Chapter 1 — Terbongkarnya Perselingkuhan dan Perundungan
──30
Agustus──
“Haahhhh.”
Namaku
adalah Aono Eiji. Murid kelas
dua SMA yang biasa-biasa saja.
Sembari menikmati minuman teh barley, aku menonton
televisi dan melihat laporan tentang kecelakaan terowongan yang terjadi
beberapa tahun lalu. Suasana hatiku mulai suram, jadi aku mematikan televisi.
Lagipula, aku merasa bosan, jadi lebih baik keluar. Ibuku dan Nii-san sibuk dengan pekerjaannya, jadi aku pergi dari rumah tanpa
memberi tahu siapa pun.
Suara
serangga terus berdengung tanpa henti.
Karena cuaca panas yang menyengat, keringatku jadi mengucur deras.
“Padahal seharusnya
hari ini adalah kencan ulang tahun yang istimewa.”
Hari ini
adalah 30 Agustus. Liburan musim panas akan segera berakhir. Aku sudah menyatakan cintaku kepada
teman masa kecilku, Amada Miyuki, pada
Natal tahun lalu, dan akhirnya kami resmi menjadi
pasangan. Kami memiliki hubungan yang sudah terjalin sejak sekolah SD. Meskipun aku pernah merasa malu
untuk mengatakannya, jika bukan karena hubungan kami yang sudah lama, aku
mungkin takkan bisa berbicara dengan gadis idola seperti dirinya. Karena aku sangat pemalu dan merasa
canggung, sehingga aku belum bisa menciumnya meski
sudah enam bulan berlalu.
Aku ingin
segera memajukan hubungan kami. Dengan perasaan
cemas itu, aku sangat bersemangat untuk kencan ulang tahun hari ini.
Pagi hari
saat janjian, dia tiba-tiba
mengirim pesan, “Maaf,
Eiji. Ada urusan
penting yang tidak bisa aku tinggalkan karena kegiatan klub”, dan aku
ditinggalkan begitu saja pada kencan
ulang tahun pertama kami setelah menjadi sepasang
kekasih.
Sejujurnya,
aku merasa sangat kecewa, jadi aku menaiki kereta yang seharusnya tidak aku
naiki dan pergi ke tempat yang
sedikit lebih jauh sampai
ibu kota prefektur. Berjalan sendirian di rute yang kupikirkan untuk menonton
film atau bermain di pusat permainan terasa menyedihkan.
“Aku
sungguh bodoh sekali.”
Aku
merasa bodoh karena berjalan-jalan tanpa tujuan, jadi aku memutuskan untuk pulang saja. Aku akan mampir ke restoran mie
yang terkenal di dekat stasiun
dan merayakan ulang tahunku.
Dengan
pemikiran seperti pria paruh baya yang melankolis, aku berniat kembali ke
stasiun. Di ibu kota prefektur yang terpencil, ada distrik hiburan dewasa yang
sedikit jauh. Ah, gawat. Untuk
berjaga-jaga, aku sudah meneliti
beberapa tempat dewasa yang mungkin menjadi tempat yang berkesan, jadi tanpa
sadar aku melangkah ke sana.
Aku
merasa sangat menyedihkan. Sambil
berpikiran demikan, aku memandang gedung di kejauhan. Lalu, aku mulai berlari ke arah
sana. Suara terkejut keluar tanpa sengaja dari
mulutku.
“Eh?”
Aku
melihat seseorang yang
seharusnya tidak ada di sini. Mungkin aku terlalu merindukannya sampai-sampai melihat halusinasinya. Begitu
pikirku, aku menggosok mataku dan melihat sekali lagi. Tapi, ternyata itu bukan halusinasi.
Aku telah
melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat. Aku
berusaha keras untuk menyangkalnya di dalam
kepalaku. Semakin aku menyangkalnya, semakin aku merasa putus asa oleh kenyataan yang menyakitkan.
Rambut
hitam panjang yang sudah biasa kulihat. Tubuh ramping seperti model. Gaun
kesukaannya. Tapi, riasannya lebih tebal
daripada saat bertemu denganku. Aku bisa merasakan dia sangat bersemangat.
Lebih dari biasanya.
“Ah.”
Miyuki
tersadar dan terdiam sejenak saat melihatku. Pria yang berjalan sambil
menyilangkan tangan menunjukkan ekspresi curiga, tetapi setelah menyadari
tatapan Miyuki, ia tersenyum lebar.
“Kenapa... kamu ada di sini?”
Serentak.
Aku dan teman masa kecilku menunjukkan reaksi yang sama. Orang yang ada di sampingnya adalah
Kondo-senpai. Pemain andalan tim
sepak bola. Pria tampan yang selalu dikelilingi gadis-gadis.
Tapi
kenapa ia lebih akrab dengan Miyuki dibandingkan aku, pacarnya? Bahkan, di hari
ulang tahunku!!
“Oi,
Miyuki.”
Aku tanda
sadar menggenggam lengan kirinya. “Aduh,” suara Miyuki terdengar, dan aku
segera melepaskannya. Aku terlalu kuat menggenggamnya.
“Maaf…”
Saat aku
berusaha mengucapkan permintaan maaf,
tiba-tiba aku merasakan bentakan keras di pipi kiriku. Seketika itu juga tubuhku
terlempar. Setelah melayang, aku menyadari aku telah dipukul.
“Dasar pria
kurang ajar. Apa yang kamu lakukan pada
pacarku!!”
Kata-kata
yang penuh niat membunuh itu mulai menarik perhatian orang-orang di sekitar.
“Apa
yang kamu katakan… yang berselingkuh itu…”
Dengan
rasa sakit yang luar biasa, aku terengah-engah dan menatapnya dengan penuh
dendam.
“Hah?
Memangnya kamu siapa? Penguntitnya
Miyuki?”
Apa yang
diucapkan pria germo ini?
“Oi,
Miyuki. Kamu harus mengatakan
sesuatu juga. Bukannya kamu
selalu berbicara tentang orang ini
saat tidur di sampingku? Kamu
bilang, karena kalian berdua adalah
teman masa kecil, jadi kamu
tidak bisa menolak untuk berpacaran dengannya,
dan ia membosankan. Atau misalnya, meski kalian berdua berpegangan tangan,
tapi keringat tangannya terasa
menjijikkan.”
Aku bisa
mendengar harga diriku hancur
berkeping-keping.
Tolong,
bantulah aku menyangkalnya.
Dengan harapan seperti itu, aku
menatap wajah teman masa kecilku yang juga pacarku. Wajahnya kelihatan pucat dan bergetar.
“Ada
apa, Miyuki? Kalau kamu sangat menyukai pria ini,
silakan lakukan saja sesukamu. Kita bisa mengakhiri semuanya
di sini. Pilihlah, apa kamu ingin berpisah denganku atau dengannya. Mana yang
kamu pilih?”
Rasanya
seperti sedang menunggu putusan di depan hakim.
Dia
menggenggam lengan selingkuhannya dengan penuh harapan.
“Enggak mau,
jangan buang aku. Jika Senpai meninggalkanku, aku tidak bisa hidup
lagi.”
Semua di
depanku menjadi putih.
“Jadi,
siapa orang ini? Ayo katakan
dengan suara keras.”
Aku sudah
melewati titik putus asa, hatiku terasa mati.
“Eiji
adalah teman masa kecilku… tapi ia sangat ngotot dan mengganggu,
pacar ringan tangan yang mirip seperti penguntit.”
“Mi…
yu...ki?”
Aku
memanggilnya dengan suara serak seperti suara nyamuk. Ternyata, sepuluh tahun hubungan kami hanya sebatas itu. Aku hanyalah…
“Kalau
begitu, ayo
katakan dengan jelas. Pada pria penguntit
yang salah paham ini.”
Dengan desakan Kondo-senpai, dia
memberikanku hadiah ulang tahun terburuk.
“Maafkan aku, Eiji. Aku tidak bisa berpacaran
denganmu lagi. Jangan berbicara
padaku lagi di sekolah.”
Dengan demikian, hubungan kami pun berakhir.
──31
Agustus──
Kemarin,
aku akhirnya terbaring di tempat tidur karena terkejut. Aku tidak makan apa-apa, hanya
meringkuk di dalam selimut
dan menunggu waktu berlalu. Seperti mayat hidup. Ulang tahun yang penuh
keputusasaan telah berakhir, dan aku mengurung diri di kamar agar wajahku yang
bengkak tidak terlihat oleh ibuku. Ayahku meninggal tiga tahun yang lalu karena
sakit. Sekarang, aku tinggal bertiga dengan ibuku
dan Nii-san. Keduanya sibuk mengelola
restoran [Kitchen
Aono] yang diwariskan ayahku, jadi mereka pulang larut malam,
dan beruntungnya, mereka tidak menyadari keadaan diriku.
Kemarin,
aku mengirim pesan kepada mereka berdua, “Aku
sedang tidak enak badan, jadi aku tidur di
kamar”,
lalu mengunci pintu. Ibuku yang
khawatir pulang dari pekerjaannya dan berbicara di depan pintu.
Dengan perasaan bersalah, aku berbohong, “Mungkin
aku terkena flu musim panas. Aku tidak ingin menulari kalian. Hari ini aku akan
tidur”.
Mereka
berdua yang mengkhawatirkanku mulai menyiapkan bubur, puding,
dan minuman olahraga di depan pintu. Dengan malas, aku memakannya dan kemudian
tidur lagi, tanpa memikirkan apa-apa, dan liburan musim panasku di kelas dua
SMA pun berakhir.
Aku diserang
mimpi buruk yang terus menghantuiku di tengah perasaan hampa
yang tak tertahankan.
※※※※
Aku
bermimpi buruk berkali-kali. Aku hanya bisa melihat dari rekaman monitor saat Miyuki dan
Kondo-senpai berpelukan dan berciuman dalam
keadaan telanjang di hotel.
“Eiji tuh benar-benar menjijikkan banget.
Aku cuma bersikap baik padanya karena ia
teman masa kecil, tapi ia justru
salah paham dan menyatakan perasaan cintanya
padaku.”
“Lupakan
saja pria menjijikkan itu. Sekarang, lihatlah aku
saja.”
“Ya!!”
Pada
akhirnya, meskipun kami menghabiskan sepuluh tahun bersama sebagai teman masa
kecil, aku bahkan tidak bisa menyentuhnya
sedikit pun. Kondo-senpai membuat Miyuki mengucapkan kata-kata buruk tentangku
berulang kali, dan dia merasa senang.
Walaupun
seharusnya ini hanyalah mimpi,
aku tidak bisa berhenti merasa mual. Martabatku sebagai manusia hancur. Aku
bisa mendengar suara hatiku
hancur berkeping-keping.
Tolong,
hentikan itu. Kenapa harus seperti ini?
Apa yang akan dilakukan sepasang kekasih di distrik hiburan itu? Bahkan aku, yang bodoh ini, bisa
memahaminya. Pada
akhirnya, alasan kenapa dia
membatalkan acara kencan
ulang tahunku karena
Kondo-senpai lebih penting baginya.
Aku tidak
memiliki nilai sebagai seorang pria.
※※※※
Saat aku terbangun dari mimpi buruk, badanku terasa
basah kuyup oleh keringat. Detak jantungku berpacu dengan cepat. Aku bahkan merasa
takut untuk tidur lagi.
──1
September──
Aku memulai tahun ajaran baru dengan
perasaan putus asa yang mendalam.
Aku berusaha mati-matian
mengganti pakaian seragam dan menuju sekolah. Dunia terasa seperti kehilangan
warnanya. Jalan menuju sekolah yang menanjak terasa seperti siksaan.
“Hei,
bukannya itu.”
“Iya, itu
orangnya.”
“Kurang ajar
banget.”
Di depan
sekolah, aku mendapat perhatian dari murid-murid
yang tidak kukenal.
Dari seragamnya, sepertinya mereka
juga siswa kelas dua. Kenapa aku menjadi pusat perhatian? Kenapa siswa yang
tidak dikenal harus memanggilku ‘kurang
ajar’?
Aku
berusaha untuk tidak memikirkannya dan berlari cepat menuju ruang kelas.
“Selamat
pagi.”
Saat aku
memberi salam seperti biasa, semua orang membalas. Syukurlah, sepertinya di sini
baik-baik saja.
Semua
orang bercerita tentang kenangan liburan musim panas mereka.
“Hei,
Eiji. Bagaimana? Ada perkembangan dengan Amada-san?”
Aku
menghindari pertanyaan dari teman sekelas yang relatif akrab dengan
sembarangan. Hanya mendengar nama Miyuki saja sudah membuat hatiku berdebar. Di barisan depan, ada Miyuki yang duduk di sana. Sama seperti sebelum liburan musim
panas, dia tersenyum dan berbicara dengan teman-teman sekelas, tetapi terlihat
ada sesuatu yang mengganggu di dalam hatinya.
※※※※
Saat
istirahat makan siang. Aku tidak bisa mencerna isi upacara pembukaan atau pelajaran hari ini. Guru wali kelasku, Takayanagi-sensei, sepertinya
sedang istirahat karena menghadiri
kompetisi klub yang dia bimbing. Kalau tidak
salah Satoshi juga mengatakan hal yang serupa. Aku ingin berkonsultasi dengan
Satoshi, tetapi aku tidak
ingin mengganggu kegiatan klubnya. Jadi, aku menahan diri untuk
tidak mengirim pesan di LINE.
Aku
melihat Miyuki yang sudah selesai makan siang keluar ke koridor sendirian.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengikutinya.
Tidak mungkin hubungan sepuluh tahun kami berakhir seperti ini. Jadi,
setidaknya aku ingin mendengar alasannya.
“Miyuki!”
Aku
mencoba memanggilnya dengan suara yang senormal mungkin. Saat dia berbalik, dia
terkejut dan tampak sedikit sedih.
“Eiji?
Kenapa…”
Meskipun
bingung, dia berusaha untuk menghadapiku.
“Ah,
um…”
Aku
perlahan mengulurkan tangan. Namun, tangan yang terulur itu terhalang oleh
seseorang yang bukan kami. Di depan Miyuki, sahabatnya, Murata Ritsu, berdiri
menghalangi.
“Jangan
terus-menerus mengganggu Miyuki. Dasar pria
KDRT!!”
“Eh!?”
Kenapa
aku harus mendengar hal seperti itu
dari Murata-san?
“Ayo kita pergi, Miyuki. Aku tidak akan
membiarkanmu terus diganggu oleh orang ini.”
Miyuki
pun menghilang entah ke mana setelah
ditarik oleh Murata-san.
“Kamu tidak
boleh meladeninya, Miyuki. Penguntit
seperti itu harus diabaikan dengan tegas.”
“I-Iya.”
Ketika melihat
kedua orang itu pergi dengan terburu-buru, aku merasa kalau aku sudah tidak bisa berbicara
lagi dengan Miyuki, dan rasa putus asa menghantamku.
※※※※
Entah
bagaimana,, aku dengan susah payah melewati waktu di sekolah dan
kembali melarikan diri ke dalam kamarku.
Yang bisa kulakukan hanyalah meringkuk ke dalam selimut dan gemetar tanpa
memikirkan apa pun. Rasa putus asa terus menerus menghantui. Kenapa aku
dianggap mengganggu? Padahal aku tidak melakukan kekerasan sama sekali.
Apa aku
melakukan kesalahan? Aku hanya ingin merayakan ulang tahun dengan pacarku.
Smartphone-ku
berbunyi.
Mungkin dari Miyuki?
Dengan
harapan yang tipis, aku segera melihat layar smartphone.
Ternyata itu
adalah akun media sosial X yang
tidak dikenal. Cuma ada
deretan huruf acak… akun buangan? Dengan perasaan
curiga, aku membuka DM-nya.
Hanya ada
kalimat pendek: “Mati
saja sana, dasar menjijikkan”. Ini
pasti hanya lelucon. Aku
menghapus pesan itu dengan perasaan tidak senak.
Namun, sepuluh menit kemudian, DM dari akun lain datang lagi.
“Dasar pria
KDRT. Jangan pernah datang ke sekolah
lagi.”
Sensasi
dingin merambat di tulang punggungku. Perkataan Miyuki dan Murata-san kembali terlintas di
benakku. Aku merasa takut dan melempar smartphone-ku. Namun, setelah itu,
setiap beberapa menit, DM yang mengganggu terus berdatangan.
“Berbicara
putus lalu melakukan kekerasan, dasar cowok
brengsek,” “Pria KDRT, keluar dari sekolah saja sana,” “Dasar
penguntit, terburuk.”
Semua itu
hanyalah pesan ujaran kebencian yang ditujukan
padaku. Dan bukan hanya satu orang, tetapi banyak orang. Rasa takutku semakin
meningkat. Seolah-olah tempatku berada perlahan-lahan diambil… Semakin lama,
aku semakin takut untuk tidur.
──2
September──
Pada akhirnya,
aku pergi berangkat ke
sekolah tanpa tidur sama sekali. Kepalaku
sangat pusing sekali. Dan tatapan dari siswa lain sangat
menakutkan. Rasanya seolah-olah ada yang selalu
mengawasiku. Siapa yang musuh, aku menjadi
curiga saat melangkah di jalan menuju sekolah.
Aku
berhenti di depan ruang
kelas. Pintu yang seharusnya ada di depan mataku terasa seperti sangat jauh. Aku takut untuk membukanya.
Setidaknya, jika ada satu orang yang mendukungku…
Dengan dipenuhi tekad, aku membuka pintu kelas.
Harapanku seketika dikhianati.
“Hei,
kemarin… ah.”
“Cihh."
Saat
pintu kelas dibuka, Aida dan yang lainnya
menyadari keberadaanku dan berhenti berbicara, mereka
bahkan sampai mendengus.
“Selamat
pagi.”
Aku entah bagaimana berhasil mengucapkannya,
tetapi suaraku sangat lemah. Dan tidak ada yang membalas sapaan lemah itu.
Sebaliknya, mereka memberikan tatapan dingin,
diam-diam memprotes seolah-olah sedang
melihat sampah.
“Kenapa
ia datang ke sekolah sih?”
“Aku
harap orang itu cepat-cepat keluar dari sekolah.”
“Aku
tidak mau belajar bareng dengan penguntit yang
suka melakukan KDRT.”
“Palingan
juga ia pasti akan segera dikeluarkan.”
Bisikan
mereka terdengar pelan, tetapi sengaja dibuat agar bisa didengar. Miyuki belum
datang ke sekolah.
“Apa-apaan itu… aku tidak melakukan
apa-apa.”
Saat aku menggumamkan itu, Murata-san menggebrak meja.
“Berisik.
Dasar penguntit!! Miyuki mana mungkin berbohong. Bahkan senior
dari klub sepak bola juga bilang kalau ia
melihatnya. Siapa yang akan
lebih dipercayai antara dua orang terkenal di sekolah dan seorang penjahat sepertimu, semuanya itu sudah jelas.”
Aku sudah
tidak ingin mendengarnya lagi. Kenapa hal seperti ini
bisa terjadi? Tanpa bisa membalas, aku menundukkan wajahku di meja, berusaha
memutuskan kontak dengan dunia luar. Meskipun begitu, bisikan fitnah yang tidak kunjung hilang
perlahan-lahan menggerogoti hatiku.
※※※※
Saat
istirahat makan siang. Aku melarikan diri dari
ruangan kelas dan makan sendirian di halaman. Bekal
hamburger rebus yang dibuat dari sisa makanan di restoran. Seharusnya ini
adalah makanan favoritku, tetapi hari ini rasanya hambar. Aku mengantuk berat, tapi aku tidak bisa tidur.
Ketika
aku kembali ke dalam kelas,
tidak ada seorang pun di sana. Kenapa? Padahal seharusnya
pelajaran selanjutnya adalah
sejarah dunia. Apa jadwal pelajarannya
berubah? Tapi tidak ada
yang memberitahuku.
Aku mati-matian berusaha menahan rasa
penghinaan dan keterasingan yang membuatku ingin
menangis. Hanya dengan membawa
buku catatan, aku mencari tempat yang mungkin akan dijadikan kelas berpindah.
Ruang kelas keluarga dan ruang biologi bukan tempatnya. Jam pelajaran sudah dimulai, dan aku semakin merasa cemas.
Saat aku melewati ruang kimia, pandangan mataku bertemu tatapan
Murata-san. Sepertinya pelajaran sejarah dunia telah diganti dengan pelajaran kimia. Dia menunjukkan ekspresi
yang sangat tidak suka dan berpaling.
“Maaf,
aku terlambat.”
Setelah
mengatakan itu, aku memasuki ruang kimia dan disambut dengan tatapan dingin.
Guru kimia yang berpengalaman, Yahagi-sensei,
bertanya dengan khawatir, “Ada
apa? Apa kamu sedang tidak
enak badan?”
“Ya,
aku merasa kurang enak badan, jadi
sedikit beristirahat.”
"Begitu
ya. Jangan terlalu memaksakan
diri. Jika ada yang terjadi selama pelajaran, jangan ragu untuk memberitahuku.”
Aku
merasa sedikit terhibur, tetapi tentu saja aku tidak siap untuk mengikuti
pelajaran kimia. Buku pelajaran pun tidak ada. Tidak ada yang mau berbagi buku pelajarannya denganku. Di kelas, tidak ada lagi
teman di sisiku. Hatiku yang
sedikit terobati oleh Yahagi-sensei, kembali menuju kegelapan.
──3
September──
Akhirnya,
aku sepenuhnya terasing di kelas. Tidak ada lagi yang bisa kuandalkan. Mungkin
di klub… jika di klub sastra, mereka mungkin akan menerimaku. Aku memiliki
harapan kecil. Namun, saat istirahat makan siang,
ketua klub menghubungiku dan memberi tahu bahwa kegiatan klub hari ini
dibatalkan secara mendadak.
Meskipun
dibatalkan, aku berpikir mungkin masih ada seseorang di sana, jadi aku menuju ruang klub. Namun di sana, aku kembali dijatuhkan ke dalam jurang keputusasaan.
Lampu di ruang
klub sudah menyala. Aku berharap ada seseorang di dalam dan mencoba
masuk ke sana untuk mencari pertolongan, tapi suara ketua klub
dan yang lainnya terdengar dari balik pintu.
※※※※
“Hei,
ketua? Apa kamu sudah menyampaikannya
dengan baik?”
“Ya,
aku sudah mengiriminya pesan saat jam istirahat tadi.”
“Sudah
kuduga, bertemu dengannya
terasa menakutkan, ya?”
“Yah,
lumayan.”
“Tapi,
bagaimana dengan naskah yang dia tulis? Majalah klub yang akan dijual di
festival budaya...”
“Mendingan
dibuang saja. Itu pasti akan merusak nama baik klub.”
“Sudah pasti
begitu~konyol banget.”
“Apa boleh
buat.”
“Meskipun ia
tidak memiliki bakat, tapi ia sudah berusaha keras untuk naskah.
Sungguh memalukan.”
※※※※
Kata-kata
yang sama sekali tidak ingin kudengar itu menggores hatiku. Lebih lanjut, di
depan ruang klub, naskah novelnya yang kutulis tahun lalu disobek-sobek dan dimasukkan ke
dalam kantong sampah.
Kepalaku
terasa kosong. Semua usaha yang telah kulakukan selama ini seketika diingkari. Bahkan yeman masa kecilku selama sepuluh
tahun juga mengkhianatiku. Teman sekelas yang sebelumnya berinteraksi biasa
hingga dua hari yang lalu, dan orang-orang di klub sastra yang kuanggap sebagai
teman selama dua tahun, ternyata bukanlah teman. Aku
sama sekali tidak mempunyai sekutu lagi.
Dengan
harapan terakhir, aku tanpa sadar mengirim pesan kepada satu-satunya teman masa kecilku yang lain, Satoshi, “Ada masalah yang ingin kubicarakan denganmu”. Pesan untuk sahabatku
yang seharusnya sedang dalam perjalanan untuk kompetisi klub itu tidak mendapat
balasan sama sekali.
“Ah,
mungkin Sensei bisa membantu.”
Guru wali
kelasku, Takayanagi-sensei, sedang bertugas di luar kota untuk mengawasi
kegiatan klub, tetapi ada wakil wali kelas, Ayase-sensei. Dia adalah guru baru
berusia dua puluhan, sehingga lebih mudah untuk diajak
berkonsultasi.
Dia seharusnya
berada di kelas pada jam ini.
Setelah
kembali ke ruang kelas,
aku segera menyadarinya sebelum membuka pintu. Di dalam
ada Ayase-sensei, Miyuki, dan Murata-san. Tanpa sengaja, aku bersembunyi dan
mengintip ke dalam.
“Sensei,
sepertinya Miyuki akhir-akhir ini sedang mengalami masalah. Tolong dengarkan
keluhannya nanti.”
“Ya,
tidak masalah kok. Tapi, tumben sekali Amada-san memiliki
masalah, ya? Karena ini tentang Amada-san, mungkin
dia bertingkah terlalu baik dan terjebak dalam masalah?”
Percakapan
hanya berlangsung antara Sensei
dan Murata-san, sementara Miyuki tersenyum sedikit canggung.
“Ya,
begitulah.”
“Fufu,
jangan khawatir. Aku adalah sekutumu. Jarang sekali ada murid teladan
sepertimu. Aku pasti akan mendukungmu.”
Kata-kata
itu menusuk hatiku. Apa Sensei
benar-benar akan mendengarkanku? Jika dibandingkan dengan Miyuki, aku ini
sangat biasa. Terutama, Miyuki adalah murid
teladan yang sempurna, jadi para guru pasti tidak akan mempercayai apa yang
kukatakan. Sensei juga
sudah mengatakan itu. Dia pasti akan menjadi sekutu Miyuki. Mungkin akulah yang salah. Meskipun seharusnya
ini adalah tuduhan palsu, aku mulai merasa demikian.
Teman
sekelas dan anggota klub tidak ada yang mau
mendengarkan penjelasanku.
Aku
melarikan diri. Hanya itu
satu-satunya yang bisa kulakukan. Namun, sekolah ini bahkan tidak mengizinkanku
untuk melarikan diri.
Sepatu di
dalam kotak sepatuku sudah tidak ada. Lebihnya parah lagi, kotak itu dipenuhi
dengan coretan merah. “Mati sana,” “Pria KDRT,” “Penguntit
menjijikkan,” “Cepat keluar dari sekolah.” Selain itu, ada selebaran dari
Kitchen Aono. Di belakang selebaran itu tertulis, “Jika kamu melapor, kami akan
mengganggu toko.”
Aku sudah
tidak memiliki tempat di sekolah ini. Itu sangat jelas. Sepatuku ditemukan di
dalam tong sampah terdekat.
Aku
mengeluarkannya sambil menangis dan
pulang dengan tergesa-gesa.
※※※※
Setelah sampai di rumah, aku langsung mampir ke
Kitchen Aono.
“Oh,
selamat datang kembali. Hari
ini kamu tidak ada kegiatan klub?”
Ibu dan
kakakku terlihat agak lesu saat
mereka istirahat sebelum melakukan persiapan malam.
“Ya,
tiba-tiba kegiatannya sedang diliburkan.”
“Begitu
ya. Belakangan ini sepertinya kesehatanmu kurang baik, jadi hari ini beristirahatlah dengan tenang.”
Suara
lembut ibu membuatku hampir meneteskan air mata.
“Terima
kasih. Maafkan aku karena sudah
membuat kalian khawatir padahal kalian juga lelah.”
Begitu
aku mengatakan itu, mereka berdua tersenyum.
“Anak-anak tidak perlu mengkhawatirkan orang tua.”
Ibuku selalu tersenyum tanpa pernah menitikkan air mata sejak ayah meninggal. Dia
tidak ingin membuat kami khawatir.
“Benar sekali, kamu hanya perlu pergi ke
sekolah dengan senang. Mimpiku adalah membesarkanmu hingga lulus
universitas."
Nii-san
juga tersenyum canggung. Sejak ayah meninggal, dia berperan sebagai pengganti
ayah, enghabiskan tahun-tahun penting di usia dua puluhannya demi keluarga dan toko. Ia terus menjaga rasa masakan ayah
tanpa mengeluh ingin bermain.
Aku tidak
ingin membuat mereka khawatir lagi. Mungkin semua orang akan bosan
menggangguku. Sampai saat itu, aku akan terus bertahan. Dengan begitu, tidak
ada yang akan menderita.
“Ya,
aku akan berusaha.”
Aku
memaksakan diri untuk tersenyum.
──Dari
sudut pandang Miyuki──
Sejak
hari itu, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Aku kepergok berselingkuh di depan teman masa kecilku yang
sangat berharga. Kenapa semua ini bisa terjadi? Seharusnya aku sangat
menghargainya.
Beberapa
hari telah berlalu sejak aku putus dengannya. Di waktu saat matahari terbit,
aku akhirnya kehilangan kesadaran dan segera terbangun. Sejak hari itu,
keadaanku terus seperti ini.
Mungkin
apa yang terjadi hari itu hanyalah mimpi. Setelah terbangun dari mimpi buruk,
aku seharusnya bisa kembali
ke kehidupan biasa. Begitu pikirku.
Namun,
aku dihadapkan pada kenyataan kejam bahwa rumor yang disebarkan oleh
Kondo-senpai telah menyebar ke seluruh sekolah, dan tidak ada yang bisa
kulakukan untuk mengatasinya. Aku tidak ingin, aku tidak ingin putus dengannya. Jika Kondo-senpai tidak ada di
sekolah yang sama, aku pasti sudah
menangis-nangis dan memohon padanya.
Melihat
Ejii diintimidasi membuatku hampir menangis. Tidak, aku tidak boleh menangis.
Pada awalnya,
itu hanya cerita membual tentang
cinta.
Aku
bercerita kepada temanku
bahwa “Meski hubunganku
dengan Eiji tidak mengalami kemajuan, tetapi aku bahagia bisa
bersamanya”.
Tapi ternyata
dia salah tanggap. Dia mengira itu adalah
masalahku. Suatu hari, tiba-tiba aku dipanggil dan diperkenalkan kepada
Kondo-senpai yang berpengalaman dalam percintaan.
Aku mencoba mengatakan,
“Aku tidak terlalu mengkhawatirkan itu, jadi tidak apa-apa,” tetapi dia berkata, “Ehh~, tapi kebetulan banget senpai
mau mendengarkan masalahmu, jadi ayo bicarakan dengannya.
Kondo-senpai itu pemain jagoan
di tim sepak bola, dan sudah hampir pasti mendapatkan beasiswa olahraga di
universitas. Jarang-jarang
bisa berbicara dengan orang seperti itu loh”.
Jadi, aku setuju untuk berbicara dengannya sambil
minum teh.
Kondo-senpai
sangat baik dan sopan. Ia sangat menarik karena memiliki
nilai-nilai dewasa yang berbeda dari kami yang masih polos dan baru merasakan
cinta pertama.
※※※※
“Eh,
mana mungkin ia tidak merasakan daya tarik
memiliki pacar yang imut seperti dirimu Miyuki-chan.”
“Kalau
itu aku, aku pasti langsung mendekat. Ah, itu cuma bercanda kok, cuma bercanda.”
“Selanjutnya
kamu minum mau apa? Biar aku yang mengambilnya.”
“Kamu
benar-benar wanita yang menarik. Mungkin, teman
masa kecilmu itu hanya
merasa malu saja.”
※※※※
Diperlakukan
seperti putri dan diperhatikan seperti ini membuatku semakin lengah.
Kami
bertukar kontak, berkali-kali berkonsultasi soal cinta, dan ia bahkan menemaniku berbelanja
untuk memilih pakaian kencan. Dirinya benar-benar pria sejati dan
banyak memujiku sehingga meningkatkan rasa percaya diriku.
Sedikit demi
sedikit, konsultasi cinta dan belanja untuk kencan berubah menjadi alasan. Itu bukan untuk
Eiji lagi, tetapi untuknya dan diriku sendiri. Lagipula,
itu sudah hampir seperti kencan.
Setelah melakukan kencan ketiga. Di tepi jalan yang
bisa melihat matahari terbenam, Kondo-senpai
tiba-tiba menciumku. Aku yang sudah hampir sepenuh hati
terikat padanya tidak bisa melawan dan hanya menerimanya.
Dan bahkan, keinginan selanjutnya.
Tidak
lama kemudian, semua yang seharusnya kuberikan
kepada Eiji diambil oleh Kondo-san.
Rasa
bersalah kepada Eiji memang
ada di hatiku.
Tapi...
“Dialah yang
salah karena tidak berani menyentuh
pacar yang menarik seperti Miyuki.”
“Yang
salah bukanlah Miyuki.
Pacarmu yang tidak layak sebagai pria
itulah yang salah.”
Kondo-san
mengatakan itu dan berkali-kali memberiku jalan keluar. Jadi, sedikit demi sedikit rasa
bersalahku menjadi bumbu untuk menikmati pertemuanku dengannya, dan aku merasa jijik
pada diriku sendiri yang begitu rendah. Aku bergantung pada kekuatan
penerimaannya yang bahkan bisa membungkus semua itu. Mungkin, aku adalah target
empuk.
Meskipun
aku menyadari hal itu, aku yang sudah sepenuhnya bergantung padanya tidak bisa
berbuat apa-apa.
※※※※
“Hei, aku
punya hari libur dari kegiatan klub pada tanggal 30, ayo kita pergi keluar
bermain?”
“Tapi,
hari itu adalah ulang tahunnya…”
“Kalau
begitu, tidak masalah. Aku akan mengajak gadis
lain saja.”
“Eh…”
“Karena
itu benar, kan? Jujur saja, aku bisa merasakan bahwa keberadaanku hampir tidak ada dalam
hidupmu, Miyuki. Kamu selalu mengutamakan pria bernama Eiji itu. Aku sudah
sedikit lelah mengejarmu. Seharusnya aku tidak mengatakan ini, tapi mari kita
akhiri hubungan yang aneh ini. Itu akan membuat kita berdua lebih bahagia.”
※※※※
Aku
teringat pesan yang terasa seperti ancaman itu. Hari dimana aku membatalkan kencan ulang
tahun Eiji…
Pesan
yang menjadi titik perpisahan takdir…
Dan, aku lebih memilih Senpai daripada Eiji.
Karena Eiji orang yang baik, jadi aku yakin tidak masalah. Jika aku meminta maaf, ia pasti akan
memaafkanku. Tapi, mungkin ini terakhir kalinya aku
berhubungan dengan Senpai. Terjebak dalam ketakutan itu,
aku mengambil pilihan terburuk. Aku benar-benar dimanjakan
oleh
kebaikan Eiji.
Teman
masa kecil. Orang yang ditakdirkan untuk
bersamaku selama lebih dari sepuluh tahun. Mungkin, aku akan menikah dengannya
dan menghabiskan hidup bersamanya. Aku yakin akan hal itu. Itu sangat
membahagiakan, tetapi sisi wanita dalam diriku berbisik.
“Jika Senpai pergi, satu-satunya pria yang kukenal sekarang hanyalah
Eiji, kan? Apa itu baik-baik saja?”
Nafsu
dan harga diri sebagai wanita. Itulah yang menyakiti Eiji. Dan, ketidakberdayaanku yang dangkal membuatnya terjerumus
lebih dalam ke dalam keputusasaan.
Aku harus
berani mengakui. Suara lain dalam diriku berkata
demikian. Orang yang sudah
menyakiti Eiji karena berbohong dan berselingkuh adalah diriku.
Akulah yang
curang karena aku tidak bisa melakukannya. Masalah ini sudah
terlalu besar, jadi tidak ada
jalan kembali. Aku akan kehilangan semua
yang telah aku bangun sampai sekarang. Rasanya menakutkan, dan aku tidak bisa
berbuat apa-apa. Aku hanya bisa melihat perundungan itu.
Penyesalan
seumur hidup menguasai hatiku.

