Chapter 4 — Kencan Pertama
“...Apa
ini sudah cukup
oke?”
Di depan
cermin besar di dalam kamar, aku memeriksa penampilanku berkali-kali. Dari isi lemari, aku memilih
pakaian yang sesuai untuk kencan dengan seorang gadis: Jaket biru tua yang pas
badan, kemeja putih, dan celana panjang biru tua.
Aku
memilih sesuatu yang kupikir mungkin akan terlihat berkelas dan bergaya pada
seorang model, tetapi aku bertanya-tanya apakah itu benar-benar cocok untukku?
Tidak,
aku harus mempercayai bahwa ini kelihatan cocok. Karena tidak ada toko
pakaian yang buka pagi-pagi seperti ini, jadi aku tidak bisa pergi membeli
pakaian lain sekarang.
Setelah
memastikan tidak ada debu yang menempel, ku meletakkan tanganku di kenop pintu
dan meninggalkan ruangan, berpikir bahwa apa pun yang terjadi biarlah terjadi.
“Selamat
pagi, Ash-san.”
“Ah,
selamat pagi, Fine. Apa yang sedang kamu lakukan?”
“Y-Ya. Aku baru saja memasak makanan
untuk Aisha-chan dan menyimpannya di kulkas.”
Tentu
saja, aku tidak bisa membiarkan anak kecil itu tinggal sendirian dan memasak,
jadi sepertinya Fine bangun pagi-pagi
untuk menyiapkan makanan untuk hari ini.
“O-Uh. Terima kasih banyak.”
“Tidak
apa-apa, itu bukan hal istimewa...”
Saat aku menuruni tangga menuju pintu masuk, Fine
muncul dari ruang tamu sambil melepas celemeknya.
Dengan
celemek hitamnya dilepas, Fine mengenakan blus krem berkerah
tinggi dan celana olahraga putih, gaya celana yang tidak biasa baginya. Dia
memberikan kesan seorang wanita dewasa yang cantik, bukan citra gadis polosnya
yang seperti biasanya.
Kemungkinan
dia memilih pakaian yang tidak masalah jika terkena bulu kucing karena akan
pergi ke kafe kucing, tetapi tetap saja, dia benar-benar terlihat cocok.
Sambil
memikirkan hal itu, Fine kembali setelah menyimpan celemeknya dan mengenakan sepatu untuk
keluar bersama.
(Sejujurnya,
dia memang sangat cantik.)
Dia memancarkan aroma wangi, mungkin
karena memakai parfum, dan rambutnya berkilau
dan halus. Biasanya aku tidak menyadarinya, tapi wajahnya yang tampak terawat
seperti putri yang keluar dari lukisan.
Saat aku
bingung bagaimana melanjutkan percakapan dengan Fine yang terlihat berbeda dari
biasanya, dia menatapku sambil menggoyangkan tubuhnya dengan malu-malu.
“Umm, jadi, bagaimana menurut Ash-san dengan pakaianku ini? Aku membelinya dari toko yang berbeda,
tapi umm,
kurasa aku memang tidak
cocok mengenakannya, ya...?”
“Tentu
saja tidak. Kamu masih secantik
biasanya, tidak, bahkan
lebih cantik dari biasanya.”
Sambil
mengusap kepala Fine, aku memberinya pujian.
“Te-Terima kasih banyak. ...Ehehe.”
Fine
tersipu malu sambil meletakkan tangannya di pipinya, perilakunya itu sangat menggemaskan.
“Kamu juga kelihatan sangat tampan, Ash-san! Bagaimana
bilangnya ya, rasanya kamu memancarkan
kesan macho! Oh, tentu saja, Ash-san selalu tampan!”
“O-oh.
Terima kasih.”
Aku dibuat
terkejut karena Fine tiba-tiba memujiku. Jika kami terus saling malu-malu
seperti ini, kami tidak akan pernah bisa pergi berkencan. Dengan pemikiran itu, aku
memutuskan untuk mengulurkan tangan kepada Fine.
“Kalau
begitu, ayo pergi, Fine.”
“!
...Ya.”
Fine kelihatan malu-malu namun juga terlihat senang saat dia menggenggam
tanganku.
Dan begitulah,
kami memulai kencan pertama sebagai sepasang kekasih.
※※※※
“Ash-san,
lihat~ lihat~! Ada kucing!
Ada banyak kucing di sini!”
Fine
menarik ujung bajuku dengan tangan kirinya sambil menunjukkan kucing-kucing
yang rebahan di lantai kafe kucing (secara
resmi disebut kafe kucing terlindungi) dengan ekspresi bersemangat.
Kafe
ini cukup luas, dengan lantai kayu, karpet, sofa untuk duduk, dan menara kucing
dari kayu. Salah satu dindingnya adalah jendela besar yang terbuat dari kaca,
dan berbagai jenis kucing tampak nyaman berjemur di bawah sinar matahari.
Sepertinya
kucing-kucing ini sudah terbiasa dengan manusia, karena mereka tidak peduli
dengan kehadiran kami dan tetap asyik dengan kegiatan masing-masing.
Pertama-tama,
kami membeli set teh dan kue kering serta camilan untuk kucing,
lalu duduk di sofa terdekat sambil memegang mainan kucing yang diberikan oleh
pelayan.
Tak lama
kemudian, seekor kucing belang cokelat
melompat ke sofa, menguap besar di samping Fine, dan berbaring dengan perutnya
menghadap ke atas.
“...!”
Fine
memperhatikan kucing yang sedang bersantai
di sampingnya dengan mata berbinar. Dia
mencoba mengelus tubuh kucing itu, tetapi...
“Ah!”
Kucing
itu bangkit tepat sebelum tangannya menyentuh, lalu berjalan pergi sambil
mengayunkan ekornya.
“Ash-san...”
“Jangan khawatir, dia tidak membencimu.
Lihat, masih ada kucing lain di sini, kan?”
Melihat
Fine yang tampak sedih, aku tersenyum dan menyarankannya untuk berinteraksi dengan
kucing lain.
“I-Iya.
Kucing, ayo bermain bersama Onee-chan,
meong~?”
Fine
mengambil mainan berbentuk tongkat dengan bulu yang ada di dekatnya, lalu
membungkuk untuk menarik perhatian kucing abu-abu.
“Meong!”
“! Dia
menjawabku!”
Entah itu
kebetulan atau kucing itu memang menjawab Fine, kucing itu mengeluarkan suara dengkuran dan mendekati kaki Fiine.
“Imutnya... Neko-chan, nyaa~!”
Kucing
itu tidak menjauh dari Fine, sesekali mencakar mainan yang dia goyangkan.
“Gadis itu imut banget...”
“Ah, aku
ingin mengabadikan momen ini selamanya.”
Melihat Fine dan kucing yang bermain, para
pelayan wanita di kafe kucing itu menunjukkan ekspresi yang penuh kasih. Aku memahami perasaan mereka. Jika
aku punya kamera, aku pasti akan mengambil banyak foto Fine dalam momen
ini.
“...Hmm?”
Saat aku sedang memikirkan hal itu, seekor
kucing belang hitam-putih datang dan menatap
wajahku dengan tajam. Ketika
aku mengambil camilan untuk kucing dan memberikannya, kucing itu berdiri dengan
memanfaatkan sofa dan langsung melahapnya.
Kucing
itu seolah meminta lebih, dengan menyentuh jaketku dengan lembut menggunakan
kakinya. Aku pun
memberikan lebih banyak camilan sesuai permintaannya, dan dia melahapnya lagi,
lalu mulai menjilati jariku dengan lidahnya yang kasar.
Mungkin
dia tidak ada saat aku datang bersama Ian sebelumnya? Mungkin dia baru saja
diselamatkan?
Saat aku
dengan hati-hati mengusap dahi dan pipi kucing itu, kucing tersebut tampak
sangat menikmati, memejamkan mata, dan setelah menghentikan gerakan tangannya, dia pindah ke pangkuanku dan
meminta lebih dengan sikapnya.
“Ah...”
Fine
tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi rasanya tidak baik jika aku berhenti
bermain dengan kucing.
“Muu...”
Akhirnya,
dengan keputusan yang sulit, aku memilih untuk bermain dengan kucing, dan Fine
pun mengembungkan pipinya dengan menggemaskan.
Setelah
beberapa saat mengelus, kucing itu tampaknya merasa puas dan mungkin karena itu
tempat favoritnya, ia berbaring di atas bantal bulat yang diletakkan di sofa
dekat jendela.
Ah,
terlalu imut. Jika memungkinkan,
aku ingin membawanya pulang. Jika mustahil,
aku akan datang ke sini sesering
mungkin—.
“...Ugh.”
Saat aku
memikirkan hal itu, tiba-tiba aku merasakan tatapan dari samping, jadi aku
menoleh dan melihat Fine yang menggeram dengan raut
muka tampak sedikit tidak senang.
“Ah, Neko-chan!?!”
Kucing
abu-abu yang sedang bermain dengannya sepertinya merasakan perubahan suasana
dan melarikan diri dari Fine.
“...Ash-san,
kamu benar-benar sadis.”
Aku sedang
berpikir apa yang harus kulakukan terhadap Finne, yang terkejut dan sedih
karena hal itu. Tapi tiba-tiba
dia mengucapkan kata-kata yang tidak terduga.
“Me-Mendadak kenapa
tiba-tiba bilang begitu? Dari mana kamu belajar kata-kata itu!?”
“Aku
tidak akan memberitahumu. Oh, dan tolong tebak apa yang sedang kupikirkan
sekarang.”
Setelah
mengatakan itu, Fine membalikkan wajahnya dengan cemberut.
Eh, ada
apa? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?
“Maaf sudah membuat Anda menunggu.
Ini set teh yang Anda
pesan.”
Ketika aku
merasa cemas, pelayan datang membawakan
teh dan kue berbentuk kucing yang kami pesan.
Kurasa aku akan meminum ini dulu sebelum mendengarkan apa yang ingin dia bicarakan.
Dengan
pemikiran itu, aku mengambil cangkir teh dan, sambil menggigit kue, merasa
keringat dingin saat Fine masih menatapku.
※※※※
“Ah, kamu jadi penuh bulu. Maaf.”
“Ti-Tidak
apa-apa. Aku tidak keberatan. Sebenarnya, aku sangat senang bisa berinteraksi
dengan banyak kucing!”
Setelah menghabiskan minuman teh, aku
keluar meninggalkan toko sambil membersihkan bulu-bulu kucing yang menempel di bajuku
dan mengenakan jaketku kembali.
Sebenarnya,
aku hanya bermain dengan kucing belang hitam-putih
itu, jadi seharusnya tidak sampai separah ini.
Masalahnya
adalah Fine. Entah
kenapa, Fine dikelilingi oleh banyak kucing yang tampaknya sangat menyukainya. Akhirnya, pakaiannya dipenuhi
bulu kucing dalam jumlah yang sangat banyak.
Tapi,
bagaimana bisa kucing-kucing itu begitu tertarik pada Fine?
Saat aku
merenungkan hal itu, Fine menarik ujung bajuku dan berkata,
“Umm, Ash-san. Bagaimana kalau kita
mampir ke taman di sana?”
“Ah, ya. Baiklah.”
Ah,
sepertinya ini ada hubungannya dengan tatapan dan ekspresi yang dia tunjukkan
padaku sebelumnya...
Dan begitulah,
kami menuju taman sesuai dengan permintaan Fine, dan saat aku bersiap-siap
untuk mendengar apa yang akan dia katakan, Fine mendekatkan tubuhnya yang
ramping padaku, memerah malu, dan membuka mulutnya.
“...Apa
kamu tidak akan mengelus kepalaku seperti kucing tadi?”
Fine
bertanya demikian dengan sedikit nada ketidakpuasan dan memiringkan kepala dengan sangat
imut. Daya tariknya benar-benar luar biasa,
membuatku terdiam sejenak.
“Bolehkah
aku menyentuhnya?”
“Si-Silakan...”
Aku
perlahan-lahan mengulurkan tangan ke kepalanya, berhati-hati agar rambutnya
tidak berantakan. Aku
berpikir untuk mengelusnya seperti kucing yang tadi, lalu mulai mengelusnya
dengan lembut.
“...”
Meskipun
Fine tampak malu-malu, dia
juga terlihat sangat senang.
Setelah
mengelus kepalanya selama beberapa waktu, aku merasa sudah saatnya untuk
berhenti, tetapi dia malah menggenggam lenganku dan mendorongku untuk terus
mengelusnya.
...Yah,
melihat wajah Fine yang tampak bahagia membuatku merasa sangat senang.
“Te-Terima kasih. Dan, maaf atas semuanya...”
Sepertinya
Fine sangat menyukai elusanku, setelah beberapa menit mengelus kepalanya, dia
tampak semakin malu dan wajahnya semakin merah, lalu melepaskan tanganku.
Namun,
dia tampak puas, dan wajahnya sepertinya bersinar.
Aku juga
merasa puas bisa melihat sisi imut Fiine, jadi semua baik-baik saja.
“Jadi,
Fine. Apa ada tempat lain yang
ingin kamu kunjungi?”
“...Hmm.
Oh, sepertinya ada toko pakaian baru di mal dekat sini, bisakah kamu menemaniku ke sana?”
“Tentu
saja. Jika itu permintaanmu, aku akan menemanimu ke mana pun.”
Dengan
kata-kata itu, kami secara alami bergandeng tangan dan menuju mal tempat toko
pakaian yang ingin dilihat Fine.
“...Fine.
Dasar si ‘Penyihir’, Fine Staudt...!”
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
