Prolog — Laut atau Gunung atau Kopdar
“Dengan begini akhirnya
rampung juga…”
Aku mengusap
keringat yang mengalir di dahi. Meskipun pendingin udara berfungsi sempurna, membuka kotak kardus dan
mengeluarkan barang-barang untuk diatur sendirian di dalam ruangan cukup
melelahkan.
“Kalau
ada yang kurang, aku bisa membelinya nanti. Meskipun hanya untuk
liburan musim panas, aku bisa membawa pulang
barang-barang tambahan dan memakainya sendiri…”
Setelah
semua persiapan selesai, aku melihat sekeliling ruangan.
Tempat
tidur dan meja. Kulkas dan microwave, serta perabotan dan peralatan dasar
lainnya, ruangan ini cukup sederhana tanpa dekorasi khusus. Setelah
menghubungkan televisi, semuanya akan selesai untuk sementara. Televisi sangat
penting untuk memeriksa informasi yang beredar di masyarakat, jadi sebaiknya
segera dihubungkan. Meskipun aku hanya
meninggalkan kediaman Tendou untuk sementara, aku
tidak bisa hanya berdiam diri saja dan tidak melakukan apapun.
Sebelum
liburan musim panas, aku meminta izin dari tuan
besar dan Ojou
serta memanfaatkan koneksi Yukimichi
untuk menyewa kamar di apartemen ini.
Pada awalnya,
aku ingin memilih tempat yang dekat dengan kediaman
Tendou
supaya bisa segera bergegas ke sisi Ojou jika terjadi keadaan darurat.
Namun, tuan besar
melarangku dengan tegas, dan dengan dorongan dari Ojou, akhirnya aku memilih tempat
yang lebih jauh dari kediaman Tendou.
Mungkin
jaraknya akan sangat berlawanan dengan sekolah.
…Meskipun
ada kekhawatiran, mungkin hal ini
lebih baik untukku.
Jika terlalu
dekat dengan kediaman rumah besar,
aku mungkin akan terlalu bergantung pada lingkungan di sana, dan itu akan
menjadi kebalikan dari tujuanku.
Dan pada
hari pertama liburan musim panas.
Aku
menjauh dari kediaman Tendou dan
memulai hidup sendiri untuk sementara.
“Sekarang.
Apa yang harus dilakukan terlebih dahulu?”
Tujuan
dari hidup sendiri ini adalah untuk mengasah diri sendiri… tetapi tujuan
utamanya adalah menjauh dari sisi Ojou. Awalnya, aku merasa bahwa keberadaanku
di sampingnya menghambat pertumbuhannya.
Jadi,
sebenarnya tidak ada kebutuhan untuk melakukan sesuatu yang konkret.
“…………
Untuk saat ini, mungkin aku bisa melakukan push-up.”
Karena
pikiranku terlalu terfokus untuk menjauh dari Ojou, aku jadi tidak bisa
memutuskan apa yang harus dilakukan. Rasanya bodoh juga.
“Lima
ribu seratus tujuh puluh delapan, lima ribu seratus tujuh puluh sembilan…”
“Yo! Aku
datang mengganggu… eh, kamu lagi ngapain?”
Saat aku
melakukan push-up, tiba-tiba Yukimichi
masuk ke dalam ruangan.
“Karena tidak ada kegiatan khusus yang bisa dilakukan,
jadi…”
“Jadi
kamu melakukan push-up? Itu juga aneh…”
“Eh,
bagaimana kamu bisa masuk? Kupikir
aku sudah mengunci pintunya.”
“Aku memakai kunci cadangan, kunci
duplikat.”
“Aku
tidak ingat memberikannya padamu.”
“Hahaha. Yah ada saja deh caranya.”
Aku ingin
tahu tentang ‘ada saja’
yang dimaksud itu, tetapi jika aku bertanya padanya, aku pasti
tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan,
jadi aku memilih untuk diam.
“Jadi,
intinya. Kamu lagi bosan ya?”
“…………
Meskipun mengakui itu agak menyakitkan, tapi
ya, memang, aku bosan.”
“Liburan
musim panas yang berharga ini terasa sepi, ya.”
“Bahkan
kamu yang datang ke tempat seperti ini di hari pertama liburan juga cukup
menyedihkan, ‘kan?”
“Jangan
meremehkanku. Apa aku terlihat seperti orang yang tidak punya alasan untuk
mampir ke rumah orang di hari pertama liburan musim panas?”
Aku sudah
menduga ini akan terjadi sejak dia datang.
“...
Jadi, sebenarnya kamu datang kemari dengan
tujuan apa?”
“Karena kita sudah memasuki liburan musim
panas, aku berpikir untuk mengajakmu bersenang-senang. Selama ini, kamu pasti
tidak punya waktu untuk bersenang-senang karena urusan keluarga Tendou, ‘kan?”
“Memang. Jika ada waktu untuk
bersenang-senang, lebih baik aku mengabdikan waktuku
untuk Ojou. Justru waktu lainnya tidak begitu penting.”
“Tapi
sekarang kamu sudah menjauh dari
Ojou-sama. Selain itu, kamu juga sedang
merasa bosan.”
“…………”
Jika ia
menunjukkan hal itu, aku jadi tidak bisa berkata apa-apa. Tujuanku semula untuk
“menjauh dari sisi Ojou” sudah tercapai sejak proses pindahan selesai. Dan
memang benar, aku sampai mulai melakukan push-up karena merasa bosan.
“Aku memang merasa bosan. Tapi, bukannya berarti aku bisa hanya bersantai
dan bermain-main, itu akan membuatku merasa bersalah kepada Tuan
besar yang telah memberikan dana. Aku memutuskan untuk
menggunakan liburan musim panas ini untuk mengasah diri.”
“Sebenarnya, Tuan
besar itulah yang meminta bantuanku
untuk melakukan ini, tau.”
“Apa…
maksudmu…!?”
Ini
adalah fakta yang sangat mengejutkan.
Seketika aku
merasa pusing meskipun berada di ruangan yang berpendingin.
“Dengan kata lain, Ojou juga meminta hal yang sama…!?”
“...
Tidak. Ojou-sama tidak
ada hubungannya dengan ini. Kepala keluarga Tendou
juga menyuruhku untuk merahasiakannya.”
“Benarkah?
Tapi, kenapa kamu harus
merahasiakan hal ini dari Ojou juga…”
“Yah, itu
sih karena ia tidak
ingin menyerahkan putri kesayangannya
dengan mudah. Tapi jika ini sampai diketahui oleh Ojou-sama, aku juga dalam masalah… Hah.
Aku tidak menyangka bisa memahami perasaan manajer menengah di usia seperti
ini.”
“?”
“Tidak. Bukan apa-apa. Ini urusanku.”
Yukimichi membersihkan tenggorokannya
seolah ingin memulai kembali,
“Dengarkan baik-baik, Eito.
Aku akan dengan jelas mengatakan ini.”
Dengan
semangat yang seolah bisa mendengar suara keras, Yukimichi menunjuk ke arahku.
“Eito—kamu
itu kurang bermain dan
bersenang-senang!”
“Ku-Kurang bermain…!?”
“Betul!
Kamu itu terlalu serius! Mainlah lebih
banyak! Bersantailah!”
“Tunggu,
Yukimichi! Sebagai pelayan yang setia di
sisi Ojou, aku harus bersikap pantas sebagaimana
mestinnya! Aku tidak bisa hanya bersenang-senang…!”
“Itulah sebabnya kamu tidak akan pernah
bisa berkembang!”
“Aku tidak bisa… berkembang…!?”
Rasanya
seperti dipukul dengan palu di bagian kepalaku. Bagi diriku saat ini, kata-kata “tidak
bisa berkembang” terasa sangat menyakitkan.
“Orang
yang hanya serius belajar lebih sering kalah dibandingkan orang yang bisa
bersenang-senang dengan baik! Dunia ini memang dibuat seperti itu!”
“Ketika
kamu yang mengatakannya, entah kenapa rasanya
sangat meyakinkan…!”
“Aku
merasa kesal diingatkan oleh Eito,
tapi aku akan menganggapnya sebagai pujian. … Jadi, ‘bermain’
kadang-kadang bisa menjadi sumber pertumbuhan bagi manusia. Meskipun kata ‘bermain’
terdengar buruk, bisa juga diartikan sebagai ‘pengalaman’. Semakin
banyak pengalaman yang kamu miliki, semakin fleksibel kamu bisa beradaptasi
saat dibutuhkan.”
Mengakui
pendapat orang ini memang menyebalkan, tetapi memang
ada benarnya juga. Jika ia mengatakan bahwa aku telah hidup
dalam dunia yang sempit, aku hanya bisa mengangguk. Tentu saja, aku merasa
bangga telah mendapatkan pengalaman yang sulit didapat. Namun, di sisi lain,
aku mungkin kekurangan apa yang disebut “pengalaman
biasa”.
“Eito. Yang kamu butuhkan sekarang adalah pengalaman sebagai ‘siswa
SMA biasa’! Kalau kamu benar-benar memikirkannya,
daru situlah kamu bisa berkembang!”
Ini
memang menyebalkan, tetapi ada daya tarik tertentu dalam pembicaraan orang ini.
Berbeda dengan Ojou, ia juga tampaknya orang yang bisa mempengaruhi orang lain.
…Yah,
jika Ojou memiliki ‘karisma’, mungkin lebih tepat jika orang ini disebut
sebagai ‘penipu’.
“...
Baiklah. Aku akan mengumpulkan pengalaman sebagai ‘siswa SMA biasa’
seperti yang kamu katakan.”
“Jadi kamu mengerti maksudku ya!?”
“Ya. ...
Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk bersenang-senang?”
“Itu
adalah...”
“... Itu
apa?”
Yukimichi seolah-olah mengulur waktu
sejenak,
“—Kencan buta!”
“Aku akan
membunuhmu.”
Sial.
Tanpa sadar, aku mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.
“Tunggu.
Jika kamu bilang akan membunuhku, itu bukan lelucon lagi.”
“Maaf.
Saran yang terlalu bodoh ini keluar begitu saja…”
“Aku
mengerti jika kamu merasa kebingungan. Secara umum, kencan buta adalah sesuatu yang dilakukan
oleh orang dewasa, biasanya mahasiswa ke atas.”
“Hal yang membuatku bingung itu karena ide gilamu itu.”
Ternyata
ia memang seorang penipu atau semacamnya.
“Kencan buta itu sebenarnya hanya istilah.
Sebenarnya, ini hanya pertemuan biasa
untuk berkumpul dan mengobrol atau makan bersama dengan siswa dari sekolah lain.”
“Jadi…
maksudnya adalah memperdalam hubungan dengan siswa dari sekolah lain?”
“Begitulah.
Selain itu, kali ini lawan interaksi kita adalah ‘Akademi Houraiou’ yang
terkenal sebagai sekolah khusus gadis-gadis kaya!
Ini diatur melalui koneksi kepala keluarga Tendou!”
“Tuan besar sendiri yang
mengatur kencan buta ini!?”
“Betul!
Jadi, ini adalah kencan buta yang
disetujui oleh kepala keluarga Tendou!”
Apa-apaan
ini. Kenapa Tuan besar mengatur kencan buta…?
Apa ini
kenyataan? Tidak, ini tidak sesuai dengan pemikiranku.
“Sebenarnya,
aku ingin menghindari membawamu ke kesempatan yang sangat langka ini… tapi itu
adalah syarat dari kepala keluarga Tendou.
Jadi aku terpaksa mengundangmu. Oh, jika kamu menolak, itu tidak masalah, ‘kan? Dengan begitu, kemungkinan
kamu bisa menguasai bunga-bunga baru akan berkurang.”
“Tapi…
jika tuan besar
terlibat, mana mungkin aku tidak
hadir… itu akan mencemarkan nama baik beliau…”
Namun,
aku tidak mengerti. Pemikiranku tidak bisa mengikuti.
Mengapa
tuan besar bersikeras membawaku ke kencan buta…?
“Tapi,
meskipun ada koneksi dari Tuan besar,
bagaimana caranya kamu
bisa menarik siswa dari sekolah khusus putri
itu…? Atau mungkin jangan-jangan,
tentang kasus yang itu?”
“Kamu
tahu bahwa Akademi Houraiou akan segera beralih menjadi
sekolah campuran, ‘kan?
Kasus kali ini adalah bagian dari itu. Di semester kedua, siswa terpilih dari Akademi Tenjouin akan mulai bersekolah di sana
sebagai percobaan… jadi, meskipun aku secara pribadi menyebutnya kencan buta, sebenarnya ini adalah ‘acara
pertukaran sosial’.”
Pertukaran
sosial, ya. Begitu rupanya… jadi Yukimichi hanya berbicara berlebihan saja. Tentu saja, Tuan besar memang bijak. Mungkin
maksudnya adalah “Sebagai pelayan keluarga Tendou, berkontribusilah kepada
akademi.”
“Baiklah.
Jika itu yang dimaksud, aku akan ikut acara ‘pertukaran’ itu.”
“Kencan buta, oke.”
“Kenapa
kamu begitu terobsesi dengan sebutan itu…”
“Jadi,
aku akan memberi tahu detailnya nanti. Siapkan dirimu ya~”
Yukimichi keluar dari rumah sambil melambaikan tangannya.
Sepertinya
ia datang hanya untuk menyampaikan hal ini. Namun, entah bagaimana, ia juga
datang untuk melihat keadaanku. Jika hanya untuk menyampaikan ini, ia bisa saja
menggunakan email atau aplikasi pesan.
“Kencan buta ya… saat melayani Ojou, aku tidak
pernah memikirkan hal ini.”
•❅──────✧❅✦❅✧──────❅•
(Sudut
Pandang Yukimichi)
Segera setelah keluar dari apartemen Eito,
aku menelepon seseorang di taman terdekat. Tepat setelah tiga kali dering,
orang yang dimaksud menjawab telepon.
Orang itu
adalah kepala keluarga Tendou saat ini—Tendou Yuuta-san, yang juga merupakan klien untuk
permintaan kali ini.
“Ah, ini
aku. Ya. Sesuai rencana, aku sudah menyampaikan tentang kencan buta. Sepertinya ia akan ikutan.”
Entah
kenapa, aku mengarahkan pandanganku ke apartemen Eito. Sekarang, dirinya pasti tidak tahu apa-apa.
“Ah, ya.
Seperti yang kuduga, ia tidak mencurigai apa-apa. Tentu saja, ia tidak akan
pernah berpikir bahwa ini bukan ‘kencan buta’ atau ‘acara
pertukaran’—tetapi ‘perjodohan’ untuk Eito.”
Benar.
Yang sebenarnya aku tawarkan kepada Eito kali ini adalah ‘perjodohan’.
Mengapa
ini bisa terjadi? Alasannya sangat sederhana.
Karena kepala keluarga Tendou adalah orang tua yang sangat penyayang.
Ia
tidak ingin menikahkan putri satu-satunya yang cantik. Namun, putrinya itu
sangat tergila-gila pada Eito.
Jadi, ia merencanakan agar Eito segera
mendapatkan pacar.
…Serius, ia adalah orang tua yang terlalu penyayang.
Di sisi lain, istrinya, Tendou Hina-san, sering
menegurnya… atau lebih tepatnya, sering marah padanya.
“Aku
mengerti, kok. Setidaknya
kita harus merahasiakannya dari Ojou-sama. Tentu saja, jika ini
terbongkar, aku juga akan dalam masalah, dan lebih penting lagi, Yuuta-san
juga akan dalam masalah, ‘kan? Aku
akan menjaga rahasia ini. Hahaha.”
“—Wah, wah.
Sepertinya ada cerita menarik yang baru saja
kudengar, ya? Otoha.”
“—… Ya.
Tadi aku memang mendengar kata ‘perjodohan’.”
“Haha…
ha…”
“Perjodohan
untuk membuat Eito punya pacar, ya…”
“…Baru pertama kalinya aku mendengar ini.”
“……………………”
“Dan
katanya, Ayahanda yang mengatur semuanya.”
“…Taoi kita tidak diberitahu sama sekali.”
““…Sungguh
cerita yang sangat menarik.””
“…………………………………………”
Rasanya
seperti ruang ini diselimuti kegelapan yang pekat.
Ketakutan
membuat tubuhku bergetar, bahkan untuk berbalik pun sulit.
Sebenarnya,
jika aku berbalik sekarang… nyawaku mungkin tidak akan selamat.
“Kamu sedng menelepon dengan ayahanda, ‘kan?”
“…Serahkan
ponsel itu.”
“…………………………………………”
Jangan sekali-kali membuka mulutmu. Kazami
Yukimichi.
Sebagai
seseorang yang menangani informasi, aku tidak bisa membicarakan klien. Apalagi
menyerahkan ponsel…!
“Hey,
Kazami.”
“…Aku
hanya ingin bertanya satu hal padamu yang cerdas.”
“…………………………………………”
Jangan
bicara. Jangan bicara. Jangan bicara. Aku harus
tetap diam…!
““……Kamu lebih suka laut atau gunung?””
“Silakan diterima.”
Maafkan aku, Yuuta-san.
Apa aku
akan tenggelam di dasar laut atau terkubur hidup-hidup di dalam gunung?
Jika
dihadapkan pada pilihan seperti itu, aku tidak punya pilihan selain menuruti mereka.
Karena
hidupku sangat berharga.
“Baiklah…
mari kita bicarakan dengan tenang, ya, a-y-a-h-a-n-d-a?”
Sepertinya
ponselku bergetar sedikit.
…Baiklah.
Selama ini aku akan melarikan diri. Apa sih, satu ponsel tidak ada artinya.
Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa.
“……Kamu mau
pergi ke mana?”
Saat aku
berusaha melarikan diri secara diam-diam, tangan sang diva menangkap bahuku dan
menghentikanku.
Aku tidak
pernah menyangka… ternyata Habataki Otoha memiliki kekuatan genggam
yang begitu kuat…
Seperti
alat penjepit. Haha. Rasanya, bahuku seolah-olah akan terlepas.
“Kalian
berdua, duduk dengan benar.”
“……Aku
ingin mendengar semua alasanmu.”
