Jinsei Gyakuten Volume 2 Chapter 2 Bahasa Indonesia

 

Chapter 2 — Kehancuran Pihak Pelaku

 

──Pagi hari 7 September dari Sudut Pandang anggota Junior Tim Sepak Bola──

 

Kami kembali ke ruang klub setelah selesai latihan seperti biasa. Rasanya memang melelahkan, tapi kami akan segera mengikuti turnamen besar, jadi sekaranglah saatnya untuk bertahan.

Tim sepak bola kami dulunya lemah sampai Kondo-senpai ikut bergabung. Namun, berkat si jenius luar biasa itu, level sekolah kami meningkat, dan tahun lalu kami bahkan bisa berpartisipasi dalam turnamen nasional. Senpai sudah menjadi pahlawan yang mengangkat tim sepak bola yang lemah di daerah kami sampai ke tingkat nasional.

Kami mendaftar di sekolah itu karena kami mengagumi Senpai, dan sejak tahun kedua dan seterusnya, kami memiliki sekelompok pemain yang berprestasi di masa SMP.

Jika kita mempertimbangkan bahwa kedalaman pemain kami lebih kuat dibandingkan tahun lalu, seharusnya kami bisa mendapatkan hasil yang lebih baik di tingkat nasional.

Kami sangat mengagumi Kondo-senpai.

Oleh karena itu, kami bisa melakukan apa saja demi dirinya.

Semua tindakan kami, termasuk membully Aono, merupakan perilaku untuk memuaskan Senpai.

Jika itu bisa membuat Kondo-san senang, kami akan melakukan apa pun.

Kondo-senpai memang hebat, ya. Padahal ia tidak pernah berlatih sama sekali, tapi masih bisa bermain sebaik itu.

Aida berbicara dengan semangat. Dirinya bahkan lebih mengagumi Senpai daripada aku. Ia hampir seperti penggemar sejatinya.

Benar banget, benar banget. Sentuhan lembut itu, ya.

Itu sudah setara level J-League. Aku belum pernah melihat jenius seperti itu. Senpai pasti akan menjadi harta karun bagi dunia sepak bola Jepang. Pasti!

Aku tersenyum kecut mendengar nada bicara Aida yang bersemangat, dan sedikit menenangkan diri.

Aku berhasil melewati interogasi Takayanagi dengan mudah, tetapi aku mulai merasa sedikit takut. Aku sadar betul kalau aku orang yang pengecut.

Aida memiliki pemikiran antusias bahwa Kondo-senpai tidak mungkin salah, jadi jika aku membicarakan ketidakpastianku, dia pasti akan menertawakannya. “Dasar bodoh, Kondo-senpai mana mungkin melakukan kesalahan.

“Oi, ada amplop aneh di depan ruang klub, apa ada yang menjatuhkannya?

Mitsuta-senpai dari kelas tiga bertanya dengan suara keras kepada kami.

Apa itu? Tidak ada alamatnya juga. Gimana kalau kita membukanya untuk melihat isinya?

Ketika aku menjawab, si Senpai itu membalas, Itu juga benar, dan mulai merobek mulut amplop itu.

Apa-apaan ini?

Wajah Senpau seketika langsung memerah, lalu segera pucat.

Tangannya bergetar, dan amplop serta foto yang ada di dalamnya jatuh berserakan di dekat kakinya.

Kami mengambil foto itu dan melihatnya bersama teman-teman. Kami seharusnya tidak melihatnya. Mungkin lebih baik kalau kami tidak melihatnya. Informasi yang tidak ingin kami ketahui ada di situ.

Foto pertama menunjukkan momen ketika Kondo-senpai masuk ke hotel cinta dengan Amada Miyuki, yang diambil secara diam-diam. Kedekatan mereka bisa terlihat jelas dari foto tersebut. Aida dan aku merasa gelisah. Seingatku, Senpai pernah mengatakan bahwa Amada mengeluh tentang tindakan kekerasan dan penguntitan dari pacarnya, Aono. Kami tidak tahu kapan foto ini diambil, tetapi hal ini membuat kami mulai berpikir bahwa mereka sebenarnya berpacaran.

Apa Aono benar-benar melakukan kekerasan Amada?

Melihat foto ini, sepertinya...

Justru  Senpai yang terlihat selingkuh dengan Amada.

Ini tidak mungkin, ini pasti kesalahan.”

Aida bergetar di sampingku. Aku tahu gambaran sempurna tentang Senpai dalam dirinya telah hancur. Namun, jika dipikirkan dengan tenang, Senpai telah berbohong kepada kami, dan kami telah melakukan hal yang sangat buruk.

Tidak, pertama-tama, ini jelas-jelas tindakan asusila yang dilarang. Hotel cinta seperti ini tidak bisa digunakan oleh orang di bawah delapan belas tahun. Jika ini terungkap, apa kita masih bisa ikut turnamen? Meskipun kami bisa berpartisipasi sebagai tim, memangnya kita masih bisa menang tanpa Kondo?

Para senpai dari kelas 3 mulai meraung. Mereka ingin mendapatkan hasil baik di turnamen tahun ini demi bisa mendapatkan rekomendasi ke universitas. Jadi, turnamen kali ini sangat penting.

“Aku penasaran siapa yang mengambil foto ini? Mungkin salah satu anggota klub? Jika tidak, mana mungkin ada amplop yang tergeletak di depan ruang klub.

Mitsuta-senpai bertanya dengan nada tinggi. Semua orang saling menatap dengan curiga. Mungkin salah satu dari mereka adalah pengkhianat, pelaku yang mengambil foto ini. Semuanya terlihat seperti musuh.

Segera tunjukkan foto berikutnya.

Foto yang aku pegang masih ada kelanjutannya.

Ketika aku membalik foto itu, pemandangan yang lebih putus asa muncul dibandingkan yang sebelumnya.

Ada gambar Amada ditangkap oleh polisi, dan Kondo-senpai berguling-guling di tanah setelah ditahan oleh seorang polisi saat mencoba melarikan diri.

Ini pasti bercanda, ‘kan? Ini akan menjadi skandal besar. Pemain jagoan kita ditangkap polisi? Kita semua akan dimintai pertanggungjawaban, dan rekomendasi kita akan hilang. Tidak, masalahnya bukan cuma itu saja. Ada kemungkinan klub sepak bola akan dibubarkan... Jika itu terjadi, apa yang akan terjadi pada kami!? Aku tidak menginginkan itu!

Mitsuta-senpai menangis histeris. Membubarkan klub? Jika itu yang terjadi, bagaimana nasib masa depan kami? Lagipula, mengapa Senpai sampai ditangkap polisi? Mungkin kami terlibat dalam kejahatan. Si Aono mungkin tidak bersalah? Jika demikian, justru kamilah yang bersalah...

Suara masa depan cerah yang seharusnya ada baru saja runtuh berkeping-keping.

Pelakunya. Pelaku yang mengambil foto ini. Cepetan mengaku sekarang. Jika tidak, aku akan membunuhmu.

“Apa itu kamu? Kamu selalu tidak puas dengan para Senpa, kan?

Untuk apa kami berjuang di klub selama tiga tahun ini?

Kecurigaan semakin menyebar. Ruang klub seketika berubah menjadi medan perang. Kami saling curiga dan mulai saling menyalahkan dalam neraka itu. Di tengah-tengah neraka seperti itu, mantan pemimpin yang karismatik itu muncul.

 

※※※※

 

──Pagi hari yang samaSudut pandang Kondo──

 

Setelah itu, aku pulang ke rumah setelah berurusan dengan polisi. Ayahku tetap tinggal untuk menemani Miyuki. Aku diusir pulang karena situasinya tampak rumit. Lalu, aku tidur nyenyak hingga hari pertandingan latihan tiba.

Namun, meskipun aku sudah menghilangkan stresku, kejadian kemarin meninggalkan jejak tidak enak di tenggorokanku.

Aku menuju ke klub. Sekolah SMA dari provinsi lain kabarnya akan datang ke sini. Jadi, aku bisa mengalahkan mereka...

Dan bersenang-senang dengan wanita yang selalu siap mendukungku.

“Haa~, hidup itu memang menyenangkan.

Baiklah, saatnya meredakan stres dengan mengalahkan lawan yang lebih lemah. Meskipun aku masih mengantuk.

Aku membuka pintu ruang klub dengan semangat dan mendapati hampir semua anggota sudah berkumpul.

Tatapan dingin yang berbeda dari biasanya menusukku.

Apa-apaan ini? Kalian semua.

Mana mungkin mereka akan menatapku seperti ini, karena seharusnya akulah yang menjadi jagoan mereka. Ada sesuatu yang tidak beres.

Kondo, dasar keparat!!!

Si kapten, Watanabe, mencengkeram kerah bajuku dan langsung mendorongku ke lemari loker.

“Sakit tau!! Apa yang kamu lakukan, brengsek?!

Aku memprotes karena tubuhku tertekan ke lemari. Meskipun dirinya kapten, ada batasan untuk apa yang boleh dilakukan.

Diam! Apa yang sudah kamu lakukan di saat-saat penting seperti ini!!

“Hah?

Aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Apa mereka sudah gila?

Jangan berpura-pura bego! Lihat foto ini!

Ia berkata demikian sambil menunjukkan foto yang memperlihatkan aku dan Miyuki memasuki hotel cinta, serta momen ketika aku ditangkap oleh polisi.

Apa-apaan ini? Siapa yang mengambilnya...

Jangan-jangan ada pengkhianat di antara kami. Seketika darahku terasa dingin.

Tidak, sampai sejauh mana ini terungkap? Jangan-jangan, guru juga mengetahuinya? Atau...

Ayahku seharusnya bisa menutupi ini, tapi foto yang hampir membuatku ditangkap ini diambil. Ini gawat, benar-benar gawat.

Kalau begini, rekomendasiku akan hilang. Masa depan yang gemilang akan tertutup.

Aku tidak tahu, itu bukan aku!

Kata-kata yang tidak masuk akal keluar dari mulutku. Padahal itu tidak mungkin.

“Mau dilihat dari sudut mana pun, jelas-jelas itu kamu! Berhentilah bercanda!

Dia mencengkeram kerah bajuku dan mendorongku ke loker lagi. Rasa sakit tumpul menyerangku berulang kali.

Penghinaan, ini benar-benar penghinaan.

Akulah raja di klub ini. Siapa pun yang melawan raja akan dihukum mati!! Bagaimana jadinya jika aku, si jagoan dan raja, terluka di sini?

Masa depan kalian ada di tanganku.

“Cerewet!

Karena ulahmu, apa jadinya nasib turnamen terakhir kami? Aku sudah mengandalkan rekomendasi beasiswa olahraga. Jika aku mulai belajar untuk ujian sekarang, semuanya sudah terlambat. Apa yang akan kamu lakukan jika kami tidak bisa ikut turnamen karena tindakan burukmu? Jika klub dibubarkan, hidupku akan berakhir. Kembalikan masa mudaku, kembalikan masa muda kami!!

Sejak tadi aku diam saja, tapi kau berisik banget. Kita bisa sampai sejauh ini berkat bakatku yang cemerlang, dan kamu masih saja mengoceh.

Aku mendorong tubuh Watanabe dengan keras. Aku tidak bisa merasa tenang tanpa memukulnya.

Brengsek!

Watanabe menatapku dengan penuh niat membunuh. Aku membalas tatapannya.

Dengar baik-baik. Pihal sekolah tidak bisa menghukumku. Ini hanya masalah hubungan asusila yang terlarang. Di usia SMA, banyak yang melakukannya. Paling-paling hanya dapat skorsing. Tidak ada dampak pada klub. Lagipula, ayahku adalah anggota dewan. Dia warga negara kelas atas. Skandal seperti ini bisa dengan mudah ditutupi. Derajatku dan kalian benar-benar berbeda! Jangan coba-coba membicarakanku dengan nilai-nilai kalian.

Hah?!”

“Pihak sekolah juga pasti tidak bisa berbuat apa-apa padaku. Jika mereka menghukumku walaupun aku berprestasi di sepak bola SMA, itu akan menjadi skandal besar dan merusak reputasi sekolah. Para guru konservatif tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Aku berbicara cepat.

“Ada benarnya juga!

Salah satu kouhai berkata begitu. Ya, pasti begitu. Aku merasa terbuai oleh kata-kata itu. Beberapa orang bahkan bertepuk tangan seolah menyemangatiku.

Rasanya menyenangkan. Ini membuatku sedikit lebih baik.

Dengar, aku tak terkalahkan. Orang-orang punya harapan yang berbeda padaku daripada kalian, dasar para pecundang!!

Benar, aku istimewa. Semua orang tahu ayahku akan menyelesaikannya. Bakat sepak bolaku akan menyelamatkanku.

Tidak ada yang bisa melawanku!!

Kondo!

Meski begitu, Watanabe masih berusaha mendekatiku, jadi aku berkata padanya.

“Kalau gitu, aku tanya, kalian semua adalah budak-budakku, kan? Kalian terlibat dalam perundungan Aono, itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Apa yang akan terjadi jika itu terungkap? Dan jika aku tidak ada, memangnya bisakah kalian menang di turnamen? Hei, hei, memangnya kalian bisa menang? Jika aku pergi, apa kalian masih bisa mendapatkan rekomendasi?"

Saat aku menghasutnya, Watanabe bergetar marah dan terdiam. Racun yang aku lontarkan mulai berpengaruh. Benar, orang-orang biasa seperti kalian harus menerima bahwa mereka dikuasai olehku. Kalian mengerti, kan? Sekarang, keluarkan kata-kata penuh kemarahan dan terimalah aku. Jadilah budakku.

Sialan!

Watanabe mengucapkan itu dengan penuh penyesalan, berusaha menepisnya. Jangan kira kamu bisa menepisnya seperti itu. Watanabe menendang tempat sampah dengan keras, membuat isinya berantakan. Efeknya luar biasa. Setelah pertandingan, aku akan memaksanya untuk bersujud dan meminta maaf padaku. Aku takkan merasa puas tanpa membuatnya melakukan itu!!

Yang penting kalian mengerti. Benar, tanpa aku kalian tidak bisa menang. Jadi, diamlah, dasar pecundang!

Aku mengejek anggota klub dan mulai berganti pakaian dengan seragam.

Aku adalah raja! Sekarang kalian semua mengerti, kan, dasar rakyat jelata!!

Hak hidup dan mati mereka sepenuhnya ada di tanganku. Benar, mereka pada dasarnya adalah budak. Apapun yang kulakukan kepada mereka, semuanya akan diizinkan. Malahan itu akan menjadi kebahagiaan bagi mereka. Pasti begitu.

Kalau begitu, kalau kamu membuat kami dirugikan di masa depan, kamu harus bertanggung jawab!

Watanabe berkata dengan penuh rasa putus asa. Ya, ya, budak yang satu ini banyak sekali mengoceh. Aku hanya tertawa dan mengabaikannya.

Kalau begitu, sebaiknya kamu perlu bersiap-siap untuk merengek dan meminta maaf padaku juga!!

Aku mengancam Watanabe. Posisi sepertiku tidak boleh diremehkan.

Tidak apa-apa, aku masih baik-baik saja. Aku adalah orang-orang terpilih!

Aku akan melepaskan semua stres yang menumpuk ini dalam pertandingan latihan ini. Dan aku akan membuktikan kegunaanku.

Dengan gemetar, aku menuju lapangan.

Tidak apa-apa, ini adalah getaran semangat.

 

※※※※

──Hari yang samaSudut pandang Endou──

 

Dari ruang kelas kosong di gedung sekolah, aku menyaksikan pertandingan latihan tim sepak bola.

Sekolah kami adalah sekolah unggulan, jadi bahkan di hari libur, mereka membuka ruang kelas sebagai ruang belajar. Sebagian besar siswa belajar di ruang khusus bimbbel, jadi hampir tidak ada orang di ruang kelas kecuali kelas tiga.

Karena itulah, tempat ini sangat cocok untuk mengawasi.

Aku membawa teropong untuk memeriksa keadaan tim sepak bola. Seperti yang kuperkirakan, Kondo tidak mendapat umpan lagi, dan secara keseluruhan, aktivitas tim sangat menurun. Foto kemarin tampaknya memberikan dampak yang cukup besar.

Kondo juga semakin dikucilkan karena keadaan tidak berjalan dengan baik dan justru memberikan gol tambahan satu per satu kepada lawan yang lebih lemah.

Kekalahan yang cukup memalukan. Jika seluruh tim sepak bola terlibat dalam perundungan, itu sangat menyenangkan.

Aku melihat mantan pacarku di dekat lapangan yang datang untuk memberi dukungan. Dia tidak lagi memiliki bayangan masa lalu, dan mantan pacar yang dulunya akrab itu menunjukkan penampilan yang sepenuhnya terpuruk, bahkan membuatku merasa jijik.

Sepertinya, rencanaku berjalan dengan baik. Kondo yang hancur di sini pasti akan mencari pelampiasan stres padanya. Aku bahkan merasa sangat kasihan padanya ketika melihat mantan pacarku yang hanya bisa bergantung pada Kondo meskipun dia cuma menjadi mainannya.

Jika semuanya berjalan sesuai rencana, kali ini aku akan melihat sesuatu yang menarik.

Dan, aku akan menyampaikan hal menarik itu kepada Amada. Dengan begitu, Kondo akan semakin hancur. Dirinya akan kehilangan dua pilar besar, yaitu tim sepak bola dan perempuan. Meskipun aku merasa bahwa ini hanyalah balas dendam yang masih ringan dibandingkan dengan Aono yang kehilangan segalanya dan berada dalam situasi negatif karena perbuatannya.

Sebenarnya, mengumpulkan bukti kuat bahwa Kondo merupakan otak perundungan itu akan sulit. Seluruh tim sepak bola pasti terlibat, jadi kecuali ada sesuatu yang sangat besar, anggota tim tidak akan mengaku demi melindungi diri mereka sendiri.

Oleh karena itu, tujuan dari rencana kali ini adalah membuat para pelaku saling curiga dan mengguncang mental mereka, sehingga mereka secara perlahan menghancurkan diri mereka sendiri.

Aku juga telah memberikan informasi kepada pihak sekolah. Dengan begini, tekanan yang diberikan akan semakin berat. Dari kepanikan itu, seseorang mungkin akan melakukan tindakan yang sangat merusak dirinya sendiri. Jika itu yang terjadi, itu akan menjadi keuntungan bagiku.

Jika kecurigaan muncul, pasti akan ada orang yang berkhianat.

Kondo akan dikhianati oleh orang-orang terdekatnya dan dikucilkan secara sosial.

Berikan aku pertunjukan terbaik. Dasar sampah-sampah busuk!

Hampir semua orang di tempat itu adalah target balas dendamku.

 

※※※※

──LapanganSudut Pandang Kondo──

 

Apa-apaan, ini?

Di papan skor tertera angka satu banding empat.

Seharusnya, kami sudah menang telak.

Kenapa, kenapa, kenapa?

Bagaimana bisa kami sampai kebobolan empat gol melawan tim yang lebih lemah dan sekarang berada di waktu tambahan babak kedua? Bangku cadangan seharusnya penuh dengan pujian untukku, tapi sekarang suasananya benar-benar sepi, bahkan lebih dari suasana duka, menuju kehampaan.

“Mana mungkin aku bisa menerima hasil seperti ini!?

Tendangan jarak jauhku di menit-menit terakhir melambung jauh di atas tiang gawang.

Pada saat itu, bunyi peluit akhir pertandingan berbunyi tanpa ampun.

Setelah semua kesombongan itu, akhirnya malah meleset jauh, kamu menendang bola ke mana sih?

Aku mendengar suara ejekan dari Watanabe.

Apa katamu!?

Saat aku memelototinya dengan murka...

“Makanya aku bilang, orang-orang kelas atas memang beda!! Kesadaran mu terlalu tinggi, sehingga kami yang cuma rakyat jelata ini tidak bisa mengejarmu!

Watanabe tidak gentar, dan mengejekku tanpa ampun.

Saat aku marah dan mencoba memukulnya, rekan satu timku dengan panik menghentikanku. Tim lawan hanya bisa tertegun melihat kejadian itu.

Tim kami benar-benar mengalami keruntuhan total. Yang tersisa hanyalah kenyataan pahit bahwa ini adalah awal dari kehancuran kami......

Frustrasi dengan kekalahan kami, aku membiarkan amarahku menguasai diriku dan menyalahkan orang-orang di sekitarku.

Apa-apaan ini, kenapa? Kenapa tidak ada yang mengoper padaku!?

Kami yang kalah telak merasa frustrasi dan kembali ke ruang klub. Aku menendang tempat sampah dengan keras. Tempat sampah yang sudah berkali-kali kutendang hari ini sudah berubah bentuk menjadi penyok.

“Oi, Mitsuta! Kenapa kamu tidak mengoper padaku!?

Aku melampiaskan kemarahanku kepada Mitsuta, salah satu gelandang dan budakku.

“Tapi Kondo, kamu sedang dijaga ketat, jadi tidak ada jalur operan!

“Dasar botak plontos, bodoh, lamban. Kalau begitu, kamu harus bergerak terus dan menciptakan jalur operan. Kerja sedikitlah, dasar sampah!

Maafkan aku!

Dasar orang-orang yang tidak berguna. Sudah seharusnya kalian bekerja keras untuk membuatku bisa beraksi. Kenapa kalian tidak bisa melakukannya?

Sebenarnya, tim ini adalah tim yang menjadikanku raja. Prajurit-prajurit biasa seperti kalian tidak akan bisa menang jika tidak bergerak dengan penuh pengabdian untukku, dan tim akan runtuh. Yang penting adalah seberapa banyak kalian berkeringat untuk membuatku bebas dari penjagaan lawan.

Kenapa hal yang begitu sederhana tidak bisa dimengerti mereka!?

Jika aku berusaha bergerak, di babak kedua aku akan kehabisan tenaga dan tidak bisa berfungsi. Kenapa kalian tidak mengerti itu!?

Walaupun kamu bilang begitu, Kondo-senpai, lawan hari ini telah mempelajari tim kita dengan baik, dan kamu terus kehilangan bola. Selain itu, setelah kamu kehilangan bola, tim lawan tidak menjagamu sama sekali.

Seseorang dari kelas dua berkata pelan. Aku merasa darahku mendidih dan memukul loker pakaian.

Siapa yang baru saja ngedumel begitu padaku!? Apa itu kalian, anak-anak kelas dua!?

Para anak kelas dua tidak ada yang berani menatapku.

Sialan. Pada dasarnya, lini depan sama sekali tidak berfungsi, jadi kami tidak bisa menyerang. Gol yang kami dapatkan hanya dari penalti yang aku peroleh. Kalau terus begini, kami tidak akan memenangkan pertandingan yang seharusnya kami menangkan. Hah, dan kalian berharap mendapatkan beasiswa olahraga? Watanabe. Jangan anggap remeh! Kalian pada dasarnya berada di level itu. Kalian seharusnya cuma bisa digunakan olehku.

Pada akhirnya, Watanabe tidak bisa melakukan apa-apa. Meskipun ia mengatakan hal-hal yang songong. Ah, itu lucu sekali. Mereka segera kehilangan bola. Mereka tidak bisa menyerang tanpa melewatkanku. Itulah sebabnya mereka tidak berfungsi!!

Namun, mereka masih berani berbicara sombong.

Apa kenapa kalian tidak ada yang berani mengatakan sesuatu? Kalian cuma ikan remora-ku. Jika kamu ikan remora, lakukanlah tugasmu tanpa mengeluh dan buatlah Raja bersinar. Apa kalian bahkan tidak bisa melakukan itu, dasar para pecundang tidak berguna!

Ah, rasanya lega sekali. Tidak peduli seberapa hebatnya dirimu sebagai kapten, tidak ada yang bisa melawan raja. Memang sudah sewajarnya. Akhirnya kalian mengerti pentingnya keberadaanku!!

Kalian ingin merebut tempatku dengan menggunakan skandal tentang hubungan perempuan? Kalian masih seratus tahun terlalu awal!!

“Berisik.”

Watanabe, meskipun gemetar, masih tetap melawan.

Hah?

“Mulutmu itu berisik, dasar sampah! Aku tidak bisa terus bersamamu lagi.

Watanabe yang sangat marah mulai meninju perutku. Karena tindakannya terlalu tiba-tiba, aku tidak bisa melakukan apa-apa dan menerima pukulan Watanabe.

Dengan serangan tanpa perlindungan, aku merasakan dampak guncangan dan rasa sakit yang luar biasa, sehingga aku terjatuh sambil memegang perutku. Rasa mual yang hebat melanda. Tak sengaja, suara lemah keluar dari mulutku. Kenapa aku, yang adalah raja, harus dipukul oleh orang ini? Rasanya tidak masuk akal.

“Oek!

Pukulan telak itu membuat kerongkonganku terasa panas. Karena rasa sakit yang luar biasa, aku bahkan tidak bisa bernapas. Jika dipikir-pikir, aku sudah beberapa kali memukul orang lain, tapi belum pernah dipukul. Rasanya sakit. Apa rasanya benar-benar sesakit ini?

Aku berhasil menahan diri untuk tidak muntah, tetapi melihat Watanabe yang menatapku dengan napas kasar membuatku merasa takut.

“O-Oi, semuanya, kalian lihat, ‘kan! Ia baru saja melakukan kekerasan. Aku akan melaporkannya pada guru pembimbing. Dengan begitu, Watanabe bakalan habis!

Namun, para anggota klub tidak ada yang setuju denganku. Sebaliknya, mereka memandangku dengan tatapan dingin. Kenapa? Bukankah aku seharusnya raja? Kalian tidak akan bisa pergi ke tingkat nasional tanpa diriku.

Apa kalian baik-baik saja dengan itu? Jika tidak bisa maju ke tingkat nasional, kalian semua akan kehilangan semua rekomendasi dan ujian masuk universitas. Jika kalian ingin meminta maaf, lakukanlah sekarang.

Aku adalah orang yang murah hati, jadi aku akan memaafkan kalian. Jadi, tuntutlah Watanabe!!

“O-Oi, semuanya, kalian melihatnya, kan? Di antara banyak anggota klub ini, kapten telah melakukan kekerasan terhadap jagoan tim!?

Namun, tidak ada yang berkata apa-apa.

Sebaliknya, seluruh tim tertawa dingin dan mengejekku.

Terutama Watanabe, ia menatapku dengan senyuman dingin dan berkata,

Hah, kamu terjatuh dan kepalamu kepentok? Kamu cuma terjatuh, kan? Semua orang juga setuju, kan?

MPara anggota tim mengangguk pelan mendengar ucapannya. Jangan meremehkanku. Aku adalah harapan kalian.

Akulah yang telah mendukung tim yang lemah ini. Tanpa adanya campur tanganku, kalian akan kalah telak di turnamen daerah. Selama ini kalian bisa menikmati manisnya kesuksesan, dan sekarang itu semua akan hilang.

Namun, mereka benar-benar tidak mengerti hal itu. Pemberontakan rakyat jelata terhadap raja telah terjadi.

Benar sekali.

Senpai hanya terjatuh karena jengkel.

Karena semua orang mengatakan begitu, mungkin memang benar.

Mereka memandangku dengan tatapan mata penuh niat jahat. Bahkan ada junior yang mengejekku.

Mereka ini...

“Begitu, jadi kalian berniat melawanku, ya? Jika memang begitu, bersiaplah. Aku pasti akan membuat kalian menyesalinya.

Aku menggenggam kelemahan mereka. Tidak masalah. Nanti jika aku mengancam mereka, mereka pasti akan segera merengek memohon. Aku hanya perlu mengancam mereka dan menunggu sampai mereka tenang.

Dengarkan baik-baik, dasar raja dungu. Kami menuruti permintaanmu karena kamu membuat kami menang. Tanpa kemampuan untuk membawa tim menuju kemenangan, kamu sama sekali tidak ada nilainya. Pahami itu, dasar bodoh!

Watanabe berteriak padaku, tetapi aku mengabaikannya. Kupikir itulah cara terbaik untuk menyampaikan kemarahanku.

Aku keluar dari ruangan klub dengan perasaan kesal. Tidak ada yang mengejarku. Sial, aku berpikir untuk menghubungi Miyuki, tetapi sepertinya lebih baik tidak menghubunginya setelah kejadian kemarin.

Kalau begitu, aku akan menghubungi si gadis gampangan nomor 1. Ngomong-ngomong, dia bilang akan datang untuk mendukungku hari ini. Gadis itu sangat praktis, jadi meskipun aku tidak memanggilnya, dia pasti akan menunggu di suatu tempat.

Kondo-kun!

Sudah kuduga dia ada di sini. Wanita murahan yang kurebut dari teman masa kecilnya di SMP.

Ikenobe Eri.

Sebelum bertemu denganku, dia terlihat seperti gadis cantik dengan rambut panjang hitam, tapi dia mewarnai rambutnya menjadi cokelat dan memotong rambut panjangnya sesuai dengan seleraku.

Setelah itu, dia putus dengan teman masa kecilnya dan segera berpaling ke orang lain. Dia bahkan tidak pergi ke sekolah selama dua bulan di masa-masa penting ujian kelas tiga SMP, yang mana itu sangat konyol. Meskipun begitu, dia tetap berusaha keras belajar karena ingin masuk ke SMA yang sama denganku. Ya, pada saat itu, dia sudah kehilangan semua hubungan pertemanan nyadi SMP, dan setelah masuk SMA, dia hampir tidak belajar, sehingga kemampuannya menurun drastis.

Walaupun dia sudah memberikan segalanya untukku, tetapi pada akhirnya, dia hanya menjadi wanita menyedihkan yang tidak bisa kembali bersamaku dan terjebak dalam hubungan yang menguntungkan. Aku sudah merampas semua masa mudanya yang berharga. Dalam arti tertentu, wanita ini adalah simbol kekuatanku. Meskipun kehilangan segalanya, dia masih mencintaiku. Anjing setia terbaik.

Sebelum berpacaran denganku, dia adalah siswa teladan yang tidak pernah memakai riasan, tapi sekarang dia terlihat berlebihan dan bahkan kelihatan norak.

“Pertandingan latihan tadi cukup mengecewakan. Anggota lainnya benar-benar tidak ada gunanya. Menyebalkan.

Sifatnya yang seharusnya baik kepada semua orang bisa melenceng jauh seperti ini. Sejujurnya, sampai sejauh ini, aku bisa membuangnya kapan saja, tetapi dia seperti medali bagiku. Sementara itu, kami terus menjalani hubungan yang tidak jelas.

Ah, benar. Lagipula, cuma Eri yang mengerti diriku.

Begitu aku mengatakan itu, dia langsung mengibaskan ekornya padaku. Ayo, sekarang waktunya untuk bersenang-senang dan melepaskan stres.

 

※※※※

──Setelah pertandinganRuang klub sepak bolaSudut pandang Shimokawa──

 

Pada akhirnya, kami benar-benar kalah dalam pertandingan latihan. Kekalahan telak melawan lawan yang lebih lemah.

Pelatih sangat marah dalam rapat rim, dan melemparkan botol plastik kepada kami. Namun, kami tidak bisa memikirkan itu.

Apa yang akan terjadi jika kami terus berantakan seperti ini? Aku yakin pasti ada seorang pengkhianat. Jika itu yang terjadi, semua orang akan mengetahui bahwa kami telah membully Aono. Jika itu terjadi, bukan hanya kami tidak bisa ikut turnamen, kami juga bisa mendapat sanksi dari sekolah. Jika itu terjadi, kami yang menjadi pelaku utama mungkin tidak hanya akan dihukum skorsing. Bagaimana jika kami dikeluarkan? Apa yang harus kukatakan kepada orang tua? Setelah masuk ke sekolah SMA yang bergengsi, apa aku akan terjatuh cuma karena hal seperti ini!?

'Jangan terpedaya oleh kata bullying dalam kasus ini. Ini adalah kejahatan yang tidak bisa dianggap sebagai kenakalan anak-anak atau lelucon. Ingatlah itu baik-baik.'

Ucapan Takayanagi-sensei menusuk hatiku dan berulang kali terngiang-ngiang di kepalaku.

Kami berhasil lolos dari penyelidikan pihak sekolah sebelumnya karena belum ada bukti yang menentukan, tetapi situasi ini sangat buruk. Terlalu berbahaya.

Kapan pengambil foto tadi akan melaporkan kepada guru? Tidak, mungkin ia sudah melaporkannya. Jika itu terjadi, akan ada sedikit ketidaksesuaian dalam kesaksian kami. Pernyataan kami sudah sempurna sampai sekarang, tetapi jika mulai menunjukkan keretakan, kami harus segera melarikan diri dari penyelidikan selanjutnya sambil berhati-hati agar kesaksian masing-masing tidak bertentangan.

Setelah rapat tim selesai dan pelatih pergi, kami terdiam dalam suasana berat di ruang klub. Tiba-tiba, aku merasa cemas apa kami bisa lolos dari situasi ini.

Mustahil. Mana mungkin kita bisa menyembunyikannya.

Kata-kata yang terucap tanpa sadar itu membuat Aida, teman sekelasku, menatapku dengan wajah terkejut.

Hei, apa maksudmu? Mustahil... Jangan bilang kamu akan mengkhianati Kondo-senpai dan kami!!"

Ia berteriak dengan suara histeris seolah terjebak dalam delusinya.

Mitsuta-senpai dan kapten juga mendekatiku. Anggota klub lainnya juga.

Bukan, bukan itu. Aku tidak berniat mengkhianati. Tapi, aku kehilangan kepercayaan diri untuk lolos dari penyelidikan selanjutnya.

Itu adalah alasan yang menyakitkan. Suaraku bahkan terdengar gemetaran.

Kenapa aku mengucapkan kata-kata itu? Kalau aku mengatakannya di tempat seperti ini yang membuat semua orang curiga, aku pasti akan dikorbankan......

Jangan bercanda. Kamu dan Aida yang dengan semena-mena menggambar di meja Aono. Jangan sampai menyusahkan kami juga.

Mitsuta-san menarik seragamku dengan keras.

Tapi, Mitsuta-san juga bilang untuk melakukannya.

Hah, kamu berani membantah Senpai-mu? Kamulah yang paling bersalah, jangan lemparkan tanggung jawab padaku. Ambil tanggung jawabmu sendiri, aku tidak akan membiarkanmu mengaku. Jika tidak bisa menyembunyikannya, lebih baik kalian mati. Ambil tanggung jawab terhadap semua orang dan mati. Dengan begitu, kalian tidak akan diselidiki lebih lanjut.

Tidak mungkin!

Seseorang pasti akan membantuku. Atau begitulah yang kupikirkan. Namun, tidak ada yang berusaha menghentikan senpai. Semua orang menatapku dengan tajam seolah-olah aku yang paling bersalah, lalu kapten membuka mulutnya.

Mitsuta, cukup sampai di situ saja. Kamu mengerti ‘kan, Shimokawa? Jika kamu menjadi lemah begitu, kami juga akan hancur. Jangan bicara sembarangan.

Kenapa hanya aku yang disalahkan? Lagipula, kapten juga tidak menghentikanku. Dirinya bahkan secara aktif menyebarkan rumor melalui akun rahasianya. Apa cuma aku satu-satunya yang bersalah?

“I-ya.

Aku tanpa sadar menyerah pada tekanan di sekitarku. Perasaan takut dan kecemasan semakin menguasai pikiranku. Jika sudah begini, mungkin aku harus mengaku saja dan meminta bantuan guru. Jika aku bilang bahwa aku tidak bisa berpura-pura melihat apa yang terjadi di klub sepak bola karena aku juga akan diintimidasi, apa mereka akan mempercayaiku?

Di dalam hatiku, keinginan untuk melindungi diriku sendiri dengan cara yang sangat kotor semakin menguat.

Namun, sepertinya anggota klub sepak bola lainnya sepakat untuk menyembunyikan kebenaran yang tidak menguntungkan kali ini. Mereka tampaknya masih percaya bahwa itu tidak akan pernah ketahuan.

Pertama-tama, kita harus mencari siapa yang mengambil foto ini. Jangan-jangan, itu salah satu anggota klub?

Kapten terus menanyai semua orang, dan mereka menggelengkan kepala. Jika memang ada pelakunya, mereka tidak mungkin mengaku dengan jujur. Lagipula, semua orang terlihat mencurigakan. Mungkin para pemain cadangan yang merasa iri dan ingin menghancurkan diri mereka sendiri, atau mungkin ini adalah ulah siswa kelas satu yang menyimpan dendam terhadap Senpai kelas tiga.

Benar, untuk sementara, kita bisa menjadikan pengkhianat itu sebagai pelakunya. Biarkan orang itu yang disalahkan atas semua ini.

Senpai, mari kita segera cari pelaku yang mengambil foto ini. Kita harus menemukannya dan menghajarnya agar tidak bicara!! Kalau terus begini, kita semua akan hancur. Bukannya anak-anak kelas satu itu mencurigakan?

Aku tanpa sadar mengungkapkan semua yang ada di pikiranku. Setelah tadi dibilang mati, aku ingin mengalihkan kemarahan anggota klub kepada seseorang.

Aida tiba-tiba mendekati seorang siswa kelas satu.

“Kalau dpikir-pikir, Ishigami. Bukannya itu kamu yang ngedumel tentang Kondo-senpai!

Serangan itu ditujukan kepada Ishigami, siswa kelas satu yang suka bercanda. Bagus, ini langkah yang tepat. Dengan begini, aku aman.

Ishigami tampak panik sejenak dan mulai menyalahkan orang lain. Aku tidak melakukan hal seperti itu. Lagipula, Chiyoda juga berkata buruk bersamaku!

Anggota klub sepak bola yang sudah terjebak dalam suasana curiga mulai saling menyalahkan satu sama lain. Situasinya jadi semakin memburuk dari sebelumnya.

Klub sepak bola benar-benar hancur. Teman-teman yang sebelumnya memiliki tujuan yang sama kini saling curiga, berusaha melindungi diri mereka sendiri, dan mulai melakukan sesuatu yang mirip dengan pemburuan penyihir.

 

※※※※

──Beberapa jam kemudianSudut pandang Miyuki──

 

Kemarin aku menghabiskan waktu di kamar rumah sakit, dan aku pulang ke rumah untuk merapikan barang-barang. Aku secara kebetulan bertemu dengan teman lama yang sedang berlari di depan rumahku. Ada satu lagi teman masa kecil yang tidak ingin kutemui.

Imai Satoshi. Sahabat Eiji dan juga teman masa kecilku sejak sekolah SD.

Satoshi-kun...

Aku sudah tahu apa yang ingin dikatakannya. Pada akhirnya, saat ini tiba juga. Hari di mana aku akan kehilangan segalanya.

“Entah kenapa, rasanya sudah lama ya kita tidak mengobrol begini, Miyuki. Kamu tahu apa yang ingin kukatakan, kan?

“Iya.

Aku ditolak oleh ibuku, dan ditakdirkan untuk kehilangan segalanya. Dan itu berarti aku juga akan kehilangan teman-temanku. Mau bagaimana lagi.

Satoshi-kun pernah diselamatkan oleh Eiji. Jadi, dirinya pasti akan membantu Eiji dalam situasi ini. Aku sangat memahami hal itu karena akulah orang yang paling dekat melihat hubungan mereka.

“Sudah kuduga. Aku tidak bisa lagi menganggapmu sebagai teman lagi. Itulah yang ingin kukatakan dengan jelas. Terima kasih atas semuanya sampai sekarang.

Dirinya dengan tegas menyatakan pemutusan hubungan kami, lalu pergi. Aku merasa ini sangat sesuai dengan kepribadiannya. Kata-kata perpisahan yang jelas, meskipun penuh kemarahan, menunjukkan posisi masing-masing.

Aku berlari ke pintu masuk, terjatuh, dan menangis sejadi-jadinya.

Mengapa semuanya harus berakhir seperti ini?

Mengapa aku melakukan hal seperti itu?

Penyesalan terus menguasai hatiku.

Aku ingin melanjutkan hubungan yang bahagia dengan Eiji seperti sebelumnya.

Aku tahu akulah yang salah. Tapi, saat aku menjalin hubungan yang lebih mendalam dengan Senpai, aku sangat takut jika semua ini terungkap dan hubunganku dengan Eiji berakhir.

Karena itulah, aku tidak bisa membiarkan hubunganku dengan Kondo-senpai terungkap. Aku bahkan sampai berbohong karena takut kehilangan segalanya.

Hubungan kami mungkin akan berakhir begitu saja setelah Senpai lulus dari SMA. Aku merasa kasihan pada Eiji, ini cuma hubungan main-main yang sesaat. Dengan cara berpikir seperti itu, aku mencoba membenarkan pengkhianatanku terhadap Eiji.

Rasanya sangat disayangkan jika tidak bersenang-senang di masa muda.

Tidak masalah meski aku sudah memiliki pacar yang kucintai.

Selama kami saling mencintai dengan tulus, semuanya baik-baik saja.

Kondo-senpai telah menyiapkan jalan keluar untukku. Jadi, aku memanfaatkan kesempatan itu.

Hari itu. Hari di mana Eiji memergoki perselingkuhanku.

Hatiku hancur. Aku tidak akan pernah bisa kembali pada masa-masa bahagia itu. Kecemasan dan penyesalan tentang apa yang akan terjadi jika aku kehilangan Eiji. Karena, aku telah menghabiskan lebih dari setengah hidupku bersamanya.

Semuanya sudah berakhir. Hatiku yang dikuasai oleh perasaan pasrah mengambil pilihan yang egois.

Demi mengatasi ketakutan ditolak oleh Eiji, aku dengan mudah mencari senpai yang seharusnya mencintaiku. Jika aku tidak bisa lagi memiliki hubungan bahagia dengan Eiji, maka aku sudah tidak peduli apa pun yang terjadi. Keinginan untuk hancur dan menunjukkan diri. Itulah yang menciptakan penyesalan seumur hidup ini.

Dan akhirnya, aku kehilangan segalanya.

Aku berusaha melindungi semuanya dengan berbohong, tapi pada akhirnya aku kehilangan segalanya. Semua yang sangat berharga bagiku... Jika terus begini, aku juga akan segera kehilangan posisi sebagai siswa teladan yang ingin kulindungi.

Aku ingin kembali, aku ingin kembali.

Aku ingin kembali ke hari itu. Merayakan ulang tahun Eiji dengan benar dan kami berdua tertawa bahagia bersama.

Aku ingin kembali ke masa-masa sebelum bertemu Kondo-senpai. Aku ingin kembali ke diriku yang murni sebelum aku mengkhianati Eiji.

Lagipula, cuma Eiji satu-satunya yan gkumiliki.

Seandainya saja aku tidak bertemu senpai, aku pasti masih bisa tertawa bahagia bersama Eiji hingga sekarang.

Aku sangat membenci diriku yang berpikir seperti itu.

Aku tidak merasakan apa pun selain kebencian terhadap diri sendiri.

Akulah yang mengkhianatinya.

Sensasi mual dari perutku membuatku keluar untuk menghirup udara segar.

Aku melihat ada amplop di dalam kotak pos.

Aku langsung membukanya tanpa berpikir panjang.

Di dalamnya ada foto.

Foto yang menjerumuskanku ke dalam jurang keputusasaan.

Kenapa, ini tidak mungkin. Padahal kamu bilang cuma aku satu-satunya wanitamu. Kondo-senpai. Jangan begini. Tolong jangan buang aku.

Di dalam amplop itu ada foto senpai yang sedang memasuki rumah seorang siswi dengan mesra. Mereka bergandengan dan tampak bahagia.

 

※※※※

──Rumah EriSudut Pandang Kondo──

 

Aku sangat menyukaimu, Kondo-kun.”

Dengan menikmati sentuhan kulitnya yang lembut, aku melepaskan stres.

Eri memiliki kelebihan yang berbeda dari Miyuki.

Sepertinya, aku mulai sedikit bosan dengan Miyuki.

“Ah, ini luar biasa.”

Senangnya. Aku cuma setia buat Kondo-kun, lho.”

Inilah bagian yang menyebalkan dari gadis ini. Dia bertingkah seperti pacarku meskipun kami tidak berpacaran. Ya sudah, aku akan menikmatinya sebagai wanita yang menguntungkan untuk sementara waktu.

Nee, Kondo-kun. Hanya lihat aku saja ya. Aku sudah mengorbankan segalanya untukmu, jadi kamu jangan sampai berselingkuh.”

Selingkuh? Pertama-tama, kita sebenarnya tidak berpacaran. Gadis ini benar-benar salah paham dan ngehalu sendiri.

“Ah, iya, benar.”

Aku hanya mengangguk dan menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan tertidur.

Setelah itu, aku bersantai sejenak dan meninggalkan rumah Eri. Gadis ini tinggal sendirian karena ditinggalkan orang tuanya. Jika aku lapar, aku datang ke rumah ini untuk makan malam, itu sudah menjadi kebiasaanku. Hanya saja, Eri gampang sekali terbawa suasana, dan memiliki pasang surut emosi yang ekstrem, jadi dia cukup merepotkan sebagai wanita simpananku.

Saat berjalan pulang, ponselku berbunyi.

“Kondo-kun? Sekarang, apa kamu ada waktu?”

Itu panggilan dari gadis yang kupikirkan. Dialah yang memperkenalkan Miyuki padaku. “Ada gadis yang sudah punya pacar yang sepertinya mungkin kamu sukai, penasaran?” katanya.

Kemudian, kami bertemu dan aku juga menemukan mainan menarik bernama Aono.

“Ah, ada apa?”

“Tidak, ini bukan masalah besar… Apa kamu ada rencana sekarang? Kalau mau, ayo main denganku?”

Gadis ini juga memang tergila-gila padaku.

“Boleh. Ada apa?”

Habisnya, padahal aku sudah membantu untuk menyudutkan cowok itu, tapi aku justru tidak mendapat imbalan sama sekali, jadi aku berharap sedikit bertemu denganmu.”

“Ah, aku berterima kasih karena kamu sudah memikirkan skenario yang menarik. Aku ingin menunjukkan wajah menyedihkan si Aono padamu.”

Kamu benar-benar orang yang jahat, ya.”

“Aku tidak mau mendengar itu darimu, dasar wanita jahat… Selain itu, aku juga ada sesuatu yang ingin dibicarakan.”

Hee~?”

“Ada masalah di klub sepak bola.”

Kami segera sepakat untuk bertemu, dan aku dengan senang hati bergerak ke tempat yang ditentukan.

 

※※※※

 

Setelah pertemuan rahasiaku dengannya selesai, aku pulang ke rumah. Seperti yang kuduga, di rumah tidak ada siapa-siapa. Ayah pasti sedang bekerja. Ibu mungkin pergi entah ke mana. Keduanya terkenal sebagai pasutri palsu.

Aku hanya perlu memanfaatkan kedua orang itu. Dengan status sosial orang tuaku yang tinggi, aku bisa memanfaatkannya. Jika orang tuaku hebat, hampir semua hal bisa dilakukan. Selain itu, aku juga memiliki bakat dalam sepak bola dan bisa belajar dengan baik. Aku tak tertandingi.

Berkat itu, jalanku menuju menjadi pemain sepak bola profesional terbuka, dan bahkan jika aku pensiun, aku bisa mewarisi perusahaan ayahku. Jika ayahku naik jabatan sebagai anggota dewan, aku juga bisa mewarisi posisinya. Inilah kelebihan sistem warisan di Jepang.

Karena aku dilahirkan di keluarga yang bagus, kehidupanku jadi sangat cerah. Hidup dalam mode mudah di dunia yang indah. Ah~, aku bersyukur orang tuaku hebat.”

Aku menggunakan kata-kata kuat untuk meyakinkan diriku sendiri dan menghilangkan kecemasan yang ada di dalam hatiku. Lagipula, Ayahku juga bilang semuanya akan baik-baik saja dan sepertinya ia memikirkan langkah-langkah antisipasi.

Di rumah yang luas ini, hanya suara omong kosongku yang bergema. Sial, rasanya menyedihkan.

Ponselku berbunyi. Itu panggilan dari telepon umum. Rasanya mencurigakan. Hanya dengan menelepon nomor ini langsung sudah mencurigakan.

Tentu saja, aku mengabaikannya. Namun, telepon itu terus berdering.

“Dasar menyebalkan, kamu emangnya siapa sih?!”

Aku menekan tombol jawab dan berteriak marah. Kemudian terdengar suara aneh seperti seseorang yang menghirup gas helium.

“Kondo, riwayatmu sudah tamat.”

“Dasar bajingan, sembarangan memanggilku tanpa sebutan, tidak bisa kumaafkan.”

Suara itu terdengar seperti nada ceria dari badut yang aneh. Seolah-olah ia sedang menertawakanku.

Apa dia menggunakan alat pengubah suara mainan? Sungguh konyol. Saat aku hendak menutup telepon…

“Hey, jangan tutup dulu. Karena akulah yang mengambil foto itu.”

Aku buru-buru menghentikan tanganku yang hendak menutup telepon. Sial, jadi orang ini pelakunya. Orang yang selalu berusaha menjebakku!

“Jadi kamu yang menyebarkan foto itu ke klub sepak bola. Aku tidak akan memaafkanmu.”

“Menyebarkan? Ah, aku cuma secara tidak sengaja menjatuhkannya di depan ruang klub.”

Jangan berpura-pura bego!”

Kata-kata semakin kuat terlontar.

“Kalau kamu terus berbicara seperti itu, aku tidak tahu di mana aku akan menjatuhkannya selanjutnya.”

Dasar keparat.

“Jangan sekali-kali meremehkanku, bajingan. Aku pasti akan membunuhmu. Ayahku adalah anggota dewan. Ia bisa menutupinya dengan mudah, dan aku akan membuat guru-guru itu diam. Selama ini aku sudah melakukan itu. Kali ini pun akan sama!”

Sungguh menjengkelkan.

“Kalau begitu, aku akan mulai bergerak.”

Itu hanya ancaman belaka.

“Cobalah jika kamu bisa. Aku akan membunuhmu. Aku akan menemukanmu dan menghabisimu.”

Orang jenius seperti diriku bisa melakukan apa saja dan akan dimaafkan. Aku akan menghajarnya habis-habisanya sampai dia menyesalinya.

“Begitu ya. Sayang sekali. Kamu pasti berpikir kalau kamu tidak bersalah sama sekali.”

“Tentu saja. Karena aku adalah orang yang terpilih.”

“Apa kamu juga akan memfitnah Aono Eiji?”

“Dari mana kamu tahu itu?”

“Aku berada cukup dekat dan mengawasimu.”

Kata-kata itu semakin menyulut kemarahanku. Kenapa ia tahu tentang itu? Masalah tuduhan palsu seharusnya hanya diketahui oleh anggota klub sepak bola dan para gadis.

Cowok itu, pada dasarnya cuma orang yang lemah. Orang lemah ditakdirkan untuk dimakan oleh orang kuat. Apa pun yang terjadi, mereka tidak bisa mengeluh. Kamu pasti anggota dari klub sepak bola, ‘kan? Aku tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan, jadi persiapkan dirimu!!”

Setelah aku mengatakan itu, dia tidak menjawab, mungkin karena dia kewalahan oleh momentumku. Yang bisa kudengar hanyalah desahan napas.

“Kondo, kamu ini benar-benar bodoh dan menyedihkan.”

Seketika mendengar kata-kata itu, aku secara naluriah membanting ponselku ke lantai, dan layarnya retak. Itu mirip seperti hatiku sendiri.

Benar sekali, aku adalah orang yang terpilih. Jadi, tidak apa-apa. Meskipun anggota klub sepak bola tidak lagi mengikutiku, meskipun aku tidak bisa dibilang dari sekolah yang sangat kuat berdasarkan prestasi sebelumnya, seharusnya ada banyak tempat yang mau menerimaku setidaknya di sekolah SMA yang lebih baik.

“Putus asa? Aku? Merasa putus asa? Tidak mungkin…”

Aku terkejut karena tanpa sadar merasakan emosi negatif terhadap diriku sendiri.

“Sial, sialan!”

Demi menenangkan sedikit emosiku, aku menelepon Miyuki.

 

※※※※

──Sudut pandang Miyuki──

 

“Sekarang, jam berapa?”

Aku terkurung dalam keputusasaan karena dikhianati. Saat aku sadar, hari sudah gelap, dan aku sendirian di rumah tanpa menutup tirai atau menyalakan lampu. Sekarang, aku benar-benar terisolasi. Tidak ada yang mengucapkan kata-kata lembut padaku. Aku membawa pakaian ganti ibuku ke rumah sakit, tapi ibuku tidak ada di ruang perawatan karena sedang menjalani pemeriksaan.

Karena tidak ada yang bisa kulakukan, jadi aku langsung pulang dari rumah sakit dan menghabiskan waktu tanpa tujuan.

“Semuanya karena salahku.”

Tentu saja. Eiji dan tante yang selalu memberikan kata-kata lembut padaku sudah tidak ada lagi sekarang. Meskipun ibuku pulang larut karena pekerjaan, jika aku pergi ke rumah Eiji, aku tidak merasa kesepian. Kehangatan kekeluargaan begitu terasa di sana. Mereka menerimaku seperti anak perempuan kadung mereka sendiri.

Ibu marah juga karena… aku telah mengkhianati orang-orang yang sudah begitu baik padaku. Kondo-senpai pada akhirnya hanya melihatku sebagai mainannya. Seharusnya aku menyadarinya. Di dalam pikiranku, aku seharusnya sudah memahaminya.

Namun pada akhirnya, aku terjebak dalam keinginanku sendiri dan sampai di situasi ini. Melihat foto tadi, aku seketika menjadi tenang. Seolah-olah semua semangat cinta yang telah ada sebelumnya adalah kebohongan, darah di seluruh tubuhku terasa membeku.

Tapi, apa yang aku katakan kepada Eiji saat itu… kamu tahu kan.

“Tidak, jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup lagi jika kamu meninggalkanku, Senpai.”

“Eiji adalah teman masa kecilku, tapi… ia sangat keras kepala, menyebalkan, dan pacar tukang pukul yang menjengkelkan mirip seperti penguntit.”

“Maaf, Eiji. Aku tidak bisa berpacaran denganmu lagi. Jangan coba-coba mendekatiku lagi di sekolah.”

Mengingat momen itu, aku diselimuti sensasi mual yang hebat dan perasaan benci terhadap diriku sendiri.

Kenapa aku bisa tega mengatakan hal seperti itu? Aku sudah menyesalinya berkali-kali, tetapi perasaan jijik yang lebih kuat muncul. Sejak hari itu… hari pertama aku berselingkuh dengan senpai, aku merasa seperti bukan diriku sendiri, seperti orang bodoh yang berbeda.

Dan, rasa mual yang hebat itu terus-menerus menyerangku.

Kenapa… padahal Eiji seharusnya adalah pacar yang lembut dan sangat aku cintai. Aku juga sadar bahwa akulah yang lebih dulu menyukainya. Cinta pertamaku adalah Eiji. Aku berusaha keras untuk mendekatinya, dan akhirnya kami saling suka.

Aku sangat menyukai dirinya yang lembut. Aku sangat menyukainya yang menulis cerita hangat. Aku sangat menyukai rumahnya yang membuatku merasa bahagia.

Sekarang semua itu tidak akan pernah bisa didapatkan lagi. Setelah keributan itu, Eiji tidak pernah datang ke kelas lagi. Dia dijebak oleh Senpai, dikucilkan di kelas, dan mengalami pembullyan dengan kata-kata kasar yang ditulis di mejanya. Rupanya mereka juga menaruh sampah di loker sepatunya. Selain itu, mereka bahkan mengancam keluarganya, yang sangat kusayangi. Akan tetapi, aku tidak melakukan apa-apa untuk menghentikannya. Aku seharusnya bisa menghentikannya, tetapi aku mengabaikannya karena keegoisanku. Tidak, tidak benar. Aku juga terlibat dan membuat Eiji tertekan. Akulah yang menjadi biang keladi pembullyan tersebut.

Aku bahkan menyebut Eiji sebagai penguntit dan mengatakan ia melakukan kekerasan. Eiji yang lembut tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Pada saat itu, akulah yang seharusnya disalahkan.

Aku adalah wanita terburuk. Habisnya, akulah yang berselingkuh pada hari ulang tahun pacarku. Siapa yang harus disalahkan? Bukan Eiji. Tapi aku.

Aku berusaha keluar dari rumah. Menuju ke minimarket. Untuk membeli makan malam.

Meski aku sangat ingin mati, tubuhku masih meminta makanan. Sungguh menyedihkan sekali.

Di kejauhan, ada sepasang kekasih melintas. Tanpa sadar, aku terdiam saat melihat mereka.

Rupanya itu Eiji. Ia tertawa bahagia. Di sampingnya ada… jelas sekali Ichijou Ai. Idola sekolah itu, bahkan dari pandangan sesama perempuan, terlihat sangat bersemangat dan bergaya. Mereka berdua seolah-olah seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan.

Eiji juga menunjukkan senyuman lembut yang seakan-akan cuma ditujukan kepada kekasihnya. Kepalaku terasa kosong. Aku bersembunyi agar mereka tidak menyadari keberadaanku.

“Terima kasih untuk hari ini, kencan pertama tadi sangat menyenangkan,” kata Ichijou Ai sambil tersenyum bahagia.

“Aku senang mendengarnya,” jawab Eiji.

“Aku sudah tidak sabar untuk kencan berikutnya. Meskipun sudah sedikit terlambat, boleh aku merayakan ulang tahunmu di suatu tempat?”

“Eh? Bagaimana kamu bisa tahu tentang ulang tahunku?”

“Ibu Senpai yang memberitahuku! Hari ini kamu benar-benar memanduku dengan baik, jadi aku ingin mengucapkan terima kasih.”

Suara dan ekspresinya semanis gadis yang sedang jatuh cinta. Bahkan bagi sesama perempuan, dia terlihat sangat menggemaskan dengan senyum lembut seperti malaikat.

“Terima kasih. Aku menantikannya.”

Saat itu, aku dibuat sadar kalau tempatku sudah diambil alih oleh Ichijou Ai. Ibu Eiji bahkan mengakuinya, dan seharusnya akulah yang merayakan kencan ulang tahun itu, menerima semua kebaikan Eiji. Semua itu adalah harta yang seharusnya aku miliki.

Mungkin karena keputusasaan dan tidak makan, aku terus-menerus muntah. Tiba-tiba, aku merasa lemas. Mataku berkunang-kunang, dan napasku menjadi dangkal.

Aku menangis sesenggukkan tanpa suara supaya mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku tidak bisa berhenti bahkan ketika kerikil dan tanah masuk ke dalam mulutku.

Neraka baru saja dimulai.

Aku terjatuh di tempat itu, tetapi setelah beberapa saat, anemiaku mulai mereda, dan aku berhasil berdiri. Sepertinya Eiji dan yang lainnya tidak menyadari kehadiranku.

Aku membeli sup yang hanya perlu dipanaskan di minimarket, lalu segera pulang dan memakannya. Waktu makan yang seharusnya menyenangkan kini hanya menjadi kegiatan untuk bertahan hidup. Aku penasaran, apa yang sedang dilakukan Eiji dan yang lainnya sekarang? Mungkin mereka sedang makan dengan bahagia di restoran Kitchen Aono. Mungkin mereka akan pergi ke tempat yang lebih modis. Mungkin saja, malam yang istimewa…

Hatiku terasa hancur. Meskipun seharusnya aku merasa lapar, aku tidak memiliki selera makan.

Pada saat seperti itu, aku mendapat telepon dari Kondo-senpai.

“Ya, ini Miyuki.”

“Oh, Miyuki? Kamu lagi ngapain sekarang?”

“Aku baru saja makan…”

“Begitu ya. Aku ingin menenangkan pikiran, jadi aku ingin kamu jadi teman bicaraku sebentar.”

Biasanya aku akan langsung menjawab ajakan itu, tapi setelah menaruh ketidakpercayaan padanya

Padahal Senpai mengetahui kalau Ibuku sedang dirawat di rumah sakit, tetapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda khawatir tentang apa yang terjadi. 

“Ehmm… aku sedang tidak enak badan.” 

Ternyata, cuma sebatas itu saja perasaannya. Bagiku, aku hanya dianggap seperti itu. 

“Tolong, cuma sebentar saja kok. Sekarang, dengarkan aku.” 

Kata-kata itu membuatku semakin yakin. 

“Jadi pada akhirnya, Kondo-senpai hanya menganggapku seperti mainan, ya?” 

Jika itu Eiji, ia pasti akan khawatir tentang ibuku dan memperhatikan keadaan mentalku. Dari nada suaraku, dia pasti bisa langsung tahu bahwa aku sedang tidak sehat. Ia mungkin akan datang menjengukku. 

Aku telah kehilangan teman masa kecilku yang begitu berharga. 

Haahh, kenapa kamu tiba-tiba bilang begitu?” 

Kamu bahkan tidak mengkhawatirkanku sama sekali. Selain itu, aku melihat foto Senpai yang masuk ke dalam rumah bersama seorang gadis lain.” 

“Tidak, itu… foto sebelum aku bertemu denganmu. Aku sudah putus dengannya, sebenarnya aku mendapat gangguan, dan foto-foto lama itu disebarkan di anggota klub, jadi aku ingin berkonsultasi denganmu. Maaf jika aku tiba-tiba membicarakannya, aku juga tidak dalam keadaan baik.” 

Permintaan maaf itu terasa sangat hampa. 

“Begitu ya.” 

Dengan persetujuan yang hanya sekadar formalitas, ia menjawab dengan nada sedikit tersenyum. Hal itu justru memicu kemarahanku. 

Jadi begitulah. Percayalah padaku.” 

Dirinya benar-benar berpikir bisa membodohiku dengan kalimat yang tidak tulus ini. Kotor sekali. Orang ini benar-benar... aku akhirnya menyadari sifat aslinya. Aku telah mengorbankan segalanya untuk orang seperti ini!? Aku bahkan tidak bisa mempercayainya. 

“Di foto ini, Senpai memakai gelang yang kuberikan padamu sebagai hadiah. Apa kamu masih menganggap ini sebagai foto lama?” 

Ap…” 

Aku membenci bagian diriku yang sangat peka dalam situasi seperti ini. Gelang tangan yang kurajut dan kuberikan supaya dirinya bisa menang dalam pertandingan latihan klub, dengan jelas terlihat dalam foto itu. Gelang itu seharusnya menjadi bukti ikatan kami… tetapi malah menjadi jimat yang membuktikan posisi sebenarnya dari hubungan kami. Aku tidak berjuang untuk hal seperti ini. 

“Jangan berbohong padaku.” 

Suara dingin yang keluar dari mulutku membuatku terkejut. 

Ka-Kalau begitu, itu cuma foto yang diedit…” 

Meskipun aku sangat menyukainya, tapi hanya mendengar suaranya saja sudah membuatku kesal. 

“Lalu?” 

Balasannya sama saja dengan mengakui bahwa itu cuma alasan. Jika mau berbohong, setidaknya buatlah kebohongan yang lebih baik. 

Akhirnya, aku berpikir bahwa orang ini telah menutupi semuanya dengan kebohongan selama ini. Dan tak kusangka kalau aku mengira kebohongan itu bersinar seperti permata. 

Kata-kata lembut yang ia tunjukkan padaku hanyalah batu kerikil yang tidak tulus. Dan aku telah menghancurkan harta sejati yang seharusnya selalu ada di dekatku karena terpesona oleh batu kerikil itu.

Aku menyadari betul bahwa aku tidak berhak untuk menghinanya. Karena, aku adalah orang yang sama buruknya dengannya. Kami pada dasarnya sama saja. Sama-sama sampah, egois, dan tidak tahu berterima kasih. 

“...Cih.” 

Ia menggerutu dan mendecakkan. Perubahan sikapnya membuatku terkejut. 

“Eh?” 

Saat aku menanyakannya, ia malah marah. 

“Itulah mengapa aku membenci gadis menhera sepertimu yang selalu bersikap pura-pura menjadi pacarku.” 

Kata-kata kasar yang tidak terduga itu membuat hatiku terasa tertusuk dengan pisau dingin. Aku seharusnya sudah tahu ia adalah orang seperti itu, tapi ketika melihatnya secara langsung masih menjadi kejutan besar

Pura-pura jadi pacar? 

Aku sudah meninggalkan pacarku yang berharga hanya untuk memilihmu. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu? 

“...” 

Dihadapkan pada kenyataan yang kejam, aku terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. 

Lagipula, apanya selingkuh? Memangnya kita pernah pacaran? Kita tidak pacaran, kan? Jangan berpura-pura jadi korban. Apa aku pernah bilang ingin berpacaran? Apa aku pernah mengungkapkan cinta padamu? Lagipula, kamu juga salah satu pelaku pembullyan. Jika kamu tidak bekerja sama denganku, Aono tidak akan mengalami hal seperti itu. Jika kita mempertimbangkan hubungan kita dengan Aono, kamulah orang yang paling jahat, apa kamu mengerti, dasar perempuan brengsek! Semuanya itu salahmu!” 

Setelah mengucapkan kata-kata kasar itu, percakapan kami berakhir. 

“Aku, kenapa aku membuang segalanya untuk orang seperti itu... Aku sudah melakukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.” 

Suara kesepian bergema di ruangan yang sepi.

 

※※※※

──Sudut pandang Kondo──

 

Setelah menutup telepon, aku mulai mengamuk. 

Merek asemua... mengapa mereka selalu bertindak semau mereka? Mereka lebih mempercayai orang lain daripada aku. Aku tidak bisa memaafkannya.” 

Di dalam kamar, berbagai barang berserakan akibat amukanku. Trofi dari masa SMP yang aku sayangi juga rusak. Sial, sial, sial. Bajingan. 

“Hah, hah. Sialan, anak-anak di klub sepak bola universitas, anggota klubku, Amada Miyuki, kuharap semuanya mendingan binasa saja.” 

Jika sudah begini, aku harus mengajak perempuan untuk keluar... 

Tapi karena Miyuki tidak bisa diandalkan, satu-satunya pilihan adalah Eri, gadis itu, atau juniornya. 

Tidak, gadis yang di telepon tadi tidak bisa. Aku tidak bisa menghadapinya. Jika aku menunjukkan kelemahanku, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. 

Sial, jika sudah begini, mendingan Eri saja. 

Tidak, aku baru saja bertemu dengannya, dan dia terlalu merepotkan sebagai pacar, jadi aku ingin menjaga jarak sedikit. Di saat-saat seperti ini, perempuan memang tidak bisa diandalkan. 

Mau bagaimana lagi. Jika sudah begini, aku harus menyebarkan rumor buruk tentang Aono menggunakan akun cadangan.”

Ada seseorang yang lebih rendah dariku merupakan kesenangan tertinggi sebagai penguasa. Cowok itu pada dasarnya hanya seperti budak. Seorang pria lemah yang sudah kehilangan Wanita dengan menyedihkan

Dengan pemikiran itu, aku membuka akun media sosial. Sebelumnya, linimasa dipenuhi dengan omongan buruk tentang Aono. 

Namun… 

“Hey, ternyata emang benar. Aono Eiji dan Ichijou Ai berkencan hari ini.” 

“Detailnya?” 

“Ketika aku pergi berbelanja di depan stasiun, mereka keluar dari kafe yang modis.” 

“Aku juga melihat mereka masuk ke bioskop.” 

“Jadi, mereka benar-benar pacaran, ya?” 

“Ichijou-san yang selalu cuek bebek dengan pria, kenapa dia mau berpacaran dengan Aono yang punya reputasi buruk?” 

“Aku mendengar dari teman sekelas Ichijou-san, sepertinya dia duluan yang menyukainya. Dia tampaknya melakukan banyak pendekatan pada si Aono.” 

“Karena Ichijou-san sampai begitu menyukainya, pasti ada sesuatu yang terjadi.” 

“Ngomong-ngomong, apa rumor tentang Aono itu benar? Sebenarnya, hanya ada foto-foto mencurigakan, kan? Apa jangan-jangan rumor itu salah?” 

“Aku juga merasa ada yang janggal dari awal. Aku sekelas dengan Aono-kun tahun lalu, ia sangat baik dan bukan orang yang suka melakukan kekerasan pada perempuan.” 

Rasanya jadi tidak begitu jelas, ya?” 

Tanpa kusadari, keadaannya telah berubah. Kenapa bisa begitu? Apa Ichijou Ai begitu dipercaya? Dia hanya seorang gadis kelas satu. Aku sudah menyebarkan rumor itu menggunakan berbagai akun anggota klub sepak bola, tetapi kekuatan jumlah bisa kalah dengan pengaruh satu gadis itu!? 

Itu mustahil. Kenapa Ichijou Ai begitu terpaku pada pria payah seperti orang itu? Ketika aku mencoba mendekatinya, dia tidak meladeniku dan bahkan mengeluarkan kata-kata kasar. Jadi, aku pun berkata, 

“Jangan sombong dulu, memangnya kamu tidak tahu kalau ayahku orang penting!!” 

“Aku tidak suka penampilanmu yang seolah-olah kamu akan menjalani kehidupan sendirian selamanya.” 

Dasar gadis yang mirip robot.” 

Dia bahkan mengabaikannya dan pergi begitu saja. Kenapa perempuan yang terlihat seperti robot bisa begitu populer di sekolah? Rasa ketertarikanku langsung hilang. 

Benar, meskipun perempuan dingin itu menjadi musuh, apa yang perlu aku takutkan!? Aku adalah Kondo, bintang sepak bola!! 

Belum. Masih ada cara untuk memperbaiki ini. Aku memposting beberapa tulisan untuk merusak reputasi Ichijou Ai. 

“Hey, semuanya, jangan tertipu. Ichijo Ai itu gadis yang berbahaya. Dia dingin sampai-sampai tidak seperti manusia, dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada pria yang ditolaknya.” 

Aku menyusup ke dalam percakapan dengan akun anonim. 

“Hah, ada orang yang merepotkan muncul.” 

Palingan ia pasti orang yang pernah ditolak Ichijo dan sekarang merasa dendam. Abaikan saja, abaikan saja.” 

Bukannya ia justru kelihatan mencurigakan?” 

Aku langsung diabaikan. 

Sial, sial, sial. Kenapa tidak ada yang mempercayaiku? Aku adalah raja sepak bola generasi berikutnya. 

Dengan frustrasi, aku akhirnya melempar smartphone ke jendela. Jendela itu pecah berkeping-keping, dan smartphone yang sudah rusak itu terhempas ke tanah. 

“Sial,” pikirku, lalu segera keluar untuk mengambilnya. Layar smartphone-ku sudah retak parah dan tidak bisa dinyalakan. 

Sekarang aku tidak bisa menghubungi perempuan mana pun. Ke mana lagi aku harus melampiaskan semua kejengkelan ini? Semua orang benar-benar bajingan. Karena mereka berhasil membuat orang jenius sepertiku menjadi semarah ini.

“Keparat. Sangat menjengkelkan!” 

Aku merasa semakin terasing, dan rasa frustrasiku semakin meningkat. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang menjawabku.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama