Chapter 3 — Membantu Orang Lain Dan Menghancurkan Grup Tukang Selingkuh
──8 September──
“Selamat
pagi, Senpai. Terima kasih banyak untuk
kemarin!”
Seperti
biasa, Ichijou-san sudah menungguku di depan rumah. Dia tampak
tersenyum lebih lembut dibandingkan kemarin. Beberapa pegawai dan siswa SMP
yang lewat di depan rumah terlihat terkejut oleh kecantikannya dan mencuri
pandang ke arahnya.
“Pagi.
Terima kasih juga untuk kemarin. Ayo kapan-kapan kita
nonton film lagi.”
Aku pun
menyapa dengan canggung, dan Ichijou-san mengangguk.
“Itu
ide yang bagus. Karena kemarin kita nonton film barat, jadi bagaimana kalau kita nonton film Jepang atau
anime? Senpai, film apa saja yang sudah kamu tonton belakangan ini?”
Syukurlah
dia mulai membahas tentang film.
Jika tidak, aku mungkin akan teringat ciuman kemarin dan membuat suasana pagi
menjadi canggung. Dengan adanya hobi yang sama, jarak di antara kami memang
terasa semakin dekat. Berkat ibu yang sangat menyukai film dan drama, aku bisa
lebih akrab dengan Ichijou-san.
Kami
mulai berjalan dan berbincang tentang film.
“Belakangan
ini, aku sedang terobsesi dengan film India.”
“Yang
durasinya panjang dan banyak tariannya itu, ya?”
“Tidak,
film India terbaru ternyata tidak banyak tarian. Durasinya
memang panjang, tapi sering kali ada lagu yang mengalun dengan
latar alam yang indah. Itu sangat megah.”
“Sepertinya
menarik.”
Memang
jarang sekali ada remaja
SMA yang menyukai film India. Aku sendiri
tertawa kecil saat menyadari apa yang aku bicarakan.
“Ada
rekomendasi?”
“Tak disangka-sangka, rupanya film India juga memiliki drama
manusia yang menarik. Banyak nuansa kemanusiaannya, mirip seperti film Jepang era Showa.
Tentu saja, adegan aksinya juga bagus. Aku merekomendasikan
film 'Bajrangi Bhaijaan'.”
“Kira-kira
film itu
menceritakan tentang apa?”
“Ceritanya tentang seorang pria baik hati
yang menemukan seorang anak hilang dari negara tetangga yang tidak bisa
berbicara, lalu berpetualang besar untuk mengantarkan anak itu kembali kepada
orang tuanya.”
“Sepertinya
menarik!!”
“Itu
bikin nangis, jadi cocok untuk ditonton saat ingin merasakan emosi.”
Sebenarnya,
aku menontonnya pada malam Senin
dan menangis terisak-isak, lalu saat masuk sekolah pada hari Senin, Satoshi
memperhatikan bahwa mataku bengkak. Ichijou-san tampaknya sering menonton film,
jadi aku sengaja membahas film India yang kurang dikenal. Dia membuka situs
film di smartphone-nya dan segera menambahkannya ke dalam penanda.
“Terima
kasih. Aku akan coba menontonnya akhir pekan ini.”
Setelah
mengatakan itu, dia menatapku dengan senyum yang luar biasa indah.
“Senpai,
sedikit bergeser dari topik, bagaimana dengan novel yang kamu tulis?”
Naskah
yang sudah diselamatkan Ichijou-san dengan susah payah kini berada di tanganku. Aku berniat
untuk mempublikasikannya di majalah klub, tetapi sepertinya itu tidak mungkin,
dan sangat disayangkan jika dibiarkan begitu saja.
Meskipun begitu, naskah itu adalah cerita pendek, jadi tidak cukup untuk
diikutkan dalam lomba penulisan untuk penulis baru di penerbit. Aku masih
bingung tentang apa yang harus dilakukan.
“Aku masih
merasa bimbang.”
“Kalau
gitu, bagaimana dengan mengunggahnya ke situs web untuk mengirimkan novel?”
“Tapi,
novelnya bukan fantasi atau rom-com yang sedang tren, jadi mungkin pembacanya
sedikit.”
“Benarkah?
Padahal, menurutku itu novel yang sangat menarik dan aku ingin
lebih banyak orang membacanya.”
“Terima
kasih. Tapi mengunggahnya ke situs itu masih membutuhkan sedikit keberanian. Mungkin saja ada yang memberikan kritik pedas,
dan aku bisa merasa murung
karena poin yang didapat.”
Aku
memiliki sisi yang cukup negatif ketika berbicara tentang novel yang ditulis
sendiri. Dia tersenyum padaku.
“Yah,
menjadi penulis khusus untukku juga cukup menarik, kan?”
Kami
saling tertawa sambil bercanda. Aku merasa kalau dia
benar-benar baik hati sekali. Mungkin dia menyadari
bahwa aku memiliki trauma. Aku juga merasa buruk jika menolak, jadi aku mulai
berkata, “Akan
kupikirkan baik-baik nanti,” tetapi tiba-tiba muncul masalah lain.
Sebuah
insiden terjadi di depan kami yang sedang menikmati waktu bahagia.
“Ugh,” seorang kakek tua yang berjalan di depan kami
tampak kesakitan, memegang dadanya, lalu jatuh
tersungkur.
“Eh?” Ichijou-san tertegun dan
melihatku dengan ekspresi khawatir.
Aku pun
tidak tahu apa yang terjadi dan hanya bisa menyaksikan pemandangan itu.
Kakek tua itu, meski bernapas dengan susah
payah, tidak bergerak lagi.
Itu situasi
yang gawat.
Saat
bekerja paruh waktu sebagai staf suatu acara selama
liburan musim panas, aku pernah mengikuti pelatihan pertolongan pertama. Aku
teringat wajah petugas pemadam kebakaran yang datang sebagai pengajar. Dirinya juga mengajarkan cara
menghadapi situasi yang seperti
ini.
Aku harus segera bertindak. Tidak apa-apa, aku
hanya perlu melakukan apa yang sudah kupelajari
di pelatihan pertolongan pertama itu.
“Ini
serius. Ichijou-san, tolong carikan
AED.”
Pertama-tama,
aku harus berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa kakek itu. (TN: AED
(automated external defibrillator) adalah sebuah alat medis yang dapat
menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk
mengembalikan irama jantung jika dibutuhkan. Alat ini berfungsi untuk menolong
orang yang mengalami henti jantung)
“Tapi,
AED itu ada di mana...?”
Dia
berdiri dengan wajah pucat pasi.
“Di
dekat sini ada pos polisi, ‘kan?
Seharusnya ada AED di
pos itu. Jika tidak ada, mungkin polisi tahu tempat pemasangannya, dan sering
kali ada di minimarket. Aku
akan memanggil ambulans dan menjaga kakek ini.”
“Ba-Baiklah,
aku akan segera mengambilnya.”
Dia
berlari menuju pos polisi. Aku mengikuti langkah-langkah yang diajarkan di
pelatihan, memeriksa kesadaran kakek, meminta bantuan kepada orang-orang di sekitar,
dan melakukan tindakan pertolongan. Seorang pria baik hati segera menelepon
ambulans menggunakan ponselnya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan
kakek itu. Ichijou-san segera kembali dengan seorang polisi yang membawa
AED.
Saat kami
menyiapkan AED, seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan mendekati
kami.
“Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Seorang
kakek yang tidak dikenal tiba-tiba jatuh sambil memegang dadanya dengan
kesakitan. Kami baru saja memanggil ambulans dan mendapatkan AED. Kakek ini
tidak merespons sama sekali ketika dipanggil.”
“Terima
kasih. Aku seorang perawat, jadi biarkan aku yang menangani. Namamu siapa?”
“Aono.”
“Aono-kun, ya. Hebat sekali kamu bisa bergerak
cepat. Sekarang, tolong bantu aku. Nama pacarmu siapa?”
Perawat
itu memberikan instruksi dengan cepat. Aku teringat pelatihan AED yang aku
ikuti saat bekerja paruh waktu, dan mengikuti arahan perawat serta suara
otomatis dari perangkat.
“Namaku Ichijou.
Apa yang harus kulakukan?”
“Ichijou-san,
bisakah kamu mencari tahu apa ada keluarga kakek ini yang berada di dekat sini?”
“Baik,
aku mengerti.”
Ichijou-san
berlari pergi. Polisi yang datang bersamanya mulai mengatur lalu lintas di gang
sempit.
Dengan
demikian, kegiatan pertolongan terus berlanjut.
Saat kami
berjuang untuk memberikan pertolongan, ambulans yang dipandu oleh polisi tiba.
Rasanya tidak sampai sepuluh menit, tetapi karena kami bergerak dengan cepat,
semuanya terasa seperti sekejap.
“Aono-kun,
Ichijou-san, terima kasih banyak.
Aku akan menemani kakek tersebut hingga
ke rumah sakit, jadi kalian berdua tidak
perlu khawatir. Berkat kalian yang cepat bertindak, seharusnya tidak ada
masalah serius.”
Perawat
yang membantu kami mengatakan itu sambil tersenyum.
Setelah
kejutan listrik pertama, kakek itu mulai sadar. Meskipun kesadarannya masih
samar, ia mengucapkan “terima
kasih, terima kasih.”
Polisi
memeriksa identitas kakek yang jatuh dan akan menghubungi keluarganya nanti.
Kakek itu tampak semakin sadar.
“Kalau
begitu, kami pergi dulu
sekarang.”
Setelah aku
mengatakan itu, Ichijou-san ikut
mengangguk. Kami merasa sedikit lega dan meninggalkan tempat itu.
“Rasanya
cukup menegangkan ya. Syukurlah kakek itu tampaknya baik-baik
saja.”
Ichijou-san
menghela napas besar dan kembali dengan senyuman seperti biasa.
“Ini
semua berkat Ichijou-san. Karena kamu
segera bertindak, jadi kita bisa menyelamatkannya.”
Dia
menggelengkan kepalanya ketika mendengar kata-kataku, dan tersenyum.
“Itu sama
sekali tidak benar. Justru, karena Senpai yang segera bertindak itulah yang membuat kakek itu selamat. Aku
sendiri merasa ketakutan dan tidak bisa bergerak.”
“Tidak,
kali ini kami beruntung. Karena kebetulan perawat
di sana. Jika hanya aku sendiri yang melakukannya,
pasti tidak akan berhasil.”
“Meski
begitu, tidak banyak orang yang bisa segera bertindak untuk orang lain. Aku
benar-benar mengagumi hal itu.”
Saat dia
mengatakannya, aku merasa kepercayaan
diriku yang hancur akibat pembullyan minggu lalu mulai sedikit pulih.
“Terima
kasih.”
Aku
mengucapkan terima kasih dengan senyuman tulus yang terbaik dalam beberapa
waktu terakhir.
※※※※
──Sudut
Pandang Perawat──
“Terima
kasih banyak.”
Keluarga
kakek yang datang segera mengucapkan terima kasih padaku sambil berlinangan air mata. Sebagai wakil keluarga, putranya
memberi salam dengan sopan. Ia
mengenakan jas yang tampak mahal dan bergerak dengan anggun.
Kakek itu
selamat berkat penanganan yang cepat dan tepat. Meskipun sepertinya ia akan
dirawat di rumah sakit untuk sementara waktu.
“Tidak,
aku lebih ingin kalian mengucapkan terima kasih kepada para pelajar yang menyiapkan AED. Tanpa
mereka, keadaannya mungkin akan menjadi lebih
buruk.”
Sebenarnya,
dua orang itulah yang menjadi
pahlawan sejati. Aku hanya membantu mereka. Dalam situasi seperti ini, ketika
seseorang bertindak pertama kali, orang lain akan lebih mudah untuk ikut serta.
Yang paling membutuhkan keberanian adalah orang-orang yang bergerak pertama
kali.
“Aku
tidak bisa cukup berterima kasih kepada mereka. Aku ingin mengucapkan terima
kasih langsung kepada para pelajar,
tapi sepertinya polisi tidak mendapatkan
kontak mereka karena mereka langsung pergi begitu saja.”
Aku tidak
menyangka mereka bisa begitu dewasa di usia mereka. Meskipun wajar jika mereka
didorong oleh semangat kepahlawanan.
Anak-anak
muda zama sekarang sungguh luar biasa.
“Aku
juga cuma kebetulan ada di sana... Ah,
tapi aku mendengar nama mereka saat kami memberikan pertolongan!”
“Benarkah!?
Apa kamu ingat namanya?”
“Mereka
memperkenalkan diri sebagai Aono-kun dan Ichijou-san.”
Pria itu langsung menunjukkan senyum
bahagia hanya dengan informasi itu. Aku bisa merasakan seberapa besar dirinya ingin
mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah menolong orang tuanya.
Ia benar-benar orang yang sangat
tulus.
“Aono-kun
dan Ichijou-san, ya? Terima kasih. Hanya dengan mengetahui
nama mereka... aku akan mencarinya.”
“Baik.
Kalau begitu, aku permisi.”
Apa hanya
dengan mengetahui nama mereka saja bisa ditemukan? Pertanyaan
itu muncul di kepalaku, tetapi aku ragu untuk mengatakannya. Aku juga berharap
akan terjadi keajaiban sehingga identitas mereka bisa diketahui dan mereka
pantas mendapatkan pujian.
Walaupun
aku terlibat dalam masalah besar di hari
libur, tetapi entah bagaimana aku merasa tenang dan
puas. Pekerjaan memang sulit, tetapi aku juga harus berusaha agar tidak kalah
dari pasangan pelajar itu.
Dengan perasaan bahagia, aku meninggalkan rumah sakit. Entah mengapa, aku
merasa seolah-olah pekerjaanku dihargai, dan aku menyadari bahwa semua yang
telah kulakukan tidak sia-sia, sehingga hatiku diliputi
perasaan puas.
※※※※
──Situs
Video──
“Halo,
hari ini aku akan mulai siaran lagi. Jadi, saat aku berjalan di kota untuk
syuting proyek berikutnya, tiba-tiba ada seorang
kakek jatuh di depanku, dan aku sangat terkejut. Aku bingung dan tidak tahu
harus berbuat apa, tapi
tiba-tiba ada sepasang pelajar yang
mulai melakukan tindakan penyelamatan dan itu sangat luar biasa. Aku hanya bisa
memanggil ambulans. Sungguh luar biasa, ‘kan?
Baru-baru ini, saat aku berjalan di kota, ada banyak
hal yang terjadi. Minggu lalu juga. Saat syuting video kolaborasi
berjalan-jalan, aku menyaksikan ada
keributan. Sepertinya itu masalah percintaan, tetapi seorang anak laki-laki
dipukul secara sepihak. Aku berlari
menuju anak laki-laki yang jatuh itu, tetapi dia melarikan diri. Seseorang juga
memanggil polisi, tetapi saat itu sudah tidak ada pihak yang terlibat.”
Setelah
menyelesaikan siaran siang, aku menghela napas. Pagi tadi, aku terlibat dalam
insiden saat hendak pergi menyantap sarapan di tempat yang terkenal. Mungkin karena aku
memanggil ambulans untuk kakek itu, tadi aku mendapat panggilan dari seorang
wanita yang mengaku sebagai keluarga kakek. Sebagai langkah berjaga-jaga, aku
memberi tahu kontakku kepada polisi. Sepertinya polisi yang menghubungkan kami.
Dalam pekerjaan seperti ini, kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain
berkurang. Jadi, aku sangat senang bisa mendapatkan respon positif dari orang-orang.
Aku
adalah seorang pembuat konten video kuliner yang fokus pada komunitas lokal,
jadi tampaknya polisi juga sesekali menonton videoku. Setelah semuanya selesai,
aku sempat berbincang sedikit dengan petugas polisi itu. Para penggemar sering
meninggalkan komentar di kolom, tapi berinteraksi langsung juga sangat
menyenangkan.
“Ah,
terima kasih untuk sebelumnya.
Tidak, tidak, aku tidak melakukan apa-apa. Saat aku sedang merekam video hobi,
kakek itu mendadak jatuh sendiri, dan dalam kebingungan, pasangan
pelajar itu bergerak cepat. Aku hanya
memanggil ambulans. Eh, aku akan dihargai oleh pemadam kebakaran? Tidak,
seharusnya para pelajar dan
perawat yang lebih pantas mendapat penghargaan... Ah, pelajar itu pergi tanpa memperkenalkan
diri, ya?”
Sejujurnya,
saat itu aku hampir tidak bisa melakukan apa-apa, jadi aku tidak bisa
menganggap diriku sebagai pahlawan. Itu akan terlihat seolah-olah aku mengambil
kredit dari prestasi pelajar
itu.
“Ya,
aku memang sedang merekam video saat itu.
Sebenarnya, aku sedang merekam video jalan-jalan. Karena panik, videonya
goyang-goyang, tetapi ada yang memperlihatkan wajah para pelajar itu. Namun, aku tidak
bisa memposting wajah anak di bawah umur di internet, ‘kan?”
Wanita di
telepon bertanya apa aku bisa
mengunggahnya di media sosial untuk mencari mereka, tapi hatiku berkata tidak.
Mungkin mereka tidak ingin terlalu mencolok...
“Ya,
maaf. Mungkin jika aku mengaburkan wajahnya sebelum mengunggahnya... tapi aku
juga harus berkonsultasi dengan polisi...”
Sebenarnya,
aku juga berpikir bahwa pasangan pelajar itu
seharusnya mendapatkan penghargaan yang layak. Semua itu berkat tindakan yang
tepat di tempat kejadian.
Tapi,
wajah anak laki-laki itu rasanya familiar.
Di mana
aku pernah melihatnya? Aku tidak bisa mengingatnya.
Sementara
itu, aku memutuskan untuk menyerahkan data video kepada polisi.
Ngomong-ngomong, aku juga menyerahkan video perkelahian
hari itu kepada polisi. Semoga videoku yang tidak terlalu berbahaya itu juga
bisa berguna di suatu tempat.
“Oh iya, benar. Karena sudah bulan
September, di Kitchen Aono
mulai ada kerang goreng, ‘kan? Saus
tartar di sana luar biasa, mungkin aku akan pergi makan malam di sana malam
ini!”
※※※※
──Sudut
Pandang Endou──
Aku
bermimpi. Mimpiku bersama
Eri di masa lalu.
Kami masih seusia bocah TK,
dan tertawa bahagia bersama.
“Kalau
sudah besar nanti, aku ingin menjadi istrinya Endou-kun.”
Janji itu
tidak pernah terwujud. Meskipun aku sangat menghargai masa kecilku, sekarang
hanya ada rasa benci yang muncul saat melihatnya.
Mengingat
senyum polos dari masa kekanak-kanakanku
yang hilang, aku terbangun.
“Ini
mimpi terburuk.”
Masa lalu
yang seharusnya menjadi kenangan berharga telah direnggut. Hanya ada rasa benci
yang tersisa untuk pria yang merenggut itu, para kaki tangannya, dan Eri.
Sekarang masih
pukul lima pagi.
Kemarin,
aku benar-benar melakukan petualangan yang cukup besar. Aku secara langsung
menyatakan perang kepada Kondo. Namun, ini juga merupakan bagian penting dari
rencana.
Melihat
perilaku dan kata-katanya, ia memang kuat dalam menyerang, tetapi lemah dalam
bertahan. Dirinya
memiliki sisi yang sangat menyombongkan diri, jadi jika diprovokasi, ia akan
segera marah dan kehilangan kendali.
Itulah
sebabnya, tindakannya gampang
diprediksi.
Aku berhasil
mengguncang hubungan antara klub sepak bola dan Kondo secara signifikan. Dengan
ini, munculnya pengkhianat di klub sepak bola hanya tinggal menunggu
waktu.
Namun,
balas dendamku masih belum
selesai jika cuma Kondo saja yang dihukum.
Aku harus menjatuhkannya hingga ke titik terendah.
Oleh
karena itu, aku juga memberikan informasi kepada Amada Miyuki. Setidaknya,
hubungan kepercayaan mereka akan retak, dan aku berharap bisa menggugah rasa
bersalah Amada. Tentu saja, aku tidak bisa mempercayai wanita yang
berselingkuh.
“Jika
semuanya berjalan lancar, aku mungkin bisa memisahkan Kondo dari klub sepak
bola dan Amada Miyuki. Jika itu yang
terjadi, akan sulit bagi mereka untuk saling menutupi, dan bakalan ada kontradiksi terhadap penyelidikan
dari pihak sekolah.”
Dan
itulah maksud dari pernyataan perang kemarin.
Ini memang memiliki risiko besar, tetapi potensi imbalannya juga cukup lebih besar. Kondo yang
ternyata cukup pengecut mungkin akan bergantung pada wanita-wanita ketika
hubungannya dengan klub sepak bola mulai merenggang. Jika itu yang terjadi, aku bisa menghubungi
Amada Miyuki yang melihat foto itu, dan mereka mungkin akan bertengkar.
Jika itu
terjadi, situasi tersebut akan
sangat menguntungkan. Mungkin saja informasi itu akan tersampaikan pada Eri, tapi aku tidak masalah
dengan itu. Amada Miyuki akan semakin jarang berkomunikasi, dan keraguan di
dalam dirinya akan semakin meningkat.
Jika
Amada Miyuki dan Eri saling mengenali, maka para gadis
dan Kondo juga akan saling berselisih,
dan ia akan kehilangan tempat berlindung.
Dengan
begitu, dirinya akan
kehilangan tempat di klub sepak bola dan di antara wanita-wanita, dan ia harus
bergantung pada ‘seseorang’ yang
seharusnya bergerak di belakang layar masalah ini selain aku.
※※※※
──Sudut
Pandang Hayashi,
junior di klub sastra──
“Ketua,
terima kasih atas semua bantuannya selama ini.”
Aku
merasa lega bisa mengatakannya dengan baik meski
dengan gugup. Ketua tampak terkejut sejenak, tetapi segera
kembali ke sikap biasanya dan bertanya, “Bisakah
kamu memberi tahu alasannya?”
Alasan...
itu karena tindakan sembarangan membuang naskah Aono-senpai jelas sudah keterlaluan. Itulah
sebabnya aku tidak bisa mengikutinya
lagi, tetapi sebagai orang yang pengecut, aku tidak berani menjelaskannya. Padahal aku cukup cerewet di dalam hatiku,
tapi mengapa aku tidak bisa menyampaikan perasaanku dengan baik?
Ichijou-san berusaha melindungi Senpai, tidak peduli siapa musuhnya.
Itu adalah sesuatu yang benar-benar tidak bisa kulakukan. Aku terlalu takut
untuk menantang arus utama di antara begitu banyak orang. Aku mungkin akan
menjadi sasaran pembullyan. Itu sangat menakutkan.
Jadi, aku
sangat memahami keputusasaan Aono-senpai.
Naskah pentingnya disobek-sobek
dan dibuang. Dirinya dihina dan dicaci maki, barang-barangnya
disembunyikan, dan tempat sepatunya
diisi dengan sampah.
Aku tidak
ingin melakukan hal seperti itu, dan aku tahu dirinya
yang baik tidak akan melakukan hal semacam itu, tetapi aku tidak bisa
menghentikannya. Aku bisa meminta maaf dengan baik dan dirinya memaafkanku, tetapi itu semua
berkat Ichijou-san.
Faktanya, aku tidak bisa melakukan apa-apa.
“Jadi kamu
tidak menjawab apapun, ya?”
Ketua
yang selalu baik hati kini menunjukkan ekspresi sedikit kecewa.
“Maaf,
aku tidak bisa mengatakannya dengan baik.”
Setelah
itu, ketua tersenyum, tetapi matanya menatap dingin ke arahku.
“Jika
kamu membicarakan hal-hal yang tidak perlu kepada semua orang, aku tidak akan
memaafkanmu.”
Dia
menggenggam pundakku dengan kuat.
“Aduh, itu
sakit.”
Dengan
gemetar, aku meminta agar dia berhenti melalui tatapanku.
“Kamu paham,
‘kan? Kamu juga punya tanggung jawab karena tidak
menghentikannya. Kamu tidak ingin diadili bersama kami, ‘kan?”
Dia
tertawa dingin.
※※※※
──Sudut
Pandang Ichijou Ai──
Pelajaran
pagi telah selesai. Aku menuju ruang kelas kosong dekat ruang UKS karena ada janji dengan Senpai. Hari ini kami berencana untuk
makan siang bersama. Karena tempat yang terlalu mencolok membuatku tidak
nyaman, Senpai bertanya
kepada para guru untuk menggunakan ruang kelas kosong di gedung lain.
Saat aku
berjalan, siswa-siswa lain mulai berbisik dan membicarakan rumor.
“Eh, tahu
enggak? Rumor tentang Ichijou-san.”
“Aku
tahu, aku tahu. Katanya dia berpacaran
dengan Aono-senpai
yang terkenal itu, ‘kan?”
“Kenapa
gadis secantik itu mau pacaran dengan pria yang suka melakukan kekerasan ya?”
“Aneh banget ya?”
“Apa
pria itu punya daya tarik yang tidak kita ketahui, atau dia hanya wanita bodoh
yang mengagumi pria jahat?”
Semua
orang sangat suka berbicara sembarangan.
Meskipun mereka tidak langsung mengatakannya padaku, aku tetap diam, tetapi di
dalam hatiku, aku bergetar karena marah. Kenapa mereka bisa berkata begitu
tanpa mengetahui situasi sebenarnya? Hal yang sama terjadi pada ibuku. Semua
orang menyebarkan rumor semaunya, tetapi tidak ada yang mau bertanggung jawab.
Kejadian
kali ini, mayoritas yang tidak dikenal dengan tidak bertanggung jawab
menyebarkan fitnah dan pencemaran nama baik terhadap Senpai, dan meskipun kebenaran
terungkap, semuanya cuma akan
berakhir begitu saja. Mereka bahkan takkan pernah berpikir
bahwa mereka adalah pelaku. Mungkin ada yang berpikir seperti korban, merasa
tertipu. Memikirkan hal itu membuat hatiku terasa berat.
“Ayo
cepat pergi ke tempat Senpai.”
Jika itu sebelumnya, aku takkan sanggup bertahan dalam lingkungan yang
penuh niat jahat seperti ini. Tapi sekarang berbeda. Dirinya ada di sisiku. Meskipun banyak
orang merendahkan dirinya, aku telah mengenali
sifat aslinya. Jika dirinya
tidak ada, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini.
Itu saja sudah cukup. Pada hari itu, ia
mempertaruhkan nyawanya untuk membantuku. Fakta itu saja sudah cukup. Meskipun Senpai yang sebaik itu difitnah secara
tidak adil dan menjadi sasaran pembullyan oleh orang-orang yang sangat ia percayai, kebenarannya akan
selalu terbukti. Aku juga akan melakukan yang terbaik untuk itu.
Aku
merasa bahwa satu-satunya cara untuk membalas budi atas bantuan yang sudah ia berikan padaku adalah dengan
melakukan hal itu.
Selain
itu...
Aku jatuh
cinta padanya. Ia lebih
memperhatikan orang-orang di sekitarnya daripada dirinya sendiri dan membuat
mereka bahagia. Dirinya
memperlakukan siapa pun dengan rasa hormat. Hal yang terjadi pagi ini juga
begitu. Dalam situasi krisis seperti itu, seseorang biasanya
sulit mengambil tindakan cepat. Apalagi
setelah mengalami trauma pembullyan yang membuatnya tidak percaya pada manusia, tapi Senpai mampu bergerak tanpa ragu
sedikit pun.
Aku
dengan tulus menghormatinya sebagai manusia. Itulah sebabnya, aku jatuh cinta padanya. Aku tidak pernah berpikir akan
jatuh cinta pada seseorang. Tapi, ia mengulurkan tangannya dari kedalaman neraka.
Mana
mungkin aku tidak jatuh cinta padanya.
Aku
membuka pintu ruang kelas kosong. Senpai, cowok yang sangat aku cintai, sudah menungguku sambil tersenyum.
※※※※
──Sudut
Pandang Takayanagi──
Saat
istirahat makan siang,
sambil makan roti di ruang guru dan mencatat di buku catatan, aku memegang
kepalaku.
Kemarin
adalah hari libur, tetapi pikiranku dipenuhi dengan masalah Aono.
Hari ini,
Aono datang ke sekolah hampir terlambat. Aku merasa khawatir, mungkin setelah
akhir pekan, dirinya tidak
ingin datang ke sekolah lagi, jadi aku mondar-mandir di dekat tempat sepatu.
Aku melihat Aono berlari masuk ke sekolah bersama Ichijou dari kelas satu.
Setelah itu, ketika aku bertanya dengan santai, ternyata mereka terlalu asyik mengobrol dan
sedikit terlambat. Syukurlah. Aku khawatir bahwa pembullyannya semakin parah.
Namun, demi memulihkan kehormatan Aono, aku
harus mengungkapkan fakta secepat mungkin. Bukti-bukti sudah mulai terkumpul.
Sekarang, aku hanya butuh sesuatu yang menentukan.
“Tapi,
ada satu hal aneh dalam kejadian kali ini.”
Itu
adalah tindakan Kondo. Ia memiliki kebiasaan buruk, suka pada
perempuan yang sudah memiliki pacar. Namun, di zaman modern di mana cinta bebas
adalah prinsip, tanpa hubungan pernikahan, tidak ada alasan untuk memberikan
sanksi.
Karena
itulah, pihak sekolah juga mengalami
kesulitan…
Kenapa
dia mengambil tindakan langsung seperti itu untuk membully Aono? Kondo yang selama ini
selalu berhati-hati dan tidak melewati batas?
Selalu
ada ketidaknyamanan dalam masalah ini.
Dan
meskipun ini mungkin terdengar seperti khayalan yang tidak masuk akal, aku
sampai pada satu hipotesis.
“Jangan-jangan,
ada dalang yang memprovokasi Kondo untuk bertindak seperti itu? Sial, pikiranku
tidak bisa berjalan baik.”
Mungkin
karena aku belum makan dengan baik, jadi
aku merasa jengkel.
Untuk
makan malam, kurasa mungkin aku akan pergi makan di luar. Aku ingat ada seorang pria pecinta kuliner
di situs video yang merekomendasikan restoran ramen enak di depan stasiun.
Mungkin aku akan pergi ke sana untuk mengubah suasana.
Aku
membuka saluran pria pecinta kuliner di situs video untuk mencari nama
restorannya.
Karena
pengaturan situs, video terbaru mulai diputar secara otomatis. Suaranya
dimatikan, jadi tidak mengganggu ruang guru, tetapi aku bisa memahami isi video
dari subtitle.
“Halo,
hari ini aku akan mulai siaran lagi. Jadi, saat aku berjalan di kota untuk
syuting proyek berikutnya, tiba-tiba ada seorang
kakek jatuh di depanku, dan aku sangat terkejut. Aku bingung dan tidak tahu
harus berbuat apa, tapi
tiba-tiba ada sepasang pelajar yang
mulai melakukan tindakan penyelamatan dan itu sangat luar biasa. Aku hanya bisa
memanggil ambulans. Sungguh luar biasa, ‘kan?
Baru-baru ini, saat aku berjalan di kota, ada banyak
hal yang terjadi. Minggu lalu juga. Saat syuting video kolaborasi
berjalan-jalan, aku menyaksikan ada
keributan. Sepertinya itu masalah percintaan, tetapi seorang anak laki-laki
dipukul secara sepihak. Aku berlari
menuju anak laki-laki yang jatuh itu, tetapi dia melarikan diri. Seseorang juga
memanggil polisi, tetapi saat itu sudah tidak ada pihak yang terlibat.”
Entah
kenapa, aku merasa tertarik, tetapi tidak tahu alasannya.
Dan
kemudian, sepulang sekolah.
Pada akhirnya,
aku sudah sampai di rumah Aono. Aku berniat untuk makan ramen, tetapi saat
pulang dan melihat SNS dari pria pecinta kuliner yang tadi, ada gambar set
makanan tiram goreng yang terlihat lezat, dan aku jadi tertarik ke sana.
Sejujurnya,
sebagai guru, aku merasa ragu untuk mengunjungi rumah siswa, tetapi aku membuka
pintu masuk.
“Oh,
Takayanagi-sensei. Ada keperluan apa hari ini?”
Ibu Aono
menyambutku dengan senyuman. Karena aku sering berkomunikasi dengannya, kami telah membangun hubungan
saling percaya yang kuat. Ketika aku mengirim email bahwa tambahan pelajaran
praktik Aono akan diadakan pada hari Sabtu depan, dia membalas, “Terima kasih banyak. Jika ada waktu, silakan datang
ke rumah untuk makan”. Jadi,
aku berpikir untuk menerima tawarannya.
Ayah Aono
meninggal dunia lebih awal, dan ibunya serta kakaknya mengelola restoran.
Sekarang aku sudah menjadi orang dewasa, aku bisa mengerti betapa hebatnya
tekad mereka. Karena ada kebutuhan untuk membangun hubungan saling percaya yang
lebih erat antara sekolah dan keluarga terkait masalah Aono, aku berusaha untuk
aktif berbagi informasi.
“Hari
ini aku datang sebagai tamu. Aku ingin memesan paket
makanan tiram goreng yang hanya tersedia musim ini.”
“Oh,
kalau begitu, aku akan menambahkan kol sebagai layanan dan memperbanyak
porsinya.”
Sambil
mengatakan itu, ibu Aono tersenyum.
Ibunya sangat teliti membaca laporan
yang kami buat. Jika ada pertanyaan, dia menghubungiku melalui email, jadi aku
juga membalasnya dengan informasi yang sedetail mungkin.
Berkat
itu, sepertinya keluarga Aono juga mulai mempercayai pihak sekolah. Ketika
berbicara melalui telepon, aku merasakan nada suaranya menjadi jauh lebih
lembut.
“Sensei.
Aku mohon jaga Eiji baik-baik.”
Kakak laki-laki Aono keluar dari dapur dan
membawakan semangkuk sup minestrone.
Kakaknya juga tampaknya bekerja keras
tanpa bermain-main sejak muda demi adiknya. Berkat percakapan yang semakin
santai antara aku dan Aono, aku bisa merasakan betapa besar rasa terima
kasihnya kepada ibu dan kakaknya.
Tatapannya
menunjukkan bahwa ia benar-benar khawatir tentang adiknya.
“Ya,
kami akan melindunginya dengan segenap kekuatan kami terkait masalah ini.”
Sebenarnya,
suasana di sekolah menunjukkan bahwa jumlah siswa yang memandang Aono dengan
curiga semakin berkurang. Meskipun ada kepercayaan yang tinggi terhadap Ichijou
Ai yang selalu bersamanya, sifat
Aono juga berperan besar.
Beberapa
teman sekelas dan teman-temannya dari tahun lalu tampaknya tidak sepenuhnya mencurigai Aono, dan
ada juga siswa yang menjaga jarak dari perundungan dan gosip.
Saat aku
berdiskusi dengan guru yang bertanggung jawab tentang bagaimana menangani unit
untuk eksperimen kimia, Endo, yang merupakan teman sekelas Aono saat kelas satu, menawarkan diri, “Kalau
begitu, setelah sekolah, kita bisa melakukan eksperimen itu bersama. Aono
adalah teman baikku, jadi
aku ingin sedikit membantunya.”
Memiliki
banyak teman yang bersedia membantu saat dalam kesulitan seperti ini adalah
cerminan dari kebaikan Aono sehari-hari.
“Permisi,
boleh aku minta tambahan nasi?”
Seorang
pria besar berteriak. “Ya,” jawab ibu Aono. Ketika aku
melihat sekilas ke samping, ternyata dia adalah seorang pembuat konten kuliner
yang sering aku tonton. Oh, jadi ia masih ada di sini setelah aku melihat foto postingannya tadi.
Aku tidak kuasa menahan perasaan
senang.
Dan aku
bersyukur atas kebetulan ini.
Di video
yang aku tonton sebelumnya untuk mencari restoran, dia mengatakan sesuatu yang
menarik. Setelah merenungkannya sebentar,
aku mulai curiga.
Minggu
lalu, ada seorang anak laki-laki yang dipukul secara sepihak terkait masalah pecintaan di kota.
Pertengkaran
bukanlah hal yang jarang terjadi.
Jadi kemungkinannya cukup tipis. Namun, ia adalah pembuat konten
yang fokus pada daerah setempat. Artinya, ia mungkin sedang merekam video di
sekitar sini. Dan kejadian itu sangat mirip dengan insiden yang memicu
perundungan Aono.
Meskipun
hanya ada kemungkinan kecil, jika aku bisa menyelesaikan masalah ini, jika aku
bisa segera mengakhiri kerugian Aono, aku harus mencobanya.
Aku tanpa
sadar berdiri dan mendekati pembuat konten tersebut.
“Maaf,
apa jangan-jangan Anda...?”
Aku
meraih pintu kebenaran.
“Aku
selalu menonton video Anda. Teruslah berjuang!”
Aku
berkata kepada Paman pecinta
kuliner itu. Sepertinya ia sudah menyelesaikan pengambilan video hari ini, jadi
dirinya juga menjawab dengan
ramah.
“Benarkah?
Aku senang mendengarnya. Terima kasih banyak!”
“Maaf,
ini mungkin terdengar tiba-tiba, tapi kalau
tidak salah Anda pernah mengatakan bahwa baru-baru ini Anda
menyaksikan perkelahian antara anak muda dalam siaran
sebelumnya.”
Ia
menjawab dengan wajah sedikit bingung, “Ya,
aku memang bilang begitu”.
Di sini
tidak perlu menyembunyikan sesuatu dengan aneh. Ibu Aono juga melihat ke arahku
dengan wajah terkejut.
“Namaku
adalah Takayanagi, seorang guru di sekolah SMA.
Sebenarnya, hampir pada waktu yang sama, salah satu siswa dari sekolahku mengalami insiden
kekerasan. Aku ingin berkonsultasi dengan polisi, tapi tidak ada bukti apapun,
jadi kami tidak bisa menyelidikinya.
Apa Anda bersedia menunjukkan video yang sedang
Anda bicarakan? Hanya untuk memastikan apakah anak laki-laki yang dipukul itu
adalah siswaku.”
Sejujurnya, aku merasa ragu apakah mereka
akan menunjukkan video itu. Pembuat konten saat ini menghadapi pandangan
masyarakat yang ketat, jadi mereka sangat memperhatikan kepatuhan. Terutama
pembuat konten ini, yang memiliki kebijakan untuk mendapatkan izin sebelum
merekam dan menghindari datang di waktu sibuk agar tidak mengganggu.
Namun,
jika ada kemungkinan sekecil apa pun, aku
bersedia merendahkan diriku.
Terutama jika itu demi murid-muridku.
“Uhm, bagaimana ya?”
Aku mengeluarkan
kartu namaku yang selalu kubawa.
“Kurasa
ini tidak akan menjadi bukti objektif, tetapi ini kartu namaku. Jika diperlukan, aku juga bisa menunjukkan SIMku.
Selain itu, restoran ini dikelola oleh orang tua salah satu muridku...”
Ketika
pembuat konten itu melihat ke arah dapur,
kedua orang di sana mengangguk dengan kuat.
“Kalau
begitu, jika Anda mengatakan sampai sejauh itu... kebetulan, aku memiliki data
video tersebut, jadi mohon tunggu sebentar.”
Aku
menghela napas lega. Namun, aku masih belum sepenuhnya tenang. Masih ada kemungkinan besar kalau perkelahian yang
dimaksud itu orang lain.
“Ini
dia.”
Suara
keramaian kota mulai terdengar. Lalu, “Kyaa!” terdengar suara jeritan.
Seseorang
berteriak, “Ada perkelahian!” Kamera mengarah ke arah suara
itu.
Namun, itu
bukan sekadar perkelahian.
Seorang pria yang marah memukul seorang pria yang memegang bahu seorang wanita
secara sepihak. Itu adalah tempat kejadian kekerasan... adegan pemukulan.
Pria yang
dipukul terpental dan jatuh
ke tanah. Tenaga yang digunakan sangat besar. Aku
tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya karena
jaraknya cukup jauh, tapi pria yang memukul itu berteriak dengan
nada yang sangat kuat, seperti mengeluarkan kata-kata kasar.
Wanita
yang bersama pria itu tidak berusaha mendekati pria yang dipukul, hanya berdiri
diam, mengucapkan satu atau dua kata dengan tenang, lalu pergi bersama pria
itu.
Kamera
berlari mendekati pria yang dipukul.
“Kamu,
apa kamu baik-baik saja? Jangan memaksakan diri untuk berjalan. Lebih baik
berbaring sejenak... Hei, kamu!”
Pria yang
dipukuli itu melangkah pergi dari tempat kejadian dengan langah goyah dan
sempoyongan.
Hanya
pembuat konten itu yang tersisa, menggumam dengan khawatir, “Apa ia baik-baik saja?”
Video tersebut berakhir di sini.
Aku
tertegun. Karena, orang-orang yang
terlihat di sana adalah Aono Eiji, Amada Miyuki, dan Kondo dari klub sepak
bola, tiga orang itu.
“Bagaimana?
Apa ini video yang Anda cari? Sebagai catatan, video ini juga telah diserahkan
kepada polisi, jadi mungkin jika Anda berkonsultasi dengan mereka, Anda mungkin bisa mendapatkan informasi lebih
lanjut...”
“Terima
kasih. Aku yakin kalau itu murid sekolahku.
Apa data tersebut diserahkan ke kantor polisi? Tolong beri tahu aku lokasinya. Aku
akan menghubungi mereka.”
Setelah
mendapatkan lokasinya, aku
membisikkan detail video itu di telinga ibunya.
“Sudah
kuduga, itu memang Eiji-kun.
Ia dipukul secara sepihak dalam
video itu.”
Setelah mendengar
itu, dia menjawab dengan suara dingin.
“Sensei.
Aku mungkin akan merepotkan sekolah, tapi aku takkan pernah memaafkan
orang-orang yang sudah menyakiti
Eiji.”
Jika itu guru biasa, mereka mungkin akan menyebutkan masa depan siswa
pelaku di sini. Namun, sekolah kami berbeda.
“Tidak,
semuanya tergantung
keputusan Aono-san. Sekolah tidak dapat ikut campur. Selain itu, sebagai guru, aku
merasa bertanggung jawab untuk membuat siswa menyadari kesalahan mereka jika
mereka melakukan hal yang buruk. Siswa yang menyimpang dari jalan yang benar
mungkin suatu saat akan melakukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki. Tidak,
kejadian kali ini saja sudah termasuk sesuatu
yang tidak bisa diperbaiki. Jika demikian, kupikir memberikan
kesempatan untuk menebus kesalahan juga merupakan bagian dari pendidikan.”
“Terima
kasih. Onii-chan, maaf ya. Aku akan pergi bersama Sensei. Rahasiakan dulu dari Eiji.
Setelah aku memastikan semuanya, aku akan memberitahunya.”
Ibu Aono
memberitahu anaknya yang berada di dapur, dan kami
bergegas menuju kantor polisi tempat data diserahkan.
※※※※
──Kantor
Pemadam Kebakaran──
“Pihak
kepolisian sudah mengirimkan
video pasangan pelajar yang menjadi perbincangan
hangat di kota.”
Aku
mengangguk mendengar laporan bawahanku.
“Terima
kasih. Namun, siswa zaman sekarang benar-benar
luar biasa. Mereka bisa bergerak sendiri seperti
ini. Kita sebagai orang dewasa juga harus mencontoh mereka.”
“Benar,
Kepala Pemadam Kebakaran. Mereka bahkan pergi tanpa menyebutkan nama. Sungguh
mengesankan, tapi justru membuat kita merasa cemas. Dulu, aku hanyalah siswa
yang malas, melakukan kegiatan klub,
makan ramen dengan teman setelah pulang, dan tidur tanpa belajar.”
Aku
tersenyum pahit mendengar ejekan diri bawahanku.
Ngomong-ngomong, karena aku juga tidak bisa menghakimi orang lain, aku
merenungkan diriku sendiri.
“Jangan
samakan dirimu dengan mereka.
Orang yang jatuh pingsan itu adalah mantan anggota dewan
provinsi yang sudah pensiun, Yamada-san. Beliau
adalah tokoh senior yang pernah menjabat sebagai ketua dewan provinsi, bahkan
anggota parlemen pun sampai segan
padanya.”
Karena
itulah mereka meminta agar kami mencarinya. Dari sisi
kami, kami ingin mencari tahu identitas para
pelajar tersebut supaya mereka bisa menjadi contoh yang baik
di masa depan.
“Wahh, rupanya
ia orang sepenting itu,
ya?”
Yah, mungkin anak-anak muda tidak mengenalnya.
“Baiklah,
untuk sementara, silakan olah video agar wajah para siswa tidak terlihat, dan
gunakan media sosial untuk meminta informasi. Mungkin kita bisa mendapatkan
sesuatu.”
Bawahanku
ini cukup mahir dalam menggunakan
komputer, jadi aku yakin ia bisa melakukannya dengan baik.
Aku ingin
tahu berapa banyak tanggapan yang akan diberikan. Aku harap kita segera mengetahuinya......
Saat itu, aku
tidak pernah membayangkan bahwa postingan di media sosial ini akan berkembang
pesat dalam beberapa jam ke depan, menghasilkan ratusan ribu tanggapan.
※※※※
──Stasiun
TV Lokal──
“Ada
masalah besar! Acara ramen yang seharusnya disiarkan langsung tiba-tiba
dibatalkan. Sepertinya penyelenggara menilai bahwa itu berbahaya karena angin kencang.”
“Apa!?
Lalu, bagaimana? Ada segmen
lima menit yang kosong
sekarang. Memangnya tidak
ada berita pengganti?"
“Itu...”
“Sial, beneran tidak ada? Lalu, bagaimana? Jika
sudah begini, kita harus menggali berita lain...”
“Ah,
Direktur. Kebetulan ada berita bagus. Tadi, ada video siswa yang membantu orang
lain yang diposting di media sosial pemadam kebakaran, dan jumlah tayangnya
meningkat pesat. Mari kita siarkan.
Sepertinya siswa-siswa itu membantu orang tetapi pergi tanpa menyebutkan nama
mereka. Pemadam kebakaran ingin memberi penghargaan kepada mereka dan sedang
mencarinya.”
“Karena kita tidak punya banyak waktu, senang
sekali kita sudah memiliki video itu. Kita akan menggunakannya. Segera minta izin pada mereka. Jika mereka tahu bahwa
berita ini akan disiarkan di televisi yang memiliki daya sebar luas, mereka
pasti akan setuju dengan cepat.”
Semuanya terjadi secara langsung.
※※※※
──Ruang
Istirahat Kantor Polisi──
“Video
yang diberikan ke pemadam kebakaran langsung diunggah. Mereka bekerja cukup sigap.”
“Ya,
sepertinya mantan ketua dewan provinsi terlibat.”
“Jadi,
itu sebabnya mereka bergerak cepat.”
“Oi,
ada apa? Apa yang terjadi, Minowa?”
“Bukan
apa-apa, mengenai
pria yang ada di dalam
video yang kamu tunjukkan tadi, aku merasa pernah melihatnya di
suatu tempat.”
“Oh,
cepat sekali, apa kamu sudah mengetahui
identitasnya?”
“Tidak,
aku tidak tahu namanya. Tapi, Senpai,
sekitar seminggu yang lalu, ada perkelahian di daerah pusat kota di mana
seorang anak laki-laki dipukuli secara sepihak, kan?”
“Oh,
mereka semua sudah pergi menghilang entah ke mana.
Kalau tidak salah, satu-satunya yang
ada cuma video dari pembuat konten.”
“Ya,
jujur saja, karena tidak ada laporan pengaduan, jadu
kasus itu dibiarkan begitu saja. Tapi,
bukannya anak laki-laki itu mirip dengan anak laki-laki di video tadi?”
“Masa sih?
Aku tidak begitu mengingatnya. Baiklah, kalau begitu, mari kita periksa lagi
setelah istirahat. Mungkin kita bisa membuat
pemadam kebakaran berutang budi pada kita.”
※※※※
──Sudut Pandang
Takayanagi──
Kami akhirnya tiba di pos polisi di depan
stasiun kota sebelah. Kami menjelaskan situasinya dan meminta untuk memeriksa
data sekali lagi. Video yang sama dengan yang kulihat kembali diputar. Aku bisa melihat bahwa
Aono-san sangat terkejut karena ini adalah pertama kalinya dia melihatnya.
“Bagaimana
bisa, ia dipukul secara sepihak seperti
ini?”
“Kenapa
anakku harus mengalami hal seperti ini hanya karena menggenggam bahu pacarnya sendiri?”
“Begitu
ya. Jadi Eiji mengalami hal yang sangat buruk seperti ini... bahkan dikhianati oleh
Miyuki-chan, ditinggalkan begitu saja tanpa bantuan saat dipukul sampai jatuh...
Kenapa aku tidak menyadarinya?"
Cahaya di
dalam sorot matanya menghilang,
dan Aono-san bergumam seolah berusaha menahan
emosinya. Aku hanya bisa melihatnya tanpa bisa berkata
apa-apa.
Setelah
melihatnya berkali-kali, ini sangat mengerikan.
Ini
adalah kekerasan sepihak. Tidak ada tanda-tanda kekerasan dari Aono seperti
yang diklaim oleh Kondo.
Seperti yang
kuduga, semua kesaksiannya itu bohong.
“Aku
tidak akan memaafkan pria yang memukul anak ini. Ia
adalah siswa dari sekolah yang sama, kan? Sensei?”
“Iya,
benar. Ia
adalah siswa tiga yang bernama Kondo.”
Sebelum
datang ke sini, aku sudah menghubungi kepala sekolah. Kami telah mengonfirmasi
bahwa keputusan untuk melaporkan ke pihak polisi
tergantung pada pilihan Aono-san, sesuai dengan
kebijakan awal, dan aku juga menerima instruksi untuk memberikan dukungan
sebanyak mungkin.
“Kondo.
Ya, Kondo.”
Dia
menggumamkan nama itu seolah-olah sedang linglung, dan tampaknya memiliki tekad
yang kuat untuk tidak pernah memaafkan.
“Aku
akan mengajukan laporan polisi. Apa yang harus kulakukan?”
Aono-san
mengatakan itu dengan tegas dan mulai melanjutkan prosesnya. Sebagai orang tua
yang memiliki hak asuh, dia dijelaskan bahwa dia bisa mengajukan laporan atas
nama anak di bawah umur.
Saat
proses berlangsung, dua polisi memasuki
pos polisi.
“Ah,
terima kasih atas kerjanya!”
Polisi
yang bertugas menyapa keduanya, dan yang paling senior bertanya, “Apa kedua orang ini adalah
kerabat dari anak dalam video itu?”
Polisi
yang ditanya segera mengangguk.
“Iya, mereka
adalah ibu dari korban dan guru sekolahnya. Sekarang, mereka sedang menulis
laporan.”
“Begitu ya.”
Polisi
senior itu menghadap kami dan mulai berbicara dengan jelas.
“Namaku
Doumoto. Maafkan aku karena
tiba-tiba mengganggu, tetapi ada satu video lain yang ingin aku konfirmasi.
Jika tidak keberatan, bisakah kalian berdua
memeriksanya? Tenang saja, ini tidak ada hubungannya dengan kasus kekerasan,
tetapi tentang penyelamatan nyawa. Salah satu anak Anda mungkin mirip dengan
anak yang membantu seorang pria yang jatuh pingsan
di jalan kemarin dan pergi tanpa menyebutkan namanya.”
“Ya,
tidak masalah.”
Ibunya
menjawab dengan sedikit lebih tenang. Tentu saja, setelah melihat video yang
sangat mengejutkan ini, aku merasa kasihan pada Aono-san, jadi aku lega
mendengar bahwa itu masalah
yang berbeda.
Video
tersebut memperlihatkan Aono yang mengenakan seragam dan Ichijou
Ai, siswa kelas satu, berusaha membantu seorang pria yang jatuh pingsan. Apa ini sebabnya mereka hampir terlambat ke sekolah pagi
ini? Tanpa sadar aku mengangguk setuju.
“Iya,
ia adalah anakku.
Dan, gadis yang ada di sampingnya adalah... gadis yang dekat dengan anakku...”
Ibunya
terkejut dan kata-katanya terputus-putus.
“Begitu
ya. Sebenarnya, pria yang jatuh pingsan itu sekarang berhasil pulih dengan baik
berkat penanganan yang cepat. Dan, dirinya
ingin sekali berterima kasih kepada anak Anda. Pemadam kebakaran juga ingin
memberikan penghargaan.”
Video tersebut
memperlihatkan perbuatan baik yang luar biasa, berlawanan dengan video mengejutkan sebelumnya.
Seolah-olah, dari neraka menuju surga...
Aono benar-benar luar biasa, walaupun ia adalah muridku. Dalam
situasi di mana orang dewasa pun sulit bergerak, dirinya
mampu mengambil inisiatif untuk membantu orang lain.
Bahkan dalam keadaan putus asa yang bisa membuat orang kehilangan kepercayaan
pada manusia, ia bisa tetap bergerak demi
orang lain, itu sangat mengagumkan.
“Begitu
ya. Eiji... Aku tidak tahu apa-apa... karena, anak itu tidak pernah mengatakan
apa-apa.”
Polisi
senior itu tersenyum.
“Anda
memiliki putra yang hebat. Aku
juga mempunyai putri sebaya, tetapi tidak mudah
untuk melakukan hal seperti itu. Ia sungguh
anak yang luar biasa. Aku
benar-benar tidak bisa memaafkan seseorang yang menyakitin anak itu. Kami akan menangani
kasus kekerasan ini dengan serius.”
Kata-katanya
yang lembut namun tegas memberi
kami perasaan lega.
“Terima
kasih.”
Ibu Aono meneteskan air mata dan
menundukkan kepala.
Benar-benar
ada banyak kejadian aneh di
dunia ini. Kenapa orang baik seperti Aono Eiji harus diperlakukan seburuk ini?
Kenapa ia menjadi sasaran pembullyan kali ini?
Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Aku tidak boleh
berpikir negatif. Anak itulah
yang seharusnya paling menderita, tapia ia
justru terus melangkah maju ke depan...
Sebagai
orang dewasa, aku harus melakukan sesuatu untuk meringankan rasa sakitnya,
meskipun hanya sedikit.
Pertama-tama,
aku harus memastikan pelaku utama bertanggung jawab.
Dari
sini, semuanya akan menjadi sulit.
Aku
kembali menguatkan tekadku.
※※※※
──Sudut Pandang
Shimokawa──
Sial,
meskipun sudah hari Senin, karena pelatih yang
marah dengan hasil pertandingan latihan kemarin, kami jadi harus berlatih lagi. Seharusnya, kami bisa pulang
lebih awal hanya untuk pemulihan dari kelelahan. Tentu saja, ketegangan dari masalah kemarin masih terasa, dan Kondo-senpai tentu saja tidak hadir.
Sejujurnya,
ini bukan saatnya untuk berlatih. Tim kami benar-benar
kehilangan semangat. Kami mungkin tidak akan berhasil masuk ke turnamen
berikutnya. Semua orang berbagi suasana pasrah.
“Baiklah,
mari kita pulang.”
Saat aku
berkata demikian dan sedang mengganti sepatu di pintu masuk, terdengar suara
marah kapten, “Oi, Mitsuta! Apa-apaan ini? Cepat jelaskan padaku!”
Merasa terkejut
oleh suara yang tidak biasa itu, kami para junior
segera menuju ke sumber suara
tersebut.
Kotak
sepatu Mitsuta-senpai terbuka, dan di lantai terdapat
banyak foto yang berserakan. Melihat
pemandangan aneh ini, semua orang terdiam, "Eh?”.
“Jadi
dalangnya adalah kamu, ya. Sudah
kuduga, karena Kondo memanfaatkanmu, kamu membalas dendam dengan cara
ini! Kamu menghancurkan
kehidupan kami. Kamu pasti
diam-diam menertawakan kami, ‘kan?”
Kapten
berbicara dengan suara histeris.
“Tidak.
Aku tidak tahu, aku tidak tahu-menahu
tentang ini. Ada seseorang yang memasukkannya ke dalam situ. Aku
tidak mengkhianati kalian.
Ini adalah fitnah!”
Mendengar
kata-katanya, aku jadi teringat
pada Aono. Pada akhirnya,
kami semua dimanfaatkan oleh Kondo dan menjadi bagian dari rencana untuk
menjatuhkan Aono. Terutama Mitsuta-senoau, yang secara aktif menyebarkan
rumor. Ini pasti balasan atas perbuatannya.
“Aku
tidak bisa mempercayaimu. Sekarang, aku bahkan tidak
bisa mempercayai siapa pun!”
Kapten memabnting Mitsuta-senpai
ke kotak sepatu dan pergi begitu saja. Suasana di antara kami yang tersisa
terasa seperti suasana berkabung.
“Ini
bukan sepak bola yang ingin aku mainkan.”
Maehira si
anak kelas satu bergumam pelan begitu. Kami menatapnya dengan wajah
terkejut. Para kelas satu hampir
tidak terlibat dalam insiden kali ini jadi
mereka memandang konflik internal kami para senior seolah-olah sedang melihat kotoran.
Sial, ini
bukan salahku. Ini salah Kondo.
Maehira dan yang lainnya pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Yang
tersisa hanyalah foto-foto itu dan para senior yang tenggelam dalam
keputusasaan.
※※※※
──Sudut Pandang Eri──
Aku
membeli beberapa bahan makanan di supermarket dan kembali ke rumahku yang
biasa.
“Aku
pulang.”
Aku tidak
bisa menghilangkan kebiasaan lamaku. Walaupun tidak
ada yang menjawab ketika aku memberi salam
di rumah yang kosong.
Aku kembali dibuat sadar kalau aku
adalah sosok yang berada di kutub kebahagiaan.
“Mendingan buat
udon saja dulu.”
Jika aku memasak
sayuran dan daging yang sesuai dan memakannya, maka aku tidak akan mati. Sejak
mulai tinggal sendiri di SMA, aku sudah menjalani rutinitas ini terus-menerus. Selama tiga
tahun ini, aku tidak pernah merasakan kesenangan dalam makan. Yang penting
bagiku adalah bisa mendapatkan nutrisi yang cukup.
Selain
bertemu Kondo-kun, aku
hanya melakukan hal-hal dasar untuk menghabiskan waktu dalam hidup. Selain
waktu bersamanya, aku merasa seperti zombie.
Semua ini
karena aku telah kehilangan segalanya.
Sebelumnya,
aku adalah siswa yang berprestasi hingga SMP.
Aku juga memiliki banyak teman dan berpacaran dengan Endou Kazuki, teman masa kecilku. Dirinya juga pintar, dan aku selalu
bangga padanya sebagai teman masa kecil.
Kami selalu
akrab dan berpikir bahwa kami akan terus bersama
di masa depan.
Namun, aku sendiri yang menghancurkan kebahagiaan
yang dijanjikan itu.
Aku
pertama kali sekelas dengan Kondo-kun
saat kelas tiga SMP. Ia adalah pemain jagoan di klub sepak bola dan
juga pintar, jadi ia selalu
menjadi pusat perhatian di kelas.
Karena
aku sangat menyukai teman masa kecilku, jadi
aku hanya memandang Kondo-kun sebagai orang yang
luar biasa.
Namun, karena kami sekelas, kami perlahan-lahan mulai akrab seiring berjalannya waktu. Karena ia juga pintar dalam belajar,
jadi ia dengan sabar mengajarkan soal matematika yang tidak bisa kupahami.
Hal-hal
kecil seperti itu membuat kami semakin dekat, dan caranya mengawaliku sangat berbeda dari
Kazuki yang canggung. Aku yang lengah, tanpa sadar, mengizinkan semua perbuatannya dan
membawaku ke dalam neraka ini.
Tapi, aku
tahu betula. Semua kesalahan ada padaku.
Selama ini aku berusaha untuk tidak melihatnya, tapi siapa yang paling salah
bukanlah orang lain.
Orang tuaku
hampir tidak mau mengakuiku sebagai anak mereke. Mereka
membayar biaya sekolah dan biaya kehidupanku di SMA, tetapi setelah itu,
mereka bilang aku harus mengurus diriku sendiri.
Teman
dari taman kanak-kanak bertanya padaku,
“Kenapa kamu bisa tega melakukan hal kejam seperti itu? Jika
memikirkan Endou-kun...
tidak mungkin bisa melakukan hal yang begitu menyedihkan, ‘kan?” dan dia memutuskan hubungannya denganku.
Menurutku
itu wajar saja. Namun,
jika aku tidak bisa bergantung pada orang tuaku,
sulit untuk melanjutkan ke universitas atau sekolah kejuruan. Mimpiku untuk
menjadi guru yang selalu aku miliki juga seolah hilang karena perselingkuhan
itu.
Aku
mendengar Kazuki begitu putus
asa dan tidak bisa mengikuti ujian masuk SMA. Sekarang, ia mengulang tahun dan
bersekolah di kelas di bawahku.
Aku merasa
sangat senang ketika dirinya diterima di SMA yang sama denganku. Aku tahu bahwa aku salah karena sudah berpikir
seperti itu setelah mengatakan hal yang begitu menyakitkan padanya. Namun, aku sedikit berharap dirinya bisa menyelamatkanku dari
neraka ini.
Tapi,
segera aku menyadari bahwa itu hanyalah angan-angan
saja.
Bahkan
ketika kami bertemu di koridor, dirinya
hanya memandangku dengan tatapan dingin seolah-olah
sedang melihat kotoran.
Senyuman lembut yang selalu ia tunjukkan
padaku tidak akan pernah ada lagi. Pada akhirnya, aku disadarkan bahwa cuma Kondo-kun yang ada untukku. Simbol
kebahagiaan yang pernah ada kini telah pergi jauh, dan meskipun aku mengulurkan
tangan, aku tidak bisa meraihnya.
Lebih
dari itu, ia membuangku dan hanya memperlakukanku sebagai perempuan yang gampangan baginya.
Kami
pernah berpacaran sebentar saat SMP, tapi aku
segera ditinggalkan. Setelah ditolak, aku menjadi kurang bersemangat sekolah. Namun, setelah ia
mengetahui hal itu, ia menjadi
sedikit lebih baik dan kadang-kadang datang menemuiku. Meski aku tahu aku hanya
menjadi perempuan yang gampangan,
aku tidak bisa keluar dari jeratnya.
Karena itu
adalah cinta yang kuperjuangkan sepenuhnya, sehingga aku tidak bisa menyerah
dan perlahan-lahan menjadi wanita murahan. Semua yang kumiliki—keluarga,
kekasih, teman, impian, dan masa depan—semua dipertaruhkan dalam cinta
ini.
Aku telah
mengabdikan seluruh masa mudaku demi
Kondo-kun.
Dan yang
tersisa hanyalah jurang neraka
ini.
Aku tahu
ia memiliki perempuan lain. Sebenarnya, aku pernah melihatnya beberapa
kali.
Namun, ia pasti akan kembali padaku setelah
aku mengorbankan segalanya. Aku selalu mempercayai
hal itu.
Tapi, amplop yang baru saja sampai di kotak
surat justru menghancurkan mimpi itu.
Foto
dirinya yang tampak bahagia saat meninggalkan hotel bersama wanita lain.
Jika
hanya itu saja, mungkin
aku masih bisa menahannya.
Namun, ia mengenakan kalung serupa
yang kami beli saat SMP. Seolah-olah ia sedang
menginjak-injak perasaanku. Aku menyadari bahwa masa mudaku hanya dianggap
sebagai barang miliknya.
Aku tidak
bisa memaafkannya.
Aku tidak
bisa memaafkan diriku sendiri. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri yang telah mengkhianati
orang-orang penting dalam hidupku.
Aku ingin
mati. Benang yang telah direntangkan hingga batasnya akhirnya putus. Karena
tidak ada harapan di depan sana.
Namun,
aku tidak mau menjadi
satu-satunya yang masuk neraka.
Pelaku
yang menciptakan neraka ini juga harus merasakannya...
Setidaknya,
aku ingin menjadi diriku sendiri di akhir hayatku...
