Chapter 5 — Kejatuhan Tachibana
──Sudut Pandang Mitsuta──
Aku
dipanggil oleh Tachibana. Kami adalah teman sekelas sejak SMP, tetapi kami hampir tidak pernah berbicara
satu sama lain. Namun,
ini semua menjadi sangat serius.
Aku
sedang menjalani hukuman skorsing karena terlibat dalam masalah yang
ditimbulkan oleh Kondo dan yang lainnya. Aku bahkan bukan pelaku utama, hanya karena
menyebarkan rumor dengan niat jahat.
Sialan, jika Ikenobe melaporkan hal-hal yang tidak
benar kepada guru, klub sepak bola akan menghadapi masalah besar.
Dia
dipaksa putus dengan teman masa kecilnya, Endo,
dan
langsung dicampakkan serta diperlakukan
sebagai wanita yang menguntungkan. Oleh karena itu, aku mengerti mengapa dia
ingin membalas dendam dan menarik banyak orang bersamanya dalam kehancurannya.
Jika
bukan karena aku yang mengetahui segalanya, mungkin aku takkan mengerti motif tindakannya.
“Jika
itu terjadi, apa klub sepak bola akan hancur?"
Mungkin
jika keadaan seperti itu terus berlanjut, anggota klub sepak
bola akan beralih dari skorsing ke penangguhan.
Kondo
dan Aida, yang merupakan pelaku utama, mungkin akan dikeluarkan.
Aida
bahkan mengalami masalah besar karena orang tuanya bertindak berlebihan dan memposting di
media sosial bahwa mereka adalah korban, yang menyebabkan mereka dibenci oleh
masyarakat dan dikucilkan
secara sosial.
Mungkin itulah sebabnya Tachibana mulai mendekatiku, karena aku mungkin masih bisa melanjutkan kehidupan
sekolah.
Gadis
itu memiliki pemikiran yang sangat jahat. Sial, sial, sial.
Apa aku akan dikendalikan oleh gadis
itu? Sama seperti
Kondo...
Saat
aku menunggu di taman yang menjadi tempat pertemuan, seorang gadis muncul di
depanku.
※※※※
──Sudut Pandang Matsuda──
Aku
tiba di tempat yang ditentukan oleh ketua. Menurut instruksi yang disimpan di
loker stasiun, tampaknya nasib kami untuk menghindari kehancuran tergantung
pada seberapa baik kami bisa mengendalikan senior yang sudah kelas tiga ini.
Mitsuta-senpai. Aku pernah mendengar
bahwa dirinya berteman akrab dengan Kondo-senpai.
Sebenarnya, lebih tepatnya ia diperlakukan seperti bawahan. Meskipun dirinya senior, pada akhirnya ia
hanyalah pengikut Kondo-senpai. Memikirkan hal itu membuatku merasa tidak
takut.
“Aku
datang kemari
atas instruksi Ketua Tachibana.”
Ia
menjawab, “Baiklah, aku mengerti. Apa yang harus kulakukan?” dengan nada cemas. Dirinya seharusnya sedang menjalani
hukuman skorsing. Ia
berada di tepi jurang, dan tampaknya tidak ada ruang untuk bernapas.
Dalam
rencana kami, kami akan menimpakan semua kesalahan padanya.
Pertama-tama, kita akan menjadikannya pelaku
utama yang membawa naskah dan barang-barang pribadi Aono Eiji keluar dari ruang
klub sastra.
Cukup
dengan menaruh kunci cadangan ruang klub sastra dan naskah yang telah dipotong
di dalam loker dan tas sekolahnya. Bukti situasional sudah ada. Dengan ini, kami seharusnya bisa membersihkan nama klub
sastra.
Dan
satu lagi tantangan adalah menghadapi Ikenobe
Eri. Dia menyimpan dendam terhadap kami. Oleh karena itu, kami harus
mengeluarkannya atau meyakinkannya untuk pergi.
Mitsuta-senpai dan anggota klub sepak
bola yang akan melakukan pekerjaan kotor. Kami hanya perlu mengarahkan mereka.
※※※※
──Sudut Pandang Tachibana──
Aku
bersembunyi di bawah naungan pohon di taman, mengawasi kontak antara keduanya. Semua berjalan lancar. Sebagai
langkah berjaga-jaga, aku mengambil foto mereka dengan aplikasi kamera yang
tidak mengeluarkan suara.
Aku
akan menimpakan semua kejahatan kepada mereka berdua dan memastikan keselamatanku sendiri, persiapanku berjalan dengan
baik. Aku memastikan untuk tidak meninggalkan jejak saat menghubungi mereka.
Meskipun
terasa menyakitkan, aku juga melakukan sedikit modifikasi pada loker gadis itu.
“Ikenobe-san yang memiliki perasaan cinta dan kebencian terhadap
Kondo-kun dan Matsuta-san yang terlibat dalam perseteruan.
Keduanya saling mengancam dengan menyebarkan hal-hal yang tidak ada, dan pada
akhirnya...”
Inilah
skenario yang sudah kusiapkan.
Aku akan dianggap sebagai korban malang yang terjebak dalam konflik cinta dan
upaya perlindungan anggota klub sepak bola. Dengan cara begini, apapun yang mereka katakan
akan dianggap sebagai omong kosong belaka.
"Ini
akan menjadi karya terbaikku.”
Aku
mempertaruhkan seluruh kehidupanku untuk terjun ke dunia kreatif.
Hanya
untuk sesaat, aku bahkan melupakan kompleks inferioritasku terhadap Eiji-kun
dan diliputi kegembiraan.
※※※※
──Sudut Pandang Ikenobe Eri──
Aku
heran bagaimana semuanya bisa berakhir seperti ini?
Seandainya saja aku tidak mengkhianati Kazuki, mungkin semuanya
tidak akan menjadi
seperti ini.
Cuma itu
satu-satunya hal yang bisa kupastikan.
‘Heh,
Ikenobe-san,
kamu pandai mengajar. Aku jadi
langsung mengerti.’
‘Oh,
mungkin lebih mudah dipahami daripada guru.’
‘Eh,
kamu punya pacar!? Sayang sekali, kamu sangat baik dan lembut, tapi sepertinya apa boleh buat. Aku berharap kita bertemu
beberapa tahun lebih awal.’
Pada awalnya,
ia berbicara kepadaku dengan kata-kata yang begitu manis. Aku duduk di dekat
Kondo-kun di kelompok belajar, dan ia mencoba menggodaku seperti itu.
Dan
kemudian, kami mulai saling menyapa setiap kali bertemu di sekolah, dan
perlahan aku menurunkan kewaspadaanku. Ketika dia mengajakku, “Karena aku sangat ingin belajar
dari Ikenobe-san
untuk ujian, bisakah kita bertemu sebentar pada hari Minggu?" dengan sedikit paksaan, perasaan
senang mulai tumbuh di hatiku.
Tentu
saja, gelarnya
sebagai pemain andalan klub sepak bola dan penampilan menarik yang
sangat populer di kalangan gadis-gadis itu. Rasanya itu meracuni hatiku seperti racun.
Dan tanpa sadar, kami terikat satu sama lain.
Meskipun
aku merasa bersalah terhadap Kazuki,
hubungan kami berdua justru semakin dalam, dan begitu aku tak bisa melarikan
diri, tak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku tak bisa mengambil keputusan yang
rasional.
'Siapa
yang akan kamu pilih, aku atau Endo?'
'Aku
tidak bisa mempercayainya hanya dengan kata-kata.'
Dihadapkan
pada dilema ini, aku menjadi liar. Aku melontarkan kata-kata kasar kepada
Kazuki.
“Aku
lebih menyukai
Kondo-kun daripada kamu.”
“Aku
tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kamu tidak sebanding dengan Kondo-kun.”
“Aku
hanya berpacaran denganmu karena kita teman masa kecil.”
“Jangan
pernah berbicara padaku lagi.”
Jika diingat-ingat kembali, aku sudah mengucapkan
hal yang sangat kejam. Sebagai seorang wanita dan sebagai manusia, aku telah
melakukan hal terburuk. Ekspresi pahit Kazuki terukir dalam ingatanku. Semakin
aku mengingatnya, semakin hatiku terasa mati.
Setelah
itu, Kazuki tidak pernah muncul di hadapanku lagi. Segera, rumor tentang
perselingkuhanku mulai menyebar. Orang tuaku juga mendengar dan mulai
menanyaiku.
“Apa
maksudnya ini? Kazuki tidak datang ke sekolah lagi. Apa yang sudah kamu lakukan?”
Aku
tidak bisa membalas apa pun. Wajah putus asa keduanya tumpang tindih dengan
wajahnya.
'Sepertinya
kita harus berpisah. Aku telah melakukan hal buruk padanya. Lebih baik jika
kamu tidak mendekatiku lagi.'
Dan
aku ditinggalkan. Sekarang, jika aku memikirkannya, aku menyadari seberapa egoisnya diriku. Tapi, aku
sudah tidak punya siapa-siapa selain Kondo-kun, jadi aku hanya bisa bergantung
padanya. “Jangan
buang aku,”
aku merayu dengan cara yang memalukan. “Tanpamu,
aku akan kehilangan segalanya,”
saat aku mengucapkan kata-kata itu, ia memelukku dengan lembut.
Namun,
jika aku memikirkannya
kembali, pada hari itu, aku telah membuang kehormatanku. Aku telah menjadi
wanita yang menguntungkan baginya.
Sejak
saat itu, aku mulai melihatnya bermain dengan gadis-gadis lain. Aku cemburu. Aku putus
asa. Namun, aku takut akan kehilangan segalanya, jadi aku tidak bisa melangkah
maju.
Karena
telah mengkhianati orang-orang yang penting bagiku, aku hanya bisa menyaksikan
hatiku perlahan-lahan
mati dan menjadi dingin. Tiga bulan. Aku tidak pergi ke sekolah. Kamar ini,
yang diberikan oleh orang tuaku yang telah meninggalkanku, adalah penjara bagi
tubuh dan jiwaku. Tidak ada yang akan menolongku dari sini, dan aku tidak
pantas untuk ditolong.
Aku
adalah wanita terburuk, wanita jahat. Jika demikian, biarlah aku menari dan
menghilang seperti wanita jahat.
Ayo,
saatnya sudah tiba.
Besok, dia akan mulai bergerak untuk memburuku. Mari kita siapkan panggung
terbaik.
※※※※
──18
September, Sudut Pandang Tachibana──
Aku bisa tidur nyenyak semalam. Matsuta-san melakukan tugasnya dengan
baik. Semuanya
akan baik-baik saja. Lagipula, Ikenobe-san
adalah wanita yang gampang dimanipulasi.
Ketika
aku membuat Kondo-kun bertindak
sesuai naskah yang kubuat, dia segera beralih ke perselingkuhan dan dengan
kata-kata yang kusiapkan, dia memberikan kata-kata menyakitkan yang menusuk hati sahabat masa kecilnya.
“Sekarang,
saatnya giliranku
untuk memberikan pukulan terakhir padamu.”
Akhirnya,
hari ini adalah hari penentu nasib kami.
Saat
ini, sebagian besar anggota klub sepak bola pasti sedang gemetar ketakutan. Dan semua kebencian mereka akan tertuju pada Ikenobe Eri. Dan semuanya akan meledak malam ini. Anggota klub sepak bola akan
menyerbu Ikenobe
Eri dan membungkamnya.
“Setelah
itu, aku hanya perlu melarikan diri dengan baik. Hanya aku yang perlu selamat.”
Aku
seperti penyihir. Semua rencana ada di dalam genggaman tanganku.
“Inilah
cerita yang hanya bisa kubuat. Aono Eiji yang baik hati pasti takkan bisa
menulis skenario semacam ini.
Tidak ada yang bisa melakukannya selain diriku. Ini adalah bukti keberadaan
bakatku.”
Aku
terus meneriakkan itu dengan keras di dalam hatiku.
Aku
membuka loker sepatu.
“Eh?”
Di
dalamnya ada surat yang disegel dengan lilin dengan rapi. Tidak ada nama pengirim yang
tertulis di atasnya.
Namun, firasat buruk menjalari sekujur tubuhku.
Aku
menuju ruang klub sastra yang seharusnya kosong. Aku dengan cepat membuka segel
surat itu.
[Untuk
Tachibana-san. Mohon maaf atas surat mendadak ini. Aku tidak bisa menunjukkan
rasa hormat kepadamu, jadi aku akan langsung ke intinya. Berhentilah membuang
waktumu untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan akui saja semua kesalahanmu. Kamu adalah orang yang sangat
pintar. Tapi kamu justru tidak menyadari bahwa kamu terjebak dalam kecerdasanmu sendiri. Kecerdasanu seharusnya digunakan
untuk membahagiakan seseorang. Silakan bertobat atas semua dosa-dosamu. Jangan salah
paham.
Ini bukan negosiasi atau permohonan yang setara. Ini adalah peringatan dan
ultimatum. Jika kamu
mengabaikannya, kamu
akan menghadapi kehancuran.]
“Apa-apaan ini! Sungguh surat yang sangat tidak sopan!
Siapa yang mengkhianatiku?
Tidak mungkin ada bukti. Rencanaku sudah
sempurna!”
Aku
berteriak dan melampiaskan kemarahanku
pada buku yang ada di meja klub. Buku
itu terbang, halamannya terlipat, dan menjadi hancur.
“Aku
sempurna. Aku tidak melakukan kesalahan, dan aku tidak perlu bertobat segala!”
Dengan
marah, aku melanjutkan membaca surat itu.
“Rasanya
seperti surat kutukan. Mana mungkin hal semacam ini bisa menghentikanku. Baiklah, jika
kamu bilang begitu, coba tangkap aku. Tapi sebelum
itu, aku akan mengungkap identitasmu dan menghancurkanmu secara sosial seperti
Ikenobe
Eri dan Amada Miyuki.”
Aku
merobek surat itu menjadi berkeping-keping dan memperbarui tekadku. Mana mungkin ada bukti yang tersisa.
Oleh karena itu, aku tidak akan dihukum.
Semua
siswa di sekolah ini adalah musuhku, dan aku akan hidup dengan pikiran itu. Tidak
ada yang pernah mempermalukanku seperti ini sebelumnya. Apa yang harus
kulakukan pada mereka?
Saat
aku terbakar dengan semangat balas dendam, suara ketukan terdengar di pintu
ruang klub.
“Siapa sih yang datang saat seperti ini?”
Aku
merasa curiga dan membuka pintu dengan hati-hati. Orang yang berdiri di depan pintu merupakan seorang pria yang sangat
kukenal, dan ia seharusnya tidak ada di sini.
“Eiji-kun?
Kenapa kamu di sini...?”
Aono
Eiji. Mantan junior yang tidak ingin kulihat lagi. Dia menyangkal ceritaku dan
bertindak semau sendiri di luar sana, menjadi orang luar yang sempurna.
Dan, ia adalah musuh bebuyutanku.
“Ketua,
aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”
Pria
yang kukenal bukanlah anak laki-laki yang penuh percaya diri seperti ini.
Dia
selalu memiliki kesan lembut dan baik.
Orang
di depanku ini adalah orang yang sama sekali berbeda.
Sekilas,
aku merasa takut, tetapi kemudian kupikir, mungkin dialah yang mengirim surat
itu.
“Silakan
masuk.”
Dengan
demikian, aku menyambut hari takdirku.
※※※※
──Sudut Pandang Aono Eiji──
Ketua
tampak sedikit ketakutan saat membiarkanku masuk ke dalam ruang klub.
Aku
menyentuh saku kantongku sebentar dan menarik napas dalam-dalam saat masuk ke
ruangan. Entah mengapa, aku merasa nostalgia. Padahal waktu belum terlalu lama berlalu hingga membuatku
merasakan
perasaan seperti itu.
Kami
duduk saling berhadapan.
“Jadi,
apa yang ingin kamu bicarakan?”
Dia
mendorongku untuk segera berbicara. Kurasa itu tanggapan yang cukup wajar mengingat hubungan kami yang sudah retak.
“Apa
kamu mendengar pesan itu?”
“Pesan?”
Sepertinya,
pesan itu belum disampaikan. Jika demikian, ini sangat
menguntungkan.
“Ya,
aku sudah memberitahukan anggota lainnya. Jika kamu terus berusaha membahayakan
orang-orang yang penting bagiku, aku tidak akan memaafkanmu.”
Ketika
aku menyampaikan kemarahanku dengan jelas, dia menghela napas dan menjawab
dengan tenang.
“Apa
yang kamu tuduhkan? Jangan sembarangan mengatakan bahwa kami melakukan sesuatu.”
Sepertinya
dia berniat untuk terus berpura-pura tidak tahu. Tanggapannya sudah dalam perkiraanku.
“Ini
adalah peringatan. Dan itu bukan satu-satunya inti pembicaraanku.”
Aku
sudah
tidak
peduli lagi dengan berbagai alasan
ketua. Tolong jangan mencoba melarikan diri dengan cara yang memalukan begini.
“...”
“Ketua,
izinkan
aku untuk
berkata terus terang. Kembalikan naskahku.”
Saat
aku mengucapkan kata-kata itu, dia menunjukkan ekspresi bingung. Sepertinya dia tidak menyadari
kartu andalan
yang kumiliki.
“Apa
yang kamu bicarakan? Aku sudah membicarakannya dalam penyelidikan sekolah. Entah bagaimana, naskah Eiji-kun telah dicuri. Dari ruang klub
ini. Itu adalah tindakan pelaku utama yang mengintimidasimu dari klub sepak
bola, dan kami sama sekali tidak
terlibat. Jadi, kamu tidak berhak untuk memintanya kembali.”
“Begitu ya? Tidak ada satu pun yang tersisa?”
“Ya, sama sekali tidak ada. Tidak ada yang
tersisa. Apa kamu sudah
mengerti sekarang?”
Dia
tetap
mempertahankan sikap menantangnya.
Namun, pernyataannya memiliki kontradiksi.
“Tidak,
aku sama sekali masih tidak yakin. Ketua Tachibana, ceritamu memiliki kontradiksi. Itulah sebabnya, aku tidak bisa menerimanya.”
Aku
memilih kata-kata yang paling mengguncang harga dirinya. Jika dia mendengar hal ini, dia tidak punya pilihan
selain terpancing.
“Apa
yang kamu bicarakan!? Aku hanya mengatakan kebenaran. Mengapa kau membuat
tuduhan tanpa dasar seperti itu hari ini, Eiji-kun?”
Melihat
ketua yang jelas-jelas marah membuatku sedih sebagai mantan muridnya. Kenapa
dia begitu terpojok
hingga melewatkan kontradiksi yang begitu sederhana? Itu adalah bukti tidak
langsung bahwa dia sedang berbohong.
“Baiklah, kalau begitu, aku akan bertanya. Bagaimana
naskahku disimpan? Aku masih mengingatnya bahwa naskahku dimasukkan ke dalam file besar
bersama naskah anggota lainnya, ‘kan?
Di dalam rak buku yang terkunci?”
Naskah-naskah
majalah disimpan di rak buku sesuai tahun. Dan sekarang, mereka masih tersusun
rapi di rak buku yang terkunci.
“Jadi.... apa maksudmu?”
“Bukannya itu aneh?
Jika ada pelaku yang menyusup, bagaimana dia bisa menemukan kunci dan mencuri
naskahku dari banyak naskah yang terikat dalam file? Mana mungkin orang luar bisa
melakukan itu dalam waktu singkat. Hal itu mustahil kecuali jika pelaku mempunyai komplotan dari dalam.”
Faktanya,
ketika Ai-san membantuku mengambil kembali sebagian naskahku dari ruang klub,
dia mendapat informasi tentang tempat menyimpan kunci dan cara menyimpan naskah
dari Hayashi-san. Dengan kata lain, jika orang luar mencuri naskahku, pasti ada
komplotan dari dalam.
“Selain
itu, Ketua
tadi
sempat mengatakan
kalau
naskahku sama sekali tidak tersisa. Jadi, pelaku mencuri
naskahku secara tepat dari semua naskah yang disimpan di ruang klub ini? Memangnya orang luar bisa melakukannya?
Seharusnya setidaknya ada satu yang tersisa.”
Wajah
ketua semakin pucat. Jika dia mengaku bisa mengembalikan sebagian naskah,
skenario ini tidak bisa digunakan. Dia seolah-olah menggali kuburnya sendiri.
“Tidak,
aku tidak tahu. Mungkin ada orang lain yang berkomplot dengan pelaku. Jika demikian, aku juga
tertipu.”
Dia
berbicara cepat, seolah-olah
membela dirinya.
“Begitu ya? Namun, aku tidak bisa
mempercayaimu. Ketua, aku akan mengatakannya lagi. Kembalikan naskahku.”
Pernyataan
ini merupakan penegasan tegas bahwa dialah pelakunya, dan aku sengaja mengatakannya
untuk menekannya.
“Hentikan.
Yang tidak ada, ya tidak ada. Aku tahu, Eiji-kun, kamu akan melakukan debut profesionalmu, kan? Bukannya itu sudah cukup? Apa kamu mulai menjadi sombong sekarang setelah debutmu sudah pasti? Jangan bercanda denganku!”
Aku
melihat sebuah buku yang terlipat jatuh di kakinya.
Apa
ini batasnya?
“Ketua,
jika kamu sudah menyadari hal ini, kamu harusnya mengerti. Jika kamu membuang
naskahku... kamu tidak layak menjadi penulis. Tindakanmu adalah penyangkalan
terhadap semua usaha yang telah kamu lakukan. Selain itu, ketua yang kukenal
selalu serius terhadap buku. Kamu telah berubah. Merusak buku yang begitu penting, aku benar-benar kecewa.”
“Sudah kubilang, berhenti bilang begitu. Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Keluar sekarang. Cepatlah menyingkir dari hadapanku!”
Negosiasi
sepenuhnya gagal.
Aku
dengan naif berharap negosiasi bisa berhasil, tapi aku tahu kemungkinan itu
sangat kecil. Aku
ingin mereka mengakui kesalahan mereka dengan tulus dan menyerahkan diri tanpa
perlawanan yang sia-sia.
Mengembalikan
naskah adalah pengakuan atas kebohongan mereka. Aku tidak ingin merasa kecewa
lebih jauh terhadap mantan teman-temanku yang sudah dua tahun bersamaku. Aku
tidak ingin mereka menjadi monster yang dengan mudah melukai junior yang lemah
demi melindungi diri mereka sendiri.
Namun,
rupanya
itu mustahil.
Mantan
teman-temanku kini telah berubah menjadi monster yang bukan manusia. Mereka
bahkan tidak dapat berempati pada penderitaan orang lain. Mungkin mereka hanya
menyembunyikannya selama ini. Aku tidak bisa memasikan kebenarannya. Namun, satu hal yang
jelas: jika mereka dibiarkan terus-menerus, jumlah korban akan terus bertambah.
Dan
kemudian
pada hari
terakhir liburan musim panas. Saat aku merasa putus asa dan tidak bisa
berkonsultasi dengan siapa pun.
Ada
kata-kata yang harus kukatankan.
Ada
orang-orang yang seharusnya aku ajak bicara.
Oleh karena itu, kali ini aku tidak akan melakukan kesalahan. Itulah sebabnya aku
harus menyampaikan
hal yang penting.
“Baiklah, aku
mengerti. Namun, izinkan aku mengatakannya sekali lagi. Aku takkan pernah
membiarkan siapapun menyakiti orang-orang yang kusayangi lebih jauh lagi.”
“Jangan
sembarangan menuduh orang.”
Tentu
saja, aku sudah memperkirakan perlawanan itu. Aku merasa ini sudah cukup, dan
mengikuti rencana awal, aku mulai
berkata, “Takayanagi-sensei, jadi begitulah ceritanya”. Ketua mungkin tidak menyangka
ada guru di dekat ruang klub dan wajahnya langsung pucat. Ketika Takayanagi-sensei muncul di hadapan ketua,
aku berniat untuk memberikan pukulan terakhir dan meminta bantuan.
“Sensei.
Aku mengalami perundungan
dari anggota klub sastra. Naskah pentingku disembunyikan. Naskah itu rencananya
akan dimuat dalam kumpulan cerita pendek yang akan datang. Mengingat keadaannya, aku meyakini kalau anggota klub sastra lainnya juga terlibat. Tolong bantu aku.”
Ketua
kehilangan ketenangannya dan menyadari bahwa dirinya terjebak. Dengan cara ini,
sekolah dapat mendapatkan alasan untuk menyelidiki ruang klub sastra dan
kesaksian dari ketua.
Sembari berpisah
dari masa lalu, aku menuju ruang kelas kosong di mana pelajaran berlangsung.
Ai-san
telah menyampaikan tentang kasus Hayashi-san
kepada pihak sekolah.
Ketua
tidak bisa melarikan diri lagi sekarang.
“Jika
ada yang seperti itu, kita harus menyelidiki ruang klub ini. Hal ini mungkin merupakan pelanggaran
pencurian atau kerusakan barang. Kita juga harus meminta bantuan polisi.”
※※※※
Sepulang sekolah kemarin. Sebelum pulang,
aku juga sempat berkonsultasi
dengan Takayanagi-sensei
tentang Hayashi-san.
“Oh,
Aono. Ada apa?”
Takayanagi-sensei menyapaku dengan sedikit
lesu seperti biasa. Tatapannya tampak penuh kepercayaan dan kasih sayang
terhadapku.
“Terima
kasih banyak telah
meluangkan waktu Anda setelah
sekolah, Takayanagi-sensei.”
“Kamu tidak
perlu terlalu formal begitu.
Jadi, apa ada
masalah dengan rencana yang kita bicarakan pagi ini?”
“Tidak,yah...”
“Hmmm?
Ada apa?”
Aku
menatap matanya
dan menyampaikan apa yang seharusnya kukatakan pada hari itu. Untuk membalas kepercayaan
darinya.
“Ini
sesuatu yang bahkan lebih penting dari itu.”
Melihat
raut
wajahku,
sepertinya Sensei mungkin menyadari sesuatu.
“Coba ceritakan saja padaku. Mungkin ini lebih penting
daripada pelajaran.”
Aku merasa lega dengan persetujuannya yang tegas dan menyampaikan kepada Sensei.
“Takayanagi-sensei,
tolong bantu aku. Aku mengalami perundungan
dari anggota klub sastra. Dan target perundungan
mereka sekarang beralih kepada Kouhai-ku.”
Sensei pasti sudah tahu segalanya. Informasi tersebut pasti sudah dibagikan sejak
Ai-san berbicara dengan kepala sekolah.
Namun,
meskipun aku
terlibat secara langsung,
tapi aku masih belum menjelaskannya dengan benar.
Ketika pertama kali berkonsultasi dengan Sensei,
aku hanya menyampaikan fakta dan tidak bisa ‘meminta bantuan’ dengan benar.
Oleh
karena itu...
Kali
ini, aku memutuskan untuk benar-benar mengandalkan orang dewasa. Aku ingat apa
yang dikatakan
Sensei
saat aku
melaporkan perundungan
itu.
[Tentu
saja, Aono. Sudah menjadi tugas guru untuk melindungi siswa. Terima kasih
telah mempercayai kami. Aku sangat senang kamu memberitahuku. Rasanya pasti sulit bagimu untuk menyampaikannya. Dari sini, itu adalah tugasku.]
Sama seperti hari itu, Takayanagi-sensei menghadapiku. Pada hari itu, baru setelah didorong
oleh Sensei,
aku akhirnya bisa meminta bantuan. Tapi sekarang berbeda. Aku mempercayai orang
dewasa dan meminta bantuan dengan inisiatifku sendiri.
Kemudian,
aku menyampaikan pemikiranku kepada Sensei.
Bahwa klub sastra pasti terlibat dalam perundungan
yang kualami dan aku percaya bahwa kesaksian anggota klub adalah kebohongan.
“Aku
mengerti, Aono. Masalah ini akan ditangani secepat mungkin oleh pihak sekolah.
Dengan begini,
kita bisa memberikan tekanan lebih kepada anggota klub. Aono, tolong tetap dekat dengan Hayashi sebisa mungkin. Seperti
yang Ichijou
dan Imai lakukan untukmu. Saat-saat seperti ini, hanya dengan mengetahui bahwa
kamu tidak sendirian, kamu akan merasa lebih tenang. Pihak sekolah juga akan memberikan
dukungan yang cukup untuk Hayashi. Para guru kelas satu sudah mulai bergerak secara internal.”
Takayanagi-sensei menyatakan hal itu
dengan tegas.
※※※※
──Sudut Pandang Tachibana──
Saat
istirahat makan
siang. Aku merasa sangat gelisah. Polisi akan datang sepulang sekolah, dan ruang klub sastra
telah ditutup. Tidak apa-apa, seharusnya
tidak ada bukti yang tersisa. Aku hanya memberikan instruksi secara lisan dan
menggunakan akun media
sosial yang sangat anonim,
jadi aku bisa menghapus akun itu untuk membuat alibi.
Dalam
keadaan seperti ini, aku harus memaksa diri untuk keluar dari ranah penyelidikan.
Seperti yang kuduga, Ikenobe
Eri tidak masuk sekolah. Keadaan ini justru menguntungkan. Aku sudah menggunakan Matsuda-san untuk memberikan instruksi
kepada Mitsuta-kun. Saat ini, anggota klub sepak
bola yang bersedia pasti sedang menuju ke tempatnya. Jika itu terjadi, akan
menjadi masalah besar, dan kasus ruang klub akan menjadi kabur, dan Matsuda-san yang menjadi dalang di
baliknya, akan
disalahkan. Aku ssudah menyiapkan jebakan itu di ruang klub sebelumnya.
Sepulang sekolah. Aku bertemu Matsuda-san di belakang gedung sekolah yang
tidak mencolok.
“Ketua!”
Dia
mendekatiku
dengan wajah pucat dan tampak cemas.
“Bagaimana?
Ada kabar dari Mitsuta-kun dan yang lainnya?”
Aku
sengaja tidak menggunakan ponselku. Demi
menghindari jejak.
“Ya,
aku baru
saja mendapatkan kabar dari mereka dan katanya semuanya berjalan lancar. Apa yang harus
kita lakukan?”
Begitu rupanya, dia tertekan oleh rasa bersalah. Ini sangat
menguntungkan. Dengan begini,
dirinya
akan lebih mudah bergerak sebagai alatku.
“Apa
kamu menerima foto atau semacamnya dari mereka? Apa
kamu sudah
memeriksanya?”
“Belum.
Mereka seharusnya sudah mengirimkannya sekarang...”
Ketika
pesan tersebut
datang, aku harus segera bergerak untuk memutuskan hubunganku dengan kedua orang ini. Jebakan
di ruang klub kemungkinan akan ditemukan setelah sekolah, jadi sebelum masalah
Ikenobe
Eri terungkap, aku akan menimpakan semua kesalahan
kepada Matsuda-san.
Mitsuta-kun tidak menghubungiku. Apa
maksudnya? Apa mungkin terjadi masalah sehingga ia tidak bisa menghubungi?
Misalnya saja, bagaimana jika dirinya ditangkap polisi setelah
terlihat oleh seseorang?
Apa
yang harus kulakukan,
bagaimana seharusnya? Apa aku harus memutuskan hubunganku dengan keduanya di sini? Itu memang langkah yang aman, tetapi jika Mitsuta-kun dan yang lainnya ditangkap
polisi, hal itu justru
bisa membuat kami semakin terlihat mencurigakan.
Aku
tidak bisa bergerak seperti ini.
Apa yang harus kulakukan?
Apa yang harus aku lakukan?
Sebelum
aku mencapai kesimpulan, aku mendengar suara langkah seseorang yang mendekat.
※※※※
──Sudut Pandang Aono Eiji──
Aku
bertemu Ai-san, Hayashi-san,
Satoshi, dan Endo. Sepertinya
Ai-san dan yang lainnya baru saja dari kelas yang berpindah, dan mereka sudah
mengambil kursi lebih dulu.
“Baiklah,
mari kita perkenalan diri dulu.
Aku sudah memberi mereka berdua
penjelasan singkat. Satoshi dan Endo sudah mengatakan kalau mereka bersedia untuk membantu.”
“Aku
Imai Satoshi. Jika ada sesuatu yang
terjadi, jangan ragu untuk mengandalkanku. Ayo sekalian saja kita bertukar
kontak.”
“Namaku
Endo Kazuki. Aku tahu kamu khawatir, tapi semuanya akan baik-baik saja. Tidak semua orang di sekitar
itu musuh. Kamu juga mempunyai sekutu.”
Dengan
cara ini, kami semua bertukar kontak informasi
dan membuat grup. Jika terjadi sesuatu, kami akan mempostingnya di grup, dan siapa pun yang
melihatnya akan segera datang. Selain itu, selama dua minggu ke depan, kami
menyusun jadwal agar tidak ada yang sendirian saat berangkat sekolah atau pulang sekolah.
“Terima
kasih banyak telah melakukan semua ini untuk orang sepertiku.”
Ucap Hayashi-san sembari menundukkan
kepalanya dengan penyesalan yang tulus.
Aku
dan Ai-san secara bersamaan membantah, “Itu sama sekali tidak benar,” dan Satoshi melanjutkan.
“Hayashi-san,
dalam
keadaan sulit
seperti ini, ada baiknya
meminta bantuan dari seseorang. Jika tidak, ikatan dukungan akan terputus.”
Hayashi-san terlihat sedikit senang dan
bertanya balik,
“Ikatan?”
“Ya,
ikatan. Kurasa
semua anggota yang ada di
sini pernah diselamatkan oleh Eiji. Aku juga berhutang budi padanya ketika di sekolah SD. Jadi, aku merasa senang Eiji mengandalkanku dalam
masalah kali ini. Proses saling membantu ini akan menciptakan hubungan saling
percaya yang lebih besar. Jadi, jika di masa depan kita menghadapi masalah, pada saat itu, Hayashi-san bisa
membantu kami.”
Semua
orang mengangguk dengan lembut, dan dia menunduk dengan senang, berulang kali
mengucapkan, “Terima
kasih banyak.”
※※※※
──Sudut Pandang Tachibana──
Saat
aku perlahan-lahan menoleh, aku melihat
seorang pria yang seharusnya tidak ada di sana mendekat ke arahku.
“Kenapa... kenapa Mitsuta-kun bisa ada di sini?”
Aku
tanpa
sadar berseru keras.
Karena orang ini seharusnya sekarang berada di tempat wanita itu...
Usai mendengar
kata-kataku, pria itu tertawa senang.
“Kenapa
aku ada di sini? Ya, itu
karena aku ingin mengakali
kalian.”
Dengan
tubuh besarnya
yang bergetar, pria yang kucemooh sebagai penjilat Kondo-kun itu menyeringai
jahat. Dan ketika makna kata-katanya mulai meresap ke dalam pikiranku, aku
merasa seolah-olah
darahku menghilang.
“Mengakali?”
“Ya,
benar. Aku tidak terlibat dalam rencanamu. Sejak awal. Aku mendengarkan
ceritamu, tapi tidak berniat untuk melaksanakannya. Aku tahu kamu berniat menimpakan
semua kesalahan padaku. Mana
mungkin aku terjebak dalam bujuk rayu wanita seperti itu, berhentilah
mempermainkanku.”
Tawa
kasarnya menggema.
“Ta-Tapi, bukannya kamu bilang
kamu melakukannya dengan baik...”
Matsuda-san tampak tidak bisa memahami
situasi ini dan bertanya dengan gemetar.
“Ya,
aku melakukannya dengan baik. Aku sudah memberi tahu anak
buah Kondo di klub sepak bola bahwa Ikenobe
Eri akan melaporkan mereka kepada guru. Mereka pasti sekarang sedang menyerang
rumah Ikenobe tanpa mengetahui kalau aku sudah melapor ke polisi
sebelumnya. Mereka benar-benar idiot. Aku yakin kalau sekarang mereka sudah ditangkap
oleh polisi yang sedang menyergap.”
Sepertinya
ada emosi
negatif seperti kecemburuan, penghinaan, dan rasa rendah diri yang berputar di
dalam dirinya.
“Kenapa
kamu mengkhianati
teman-temanmu
seperti itu...”
“Teman?
Mana mungkin aku menganggap mereka. yang telah menjadikanku sebagai pesuruh selama tiga tahun dan
memperlakukanku seperti pelayan bersama Kondo, sebagai teman. Jika aku masih bisa mendapatkan
rekomendasi olahraga berkat Kondo, mungkin aku bisa bersabar, tetapi sekarang
bahkan itu tidak mungkin. Jadi, aku tidak punya pilihan lain selain membalas dendam.”
Dia
tampak sudah hancur secara mental, menepis
tuduhanku dengan senyuman tenang.
“...”
“Kamu
juga bodoh, Tachibana. Kenapa kamu malah berkonsultasi denganku? Aku yang
selama ini membenci Kondo. Kalian juga adalah wanita Kondo, ‘kan? Oleh karena itu, kalian adalah target balas
dendam. Terima kasih sudah memberi tahuku.”
Setelah mendengar
kata-katanya, aku tidak bisa berhenti bergetar.
Rasanya sama saja mendapat vonis hukuman mati.
“Apa
yang ingin kamu lakukan kepada kami?”
“Tenanglah.
Aku tidak tertarik pada kalian. Siapa yang mau mengganggu wanita yang berhubungan
dengan Kondo? Aku suka melihat orang-orang yang meremehkanku hancur berantakan.”
Lalu,
dirinya
mulai tertawa seperti orang gila. Aku menyadari bahwa aku semakin terjebak
dalam jalan buntu yang tidak bisa dihindari, dan rasa pusingku semakin menjadi-jadi.
Tidak
apa-apa. Masih belum
ada bukti yang menentukan bahwa aku terlibat. Aku pasti bisa menghindar. Ya,
belum, sekarang belum saatnya berakhir.
“Oi,
Tachibana. Kenapa kamu kelihatan linglung begitu? Kamu sudah menyerah? Kamu, yang
sudah memenangkan banyak penghargaan untuk novel, kenapa tidak menyadarinya?
Mungkin kamu memang tidak berbakat?”
Kata-kata
yang tidak ingin kudengar itu terlontar pada saat-saat terdesak ini.
Penghinaan, penghinaan, penghinaan!
“Diam!
Mendingan
tutup saja mulutmu itu!”
Aku tak bisa menahan diru untuk berteriak keras.
“Marah
berarti kamu sudah mengakuinya, ‘kan?”
Klimat provokasi yang sangat menjijikkan
itu membuatku gemetar karena marah.
“Sudah kubilang diam!!”
Suara
tersebut
sampai bergema hingga ke lorong. Aku sendiri
terkejut bisa mengeluarkan suara sebesar itu.
“Tch,
ternyata pertahananmu
cukup kuat. Meskipun aku sudah memprovokasi, kamu tidak mau keluar. Baiklah,
tidak masalah. Sekarang, kamu hanya perlu mencari cara untuk menghindar.”
Dia
berkata sambil berjalan keluar ke lorong. Sialan. Jika dirinya berada di dalam sekolah selama
masa skorsingnya, itu berarti...
“Tachibana,
kamu mengira bisa mengendalikan orang, tetapi sebenarnya kamu hanyalah orang idiot yang
tidak kompeten.
Setidaknya, kamu tidak ada bandingannya dengan monster yang merancang skenario
ini. Kamu adalah orang bodoh yang salah paham dan menggali kuburanmu sendiri.”
Sambil
menatap pria yang berusaha merusak kehormatanku hingga akhir, aku bergetar
dalam kemarahan.
Dan
sebelum
aku menyadarinya,
kami sudah dikelilingi
oleh para guru...
※※※※
──Sudut Pandang Ai──
“Terima
kasih, Kuroi. Seperti biasa, kamu melakukannya dengan sempurna.”
Kuroi
segera menghubungiku. Dirinya
melaporkan bahwa serangan oleh sisa-sisa anggota klub sepak bola yang mengintai
saat Ikenobe
Eri keluar telah berhasil ditangani. Meskipun mereka adalah atlet, tapi mana mungkin mereka bisa mengalahkan
Kuroi yang terlatih khusus dan pasukan elit polisi.
Aku
menutup
telepon. Kemudian,
aku menuju tempat yang telah dijanjikan. Sebuah ruang kelas kosong.
Seorang pria yang membantuku sedang menunggu.
“Maaf
sudah
membuatmu menunggu.
Aku adalah Ichijou
Ai, majikannya
Kuroi.”
Aku
telah berhubungan dengannya melalui Kuroi. Jadi, bisa dibilang ini adalah pertama kalinya kami
bertemu secara langsung. Sekilas, pihak lain menunjukkan wajah terkejut.
Kemudian, dirinya
tersenyum.
“Tak kusangka jika pihak lainnya justru adalah Ichijou Ai. Pasti semua orang terkejut
bahwa idola sekolah adalah seorang konspirator.”
Ia
sudah bersedia membantuku. Karena
itulah,
aku memutuskan untuk bertemu langsung. Dia mengambil risiko, jadi aku juga
harus mengambil risiko. Tanpa dirinya,
rencana kali ini tidak akan berhasil.
“Hal yang sama juga berlaku untukmu, Mitsuta-san.”
“Ya, kurasa ada benarnya.”
“Aku baru saja mendapat kabar dari Kuroi. Ikenobe-san diserang oleh klub sepak bola,
tetapi berhasil ditangani oleh polisi, dan dia tidak terluka.”
Ia
tersenyum sedikit dan mengangguk. Wajahnya tampak lebih tenang.
“Kenapa
kamu ingin bernegosiasi denganku?”
“Atas
saran seseorang.”
Aku
menjelaskan dengan sedikit wajah masam.
“Hmph.
Aku
penasaran bagaimana
kamu bisa menyadarinya? Bahwa aku menyimpan dendam terhadap klub sepak bola...
tidak, terhadap Kondo?”
“Seperti yang sudah
kubilang berkali-kali, itu bukan
prestasiku. Tetapi, dalam penyelidikan terhadap klub sepak bola kali ini, aku
segera menyadari bahwa seseorang telah memberi tekanan kepada Kondo. Ada
seseorang yang memotret pertemuan rahasia Kondo dan Amada, dan mengungkapkannya
kepada klub sepak bola, serta melaporkannya kepada guru. Seseorang itu, kamu
pasti sudah mengetahuinya.”
Dirinya tertawa masam saat menanggapi pertanyaanku.
“Orang
yang memiliki dendam mendalam terhadap Kondo pasti melakukan ini. Jadi, ada dua
orang yang mencurigakan. Tersangka pertama adalah Aono Eiji yang hampir
dihancurkan secara sosial karena diintimidasi. Dan yang kedua adalah Endo
Kazuki, yang sudah mengenal kita sejak SMP. Aono Eiji masih belum bisa pulih
dari kejadian itu, jadi kandidat terkuat adalah Endo.”
Kami
juga menyadari bahwa ada kemungkinan besar Endo-san diam-diam merencanakan berbagai
cara untuk membalas dendam pada Kondo.
“Seperti
yang kamu katakan, jika dipikirkan secara logis, kandidat terkuat yang
memberikan tekanan kepada klub sepak bola adalah Endo. Namun, pada akhirnya,
Kondo tidak pernah sampai pada kesimpulan itu. Justru, ada banyak anggota klub sepak bola
yang mencurigaimu karena foto-foto pertemuan rahasia Kondo dan Amada-san yang muncul dari loker. Bukannya kamu mencoba menggunakan jebakan
yang dipasang untukmu untuk menciptakan situasi di mana Kondo dan yang lainnya
akan mencurigaimu, sehingga Endo-san
tidak akan dicurigai?”
“...”
Mitsuta-san hanya tersenyum tanpa
berkata-kata. Dari berbagai wawancara yang dilakukan, tidak ada tanda-tanda
bahwa dirinya
berusaha membersihkan diri dari kecurigaan. Seolah-olah dia berusaha memusatkan
perhatian pada kecurigaan terhadap dirinya sendiri.
“Dan
aku mencurigai bahwa kamu juga yang mengungkapkan hubungan Kondo dan
Amada-san
kepada Ikenobe
Eri-san.
Benar, ya ‘kan?”
Terkait
hal ini, aku tidak memiliki bukti kuat, hanya bersifat spekulasi belaka. Aku tidak bertanya langsung
padanya. Namun, sulit untuk membayangkan bahwa Endo akan membalas dendam kepada
Ikenobe-san.
Karena jejak langkahnya lebih dipusatkan
pada Kondo, Amada-san,
dan anggota klub sepak bola yang langsung membahayakan Eiji-senpai.
Namun,
tindakan gegabah Ikenobe Eri-san
telah menjebak dalang di balik insiden ini. Jika demikian, maka seseorang pasti
telah memprovokasi tindakan gegabah Ikenobe-san,
“Entahlah, aku tidak tau?”
Dirinya memilih untuk tidak
mengungkapkan apa pun. Melanjutkan penyelidikan lebih lanjut tampaknya cuma sia-sia.
“Begitu
ya...”
“Tapi,
ada satu hal yang perlu kukatakan.
Kondo tidak pernah membayangkan bahwa ia akan dikhianati oleh diriku atau Endo. Idiot sekali, bukan? Seharusnya ia bisa
menyadari itu. Aku yakin dirinya
masih belum menyadari bahwa Endo telah menghancurkannya. Ia adalah sampah tak berguna yang
hanya memikirkan dirinya sendiri.”
Mitsuta-san tersenyum puas. Dirinya pasti terlibat dalam masalah perundungan terhadap Eiji-senpai. Oleh
karena itu, aku tidak akan memaafkannya. Aku juga tidak bisa menghentikan
sanksi dari pihak sekolah.
“Kamu
akan menepati
janjimu,
‘kan?”
Dia
terlihat tenang.
“Tentu
saja. Kami akan menjamin keselamatanmu.”
Satu-satunya
syaratnya untuk bekerja sama dengan kami adalah memastikan keselamatannya.
“Mungkin
akan ada sanksi skorsing atau pengeluaran dari sekolah, tapi aku bisa menyaksikan
kehancuran mereka dari tempat terbaik. Aku puas.”
Dengan
ini, satu-satunya masalah yang tersisa adalah tentang ketua Tachibana dan kelompoknya.
※※※※
──Sudut Pandang Takayanagi──
Setelah
menerima laporan dari Mitsuta,
aku segera bergerak untuk mengamankan Tachibana. Aku sudah mendengar hampir
semua ceritanya.
Saatnya untuk menyelesaikan ini. Diskusi yang tidak produktif selama ini sudah
berakhir, Tachibana.
“Tidak,
tidak, aku tidak bersalah. Aku ditipu oleh Matsuda-san dan Mitsuta-kun. Aku tidak tahu apa-apa. Aku
hanya dijebak.”
Tachibana
berteriak sambil melawan.
Matsuda yang berada di sampingnya tampak bingung dan
berkata, “Ketua,
apa yang kamu bicarakan?”
Aku
teringat pada kisah Putri Salju dalam dongeng Grimm. Ibu tiri yang menyiksa
Putri Salju akhirnya terungkap semua kejahatannya dan dihukum dengan sepatu
besi yang menyala merah, dipaksa menari hingga mati.
Tachibana
yang terlihat menyedihkan itu membuatku teringat pada ibu tiri Putri Salju. Melihat pemandangan memalukan
ini, Matsuda pasti akan mudah hancur sekarang.
Dia
tidak menyadari bahwa upaya putus asa terakhirnya hanya akan menjadi pukulan
terakhirnya.
“Untuk sekarang, mari kita tenangkan diri dan berbicara.
Tachibana, kamu akan pergi ke ruang BK.
Matsuda, kamu pergi ke
ruang kesehatan.”
Aku
akan menangani Tachibana.
※※※※
──Ruang
Bimbingan Siswa──
“Aku
akan langsung bertanya ke intinya.
Mengenai
kasus
percobaan penyerangan terhadap Ikenobe
Eri. Dan peran utama dalam intimidasi terhadap Aono Eiji adalah kamu, iya ‘kan, Tachibana?”
Tachibana
tampak masih gelisah, tapi dirinya
lebih tenang dibanding sebelumnya.
“Itu sama sekali tidak benar. Kejadian ini hanya karena reaksi Matsuda-san yang berlebihan. Pihak sekolah
yang terlalu menekannya
adalah penyebabnya. Perilakunya akhir-akhir ini memang agak aneh. Sejak klub
sastra mulai dicurigai dalam masalah perundungan.”
Begitu rupanya, jadi dirinya
ingin mengalihkan kesalahan.
“Kalau
begitu, bagaimana dengan naskah Aono Eiji yang hilang secara tiba-tiba?”
“Seperti yang sudah kubilang
berkali-kali, aku tidak ada hubungannya dengan kejadian itu. Tapi... kita sudah
membicarakannya kemarin, ada dua orang yang mencurigakan di dalam klub.”
“Oh?”
Dia
mengulangi penjelasannya dari kemarin.
“Yang
pertama adalah Hayashi-san,
siswa tahun pertama. Dia berhenti datang ke klub tepat sebelum masalah perundungan Eiji-kun terungkap. Bukannya itu mencurigakan?”
“...”
Dia bahkan tidak mengubah argumennya di sini, dan aku tertegun oleh logika
egoisnya yang sangat mengesankan.
Namun,
dia sepertinya salah paham bahwa aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia
mendapatkan kembali kepercayaan dirinya dan melanjutkan penjelasannya.
“Sedangkan yang kedua adalah Matsuda-san. Seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, setelah penyelidikan
dari pihak sekolah dimulai, perilaku dan kondisi mentalnya memburuk. Jika
dipikirkan, mungkin dia adalah pengkhianat di klub sastra. Karena, jika tidak
ada kolaborator dari
dalam, mana
mungkin dia bisa membawa pergi naskahnya saja.”
Dia
benar-benar berpikir untuk menutup semua kemungkinan bantahan dari Aono.
Dia benar-benar sangat licik dan penuh perhitungan. Dan meskipun
ini adalah alasan yang sulit untuk dibantah secara mendadak, itu hanya efektif
jika kami belum siap... Namun, pada tahap ini, setelah hampir semua
penyelidikan selesai, itu
hanyalah alasan yang menyedihkan dan kekanak-kanakan.
“Kalau begitu, bagaimana dengan kesaksian Mitsuta?”
“Ia
memiliki dendam terhadap Kondo-kun.
Jadi, kupikir mungkin
ia ingin menjebak orang-orang yang dekat denganku dan Matsuda-san. Dirinya juga mengatakan sebelumnya
bahwa dirinya
tidak menganggap teman-teman di klub sepak bola sebagai temannya. Apa kita
benar-benar bisa mempercayai kesaksiannya, yang bahkan mengkhianati temannya?”
Sungguh
pertunjukan besar.
“Ya,
aku mengerti apa yang ingin kamu katakan, Tachibana.”
“Begitu.
Jika Sensei
meragukanku, tolong bawalah
bukti yang jelas. Jika tidak, aku adalah korban pemfitnahan seperti Aono Eiji.
Jika Sensei
terus meragukanku, aku akan terpaksa mengambil langkah pertahanan yang sesuai.”
Dia
berusaha untuk terlihat memiliki posisi yang lebih baik dan bahkan mencoba
mengancam pihak sekolah. Namun, inilah situasi
yang kami tunggu-tunggu.
Ketika
seseorang yang sebelumnya defensif beralih menyerang, kewaspadaan mereka
biasanya menurun. Ada kemungkinan munculnya celah dalam pemikiran mereka. Jika
lawan melawan dari tempat yang tidak terduga, mereka bisa runtuh dengan cepat.
“Jadi,
bagaimana kamu akan membantah pertukaran pesan ini? Pihak kepolisian baru
saja memberikan
informasi. Sepertinya data di ponsel Kondo berhasil dipulihkan. Ini adalah
bagian dari pesan di media sosial antara kamu dan Kondo, bukan?”
Usai mendengar
kata-kata itu, wajahnya seketika berubah
pucat.
Dengan
suara kecil, dia berbisik, “Tidak
mungkin,”
sambil bergetar seperti sedang menari dalam tarian terakhirnya. Sekali lagi,
posisi menyerang
dan pertahanan sepenuhnya berbalik.
※※※※
──Sudut Pandang Tachibana──
Kenapa!?
Mengapa
pesan kepada Kondo-kun
masih ada? Aku tidak mengerti.
Aku
seharusnya sudah melakukan semuanya dengan sempurna. Pesan kepada Kondo-kun seharusnya sudah dihapus. Namun,
pesan yang kukirim hari itu masih tetap
ada.
Dirinya
telah menceritakan kepadaku bahwa perasaan Amada Miyuki belum sepenuhnya
hilang, dan aku telah menyarankannya untuk lebih menekan Eiji. Aku bahkan
menyertakan tautan ke situs yang menjelaskan cara yang lebih spesifik...
“Tidak
diragukan lagi bahwa ini adalah pesan yang kau kirim, ‘kan?”
Takayanagi
berkata dengan nada dingin.
“Aku
tidak mengingatnya. Apa ada bukti bahwa aku yang
mengirimnya? Lagipula, tidak ada pesan seperti itu di ponselku. Mungkin ada
yang memalsukan atau menggunakan namaku. Aku tidak tahu tentang ini. Aku sama
sekali tidak tahu!”
Setelah
memberikan alasan semacam itu,
Takayanagi menghela napas berat.
“Media
sosial ini memiliki spesifikasi yang aneh, rupanya jika pesan dihapus, datanya tidak bisa dipulihkan. Jadi, jika
kamu menghapus pesan dan Kondo menyinkronkan timeline-nya, bukti ini tidak akan
tersisa.”
Ia
menjelaskan dengan tenang seolah-olah tidak peduli dengan alasan yang
kuberikan. Keringat dingin mengalir di punggungku. Alasan yang kuberikan sama
sekali tidak mempan.
“Sudah kubilang, aku tidak melakukannya!”
Dengan
kehilangan semua ketenangan, aku berteriak menolak, tetapi Takayanagi tidak
berhenti.
“Namun,
Kondo justru terpojok dan melampiaskan kemarahan pada
ponselnya, hingga merusaknya. Jadi, dirinya
tidak bisa login dan tidak bisa menyinkronkan. Dan bukti yang menunjukkan bahwa
kamu mengendalikan semuanya di belakang layar tetap ada. Berhenti memberikan alasan yang tidak berguna.
Jangan meremehkan
orang dewasa. Masalah ini sudah terlalu besar, Tachibana. Alasan
kekanak-kanakanmu tidak akan diterima.”
“Itu
bukan alasan! Sebagai guru, percayalah padaku!”
Mengapa
percakapan ini tidak berjalan lancar?
“Begitu ya. Polisi tampaknya memulai
penyelidikan ke media sosial karena insiden ini. Lagi pula, ada bukti yang
jelas. Penyelidikan polisi akan mengungkap apa yang kamu katakan benar atau
tidak, Tachibana.”
Jika
sudah begini, satu-satunya cara adalah menghapus akun...
“Asal kamu tahu saja, meskipun kamu menghapus akunnya, itu sia-sia. Polisi sudah
menyita data.”
Aku
tidak bisa membalas apa pun dan hanya bisa menatap tajam.
“Tachibana.
Pihak sekolah menganggap serius kasus ini.”
“Diam,
diam. Aku tidak akan mengakuinya.”
“Sudah
saatnya kamu menjadi dewasa, Tachibana. Kamu tidak bisa melarikan diri lagi.”
Aku
semakin marah saat Takayanagi berbicara dengan nada menasihati.
“Baiklah.
Jika begitu, aku akan membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Jika itu terjadi,
kamu tidak akan bisa melanjutkan kariermu sebagai guru. Kamu sudah siap, kan?!”
Aku
mengancamnya dengan kata-kata sekuat mungkin, tetapi Takayanagi tidak
menghiraukanku.
“Sebagai
guru, aku berharap seperti itu. Kami juga sedang melakukan wawancara dengan
anggota klub sastra lainnya. Ini hanya masalah waktu saja.”
Tidak.
Aku harus melakukan sesuatu. Jika alasan ini tidak lagi mempan, maka aku harus menjadikan orang lain
sebagai kambing hitam. Matsuda-san saat ini sedang dalam
pemeriksaan, jadi aku harus cepat-cepat membidik Hayashi-san. Aku harus menciptakan fakta
yang sudah terjadi.
“Hei!”
Memanfaatkan
kelengahan
sesaat mereka,
aku langsung
melarikan diri. Mungkin polisi sedang menuju ke sini. Jika tertangkap, itu akan
menjadi bencana. Aku harus bertindak sekarang.
Dan
aku berlari seperti predator yang mengejar mangsa kecil.
Aku
tidak bisa mengakui hal ini. Aku
berpikir begitu dengan
panik sambil berlari menyusuri koridor.
Aku
adalah orang yang terpilih. Aku tidak melakukan kesalahan yang sama seperti Kondo-kun, dan masih ada cara untuk keluar
dari situasi ini. Aku harus menemukan caranya.
Bahkan pesan
yang baru saja bocor itu pun tidak
bisa menjadi bukti yang menentukan. Jika diperlukan, aku bisa bilang itu hanya
lelucon. Aku bisa saja memberi kesaksian kalau aku benar-benar takkan menyangka bahwa Kondo-kun atau klub sepak bola melakukan perundungan
“Itu dia!”
Aku
menemukan mangsa yang kucari. Sekarang sudah sore. Kupikir dia pulang bersama beberapa
orang untuk mencegah perundungan,
tetapi...
Dia
kebetulan sendirian. Sekaranglah
kesempatanku.
Satu-satunya cara untuk membalikkan keadaan adalah dengan memanfaatkan Hayashi-san.
“Hayashi-san!”
Aku
berusaha
bersikap
ramah dan memanggilnya dengan suara keras, cukup untuk menarik perhatian
beberapa siswa. Dia terkejut dan bahunya tampak gemetar.
“Ketua, Tachibana?”
Sekarang
perhatian para siswa
tertuju padanya. Sekaranglah
kesempatanku.
“Kumohon, tolong
bantu aku. Klub sastra akan dituduh melakukan pemfitnahan oleh sekolah!”
Dia
tampak hampir
menangis usai mendengar
itu. Tapi, aku melihatnya
sebagai kesempatan.
“...”
Dia
yang gemetaran
seperti hewan kecil pasti akan setuju dengan mudah.
“Aku mohon.
Kesaksianmu yang terpisah dari luar klub
bisa menjadi bukti objektif. Para guru mengatakan bahwa akulah dalang di balik perundungan Eiji-kun. Mereka juga mencurigai kami
yang mengambil barang-barang pribadi Eiji-kun.”
Pada hari
itu, ketika aku memberikan instruksi kepada anggota klub, dia tampak pucat
tetapi tidak menghentikanku. Meskipun dia tidak terlibat, dia pasti memiliki
sedikit rasa bersalah. Jadi, aku akan memanfaatkan rasa bersalahnya itu.
Aku
melanjutkan dengan suara pelan, sehingga
hanya dia yang bisa mendengarnya.
“Apa kamu
paham? Karena kamu tidak
menghentikannya, kamu juga bersalah. Mungkin kamu juga akan menerima sanksi
dari sekolah. Jika sudah begitu,
lebih baik kamu bergabung dengan kami. Kami tidak akan menyakitimu.”
Aku
menepuk bahunya. “Sudah
saatnya kamu menjadi dewasa,”
kataku dengan nada pelan, dan dirinya
mulai menahan air mata.
Merasa yakin dengan kemenanganku,
aku meninggikan
suaraku dan menyatakan kebenaranku di depan orang banyak.
“Tolong,
aku tahu melawan guru itu menakutkan. Para guru ingin menyelesaikan masalah ini
dengan cepat agar tidak mempengaruhi penilaian mereka, jadi mereka berusaha
menjadikan kami sebagai penjahat. Kumohon, tolong
bantu kami.”
Aku
berperilaku seolah-olah aku adalah orang yang lemah dan menjadi korban. Dengan
begitu, aku bisa mendapatkan simpati.
Dengarkan baik-baik, di dunia ini, kebenaran bukanlah hal yang mutlak. Yang terpenting ialah apakah kamu bisa menciptakan kebenaran yang
akan dipercaya orang lain sebagai kebenaran.
Ayo,
bersaksilah di depan umum, Hayashi-san.
Seorang siswa yang lemah dan imut sepertimu bisa membela kami, dan orang banyak
akan berpihak pada kami. Ayo, aku akan memanfaatkanmu sebaik mungkin.
Katakanlah, nyatakanlah
kemenangan kami.
“…hm.”
“Ada
apa? Suaramu terlalu kecil, aku tidak bisa mendengarnya.”
Begitu
aku mendesaknya,
dia berteriak dengan suara keras. Dia mulai meneteskan air mata besar.
“Aku
tidak bisa mengatakan itu. Karena, karena... aku melihat ketua klub sastra,
Tachibana, memberi instruksi kepada anggota untuk membuang barang-barang
pribadi dan naskah Aono Eiji-senpai
untuk mengganggunya!”
Suasana
simpati yang sebelumnya ada lenyap dalam sekejap. Tatapan dingin langsung tertuju
padaku.
“Apa
yang kamu katakana?”
Ketika
aku mengiriminya tatapan yang penuh nuansa bahwa dia juga bersalah, dia
menggelengkan kepalanya seakan
menolak.
“Aku
tidak bisa berbohong lebih jauh. Aku tidak mau. Aku tidak ingin menjadi kotor sepertimu. Aku tidak ingin
mengkhianati Eiji-senpai yang kuhormati lebih jauh lagi.”
Setelah
darahku seakan-akan surut,
aku merasa darah mengalir ke kepalaku.
Aku
mengangkat tangan untuk memukulnya.
Dalam
kemarahan yang meluap-luap, aku secara naluriah berusaha mengarahkan tamparanku Hayashi-san. Begitu aku mengayunkan tanganku, aku langsung menyesalinya, tapi rasanya sudah terlambat untuk
menghentikannya.
Aku
melihat sekeliling yang sudah ramai.
Semua
perhatian tertuju padaku. Tangan yang diangkat itu dihentikan oleh kekuatan
yang kuat dari belakang.
“Tentu
saja kekerasan sudah menjadi tindakan yang berlebihan ya ‘kan, Tachibana-san?”
Aku
mendengar suara seorang pria. Tangan kananku ditarik dengan kuat. Rasa sakit
dan ketakutan langsung menghampiriku. Kekerasan terhadap Hayashi-san berhasil dicegah, dan aku
sedikit kehilangan keseimbangan dan terhuyung.
Aku
berhasil bertahan, tetapi tubuhku yang kehilangan keseimbangan hiingga akhirnya membuatku terjatuh.
“Imai Satoshi?”
Aku
tidak terlalu mengenal pria yang menghentikan tanganku. Namun, dia adalah teman
Eiji-kun,
dan aku pernah bertemu dengannya beberapa kali, jadi aku hanya tahu namanya.
“…Semuanya sudah selesai. Kamu baru saja
mengaku semuanya. Bahkan jika kau mencoba membela diri dengan mengatakan
Hayashi-san
berbohong, bukti situasional sudah terkumpul. Lebih baik hentikan saja
perlawanan
yang sia-sia. Ini sangat menyedihkan.”
Dirinya
jelas-jelas sedang memprovokasiku.
Penghinaan karena diejek oleh orang yang hampir tidak kukenal membakar hatiku.
“Kamu
juga bekerja sama dengan Hayashi-san,
kan? Siapa yang menyuruhmu? Eiji-kun,
para guru, atau Mitsuta-kun? Siapa yang berusaha menjebakku?”
Aku
berusaha mengubah situasi dengan berteriak keras, tetapi orang-orang di
sekitarku hanya melihat dengan tatapan aneh, tidak ada yang datang membelaku. Bahkan, aku melihat penonton tertawa
kecil seolah-olah mengejek, “Apa-apaan itu?” Aneh. Rencanaku seharusnya
sempurna. Tidak ada yang tampak mempercayai kata-kataku.
“Beginilah
reaksi yang normal, Ketua Tachibana.
Kamu merasa iri
dan takut pada bakat Eiji, dan berusaha menghancurkannya. Itulah kebenaran di
balik kasus pemfitnahan terhadap Aono Eiji.”
“Jangan
bicara omong kosong!”
Aku
menyangkal dengan sekuat
tenaga. Tetapi...
“Fufufu.”
“Baru
saja, apa yang dia katakan tidak terdengar seperti kebohongan.”
“Karena
dia marah dan mencoba memukul gadis kelas satu, jadi aku yakin itu pasti benar.”
Orang-orang
di sekelilingku tampak dingin seolah-olah ingin mengatakan bahwa aku sepenuhnya memang
bersalah.
“Inilah
penghinaan yang dialami Eiji karena ulahmu.
Eiji yang difitnah merasakan keputusasaan yang lebih dalam. Apa kamu mulai
mengerti betapa kejamnya tindakanmu?”
Aku
merasa tidak berdaya dan menutupi wajahku dengan tangan.
“Tidak,
tidak, tidak.”
Aku
terus menyangkalnya berulang kali. Tapi, tidak ada yang mau memaafkanku. Beberapa
orang bahkan merekam kejadian ini dengan ponsel mereka.
“Kamu bebas melakukan itu selamanya. Aku yakin para guru akan segera datang. Banyak siswa akan
memberikan kesaksian mereka. Tentang apa yang dikatakan Hayashi-san. Kamu kalah dari orang-orang
yang kamu anggap sebagai alat. Kamu hanya memanfaatkan orang-orang di sekitarmu
dan membuang mereka tanpa ampun. Kamu adalah kebalikan dari Eiji. Eiji
membantuku dan Hayashi-san.
Banyak orang yang diselamatkan oleh Eiji. Mereka yang mempercayainya tidak
terpengaruh oleh rumor yang kejam dan terus mempercayainya.”
“...”
Aku terus menatap Imai dengan tajam.
Kata-kata selanjutnya akan menghancurkan kehormatanku. Jadi, aku tidak ingin
mendengarnya. Namun, dirinya
terus berbicara tanpa ragu.
“Kamu
terus membuat orang-orang di sekitarmu menderita. Dan pada akhirnya, kamu akan
hancur karenanya. Eiji membuat teman-temannya tersenyum. Kamu adalah
kebalikannya. Bukan hanya dalam novel. Dalam segala hal, kamu tidak ada
bandingannya dengan Aono Eiji. Tidak ada seorang pun yang akan mengulurkan tangan
untuk membantumu ketika kamu dalam kesulitan.”
Kata-kata
itu merobek harga diriku. Jika
aku tidak bisa mengubah keadaan ini, aku tidak akan bisa tinggal di sekolah.
Aku akan kehilangan segalanya. Tetapi, aku tidak bisa membalas apa pun. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu tanpa henti.
Tak
lama kemudian, Takayanagi datang. Aku tidak bisa melihat apa-apa karena air
mata.
“Baiklah,
mari kita dengar ceritamu, Tachibana?”
Aku
perlahan-lahan
menaiki tangga menuju tiang gantungan.
Aku sudah tidak bisa memberikan alasan lagi. Dengan rasa malu karena kalah
dari junior di segala aspek, aku mengutuk nasibku yang akan dihancurkan secara
sosial. Nerakaku baru saja dimulai.
※※※※
──Sudut Pandang Takayanagi──
Tachibana,
setelah keributan tadi, tampaknya sudah menyerah, tubuhnya lemas dan tidak bisa
bergerak tanpa bantuan.
Di
ruangan lain,
Hayashi sedang memberikan konfirmasi fakta. Dia tampaknya menjawab dengan baik,
dan laporan kesaksiannya datang kepadaku dalam bentuk catatan.
[Pria
sekejam dirinya yang melakukan kekerasan kepada pacarnya sendiri tidak memiliki hak asasi manusia.
Keributan kali ini adalah skandal terbesar sejak klub sastra berdiri, jadi kita
harus menghapus keberadaannya.]
[Aku
akan menghapus semua jejaknya. Semua orang harus bekerja sama.]
[Tidak
ada belas kasihan untuk orang jahat.]
Sebagai
ketua klub,
dia menghasut semua anggota
dengan cara seperti ini.
Jika
aku menyampaikan kesaksian ini kepada Matsuda dan anggota klub lainnya, aku yakin akan ada bukti
yang muncul dari dalam klub sastra seolah-olah bendungan jebol. Sepertinya
catatan yang bertuliskan nama Matsuda ditemukan di ruang klub, tetapi ini juga
kemungkinan besar adalah manipulasi. Yah, kurasa polisi akan mengetahuinya saat
mereka menyelidiki.
“Apa
kamu tidak punya alasan untuk membela diri?”
Aku
bertanya
untuk memastikannya sekali lagi. Namun, Tachibana
hanya menunduk dan terus bergumam, dia tidak
bisa menjawab.
“Begitu.
Laporan pencurian dan kerusakan barang telah diajukan oleh orang tua Aono ke
polisi. Kalian anggota
klub sastra tidak hanya akan menghadapi sanksi dari sekolah, tetapi juga
hukuman sosial. Apa kamu mengerti?”
Usai mendengar
kata-kata itu, Tachibana yang mentalnya sudah hancur akhirnya menunjukkan
reaksi. Dia
sedikit menggerakkan kepalanya dan mulai bergetar.
“Itu
bohong.”
Tachibana
tampaknya terkejut karena harus menerima hukuman dari pihak pengadilan.
“Sayangnya.
Aku sudah mengatakannya berkali-kali. Perundungan adalah kejahatan.”
“Tidak,
tidak. Aku tidak mungkin salah. Rencanaku sudah
sempurna...”
Sayangnya, itu hanyalah rencana seorang
siswa SMA. Ketika segala sesuatunya sudah sebesar ini dan polisi terlibat...
Ini
hanyalah rencana kriminal yang merupakan kenakalan anak-anak yang berlebihan. Sebagai seorang guru, sudah menjadi tugasku juga untuk mengajarkan beratnya dosa yang
dia lakukan.
“Mengapa
kamu merencanakan hal seperti ini? Bukannya
kamu yang paling menghargai bakat Aono?”
Pada
akhirnya, motif di balik tindakan kriminal ini adalah kecemburuan Tachibana
terhadap bakat menulis Aono.
“...”
Dia
tidak bisa memberikan jawaban. Kamu tidak
boleh menginginkan rumah tetangga. Itu adalah salah satu dari Sepuluh Perintah
Musa. Kecemburuan memperburuk niat jahat manusia dan menghancurkan mereka. Hal itu bisa menjadi racun yang
menyebabkan pencurian, pelecehan, dan bahkan pembunuhan. Jika orang dewasa pun
tidak bisa mengendalikannya, bagaimana dengan siswa SMA yang belum dewasa...
Seandainya saja Tachibana bisa mengakui bakat
Aono dengan sehat, dia seharusnya bisa menjadi rekan terbaik dan pertama yang memahami Aono. Dengan begitu, dia juga
bisa mengembangkan bakatnya sendiri. Mungkin keberadaan Aono yang merupakan
jenius yang tidak biasa membuatnya terpesona. Padahal, bakat Tachibana sendiri
cukup tinggi jika dibandingkan dengan teman sekelasnya.
“Tachibana,
aku harus memberitahumu demi masa depanmu sendiri. Mungkin rasanya mustahil untuk memberitahumu agar tidak merasa cemburu. Namun,
jangan sekali-kali menyakiti orang lain karena kecemburuan. Jika kamu
melakukannya, itu akan menolak semua usaha dan bakatmu yang telah kamu lakukan
sampai sekarang. Kenapa kamu melakukan sesuatu yang akan meniadakan semua yang
telah kamu
lakukan sampai sekarang? Itu sangat disayangkan.”
Aku perlu menyampaikan
apa yang
harus disampaikan dengan benar, meskipun aku tahu kata-kata itu mungkin tidak
akan tersampaikan padanya.
“Bakat?
Tidak, tidak, tidak. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak
tahu! Itu bohong, tidaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkk. Bukan itu, bukan itu. Semuanya
karena ulah klub sepak bola dan Matsuda-san yang gegabah”
Dialog
yang takkan pernah bersinggungan pun berakhir.
※※※※
──Sudut Pandang Ai──
Aku
menunggu Hayashi-san
keluar dari ruang UKS. Dengan begini, semuanya telah berakhir.
Dengan
menggunakan koneksi Kuroi, aku mendapatkan pesan media sosial Kondo yang
dipulihkan oleh seorang ahli dan menyebarkannya ke pihak sekolah. Rencana penyerangan
terhadap Ikenobe
Eri oleh sisa-sisa anggota klub sepak bola pun berhasil digagalkan. Dia sekarang berada di bawah
perlindungan polisi. Kejahatan Ketua Tachibana
terungkap berkat keberanian Hayashi-san.
Hayashi-san telah membantuku dalam
rencanaku. Ketika aku menceritakan semuanya padanya, dia berkata, “Jika itu demi Aono-senpai, aku juga ingin
berjuang.”
Oleh karena itu, aku sengaja membiarkannya sendirian dan menunggu
Ketua
Tachibana menghubunginya. Keberaniannya untuk bekerja sama didorong berkat niat baiknya. Namun, penyesalan
dan rasa bersalah karena memaksanya terus membayangi pikiranku.
Meskipun
aku bersembunyi di tempat yang bisa
segera membantunya...
Ketika
dia keluar dari ruang UKS
dan melihatku, dia tersenyum seolah merasa lega. Aku langsung memeluk tubuhnya
yang kecil.
“Semuanya baik-baik saja, aku sama sekali tidak terluka, dan guru juga baik. Aku
akhirnya bisa menemukan keberanian berkat Ichijou-san. Jika kamu tidak
menyemangatiku,
mungkin aku akan menyesal selamanya. Terima kasih banyak.”
Tanpa
mengatakan apa-apa, dia mengerti segalanya dan memberi kata-kata lembut padaku.
Dengan hampir meneteskan air mata, aku bergantung pada kebaikannya.
“Bukannya posisi kita jadi terballik?”
Ketika
aku mengatakannya, Hayashi-san
tersenyum lembut.
