Gimai Seikatsu Volume 17 Chapter 4

 Chapter 4 — 24 Desember (Sabtu) Asamura Yuuta

 

Ibu kandungku pergi dengan pria lain, dan Natal menjadi acara yang tidak begitu berarti bagiku. Sebagian alasannya karena Ayahku juga mulai sibuk dengan pekerjaannya sejak saat itu. Meskipun begitu, supaya aku  merasa senang, ayahku sengaja membeli ayam goreng dalam perjalanan pulang dari pekerjaannya di hari Natal. Setelah itu, kami hanya bertukar hadiah dan selesai. Semuanya berubah setelah ayah menikah lagi dengan ibu tiri, Akiko-san. Perbedaan terbesar adalah aku mengetahui kebiasaan keluarga Ayase untuk saling memberikan hadiah.

Pada musim dingin kelas dua SMA, Saki bertanya padaku.

── Jadi, apa yang akan kita berikan?

Sejujurnya, hingga saat itu, dalam pikiranku, hadiah Natal adalah sesuatu yang diterima, bukan sesuatu yang diberikan. Namun, di keluarga Ayase, saling memberikan hadiah adalah kebiasaan yang sudah biasa. Jika dipikir-pikir, Saki yang sangat membenci hanya menerima bantuan, dia pasti tidak akan menerima hadiah yang hanya untuknya, meskipun itu dari orang tuanya.

Semakin aku menyadari hal itu, semakin aku merasa Saki jauh lebih dewasa dariku. Namun, pada akhirnya, tahun itu berakhir tanpa kami melakukan apa-apa. Tahun berikutnya menjadi masa ujian, jadi kami tidak sempat memikirkan hal itu. Dengan pertimbangan tersebut, tahun ini aku ingin melakukan sesuatu.

Pada tanggal 24, kami mengadakan perayaan Natal kecil hanya untuk keluarga. Sesuai permintaan ibu tiriku, Akiko-san, kami memutuskan untuk tidak membuat hidangan yang terlalu istimewa atau dekorasi yang berlebihan. Meskipun begitu, Saki dan aku tetap menyiapkan hadiah.

“Apa ini? Besar sekali.”

Setelah makan malam, ketika suasananya terasa nyaman, Saki dan aku menyerahkan sesuatu kepada Akiko-san yang dimasukkan ke dalam tas sebesar setengah tinggi badan kami. Wajar sekali jika dia terkejut. Kami membuka mulut tas yang diikat dengan pita dan mengeluarkan isinya.

Dengan perlahan, muncul benda yang terbuat dari bahan elastis, pada dasarnya seperti bantal yang sangat panjang. Hanya saja, dibandingkan dengan bantal biasa, ada bagian yang sedikit menggelembung atau cekung.

“……Bantal peluk?”

“Bantal kehamilan. Yang membuat tidur miring lebih nyaman.”

Berdasarkan buku petunjuknya, jika seseorang memeluknya saat tidur, beban di pinggang dan perut berkurang. Karena bisa dipeluk, mudah untuk berbalik saat tidur. Saki menemukannya saat kencan ulang tahun di Ikebukuro.

Bukannya initerlalu awal?”

Masa…? Tapi, di sini tertulis mulai dari 5 bulan.”

“Tidak masalah jika ada. Kalian memang anak-anak yang perhatian.”

Setelah itu, dia menambahkan, “Terima kasih, Saki, Yuta-kun.”

Melihat ibu tiri, Akiko, yang terlihat senang, aku bersyukur telah memberikan hadiah. Saki yang tersenyum di sampingku pasti merasakan hal yang sama.

Dan ini untuk ayah.”

Saki memberikan paket yang selama ini disembunyikannya di belakang punggung.

“Eh. Untukku juga?”

Tentu saja. Mana mungkin hanya memberikan hadiah kepada ibu dan tidak kepada ayah. Sebenarnya, aku heran mengapa aku berpikir tidak ada hadiah untukku ketika ibu tiri, Akiko, menerima hadiah di depanku.

── Memikirkan hal seperti itu memang sangat menggambarkan ayahku.

Ngomong-ngomong, hadiah yang kuberikan kepada ayah juga barang yang berguna. Hadiah itu dimasukkan ke dalam kotak kecil yang bisa ditaruh di kedua tangan. Itu adalah masker mata. Masker mata panas yang bisa diisi ulang dengan USB dan tanpa kabel. Hadiah ini juga berasal dari ide Saki, dan aku mencarinya dengan kata kunci “masker mata untuk hadiah.”

“Terima kasih. Aku sangat senang.”

Ayahku tersenyum lebar dan menunjukkan wajah bahagianya. Ternyata, melihat wajah bahagia ayah seperti ini, anehnya, tidak membuatku merasa buruk. Meskipun pada hari-hari biasa aku terlalu berbakti sebagai anak, tetapi pada hari istimewa seperti ini, aku bisa merasakan kehangatan hatiku dengan tulus. Aku sangat berterima kasih kepada Saki yang mengajarkan bahwa semua itu bisa terlihat hanya dengan satu hadiah.

“Jadi, ini dari kami,” kata ayah sambil menyerahkan sesuatu kepada Saki dan aku… Apa itu angpao? Itu adalah amplop kecil, seperti amplop uang tahun baru.

Eh, jangan-jangan uang tunai? Pikirku, dan saat membukanya, aku terkejut. Di sana benar-benar ada satu lembar uang di dalamnya. Selain itu, jumlahnya lebih besar dari yang aku bayangkan, jadi rasa terkejutku lebih besar daripada rasa senangku.

Ayah yakin?”

“Kamu ingin membeli barang yang kamu inginkan sendiri, ‘kan?”

“Rasional... sekali…”

Ya, aku dan Saki juga memiliki pengalaman yang sama, saling memberi tahu hadiah yang kami inginkan sebelumnya, jadi aku tidak bisa mengatakan apa-apa tentang orang tua.

“Sebetulnya, ada juga alasan kami tidak punya waktu untuk memilih bersama,” kata ayah dengan senyum pahit. Itulah sebabnya, aku bilang jangan terlalu diperlakukan istimewa,” tambahnya.

Tapi, ini kan musim dingin.”

Flu dan infeksi virus lainnya sedang merajalela. Ayahku mungkin tidak ingin membawa ibu tiriku ke tempat yang ramai. Meskipun dia ingin aku bersikap biasa, ada kalanya itu tidak bisa dilakukan. Berhati-hati bukanlah hal yang buruk.

Saki dengan diam-diam berbisik padaku.

── Jumlahnya lebih banyak dari biaya hadiah kita, kan?

Aku hanya mengangguk pelan. Aku merasa senang sih, tetapi juga merasa bersalah. Memilih hadiah yang pas itu memang sulit…

Setelah pertukaran hadiah selesai, saat membersihkan setelah makan malam. Ibu tiri berusaha berdiri terlebih dahulu, tetapi Saki menghentikannya.

Biar aku saja yang mencucinya.”

“Kalau begitu, aku akan mengeringkan yang sudah dicuci.”

Aku berdiri dari kursi dan mulai mengeringkan piring yang dicuci Saki satu per satu. Kami menggunakan banyak piring besar, jadi harus segera mengembalikannya ke rak, jika tidak, wastafel akan meluap.

“Kalian berdua tidak perlu memaksakan diri.” UcapIbu tiriku yang kembali duduk di kursinya. Ayah menepuk pundaknya.

Sudah, sudah. Aku mengerti kamu tidak ingin terlalu merepotkan orang lain. Namun, ketika si Ibu kesulitan, membantu juga merupakan bagian dari keluarga.”

“Ini anak keduaku. Aku sudah tahu bagaimana tubuhku akan berubah, jadi ini bukan yang pertama kali.”

“Tidak apa-apa. Hidup dengan anak-anak yang mau membantu orang tua tidak akan berlangsung selamanya. Sekali-sekali, biarkan saja.”

“Tapi, aku tidak akan punya pekerjaan lagi. …Apa aku harus kembali menjadi bartender?”

Oi, oi.

Ayahku terlihat panik, tetapi tentu saja itu hanya lelucon ala Akiko-san.

Aku cuma berusaha menutupi selisih hadiah Natal. Aku berusaha untuk bersikap biasa, tetapi aku jarang pulang dan menyerahkan semuanya kepada Saki.”

Aku berkata demikian sambil mengembalikan piring ke rak. Saki berbisik hanya untukku, “Maaf, ya,” tetapi aku menggelengkan kepala dengan senyuman. Aku berharap dia mengerti bahwa semuanya baik-baik saja.

 

◇◇◇◇

 

Setelah mandi, aku berbaring di tempat tidur di kamarku yang sudah lama tidak kutempati.

Sambil menatap langit-langit kamar yang sudah familiar, aku teringat bahwa langit-langit ini dan lampu ini seperti apa, dan merasakan sensasi aneh seolah-olah aku belum melihatnya selama bertahun-tahun. Aku secara tidak sadar telah terbiasa dengan pemandangan apartemen tempatku tinggal sendiri.

Jam digital terus berubah menghitung detik. AC mengatur suhu ruangan yang mulai dingin, sesekali mengeluarkan udara. Malam Natal perlahan berlalu dengan tenang. Tidak ada yang menonton televisi di ruang tamu, sehingga napasku seolah terserap dalam keheningan.

Namun, aku berpikir…

Sambil menatap lampu, aku merenung.

Ada sedikit hal yang menggangguku.

Tentang Saki.

Ekspresinya terlihat lebih lembut dan senyumnya lebih alami dibandingkan saat dirinya menjadi Sinterklas Saki untuk hadiah ulang tahun kami, jadi aku merasa lega. Namun, Saki jelas-jelas khawatir tentang kondisi ibu tiri yang hamil. Lebih tepatnya, dia merasa cemas dan khawatir.

Di sisi lain, Ibu tiriku yang sedang hamil untuk kedua kalinya tampak bersikap santai, setidaknya dari penampilannya. Tentu saja, meskipun dia terlihat sehat, itu tidak selalu berarti dia benar-benar baik-baik saja. Hal itu membuatku penasaran, jadi aku melakukan sedikit penelitian. Aku sama sekali tidak tahu seberapa jauh aku harus memperhatikan tubuh wanita hamil.

Setelah mencari tahu, aku merasa pusing. Kesehatan wanita hamil itu sangat bervariasi.

── Tergantung orangnya.

Itu memang benar! Aku mengerti dan bisa menerima bahwa itu benar. Namun, yang ingin kuketahui bukanlah hal itu. Tapi, setiap buku yang kubaca menyatakan bahwa ada banyak perbedaan individu, sehingga semuanya tidak bisa digeneralisasi. Mereka menyarankan untuk menghindari hal-hal yang jelas-jelas membebani tubuh, seperti pekerjaan berdiri dalam waktu lama. Selain itu, mengurangi risiko jatuh dan menghindari pekerjaan rumah yang beraroma menyengat juga penting. Penanganan nyeri punggung dan pembengkakan kaki juga tampaknya sangat penting.

Aku mencatat apa yang kutemukan. Aku juga sempat berbicara dengan Saki tentang hal ini. Dan karena ada kemungkinan perubahan kondisi yang tiba-tiba, penting untuk selalu memperhatikan seperti yang dilakukan Saki. Aku juga menyadari bahwa ketika ibu tiri berada di dalam ruangan yang sama, aku secara alami memperhatikannya. Mungkin itu adalah hal yang wajar.

Namun, sepertinya perhatian Saki terhadap kondisi Akiko-san tidak hanya terbatas pada itu. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan baik, tetapi…

Saki tampak tegang.

Seolah-olah dia sendiri yang sedang hamil untuk pertama kalinya—ya, begitulah rasanya.

Jika Saki terlalu khawatir tentang kondisi ibunya hingga menyebabkan stres, maka aku harus lebih memperhatikan keadaan Saki, bukan hanya Akiko-san saja. Jika itu masalahnya, meskipun aku baru saja memulai tinggal di tempat kost, kurasa sebaiknya aku segera kembali ke rumah.

Saat ini, ibu tiri Akiko masih bisa tersenyum dan berkata, “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” sehingga Saki mungkin merasa khawatirnya berlebihan. Meskipun perutnya mulai terlihat sedikit, itu belum terlalu besar, dan dia tampaknya dalam kondisi yang stabil… Namun, pasti akan ada masa-masa sulit yang akan datang sebelum kelahiran.

Aku tahu bahwa ibu tiri Akiko tidak menginginkan agar kami, Saki dan aku, mengorbankan keinginan kami untuk merawatnya. Tetapi, masalahnya bukan hanya tentang kondisi ibu tiriku saja.

Aku khawatir bahwa Saki mungkin kewalahan karena stres. Akiko-san memiliki ayah di sampingnya, tetapi dalam keadaan seperti ini, hanya aku yang bisa memperhatikan Saki.

Apa aku bisa terus diam dan mengabaikan semuanya?

Ibu tiriku telah mengumumkan bahwa dia akan berfokus pada kehamilan dan mengambil cuti dari pekerjaan bartender-nya. Jadi, seharusnya aku bisa memprediksi situasi ini sebelum mulai tinggal sendiri.

“Apa aku terlalu terburu-buru?”

Gumaman yang tidak sengaja keluar dari mulutku, ditangkap oleh suara AC yang mengeluarkan angin, membuatnya melayang ke sudut ruangan.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama