
Selingan — Rekaman Panggilan
Saki : “Ngomong-ngomong, anak di dalam
perut Ibu—katanya kemungkinan besar itu bayi perempuan.”
Yuuta : “Jadi,
kita
akan mempunyai adik perempuan, ya.”
Saki : “Rasanya agak aneh.”
Yuuta : “Adik
perempuan Saki dan aku, ya...”
Saki : “Fufu. Untuk Yuuta-oniichan sih, ini adalah adik perempuan
kedua.”
Yuuta :
“Yah, kurasa... bakalan begitu. Tapi, jadi begitu, ah, begitu rupanya. Jadi, itu maksudnya. Sepertinya
kali ini—”
Saki : “Apa?”
Yuuta : “Tidak,
itu bukan masalah besar.”
Saki : “Aku jadi penasaran.”
Yuuta : “Umm. Jadi begini, dalam situasi seperti itu, kurasa hal-hal semacam itu takkan terjadi saat aku pertama kali bertemu dengan
Ayase-san... tidak, seperti saat aku pertama kali bertemu denganmu, Saki.”
Saki : “Saat pertama kali kita bertemu denganku?”
Yuuta : “Itu loh, kita berdua saling menjaga jarak.”
Saki : “Yuuta, kamu kadang-kadang mengatakan hal-hal
aneh, ya.
Bayi tidak mungkin berpikir seperti itu.”
Yuuta : “Aku mendadak mengingatnya saja.”
Saki : “Ak-Aku hanya tidak suka jika aku
dipaksa untuk memenuhi 'peran' tertentu.”
Yuuta : “Ya.”
Saki : “Aku tidak suka diharapkan menjadi
'adik perempuan' yang dibayangkan oleh orang lain, dan aku tidak suka ketika
orang-orang memiliki harapan padaku tapi kemudian merasa kecewa sendiri.”
Yuuta : “Aku
mengerti. Aku juga merasa tidak nyaman
jika dipaksa menjadi 'kakak laki-laki' dalam bentuk apapun.”
Saki : “Ya... Ngomong-ngomong, belakangan
ini, apa kamu sering minum
sup miso?”
Yuuta : “Pertanyaan yang tiba-tiba sekali.”
Saki : “Dulu kamu hanya minum sup miso dalam kemasan, kan? Mungkin
kamu kembali ke gaya hidup itu.”
Yuuta : “Yang begitu juga mempunyai cita rasa enaknya sendiri.”
Saki : “Ah, sudah kuduga, jadi kamu masih bagian dari
kelompok kemasan."
Yuuta : “Tentu saja. Oh, tapi bukan itu masalahnya. Aku menyimpan beberapa sebagai
makanan darurat, tetapi sebisa mungkin aku berusaha memasak sendiri. Jika aku
memasak sendiri, aku bisa menyesuaikan takarannya.”
Saki : “Menyesuaikan takaran...?”
Yuuta : “Sebelum tenggat waktu tugas laporan, aku menghabiskan
sepanjang hari di depan meja. Ketika itu terjadi, jika aku makan terlalu
banyak, aku jadi mengantuk.”
Saki : “Itu sih... memang
benar."
Yuuta : “Jadi, aku membaginya menjadi
porsi kecil dan memakannya sedikit-sedikit. Makan sedikit, lalu menulis
laporan, makan sedikit lagi, lalu menulis laporan. Ini juga cocok dengan metode
Pomodoro.”
Saki : “Yuuta... Apa itu beneran baik-baik saja?"
Yuuta : “Sejauh ini, aku belum mengalami
masalah kesehatan.”
Saki : “Yuuta?”
Yuuta : “Ah... Kembali ke topik tadi. Bayi
yang baru lahir pasti mengharapkan untuk dirawat, kan?”
Saki : “Kamu berusaha mengalihkan topik... Yah, kurasa begitu, menurutku mereka akan mati jika tidak
dirawat.”
Yuuta : “Bayi dilahirkan dengan harapan yang sederhana terhadap dunia.”
Saki : “…Harapan terhadap dunia.”
Yuuta : “Benar. Dalam arti tertentu, mereka
lahir dengan sangat egois. Ketika mereka lapar, mereka berharap untuk disuapi makan, dan jika tidak diberikan apa-apa, mereka akan menangis tanpa
ragu. Mereka tidak meminta imbalan untuk tindakan mereka.”
Saki : “Yah namanya juga bayi.”
Yuuta : “Ya. Tapi, ini pertama kalinya aku
berhadapan dengan orang seperti itu. Aku penasaran bagaimana rasanya. Aku tidak
bisa membayangkannya.”
Saki : “Jadi, bahkan terhadap bayi, Yuuta
mengharapkan mereka menjadi manusia...”
Yuuta : “Ya, itu hanya eksperimen
pemikiran. Perasaanku
yang sebenarnya sih aku justru menantikannya.”
Saki : “Menantikannya... Benar juga, kita seharusnya menantikannya...”
Yuuta : “Saki... Hmm.”
Saki : “Hmm? Ah, apa?”
Yuuta : “Aku berpikir untuk lebih banyak
menghabiskan
waktu yang di rumah.”
Saki : “Eh?”
Yuuta : “Bukan hanya pada akhir pekan saja, tapi pada hari-hari ketika
tidak ada kelas pagi, aku berencana pulang ke sana sehari sebelumnya, lalu
pergi ke kampus
dari Shibuya. Beberapa hari dimulai dari jam kedua, jadi jika seperti itu,
tidak akan terlalu menyusahkan.”
Saki : “Ta-Tapi, kamu ada pekerjaan paruh waktu, ‘kan...?”
Yuuta : “Aku bisa melakukannya dari rumah. Sebenarnya, aku
sudah bernegosiasi untuk mendapatkan lebih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan
dari rumah selama periode itu. Meskipun tidak mungkin untuk terus-menerus,
sepertinya aku bisa
melakukannya selama sekitar dua bulan.”
Saki : “Begitu, ya.”
Yuuta : “Ketika aku mulai bekerja paruh
waktu, perusahaan juga kekurangan tenaga kerja sehingga itu cukup sulit. Namun, dalam enam bulan
ini, ada lebih banyak pekerja paruh waktu selain aku. Kami berhasil melewati
akhir tahun. Hanya saja...”
Saki : “Apa?”
Yuuta : “Tidak, bukan apa-apa.”
Saki : “Yuuta? Tidak. Katakan yang
sebenarnya. Jika kamu bersikap sungkan padaku, aku akan terus menanyakan itu
kalau kamu tidak mau membicarakannya.”
Yuuta : “Bukan begitu. Hmm, ada yang namanya progres Golden Week.”
Saki : “Ah. Ya. Aku tahu bahwa pekerjaan
menumpuk sebelum liburan panjang.”
Yuuta : “Jadi, mungkin akan ada masa yang agak sibuk di pertengahan
April. Mungkin, sih.”
Saki : “Tidak apa-apa, tidak apa-apa.
Ngomong-ngomong, aku sudah membaca artikel pengantar yang kamu tulis.”
Yuuta : “Oh, ya. Terima kasih.”
Saki : “Rasanya seperti game yang
menarik. Meskipun aku tidak terlalu sering bermain game seperti itu, jadi itu kesan yang kutangkap. Karena aku
melihat punggung karakter, aku bisa
merasakan ketegangan pada tubuh
mereka saat
menembak, dan itu membuatku berpikir demikian. Lalu, tentang foto layar? Ketika aku
melihatnya, aku merasa penampilan karakter gamenya terlalu terbuka—‘apa ini game untuk pria? Jadi, ada juga sudut
pandang seperti itu ya’ pikirku.”
Yuuta : “Hal-hal seperti itu, ketika kamu
melihatnya, tubuhmu juga ingin bergerak dengan cara yang sama. Ketegangan itu
terasa dari punggung. Aku merasa ada ketegangan di bahu. Aku hanya menulis apa
adanya.”
Saki : “Yuuta, kamu memang melihat sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang.”
Yuuta : “Semoga begitu... Nah, berkat itu,
aku bisa menulis beberapa artikel kecil setelahnya. Jadi, sepertinya aku bisa
mendapatkan sedikit kelonggaran."
Saki : “Hebat. Sangat dapat diandalkan!”
Yuuta : “Tapi, sampai bisa diandalkan...
mungkin belum. Nah, karena itulah, aku yakin kalau Ibu tiri juga pasti mengalami kesulitan.
Jadi, aku berpikir untuk membantu sedikit mulai bulan April.”
Saki : “Kalau begitu... ya. Terima kasih.”
Yuuta : “Lalu, bagaimana denganmu, Saki?
Bagaimana dengan perkuliahan dan magangmu?”
Saki : “Yah... Gimana ya. Hmm, kalau aku sih—”
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya