Bad-end go no Heroine Vol 3 Chapter 5 Bahasa Indonesia

 Chapter 5 — Kekacauan

 

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit dari kafe kucing, kami memasuki pusat perbelanjaan yang dituju dan kami masih bergandeng tangan sambil melihat-lihat toko di sekitaran mal... 

(...Apa ini sesuatu yang dia lakukan tanpa sadar? Jika benar, apa aku harus menunjukkannya dengan jelas?) 

Di area pusat perbelanjaan yang dipenuhi toko-toko fashion, Fine terus menggenggam tanganku sambil dengan antusias melihat pakaian dan kosmetik. Namun, sejak tadi, payudara lembutnya terus-menerus menyentuh tubuhku. 

Walaupun begitu, jika aku menunjukkannya di tempat ramai ini, Fine mungkin akan merasa sangat malu. Tapi di sisi lain, aku tidak bisa membiarkannya terus seperti ini... 

Sambil berjalan di pusat perbelanjaan dengan perasaan yang campur aduk, aku melihat salah satu pakaian yang dipamerkan sebagai tren pakaian musim gugur tahun ini. 

Sebuah gaun panjang berwarna merah anggur dan rajutan ketat lengan panjang berwarna hitam dipajang di jendela seolah-olah ada orang yang memakainya berkat alat sihir. 

Aku berpikir bahwa gaun itu pasti akan sangat cocok untuk Fine, jadi aku berhenti sejenak untuk mengamatinya, dan tiba-tiba dia mengintip wajahku. 

“Apa ada yang salah?” 

“Tidak, aku hanya berpikir gaun ini pasti cocok untukmu.” 

“...Maaf. Aku akan bertanya kepada pelayan apa aku bisa mencobanya.” 

Setelah mengatakan itu, Fine masuk ke dalam toko. 

...Nah, sekarang apa yang harus kulakukan? Momen yang tidak bisa dilukiskan saat payudara Fine menempel padaku telah berakhir, tetapi toko yang dia masuki adalah toko wanita yang lebih kasual, dan semua pelayan serta pelanggannya merupakan para wanita muda, jadi aku sedikit ragu untuk masuk. 

Oh, aku perlu memikirkan di mana kami akan makan siang. 

Kami tidak bisa pulang terlalu larut malam karena ada Aisha di rumah, dan makan siang adalah satu-satunya kesempatan kami untuk makan makanan yang layak bersama di kencan ini. 

...Meskipun kami sudah makan kue di kafe kucing, itu hanya camilan ringan, jadi tidak dihitung. Pokoknya, aku harus memilih tempat makan untuk kencan pertama dengan hati-hati. 

Tentu saja, mana mungkin kami langsung pergi ke restoran mewah, tetapi juga tidak mungkin hanya ke warung biasa... 

(Kurasa lebih baik mendengarkan pendapat Fine dan memutuskannya sambil berjalan-jalan.) 

Setelah memutuskan itu sambil melihat papan petunjuk di pusat perbelanjaan, aku memutuskan untuk menunggu di depan toko tempat Fiine masuk... tetapi. 

(...Bukannya dia terlalu lama?) 

Aku duduk di bangku terdekat sambil menunggu kedatangannya, tetapi meskipun sudah cukup lama, dia belum juga keluar dari toko

Aku tidak tahu bagaimana rasanya bagi perempuan untuk berbelanja, tetapi jika dia hanya masuk untuk bertanya apa bisa mencoba pakaian, seharusnya hal itu tidak memakan waktu lama. 

Mungkin dia terjebak dengan pelayan yang merepotkan dan mendapatkan penawaran yang memaksa. 

Kalau begitu, aku harus pergi menolongnya.

Aku menepuk pipiku dengan kedua tangan dan masuk ke dalam toko pakaian yang hanya diisi oleh pelanggan dan pelayan wanita muda. 

(Aku tahu bakalan begini, tapi rasanya masih tetap tidak nyaman....pokoknya harus mencari Fine terlebih dahulu.) 

Sebagian besar pelanggan wanita menatapku dengan tatapan curiga, sebagai pelanggan pria yang tiba-tiba masuk dan tampak sama sekali tidak pada tempatnya. 

Namun, beberapa pelayan langsung melihat ke arahku dan mendekat dengan senyuman ramah. 

“Selamat datang, pelanggan! Apa yang bisa kami bantu hari ini? Apa Anda mencari hadiah untuk pacar Anda? Jika demikian, ini—” 

Seorang pelayan wanita muda dengan rambut pirang yang diikat kuncir kuda berbicara dengan suara ceria, menunjukkan niat kuat untuk tidak membiarkanku pergi. 

Ah, tidak. Saya hanya mencari seseorang. Apa Anda melihat gadis dengan rambut pink?”

Setidaknya menurut norma modern Jepang yang aku kenal, jika menanyakan tentang seorang gadis dengan warna rambut mencolok seperti itu, kemungkinan besar aku akan segera mengetahui keberadaannya. 

Namun, ini adalah dunia permainan. Di sini, ada orang-orang dengan rambut ungu, hijau, biru, dan pink yang lahir dengan warna-warna tersebut, bukan karena diwarnai. Meskipun rambut pink masih tergolong jarang di dunia ini. 

Itulah sebabnya, aku tidak pernah menyangka kalau aku bisa segera mengetahui keberadaan Fine hanya dengan informasi ini, tetapi... 

“Ah! Jadi kamu pacarnya si gadis cantik itu! Dia akan segera selesai mencoba pakaian, silakan ke sini!” 

Sepertinya pelayan ini bisa langsung mengerti bahwa yang kumaksud adalah Fine hanya dari kata-kataku, dan dia menarikku ke arah ruang ganti. 

“Silakan tunggu sebentar di sini!” 

(...Rasanya jadi semakin canggung.) 

Di dekat ruang ganti yang ditunjukkan oleh pelayan wanita itu, ada banyak pakaian dengan model yang lebih terbuka... atau lebih tepatnya, lingerie, yang membuatku bingung harus melihat ke mana. 

Aku duduk di sofa terdekat untuk sementara waktu, tetapi poster yang ditempel di dinding juga sangat tidak pantas untuk dilihat. 

Mas Pacar! Uji coba pakaian pacarmu sudah selesai!” 

Ketika aku mulai merasa tidak nyaman, pelayan yang sama kembali dan memanggilku dengan suara ceria. Karena sepertinya uji coba sudah selesai, jika Fine menyukai pakaian itu, kami bisa membelinya dan pergi. 

Dengan pemikiran begitu, aku dibawa oleh pelayan wanita ke ruang ganti. 

“Bagaimana menurutmu? Babydoll ini sangat populer di kalangan pria, terutama yang transparan ini—” 

“...” 

Tirai ruang ganti dibuka, memperlihatkan Fine yang mengenakan pakaian sangat terbuka sambil memerah malu. 

Pelayan itu dengan semangat menjelaskan pakaian yang dikenakan Fine, tetapi jujur, perkataannya tidak masuk ke dalam otakku sama sekali

Kelihatannya pakaian itu disebut sebagai babydoll, tetapi di mana unsur bayi dalam pakaian ini? Padahal dia masuk untuk mencoba pakaian yang dipajang di toko, kenapa malah jadi seperti ini...? 

“...! ...!?” 

Fine menatapku dengan mata penuh harapan, seolah-olah dia meminta bantuan. Berbeda dengan saat di kafe kucing, kau tahu kalau kali ini aku harus membantunya

Dengan pemikiran itu, aku memutuskan untuk berbicara kepada pelayan wanita yang tampaknya sangat bersemangat. 

“...Terima kasih. Kamu benar-benar telah membantu.” 

“Tidak, tidak, aku yang seharusnya minta maaf karena tidak memperhatikan.” 

Setelah dibebaskan dari pelayan yang aneh itu, kami keluar dari toko dan mencari restoran yang cocok untuk makan siang. 

Ngomong-ngomong, Fine dan aku masing-masing membawa tas kertas berisi pakaian yang kami beli di toko tadi. Di dalam tasku ada pakaian yang dipajang di toko, sementara di tas Fine terdapat babydoll transparan yang sangat terbuka. 

Aku hampir saja menanyakan mengapa dia membelinya, apa dia benar-benar menyukainya, dan di mana dia berencana mengenakannya, tetapi aku berhasil menahan diri dan berusaha tetap tenang. 

“Ngomong-ngomong, Fine, kamu ingin makan apa?” 

“Hmm, mungkin sesuatu yang cepat saji—” 

Si Penyihir Dosa’ Fine Staudt...! Aku tidak akan pernah memaafkanmu...!” 

Tiba-tiba, aku mendengar suara marah dari arah belakangku disertai dengan aroma parfum yang sangat kuat. 

Ketika aku menoleh, di hadapan kami ada seorang gadis dengan rambut pirang berantakan dan seragam Akademi Sihir Kerajaan yang compang-camping, menatap kami dengan mata penuh niat jahat. 

“Fine Staudt! Penyihir yang telah merenggut segalanya dariku! Seandainya saja, seandainya saja kamu tidak ada!” 

Gadis dengan seragam yang sobek itu menatap Fine yang berdiri di sampingku dengan waspada, lalu tiba-tiba berusaha menyerangnya. 

“Brengsek!” 

Aku segera berdiri untuk melindungi Fine, menggunakan tas belanjaan yang aku bawa sebagai perisai agar gadis itu tidak mendekat. 

“Menyingkir! Menyikirlah! Fine Staudt! Seandainya kamu tidak ada!” 

“Tidak, aku tidak akan minggir...!” 

Gadis itu ternyata jauh lebih kuat dari yang kubayangkan, dan aku segera menyadari bahwa hanya menahannya dengan tangan tidak akan berhasil.  Namun, mana mungkin juga aku menggunakan sihir serangan yang bisa membunuhnya, jadi aku tidak bisa melakukannya. 

Aku dengan cepat mengumpulkan sihir angin di telapak tanganku dan melepaskannya, menghantam gadis itu ke dalam air mancur yang ada di dekat kami. 

Dengan mengurangi kekuatan sihir angin dan menetralkan dampaknya dengan air, dia mungkin akan pingsan, tetapi tidak sampai mati. Lagipula, dia mungkin bisa kembali sadar jika dia terkena air. 

Sambil berpikir demikian, tiba-tiba... 

“Aku tidak akan memaafkanmu...! Aku tidak akan memaafkanmu...! Seandainya kamu tidak ada, aku pasti bisa tetap di akademi!”

Meskipun terkena serangan sebelumnya, gadis itu masih bangkit dari air mancur dan mencoba mendekat lagi tanpa menyingkirkan rambut pirangnya yang basah dan menempel di wajahnya.

Karena mengira dia gadis yang keras kepala, aku bersiap membela diri dengan tangan kosong, siap menghadapi serangan berikutnya. Akan tetapi...

“Kyaahhh!?

A-Apa-apaan itu!?

Pe-Pendeta, panggil pendeta ke sini!

Pada saat itu, salah satu pengunjung yang sedang menonton, terkejut oleh pertempuran mendadak yang baru saja terjadi, berteriak sambil menunjuk gadis yang basah kuyup itu.

Tamu-tamu lain juga berteriak dan melarikan diri dari tempat kejadian ketika mereka melihat gadis itu.

Aku langsung mengerti mengapa ini terjadi ketika aku melihat gadis itu - atau lebih tepatnya, sosok yang dulunya seorang gadis - dengan riasan dan hiasannya terkelupas setelah basah.

Aku tidak akan memaafkanmu... Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja... Aku tidak akan memaafkanmu!

Di kaki gadis itu terdapat sesuatu yang menyerupai garam yang mengeluarkan bau parfum yang sangat kuat, dan saat penyamaran yang menutupi wajahnya terlepas, wajahnya yang membusuk dan mengerikan dengan kulit berwarna tanah serta tulang dan otot yang terlihat muncul ke permukaan. Aroma busuk yang kuat yang sebelumnya tertutupi oleh parfum itu mulai memenuhi sekitar kami. 

Mata yang sebelumnya menatap kami kini tampak hilang, hanya kegelapan yang terlihat dari soket matanya. 

ika aku harus menggambarkan gadis itu dalam satu kata, dia adalah 'zombie'. 

Tapi rasanya aneh. Meskipun monster undead memang muncul di Kizuyoru, tetapi sebagian besar memiliki desain yang sangat terdeformasi seperti skeleton atau ghost, dan tidak ada zombie yang tampak realistis seperti ini, apalagi yang bisa menyamar sebagai manusia. 

Tidak, itu bukan saatnya untuk merenungkan hal ini. Yang terpenting sekarang adalah menangani zombie itu... 

“Kembalikan! Kembalikan tempatku!” 

Meskipun matanya tidak ada dan hidungnya membusuk, zombie yang dulunya gadis itu sepertinya bisa merasakan keberadaan kami dan berlari lurus menuju Fine. 

Dia pasti sedang mengalami kerusakan akibat serangan, tetapi mungkin riasan yang membuatnya terlihat seperti manusia berfungsi sebagai pelindung, sehingga dia bergerak dengan gesit seperti zombie yang tidak seharusnya. 

“...Ash-san, bisakah kamu mempercayakan ini padaku?” 

Ketika aku berusaha menjadi perisai bagi Fine, dia menyentuh lenganku dan menatap zombie itu dengan tatapan penuh tekad. 

Apa dia memiliki semacam rencana? Atau mungkin dia telah menyadari sesuatu sebagai seorang Saintess. Pokoknya, aku bisa merasakan rasa iba dalam sorot mata Fine terhadap zombie yang dulunya gadis itu. 

Dasar Penyihir...! Seandainya orang sepertimu tidak ada!” 

Zombie itu berteriak sambil berusaha menyerang Fine. 

Namun, tangan busuknya tidak pernah menyentuh kulit putih Fine yang cantik, karena tubuh zombie itu terjerat dalam kabut bercahaya yang muncul akibat sihir suci. 

“Aku tidak tahu apa yang menjadi kebencianmu padaku, dan aku tidak bisa memaafkanmu karena telah berusaha melukai Ash-san dan mengganggu kencanku dengan Ash-san... Namun,” 

Fine menyentuh wajah zombie yang sepenuhnya membusuk itu tanpa memperdulikan tangannya yang mungkin akan kotor. Dalam sekejap, api emas muncul mengelilingi Fiine, zombie itu, dan aku yang berada di dekat mereka. 

“Apa yang ingin kamu lakukan...!?” 

“...Aku minta maaf. Aku tidak tahu siapa dirimu dulu. Tetapi, demi orang-orang lain dan dirimu sendiri, bisakah kamu beristirahat dengan tenang?” 

“Jangan bercanda, jangan bercanda denganku...! Karena kamu, aku kehilangan tempatku, dikeluarkan dari akademi, diperkosa oleh penjahat, dan tidak bisa pulang, lalu dibunuh! Seandainya kamu tidak ada, aku seharusnya bisa dipuji oleh Papa dan Mama, dan menghabiskan hari-hari yang dicintai oleh teman-teman di akademi!

Suara marah yang dikeluarkan zombie itu saat menggigit lengan Fine hanya bisa disebut sebagai kebencian yang tidak beralasan. 

Fine tidak pernah melakukan hal yang menyakiti gadis itu semasa hidupnya. Jika ada penyebab mengapa dirinya dikeluarkan dari akademi, itu pasti hanya karena ulah dirinya sendiri. 

Kebencianku terhadap zombie itu semakin membesar. Yang terpenting, dia sekarang hanyalah monster. Maka, seharusnya aku bisa segera menyingkirkannya. 

Namun, Fine tampaknya mempunya cara yang berbeda... 

“Kamu boleh menghinaku atau menyakitiku sesukamu. Tapi, apa kamu benar-benar baik-baik saja dengan itu? Apa kamu tidak keberatan memperlihatkan dirimu seperti itu?” 

“Aku tidak peduli! Jika aku bisa membalas dendam pada penyihir sepertimu, itu sudah cukup! Aku sudah kehilangan kehormatan dan martabatku, semuanya dirampas dan aku dipermalukan karena dirimu!” 

“...Tidak, seharusnya masih ada sesuatu yang tersisa untukmu.” 

Saat Fine meletakkan tangannya di dada zombie, dia tersenyum lembut seperti seorang ibu, dan mulai menyucikan udara kotor yang berasal dari tubuhnya yang membusuk dengan api emas. 

“Kamu telah berjanji kepada orang tuamu, kan? Bahwa kamu akan pulang.” 

“Pulang... ? Aku masih bisa pulang...?” 

“Ya. Kamu bisa kembali sebagai jiwa yang bersih tanpa memperlihatkan sosokmu yang sekarang. Jadi—” 

Fine memeluk zombie itu dengan lembut, memejamkan matanya, dan mengucapkan kata-kata doa. 

“Jadi, beristirahatlah dengan tenang sekarang. Aku berharap semoga kamu tidak akan lagi menderita dalam mimpi buruk seperti ini lagi.” 

Kemudian, partikel cahaya mengalir seperti air mata dari soket mata zombie itu, dan tubuhnya diselimuti api keemasan yang perlahan-lahan meleleh seperti asap. 

“...Selamat tidur.” 

Saat api itu menghilang, hanya pakaian yang dikenakan zombie itu yang tersisa di tempat itu. 

Benar juga. Selain bisa menggunakan sihir suci, Fine memiliki kekuatan khusus lainnya sebagai seorang Saintess

Salah satunya adalah kemampuannya untuk membaca ingatan roh jahat atau mayat yang terombang-ambing di dunia ini akibat kebencian, kemarahan, atau sihir, dan memberikannya tidur yang damai dengan menghapus kutukan atau penyesalan yang menimpanya. 

“Ma-Maafkan aku, aku telah bertindak semena-mena—”

Fine kembali mendekat setelah merapatkan kedua tangannya dan menghela napas, dengan ekspresi penuh penyesalan. 

“Tidak apa-apa. Yang lebih penting lagi, bagaimana dengan gadis itu tadi?” 

“Ehm, pertama-tama, aku memiliki kemampuan untuk membaca ingatan orang yang sudah meninggal. Jadi, gadis itu dikeluarkan dari akademi karena dia dekat dengan Elise dan yang lainnya, dan meninggal dalam kecelakaan dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya...... Dia tampaknya bangkit sebagai mayat hidup karena kemarahan terhadapku dan siswa-siswa yang mengusirnya.” 

Setelah mengatakan itu, Fiie menundukkan kepalanya dalam-dalam. 

“Maafkan aku. Aku telah menyebabkan banyak masalah padamu, Ash-san.” 

Fine tampaknya merasa bertanggung jawab atas kemunculan zombie itu. 

Kamu tidak bersalah sekali. Kamu juga mengalami hal buruk karena Elise, dan kamu bahkan tidak mengenalnya, kan? Jadi, kamu tidak perlu merasa tertekan seperti itu, Fine.” 

Aku berkata demikian sambil mengelus kepala Fine. Tapi, dia hanya menunduk, menjawab dengan suara pelan, “Iya.” 

“...Fiine, jika kita tetap di sini, kita mungkin terlibat masalah lagi. Mari kita pergi dari sini untuk sementara.” 

“...Baiklah.” 

Aku memutuskan untuk pergi menjauh sebelum keributan semakin besar, menarik tangan Fiine dan meninggalkan mal. 

“Ini, aku sudah belikan jus.” 

“Ah, terima kasih...” 

Di sebuah taman kecil yang sepi, jauh dari pusat perbelanjaan, aku membeli jus dari kios yang kebetulan ada di dekat situ dan memberikannya kepada Fine yang duduk di bangku di ujung taman. 

Fine menerima gelas jus itu dengan lemah, tapi dia tidak meminumnya dan hanya menundukkan wajahnya. 

“...Hei, Fine. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab atas zombie itu, oke?” 

“Ketika aku menyentuhnya, aku merasakan sesuatu. Dia membusuk, tetapi tidak bisa beristirahat dengan tenang, diperlakukan seperti alat, dan dibenci oleh orang-orang di sekitarnya. ...Mungkin itu tidak sebanding dengan apa yang kurasakan, tetapi tetap saja, itu sama saja dengan rasa sakit yang aku alami sebelum bertemu dengan Ash-san.” 

Suara Fine bergetar saat dia berbicara. 

Dia merasa simpati dan empati terhadap zombie itu, dan mungkin teringat akan rasa sakit dan penderitaannya di masa lalu. 

...Baiklah. 

“Fine, bisakah kamu menatapku sebentar?” 

“Ha, iya—eh, ehhh!?” 

Aku membalikkan badannya dan tiba-tiba menciumnya. 

Setelah kami bertukar ciuman beberapa saat, aku melihat wajahnya, dan Fine tampak bingung dan malu, wajahnya memerah.

“Fine, bagaimana ciuman tadi?” 

“Bagaimana... rasanya? Ehm, itu... terasa menyenangkan.” 

Fine menjawab pertanyaanku dengan wajah memerah. 

“Kamu pernah bilang ingin berbagi rasa sakit dan kebahagiaan denganku, kan? Saat itu, aku sangat senang mendengarnya. Jadi, aku juga ingin kamu merasakan hal yang sama, tidak, aku ingin kita berbagi semua, baik itu rasa sakit maupun kebahagiaan, seperti ciuman yang tadi.” 

“Ash-san...” 

Saat aku menyampaikan perasaanku sambil menyembunyikan rasa malu, Fine meneteskan air mata dan menempelkan wajahnya di dadaku. 

“...Terima kasih.” 

Setelah mengucapkan itu dengan suara pelan, aku mengelus punggung Fine dengan lembut sampai dia merasa tenang.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama