Epilog
──13 September・Sudut Pandang Aono
Eiji──
“Kalau
begitu, ayo
kita berangkat?"
Sebuah
mobil mewah berwarna hitam terparkir di tempat parkir dekat tempat pertemuan
kami.
Mobil
seperti itu biasanya
memberikan kesan yang menakutkan, tetapi dia tidak peduli dan langsung masuk ke
dalam mobil. Anehnya, dia tampak seperti orang yang berbeda dibandingkan saat
kami tertawa bersama sebelumnya. Aku menyadari bahwa inilah sikap yang
diharapkan dari Ichijou Ai dalam
suasana resmi.
“Silakan masuk, Senpai.”
Aku
diarahkan ke kursi belakang dan merasa sedikit
tegang saat masuk.
Mobil
mulai melaju.
“Kita
mungkin akan sampai di tujuan kita sekitar satu jam lagi. Silakan duduk dengan
nyaman.”
Meskipun dia berkata demikian, tapi aku
merasa tidak bisa tenang. Dia terlihat sangat sedih di
sampingku. Meskipun begitu, dia tetap khawatir tentangku.
“Maaf.
Perjalanan ini menjadi sangat
berlebihan."
“Tidak
apa-apa. Sebenarnya, ini lebih nyaman daripada naik kereta.”
Saat aku mengatakan itu dengan sedikit
bercanda, Ichijou-san
tertawa.
“Senpai,
kamu lebih hebat dari yang kubayangkan.”
Dia sepertinya kembali menjadi dirinya yang
biasa.
“Sudah
kuduga, ini memang tidak
baik, ya. Ketika bersama Senpai, aku
kembali menjadi diriku yang biasa. Aku tidak bisa berperan sebagai Ichijou Ai yang kuat yang diharapkan
semua orang. mpat yang akan kita tuju bukanlah tempat yang menarik. Maaf aku
membuatmu melewatkan kelas tambahan.”
“Jangan
khawatir. Aku juga ingin mengenal lebih banyak tentang dirimu, Ichijou-san. Jadi,
aku senang kamu mau memberitahuku.”
Dia
menutup matanya dan mengangguk perlahan.
“Bagaimana
dengan ibu Senpai dan Sensei?”
“Ibuku bilang ‘Ini
mengenai Ai-chan, ‘kan? Pergi saja. Mungkin itu lebih
penting daripada sekolah,' sambil tersenyum.”
“Dia
sangat baik, ya.”
“Ah,
aku juga selalu merasa diselamatkan.”
“Bagaimana
dengan Takayanagi-sensei?”
“Ia
terkejut.”
“Yah wajar
saja...”
“Aku
akan bolos kelas. Tapi, ini untuk urusan penting. Siapa yang bisa mengatakan hal itu secara blak-blakan?
Setidaknya, aku berharap bisa berpura-pura sakit."
“Senpai
benar-benar mengatakannya secara
langsung begitu?!”
“Iya.
Habisnya aku tidak ingin membuat mereka
khawatir. Tapi, Takayanagi-sensei malah
tertawa. Sebagai guru, dia menganggap pernyataan itu tidak pernah terjadi.
Besok bilang saja aku sakit. Karena ada banyak
hal yang terjadi. Semua orang pasti mengerti. Tapi dirinya benar-benar khawatir padaku. Ia bertanya berkali-kali apa aku
baik-baik saja. Tentu saja, aku menjawab bahwa aku baik-baik saja.”
“Mungkin
sebaiknya kamu sedikit berpura-pura sakit.”
Kami
tersenyum lembut satu sama lain.
Setelah
itu, ada sedikit keheningan singkat. Ketika kami masuk ke terowongan
Aqua Line, suasana di dalam mobil menjadi gelap. Ekspresi wajahnya sulit
dibaca.
Mobil
melaju keluar dari terowongan, melintasi lautan. Di dalam mobil yang kini lebih
terang, dia yang duduk di sampingku menatapku langsung dan mulai
berbicara.
