Chapter 1 — Kemunduran Keluarga Kondo
── Hari yang
sama, dari sudut pandang (Ayah) Kondo ──
Segera, aku melaju dengan mobil menuju
sekolah SMA. Masalah seperti ini sebaiknya
diselesaikan secepat mungkin. Kasus hotel sebelumnya juga demikian, jika kita
memaksa untuk memberikan uang, sebagian besar masalah dapat diselesaikan.
Itulah strategiku dalam bertahan hidup.
Waktu
menunjukkan lebih dari pukul 12:30. Aku sengaja memilih waktu istirahat siang.
Dengan begitu, aku bisa lebih mudah berbicara dengan guru yang dituju.
Orang
yang menjadi pusat masalah kali ini adalah Takayanagi, seorang guru berusia
sekitar 30-an, dan kepala sekolah. Usia mereka cukup tepat. Takayanagi memiliki
peluang untuk naik jabatan, sementara kepala sekolah memiliki umpan yang baik
setelah pensiun.
Dengan
menggoda mereka dengan hal itu, seharusnya aku bisa mendapatkan hasil yang
diinginkan.
Di meja resepsionis, aku menyampaikan maksud
kedatanganku.
“Aku
adalah ayah Kondo dari kelas tiga, yang juga seorang anggota dewan kota, aku ingin berbicara dengan kepala
sekolah dan Takayanagi-sensei…”
Aku
sengaja berpura-pura berkunjung sebagai
anggota dewan untuk memberikan tekanan pada orang-orang
di sekitarku.
Hal ini
seharusnya memungkinkanku bisa bertemu dengan mereka.
Seperti
yang diperkirakan, petugas resepsi segera menghubungkanku dengan keduanya. Aku
diarahkan ke ruang kepala sekolah. Nah, pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.
※※※※
“Wah,
wah, selamat datang, Kondo-san.”
Setelah
menunggu sekitar sepuluh menit, kedua guru itu datang. Kepala sekolah dan
Takayanagi. Mereka berdua memperkenalkan
diri seperti itu.
“Maaf
telah mengganggu waktu Anda yang
sibuk. Aku ingin berkonsultasi mengenai masalah putraku dengan kalian berdua.”
Aku
sengaja menunjukkan sikap rendah hati untuk memuaskan harga diri mereka. Jika
ini tidak berhasil, aku akan mengancam.
“Oh, apa yang ingin kamu bicarakan?”
“Ya,
sepertinya kalian berdua meragukan putraku. Aku mendengar bahwa ada insiden
kekerasan minggu lalu…”
Usai mendengar
kata-kata itu, kedua orang itu terlihat kebingungan seperti sedang berakting. Kepala sekolah menjawab.
“Tidak,
kami tidak meragukan putramu. Kami hanya menyampaikan hal itu kepada seluruh
siswa dalam pertemuan umum. Jika kamu
mengatakan hal seperti itu, apa berarti kamu
memiliki sesuatu yang ingin disampaikan tentang putramu?”
Sial, aku
terjebak dalam jebakan mereka. Ternyata, mereka belum secara langsung
menyatakan hal itu. Dasar si anak
bego itu.
“Ya,
sepertinya demikian. Ketika aku bertanya kepada putraku, ia mengatakan bahwa dirinya terlibat masalah karena cinta
dan akhirnya memukul juniornya. Dirinya
sangat menyesal atas apa yang telah terjadi. Aku berharap kita bisa
menyelesaikannya dengan damai.”
Pihak sekolah
pun pasti tidak ingin skandal seperti
ini terungkap kepada publik. Aku
mengisyaratkan bahwa kepentingan kami sejalan.
“Begitu ya. Aku berharap bisa mendengar
kata-kata itu lebih awal. Kami sudah pernah
bertanya langsung kepadanya
mengenai masalah tersebut. Apa Anda tidak tahu?”
Kepala
sekolah masih bersikap menghindar.
“Aku belum pernah mendengar itu sebelumnya.
Lagipula, ia masih berusia
remaja. Mungkin ia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya kepada orang tua.
Putraku sedang berada di masa penting menjelang masuk universitas. Dirinya juga sedang mempertimbangkan
beasiswa olahraga, dan universitas yang dituju memberikan tanggapan yang baik.
Hal-hal seperti ini yang menjadi publik akan berdampak buruk pada masa depan
putraku. Anda juga
pasti menyetujuinya, bukan? Skandal seperti ini akan menjadi
sasaran empuk bagi media. Sebisa mungkin, lebih baik tidak diumbar. Dari sudut
pandang generasi kami, ini hanyalah
masalah anak-anak yang bertengkar. Aku rasa kita sebaiknya menghindari kerugian
besar karena hal sepele seperti itu.”
Perkataanku
membuat kedua orang itu menjadi kaku. Sepertinya, ancamanku berhasil.
Takayanagi
yang sebelumnya diam, akhirnya membuka mulut.
“Cuma
pertengkaran anak-anak?”
“Benar sekali. Semasa
mudaku, pertengkaran adu jotos
antara anak-anak merupakan
hal biasa. Orang tua zaman sekarang
terlalu berlebihan dalam menanggapi.
Aku akan meminta maaf kepada orang tua mereka juga. Tentu saja, aku juga akan
menunjukkan itikad baik. Jadi, apa pihak sekolah bisa menyelesaikannya dengan
damai? Jika masalah ini menjadi publik, reputasi guru-guru dan jumlah pendaftar
ujian ke depan akan memburuk.”
Sekarang,
saatnya untuk mulai mengancam.
Guru muda
itu melanjutkan.
“Apa
menyelesaikan dengan damai berarti pihak sekolah harus menutupi ini?”
“Menutupi
adalah kata yang buruk. Namun, aku memiliki koneksi di berbagai tempat karena
pekerjaanku. Jika pihak sekolah tidak bergerak secara terbuka, aku bisa
mengatur segalanya. Reputasi buruk tidak akan muncul. Dengan begitu, kita semua
akan saling menguntungkan, bukan?”
Takayanagi
tampak tertegun dan menghela napas kecil. Ah, jadi dia tipe seperti itu.
“...Jangan
bercanda denganku.”
Ternyata,
ia masih tergolong tipe yang penuh semangat yang jarang ditemui saat ini.
“Takayanagi-sensei, anggaplah ini sebagai masalah
bisnis. Jika kalian tetap diam, aku akan memudahkan urusan kalian di masa
depan. Atau, apa kalian ingin menjadikanku sebagai musuh dan terus-menerus
mengalami kesulitan?”
Aku sudah
melepas topeng kesopanan. Selanjutnya, aku hanya perlu terus mengancam dengan kekuatan
yang ada.
“...”
Dia
terdiam. Ternyata, dia juga menyayangi dirinya sendiri. Ya, mau bagaimana lagi.
“Apa kamu
mengerti? Putraku memiliki masa depan. Masa depan yang cemerlang. Bukankah
seharusnya da tumbuh dewasa? Lagipula, hanya karena pertengkaran anak-anak, urusannya sampai menjadi masalah besar
seperti ini... Dikatakan bahwa dia memukul, tapi sepertinya hanya bermain-main.
Menganggap ini sebagai masalah besar menunjukkan bahwa kemampuan manajemen
kalian bermasalah. Enak sekali ya jadi
pegawai negeri. Jika di swasta, kalian semua sudah dipecat.”
Setelah
melontarkan kata-kata itu, tubuh guru
muda itu bergetar. Ah, perasaan menekan dengan kekuatan seperti ini sangat
menyenangkan.
“Maaf,
tetapi...”
Aku
menatap wajah Takayanagi yang marah. Namun, pemuda seperti ini tidak bisa
berbuat banyak.
Dia hanya
seorang guru.
“Takayanagi-sensei, tenangkan dirimu dulu.”
Kepala
sekolah segera turun tangan untuk menghentikannya. Ternyata, pengalaman
berbicara. Dia sepertinya mengerti situasi dengan baik.
“Namun,
kepala sekolah...”
Melihat
wajah Takayanagi yang tampak kecewa saat melihat atasannya, aku yakin telah
memenangkan pertarungan ini.
“Takayanagi-sensei. Kamu masih muda, kamu tidak perlu berdiri di depan
menggantikan kepala sekolah yang sudah tua. Ini adalah tugas orang yang lebih
tua. Maaf, Kondo-san...”
Kepala
sekolah mungkin tampak seperti orang tua yang baik hati, tetapi sebenarnya dia
cukup pengecut. Yah, itu membuat segalanya lebih mudah.
“Seperti yang diharapkan, kepala sekolah
mengerti. Jadi, untuk ke depannya...”
Saat aku
hendak membicarakan rencana masa
depanku, kepala sekolah tiba-tiba
memukul meja dengan keras.
Suara
keras terdengar.
“Apa
yang...?”
Tanpa
sadar, aku mengeluarkan suara lemah saat melihat tanggapannya...
“Cuma
pertengkaran anak-anak!? Malulah, kamu seharusnya malu!! Karena perbuatan anakmu, masa depan seorang siswa
SMA hampir hancur!”
Suara
kepala sekolah yang penuh amarah
menggema di ruangan, rasanya sangat
berbeda dari ekspresi lembutnya yang sebelumnya.
“Hah...? ”
Aku tidak
mengerti apa yang terjadi dan bertanya kembali.
“Dan aku
tidak akan membiarkanmu menghina bawahanku lebih jauh. Takayanagi-sensei tidak pantas dihina oleh orang
sepertimu!!”
Serangan
balik yang kuat datang menghujaniku.
※※※※
── Sudut pandang
Takayanagi ──
Aku
melihat kepala sekolah marah untuk pertama kalinya dan mengangkat suaranya. Anggota dewan Kondo dan aku terdiam. Aku
ingat pernah mendengar bahwa kepala sekolah memiliki julukan “Jenderal Perang” saat masih di tim rugby.
Biasanya, ia selalu tersenyum ramah tanpa pernah memarahi siapa pun, jadi kupikir
mungkin ada yang melebih-lebihkan cerita itu.
Namun, aku
menyadari bahwa cerita itu benar adanya.
Bahkan
anggota dewan yang seharusnya datang untuk memberi tekanan pun tampak tertegun
oleh kehadiran tegas kepala sekolah.
Beliau
melanjutkan.
“Jika
kami bersikap rendah hati dan mendengarkan, kamu hanya akan berbicara dengan arogan. Ingat,
kamu adalah anggota dewan kota. Seharusnya kamu menjadi teladan bagi warga. Dalam
hal masalah internal, seharusnya kamulah orang yang paling bertanggung jawab.
Namun, kamu mengesampingkan dirimu sendiri dan merendahkan Takayanagi yang
setia menjalankan tugasnya, itu tidak bisa diterima! Kamu seharusnya menerima
gaji dari pajak warga. Meskipun begitu, kamu memaksa pihak sekolah untuk
menutupi insiden kekerasan yang dilakukan anak-anak. Jangan bercanda. Itu adalah tindakan terendah
yang bahkan mengkhianati kepercayaan warga yang memilihmu.”
Kepala sekolah mengkritik anggota dewan
tersebut dengan lancar dan teratur, dan
nada suaranya tetap tinggi. Aku
hampir bertepuk tangan untuk kepala sekolah yang dengan tegas menolak
permintaan penutupan kasus dari
Anggota Dewan Kondo.
Setelah
beberapa saat terdiam, anggota dewan itu membuka mulut untuk membalas.
“Apa
yang... Jika masalah ini
menjadi publik, bagaimana nasib reputasi sekolah? Karena kepala sekolah dengan
rasa keadilan yang naif seperti kamu, papan nama sekolah dengan sejarah dan
tradisi ini akan ternodai.”
Namun,
kepala sekolah menjawab tanpa sedikit pun ragu.
“Apa yang bisa dibanggakan dari reputasi
yang mudah ternodai seperti
itu? Justru jika reputasi ini bisa rusak hanya karena hal kecil, aku merasa
malu sebagai kepala sekolah. Dengar, apa nilai dari mempertahankan sejarah dan tradisi
yang tidak berarti dengan membiarkan insiden kekerasan dan perundungan terjadi?
Tradisi yang seharusnya dibanggakan adalah yang dibangun oleh setiap siswa yang
belajar di sekolah ini. Apa nilainya mengorbankan masa depan anak-anak yang
menciptakan tradisi itu demi terikat pada masa lalu? Itu hanya menunjukkan
bahwa kamu salah memahami tujuan dan makna pendidikan.”
“Ap...”
Anggota
Dewan Kondo, yang tidak pernah menyangka akan ditolak
sejauh ini, terdiam.
“Mana mungkin seorang pendidik dapat menjalankan
tugasnya jika tidak bisa melindungi satu siswa. Luka sekecil itu hanyalah hal yang sepele jika demi melindungi siswa. Anggota
Dewan Kondo-san, bukannya
kamu salah paham?”
“Tapi,
putraku juga siswa di sini. Sekolah memiliki kewajiban untuk melindungi… dan
reputasi kalian juga akan tercoreng…”
“Kondo-kun telah melakukan sesuatu yang
secara hukum tidak boleh dilakukan. Mengajarkan hal itu juga merupakan tugas
seorang guru. Melindungi dan memanjakan adalah dua hal yang berbeda. Jika
seseorang melakukan kesalahan, mendorong mereka untuk bertanggung jawab
merupakan bagian dari pendidikan. Jika kita menutupi tindakan kriminal, hal itu justru akan merusak reputasi
sekolah yang bersejarah ini. Reputasi kita juga akan turun. Pemikiran seperti
itulah yang seharusnya membuatmu
malu.”
Wajah
anggota dewan Kondo memerah, tetapi ia tampak frustrasi karena tidak mampu membalas argumen yang masuk akal dari
kepala sekolah.
“Begitu ya,
sekarang
aku mengerti. Ternyata kalian semua sangat bodoh. Ini adalah kesempatan
yang baik, tapi kalian justru
menginjak-injaknya. Jangan bilang aku tidak memperingatkan kali. Dengan ini, kehidupan mengajar
kalian dan tradisi sekolah ini akan mendapatkan dampak
besar.”
Dengan
penuh penyesalan, ia mengucapkan kata-kata itu dan membuka pintu dengan keras
sebelum keluar.
Aku dan
kepala sekolah saling bertatapan. Lalu, kepala sekolah tersenyum.
“Takayanagi-sensei, apapun yang dia katakan, aku
bangga dengan tindakanmu. Jangan terlalu dipikirkan. Dan, waktu untuk ultimatum
telah berlalu. Sekarang, tidak perlu ragu lagi.”
Kepala
sekolah membuka pintu yang menghubungkan ke ruang tamu sebelah.
Putra
sulung pria yang diselamatkan dan anggota keluarga lainnya menyambut kami
dengan senyum masam.
Ternyata,
orang yang diselamatkan oleh Aono-kun dan yang
lainnya adalah Yamada-san,
mantan ketua dewan provinsi yang sudah pensiun. Dia pensiun karena usia, dan
putranya yang melanjutkan.
Dengan kata lain, putra sulungnya merupakan anggota
dewan provinsi saat ini… dan Yamada-san menundukkan kepala dengan rasa
bersalah.
“Aku tak mempercayai bahwa Anggota Dewan Kondo-san adalah orang
seperti itu… Sebagai sesama anggota partai, aku hanya bisa merasa malu. Kami
akan menangani masalah ini di sini. Aono-kun juga mengalami banyak kesulitan,
ya?”
Aono dan
Ichijo mendapat ucapan terima kasih dari Yamada-san atas insiden tersebut.
“Terima
kasih, para guru…”
Ternyata
mereka mendengarnya. Aku
berharap bisa menyelesaikannya dengan tenang karena ada Aono… Aku tidak
menyangka akan diancam sejelas ini.
“Kamu tidak perlu berterima kasih. Aku
hanya melakukan apa yang harus kulakukan dan mengatakan apa yang perlu aku
katakan.”
Kepala
sekolah menepuk-nepuk bahuku.
“Benar.
Seharusnya ini bukan cerita yang perlu kamu
dengar. Aku kurang mempertimbangkan hal ini. Justru, akulah yang harus meminta maaf.”
Mata Aono
terlihat berkaca-kaca. Di sampingnya, Ichijou
jelas-jelas terlihat marah. Dia memasukkan
tangannya ke saku dada seragam dan menggerakkan sesuatu. Suara logam bergetar
terdengar, diikuti dengan suara perubahan sesuatu.
※※※※
── Dari
sudut pandang Aida di waktu istirahat makan siang, anggota klub sepak bola
──
Kami
kembali ke ruang kelas setelah makan dari
kantin. Sudah lebih dari setengah jam lewat dari pukul 12:00.
Saat
berjalan santai di koridor, ponsel di kantingku
bergerak sedikit. Grup chat tim sepak bola mengirimkan notifikasi pesan.
“Sampai
sejauh mana ini diketahui? Apakah kita membantu menyebarkan informasi itu? Atau
apakah kita bahkan terlibat dalam perundungan itu? Bagian mana dari kekerasan
yang merupakan kekerasan...…?”
“Apa yang
harus kita lakukan? Aku harus masuk ke empat besar provinsi untuk mendapatkan
beasiswa olahraga. Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita masih bisa ikut
turnamen?”
“Tentu
saja tidak bisa, dasar bodoh!”
“Berani-beraninya kamu
berbicara seperti itu kepada senior…”
Sebuah
gambaran neraka yang penuh
jeritan dan tangisan mengerikan.
Semua
orang menangis dan menjerit
panik. Suara darah terasa mengalir menjauh. Jika
ada yang bisa pingsan, aku ingin pingsan duluan. Semua
orang yang hadir diliputi rasa takut saat situasi itu terjadi secara nyata. Aku
mungkin akan menjadi orang berikutnya yang dibawa pergi oleh guru.
Tidak,
mungkin hanya aku atau Shimokawa. Lagipula, pihak sekolah pernah menanyaiku tentang
situasi ini beberapa hari yang lalu.
Saat itu, semuanya berjalan lancar, jadi aku merasa tenang, tetapi mungkin kami
sedang dipantau. Jika benar begitu… ini buruk.
Suara
langkah kaki terdengar di koridor. Aku berbalik
ketakukan dan melihat kepala bidang
akademis, Iwai-sensei, berdiri
tersenyum. Aku merasa sedikit lega karena itu
bukan wali kelasku, Takayanagi-sensei… tetapi kepala bidang akademis itu berkata dengan
senyuman dingin.
“Maaf ya, Aida. Aku ingin bertanya
sesuatu. Bisakah kamu datang
ke ruang bimbingan siswa?”
Aku secara
naluriah merasakan sesuatu yang berbahaya, jadi aku
mencoba membuat alasan.
“Tapi, saya masih ada jadwal pelajaran. Dan…”
“Tidak
apa-apa. Sekarang, aku harus mengajarkan sesuatu yang lebih penting daripada
pelajaran kepada Aida. Aku sudah berbicara dengan guru mata pelajaran
berikutnya. Dan kamu pasti mengerti niatku, ‘kan?”
“Tapi,
eh…”
Aku tidak
bisa menemukan kata-kata yang tepat. Guru itu melanjutkan dengan ekspresi
dingin yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Jangan
coba-coba melarikan diri. Kami sudah tahu semuanya.”
Kepala akademis di hadapanku mengeluarkan selembar kertas
dari saku dan menunjukkan kepadaku.
Itu
adalah riwayat pesan grup Lina
dari siswa kelas 2 tim
sepak bola. Di sana
tertulis seluruh rencana kami untuk merundung
Aono.
“Pertama-tama, rasanya aneh sekali kalau seseorang seperti
Aono bisa berpacaran
dengan Amada-san. Mereka tidak serasi sama
sekali.”
“Benar. Para Senpai juga
bilang, kita yang seangkatan harus mendidiknya dengan baik, jadi kita harus
melakukannya.”
“Bener banget. Aku tidak bisa memaafkannya karena sudah
melakukan kekerasan terhadap pacar cantiknya.”
“Jika
Kondo-senpai dan kapten menyuruh kami, kami tidak punya pilihan selain
melakukannya."
“Oke,
mari kita bertemu di kelas setelah latihan pagi!”
Bagaimana
mungkin pesan yang seharusnya tidak pernah terungkap di antara teman... bisa
bocor?
Jawabannya segera muncul. Aku hanya bisa memikirkan kemungkinan
bahwa seseorang telah mengkhianati
kami demi kepentingan pribadi.
“Itu
tidak benar. Kami hanya bercanda.”
“Ah,
begitu ya. Tapi, kepala sekolah sudah bilang. Jika ada siswa yang merasa
terlibat atau tahu sesuatu, mereka
harus melapor kepada wali kelas sebelum siang. Dan ini adalah peringatan terakhir.
Kamu mengerti maksudnya, ‘kan? Cerita detailnya, biar kita
dengar pelan-pelan di ruang bimbingan siswa, ya... karena kita masih ada banyak waktu.”
Aku
merasakan ilusi seolah-olah lantai yang
kupijak runtuh seketika.
Hukuman
massal di sekolah yang dijuluki “pembersihan besar-besaran tim
sepak bola” dan “insiden Senin berdarah” telah dimulai.
※※※※
──Sudut Pandang Kapten Tim Sepak Bola──
Aku
dibawa oleh guru wali
kelas ke ruang persiapan kimia yang kosong. Ada suasana tidak biasa yang
membuatku merasa tidak enak.
Tidak,
aku seharusnya mengerti. Tapi, aku tidak ingin mengakuinya dalam diriku.
Foto
Kondo yang seperti itu sudah beredar. Penyelidikan akan semakin ketat. Dalam
prosesnya, semuanya akan terungkap. Cuma itu
satu-satunya kesimpulan yang paling rasional.
Di sana
ada wakil kepala sekolah.
“Apa
kamu tahu mengapa kamu dipanggil ke sini?”
Beliau
adalah pria tua yang selalu berbicara sopan, tetapi hari ini dia menjadi algojo
yang kejam.
“Saya tidak
tahu."
Aku mencoba
melawan meski tahu itu sia-sia.
“Begitu
ya. Aku sebenarnya sangat menghargai klub
sepak bola. Setiap kali di turnamen prefektur, kalian selalu menghasilkan hasil
yang baik, dan meskipun ada hambatan sebagai sekolah negeri, kalian berjuang
dengan berani. Namun, kalian mulai merasa sombong. Mereka yang memiliki
kekuatan, terjebak dalam kekuatan itu. Kurasa
masalahnya terletak pada kami, pihak guru, yang tidak bisa memperbaiki itu.
Kami sangat menyesal tentang hal itu."
Nada
suaranya seolah-olah mengatakan
bahwa ia tahu segalanya.
“……”
Jantungku
berdebar lebih kencang. Aku tidak bisa melarikan diri lagi.
“Sejauh ini,
pihak sekolah telah mengonfirmasi bukti dari beberapa tindakan bermasalah
Kondo-kun. Kami juga sudah mengetahui bahwa klub sepak bola terlibat dalam
perundungan terhadap siswa kelas dua, Aono Eiji-kun...”
Wakil kepala
sekolah yang dingin dan tenang ini seolah-olah seperti detektif terkenal dalam
novel misteri.
“Aku tidak
melakukan apa-apa...”
Sebelum aku menyelesaikan
kalimatku, beliau menggelengkan kepalanya.
“Kami sudah
tahu bahwa itu adalah kebohongan. Jadi, berhentilah melakukan hal yang sia-sia.
Kamu memang tidak terlibat secara langsung. Namun, kamu telah memberi instruksi
kepada beberapa junior untuk merundung Aono Eiji-kun. Ini adalah riwayat
percakapan di aplikasi pesan yang kamu gunakan. Selain itu, kami juga
mengetahui akun media sosial rahasiamu. Kamu menyebarkan informasi palsu dan
menghasut junior. Untuk memastikan, apa benar kamu adalah salah satu dalang
dari perundungan ini?”
Keringat
dingin dan detak jantung yang berpacu cepat, penyesalan dan ketakutan. Emosi
negatif menyerbu dalam diriku sekaligus. Kemudian, di bawah tekanan dari wakil
kepala sekolah, mau tak mau aku mengakui semuanya.
“Ya. Memang,
aku telah melakukannya secara berlebihan. Aku minta maaf. Aku juga telah
merepotkan sekolah. Tapi, ke depannya aku akan merenung dan berusaha lebih
keras dalam sepak bola...”
Aku berusaha
melanjutkan alasan dan penyesalan yang putus asa, tetapi wakil kepala sekolah
menepuk tangan, menghentikan kata-kataku.
“Minta maaf?
Merepotkan sekolah? Berusaha lebih keras dalam sepak bola? Apa kamu benar-benar
berpikir begitu?”
Ada secercah
harapan dalam nada suaranya. Aku mengangguk dengan penuh semangat.
“Ya. Itu
bukan kebohongan. Mulai sekarang aku akan bersungguh-sungguh...”
Namun,
sebelum aku menyelesaikan kalimatku, suara marah yang belum pernah kudengar menyelaku.
“Kalian
seharusnya pertama-tama minta maaf kepada Aono Eiji!”
Wakil kepala
sekolah berteriak dengan nada yang sangat marah. Aku bahkan kehilangan
kata-kata dan hanya bisa menatap sumber suara yang marah itu.
“Pertama-tama,
minta maaf kepada korban. Sekarang bukan saatnya memikirkan diri sendiri atau
melindungi diri. Perundungan adalah tindakan kriminal. Ini bukan lagi waktu
yang bisa ditoleransi. Apa yang kamu lakukan adalah tindakan yang menghancurkan
kehidupan seseorang. Sepertinya kamu tidak memahami arti sebenarnya dari itu.
Orang tua Aono-kun sudah melaporkan kasus perundungan ini kepada polisi.
Mungkin, kalian dari tim sepak bola dan siswa yang terlibat dalam perundungan
akan menghadapi tuntutan ganti rugi secara sipil. Jika itu terjadi, kalian
sebagai siswa tidak akan bisa berbuat apa-apa. Orang tua kalian akan
bertanggung jawab. Seharusnya, sebagai kapten yang seharusnya melindungi
anggota tim, kamu telah melakukan sesuatu yang ceroboh sehingga bahkan anggota
tim pun terjerumus ke dalam neraka. Kamu tidak layak menjadi kapten.”
Pedang
dingin seperti es mengoyak hatiku. Wakil kepala sekolah menatapku tanpa belas
kasihan.
“Klub sepak
bola... apa yang akan terjadi dengan klub sepak bola?”
“Kamu benar-benar...
yah, baiklah. Aku akan menjawab. Banyak anggota yang terlibat dalam insiden
perundungan ini, termasuk kamu, akan menerima hukuman berat. Apa kamu pikir
pihak sekolah akan mengizinkan keberlangsungan klub yang menjadi sarang
perundungan seperti itu?Klub sepak bola sedang dalam proses penutupan. Tentu
saja, tidak ada izin untuk berpartisipasi dalam turnamen.”
“Jika kami tidak
masuk empat besar, rekomendasi olahragaku akan hilang...”
“Apa yang
kamu katakan? Sekolah tidak akan memberikan rekomendasi kepada siswa yang
berperilaku buruk. Kalian sendiri yang telah merusak masa depan gemilang yang
kalian miliki. Itulah apa yang ingin dilakukan tim sepak bola kepada Aono
Eiji-kun. Dengan hasil ini, kalian seharusnya sepenuhnya memahami beratnya
kejahatan yang kalian lakukan.”
Wakil kepala
sekolah berkata demikian dan keluar dari ruang persiapan. Aku menangis sambil
menundukkan kepala di atas meja. Mungkin, anggota tim sepak bola lainnya juga
sedang melakukan hal yang sama sekarang.
Kemarahan
dan kekecewaan terhadap Kondo yang menyebabkan hasil seperti ini mulai muncul
dalam hatiku.
※※※※
──Sudut Pandang Kondo──
“Halo. Kami
dari kepolisian, apa Kondo-san ada di rumah? Sebenarnya, kami datang untuk
menanyakan sesuatu mengenai anak Anda, jadi bisakah anda membuka gerbang?”
Sore hari. Aku
mendengar suara ketukan di gerbang rumahku. Ketika aku melihat melalui kamera
pengawas, ada beberapa polisi berseragam menunggu di sana.
“Hah!?”
Aku tanpa
sadar mengeluarkan suara yang menyedihkan. Apa yang terjadi? Mana mungkin aku bakalan
ditangkap. Lagipula, ayahku telah bergerak untuk membantuku.
Kami yang
merupakan warga negara kelas atas, mana mungkin ditangkap. Ini pasti kesalahan.
Ini pasti mimpi atau semacamnya... Aku terburu-buru bergerak dan menabrakkan
kaki ke meja. Itu sangat menyakitkan.
Dan kemudian,
aku menyadari bahwa ini bukan mimpi.
“Hei,
Kondo-san? Tolong buka gerbangnya. Setidaknya, bisakah Anda mendengarkan kami?”
Jantungku
berdebar kencang, seolah-olah ada guillotine dingin sedang menungguku.
“Kurasa aku
tidak punya pilihan lain selain melarikan diri.”
Aku
memutuskan demikian dan melompati pagar di samping tempat polisi berkeliaran,
lalu berlari secepat mungkin. Namun, aku segera ketahuan.
“Hei,
seseorang melarikan diri!”
Sial, mereka
menyadarinya terlalu cepat. Aku berlari secepat mungkin tanpa tujuan. Tanpa
sadar, aku berlari menuju arah sekolah.
“Hei,
tunggu!!”
Aku
mendengar suara marah yang keras dari belakangku. Aku menyadari singgasanaku
yang seharusnya kutempati hancur tanpa suara, dan hanya bisa berlari menuju
keputusasaan.
“Sial,
bagaimana bisa begini. Aku adalah bintang tim sepak bola, seharusnya aku
berprestasi di tim nasional Jepang...”
Tidak peduli
seberapa keras aku berusaha meningkatkan kepercayaan diriku, suara marah polisi
yang mengejarku tidak berhenti.
“Jangan
lari. Hei, seseorang kelilingi dia!”
Mendengar
kata-kata itu, aku sengaja menuju ke gang sempit. Karena aku menggunakan jalan
yang biasa aku lewati untuk pergi ke sekolah, aku segera tahu dari mana polisi
akan mengejarku. Aku melemparkan kotak kayu yang ada di sana ke arah
polisi.
“Ugh!”
Sepertinya
aku berhasil. Polisi yang paling depan tersandung dan terjatuh kesakitan. Beruntungnya,
aku mengenakan pakaian rumah yang nyaman dan sepatu lari, jadi kondisiku sangat
baik.
Sial, jika
sudah begini, aku pasti akan melarikan diri. Lagipula, mereka adalah polisi.
Tidak mungkin mereka bisa mengalahkanku, bintang tim sepak bola, dalam hal
kemampuan fisik.
Aku tidak pernah
berpikir akan berlari lebih banyak daripada saat pertandingan sepak bola,
tetapi dalam situasi darurat seperti ini, aku bisa berlari dengan baik.
Aku berlari
melalui jalan yang sudah kukenal, dan setelah berhasil menghindari polisi, aku
harus menghubungi ayahku dan meminta bantuan.
“Baiklah,
sekarang, bisakah kamu mengikuti kecepatan seriusku?”
Kukatakan
itu sambil meningkatkan kecepatanku. Sekolah yang sudah familiar mulai terlihat
sedikit demi sedikit. Sekolah sudah dekat. Jika aku bisa masuk ke dalam
sekolah, polisi tidak akan mudah masuk. Selanjutnya, aku hanya perlu berputar
ke pintu belakang dan menghindar dengan baik.
Namun,
sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Meskipun
seharusnya belum terlalu larut setelah sekolah, entah kenapa ada banyak
kerumunan orang di sekitar gerbang sekolah.
Akibatnya,
kecepatan pelarianku menurun drastis. Sial, jika terus begini, aku akan
tertangkap.
“Hei,
minggir. Memangnya kamu pikir aku ini siapa? Aku ini Kondo dari kelas tiga!”
Sambil
meneriakkan itu, aku memaksa maju.
“Hei,
seseorang. Tangkap dia!”
Polisi di
belakang berteriak. Kerumunan menjadi kacau. Bagus, aku akan memanfaatkan
kekacauan ini untuk menghindar dari mereka.
Saat aku
mulai melihat secercah cahaya harapan, kaki kananku terantuk sesuatu dan
kehilangan keseimbangan.
“Eh!?”
Aku berseru
terkejut dan terjatuh dengan keras ke tanah. Tanpa bisa mengambil posisi yang
aman, wajahku menghantam aspal yang keras. Rasa sakit yang tidak sampai
berteriak menyebar ke seluruh tubuhku. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi
sakitnya begitu hebat hingga aku menggeliat. Lututku juga terbentur keras.
Sakit sekali, rasanya sangat sakit.
Namun,
kenyataan tidak menunggu. Segera, aku mendengar suara dua pria.
Satu suara
adalah suara polisi yang besar dan kuat, “Amankan!”
Dan satunya
lagi... adalah suara yang dingin.
Itu adalah
suara laki-laki yang berkata “Aku tak akan membiarkanmu mengganggu hari besar
sahabatku. Tanah lebih cocok untukmu”. Aku panik mencoba memeriksa wajahnya,
untuk melihat siapa yang membuatku tersandung.
Itu adalah
seorang pria berkacamata. Kalau tidak salah, ia adalah jagoan dari klub
panahan... namanya Imai atau semacamnya. Apa yang terjadi? Aku tidak mengenal
orang ini.
Namun, para
petugas polisi yang tiba di tempat kejadian mulai mengeroyokku, sehingga aku
bahkan tidak bisa mendongak.
“Berhenti,
berhenti, berhenti!”
Usahaku yang
putus asa untuk melawan sia-sia karena aku ditahan oleh beberapa polisi. Siswa-siswa
yang melihat situasi itu sejenak terdiam, lalu seseorang berteriak.
“Hei, pria
yang ditahan polisi itu Kondo-senpai kelas tiga, si jagoan tim sepak bola!”
Segera, aku
mulai mendengar suara jepretan kamera dari sekelilingku.
※※※※
──Sudut Pandang (Ayah) Kondo──
Demi
mengalihkan perhatian karena penghinaan yang baru saja kuterima di sekolah
anakku, aku sedang membaca dokumen keputusan di ruang kantorku ketika
sekretaris masuk dengan panik.
“Ada apa?”
Saat aku
bertanya padanya, wajahnya kelihatan pucat pasi dan langsung menyampaikan
kenyataan padaku.
“Polisi baru
saja menghubungi kantor... dan mengatakan bahwa mereka telah menangkap putra Anda
dengan tuduhan penganiayaan...”
Setelah mendengar
laporan itu, aku tanpa sadar menjatuhkan pena yang ada di tanganku ke
lantai.
Aku tidak
mengerti apa yang terjadi. Pihak sekolah memang menunjukkan sikap konfrontatif.
Namun, aku tidak mengerti mengapa polisi bisa bergerak begitu cepat. Apa yang
telah terjadi?
“Segera
hubungi pengacara Sawabe.”
Sebelum aku
selesai berbicara, sekretaris menyerahkan telepon kepadaku. “Sudah
terhubung,” katanya.
“Sawabe-sensei.
Aku yakin Anda sudah mendengarnya dari sekretarisku, tetapi apa yang harus kita
lakukan... jika kabar bahwa anakku ditangkap menyebar, karirku bakalan hancur.”
Aku bisa
mendengar suara panik pengacara melalui telepon.
“Ini situasi
yang buruk. Kemungkinan besar, ada laporan penganiayaan yang diajukan ke
polisi. Aku akan segera pergi ke sana dan berbicara dengan polisi dan putra Anda.
Namun, jika situasinya sudah memburuk seperti ini, satu-satunya cara adalah
melakukan mediasi dengan korban dan menarik laporan penganiayaan...”
“Begitu, hal
itu memang bisa jadi solusi. Sawabe-sensei, tolong segera atur pertemuan dengan
anak bodohku. Aku akan membayar berapa pun kompensasi yang diperlukan. Tidak
peduli seberapa banyak biaya yang dibutuhkan, kita harus melakukan mediasi dan
menarik laporan penganiayaan...”
Hanya dengan
secercah harapan yang tersisa di dalam hatiku, jantungku berdebar kencang tak
terkendali.
“Presiden.
Kami sudah mengetahui siapa yang mengajukan laporan. Kemungkinan besar adalah
siswa bernama Aono Eiji. Siswa-siswa lainnya juga sedang membicarakannya.
Keluarga siswa itu mengelola restoran bernama Kitchen Aono di depan stasiun.”
Aku menerima
informasi dari sekretaris yang telah dikirim untuk mengumpulkan informasi di
sekolah. Sekretaris yang cerdas itu juga mengirimkan data lokasi restoran
tersebut ke ponselku.
Dengan begini,
aku bisa langsung pergi dan menyelesaikan masalah ini. Tidak masalah, tidak ada
yang tidak bisa dibeli dengan uang. Apa pun yang terjadi, aku akan menyelesaikan
masalah ini dalam jalur mediasi.
Cuma itu
satu-satunya kesempatanku untuk bertahan hidup.
Aku
mengemudikan mobil kesayanganku.
Aku akhirnya
tiba di tujuan sekitar sepuluh menit kemudian
Jadi di
sinilah restoran Kitchen Aono.
Ketika aku
tiba di lokasi yang ditentukan oleh sekretarisku, aku melihat sebuah restoran
bergaya klasik yang tenang.
Menurut
informasi, pemilik restoran tersebut, ayah Aono Eiji, meninggal karena sakit
beberapa tahun yang lalu, dan sekarang restoran itu dikelola oleh ibunya dan
saudaranya. Ini kabar baik. Keluarga semacam biasanya kekurangan uang. Jadi,
meskipun mereka awalnya menolak, jika aku menawarkan cukup uang... mereka pasti
akan setuju untuk berdamai.
Aku membuka
pintu. Seharusnya sekarang masih sebelum jam buka.
“Selamat
datang... tapi ini masih sebelum jam buka, kira-kira ada keperluan apa Anda
kemari? Anggota Dewan Kondo-san?”
Orang yang
keluar adalah ibu Aono Eiji. Melihatnya sudah mengetahui tentang diriku,
kemungkinan besar dia adalah orang yang mengajukan laporan terhadap
anaknya.
“Apa Anda
merupakan ibu Aono Eiji?”
Aku
berpura-pura sopan dan berbicara dengan hormat.
“Ya, memang.
Tapi, ada urusan apa kemari?”
Dia jelas-jelas
menunjukkan penolakan. Situasinya jadi semakin sulit.
“Maaf atas
masalah yang ditimbulkan oleh putraku. Aku baru saja mengetahui tindakan bodoh
anakku. Seharusnya aku datang lebih awal untuk meminta maaf, tetapi aku mohon
maaf atas keterlambatannya.”
Aku
menundukkan kepala dengan tulus.
“Aku tidak
mau membahas masalah itu lagi. Aku sudah merencanakan agar polisi melakukan
penyelidikan yang menyeluruh.”
“Tolong
jangan mengatakan hal seperti itu. Bisakah Anda mencabut laporan tersebut? Anakku
sedang menghadapi kompetisi penting di klub dan ujian masuk universitas.
Tolong, mari kita selesaikan secara damai dan baik-baik...”
“Anakku yang
berharga dipukul, tau!? Memangnya kamu pikir hanya dengan meminta maaf saja akan
membuatku memaafkan? Jangan bercanda!”
Dia menjadi
sangat marah. Ini menjadi rumit.
“Ya, tentu
saja. Aku mengerti kemarahan Anda. Oleh karena itu, aku tidak akan mengatakan
ini secara gratis. Aku akan membayar kompensasi yang layak. Tolong, kumohon...”
Dalam
situasi seperti ini, jika aku berbicara tentang uang, pihak lain pasti akan
merasa goyah.
“Memangnya
kamu pikir aku akan menuruti permintaanmu karena uang? Sangat tidak sopan
sekali.”
Hmph, rupanya
dia cukup keras kepala juga. Baiklah, dari sini, ini adalah pertempuran.
“Namun, Anda
pasti membutuhkan uang. Eiji-kun pun sebentar lagi akan menghadapi ujian masuk
universitas. Tidak ada salahnya memiliki uang sebanyak mungkin.”
Ayo, dia
pasti akan sedikit ragu ketika dihadapkan dengan kenyataan. Bagaimana dia akan
menanggapinya?
“Jangan
meremehkan aku. Jika Kamu terus bersikap seperti ini, aku akan memanggil
polisi!”
Ah, sayang
sekali. Padahal itu kesempatan terakhirnya. Wanita tua ini sudah membuatku
marah.
“Aono-san. Aku
adalah anggota dewan kota dan menjalankan bisnis konstruksi. Jika memungkinkan,
aku ingin menyelesaikannya secara baik-baik dan kekeluargaan. Kamu pasti
mengerti apa yang kukatakan sebagai orang dewasa, bukan?”
“Kamu sedang
mengancamku?”
“Tentu saja tidak.
Itu hanya perkenalan diri.”
Tentu saja
itu ancaman. Sebagai anggota dewan, aku bisa memberikan tekanan pada kantor
pemerintah dan berpengaruh dalam berbagai permohonan izin. Selain itu, aku juga
memiliki uang.
“Kamu ini...”
Dia mulai
goyah sedikit. Saatnya untuk menekan lebih lanjut.
“Aku hanya
berbicara pada diriku sendiri. Restoran ini merupakan tempat penting yang
diwariskan kepada Anda oleh mendiang suami Anda, bukan? Jadi, sebaiknya jangan
membuatnya menjadi masalah besar. Jika aku serius, aku bisa melakukan apa pun
terhadap restoran ini.”
Ayo, cepat
selesaikan mediasi ini. Terima uangnya dan puaslah dengan itu.
Saat aku
yakin akan kemenanganku, suara tepuk tangan terdengar dari dalam restoran.
Suara
langkah kaki kering mendekat bersamaan dengan suara sepatu. Siapa itu? Apa ini
anaknya yang disebutkan dalam laporan?
“Sungguh
pidato yang luar biasa, Kondo-kun.”
Suara serak
memanggil namaku dengan akrab. Kemungkinan bahwa ia adalah anak keluarga Aono
langsung sirna. Siapa ini? Suara ini entah mengapa kedengarannya familiar.
Pemilik
suara itu perlahan muncul. Gerakannya melepas topi seperti seorang aktor
memancarkan kekuatan.
“Anda... Anda...”
Suaraku
tercekat karena terkejut dengan kemunculan sosok yang tak terduga.
“Aku tidak
tahu bahwa kamu, seorang anggota dewan, memiliki kekuatan sebesar itu.
Sepertinya aku kurang belajar. Jadi, bisakah kamu mengajarkanku dengan baik,
orang tua yang sudah pensiun ini?”
Mantan
walikota Minami tertawa dan duduk di depanku. Meskipun sudah beberapa tahun
sejak dirinya pensiun, ia masih dipercaya oleh para pegawai dan anggota dewan,
serta memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan. Kenapa orang seperti dirinya
bisa berada di restoran kecil seperti ini?
Mustahil.
“Ayo, apa
kamu bisa menjelaskannya sekali lagi, Kondo-kun. Apa saja yang bisa kamu
lakukan?”
“Apa yang Anda
bicarakan...”
Aku
melontarkan kata-kata ini dengan suara gemetar.
“Percuma saja
kamu berusaha mengelak, Kondo-kun. Aku sudah mendengar semuanya dari belakang.
Jika kamu ingin meminta maaf, kamu seharusnya menghubungi terlebih dahulu.
Datang tiba-tiba dan langsung membicarakan uang. Selain itu, mencoba memaksa
mediasi tanpa mempertimbangkan perasaan korban. Itu adalah tindakan terburuk
sebagai manusia.”
Usai mendengar
kata-kata itu, darah dalam diriku seketika seolah-olah menghilang.
“Ja- Jadi
itu... kami juga sudah tidak punya banyak pilihan, jadi aku secara tidak
sengaja menggunakan kata-kata yang kasar.”
Aku
menyadari bahwa aku mulai terbata-bata.
“Begitu,
begitu. Namun, Kondo-kun. Sebenarnya, kepala sekolah di SMA tempat anakmu
bersekolah adalah sesama rekan sukarelawan. Jika sudah sampai di sini, kamu
pasti mengerti apa yang kumaksud, bukan?”
Keringat
dingin mulai mengalir di punggungku. Aku masih mengingat betul apa yang sudah kukatakan
di sekolah saat istirahat siang tadi.
“Itu...”
Apa mantan
walikota sudah mendengar semuanya!?
Begitu aku
menyadari maknanya, tubuhku tidak bisa berhenti gemetaran.
“Baiklah,
terserah. Aono-san, tolong nyalakan televisi. Kurasa sudah saatnya. Ini
merupakan panggung gemilang Eiji-kun. Aku sudah merekamnya, tetapi aku ingin
menontonnya secara langsung. Mari kita biarkan orang bodoh ini untuk sementara.”
“Baik.”
Mereka
berdua tampak seperti sudah memiliki skenario, mengabaikanku dan menyalakan
televisi yang terpasang di restoran. Berita sore sedang disiarkan.
Seorang
pembawa acara wanita mulai membacakan berita berikutnya.
“Berita
selanjutnya, sepasang anak SMA telah melakukan tindakan heroik. Penghargaan
dari pemadam kebakaran diberikan kepada Aono Eiji, siswa kelas dua SMA yang
tinggal di kota ○○, dan Ichijo Ai, siswa kelas satu. Keduanya baru-baru ini
memberikan pertolongan kepada seorang pria yang tiba-tiba jatuh di depan
stasiun pada hari Sabtu lalu. Setelah menyerahkan pria tersebut kepada
ambulans, mereka pergi tanpa menyebutkan nama mereka, dan video yang merekam
tindakan pertolongan mereka telah menarik banyak perhatian di media sosial,
sehingga pemadam kebakaran dan polisi sedang mencari keduanya. Identitas
keduanya diketahui oleh guru di sekolah mereka...”
Setelah
suara pembawa acara, sepasang anak SMA terlihat menjawab wawancara dengan
senyum lebar.
Mendengar
nama Aono Eiji, aku segera memahami bahwa dia adalah anak dari rumah ini.
Namun, aku tidak bisa memahami nilai sebenarnya dari kisah baik ini.
“Kondo-kun?
Apa kamu tahu siapa pria yang diselamatkan oleh Eiji-kun?”
Ketika
Minami-san bertanya seperti itu, aku hanya bisa menggelengkan kepala.
“Sebenarnya,
ia adalah Yamada-san. Mantan ketua dewan provinsi. Kebetulan memang menakutkan.
Kamu pasti tahu Yamada-san, dia adalah tokoh penting di partai yang sama
denganmu.”
Aku mengenalnya.
Beliau adalah tokoh penting di dewan provinsi, dan bahkan anggota parlemen
tidak berani menghadapinya. Meskipun sekarang sudah pensiun, anaknya
melanjutkan kariernya, dan anaknya juga cukup berpengaruh... keringat dingin
tak bisa berhenti mengalir.
“Benar. Aku
ingin memperkenalkan seseorang kepada Kondo-kun. Hei, Yamada-kun!”
Suara
langkah kaki terdengar lagi dari belakang.
“Aku
benar-benar ingin menikmati panggung gemilang dermawan ayahku dengan tenang. Rasanya
benar-benar mengecewakan, Anggota Dewan Kondo?”
Yamada,
anggota dewan provinsi, muncul. Dia adalah harapan muda yang mewarisi basis
dukungan ayahnya dan diharapkan akan maju ke politik nasional di masa
depan.
“Ke-Kenapa...”
“Sebenarnya,
aku baru saja bertemu Eiji-kun di sekolah. Dan aku ingin memberi salam yang
tepat kepada orang tuanya, jadi aku meminta Minami-san untuk mengenalkanaku
kepada orang tuanya. Namun, setelah mendengar kata-kata kasar seperti itu... aku
sangat kecewa.”
Ia mulai
mengoperasikan ponselnya dan memutar rekaman suara yang diambil oleh perekam
suara.
“‘Aono-san.
Aku adalah anggota dewan kota dan menjalankan bisnis konstruksi. Jika
memungkinkan, aku ingin menyelesaikannya secara baik-baik dan kekeluargaan.
Kamu pasti mengerti apa yang kukatakan sebagai orang dewasa, bukan?'”
“‘Aku
hanya berbicara pada diriku sendiri. Restoran ini merupakan tempat penting yang
diwariskan kepada Anda oleh mendiang suami Anda, bukan? Jadi, sebaiknya jangan
membuatnya menjadi masalah besar. Jika aku serius, aku bisa melakukan apa pun
terhadap restoran ini.'”
Rasa berat
karena putus asa mulai membuat kepalaku sakit.
“Mana
mungkin hal semacam ini bisa dianggap sebagai berbicara sendiri. Memangnya kamu
tidak tahu tentang berita-berita di mana anggota dewan dari kota lain terlibat
dalam kasus penyalahgunaan kekuasaan? Jika media mengetahui ini, semuanya akan
berakhir. Malulah. Jika hal ini menjadi publik, pengusulan pemecatanmu dari
partai akan menjadi agenda.”
Anggota
dewan provinsi Yamada, yang biasanya bersikap sopan, kini mendekat dengan penuh
kemarahan.
“Ini hanya
permainan kata-kata. Sebenarnya, mengapa Minami-san ada di sini...”
Yamada-san
dan Minami-san menjawabku dengan desahan besar.
“Aku adalah
sahabat dekat mendiang pemiliki restoran ini. Dirinya sangat aktif dalam
kegiatan sukarela. Aku dan kota ini telah bergantung pada kekuatan dan
kebaikannya. Aono-kun adalah pahlawan yang telah mengabdikan diri untuk
pemerintahan, dan kami memiliki utang budi yang tidak bisa kami bayar.
Bagaimana kamu bisa terus menjadi anggota dewan tanpa menyadari hal itu? Kamu
telah melukai dan merendahkan warisan tersebut, serta mengancamnya. Apa kamu
sudah siap dengan konsekuensinya?”
Aku bisa
mendengar suara hatiku hancur berkeping-keping. Gawat, semua yang telah
kubangun hancur berantakan.
“Ak-Aku
minta maaf...”
Saat aku
berusaha meminta maaf kepada Minami-san, suara marah menggema.
“Kamu
meminta maaf kepada orang yang salah. Putramu telah memukul Eiji-kun yang tidak
bersalah di depan umum, menyebarkan informasi palsu demi melindungi dirinya
sendiri, mengisolasinya, dan berusaha membunuhnya secara sosial. Belum lagi, kamu
berusaha mengancam keluarganya demi kepentingan pribadi.”
Bahkan
informasi yang tidak kuketahui pun terungkap. Seperti yang diharapkan, semuanya
telah dikomunikasikan. Aku tidak bisa lagi melarikan diri.
Wajahku
menjadi pucat dan aku menghadapi ibu Aono Eiji, yang sebelumnya menggunakan
kata-kata tajam. Aku hampir jatuh berlutut, dan kepalaku tak kuasa menahan
gravitasi, jatuh ke lantai. Aku melakukan sujud. Tanpa ada yang menyuruh, aku
secara sukarela merendahkan diri untuk meminta maaf. Ini adalah penghinaan
terbesar dalam kehidupanku, menyerah sepenuhnya kepada orang lain. Dan rasa
takut kehilangan segalanya melampaui semua itu.
Ketakutan
mengalahkan segalanya.
“Aku minta
maaf atas kata-kata yang sangat tidak sopan yang aku ucapkan sebelumnya.”
Permohonan
maaf yang dilakukan dengan sujud hampir diabaikan dalam suasana yang dingin.
Aku merasa seperti seorang tahanan yang akan dihukum mati, terjebak di neraka.
Neraka ini masih berlanjut.
Meskipun aku
terus bersujud, tidak ada yang mengatakan apa-apa. Keheningan yang tidak nyaman
menggerogoti hatiku.
“Apa yang
kamu lakukan, Kondo-san?”
Suara wanita
yang dingin menusuk ke arahku.
“Jadi, aku
ingin meminta maaf...”
“Aku sudah
berkali-kali menyuruhmu pergi dari sini. Menurutmu siapa yang akan memaafkan
seseorang yang mencoba merusak toko berharga yang ditinggalkan oleh mendiang
suamiku dan kesukaan putraku? Percuma saja kamu melakukan itu. Aku tidak akan
pernah mencabut laporan. Tidak, aku juga akan melaporkan ancaman yang tadi.
Jika ada yang ingin kamu katakan, silakan sampaikan kepada polisi atau di
pengadilan. Kami tidak memiliki kewajiban untuk mendengarkan. Kita akan bertemu
di pengadilan.”
“Tolong,
tolong... pertimbangkan kembali.”
Aku terus membenturkan
kepalaku ke lantai beberapa kali. Kepalaku terasa perih, dan ada sedikit darah
mengalir.
“Itu sangat
memalukan. Tadi, aku mendengar semuanya dari Minami-san. Kamu telah menghina
kepala sekolah dan Takayanagi-sensei yang telah berusaha keras untuk Eiji, dan
kamu bahkan berkata bahwa anak bodohmu memiliki masa depan yang cerah. Anakku
juga memiliki masa depan yang cerah. Jangan meremehkan. Bicara soal bisnis?
Biarkan saja, semua itu omong kosong. Kami tidak akan mundur dalam perjuangan
ini demi reputasi anak kami yang terluka karena kalian. Kami tidak akan
memaafkanmu sampai kamu hancur.”
Suara hatiku
mengeluarkan teriakan tak terdengar.
“Ma-Maafkan
aku.”
Dengan
kata-kata itu, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain mundur. Meskipun sudah
bulan September, angin di luar terasa sangat dingin hingga membuat tubuhku
bergetar.
Aku tidak
menyadari bahwa aku hanya berdiri gemetar... hanya terdiam.
Sebuah mobil
mewah berwarna hitam berhenti di hadapanku. Dari dalam mobil keluar seorang
siswi yang mengenakan seragam sekolah tempat anakku belajar. Ketidakcocokan itu
justru menambah rasa takutku.
“Ah sudah
kuduga, jadi Anda ada di sini ya, Kondo-san.”
Seorang
gadis yang tidak kukenal memanggil namaku. Dalam situasi seperti ini, itu hanya
menambah rasa takut.
“Kenapa kamu
tahu namaku... Siapa kamu?”
Dia
menunjukkan senyuman yang sesuai dengan usianya, tetapi aura yang
mengintimidasi terpancar darinya.
“Namaku
Ichijou Ai. Mungkin akan lebih mudah bagi Anda untuk memahaminya jika kukatakan
kalau aku putri dari....”
Nama ayahnya
adalah sosok yang sangat berpengaruh. Siapa pun yang berada di industri ini
pasti mengetahui namanya. Pengaruhnya jauh lebih tinggi dari mantan walikota
Minami dan anggota dewan provinsi Yamada... nama monster. Darahku seolah
menghilang.
Aku merasa
pernah mendengar namanya, dan ternyata dia adalah siswi yang baru saja menerima
penghargaan bersama Aono Eiji karena menyelamatkan nyawa. Jadi, bisa dikatakan
bahwa keluarga Aono memiliki hubungan dengan ayahnya.
“Apa
yang....ada keperluan apa Anda mencariku...?”
Aku tanpa
sadar menggunakan bahasa sopan kepada gadis yang lebih muda.
“Ini adalah
peringatan. Mungkin sudah terlambat, tetapi aku sudah menyelidikimu.
Semuanya... Jika aku sudah sampai di sini, Kamu pasti mengerti. Jika kamu atau
putramu berusaha untuk melukai atau mengganggu keluarga Aono lebih lanjut, atau
bahkan menghalangi pemulihan nama baik Aono Eij, Aku tidak akan pernah
memaafkan itu.”
Kenapa,
kenapa, ada orang besar seperti ini di belakang keluarga itu! Ini cuma restoran
biasa, ‘kan?
“Ah, ah...
tetapi, masa depan putraku...”
Jika terus
begini, putraku akan kehilangan segalanya. Tidak, aku juga akan kehilangan.
Jika rekaman ancaman tadi diserahkan kepada polisi, aku juga akan...
ditangkap.
“Itu sangat
memalukan. Tindakan kalian harus dipertanggungjawabkan sendiri. Kami sudah
mendapatkan informasi bahwa berita tentang kalian akan dilaporkan besok pagi.
Mungkin terkait dengan masalah putramu dan upayamu untuk mengancam sekolah.”
“Kenapa,
kenapa. Ini terlalu cepat. Apa pihak sekolah merekam percakapan itu secara
diam-diam? Jika begitu, itu adalah pelanggaran kewajiban kerahasiaan! Apa
mereka menjual orang tua anak kepada media!?”
“Tadi, ada
wartawan di sekolah. Mereka datang untuk meliput tindakan penyelamatan kami.
Karena kamu berbicara keras, pasti direkam. Itu menjadi bumerang bagi dirimu.
Jadi, pelanggaran kewajiban kerahasiaan? Jika demikian, maka laporan ini sangat
diperlukan untuk pemulihan nama baik Aono Eiji. Menggugat sekolah juga akan
dianggap sebagai deklarasi perang terhadapku.”
Pada saat
itu, aku menyadari bahwa aku telah dijadikan pelawak sepenuhnya. Mungkin gadis
di hadapanku ini yang menggambar semua skenario ini. Apa dia benar-benar lebih
muda dari putraku? Aura intimidasi yang dia pancarkan membuatku meragukan
diriku sendiri.
“Mustahil, mustahil,
mustahil.”
Aku terjatuh
ke tanah dan memukul-mukul tanah dengan kedua tangan. Darah mulai mengalir dari
tanganku, tetapi ledakan emosiku tidak bisa dihentikan.
“Kalau
begitu. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi, anggota dewan Kondo. Aku ada
rencana makan malam, jadi aku pamit dulu.”
Dia berjalan
melewatiku yang terjatuh dan menuju ke dalam Kitchen Aono. Ekspresinya berubah
dari yang dingin menjadi ekspresi seorang gadis seusianya.
※※※※
──Sudut Pandang Aono Eiji──
Setibanya di
rumah, sudah ada paman Minami, Yamada-san, dan Ichijou-san yang berkumpul. Kupikir
Ichijo-san akan pulang bersamaku hari ini, tetapi dia mengatakan ada urusan
mendesak dan pulang lebih dulu dengan mobil jemputannya, lalu menunggu di
sini.
“Selamat
datang, Eiji. Selamat atas penghargaanmu, kamu benar-benar anak yang sangat kubanggakan.”
Ibu
menyambutku dengan senyuman. Kakakku juga tersenyum tanpa berkata-kata. Begitu
juga dengan orang-orang dewasa di sekeliling dan Ichijou-san.
Dunia yang
seharusnya kehilangan warna setelah kejadian itu, entah bagaimana kini terlihat
lebih cerah daripada sebelum kejadian.
“Terima
kasih, Bu, Kak, semuanya. Semuanya berkat kalian.”
Karena ada
mereka, aku bisa terus berjuang tanpa menyerah. Jika saat itu aku tidak bertemu
Ichijou-san di atap sekolah, aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan di
ruangan ini. Aku menyadari bahwa takdirku berubah di tempat itu. Kini, aku
tidak merasa ingin mati. Aku ingin menghabiskan waktu selamanya di ruang hangat
ini. Semoga momen ini bisa berlangsung selamanya.
“Yuk, kita
makan. Aku sudah memesan tempat ini khusus untuk makan malam hari ini. Katanya
kakak akan membuatkan semua yang kamu suka, Eiji.”
Semua orang
mulai tertawa mendengar lelucon itu.
“Benar,
Satoshi juga bilang akan datang setelah kegiatan klub.”
“Begitu ya.
Kita harus membuat banyak hamburger kesukaannya!”
Ibu berkata
demikian seolah-olah sudah mengetahui apa yang disukai Satoshi.
Aku mendapat
kabar dari Satoshi. Ternyata Satoshi melihat Kondo-senpai dibawa oleh polisi
dari dekat. Dengan ini, aku merasa sedikit lebih tenang. Aku tidak ingin orang
itu terlibat dalam kehidupanku lagi. Ibu bilang dia telah melaporkan kasus
kekerasan terhadapku. Mungkin di masa depan, aku harus bersaksi tentang
pengalaman pahit di pengadilan. Memikirkan hal itu sedikit membuatku murung,
tetapi aku tidak ingin melarikan diri.
Orang itu
telah menghancurkan banyak kehidupan orang lain. Kurasa ia harus bertanggung
jawab atas semua perbuatannya.
Karena itu,
aku akan berjuang. Untuk bisa melihat ke depan lebih jauh...
Berkat makan
malam yang menyenangkan, aku baru menyadari bahwa ponsel dalam tasku berulang
kali mengeluarkan suara notifikasi yang menyenangkan.
※※※※
──Sudut Pandang Ichijou Ai──
Tadi, aku
membocorkan file rekaman suara secara anonim kepada media. Sekarang, anggota
dewan Kondo tidak akan bisa melarikan diri lagi. Mungkin Ibunya senpai juga
akan melakukan perlawanan yang sama. Dua bukti ini adalah luka fatal bagi
seorang politisi. Aku menemukan bahwa anggota dewan Kondo adalah sosok yang
cukup merepotkan. Ternyata, ia juga memiliki jaringan di kalangan anggota
parlemen. Jika dibiarkan, dirinya akan mengganggu tanpa henti, jadi... aku
harus menang cepat.
Untuk
mengumpulkan kesaksian yang menguntungkan senpai, aku selalu menyimpan perekam
suara di saku dadaku. Dengan ini, aku bisa melindungi orang dan tempat yang
berharga bagiku.
Aku tidak
bisa berhenti membenci diriku sendiri karena melaksanakan cara seperti ini. Aku
terus berpikir apa aku layak berada di tempat yang hangat dan bahagia seperti
ini.
Di tengah pesta
makan malam, ibu senpai mengundangku dan mengatakan kalau dia ingin berbicara
berdua denganku. Sembari merasa sedikit gugup, aku masuk ke ruang istirahat.
Aku mulai merasa khawatir, mungkin dia telah menyadari sesuatu.
Saat aku
masuk, ibunya benar-benar terlihat sangat baik.
“Ai-chan,
terima kasih banyak, ya.”
Tiba-tiba,
dia membungkukkan badannya dalam-dalam.
“Tidak... Eiji-senpai
sebagian besar bertanggung jawab atas penyelamatan nyawa...”
“Itu tidak
benar. Sebenarnya, aku mendapat kabar dari pihak sekolah bahwa Eiji mungkin
pernah berpikir untuk bunuh diri karena masalah perundungan dan kekerasan.
Mungkin seseorang mengungkapkan hal itu selama penyelidikan.”
Hatiku
terasa sakit. Baik Ibunya maupun aku sama-sama memiliki gambaran tentang orang
yang memberikan kesaksian itu. Kami hanya tidak menyebutkan namanya. Baik
ibunya maupun aku memiliki firasat siapa yang mungkin membuat pernyataan itu.
Kami hanya tidak menyebutkan nama satu sama lain. Dan akulah yang
memberitahunya. Aku seharusnya tidak mengatakan apa pun. Aku telah menyampaikan
sesuatu yang membuatnya sedih, meskipun itu bertentangan dengan keinginan Senpai.
Penyesalan itu melukai hatiku.
“...”
Aku tahu
kalau aku harus mengatakan sesuatu, tapi aku tidak mampu mengatakan apapun. Itu
adalah persetujuan tanpa kata. Seharusnya aku pandai berbohong. Selama beberapa
tahun ini, aku hidup dengan berbohong. Aku hanya bisa menyembunyikan lingkungan
dan perasaanku yang sebenarnya. Jadi, aku seharusnya menolak di sini.
Jika aku
terus berbohong di hadapan Senpai dan keluarganya, aku pikir aku tidak akan
pernah bisa bertemu mereka lagi.
Aku memang
lemah. Meskipun aku menyadari itu, aku tidak bisa melangkah maju.
“Aku bisa memahaminya
saat melihaty anak itu. Dia pasti tidak berpikir seperti itu sekarang. Mungkin
setelah kejadian kekerasan itu, pengkhianatan dan perundungan yang datang bertubi-tubi,
Eiji sudah mencapai batasnya. Saat itu, secara impulsif... kami juga tidak bisa
menyadarinya. Tidak, kami merasa tidak boleh ikut campur dan tidak bisa
memberikan bantuan saat seharusnya. Kami telah melakukan kesalahan. Yang
menyelamatkan Eiji adalah kamu, Ai-chan. Ketika dia dirundung, kamu menjadi sekutunya.
Hanya itu saja, kamu sudah menjadi penyelamatnya, dan jika kamu juga
menyelamatkan nyawanya, aku tidak akan bisa cukup berterima kasih. Terima kasih
banyak.”
“Tidak,
justru aku yang dibantu...”
Ibu Senpai
menatapku langsung dan mengangguk seolah dia sudah mengetahui segalanya. Ya,
aku selalu dibantu. Sejak pertama kali bertemu hingga sekarang, aku terus
diselamatkan. Aku selalu bergantung pada mereka. Meskipun aku belum bisa
menceritakan semuanya. Aku terus bergantung pada Senpai yang baik. Itu selalu
menyakitkan. Aku ingin bahagia dikelilingi oleh semua orang. Namun, aku takut
untuk melangkah maju. Terlalu banyak kontradiksi yang aku simpan, dan aku
merasa semakin kehilangan jati diri.
“Namun,
karena kamu ada di sana, nyawa Eiji terselamatkan. Jika kamu tidak ada,
keluarga kami akan menyesal seumur hidup. Semua ini berkatmu.”
Dengan
begitu, dia memelukku dengan lembut seperti seorang ibu. Sejak ibuku meninggal,
mungkin aku belum pernah merasakan rasa aman seperti ini.
“Aku yang
seharusnya berterima kasih. Jika tidak ada Eiji-senpai, aku pasti akan
tertekan... tidak, itu tidak benar. Aku diselamatkan saat aku hampir tertekan.
Namun, masih ada hal yang belum bisa aku ceritakan kepada kalian berdua. Itu
hal yang penting, tetapi aku tidak punya keberanian... Aku tahu jika terus
begini, aku akan menipu Senpai dan ibu yang kucintai.”
Tanpa
berkata apa-apa, pelukannya semakin erat.
Ternyata,
ibu Senpai menyadari semuanya. Dia tahu bahwa aku juga berusaha untuk mati. Dia
tahu tentang hubungan aneh setelah liburan musim panas. Mungkin dia bahkan tahu
lebih dari itu.
“Aku
baik-baik saja. Eiji juga pasti... Jadi, Ai-chan, percayalah pada Eiji. Aku
percaya padanya. Kamu juga harus mempercayainya. Kalian berdua pasti bisa
melewati ini. Lagipula, aku akan membantu kalian berdua dengan segenap kekuatanku.”
Masalah yang
selama ini kupendam mulai bisa kusadari sedikit demi sedikit.
Aku ingin
bergantung pada seseorang, tetapi aku tidak bisa. Aku seharusnya berterima
kasih, tetapi kata-kata itu tidak keluar. Ibu Snepai menyadari itu. Dia
memberiku kata-kata yang lembut dan menenangkan.
“Jika aku
mengatakan ini, rasanya mungkin akan dianggap tidak sopan kepada putri orang
lain. Aku minta maaf sebelumnya. Maafkan aku. Namun, aku rasa aku harus
mengatakannya. Karena ada hal yang berkaitan dengan Eiji. Ai-chan, kamu sudah
seperti keluarga bagi kami. Aku menyayangimu lebih dari sekadar seorang putri.
Jika kamu mengalami kesulitan, tanpa memikirkan Eiji, bergantunglah padaku.
Kamu tidak sendirian. Jika aku kehilanganmu, aku akan menyesal seumur hidup,
sama seperti Eiji.”
Mendengar
kata-kata itu, semua penahananku hancur. Aku merasa melihat kembali sosok ibuku
yang telah tiada, dan aku memeluknya dengan sekuat tenaga.
Dipeluk oleh
ibu senpai, perasaan bahagia mengalir dalam diriku.
Sebelum ibuku
meninggal, aku pikir hubungan keluargaku baik-baik saja. Kini, aku bisa
mendapatkan kembali apa yang telah hilang. Kehangatan dan rasa aman yang
diberikan dengan niat baik benar-benar terasa hangat.
Senpai
tumbuh dengan kasih sayang dari ibu ini dan ayahnya yang telah tiada, itulah
sebabnya dirinya begitu baik. Ia bahkan mempertaruhkan dirinya untuk membantuku.
Dia selalu
berterima kasih padaku, tetapi itu hanya sebagai balasan. Aku takkan pernah
bisa cukup berterima kasih padanya yang telah mengajarkan tempat bahagia ini
dengan mengorbankan nyawanya.
“Ai-chan.
Kamu sudah berjuang sampai sekarang. Kamu sudah bekerja keras untuk sampai ke
titik ini. Kumohon padamu, kamu bisa mengandalkan kami sebanyak mungkin.”
Mendengar
kata-kata itu, emosiku seketika meledak. Aku menangis sekuatnya hingga
mengotori baju ibunya Senpai seperti bayi yang menangis. Mungkin setelah kembali
ke kamar, aku akan merasa malu. Namun, aku tidak bisa menghentikannya.
Aku sangat
mencintainya.
Perasaanku
kepada Senpai yang telah mengajarkan bahwa ada dunia yang hangat ini semakin membesar.
※※※※
──Sudut Pandang Aono Eiji──
“Hei, Eiji.
Hamburger Satoshi sudah siap. Sudah aku tambahkan saus demi-glace kesukaanmu
dan telur mata sapi, jadi ambil saja.”
Kakakku
berteriak dari dapur. Ibu tampaknya sedang berbicara dengan Ichijo-san. Jadi,
aku yang membawa makanan. Nasi porsi besar dan hamburger raksasa untuk Satoshi.
Dapur dipenuhi aroma saus demi-glace yang bahagia. Bagi kami, itu adalah aroma
ayah.
Saus
demi-glace ini adalah saus yang dibuat Ayah saat pertama kali membuka restoran,
dan kami telah menambahkan lebih banyak bahan sejak saat itu. Ini menjadi bumbu
dasar untuk menu andalan kami. Aroma ini merupakan kebanggaan ayah, sebuah
kenangan keluarga yang dijaga oleh kakakku.
Kakakku
pernah menyatakan kepada ibu dan aku yang sedang berduka setelah ayah tiba-tiba
meninggal.
“Aku
masih belum berpengalaman, tetapi sampai Eiji lulus dari universitas, aku tidak
akan menjadi kakak, melainkan ayahnya Eiji. Mungkin aku tidak bisa menjalankan
peran sebaik ayah, tetapi aku akan memastikan untuk merawat adikku sampai dia
mandiri. Jadi, ibu, izinkan aku meneruskan Kitchen Aono.”
Sejak saat
itu, sebagai pemilik generasi kedua, kakakku menghabiskan waktu berharga di
usia dua puluhan untuk restoran dan keluarga. Sepertinya ia tidak punya hiburan
lain selain menonton drama luar negeri saat istirahat.
Ketika aku
masuk ke sekolah SMA yang sekarang, kakakku sangat senang, bahkan lebih dari
dirinya sendiri.
Aku sangat
berutang budi padanya.
“Eiji, kamu
luar biasa. Aku yakin Ayah kita di surga pasti bangga. Aku ingin sekali memukul
orang bodoh bernama Kondo itu sebagai balasan, tetapi ibu menghentikanku. Seandainya
aku lebih tegas, aku pasti bisa melindungimu lebih baik. Maafkan
aku."
Aku segera
membantah kata-katanya.
“Tidak, Nii-san.
Nii-san benar-benar bekerja keras untukku. Aku hanya bisa berterima kasih.
Terima kasih selalu. Tanpa adanya Nii-san, mungkin aku sudah hancur.”
Usai mendengar
kata-kata itu, kakakku yang tampak malu menundukkan wajahnya, sedikit
meneteskan air mata.
“Begitu ya.
Saus demi-glace hari ini adalah karya terbaikku. Cobalah. Ayah juga pasti
melihatnya.”
Saus yang
ditambahkan biasanya akan diganti dalam tiga bulan. Jadi, meskipun saus yang
dibuat ayah seharusnya sudah tidak ada lagi, aku masih bisa merasakan
kehangatan ayah dari aromanya.
Aku membawa
hamburger untuk Satoshi dan diriku sendiri kembali ke meja.
“Oh, hari
ini juga terlihat enak. Ngomong-ngomong, Eiji. Sejak tadi ponselmu terus
berbunyi. Kelihatannya kamu mendapat notifikasi?”
Aku baru
ingat bahwa aku belum melihatnya, jadi aku mengeluarkan ponsel dari tas dan
menghidupkannya.
Di sana, ada
banyak notifikasi dari aplikasi situs novel. Ratusan komentar. Pemberitahuan
tentang kenaikan peringkat di ranking mingguan. Dan notifikasi dari pengelola.
Kehidupanku
yang seharusnya berada di titik terendah kini mulai membuka jalan ke arah yang
berbeda. Perasaan itu muncul di dalam hatiku. Aku segera memeriksa
notifikasi.
Ada banyak sekali
komentar yang dituliskan di sana. Jumlah tampilan meningkat puluhan ribu dalam
beberapa jam. Aku merasa terkejut dan sedikit takut. Jangan-jangan, isi
tulisanku buruk dan membuatnya viral. Segera aku memeriksa kolom komentar.
‘Meskipun
hanya cerita pendek, itu membuatku merasa campur aduk. Tapi setelah membacanya,
aku merasa segar dan bersemangat, dan itu benar-benar menarik. Aku menantikan
karyamu selanjutnya.'
‘Aku sudah
membacanya tiga kali. Sebuah mahakarya yang tetap menghibur tidak peduli berapa
kali aku membacanya.'
'Kualitasnya
luar biasa. Apa ini ditulis oleh penulis profesional dengan nama samaran?'
'Aku juga
menulis ulasan. Novel ini membuatku merasa baik, dan aku berpikir untuk
berusaha lebih baik besok.'
'Aku merasa
sedikit murung setelah mengalami kegagalan di tempat kerja, tetapi semua itu
hilang. Aku berharap ini bisa diterbitkan.'
Hampir semua
komentar dipenuhi dengan tanggapan hangat. Selain itu, hanya ada beberapa
koreksi kesalahan ketik, dan komentar yang benar-benar menggembirakan
bertumpuk. Aku terharu, dan pandanganku mulai kabur. Meskipun ini novel yang
ditulis untuk klub sastra di SMA, tidak kusangka bisa menjangkau begitu banyak
orang... aku tidak mempercayainya.
Seharusnya
novel ini dibuang oleh ketua klub. Berkat Ichijou-san, aku bisa mendapatkan
kembali naskahnya, dan atas sarannya, aku mempostingnya di situs web... aku
tidak bisa cukup berterima kasih. Semuanya berkat Ichijou-san.
Aku berlari
menuju tempat dia keluar bersama ibu dari belakang. Satoshi terlihat
terkejut.
“Ichijou-san,
lihat ini!”
Kupikir aku
harus memberitahunya terlebih dahulu. Lagipula, dia adalah penyelamatku.
“Eh, ada
apa? Oh, ini, novel yang kemarin, ‘kan? Eh, ehhhh!? Jumlah tampilan meningkat
lebih banyak dari sebelumnya. Dan peringkatnya juga nomor satu!”
Dia yang
biasanya tenang kali ini terlihat gelisah. Keterampilannya yang luar biasa
membuatnya menyadari peringkat yang aku lewatkan.
“Woahh,
hebat sekali. Novel Eiji sangat populer. Hei, Onii-chan, Minami-san, coba lihat
ini!”
Ibu mulai
menyebarkan berita kepada semua orang meskipun dia tidak sepenuhnya
mengerti.
“Senpai, apa
maksud pengumuman ini?”
Aku
terdorong untuk mengklik pengumuman dari pengelola yang tertulis dengan huruf
merah. Di sana tertulis seperti ini.
※※※※
Kepada: Aono
Eiji-sama
Ini adalah manajemen
Maruyomu, situs pengiriman novel.
Kami telah
dihubungi oleh penerbit ○○ untuk memasukkan karya Anda ke dalam antologi cerita
pendek yang akan diterbitkan di masa depan. Selain itu, mereka juga ingin
membaca novel lain yang mungkin Anda tulis.
Mohon balas
pesan ini mengenai persetujuan Anda. Jika memungkinkan, kami akan menghubungkan
Anda dengan penerbit tersebut.
※※※※
Sejenak, aku
tidak bisa sepenuhnya memahami isi pesan tersebut.
Ichijou-san
adalah orang yang pertama membuka suara.
“Luar biasa.
Sudah kuduga, novel Senpai memang menarik! Bahkan Penerbit sampai menghubungimu!”
Mendengar
kata-kata itu, kami semua serentak bersorak gembira. Waktu bahagia yang takkan
terlupakan dimulai.
※※※※
Karena waktunya
sudah larut malam, jadi aku memutuskan untuk mengantar Ichijou-san pulang.
Setelah itu,
semua orang tersenyum, dan suasana bahagia menyelimuti kami. Aku pikir mereka
semua merasa lega setelah masalah perundungan yang kuhadapi.
“Terima
kasih, Senpai. Sudah mengantarkanku.”
“Tidak
masalah. Berkat Ichijou-san, novel ini berjalan dengan baik.”
“Aku tidak
melakukan apa-apa. Semua ini berkat kemampuan Senpai sendiri. Aku tidak salah
menilai.”
Dia lalu
tertawa usai mengatakan itu.
“Terima
kasih banyak. Mungkin jika kamu tidak menyelamatkan naskahku, aku sudah
berhenti menulis.”
“Begitu ya.
Kalau aku bisa membalas budi sedikit saja, itu sudah cukup.”
“Biarkan aku
mengucapkan terima kasih dengan baik. Mari kita pergi makan kue.”
Setelah itu,
dia berkata dengan senyum nakal.
“Apa ini
ajakan kencan? Rasanya senang sekali. Kalau begitu, aku akan berdandan.”
Karena dia
menggoda secara langsung, suhu tubuhku meningkat drastis. Aku tidak bisa
membalas kata-katanya, dan dia mengangguk puas sebelum melanjutkan.
“Makan
malamnya sangat menyenangkan. Aku tidak pernah menyangka bisa kembali ke dunia
yang hangat seperti itu. Semuanya berkat Senpai. Mendapatkan kembali naskah
saja tidak cukup. Tapi, bolehkah aku minta satu hal?”
Aku bisa merasakan
kesepian Ichijou merembes keluar dari kata-katanya. Sebagai senpai, yang bisa
kulakukan hanyalah menjawabnya dengan tegas.
“Tentu saja.”
“Semoga kita
bisa terus membuat banyak kenangan indah bersama seperti hari ini.”
Dia terlihat
sedikit meneteskan air mata.
“Ya, aku
berjanji.”
Tidak perlu
dipikirkan lagi. Jawaban itu segera keluar dari mulutku.
“Terima
kasih. Aku akan terus menantikan, ya? Itu janji!”
Kami
melakukan janji jari kelingking dan tersenyum satu sama lain. Semoga momen
bahagia ini bisa abadi. Dengan perasaan yang sama, kami berbagi kehangatan yang
menyenangkan dan perlahan berjalan bersama.
※※※※
── Sudut Pandang Ketua
Klub Sastra ──
Kondo-kun
tampaknya telah ditangkap polisi. Untungnya, aku berhasil menghapus pesan di
media sosial tepat waktu. Mungkin karena insiden kekerasan sebelumnya dan
informasi palsu yang disebarkan di internet untuk menjatuhkan Eiji-kun, mungkin
keluarga Eiji-kun membuat laporan ke pihak kepolisian.
Syukurlah,
pemotongan kerugian dilakukan dengan cepat. Aku tidak ingin terjebak dalam
kebodohan pria bodoh itu dan hancur bersamanya. Biar Eri-san dan Amada-san saja
yang jatuh ke dalam neraka.
Aku bisa
menikmati pemandangan itu dari zona aman. Aku bisa menyaksikan situasi terbaik
di tempat terbaik.
Saat itu,
ponselku berbunyi. Dari seorang junior di klub sastra.
“Senpai, ada
masalah besar. Coba lihat situs Maruyomu. Novel itu, novel itu... entah kenapa,
ada di peringkat atas!”
“Apa yang
kamu bicarakan? Maruyomu, tunggu sebentar, aku akan membukanya... eh!?”
Aku
menemukan judul novel yang seharusnya tidak ada di peringkat atas.
Karena,
naskah novel itu ada di ruang klub, jadi seharusnya aku sudah membuangnya. Apa
ada salinan data naskah? Tapi, dalam kondisi mentalnya yang seperti itu, mana mungkin
dirinya bisa memposting novel di situs web.
Ini pasti
kebetulan. Pasti cuma kebetulan judulnya mirip, dan itu adalah hal yang
berbeda. Tidak mungkin juniorku diakui oleh publik sebelum aku. Aku tidak ingin
itu terjadi.
Perasaan iri
hati mulai berputar dalam hatiku seperti pusaran. Tanpa menyadari bahwa aku
hampir menyadari rasa inferior yang putus asa, aku membuka halaman tampilan
novel itu. Dan saat itu, aku belum menyadari bahwa aku telah membuka kotak
Pandora yang penuh dengan keputusasaan.
