Jinsei Gyakuten Jilid 3 Epilog

Epilog

 

──13 SeptemberSudut Pandang Aono Eiji──  

 

“Kalau begitu, ayo kita berangkat?" 

Sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir di tempat parkir dekat tempat pertemuan kami. 

Mobil seperti itu biasanya memberikan kesan yang menakutkan, tetapi dia tidak peduli dan langsung masuk ke dalam mobil. Anehnya, dia tampak seperti orang yang berbeda dibandingkan saat kami tertawa bersama sebelumnya. Aku menyadari bahwa inilah sikap yang diharapkan dari Ichijou Ai dalam suasana resmi. 

Silakan masuk, Senpai. 

Aku diarahkan ke kursi belakang dan merasa sedikit tegang saat masuk. 

Mobil mulai melaju. 

Kita mungkin akan sampai di tujuan kita sekitar satu jam lagi. Silakan duduk dengan nyaman. 

Meskipun dia berkata demikian, tapi aku merasa tidak bisa tenang. Dia terlihat sangat sedih di sampingku. Meskipun begitu, dia tetap khawatir tentangku. 

Maaf. Perjalanan ini menjadi sangat berlebihan." 

Tidak apa-apa. Sebenarnya, ini lebih nyaman daripada naik kereta. 

Saat aku mengatakan itu dengan sedikit bercanda, Ichijou-san tertawa. 

Senpai, kamu lebih hebat dari yang kubayangkan.

Dia sepertinya kembali menjadi dirinya yang biasa. 

“Sudah kuduga, ini memang tidak baik, ya. Ketika bersama Senpai, aku kembali menjadi diriku yang biasa. Aku tidak bisa berperan sebagai Ichijou Ai yang kuat yang diharapkan semua orang. mpat yang akan kita tuju bukanlah tempat yang menarik. Maaf aku membuatmu melewatkan kelas tambahan. 

“Jangan khawatir. Aku juga ingin mengenal lebih banyak tentang dirimu, Ichijou-san. Jadi, aku senang kamu mau memberitahuku. 

Dia menutup matanya dan mengangguk perlahan. 

Bagaimana dengan ibu Senpai dan Sensei? 

Ibuku bilang Ini mengenai Ai-chan, ‘kan? Pergi saja. Mungkin itu lebih penting daripada sekolah,' sambil tersenyum.

Dia sangat baik, ya.

Ah, aku juga selalu merasa diselamatkan.

Bagaimana dengan Takayanagi-sensei?

“Ia terkejut. 

“Yah wajar saja...

Aku akan bolos kelas. Tapi, ini untuk urusan penting. Siapa yang bisa mengatakan hal itu secara blak-blakan? Setidaknya, aku berharap bisa berpura-pura sakit." 

“Senpai benar-benar mengatakannya secara langsung begitu?! 

“Iya. Habisnya aku tidak ingin membuat mereka khawatir. Tapi, Takayanagi-sensei malah tertawa. Sebagai guru, dia menganggap pernyataan itu tidak pernah terjadi. Besok bilang saja aku sakit. Karena ada banyak hal yang terjadi. Semua orang pasti mengerti. Tapi dirinya benar-benar khawatir padaku. Ia bertanya berkali-kali apa aku baik-baik saja. Tentu saja, aku menjawab bahwa aku baik-baik saja. 

Mungkin sebaiknya kamu sedikit berpura-pura sakit.

Kami tersenyum lembut satu sama lain. 

Setelah itu, ada sedikit keheningan singkat. Ketika kami masuk ke terowongan Aqua Line, suasana di dalam mobil menjadi gelap. Ekspresi wajahnya sulit dibaca.

Mobil melaju keluar dari terowongan, melintasi lautan. Di dalam mobil yang kini lebih terang, dia yang duduk di sampingku menatapku langsung dan mulai berbicara. 

Kita hampir sampai di tujuan. Mau mendengarkan cerita tentang keluargaku? 

Dia mulai menceritakan tentang dirinya secara perlahan. Aku mengangguk dan berkata, Ya. 

Orang tuaku menikah melalui perjodohan. Ayahku berasal dari keluarga konglomerat baru yang berkuasa, dan ibuku berasal dari keluarga terhormat. Pernikahan itu berharga bagi kedua keluarga. Namun, mereka juga sudah saling mengenal sejak kecil. Dari cerita ibuku, mungkin mereka adalah cinta pertama satu sama lain. Jadi, meskipun itu perjodohan, kurasa mereka berdua bahagia. Ketika ibuku berbicara tentang ayah, dia selalu terlihat seperti gadis yang jatuh cinta. 

Dia berbicara dengan tenang dan perasaan yang rumit

Aku juga dibesarkan dengan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Itu tidak bisa disangkal. Aku pernah bercerita sebelumnya, kan? Aku bersekolah di sekolah swasta bergengsi di Tokyo. Semakin keras aku belajar dan berolahraga, semakin mereka memujiku. Ayahku sibuk dengan pekerjaannya dan jarang di rumah, tetapi ia adalah orang yang baik yang selalu berusaha meluangkan waktu untuk keluarga. 

Jika dipikirkan secara normal, pemandangan tersebut merupakan kondisi dari keluarga kelas atas yang bahagia. Bagiku, konglomerat dan keluarga terhormat hanyalah cerita fiksi. 

Jadi, aku tidak bisa membayangkan secara konkret. Namun, aku bisa memahami bahwa keluarga bahagia itu hancur karena suatu kejadian. Itu pasti kejadian yang sangat kejam. 

Hari-hari bahagia itu berakhir dua tahun yang lalu... tanpa ada tanda-tanda, terjadi secara tiba-tiba... 

Nada suaranya semakin berat. 

Ichijou-san, kamu tidak perlu memaksakan diri... 

Melihat seberapa sedih dirinya, aku tak kuasa memanggilnya.

Terima kasih. Kita hampir sampai di tujuan. Lanjutkan ceritanya saat kita berjalan. Mungkin dengan menghirup udara luar, aku akan merasa lebih baikan. 

Dia benar-benar memaksakan dirinya

Mobil berhenti dekat laut. Aku keluar dari mobil lebih dulu dan mengulurkan tangan padanya. Wajahnya kelihatan lebih pucat dari yang kubayangkan. Kulitnya yang sudah putih kini terlihat sangat pucat. 

Terima kasih.

Dia dengan lembut menggenggam tanganku. 

Apa tempatnya jauh dari sini?

Aku tidak ingin memaksanya terlalu keras, jadi aku tanpa sadar bertanya demikian

“Hanya tinggal beberapa menit lagi. Kita hanya perlu menaiki bukit itu. 

Jika kamu merasa kesulitan, bilang saja padaku ya.

Jika perlu, aku bisa menggendongnya. Aku mencoba menyampaikan nuansa itu, dan sepertinya dia mengerti. Dia sedikit tersenyum. 

Ya. Aku mengandalkanmu.

Kami mulai berjalan perlahan. Mempertimbangkan kondisi Ichijou-san, kami berjalan lebih lambat dari biasanya. 

“Dua tahun yang lalu di musim pasan. Aku dan ibuku mengalami kecelakaan. Kecelakaan runtuhnya terowongan. Mungkin berita itu juga dilaporkan di media, kan? 

...

Aku ingat beritanya

Itu adalah kecelakaan yang cukup besar. Ada banyak orang yang meninggal. Aku mendengar dari ibuku bahwa ada orang yang dikenal ayahku terlibat dalam kecelakaan itu. 

Aku yang seharusnya ada di dalam mobil tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin aku pingsan sejenak. Ingatan sebelum dan sesudahnya kabur. Tapi satu hal yang pasti, ibuku melindungiku. Ibu berkorban untukku. Meskipun dia mengalami luka parah, saat aku terbangun, kata pertamanya adalah 'syukurlah, kamu baik-baik saja'. 

Dia memilih kata-katanya dengan perlahan sembari menundukkan kepala. 

Aku yang salah mengira ibuku selamat segera merasa putus asa. Bagian bawah tubuh ibuku terjepit di bawah reruntuhan besar. Di sana juga ada banyak darah yang menggenang...

Aku merasa semakin tertekan mendengarnya. 

Aku menangis dan berteriak meminta tolong. Kurasa Ibuku mungkin sudah siap menghadapi kenyataan. Meskipun seharusnya itu sangat menyakitkan, dia berusaha menenangkanku dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Wajah ibu perlahan kehilangan warna. Aku hanya bisa memegang tangan ibu yang semakin dingin. 

Kakinya berhenti sepenuhnya. 

Mana mungkin kami bisa melanjutkan lebih jauh. Aku berpikir untuk menyuruhnya kembali, tetapi saat itu aku merasa pelukan lembut. Sentuhan manis dan lembut itu terasa. Dia menangis di bahuku. 

Maaf. Biarkan aku seperti ini sedikit lebih lama. 

Beban yang dia pikul terlalu berat. 

Dan itu sangat kejam. 

Tidak apa-apa. Tarik napas dalam-dalam. Aku akan selalu berada di sini.

Aku memeluk tubuhnya sampai napasnya kembali tenang.

 

※※※※

 

Terima kasih, aku sudah tenang.

Dia perlahan-lahan menjauhkan dirinya. Seperti biasa, dia berusaha tersenyum meskipun terlihat dipaksakan. 

Ichijou-san, lebih baik kalau kita kembali sejenak... 

Saat aku mengajukan tawaran itu, dia menggelengkan kepalanya

“Kita sudah hampir sampai, aku baik-baik saja. 

Dia mulai berjalan perlahan lagi. Kami sampai di pemakaman di puncak bukit.

Kami berdiri di depan sebuah makam yang megah. 

Ibuku menyukai laut dan gunung. Itulah sebabnya dia dimakamkan di sini. 

Dia mengatakannya dengan nada kesepian. 

Setelah kehilangan ibu, kehidupanku seketika berubah drastis. Pertama-tama, ayahku berubah. Mungkin karena kehilangan ibu, dirinya jadi tenggelam dalam pekerjaan dan hampir tidak pernah pulang. Dirinya bersikap dingin padaku, seolah-olah ia memperlakukan orang seperti benda.

Bukan hanya ibunya saja, tapi bahkan ayahnya juga... Betapa menyakitkannya bagi seorang gadis SMP. Aku bahkan tak bisa membayangkan betapa menyakitkannya. 

Ini mungkin bukan hal yang seharusnya aku sampaikan kepada Senpai, tapi... aku juga mulai mengalami perundungan setelah kecelakaan itu. Mungkin karena aku sudah menjadi sosok yang mencolok, ada orang yang merasa iri." 

Tidak bisa dimaafkan. 

Aku tidak bisa menahan diri untuk mengucapkannya. Padahal dia sudah cukup menderita, tapi dia justru mendapat perlakuan yang menyakitkan itu. 

Terima kasih... Aku menjadi terkenal karena menjadi penyintas dari kecelakaan itu dan media memberitakannya. Karena menjadi terkenal, teman-teman sekelas terlihat baik-baik saja di depan, tetapi di belakang, mereka menyebutku anak iblis yang tidak berperasaan karena selamat dengan mengorbankan ibunya. Di saat-saat terburuk, aku menerima panggilan tidak dikenal di ponsel, dan seseorang meniru suara ibuku dan berkata, 'Aku kesakitan, tolong aku.' 

Aku terdiam dan tidak bisa bergerak karena merasa syok. Itu adalah batasan yang seharusnya tidak boleh dilanggar oleh manusia. 

Seharusnya aku mati bersamanya pada hari itu. Meski ibuku berjuang untuk menyelamatkanku, aku merasa benci pada diriku sendiri karena merasa telah mengkhianatinya. Itulah sebabnya, pada hari itu, aku berada di atap. Rasa putus asa karena kehilangan segalanya perlahan-lahan semakin besar. Kurasa aku pergi ke tempat itu tanpa berpikir panjang.

Sekarang, aku yang memeluknya. 

Senpai? Kenapa kamu menangis?

Kurasa mana mungkin untuk tidak menangis. 

“Memangnya ada orang yang bisa tetap tenang setelah mengetahui orang yang mereka sukai diperlakukan seperti itu oleh orang lain? 

Kamu sangat baik. Karena itu, izinkan aku meminta maaf. Aku sudah berbohong padamu selama ini. Namaku sebenarnya bukan 'Ichijou' Ai. Ichijou adalah nama keluarga ibuku... Apa kamu masih bisa menyukaiku meskipun begitu? 

Kami mulai berjalan perlahan. 

Mungkin, alasan dia tidak melanjutkan ke  SMA afiliasinya adalah demi menyembunyikan identitasnya. Melanjutkan ke sekolah lain dan menggunakan nama keluarga ibunya. Jika tidak begitu, dia mungkin tidak bisa melindungi dirinya sendiri. 

“Jangan khawatir, itu tidak mengubah orang yang kusukai. 

Batu nisan itu terukir nama seorang wanita. 

Ugaki Hitomi.

 

※※※※

──Sudut Pandang Ichijou Ai── 

 

Aku selalu merasa cemas. Tanpa sengaja, aku terus berbohong kepada Senpai. 

Itu adalah informasi paling penting, yaitu nama asliku. Selain itu... seharusnya ada rasa yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi... aku takut untuk membicarakan tentang ibuku.

Bahkan ayahku, yang seharusnya menjadi keluarga terdekat, telah menjauh dariku. Aku tidak bisa menahan rasa takut bahwa Senpai juga mungkin akan melakukan hal yang sama. 

Setelah ibu meninggal, aku hampir tidak pernah bertemu ayah lagi. 

Sekretaris ayah memberitahuku bahwa untuk menghindari perundungan, aku harus melanjutkan sekolah SMA menggunakan nama keluarga ibuku. Aku merasa putus asa karena ayah yang sangat kucintai hanya bisa menyampaikan hal penting ini melalui orang lain. 

Kamu adalah anak yang tidak diinginkan.

Aku merasakan keputusasaan, seolah-olah dia mengatakan itu padaku. Kehilangan tempat yang hangat itu terasa sangat menyakitkan. 

Aku memberitahu sekretaris ayahku bahwa aku mengerti dan melanjutkan dari sekolah SMP swasta di Tokyo ke sekolah SMA negeri di Chiba, serta mulai hidup sendiri. 

Mungkin dengan perubahan lingkungan, akan ada perubahan dalam perasaanku. Lagipula, di sinilah tempat di mana ayah dan ibu dibesarkan. 

Mungkin, aku bisa menemukan harapan di sini. Aku memelihara harapan yang tipis itu. Namun, tidak ada harapan di lingkungan ini. 

Pada akhirnya, semua orang memperhatikanku hanya karena penampilanku dan latar belakang keluargaku yang dirumorkan. Mana mungkin aku bergaul dengan orang yang bahkan belum pernah berbicara denganku.

Aku sudah merasa tidak percaya pada orang lain karena perundungan yang kualami. Meskipun aku semakin waspada terhadap orang lain, berbicara dengan orang asing hanya menambah rasa sakitku. 

Materi pelajaran di sekolah juga hanya mengulang apa yang sudah kupelajari di SMP. Satu-satunya kesenangan yang aku miliki adalah waktu sendirian di rumah, membaca buku atau menonton film, hanya menunggu waktu berlalu. 

Baru-baru ini, ketika aku secara kebetulan bertemu Amada-san, dia terlihat seperti zombie dalam film. Sebelum bertemu Senpai, mungkin aku juga terlihat seperti itu. 

Kesepianku semakin mendalam saat liburan musim panas. 

Ketika ibuku masih hidup, liburan musim panas penuh dengan kenangan menyenangkan saat kami pergi berlibur bersama keluarga. Sekarang, aku menghabiskan waktu di rumah sendirian. Mungkin, ayah akan menghubungiku. 

Meskipun aku selalu menempatkan ponsel di dekatku, ponselku sama sekali tidak pernah berbunyi. 

Aku telah menunggu, menunggu, dan menunggu. 

Semakin lama liburan musim panas berlangsung, semakin dingin hatiku. Aku sering kali terbangun tanpa sebab dan menyadari bahwa aku telah menangis. 

Dan aku menyadari bahwa aku sudah di ambang batas. 

Saat itulah, aku mendengar tentang Aono Eiji. Sepertinya rumor tentang dirinya yang melakukan kekerasan terhadap wanita yang sedang dipacarinya mulai menyebar. 

Namun, hanya rumor yang beredar. Foto yang dianggap sebagai bukti hanya menunjukkan lengan seorang wanita yang tidak dikenal dengan memar. Foto-foto itu sepertinya bisa ditemukan di mana saja di internet.

Pada akhirnya, manusia memang dipenuhi dengan niat jahat. 

Setelah sampai pada kesimpulan itu, aku merasa ingin mengakhiri segalanya. 

Dan aku menuju atap sekolah. Karena kuncinya rusak, jika memutar gagang pintu ke arah yang berlawanan, pintu itu akan terbuka. Aku sering menggunakannya ketika ingin sendirian, jadi pintunya terbuka dengan mudah. 

Akhirnya aku bisa bertemu ibu. Pada saar aku berpikir demikian, di ujung perjalanan yang penuh keputusasaan ini, aku menemukan harapan. 

 

※※※※

 

Setelah aku menceritakan semuanya, air mata mengalir dari mata Senpai. 

Senpai? Kenapa kamu menangis? 

Meski aku tahu alasannya, aku tetap bertanya. Untuk memastikan kebaikan hati Senpai. 

“Memangnya ada orang yang bisa tetap tenang setelah mengetahui orang yang mereka cintai diperlakukan seperti itu oleh orang lain?" 

Itulah kata-kata yang ingin kudengar sejak lama. Kata-kata yang menghangatkan hati. Anehnya, aku tidak merasa takut. 

Kamu sangat baik. Karena itulah, izinkan aku meminta maaf. Aku sudah berbohong padamu selama ini. Namaku sebenarnya bukan 'Ichijou' Ai. Ichijou adalah nama keluarga ibuku... Apa kamu masih bisa menyukaiku meskipun begitu? 

Aku menyampaikan satu rahasia lagi padanya. Suaraku bergetar begitu jelas bahkan aku sendiri bisa mendengarnya. Aku memang takut mendengar jawabannya. Mungkin, aku akan ditolak olehnya, dan itu membuatku ketakutan hingga kakiku bergetar. Bukan hanya kakiku saja. Seluruh tubuhku tidak bisa berhenti bergetar. 

Namun, kata-kata berikutnya disampaikan dengan tegas, dan menyelimutiku dengan begitu banyak kebaikan. 

“Jangan khawatir, itu tidak mengubah orang yang kusukai.    

Aku sangat mencintainya saat dirinya dengan tegas mengatakannya. Getaran yang kurasakan sebelumnya terasa seperti kejadian yang jauh. Hatiku dipenuhi oleh keberadaannya. 

Aku benar-benar bersyukur bisa bertemu dengannya. Di atap itu, aku sangat berterima kasih atas keajaiban yang terjadi hingga membuatku meneteskan air mata. Aku ingin percaya bahwa itu adalah takdir. Momen penyelamatan yang akhirnya diberikan oleh Tuhan yang jahat dan kejam. Setidaknya, momen itu mengubah kehidupanku. Dia menyelamatkanku dari penderitaan yang mengerikan. 

Untuk menahan air mata yang tak kunjung berhenti, aku bersandar di bahunya. Entah sudah berapa kali aku melakukannya. Aku seharusnya berpikir bahwa aku kuat, tetapi akhirnya aku menyadari betapa lemahnya diriku. Dirinya mengajariku semua hal ini. Semuanya karena dirinya. 

“Menurutku aku tidak menjalani kehidupan yang bisa dipuji, tetapi pada hari itu... di atap itu, satu-satunya hal yang bisa kubanggakan adalah bisa menyelamatkanmu. Itu sebabnya, aku akan mengatakan kata-kata yang sama seperti kemarin...

Di depan makam ibuku, Senpai menatapku dengan serius. Kedengarannya seperti sebuah deklarasi untuk ibuku yang telah mengorbankan segalanya untuk melindungiku. 

Jika kamu mau menerimaku yang seperti ini... jika kamu bisa memaafkanku. Aku akan selalu berada di sampingmu, Ai-san. Aku tidak akan pergi ke mana pun, pasti.

Ia menepati janjinya. Meskipun aku telah berbohong padanya... Ia memanggilku dengan nama Ai-san, bukan Ichijou maupun Ugaki. Itu berarti cuma ia satu-satunya yang mengakui diriku yang selama ini ditolak oleh orang lain... dan emosi itu mengalir deras ke dalam diriku. 

Aku ingin memperkenalkan Senpai dengan baik kepada ibuku yang telah melindungiku. Mungkin, ibuku akan senang di sana. Jadi, aku ingin menyampaikan perasaan yang tulus. 

Ibu, aku akhirnya menemukan seseorang yang istimewa bagiku

Untuk menyampaikan hal itu. 

Rasanya sungguh tidak adil. Bagaimana bisa kamu tahu kata-kata yang ingin aku dengar? 

Aku juga senang bisa bertemu denganmu. Aku sudah lama ingin bertemu dengan seseorang yang bisa mendengarkan semuanya. Hei, Senpai? Boleh aku meminta satu hal lagi?

Ya.

Jika memungkinkan, bisakah kamu memanggilku dengan namaku mulai sekarang? Aku adalah Ichijou Ai, tapi aku bukan Ichijou Ai. 

Dirinya mengangguk. 

Dan sambil menatapku yang berkaca-kaca, dia dengan suara yang tulus mengabulkan permintaanku. 

Mulai sekarang, mohon bantuannya ya, Ai-san.

Aku berharap waktu bisa berhenti seperti itu. Sambil berharap demikian, aku memeluknya erat-erat. 

 

※※※※

──Sudut Pandang Aono Eiji── 

 

Dalam perjalanan pulang, kami hampir tidak berbicara sama sekali. Meskipun begitu, kami terus berpegangan tangan sepanjang waktu

Akan tetapi, ada satu hal yang menggangguku dan aku tidak bisa mengungkapkannya melalui kata-kata

Oleh karena itu, setelah berpisah dengan Ai-san dan pulang ke rumah, aku segera menanyakan kepada ibuku yang menyambutku. 

Hei, Bu. Paman Ugaki sudah lama tidak mengunjungi restoran kita ya?

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama