Roshi-dere Vol.3 SS 1 Bahasa Indonesia

SS 1 — Sensei~ Ketua dan Wakil Ketua, dari pagi mesra-mesraan terus~

 

Waktu pagi hari di Seirei Gakuen, dan murid-murid perlahan mulai berdatangan. Di dalam ruang OSIS di mana sinar mentari pagi mengintip masuk melalui jendela, ada dua orang yang bekerja keras.

“Oke, sekarang kita sudah menyelesaikan diskusi dengan ikatan alumni, … sisanya tinggal menyerahkan berkas ini ke kantor staf dan menunggu tanggapan dari pihak sekolah.”

“Kerja bagus. Entah bagaimana, kamu berhasil melakukannya, ya.”

“Ya ... aku merasa lega karena bisa menepati janjiku.”

Mereka berdua adalah ketua OSIS, Kenzaki Touya, dan wakil ketua, Sarashina Chisaki. Mereka berdua mewakili OSIS di angkatan tahun ini dan juga merupakan pasangan paling terkenal di sekolah.

Saat ini, mereka berdua tengah menyusun materi terkait diskusi mereka dengan ikatan alumni selama liburan. Isinya adalah pengajuan untuk mengganti seragam Seirei Gakuen. Itu adalah salah satu janji yang dibuat Touya jika Ia terpilih sebagai ketua OSIS.

“Tapi aku terkejut melihat betapa keras kepalanya orang-orang dari ikatan alumni. ... Bahkan saat aku memberitahu memberi tahu mereka bahwa ada siswa yang pingsan karena sengatan panas setiap tahun, mereka tetap tidak menggelengkan kepala.”

“Yah, banyak pepatah yang mengatakan kalau dimana pun tempatnya, selalu ada orang tua yang keras kepala ... tapi, aku berhasil mewujudkannya berkatmu, Chisaki.”

“Eh? Aku? ... Memangnya aku melakukan sesuatu?”

“Yah, itu sih ...”

Ketika pacarnya menatapnya dengan ekspresi bingung, Touya berpikir dalam hati, “Kamu sudah mengeluarkan aura membunuh di sebelahku untuk waktu yang lama,” tapi Ia takut untuk mengatakannya dengan jujur tentang itu. Para anggota ikatan alumni, yang mencakup para eksekutif perusahaan besar dan politisi papan atas, benar-benar kewalahan oleh aura mematikan Chisaki yang seakan-akan mangatakan, “Kalian semua tinggal tutup mulut dan mengangguklah dengan patuh.” tapi tidak ada gunanya juga jika orangnya sendiri tidak menyadarinya. Touya berpikir sejenak dan memberikan jawaban yang lebih lembut.

“... Karena kamu selalu berada di sisiku, aku jadi bisa lancar bernegosiasi dengan mereka, jadi semuanya itu berkat kamu.”

Sambil duduk di kursi ketua,  Touya mengatakan hal itu pada Chisaki yang berdiri di sampingnya, dan Chisaki balas menatapnya dengan senyum malu-malu.

“Touya... Tidak, itu semua berkat usaha Touya yang sudah bekerja sangat keras.”

“Chisaki ...”

Mereka berdua saling memandang, dan suasana manis mulai mengalir di antara mereka. Kemudian, Chisaki tersenyum nakal dan berputar di sekitar kursi tempat Touya duduk, dan membungkuk ke depan untuk meraih sandaran siku kursi. Secara alami, Touya merosot ke kursinya seolah-olah Chisaki ada di atasnya dari depan.

“Chi-Chisaki? Tu-Tunggu sebentar. Kita ini sedang berada di ruang OSIS, lo?”

“Enggak masalah, ‘kan ... lagian tidak ada yang datang ke sini.”

“Itu sih, mungkin benar … tapi kita adalah perwakilan dari siswa, kita tidak boleh melakukan apa pun yang mengganggu moral publik!?”

Touya merasa panik dan mencoba menghentikan kekasihnya, tapi Chisaki masih mendekatkan wajahnya dengan senyum gembira.

“Mengganggu moral pulik tuh ... contohnya seperti apa ?”

Ah, aku bakalan dimakan...

Insting semacam itu terlintas di benak Touya, dan Ia akan mengambil keputusan dengan mata terbuka lebar ——tapi pada saat itu …

“!!!”

Tiba-tiba, Chisaki mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah pintu masuk ruang OSIS.  Lalu …

“Cepat sembunyi!!”

“Eh, uwoaahh!?”

Touya,yang telah didorong hingga batasnya oleh Chisaki saat sedang duduk, meluncur ke bawah di kursi dan pantatnya mendarat kasar di atas lantai.

“Ke sini!”

“Aduh, apa—”

Bahkan sebelum bisa merasakan sakitnya, Chisaki mendorong Touya ke bawah meja tanpa alasan yang jelas. Kemudian, Chisaki memutar tubuhnya ke ruang kosong, dan mereka berdua duduk di bawah meja dalam posisi seolah-olah Chisaki mendorong Touya. Tak berselang lama kemudian, Touya mendengar pintu ruang OSIS terbuka dan secara refleks mengintip untuk melihatnya.

[Lalu, apa yang terjadi?]

Kemudian, Ia mendengar suara Masachika, anggota bidang urusan umum OSIS. Setelah itu, Touya juga mendengar suara Alisa, si bendahara OSIS. Rupanya, mereka berdua sedang mendiskusikan sesuatu yang rahasia ... tapi Touya tidak punya waktu untuk memedulikan hal itu. Karena jika dilihat secara objektif, situasinya yang sekarang sedang dalam keadaan tidak wajar juga.

(Tidak, aku mengerti alasannya, tapi ... memangnya kita berdua sampai perlu bersembunyi bersama?)

Sedari awal, mereka seharusnya tidak perlu bersembunyi segala. Rasa bersalah atas apa yang akan Ia lakukan mungkin menyebabkan Ia ingin bersembunyi, tetapi Touya bisa saja bertingkah biasa dan kembali bekerja.

(Sebaliknya, aku merasa kalau aku tidak bisa membuat alasan jika mereka memergoki kami dalam situasi ini ...)

Ketika melihat ke depan dengan rasa cemas dan sedikit rasa bersalah, Touya melihat wajah pacarnya lebih dekat dari yang Ia duga. Wajah yang bermartabat dan cantik itu perlahan-lahan memerah, Touya mengerutkan kening pada apa yang sedang terjadi  ... dan Ia kemudian menyadari.

Kakinya yang menekuk setengah dan bagian lututnya menyentuh ... otot perut Chisaki yang kuat. Kekerasan yang tidak biasa di lututnya bahkan mengejutkan Touya.

(Su-Sungguh otot yang kuat ...!Kuh, aku juga tidak bisa kalah!)

Touya bereaksi dengan cara yang aneh untuk ukuran anak SMA yang menyentuh tubuh pacarnya. Di sisi lain, Chisaki memiliki reaksi (?) yang sangat normal sebagai seorang gadis SMA yang menyentuh tubuh kekasihnya.

Dia menggeliatkan tubuhnya dalam kontak dekat dan mendekatkan wajahnya ke arah Touya dengan tatapan mata basah. Pada jarak di mana ujung hidung mereka hampir bersentuhan, Touya merosot di bawah meja ... tanpa ada ruang kosong. Tapi jelas berbahaya untuk menimbulkan suara yang keras, dan jika Ia menggerakkan lengan yang menopang tubuhnya, Ia akan kehilangan posisinya dan membuat suara gaduh. Akibatnya, Touya tidak punya pilihan selain membiarkan wajah pacarnya mendekatinya ...

“Jadi, mau sampai kapan kalian bersembunyi terus? Ketua, Sarashina-senpai.”

Namun tiba-tiba, suara Masachika memanggil mereka, dan Chisaki mengangkat kepalanya seolah-olah dia habis dipukul. Segera setelah itu, jedug! Suara hantaman seperti benda tumpul terdengar.

“~~~~!!”

Chisaki berguling dari bawah meja, memegang bagian belakang kepalanya saat dia berteriak tanpa suara. Melihatnya dengan setengah khawatir dan setengah lega, Touya merangkak keluar dari bawah meja dan perlahan berdiri untuk membuat alasan pada juniornya.

... sambil berpura-pura tidak melihat bagian di mana kepala Chisaki sedikit benjol.

 

Sebelumnya  ||  Daftar isi  ||  Selanjutnya

 

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama