MrJazsohanisharma

Otonari no Tenshi-sama Volume 11 Chapter 2 Bahasa Indonesia

Chapter 2 — Sehari Setelah Hari Valentine

 

Keesokan harinya di sekolah, Amane berangkat ke sekolah dengan ekspresi seperti biasa. Dirinya berpura-pura sangat tenang agar tidak menarik perhatian Mahiru yang sarapan bersamanya, tetapi entah Mahiru menyadarinya atau tidak, dia tidak mengomentari keadaan Amane.

Bagaimanapun juga, Amane merasa lega karena dia tidak membahasnya dan masuk ke dalam kelas, di mana Chitose yang sedang tumben-tumbennya tiba lebih awal tampaknya sedang mengobrol dengan Ayaka yang datang lebih awal.

Sepertinya mereka segera menyadari kedatangan Amane dan Mahiru, dan Chitose langsung tersenyum cerah sambil melambaikan tangannya. Amane dan Mahiru saling bertukar pandang dan tersenyum kecil.

Selamat pagi! Bagaimana kemarin?

Selamat pagi, Fujimiya-kun dan Shiina-san. Kalian masih akrab seperti biasa ya hari ini.

Chitose dan Ayaka memberikan senyuman tanpa beban, tetapi entah kenapa Amane merasa ada yang berbeda dengan kualitas senyuman mereka.

Kalian berdua, selamat pagi. Memangnya apa yang kalian harapkan?

Eh, itu sudah pasti mengenai Mahirun yang melumuri dirinya dengan cokelat dan merayu Amane.

“Memangnya kamu ini bodoh apa?

Mendengar pernyataan Chitose yang aneh di pagi hari, Amane membalas dengan komentar kasar, bahkan tidak repot-repot untuk menutupinya, tetapi Chitose tampaknya tidak peduli sama sekali dan terus tersenyum seperti biasa.

Ayaka di sebelahnya tertawa pahit, jadi mungkin dia lebih condong ke sini secara emosional.

Sebenarnya, apa yang kamu pikirkan sampai bisa kepikiran ke situ?

Eh, bukannya hal semacam itu cukup umum~.

Chii-chan, ide kamu agak melampaui batas.

“Kurasa tidak ada salahnya kamu mengatakannya dengan jujur kalau pemikirannya itu aneh.

Chii-chan itu menarik dalam berbagai artian.

Ayaka yang tidak mengonfirmasi atau membantah hanya tersenyum lebar dan tampaknya menyerah untuk mengomentari Chitose. Mungkin dia berpikir itu sia-sia untuk mengkritiknya.

“Menurutku sih Chitose terlalu banyak melihat manga atau majalah aneh. Apa yang bisa membuatmu berpikir seperti itu? Mahiru tidak mungkin melakukannya.

Kenapa cokelat...? Amane-kun tidak begitu suka makanan manis, jadi kurasa ia tidak akan senang. Selain itu, membuang-buang makanan bukanlah tindakan yang patut dipuji, dan itu juga tidak higienis.

Dua orang ini menjawab dengan serius dan menegaskan bahwa pemikiranku tidak benar, rasanya menyakitkan.

Jadi kamu sadar bahwa itu tidak benar, kan?

Yahh~.

Amane menatap dengan pandangan kosong ke arah Chitose yang tampak malu-malu sambil memegang pipinya.

Ngomong-ngomong, apa kamu sudah mencoba cokelatku?

Belum. Kemarin hanya milik Mahiru.

Ya, itu wajar. Jika kamu memakannya, kamu pasti akan memakan milik Mahiru terlebih dahulu, jadi mungkin itu lebih baik karena perbedaannya akan sangat mencolok.

“Astaga, kamu ini ya...

Chitose sebagai pembuat tahu betul apa penyebab perbedaan tersebut, tetapi dia tampak santai, sehingga Amane sebagai orang yang akan memakannya memiliki banyak hal yang ingin ia katakan.

Namun, meskipun Chitose melakukannya karena rasa ingin tahunya, dia tidak memiliki niat jahat, dan karena Chitose tahu bahwa Amane akan marah jika itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimakan, jadi Amane merasa tidak bisa berkomentar banyak sebagai penerima.

…Sebenarnya, sekedar untuk jaga-jaga saja jadi aku ingin bertanya padamu, ini bisa dimakan, kan?

Karena dirinya masih ingat kekuatan menghancurkan dari tahun lalu, Amane benar-benar ingin memastikan dengan Chitose, tetapi Chitose hanya mengembungkan pipinya dan menunjukkan ekspresi tidak puas.

“Kamu benar-benar mencurigaiku sejak kemarin. Aku sudah berkonsultasi dengan Mahirun dan membuat beberapa percobaan sebelum membuatnya. Aku sudah menyesuaikan dan ini adalah sesuatu yang bisa dimakan. …Kalau ternyata terlalu pedas untuk dimakan, apa yang akan kamu lakukan?

Jika dicampur dengan susu panas, mungkin bisa dinetralkan sedikit…

Amane tahu bahwa Mahiru memberi izin, tapi kapasitas Mahiru dan kapasitas Amane berbeda, dan jika Mahiru salah memperkirakan batas toleransi Amane, jelas itu akan menjadi bencana.

Dalam hal itu, ia berencana untuk menampungnya di dalam perutnya meskipun harus mengubah bentuknya, jadi ia berharap itu bisa dimaklumi.

Amane tidak berniat untuk membuangnya, dan ketika ia menyampaikan itu dengan jelas, Chitose menatap Amane yang tampak terkesan dengan wajah serius.

Jadi kamu tidak akan membuangnya, ya?

“Karena itu adalah sesuatu yang aku terima, dan aku tahu kalau kamu sudah memikirkan tentangku saat membuatnya. Jadi, tentu saja aku akan memakannya.

Tentu saja, jika itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimakan, ia tidak punya pilihan selain membuangnya, tetapi Chitose telah membuat cokelat itu khusus untuk Amane berdasarkan seleranya sendiri.

Meskipun Amane berharap cokelat itu bisa sedikit lebih lembut, ia tetap bersyukur karena menerima cokelat tersebut dan berniat untuk menikmatinya.

Setelah memakannya, ia berencana untuk mengomentarinya di kemudian hari.

Itu penting, jadi aku akan mengatakannya dua kali. Tentu saja, aku sudah memikirkan tentangmu saat membuatnya, lho?

Itu bukan tentang aku, tetapi tentang kerusakan pada lidah, tenggorokan, dan perutku.

“Ehe~.

“Kamu malah tertawa untuk mengalihkan perhatian!

Chii-chan memang suka memberikan kejutan, ya… Jika kamu terlalu sering menggoda Fujimiya-kun, Shiina-san akan marah, loh?

“Aku tidak khawatir karena itu di bawah pengawasan Mahirun.

Untung saja ada penahan, ya.

Benar banget dah. Yah, aku akan memakannya perlahan-lahan di masa depan. Jika itu adalah bahan yang tidak dapat dimakan oleh manusia, aku akan mempertimbangkan untuk membuangnya dan melaporkannya ke pihak yang berwenang.

Aku tidak akan berbuat sampai sejauh itu juga kali!

Pagi-pagi sekali, kalian berdua tampak energik sekali ya.

Ketika Chitose mengerucutkan bibirnya dengan kesal, Itsuki juga tiba di dalam kelas, menunjukkan senyuman tipis dari syal tebal yang melilit lehernya.

Pandangan mata Chitose seketika berbinar saat pacarnya tiba, tetapi Amane bisa merasakan dari sikap Itsuki bahwa harapannya untuk mendapatkan bantuan sia-sia.

Ikkun, Amane jahat banget padaku. Ia terus-menerus mencurigaiku.

Apa yang sedang kalian bicarakan?

Tentang cokelat kemarin.

“Semua itu sih karena perilakumu sendiri.

Meskipun dia adalah pacar tercintanya, Itsuki dengan tegas menyela dan mengarahkan tatapan simpati kepada Amane seraya berkata “Kamu juga cukup apes juga ya”, tetapi seharusnya ia bisa menghentikannya sebelum Chitose menyelesaikannya.

“Duhh~, kamu ini berpihak pada siapa sih?

Kali ini aku berpihak pada Amane. Karena aku juga sudah mencicipinya.

Itsuki sepertinya juga mendapatkan cokelat yang diinginkannya, tetapi untuk cokelat yang dibuat untuk Amane, Itsuki juga ikut serta sebagai pencicip, jadi ia mungkin berpihak pada Amane.

Setelah mendengar komentar awal yang mengungkapkan rasa pedas yang menakjubkan dan giladarinya, Amane tentu merasa cemas dan wajar jika meragukannya.

Parah.

Yang parah itu yang mana…

Chii.

Chi-chan.

“Sudah pasti Chitose-san.

Sampai Mahirun juga ikutan.

Kali ini sepertinya tidak ada yang berpihak pada Chitose.

Aku tahu bahwa kamu menyerang rasa sampai batas terakhir, karena aku melihatnya dari sebelah. Dia masih tidak mau berhenti meskipun aku sudah menghentikannya. Jadi, wajar saja jika Amane-kun meragukannya.

Eh…

…Yah, itu sudah pasti masih bisa dimakan, jadi tenang saja.

Mahiru yang sepenuhnya mengabaikan Amane yang berpura-pura menangis seolah dirinya terluka, menunjukkan senyum ceria padanya.

Karena Mahiru yang mengatakan itu, Amane ingin percaya bahwa tidak ada dampak pada pencernaannya, tetapi itu tergantung pada seberapa pedas bahan yang ditambahkan Chitose.

Mahirun bisa memakannya dengan tenang, kok.

Aku punya toleransi yang cukup dan juga suka makanan pedas. Sementara itu, Amane-kun termasuk orang yang tidak suka makanan pedas, jadi ini pasti cukup sulit baginya.

Bagaimana bisa ada hadiah Valentine yang menakutkan untuk dimakan. Mahiru, tolong jaga aku saat aku memakannya nanti.

Aku akan menyiapkan susu terlebih dahulu. Dan kita bisa menambahkan yogurt untuk melindungi lapisan lambung.

Saran itu justru membuatku semakin takut.

Sekarang Amane merasa ngeri karena harus khawatir tentang kerusakan pada pencernaannya, tetapi ia tidak berniat untuk menghindarinya, jadi dirinya memutuskan untuk membeli produk susu dalam perjalanan pulang untuk merawat perutnya.

Sambil menambahkan susu dan yogurt ke dalam daftar belanjaan setelah kerja paruh waktu hari ini, Amane mengelus perutnya dan mendengarkan keluhan Chitose yang berkata, “Kamu tidak perlu terlalu khawatir sebegitunya sambil pergi ke loker untuk menyimpan mantel.

Sekarang, membayangkan perutnya yang mulai panas saja sudah terasa menakutkan.

Saat Amane menghela napas dan melepas mantelnya, pandangannya bertemu dengan tatapan Hibiya dan lainnya yang baru saja tiba.

Selamat pagi.

Selamat pagi, Fujimiya-kun.

“Se-Selamat pagi.

Seperti biasa, mereka saling memberi salam di pagi hari.

Meskipun dia sadar bahwa dia memiliki sifat pemalu, jika bertemu dengan teman sekelas, ia akan menyapa dengan normal dan berbincang-bincang.

Itu berlaku untuk siapa pun.

Dengan tetap berusaha bersikap biasa, Amane menyapa Hibiya dan Konishi, dan mereka pun membalas seperti biasa.

Konishi sedikit terdiam dan tampak ada rona kemerahan di sekitar matanya, tetapi ia tidak bisa membahasnya, jadi Amane mengalihkan pikirannya dari perutnya yang sakit dengan melambaikan tangan dan mengalihkan pandangan ke loker.

Sepertinya tak seorang pun di antara mereka yang ingin menyebutkan apa yang terjadi kemarin, jadi Konishi tidak mengatakan apa-apa, hanya saja sudut alisnya tampak sedikit lebih miring dari biasanya.

Hibiya yang duduk di sebelahnya sepertinya menyadari hal itu, tetapi tidak membahasnya, dia hanya mendorong bahunya sedikit untuk mengarahkannya masuk ke kelas.

Jika dipikir-pikir, dari nada bicara Hibiya kemarin yang seolah-olah tahu segalanya, mungkin dia juga mengetahui perasaan Konishi. Karena mereka berdua merupakan teman dekat, mungkin ada satu atau dua kali Konishi berkonsultasi padanya.

Jika begitu, Amane merasa kalau dirinya harus disalahkan karena sudah menolak pengakuan sahabatnya, tetapi Hibiya tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengawasi tanpa menunjukkan sedikit pun nada menuduh pada Amane.

Sebaliknya, hal tersebut justru membuat Amane semakin merasa bersalah, tetapi baik Hibiya maupun Konishi tidak mengucapkan apa pun.

Mereka berdua melewati Amane dengan sikap tenang seolah-olah tidak merasakan ketegangan, jadi Amane hanya mengerutkan bibirnya sekali dan melipat mantelnya untuk disimpan di dalam loker.

 

 

Untuk makan siang hari ini, mereka bertiga— Amane, Itsuki, dan Yuuta memutuskan untuk makan bekal yang dibuat sendiri di dalam kelas.

Amane juga bisa memasak tanpa masalah dan merasa tidak enak jika selalu meminta Mahiru untuk membuatkan makanan, jadi hari ini ia membuat makanannya sendiri. Mahiru ingin membuatkannya, tetapi setelah menghabiskan waktu untuk membuat makan malam yang istimewa untuk Hari Valentine, Amane merasa terlalu merepotkan jika memintanya untuk membuat makan siang juga, jadi ia menolak tawarannya.

Sementara itu, Mahiru pergi ke kantin bersama Chitose dan Ayaka. Amane sudah membuatkan bekal untuk Mahiru (meskipun ada juga makanan yang sudah disiapkan Mahiru), jadi mereka mungkin akan memakannya, tetapi Amane merasa sedikit sakit perut membayangkan bagaimana obrolan tentang Hari Valentine dan kualitas bekal mereka.

“Tapi yah, kalau dilihat-lihat jumlah pasangan jadi semakin banyak, ya.

Sambil mengupas kemasan onigiri yang dibelinya di minimarket karena malas untuk menyiapkan bento, Itsuki menggumam dengan penuh rasa.

Jika dipikir-pikir, sebelum Hari Valentine, ada jarak antara pria dan wanita, tetapi sekarang mereka terlihat saling mendekat, dan jika melihat ke arah koridor, pasangan-pasangan baru semakin banyak. Bahkan Amane yang biasanya lambat menyadari hal-hal bisa merasakan suasana manis yang mengambang di udara, jadi tampaknya Hari Valentine memiliki kekuatan yang besar untuk menggerakkan orang.

Karena ini setelah Hari Valentine sih. Mungkin ada suka dan duka yang tidak kita ketahui, dan orang-orang yang mendapatkan hasil terlihat jelas seperti ini.

…Apa Kadowaki tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu?

Aku sekarang sibuk dengan klub atletik, dan saat ini tidak ada perasaan ingin memiliki pacar atau apa pun. Ditambah lagi ada juga ujian yang harus dipersiapkan, jadi mungkin aku memang tidak mempunyai waktu untuk hal itu.

Yuuta yang sangat disiplin dalam hal yang dikerjakannya, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Di antara mereka, dan bahkan di antara semua siswa di sekolah ini, bisa dibilang Yuuta lah yang paling populer di kalangan perempuan, dan untuk saat ini, sepertinya ia merasa tidak perlu menjalin hubungan romantis dengan seseorang.

Kalau saja para siswi yang sudah menangis darah karena kepopuleran Yuuta... atau para siswi yang terpikat pada Yuuta mendengar apa yang ia katakan, mungkin akan ada banyak teriakan yang menggema, tetapi karena mereka membicarakannya dengan suara yang sangat pelan, siswa-siswa di sekitar masih asyik dengan makanan mereka.

Aku merasa senang jika ada yang menyukaiku, tapi aku merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan itu. Aku juga merasa bersalah karena tidak punya pilihan lain selain menolaknya.”

Amane yang merasakan sakit di perutnya mungkin telah mendengar hal itu berkali-kali dari Yuuta. Butuh berapa banyak upaya yang dilakukan Yuuta agar tidak menunjukkan kesulitan tersebut kepada orang-orang di sekelilingnya? Jika Amane saja merasa bersalah karena sudah menolak sekali, Yuuta pasti merasakannya lebih dalam.

Sepertinya Kadowaki selalu menghadapi banyak kesulitan dalam kesehariannya ya, kata Amane.

“Bohong rasanya jika aku bilang ini tidak sulit, tetapi entah bagaimana... aku sudah menyerah pada situasi ini, jawab Yuuta.

Jadi, kamu sudah terbiasa dengan itu?

Aku tahu ada orang yang merasa tidak nyaman jika menyebutnya kebiasaan, tapi aku sudah terbiasa dengan pengakuan cinta. Hal semacam ini sudah terjadi sejak lama.

Yuuta memang selalu populer dari dulu.

Itsuki yang tinggal di lingkungan yang sama dengan Yuuta tampaknya mengingat masa lalu Yuuta dan berkata sambil meringis, Dulu itu keadaannya justru sangat parah, karena ia masih muda dan tidak bisa mengendalikan emosinya.

Amane hanya bisa membayangkan betapa sulitnya hal itu.

Karena aku terlalu sering menolak, ada beberapa gadis yang menyukaiku masih terus mengungkapkan perasaaan mereka walaupun mereka juga tahu jika mereka tidak akan mendapatkan balasan. Aku memberitahu mereka kalau aku ingin fokus pada kegiatan klubku, dan semua orang bisa menerimanya.

“Lalu, apa perasaanmu yang sebenarnya?

“Sejujurnya, aku merasa sedikit takut dan lebih merasa tertekan ketika aku sangat disukai. Mustahil.

“Ah...

Bahkan Amane yang hanya menontonnya dari luar saja merasa ketakutan, jadi wajar saja bagi Yuuta yang terlibat, perasaan takut itu pasti lebih besar. Meskipun belakangan ini keadaannya sudah lebih baikan, pada acara-acara tertentu, dikelilingi orang-orang sudah menjadi hal yang biasa, dan selalu ada orang lain di dekatnya pasti memberikan beban mental yang cukup berat.

Selain itu, Yuuta juga harus berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang-orang yang menyukainya, jadi keluhan Yuuta pun bisa dimengerti.

Aku akan menganggapnya sebagai ancaman jika ada seseorang yang terlalu agresif... jadi mau tidak mau aku harus waspada. Jika aku menunjukkan celah, itu bisa saja dimanfaatkan dan diceritakan dengan cara yang aneh.

Apa itu berdasarkan pengalaman pribadi?

“Memang ada pengalaman seperti itu saat di SMP.

Itsuki, jangan ingatkan aku tentang itu sih.

Mau tak mau Amane merasa iba kepada Yuuta ketika ia meletakkan sumpitnya dan mulai gemetaran.

Selain itu, aku juga merasa takut jika aku mulai berubah menjadi songong dan terlalu percaya diri karena merasa disukai orang lain menjadi hal yang biasa dan lumrah bagiku. Aku selalu meragukan apakah aku terlalu sadar diri.

Yuuta benar-benar mengalami hal yang sulit... kamu harus berhati-hati agar tidak dimanfaatkan dan dikucilkan oleh masyarakat.

Semua orang di sekelilingku merupakan orang yang baik-baik, jadi sejauh ini hal seperti itu belum terjadi. Tapi aku harus berhati-hati dengan caraku berinteraksi.

Yuuta yang tersenyum lembut selalu tampak tenang dan santai, tetapi sepertinya ia cukup memperhatikan orang-orang di sekelilingnya dan terlihat sedikit lelah.

Sebagai seseorang yang pernah melihat keadaan Mahiru dari jarak dekat, Amane memahami betul bahwa tak peduli seberapa baik penampilan, kemampuan, dan kepribadian seseorang, pasti ada saja orang yang membencimu, dan jika ada kesempatan, mereka akan mencoba menjatuhkan. Amane merasa kagum dengan mereka berdua yang bisa berperilaku seperti biasa tanpa menunjukkan hal itu.

Sementara ini, kurasa semua orang sepakat bahwa aku tidak berniat menjalin hubungan dengan siapa pun. Sebenarnya, aku juga sibuk dengan kegiatan klub, jadi aku benar-benar tidak memiliki waktu untuk itu.”

“Anggota jagoan sekaligus kapten memang beda. Kamu sangat disiplin, ujar Amane.

Ahaha, aku bukan orang yang sehebat itu, jawab Yuuta merendah.

Walaupun ia berusaha merendah, tapi apa yang dilakukan Yuuta adalah sesuatu yang tidak bisa ditiru oleh Amane. Sebagai ketua, ia mengelola klub sambil terus berlatih dan mencatat prestasi yang baik di kompetisi, dan ia juga tidak mengabaikan studinya. Ia adalah gambaran dari sosok siswa ideal.

Amane tidak terlalu tertarik pada olahraga yang kompetitif, jadi dirinya sulit menjawab jika ditanya apa ia benar-benar memahami betapa luar biasanya Yuuta. Namun, setidaknya ia mengetahui bahwa prestasi Yuuta sering ditulis di koran sekolah.

“...Begini, sekarang kamu tidak berniat menjalin hubungan dengan siapa pun, kan? tanya Amane.

Ya, benar, jawab Yuuta dengan cepat.

Begitu mendengar jawaban Yuuta, Amane melanjutkan dengan kekhawatiran yang ada.

Bukannya nanti ada banyak yang mendekatimu setelah kamu pensiun dari klub di musim panas nanti?

Yuuta tampaknya menolak dengan cara yang tidak menyakiti siapa pun karena dirinya ingin fokus pada kegiatan klub. Namun, itu bisa berarti bahwa tahun depan, setelah pensiun dari klub, ada kemungkinan kalau beberapa gadis mulai mendekatinya lagi.

Yuuta yang baik hati selalu menolak dengan lembut, tapi hal itu justru bisa menjadi masalah. Pasti ada orang-orang yang muncul dengan harapan kecil dan mencoba mendekatinya.

Setelah membayangkan masa depan semacam itu sejenak, Yuuta mulai terlihat gelisah, dan Itsuki memberikan penilaian yang campur aduk antara keheranan dan iba. “Kamu masih terlalu naif ya, Yuuta.

“Yah, aku hanya penasaran  apa yang akan dilakukan Kadowaki nanti.

Uh, hmm. Kurasa aku tetap tidak akan berpacaran dengan siapa pun. Itulah yang telah kuputuskan untuk saat ini.

Yuuta tampaknya tidak akan membuang pendiriannya dan mengatakannya dengan tegas meskipun senyumnya kelihatan kaku.

Aku bisa membayangkan gambaran teriakan penuh penderitaan.” Ujar Itsuki.

“Aku tidak mau berkompromi dengan hal ini. Aku tetap ingin menjalin hubungan pacaran dengan seseorang yang kusuka, dan aku tidak bisa mengambil keputusan dengan sembarangan. Rasanya tidak sopan jika aku memilih dari antara orang-orang yang mengungkapkan perasaan mereka oadaku. Aku ingin menemukannya sendiri.

Yah, kalau Yuuta pasti memang begitu,” balas Itsuki.

Selain itu, jika aku jatuh cinta pada seseorang, mungkin orang itu bisa mendapatkan niat buruk dari gadis-gadis di sekitarnya. Jadi, aku tidak bisa sembarangan mengungkapkan perasaanku, lanjut Yuuta.

Ia bergumam pelan dan tersenyum dengan dahi yang sedikit berkerut, Amane memahami apa yang dimaksud Yuuta. Dalam hal ini, Amane berada di posisi yang diterima, tetapi ketika Mahiru yang sangat populer menyatakan bahwa Amane merupakan orang yang penting baginya, Amane merasa tertekan. Setelah mereka mulai resmi berpacaran, ada banyak orang asing yang mengganggu dan bahkan menghinanya secara langsung.

Itu sudah menjadi risiko yang diterimanya dan Amane tidak terlalu peduli, tetapi Mahiru sangat memperhatikannya dan kadang-kadang merasa murung serta sedih. Namun, dalam artian baik atau buruk, mereka telah terbiasa dan mulai tersenyum sambil memberikan tekanan kepada orang-orang yang mengganggu mereka.

Setelah saling menguatkan dan bersikap tegas, sekarang mereka diakui sebagai pasangan dan orang-orang membiarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan.

Orang-orang bisa berubah menjadi menakutkan. Meskipun setiap individu mungkin orang biasa, saat berkumpul mereka bisa berubah. Seseorang yang tidak bisa bertindak sendirian, jika semua orang melakukannya, mungkin merasa berhak untuk melampiaskan niat buruk. Jika itu terjadi dan sesuatu terjadi pada gadis yang kusukai, aku akan merasa sangat bersalah dan tidak bisa menatap wajahnya. Kamu juga mengerti kan, Itsuki?

Ya, aku mengerti.”

Itsuki mengangguk setuju seakan memahami maksud Yuuta, ia tampak mengerutkan dahi seolah mengunyah sesuatu yang pahit.

Aku tidak ingin situasinya berubah menjadi ‘ini karena salahku, dan sampai aku bisa menangani situasi ini dengan baik, kurasa aku tidak akan menjalin hubungan dengan orang lain.”

“Padahal aku ingin kamu bisa merasakan kebahagiaan juga, Yuuta.” Celetuk Itsuki.

“Yah, aku senang mendengarnya. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin dengan caraku sendiri.

Tapi sepertinya itu bukan masalah dari pihak Kadowaki saja.

Tapi satu-satunya orang yang dapat kuubah adalah diriku sendiri, jadi mau bagaimana lagi. Aku ingin memiliki kekuatan untuk menghadapi situasi seperti ini.”

“Kamu menginginkan....kekuatan ya....?”

“Aku memang menginginkannya, tapi apa kamu bisa memberikannya padaku?

“Mustahil, jawab Amane.

Setidaknya kamu bisa memberikannya padaku dengan semangat.”

Yuuta membalas sambil tertawa ceria dan tidak kelihatan murung maupun sedih, Amane merasa lega dan menimpali dengan berkata, Jangan mengatakan hal-hal yang tidak bisa dilakukan. Ia tersenyum untuk mengubah suasana yang sedikit suram.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

close
Lebih baru Lebih lama