
Chapter 2 — Kehancuran Pihak Pelaku
──Pagi hari 7 September dari Sudut
Pandang anggota Junior
Tim Sepak Bola──
Kami
kembali ke ruang klub setelah selesai latihan seperti biasa. Rasanya memang melelahkan, tapi kami akan segera mengikuti turnamen besar,
jadi sekaranglah saatnya untuk bertahan.
Tim sepak
bola kami dulunya lemah sampai Kondo-senpai ikut
bergabung. Namun, berkat si jenius
luar biasa itu, level sekolah kami meningkat, dan tahun lalu kami bahkan bisa
berpartisipasi dalam turnamen nasional. Senpai
sudah menjadi pahlawan yang mengangkat tim sepak bola yang lemah di daerah kami
sampai ke tingkat nasional.
Kami
mendaftar di sekolah itu karena kami mengagumi Senpai, dan sejak tahun kedua
dan seterusnya, kami memiliki sekelompok pemain yang berprestasi di masa SMP.
Jika kita
mempertimbangkan bahwa kedalaman pemain kami lebih kuat dibandingkan tahun
lalu, seharusnya kami bisa mendapatkan hasil yang lebih baik di tingkat
nasional.
Kami
sangat mengagumi Kondo-senpai.
Oleh
karena itu, kami bisa melakukan apa saja demi dirinya.
Semua
tindakan kami, termasuk membully
Aono, merupakan perilaku untuk memuaskan Senpai.
Jika itu
bisa membuat Kondo-san senang, kami akan melakukan apa pun.
“Kondo-senpai memang hebat, ya. Padahal ia tidak pernah berlatih sama sekali, tapi masih bisa bermain sebaik itu.”
Aida
berbicara dengan semangat. Dirinya
bahkan lebih mengagumi Senpai
daripada aku. Ia hampir
seperti penggemar sejatinya.
“Benar banget, benar banget. Sentuhan lembut itu, ya.”
“Itu
sudah setara level J-League. Aku belum pernah melihat jenius seperti
itu. Senpai pasti akan menjadi harta karun bagi dunia sepak bola Jepang.
Pasti!”
Aku
tersenyum kecut mendengar nada bicara Aida yang bersemangat, dan sedikit
menenangkan diri.
Aku
berhasil melewati interogasi Takayanagi dengan mudah, tetapi aku mulai merasa
sedikit takut. Aku sadar betul kalau aku
orang yang pengecut.
Aida
memiliki pemikiran antusias bahwa Kondo-senpai tidak mungkin salah, jadi jika
aku membicarakan ketidakpastianku, dia pasti akan menertawakannya. “Dasar bodoh, Kondo-senpai mana mungkin melakukan kesalahan.”
“Oi,
ada amplop aneh di depan ruang klub, apa ada
yang menjatuhkannya?”
Mitsuta-senpai
dari kelas tiga bertanya dengan suara keras
kepada kami.
“Apa
itu? Tidak ada alamatnya juga. Gimana kalau kita
membukanya untuk melihat isinya?”
Ketika
aku menjawab, si Senpai
itu membalas, “Itu
juga benar,” dan
mulai merobek mulut amplop itu.
“Apa-apaan ini?”
Wajah Senpau seketika langsung
memerah, lalu segera pucat.
Tangannya
bergetar, dan amplop serta foto yang ada di dalamnya jatuh berserakan di dekat kakinya.
Kami
mengambil foto itu dan melihatnya bersama teman-teman. Kami seharusnya tidak melihatnya.
Mungkin lebih baik kalau kami tidak melihatnya. Informasi yang
tidak ingin kami ketahui ada di situ.
Foto
pertama menunjukkan momen ketika Kondo-senpai
masuk ke hotel cinta dengan Amada Miyuki, yang diambil secara diam-diam. Kedekatan mereka bisa terlihat jelas dari foto tersebut. Aida
dan aku merasa gelisah. Seingatku, Senpai
pernah mengatakan bahwa Amada mengeluh tentang
tindakan kekerasan dan penguntitan
dari pacarnya, Aono. Kami tidak tahu kapan foto ini diambil, tetapi hal ini membuat kami mulai berpikir bahwa mereka sebenarnya berpacaran.
Apa Aono benar-benar
melakukan kekerasan Amada?
Melihat
foto ini, sepertinya...
Justru
Senpai yang terlihat
selingkuh dengan Amada.
“Ini
tidak mungkin, ini pasti kesalahan.”
Aida
bergetar di sampingku. Aku tahu gambaran sempurna tentang Senpai dalam dirinya telah hancur.
Namun, jika dipikirkan dengan tenang, Senpai
telah berbohong kepada kami, dan kami telah melakukan hal yang sangat buruk.
“Tidak,
pertama-tama, ini jelas-jelas tindakan
asusila yang dilarang. Hotel cinta seperti ini tidak
bisa digunakan oleh orang di bawah delapan belas tahun. Jika ini terungkap, apa kita masih bisa ikut turnamen?
Meskipun kami bisa berpartisipasi sebagai tim, memangnya
kita masih bisa menang tanpa Kondo?”
Para senpai
dari kelas 3 mulai meraung. Mereka ingin mendapatkan hasil
baik di turnamen tahun ini demi bisa
mendapatkan rekomendasi ke universitas. Jadi, turnamen kali ini sangat penting.
“Aku
penasaran siapa yang mengambil foto ini? Mungkin salah satu
anggota klub? Jika tidak, mana
mungkin ada amplop yang tergeletak di depan ruang klub.”
Mitsuta-senpai
bertanya dengan nada tinggi.
Semua orang saling menatap dengan curiga. Mungkin salah satu dari mereka adalah
pengkhianat, pelaku yang mengambil foto ini.
Semuanya terlihat seperti musuh.
“Segera
tunjukkan foto berikutnya.”
Foto yang
aku pegang masih ada kelanjutannya.
Ketika
aku membalik foto itu, pemandangan yang lebih putus asa muncul dibandingkan
yang sebelumnya.
Ada
gambar Amada ditangkap oleh polisi, dan Kondo-senpai berguling-guling di tanah setelah ditahan oleh seorang polisi saat
mencoba melarikan diri.
“Ini
pasti bercanda, ‘kan? Ini akan
menjadi skandal besar. Pemain jagoan kita
ditangkap polisi? Kita semua akan dimintai pertanggungjawaban, dan rekomendasi
kita akan hilang. Tidak, masalahnya bukan cuma itu
saja. Ada kemungkinan klub
sepak bola akan dibubarkan... Jika itu terjadi, apa yang akan
terjadi pada kami!? Aku tidak menginginkan itu!”
Mitsuta-senpai
menangis histeris. Membubarkan klub?
Jika itu yang terjadi, bagaimana nasib masa
depan kami? Lagipula, mengapa Senpai sampai
ditangkap polisi? Mungkin kami terlibat dalam kejahatan. Si Aono mungkin tidak bersalah?
Jika demikian, justru kamilah yang bersalah...
Suara
masa depan cerah yang seharusnya ada baru saja runtuh berkeping-keping.
“Pelakunya. Pelaku yang mengambil foto ini.
Cepetan mengaku sekarang. Jika
tidak, aku akan membunuhmu.”
“Apa itu
kamu? Kamu
selalu tidak puas dengan para Senpa,
‘kan?”
“Untuk
apa kami berjuang di klub selama tiga tahun ini?”
Kecurigaan
semakin menyebar. Ruang klub seketika berubah menjadi medan perang. Kami saling curiga dan
mulai saling menyalahkan dalam neraka itu. Di tengah-tengah neraka seperti itu,
mantan pemimpin yang karismatik itu muncul.
※※※※
──Pagi
hari yang sama・Sudut
pandang Kondo──
Setelah
itu, aku pulang ke rumah setelah berurusan dengan polisi. Ayahku tetap tinggal
untuk menemani Miyuki. Aku diusir pulang karena situasinya tampak rumit. Lalu,
aku tidur nyenyak hingga hari pertandingan latihan tiba.
Namun,
meskipun aku sudah menghilangkan
stresku,
kejadian kemarin meninggalkan jejak tidak enak di tenggorokanku.
Aku
menuju ke klub. Sekolah SMA dari
provinsi lain kabarnya akan datang ke sini. Jadi, aku bisa mengalahkan
mereka...
Dan
bersenang-senang dengan wanita yang selalu siap mendukungku.
“Haa~,
hidup itu memang menyenangkan.”
Baiklah,
saatnya meredakan stres dengan mengalahkan lawan yang lebih lemah. Meskipun aku
masih mengantuk.
Aku
membuka pintu ruang klub dengan semangat
dan mendapati hampir semua anggota sudah berkumpul.
Tatapan
dingin yang berbeda dari biasanya menusukku.
“Apa-apaan
ini? Kalian semua.”
Mana mungkin mereka akan
menatapku seperti ini, karena seharusnya akulah yang
menjadi jagoan mereka. Ada
sesuatu yang tidak beres.
“Kondo,
dasar keparat!!!”
Si kapten,
Watanabe, mencengkeram kerah
bajuku dan langsung mendorongku ke lemari loker.
“Sakit tau!!
Apa yang kamu
lakukan, brengsek?!”
Aku memprotes karena tubuhku tertekan ke
lemari. Meskipun dirinya kapten,
ada batasan untuk apa yang boleh dilakukan.
“Diam!
Apa yang sudah kamu lakukan
di saat-saat penting seperti ini!!”
“Hah?”
Aku tidak
mengerti apa yang ia bicarakan.
Apa mereka sudah gila?
“Jangan
berpura-pura bego! Lihat
foto ini!”
Ia
berkata demikian sambil menunjukkan foto yang memperlihatkan aku dan Miyuki memasuki hotel cinta, serta momen ketika
aku ditangkap oleh polisi.
Apa-apaan ini? Siapa yang mengambilnya...
Jangan-jangan
ada pengkhianat di antara kami. Seketika darahku terasa dingin.
Tidak,
sampai sejauh mana ini terungkap? Jangan-jangan, guru juga mengetahuinya? Atau...
Ayahku
seharusnya bisa menutupi ini, tapi foto yang hampir membuatku ditangkap ini
diambil. Ini gawat, benar-benar gawat.
Kalau
begini, rekomendasiku akan hilang. Masa depan yang gemilang akan tertutup.
“Aku
tidak tahu, itu bukan aku!”
Kata-kata
yang tidak masuk akal keluar dari mulutku. Padahal itu tidak mungkin.
“Mau dilihat
dari sudut mana pun, jelas-jelas
itu kamu! Berhentilah bercanda!”
Dia
mencengkeram kerah bajuku dan mendorongku ke loker lagi. Rasa sakit tumpul
menyerangku berulang kali.
Penghinaan,
ini benar-benar penghinaan.
Akulah
raja di klub ini. Siapa pun yang melawan raja akan dihukum mati!! Bagaimana jadinya jika aku,
si jagoan dan raja, terluka di sini?
Masa
depan kalian ada di tanganku.
“Cerewet!”
“Karena
ulahmu, apa
jadinya nasib turnamen terakhir kami? Aku sudah
mengandalkan rekomendasi beasiswa
olahraga. Jika aku mulai belajar untuk ujian sekarang, semuanya sudah terlambat. Apa yang akan kamu lakukan jika kami tidak bisa
ikut turnamen karena tindakan burukmu? Jika klub dibubarkan, hidupku akan
berakhir. Kembalikan masa mudaku, kembalikan masa muda kami!!”
“Sejak
tadi aku diam saja, tapi kau berisik banget. Kita
bisa sampai sejauh ini berkat bakatku yang
cemerlang, dan kamu
masih saja mengoceh.”
Aku
mendorong tubuh Watanabe dengan keras. Aku tidak bisa merasa tenang tanpa memukulnya.
“Brengsek!”
Watanabe
menatapku dengan penuh niat membunuh. Aku membalas tatapannya.
“Dengar
baik-baik. Pihal sekolah
tidak bisa menghukumku. Ini hanya masalah hubungan asusila yang terlarang. Di usia
SMA, banyak yang melakukannya. Paling-paling hanya dapat skorsing. Tidak ada
dampak pada klub. Lagipula, ayahku adalah anggota dewan. Dia warga negara kelas
atas. Skandal seperti ini bisa dengan mudah ditutupi. Derajatku dan kalian benar-benar berbeda!
Jangan coba-coba membicarakanku dengan nilai-nilai kalian.”
“Hah?!”
“Pihak sekolah
juga pasti tidak bisa berbuat apa-apa padaku.
Jika mereka menghukumku walaupun
aku berprestasi di sepak bola SMA, itu akan menjadi skandal besar dan merusak
reputasi sekolah. Para guru konservatif tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
Aku
berbicara cepat.
“Ada benarnya juga!”
Salah
satu kouhai berkata begitu. Ya, pasti
begitu. Aku merasa terbuai oleh kata-kata itu. Beberapa orang bahkan bertepuk
tangan seolah menyemangatiku.
Rasanya menyenangkan. Ini membuatku sedikit
lebih baik.
“Dengar,
aku tak terkalahkan. Orang-orang punya harapan yang berbeda padaku daripada
kalian, dasar para pecundang!!”
Benar,
aku istimewa. Semua orang tahu ayahku akan menyelesaikannya. Bakat sepak bolaku
akan menyelamatkanku.
Tidak ada
yang bisa melawanku!!
“Kondo!”
Meski
begitu, Watanabe masih berusaha mendekatiku, jadi aku
berkata padanya.
“Kalau gitu,
aku tanya, kalian semua adalah budak-budakku,
‘kan? Kalian terlibat dalam perundungan
Aono, itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah.
Apa yang akan terjadi jika itu terungkap? Dan jika aku tidak ada, memangnya bisakah kalian menang di
turnamen? Hei, hei, memangnya
kalian bisa menang? Jika aku pergi, apa
kalian masih bisa mendapatkan rekomendasi?"
Saat aku
menghasutnya, Watanabe bergetar marah dan
terdiam. Racun yang aku lontarkan mulai berpengaruh. Benar, orang-orang biasa
seperti kalian harus menerima bahwa mereka dikuasai olehku. Kalian mengerti, ‘kan? Sekarang, keluarkan kata-kata
penuh kemarahan dan terimalah
aku. Jadilah budakku.
“Sialan!”
Watanabe
mengucapkan itu dengan penuh penyesalan, berusaha menepisnya. Jangan kira kamu bisa menepisnya seperti itu. Watanabe menendang tempat sampah
dengan keras, membuat isinya berantakan. Efeknya luar biasa. Setelah
pertandingan, aku akan memaksanya untuk bersujud dan meminta maaf padaku. Aku takkan merasa puas tanpa membuatnya melakukan itu!!
“Yang
penting kalian mengerti. Benar, tanpa aku kalian tidak bisa menang. Jadi,
diamlah, dasar pecundang!”
Aku
mengejek anggota klub dan mulai berganti pakaian dengan seragam.
Aku
adalah raja! Sekarang kalian semua mengerti, ‘kan,
dasar rakyat jelata!!
Hak hidup
dan mati mereka sepenuhnya ada di tanganku. Benar, mereka pada dasarnya adalah
budak. Apapun yang kulakukan kepada mereka, semuanya akan diizinkan. Malahan itu akan menjadi kebahagiaan
bagi mereka. Pasti begitu.
“Kalau
begitu, kalau kamu membuat
kami dirugikan di masa depan, kamu
harus bertanggung jawab!”
Watanabe
berkata dengan penuh rasa putus asa. Ya, ya, budak yang satu ini banyak sekali mengoceh.
Aku hanya tertawa dan mengabaikannya.
“Kalau
begitu, sebaiknya kamu perlu bersiap-siap untuk merengek dan meminta maaf padaku juga!!”
Aku
mengancam Watanabe. Posisi sepertiku tidak boleh diremehkan.
Tidak
apa-apa, aku masih baik-baik saja.
Aku adalah orang-orang
terpilih!
Aku akan
melepaskan semua stres yang menumpuk ini dalam pertandingan latihan ini. Dan
aku akan membuktikan kegunaanku.
Dengan
gemetar, aku menuju lapangan.
Tidak
apa-apa, ini adalah getaran semangat.
※※※※
──Hari
yang sama・Sudut
pandang Endou──
Dari
ruang kelas kosong di gedung sekolah, aku menyaksikan pertandingan latihan tim
sepak bola.
Sekolah
kami adalah sekolah unggulan, jadi bahkan di hari libur, mereka membuka ruang
kelas sebagai ruang belajar. Sebagian
besar siswa belajar di ruang khusus bimbbel,
jadi hampir tidak ada orang di ruang kelas kecuali kelas tiga.
Karena
itulah,
tempat ini sangat cocok untuk mengawasi.
Aku
membawa teropong untuk memeriksa keadaan tim sepak bola. Seperti yang kuperkirakan, Kondo
tidak mendapat umpan lagi, dan secara keseluruhan, aktivitas tim sangat menurun. Foto kemarin tampaknya
memberikan dampak yang cukup besar.
Kondo
juga semakin dikucilkan karena
keadaan tidak berjalan dengan baik dan justru
memberikan gol tambahan satu per satu kepada lawan yang lebih lemah.
Kekalahan
yang cukup memalukan. Jika seluruh tim sepak bola terlibat dalam perundungan,
itu sangat menyenangkan.
Aku
melihat mantan pacarku di dekat
lapangan yang datang
untuk memberi dukungan. Dia tidak lagi memiliki bayangan masa lalu, dan mantan
pacar yang dulunya akrab itu menunjukkan penampilan yang sepenuhnya terpuruk,
bahkan membuatku merasa jijik.
Sepertinya,
rencanaku berjalan dengan baik. Kondo yang hancur di sini pasti akan mencari
pelampiasan stres padanya. Aku bahkan merasa sangat
kasihan padanya ketika melihat mantan pacarku yang hanya bisa bergantung pada
Kondo meskipun dia cuma menjadi
mainannya.
Jika
semuanya berjalan sesuai rencana, kali ini aku akan melihat sesuatu yang
menarik.
Dan, aku
akan menyampaikan hal menarik itu kepada Amada. Dengan begitu, Kondo akan
semakin hancur. Dirinya akan
kehilangan dua pilar besar, yaitu tim sepak bola dan perempuan. Meskipun aku
merasa bahwa ini hanyalah balas dendam yang
masih ringan dibandingkan dengan Aono yang kehilangan segalanya dan berada
dalam situasi negatif karena perbuatannya.
Sebenarnya,
mengumpulkan bukti kuat bahwa
Kondo merupakan otak perundungan itu akan sulit.
Seluruh tim sepak bola pasti terlibat, jadi kecuali ada sesuatu yang sangat
besar, anggota tim tidak akan mengaku demi melindungi diri mereka sendiri.
Oleh
karena itu, tujuan dari rencana kali ini adalah membuat para pelaku saling
curiga dan mengguncang mental
mereka, sehingga mereka secara perlahan menghancurkan diri mereka sendiri.
Aku juga
telah memberikan informasi kepada pihak sekolah. Dengan begini, tekanan yang diberikan akan semakin berat. Dari kepanikan itu, seseorang
mungkin akan melakukan tindakan yang sangat merusak dirinya sendiri. Jika itu yang terjadi, itu akan menjadi
keuntungan bagiku.
Jika
kecurigaan muncul, pasti akan ada orang yang berkhianat.
Kondo
akan dikhianati oleh orang-orang terdekatnya dan dikucilkan secara sosial.
“Berikan
aku pertunjukan terbaik. Dasar sampah-sampah
busuk!”
Hampir
semua orang di tempat itu adalah target balas dendamku.
※※※※
──Lapangan・Sudut
Pandang Kondo──
“Apa-apaan, ini?”
Di papan
skor tertera angka satu banding empat.
Seharusnya,
kami sudah menang telak.
Kenapa,
kenapa, kenapa?
Bagaimana
bisa kami sampai kebobolan
empat gol melawan tim yang lebih lemah dan sekarang berada di waktu tambahan
babak kedua? Bangku cadangan seharusnya penuh dengan pujian untukku, tapi
sekarang suasananya benar-benar sepi, bahkan lebih dari suasana duka, menuju
kehampaan.
“Mana
mungkin aku bisa menerima hasil seperti ini!?”
Tendangan
jarak jauhku di menit-menit terakhir melambung jauh di atas
tiang gawang.
Pada
saat itu, bunyi peluit akhir pertandingan berbunyi tanpa ampun.
“Setelah
semua kesombongan itu, akhirnya malah meleset jauh, kamu menendang bola ke mana sih?”
Aku
mendengar suara ejekan dari Watanabe.
“Apa
katamu!?”
Saat aku
memelototinya dengan murka...
“Makanya aku
bilang, orang-orang kelas atas memang beda!!
Kesadaran mu terlalu
tinggi, sehingga kami yang cuma rakyat jelata ini tidak bisa mengejarmu!”
Watanabe
tidak gentar, dan
mengejekku tanpa ampun.
Saat aku
marah dan mencoba memukulnya, rekan satu timku dengan panik menghentikanku. Tim
lawan hanya bisa tertegun melihat kejadian itu.
Tim kami
benar-benar mengalami keruntuhan total. Yang tersisa hanyalah kenyataan pahit
bahwa ini adalah awal dari kehancuran kami......
Frustrasi
dengan kekalahan kami, aku membiarkan amarahku menguasai diriku dan menyalahkan
orang-orang di sekitarku.
“Apa-apaan ini, kenapa? Kenapa tidak ada
yang mengoper padaku!?”
Kami yang
kalah telak merasa frustrasi dan kembali ke ruang klub. Aku menendang tempat
sampah dengan keras. Tempat sampah yang sudah berkali-kali kutendang hari ini
sudah berubah bentuk menjadi penyok.
“Oi,
Mitsuta! Kenapa kamu tidak mengoper padaku!?”
Aku
melampiaskan kemarahanku kepada Mitsuta,
salah satu gelandang dan budakku.
“Tapi
Kondo, kamu sedang dijaga ketat, jadi tidak ada
jalur operan!”
“Dasar botak
plontos, bodoh, lamban. Kalau begitu, kamu harus bergerak terus dan
menciptakan jalur operan. Kerja sedikitlah,
dasar sampah!”
“Maafkan
aku!”
Dasar
orang-orang yang tidak berguna. Sudah seharusnya kalian
bekerja keras untuk membuatku bisa beraksi. Kenapa kalian tidak bisa melakukannya?
Sebenarnya,
tim ini adalah tim yang menjadikanku raja. Prajurit-prajurit biasa seperti
kalian tidak akan bisa menang jika tidak bergerak dengan penuh pengabdian
untukku, dan tim akan runtuh. Yang penting adalah seberapa banyak kalian
berkeringat untuk membuatku bebas dari penjagaan lawan.
Kenapa
hal yang begitu sederhana tidak bisa dimengerti mereka!?
Jika aku berusaha bergerak, di babak kedua aku akan
kehabisan tenaga dan tidak bisa berfungsi. Kenapa kalian tidak mengerti itu!?
“Walaupun
kamu bilang begitu, Kondo-senpai,
lawan hari ini telah mempelajari tim kita
dengan baik, dan kamu terus
kehilangan bola. Selain itu, setelah kamu
kehilangan bola, tim lawan tidak
menjagamu sama sekali.”
Seseorang
dari kelas dua berkata pelan. Aku merasa
darahku mendidih dan memukul loker
pakaian.
“Siapa
yang baru saja ngedumel begitu padaku!?
Apa itu kalian, anak-anak kelas dua!?”
Para anak
kelas dua tidak ada yang berani menatapku.
“Sialan.
Pada dasarnya, lini depan sama sekali tidak berfungsi, jadi kami tidak bisa
menyerang. Gol yang kami dapatkan hanya dari penalti yang aku peroleh. Kalau terus begini, kami tidak akan
memenangkan pertandingan yang seharusnya kami menangkan. Hah, dan kalian
berharap mendapatkan beasiswa olahraga? Watanabe. Jangan anggap remeh! Kalian
pada dasarnya berada di level itu. Kalian seharusnya cuma bisa digunakan olehku.”
Pada akhirnya,
Watanabe tidak bisa melakukan apa-apa. Meskipun ia mengatakan hal-hal yang songong. Ah, itu lucu sekali.
Mereka segera kehilangan bola. Mereka tidak bisa menyerang tanpa melewatkanku.
Itulah sebabnya mereka tidak berfungsi!!
Namun,
mereka masih berani berbicara sombong.
“Apa
kenapa kalian tidak ada yang berani mengatakan sesuatu?
Kalian cuma ikan remora-ku. Jika kamu ikan remora, lakukanlah tugasmu
tanpa mengeluh dan buatlah Raja bersinar. Apa kalian bahkan tidak bisa
melakukan itu, dasar para pecundang
tidak berguna!”
Ah,
rasanya lega sekali. Tidak
peduli seberapa hebatnya dirimu sebagai kapten, tidak ada yang bisa melawan
raja. Memang sudah sewajarnya. Akhirnya
kalian mengerti pentingnya keberadaanku!!
Kalian ingin
merebut tempatku dengan menggunakan skandal
tentang hubungan perempuan? Kalian
masih seratus tahun terlalu awal!!
“Berisik.”
Watanabe,
meskipun gemetar, masih tetap
melawan.
“Hah?”
“Mulutmu itu
berisik, dasar
sampah! Aku tidak bisa terus bersamamu lagi.”
Watanabe
yang sangat marah mulai meninju
perutku. Karena tindakannya terlalu
tiba-tiba, aku tidak bisa melakukan apa-apa dan menerima pukulan Watanabe.
Dengan
serangan tanpa perlindungan, aku merasakan dampak
guncangan dan rasa sakit
yang luar biasa, sehingga aku terjatuh sambil memegang perutku. Rasa mual yang
hebat melanda. Tak sengaja, suara lemah keluar dari mulutku. Kenapa aku, yang
adalah raja, harus dipukul oleh orang ini? Rasanya tidak
masuk akal.
“Oek!”
Pukulan telak itu membuat kerongkonganku terasa
panas. Karena rasa sakit yang luar biasa, aku bahkan tidak bisa bernapas. Jika
dipikir-pikir, aku sudah beberapa kali memukul orang lain, tapi belum pernah
dipukul. Rasanya sakit. Apa rasanya benar-benar
sesakit ini?
Aku berhasil menahan diri untuk tidak muntah,
tetapi melihat Watanabe yang menatapku dengan napas kasar membuatku merasa
takut.
“O-Oi,
semuanya,
kalian lihat, ‘kan!
Ia baru saja melakukan
kekerasan. Aku akan melaporkannya pada guru
pembimbing. Dengan begitu,
Watanabe bakalan habis!”
Namun,
para anggota klub tidak ada yang setuju denganku. Sebaliknya, mereka
memandangku dengan tatapan dingin. Kenapa? Bukankah aku seharusnya raja? Kalian
tidak akan bisa pergi ke tingkat nasional tanpa diriku.
Apa kalian baik-baik saja dengan itu? Jika tidak bisa maju ke tingkat nasional, kalian semua akan kehilangan semua
rekomendasi dan ujian masuk universitas. Jika kalian ingin meminta maaf,
lakukanlah sekarang.
Aku
adalah orang yang murah hati, jadi aku akan memaafkan kalian. Jadi, tuntutlah
Watanabe!!
“O-Oi,
semuanya, kalian melihatnya, ‘kan?
Di antara banyak anggota klub ini, kapten telah melakukan kekerasan terhadap jagoan tim!?”
Namun,
tidak ada yang berkata apa-apa.
Sebaliknya, seluruh tim tertawa dingin dan
mengejekku.
Terutama Watanabe,
ia menatapku dengan senyuman dingin
dan berkata,
“Hah,
kamu terjatuh dan kepalamu kepentok? Kamu cuma terjatuh, kan? Semua orang juga setuju, ‘kan?”
MPara
anggota tim mengangguk pelan mendengar ucapannya. Jangan meremehkanku. Aku
adalah harapan kalian.
Akulah yang telah mendukung tim yang
lemah ini. Tanpa adanya campur tanganku,
kalian akan kalah telak di turnamen daerah. Selama ini kalian bisa menikmati
manisnya kesuksesan, dan sekarang itu semua akan hilang.
Namun,
mereka benar-benar tidak mengerti hal itu. Pemberontakan rakyat jelata terhadap raja telah terjadi.
“Benar sekali.”
“Senpai
hanya terjatuh karena jengkel.”
“Karena
semua orang mengatakan begitu, mungkin memang benar.”
Mereka
memandangku dengan tatapan mata
penuh niat jahat. Bahkan ada junior yang mengejekku.
Mereka
ini...
“Begitu, jadi kalian berniat melawanku, ya?
Jika memang begitu, bersiaplah. Aku pasti
akan membuat kalian menyesalinya.”
Aku menggenggam kelemahan mereka. Tidak masalah.
Nanti jika aku mengancam mereka, mereka pasti akan segera merengek memohon. Aku hanya perlu
mengancam mereka dan menunggu sampai mereka tenang.
“Dengarkan baik-baik,
dasar raja dungu.
Kami menuruti permintaanmu karena
kamu membuat kami menang. Tanpa
kemampuan untuk membawa tim menuju kemenangan, kamu
sama sekali tidak ada nilainya. Pahami itu, dasar bodoh!”
Watanabe
berteriak padaku, tetapi aku mengabaikannya. Kupikir
itulah cara terbaik untuk menyampaikan
kemarahanku.
Aku keluar
dari ruangan klub dengan perasaan kesal. Tidak ada yang
mengejarku. Sial, aku berpikir untuk menghubungi Miyuki, tetapi sepertinya
lebih baik tidak menghubunginya setelah kejadian kemarin.
Kalau
begitu, aku akan menghubungi si gadis gampangan nomor
1. Ngomong-ngomong, dia bilang akan datang untuk mendukungku hari ini. Gadis itu sangat praktis, jadi meskipun aku tidak
memanggilnya, dia pasti akan menunggu di suatu tempat.
“Kondo-kun!”
Sudah kuduga
dia ada di sini. Wanita murahan yang
kurebut dari teman masa kecilnya di SMP.
Ikenobe
Eri.
Sebelum
bertemu denganku, dia terlihat seperti gadis cantik dengan rambut panjang
hitam, tapi dia mewarnai rambutnya menjadi cokelat dan memotong rambut
panjangnya sesuai dengan seleraku.
Setelah
itu, dia putus dengan teman masa kecilnya dan segera berpaling ke orang lain.
Dia bahkan tidak pergi ke sekolah selama dua bulan di masa-masa penting ujian kelas tiga SMP, yang mana itu sangat konyol. Meskipun begitu, dia tetap
berusaha keras belajar karena ingin masuk ke SMA yang sama denganku. Ya, pada
saat itu, dia sudah kehilangan semua hubungan pertemanan nyadi SMP, dan setelah masuk SMA,
dia hampir tidak belajar, sehingga kemampuannya menurun drastis.
Walaupun dia
sudah memberikan segalanya untukku, tetapi pada akhirnya, dia hanya
menjadi wanita menyedihkan
yang tidak bisa kembali
bersamaku dan terjebak dalam hubungan yang menguntungkan. Aku sudah merampas semua masa mudanya yang berharga. Dalam arti
tertentu, wanita ini adalah simbol kekuatanku. Meskipun kehilangan segalanya,
dia masih mencintaiku. Anjing setia terbaik.
Sebelum
berpacaran denganku, dia adalah siswa teladan yang tidak pernah memakai riasan, tapi sekarang dia terlihat
berlebihan dan bahkan kelihatan norak.
“Pertandingan
latihan tadi cukup mengecewakan. Anggota lainnya benar-benar tidak ada gunanya.
Menyebalkan.”
Sifatnya
yang seharusnya baik kepada semua orang bisa melenceng
jauh seperti ini. Sejujurnya, sampai sejauh ini, aku
bisa membuangnya kapan saja, tetapi dia seperti medali bagiku. Sementara itu,
kami terus menjalani hubungan yang tidak jelas.
“Ah,
benar. Lagipula, cuma
Eri yang mengerti diriku.”
Begitu
aku mengatakan itu, dia langsung mengibaskan ekornya padaku. Ayo, sekarang waktunya untuk bersenang-senang
dan melepaskan stres.
※※※※
──Setelah
pertandingan・Ruang
klub sepak bola・Sudut pandang Shimokawa──
Pada
akhirnya, kami benar-benar kalah dalam pertandingan latihan. Kekalahan telak
melawan lawan yang lebih lemah.
Pelatih
sangat marah dalam rapat rim, dan melemparkan botol plastik kepada kami. Namun, kami tidak bisa
memikirkan itu.
Apa yang
akan terjadi jika kami terus berantakan seperti ini? Aku yakin pasti ada seorang
pengkhianat. Jika itu yang terjadi,
semua orang akan mengetahui
bahwa kami telah membully
Aono. Jika itu terjadi, bukan hanya kami tidak bisa ikut turnamen, kami juga
bisa mendapat sanksi dari sekolah. Jika itu terjadi, kami yang menjadi pelaku
utama mungkin tidak hanya akan dihukum skorsing. Bagaimana jika kami
dikeluarkan? Apa yang harus kukatakan kepada orang tua? Setelah masuk ke
sekolah SMA yang bergengsi, apa aku akan
terjatuh cuma karena hal seperti ini!?
'Jangan
terpedaya oleh kata bullying dalam kasus ini. Ini adalah kejahatan yang tidak
bisa dianggap sebagai kenakalan anak-anak atau lelucon. Ingatlah itu baik-baik.'
Ucapan
Takayanagi-sensei menusuk
hatiku dan berulang kali terngiang-ngiang
di kepalaku.
Kami
berhasil lolos dari penyelidikan pihak sekolah sebelumnya karena belum
ada bukti yang menentukan, tetapi situasi ini sangat buruk. Terlalu berbahaya.
Kapan pengambil foto tadi akan melaporkan kepada
guru? Tidak, mungkin ia sudah melaporkannya.
Jika itu terjadi, akan ada sedikit ketidaksesuaian dalam kesaksian kami. Pernyataan kami sudah sempurna sampai
sekarang, tetapi jika mulai menunjukkan keretakan, kami harus segera melarikan
diri dari penyelidikan selanjutnya sambil berhati-hati agar kesaksian
masing-masing tidak bertentangan.
Setelah
rapat tim selesai dan pelatih pergi, kami
terdiam dalam suasana berat di ruang klub. Tiba-tiba, aku merasa cemas apa kami
bisa lolos dari situasi ini.
“Mustahil.
Mana mungkin kita bisa menyembunyikannya.”
Kata-kata
yang terucap tanpa sadar itu membuat Aida, teman sekelasku, menatapku dengan wajah
terkejut.
“Hei,
apa maksudmu? Mustahil... Jangan bilang kamu
akan mengkhianati Kondo-senpai dan kami!!"
Ia
berteriak dengan suara histeris seolah terjebak dalam delusinya.
Mitsuta-senpai dan kapten juga
mendekatiku. Anggota klub lainnya juga.
“Bukan,
bukan itu. Aku tidak berniat mengkhianati. Tapi, aku kehilangan kepercayaan
diri untuk lolos dari penyelidikan selanjutnya.”
Itu
adalah alasan yang menyakitkan. Suaraku bahkan terdengar
gemetaran.
Kenapa
aku mengucapkan kata-kata itu? Kalau
aku mengatakannya di tempat seperti ini yang membuat semua orang curiga, aku pasti akan dikorbankan......
“Jangan
bercanda. Kamu dan
Aida yang dengan semena-mena menggambar di meja Aono. Jangan sampai menyusahkan
kami juga.”
Mitsuta-san menarik seragamku dengan
keras.
“Tapi,
Mitsuta-san juga bilang untuk
melakukannya.”
“Hah,
kamu berani membantah Senpai-mu? Kamulah
yang paling bersalah, jangan lemparkan tanggung jawab padaku. Ambil tanggung
jawabmu sendiri, aku tidak akan membiarkanmu
mengaku. Jika tidak bisa menyembunyikannya, lebih baik kalian mati. Ambil
tanggung jawab terhadap semua orang dan mati. Dengan begitu, kalian tidak akan
diselidiki lebih lanjut.”
“Tidak
mungkin!”
Seseorang
pasti akan membantuku. Atau begitulah yang kupikirkan. Namun, tidak ada yang berusaha
menghentikan senpai. Semua orang menatapku dengan tajam seolah-olah aku yang paling bersalah, lalu kapten membuka
mulutnya.
“Mitsuta, cukup sampai di situ saja. Kamu
mengerti ‘kan,
Shimokawa? Jika kamu menjadi
lemah begitu, kami juga akan hancur. Jangan
bicara sembarangan.”
Kenapa
hanya aku yang disalahkan? Lagipula, kapten juga tidak menghentikanku. Dirinya bahkan secara aktif menyebarkan
rumor melalui akun rahasianya. Apa cuma
aku satu-satunya yang bersalah?
“I-ya.”
Aku tanpa
sadar menyerah pada tekanan di sekitarku. Perasaan
takut dan kecemasan semakin menguasai pikiranku. Jika
sudah begini, mungkin aku harus mengaku saja dan meminta bantuan guru. Jika aku
bilang bahwa aku tidak bisa berpura-pura melihat apa yang terjadi di klub sepak
bola karena aku juga akan diintimidasi, apa mereka akan mempercayaiku?
Di dalam
hatiku, keinginan untuk melindungi diriku sendiri
dengan cara yang sangat kotor semakin menguat.
Namun,
sepertinya anggota klub sepak bola lainnya sepakat untuk menyembunyikan
kebenaran yang tidak menguntungkan kali ini. Mereka tampaknya masih percaya bahwa
itu tidak akan pernah ketahuan.
“Pertama-tama,
kita harus mencari siapa yang mengambil foto ini. Jangan-jangan, itu salah satu
anggota klub?”
Kapten
terus menanyai semua orang, dan mereka menggelengkan kepala. Jika memang ada pelakunya, mereka tidak mungkin mengaku
dengan jujur. Lagipula, semua orang terlihat mencurigakan. Mungkin para pemain cadangan yang merasa iri dan
ingin menghancurkan diri mereka sendiri, atau mungkin ini adalah ulah siswa kelas satu yang menyimpan dendam terhadap Senpai kelas tiga.
Benar,
untuk sementara, kita bisa menjadikan pengkhianat itu sebagai pelakunya.
Biarkan orang itu yang disalahkan atas semua ini.
“Senpai,
mari kita segera cari pelaku yang mengambil foto ini. Kita harus menemukannya
dan menghajarnya agar tidak bicara!! Kalau terus begini, kita semua akan
hancur. Bukannya anak-anak
kelas satu itu mencurigakan?”
Aku tanpa
sadar mengungkapkan semua yang ada di pikiranku. Setelah tadi dibilang mati,
aku ingin mengalihkan kemarahan anggota klub kepada seseorang.
Aida tiba-tiba
mendekati seorang siswa kelas satu.
“Kalau
dpikir-pikir, Ishigami. Bukannya itu
kamu yang ngedumel
tentang Kondo-senpai!”
Serangan
itu ditujukan kepada Ishigami, siswa kelas satu yang
suka bercanda. Bagus, ini langkah yang tepat. Dengan begini, aku aman.
Ishigami
tampak panik sejenak dan mulai menyalahkan orang lain. “Aku tidak melakukan hal seperti
itu. Lagipula, Chiyoda juga
berkata buruk bersamaku!”
Anggota
klub sepak bola yang sudah terjebak dalam suasana curiga mulai saling menyalahkan satu sama lain. Situasinya jadi semakin memburuk dari
sebelumnya.
Klub
sepak bola benar-benar hancur. Teman-teman yang sebelumnya memiliki tujuan yang
sama kini saling curiga, berusaha melindungi diri
mereka sendiri, dan mulai melakukan sesuatu yang mirip dengan
pemburuan penyihir.
※※※※
──Beberapa
jam kemudian・Sudut pandang Miyuki──
Kemarin
aku menghabiskan waktu di kamar rumah sakit,
dan aku pulang ke rumah untuk
merapikan barang-barang. Aku secara
kebetulan bertemu dengan teman lama yang sedang berlari di depan rumahku. Ada
satu lagi teman masa kecil yang tidak ingin kutemui.
Imai
Satoshi. Sahabat Eiji dan juga teman
masa kecilku sejak sekolah SD.
“Satoshi-kun...”
Aku sudah
tahu apa yang ingin dikatakannya.
Pada akhirnya, saat ini tiba juga. Hari
di mana aku akan kehilangan segalanya.
“Entah
kenapa, rasanya sudah lama ya kita
tidak mengobrol begini, Miyuki. Kamu tahu apa yang ingin kukatakan, ‘kan?”
“Iya.”
Aku
ditolak oleh ibuku, dan ditakdirkan untuk kehilangan segalanya. Dan itu berarti
aku juga akan kehilangan teman-temanku.
Mau bagaimana lagi.
Satoshi-kun
pernah diselamatkan oleh
Eiji. Jadi, dirinya pasti
akan membantu Eiji dalam situasi ini.
Aku sangat memahami hal itu karena
akulah orang yang paling dekat melihat hubungan mereka.
“Sudah
kuduga. Aku tidak bisa lagi menganggapmu sebagai teman lagi. Itulah yang ingin kukatakan dengan
jelas. Terima kasih atas semuanya sampai sekarang.”
Dirinya dengan tegas menyatakan pemutusan
hubungan kami, lalu pergi. Aku merasa ini
sangat sesuai dengan kepribadiannya.
Kata-kata perpisahan yang jelas, meskipun penuh kemarahan, menunjukkan posisi
masing-masing.
Aku
berlari ke pintu masuk, terjatuh, dan menangis sejadi-jadinya.
Mengapa
semuanya harus berakhir seperti ini?
Mengapa
aku melakukan hal seperti itu?
Penyesalan
terus menguasai hatiku.
Aku ingin
melanjutkan hubungan yang bahagia
dengan Eiji seperti sebelumnya.
Aku tahu
akulah yang salah. Tapi, saat aku
menjalin hubungan yang lebih mendalam
dengan Senpai, aku sangat takut jika
semua ini terungkap dan hubunganku dengan Eiji berakhir.
Karena
itulah, aku tidak bisa membiarkan
hubunganku dengan
Kondo-senpai terungkap. Aku bahkan sampai berbohong karena takut
kehilangan segalanya.
Hubungan
kami mungkin akan berakhir begitu saja setelah Senpai lulus dari SMA. Aku merasa kasihan pada Eiji, ini cuma hubungan main-main yang sesaat.
Dengan cara berpikir seperti itu, aku mencoba membenarkan pengkhianatanku
terhadap Eiji.
Rasanya
sangat disayangkan jika tidak bersenang-senang di
masa muda.
Tidak masalah meski aku sudah memiliki pacar yang kucintai.
Selama kami saling mencintai dengan
tulus, semuanya baik-baik saja.
Kondo-senpai
telah menyiapkan jalan keluar untukku. Jadi, aku memanfaatkan kesempatan itu.
Hari itu.
Hari di mana Eiji memergoki perselingkuhanku.
Hatiku
hancur. Aku tidak akan pernah bisa kembali pada
masa-masa bahagia itu. Kecemasan dan penyesalan tentang apa
yang akan terjadi jika aku kehilangan Eiji. Karena, aku telah menghabiskan
lebih dari setengah hidupku bersamanya.
Semuanya sudah berakhir. Hatiku yang
dikuasai oleh perasaan pasrah
mengambil pilihan yang egois.
Demi
mengatasi ketakutan ditolak oleh Eiji, aku dengan mudah mencari senpai yang
seharusnya mencintaiku. Jika aku tidak bisa lagi memiliki hubungan bahagia
dengan Eiji, maka aku sudah tidak peduli apa pun yang terjadi. Keinginan
untuk hancur dan menunjukkan diri. Itulah yang menciptakan penyesalan seumur
hidup ini.
Dan akhirnya, aku kehilangan segalanya.
Aku
berusaha melindungi semuanya dengan berbohong,
tapi pada akhirnya aku kehilangan
segalanya. Semua yang sangat berharga bagiku... Jika terus begini, aku juga
akan segera kehilangan posisi sebagai siswa teladan yang ingin kulindungi.
“Aku
ingin kembali, aku ingin kembali.”
Aku ingin
kembali ke hari itu. Merayakan ulang tahun Eiji dengan benar dan kami berdua tertawa
bahagia bersama.
Aku ingin
kembali ke masa-masa sebelum bertemu
Kondo-senpai. Aku ingin kembali ke diriku yang murni sebelum aku mengkhianati Eiji.
Lagipula,
cuma Eiji satu-satunya yan gkumiliki.
“Seandainya
saja aku tidak bertemu senpai, aku pasti masih bisa tertawa bahagia
bersama Eiji hingga sekarang.”
Aku
sangat membenci diriku yang berpikir seperti itu.
Aku tidak
merasakan apa pun selain kebencian terhadap diri sendiri.
Akulah
yang mengkhianatinya.
Sensasi mual
dari perutku membuatku keluar untuk menghirup udara segar.
Aku
melihat ada amplop di dalam kotak pos.
Aku langsung membukanya tanpa berpikir panjang.
Di
dalamnya ada foto.
Foto yang menjerumuskanku ke dalam
jurang keputusasaan.
“Kenapa,
ini tidak mungkin. Padahal kamu bilang cuma aku
satu-satunya wanitamu. Kondo-senpai. Jangan begini. Tolong jangan buang aku.”
Di dalam
amplop itu ada foto senpai yang sedang memasuki rumah seorang siswi dengan
mesra. Mereka bergandengan dan
tampak bahagia.
※※※※
──Rumah
Eri・Sudut Pandang Kondo──
“Aku sangat menyukaimu, Kondo-kun.”
Dengan
menikmati sentuhan kulitnya yang lembut, aku melepaskan stres.
Eri
memiliki kelebihan yang berbeda dari Miyuki.
Sepertinya,
aku mulai sedikit bosan dengan Miyuki.
“Ah, ini
luar biasa.”
“Senangnya. Aku cuma setia buat Kondo-kun, lho.”
Inilah bagian yang menyebalkan dari gadis ini.
Dia bertingkah seperti pacarku meskipun kami tidak berpacaran. Ya sudah, aku
akan menikmatinya sebagai
wanita yang menguntungkan untuk sementara waktu.
“Nee, Kondo-kun. Hanya lihat aku saja ya. Aku sudah mengorbankan
segalanya untukmu, jadi kamu jangan
sampai berselingkuh.”
Selingkuh?
Pertama-tama, kita sebenarnya tidak
berpacaran. Gadis
ini benar-benar salah paham dan ngehalu sendiri.
“Ah, iya,
benar.”
Aku hanya
mengangguk dan menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan tertidur.
Setelah
itu, aku bersantai sejenak dan meninggalkan rumah Eri. Gadis ini tinggal
sendirian karena ditinggalkan orang
tuanya. Jika aku lapar, aku datang ke rumah ini untuk makan malam, itu sudah
menjadi kebiasaanku. Hanya saja, Eri gampang
sekali terbawa suasana, dan memiliki pasang surut emosi yang ekstrem, jadi dia cukup
merepotkan sebagai wanita simpananku.
Saat
berjalan pulang, ponselku berbunyi.
“Kondo-kun?
Sekarang, apa kamu ada waktu?”
Itu
panggilan dari gadis yang kupikirkan. Dialah yang
memperkenalkan Miyuki padaku. “Ada gadis
yang sudah punya
pacar yang sepertinya mungkin kamu
sukai, penasaran?” katanya.
Kemudian,
kami bertemu dan aku juga menemukan
mainan menarik bernama Aono.
“Ah, ada
apa?”
“Tidak,
ini bukan masalah besar… Apa kamu ada rencana sekarang? Kalau mau, ayo main denganku?”
Gadis ini
juga memang tergila-gila padaku.
“Boleh.
Ada apa?”
“Habisnya, padahal aku sudah membantu untuk menyudutkan cowok itu, tapi aku justru tidak mendapat imbalan sama sekali, jadi
aku berharap sedikit bertemu denganmu.”
“Ah, aku
berterima kasih karena kamu sudah memikirkan skenario yang menarik. Aku ingin
menunjukkan wajah menyedihkan si Aono padamu.”
“Kamu benar-benar orang yang jahat, ya.”
“Aku
tidak mau mendengar itu darimu, dasar wanita
jahat… Selain itu, aku juga ada sesuatu
yang ingin dibicarakan.”
“Hee~?”
“Ada
masalah di klub sepak bola.”
Kami
segera sepakat untuk bertemu, dan aku dengan senang hati bergerak ke tempat
yang ditentukan.
※※※※
Setelah
pertemuan rahasiaku dengannya selesai,
aku pulang ke rumah. Seperti yang kuduga,
di rumah tidak ada siapa-siapa. Ayah pasti sedang bekerja. Ibu mungkin pergi
entah ke mana. Keduanya terkenal sebagai pasutri palsu.
Aku hanya
perlu memanfaatkan kedua orang itu. Dengan status sosial orang tuaku yang tinggi, aku bisa
memanfaatkannya. Jika orang tuaku hebat, hampir semua hal bisa dilakukan.
Selain itu, aku juga memiliki bakat dalam sepak bola dan bisa belajar dengan
baik. Aku tak tertandingi.
Berkat
itu, jalanku menuju menjadi pemain sepak bola profesional terbuka, dan bahkan
jika aku pensiun, aku bisa mewarisi perusahaan ayahku. Jika ayahku naik jabatan
sebagai anggota dewan, aku juga bisa mewarisi posisinya. Inilah kelebihan
sistem warisan di Jepang.
“Karena aku dilahirkan di keluarga yang bagus, kehidupanku jadi sangat cerah. Hidup dalam
mode mudah di dunia yang indah. Ah~,
aku bersyukur orang tuaku hebat.”
Aku
menggunakan kata-kata kuat untuk meyakinkan diriku sendiri dan menghilangkan
kecemasan yang ada di dalam hatiku. Lagipula, Ayahku
juga bilang semuanya akan baik-baik saja dan sepertinya ia memikirkan
langkah-langkah antisipasi.
Di rumah
yang luas ini, hanya suara omong kosongku yang bergema. Sial, rasanya
menyedihkan.
Ponselku
berbunyi. Itu panggilan dari telepon umum. Rasanya mencurigakan.
Hanya dengan menelepon nomor ini langsung sudah mencurigakan.
Tentu
saja, aku mengabaikannya. Namun, telepon itu terus berdering.
“Dasar
menyebalkan, kamu emangnya siapa sih?!”
Aku
menekan tombol jawab dan berteriak
marah. Kemudian terdengar suara aneh seperti seseorang yang menghirup gas
helium.
“Kondo, riwayatmu sudah tamat.”
“Dasar bajingan, sembarangan
memanggilku tanpa sebutan, tidak bisa kumaafkan.”
Suara itu
terdengar seperti nada ceria dari badut yang aneh. Seolah-olah ia sedang
menertawakanku.
Apa dia
menggunakan alat pengubah suara mainan? Sungguh konyol. Saat aku hendak menutup
telepon…
“Hey,
jangan tutup dulu.
Karena akulah
yang mengambil foto itu.”
Aku
buru-buru menghentikan tanganku yang hendak menutup telepon. Sial, jadi orang ini pelakunya. Orang yang selalu berusaha
menjebakku!
“Jadi
kamu yang menyebarkan foto itu ke klub sepak bola. Aku tidak akan memaafkanmu.”
“Menyebarkan? Ah, aku cuma secara tidak sengaja
menjatuhkannya di depan ruang klub.”
“Jangan berpura-pura bego!”
Kata-kata
semakin kuat terlontar.
“Kalau
kamu terus berbicara seperti itu, aku tidak tahu di mana aku akan
menjatuhkannya selanjutnya.”
Dasar
keparat.
“Jangan
sekali-kali meremehkanku, bajingan.
Aku pasti akan membunuhmu. Ayahku adalah anggota dewan. Ia bisa menutupinya dengan mudah,
dan aku akan membuat guru-guru itu diam. Selama ini aku sudah melakukan itu.
Kali ini pun akan sama!”
Sungguh
menjengkelkan.
“Kalau
begitu, aku akan mulai
bergerak.”
Itu hanya
ancaman belaka.
“Cobalah
jika kamu bisa. Aku akan membunuhmu. Aku akan menemukanmu dan menghabisimu.”
Orang jenius
seperti diriku bisa melakukan apa saja dan akan dimaafkan.
Aku akan menghajarnya habis-habisanya sampai dia
menyesalinya.
“Begitu
ya. Sayang sekali. Kamu pasti berpikir
kalau kamu tidak bersalah sama sekali.”
“Tentu
saja. Karena aku adalah orang yang terpilih.”
“Apa kamu
juga akan memfitnah
Aono Eiji?”
“Dari
mana kamu tahu itu?”
“Aku
berada cukup dekat dan mengawasimu.”
Kata-kata
itu semakin menyulut
kemarahanku. Kenapa ia tahu tentang itu? Masalah tuduhan palsu seharusnya hanya
diketahui oleh anggota klub sepak bola dan para gadis.
“Cowok itu, pada dasarnya cuma orang yang lemah. Orang lemah ditakdirkan
untuk dimakan oleh orang kuat. Apa pun yang terjadi, mereka tidak bisa
mengeluh. Kamu pasti anggota
dari klub sepak bola, ‘kan? Aku tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan, jadi persiapkan
dirimu!!”
Setelah
aku mengatakan itu, dia tidak menjawab, mungkin karena dia kewalahan oleh
momentumku. Yang bisa kudengar hanyalah desahan napas.
“Kondo, kamu ini benar-benar bodoh
dan menyedihkan.”
Seketika mendengar
kata-kata itu, aku secara naluriah membanting ponselku ke lantai, dan layarnya
retak. Itu mirip seperti hatiku sendiri.
Benar sekali, aku adalah orang yang terpilih.
Jadi, tidak apa-apa. Meskipun anggota klub sepak bola tidak lagi mengikutiku,
meskipun aku tidak bisa dibilang dari sekolah yang sangat kuat berdasarkan
prestasi sebelumnya, seharusnya ada banyak tempat yang mau menerimaku
setidaknya di sekolah SMA yang
lebih baik.
“Putus
asa? Aku? Merasa putus asa? Tidak mungkin…”
Aku
terkejut karena tanpa sadar merasakan emosi negatif terhadap diriku sendiri.
“Sial,
sialan!”
Demi
menenangkan sedikit emosiku, aku menelepon Miyuki.
※※※※
──Sudut pandang Miyuki──
“Sekarang,
jam berapa?”
Aku
terkurung dalam keputusasaan karena dikhianati. Saat aku sadar, hari sudah
gelap, dan aku sendirian di rumah tanpa menutup tirai atau menyalakan lampu. Sekarang,
aku benar-benar terisolasi. Tidak ada yang mengucapkan kata-kata lembut padaku.
Aku membawa pakaian ganti ibuku ke rumah sakit, tapi ibuku tidak ada di ruang
perawatan karena sedang menjalani pemeriksaan.
Karena tidak
ada yang bisa kulakukan, jadi aku langsung pulang dari rumah sakit dan
menghabiskan waktu tanpa tujuan.
“Semuanya karena salahku.”
Tentu
saja. Eiji dan tante yang selalu memberikan kata-kata lembut padaku sudah tidak
ada lagi sekarang. Meskipun ibuku pulang
larut karena pekerjaan, jika aku pergi ke rumah Eiji, aku tidak merasa
kesepian. Kehangatan kekeluargaan begitu terasa
di sana. Mereka menerimaku seperti anak perempuan kadung mereka sendiri.
Ibu marah
juga karena… aku telah mengkhianati orang-orang yang sudah begitu baik padaku. Kondo-senpai
pada akhirnya hanya melihatku sebagai mainannya.
Seharusnya aku menyadarinya. Di dalam pikiranku, aku seharusnya sudah memahaminya.
Namun pada akhirnya,
aku terjebak dalam keinginanku sendiri dan sampai di situasi ini. Melihat foto tadi, aku seketika
menjadi tenang. Seolah-olah semua semangat cinta yang telah ada sebelumnya
adalah kebohongan, darah di seluruh tubuhku terasa membeku.
Tapi, apa yang aku katakan kepada Eiji saat itu… kamu tahu kan.
“Tidak,
jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup lagi jika kamu meninggalkanku, Senpai.”
“Eiji
adalah teman masa kecilku,
tapi… ia sangat keras kepala, menyebalkan,
dan pacar tukang pukul
yang menjengkelkan mirip seperti penguntit.”
“Maaf,
Eiji. Aku tidak bisa berpacaran denganmu lagi. Jangan coba-coba
mendekatiku lagi
di sekolah.”
Mengingat
momen itu, aku diselimuti sensasi mual
yang hebat dan perasaan
benci terhadap diriku sendiri.
Kenapa
aku bisa tega mengatakan hal seperti itu? Aku
sudah menyesalinya
berkali-kali, tetapi perasaan jijik
yang lebih kuat muncul. Sejak hari itu… hari pertama aku berselingkuh dengan
senpai, aku merasa seperti bukan diriku sendiri, seperti orang bodoh yang
berbeda.
Dan, rasa
mual yang hebat itu terus-menerus menyerangku.
Kenapa… padahal Eiji seharusnya adalah pacar yang
lembut dan sangat aku cintai. Aku juga sadar bahwa akulah yang lebih dulu menyukainya.
Cinta pertamaku adalah Eiji. Aku berusaha keras untuk mendekatinya, dan
akhirnya kami saling suka.
Aku
sangat menyukai dirinya
yang lembut. Aku sangat menyukainya
yang menulis cerita hangat. Aku sangat menyukai rumahnya yang membuatku merasa
bahagia.
Sekarang
semua itu tidak akan pernah bisa didapatkan lagi. Setelah keributan itu, Eiji
tidak pernah datang ke kelas lagi. Dia dijebak oleh Senpai, dikucilkan
di kelas, dan mengalami pembullyan
dengan kata-kata kasar yang ditulis di mejanya. Rupanya mereka juga menaruh
sampah di loker sepatunya. Selain itu, mereka
bahkan mengancam keluarganya, yang sangat kusayangi. Akan tetapi, aku tidak melakukan apa-apa
untuk menghentikannya. Aku seharusnya bisa menghentikannya, tetapi aku
mengabaikannya karena keegoisanku.
Tidak, tidak benar. Aku juga terlibat dan membuat Eiji tertekan. Akulah yang menjadi biang keladi pembullyan tersebut.
Aku
bahkan menyebut Eiji sebagai penguntit
dan mengatakan ia melakukan kekerasan. Eiji yang lembut tidak mungkin melakukan
hal seperti itu. Pada saat itu, akulah yang seharusnya disalahkan.
Aku
adalah wanita terburuk. Habisnya,
akulah yang berselingkuh pada hari ulang
tahun pacarku. Siapa yang harus disalahkan? Bukan Eiji. Tapi aku.
Aku
berusaha keluar dari rumah. Menuju ke minimarket. Untuk membeli makan malam.
Meski aku
sangat ingin mati, tubuhku masih meminta makanan. Sungguh menyedihkan sekali.
Di
kejauhan, ada sepasang
kekasih melintas. Tanpa sadar, aku terdiam saat melihat
mereka.
Rupanya itu
Eiji. Ia tertawa bahagia. Di sampingnya
ada… jelas sekali Ichijou Ai. Idola sekolah itu, bahkan dari
pandangan sesama perempuan, terlihat sangat bersemangat dan bergaya. Mereka berdua seolah-olah seperti sepasang kekasih yang sedang
berkencan.
Eiji juga
menunjukkan senyuman lembut yang seakan-akan
cuma ditujukan kepada kekasihnya. Kepalaku terasa
kosong. Aku bersembunyi agar mereka tidak menyadari keberadaanku.
“Terima
kasih untuk hari ini, kencan pertama tadi sangat menyenangkan,” kata
Ichijou Ai
sambil tersenyum bahagia.
“Aku
senang mendengarnya,” jawab Eiji.
“Aku
sudah tidak sabar untuk kencan berikutnya. Meskipun sudah sedikit terlambat, boleh aku
merayakan ulang tahunmu di
suatu tempat?”
“Eh?
Bagaimana kamu bisa tahu
tentang ulang tahunku?”
“Ibu Senpai yang memberitahuku! Hari
ini kamu benar-benar memanduku dengan
baik, jadi aku ingin mengucapkan terima kasih.”
Suara dan
ekspresinya semanis gadis yang sedang jatuh cinta. Bahkan bagi sesama
perempuan, dia terlihat sangat menggemaskan dengan senyum lembut seperti
malaikat.
“Terima
kasih. Aku menantikannya.”
Saat itu,
aku dibuat sadar kalau tempatku
sudah diambil alih oleh Ichijou Ai. Ibu Eiji bahkan mengakuinya, dan
seharusnya akulah yang
merayakan kencan ulang tahun itu, menerima semua kebaikan Eiji. Semua itu
adalah harta yang seharusnya aku miliki.
Mungkin
karena keputusasaan dan tidak makan, aku terus-menerus muntah. Tiba-tiba, aku
merasa lemas. Mataku berkunang-kunang, dan napasku menjadi dangkal.
Aku menangis
sesenggukkan tanpa suara supaya mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku tidak bisa berhenti
bahkan ketika kerikil dan tanah masuk ke dalam mulutku.
Neraka
baru saja dimulai.
Aku
terjatuh di tempat itu, tetapi setelah beberapa saat, anemiaku mulai mereda, dan aku berhasil
berdiri. Sepertinya Eiji dan yang lainnya tidak menyadari kehadiranku.
Aku membeli
sup yang hanya perlu dipanaskan di minimarket,
lalu segera pulang dan memakannya. Waktu makan yang seharusnya menyenangkan
kini hanya menjadi kegiatan untuk bertahan hidup. Aku penasaran, apa yang sedang dilakukan Eiji dan yang lainnya sekarang? Mungkin mereka sedang makan
dengan bahagia di restoran Kitchen Aono.
Mungkin mereka akan pergi ke tempat yang lebih modis.
Mungkin saja, malam yang istimewa…
Hatiku
terasa hancur. Meskipun seharusnya aku merasa
lapar, aku tidak memiliki selera makan.
Pada saat
seperti itu, aku mendapat telepon
dari Kondo-senpai.
“Ya, ini
Miyuki.”
“Oh, Miyuki? Kamu lagi ngapain sekarang?”
“Aku baru
saja makan…”
“Begitu
ya. Aku ingin menenangkan pikiran, jadi aku ingin kamu jadi teman bicaraku sebentar.”
Biasanya
aku akan langsung menjawab ajakan itu, tapi setelah menaruh ketidakpercayaan padanya…
Padahal
Senpai mengetahui kalau Ibuku sedang
dirawat di rumah sakit, tetapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda khawatir
tentang apa yang terjadi.
“Ehmm… aku sedang tidak enak
badan.”
Ternyata,
cuma sebatas itu
saja perasaannya. Bagiku, aku hanya dianggap seperti
itu.
“Tolong, cuma sebentar saja kok. Sekarang, dengarkan
aku.”
Kata-kata
itu membuatku semakin yakin.
“Jadi pada akhirnya, Kondo-senpai hanya
menganggapku seperti mainan, ya?”
Jika itu
Eiji, ia pasti akan khawatir tentang ibuku dan memperhatikan keadaan mentalku.
Dari nada suaraku, dia pasti bisa langsung tahu bahwa aku sedang tidak sehat. Ia mungkin akan datang
menjengukku.
Aku telah
kehilangan teman masa
kecilku yang begitu berharga.
“Haahh, kenapa kamu tiba-tiba bilang begitu?”
“Kamu bahkan tidak mengkhawatirkanku sama sekali.
Selain itu, aku melihat foto Senpai
yang masuk ke dalam rumah
bersama seorang gadis lain.”
“Tidak,
itu… foto sebelum aku bertemu denganmu. Aku sudah putus dengannya, sebenarnya aku mendapat
gangguan, dan foto-foto lama itu disebarkan di anggota klub, jadi aku ingin
berkonsultasi denganmu. Maaf jika aku tiba-tiba membicarakannya, aku juga tidak
dalam keadaan baik.”
Permintaan
maaf itu terasa sangat hampa.
“Begitu
ya.”
Dengan
persetujuan yang hanya sekadar formalitas, ia menjawab dengan nada sedikit tersenyum.
Hal itu justru
memicu kemarahanku.
“Jadi begitulah. Percayalah
padaku.”
Dirinya benar-benar berpikir bisa
membodohiku dengan kalimat yang
tidak tulus ini. Kotor sekali. Orang ini benar-benar... aku
akhirnya menyadari sifat aslinya. Aku telah mengorbankan segalanya untuk orang
seperti ini!? Aku bahkan tidak bisa mempercayainya.
“Di foto
ini, Senpai memakai gelang yang kuberikan
padamu sebagai hadiah. Apa kamu
masih menganggap ini sebagai foto
lama?”
“Ap…”
Aku
membenci bagian diriku yang sangat peka
dalam situasi seperti ini. Gelang tangan yang kurajut dan kuberikan supaya dirinya
bisa menang dalam pertandingan latihan klub, dengan jelas terlihat dalam foto
itu. Gelang itu seharusnya menjadi bukti ikatan
kami… tetapi malah menjadi jimat yang membuktikan posisi sebenarnya dari
hubungan kami. Aku tidak berjuang untuk hal seperti ini.
“Jangan
berbohong padaku.”
Suara
dingin yang keluar dari mulutku membuatku terkejut.
“Ka-Kalau begitu, itu cuma foto yang diedit…”
Meskipun
aku sangat menyukainya, tapi hanya
mendengar suaranya saja sudah membuatku kesal.
“Lalu?”
Balasannya
sama saja dengan mengakui bahwa
itu cuma alasan. Jika mau berbohong,
setidaknya buatlah kebohongan yang lebih baik.
Akhirnya,
aku berpikir bahwa orang ini telah menutupi
semuanya dengan kebohongan selama ini. Dan tak kusangka kalau aku
mengira kebohongan itu bersinar seperti permata.
Kata-kata
lembut yang ia tunjukkan padaku hanyalah batu kerikil yang tidak tulus. Dan aku
telah menghancurkan harta sejati yang seharusnya selalu ada di dekatku karena
terpesona oleh batu kerikil itu.
Aku menyadari betul bahwa aku tidak berhak untuk menghinanya. Karena, aku adalah orang yang
sama buruknya dengannya. Kami
pada dasarnya sama saja. Sama-sama
sampah, egois, dan tidak tahu berterima kasih.
“...Cih.”
Ia
menggerutu dan mendecakkan.
Perubahan sikapnya membuatku terkejut.
“Eh?”
Saat aku
menanyakannya, ia malah marah.
“Itulah
mengapa aku membenci gadis menhera
sepertimu yang selalu bersikap
pura-pura menjadi
pacarku.”
Kata-kata
kasar yang tidak terduga itu membuat hatiku terasa tertusuk dengan pisau
dingin. Aku seharusnya sudah tahu ia
adalah orang seperti itu, tapi ketika melihatnya secara langsung masih menjadi kejutan besar.
Pura-pura
jadi pacar?
Aku sudah
meninggalkan pacarku yang berharga
hanya untuk memilihmu. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu?
“...”
Dihadapkan
pada kenyataan yang kejam, aku terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Lagipula, apanya selingkuh? Memangnya kita pernah pacaran? Kita
tidak pacaran, ‘kan?
Jangan berpura-pura jadi korban. Apa aku pernah bilang ingin berpacaran? Apa aku
pernah mengungkapkan cinta padamu? Lagipula, kamu juga salah satu pelaku pembullyan. Jika
kamu tidak bekerja sama denganku, Aono tidak akan mengalami hal seperti itu.
Jika kita mempertimbangkan hubungan kita dengan Aono, kamulah orang yang paling jahat, apa kamu mengerti, dasar perempuan brengsek!
Semuanya itu
salahmu!”
Setelah
mengucapkan kata-kata kasar itu, percakapan kami berakhir.
“Aku,
kenapa aku membuang segalanya untuk orang seperti itu... Aku sudah melakukan
sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.”
Suara
kesepian bergema di ruangan yang sepi.
※※※※
──Sudut
pandang Kondo──
Setelah
menutup telepon, aku mulai mengamuk.
“Merek asemua... mengapa mereka selalu
bertindak semau mereka? Mereka lebih mempercayai orang lain daripada aku. Aku tidak bisa memaafkannya.”
Di dalam
kamar, berbagai barang berserakan akibat amukanku. Trofi dari masa SMP yang aku
sayangi juga rusak. Sial, sial, sial. Bajingan.
“Hah,
hah. Sialan,
anak-anak di klub sepak bola universitas, anggota klubku, Amada Miyuki, kuharap semuanya mendingan binasa saja.”
Jika
sudah begini, aku harus mengajak perempuan untuk keluar...
Tapi karena
Miyuki tidak bisa diandalkan, satu-satunya pilihan adalah Eri, gadis itu, atau juniornya.
Tidak, gadis yang di telepon tadi tidak bisa.
Aku tidak bisa menghadapinya. Jika aku menunjukkan kelemahanku, aku tidak tahu apa yang akan
dia lakukan.
Sial,
jika sudah begini, mendingan Eri
saja.
Tidak, aku
baru saja bertemu dengannya, dan dia terlalu merepotkan sebagai pacar, jadi aku
ingin menjaga jarak sedikit. Di saat-saat seperti ini, perempuan memang tidak bisa
diandalkan.
“Mau bagaimana lagi. Jika
sudah begini, aku harus menyebarkan rumor buruk tentang Aono menggunakan akun
cadangan.”
Ada
seseorang yang lebih rendah dariku merupakan
kesenangan tertinggi sebagai penguasa. Cowok itu
pada dasarnya hanya seperti budak. Seorang pria lemah yang sudah kehilangan Wanita dengan menyedihkan.
Dengan
pemikiran itu, aku membuka akun media
sosial. Sebelumnya, linimasa dipenuhi dengan omongan buruk tentang Aono.
Namun…
“Hey,
ternyata emang benar.
Aono Eiji dan Ichijou
Ai berkencan
hari ini.”
“Detailnya?”
“Ketika aku
pergi berbelanja di depan stasiun, mereka keluar dari kafe yang modis.”
“Aku juga
melihat mereka masuk ke bioskop.”
“Jadi,
mereka benar-benar pacaran, ya?”
“Ichijou-san yang selalu cuek bebek dengan pria,
kenapa dia mau berpacaran dengan Aono yang punya reputasi buruk?”
“Aku
mendengar dari teman sekelas Ichijou-san,
sepertinya dia duluan yang
menyukainya. Dia tampaknya melakukan banyak pendekatan pada si Aono.”
“Karena
Ichijou-san sampai begitu menyukainya, pasti
ada sesuatu yang terjadi.”
“Ngomong-ngomong,
apa rumor tentang Aono itu benar?
Sebenarnya, hanya ada foto-foto mencurigakan, kan? Apa jangan-jangan rumor itu salah?”
“Aku juga
merasa ada yang janggal
dari awal. Aku sekelas dengan Aono-kun
tahun lalu, ia sangat baik dan bukan orang yang suka melakukan kekerasan pada
perempuan.”
“Rasanya jadi tidak
begitu jelas, ya?”
Tanpa kusadari,
keadaannya telah berubah. Kenapa bisa
begitu? Apa Ichijou Ai begitu dipercaya? Dia hanya
seorang gadis kelas satu. Aku
sudah menyebarkan rumor itu menggunakan berbagai akun anggota klub sepak bola,
tetapi kekuatan jumlah bisa kalah dengan pengaruh satu gadis itu!?
Itu mustahil. Kenapa Ichijou Ai begitu terpaku pada pria payah seperti orang itu? Ketika aku
mencoba mendekatinya, dia tidak meladeniku
dan bahkan mengeluarkan kata-kata kasar. Jadi, aku pun berkata,
“Jangan
sombong dulu, memangnya kamu tidak tahu kalau ayahku orang penting!!”
“Aku
tidak suka penampilanmu
yang seolah-olah kamu akan menjalani kehidupan
sendirian selamanya.”
“Dasar gadis yang mirip
robot.”
Dia
bahkan mengabaikannya dan
pergi begitu saja. Kenapa perempuan yang
terlihat seperti robot bisa begitu populer di sekolah? Rasa ketertarikanku
langsung hilang.
Benar,
meskipun perempuan dingin itu menjadi musuh, apa yang perlu aku takutkan!? Aku
adalah Kondo, bintang sepak bola!!
Belum.
Masih ada cara untuk memperbaiki ini. Aku memposting beberapa tulisan untuk
merusak reputasi Ichijou Ai.
“Hey, semuanya, jangan
tertipu. Ichijo Ai itu gadis yang
berbahaya. Dia dingin sampai-sampai tidak seperti manusia, dan mengeluarkan
kata-kata kasar kepada pria yang ditolaknya.”
Aku
menyusup ke dalam percakapan dengan akun anonim.
“Hah, ada orang yang merepotkan muncul.”
“Palingan ia pasti
orang yang pernah ditolak
Ichijo dan sekarang merasa dendam. Abaikan saja, abaikan saja.”
“Bukannya ia justru kelihatan
mencurigakan?”
Aku
langsung diabaikan.
Sial,
sial, sial. Kenapa tidak ada yang mempercayaiku? Aku adalah raja sepak bola
generasi berikutnya.
Dengan
frustrasi, aku akhirnya melempar smartphone ke jendela. Jendela itu pecah
berkeping-keping, dan smartphone yang sudah rusak itu terhempas ke tanah.
“Sial,”
pikirku, lalu segera keluar untuk mengambilnya. Layar smartphone-ku sudah retak parah dan tidak bisa
dinyalakan.
Sekarang aku
tidak bisa menghubungi perempuan mana pun. Ke mana lagi aku harus melampiaskan semua
kejengkelan ini? Semua orang benar-benar bajingan. Karena mereka berhasil membuat orang jenius sepertiku
menjadi semarah ini.
“Keparat.
Sangat menjengkelkan!”
Aku
merasa semakin terasing, dan rasa frustrasiku semakin meningkat. Tentu saja,
tidak ada seorang pun yang menjawabku.