Chapter 1 — Pengganggu
Suara jangkrik yang berdengung di telingaku terdengar sangat nyaring, membuat
sarafku terganggu.
“Panas
sekali…”
Panas
yang dipantulkan dari beton menjalar dari bawah kaki, perlahan-lahan menguras
tenaga. Rasa
sakit menyengat pada lengan yang terpapar, dan aku bisa merasakan kulitku
terbakar. Tiba-tiba,
aku mengalihkan pandangan ke samping.
“Ujian!
Selesai!!!!”
Hibise merentangkan kedua tangannya
lebar-lebar ke arah langit biru yang memenuhi pandanganku. Dia
memancarkan aura kebebasan seolah-olah sedang mengumumkan
kemenangannya kepada
dunia.
Mahasiswa
lain yang juga keluar dari gedung itu serentak menoleh ke arah kami. Di tengah-tengah suasana yang dipenuhi kelelahan
dan kebebasan, dia sangat
mencolok seperti bintang paling terang.
“Berisik, tau. Coba pikirkan
bagaimana tindakanmu itu mengganggu orang lain.”
Aku
mencoba menegurnya sebagai senior. Namun.
“Hey, hey, hey~”
Nih anak
nyebelin banget…
Hibise
mengacungkan jempol dengan kedua tangannya tanpa
merasa bersalah sama sekali. Dia
tersenyum penuh kemenangan dan mengangkat bahunya dengan berlebihan.
Bagi Hibise,
ini bukan hanya akhir ujian, tetapi juga akhir dari begadang semalaman. Jelas sekali bahwa keceriannya benar-benar melampaui batas, dan kekesalan serta
kekecewaannya telah mencapai puncaknya.
“Ayo kita
pergi merayakannya sekarang juga!”
“Aku
masih ada ujian besok…”
Aku
berkata dengan nada putus asa.
“Tenang
saja! Jika kamu gagal ujian besok, kamu bisa memperbaikinya di semester
depan!”
“Seenaknya
saja kalau ngomong…
Lagipula, karena kamu sama sekali tidak belajar, kelelahan yang kurasakan jadi
dua kali lipat… tidak, bahkan empat kali lipat?”
Aku
menatap Hibise dengan tatapan tajam.
Malam
sebelumnya.
“Aku sama
sekali tidak mengerti matematika! Ajari aku dong, sayanggggggggg!”
Begitu
melihat pesan yang muncul di ponsel, aku langsung berpura-pura tidak
melihatnya.
“Kenapa!
Kenapa kamu mengabaikanku! Tolong bantu kouhai
kesayanganmuuuuuu!”
Namun, mengabaikannya
juga tidak ada artinya. Beberapa puluh menit kemudian,
bel pintu berbunyi tanpa ragu, dan aku terpaksa mengajarinya.
Setelah
terus-menerus diteriaki “Aku tidak mengerti!” di sampingku, waktu
tidurku lenyap.
“Yah,
berkat itu aku jadi paham!… Mungkin.”
Seandainya
dia tidak mengatakan kata
terakhir itu, mungkin aku bisa sedikit merasa terhibur. Aku menghela napas kecil.
“Meski begitu, rasanya panas sekali ya.”
Dia
mengusap keringat yang mengalir di dahi dengan punggung tangan, lalu melepas
kacamatanya. Begitu dia melepaskannya, dia menyipitkan matanya, seolah-olah pandangannya sedikit terbuka. Kemudian, dia mengangkat headphone yang
menjadi ciri khasku dari tas dengan gerakan yang sudah terlatih dan
menggantungnya di leher.
“Eh? Bukannya tadi pagi kamu memakai
kontak lensa, ya?”
“Ah, ini cuma kacamata palsu.”
“Hmm,
jadi itu yang sedang tren.”
Sepertinya
aku tidak akan pernah bisa mengikuti tren para gadis. Begitu memasuki tahun kedua perkuliahan, aku menyerah pada banyak hal.
“Tidak, ini jimat keberuntungan.”
“Hmm?”
Suara
bingung keluar dari mulutku tanpa sengaja.
“Ketika
memakai kacamata, aku merasa otakku jadi lebih pintar. Bahkan saat ujian, bukankah kau merasa
ada kekuatan tak terlihat yang bekerja?"
Sambil
berkata begitu, dia membuat gerakan mendorong bingkai kacamatanya ke atas
dengan jarinya.
“...Kamu pasti gagal. Tahun depan nanti aku tidak akan mengurusmu lagi, oke?”
“Kenapa!?”
Mungkin dia harus berusaha lebih keras tahun
depan untuk menemukan alasan itu. Hibise
dengan hati-hati mengelap kacamatanya
agar tidak meninggalkan sidik jari, lalu menyimpannya dengan lembut ke dalam kotak kacamatanya. Gerakan itu saja sudah sangat rapi.
“Ketimbang itu, Senpai~! Ayo kita pergi minum!”
Mendadak,
ada sentuhan lembut yang
melilit lenganku.
“Tapi,
aku masih ada ujian besok…”
“Kejam banget! Kita baru saja menghabiskan
malam yang penuh gairah kemarin, dan sekarang setelah kamu selesai denganku, aku dibuang
begitu saja!?”
“Cara
bicaramu!”
Tatapan
orang-orang di sekitarku langsung
menusuk. Fakta
bahwa aku hanya membantu belajar terasa diputarbalikkan menjadi makna yang
berbeda.
“──itu
hanya bercanda.”
“Candaanmu sama sekali tidak
lucu!”
“Ahem.”
Ketika
aku menatapnya dengan tajam, Hibise
berdeham seolah-olah sedang membersihkan
tenggorokannya.
“Aku
hanya ingin berterima kasih kepada Senpai. Malam kemarin, aku juga tiba-tiba
datang…”
Saat itu,
pita yang tadinya tegak berdiri tampak kehilangan kekuatannya dan terkulai. Keriuhan sebelumnya terasa
seperti kebohongan, dan nada suaranya sedikit menurun.
“Bukan
hanya itu saa. Aku
terlalu pengecut,
sehingga butuh dua tahun untuk ini, tetapi aku juga ingin merayakan kesembuhan
Senpai.”
──Kalimat
itu membuatku lemah.
Hanya dua
minggu yang lalu, aku secara sepihak meragukan Hibise terkait masalah 【LoD】. Dan aku menyadarinya. Bahwa dia adalah “korban dari paksaan pengoreksian dunia”.
Dan pada
saat yang sama, aku tersadar. Fakta
yang terlupakan. Hari-hari
saat aku tertawa bersamanya. Betapa
seringnya aku didukung olehnya. Perasaan
tulus yang ditujukan kepadaku.
Semuanya.
Semuanya
telah lenyap sepenuhnya.
Dengan
wajah yang tidak tahu apa-apa, aku menikmati ketenangan dan sekali lagi
menjatuhkan Hibise sampai ke titik terendah.
Hatiku
merasakan rasa sakit yang tumpul.
Namun.
“Lagipula,
Senpai sendiri yang sudah bilang, kan? Kalau aku boleh melakukan apapun sesukaku.”
Hibise
mengangkat wajahnya dengan tegas. Pita
yang tadinya terkulai kini kembali tegak.
“Jadi,
aku sudah memutuskan untuk terus mengejar Senpai sampai akhir, meskipun Senpai
merasa terganggu!”
Sorot
matanya terlihat berbeda dari saat dia menangis menyedihkan
di kamarku, pandangan matanya kini
menunjukkan ketegasan tanpa keraguan. Dia gadis
yang kuat. Aku
hanya bisa menghela napas pendek tanpa bisa berkata apa-apa.
“...Baiklah, aku ngerti. Tapi, hanya sebentar saja, oke?”
“Horeee!”
Hibise
mengepalkan tangan kecilnya. Gerakan
itu terlalu polos dan
kekanak-kanakan, dan tanpa kusadari, ekpresi
wajahku sedikit melembut.
“Kalau
begitu! ‘Kamu benar-benar
tidak pernah kapok, ya’... Hah!?”
Lalu secara
tiba-tiba, ada tangan yang menjulur
dari belakang Hibise. Tanpa
memberi kesempatan Hibise untuk melarikan diri, jari-jari
itu mencengkeram pipi Hibise dan langsung memeluknya seolah ingin
mencekiknya.
Rupanya itu
ulah Satsuki. Dua mengintip dari samping Hibise
yang pipinya sedang dicubit. Pandangan mata Satsuki tampak gelap
dan keruh, dan tatapannya mengarah ke arteri leher Hibise.
“...Kerja bagus buat ujiannya.”
Aku
memanggil Satsuki seolah tidak terjadi apa-apa. Satsuki tersenyum ceria sambil
menatapku.
“Kerja bagus juga,
Satoshi-kun! Bagaimana dengan ujianmu?”
“Yah, lumayan… Satsuki sendiri?”
“Aku
mungkin gagal. Mungkin aku bakalan mengikuti ujian
ulang…”
“Kalau
ada yang bisa aku bantu, bilang saja, ya? Aku akan melakukan apa pun yang bisa
kulakukan.”
“Seriusan!? Aku sangat menyukaimu, Satoshi-kun!”
Satsuki
tersenyum lebar layaknnya
bunga sakura yang bermekaran. Namun, pemandangan yang kuhadapi sangat buruk. Satsuki memeluk adik juniornya
dengan erat sambil tersenyum lebar. Di
dalam pelukannya, Hibise terlihat meringis dengan wajah penuh harapan mencari
bantuan. Tatapan
penasaran dari orang-orang di sekitar menusuk tajam, dan tekanan tanpa kata
terasa sangat kuat. Aku
biasanya tidak mudah terganggu, tetapi pipiku berkedut.
“Ja-Jangan bermesra-mesraan di depanku!”
Entah
bagaimana, Hibise berhasil
melepaskan diri dari pelukan Satsuki dan berteriak dengan wajah merah padam seakan-akan hendak menangis.
Namun.
“──Hah?”
Suara
yang terdengar seperti merangkak
dari kedalaman bumi membuat udara di sekitar
kami menjadi beku. Aku
dan Hibise saling menatap.
“──Asal kamu tahu saja…”
“Fai!”
Hibise
secara refleks meluruskan
punggungnya. Satsuki
mendekatkan wajahnya ke telinga Hibise dan membisikan sesuatu.
Dengan suara lembut.
Sangat
lembut.
“Persentase
simpati untuk Hibise satu persen. Untuk menjaga muka Satoshi-kun satu persen. Kamu masih mengingat bahwa kami membuat pengecualian dan
mengizinkanmu untuk bersama Satoshi-kun karena sembilan
puluh delapan persen belas kasihan kami padamu, iya
‘kan?”
“Y-Ya, benar! Terima kasih
banyak!”
Hibise
menjawab dengan senyuman kering.
Keesokan
harinya setelah Hibise berdebat
dengan Satsuki dan yang lainnya, dia datang kembali ke kamarku.
Dan kemudian──.
“Akulah yang salah! Aku benar-benar minta maaf!”
Dia
melakukan dogeza (bersujud
dalam-dalam) dengan sempurna dengan kekuatan sedemikian
rupa sehingga dahinya tampak seperti akan pecah. Itu
sangat mengesankan sehingga bahkan Shino pun terkesan..
Setelah
itu, berkat beberapa bujukan dariku,
keempatnya tampaknya setuju di permukaan. Namun.....
“──Setiap
hari datang ke rumah Satoshi-kun itu
maksudnya apaan?”
Suara
dingin yang hanya menyatakan fakta.
“Ketika
kami sedang bemesra-mesraan mesra-mesraaan mesra-mesraan──”
Itu panjang
sekali...
“── kamu sengaja datang untuk mengganggu, iya ‘kan?”
Hibise
berkeringat dingin.
“Aku memang mengizinkanmu untuk berhubungan dengan
Satoshi-kun sebagai ‘teman’, tetapi aku tidak mengizinkanmu untuk
mengganggu kami, kan?”
“Ap-Apa iya begitu
begitu?”
“Bahkan
kemarin, kamu mengganggu waktu malam kami.”
“──”
“Aku
tidak akan membantumu, oke?”
“Eeh~, kamu kejam
sekali Senpai, guhe!?”
Saat Hibise
mencoba datang ke arahku untuk meminta bantuan, Satsuki diam-diam mencengkeram kerah Hibise. Karena ditarik dengan tiba-tiba,
wajah Hibise menjadi seperti katak yang tenggorokannya terjepit.
Entah
kenapa, itu sangat disayangkan. Namun,
Satsuki memang benar.
Karena
aku bilang untuk membiarkan Hibise melakukan sesukanya, dia benar-benar tidak
lagi merasa ragu. Dia
datang tanpa mempedulikan siang atau malam, dan setiap kali itu terjadi, suasana hati Satsuki dan yang lainnya justru semakin
memburuk.
Aku
seharusnya menghentikannya, tetapi rasa bersalah karena melupakan hal itu
menghalangiku. Yang paling
penting, karena aku sudah bilang
untuk membiarkan Hibise melakukan sesukanya, jadi aku
tidak bisa menghentikannya. Aku
memang seratus persen salah, tetapi berada di tengah situasi ini jujur saja
membuat perutku tidak nyaman.
“Haah…”
Malam
kemarin juga begitu.
Tepat saat
malam mulai tiba, dia muncul di kamarku, duduk di sampingku sambil menjadi sasaran niat membunuh dari
keempat orang itu, dan dengan senyum manis berkata, “Senpai, aku tidak
mengerti bagian ini~”.
Selama
itu, aku terus-menerus menjadi sasaran
tatapan “Kapan cecunguk ini
pulang?” sepanjang malam.
“Nee,
Hibise?”
“I-Iya?”
Satsuki
dengan lembut bertanya kepada Hibise.
“Apa rasanya menyenangkan
mengganggu kami?”
“Ya!
Rasakan itu… eh, maksudku, aku benar-benar merasa sangat bersalah! Aku sangat
menyukaimu, Satsuki-senpai~♡”
“Aku akan
menghancurkanmu sampai babak belur,
oke?”
“Eh? Itu cuma bercanda, iya ‘kan? Aduh, aduh,
tunggu dulu, Senpai!? Jangan hanya menonton doang, tolong bantu aku!”
Aku
berusaha mengalihkan pandanganku
dan menutup telinga, karena hubungan ini bisa terjaga dengan janji untuk tidak
melakukan apa-apa terhadap Hibise.
Sayangnya. Memang begitu. Namun, berkat Hibise, sakit
punggungku mulai membaik.
Cuma itu
satu-satunya hal yang benar-benar──.
“Mulai sekarang, aku sangat menantikannya.”
Tiba-tiba,
ada sensasi sedingin es yang menyentuh daun telingaku. Suara yang dingin dan anehnya
manis itu melintas di dekatku. Ketika
aku menoleh, Reine sudah berdiri di sampingku.
“Iya, ‘kan~.
Akhirnya kita punya waktu untuk bermesra-mesraan~.”
Hembusan
hangatnya menyentuh telingaku. Suara
lembut yang seolah membungkus. Itu suara Shuna.
Suara
yang dingin namun memikat. Suara
yang hangat tetapi terasa mengekang. Dari
kiri dan kanan, dua rasa manis yang berbeda mengalir masuk, membuat telingaku
merinding──.
“──Bukan itu, kalian berdua, bagaimana dengan ujian kalian?”
Aku
memaksakan diriku untuk kembali pada kenyataan.
““Kami
bolos (sih~)””
“Hah!?”
Tanpa
sadar suaraku menjadi tinggi.
“Kalau
kalian bolos ujian, kalian tidak akan mendapatkan nilai! Kalian memang bodoh ya!?”
“Itu
memang benar, tapi Hibise, kamu diam
saja.”
Itu bukan
sesuatu yang akan dikatakan orang yang baru saja menyuruhku bolos.
“Hibise-san.”
“Hyai!?”
…Seperti
biasa, Shino entah bagaimana bisa menghilangkan suara dan jejaknya untuk
mengambil posisi di belakang Hibise. Tanpa kusadari, dia sudah
mengintip dari sisi yang berlawanan dengan Satsuki.
“Karena ulahmu, kami kekurangan ‘kebahagiaan hakiki’.”
“Y-ya.”
“Ngomong-ngomong, apa itu ‘kebahagiaan hakiki’ sih?”
“Bukan
itu saja.”
Sarkasme
kecilku jelas-jelas
diabaikan.
“Ketika
kami dibuat sibuk selama ujian, kamu
berusaha mencuri
Satoshi-san. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?”
Nada
suaranya tidak menuduh atau menekan, hanya menutup semua jalan keluar.
“Ke-Ketimbang itu, kurasa sebaiknya kalian tetap mengikuti
ujian dengan benar, lho?”
Dia
mencoba mengubah topik secara terang-terangan dengan argumen logis. Itu taktik yang transparan,
tetapi aku setuju dengan perkataan Hibise.
Kehilangan
nilai demi menghalangi Hibise akan kelihatan──
konyol, tak peduli bagaimana pun kamu memandangnya.
Aku
memegang pelipisku. Namun.
“Fufu,
sepertinya kamu salah paham, jadi aku akan memperbaikinya, kami tidak perlu
lulus.”
““Eh?””
Aku
dan Hibise bereaksi bersamaan. Tapi sesaat kemudian, mereka berempat tersenyum lembut.
“Sebaliknya,
rasanya jauh lebih baik jika
Satoshi-kun langsung keluar dari kuliah.”
“Tidak baik, tidak baik, tidak baik.”
Aku secara
refleks membantah perkataan Satsuki. Segera
setelah itu, napas dingin menyentuh telingaku. Reine dan Shuna mendekatkan wajah
mereka secara bersamaan.
“Aku
tidak tahu apakah Satoshi benar-benar ingin belajar atau hanya ingin waktu
sendirian, tetapi karena keegoisanmu, kamu
membiarkan pengganggu seperti Hibise
mendekat, kan?”
“Egois?…”
“Kamu
bilang aku pengganggu?”
“Kalau
begitu, bukannya lebih baik berhenti sekolah dan
dikurung seumur hidup di 1LDK sempit itu~…
eh, maksudku, bukannya itu lebih membahagiakan jika
menjalani kehidupan nyaman dan santai
di dalam kamar? Sekarang ada juga yang namanya kerja
dari rumah~.....”
Tadi aku
merasa seperti mendengar kata “dikurung” dari mulut Shuna…
“Sejujurnya, Hibise-san terlalu mengganggu.
Aku tidak ingin dia mendekati Satoshi-san lagi.”
“Eeh~~! Shino-senpai
membully-ku, guhe!?”
Gerakan Hibise
yang berusaha melarikan diri tiba-tiba terhenti. Satsuki mencengkeram kerah
bajunya. Shino
mencengkeram pita rambutnya. Mereka
menangkapnya secara bersamaan, benar-benar menahannya.
Ini
adalah kedua kalinya aku melihat pemandangan itu hari ini.
“Jadi,
Satoshi-san. Mari kita pergi berlibur.”
“Apa
maksudnya ‘jadi’…?”
Kamu tahu
besok ada ujian, kan?
“Sudah
deh.”
Satsuki
melepaskan tangan dari Hibise. Dia
perlahan-lahan berjalan ke arahku.
“Aku
tidak bisa── menahan diri lagi.”
Begitu
kata-kata itu terucap, Reine dan Shuna mencengkeram tanganku dari kiri dan
kanan.
“Eh? Hah?”
Karena aku
masih belum bisa memahami situasinya, jadi aku melirik ke
kiri dan kanan.
“Baiklah, kalau begitu, Satoshi-kun!”
Sebelum aku
menyadarinya, Satsuki yang tersenyum lebar sudah berdiri di
depanku.
“Satsuki,
mmm!? ”
Di detik
berikutnya, ada kehangatan di bibirku. Mata
merah muda Satsuki tepat di hadapanku. Sorot matanya tampak hangat,
dan terlihat sedikit terbakar.
“Mm,
mm.”
Lidahnya
masuk ke dalam mulutku. Lidahnya mengambil
napasku dan memberikan kehangatan. Bahkan
jika aku ingin melarikan diri, aku terperangkap dan tidak bisa bergerak karena dia memelukku dengan erat.
Dan kemudian, ada sesuatu didorong ke dalam
mulutku. Kecil,
tetapi terasa jelas sebagai benda asing. Saat benda
itu menyentuh bagian
tenggorokanku, aku menelannya secara refleks.
“Apa yang
sedang kalian lakukan!? Ini kampus, tau!?
Kenapa kalian melakukan permainan aneh seperti ini!?”
Suara Hibise
terdengar dari jauh.
Namun. Suara itu semakin menjauh. Pandanganku mulai kabur. Kakiku terasa goyah. Aku tidak bisa mengerahkan
kekuatan pada lenganku. Aku
tidak bisa berbicara dengan jelas.
Kesadaranku
perlahan-lahan tenggelam seolah-olah
ditarik ke dalam air. Hal
terakhir yang kulihat adalah senyuman
puas dari mereka berempat. Dan kemudian, suara manis, lembut, dan memikat pikiranku berbisik tepat di dekat telingaku.
──Selamat
malam?
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
