Prolog
———10 September, Sudut
Pandang Ichijou Ai———
Aku menghela napas lega setelah turun
dari panggung bersama Senpai.
“Rasanya
bikin gugup, ya?”
“Iya.”
Saat kami
saling tersenyum, ketegangan yang menyelimuti
tubuhku perlahan-lahan mengendur. Aku ingin selalu
bersamanya. Mungkin karena ia
adalah cinta pertamaku. Aku sudah tergila-gila
padanya.
Namun, pada saat yang sama, aku merasa
takut. Aku telah kehilangan ibuku dan ayahku. Sekarang, aku tidak bisa
mempercayai diriku sendiri. Dalam hatiku selalu ada ketakutan, apakah orang
yang kucintai selalu ditakdirkan untuk meninggalkanku.
Kurasa novel
buatan Senpai akan semakin populer ke depannya. Itu
membuatku senang. Namun, di saat yang sama, aku merasa takut. Mungkin, aku akan
ditinggalkan begitu saja. Sepertinya
aku masih belum bisa melangkah maju. Sejak hari
kecelakaan itu, waktu kehidupanku seakan-akan
telah terhenti.
Oleh
karena itu, aku tidak bisa jatuh cinta pada siapa pun. Itulah yang selalu kupikirkan selama
beberapa tahun terakhir ini. Namun, pria bernama Aono Eiji ini bahkan bisa mencairkan hatiku
yang dingin. Kurasa aku tidak akan pernah bertemu seseorang yang kucintai
sebanyak ini lagi.
Itulah
sebabnya, aku takut kehilangannya.
Mulai
sekarang, segalanya akan menjadi semakin rumit. Keluarga Kondo pasti akan mengajukan protes kepada
sekolah. Dan jika tidak puas, mereka mungkin akan
mulai mengganggu Kitchen Aono dan keluarga Senpai. Namun,
aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Dengan segala cara, aku harus melindungi tempat
favoritku dan keluarga orang yang kucintai.
Aku
teringat sensasi saat dia mengantarkanku tadi. Aku ingin terus menggenggam
tangannya. Seberapa
bahagianya hal itu jika aku
bisa menghabiskan waktu bersamanya sambil tertawa dengan tenang.
Mungkin
ini hanya khayalan yang berlebihan. Tapi
itulah yang selalu kuinginkan. Aku ingin memiliki keluarga. Aku ingin kembali
ke masa-masa bahagia. Aku tahu orang lain melihatku dan berpikir bahwa aku
masih menjalani kehidupan yang beruntung. Namun, meskipun seberapa beruntungnya
aku, aku selalu merasa kesepian. Sebelum kecelakaan itu terjadi, aku selalu
bahagia... pada hari itu, semuanya berakhir.
Apa yang
seharusnya kulakukan?
Meskipun
aku tahu bahwa percuma saja memikirkannya, tapi mau tak mau aku
terus memikirkannya.
Namun,
aku tidak ingin kehilangannya.
Aku merasa ada semacam kecenderungan untuk menguasainya, dan itu membuatku membenci
diriku sendiri.
Dan aku
terpaksa memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin kupikirkan.
Apa aku
layak dicintai oleh seseorang? Semakin aku memikirkannya, semakin dalam aku
terjebak. Kenyataan bahwa aku masih belum bisa memberi tahu Senpai tentang
keluargaku hanya semakin memperburuk
pemikiranku. Aku terus berbohong kepada orang-orang yang sangat aku cintai. Aku
takut untuk berbicara. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena tidak
bisa melangkah maju pada saat-saat
yang paling penting.
※※※※
———Sudut Pandang Kondo———
“Ayah,
tolong bantu aku! Aku dalam
masalah besar.”
Sialan. Meskipun sangat memalukan, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku memutuskan untuk mengadu
kepada ayahku.
“Ada apa?
Lagipula, bagaimana dengan sekolahmu?”
Tidak
apa-apa. Ayahku juga seorang playboy,
sama sepertiku. Meskipun ia mungkin menganggapku merepotkan, demi melindungi
dirinya sendiri, dirinya pasti
akan bergerak untuk melindungiku.
“Sebenarnya...”
Aku
menceritakan apa yang sedang terjadi apa adanya. Aku terlibat masalah cinta dan akhirnya memukul seorang junior. Karena kesal, aku menyebarkan
fitnah tentang pria itu di internet dan mengucilkannya.
Anggota
tim sepak bola yang mengagumiku menjadi liar dan melakukan tindakan perundungan terhadap junior itu.
Dan kemudian,
insiden-insiden ini terungkap sebagai kasus penyerangan, dan bahkan pihak kepolisian telah menghubungi sekolah.
Saat menceritakan hal itu kepadanya, aku
merasakan kalau wajahku memucat.
“Di
saat-saat penting menjelang pemilihan walikota
begini... hal ini
bisa berakibat lebih fatal daripada masalah
hotel cinta sebelumnya! Kita harus
menghindari itu! Tapi tetap saja,
kenapa bisa terjadi seperti ini?”
“Tapi,
belum ada tindakan serius
yang diambil. Jadi, semuanya masih
aman-aman saja. Ayah, tolong bantu aku.”
Setelah
mengatakan ini, ayahku pasti akan memberi tekanan kepada pihak sekolah untuk menutupi masalah
ini.
Jika itu
tidak berhasil, dia pasti akan mengancam keluarga Aono dengan kekuatan dan
uang, memaksa mereka untuk mencapai kesepakatan. Kenyataan
bahwa pihak kepolisian sampai terlibat itu berarti mereka telah
mengajukan laporan. Namun, aku yakin ayahku pasti akan menemukan caranya entah bagaimana.
Masih belum
jelas apakah ada bukti jelas bahwa aku yang melakukannya, tapi jika tidak ada, ayahku akan memberi tekanan dan
berpura-pura tidak tahu. Benar, kenapa
aku jadi panik begini?
Jika aku warga negara kelas atas, perkara
semacam ini seharusnya tidak masalah. Ya, aku cuma terlalu takut.
“Dengar,
jika masalah ini sampai terungkap,
kita berdua akan hancur. Ingat baik-baik,
jangan lakukan hal yang tidak perlu lagi. Jangan sekali-kali menghalangiku. Serahkan sisanya padaku. Lagipula, sebagian besar masalah bisa
diselesaikan dengan uang dan kekuatan.”
Ayahku
menekankan hal ini. Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi.
Sekarang, yang penting ialah
apa yang harus
dilakukan selanjutnya. Tidak apa-apa, aku selalu bisa mengatasi berkat kekuatan
ayahku.
“Baiklah,
aku akan mengurusnya dengan pihak sekolah. Sementara itu, kamu
tetap di rumah. Ingat, jangan sekali-kali keluar.”
Ayahku memang bisa diandalkan. Dengan begini, aku pasti baik-baik saja.
※※※※
———-Sudut Pandang
Ketua Klub Sastra———
Pelajaran
bahasa Jepang yang membosankan pun dimulai.
Aku
sama sekali tidak mengerti apa yang ingin diajarkan oleh guru ini kepada
kami. Itulah
sebabnya, aku membaca buku teks bahasa Jepang secara acak.
Di bagian sastra luar negeri, aku tertarik dengan pengenalan sastra Rusia.
Aku
sangat menyukai novel “Kejahatan dan Hukuman” karya Dostoevsky.
“Beberapa dosa dapat ditebus dengan
banyak perbuatan baik.”
“Oleh karena itu, para jenius yang dapat membawa
banyak perkembangan bagi masyarakat tidak perlu terikat pada etika yang
membosankan.”
Ini
adalah cara berpikir yang sangat kusukai.
Sejak
kecil, aku suka menulis cerita. Aku memenangkan
medali emas dalam lomba menulis esai bahasa Jepang tingkat
nasional. Dalam slogan dan esai bacaan, aku selalu mendapatkan penghargaan.
Semua orang memujiku sebagai jenius.
Saat menginjak bangku SMP, aku
menyadari bahwa dunia ini seperti sebuah cerita. Hanya
dengan sedikit campur tangan dariku, nasib orang-orang bodoh
bisa dengan mudah dihancurkan. Aku tidak perlu mencemari
tanganku sendiri, cukup dengan mencemari tangan orang lain. Yang perlu kulakukan hanyalah memandu mereka sedikit.
Misalnya,
jika aku berkata kepada Kondo-kun yang seperti binatang buas, “Gadis itu imut, ya. Tapi, sepertinya dia
sudah punya pacar. Mereka adalah pasangan teman masa kecil,” pria itu yang sangat suka menghancurkan
martabat orang lain pasti akan bergerak untuk merobohkan hubungan mereka. Semudah itu.
Nasib
orang-orang ada di telapak tanganku. Akulah si penulis
cerita.
Mainan yang bernama Kondo-kun juga benar-benar luar biasa. Aku belum pernah menemukan karakter
yang lebih mudah untuk dikendalikan daripada dirinya.
Aku
merasakan kegagalan untuk pertama kalinya dalam
kehidupanku yang selama ini berjalan mulus
karena junior bernama Aono Eiji.
Aku memanggilnya Eiji-kun dengan akrab, tetapi hingga sekarang, aku masih terus
merasa cemburu padanya.
Dalam hal
bakat menulis cerita, aku merasa tidak memiliki
saingan di antara umur sebaya. Namun, ia memiliki bakat yang
melampauiku. Ketika aku membaca novelnya, keringat dingin mengalir di
punggungku. Kenapa anak laki-laki tak dikenal ini bisa menulis sebagus ini?
Aku
merasa iri. Aku bahkan berpikir seharusnya
dirinya mati saja. Aku merasa posisiku akan
runtuh. Karya yang kuanggap sebagai mahakarya tiba-tiba
terasa murahan, dan aku menghapus data manuskripku.
Jadi, aku
memutuskan untuk menghancurkan bakatnya.
Seorang jenius bisa dengan mudah hancur karena kerumitan hubungan antar
manusia. Aku memahami bahwa hal seperti itu memang terjadi.
Aku hanya
perlu membabat habis bakat itu sebelum keluar ke publik. Dengan
begitu, posisiku akan terjaga.
Aku
berpikir untuk merayunya
dan merusaknya, tetapi karena dia memiliki pacar yang merupakan teman masa
kecil dan sifatnya yang jujur, aku membatalkan rencana itu. Itu semakin melukai
harga diriku. Sebagai seorang wanita, aku merasa marah karena tidak dipilih.
Sebagai
langkah berikutnya, aku menggunakan Kondo-kun. Aku merasa diriku sebagai wanita
telah ditolak. Oleh karena itu, aku ingin menghancurkan martabatnya sebagai
pria. Aku mengarahkan Kondo-kun dengan baik agar mendekati Amada Miyuki. Lalu, aku berencana untuk membuat mereka
bertemu secara diam-diam pada hari ulang tahun Eiji-kun, mengambil foto mereka
yang menghilang ke dalam hotel dan menyelipkannya ke dalam meja sekolah Eiji-kun.
Namun,
sesuatu yang lebih menarik justru
terjadi. Tidak kusangka mereka akan bertemu. Takdir memang menarik. Jadi, aku
akan mengubah cerita ini ke arah yang lebih menarik. Aku memprovokasi Kondo-kun dan mengucilkan
Eiji-kun.
Ngomong-ngomong,
aplikasi SNS yang kami gunakan sedikit khusus, di mana riwayat pesan akan
hilang begitu salah satu dari kami menghapusnya. Aplikasi ini buatan luar
negeri dan servernya juga dari luar negeri,
jadi jika mereka menyadari bahwa kami menggunakannya, polisi tidak akan bisa
berbuat banyak. Lagipula, ini hanya masalah perundungan.
Pihak kepolisian pun takkan menyelidikinya sampai sejauh itu. Karena
aku telah menghapus riwayatku,
yang perlu dilakukan Kondo-kun
hanyalah meluncurkan aplikasi di ponselnya dan
pesan-pesan iitu akan otomatis menghilang.
Sayangnya. Tidak
peduli seberapa keras Kondo-kun mengklaim
keterlibatanku, tapi ia tidak memiliki bukti
sama sekali, dan perilaku buruk Kondo-kun takkan pernah bisa menyeret diriku
yang mengenakan kedok siswa
teladan yang baik.
Eiji-kun juga
kemungkinan akan keluar dari klub sastra dan pensiun dari kegiatan kreatif.
Untuk saat ini, tujuan awalku
telah tercapai. Ah, rasanya sangat
menyenangkan.
Dengan begini, tidak ada yang bisa
melarikan diri dari skenario yang kubuat.
