Chapter SS —Duta Fashion: Tsurumi Shizune
Pada hari
ketika Itsuki dan Hinako pergi untuk menonton
pertunjukan teater.
Shizune
bekerja di kediaman keluarga
Konohana seperti biasanya. Dia
memberikan instruksi kepada para pelayan, membantu tugas Kagen, dan kemudian membersihkan kamar
Hinako... Sementara itu, dia menerima beberapa pesan dari SP keluarga Konohana yang mengawasi Itsuki dan
Hinako. Setelah menerima laporan “tidak
ada masalah” dari para SP, Shizune kembali fokus pada
pekerjaannya.
Saat dia melipat seprai untuk dicuci, smartphone-nya
bergetar menandakan pesan masuk. Dia mengira itu adalah pesan dari para SP, jadi dia segera memeriksa
isinya.
Usai melihat
layar, Shizune sedikit terkejut. ...karena dia
mendapat pesan yang langka
dari Hinako.
Pesan itu
berisi satu foto dan pesan singkat.
“Shizune,
apa kamu bisa memberi saran?”
Bersamaan dengan kalimat itu, terdapat
foto Itsuki yang sedang berganti pakaian di ruang ganti.
Karena
masih ada waktu sebelum pertunjukan, mungkin mereka sedang menghabiskan waktu
di department store terdekat. Pilihan pakaian Itsuki cukup aman, tetapi setiap
item terlihat berkualitas tinggi. Sepertinya dia memilih toko yang bagus.
Shizune
menghentikan pekerjaannya dan menarik napas dalam-dalam.
Dua orang
itu...
Dua orang
itu tertarik pada fashion...!!
(Aku harus membalas dengan sebaik-baiknya)
Setelah
mengetik ulang kalimatnya sekitar lima kali, dia mengirimkannya. Karena tidak sabar menunggu balasan, dia
segera meninjau kembali pesan yang baru saja dikirim, tetapi mungkin informasi
yang disampaikan masih kurang.
Penjelasan
lebih lanjut bisa ditunggu sampai mereka kembali ke rumah.
Shizune
pun mulai mengerjakan sisa tugasnya dengan semangat lebih dari biasanya.
◆◆◆◆
Ketika
malam tiba, Itsuki dan Hinako akhirnya kembali.
Kondisi
Hinako sudah kembali seperti biasa. Melihat punggung Hinako yang menuju kamar
Itsuki sambil mengeluh, “Aku
ngantuk...”,
Shizune merasa lega. Dia sempat berpikir bahwa mungkin dia tidak akan bisa
berbicara dengan Hinako yang asli lagi, tetapi sepertinya Itsuki telah
menyelesaikan masalah tersebut.
hizune
melanjutkan pekerjaannya hingga keduanya selesai mandi dan kembali ke kamar
masing-masing.
Setelah
menyelesaikan pekerjaannya untuk hari itu, Shizune berkata dengan antusias, “Baiklah, kalau begitu.”
Sekarang—waktunya
untuk membahas fashion.
Kamar yang
pertama dikunjunginya adalah
kamar Hinako. Dia pasti akan segera tidur, jadi sebelum itu, mereka harus
berbicara tentang pakaian sampai puas.
“Permisi,
Ojou-sama.”
Saat masuk
ke dalam kamar, Hinako duduk di kursi menghadap meja. Shizune sedikit terkejut
karena mengira Hinako sedang berbaring di tempat tidur.
“Hmm...
ada apa, Shizune...?”
“Aku
ingin melanjutkan pembicaraan tentang pesan yang aku terima siang tadi.”
“Siang tadi...?”
Hinako
memiringkan kepalanya dengan ekspresi kebingungan.
Tiba-tiba, Shizune menyadari sesuatu yang dipegang Hinako dengan kedua tangan.
Itu adalah cangkir berwarna biru.
“Ojou-sama,
kamu mendapatkan cangkir
itu dari mana?”
“Ini?
Ini... hehe... cangkir serasi
yang kubeli bersama Itsuki."
Hinako
menjelaskan sambil tersenyum lebar.
Begitu
rupanya, jadi itu tembikar.
Otak Shizune yang rajin segera menemukan
jawabannya. Karena perabotan di rumah ini
semuanya bergaya Barat, biasanya mereka menggunakan porselen yang cocok untuk
teh, tetapi sesekali membeli keramik atau tembikar
mungkin tidak masalah.
Hari ini,
Hinako tampaknya tidak mengantuk, dan sepertinya dia sudah mengagumi cangkir
itu sejak kembali ke kamar.
Dia bisa
memahami perasaan itu. Shizune juga kadang-kadang
menghabiskan waktu satu jam untuk mengagumi pakaian yang baru dibelinya.
“…Ojou-sama, bagaimana dengan pakaian?”
“Pakaian?”
Saat
Hinako mengulangi pertanyaannya, Shizune bertanya dengan suara gemetar.
“Apa...
kamu tidak membeli pakaian...?”
“Hmm,
kami memutuskan untuk melakukannya lain kali.”
Shizune
menengadah ke arah langit-langit dan tertegun sejenak.
Akhirnya,
dia berjalan goyah keluar dari kamar Hinako.
Tujuan
berikutnya Shizune adalah kamar Itsuki.
“Itsuki-san!!”
“Uwahhh!? Bikin kaget orang saja!?”
Karena
terlalu linglung, Shizune membuka pintu sebelum
sempat mengetuk.
“Kenapa!!”
“Apanya yang kenapa!?”
“Mengapa
itu bukan tentang pakaian!!”
“……………Apa
maksudmu!?”
Itsuki,
yang tidak menyangka akan menerima pertanyaan yang tidak jelas dua kali
berturut-turut, menatap wajah Shizune dengan bingung.
Ya ampun,
aku harus menenangkan diri dulu sebentar.
Shizune menarik napas dalam-dalam dan
menenangkan pikirannya.
“Apa
semangatmu terhadap fashion hanya sebatas itu?”
“…Shizune-san,
apa kamu sedang tidak
enak badan hari ini?”
Mungkin
saja. Namun, jika aku merasa tidak enak badan, itu karena salahmu.
“Hari ini,
Ojou-sama mengirimiku
pesan sekitaran siang tadi, ‘kan? Katanya dia menginginkan saran
tentang pakaian.”
“Ah,
ya. Tapi...”
“Aku
sangat menantikan jenis pakaian apa yang kalian beli setelah melihat pesan itu.
Itulah yang menjadi motivasiku untuk bekerja hari ini.”
“Sebaiknya
kamu mencari sesuatu yang
lain untuk memotivasi dirimu...”
Itsuki
menatap Shizune dengan wajah khawatir.
“Dengarkan
baik-baik, oke? Fashion memiliki daya tarik yang tidak kalah
dengan peralatan teh.”
“Hah?”
“Sepertinya
kesadaranmu terhadap pakaian kerja meningkat, tetapi pada dasarnya, fashion
adalah sesuatu yang bisa dikenakan dengan bebas sesuai suasana hati. Dengan
kata lain, fashion juga bisa dianggap sebagai barang konsumsi. Misalnya—”
Shizune
berbicara dengan penuh semangat menjelaskan kehebatan fashion. Dia
ingin Itsuki memahami daya tarik fashion.
Sementara
itu, Itsuki merenung. …Aku tidak akan lagi bersikap ambigu tentang pakaian
di depan Shizune-san.
Presentasi
Shizune berlangsung selama dua jam.
Dan Itsuki
mendengarkannya dalam keadaan setengah
tertidur.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
