Chapter 4 — Tampaknya Pembalikan Peran Majikan-Pelayan Merupakan Kesalahpahaman
'Ayano~, sudah selesai~'
“Iya”
Hari
terakhir libur panjang setelah majelis siswa
yang penuh gejolak dan penyelidikan besar-besaran yang penuh intrik serta sengit. Di kediaman Kuze, Ayano yang diperintahkan
untuk menunggu dalam pakaian santai di kamar Yuki, keluar menjawab panggilan
Yuki. Sambil berjalan di koridor, dia membuka pintu ruang tamu──dan terhenti.
“Ayano!
Kerja bagus dalam misi
mata-matamu!”
“Terima
kasih atas kerja kerasmu. Hari
ini, beristirahatlah dengan baik.”
Dua
majikannya, Masachika dan Yuki, menyambut
Ayano dengan senyuman. Mereka mengenakan... pakaian butler dan pakaian maid.
“?????”
Saat ini,
Ayano mengenakan pakaian santai atas instruksi Yuki. Sementara itu, Yuki
mengenakan pakaian maid, dan
Masachika mengenakan pakaian butler.
(In-Ini.... apa maksudnya?)
Tentu
saja, mengenai majikannya yang disayanginya,
dia mengenakan pakaian pelayan dengan anggun dan menawan, tapi apakah pantas
untuk mengatakan “sangat
cocok”? Sebelum itu, ini sepertinya...
posisi mereka terbalik, dan Ayano merasa kalau
dirinya terlihat seperti seorang Ojou-sama.
“......??”
Dalam
situasi yang sangat membingungkan ini, Ayano mencari Kyoutarou, pemilik rumah ini, seolah-olah mencari
pertolongan... tapi dia tidak
menemukannya sama sekali. Dia
kemudian teringat bahwa Kyoutarou pergi ke rumah Suou sejak siang.
“Ayano,
ayo tebak hari ini adalah hari apa?”
“??”
Pertanyaan
Yuki menggerakkan otak Ayano
yang membeku dan dia mencoba mengingat apa hari ini.
“......Hari
ini adalah 23 November. Hari Syukur atas Kerja, bukan?”
“Benar!
Artinya, hari untuk menghargai kesetiaan pelayan!”
“Jadi ya begitulah, dengan alasan itu...
hari ini aku ingin menghargaimu sebaik mungkin. Lihat, aku juga menggoreng
donat kesukaanmu, loh?”
“Ayo~, ayo~,
duduklah~.”
Atas desakan
mereka berdua, Ayano duduk dengan gerakan canggung. Di
depannya, sebuah piring dalam berisi tumpukan donat buatan Masachika disajikan,
dan Yuki juga menyajikan secangkir teh yang baru diseduh.
“Silakan,
ini dia.”
“Selamat
makan...”
Dengan
kepala yang masih belum sepenuhnya memahami situasi yang dialaminya, Ayano membawa cangkir teh ke mulutnya.
“!?
Panas!?”
“Kenapa
tidak didinginkan dulu──Onii-chan,
es!"
“O-Oke!”
Ayano
menyentuh teh tanpa berpikir dan
terkejut karena kepanasannya, segera menjauhkan mulutnya. Segera, Masachika
membawa gelas berisi air dingin yang penuh es dan menyerahkannya kepada Ayano.
“Te-Terima
kasih, Masachika-sama...”
Ujung
lidahnya terasa nyeri dan pedih, Ayano segera memasukkan sepotong es ke dalam
mulutnya bersama air dingin, lalu menempelkan es tersebut pada bagian yang
terbakar.
“Astaga,
hati-hati ya? Ayano. Oh, dan hari ini kamu tidak
boleh memanggilku dengan imbuhan ‘-sama’.”
“?”
Sembari
menempelkan es di bagian dalam bibirnya dengan ujung lidah, Ayano mengarahkan
tatapan bingungnya kepada Yuki. Lalu, Yuki mengangkat jari telunjuknya dan
berkata.
“Hari
ini, kamu bisa memanggilku
Yuki-chan dan Chika-kun seperti dulu!”
“!?”
“Ah,
kamu juga tidak boleh menggunakan
bahasa formal.”
“!?”
Saking
terkejutnya, Ayano hampir saja menelan es tersebut, dan secara refleks ingin
meludahkannya, tetapi dia berhasil
menahan diri.
“O-Ohh, kamu baik-baik saja? Apa kamu
tersedak?”
Melihat
Ayano yang pipinya menggelembung dan matanya melotot, Yuki menepuk punggung
Ayano dengan lembut. Setelah
berhasil tidak meludahkan isi mulutnya, Ayano berusaha mengumpulkan pikirannya
sampai es tersebut mencair.
“Umm,
apa itu perintah──”
“Bahasa
formal.”
“Ah…”
Namun,
meskipun begitu, rasanya sulit untuk
menyingkirkan bahasa formal yang sudah tertanam dalam dirinya. Dengan
terpaksa, Ayano mengalihkan pandangannya ke donat di depannya dan menunda
jawabannya.
“Selamat
makan…”
Sembari
menyatukan kedua telapak
tangannya, dia
membisikkan kata tersebut dan membawa donat ke mulutnya. Begitu menggigitnya,
tekstur renyah yang hanya bisa didapatkan dari donat yang baru digoreng,
diikuti oleh adonan yang lembut dan hangat, meleleh di atas lidahnya,
menyebarkan rasa manis yang lembut di mulutnya.
“Fwah…”
Tanpa
sengaja, suara terpesona keluar dari tenggorokannya. Sederhana namun tidak
terlalu manis, dengan tekstur yang ringan dan tidak membosankan. Rasanya benar-benar luar biasa. Terlebih
lagi, donat tersebut dibuat oleh
majikannya yang tersayang.
“Ham…”
Dalam
sekejap, Ayano menghabiskan
tiga buah donat… dan saat menyadari tatapan lembut dari kakak beradik, dia terkejut.
“Ra-Rasanya sangat
enak. Masachika-s──”
“Bahasa
formal.”
“Le…
Lezat sekali. Terima kasih, Chika…
kun.”
“Oh, entah kenapa rasanya bikin nostalgia…”
Masachika
berkata dengan nada penuh perasaan, dan Ayano merasa sedikit canggung ketika
Yuki dengan ceria mengintip wajahnya.
“Bagaimana
dengan tehnya? Enak?”
“Iy──un. Enak sekali.”
“Syukurlah.”
Sambil
tersenyum cerah, Yuki beranjak ke belakang Ayano dan
menggenggam sandaran kursinya.
“Baiklah,
sekarang ayo angkat
pinggulmu sedikit dan arahkan ke kanan~? Benar, benar, kalau
begitu, setelah bekerja keras, Ayano… tidak, Ayano-ojousama, kami akan memijatmu.”
“Eh,
itu terlalu──”
Rasanya
terlalu tidak pantas.
Saat dirinya ingin mengatakan itu, Ayano terkejut melihat Yuki berlutut
di kakinya sendiri.
“Eh—!”
“Baiklah,
sekarang rileks ya~. Aku akan memijat bahumu.”
Ayano
berusaha cepat-cepat bangkit dari kursi, tetapi sebelum itu, Masachika menahan
bahunya dari belakang, membuatnya tidak bisa bergerak. Sementara itu, Yuki mulai
mengambil kaki Ayano dan perlahan-lahan memijat paha Ayano.
(Ah,
ah──Nenek, mohon maaf… Ayano, telah melakukan hal yang tidak pantas kepada
majikan yang seharusnya dihormati…)
Karena
dirinya tidak berdaya untuk melawan, Ayano hanya bisa
meminta ampun dalam hati kepada neneknya atas tindakan yang tidak pantas bagi
seorang pelayan.
“Oh~
pelanggan, sepertinya badanmu cukup tegang ya~”
“Begitu?
Kupikir bahunya tidak terlalu kaku sih…”
“Ah,
aku cuma ingin mencoba
mengatakannya saja.”
“Apa-apaan itu?”
Mendengar
percakapan dari atas dan bawah, Ayano mengeluarkan dengkuran lemah, merasa malu dan menyesal.
“A-Anu,
sebenarnya, aku sudah
cukup…”
“Eh?
Tidak, tidak, ini semua baru permulaan, loh?”
“Bu-Bukannya
begitu, tapi hal seperti ini…”
“Tidak
apa-apa, ayo bersantai saja~”
“Ta-Tapi, ini terlalu──”
“Diam!
Mendingan makan donat saja!!”
“( Kunyah kunyah kunyah kunyah kunyah kunyah
kunyah)”
“Fuwawa,
Ayano, kamu imut sekali! Ayano yang lagi makan donat
imut banget! Aku ingin kamu terus makan
donat seumur hidupmu!”
“!!
Aku akan terus makan sampai perutku meledak!”
“Apa-apaan
kalian ini…”
Sambil
menghela napas keheranan dengan interaksi keduanya,
Masachika berpindah dari bahu ke kepala Ayano.
“Bagaimana?
Ini namanya pijat kulit kepala, lho…”
“Mm…
enak… rasanya nikmat?”
“Haha,
yah, mungkin di awal kamu belum merasakannya.”
Rasa yang
berbeda dari saat neneknya mencucikan rambutnya, sensasi kulit kepala yang
ditarik ke atas membuatnya bingung bagaimana harus bereaksi ketika…
“Kalau
begitu, yang ini
namanya pijat refleksi kaki, ya~… uryaa!”
“…”
“Eh?
Tidak terasa? Bagaimana dengan begini?”
“…”
“Mu-Mustahil…
ja-jadi tubuhmu super sehat…!?”
Tidak,
sebenarnya Ayano bisa merasakannya.
Hanya saja, dia hanya bertahan dengan biasa. Rasa sakit seperti ini, jika
dipikirkan sebagai hadiah dari majikannya,
hanya akan menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Namun,
terlepas dari itu, situasi di mana dia dilayani oleh kedua majikannya
membuatnya merasakan kegelisahan yang tak bisa
dilukiskan, bercampur dengan rasa takut dari dalam perutnya…
“…”
“Bagaimana?
Kamu mulai merasa nyaman?”
“I-Iya.”
“Ayano,
kamu kembali menggunakan bahasa formal lagi.”
“U,
um…”
Sensasi
itu semakin meningkat di bawah tekanan larangan menggunakan bahasa formal──
“Kalau
begitu, selanjutnya punggung, ya.”
“Oke~, kalau begitu ayo kita
pindah ke tempat tidur~ Ojou-sama.”
Saat Yuki
memanggilnya ‘Ojou-sama’, semuanya
akhirnya meledak.
“Fu──”
““??””
“Fumiiiiiiiiiiiiーーーーー!!”
"Uwooooh!?”
“Ada
apa!?”
“Fumi,
Fumiiiiiiiiiiiiiiiiーーーーーー!!
Fimiiiiiiiiーーーーー!!”
““Ayano
sudah rusak!?””
Dengan
memegang kepalanya, dia
berteriak dan berguling-guling di lantai. Lalu, sambil meringkuk telungkup dan
mengulangi napas yang berat, Ayano
menatap lantai dan mengeluarkan suara.
“…Silakan
naik ke atas saya.”
“Hah?”
“Eh?”
“Saya mohon, tolong naiklah ke atas saya…!”
“Maksudnya…naik ke atas....”
“Eh,
maksudnya seperti ini?”
Ayano bisa
merasakan pantat Yuki yang perlahan-lahan naik ke punggungnya dengan ragu-ragu.
“Ahh…!”
Ayano bisa
merasakan beban berat di punggungnya. Rasa sakit di kedua
lengan dan kakinya. Semuanya itu
membuat rasa bersalah yang terakumulasi di seluruh tubuhnya perlahan-lahan
menghilang.
(Sekarang
Yuki-sama adalah pelayan… dan aku yang menjadi kursi ini, artinya derajatku jauh di bawahnya… perabot,
tidak, ternak? Hehehe…)
“Eh,
kenapa gadis ini mendadak cengengesan…
menakutkan.”
“Menjaga
harga diri tetap rendah demi
menstabilkan mental…?”
“Itu
sih namanya bukan harga diri, tapi
merendahkan diri… yah, tidak apa-apa. Sekalian saja, aku akan mengelus pantatnya. Oh~oh~ pantatnya cukup bahenol, ya.”
“Berhenti
melakukan pelecehan seksual seperti itu!?”
“Aduduh, jangan menjitakku segala…
sepertinya lebih baik berhenti memakai
pakaian ini dan larangan bahasa formal. Semuanya
demi stabilitas mental Ayano.”
“Tapi
bukannya kamu sendiri yang menyarankan semua ini…??”
◇◇◇◇
Setelah
melalui interaksi seperti itu, saat Masachika dan Yuki berganti pakaian rumah,
Ayano akhirnya bisa kembali ke keadaan mentalnya yang biasa. Setelah kakak beradik itu dan Ayano duduk di meja
saling berhadapan, Masachika menundukkan kepalanya dengan ekspresi serius.
“Yah,
meskipun ini kedengarannya seperti
lelucon… maaf ya. Aku telah memberi banyak tekanan padamu.”
“Eh…
ti-tidak──”
“Tidak,
dengarkan aku dulu.”
“…”
Masachika
melanjutkan berbicara dengan
sungguh-sungguh, sementara
Ayano menelan kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya,
“Aku
telah mempercayakan peran yang sulit padamu dan kemudian mengkhianati
pengorbananmu. Aku benar-benar minta maaf."
Setelah
menundukkan kepalanya dengan
dalam sekali lagi, Masachika sedikit melonggarkan ekspresinya dan melanjutkan,
“Dan
aku benar-benar berterima kasih atas perhatianmu terhadapku, yang membuatmu
merasa sakit hati untukku. Terima kasih.”
Ayano
merasakan kehangatan menyebar dari lubuk hatinya mendengar kata-kata tulus
Masachika. Entah mengapa, sudut matanya tiba-tiba mulai memanas, dan ia
mengepalkan tangannya di bawah meja, berkedip berulang kali sambil menegangkan
tenggorokannya.
“…
Perkataan Anda terlalu berharga.”
Setelah
menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan
emosinya, Ayano
menambahkan agar majikannya tidak terlalu merasa terbebani.
“Dan…
saya tidak berpikir bahwa saya dikhianati. Saya
memang terkejut saat itu, tapi... saya
mengerti bahwa itu hal yang tidak
dapat dihindari karena kami adalah kandidat yang saling berlawanan.”
“…
Begitu.”
Masachika
mengangguk seolah merasa sedikit lega, dan Ayano juga menghela napas lega. Kali
ini, Yuki membuka suara.
“Izinkan
aku mengucapkan terima kasih juga, oke?
Kali ini, aku benar-benar dibantu oleh Ayano… Tanpa
adanya Ayano, kampanye pemilihanku dan Onii-chan mungkin akan hancur total oleh Nonoa-san. Panggung itu mungkin akan
direbut dari kami bahkan sebelum kami memiliki kesempatan untuk beradu....
Jadi, terima kasih banyak. Aku sangat senang Ayano menjadi partnerku."
Saat
mendengar kata-kata itu, sesuatu yang selama ini ditahan
Ayano di dalam dirinya akhirnya jebol. Air mata memenuhi pandangannya, dan air
mata mulai menetes di pipinya satu demi satu.
“Te-Terima kasih banyak...”
Dia dengan susah payah mengeluarkan
kata-kata itu dari dalam dadanya,
lalu menundukkan kepala dan membiarkan air matanya mengalir.
Dia
mendengar suara kursi yang diseret dari depan, dan merasakan
suhu tubuh majikannya yang tercinta
di punggung dan kepalanya.
(Ah…)
Sebenarnya,
dia sudah merasa cemas sejak lama.
Ketika
berhadapan dengan Nonoa di
tangga darurat, Ayano secara naluriah merasakan “orang ini sedang merencanakan
sesuatu,”
dan sengaja melompat ke dalam jebakannya. Namun, apa yang ingin dilakukan
Nonoa, apakah itu berbahaya bagi
kedua majikannya? Karena Ayano
tidak memiliki kepastian apapun dan terus berpikir, “Apa tindakan ini benar-benar akan
menjadi pengkhianatan terhadap majikan?” “Jika aku mengaku melakukan hal
yang menipu seperti ini, apa majikanku
akan kecewa?” Semua
kekhawatiran itu terus berputar-putar
di dalam kepalanya.
Namun…
sekarang, semua ketidakpastian itu telah menghilang.
Perasaan lega itu, ditambah dengan keyakinan bahwa dia dapat membantu kedua
majikannya, membuat semua kecemasan dan ketakutan yang terakumulasi mengalir
keluar dalam bentuk air mata.
“Syukurlah…
saya merasa lega sekali…”
Merasakan
pelukan lembut Yuki dan usapan lembut tangan Masachika di punggungnya, Ayano
terus menangis.
Keheningan
menyelimutinya untuk beberapa saat... dan tepat ketika air matanya akhirnya
berhenti dan dirinya mulai
tenang, rasa malu yang hebat menyelimuti seluruh tubuhnya.
“Ah,
um… mou…”
Dengan
suara yang nyaris tak terdengar, Ayano sedikit menggoyangkan tubuhnya. Dua
majikannya yang memahami isyarat tersebut menjauhkan tubuh mereka dan kembali
ke tempat duduk masing-masing. Meskipun merasakan sedikit kesepian, Ayano
berdiri dari kursinya dengan suara berderak.
“U-Umm,
maaf… saya mau pergi
mencuci wajah dulu…!”
Setelah
buru-buru menundukkan kepala dan mengucapkan itu, Ayano segera pergi ke kamar
mandi untuk mencuci wajahnya. Dia
juga merapikan rambutnya dan menenangkan perasaannya sebelum kembali ke ruang
tamu.
“Maaf
sudah menunggu…”
Ketika
kembali ke tempat duduknya, dia masih merasa malu dan tidak
bisa menatap kedua majikannya. Yuki dengan wajah lembut bertanya kepada Ayano.
“Jadi…
Ayano, apa yang kamu inginkan?”
“Eh…?”
“Yah,
setelah kejadian ini, aku juga sedikit merenung… Kudengar
kamu memberitahu Nonoa-san kalau kamu ingin aku dan Onii-chan bisa akur
kembali,
dan aku yakin itu perasaan yang cukup
tulus… Mungkin Ayano sebenarnya tidak ingin bersaing
dengan Onii-chan dalam pemilihan OSIS? Jika dipikir-pikir, aku tidak
pernah benar-benar menanyakan apa yang Ayano inginkan.”
Sambil
menggaruk-garuk
kepalanya dan tersenyum kecut, Yuki sekali lagi bertanya kepada Ayano.
“Jadi,
aku akan bertanya sekali
lagi, oke? Apa yang kamu inginkan, Ayano? Apa yang kamu inginkan dari kami?”
Jika
dilihat-lihat, Masachika juga menunggu jawaban Ayano dengan
wajah lembut…
(Aku…)
Ayano
hampir saja mengungkapkan keinginan yang tersembunyi di dalam hatinya… tapi dia berhasil menahannya. Keinginan
yang dipenuhi egois seperti itu tidak boleh diucapkan oleh seorang pelayan.
Jadi… sebagai gantinya, Ayano mengungkapkan keinginan yang lain.
“Saya
ingin… bermain kartu.”
“…
Bermain kartu?”
“Ya, sama seperti dulu… saya ingin kita bertiga bermain kartu.”
Usai mendengar
jawaban Ayano, Yuki dan Masachika saling memandang dan tersenyum sedikit
bingung.
Ayano tahu.
Dia memahami bahwa jawaban itu bukanlah yang diinginkan oleh
majikannya. Meskipun begitu, Ayano sengaja
memberikan jawaban yang menyimpang.
“…
Kalau begitu, ayo kita bermain kartu seperti yang
kamu inginkan~. Hari ini adalah hari di mana kita melakukan semua yang diinginkan Ayano.”
“Benar.
Kira-kira kartunya di mana ya…?"
Mungkin…
tidak, pasti, kedua majikannya menyadari bahwa Ayano sedang mengalihkan
perhatian. Mereka menyadarinya, tetapi tetap berpura-pura tidak tahu dan
mengikuti.
(Maaf…
terima kasih)
Saat Ayano dalam hati meminta maaf kepada
majikannya yang begitu baik, Masachika
bersuara dari kamarnya.
“Ah,
aku menemukannya. Ini kartu yang pernah kugunakan untuk berlatih sulap
curang…”
“Oh,
kalau begitu ayo kita
gunakan itu. Tidak ada trik di dalamnya,
‘kan?”
"Tidak
ada, tidak ada. Hmm, jika kita bermain dengan tiga orang… untuk sementara, bagaimana kalau kita bermain poker saja?”
“Ya,
tidak masalah.”
“Kalau
begitu, kita butuh chip… ya sudah, kita pakai cokelat saja.”
Kemudian,
sebagai pengganti chip, masing-masing mendapatkan sepuluh cokelat, dan
Masachika mulai mengocok kartu.
“Aturannya…
Bandar bergantian membagikan kartu, dan kalian bermain dengan lima kartu.
Kalian bisa mengganti kartu sekali, lalu mulai
bertaruh...… aturan yang
begitu sudah oke?”
“Ya.”
“Tunggu sebentar.”
Yuki dengan
cepat mengangkat tangan, lalu melihat
Masachika dan Ayano seraya
berkata.
“Kalau
kita bermain seperti biasa, Ayano yang kurang pandai dalam strategi akan sangat
dirugikan. Bagaimana kalau kita menambahkan satu aturan?”
“Baiklah,
tapi… secara spesifik, apa yang ingin kamu
tambahkan?”
“Hehe,
sebenarnya aku baru saja menemukan aplikasi yang menarik!”
Yuki dengan
senang hati mengoperasikan ponselnya seolah-olah berkata, ‘Terima kasih sudah bertanya’, dan menunjukkan layer ponselnya kepada Masachika dan Ayano.
“Aplikasi
pendeteksi kebohongan! Mari kita gunakan ini saat bermain!”
“…
Memangnya itu benar-benar membantu
dalam strategi?”
“Sudah,
sudah, tenang saja dulu,
pertama-tama, kalian juga harus mengunduh aplikasi ini.”
Menuruti
perkataannya, Masachika dan Ayano mengunduh aplikasi tersebut dan
menyelesaikan pengaturan awal yang ringan. Ternyata aplikasi ini bekerja dengan
cara meletakkan jari telunjuk di layar sambil berbicara, dan aplikasi ini akan
menentukan apakah pernyataan itu bohong atau benar berdasarkan detak jantung
dan suara. Semakin besar kemungkinan kebohongan, semakin jauh jarum di layar
bergerak ke kanan.
“Setiap
pemain bisa bertanya kepada satu pemain lain secara bergiliran setelah
melakukan perubahan, sebelum masuk ke tahap taruhan… dan pemain yang ditanya
harus menjawab menggunakan aplikasi ini. Bagaimana? Menarik, bukan?”
“…
Begitu, ya?”
Meskipun
Ayano mengangguk, dia masih
belum sepenuhnya memahami aturannya. Sebenarnya, dia
mengerti aturannya, tetapi dia
tidak bisa membayangkan strategi apa yang akan muncul dari situasi ini. Namun,
Masachika tampaknya sudah bisa membaca situasi ini dengan baik dan mengangguk
perlahan dengan ekspresi berpikir.
“Baiklah.
Mari kita lakukan itu.”
“Oke.
Jadi, kita akan bermain dua putaran. Mari kita coba enam ronde!”
Dengan demikian, ketiga orang itu meletakkan
ponsel mereka di meja dan permainan pun
dimulai.
Di
putaran pertama, kartu yang dipegang
Ayano setelah beberapa perubahan
adalah sepasang kartu As.
Segera, waktu pertanyaan sebagai aturan tambahan dimulai, dan Masachika
bertanya kepada Yuki.
“Yuki,
apa kartumu lebih kuat dari dua pasang?”
“Ya.”
Yuki
menjawab dengan senyuman tenang. Jarum di tangannya bergerak… dari seratus,
bergerak hingga sekitar tiga puluh sebelum kembali.
(Umm…?
Tadi itu… kebohongan? Atau
benar?)
Saat
Ayano bingung dengan jawaban Yuki yang kelihatan
asli, Yuki kemudian menatap Ayano dan bertanya.
“Apa kartu Ayano lebih kuat dari dua
pasang?”
“Eh,
ah, um…”
Dalam
sekejap, Ayano berusaha keras berpikir──setidaknya, dia mengerti bahwa jika dia menjawab jujur “tidak,” maka dia hampir pasti kalah.
“Ya.”
Jarum-jarum
itu berputar di tangannya saat dia dengan cepat menjawab.
“Wah,
kamu jujur sekali ya.”
“Ayano, kamu kentara banget… padahal wajahmu tidak menunjukkan ekspresi
apapun.”
Melihat
ekspresi campuran antara keheranan dan senyuman dari kedua majikannya, Ayano sedikit
merapatkan bahunya.
“Baiklah,
sekarang giliran Ayano, silakan bertanya.”
“Ah,
ya…”
Dengan
dorongan dari Yuki, Ayano mencoba mengatur kembali situasi saat ini dan
memikirkan pertanyaan apa yang seharusnya dia ajukan.
(Umm,
kemungkinan kartu
Yuki-sama lebih dari dua pasang… Dan jika Yuki-sama bertanya apa kartu yang kupegang lebih
kuat dari dua pasang, apa itu berarti Masachika-sama memiliki dua pasang? Apa
Yuki-sama juga membaca hal yang sama dan berpikir bahwa Masachika-sama bisa
menang sehingga dia bertanya kepadaku…?
Ehm, eh…)
Namun,
saat dia mencoba memutar otaknya,
kepalanya menjadi semakin bingung, ditambah lagi dengan rasa cemas karena
menunggu kedua majikannya, yang membuat pikirannya semakin kacau…
“Y-Yuki-sama,
kartu apa yang Anda pegang!?”
Pada akhirnya,
pertanyaan yang terlalu langsung itu meluncur keluar. Mendengar itu, Yuki
sedikit terkejut dan kemudian tersenyum saat menjawab.
“Royal
straight flush.”
Jarum di
tangannya bergerak cepat hingga sekitar sembilan puluh. Pada saat yang sama,
Ayano menyadari kesalahannya.
“Ah…”
Kenapa
dia tidak bertanya dengan cara yang sama seperti majikannya? Dengan pertanyaan
yang sangat spesifik seperti itu, jelas bahwa jawabannya akan dianggap bohong
dan diabaikan.
“Ah,
ya sudah, karena ini baru putaran
pertama. Jadi jangan terlalu dipikirkan, Ayano.”
Masachika
mencoba menghiburnya, tetapi Ayano merasa telah membuang kesempatan dan merasa
malu, sehingga dia merapatkan bahunya.
“Baiklah,
mari kita lanjutkan pada taruhan.”
Namun,
kata-kata Masachika membuatnya menyadari bahwa dia tidak dalam posisi untuk
melakukan itu, dan dia mempertimbangkan kembali maksud pertanyaan mereka.
(Sepertinya,
Masachika-sama memiliki dua pasang, dan Yuki-sama memiliki tangan yang lebih
baik… itu mungkin sangat mungkin, bukan? Jika jarum bergerak hingga sembilan
puluh untuk kebohongan yang jelas sebelumnya, maka jawaban Masachika-sama
kemungkinan besar benar…)
Bagaimanapun juga, kemungkinan untuk menang dengan
sepasang kartu As sangat
kecil.
“Kalau
begitu, aku yang mulai duluan.”
“Raise.”
Masachika
meminta taruhan minimum, dan Yuki segera menambahkan dua cokelat. Melihat itu,
Ayano yakin dengan dugaan sebelumnya dan meletakkan kartu di atas meja.
“Saya
fold.”
“Call.”
“!?”
Ayano
terkejut dengan pernyataan
tak terduga dari Masachika.
(Masachika-sama
ikut bertaruh…!? Jangan-jangan pertanyaan itu hanya jebakan, dan ia sebenarnya
memiliki kartu
yang lebih baik dari dua pasang…?)
Saat
Ayano masih kebingungan, kedua tangan mereka dibuka…
Masachika, sepasang kartu jack.
Yuki, zonk.
“…??”
Dengan
perkembangan yang sepenuhnya tidak terduga, Ayano berkedip berkali-kali. Namun,
entah kenapa, kedua kakak beradik
itu saling bertukar senyuman percaya diri.
“Kamu sudah menipu pendeteksi
kebohongan dengan cepat, ya.”
“Hehe,
teknik selevel ini justru hal
yang biasa bagi seorang otaku, kan? Malahan
salah Onii-chan sendiri yang berusaha mengelabui dengan
pertanyaan jebakan yang konyol.”
“…”
Kelihatannya
kedua orang ini sedang melakukan strategi di level yang tidak bisa dijangkau
oleh Ayano. Selanjutnya,
Ayano tidak bisa bersaing dengan kedua orang yang dengan mahir menipu
pendeteksi kebohongan, sementara dia terus bereaksi jujur.
Untungnya,
dia hanya menang sekali saat mendapatkan full house, dan sisanya hanya
terus mengeluarkan cokelat, hingga pertanyaan di putaran terakhir keenam.
“Hmm,
bagaimana ya~.
Baiklah, Ayano.”
Setelah
Ayano dan Masachika selesai bertanya, kini giliran Yuki. Saat Yuki menunjuk,
Ayano mengarahkan pandangannya, dan Yuki dengan senyum lembut berkata.
“Aku
akan mengulangi pertanyaan tadi… Ayano, apa yang kamu inginkan?”
Mendengar
kata-kata yang tak terduga itu, pikirannya terhenti.
“Apa
yang kamu inginkan dari kami?”
Pertanyaan
yang penuh perhatian dari majikannya.
Di depannya, dua majikan menunggu jawaban dengan tatapan lembut.
“──”
Dia tidak
menginginkan apapun dari keduanya. Ayano hampir saja mengucapkan itu… tetapi
pendeteksi kebohongan di tangannya menarik perhatiannya.
(Tapi…
aku tidak boleh mengatakannya.)
Itulah
harga diri sebagai seorang pelayan. Dia tidak boleh memiliki keinginan yang
tidak tahu diri terhadap majikannya. Sebagai pelayan, dia tidak boleh bertindak
seolah-olah bisa memberi perintah kepada majikannya.
(Jika
aku mengatakannya──)
Namun,
kebohongan tidak diperbolehkan di sini.
Terhadap majikan yang bertanya lagi, tidak mungkin untuk berpura-pura…
(Aku harus──)
Dua kali,
tiga kali, kata-kata berputar di dalam mulutnya…
“Saya…”
Di tengah-tengah berbagai pikiran yang bercampur
aduk, Ayano menyadari bahwa bibirnya secara otomatis mulai mengucapkan
kata-kata.
“Saya
ingin… kita bertiga bisa tetap bersama selamanya.”
Begitu dia mengatakannya,
kata-kata lain mulai mengalir keluar.
“Seperti
ini, selamanya… saya ingin
kita bertiga akur dan bersama. Selamanya, selamanya…!”
Dia
menggenggam erat ponselnya. Menunduk dalam-dalam, bibirnya terkatup rapat.
(Aku
sudah mengatakannya…!)
Bersamaan
dengan rasa malu, penyesalan perlahan muncul di dalam dirinya... dan kemudian
sebuah tangan diletakkan di atas kepalanya yang tertunduk.
“Terima
kasih, kamu sudah mengatakannya dengan baik.”
Ayano
dengan malu-malu mendongak mendengar suara lembut Masachika. Dan kemudian, dia
disambut oleh tatapan kakak beradik
yang tidak berubah… tidak, bahkan lebih lembut dari sebelumnya.
“Ya,
terima kasih atas kejujuranmu. Aku
mengerti perasaanmu, Ayano.”
Yuki
berkata demikian, dan dengan lembut membungkus tangan Ayano yang menggenggam
ponsel dengan kedua tangannya, menatap langsung ke mata Ayano.
“Aku
berjanji. Aku dan Onii-chan
akan selalu akur, dan Ayano juga akan selalu bersama kami.”
“Ya…
apapun yang terjadi di masa depan, kita adalah teman masa kecil… tidak....”
Di situ,
Masachika sedikit ragu sebelum tersenyum lembut dan melanjutkan.
“Aku…
menganggap Ayano seperti adikku. Kita adalah saudara… jadi kita akan selalu
akur dan selalu bersama.”
Perkataan
keduanya membuat sesuatu yang hangat muncul di dalam hati Ayano. Dia menutup
matanya sejenak, merasakan perasaan itu… lalu perlahan membuka matanya dan
tersenyum kecil.
“Ya.”
“Mm.”
“Ya.”
Mereka
bertiga saling bertukar
pandang dan saling tersenyum
selama beberapa detik… kemudian Yuki menarik diri dan berseru untuk mengalihkan
suasana.
“Baiklah!
Sekarang, waktunya
pertarungan terakhir! Tidak ada gunanya bertaruh sedikit-sedikit lagi! Mari
kita all-in!”
“Hei,
apa kamu benar-benar akan mempertaruhkan semuanya? Apa gunanya semua
pertarungan sebelumnya…?”
Yuki
mengumumkan dengan nada ceria dan
mendorong semua cokelat di depannya, sementara Masachika juga tersenyum kecut
dan mengeluarkan semua cokelat yang dimilikinya. Ayano pun mengeluarkan cokelat
yang ada di tangannya, yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan keduanya,
sehingga taruhan pun lengkap.
“Baiklah…
mari kita buka kartunya!”
Sejalan
dengan suara Yuki, mereka bertiga
membuka masing-masing kattu…
“Apaaa, Straight!?”
“Oi, oi, seriusan?”
Yuki
berpura-pura terkejut sambil memegang kepalanya, sementara Masachika hanya
tersenyum kecut. Ayano merasa malu dan merapatkan bahunya. Namun, Yuki segera
tersenyum lebar dan memindahkan semua cokelat ke depan Ayano, lalu bertepuk
tangan.
“Selamat,
Ayano. Seperti yang diharapkan, kamu adalah bintang hari ini.”
“Selamat.”
“Terima
kasih…”
Saat ia
semakin menundukkan bahunya dan tersenyum lembut mendengar tepuk tangan dari
mereka berdua, Masachika kemudian menjentikkan jarinya dan berkata,
“Jadi,
apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Apa kita akan bermain game lain? Ini
adalah hak istimewa pemenang. Kamu bisa memilih apa saja.”
“Ehm,
baiklah… bagaimana kalau kita main game of life…?”
“Game of
life, ya… Yuki, apa kamu memilikinya?”
“Ah,
entahlah~. Tapi jika perlu, ada beberapa permainan video yang mirip…”
Saat
mereka berdua mengatakan itu dan menuju kamar Yuki, Ayano bangkit dari kursinya.
Namun,
“Ah,
Ayano tidak perlu ikutan.
Kami akan mencarinya di sini.”
“Iya,
iya, oh, maaf, bisa tolong rapikan
kartu-kartu ini?”
“Ah…
baiklah.”
Mendengar
kata-kata mereka, Ayano kembali duduk di kursi… dan tiba-tiba, matanya tertuju
pada ponselnya yang masih menjalankan aplikasi. Seketika,
'Kamu
ingin menghabiskan hari-hari yang bahagia bersama kakak beradik itu
lagi. Kamu tidak menginginkan orang lain untuk ikut campur.'
Kata-kata
yang pernah diucapkan Nonoa
terlintas di benaknya… Ayano melirik ke arah pintu yang menghubungkannya dengan
koridor, lalu meletakkan jari telunjuknya di layar ponsel dan berbisik pelan.
“Aku…
selama kami bertiga akur, itu sudah
cukup. Meskipun, aku bukan lagi
menjadi yang kedua bagi kalian berdua…”
Setelah
itu, dia menatap jarum di layar dengan
seksama…
“Hmm?
Ayano, kamu tadi bilang sesuatu?”
“Tidak,
bukan apa-apa.”
Usai
menanggapi panggilan Yuki seperti itu, Ayano perlahan
mematikan layar ponselnya.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya

