Otonari no Tenshi-sama Chapter 155 Bahasa Indonesia

Chapter 155

 

Amane kembali ke apartemen, lalu bertemu dengan pria yang baru saja berpapasan dengannya tadi dan menatapnya.

Ia tidak pernah menyangka pria itu akan melihat apartemennya sendiri, dan berdiri di sana, menunggu.

Warna rambutnya tetap terlihat familiar.

Namun, Amane tidak melihat apapun selain punggungnya. Badannya tidak terlalu besar, dan mungkin seukuran dengan Amane, mungkin sedikit lebih pendek.

Pria itu terus melihat ke apartemen.

Amane tidak bisa melihat ekspresi cowok itu dari sudut pandangnya, tapi Ia mengerti kalau pria itu hanya melihat ke atas.

Meski penasaran, Amane tetap merasa tidak nyaman dengan ide untuk berbicara dengan orang asing, dan cuma lewat saja. Ia mungkin dicurigai jika berjalan didepannya dan tiba-tiba menoleh, jadi Ia mungkin tidak bisa memastikan penampilan pria itu.

Meski demikian, Amane tetap penasaran, jadi Ia memeriksa tas belanjaan, sebelum melanjutkan.

Amane merasa minta maaf saat melewati pria itu, menabrakkan barang belanjaan dari supermarket, dan secara tidak sengaja menjatuhkannya.

Di samping catatan, isinya adalah makanan ringan dan persediaan makanan darurat yang Ia simpan secara terpisah, sehingga hal itu tidak akan merepotkan Mahiru meskipun dijatuhkan.

Amane menabrak pria itu dan menjatuhkan barang, dan perhatian cowok itu tertuju pada Amane.

Ia mengambil tas belanjaan, membersihkan debu, dan menatap pria itu.

Seperti yang kuduga, begitu perasaan yang Amane miliki, karena tebakannya tepat sasaran.

Wajah pria itu sangat tampan, tipe yang menarik banyak perhatian. Pria itu menurunkan alisnya meminta maaf begitu melihat Amane, dan ekspresi bersalahnya terlihat jelas di mata cokelatnya yang jernih.

Namun, Amane lah yang merasa bersalah, karena menabrak cowok itu.

“Maaf karena ceroboh.”

“Ah, tidak, seharusnya aku yang meminta maaf. Aku seharusnya tidak berhenti di sini dan menghalangi jalan.”

Suaranya terdengar kalem, lembut dan dalam. Amane mendengar permintaan maaf yang tulus, menundukkan kepalanya sekali lagi, “Tidak, ini salahku.” dan bergumam begitu.

Amane yakin dengan apa yang ingin Ia pastikan. Tidak ada bukti konkret, tapi Ia mungkin adalah orang yang diasumsikan Amane.

Amane kemudian dengan santai melewati pria itu seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Pria itu mungkin tidak tahu siapa Amane, dan mungkin tidak merasa curiga.

Kejadian tersebut terjadi hanya dalam sepuluh detik atau lebih, tetapi Amane anehnya merasa tegang, karena itu melibatkan gadis yang dicintainya.

Merasa lega, Ia pergi ke pintu masuk apartemen… dan pada saat itulah gadis yang Amane cintai muncul.

“Selamat datang kembali, Amane-kun.”

Amane tidak pernah menyangka dia akan menyambutnya di pintu masuk, dan terperangah. Mahiru berdiri di sana, tertegun, memberinya tatapan skeptis.

“Apa-apaan dengan ekspresi itu?”

“Ti-tidak… hanya saja kau tiba-tiba muncul….”

“Kamu sendiri yang mengirim pesan kalau kamu akan pulang, bukan? Aku ingin membantu karena membeli banyak bahan makanan.”

“Be-Begitu ya.”

Sepertinya Mahiru hanya bermaksud membantu mengumpulkan bahan  makanan. Hati Amane sangat terbebani ketika Ia mengenali pria itu, dan jantungnya berdetak lebih cepat.

Amane khawatir apa yang akan terjadi jika Mahiru memperhatikan pria itu, dan secara naluriah berbalik, lalu menemukan bahwa pria itu, yang berdiri sekitar 10 meter atau lebih, telah menghilang.

… Ia tidak ke sini untuk melihat Mahiru? Ia langsung kembali setelah melihat Mahiru.

Kemungkinan yang terakhir pasti tidak mungkin mengingat ekspresi Mahiru; jika pria tersebut ada di sini untuk melihat Mahiru, Ia akan mendekati mereka begitu Mahiru muncul, dan tidak punya alasan untuk pergi.

Jadi, kenapa Ia muncul?

Untuk alasan apa Ia mendekati apartemen Mahiru, dan melihat ke tingkat dimana dia tinggal.

“Ada apa?”

“Tidak, bukan apa-apa.”

Untungnya atau tidak, sepertinya Mahiru tidak memperhatikan pria itu. Amane sedikit lega, menyerahkan tas belanjaan kepada Mahiru, yang ingin membawanya, dan naik lift bersamanya.



Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya

close

9 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

  1. Waduh, Siapa Tuh
    Apa Mungkin Bakal Muncul Saingan?

    BalasHapus
  2. Hmm bau bau bakal ada konflik nih

    BalasHapus
  3. Bau" NTR nih....😂😂😂😂

    BalasHapus
  4. Mahiru punya saudara gak sih..klo gak brrti saingan🙂

    BalasHapus
  5. Bapaknya itu keknya atau kerabat

    BalasHapus
  6. Nah kan udh kuduga.. aduh tercium bau2 badai akan datang...

    BalasHapus
  7. Keknya bapaknya. Karena ilustrasinya dari kalimatnya persis kayak mahiru

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama