Chapter 6 — Dendam dan Pengampunan
“Selamat
datang kembali, Onii-chan,
Fine-oneechan. Kupikir
kalian akan menginap, tapi kalian sudah kembali. Padahal
aku ingin bilang semalam pasti menyenangkan, bukan?”
“Nggh!?
“Menyenangkan...?”
Setelah
tiba di rumah dan membuka pintu depan, Aisha yang sudah menunggu muncul dengan
senyum ceria dan mengucapkan sesuatu yang mengejutkan. Aku terkejut dan tanpa
sadar mengeluarkan suara aneh, sementara Fine tampak bingung dan tidak mengerti maksud perkataannya.
“A-Ash-san, kamu baik-baik
saja!?”
“Y-Ya, aku baik-baik saja... Ah, aku pulang, Aisha.”
“Ya,
selamat datang kembali. Hei, Fine-oneechan,
aku lapar, jadi buatkan aku makan, ya!”
“Ah, maaf
ya. Aku akan segera membuatnya...!”
Fine yang
didesak oleh Aisha melangkah ke dapur dengan wajah khawatir melihatku. Setelah memastikan Fine pergi,
Aisha mendekat dengan senyum nakal.
“Jadi,
bagaimana? Apa kencan
dengan Fine-chan, berhasil?”
“...Kenapa
aku harus memberitahumu?”
“Eh, kamu benar-benar bilang begitu? Padahal aku sudah memberi dorongan pada Onii-chan buat
menembaknya, dan bahkan aku menjaga rumah untuk kencan hari
ini, tapi kamu tidak mau memberitahuku?”
“Ugh...”
Memang benar bahwa tanpa Aisha, aku mungkin
tidak akan bisa memantapkan hati untuk menyatakan
perasaanku kepada Fine.
“...Aku
benar-benar berterima kasih untuk itu.”
“Jangan cuma berterima kasih doang, ayolah cepat beri tahu aku bagaimana
kencan kalian, oke?”
“...Kencannya sendiri hampir berhasil. Tapi, ada
beberapa hal yang membuat suasananya jadi canggung.”
“Hmm? Memangnya kalian bertengkar atau semacamnya?”
“Tidak,
bukan seperti itu... Kurasa tidak baik juga jika
kita terus-terusan berdiri di sini, lebih
baik kita membahasnya di ruang kerja.”
Tidak ada
gunanya menyembunyikan hal aneh di depan Aisha yang memiliki pengetahuan
tentang game, dan meskipun aku tidak tahu kapan Aisha meninggal, dia mungkin
memiliki informasi yang tidak aku ketahui.
Dengan
pemikiran itu, aku mengajak Aisha menuju ruang kerja di lantai dua dan mulai
membicarakan keributan zombie yang terjadi di pusat perbelanjaan.
“Eh,
dunia ini memiliki elemen horor zombie seperti itu?”
Aisha
terkejut mendengar ceritaku.
“Melihat
reaksimu, berarti kamu benar-benar tidak tahu, kan?”
“Ya,
tidak tahu. Aku sudah cukup bermain ‘Kizuyoru’, tapi baru kali ini aku
tahu bahwa ada zombie mengerikan seperti itu di dunia ini.”
Aisha
menggelengkan kepala dengan penuh semangat menolak. Sepertinya dia benar-benar tidak
tahu apa-apa tentang zombie yang menyerang Fine. Kalau begitu, apa ini berarti ada
sihir yang tidak ada dalam cerita utama ‘Kizuyoru’ atau buku
panduan?
...Jika
benar, ini bisa menjadi masalah yang cukup rumit.
Aku bisa
bergerak cukup bebas di dunia ini karena aku memiliki pemahaman tentang isi
karya asalnya, yaitu ‘Kizuyoru’. Jika asumsi itu runtuh, aku
mungkin harus lebih berhati-hati dalam bertindak ke depannya.
Namun,
yang paling menggangguku saat ini adalah...
“Jadi,
Fine-chan merasa bahwa dia bertanggung jawab atas
penyerangan
zombie, dan Onii-chan merasa
khawatir tentang hal itu, benar ‘kan?”
“...Benar.”
“Tapi
Fine-chan, sepertinya dia cukup baik-baik saja dan terlihat ceria, kan?”
Memang
benar bahwa perilaku Fine sedikit lebih tenang sejak insiden di taman itu. Namun, dia memiliki kebiasaan
untuk memaksakan diri, jadi hanya karena dia terlihat baik-baik saja, bukan berarti aku bisa merasa
tenang...
“Hmm, menurutku Onii-chan cuma terlalu
khawatir. Suara Fine-chan sudah kembali seperti biasanya.”
“Tapi,
tidak mungkin hanya dengan mendengar suaranya, kita bisa dengan mudah membuat
penilaian, ‘kan?”
“Aku memahaminya kok. Karena akulah orang yang
paling tahu tentang Fine-chan di dunia ini.”
Aisha
menanggapi jawabanku dengan tersenyum bangga.
“...Kamu sepertinya sangat percaya diri. Meskipun
kamu sudah banyak bermain game, Fine di dunia ini berbeda dengan Fine di dalam game.”
“Aku
mengerti kok. Tidak ada orang yang lebih tahu
perasaannya saat suaranya berubah selain
aku, bahkan di dunia sebelumnya.”
Ekspresi
Aisha saat berbicara seperti itu tidak lagi terlihat seperti anak kecil yang
nakal, melainkan memberikan kesan wanita yang agak dewasa, dan sekaligus
mengingatkanku pada sesuatu yang nostalgia...
“Hei, bagaimana kamu bisa berpikir
bahwa aku adalah kakakmu dari kehidupan sebelumnya? Bisakah kamu memberitahuku
alasannya?”
“Loh~. Apa kamu mulai percaya pada
ceritaku?”
“Ak-Aku cuma
ingin tahu. Aku juga ingin tahu seperti apa diriku di kehidupan
sebelumnya.”
“...Hmm.
Baiklah. Karena Onii-chan sepertinya
mengalami banyak hal hari ini, jadi aku akan memberitahumu secara khusus.”
Setelah
berkata demikian, Aisha mendekat dan mengulurkan tangannya.
“Cobalah
pegang tanganku dengan tangan kiri.”
“? Kenapa
aku harus melakukan itu...?”
“Sudahlah,
cepatlah lakukan.”
Meskipun
aku tidak mengerti sama sekali, aku mengikuti perintahnya dan berjabat tangan
dengan Aisha menggunakan tangan kiri. Setelah
itu, Aisha melihat tanganku dengan ekspresi campuran antara lega dan kasihan,
serta senyuman yang penuh emosi.
“Hei, ini maksudnya apaan?”
“‘Onii-chan’ tuh, sewaktu
kecil mengalami banyak hal dan mengalami luka parah di tangan
kiri, sehingga ia tidak bisa menggerakkan jari-jarinya kecuali ibu jari selama
waktu yang lama.”
Aisha
berbicara tentang 'Onii-chan' dengan emosi yang mendalam. Dilihat
dari isi ceritanya,
sepertinya dia merujuk pada kakak
laki-laki dari kehidupan sebelumnya yang bernama ‘Saya’, tetapi
kenapa dia membahas hal itu sekarang...?
“Akibatnya,
meskipun Onii-chan sudah
sembuh dari lukanya, saat menyentuh sesuatu dengan tangan kiri, ia berusaha
agar tidak merasakan sakit, sehingga ia tidak membiarkan jari-jari lain selain
ibu jari menyentuhnya. Sama persis
seperti yang Onii-chan lakukan
sekarang.”
Setelah
mendengar itu, aku baru menyadari bahwa aku memang melakukan cara yang khas
seperti yang Aisha katakan.
Dan ini
bukan pertama kalinya.
Karena
ini bukan tangan dominanku, aku tidak pernah menyadarinya, tetapi sejak aku memiliki kesadaran diri, aku
memang selalu menyentuh atau menggenggam sesuatu dengan cara seperti ini.
Jika aku
melakukan gerakan yang begitu khas, tidak mengherankan jika Aisha yakin bahwa aku
adalah “Onii-chan-nya.”
...Namun.
“Inilah
alasan mengapa aku yakin bahwa kamu adalah ‘Onii-chan.’
Bagaimana? Apa kamu bisa mengingat sesuatu?”
“──Tidak,
aku tetap tidak bisa mengingat apapun tentang diriku yang sebelumnya.”
“Be=Begitu ya. Ya, ya, mana mungkin langsung mengingat
semuanya, kan? Tapi aku percaya bahwa suatu saat Onii-chan
akan bisa mengingat saat-saat ketika kamu adalah ‘Onii-chan’!”
Saat aku
jujur menyampaikan hal itu, cahaya di sorot mata
Aisha tampak memudar sejenak, tetapi dia segera memaksakan
senyum dan berbicara seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Melihat
ekspresi itu membuatku merasa bersalah, tetapi apa yang tidak bisa diingat
tetap tidak bisa diingat. Lagipula,
jika aku berbohong dan memberikan harapan palsu,
hal itu
justru hanya akan mengecewakannya di kemudian hari.
“Untuk
sementara, mari kita turun. Fine mungkin sudah menyelesaikan masakannya untuk makan malam.”
“...Ya,
itu benar.”
...Sungguh,
ada banyak hal yang tidak berjalan
sesuai rencana.
Saat aku
memikirkan hal itu dan berniat menghela napas kecil, tiba-tiba...
*Gong...
Gong... Gong...*
“Eh, ini...!”
“? Apa
ini, bunyi lonceng...?”
Bunyi
lonceng berat yang tiba-tiba menggema.
Bunyi lonceng
ini, yang bergaung berkat alat sihir akustik sehingga kemungkinan semua orang
di ibu kota kerajaan dapat mendengarnya, disebut ‘Lonceng
Agung,’
dan dimaksudkan untuk memberi tahu rakyat tentang peristiwa-peristiwa penting
nasional.
Jumlah
bunyi lonceng ‘Lonceng
Agung’
menunjukkan apa yang telah terjadi.
Jika
lonceng berbunyi satu kali, itu berarti ratu sedamg
hamil; dua kali berarti kelahiran pangeran atau putri; dan
jika berbunyi tiga kali, itu menandakan bahwa... raja dalam kondisi
kritis.
Setelah
satu masalah teratasi, masalah lain muncul, dan Kerajaan Lacresia semakin terjerumus ke dalam kekacauan
lebih lanjut.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya