisa terpental dari tangannya.
(Gawat──!)
Dia
mundur beberapa Langkah akibat guncangan tersebut,
tapi Alisa bersiap untuk mengejar dengan kedua lengannya di depan tubuhnya.
Namun, Sayaka tetap tenang dan cermat.
“Serangan
Bintang Hitam──”
“【Крипасна Ястина】!”
Dinding
cahaya muncul di antara mereka, dan segera setelah itu, pedang Sayaka memancarkan aura
pertarungan merah.
“──Menembus
Bulan”
Dengan
suara tenang, aura pedang yang diayunkan mulai bertabrakan dengan
dinding cahaya── dan dalam sekejap, dinding cahaya itu lenyap.
“Ap──”
Sayaka
menatap Alisa yang terdiam dengan mata dingin di balik kacamatanya, dan berbicara
dengan tenang.
“Sihir
seperti itu tidak berguna di hadapan pedang sihir ini, 'Holy Eraser'....semuanya sudah
berakhir, Pahlawan.”
Dan
dengan semangat juang yang
sama, pedang Sayaka yang dikelilingi aura
merah diarahkan ke jantung Alisa──
“Waahhh!!”
Tepat
sebelum itu, Maria melompat di antara mereka, mengeluarkan teriakan yang agak
antiklimaks.
“Masha!?”
Kemudian,
di hadapan Alisa yang terkejut, dia
mengayunkan tongkat yang dipegangnya ke arah ayunan
pedang Sayaka.
Pada
titik ini, Maria yang masih memprioritaskan pembatalan keadaan abnormal lainnya
juga terkena keadaan abnormal pengurangan gesekan tangan yang sama dengan
Alisa. Jika mereka bertarung secara normal, tongkat Maria seharusnya terpental
seperti pedang suci Alisa. Namun,
(Tongkat
itu...!)
Dalam
pandangan yang bergerak lambat, Alisa membuka matanya lebar-lebar melihat
tongkat yang dipegang Maria.
Benda
yang dipegang Maria saat ini
bukanlah tongkat suci yang biasa.
Bagian ujungnya yang sangat besar, terlihat seperti mace, adalah item terkutuk “Tongkat Penyiksaan Heretik”. Dan, perlengkapan terkutuk
tidak bisa terpental.
(Tapi,
jika bertarung secara normal...)
Kekhawatiran
Alisa mulai menjadi kenyataan.
Meskipun kekuatan ototnya meningkat pesat karena efek ‘Tongkat Penyiksaan Heretik’, serangan
biasa tidak akan cukup untuk melawan teknik bertarung. Namun...
“Full
swing!”
Bersamaan dengan
seruan Maria, aura pertarungan memancar dari tongkatnya.
Ya, Maria
hanya memiliki satu keterampilan pertarungan jarak dekat. Namanya adalah ‘Baseball’. Lebih tepatnya, itu termasuk dalam ‘Teknik Tongkat’. Serangan penuh dari
teknik ini mungkin tidak memiliki kekuatan besar, tetapi meskipun itu adalah
teknik kategori tongkat, efek dorongannya melampaui teknik palu biasa, dan
lebih jauh lagi, dengan serangan kritis—dapat memicu efek memantulkan senjata
dengan probabilitas untuk menghasilkan home run.
Kakiiiiiinn!!
Suara
yang tidak cocok dengan kastil iblis bergema, pedang
Sayaka terpental tinggi ke udara dan menancap di langit-langit.
“...”
Dengan
tatapan yang tidak bisa dibaca, Sayaka melihat tangan kanannya yang kosong.
Sambil tetap waspada, Alisa cepat mundur dan mengambil kembali pedang sucinya.
Meskipun dia masih merasakan pegangan pedang yang goyah, itu tidak terlalu
masalah jika dia tidak khawatir tentang bertarung melawan lawan.
“…
Situasinya mulai terbalik.”
Ucap Alisa
sembari dengan hati-hati mengangkat pedang sucinya, dan
Sayaka mengangkat pandangannya untuk menjawab.
“──Begitukah?”
Sayaka menjawab
dengan tenang dan kemudian dia mengatakan sesuatu yang
mengejutkan.
“Bangkitlah,
Jargilas, Sarilior, Mira-Mir.”
“Ha──?”
Alisa
terkejut mendengar itu, dan pada saat berikutnya, ketiga makhluk iblis yang
terjatuh itu menempelkan tangan mereka ke lantai dan perlahan bangkit.
“Apa!?”
Jika
dilihat, HP yang seharusnya sudah hancur total itu sedikit pulih. Memang,
ketiga makhluk itu hampir mati, tapi... situasi dua melawan enam adalah
kenyataan yang tidak bisa diabaikan.
(Apa yang
harus kulakukan!?
Apa yang bisa kulakukan...!?)
Karena tidak
tahu apa yang harus diprioritaskan, Alisa mencoba meminta keputusan
Masachika... dan menggigit bibirnya karena kenyataan bahwa rekannya tidak ada di sini. Kemudian, dia
segera menyemangati dirinya sendiri.
(Pikirkanlah sendiri, Alisa! Apa kamu tidak
belajar apa pun setelah bersama Kuze-kun? Pikirkan baik-baik! Dalam
situasi seperti ini, apa yang akan dilakukan Kuze-kun...)
Selama
tiga detik. Alisa berusaha keras mengingat taktik dan instruksi Masachika
sebelumnya, lalu mengangkat lengan kanannya tinggi-tinggi.
“Masha, pokoknya
cepatlah berlari ke sana!”
Dia
menatap kakaknya yang berbalik dengan tegas. Dan, percaya bahwa pesan itu
diterima, dia dengan cepat mengoperasikan menu dengan tangan kanannya yang
diturunkan.
“Ooohhh!”
“Bummooooo!”
“““Veeeee!!”””
Jeritan
ketiga makhluk iblis yang bangkit bergema. Sayaka menarik pisau dari belakang
pinggangnya dan bersiap menghadap Maria. Sambil berusaha untuk tidak terlalu
memperhatikan itu, Alisa mengeluarkan tiga bola asap dan melemparkannya ke
tanah.
Asap
menyebar lagi, menutupi medan perang. Namun....
“Mira-Mir,
tiup asap itu dengan angin.”
Kali ini, keputusan Sayaka jauh lebih cepat. Dia mengeluarkan perintah
dengan tenang, dan Alisa bisa mendengar makhluk iblis kambing mulai melafalkan
mantra. Namun, Alisa tidak panik dan percaya pada kakaknya, menunggu saat yang
tepat.
Strategi
yang dibuat Alisa sederhana. Jika jumlah musuh terlalu banyak, maka
satu-satunya cara adalah mengabaikan pengikut dan langsung menyerang kepala.
Namun, karena sihir yang merepotkan itu, dia tidak bisa langsung menyerang
Nonoa. Meskipun begitu...
“Alya-chan!”
Dengan
keterampilan khusus 《Mukjizat Bunda Suci》, Maria dapat mencapai tujuan
Nonoa meskipun terhalang oleh sihir dan penglihatan yang terhalang.
“!”
Usai mendengar
suara dari arah singgasana,
Alisa segera menggenggam kuat gelang sakunya di lengan kanannya. Setelah merasakan sensasi
melayang sejenak, penglihatannya beralih. Sekaligus, Alisa mengangkat pedang
sucinya.
Dia tidak
perlu melihat maupun membidiknya. Cukup ayunkan pedang, dan Nonoa
ada di sana.
(Mungkin rasanya akan sedikit sakit!)
Teknik
yang diaktifkan adalah ‘Serangan Tumpul’.
Meskipun teknik ini menghabiskan SP, kekuatan serangannya tidak meningkat,
malah menurun. Sebagai gantinya, dia
dapat menambahkan kerusakan pukulan pada serangan tebasan dan memberikan status
abnormal pingsan dengan probabilitas tertentu. Dan, serangan ini tidak akan
pernah membuat HP menjadi nol.
“Pukulan
Tumpul!”
Memanfaatkan
keadaan bahwa dia tidak bisa melihatnya, Alisa
memejamkan matanya dan mengayunkan
pedangnya──
“Baiklah~ aku
menyerah~”
... Dia
menghentikan ayunan
tangannya saat mendengar
suara yang mengejutkan dari jarak dekat.
“...
Menyerah?”
“Ya,
aku menyerah~ aku menyerah~. Kami menyerah sepenuhnya. Ayo, semua
buang senjata kalian~”
Suara senjata yang dibuang terus
terdengar di dalam
asap yang sudah mulai menipis. Dan sebelum dia
bisa menyadarinya, Alisa kini bisa melihat Nonoa secara
langsung.
“...
Apa maksudmu?”
“Hmm~~? Habisnya,
keadaannya jadi semakin sangat
sulit, jadi... kupikir semuanya akan
baik-baik saja. Dan sepertinya
bala bantuanmu sudah datang~?”
“Eh?”
Mengikuti
tatapan Nonoa, Alisa menyadari Ayano yang mengarahkan sesuatu yang terlihat
seperti pensil tajam di leher
Sayaka.
“Ayano-san!”
Mendengar
suara Alisa, Ayano hanya melirik sedikit sebelum menunjukkan sesuatu di
belakangnya yang terlihat seperti kotak kardus.
Benda itu
yang telah membesar hingga satu meter di setiap sisi menunjukkan bahwa ada
seseorang di dalamnya. Dia pasti
berhasil menyelamatkan Touya dan
berlari ke sini. Merasa lega dengan fakta tersebut,
Alisa mulai berpikir tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dan dia
menatap Nonoa sambil berkata.
“...Sebagai
bukti bahwa Raja Iblis telah menyerah, aku akan memintamu untuk menemaniku ke
ibu kota.”
Mendengar
kata-kata itu, Nonoa memiringkan kepalanya sambil tetap duduk di singgasana.
“Aku
bukan raja iblis loh~”
“...
Hah?”
“Tidak,
aku tidak pernah menyebut diriku sebagai raja
iblis.”
“Itu
tidak mungkin...!”
Saat Alisa ingin membantah dengan cepat,
dia mulai menyadarinya.
Nonoa memang hanya menyebut dirinya sebagai Ratu Succubus, dan tidak pernah
mengatakan raja iblis. Para iblis
yang Alisa kira adalah empat raja iblis juga, Nonoa dengan jelas menyebut
mereka sebagai pengawal.
“Ngomong-ngomong,
jika kamu sedang mencari raja
iblis, dia sedang bertarung di bawah.”
“!?”
“Bukankah
sebaiknya kalian harus menyusul ke sana? Kurasa kalau cuma
Sang Mahardika saja yang melawannya pasti berat. Meskipun,
dengan perisai yang aktif, aku rasa tidak mudah untuk masuk sih.”
Setelah
mendengar itu, Alisa tidak bisa menahan diri dan berlari menuju lubang tempat
Masachika jatuh. Dan, dia menyadari suara pertarungan yang terdengar dari dalam membuatnya tersentak.
“Kuze-kun...!!”
◇◇◇◇
Saat
Alisa berhasil mengalahkan
Nonoa dan Sayaka, serta bergabung dengan Ayano, dia mulai bergerak menuju
Masachika.
“Uwoooooh!?”
Sementara
itu, Masachika berusaha mati-matian
menghindari sinar merah muda yang ditembakkan dari jari telunjuk Yuki. Tanpa
menunjukkan tanda-tanda penurunan kekuatan, sinar itu telah ditembakkan lebih
dari satu menit, dan ia berlari, melompat, dan menghindar.
“Serius,
mau sampai berapa lama serangan itu berlangsung?!
Pancaran cahaya macam apa itu?!?”
“Ohh~ kamu penasaran?”
Setelah Masachika berteriak dengan putus asa, Yuki
tiba-tiba menghentikan sinar itu, dan Masachika menghela napas sambil menatap
Yuki.
“Kamu ingin
mengetahuinya? Pancaran cahaya macam
apa ini.”
“...
Aku sangat ingin mendengarnya.”
Karena
dapat ditembakkan terus menerus selama lebih dari satu menit, tampaknya itu bukan mantra sihir yang menghabiskan MP. Ada
kemungkinan besar ini adalah keterampilan khusus raja iblis, tapi jika
demikian, bagaimana dengan batasan jumlah atau waktu aktifnya? Apalagi, jika itu
keterampilan khusus, kemungkinan besar kemampuannya
itu mencerminkan kepribadian dan karakter Yuki... tapi
kepribadian macam apa yang bisa melepaskan sinar seperti itu?
“Baiklah, kalau
begitu, aku akan memberitahumu...”
Di depan
Masachika yang serius merenungkan sesuatu,
Yuki perlahan menyilangkan tangan dan mengangkat dagunya, lalu dengan sikap
yang sangat percaya diri, dia mengumumkan.
“Itu
adalah sinar 'Onii-chan chuki-chuki beam'.”
“Ohh, jadi
itu 'Onii-chan
chuki-chuki beam', ya.”
“Umu...”
Sambil
mengangguk dengan ekspresi serius, Yuki kemudian tersenyum lebar,
“Zubibibibi!!”
“Tidak,
kekuatannya terlalu kuat oi!!”
Masachika
kembali fokus untuk menghindari serangan
sinar yang dengan mudah mengikis tanah dan dinding.
“Kamu ini! Aku sudah terluka parah
dari pertempuran di atas! Kamu seharusnya sedikit mengasihaniku
sedikit
dong!”
“Oi, oi, kamu berbicara sangat manja. Apa kamu pikir bisa bertarung dalam
kondisi terbaik setiap saat? Ini bukan pertandingan, ini adalah pertempuran
sungguhan!”
“Sejujurnya,
aku tidak punya alasan untuk bertarung denganmu!?”
“Aku
sih punya alasan!”
“Alasan!?
Alasan macam apa!?”
Menjawab
pertanyaan Masachika, Yuki menghentikan serangan sinar
sejenak, lalu dengan wajah serius menggenggam tinjunya dan berkata,
“Dengan kesempatan
ini, aku akan mengalahkan Onii-chan sampai sepuasnya!”
“Sepele banget!”
“Itu
tidak sepele! Kamu
mengerti bagaimana perasaanku yang tidak pernah bisa mengalahkan Onii-chan sampai sekarang!?”
“Aku tidak
pernah tahu kalau kamu memiliki kompleks yang begitu serius!?”
“Itu
sih karena kamu, itu loh, karena kamu...”
“Sama sekali
tidak ada, ‘kan!?
Tunggu, oiiii!?”
Begitu
Yuki terlihat bingung, sinar itu kembali menyala, dan Masachika menghindar
lagi.
“Kamu ini
benar-benar yaaaa!!”
Masachika
berlarian menghindar sambil berteriak keras,
Yuki tiba-tiba menunjukkan ekspresi penuh kasih, meletakkan tangan di dadanya,
dan berkata dengan lembut,
“Terima
kasih atas segalanya, Onii-sama.
Hari ini, Yuki akan melampaui Onii-sama.”
“Jangan
menciptakan suasana yang emosional! Apa sebegitu menyenangkan
menang dengan akun curang!?”
“Ya, rasanya
sangat menyenangkan~~♪”
“Sialan!”
Sambil
berteriak jengkel,
Masachika melompat ke dalam bayangan
tumpukan puing yang terbentuk akibat sihir yang menembus beberapa lantai.
“Hahaha~
rintangan seperti itu tidak ada artinya di depan cintaku yang melimpah!”
“Ini
cinta yang cukup agresif!”
“Onii-chan~,
terimalah cintaku ini~♡”
“Tapi
aku menolaknya!”
“Hah?
Kamu ini bilang apaan? Aku
akan menangis, aku akan menangis tau!?”
“Berhenti
menembak sinar dulu baru bicara!”
Sambil
saling berdebat seperti itu, Masachika mengoperasikan item dan mengeluarkan
jubah gelap dan kayu yang ia dapatkan di sepanjang jalan. Lalu, ia memasukkan
kayu ke dalam jubah dan melemparkannya dari balik puing-puing, lalu melompat
keluar mengikuti setelahnya. Tiba-tiba, sinar itu menyala di belakang
Masachika, menembus tumpukan puing.
(Bagus!)
Tanpa
meleset dari sasarannya, Yuki segera menyadari
kayu dan jubah itu sebagai tipu daya dan dengan cepat mengarahkan sinarnya ke
sisi yang berlawanan.
Yuki
pasti akan menyadari bahwa dirinya
telah ditipu dan akan mengarahkan sinar ke arah Masachika lagi. Kesempatan
sesaat yang muncul dari penyesalan itu. Ia
mencuri napas sejenak untuk beralih kembali ke serangan. Teknik yang dia
pelajari di dunia asalnya adalah──
(Teknik yang disukai semua orang, Shukuchi!)
Bukan
teleportasi. Hanya berpindah dengan lincah
ke celah dalam kesadaran lawan. Dengan
begitu, Masachika bergerak ke sisi luar lengan
kanan Yuki dan segera mengayunkan buku sihirnya.
Tentu saja,
mana mungkin bagi Masachika yang
diakui sebagai siscon akut untuk
memukul adiknya dengan keras. Jadi, targetnya adalah... tanduk. Dengan
membayangkan memindahkan dampak dari tanduk yang tumbuh di sisi kepala Yuki ke
tanduk yang berlawanan, ia memukulnya
secara vertikal!
“Hmph!”
Dengan
suara tumpul, sampul belakang buku sihir Masachika
menghantam tanduk Yuki dengan keras.
“Eh...?”
Yuki yang
menggelengkan kepalanya dengan kuat, tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan
kakinya tampak goyah... dia kemudian menjejakkan kaki dengan
keras di tanah.
“Ya,
sayang sekali~!!”
Dari
bawah kakinya, lingkaran sihir merah muncul.
“!?”
Ketika melihat
lingkaran sihir yang muncul satu per satu di sekitarnya, Masachika diserang
rasa bahaya dan segera mundur sekuat tenaga. Dari lingkaran sihir itu, pilar-pilar api menyembur tinggi sembari diiringi bunyi gemuruh.
“Ah,
panas, panas!”
Setelah
melarikan diri dari dinding api yang mengejarnya,
Masachika akhirnya bersembunyi di
belakang tumpukan puing. Dan setelah beberapa detik, penyebaran lingkaran sihir
berhenti. Ketika pilar api yang
berkobar itu tiba-tiba padam, Yuki berkata sambil menggelengkan kepalanya.
“Ah,
jadi kau menggunakan pengalaman kelinci bertanduk untuk mengincar efek gegar otak. Itu memang mengesankan, tetapi raja iblis memiliki
ketahanan pingsan yang luar biasa~!”
“...
Ah, jadi ketahanan seperti itu juga mempengaruhi ya?”
Jika
dipikirkan lagi dengan tenang,
jarang sekali bos terakhir terkena status abnormal. Meskipun terkena, selalu ada kesan cepat
pulih.
(Jadi,
menahan serangan mereka
dengan status abnormal itu mungkin mustahil ya...)
Rencana
untuk melumpuhkan musuh secara
damai sudah gagal, hadi Masachika mendengus pelan di
depan Yuki yang menggerakkan lengannya.
“Baiklah,
setelah pembukaan yang mengerikan ini selesai... kita mulai pertarungan yang
sebenarnya.”
“Hah?”
Masachika
mengernyitkan dahinya, dan
Yuki mengangkat jari telunjuknya.
“Pertama-tama, aku akan mengungkapkan satu hal: kematian di dunia ini tidak akan mempengaruhi
dunia nyata.”
“Apa?
Tunggu, apa kamu mengetahui dengan jelas kalau
dunia ini apaan?”
Menanggapi
pertanyaan Masachika, Yuki tersenyum penuh percaya diri.
“Yah,
itu akan bisa menjadi
kejutan nanti... jadi, mari kita nikmati pertarungan ini tanpa ragu, oke? Kesempatan semacam ini tidak akan datang lagi. Ayo,
lepaskan sihirmu. Karena tidak
ada Alya-san atau Masha-san di sini, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan orang lain, kan?”
Yuki
menggerakkan kedua tangannya dengan suasana hati yang
jelas-jelas sedang gembira.
“...
Jadi,
dampak kerusakan di sini benar-benar
tidak akan mempengaruhi kenyataan?”
“Iya beneran.
Aku sangat serius kok.”
“Haaa...
aku mengerti.”
Setelah
menghela napas ringan, Masachika juga tersenyum penuh percaya diri seperti
Yuki.
“Baiklah,
aku akan melakukannya. Aku akan menunjukkan bahwa adik perempuan tidak bisa mengalahkan kakaknya.”
“Hahaha,
maka aku akan menunjukkan bahwa seorang kakak
bisa dilampaui oleh adik perempuan!”
Keduanya
bertukar senyum lebar, dan kemudian mulai melafalkan mantra secara bersamaan...
dari situ dimulailah pertarungan yang benar-benar merupakan puncak sihir.
“Black Lightning!!”
“【Старино-Иекапиё】!!”
Ketika
Yuki melepaskan petir hitam, Masachika memunculkan tombak baja dari tanah satu
per satu untuk mengalirkan petir ke tanah dan
membidik Yuki yang berada di udara.
“【Гигантский вихрь】!!”
Demi
menghindari dan menghalangi serangan tombak yang datang secara beruntun,
Yuki melepaskan bola api raksasa. Sementara
itu, Masachika menciptakan tornado untuk menelan api
dan menyebarkannya.
Pertarungan
antara sang mahardika, yang
merupakan penyihir terkuat umat manusia, dan raja iblis, penyihir terkuat makhluk
iblis, berlangsung dengan sangat sengit
meskipun sihir sang mahardika
cenderung tidak stabil, dan menyebabkan kerusakan besar di sekitar mereka,
keduanya tidak mengalami kerusakan yang signifikan.
(Jika
situasi ini terus berlanjut...
aku duluan yang
akan berada dalam posisi tidak menguntungkan.)
Sebagai
saudara kandung, mereka dapat membaca gerakan satu sama lain hingga tingkat
tertentu. Jika kekuatan sihir mereka seimbang, yang menentukan adalah jumlah
serangan dan stamina. Dalam hal ini, Masachika yang kehabisan MP setelah
bertarung berulang kali dan tidak bisa terbang berada dalam posisi yang sangat
tidak menguntungkan.
(Dan dia
juga memiliki serangan sinar
itu... tadi dia mengeluarkan tiang api tanpa melafalkan mantra, dan jika dia
memiliki dua keterampilan khusus seperti kita, mungkin dia juga memiliki
kemampuan lain.)
Jika
dugaannya benar, maka Yuki
memiliki keunggulan dalam jumlah serangan.
(Dan jika
kita menganggap raja iblis adalah entitas yang sebanding dengan pahlawan, maka...)
Saat
Masachika berpikir sejauh itu, serangan badai
api mulai mereda, dan Yuki terlihat
mengarahkan tangan kanannya ke arahnya.
“Dark Ray”
(Ah, sudah kuduga! Dia memang memiliki sihir
kegelapan!)
Mungkin
sihir itu adalah kebalikan dari sihir cahaya
suci yang dimiliki Alisa. Sihir ini tidak dapat dinetralkan oleh sihir lima
elemen.
“Cih!”
Dihadapkan
dengan sinar hitam pekat yang datang menyerbu dengan kecepatan tinggi,
Masachika segera memutuskan untuk menggunakan buku sihirnya sebagai perisai.
“Ugh!”
Kedua
tangannya diserang oleh sensasi kejutan
misterius, tetapi buku sihir legendaris itu tidak rusak meskipun terkena sihir
raja iblis, dan berhasil menahan serangan itu.
“Hebat,
kamu memang luar biasa. Seperti yang
diharapkan dari Onii-chan-sama
tercintaku.”
Mengabaikan
reaksi adiknya yang ceria, Masachika segera berlari ke belakang bayangan tombak
besar yang diciptakannya tadi, memotong garis tembakan.
Selanjutnya, Masachika dengan
cepat mengoperasikan menu sambil berlari dan mengeluarkan beberapa item.
Inilah
keunggulan yang dimiliki Masachika dibandingkan Yuki. Berbeda dengan Yuki, ia
memiliki senjata dan juga dapat menggunakan item.
(Tetapi
dia juga hampir mengetahui semua item yang kumiliki... Jika aku menggunakannya
dengan ceroboh, dia mungkin akan memanfaatkan celah itu.)
Sambil
meneguk ramuan MP, Masachika memasukkan dua item yang ia ambil ke dalam sabuk di
punggungnya.
(Kesempatanku cuma sekali.)
Ketika bersembunyi
di balik bayangan tombak besar dan mengamati keadaan, Masachika mendengar suara
Yuki.
“Summon
Devil!”
“Hah—!?”
Ketika
Masachika dibuat terkejut,
dua iblis muncul dengan sayap kelelawar, membawa perisai besar dan nyala api
biru sebagai pengganti rambut mereka.
“Oi, tunggu,
kenapa kamu malah memanggil bala bantuan!? Itu tidak adil!?”
“Aku
hanya bertarung dengan semua kekuatanku, tau!”
“Sialannn!”
Masachika
melompat keluar dari bayangan tombak dan berlari.
“Hahahahaha,
kamu mau pergi ke mana~. Dark
Ball.”
Dengan
suara tawa yang riang menyenangkan, Yuki menciptakan bola hitam di tangannya. Bersamaan
dengan itu, kedua iblis juga menciptakan bola hitam di tangan mereka dengan
suara yang samar.
(Jika
sudah begini... kurasa aku sudah tidak punya
pilihan lain.)
“【Нишаджиятший Ваздоуши Юнуйпаток】!!”
Sembari
merasakan sensasi MP yang baru saja pulih berkurang
drastis, ledakan besar terjadi di ruang bawah tanah.
“Whoa!?”
“!?”
Yuki yang
terkejut bersama dua iblis kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah... tetapi sebelum mereka sempat melakukannya, Masachika
sudah berlari.
Seraya
menahan hembusan angin kencang yang menekan tubuhnya, Masachika bergerak maju
melintasi tiga bola hitam yang ditembakkan dan juga melewati dua iblis di
bawahnya.
“Ugh!”
Kemudian,
dia mengangkat buku sihirnya ke arah adiknya yang jatuh ke tanah. Namun, lebih
cepat dari gerakan Masachika, Yuki
menyadari bahwa dia akan meluncurkan sihir... dan melihat dua iblis ada di
jalurnya.
Menyadari
bahwa dia akan melibatkan bawahannya, Yuki membalas dengan senyuman nakal
kepada kakaknya yang mendekat dan mulai berlari ke depan dengan tinjunya
terangkat. Ini adalah pertama kalinya Yuki yang sebelumnya hanya menyerang
dengan sihir, kini terjun ke dalam pertarungan
jarak dekat.
“Uoooooohhhhhhhh! Kamu
selalu
My Sweetest Brotherrrrrrrrrrrr!”
“Uooooooh!
I promise untuk selamanya with youuuuuuuuuu!”
Ketika
Yuki menerjang sambil meneriakkan hal yang aneh,
dan Masachika pun membalas dengan teriakan anehnya sendiri... dan melemparkan buku sihirnya dengan
sekuat tenaga.
“Hah?”
Buku
sihir itu mengenai wajah Yuki yang terkejut sepenuhnya.
“Au!”
Sambil
mengeluarkan suara aneh dan menengok ke belakang, Masachika meraih item yang sudah ia sisipkan di sabuknya.
(Kamu hampir mengetahui semua
item yang kumiliki... tapi item ini
pasti tidak kamu
ketahui!)
Ketika Yuki
berkedip-kedip dan menoleh kembali,
Masachika sudah mengangkat...
sandal toilet berwarna hijau yang dipegangnya.
“Apa-apaan itu!?”
Dengan
suara terkejut, sandal toilet itu mendarat di kepala Yuki dengan serangan
kritis. Suara "Splat!"
yang sangat memuaskan bergema... dan Masachika merasa telah menang dalam taruhan
ini.
(Baiklah!)
Di
sebelah bar HP Yuki, muncul tanda catatan yang terhapus dengan tanda silang.
Status abnormal "Hening". Efeknya adalah tidak bisa
menggunakan sihir untuk waktu tertentu.
(Dia mungkin akan segera
pulih... tapi, dia pasti tidak bisa
menghentikan serangan ini!)
Masachika langsung mengambil item lain yang sudah disimpan di sabuknya, tongkat
pendek naga, dan berteriak.
“Aktifkan!”
Kobaran api
besar menyembur dari tongkat pendek itu dan
melahap Yuki dalam sekejap. Karena
Masachika hampir tidak memiliki MP tersisa, serangan api
itu berhenti dalam beberapa detik...
(Yah, pasti akan ada kerusakan besar,
dan ini harus menyelesaikan masalah.)
Namun,
bertentangan dengan harapan Masachika, Yuki muncul dari asap hitam tanpa cedera.
“Hah?”
Masachika
membuka mulutnya karena terkejut.
Yuki mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya dan berkata,
“Sayang
sekali. Makhluk yang aku panggil sebelumnya adalah
Iblis Pelindung. Selama pemanggilan, dia akan menanggung kerusakan yang
diterima oleh pemanggil. Meksipun
jika dia menanggung kerusakan, jumlahnya akan menjadi dua kali lipat.”
“...
Memangnya itu mungkin?”
Rencananya
telah sepenuhnya digagalkan dengan cara yang tak terduga, dan ketika kakaknya masih dalam keadaan tercengang,
Yuki tersenyum lebar sambil melayang di udara.
“Tapi
ya, mungkin salahku sendiri karena
terlalu fokus pada serangan jarak jauh. Tidak kusangka bisa terkena satu
serangan dengan begitu mudah... mungkin saatnya aku menunjukkan kemampuanku yang sesungguhnya.”
“Hah?
Kemampuan sesungguhnya?”
“Onii-chan
juga sudah menduganya, kan~? Keterampilan khususku yang satu
lagi.”
Usai mendengar
itu, Masachika secara refleks bersiap-siap. Melihat reaksi kakaknya, Yuki
seolah-olah menertawakan ketidakberdayaan tersebut, dan mulai membungkus
dirinya dengan cahaya ungu gelap.
“Ya,
ini adalah keterampilan khusus keduaku... yang disebut 'Mode Perubahan'.”
Di dalam
aura ungu gelap, kuncir rambutnya terurai, dan rambut hitam panjangnya
terbentang seperti sayap.
Selanjutnya,
saat Yuki menggerakkan tangan kanannya ke samping, kegelapan pekat terkompresi
di tangannya. Energi yang menyeramkan dan ganas itu, mirip dengan lubang hitam
kecil, berubah bentuk dalam sekejap, dan menjadi pedang besar yang mengerikan.
“Dan
ini adalah perlengkapan khusus untuk raja iblis... pedang sihir ‘Break Lovers Connection?'...
atau biasa disingkat 'Brocon'...”
“Penamaannya.”
Masachika
menanggapi dengan tatapan tajam usai
mendengar penamaan senjata
yang sangat buruk itu... dan sesaat kemudian,
ia mendengar suara keras dari atas
kepalanya.
“Hah?”
“Aaaahhhhhhhhhhhhhhhhh!”
Kemudian,
Alisa jatuh dengan teriakan yang terdengar seperti jeritan. Dalam sekejap, dia
jatuh dari tumpukan puing-puing dan meluncur ke bawah... atau lebih tepatnya,
melompat turun.
Dan
dengan ajaibnya, dia
mendarat di samping Masachika.
“A-Alya? Jangan
bilang kamu terjun dari atas, ‘kan?”
Saat Masachika bertanya sambil melihat lubang
di atas dan Alisa secara bergantian, Alisa menatap Masachika dan mulai
mengatakan sesuatu... tapi dia
mengalihkan pandangannya dan berbisik.
【Habisnya,
aku khawatir sih】
Pada saat
itu, Masachika merasakan sesuatu yang hangat membuncah
dari dalam tubuhnya.
(Ap-Apa yang terjadi? Apa ini
karena sudah lama aku tidak mendengarnya berbicara malu-malu dalam bahasa Rusia?? Oh, ya, kalau dipikir-pikir, Masha-san selalu berada di dekatnya...)
Meskipun
merasa malu, Masachika mencoba tidak menunjukkan ekspresi itu dan hanya memiringkan kepalanya.
“Apa?”
“...
Aku hanya mengatakan kalau aku jatuh
karena terjatuh saat merusak penghalang.”
“Begitu?”
Pada saat
itu, Masachika mendengar suara Maria dari atas
dan melihatnya turun dengan menggenggam tali yang menjuntai dari lubang. Maria
turun dengan suara yang menyedihkan.
“...
Syukurlah kamu
selamat.”
“Ahh, iya.”
“Jadi...”
Alisa
menatap Yuki dan bersiap dengan pedang sucinya tanpa lengah.
“Yuki-san, apa benar kamu adalah
raja iblis?”
“Fufufu,
ya, benar.”
“...
Kamu sudah berkelana bersama
Kuze-kun, ‘kan?”
“Tentu
saja, kami selalu bersama sepanjang waktu. Bahkan mandi pun kami lakukan
bersama.”
“Kamu...!”
Saat itu,
Alisa yang terkejut membuka matanya lebar-lebar dan berbalik dengan cepat,
sementara Masachika berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat ke arahnya.
Namun, Yuki dengan senyum licik seperti raja iblis melanjutkan.
“Tentu
saja, saat tidur kami berbagi satu selimut, kan? Tapi ya, mau bagaimana lagi, oke? Aku dan Masachika-kun secara
praktis mirip seperti satu tubuh yang tak terpisahkan.”
Tatapan Alisa
kembali tertuju pada Yuki. Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu, ragu
sejenak, lalu berbisik dalam bahasa Rusia.
【Aku juga begitu. Karena kita adalah partner】
Pada saat
itu, tubuh Masachika kembali terasa panas.
(Ap-Apa ini... Padahal itu bukan sesuatu yang perlu tersipu...
Tunggu, eh? Perasaan ini...)
Masachika
menyadari bahwa perasaan ini mirip dengan yang pernah ia rasakan sebelumnya,
dan membuka menu untuk memeriksa statusnya. Setelah melihat statusnya, dirinya semakin yakin.
“...
Hei, Alya.”
“Apa sih?”
“Sepertinya
aku mendapat semacam buff.”
“...
Hah?”
“Sepertinya
bahasa Rusiamu telah memberiku semacam buff?”
Meskipun ia merasakan tatapan bingung dari
Alisa, Masachika dengan jelas mengatakannya, dan Yuki mengangguk sambil menyentuh
dagunya.
“Bagi
manusia di dunia ini, bahasa Rusia seperti bahasa
sihir. Mungkin saja memang
terjadi begitu.”
Usai mendengar
kata-kata tersebut,
Masachika melihat Alisa yang ternganga kaget
dan memanfaatkan kesempatan itu untuk memohon padanya.
“Kumohon,
Alya! Berikan lebih banyak buff padaku supaya aku bisa
mengalahkannya!”
“E-Ehhh?”
“Coba ucapkan
sesuatu yang bisa memberiku kekuatan! Saat ini, dia terlalu curang dan aku sama
sekali tidak bisa menang melawannya!”
“Bee-Begitukah? Hmm, kalau begitu...”
Mungkin
karena kewalahan oleh permohonan
Masachika, Alisa
mengalihkan pandangannya dan berkata, sedikit malu-malu.
【Semangat ya? Ak-Aku
mendukungmu, oke? 】
“...
Loh, kok sepertinya
buff-nya melemah, ya.”
“Kenapa!?”
Alisa
menggertakan bibirnya dengan pipi memerah dan
mengerutkan alis. Masachika menggerakkan kedua tangannya, memanggilnya untuk
mendekat.
“Mungkin
kata-kata sebelumnya lebih tepat. Tolong ucapkan yang sejalan dengan itu!”
“Ka-Kamu
ini, jangan terlalu terbawa suasana...!”
“Eh?
Ada apa? Apa aku mengucapkan hal yang aneh?”
Ketika
Masachika bertanya dengan ekspresi polos,
Alisa terdiam sejenak seraya
mengalihkan pandangannya. Lalu,
dengan sedikit kesal, dia mengerucutkan bibirnya.
【... Kamu adalah pasangan sehidup sematiku, oke?】
“O-Ohh!
Statusku meningkat! Ucapkan lagi yang sejalan!”
【Kalau kamu benar-benar mau... aku bisa
tidur bersamamu】
“Oooo!
Statusku meningkat lagi! Teruskan dengan satu kalimat lagi!”
【Aku tidak akan menyerahkan
tempat di sampingku kepada siapa pun!】
“Uoooooohhh!!”
Alisa
berteriak dalam bahasa Rusia seolah menantang dengan
wajah merah padam, sementara Masachika berusaha keras menahan wajahnya yang
juga hampir memerah. Akhirnya, Maria turun di atas puing-puing, diikuti oleh Ayano
yang mendarat dengan anggun sambil membawa kotak kardus besar.
Setelah
memastikan semua rekannya berkumpul,
Masachika menoleh ke arah Yuki.
“Baiklah,
maaf sudah menunggumu, Yuki! Dari sini, ini adalah
pertempuran terakhir yang sebenarnya!”
Merasa
sedikit tertekan dengan suasana aneh dari Masachika, Yuki tersenyum
tenang.
“Fufu,
kamu pikir hanya dirimu yang menjadi
lebih kuat? Sebelumnya, aku berada dalam mode jarak jauh yang terfokus pada
serangan jarak jauh. Sekarang, aku berada dalam mode raja iblis yang serba bisa
dan bisa bertarung jarak dekat.”
“Kamu mungkin ingin mengelabuhiku, tapi mode jarak jauh itu
sedikit berlebihan.”
Mengabaikan
komentar Masachika, Yuki terbang ke udara.
“Jika
kamu
begitu yakin bisa mengalahkanku sekarang... silakan saja! Aku akan melawan kalian
berempat sekaligus.”
Yuki
memancarkan aura ungu gelap dengan
senyum percaya diri, dan Alisa menggenggam pedang sucinya sambil memanggil
rekan-rekannya.
“Ayo!
Kita pasti bisa menang!”
“Ya!
Tapi jangan berlebihan, ya? Untuk jaga-jaga.”
“Eh,
kita akan melawan Yuki-chan? Tunggu sebentar dong, Onee-chan masih belum
siap!”
[Apa
kita benar-benar harus bertarung?]
“Bukannya
kita semua tidak sejalan!?”
Alisa
berteriak dengan suara putus asa melihat rekan-rekannya yang tidak kompak, dan
saat itu, pertempuran terakhir
yang sebenarnya tampaknya akan dimulai... ketika tiba-tiba.
“────yaaaーーーー!”
Mereka semua
mendengar suara yang terdengar familiar mendekat dari kejauhan. Semua orang di tempat
itu menengadah dan melihat, suara kecil yang awalnya terdengar samar semakin
membesar.
“Oooyaaaaa────────!Touyaaaaaaaaaaaaaaa────!!”
“Ughe!”
Siapa
yang mengeluarkan suara itu? Tanpa sempat berpikir, suara hancuran yang
mengerikan menggema, dan langit-langitnya
jebol dengan suara yang menggelegar.
Layaknya
meteor, ada sesuatu yang jatuh ke lantai kuil... tidak, dia melayang seperti tendangan
terbang, menyebabkan retakan yang meluas sebelum akhirnya berhenti. Dia adalah seorang gadis. Ya, dia adalah Ratu Chisaki.
“Touyaaaaaaaaaaaaaaa────!!
Aku datang untuk menjemputmu!!”
Gelombang
kejut meledak di sekitar Chisaki yang
berteriak keras. Patung iblis di dekat dinding runtuh seolah-olah itu hanya
lelucon. Melihat pemandangan itu, Masachika yang berjongkok sambil menutup
telinga merasa jauh.
(Ahahaha~~
Ini gila sekali♪ Meskipun aku sudah naik level cukup tinggi, aku sama sekali
tidak merasa bisa menang melawannya)
Dengan
kekuatan luar biasa dari sang ratu, Masachika mencapai pencerahan seolah-olah dirinya menghadapi
akhir dunia, tapi saat itu, kotak kardus yang melayang di
belakang Ayano terbuka.
“Chisaki!”
Dan dari
dalamnya muncul Touya... Touya yang Masachika kenal dengan
tubuh yang kekar dan kuat.
(Apa?
Bukannya ketua
yang diculik itu adalah ketua yang gemuk sebelumnya?)
Sambil
mempertanyakan hal itu, dua tunangan itu akhirnya bertemu kembali dengan penuh
emosi.
“Tooya! Kamu Tooya,
‘kan? Kenapa penampilanmu jadi seperti ini!?”
“Saat
aku ditangkap, aku berusaha keras
melatih diriku untuk bisa melarikan diri!”
“Jadi kamu benar-benar berniat melakukan 'prison
break' (secara fisik)!?”
Sambil
memberi komentar, Masachika menyadari dari percakapan mereka bahwa Touya sepenuhnya berada di pihak
penduduk dunia ini.
(Setidaknya,
ketua yang malang itu tidak langsung ditangkap setelah dipanggil... yah,
mungkin itu baik.)
Saat
Masachika berpikir demikian, akhirnya dua sejoli itu
saling menggenggam tangan, dan Chisaki menahan air mata di matanya.
“Tooya... ah, kamu jadi terlihat
sangat kurus... pasti lingkungan itu sangat berat, ya...”
Dengan
ekspresi sedih, Chisaki memeluk Touya
dengan erat. Pelukan yang sangat kuat itu membuat tubuh Touya bergetar. Namun, Touya hanya terengah sejenak sebelum
segera tersenyum.
“Tidak,
tidak semuanya buruk... buktinya, sekarang aku bisa menerima cintamu!”
“!
Jadi, apa kita bisa bergandeng tangan mulai sekarang!?”
“Ya,
aku berjanji tidak akan patah tulang atau terkilir lagi!”
“Tooya! Aku sangat mencintaimu!”
“Bukannya
hubungan cinta mereka terlalu brutal secara harfiah?”
Masachika
memberi komentar pada percakapan yang agak sulit untuk dipahami, tapi tidak ada
yang mendengarnya. Karena ini adalah dunia mereka berdua.
Masachika
dan Alisa merasa lega saat melihat dua orang yang saling membisikkan cinta di jantung kastil raja iblis,
menyadari bahwa krisis dunia telah berlalu. Namun
kemudian,
“Meskipun
begitu.... dasar raja
iblis sialan! Bisa-bisanya
kamu memperlakukan Tooya
seperti ini! Aku pasti tidak akan memaafkanmu!!”
Rasa
tenang itu masih terlalu dini. Chisaki kembali mengeluarkan aura penguasa dan
menatap Yuki dengan tajam. Melihat itu, Yuki cepat-cepat mengalihkan wajahnya,
menyembunyikan pedang sihirnya (meskipun tidak sepenuhnya tersembunyi), dan
bersiul sambil berbisik.
“Tidak,
aku bukan raja iblis atau semacamnya, kok? Aku hanya peri biasa, ya.”
Kemudian,
dengan bunyi letupan kecil dan kepulan asap, dia kembali ke wujud iblis kecilnya. Dengan wajah polos,
dia berusaha kembali ke tempat Masachika...
‘Uhyah!?’
Dalam gerakan
teleportasi, Chisaki mendekat dan menggenggamnya dengan erat, membuat Yuki
panik dan berusaha menembus cengkeraman itu.
“Aneh sekali... padahal aku merasakan kehadiran di sekitar
sini, tapi tidak ada respons...”
‘Menakutkan!
Orang ini menakutkan!’
Yuki
terbang dengan panik sembari mengepakkan
sayapnya dan bersembunyi di belakang Masachika. Sambil mencari dengan mata liar
layaknya binatang buas, Chisaki berteriak
dengan semangat.
“Kamu pergi kemanaaaaa, dasar raja iblis!? Setelah menculik
tunangan orang, jangan coba-coba melarikan diriiiiiiiiii!!”
Lagi-lagi,
saat Chisaki tampak akan mengamuk seolah-olah dirinya
ingin menghancurkan dunia, Touya mencoba menenangkannya.
“Tunggu,
Chisaki, iblis yang
menculikku bukan makhluk iblis yang sekarang.”
“Hah?”
“Eh?”
“““Eh?”””
Usai mendengar
pengakuan Touya,
Masachika dan yang lainnya berseru bersamaan. Mereka menyadari bahwa rasanya aneh jika Yuki yang menculik Touya.
“Benarkah?
Lalu, siapa yang menculikmu!?”
Chisaki
bertanya dengan nada marah, dan Touya
menjawab perlahan.
“Yang
menculikku bukanlah raja iblis biasa.”
“Apa itu
berarti... Raja Iblis Agung?”
Chisaki
bertanya dengan nada hati-hati,
tapi Touya menggelengkan kepala dengan
tenang. Ia meletakkan tangannya di kedua
bahu Chisaki dan berkata.
“Dengarkan
dengan tenang. Yang menculikku adalah...”
Dengan
ekspresi serius itu, Masachika dan yang lainnya juga merasakan ketegangan...
dan Touya mengungkapkan.
“Raja
Iblis Perawan, Elena.”
Ketika
mendengar nama iitu diucapkan secara
perlahan, Alisa serta Maria saling berpandangan, sementara
Masachika menengadah ke langit.
“...
Apa itu berarti.”
“Yah,
kira-kira dia siapa ya?”
“Eh,
hah? Kalau
begitu, itu berarti
kita tidak bisa kembali ke dunia asal kita?”
Mendengar
suara Maria yang kebingungan, Masachika menatap Yuki di
belakangnya dengan tajam.
“Ngomong-ngomong,
kamu tahu tentang dunia ini, ‘kan? Sebenarnya dunia ini apaan sih?”
'Ehm, ummmmm... mungkin saja....'
Sambil mendongak ke atas, Yuki mulai menjelaskan mengenai kebenaran dunia ini.