“Kita
hampir sampai di tujuan. Mau mendengarkan cerita tentang keluargaku?”
Dia mulai
menceritakan tentang dirinya secara perlahan. Aku mengangguk dan berkata, “Ya.”
“Orang
tuaku menikah melalui perjodohan. Ayahku
berasal dari keluarga
konglomerat baru yang berkuasa, dan ibuku berasal dari keluarga terhormat.
Pernikahan itu berharga bagi kedua keluarga. Namun, mereka juga sudah saling
mengenal sejak kecil. Dari cerita ibuku, mungkin mereka adalah cinta pertama
satu sama lain. Jadi, meskipun itu perjodohan,
kurasa mereka berdua bahagia.
Ketika ibuku berbicara tentang ayah, dia selalu terlihat seperti gadis yang
jatuh cinta.”
Dia berbicara dengan tenang dan perasaan
yang rumit.
“Aku
juga dibesarkan dengan kasih sayang
dari kedua orang tuaku. Itu tidak bisa disangkal. Aku pernah bercerita
sebelumnya, kan? Aku bersekolah di sekolah swasta bergengsi di Tokyo. Semakin
keras aku belajar dan berolahraga, semakin mereka memujiku. Ayahku sibuk dengan
pekerjaannya dan jarang di rumah, tetapi ia adalah orang yang baik yang selalu
berusaha meluangkan waktu untuk keluarga.”
Jika
dipikirkan secara normal, pemandangan tersebut
merupakan kondisi dari keluarga kelas atas yang bahagia. Bagiku, konglomerat dan keluarga
terhormat hanyalah cerita fiksi.
Jadi, aku
tidak bisa membayangkan secara konkret. Namun, aku bisa memahami bahwa keluarga
bahagia itu hancur karena suatu kejadian. Itu pasti kejadian yang sangat
kejam.
“Hari-hari
bahagia itu berakhir dua tahun yang lalu... tanpa ada tanda-tanda, terjadi secara tiba-tiba...”
Nada
suaranya semakin berat.
“Ichijou-san, kamu tidak perlu memaksakan diri...”
Melihat seberapa sedih
dirinya, aku tak kuasa memanggilnya.
“Terima
kasih. Kita hampir sampai di tujuan. Lanjutkan ceritanya saat kita berjalan.
Mungkin dengan menghirup udara luar, aku akan merasa lebih baikan.”
Dia benar-benar memaksakan dirinya.
Mobil
berhenti dekat laut. Aku keluar dari mobil lebih dulu dan mengulurkan tangan padanya. Wajahnya kelihatan lebih pucat dari yang kubayangkan. Kulitnya yang sudah putih kini
terlihat sangat pucat.
“Terima
kasih.”
Dia
dengan lembut menggenggam tanganku.
“Apa tempatnya jauh dari sini?”
Aku tidak
ingin memaksanya terlalu keras, jadi aku tanpa sadar bertanya demikian.
“Hanya
tinggal beberapa menit lagi. Kita hanya perlu menaiki bukit
itu.”
“Jika
kamu merasa kesulitan, bilang saja padaku ya.”
Jika
perlu, aku bisa menggendongnya. Aku mencoba menyampaikan nuansa
itu, dan sepertinya dia mengerti. Dia sedikit tersenyum.
“Ya.
Aku mengandalkanmu.”
Kami
mulai berjalan perlahan. Mempertimbangkan kondisi Ichijou-san, kami berjalan lebih lambat
dari biasanya.
“Dua
tahun yang lalu di musim pasan.
Aku dan ibuku mengalami kecelakaan.
Kecelakaan runtuhnya terowongan. Mungkin berita itu juga dilaporkan di media,
kan?”
“...”
Aku ingat
beritanya.
Itu
adalah kecelakaan yang cukup besar. Ada banyak
orang yang meninggal. Aku mendengar dari ibuku bahwa ada orang yang dikenal
ayahku terlibat dalam kecelakaan itu.
“Aku
yang seharusnya ada di dalam mobil tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin aku
pingsan sejenak. Ingatan sebelum dan sesudahnya kabur. Tapi satu hal yang
pasti, ibuku melindungiku. Ibu berkorban untukku. Meskipun dia mengalami luka
parah, saat aku terbangun, kata pertamanya adalah 'syukurlah, kamu baik-baik saja'.”
Dia
memilih kata-katanya dengan
perlahan sembari menundukkan kepala.
“Aku
yang salah mengira ibuku selamat segera merasa putus asa. Bagian bawah tubuh
ibuku terjepit di bawah reruntuhan besar. Di sana juga ada banyak darah yang menggenang...”
Aku
merasa semakin tertekan mendengarnya.
“Aku
menangis dan berteriak meminta tolong. Kurasa Ibuku mungkin sudah siap menghadapi
kenyataan. Meskipun seharusnya itu sangat menyakitkan, dia berusaha
menenangkanku dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Wajah ibu
perlahan kehilangan warna. Aku hanya bisa memegang tangan ibu yang semakin
dingin.”
Kakinya
berhenti sepenuhnya.
Mana
mungkin kami bisa melanjutkan lebih jauh. Aku
berpikir untuk menyuruhnya kembali, tetapi saat itu aku merasa pelukan lembut.
Sentuhan manis dan lembut itu terasa. Dia menangis di bahuku.
“Maaf.
Biarkan aku seperti ini sedikit lebih lama.”
Beban
yang dia pikul terlalu berat.
Dan itu
sangat kejam.
“Tidak
apa-apa. Tarik napas dalam-dalam. Aku akan selalu berada di sini.”
Aku memeluk tubuhnya sampai napasnya kembali tenang.
※※※※
“Terima
kasih, aku sudah tenang.”
Dia
perlahan-lahan menjauhkan dirinya. Seperti biasa, dia berusaha
tersenyum meskipun terlihat dipaksakan.
“Ichijou-san, lebih baik kalau kita kembali sejenak...”
Saat aku
mengajukan tawaran itu, dia menggelengkan kepalanya.
“Kita sudah
hampir sampai, aku baik-baik saja.”
Dia mulai
berjalan perlahan lagi. Kami sampai di pemakaman di puncak bukit.
Kami
berdiri di depan sebuah makam yang megah.
“Ibuku menyukai laut dan gunung. Itulah sebabnya
dia dimakamkan di sini.”
Dia
mengatakannya dengan nada kesepian.
“Setelah
kehilangan ibu, kehidupanku
seketika berubah drastis. Pertama-tama, ayahku berubah. Mungkin karena
kehilangan ibu, dirinya jadi
tenggelam dalam pekerjaan dan hampir tidak pernah pulang. Dirinya bersikap
dingin padaku, seolah-olah ia memperlakukan orang seperti benda.”
Bukan
hanya ibunya saja, tapi bahkan ayahnya juga... Betapa menyakitkannya
bagi seorang gadis SMP. Aku bahkan tak bisa membayangkan betapa menyakitkannya.
“Ini
mungkin bukan hal yang seharusnya aku sampaikan kepada Senpai, tapi... aku juga
mulai mengalami perundungan
setelah kecelakaan itu. Mungkin karena aku sudah menjadi sosok yang mencolok,
ada orang yang merasa iri."
“Tidak
bisa dimaafkan.”
Aku tidak
bisa menahan diri untuk mengucapkannya. Padahal dia
sudah cukup menderita, tapi dia
justru
mendapat perlakuan yang menyakitkan
itu.
“Terima
kasih... Aku menjadi terkenal karena menjadi
penyintas dari kecelakaan itu dan media memberitakannya.
Karena menjadi terkenal, teman-teman sekelas terlihat baik-baik saja di depan,
tetapi di belakang, mereka menyebutku anak iblis yang tidak berperasaan karena
selamat dengan mengorbankan ibunya. Di saat-saat terburuk, aku menerima
panggilan tidak dikenal di ponsel, dan seseorang meniru suara ibuku dan
berkata, 'Aku kesakitan, tolong aku.'”
Aku
terdiam dan tidak bisa bergerak karena merasa syok. Itu
adalah batasan yang seharusnya tidak boleh dilanggar
oleh manusia.
“Seharusnya
aku mati bersamanya pada hari itu. Meski ibuku
berjuang untuk menyelamatkanku, aku merasa benci pada diriku sendiri karena merasa telah mengkhianatinya. Itulah sebabnya, pada hari itu,
aku berada di atap. Rasa putus asa karena kehilangan segalanya perlahan-lahan
semakin besar. Kurasa
aku pergi ke tempat itu tanpa berpikir panjang.”
Sekarang,
aku yang memeluknya.
“Senpai?
Kenapa kamu menangis?”
Kurasa mana
mungkin untuk tidak menangis.
“Memangnya
ada orang yang bisa tetap tenang setelah mengetahui orang yang mereka sukai diperlakukan seperti itu oleh
orang lain?”
“Kamu
sangat baik. Karena itu, izinkan aku meminta maaf. Aku sudah berbohong padamu
selama ini. Namaku sebenarnya bukan 'Ichijou' Ai. Ichijou adalah nama keluarga ibuku...
Apa kamu masih bisa menyukaiku meskipun begitu?”
Kami
mulai berjalan perlahan.
Mungkin, alasan dia tidak melanjutkan ke SMA
afiliasinya adalah demi
menyembunyikan identitasnya. Melanjutkan
ke sekolah lain dan menggunakan nama keluarga ibunya. Jika tidak begitu, dia
mungkin tidak bisa melindungi dirinya sendiri.
“Jangan
khawatir, itu tidak mengubah orang yang kusukai.”
Batu
nisan itu terukir nama seorang
wanita.
Ugaki Hitomi.
※※※※
──Sudut Pandang Ichijou Ai──
Aku
selalu merasa cemas. Tanpa
sengaja, aku terus berbohong kepada Senpai.
Itu
adalah informasi paling penting, yaitu nama asliku. Selain itu... seharusnya ada rasa yakin
bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi... aku takut untuk membicarakan
tentang ibuku.
Bahkan
ayahku, yang seharusnya menjadi keluarga terdekat, telah menjauh dariku. Aku
tidak bisa menahan rasa takut bahwa Senpai juga mungkin akan melakukan hal yang
sama.
Setelah
ibu meninggal, aku hampir tidak pernah bertemu ayah lagi.
Sekretaris
ayah memberitahuku bahwa untuk menghindari perundungan,
aku harus melanjutkan sekolah SMA
menggunakan nama keluarga ibuku.
Aku merasa putus asa karena ayah yang sangat kucintai hanya bisa menyampaikan
hal penting ini melalui orang lain.
“Kamu adalah anak yang tidak
diinginkan.”
Aku
merasakan keputusasaan, seolah-olah dia mengatakan itu padaku. Kehilangan
tempat yang hangat itu terasa sangat menyakitkan.
Aku
memberitahu sekretaris ayahku
bahwa aku mengerti dan melanjutkan dari sekolah SMP
swasta di Tokyo ke sekolah SMA
negeri di Chiba, serta mulai hidup sendiri.
Mungkin
dengan perubahan lingkungan, akan ada perubahan dalam perasaanku. Lagipula, di sinilah tempat di mana ayah dan ibu
dibesarkan.
Mungkin,
aku bisa menemukan harapan di sini. Aku memelihara harapan yang tipis itu. Namun, tidak ada harapan di
lingkungan ini.
“Pada
akhirnya, semua orang memperhatikanku
hanya karena penampilanku dan latar
belakang keluargaku yang dirumorkan. Mana
mungkin aku bergaul dengan orang yang bahkan belum pernah berbicara denganku.”
Aku sudah
merasa tidak percaya pada orang lain karena perundungan
yang kualami. Meskipun aku semakin waspada terhadap orang lain, berbicara
dengan orang asing hanya menambah rasa sakitku.
Materi
pelajaran di sekolah juga hanya mengulang apa yang sudah kupelajari di SMP. Satu-satunya kesenangan yang aku
miliki adalah waktu sendirian di rumah, membaca buku atau menonton film, hanya
menunggu waktu berlalu.
Baru-baru
ini, ketika aku secara kebetulan bertemu Amada-san, dia terlihat seperti zombie
dalam film. Sebelum
bertemu Senpai, mungkin aku
juga terlihat seperti itu.
Kesepianku semakin mendalam saat liburan musim
panas.
Ketika
ibuku masih hidup, liburan musim panas
penuh dengan kenangan menyenangkan saat kami pergi berlibur bersama keluarga.
Sekarang, aku menghabiskan waktu di rumah sendirian. Mungkin, ayah akan
menghubungiku.
Meskipun
aku selalu menempatkan ponsel di dekatku, ponselku
sama sekali tidak pernah berbunyi.
Aku telah
menunggu, menunggu, dan menunggu.
Semakin
lama liburan musim panas berlangsung, semakin dingin hatiku. Aku sering kali terbangun tanpa sebab dan menyadari bahwa aku
telah menangis.
Dan aku
menyadari bahwa aku sudah di ambang batas.
Saat
itulah, aku mendengar tentang Aono Eiji. Sepertinya rumor tentang dirinya yang melakukan kekerasan
terhadap wanita yang sedang dipacarinya
mulai menyebar.
Namun,
hanya rumor yang beredar. Foto yang dianggap sebagai bukti hanya menunjukkan
lengan seorang wanita yang tidak dikenal dengan memar. Foto-foto itu sepertinya
bisa ditemukan di mana saja di internet.
Pada
akhirnya, manusia memang dipenuhi dengan niat jahat.
Setelah
sampai pada kesimpulan itu, aku merasa ingin mengakhiri segalanya.
Dan aku
menuju atap sekolah. Karena kuncinya rusak, jika memutar gagang pintu ke arah
yang berlawanan, pintu itu akan terbuka. Aku sering menggunakannya ketika ingin
sendirian, jadi pintunya terbuka dengan mudah.
Akhirnya
aku bisa bertemu ibu. Pada
saar aku berpikir demikian, di ujung perjalanan yang penuh
keputusasaan ini, aku menemukan harapan.
※※※※
Setelah aku menceritakan semuanya, air
mata mengalir dari mata Senpai.
“Senpai?
Kenapa kamu menangis?”
Meski aku
tahu alasannya, aku tetap bertanya. Untuk
memastikan kebaikan hati Senpai.
“Memangnya
ada orang yang bisa tetap tenang setelah mengetahui orang yang mereka cintai diperlakukan seperti itu oleh
orang lain?"
Itulah
kata-kata yang ingin kudengar sejak lama. Kata-kata yang menghangatkan hati.
Anehnya, aku tidak merasa takut.
“Kamu
sangat baik. Karena itulah, izinkan
aku meminta maaf. Aku sudah berbohong padamu selama ini. Namaku
sebenarnya bukan 'Ichijou'
Ai. Ichijou adalah
nama keluarga ibuku... Apa kamu masih bisa menyukaiku meskipun begitu?”
Aku
menyampaikan satu rahasia lagi padanya.
Suaraku bergetar begitu jelas bahkan aku sendiri bisa mendengarnya. Aku memang
takut mendengar jawabannya. Mungkin, aku akan ditolak olehnya, dan itu
membuatku ketakutan hingga kakiku bergetar. Bukan hanya kakiku saja. Seluruh tubuhku tidak bisa
berhenti bergetar.
Namun,
kata-kata berikutnya disampaikan dengan tegas, dan menyelimutiku dengan begitu
banyak kebaikan.
“Jangan
khawatir, itu tidak mengubah orang yang kusukai.”
Aku
sangat mencintainya saat dirinya
dengan tegas mengatakannya. Getaran yang kurasakan sebelumnya terasa seperti
kejadian yang jauh. Hatiku dipenuhi oleh keberadaannya.
Aku
benar-benar bersyukur bisa bertemu dengannya. Di atap itu, aku sangat berterima
kasih atas keajaiban yang terjadi hingga membuatku meneteskan air mata. Aku
ingin percaya bahwa itu adalah takdir. Momen penyelamatan yang akhirnya
diberikan oleh Tuhan yang jahat dan kejam. Setidaknya, momen itu mengubah kehidupanku. Dia menyelamatkanku dari
penderitaan yang mengerikan.
Untuk
menahan air mata yang tak kunjung berhenti, aku bersandar di bahunya. Entah
sudah berapa kali aku melakukannya.
Aku seharusnya berpikir bahwa aku kuat, tetapi akhirnya aku menyadari betapa
lemahnya diriku. Dirinya mengajariku semua hal
ini. Semuanya karena dirinya.
“Menurutku
aku tidak menjalani kehidupan yang bisa dipuji, tetapi pada
hari itu... di atap itu, satu-satunya hal yang bisa kubanggakan adalah bisa
menyelamatkanmu. Itu sebabnya,
aku akan mengatakan kata-kata yang sama seperti kemarin...”
Di depan
makam ibuku, Senpai
menatapku dengan serius. Kedengarannya
seperti sebuah deklarasi untuk ibuku yang telah mengorbankan segalanya untuk
melindungiku.
“Jika
kamu mau menerimaku yang seperti ini... jika kamu bisa memaafkanku. Aku akan
selalu berada di sampingmu,
Ai-san. Aku tidak
akan pergi ke mana pun, pasti.”
Ia menepati janjinya. Meskipun aku
telah berbohong padanya... Ia
memanggilku dengan nama Ai-san,
bukan Ichijou maupun
Ugaki. Itu berarti cuma ia satu-satunya yang mengakui diriku
yang selama ini ditolak oleh orang lain... dan emosi itu mengalir deras ke
dalam diriku.
Aku ingin
memperkenalkan Senpai dengan baik kepada ibuku yang telah melindungiku.
Mungkin, ibuku akan senang di sana. Jadi, aku ingin menyampaikan perasaan yang
tulus.
Ibu, aku
akhirnya menemukan seseorang
yang istimewa bagiku.
Untuk menyampaikan
hal itu.
Rasanya sungguh
tidak adil. Bagaimana bisa kamu tahu kata-kata yang ingin aku dengar?
“Aku
juga senang bisa bertemu denganmu. Aku sudah lama ingin bertemu dengan
seseorang yang bisa mendengarkan semuanya. Hei, Senpai? Boleh aku meminta satu
hal lagi?”
“Ya.”
“Jika
memungkinkan, bisakah kamu memanggilku
dengan namaku mulai sekarang? Aku adalah Ichijou
Ai, tapi aku bukan Ichijou Ai.”
Dirinya mengangguk.
Dan
sambil menatapku yang berkaca-kaca, dia dengan suara yang tulus mengabulkan
permintaanku.
“Mulai
sekarang, mohon bantuannya ya,
Ai-san.”
Aku
berharap waktu bisa berhenti seperti itu. Sambil berharap demikian, aku memeluknya erat-erat.
※※※※
──Sudut Pandang Aono Eiji──
Dalam
perjalanan pulang, kami hampir tidak berbicara sama
sekali. Meskipun begitu, kami terus berpegangan tangan sepanjang waktu.
Akan tetapi,
ada satu hal yang menggangguku dan
aku tidak bisa mengungkapkannya melalui kata-kata.
Oleh karena
itu, setelah berpisah dengan Ai-san dan pulang ke rumah, aku
segera menanyakan kepada ibuku yang menyambutku.
“Hei,
Bu. Paman Ugaki sudah lama tidak mengunjungi restoran kita ya?”
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
