MrJazsohanisharma

Otonari no Tenshi-sama Volume 11 Chapter 1 Bahasa Indonesia

Chapter 1 — Malam Hari Valentine

 

“Maafkan aku karena terlambat memberikannya padaku, tapi ini cokelat tahun ini.

Setelah menghilangkan kecemasan tentang pengakuan cinta yang diterima Amane dan menyelesaikan makanannya, Mahiru dengan ceria menyerahkan kotak itu kepada Amane, meskipun dia terlihat sedikit tegang.

Terima kasih. Aku merasa sedikit bersalah karena kamu membuatnya sendiri.

“Kupikir Amane-kun pasti lebih senang dengan sesuatu yang aku buat.

Tentu saja. Aku sudah menantikannya tahun ini.

Pada dasarnya, semua hidangan yang dibuat oleh Mahiru sangat enak, jadi Amane tidak khawatir tentang itu, tetapi jika Mahiru telah berusaha keras, harapannya pun meningkat.

Meskipun Mahiru yang teliti tampaknya telah melakukan banyak percobaan demi Amane, ia merasa tenang karena ia tidak khawatir tentang perutnya seperti saat ulang tahun.

Jadi, Amane menerima kotak itu dengan perasaan yang penuh kegembiraan, tetapi entah kenapa Mahiru menundukkan pandangannya dengan sedikit ketidakpuasan.

............... Sepertinya tahun lalu kamu tidak terlalu menantikannya, ya.

Dengan bisikan kecil itu, Amane tersenyum kecut, menyadari bahwa itu yang dikhawatirkan Mahiru.

Aku tidak menyangka kalau aku akan menerimanya. Aku sendiri tidak benar-benar menginginkannya.

Hari Valentine tahun lalu merupakan masa-masa di mana ia tidak bisa membayangkan bisa berpacaran dengan Mahiru, dan meskipun Amane merasakan kepercayaan darinya, ia tidak yakin bahwa mereka berdua memiliki hubungan di mana dirinya bisa menerima cokelat.

Pada saat itu, Amane sama sekali tidak pernah kepikiran akan menerima cokelat dari Mahiru dan tidak mengharapkannya, jadi ketika ia menerimanya, Amane dibuat terkejut dan merasa sangat senang, tetapi Mahiru terus mengulang bagian, Aku sendiri tidak benar-benar menginginkannya.

Amane merasa bahwa pasti ada makna lain yang dia maksud, jadi dirinya cepat-cepat melihat wajah Mahiru.

“Ini berbeda dengan yang kamu bayangkan oke, Mahiru. Aku tidak tertarik dengan Hari Valentine itu sendiri, dan aku merasa kalau aku bukan berada di posisi untuk menerimanya.

Sekitaran waktu itu, Amane tidak memiliki minat pada lawan jenis, dan merasa bahwa dirinya tidak memiliki daya tarik untuk mendapatkan perhatian dari mereka.

Amane bisa memahaminya sekarang karena ia sudah berusaha memperbaiki penampilan dan kemampuannya, tetapi dulu, dari mana dirinya bisa mendapatkan kepercayaan diri untuk menerima cokelat?

“Rasanya terlalu besar kepala jika aku berpikiran kalau aku bisa menerima cokelat darimu saat itu, Mahiru.

......Ya-Yah, mungkin itu benar, tapi memangnya kamu tidak pernah berpikir sedikit pun tentang itu?"

“Enggak ada sama sekali. Habisnya ini mengenai Mahiru saat itu.

Sekarang, Mahiru bertingkah sangat manis kepada Amane dan tidak menyembunyikan perasaannya, tetapi Mahiru kala itu cukup dingin dan tidak menunjukkan bahwa dia menyukai Amane. Dirinya berpikir kalau Mahiru hanya menganggapnya sebagai teman dekat, jadi Amane bahkan tidak pernah kepikiran sedikit pun bisa mendapatkan cokelat.

Lagipula, Amane mendengar bahwa Mahiru tidak pernah sekalipun memberi cokelat kepada pria. Jadi, merasa bisa menerimanya merupakan kepercayaan diri yang berlebihan.

Mahiru tidak berusaha menyembunyikan ketidakpuasannya terhadap penolakannya yang tegas. Bibirnya yang meruncing terlihat lucu, dan Amane tidak bisa menahan tawanya.

Jika kamu membuat wajah seperti itu, aku akan menggigitmu.

Eh?

“Aku hanya bercanda. ............ Aku sudah banyak melakukannya sebelumnya, dan jika bengkak, itu akan merepotkan."

Karena dia melahap makanan manis yang berbeda sebelum makan malam, bibir Mahiru tampak lebih berisi dan lebih merah dari biasanya.

Mahiru segera menyentuh bibirnya dengan jari-jemarinya, tubuhnya gemetar dan dia menatap Amane dengan wajah yang lebih merah dari sebelumnya.

“Me-Memangnya semua itu ulah siapa....

Aku.

Setelah ia mengakui dengan tegas, telapak tangan kecil Mahiru mulai memukul-mukul lengan Amane, tetapi itu tidak menyakitkan, jadi ia membiarkannya melakukannya sampai Mahiru merasa puas.

“Sudah kubilang maafin aku. ......Aku sudah menahan diri, lho?

Amane-kun, kamu selalu sering melakukannya kalau lagi terbawa suasana, aku enggak suka.

“Kamu tidak menyukainya?

...........Enggak suka.

Oh, sayang sekali.

Amane mengerti bahwa ketidaksukaan itu bukanlah yang serius. Meskipun Amane tidak percaya pada ungkapan benci jadi suka, ia menyadari bahwa ketidaksukaan Mahiru kali ini bukanlah penolakan yang sebenarnya. Tentu saja, jika dia benar-benar tidak menyukainya, Amane juga tidak akan memaksakannya.

“Po-Pokoknya, aku sudah berusaha keras membuatnya tahun ini. Semoga ini sesuai dengan selera Amane-kun.

Usai memutuskan bahwa hari ini sudah tidak bisa dilanjutkan, jadi Mahiru menghentikan percakapan dan mengalihkan pandangannya ke kotak yang dipegang Amane. Kotak yang diterimanya dari Mahiru sebelumnya adalah kotak persegi panjang berwarna krem dengan pita berwarna cokelat. Ketika digoyangkan sedikit, terdengar suara beberapa benda di dalamnya, jadi bisa diperkirakan ada beberapa jumlah yang cukup.

Rupanya, tahun ini bukanlah produk olahan cokelat, melainkan cokelat yang menjadi bahan utama, jadi suara yang agak keras itu bisa dimengerti.

"Aku senang dengan apa pun yang kamu buat, Mahiru..... tetapi aku lebih senang lagi karena kamu membuatnya sesuai dengan seleraku. Bolehkah aku membukanya?

Ya, silakan.”

Mahiru mengangguk, seolah mengatakan bahwa dia akan kesulitan jika tidak membukanya. Amane pun dengan hati-hati membuka pita dan mengangkat tutup kotaknya—sepuluh cokelat berkilau tersusun rapi di dalamnya. Bentuknya kotak dan ukurannya seragam, tetapi ada sedikit perbedaan dalam penampilannya.

Mungkin perbedaan warna tersebut disebabkan oleh persentase bubuk kakao yang berbeda, ada yang dihias dengan kacang atau cokelat yang dilapisi garis-garis, semuanya terlihat menyenangkan. Yang paling mengejutkan Amane, ada cokelat dengan pola berwarna-warni di permukaannya, seperti yang hanya bisa dilihat di toko kue. Jelas sekali bahwa ini membutuhkan usaha yang cukup.

Hasilnya tampak sangat bagus, cokelat-cokelat ini bahkan bisa dijual sebagai barang mewah.

......Ini, buatan tangan, kan?

Kenapa kamu meragukannya?!

“....Tidak, karena penampilannya terlalu indah dan mengesankan. Keren sekali."

Kali ini aku membuat bonbon cokelat, jadi penampilannya aku perhatikan dengan baik. Meskipun sebenarnya hanya terlihat bagus karena menggunakan lembar transfer.

Mahiru merasa bangga dengan usaha yang telah dilakukannya, tetapi dari sudut pandang Amane, ia merasa bahwa Mahiru mungkin telah berusaha terlalu keras.

Tidak, itu tidak... maksudku, apa soal rasanya juga sama?

“Masing-masing rasanya berbeda, kok?

Mahiru dengan menjawab seolah itu hal yang biasa, dan Amane hanya bisa terdiam karena skagum.

Amane sudah bisa mencium aroma manis sejak sebelum Hari Valentine, jadi ia memperkirakan Mahiru pasti telah melakukan banyak percobaan, tetapi dirinya tidak menyangka kalau Mahiru sampai berbuat sejauh ini.

"......Kamu benar-benar berusaha keras. Terima kasih banyak, aku sangat senang.

“Fufufu, masih terlalu cepat untuk memuji usahaku. Pastikan juga untuk memeriksa rasanya.

Saat Mahiru menawarinya dengan ekspresi gembira di matanya, Amane mencoba cokelat yang menjadi suapan pertama hari ini. Dirinya memandang cokelat tersebut dengan penuh rasa penasaran. Semua cokelat itu memantulkan cahaya dengan indah, tidak ada yang memiliki permukaan matte yang biasa ditemukan pada produk buatan tangan. Meskipun cokelat yang hanya dilelehkan cenderung memiliki penampilan dan tekstur yang kurang menarik, cokelat yang ada di depannya tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut.

Apa ada urutan untuk memakannya?

Aku ingin mengatakannya kalau kamu bebas memakannya sesukamu, Amane-kun... tapi kusarankan untuk memulai dari yang memiliki rasa yang lebih halus. Ini dan ini.

“Kalau begitu, aku akan mengikuti rekomendasi koki saja.

Yang terpenting adalah mengikuti rekomendasi si pembuat, jadi Amane mengambil cokelat yang disarankan dan menggigit setengahnya. Begitu ia menggigitnya, rasa cokelat pahit yang lembut dan aroma citrus yang segar menyebar di mulut. Sensasi pahit ini bukan hanya berasal dari cokelat, tetapi juga mengandung kepahitan dari citrus.

Amane merasakan kepahitan, tetapi itu tidak mengganggu; sebaliknya, rasanya seperti dirancang untuk mempertegas rasa manis. Tidak ada rasa tajam yang menyengat, hanya kepahitan yang ringan namun mendalam. Rasa manis yang datang terlambat dan sedikit asam akan membuat orang yang tidak suka makanan manis pun bisa menikmatinya, meninggalkan kekayaan khas cokelat di mulut tanpa rasa manis yang berlebihan.

Enak sekali.

Ini bukan sekedar sanjungan atau semacamnya, melainkan komentar tulus Amane. Dirinya yang biasanya cukup kritis terhadap rasa, merasa sangat ingin memuji cokelat ini. Ia bahkan tidak bisa menahan diri untuk terus memasukkan setengah cokelat yang tersisa ke dalam mulutnya, menikmati kebahagiaan yang semakin bertambah dan memejamkan mata.

Apakah rasanya sesuai dengan seleramu?

Tentu saja. Rasanya sangat enak. Tidak terlalu manis, tetapi tidak juga pahit, sepertinya ada proporsi yang pas antara manis dan pahit.

“Fufu, aku sudah memahami seleramu dengan baik, jadi aku membuatnya dengan perkiraan yang enak seperti ini.

“Hah? Jadi bukan hanya perutku saja yang terpuaskan, tetapi lidahku juga?

Ketika Amane diberitahu bahwa ini adalah hasil perhitungan yang cermat, dirinya merasa terkejut. Antara rasa takut dan senang, keduanya bercampur aduk.

Aku sudah menyesuaikan rasa untuk sisa cokelatnya sesuai dengan seleramu, Amane-kun. Selanjutnya, silakan coba yang ini?

Mana mungkin dirinya bisa menang melawan senyuman nakal Mahiru. Kali ini, Amane tersenyum saat Mahiru menawarkan cokelat yang manis tetapi tidak terlalu manis. Dirinya dengan senang hati menerima cokelat itu.

Setelah menikmati tiga potong cokelat yang disajikan oleh Mahiru dan menghabiskan waktu manis setelah makan, Amane selesai bersiap-siap dan terbaring di tempat tidur.

Sampai saat itu dirinya baik-baik saja, tetapi setelah mandi dan berbaring di tempat tidur, tiba-tiba Amane merasakan beban di tengah tubuhnya, seolah tubuhnya mengeluh kelelahan. Meskipun ia tidak memiliki kelelahan fisik karena tidak ada pekerjaan paruh waktu, kelelahan mental tampaknya membuat tubuhnya terasa berat. Kelopak matanya pun terasa lebih berat dari biasanya.

Setelah memaksa tubuhnya yang berat itu untuk bergerak dan entah bagaimana meraih remote control lampu di meja samping tempat tidur dengan mata setengah tertutup dan menekan tombol untuk mematikan lampu, setelah itu Amane tidak bisa melawan lagi dan membiarkan matanya terpejam, melemparkan tubuh dan remote ke tempat tidur.

Meskipun pandangannya menjadi gelap, kejadian-kejadian hari ini tiba-tiba kembali terbayang di dalam ingatan Amane dengan sangat jelas. Wajah gadis itu yang bergetar seakan ingin menangis, tetapi tetap tersenyum.

(...............tidak ada penyesalan)

Kata-kata yang berputar di dalam hatinya bukanlah kebohongan. Amane tidak akan, dan tidak bisa, memilih siapa pun selain Mahiru. Amane telah memutuskan bahwa Mahiru adalah satu-satunya yang ia sayangi, dan tidak berniat mencintai siapa pun selain Mahiru. Ia tidak membutuhkan apapun selain Mahiru.

Meskipun dirinya memahami bahwa itu merupakan hal yang kejam dan menyadari bahwa ia telah menegaskannya, Amane sama sekali tidak berniat untuk menarik kembali. Hanya saja, seperti yang dikhawatirkan Mahiru, ada sedikit rasa sakit. Dengan pemahaman yang jelas bahwa itu menyakiti orang lain, Amane tetap menolak dengan tegas dan menyadari bahwa ia telah menyakiti dirinya sendiri dengan perasaan bersalah.

Meskipun pihak lain lah yang ingin menangis, tetapi gadis itu tidak menangis di hadapan Amane, sehingga ia berasumsi bahwa gadis itu terluka dan kesakitan.

Memilih sesuatu berarti membuang pilihan yang lain.

Meskipun Amane menolaknya dan memahami konsekuensinya, dan meskipun ia merupakan pihak yang menolak, dirinya hanya bisa mengatakan bahwa merasa terluka adalah hal yang bodoh, tetapi Amane menerima kebodohan ini. Hal tersebut merupakan sesuatu yang tak terelakkan selama ia menjadi dirinya sendiri.

Oleh karena itu, meskipun Amane merasakan sedikit rasa sakit di dalam hatinya, ia tetap menerimanya dan menelannya. Karena memang begitulah seharusnya. Meskipun Maihiru takut dan ingin menghindarinya, Amane berniat untuk menerimanya demi menjadi dirinya sendiri. Jika Itsuki mengetahui hal ini, ia mungkin akan berkata, Kamu benar-benar memiliki sifat yang merepotkan, tapi Amane tetap tidak bisa menyerah dalam hal ini.

(...Apa yang harus kulakukan mulai besok...)

Karena pengakuan dan penolakan dilakukan dengan kedua belah pihak mengetahui apa yang akan terjadi, pasti ada ketidaknyamanan yang berbeda dibandingkan hanya sekadar pengakuan biasa. Sambil secara logis menerima bahwa hal tersebut tidak dapat dihindari, Amane mendesah pelan saat merasakan perasaan berkabut di perutnya yang berbeda dari yang ada di dadanya.

Karena pihak yang memilih adalah Amane, jadi dirinya tidak berniat untuk mengomentarinya, dan ia tidak berniat mengungkapkannya kepada Mahiru agar tidak membuatnya khawatir.

Amane sekali lagi menghembuskan napas berat dari dadanya, dan perlahan-lahan mengambil napas dalam-dalam sambil menyerahkan dirinya pada rasa kantuk yang merayapi tubuhnya.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

close
Lebih baru Lebih lama