Chapter 6 — Setelah Badai
──Sudut
Pandang Ai──
Dengan
penangkapan ketua klub Tachibana, masalah perundungan mencapai titik penting.
Sepenjuru sekolah membicarakan hal itu dengan heboh. Rumor tentang ketidakbersalahan Senpai juga perlahan mulai menyebar.
Aku berpikir bahwa kehidupan tenang Eiji-senpai akan kembali sedikit demi
sedikit, ketika tiba-tiba aku menerima kabar dari ayah.
Malam
ini, ayahku yang
jarang muncul akan datang menemuiku.
Hatiku
terasa berat. Kenapa aku tidak ingin melihat wajah ayahku? Aku benar-benar putri yang buruk. Aku tidak hanya merebut orang yang
paling dicintainya, aku juga tidak bisa memenuhi harapannya.
Hari ini,
tidak seperti biasanya, aku tidak
memiliki rencana dengan Senpai.
Aku tidak
mempunyai alasan untuk menolaknya. Jadi, aku memantapkan hati. Aku
akan makan bersama ayahku.
Meskipun seharusnya tidak perlu memantapkan hati untuk hal seperti ini. Namun,
aku sangat membutuhkannya. Dalam hatiku, aku merasa putus asa karena hubungan
keluarga kami menjadi sangat tidak sehat.
Sepanjang
siang, aku hampir tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran. Kalau
dipikir-pikir, aku selalu seperti ini sebelum bertemu Senpai. Hidup di dunia berwarna sepia,
hanya menunggu waktu berlalu.
Aku telah
menjadi mesin yang hanya terus memberikan senyum palsu kepada orang lain. Mesin itu mengabaikan emosinya dan hanya mengejar rasionalitas.
Sampai-sampai mencapai
kesimpulan yang bahkan menolak
keberadaannya sendiri.
“Ichijou-san,
apa kamu mengerti masalah ini?”
Karena
sedikit melamun, mungkin aku menjadi sasaran. Aku melihat soal di papan tulis. Soal bentuk geometri. Aku maju ke
depan, menulis langkah-langkah di papan tulis dan menemukan jawaban yang benar.
“Ya,
kita akan menggunakan teorema Pythagoras. Dalam hal ini, jika kita menyelesaikan
persamaan PA × PB = PC × PD... ini adalah jawabannya.”
“Hebat,
itu benar. Teman-teman, tolong contoh
Ichijou-san dan persiapkan diri dengan baik sebelumnya.”
Guru itu
tersenyum sambil berkata demikian. Suara “Ohh~” terdengar dari teman sekelas.
Oh, ternyata kami belum diajari teorema Pythagoras. Aku merasa beruntung karena itu soal
dasar. Seingatku, teorema ini seharusnya ada dalam materi yang diajarkan hari
ini.
Aku
kembali tenggelam dalam pikiranku. Hujan yang turun sebelumnya tiba-tiba
berhenti. Sinar matahari menyinari genangan air di lapangan, memantulkan
keindahan. Aku teringat hari itu, hari pertama aku bertemu dengan Senpai. Dunia pada hari itu juga
seindah ini. Pada hari itu, aku terburu-buru meninggalkan sekolah, tidak
memiliki waktu untuk melihat sekeliling.
“Waktu itu
sangat menyenangkan
sekali. Aku belum pernah segembira seperti
itu sebelumnya.”
Aku
berusaha membisikkan dalam hati, tetapi tanpa sengaja kata-kata itu terucap.
Dengan cepat, aku melihat sekeliling. Sepertinya tidak ada yang menyadarinya.
Setelah merasa lega, aku kembali mengingat hari takdir itu.
Demi
melindungiku, ia menghantamkan tubuhnya ke pagar. Jika dirinya terkena di tempat yang salah
atau pagar itu sudah tua... Aono Eiji,
Senpai yang pertama kali kutemui, telah
mempertaruhkan nyawanya untukku. Hal itu
membuatku sangat bahagia. Dia, sebagai pengganti ibuku, mengatakan bahwa dirinya menginginkanku hidup.
Mungkin,
aku terlalu membandingkannya dengan
ibuku. Meski aku tahu itu tidak sopan, aku merasa tertarik padanya.
Karena
itulah, aku tidak menolak tawaran
mendadaknya waktu itu. Aku merasakan firasat
bahwa ia akan menghancurkan cangkang yang selama ini kutahan.
Aku yang
selalu menjadi siswa teladan selama ini,
diam-diam menyelinap keluar
dari sekolah dengan berani di siang bolong. Aku merasa seolah-olah bisa lepas
dari sangkar yang selama ini mengurungku.
Dan, di sinilah aku sekarang. Sejak hari
itu, aku tidak pernah berpikir untuk mati. Bahkan saat ini, ketika aku harus
menghadapi ayah. Meskipun aku tidak dicintai oleh ayahku, tapi
masih ada orang lain yang mencintaiku. Karena aku
menyadari hal itu, aku bisa menjadi lebih kuat.
Aku kini
bisa menunjukkan bagian diriku yang lemah dan ketidakberdayaan yang sebelumnya
tidak pernah kutunjukkan padanya.
※※※※
Sepulang sekolah. Seperti biasa, aku
pulang bersama Senpai dan
berkata, “Hari ini
aku akan makan malam dengan ayah”.
Ia terlihat sangat khawatir, namun
ia berbicara lebih lembut dari
biasanya.
“Apa
kamu baik-baik saja?”
“Aku hanya
makan dengan ayah kandungku, jadi tidak apa-apa. Selain itu, aku ingin
perlahan-lahan menghadapi ayahku sendiri.”
“Begitu ya, Ai-san memang kuat, ya.”
Apa yang
ia katakan? Bukannya aku jadi
kuat berkat dirinya?
“Hehe,
entahlah.”
Aku
sedikit ingin bersikap nakal.
“Tapi,
jika ada sesuatu, segera beri tahu ya. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk
menjadi kuat.”
“Senpai
beneran curang, kamu begitu...”
Aku
mengucapkannya dengan suara bergetar sambil berjalan di depan Senpai. Dirinya melakukan apa yang ingin kudengar dan lakukan. Terkadang, ia
melampaui imajinasiku, tapi dirinya
benar-benar memikirkanku.
Aku
berbalik dan berkata padanya.
“Karena
itulah, aku sangat menyukaimu.”
Setelah
naik mobil, aku menuju
restoran yang ditentukan. Rasanya seperti kembali ke dalam sangkar. Kontras
antara waktu yang bebas dan bahagia sebelumnya sangat mencolok. Bahkan Kuroi,
yang biasanya banyak berbincang, tampaknya mengerti dan hanya diam memegang
kemudi.
Kami
menuju restoran Cina yang biasa digunakan keluargaku. Ini adalah restoran kesukaan
ibuku. Restoran tersebut memiliki ruang
pribadi, jadi ayahku bisa
makan dengan tenang. Tempat ini penuh dengan kenangan berharga.
Mobil
ayah belum tiba. Sepertinya aku yang datang lebih dulu.
“Reservasi
atas nama Ugaki.”
Apa
aku benar-benar harus
menggunakan nama ini? Memikirkannya membangkitkan kenangan nostalgia, dan seharusnya
itu hal yang berharga, tetapi sekarang
terasa berat seperti timah.
Di dalam
ruang pribadi yang luas, hanya ada dua kursi yang disiapkan.
Seharusnya
tempat ini adalah untuk menikmati waktu berkumpul bersama keluarga, tetapi kini
aku menunggu ayahku
sendirian.
Sambil
menahan udara yang berat, aku berusaha memikirkan masa-masa bahagia. Namun,
perlahan-lahan kenangan itu mulai memudar. Terutama, wajah ayahku yang tersenyum... Sejak ibu
meninggal, ayah tidak pernah tersenyum lagi. Ia adalah orang yang cerdas dan
tenang. Tetapi sekarang...
Dirinya terlihat seperti monster yang
dingin dan penuh dendam.
Aku
mendengar suara di belakangku.
Ayahku datang.
Pintu perlahan-lahan terbuka. Meskipun masih
panas, ada kesan dingin yang masuk, membuatku merasa sesak. Dirinya hidup hanya dengan menggunakan
otaknya yang cemerlang, mengabaikan semua kelemahanku. Saat ini, aku tidak bisa
memanggilnya ayah. Karena dirinya
terlalu berbeda dari ayah yang kukenal.
Monster
yang menyamar sebagai ayahku yang sangat kucintai duduk perlahan di hadapanku. Ia memegang pena yang disimpan di saku
dengan tangannya.
“Sudah
lama ya, bagaimana kabarmu?”
Kata-katanya
terdengar formal, seolah-olah dia bahkan tidak melihatku.
“Baik.”
“Begitu.”
Percakapan
kami yang tidak terlihat seperti percakapan antara ayah dan putri kandung terhenti di sini, dan
keheningan yang berat berlanjut.
“Kamu mau
makan apa?”
Karena tidak
tahan dengan keheningan itu, aku membuka menu.
Dulu,
ayah selalu tersenyum dan membiarkanku memilih menu lebih dulu. Dia selalu
mengingat apa yang kusuka dan dengan lembut memesan makanan favorit ibu juga.
Tetapi sekarang...
“Makanlah apapun yang kamu suka. Aku ada
pertemuan setelah ini, jadi aku akan makan ringan.”
“Begitu,
ya.”
Meskipun
dirinya yang merencanakan makan malam
bersamaku, tapi ia lebih
memilih untuk memprioritaskan pekerjaannya. Ada bagian dari diriku yang merasa
terkejut. Tindakan yang pasti tidak akan dilakukan ayahku yang dulu. Dan
kata-kata yang diucapkan dengan nada acuh tak acuh. Ayah yang sedemikian dekat
terasa begitu jauh. Jarak di hati kami sama sekali tidak terisi.
“Masalah
perundungan di sekolahmu sudah
menjadi topik besar, bukan?”
Aku
terkejut. Seberapa banyak yang ia ketahui? Apa inti dari makan malam ini
adalah tentang Eiji-senpai?
“Ya,
di sekolah juga sedang ramai membicarakan hal itu.”
“Itu
adalah skandal terbesar dalam sejarah sekolah.
Mungkin aku salah membiarkanmu masuk ke sekolah itu. Rekam jejakmu pasti sudah
tercemar.”
“....”
Aku
merasa sesak sejenak. Jangan
merendahkan tempat yang sangat berarti bagiku hanya karena hal sepele seperti
itu. Jika aku bersekolah di tempat lain... mungkin, aku... Tanpa sadar, aku
menatap ayahku dengan
tajam, lalu buru-buru mengembalikan ekspresiku.
Apa ini
mungkin sebuah jebakan? Untuk mengguncang emosiku. Dengan jaringan informasi
ayah, ia pasti memiliki hampir semua informasi penyelidikan tentang masalah
perundungan ini.
Ayah
menatapku tanpa mengatakan apa-apa, seolah-olah dia bisa melihat semuanya.
“Yah,
baiklah. Mulai besok, aku akan sibuk lagi untuk
sementara waktu. Aku tidak bisa datang, jadi jika ada sesuatu yang terjadi,
konsultasikan saja dengan Kuroi.”
Setelah
kata-kata gtersebut, makan
malam yang dipenuhi keheningan pun
berlanjut.
※※※※
──Sudut
Pandang Ugaki──
Hampir tanpa adanya percakapan yang berarti dengan
putriku, kami terus makan dalam diam.
Tidak,
hanya bisa melihatnya saja sudah
cukup. Hanya dengan melihatnya,
aku bisa memantapkan hati untuk menghadapi situasi sulit ini. Memesan hidangan
tiram goreng gaya nelayan yang disukai istriku adalah simbol dari kelemahanku
dalam arti tertentu.
Seandainya
saja aku bisa kembali ke masa-masa bahagia itu. Masa-masa saat keluarga kami bertiga
tersenyum, dan sahabat yang penuh pengertian juga masih ada.
Namun, semuanya sudah terlambat. Semuanya telah
hilang.
Karena sudah
sejauh ini, satu-satunya pilihan adalah membalas dendam.
Namun,
aku tidak berniat untuk memulai masalah di sini. Ketika aku mengetahui bahwa
anak sahabatku yang telah meninggal mengalami perundungan parah oleh putra
Kondo, aku tidak punya pilihan selain mempercepat rencana yang sudah kupikirkan
sebelumnya.
Meskipun
itu berarti perang habis-habisan dengan pihak
Perdana Menteri, aku harus memaksa Kondo dan yang lainnya ke titik tidak bisa
bangkit lagi. Perintah dari perdana menteri adalah, “Aku tidak peduli apa yang terjadi
pada Kondo, selesaikan saja skandal ini secepatnya.” Namun, bertentangan dengan
harapan pemimpin tertinggi negara ini, masalah ini terus
meluas dan mengguncang
fondasi pemerintah. Jika Kondo dibiarkan begitu saja, ada kemungkinan keluarga
Aono akan membalas dendam. Oleh karena itu, aku harus menghancurkan mereka
secara menyeluruh. Meskipun itu bertentangan dengan keinginan perdana menteri.
Bahkan
sekarang, pria itu pasti sudah menyadari. “Ada pengkhianat yang bersembunyi di suatu
tempat”.
Dan pengkhianat yang paling mungkin adalah aku. Aku menyuplai informasi tentang
insiden ini ke media di belakang layar, memperpanjang konflik ini.
Meskipun
konflik dengan pemerintah masih semakin dalam di bawah permukaan, tapi hal itu akan segera muncul ke
permukaan. Aku sudah sampai pada titik di mana tidak bisa mundur lagi. Namun,
aku hampir tidak khawatir akan ada bahaya yang mengancam Ai. Di Nagatacho,
rumor tentang ketidakharmonisan antara aku dan putriku sudah beredar. Pihak
musuh juga harusnya menilai
bahwa putriku tidak memiliki nilai guna.
Dalam
arti tertentu, Kitchen
Aono adalah titik lemah kami,
tetapi dengan keributan kali ini, media terus menunjukkan minat pada keluarga
Aono. Artinya, bahkan para pemegang kekuasaan pun tidak bisa dengan mudah
mencampuri urusan kami.
Orang-orang
yang penting bagiku kini aman. Lingkungan yang paling tepat untuk melakukan
pertempuran telah tercipta.
Makan
malam ini adalah sesuatu yang diperlukan untuk memantapkan hatiku dan mempersiapkan langkah
selanjutnya.
Dari
sini, drama balas dendamku akan dimulai. Meskipun itu mungkin akan berujung pada saling melukai, tapi aku
tetap takkan memaafkan
mereka.
※※※※
──Sudut
Pandang Ai──
Setelah
selesai makan, aku mengantar ayahku
pergi.
Aku
berpikir untuk menjelaskan tentang hubunganku
Eiji-senpai, tetapi aku tidak bisa melangkah maju.
Ayahku pasti sudah mengetahuinya, tetapi ia sengaja tidak
mengatakan apa-apa. Apa ini diizinkan? Atau apa aku hanya dibiarkan begitu
saja?
“Nona muda, apakah Anda ingin mampir ke
suatu tempat?”
Setelah
menatap punggung ayahku yang
semakin jauh, Kuroi bertanya demikian padaku,
jadi aku menjawab, “Aku ingin
pergi ke Kitchen Aono.”
Aku ingin
bertemu dengan Senpai.
“Turunkan
aku di sini saja.”
Aku
meminta Kuroi saat kami berada di tempat yang masih sedikit jauh dari Kitchen Aono.
“Tapi,
dari sini akan memakan waktu sedikit lebih lama.”
Aku tahu
itu. Namun, untuk kembali ke tempat yang hangat itu, aku butuh sedikit waktu
untuk merapikan pikiranku.
“Tolong.
Aku ingin menghirup udara luar sebentar untuk menenangkan pikiranku.”
"Baiklah, saya mengerti.”
Aku
perlahan-lahan turun dari mobil. Udara di luar masih terasa panas, seakan-akan musim panas belum berakhir. Aku berjalan di tengah keramaian.
Semua orang tampak senang. Hanya aku yang memiliki ekspresi muram.
Ayahku yang baik dan ayahku yang
sekarang. Dia telah berubah sedemikian rupa sehingga sulit untuk percaya bahwa
mereka adalah orang yang sama. Jika terus begini, aku akan sendirian. Aku tidak
ingin sendirian. Karena itulah,
aku menuju tempat yang akan menyambutku dengan hangat.
Aku harus
mengubah perasaanku sebelum tiba agar tidak membuat semua orang khawatir. Aku harus segera kembali ke
diriku yang biasa. Hanya
perasaanku yang gelisah, tetapi kakiku terus melangkah maju. Tetesan air dari langit mulai
membasahi rambutku.
“Ah,
hujan. Ayo cepat ke stasiun!”
Seorang
wanita di dekatku berteriak. Aku melihat seorang pria mengeluarkan payung lipat
dari tasnya. Gawat. Aku
lupa membawa payung. Tapi, saat ini, itu sebenarnya sangat membantu. Karena itu bisa menutupi wajahku
yang berantakan akibat menangis.
Jika aku
berjalan sambil menangis, tidak ada yang akan curiga. Berkat cuaca ini, aku
bisa kembali seperti anak kecil.
Kenapa
aku harus mengalami semua ini?
Aku
selalu menjadi siswa teladan. Aku tidak pernah merepotkan orang tuaku. Keduanya
sangat sibuk, jadi aku banyak bersabar. Aku juga berusaha keras. Aku ingin
membuat mereka senang. Tapi, kenapa aku harus mengalami perundungan seperti
itu? Kenapa aku harus terpisah dari ayah yang ingin bersamaku?Emosiku meledak,
dan hatiku perlahan-lahan menjadi gelap.
Keseimbangan
emosiku yang seharusnya stabil
sejak bertemu Senpai, kini
telah terganggu setelah sekian lama.
Aku ingin
bertemu dengannya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin bertemu dengan Senpai.
Saat aku
sangat berharap demikian,
hujan yang turun semakin deras menjauhkan diriku dari tubuhku.
Aku mendengar
suara air yang memercik di atas kepala. Aku menyadari seseorang mengarahkan
payung kepadaku. Dengan panik, aku menoleh ke belakang. Orang yang sangat
kucintai menatapku dengan wajah khawatir. Dia memegang tas belanja di tangan
kirinya.
“Apa yang sedang kamu lakukan di
tengah hujan begini tanpa payung?”
“Senpai,
kenapa kamu di sini?”
“Ibuku
menyuruhku membeli lebih banyak selada untuk salad karena persediaan kami hampir habis. Itulah yang kulakukan dalam
perjalanan pulang.”
Sepertinya
dia pergi berbelanja tanpa mengganti seragamnya. Ia
adalah senpai yang sudah sangat familiar
bagiku.
“Begitu ya.”
Aku tanpa
sadar tersenyum lega seperti
anak yang menemukan orang tuanya. Meskipun aku sebelumnya merasa Tuhan itu
jahat, kini aku mulai berpikir ulang. Waktu
bertemu dengannya selalu sempurna.
“Apa
kamu menangis?"
Aku
terkejut.
“Tidak, aku
tidak menangis. Kurasa ini
hanya karena hujan.”
Dirinya tertawa mendengar alasan tidak
masuk akalku. Dan ia mengulangi kata-kata yang kuucapkan sebelumnya, “Begitu ya.”
Karena dirinya tahu
aku akan makan malam dengan ayah, ia pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi.
“Baiklah,
kita anggap saja begitu. Untuk sementara, ayo ke rumahku. Kamu bisa sakit jika
tetap di sini. Bagaimana dengan makan malam?”
“Aku
sudah makan.”
“Kalau
begitu, kita bisa minum teh hangat.”
Ia berbicara kepadaku dengan begitu
lembut sehingga aku tak bisa menahan diri untuk mengatakan “Ya.”
Berkat
payungnya, aku yang tadinya hampir menangis, kini
kembali menjadi diriku yang biasa. Ia
memberikan saputangan yang dibawanya kepadaku. Sama seperti hari itu.
Meskipun hal itu segera tidak berarti, tapi tetap saja, kebaikannya membuatku
senang.
“Ini
mirip dengan hari pertama kita bertemu. Hari itu juga hujan, dan aku meminjam
handuk darimu.”
“Benar.
Berbeda dengan hari itu, Ai-san har ini terlihat
jauh lebih modis. Kamu yakin? Itu
pakaian mahal, ‘kan?”
“Ya,
tetapi tidak masalah. Aku akan menganggapnya sebagai biaya sekolah. Hachoo!”
Aku
sedikit berpura-pura kuat, tetapi karena merasa tenang, aku tidak bisa melawan suhu dingin hujan. Ketika aku bersin, Senpai melepas jaketnya dan
menyelimutkannya padaku.
“Karena
tidak ada yang lain, jadi cuma
ini saja yang bisa kupersembahkan.”
Ia
mengatakannya dengan malu-malu.
“Ini
yang terbaik.”
Aku bisa merasakan
aroma dan kehangatan tubuhnya. Menikmati kebahagiaan itu, kami melangkah
perlahan ke depan.
※※※※
──Sudut
Pandang Eiji──
Kami
berjalan di bawah satu payung, berusaha menyelaraskan
langkah kami sebisa mungkin. Aku mengarahkan payung sedikit
miring ke arahnya.
“Senpai,
bahumu basah. Aku sudah basah kuyup, jadi kamu tidak
perlu khawatir.”
Sepertinya
dia langsung menyadarinya.
“Tidak,
aku tidak bisa lebih jauh dari ini...”
“Aku
menyukai sisi lembutmu, tapi jika kamu
terus seperti ini, aku akan merasa bersalah, jadi tolong hentikan.”
Setelah
dia mengatakan itu, aku jadi tidak
punya pilihan lain. Aku memegang payung dengan
tegak.
“Kamu
tidak ingin bertanya apa yang terjadi?”
“Ya.
Aku tidak akan
bertanya.”
“Kenapa?”
“Mungkin
karena itulah yang kamu lakukan
untukku saat aku sedang melewati masa-masa tersulit.”
Dia tidak
memasuki area yang ingin kuhindari. Jadi aku
hanya melakukan hal yang sama padanya.
“Begitu.
Terima kasih.”
Dia
berkali-kali menunjukkan wajah yang penuh rasa bersalah.
“Selain
itu, aku mempercayaimu.”
“Percaya?”
“Meskipun
ada rahasia, hubungan kita tidak akan mudah hancur.”
Saat aku
melihat ke samping, dia tampak tersipu dengan wajah memerah, tetapi tetap terlihat
bahagia. Sungguh sebuah keajaiban bisa bertemu gadis yang bisa dipercaya
meskipun baru saja terjadi insiden itu.
“....”
“Ada
apa? Apa kamu merasa kedinginan?"
Dia
menggelengkan kepalanya.
“Justru
sebaliknya. Aku senang dan merasa panas. Jika saja hujannya tidak deras, aku ingin memelukmu...”
Dia
mungkin merasa telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Dia tersipu dan
menundukkan kepala dengan malu.
“Mungkin
sebaiknya kamu menunggu sebentar.”
Ketika
aku mengatakannya dengan nada bercanda, wajahnya semakin memerah.
“Kamu
mendengarnya?”
“Entahlah.”
“Kamu memang jahat, Senpai. Jika kamu
mendengarnya, berpura-puralah tidak mendengarnya.”
Reaksinya
kali ini sangat sesuai dengan usianya, membuatku merasa senang. Waktu yang
dihabiskan untuk saling bergurau seperti ini sungguh membuatku bahagia. Dia
menggelengkan kepalanya dan menghadap ke depan, sepertinya sedikit mengubah
suasana hatinya.
“Jika
ada hal yang tidak menyenangkan terjadi,
aku akan berbuat nekat seperti ini. Aku merasa tidak nyaman dengan diriku yang
tidak dewasa.”
Saat dia
mengungkapkan itu dengan begitu lembut
membuatku bahagia, karena aku tahu
dia benar-benar mempercayaiku.
“Benarkah?
Setidaknya, berbeda dengan waktu itu, kamu sekarang mau bergantung pada
seseorang.”
“....
Itu karena kamu ada di sini. Karena kamu berjanji untuk selalu ada di sampingku...”
Kata-katanya
mulai mengeluarkan sedikit emosi.
“Karena
kamu memberiku kata-kata yang selalu aku inginkan, aku bisa melangkah maju.”
Hal tersebut
juga berlaku untukku. Sejak hari itu, dia bahkan sampai menurunkan reputasinya sendiri demi melindungiku. Dia
mengembalikan naskah pentingku dan memberiku dorongan, itulah sebabnya aku bisa
menjadi diriku yang sekarang. Aku bertekad untuk membuatnya bahagia.
“Ah,
maaf. Jaket seragam Senpai jadi
basah, ya? Senpai
harus memakainya lagi besok.”
Dia mulai
tenang sedikit demi sedikit.
“Tidak
apa-apa kok, di rumah masih ada satu lagi.”
“Terima
kasih.”
Dia
mengatakan itu sambil memeluk jaketnya erat-erat,
seolah merasa kedinginan. Setelah itu, percakapan kami menjadi singkat, hanya
saling memastikan bahwa kami saling menyayangi.
※※※※
──Sudut
Pandang Ai──
Aku bisa mencium aroma Senpai.
Campuran
rasa lega dan malu membuat percakapan menjadi terputus-putus, dan aku menyadari
aku bertingkah aneh. Aku bukan gadis yang murung seperti sebelumnya; aku
hanyalah gadis biasa yang menikmati jalan-jalan bersama pacarku.
Aku
menyadari bahwa aku tidak
perlu memikirkan hal-hal yang rumit.
Untuk saat
ini, aku hanya ingin merasakan waktu bahagia sebagai seorang gadis SMA biasa.
Aku
memeluk jaketnya dengan erat sebagai pengganti pelukan. Setelah masuk ke rumah
Senpai, suasana menjadi
sangat kacau.
Ibunya
tampak hampir menangis sambil berkata, “Ai-chan,
kamu baik-baik saja. Pasti kedinginan, ‘kan?
Aku akan menyiapkan pakaian ganti, silakan mandi. Aku akan segera memanaskan
air,” sambil mengeluarkan hampir
sepuluh handuk dan teh hangat.
Hanya
dengan meminum teh itu saja sudah membuatku kembali
merasa lega hingga aku hampir menangis lagi. Melihat wajahku
yang sedih, ibunya semakin khawatir dan panik, jadi aku memaksakan diri untuk
tersenyum. Senyumku akhirnya membuat ibunya merasa lebih tenang.
Aku masuk
ke dalam bak mandi yang telah dipanaskan.
Ibunya
segera membawa pakaianku ke tempat pencucian.
“Apa sih yang sebenarnya kulakukan?”
Saat berendam di dalam air hangat, aku menghela
napas dan tiba-tiba merasa malu. Aku sudah membuat semua orang khawatir dan
panik, sementara aku hanya meluapkan emosiku.
Aku
berusaha mengusir perasaan negatif itu dengan
cepat.
Tidak
boleh. Aku sudah mendapatkan perhatian dari Senpai dan ibunya. Menjatuhkan
diriku sendiri adalah hal yang salah. Karena itu sama dengan menolak
orang-orang yang telah menunjukkan perhatian padaku.
Aku
mencuci wajahku dengan air hangat. Dengan meningkatnya suhu tubuh, rasa tenang
mulai muncul.
Aku menghela
napas lega.
“Begitu ya, jadi
Senpai selalu mandi di sini.”
Mungkin
karena aku sudah merasa nyaman, aku tidak sengaja
memikirkan hal itu. Bukan hanya karena suhu tubuh, tetapi detak jantungku juga
semakin cepat.
Sabun
tubuh dan sampo yang kugunakan sebelumnya. Mungkin ia juga menggunakannya. Aku
sedikit mencari-cari aroma diriku sendiri.
“Aromanya
sama.”
Aku tidak
bisa menahan diri dan tersipu malu.
Apa sih yang sedang kupikirkan?
Aku mulai menggerakkan kakiku
dengan gelisah, ingin bersembunyi di suatu
tempat, tetapi aku teringat bahwa aku sedang meminjam
bak mandi, jadi aku buru-buru menahan diri. Tapi itu berarti aku tidak punya
cara untuk melepaskan rasa malu, dan suhu tubuhku semakin meningkat.
Aku
buru-buru mencuci wajahku sekali lagi dengan air dingin.
“Ai-chan?”
“I-Iya!!”
Ibu Senpai tiba-tiba memanggil dari ruang
ganti, dan mungkin karena timing yang buruk, aku sangat terkejut.
“Aku
akan meletakkan pakaian ganti di sini, jadi pakailah sesuka hatimu.”
“Terima
kasih untuk segalanya.”
“Jangan
khawatir. Ai-chan sudah seperti keluarga. Kita harus saling membantu saat dalam
kesulitan.”
“Tapi,
aku akan membayar biaya laundry dengan baik.”
“Anak-anak
tidak perlu khawatir tentang itu. Kadang-kadang, memanjakan
dirimu juga hal yang diperbolehkan.”
“Aku
selalu dimanjakan."
Saat aku
mengatakan itu dengan nada meminta maaf, dia sedikit tersenyum dan menjawab.
“Kalau
begitu, lain kali kita pergi berbelanja bersama. Kadang-kadang, kita perlu
waktu untuk perempuan.”
Ibunya
pergi dengan ceria.
Supaya
tidak pingsan, aku segera keluar dari bak mandi. Setelah mengeringkan tubuhku
dengan handuk, aku mencium aroma lembut dari pelembut kain. Sekali lagi, aroma
yang sama membuatku berdebar-debar.
Dan
ketika aku melihat pakaian ganti yang telah disiapkan...
“Eh?”
Aku
kehilangan kata-kata. Pakaian yang disiapkan untukku
di sana jelas-jelas adalah kemeja besar untuk pria. Bahkan,
aku ingat itu adalah pakaian yang pernah dipakai Senpai...
Sambil
mengeluarkan teriakan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, aku
merasakan tubuhku tiba-tiba menjadi panas.
Kemudian,
aku mendengar suara pintu yang tiba-tiba
terbuka.
Pintunya terbuka sepenuhnya.
Di depan
mataku, ada Senpai yang memegang banyak handuk. Karena tumpukan handuk yang
lebih tinggi dari pandanganku, dia tidak menyadari keberadaanku.
“Maaf,
Ai-san. Aku akan membuka pintu. Ibuku bilang untuk membawa handuk.”
Mendengar
suaranya yang santai, aku mengeluarkan teriakan tanpa suara. Dalam keadaan
sedikit panik, aku menggenggam bajunya.
Tidak
boleh, saat membuka pintu, kamu harusnya memberi tahu terlebih dahulu.
Mungkin dia merasa santai karena ini rumahnya. Sebelum ia menyadari, aku harus
berbicara. Suaraku jadi
bergetar.
“Senpai,
jangan bergerak. Aku tidak mengenakan apa-apa sekarang. Beri aku sedikit
waktu...”
Namun, hal itu justru berbalik menjadi
bumerang.
Setelah
mendengar kata-kataku, dia juga menjadi gelisah.
“Eh,
ah, maaf.”
Ketika
Senpai mencoba keluar dari ruang ganti dengan panik, menara handuk yang
menumpuk di depannya runtuh karena gerakannya. Sebelum runtuh, aku buru-buru
membalikkan badan.
Waktu
kami seolah terhenti.
Aku memejamkan mataku dengan erat. Jantungku
berdegup kencang.
Dan aku
menyadari bahwa aku menampilkan penampilan
yang sangat buruk. Aku menggenggam bajunya dengan kedua tangan. Ini seolah-olah
aku sedang mencium aromanya. Rasa malu karena dilihat telanjang lebih kecil
dibandingkan dengan keinginan untuk tidak disalahpahami dan dibenci oleh
Senpai.
“Kyahhh!”
Aku
berteriak tanpa sadar.
Pelan-pelan,
saat aku membuka mata untuk memeriksa keadaannya, Senpai berusaha keras menutup matanya. Ketegangan itu terasa,
dan aku tidak bisa menahan tawa.
“Maaf,
aku lengah.”
Suaranya
juga bergetar.
“Kamu
melihatnya?”
Aku
bertanya kembali dengan hati-hati.
Ia
menggelengkan kepalanya, rambutnya acak-acakkan.
“Benarkah?”
Dengan
sedikit keraguan, aku bertanya lagi untuk memastikan.
Gerakannya
sedikit lambat.
“…Maaf.
Aku sedikit melihatnya.”
Melihatnya
berbicara jujur dan tampak sangat menyesal, entah kenapa aku merasa sayang
padanya.
“Dasar bodoh.”
“Maafkan
aku.”
Dia
terlihat semakin kecil, tampak seperti akan menangis karena aku telah
memojokkannya.
“Mesum.”
Dirinya semakin mengecil.
“Kamu
masih belum boleh melihatnya, oke?”
Aku
berkata demikian dan kembali ke kamar mandi.
“Sudah
cukup.”
Karena
panik, aku kembali menggenggam bajunya.
“Aku
benar-benar minta maaf. Sementara itu, aku akan
meletakkan handuk di samping mesin cuci.”
Aku
mendengar suaranya yang meninggalkan ruang ganti
seolah-olah ia melarikan diri. Aku
sedikit merasa lega dan menghela napas.
“Ia
melihatku.”
Rasa malu
itu mulai menghinggapi. Dengan cara itu,
aku memaksakan diri untuk membenarkan tindakan yang akan aku lakukan
selanjutnya.
“Ini
adalah balasan untukmu.”
Aku
berkata demikian sambil memeluk bajunya. Seolah-olah aku dilindungi olehnya,
aku merasakan kebahagiaan yang memenuhi hatiku.
Aku
menyadari bahwa aku sangat menyukainya. Mulai sekarang, mungkin suasananya akan sedikit canggung. Tapi, aku
harus membuatnya sedikit canggung. Merasakan kehangatan orang yang sangat aku
cintai, hatiku perlahan-lahan meleleh.
Aku
perlahan-lahan memasukkan lenganku ke dalam lengan bajunya.
※※※※
──Sudut
Pandang Eiji──
Sial. Aku
melarikan diri dari bak mandi dan kini terkurung dalam rasa benci pada diriku
sendiri. Seharusnya
aku mengetuk pintu dulu di sana.
Aku benar-benar lengah mendengar ibuku berkata, “Ai-chan,
baru saja masuk, jadi bawalah handuk untuknya.”
Sejujurnya,
karena rumah ini didominasi oleh pria, aku tidak pernah mengalami situasi di
mana aku harus berhati-hati di kamar mandi. Ketidakwaspadaanku benar-benar
berbalik menjadi bumerang.
Hanya
dengan mengingat pemandangan sebelumnya, tubuhku terasa kaku. Ada sosok yang sangat putih dan
cantik, yang tidak seharusnya dilihat, berada di ruang ganti rumahku.
“Apa
dia bakalan marah...?”
Dengan
rasa khawatir, aku menatap langit-langit. Tiba-tiba, wajahnya muncul di sana.
“Aku
baik-baik saja. Aku tidak marah sampai sejauh itu, kok.”
Dia
muncul tanpa suara, berusaha mengejutkanku sambil tersenyum, rambutnya masih
basah, memberikan nuansa yang tidak biasa. Dia juga mengenakan bajuku. Tidak,
pakaian yang dia kenakan sudah dibawa ke laundry, jadi itu tidak bisa
dihindari. Namun, dia mengenakan bajuku yang longgar, dengan rambut basah setelah
mandi. Ini adalah sesuatu yang berbahaya yang tidak seharusnya dialami oleh
siswa SMA biasa.
“Waktu,
berhentilah, dikau begitu
cantik.”
Tanpa
sadar, kutipan terkenal dari Faust karya Goethe keluar dari mulutku.
“Apa?
Kamu mengucapkan kata-kata yang membuatku mati tanpa permintaan maaf, itu
membuatku bingung. Atau apakah kamu berniat bunuh diri?”
Tanggapan
itu membuatku tertawa. Itu adalah balasan yang hanya bisa dilakukan oleh
seseorang yang telah membaca Faust sampai akhir. Hebat, dia adalah siswa
teladan. Dia sangat
berpengetahuan. Namun, sebelum aku terkesan, ada satu hal yang harus kukatakan.
Aku
berbalik dan duduk dengan posisi seiza, menundukkan kepalaku.
“Maafkan
aku soal tadi. Sejujurnya, aku lengah.”
“Tidak
apa-apa. Aku tidak keberatan jika dilihat oleh Senpai.”
Dia
mengatakan itu dengan sedikit rasa malu saat aku meminta maaf.
“Terima
kasih. Hmm, apa kamu baik-baik saja? Wajahmu kelihatan
sangat merah...”
Meskipun
aku mengingat bahwa dia baru saja selesai mandi, wajahnya tampak memerah.
Mungkin dia terkena dampak panas air?
“Aku
juga merasa malu... bodoh.”
Dia
menjawab sambil gelisah.
“Mau
makan es krim?”
Tanpa
sadar, kata-kata tersebut
keluar dari mulutku...
“Mau.”
Dia
menggerakkan tangannya seperti kipas untuk mencoba menurunkan suhu tubuhnya. Aku segera berlari ke freezer.
“Tadi.... aku benar-benar bilang kalau aku tidak keberatan menunjukkan
diriku yang telanjang kepada Senpai... aku
benar-benar bodoh sekali.”
Sepertinya
aku mendengar kata-kata manis itu dari belakang. Aku memindahkan es krim vanila
yang sedikit lebih enak yang
biasanya disajikan sebagai makanan penutup di toko ke dalam wadah, dan
menyiapkan dua porsi.
“Ini.”
“Terima
kasih.”
Setelah
itu, kami memakan es
krim dalam suasana canggung. Dia
mengambil suapan pertama dan berkata, “Enak.” Meskipun canggung, suasana tidak
terlalu tidak nyaman dan waktu berlalu.
Kemudian,
ibuku masuk.
“Hujan
kembali turun deras, ya. Oh, kalian berdua, ada apa? Kok diam-diam
saja.”
Ibuku
tampak senang dan tersenyum.
“....”
Kami
hanya bisa diam dan memakan es
krim.
“Eiji,
bisakah kamu membantuku sebentar?”
Setelah
dia berkata begitu, aku kembali menuju dapur.
※※※※
“Ibu,
apa tadi Ibu berusaha menggoda kami tadi...?”
Ketika
aku mengeluh, ibuku hanya tersenyum sedikit dan tidak mengatakan apa-apa.
“Hei,
Eiji. Apa Ai-chan baik-baik saja?”
Dengan
senyumnya yang menghilang, ibuku bertanya dengan serius.
“Aku
tidak tahu. Tapi, dia terlihat sangat terpuruk.”
“Begitu
ya. Jadi, kurasa kamu sebaiknya tetap berada di samping Ai-chan.”
“Eh?”
“Hujan
kelihatannya takkan berhenti, jadi biarkan dia
menginap di sini malam ini.”
Eh,
menginap di rumah?
Apa itu
pernyataan yang pantas diucapkan oleh seorang ibu kepada pacar putranya?
Pria dan
wanita tidak boleh duduk bersama sampai usia tujuh tahun, begitulah kata orang-orang zaman dulu.
“Itu
adalah pepatah dari Tiongkok kuno. Sekarang, hanya kamu yang menggunakannya.”
Ibuku
tertawa seolah-olah bisa membaca pikiranku seperti seorang peramal.
“Bagaimana
Ibu bisa membaca pikiranku?”
“Itu
tertulis di wajahmu, 'pria dan wanita tidak boleh duduk bersama sampai usia
tujuh tahun.'”
“Mana
mungkin ada yang tertulis seperti itu.”
Aku tahu
kalau ibuku tidak akan berhenti jika sudah begini.
“Tapi,
yang begitu...”
“Tidak
apa-apa, malah lebih berbahaya jika dia ditinggalkan sendirian di apartemen.”
“Itu bisa
menimbulkan keributan besar.”
“Tidak
masalah. Jika perlu, aku akan berbicara dengan ayahnya sendiri.”
Karena
dia mengatakannya dengan tegas, aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ketika aku kembali ke ruang tamu
tempat dia menunggu, Ai-san
tampak sedikit lebih tenang sambil menonton televisi.
“Apa
ibumu sudah baik-baik saja?”
“Ya,
jadi, aku ingin kamu menginap di sini malam ini.”
Karena
tidak ada gunanya bertele-tele, aku langsung mengatakannya, dan dia pun
terkejut sejenak. Dia menatapku dengan ragu, seolah-olah mencoba menyembunyikan
dadanya.
“Eh,
apa ini maksudnya begituan?”
Jawaban
sugestifnya membuatku sangat malu sampai rasanya ingin mati.
“Tidak,
tidak. Hujan semakin deras dan sepertinya kamu juga terlihat sedih. Aku rasa
tidak baik jika kamu menghabiskan waktu sendirian... Aku juga sudah berdiskusi
dengan ibuku.”
“Begitu
ya. Maaf sudah membuatmu khawatir.”
“Aku
tidak memaksamu. Menginap di rumah pria itu memang
hal yang sulit."
“Benar.
Tapi, aku mohon malam ini.”
“Ya,
memang... eh?”
Reaksinya
yang tak terduga membuatku memberikan respons yang sedikit terkejut.
“Kubilang,
kumohon. Aku belum pernah menginap di rumah teman sebelumnya. Aku sedikit
mengagumi hal itu, dan juga...”
“Dan
juga?”
“Kesempatan
untuk menginap di rumah pacarku sendiri
tidak datang setiap hari. Aku jadi merasa
sedikit berharap.”
Aku bisa
merasakan rasionalitasku mulai hancur. Harapan yang
seperti apa maskdunya?
“Kamu yakin kamu tidak perlu memberi tahu ayahmu?”
“Tidak
masalah. Aku akan mengirim pesan. Aku akan bilang aku menginap di rumah teman.”
Apa itu
benar-benar aman?
“Tidak
masalah. Jika aku memberi tahu Kuroi, dia akan membantuku menutupi.”
“Begitu.
Baiklah, aku akan menyiapkan kasur dan selimut.”
“Terima
kasih. Oh, dan...”
Dia
mendekatiku dan berbisik dengan suara pelan
yang hanya bisa kami mengerti.
“Rasanya
seperti melakukan sesuatu yang salah. Aku bahkan berbohong kepada orang tuaku.”
Aku
merasakan suhu tubuhku meningkat dengan cepat. Aku berusaha secepat mungkin
menjauh dari situasi itu agar dia tidak menyadarinya.
※※※※
──Sudut
Pandang Ai──
“Hahh,
hari ini aku benar-benar tidak bisa menjadi diriku sendiri."
Aku menghela
napas di ruang tamu rumah Aono
yang sepi. Tubuhku
terasa panas sekali.
Meskipun aku mencoba bernapas dalam-dalam untuk menenangkan diri, aroma
tubuhnya langsung tercium. Aku bisa merasakan rasionalitasku perlahan-lahan
hancur.
“Baiklah, sekarang, bersenang-senanglah. Hanya
kalian berdua yang masih muda.”
Ibu Senpai berkata demikian sambil tertawa, lalu berusaha
kembali ke kamarnya.
“Tunggu,
sebentar!”
“Ini
jelas-jelas tidak boleh.”
Ketika
aku berusaha memprotes, dia dengan malas
bertanya, “Apa
maksudnya?”
Di depan
kami, ada tempat tidur dan kasur tamu yang disiapkan. Aku akan tidur berdua di kamar Senpai!?
“Biasanya,
ibu lah yang melarang, dan anak-anak
yang bersembunyi untuk melanggar aturan. Kalian berdua terlalu baik.”
Dengan
pernyataan bombastis ibu Senpai,
aku jadi yakin dia serius.
“Setidaknya,
Ai-san harus tidur di kamar ibu.”
Meskipun
Senpai mengatakan begitu, ibunya
tidak mau mendengarkannya. Bahkan,
dia berbisik padaku. Agar dia juga bisa mendengarnya...
“Ai-chan, kamu pasti ingin tidur bersama Eiji, ‘kan? Atau, apa kamu tidak mau?”
Aku
merasa wajahku memerah dan menunduk, “Bukannya
aku tidak mau, tapi sepertinya itu masih
terlalu cepat.”
“Tidak
apa-apa, kamu bisa begadang sedikit dan banyak berbincang dengan Eiji. Mungkin
itulah yang kamu butuhkan sekarang, Ai-chan.”
Aku merasa sedikit ragu, tapi akhirnya
mengangguk. Suasana sudah terlanjur terbentuk sehingga tidak bisa berhenti.
“Kalau
begitu, aku akan tidur di bawah.”
“Tidak
boleh, aku tidak bisa membiarkan tamu tidur
di lantai.”
Saat dia
berkata begitu, hatiku terasa hangat karena kebaikannya, tetapi aku juga
merasakan sedikit rasa bersalah.
“Apa kamu tidak
kedinginan?”
“Tidak
apa-apa, sekarang ‘kan masih
bulan September.”
Mendengar
itu, aku tidak bisa menahan tawa. Saat mencoba mengatur napas, aku mencium
aroma Senpai tidak hanya dari bajuku, tetapi juga dari selimut dan udara di
ruangan. Kepalaku sedikit berputar.
“Bagaimana
kalau kita berbincang sebentar?”
Demi
menyembunyikan kegugupanku, aku berbaring dan menghadap ke arahnya.
“Baiklah.”
Senpai
juga berbalik menghadapku.
“Senpai, sejak kapan Senpai mulai
menyukaiku?”
Setelah
mengatakannya, aku merasa sangat malu karena itu adalah ungkapan perasaan yang
sangat langsung. Seolah-olah dia sedang menggoda, tetapi itu juga menyakitkan
bagiku. Namun, malam ini, aku tidak ingin berbohong.
“Mungkin
saat kita kabur dari sekolah bersama.”
Begitu ya,
jadi sama sepertiku.
“Kenapa? Memangnya ada alasan yang membuat Senpai
menyukaiku di saat itu?”
“Karena kamu melihatku tanpa prasangka dan
kamu tertawa lebih bahagia dari yang kubayangkan. Itu berbeda dari gambaran
yang aku bayangkan.”
“Kamu
benar-benar jujur. Tapi, aku masih mengingat
hari itu dengan jelas. Kurasa hari itu adalah pertama kalinya dalam waktu yang
lama aku bisa tertawa dari lubuk hatiku. Itu semua berkatmu, Senpai.”
Aku tidak
bisa menemukan kata-kata untuk melanjutkan.
Pada hari
itu, aku bertemu denganmu secara kebetulan, kamu membantuku, dan saat kita
kabur dari sekolah, kamu mengingatkanku pada senyuman yang ingin kudapatkan
kembali, serta kehangatan keluarga yang selalu kurindukan di Kitchen Aono ini. Mana mungkin aku tidak jatuh cinta padamu. Tidak ada orang lain yang bisa
membuatku membuka diri seperti ini, terutama karena aku sulit untuk bergantung
pada orang lain.
Oleh
karena itu, aku jatuh cinta pada seorang pria bernama Aono Eiji.
“Senpai,
boleh aku sedikit mendekat ke arahmu?”
Apa yang
baru saja kuucapkan...? Aku bisa merasakan dia tersentak dan membeku karena
saranku yang tiba-tiba.
Sedikit
keheningan terjadi. Di dalam ruang gelap ini, hanya napas kami berdua yang
terdengar. Setelah mengatakannya, jantungku berdebar kencang.
“Oke.”
Senpai
menjawab dengan suara lembut. Suara lembut itu perlahan-lahan tenggelam dalam
kegelapan.
“Kalau
begitu, aku akan menerima
tawaranmu.”
Aku
mencoba untuk menjaga penampilanku sebaik mungkin. Itu adalah harga diri
terakhirku sebagai seorang wanita. Meskipun seharusnya aku sangat
gugup, tubuhku yang entah mengapa berharap perlahan-lahan masuk ke dalam
selimutnya. Senpai
menghadap ke arahku, memutar tubuhnya, dan memberikan ruang untukku.
““Ah.””
Saat aku
masuk ke dalam selimut, aku menyadari bahwa kami sudah sangat dekat sehingga
aku bisa mengenali wajahnya meskipun dalam kegelapan. Selain itu, karena
tubuhnya sebelumnya ada di sini, aku bisa merasakan kehangatannya yang tersisa.
Dengan mengenakan bajunya dan masuk ke dalam selimut yang sama, aroma yang
kurasakan sebelumnya jadi semakin
kuat.
“Kamu tidak
kedinginan?”
Dia bertanya dengan lembut padaku.
“Ya,
aku baik-baik saja.”
Kami
berada cukup dekat sehingga napas kami saling menyentuh, menciptakan suasana
yang tidak biasa di mana tubuh kami hampir bersentuhan. Ketidaknyamanan
sebelumnya telah berubah menjadi sesuatu yang berbeda.
Sebelum
kehilangan rasionalitasku, aku harus menyampaikan sesuatu.
“Senpai,
terima kasih untuk hari ini.”
“Tidak
masalah. Hari ini kita kebetulan bisa bertemu, dan ibuku
yang menyarankan agar kamu menginap.”
Senpai
selalu bersikap baik. Aku menyentuhkan tangan kananku yang sedikit dingin ke
tangan kirinya yang ada di dalam selimut.
“Meski begitu, terima kasih banyak karena telah menemukanku.”
Sebelum
aku menyadarinya, tangan kami sudah bergenggaman. Kehangatan tubuhnya
perlahan-lahan mengalir ke tanganku yang dingin. Dirinya selalu seperti itu. Senpai
selalu ada di saat yang tepat ketika aku ingin ia ada di dekatku.
Dirinya tetap di sisiku tanpa
mengucapkan sepatah kata pun.
Aku tidak
pernah percaya pada kata ‘takdir’ sampai aku bertemu dengannya.
Atau lebih tepatnya, dalam arti tertentu, aku memang mempercayainya. Dalam hal
yang buruk...
Aku
sering berpikir, mengapa aku
harus mengalami semua ini. Aku percaya bahwa dunia yang tidak adil ini adalah
takdir.
“Pada
saat itu, Aku berjanji untuk selalu bersamamu, ‘kan?”
Sebuah janji
di hari penting. Aku senang ia mengingatnya, dan tangan kami saling mengait
seperti pasangan kekasih. Tanpa sadar, aku semakin erat menggenggam tangannya.
Saat itu,
aku berpikir bahwa aku akan menerima apa pun yang terjadi, dan meskipun aku
sudah siap untuk dicium atau didorong, dirinya
justru benar-benar menemukan apa yang aku inginkan. Jadi,
aku merasa aman.
Orang
yang paling kucintai di hadapanku pasti akan... tetap
berada di sampingku.
“Aku
sangat senang.”
“Aku
tidak akan pernah melupakannya.
Aku berjanji akan selalu ada di sampingmu.”
Itulah
bagian dari Senpai yang membuatku terpesona. Bagaimana dirinya bisa tahu kata-kata yang
kuinginkan? Seharusnya tidak ada orang lain di sini... Kenapa dia membawaku
kembali? Bahkan menciptakan tempat untukku...
“Ya.”
Aku
mengucapkan kata-kata yang tidak berarti. Kemudian, aku menyandarkan kepalaku
di atas dadanya. Di sini, aku selalu
menangis. Tetapi kali ini berbeda.
Seperti
biasa, dia memelukku.
“Semuanya
akan baik-baik saja.”
Suara
lembutnya terdengar di telingaku. Aku mengangkat kepala dan menatap wajahnya. Semua alasan dan perasaan yang
membuatku jatuh cinta padanya...
Perlahan-lahan,
bibir kami saling bersentuhan. Kami menikmati momen berharga tersebut seolah-olah ingin mengukir waktu.
Aku
menjauhkan tubuhku sejenak dan
melihat wajahnya yang terkejut. Apa yang akan terjadi jika aku menutup mataku
di sini? Dengan harapan yang samar, aku perlahan-lahan memejamkan mataku.
Ciuman
kedua lebih lembut daripada yang pertama.
Mungkin
karena kami telah mengalami momen penting sebagai pasangan. Atau mungkin karena
aku merasa tenang dengan kebaikannya.
Kata-kata
yang selama ini tidak bisa aku ucapkan secara alami keluar dari mulutku.
Kata-kata yang tidak bisa kukatakan kepada orang tua, guru, atau siapa pun
akhirnya terucap. Meskipun aku sering dinasihati oleh Hayashi-san, aku tidak
bisa mengatakannya...
Aku bisa
berubah karena aku jatuh cinta padamu. Aku bisa mulai memaafkan diriku sendiri.
“Senpai,
tolong bantu aku. Bisakah kamu membantuku agar aku dan ayahku bisa menjadi
keluarga seperti dulu?”
Senpai
menjawab dengan nada tenang seolah-olah
ia mengerti segalanya, “Ya. Aku
pasti akan melakukan sesuatu.”

