The Result when I Time Leaped Chapter 146

 

Kompetisi yang Ditakdirkan - Bagian 8

 

Untuk total nilainya, Sana mendapat 6 poin dewa, dan Hiiragi-chan memperoleh 4 poin dewa. Saat ini, Sana membalikkan keadaan di kategori keahlian khusus.

Akhirnya, Hiiragi-chan datang untuk menunjukkan bakat istimewanya sendiri. Dua siswa, yang tampaknya dari panitia acara, membawa sesuatu yang besar ke atas panggung sebelum meletakkannya dengan bunyi klakson. Di belakangnya, mereka menempatkan bantal.

“Oooh. Begitu rupanya, jadi memang begitu.”

Natsumi-chan mengangkat suaranya dengan penuh percaya diri.

“Oho, aku mengerti.”

“Apa yang kamu bicarakan?”

“Tenang, tinggal tonton saja nanti. Meski aku kelupaan tentang itu, tapi ini memang bisa disebut bakat. "

Bakat Hiiragi-chan… sepertinya berhubungan dengan benda datar yang diletakkan di atas panggung. Aku juga tahu bahwa ada beberapa string 

“… Ah, apa jangan-jangan?”

Kanata sepertinya menyadari sesuatu, dan pada saat yang sama, Hiiragi-chan muncul di atas panggung.

Dia mengenakan kimono dengan warna biru muda. Rambut panjangnya diikat di belakangnya saat dia berjalan mendekat dan duduk di atas bantal. Dengan postur tubuhnya yang elegan, itu memberikan suasana yang bermartabat.

“Koto…?”

Gumamanku sepertinya benar saat Natsumi-chan mengangguk dengan senyuman.

“Dalam keluarga Hiiragi, keahlian seperti merangkai bunga, dan upacara minum teh sudah diajarkan sejak kecil. Sama dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk memainkan instrumen jenis ini.”

Bagi Natsumi-chan, bagaimanapun, sepertinya dia sudah berhenti karena dia tidak menyukainya.

Hiiragi-chan memegang sesuatu seperti paku di tangannya. Menurut Natsumi-chan, alat itu disebut kotozume.

Saat dia mulai menjetikkan senar, suara lembut nan merdu pun terdengar, dan memberikan perasaan serius. Selama Tahun Baru, ini adalah suara yang cukup sering terdengar.

Dia akhirnya membawakan beberapa lagu yang diketahui orang Jepang, dan bahkan memainkan beberapa lagu budaya pop populer.

Begitu dia membungkuk, penonton memberikan tepuk tangan.

“Haru-chan, itu sangat kekanak-kanakan. Kamu benar-benar serius. ”

“... Sensei bisa memakai kimono sendiri?”

“Setidaknya dia bisa melakukan itu. Dia mungkin membuat persiapan saat dia menunggu.”

Aku sekali lagi dibuat untuk menyadari betapa tingginya spesifikasi Hiiragi-chan. Dia benar-benar kayak orang bego saat berada di sekitarku.

Secara total, dia mendapat satu poin dewa dari guru musik, dan 38 poin, memberinya skor yang hampir maksimal.

Jika kita hanya menghitung poin dewa… Hiiragi-chan memiliki 5 poin dewa.

Hah? Itu berarti…?

Dengan ini, penjurian selesai, dan semua peserta berkumpul di atas panggung. 5 teratas diumumkan secara berurutan.

Setelah tiga nama diumumkan, Hiiragi-chan dan Sana menjadi dua yang tersisa.

“Baiklah, selanjutnya adalah —— pengumuman untuk runner up. Runner up dari Kontes Kecantikan ini adalah —— Hiiragi-sensei! ”

Tepuk tangan meriah menderu. Hiiragi-chan kemudian menyatakan opininya tentang hasil dengan ekspresi malu.

“Aku pikir ini sedikit kekanak-kanakan, tapi semua orang sepertinya menikmatinya, jadi itu bagus.”

Usai mengatakan itu, dia mengakhiri komentarnya.

“Pemenang Kontes Kecantikan bergengsi adalah, kelas 1-E, Sanada Sana-san!”

Saat tepuk tangan meriah dan sorak-sorai muncul, Sana menggeliat malu-malu saat dia memegang mikrofon.

“… Ummm… A-Aku sangat senang… dan terkejut.”

Suaranya sangat kecil.

Dia akhirnya menang melawan Hiiragi-cahn, jadi itu mungkin hasil yang tidak terduga untuknya.

“… Saa-chan, kemenangan yang luar biasa.”

“Chan-Sana mungkin akan diperlakukan sebagai idola oleh semua cowok mulai sekarang. Akan tiba saatnya ketika seseorang dengan bakat akan melebarkan sayapnya dan terbang tinggi...”

Fujimoto mengangguk dengan penuh emosi.

“Sana-chan mengerahkan segalanya untuk mengalahkan Haru-chan. Dia menang karena antusiasmenya. Tapi aku pikir dia sedikit mengacau selama karaoke.”

Natsumi-chan tertawa kecil sambil melambaikan tangannya dan pergi.

Mengikuti sisa penonton yang meninggalkan gedung olahraga, kami juga meninggalkan area penonton.

Setelah menunggunya sebentar, Sana datang sambil memegang piala.

“Kerja bagus.”

“…Ya. Aku lelah.”

Aku langsung diberi piala. Kami berdua menyusuri jalan pulang bersama-sama.

“Aku menang melawan Hiiragi-sensei.”

“Ya. Aku melihatnya. Kau sudah melakukan yang terbaik. Selamat atas kemenangannya. ”

“Makasih.”

Aku pikir aku akan memberinya sesuatu untuk dirayakan, tapi aku tidak dapat memikirkan apa pun.

“Bagaimana kalau kita pergi membeli sesuatu lain kali? Untuk merayakan kemenanganmu.”

“Apa itu nggak apa apa? Beneran!?”

“Tidak apa-apa. Kakakmu bukan NEET, dan menghasilkan uang dengan baik berkat kerja sambilan. ”

“Ka-Kalau begitu, ayo beli… beberapa game kapan-kapan.”

Orang ini pada akhirnya benar-benar seorang gamer akut. Tentu saja, yang pertama dia inginkan bukanlah aksesori atau semacamnya.

“Apa? Mengapa kamu menatap Sana terus? ”

“Tidak, aku hanya berpikir ini akan menjadi hal baik untuk masa depanmu.”

“… Apa …..yang kamu pikirkan? Dengan ilustrasiku tadi.”

Dia bertanya dengan ketakutan, jadi aku menjawab.

“Itu hobi yang bagus. Gambarmu juga sangat bagus.”

Ekspresi tegang Sana melembut.

“Aku pernah diam-diam menggambar di kelas, tap ditemukan oleh seseorang, dan mereka menyebutnya menjijikkan dan gelap. Jadi, aku akhirnya tidak menggambar di sekolah. ”

Aku menepuk pundaknya dengan lembut.

“Kau harusnya bangga. Begitulah caramu bisa mencari makan.”

“Eh? Apa maksudmu?”

“Uhhh… Bukan apa-apa, hanya saja cuma lebih bagus jika kau bisa menjadi seorang profesional dengan keahlianmu itu. Atau sesuatu seperti itu…? ”

Aku mencoba membuatnya agak abstrak.

“Kemudian, Sana akan terus memainkan lebih banyak game, membaca lebih banyak manga, dan menonton lebih banyak anime.”

“Tidak apa-apa seperti itu.”

Ya, Sana menjawab dengan tersenyum.

“Game baru. Kurasa benar-benar ada sesuatu yang baik dari berpartisipasi dalam kontes. ”

Karena Sana dalam mood yang bagus, dia mulai berbicara tentang apa yang harus dibeli dari game yang baru dirilis.

Malam harinya, Hiiragi-chan meneleponku.

“Seiji-kuuuun… aku kalah dari Sana-chaaan…”

Dia menangis di telepon.

“Memang sangat disayangkan. Namun, berkat itu aku bisa melihat banyak sisi tak terduga dari Haruka-san, jadi kupikir ada bagusnya juga. ”

“Benarkah? … Jika itu masalahnya maka semuanya baik-baik saja. ”

Dia awalnya merasa sangat sedih, tapi setelah sedikit memujinya dengan hal yang lain, dia mendapatkan kembali suasana hatinya.

Hmmm. Seperti yang diharapkan, kesan yang aku dapatkan dari “Hiiragi-sensei” yang berdiri di depan umum benar-benar berbeda dari Hiiragi-chan.


Sebelumnya | Selanjutnya

close

2 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

  1. Ngga ada project baru min? Biar makin sering updatenya

    BalasHapus
  2. Tombol next nya ga bisa di pencet?!😱 , Di tunggu update selanjutnya min!😤

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama