Chapter 3 — Perasaan Awal dan Pertama Kali
Sepulang sekolah, aku melangkah keluar
dari gedung Akademi Sihir Kerajaan dengan langkah berat.
...Aku
memang menyukai Fine. Sebagai manusia, sebagai teman, dan juga sebagai
lawan jenis. Itulah sebabnya, aku
ingin menjalin hubungan sebagai pasangan jika memungkinkan.
Namun di
saat yang sama, aku juga merasa takut bahwa jika aku mengakui perasaanku dan Fine menolak,
hubungan kami yang sekarang akan hancur.
Jika itu
terjadi, kehidupanku pasti akan hancur.
Mungkin
akan berbeda ceritanya jika aku hidup sendirian sepanjang hidupku, tetapi
sekarang setelah aku tinggal bersama Fine dan merasakan kehangatan manusia
selama hampir setengah tahun, aku tidak akan sanggup menanggungnya.
Itulah sebabnya
aku ingin mengungkapkan perasaan dengan cara yang sempurna dan memastikan
keberhasilannya. Namun, aku sama sekali tidak bisa memikirkan kata-kata untuk
pengakuan yang pas, dan aku
merasa sangat putus asa.
Bagaimanapun
juga, pengetahuanku tentang cinta hanya terbatas pada hal-hal yang berkaitan
dengan 'Kizuyoru', dan pengakuan dalam 'Kizuyoru' juga dilakukan
oleh Fine yang dikendalikan oleh pemain.
Dan tentu
saja, mana mungkin ada buku pelajaran yang
ditulis tentang rahasia cinta yang pasti berhasil di dunia ini.
(Seriusan, aku benar-benar punya
sifat yang merepotkan...)
Sambil
merasa kesal dengan rasa takutku sendiri,
aku menuju gerbang depan yang biasanya menjadi tempat pertemuanku dengan Fine saat pulang sekolah,
ketika tiba-tiba ada seseorang yang menarik ujung bajuku dari belakang.
Aku tidak
merasakan permusuhan atau niat membunuh dari tangan kecilnya. Sebaliknya, aku
merasakan ketegangan dan ketakutan.
“Maaf,
tiba-tiba mengganggu. Apa kamu punya rencana setelah ini?”
Lalu dia bertanya,
dengan suara yang sama yang biasa kudengar setiap hari, tapi nada suaranya terdengar cemas
dari biasanya.
“Umm, Fine-san?”
“Ma-Maafkan
aku. Saat ini aku sedang menunjukkan wajah yang tidak bisa
ditunjukkan kepada Ash-san, jadi bisakah kamu tidak menoleh?”
“Ah, yah, baiklah. Jadi, kamu bertanya apa aku punya rencana?
Seharusnya tidak ada rencana hari ini.”
“Be-Begitu ya.”
Apa
maksudnya dengan wajah yang tidak bisa ditunjukkan?
Yah, aku
juga merasakan wajahku memanas saat menyadari keberadaan Fine.
Saat aku
berpikir seperti itu dan memberikan jawaban, aku mendengar suara menarik
napas.
“──Ash-san.
Bolehkah aku meminta waktumu
sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan
padamu.”
Suara Fine
terdengar sangat serius.
...Apa
yang ingin dia bicarakan pasti sangat penting dan akan mempengaruhi kehidupannya ke depan. Dengan perasaan
itu, aku meletakkan tangan di dadaku dan berusaha menenangkan diri sebelum
membuka mulut.
“Ah,
tidak masalah. Aku juga punya hal penting yang ingin aku sampaikan padamu, Fine.”
“Hal
penting...”
“Ah,
kalau bisa, aku ingin berbicara di tempat di mana kita
berduaan. Bagaimana menurutmu?”
“Se-Sepertinya itu ide yang bagus. Ah,
kalau begitu, aku punya tempat rahasia! Bagaimana kalau kita berbicara di sana...?”
Tempat
rahasia yang dijamin oleh Fine, ya? Jika dia berkata begitu, aku akan
menyampaikan keputusanku di sana.
“Baiklah.
Jadi, apa kamu bisa tunjukkan jalannya?”
“I-Iya.
Tapi tempatnya di dalam akademi...”
...Hmm?
Apa ada tempat seperti itu di akademi pada jam segini?
Sambil
merasa keheranan, aku mengikuti Fine yang kembali
ke jalan yang kami lalui dengan wajah tertunduk.
※※※※
“Si-Silakan.”
“Permisi...”
Beberapa
menit kemudian, aku diarahkan ke salah satu kamar di asrama wanita di dalam
kompleks Akademi Sihir Kerajaan, tempat tinggal para siswi sleeve-holder.
Baru
pertama kalinya aku masuk ke asrama ini sejak sebelumnya mengunjungi kamar Nona Sarasa untuk berkonsultasi
tentang Agnes, tetapi kali ini aku merasa aneh dan tidak nyaman.
Siswa di
Akademi Sihir Kerajaan, baik laki-laki maupun perempuan, diperbolehkan masuk ke
asrama yang berbeda dengan bebas.
Sebenarnya,
karena aku sudah pernah ke sini sebelumnya, seharusnya tidak ada alasan untuk
merasa tegang saat masuk ke asrama wanita...
(Tidak kusangka kalau aku
dibawa ke sini...)
Tempat
yang dia tunjukkan rupanya kamar
yang tertempel nama Agnes Valen, dan ruangan itu cukup luas, tetapi hampir
tidak ada perabotan, sehingga terasa sangat tidak memiliki kehidupan.
Ini
adalah kamar yang diberikan oleh Akademi Sihir Kerajaan kepada Fine di awal
permainan.
“Ma-Maaf. Aku tidak bisa menyajikan
teh.”
“Tidak
apa-apa. Lalu, apa yang harus kulakukan?”
“Ah,
tolong tunggu sebentar di sana!”
Setelah aku masuk ke dalam ruang tamu dan bertanya kepada Fine,
dia menuju jendela besar dan menutup tirai, salah satu dari sedikit perabotan
yang tersisa di ruangan ini, agar tidak ada yang bisa melihat ke dalam.
Karena
sudah mulai gelap di luar, aku mengira dia akan menyalakan lampu, tetapi Fine
melewati saklar lampu sihir yang terpasang di dinding dan datang menghampiriku.
“...”
Fine
berdiri di depanku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Satu-satunya
cahaya di ruangan itu adalah cahaya senja yang menyaring melalui celah-celah
tirai sehingga aku tidak bisa melihat
ekspresinya, tapi
aku bisa merasakan bahwa Fine sangat tegang dari napasnya yang dekat.
... Kami berdua tetap diam di ruangan yang
remang-remang itu, dan suasana canggung menyelimuti kami.
“──Hei.”
“I-Iya!?”
Karena aku
tidak tahan lagi, jadi
mencoba berbicara dengan hati-hati, dan Fine terkejut dengan suaraku.
“Ma-Maaf. Aku tidak bermaksud
mengejutkanmu.”
“Ti-Tidak,
akulah yang harusnya minta maaf karena panik. Jadi,
ada apa?”
“Ah.
Bolehkah aku mengungkapkan hal penting yang tadi pernah
kusebutkan terlebih dahulu?”
“...Baiklah.”
Usai mendengar
kata-kata Fine, aku menarik napas dalam-dalam.
Baiklah,
ayo. Jangan bertele-tele. Sampaikan saja perasaanmu yang sebenarnya.
“Aku mencintaimu. Aku ingin kita berpacaran
dengan niatan untuk
menikah.”
“…………...Eh?”
Seolah
terkejut, dia hanya bisa mengucapkan satu kata itu.
Setelah
beberapa detik keheningan, Fine bertanya dengan suara kecil yang bergetar, “Apa
kamu serius...?”
“Aku
tidak bercanda. Aku benar-benar menyukaimu, Fine, dan aku ingin bersamamu di
masa depan.”
“...Ak-Aku ini cuma rakyat biasa, loh?”
“Ya.”
“Ba-Baru-baru ini ada banyak rumor
buruk tentangku sebagai penyihir jahat dan
sebagainya, ‘kan?
Apa kamu benar-benar ingin bersamaku...?”
“Ya. Aku
ingin bersamamu selamanya, orang baik yang mengatakan akan mendukungku. Itulah
yang kurasakan. ...Bolehkah aku mendengar jawabanmu?”
Tidak ada gunanya memperindah kalimatku. Aku
hanya ingin menyampaikan perasaanku yang sebenarnya kepada Fine.
Saat aku
bertanya sambil membayangkan senyum lembutnya yang pernah mengatakan akan
mendukungku pada hari itu──.
“Ini....ini tidak adil...!”
Fine
mendekat dan memukul dadaku dengan lembut sambil berkata dengan suara yang tertekan.
“Fi-Fine-san...?”
“Aku
ingin mengungkapkan perasaanku, tapi Ash-san lebih dulu melakukannya...! Aku
juga ingin bilang kalau aku mencintaimu...!?”
“Itu
tidak baik── apa yang kamu katakan sekarang?”
Dia
mengatakannya dengan cara yang begitu alami sampai-sampai
aku hampir melewatkannya.
“Aku juga
menyukaimu. Aku ingin bersamamu. Aku sangat
mencintaimu...!”
Saat Fine
mengatakannya, dia menatapku dengan penuh harap.
Ketika jarak kami begitu dekat, aku
bisa melihat pipinya yang memerah dan matanya yang berwarna hijau zamrud yang
basah.
“...Jadi,
inilah hukumanmu karena
telah merebut kesempatanku untuk mengungkapkan perasaan!”
Dia
meletakkan kedua tangannya di pipiku, menarik wajahku mendekat, dan menciumku bibirku seolah-olah ingin menutup mulutku.
Sejenak,
aku masih belum memahami apa yang sudah dia lakukan,
tetapi rasa manis itu membuat tubuhku bergerak sendiri, ingin memeluknya. Fine pun merangkul punggungku dan memelukku dengan erat.
Setelah
saling berpelukan dan bertukar ciuman penuh
gairah, Fine menunjukkan wajah bangga dengan pipi yang
merah.
“...Akulah
yang memberimu ciuman pertama sebagai sepasang kekasih. Ingatlah ini baik-baik,
ya?”
“...Tentu
saja, aku tidak akan melupakan ini.”
Melihatnya,
aku berjanji dalam hati untuk tidak membuatnya merasa kesepian seperti saat pertama kali kami
bertemu di hari hujan itu, dan kami saling berciuman lagi untuk menegaskan
perasaan kami.
※※※※
(Sudut
Pandang Agnes Valen)
“...Aku
mendengar semuanya, Fine-chan.”
Aku,
Agnes Valen, merasa wajahku memerah karena rasa malu akibat acara besar yang
tiba-tiba dimulai di ruangan sebelah.
Memang akulah yang menyuruhnya untuk segera mengungkapkan
perasaannya, tetapi ini di luar
dugaanku...
Aku tidak
tahu apa ini bisa disebut berkah atau tidak, aku satu-satunya
yang mendengarkan interaksi antara Fine-chan
dan Ash-san yang berlangsung di kamarnya Fine-cham.
Aku ingin
menegaskan bahwa aku tidak sedang menguping dengan menempelkan telinga di
dinding atau hal semacam itu.
Aku hanya
berbaring di tempat tidurku setelah
percakapan yang pahit nan manis
dengan Fine-chan, namun
aku terpaksa mendengarkan cerita yang begitu manis dan pahit seperti
ini...!
‘Kamu seharusnya
berterima kasih padaku. Kamu
pasti penasaran tentang apa yang terjadi pada mereka, ‘kan?’
“A-Aldy...!”
Ya, semua
ini adalah akibat dari pelayanku, Aldy.
Kupikir
dirinya masih tertidur karena terlalu
banyak menggunakan kekuatannya, tetapi ia tiba-tiba terbangun dan menggunakan
sihir yang mempengaruhi pikiran untuk menunjukkan kepadaku apa yang terjadi di
kamar sebelah.
(Maksudku, mereka berdua
benar-benar tidak berpacaran, ya?)
Setelah memamerkan kemesraan mereka di depan
umum sebanyak itu, bagaimana mungkin mereka tidak berpacaran?
Atau
lebih tepatnya, apa mereka sudah menikah...? Ah!?
‘Oh, ini
sudah melewati manis dan suasanya menjadi
panas.’
Me-Mereka berciuman!? Dan sekarang,
ciuman pertama sebagai pasangan!?
Eh,
tunggu sebentar!? Ash-san dan Fine-chan, jangan-jangan, mereka sudah sampai ke
tahap itu...!?
(K-Kenapa
aku harus mendengar hal seperti ini...? Tapi aku tidak bisa pergi ke kamar dan menyuruh mereka berhenti...!)
Tak lama
kemudian, Fine-chan dan yang lainnya keluar dari kamar, tetapi aku terus
teringat pada pemandangan yang ditunjukkan Aldy
padaku dan itu membuatku merintih kesakitan, jadi aku
akhirnya menghabiskan malam tanpa bisa tidur nyenyak, terus-menerus tertidur
dan terbangun..
※※※※
(Aku ngantuk...)
Keesokan
paginya, aku menuju tempat duduk di kelasku
sambil disiksa rasa kantuk dan sakit kepala.
Aku tidak
menyangka bahwa aku akan merasakan hal seperti ini... Sepertinya Aldy akan menggodaku dengan topik ini
untuk sementara waktu.
Dan Fine-chan,
aku tak pernah menyangka dia bisa
melakukan hal semacam itu. Biasanya dia adalah anak yang lembut, tetapi mungkin
dia sebenarnya... ? Jika dipikir-pikir, dia juga memiliki sisi yang cukup
berani.
“──Agnes-san,
apa kamu baik-baik saja?”
“Hyah!?”
Saat aku
memikirkan hal itu, tiba-tiba ada seseorang
yang memanggilku, dan aku terkejut
sampai suaraku keluar tanpa sengaja. Ketika aku menoleh ke arah suara itu, aku
melihat Fine-chan yang matanya membulat.
“Ma-Maaf. Aku tidak bermaksud
mengejutkanmu...”
Fine-chan
meminta maaf dengan tampak menyesal setelah melihat reaksiku.
“Ah,
tidak, aku hanya sedang melamun, jadi Fine-chan sama
sekali tidak salah! Aku yang seharusnya minta maaf karena
mengejutkanmu! Jadi, tolong angkat kepalamu!”
Saat aku
berkata dengan panik, Fine-chan mengangkat kepalanya dengan bingung.
“Y-Ya.”
“Umm, jadi hari ini ada keperluan apa?”
“...Ah,
benar. Agnes-san, kamu terlihat sempoyongan
saat berjalan di koridor tadi. Apa kamu baik-baik saja?”
“Ah... ak-aku hanya begadang sedikit. Tapi
itu saja, jadi kamu tidak
perlu khawatir!”
Aku tidak
bisa mengatakan bahwa aku mendengar semua hal tentang Ash-san dan Fine-san
melalui dinding. Jadi,
sambil berkeringat dingin, aku berusaha meyakinkan bahwa aku baik-baik saja
dengan cepat.
“Tapi ada
kantung di bawah matamu, dan wajahmu juga merah. Mungkin kamu terkena flu, jadi
aku akan menggunakan sihir penyembuhan, ya?”
Namun, Fine-chan
berkata demikian sambil menggenggam tanganku dan mendekatkan wajahnya.
Fine-chan
yang dekat denganku memiliki aroma yang menyenangkan, dan berbeda dari kemarin,
dia terlihat lebih menggoda...
“Agnes-san...?”
“...Fine-chan,
tolong mundur sebentar. Jika terus begini, aku mungkin akan melakukan
kesalahan.”
Aku
berusaha keras untuk menahan akal sehatku dan meminta Fine-chan untuk
menjauh.
“Ke-Kesalahan...?”
...Aduh,
hampir saja. Jika aku terus seperti itu, aku tidak akan bisa menahan diri dan
bisa melakukan hal yang sangat tidak pantas.
“Eh,
Agnes-san, apa kamu beneran
baik-baik saja?”
“Ya, aku
baik-baik saja! ...Lebih penting lagi, Fine-chan, apa yang kemarin berjalan
dengan baik?”
“Ah, eh,
tentang itu... terima kasih, aku bisa mengatasinya...”
Aku
berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan dan bertanya tentang pengakuannya kepada Ash-san yang sudah aku
ketahui hasilnya. Fine-chan
tersenyum malu-malu dan terlihat sangat bahagia saat menjawab.
...Ah,
aku benar-benar, benar-benar merasa iri pada Ash-san.
Dia bisa
bersatu dengan Fine-chan yang begitu cantik. Dan yang terpenting, aku merasa
cemburu pada orang yang sangat berjasa itu, sehingga aku tidak bisa sepenuh
hati berbahagia atas kebahagiaan Fine-chan.
Karena
itulah, aku berusaha mengubur emosiku dan memberikan senyum
terbaikku sambil berkata,
“Selamat,
Fine-chan.”
Ya,
inilah akhirnya. Aku
berharap yang terbaik untuk kebahagiaan Fine-chan dan bersiap untuk...
“Agnes-san,
maukah kamu pergi bermain denganku
saat sepulang sekolah nanti?”
“Eh...?”
“Tentu
saja, jika kamu sudah ada rencana, jangan ragu
untuk memberitahuku. Aku juga bisa menyesuaikan jadwalku.”
“Tidak,
bukan itu... Kenapa...?”
“...Bagaimana bilangnya, aku
merasa seolah-olah
Agnes-san akan pergi menjauh.”
Fine-chan
tersenyum canggung sambil menggenggam tanganku sekali lagi.
“Walaupun
aku bisa berhasil menjalin hubungan dengan
Ash-san, hubungan kita tidak akan berubah. Tolong ingatlah
itu.”
“Fine-chan...”
...Aku
benar-benar terkejut. Sepertinya Fine-chan sudah mengetahui apa yang ingin aku
lakukan.
“...Terima
kasih, Fine-chan. Kalau begitu, hari ini tolong temani aku sepuasnya.”
“Ya!”
──Senyum Fine-chan
saat itu secerah
matahari, dan aku merasa inilah momen yang tidak akan pernah kulupakan.
※※※※
“Selamat
datang. Onii-chan──Eh, di mana Fine-chan?”
“Dia
pergi bermain dengan teman-temannya.”
“Hee~ jangan-jangan
dia sudah selingkuh darimu,
loh?”
“Tidak, mana mungkin Fine melakukan itu.
Temannya juga seorang gadis.”
“Eh? Tapi
Fine-chan itu cantik, suaranya bagus, kepribadiannya baik, dan sangat menarik.
Mungkin sekarang dia sedang didekati oleh orang yang lebih baik dari Onii-chan? Kyahaha!”
Setelah
pulang dari sekolah, Aisha menyambutku dengan senyuman menggoda saat dia
menyadari Fine tidak ada. Dia
sepertinya jadi lebih percaya diri karena Fine tidak ada...
Yah, kurasa tidak ada gunanya terlalu
memikirkan hal itu, jadi aku akan mengabaikannya.
Sambil
berpikir demikian, aku mengganti pakaian dan menuju ruang
tamu, lalu duduk di sofa untuk beristirahat.
Oh
ya.
“Tadi aku
pergi ke sekolahmu untuk mengajukan permohonan kembali ke sekolah. Sepertinya
kamu bisa kembali mulai minggu depan, jadi persiapkan
dirimu dan belajar selama liburan.”
“...Nee Onii-chan, tolong beri tahu aku di
mana ‘Wilayah Rahasia’ itu. Setelah itu, aku bisa menghasilkan uang untuk biaya
hidupku sendiri.”
Ketika
aku mulai membicarakan sekolah, Aisha langsung menunjukkan
ekspresi tidak senang dan berkata begitu.
“Tidak
boleh. Seperti yang sudah kubilang
sebelumnya, aku tidak akan memberitahumu atau membiarkanmu pergi sampai kamu
bisa mandiri.”
“Aku tahu
semua yang harus dipelajari di sekolah, kok? Selain itu, aku juga tahu cara
menjelajahi dungeon itu. Aku bisa segera mandiri, dan itu akan mengurangi beban
Onii-chan, jadi itu menguntungkan dua
pihak, ;kan?”
“Kalau tidak boleh ya tidak boleh. Jika terjadi sesuatu
padamu, aku akan merasa bersalah kepada Carla-san.
Dan yang terpenting, aku tidak ingin
melihatmu terluka.”
“Hee, jadi kamu mengkhawatirkanku?”
“Bukannya itu sudah jelas? Aku
tidak tahu bagaimana keadaanmu di kehidupan sebelumnya, tetapi kamu adalah
satu-satunya keluarga yang memiliki hubungan darah denganku sekarang.”
Setelah
mengatakan itu, Aisha dengan anehnya memerah, lalu menjawab, “H-Heh. Begitu, ya.”
“Ada apa?
Wajahmu kelihatan merah begitu.”
“Bu-Bukan apa-apa kok! Po-Pokoknya,
Onii-chan berpikir kalau aku harus pergi ke sekolah,
kan?”
“Ya. ‘Wilayah
Rahasia’ bisa diakses setelah kamu lulus dan menjadi dewasa, dan pada saat
itu kamu sudah bisa menghasilkan uang dengan baik. Selain itu, jika kamu berteman dan belajar dengan baik,
kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Jadi, aku tidak akan memberitahumu
di mana ‘Wilayah Rahasia’ itu, dan aku juga tidak akan memberikan izin untuk
masuk.”
“...Iya, iya, aku mengerti Onii-chan tidak akan mengizinkanku. Aku
tidak akan mengatakannya lagi.”
“Jangan
sekali-kali berpikir atau melakukan sesuatu tanpa izin untuk masuk.”
“...Baiklah~.”
Aisha
akhirnya mengalah meskipun dengan nada yang enggan.
Sebenarnya,
aku merasa sangat khawatir, tetapi setidaknya jika dia pergi ke sekolah, dia
tidak akan bisa pergi ke ‘Wilayah Rahasia’ sampai setelah sekolah. Jika
dia mencoba untuk bolos, aku pasti akan mendapatkan kabar darinya, jadi aku
akan mempercayai kata-katanya.
Aku
benar-benar tidak ingin melihat orang-orang yang kukenal terluka lagi.
“Ngomong-ngomong,
Onii-chan, kamu sangat mempercayai Fine-oneechan, ya?”
“Tentu
saja, kami sudah tinggal di bawah atap yang sama selama sekitar enam
bulan.”
“Hmm...
tunggu sebentar. Kalian berdua
sudah menghabiskan waktu bersama selama itu, tapi kalian masih belum
berpacaran?”
“Eh? Ah,
ya.”
“Seriusan? Padahal
kalian berdua sudah begitu mesra, tapi tidak berpacaran?”
Aisha
menunjukkan reaksi tidak percaya.
Me-Memangnya itu sesuatu
yang begitu mengejutkan...?
“Jadi,
selama itu tidak terjadi apa-apa?”
“Y-Ya, bisa dibilang begitu.”
“Hei, Onii-chan,
apa kamu beneran
laki-laki?”
“Ak-Aku laki-laki tulen kok.”
...Namun,
ketika aku mengatakannya sendiri, memang benar bahwa remaja laki-laki dan
perempuan yang tinggal bersama tanpa hubungan romantis pasti akan membuat orang
lain berpikir, “Apa yang sebenarnya terjadi!?”.
Jika
dipikir-pikir...
“Apa saja yang biasa dilakukan sepasang kekasih?”
“Yah,
bukannya mereka akan makan
bersama, pergi kencan, dan menginap di tempat satu sama lain?”
“...Tapi
itu semua sudah biasa kami lakukan.”
Kami
biasanya makan bersama setiap hari meskipun di
sekolah, dan kami juga pergi bersama sepulang
sekolah. Meskipun kami belum pernah tidur di tempat tidur yang sama, kami
tinggal bersama, jadi itu seperti kami selalu menginap.
“Kenapa
kalian tidak berpacaran saja?”
Aisha
bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
erius,
bagaimana mungkin kami begitu mesra tanpa berpacaran?
Namun,
sekarang aku jadi bingung tentang bagaimana seharusnya aku mengembangkan hubunganku dengan Fine. Apa sebaiknya aku tetap bersikap
seperti biasa seperti sebelumnya?
“...”
Saat aku sedang merenungkan bagaimana aku harus mendekati Fine sebagai kekasihnya, tiba-tiba Aisha duduk di
sampingku dan bersandar padaku.
“Usap
kepalaku.”
“Kenapa?”
“Karena
aku sudah mendengarkan keluhanmu, jadi itu sebagai imbalannya.”
Setelah
mengatakan itu, Aisha berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuanku. Jika membahas sesuatu yang sulit dimengerti,
keponakanku yang satu ini juga
sangat sulit dipahami.
Ketika
kami berbicara normal layaknya kami sebaya,
dia tiba-tiba bersikap manja seperti
anak kecil. Dan aku masih belum tahu apa yang membuatnya menganggapku sebagai ‘Onii-chan’-nya.
Tapi entah bagaimana aku bisa merasakan bahwa
bagi Aisha, atau Saya, sosok ‘Onii-chan’
di kehidupan sebelumnya lebih dari sekadar saudara kandung.
Entah
mereka benar-benar bersaudara atau hanya teman dekat yang lebih tua yang
tinggal di lingkungan yang sama, aku sendiri tidak tahu.
“Baiklah,
aku mengerti. Jadi, aku harus mengusap kepalamu, ya?”
“Iya.”
Saat aku
mengelus kepala Aisha, yang menghadap ke perutku seolah menyembunyikan
ekspresinya, aku memutuskan untuk mulai memikirkan rencana untuk jalan-jalan
yang telah kujanjikan dengan Fine tadi malam, atau lebih tepatnya kencan
pertama kami sebagai sepasang kekasih.
“Aku pulang.”
Saat aku
berpikir tentang apa yang harus dilakukan sambil menopang Aisha yang sudah
tertidur, aku mendengar suara Fine
dari pintu masuk.
“Oi, Fine
sudah pulang, loh.”
“Eh, ya.
Aku bangun...”
Ketika
aku menggoyangkan tubuhnya sedikit, Aisha terbangun sambil menggosok matanya.
Namun, dia masih tampak mengantuk dan kata-katanya terdengar canggung dan
kekanak-kanakan.
Yah, bisa
dibilang penampilannya saat ini sesuai dengan usianya.
Pokoknya,
setelah Aisha menjauh, aku akhirnya bisa bangkit dari sofa. Aku meregangkan
tubuhku sebelum menuju pintu untuk menyambut Fine.
“Selamat
datang, Fine. Oh, jadi kamu juga berbelanja?”
“Ya.
Kebetulan aku melewati pasar yang biasanya kukunjungi dalam perjalanan
pulang.”
Saat Fine
berbicara, kedua tangannya membawa tas belanja berat yang berisi sayuran,
buah-buahan, dan bumbu.
“Aku abantu bawa. Ini tinggal dimasukkan
ke dalam kulkas, ‘kan?”
“Ah,
terima kasih.”
Aku
membawa tas belanjaan itu dan
langsung menuju dapur untuk menyimpan barang-barang yang dibeli Fine ke dalam
kulkas. Tak lama
kemudian, Fine muncul dengan pakaian santai berupa hoodie dan rok panjang,
serta mengenakan celemek
di atasnya.
“Aku sudah menyimpan semuanya kecuali
buah-buahan dan makanan kaleng,
tapi apa itu baik-baik saja?”
“Ya, itu
sudah cukup. ...Ash-san, kamu mau
makan malam apa untuk hari ini?”
“Ah,
makan malam ya...”
Semua
masakan Fine rasanya enak.
Selain itu, aku tidak punya makanan yang aku benci dan tidak memiliki alergi,
jadi biasanya aku menyerahkan pilihan padanya.
“...Karena
ada Aisha di sini, mungkin
makanan yang disukai anak-anak lebih baik?”
“Begitu
ya... Kalau begitu, bagaimana dengan omurice?”
“Bagus,
sepertinya dia tidak masalah dengan telur dan susu.”
“Baiklah.
Ash-san lebih suka telur yang matang keras, ‘kan?”
“Ya,
tolong yang itu.”
Sambil berbincang-bincang,
kami mulai mempersiapkan untuk memasak makan malam. Meskipun sebenarnya, tugas yang
kulakukan hanyalah
mengambil bahan makanan.
Oh
ya,
“Fine,
tentang rencana pergi jalan-jalan yang kita bicarakan kemarin, apa ada tempat spesifik yang ingin kamu kunjungi?”
“Tempat
yang ingin aku kunjungi bersama Ash-san... Sebisa mungkin tempat yang tidak
terlalu ramai dan membuat kita merasa nyaman.”
Tempat
yang tidak terlalu berisik dan di mana kita bisa berduaan dan merasa nyaman....
...Kalau
begitu, mungkin tempat itu?
“Fine,
apa kamu punya alergi
atau merasa gatal saat menyentuh hewan?”
“Tidak,
aku tidak mengalami hal seperti itu.”
“Kalau
begitu, bagaimana dengan kafe kucing yang ada di utara alun-alun pusat? Berkat lokasinya, sepertinya tidak akan
ada orang yang berisik di sana.”
“Kafe
kucing...?”
Saat aku
mengusulkan itu, Fine tampak sangat bingung.
“Umm, apa kamu tidak tahu tentang
kafe kucing?”
“Iya. Oh, aku tahu tentang kucing. Ada beberapa kucing yang
tinggal dekat panti asuhan. Hanya saja, aku tidak bisa menghubungkan kucing
dengan kafe...”
Ah,
benar. Fine di dunia ini sudah tertekan sejak kelas
satu karena rencana
licik Elise, jadi dia tidak punya kesempatan untuk
pergi bermain ke kota.
Lagipula,
kafe kucing hanya ada di kota besar yang ramai, jadi Fine yang belum pernah
keluar dari desa Kagato hingga
masuk Akademi Sihir Kerajaan tidak mungkin tahu tentang itu.
“Ah, gampangnya
sih, itu adalah tempat untuk berinteraksi dengan kucing. Semua
kucingnya sudah terbiasa dengan manusia dan tenang, jadi kamu tidak perlu
khawatir digigit atau dicakar, dan selama tidak melakukan hal kasar, kamu bisa
mengelus mereka sebanyak yang kamu mau, sangat menenangkan!”
Ngomong-ngomong,
aku tahu tentang kafe kucing di dunia ini ketika tahun lalu Ian memintaku untuk
menemaninya karena merasa malu pergi sendirian Dirinya
memang sangat menyukai kucing. Saat mengelus kucing, wajahnya terlihat lebih
rileks daripada yang pernah aku lihat sebelumnya.
“Se-Sebanyak
yang aku mau... kucing-kucing itu... Apa itu beneran?”
“Ya, itu
benar.”
“...Kucing-kucing
itu sebanyak yang aku mau...”
Saat aku
menjelaskan tentang kafe kucing, Fine tampak membayangkan suasana itu dan
tersenyum.
Entah
kenapa, aku merasa Fine suka hewan dan sepertinya hewan juga menyukainya, jadi
aku mengusulkan itu, tetapi tidak menyangka dia akan begitu antusias...
“Kalau
begitu, kamu setuju kalau kita pergi ke kafe
kucing?”
“Ya!
Tolong ajak aku ke sana!”
“Baiklah.
Oh, dan kamu pasti akan terkena bulu kucing, jadi hati-hati dengan
pakaianmu.”
“Baik!
Kucing~, kucing~...”
Fine
terlihat sangat bahagia saat mulai membuat omurice untuk makan malam.
Melihatnya
bahagia seperti ini membuatku juga ikutan
senang, dan yang terpenting, aku bisa melihat Fine yang sangat imut. Ternyata
usulanku benar.
Aku
melihat Fine memotong daging ayam sambil bersenandung dengan ceria, dan aku
berpikir untuk mengambil bahan lainnya dari kulkas.
“Kami akan pergi berkencan. Jadi kamu akan
bersikap baik dan tinggal di rumah sendirian besok, oke?”
Setelah selesai makan malam, aku yang sudah mandi
lebih dulu memberi tahu Aisha yang tampak bosan di sofa tentang rencanaku
besok. Anehnya, Aisha menerima dengan mudah, dan bahkan dia sendiri yang
menawarkan untuk menjaga rumah.
“...Ada
apa? Kamu kelihatan keheranan begitu.”
“Tidak,
aku tidak menyangka kamu akan mengatakan hal seperti
itu.”
“Masa? Lantas,
Onii-chan pikir aku akan mengatakan apa?”
“Eh...
Ah, kupikir kamu akan bilang ingin ikutan.”
“Sembarangan saja. Memangnya Onii-chan mengira
aku ini tipe gadis yang mengganggu kencan
pertama?”
Aisha
bangkit dari sofa dan berkata sambil menggembungkankan
pipinya.
“Maaf.
Itu memang salahku. Aku tidak seharusnya berpikir begitu.”
“Kalau
kamu merasa bersalah, tunjukkan niat baikmu.”
“Niatan
baik...?”
“Bawa pulang sepaket kue ‘Louise’.
Aku akan memaafkanmu jika kamu membelinya.”
‘Louise’ adalah toko kue mewah yang
disukai oleh kalangan kerajaan dan bangsawan, dan set cake bawa pulangnya
bahkan disebut sebagai harta karun, tetapi harganya cukup, bahkan sangat
mahal.
Dalam
permainan ‘Kizuyoru’, item ini memiliki performa luar biasa untuk
meningkatkan hubungan dengan target, dan menjadi item wajib bagi pemain yang
ingin dengan mudah memasuki rute karakter yang mereka incar.
“...Baiklah.
Aku akan memesannya lain kali.”
“Yay! Aku
sangat menantikannya!”
Aisha
yang tiba-tiba tersenyum lebar mulai bersenandung dengan gembira.
Hmm?
Sepertinya aku pernah mendengar lagu ini sebelumnya.
Tidak,
lebih tepatnya, nada ini sepertinya aku dengar baru-baru ini...
(Suatu
saat aku pasti akan ingat di mana aku mendengarnya.)
Dengan
pemikiran itu, aku berhenti memikirkan lagu Aisha dan menuju ke dalam kamarku, sambil memikirkan
pakaian apa yang akan kupakai untuk kencanku
dengan Fine besok.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
