Selingan — Ikatan
──Sudut Pandang Endo──
Ada sebuah
pesan datang dari Aono-kun. Sepertinya, junior dari mantan klubnya telah terlibat dalam masalah perundungan. Ini adalah perkembangan yang
tidak menyenangkan. Setelah membubarkan
klub sepak bola, kenyataan bahwa masih ada masalah di klub sastra membuatku
merasa berat. Kurasa itulah
kedalaman dosa manusia.
“Tentu
saja, aku akan membantu. bisakah kamu
memperkenalkanku kepadanya
saat istirahat makan siang besok? Bagaimana kalau kita semua makan siang
bersama di kantin sekolah?”
Imai
menyetujui pesanku, dan rencana untuk siang besok sudah
ditentukan. Sekali-sekali, mungkin kita bisa makan kari yang terkenal enak di
kantin.
Saat aku
memikirkan hal itu, sebuah mobil patroli berhenti di depanku.
Aku
sedikit terkejut, tetapi ada satu polisi yang kukenali yang melakukan hal
seperti ini. Tidak
diragukan lagi, itu pasti dirinya.
Polisi
yang sudah kukenal dengan baik perlahan keluar dari mobil.
“Hey,
Kazuki-kun, sudah lama tidak bertemu.”
Suara masih tetap lembut seperti biasa.
Meskipun sudah bertahun-tahun, aku merasa seolah-olah kita selalu saling
menyapa setiap pagi. Dan, ada rasa aman yang luar biasa dari seragam polisi
itu.
“Selamat
siang, Pak Doumoto. Sudah lama tidak
bertemu juga.”
Dia adalah
ayah Yumi. Aku sudah mengenalnya sejak lama, dan dia selalu menjadi paman yang
baik. Namun,
karena hubungan kami yang lebih dari sekadar teman, tapi belum mencapai tingkat
pacaran, aku merasa sedikit rumit.
“Aku
sudah mendengar ceritanya dari
putriku. Itu pasti sulit. Aku senang
melihatmu akrab dengan Yumi. Sekarang aku harus kembali ke kantor, giliran pekerjaanku sudah selesai, tapi... bagaimana
kalau kita makan bersama? Aku akan menghubungi orang tuamu.”
Setelah beliau mengatakan itu, aku tidak punya
alasan untuk menolaknya. Hari
ini orang tuaku sepertinya akan pulang terlambat karena pekerjaan, dan aku
berencana untuk makan makanan siap saji dari supermarket.
“Apa
Anda yakin?”
“Tentu
saja. Hari ini istriku ada kegiatan wanita, jadi aku seharusnya makan di luar
bersama Yumi. Jika kamu datang, dia pasti akan senang.”
Ia
memberikan catatan berisi nama restoran BBQ yang sudah ada di lingkungan
sekitar. Karena
dia adalah polisi yang sangat aktif, aku teringat bahwa dirinya sering membawaku ke BBQ sejak
dulu. Sepertinya ia ingin mengatur ulang segala sesuatu yang terjadi di
restoran yang sama.
※※※※
Saat aku
menikmati aroma asap yang menggoda di depan restoran BBQ, paman Doumoto tiba setelah pulang kerja. Sosok Yumi tidak terlihat di mana pun.
“Maaf
sudah membuatmu menunggu. Yumi akan datang
terlambat sekitar lima belas menit karena ada studi di sekolah, jadi mari kita
masuk dan menunggu di dalam. Di sini panas sekali
tahu, aku ingin cepat-cepat menikmati bir dingin.”
Tanpa
memberi kesempatan untuk berargumen, kami masuk ke dalam restoran. Aku berharap
Yumi segera datang karena suasananya sedikit canggung. Begitu masuk, paman memesan bir,
kimchi, edamame, kol asin, dan cola untukku.
“Yumi
akan marah jika kita makan terlalu banyak, jadi mari kita mulai dengan beberapa
sayuran.”
Bir dan
cola datang dengan cepat.
“Bersulang!”
Dengan
perkembangan yang cepat, aku hampir tidak bisa
mengimbanginya. Gelas
bir dan cola berbenturan dengan suara yang enak. Karena panas, minuman dingin
terasa sangat nikmat.
“Enak sekali.
Apalagi bisa minum bersama Kazuki-kun, jadi rasanya sangat
luar biasa. Sebenarnya, ini sedikit menjadi impianku untuk minum dengan pacar
putriku.”
Dengan
pernyataan mengejutkan itu, aku hampir menyemprotkan cola. Aku menyadari bahwa dia menggoda
ketika melihat wajah bahagianya.
“Aku hanya
bercanda. Kalian
masih berteman, ‘kan?"
Dia
sengaja menekankan kata ‘masih’ dengan cara yang sedikit
menggoda.
“Tolong
jangan begitu, aku cukup serius memikirkan ini. Apa aku benar-benar baik
untuknya?”
Usai mendengar
itu, paman itu mengangguk sambil meneguk birnya.
“Begitulah
yang namanya masa muda. Sebenarnya, aku sudah menghargaimu
sejak dulu. Ini bukan sekadar 'sesuatu'.”
“Terima
kasih.”
Mungkin
karena beliau melihat wajahku yang sedikit
cemas, paman menunjukkan wajahnya sebagai polisi yang kompeten.
“Aku
mungkin akan mengatakan sesuatu yang tidak sopan, tetapi aku ingin kamu
mendengarnya. Kamu terlibat dalam situasi yang sulit semasam sekolah SMP.
Seharusnya kami, orang dewasa, melindungimu. Aku masih menyesali hal itu dan
merasa bersalah.”
“Anda tidak
perlu...”
“Tidak,
gagal melindungi anak adalah tanggung
jawab orang dewasa dalam situasi apapun. Jika kita memikirkan apa yang terjadi
padamu, banyak orang dewasa yang tidak bisa menahan diri. Namun, kamu berusaha
untuk mengatasinya. Meskipun harus menghadapi kesulitan yang membuatmu hancur,
kamu berhasil melewati ujian masuk sekolah SMA
yang sulit setelah satu tahun tertunda. Itu luar biasa. Kamu benar-benar hebat.
Ketika kamu dewasa, kamu akan mengerti. Mungkin kamu berpikir bahwa kamu telah
membuang satu tahun, tetapi tidak. Pengalaman mengatasi kegagalan dan kesulitan
adalah sesuatu yang tak ternilai. Dengan itu saja... aku menghormati Kazuki-kun sebagai seorang manusia.”
Air mataku jadi berlinang. Paman Doumoto tersenyum dan berkata, “Sudahlah. Mari kita pesan daging.”
“Benar, paman. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”
Sebelum
pesta dimulai, aku merasakan betapa pentingnya berkonsultasi dengan orang
dewasa, lalu aku membuka mulut. Aku menjelaskan situasi yang dihadapi Aono-kun
dan menceritakan tentang teman sekelas dari SMP, Tachibana, yang berperilaku
mencurigakan. Tanpa sadar, wajah paman berubah menjadi ekspresi seorang
detektif.
※※※※
──Sudut Pandang Eri──
“Ketemu!”
Sepulang sekolah, aku sudah menunggu lama
seolah-olah mengintainya saat dia
keluar dari sekolah.
Aku ingin
bertemu dengannya dan mengetahui kebenarannya.
Oleh karena itu, aku ingin dia menjawab dengan jujur. Habisnya, bukannya wajar begitu? Aku telah kehilangan
keluarga, teman-teman,
dan teman masa kecilku, semuanya karena dirinya dan Kondo-kun.
“Hei,
Tachibana-san!”
Aku berusaha
keras memanggilnya dengan suara ceria. Dia terkejut dan
menatapku.
“A-Ada apa, Ikenobe-san? Mendadak begini.”
“Apaan sih, jangan kaget begitu. Kita
sudah lama berteman sejak SMP. Ada sesuatu
yang ingin kutanyakan padamu.
Mau pulang bersama?”
“Maaf,
hari ini aku ada urusan.”
Ah,
seperti yang kuduga. Gadis ini cukup peka. Tapi, jika dia berusaha melarikan
diri, itu berarti dia pasti menyimpan sesuatu yang membuatnya merasa bersalah.
Apa ya, apa ya? Aku jadi penasaran.
“Begitu ya. Tapi, aku tidak akan
menyusahkanmu, jadi bolehkah aku minta sedikit waktumu? Tenang saja, ini hanya untuk
konfirmasi kecil.”
Tanpa
memberinya kesempatan untuk menolak, aku
menarik paksa tangannya dan membawanya.
Aku ingin mendengarkan ceritanya di taman terdekat, mengabaikan permohonan Tachibana-san yang berkata “Sakit,
tolong hentikan,” aku terus membawanya ke sana.
※※※※
“Apa-apaan sih, dibawa paksa seperti ini. Bukannya kamu terlalu
memaksa?”
Tachibana-san
sedikit meninggikan suaranya
dan mengajukan protes.
“Maaf
ya. Tapi, tidak apa-apa. Aku merasa berhak
melakukannya.”
Mendengar
kata-kataku, wajah Tachibana-san semakin pucat.
“Hak?
Apa yang kamu bicarakan?"
Seperti
yang kuduga, dia mencoba berpura-pura tidak tahu.
Perempuan
jahat. Kucing garong.
Perempuan selingkuh. Kata-kata kasar dan makian muncul satu per satu di
pikiranku.
“Begitu rupanya, kamu
akan berpura-pura tidak tahu, ya. Kalau begitu, aku akan bilang
begini. Sebenarnya, aku berhasil
bertemu dengan Kondo-kun yang ditangkap polisi. Dan
aku mendengar semuanya di sana.
Termasuk bahwa kamu selama ini
mengkhianatiku. Semuanya.”
Setelah
mendengar kata-kataku, wajahnya semakin pucat. Dia
gampang sekali ditebak. Bahkan aku merasa dia kelihatan imut. Tapi, keimutan itu
berubah menjadi kebencian yang mendalam.
“Aku
tidak mengerti maksudmu.”
“Ya,
ya, aku sudah menduga kamu akan berkata begitu. Tentu saja kamu berpura-pura
tidak tahu.”
Dia
berusaha menyembunyikan wajahnya yang pucat dan terlihat berjuang keras untuk
mencari alasan.
“Pertama-tama,
mana mungkin kamu bisa melakukan kontak dengan Kondo-kun. Dirinya ditangkap polisi dan tidak bisa
bertemu dengan siapa pun kecuali pengacara. Selain itu, memangnya ada bukti bahwa aku
mengkhianatimu? Meskipun kamu bisa bertemu Kondo-kun, di mana buktinya bahwa ia
berbicara jujur? Ia mungkin
hanya mengeluarkan kebohongan karena tertekan oleh kehancurannya sendiri. Kamu
juga aneh jika mempercayainya.”
Ah,
Tachibana-san memang pintar. Dia bisa mengatakan hal-hal yang terdengar logis.
Tapi,
Tachibana-san. Aku takkan membiarkanmu merasa lolos
begitu saja. Kamu harus merasakan penderitaan dan kehancuran
sepenuhnya. Jika tidak, kamu tidak akan mengerti rasa sakit dan penderitaanku. Jadi, untuk saat ini,
aku akan mundur. Aku akan melontarkan kata-kata yang paling menyakitkan
untukmu.
“Begitu ya. Setelah
kamu bilang begitu, mungkin itu ada benarnya. Maaf
ya karena mendadak begini. Sepertinya aku kehilangan
kendali sesaat.”
Tachibana-san
tampak lega ketika melihatku mundur
dengan mudah. Ah, ternyata menyenangkan sekali menjatuhkan
orang dari ketinggian. Hatiku berdebar-debar. Kamu juga seharusnya jatuh ke
tempat yang sama sepertiku.
Tentu
saja, aku tidak berpikir aku akan dimaafkan. Karena aku telah melakukan hal
yang buruk kepada Kazuki. Yang paling bersalah adalah diriku sendiri. Tapi,
kurasa tidak apa-apa jika aku melampiaskan kemarahanku pada kalian berdua yang
telah mempermainkan emosiku.
“Apa
kamu mengerti?”
“Ya.
Aku memang berpikir begitu. Jadi, aku akan mencoba berkonsultasi dengan para
guru.”
Wajahnya
semakin memucat seiring dengan kata-kataku.
“Eh?”
“Habisnya,
Kondo-kun. Ia telah
mengintimidasi seorang anak laki-laki bernama Aono Eiji kali ini. Mungkin ada
banyak pelanggaran lainnya. Jadi, aku akan memberi tahu sekolah tentang apa
yang Kondo-kun bicarakan saat bertemu denganku.
Ini mungkin bisa menjadi referensi. Terima kasih, Tachibana-san! Berkatmu, aku
bisa memilah banyak pemikiran.”
Dia
tampak sangat pucat seolah-olah telah putus asa, dan pupil matanya melebar.
Dengan begini, dia pasti terpaksa melakukan
sesuatu.
Ayo, apa
yang akan kamu lakukan? Aku sangat menantikannya.
“Baiklah,
sampai jumpa lagi, Tachibana-san!”
Aku berkata
ceria dan meninggalkan tempat itu.
Sekarang,
bolanya diserahkan kepadanya.
※※※※
──Sudut Pandang Tachibana──
Apa yang
harus kulakukan?
Apa yang
harus kulakukan?
Apa yang
harus kulakukan?
Aku masuk
ke dalam kafe di depan stasiun tanpa pulang
ke rumah dan mencoba merumuskan pikiranku.
Pertama,
apa perkataan Ikenobe Eri itu benar? Atau hanya
kebohongan belaka?
Dirinya
sedang dalam keadaan tertekan dan hampir hancur. Jadi, mungkin
dia tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Jika dipikirkan baik-baik, semua itu bisa dijelaskan. Jika
aku berpikir dengan tenang, mana mungkin
dia bisa bertemu Kondo-kun.
Sudah kuduga,
itu memang kebohongan. Jika begitu, aku
tidak perlu takut meskipun guru-guru diberitahu.
Aku tidak takut, tetapi...
Rasa
ketidakpercayaan terhadap klub sastra pasti semakin meningkat.
Para guru
sudah mulai mengepung kami.
Selain itu,
apa para guru bisa menilai bahwa kata-kata khayalan itu
hanyalah khayalan?
Kesaksian
Ikenobe-san memiliki tingkat realitas
tertentu. Jika terungkap bahwa aku telah bersekongkol
dengan Kondo-kun sejak SMP, semuanya bisa terbongkar.
“Jika
sudah begini, satu-satunya cara adalah menutup mulut Ikenobe-san.”
Aku harus
membayar uang tutup mulut. Percuma.
Meskipun aku melakukan itu, aku tidak akan bisa meredakan kemarahan yang
dimiliki dia yang telah kehilangan segalanya. Sebaliknya, itu hanya akan
menambah api.
Kalau
begitu, satu-satunya cara adalah menghentikan kesaksiannya secara fisik.
Tapi,
bagaimana caranya?
“Aku
tidak bisa melakukan apa-apa!”
Aku
berpikir untuk menyalahkan junior-juniorku dan melarikan diri, tetapi jika ada
kesaksiannya, mana mungkin
aku bisa menghindar dari pengejaran.
“Jika
sudah begini...”
Dengan
harapan terakhir, aku menghasut seseorang Jika ini tidak berhasil, aku akan
hancur...
Aku
menghubungi seseorang yang sudah kukenal sejak SMP. Sebagai langkah
berjaga-jaga, aku juga membuat satu kontak
lagi di klub sepak bola selain Kondo-kun.
“Halo?”
Suara
rendah dan nada bicara yang lambat.
“Aku
Tachibana. Sudah lama tidak bertemu, Mitsuta-kun,
apa kabar?”
Mitsuta-kun adalah teman Kondo-kun dan aku sudah mengenalnya sejak masa SMP
ketika dia diperlakukan seperti pelayan. Untungnya, aku telah menyimpan
kontaknya.
“Ah,
ya.”
Tentu
saja, dia juga sedang dalam masa skorsing dari klub sepak bola. Ia adalah teman dekat Kondo-kun,
jadi posisinya cukup rumit. Oleh karena itu, jika aku menggoyang-goyangnya, ia
pasti akan bergerak sesuai keinginanku.
“Sebenarnya,
aku menemukan sesuatu yang besar. Apa kamu masih mengingat
Ikenobe Eri?”
“Ah,
tentu saja. Mantan pacar Kondo, kan?”
“Ya.
Sepertinya dia akan melaporkan hal-hal yang tidak benar kepada guru sebagai
balas dendam karena sudah dicampakkan
Kondo-kun.”
“Hah!”
Dia
langsung tertarik dan memakan umpan.
“Rupanya dia
diusir oleh orang tuanya karena berpacaran dengan Kondo-kun. Dia tidak bisa
memaafkan Kondo-kun karena merasa tidak beruntung dan ingin menghancurkan
semuanya bersamanya. Dia bahkan menyebutkan orang-orang seperti kita, Mitsuta-kun, yang berasal dari SMP yang
sama, dan berencana untuk melaporkan bahwa kita terlibat dalam masalah perundungan bersama Kondo-kun kepada guru...
Sebenarnya, sekarang klub sastra juga sedang diselidiki oleh guru-guru karena
kebohongannya... Apa yang harus kulakukan? Sebagai ketua, aku tidak bisa
melindungi anggota klubku.”
Sambil
berpura-pura menjadi sosok yang suci, aku mencoba menarik simpati sambil
menambah kecemasan klub sepak bola. Jika ini terus berlanjut, bukan hanya
skorsing atau penangguhan, tapi kemungkinan terburuk, yaitu pengeluaran dari
sekolah, akan menimpaku.
“Itu...
Apa dia mengatakan sesuatu
tentang klub sepak bola?”
“Aku
tidak mendengar detailnya, tetapi dia menagatakan
jika dirinya jatuh ke neraka, lebih baik kalau dia jatuh bersama banyak orang.”
Dengan begini, ketakutan akan menyebar.
Anggota klub sepak bola sudah diliputi
dalam ketakutan bahwa mereka mungkin akan dikeluarkan dari sekolah, jadi
kegelisahan mereka pasti akan semakin besar.
“Sial,
jika itu terjadi, kami akan hancur.”
Mereka
sudah memiliki luka di kaki. Jika aku membangkitkan ketakutan, mereka akan
bergerak sesuai keinginanku.
“Itulah
sebabnya aku menghubungimmu,
Mitsuta-kun. Ayo, kita hentikan Ikenobe-san. Jika tidak, kita benar-benar... aku hanya bisa meminta
bantuan darimu.”
“Kenapa...”
Dia mudah
sekali. Jika dia bergerak dengan mudah seperti ini, aku pasti bisa melarikan
diri.
"Sejak
SMP, aku selalu tertarik padamu.”
Sekalian,
aku membandingkan dirinya dengan Kondo-kun, menggoyang rasa inferioritas yang
mungkin ada dalam dirinya. Dengan begini,
aku bisa dengan mudah mengendalikan pria.
Selanjutnya,
jika anggota klub sepak bola menghukum Ikenobe-san
secara brutal dan menimpakan semua kesalahan padanya...
“Begitu ya.”
“Selain
itu, aku ingin bertemu dan berbicara langsung denganmu.
Bisakah kamu mengumpulkan anggota klub sepak bola lainnya yang bisa dipercaya?
Apa kita bisa bertemu malam ini?”
Ia langsung
menyetujui dengan cepat. Sesuai rencana. Selanjutnya, jika
aku bisa mengarahkan mereka dengan baik, dan anggota klub sepak bola melakukan
tindakan kekerasan... semuanya akan berjalan lancar. Sangat menyenangkan
melihat orang bergerak dengan mudah.
Selanjutnya,
jika aku menjadikan mereka sebagai korban... dan sekarang, babak terakhir drama
akan dimulai.
※※※※
Segera
setelah aku membuat janji
dengan Mitsuta-kun,
aku menghubungi junior di klub sastra, Matsuda-san. Ia adalah bidakku. Ia akan melakukan apa pun yang
kukatakan dan telah bekerja sebagai tim pelaksana untuk naskah Eiji-kun.
Semua ini
juga demi memastikan jika terjadi sesuatu,
ia bisa menanggung kesalahan.
“Matsuda-san.
Ini serius. Aku ingin segera bertemu denganmu.
Bisakah kamu datang ke sini? Selain itu,
aku akan meninggalkan pesan rahasia di loker dengan nomor ini, jadi tolong
periksa.”
Aku
meninggalkan instruksi untuknya di loker. Aku sedang dalam perjalanan ke
stasiun, jadi persiapannya akan segera selesai.
Selanjutnya,
jika dia dan Mitsuta-kun
serta anggota klub sepak bola bisa bergerak...
Aku akan
membungkam Ikenobe Eri dan
menimpakan kesalahan kepada mereka.
Cuma ini satu-satunya cara.
“Ya,
benar. Tidak masalah, semuanya akan baik-baik
saja. Aku bisa mengendalikan orang lebih baik daripada
siapa pun.”
Itulah
bakat yang kumiliki lebih baik daripada Eiji-kun atau Kondo-kun. Aku akan menggunakan senjata
terakhirku sebaik mungkin untuk melewati masa sulit ini. Itu adalah harapan
terakhirku.
Harapan
terakhir?
Apa
maksudnya? Tanpa sadar, aku menyadari bahwa aku telah terpojok di tepi jurang
kehidupan. Aku juga harus menanggung rasa inferior yang tak tertahankan...
Jika aku
kehilangan semua yang telah kubangun hingga saat ini dan bahkan jika aku bisa
melarikan diri, aku harus hidup dengan beban berat karena harus menjalani kehidupan dengan
kompleks inferioritas terhadap Aono Eiji yang jenius memperdalam luka di hatiku.
※※※※
──Sudut Pandang Aono Eiji──
Kami
mengantar Hayashi-san pulang dan menuju Kitchen
Aono. Ai-san
menunjukkan ekspresi sedikit lelah. Dia sudah
berusaha melakukan banyak hal untuk melindungiku dan Hayashi-san.
Aku tak bisa
menahan perasaan sayang yang mendalam padanya.
“Terima
kasih banyak ya, Ai-san.”
Ketika
aku tiba-tiba mengucapkan terima kasih, dia terkejut dan mengeluarkan suara “Eh?”
“Sungguh,
kami benar-benar diselamatkan berkatmu.
Kami tidak bisa cukup berterima kasih.”
Aku
menyampaikan perasaanku dengan tulus. Sejak kejadian beberapa hari sebelumnya, hambatan itu
menjadi lebih rendah.
“Ah,
kamu curang,” katanya dengan
sedikit senyum malu-malu, lalu dia menunjukkan ekspresi cemas.
“Ada
apa?”
Dia
tampak ragu-ragu saat mengucapkan kata-kata.
“Ya.
Aku bertanya-tanya apa aku pantas menerima ucapan terima kasih sebanyak itu
dari Senpai. Kamu selalu menyukaiku, tetapi
jika kamu mulai melihat sisi gelap dan hal-hal yang tidak menyenangkan tentang
diriku... itu membuatku ketakutan.”
Wajahnya
tampak muram, seolah mengingat rasa sakit lama yang pernah dialaminya.
“Memang,
manusia pasti memiliki sisi yang tidak menyenangkan.”
“Benar,
kan? Aku juga sadar bahwa aku bukan sosok yang sempurna. Justru sebaliknya, mungkin sisi gelapku lebih
besar. Aku selalu merasa bersalah karena mengandalkan kebaikan Senpai.”
Di sana,
bukan sosok sempurna yang biasa dia tampilkan, tapi dia terlihat seperti seorang
siswi SMA yang rapuh dan lemah. Kerapuhan itu tampaknya terhubung dengan
kelemahan yang terasa saat pertama kali kami bertemu di atap.
“Meskipun
begitu...”
Karena
itulah, aku ingin jujur padanya.
Kepada dirinya yang tampak ketakutan seperti
hewan kecil.
“Ai-san,
aku yakin sisi gelapmu juga digunakan untuk melindungi seseorang. Kamu berusaha
sekuat tenaga untuk melindungi seseorang. Itu pasti karena kamu baik hati. Kamu
terlalu serius dan bahkan menyalahkan dirimu
sendiri lebih dari orang lain. Dan, kamu begitu
pekerja keras karena berusaha mengatasi segala kesulitan.”
Aku
mungkin tidak bisa menyusun kata-kata dengan baik. Tapi kurasa karena kepribadiannya, dia terlalu
menguras emosinya.
Dia
berhenti sejenak dan menatap wajahku yang berbalik. Di bawah cahaya senja, air mata memantul di
wajahnya.
“Kurasa
justru karena kau tipe gadis seperti itulah aku jatuh cinta padamu.”
Inilah
perasaanku yang sebenarnya. Kekurangan yang dia anggap sebagai kelemahan adalah
sisi positif yang terbalik.
“Kamu
benar-benar curang, Senpai. Baiklah..... Jika begitu, aku akan menunjukkan
sisi tidak menyenangkanku mulai sekarang, oke?”
“Ya,
aku ingin begitu. Dan, jika ada yang bisa kulakukan, aku ingin kamu terus
mengandalkanku. Aku ingin melangkah bersamamu.”
Aku
perlahan-lahan mengulurkan tanganku. Dia menggenggamnya dan berkata, “Terima kasih.”
“Eiji-senpai,
bagaimana pendapatmu tentang orang-orang
di klub sastra?”
Ai-san
bertanya dengan hati-hati.
“Menurutku
mereka orang-orang yang
malang.”
Aku langsung melontarkan pendapatku dengan
jujur.
“Orang-orang
yang malang?”
“Ya.
Pada akhirnya, mereka tidak bisa melihat orang lain
sebagai manusia. Itulah sebabnya,
mereka merasa kesepian. Meskipun tampaknya mereka baik-baik saja di permukaan,
mereka tidak benar-benar mempercayai orang lain, sehingga mereka hanya
berinteraksi secara dangkal.”
Ai-san
mengangguk sambil mendengarkan.
“Oleh karena
itu, kurasa
mereka tidak bisa menemukan kebahagiaan yang sejati. Mereka tidak bisa meminta
bantuan atau berkonsultasi dengan siapa pun, sehingga ketika masa-masa sulit
tiba, tidak ada yang akan menjulurkan tangan untuk membantu.”
Aku berhasil menemukan sesuatu yang tak
ternilai di saat-saat terburuk dalam hidupku. Namun, aku yakin orang-orang itu
tidak akan pernah bisa menemukan harta yang telah kutemukan. Yang tersisa
hanyalah jalan menurun yang penuh dengan kejatuhan.
“Ai-san,
kumohon jangan melakukan hal berbahaya. Jika ada
apa-apa, aku ingin kamu mengandalkanku. Seperti yang kamu lakukan untukku, aku
pasti akan membantumu.”
Dia hanya
menjawab “Ya” dengan wajah memerah karena tersipu. Namun, entah mengapa,
ekspresi sedih juga tampak di wajahnya.
※※※※
──Sudut Pandang Sekjen Ugaki di suatu tempat di Tokyo──
Aku
sedang minum wiski di bar
yang sudah akrab untuk pertemuan rahasia. Wiski Scotch
hari ini berasal dari daerah Speyside.
Ini
adalah botol yang penuh kenangan
yang sering kuminum bersama sahabatku
di masa muda. Kami berdua menikmati aroma whiskey, jadi kami meminumnya tanpa
es, langsung, sambil berbagi berbagai impian.
“Aku
sangat menikmati masa itu.”
Aku
merenungkan hal itu. Kalau dipikir-pikir, botol
yang biasa ini telah mengalami beberapa desain baru sejak saat itu. Namun, rasa
whiskey yang manis dan fruity yang terbuat dari tong sherry tetap terjaga.
Ketika kami memiliki anak, kami saling memberi botol yang berisi tahun
kelahiran mereka, dan kenangan itu terasa seperti baru kemarin.
Aku
mengambil satu tegukan dari minuman kenangan ini. Rasanya memang manis seperti biasa. Rasa kismis, herbal,
gula merah, dan mitarashi. Rasa kompleksnya menyebar di mulutku.
“Maafkan
aku karena terlambat, Pak Sekjen.”
Pria yang
sudah dijadwalkan untuk kutemui akhirnya tiba.
Aku sebenarnya ingin lebih lama tenggelam dalam suasana
nostalgia, tapi saying sekali.
“Tidak
masalah, aku sedang menikmati whiskey kesukaanku, jadi kamu bisa datang sedikit lebih lambat, tau.”
“Sebagai
seorang profesional, aku tidak bisa datang lebih lama lagi.”
“Kamu mau
minum apa?”
“Kalau
begitu, Martini.”
Pilihan
yang cukup baik. Martini adalah koktail yang terbuat dari gin, minuman keras
yang berfungsi sebagai obat, dicampur dengan vermouth, anggur putih yang
mengandung herbal.
Koktail
itu segera dihidangkan. Aku sengaja tidak
membahas pekerjaan sampai dia mengambil satu tegukan.
“Enak
sekali.”
Koktail
Martini menunjukkan keterampilan bartender dengan jelas. Menerima pujian itu
sebagai pelanggan tetap sangat menyenangkan.
“Baiklah,
mari kita bicarakan pekerjaan. Bagaimana suasana hati Perdana Menteri di rapat
kabinet?”
Pemuda
yang penuh harapan ini menjawab pertanyaanku. Ada rumor tentang Kondo, anggota
dewan kota, yang dilaporkan kecil-kecil di majalah mingguan. Meskipun detailnya
belum keluar, tapi ada
kemungkinan bahwa dirinya
terhubung dengan tokoh berpengaruh
di dunia politik.
“Ia
tampak sangat gelisah. Sepertinya ia sangat tertekan dengan kasus Dewan Kota Kondo.”
“Aku juga
berpikiran begitu. Ia
sepertinya berusaha melarikan diri, tapi kenyataannya
tidak akan semudah itu.”
“Apa
jangan-jangan Pak Sekjen
sendiri yang membocorkan informasi itu ke media?”
Pria di hadapanku
ini
memang masih muda sebagai seorang
politikus. Dirinya masih
memiliki semangat idealis. Aku tidak membencinya, tetapi aku merasa sikapnya itu masih cukup ceroboh.
“Entahlah.”
Senjata
terbesarku adalah ketidakpastian. Aku tidak seharusnya berbohong. Namun, ketika
saatnya tidak tepat untuk mengungkapkan kebenaran, cara terbaik adalah mengaburkan kebenaran dengan cara seperti ini.
“Dirinya juga mengatakan bahwa keadilan
ditegakkan di sini. Perdana Menteri
sepertinya akan memberi tekanan pada pihak sekolah
untuk segera menyelesaikan masalah perundungan.”
“Begitu.
Sepertinya Perdana Menteri juga cukup naif.”
Sambil
tersenyum penuh arti, aku tersenyum kepada Menteri Pendidikan, yang merupakan
harapan dari faksi ini. Sepertinya
dia memang berusaha menutupi semuanya. Dengan
nada menghina, aku menyampaikan perasaanku.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
