Chapter 8 — Buku Aneh
“Aku pulang.”
“Ah,
selamat datang kembali!”
Setelah
melaporkan penukaran item dan penyelesaian misi di Guild Petualang, aku pulang
ke rumah dan bertemu Aisha yang masih mengenakan piyama.
“Jangan
bilang kamu menghabiskan waktu dengan pakaian itu?”
“Emang? Karena sekolah dimulai besok, jadi
aku ingin bersantai dan menyegarkan diri sampai saat itu.”
Ketika
aku bertanya, Aisha menjawab sambil menguap dengan terlihat mengantuk.
… Rasanya
dia sedang berada di jalur menjadi manusia tak
berguna, tapi apa dia benar-benar baik-baik saja?
Ah,
mungkin aku bisa memikirkannya nanti.
“Ngomong-ngomong,
di mana Fine?”
“Fine-chan? Tadi
aku melihatnya sedang melihat-lihat di dapur, dan sepertinya ada yang terlupa
dibeli, jadi dia pergi terburu-buru dengan tas belanja.”
Aku
berpikir kenapa suasananya terasa sunyi sekali
dan
aku menyadari kalau ternyata
Fine sedang berbelanja. Belakangan
ini, ketika pulang, Fine selalu menyambutku atau kami pulang bersama…
… Hmm.
“Apaan nih~?
Apa kamu merasa kesepian tanpa Fine kesayanganmu?”
“Ya,
ada sedikit perasaan seperti itu. Tapi aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
“O-Ohh,
jika kamu menjawabnya secara langsung, aku jadi merasa
kecewa sendiri. Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?”
Aku
mengeluarkan buku sejarah yang kutemukan di saluran bawah tanah dari tas, lalu
menunjukkan halaman yang terdapat catatan misterius kepada Aisha.
Setelah
itu, aku mencoba mencari catatan serupa yang lain, tetapi akhirnya hanya
menemukan tulisan yang sama di buku ini. Karena aku sudah mengeluarkan
perisai pertahanan untuk melindunginya, seharusnya ada alasan di balik itu…
“Eh,
'Monster-monster mengerikan itu berusaha
mengambil alih kerajaan'? Apa-apaan ini?”
“Aku
menemukannya secara kebetulan. Aku pikir kamu mungkin memiliki informasi
tentang 'Kizuyoru' yang tidak kuketahui.”
“Wah,
aku juga belum pernah melihat atau mendengar tentang ini, jadi aku tidak tahu.”
“…
Jadi kamu benar-benar tidak tahu apa-apa, ya.”
“Tidak
tahu, tidak tahu. Aku benar-benar belum pernah melihat ini.”
Aisha
menggelengkan kepala berkali-kali sambil mengatakan bahwa dia tidak tahu.
… Jika melihat reaksinya, sepertinya dia
tidak sedang berbohong.
“Umm,
jika tidak ada yang lain, aku ingin kembali ke kamarku.”
“Ah, ya, maaf sudah menghentikanmu.”
“Ya…”
Setelah itu, Aisha pergi kembali ke dalam kamarnya,
aku menghela napas.
Jika dia meninggal setelah kematianku, mungkin
dia memiliki informasi tentang 'Kizuyoru' yang tidak kuketahui. Itulah sebabnya aku
bertanya…
“…
Mungkin aku harus mandi dan mengganti pakaian.”
Mungkin
lebih baik jika aku berhenti memikirkan hal itu?
Dengan
pikiran itu, aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan
tubuhku yang kotor dari saluran bawah tanah.
※※※※
Malam
itu.
(Tapi apa
yang harus kulakukan tentang itu…)
Sambil
duduk di sofa ruang tamu dan menatap langit-langit, aku kembali memikirkan
catatan misterius yang tertulis di buku sejarah yang kutemukan di saluran bawah
tanah.
'Negara
ini sudah berakhir. Monster-monster mengerikan itu berusaha untuk mengambil alih kerajaan.'
Aku tidak
mengerti arti kalimat ini. Apa yang dimaksud dengan 'berakhir'? Dan apa makna sebenarnya dari 'monster-monster
mengerikan' itu?
Aku
mendengar bahwa istana adalah sarang
yang penuh dengan roh jahat, tetapi apa monster-monster itu hanyalah ungkapan kiasan, atau itu
merujuk pada ras iblis atau monster yang menyamar sebagai manusia?
Selain
itu, orang yang menulis catatan ini tampaknya berada dalam posisi di mana dia
bisa bertemu raja jika dia ingin, seperti yang tertera dalam kalimat [Aku harus menyampaikannya kepada Yang Mulia].
Jika
demikian, mungkin ini seharusnya disampaikan kepada kesatria atau pejabat
tinggi negara, tapi bisa juga ini hanyalah dokumen aneh yang ditulis
sembarangan oleh seorang bangsawan yang mabuk dan dibuang begitu saja.
Lagipula, jika aku jujur dan mengatakan, “Aku
menemukan ini di saluran bawah tanah,”
mereka mungkin tidak akan menganggapnya serius.
Apalagi
sekarang, akibat berbunyinya ‘Lonceng Agung’,
situasinya sudah sangat sibuk, dan mereka mungkin akan semakin dingin
terhadapku…
“Ash-san, mau teh?”
Saat aku
sedang berpikir harus berbuat apa, Fine datang menghampiriku dengan segelas es
teh.
“Ah,
terima kasih.”
Aku
menerima gelas dari Fine dan segera meneguk teh yang dia buat.
“Ya,
seperti yang kuduga, teh buatan Fine memang yang paling enak di dunia.”
“Aku senang
mendengarnya…”
Fine
tersenyum lembut seperti biasanya, tapi dia
tiba-tiba terdiam saat melihat wajahku.
“…
Fine? Apa ada sesuatu yang
menempel di wajahku?”
"Ah,
ma-maafkan aku! Karena
wajah Ash-san terlihat sangat tampan dan menawan seperti biasanya!”
“O-oh.
Terima kasih atas pujiannya…?”
Karena pujian itu datang begitu mendadak sehingga membuatku
kebingungan dan aku mencoba
menenangkan diri dengan meneguk es teh. Jika tidak ada yang aneh di wajahku,
itu membuatku lega, tetapi mengapa Fine bereaksi seperti itu?
Saat aku
merenungkan hal itu, Fine dengan ekspresi cemas bertanya padaku.
“Umm, Ash-san. Apa ada sesuatu yang sedang kamu khawatirkan?”
“Kh-Khawatir?
Ehm, kenapa kamu bertanya seperti itu…?”
“Habisnya, kamu kelihatan sangat Lelah hari ini. Selain itu, maaf jika ini
terdengar aneh, tetapi aura atau suasana yang kamu pancarkan terlihat lebih
gelap dan suram dari biasanya…”
Aura yang
gelap dan suram. Aku tidak merasa memancarkan hal semacam itu…
Tunggu
sebentar. Sepertinya aku pernah mendengar kata-kata itu di suatu tempat? Pasti
di dalam game 'Kizuyoru'──.
… Ah!
“Ma-Maafkan
aku. Aku jadi mengatakan sesuatu yang aneh. Lupakan saja apa yang barusan aku katakan──”
“Fine.
Bisakah kamu sampaikan kepada Nona Valen bahwa aku ingin bertemu dengannya setelah sekolah besok?”
“…
Baiklah?”
※※※※
Keesokan
harinya sepulang skeolah, ketika
aku sedamg mengerjakan PR di teras kantin
Akademi Sihir Kerajaan yang sepi karena langit mendung, Fine dan Agnes datang
bersama.
“Ma-Maaf
sudah membuatmu menunggu.”
“Tidak, tidak, akulah yang seharusnya meminta maaf karena
tiba-tiba memanggilmu.”
“Ti-Tidak
ada masalah, sih…”
Melihat
mereka berdua berdiri berdampingan seperti ini
rasanya mirip dalam adegan sebuah permainan, dan aku
mengajak mereka untuk duduk.
Namun…
(Ternyata
Fine sudah gelisah sejak kemarin, ya?)
Sambil
memanggil pelayan untuk memesan teh tambahan untuk mereka, aku menatap Fine. Pada awalnya, kupikir dia bereaksi aneh karena bertengkar
dengan Agnes atau semacamnya, tetapi karena mereka duduk bersebelahan,
sepertinya bukan itu masalahnya, ya…
“Umm,
jadi ada keperluan apa denganku?”
“Ehm,
bagaimana keadaan kabar Aldy
sekarang?”
“Aldy?
Dia sudah pulih dan sepertinya sekarang sedang berjalan-jalan di sekitar.”
Aldy
adalah makhluk yang diciptakan oleh keluarga Count
Valen, tempat Agnes berasal, dan sekarang berada dalam kontrak dengannya. Setelah menggunakan kekuatannya
terlalu banyak, Aldy telah masuk ke dalam keadaan hibernasi beberapa waktu yang lalu, tetapi
sepertinya sekarang sudah pulih cukup untuk bergerak bebas.
“…
Apa jangan-jangan kamu ada
keperluan dengan Aldy?”
“Ah,
ya. Maaf jika membuatmu merasa tidak enakan.”
“Tidak,
tidak ada masalah! … Lihat, ‘kan?
Ternyata ini cuma imajinasimu
saja.”
“I-Iya,
maaf ya, Agnes-san.”
Agnes
tampak lega dan menghela napas sambil mengusap dadanya, kemudian memberi
sedikit dorongan pada tubuh Fine yang duduk di sebelahnya. Fine terlihat
menundukkan kepala dengan rasa bersalah kepada Agnes.
“Eh,
ini sebenarnya ada apaan…?”
“Ja-Jadi,
ini hanya masalah pribadiku…! Po-Pokoknya, tolong lupakan tentang ini
untuk sekarang…!”
“O-Oh…”
Kenapa
Fine begitu panik? Apa yang sebenarnya terjadi?
Meskipun
aku merasa sangat penasaran, tapi sepertinya Fine tidak ingin
membicarakannya, jadi lebih baik aku membiarkannya saja untuk saat ini.
“Ehm,
jadi, Ash-san. Ada keperluan apa dengan Aldy?”
“Ah,
ya. Aku ingin memintanya untuk
menyelidiki ini.”
Aku
mengeluarkan buku sejarah yang kutemukan di saluran bawah tanah dari tas dan
menunjukkan kepada mereka berdua.
“…
Eh? Rasanya seperti aku pernah
merasakan suasana ini sebelumnya.”
Fine
melihatnya dengan bingung, memiringkan kepalanya. Kalimat yang dia ucapkan
kemarin, “Aura atau
suasana yang kamu pancarkan terlihat lebih gelap dan suram dari biasanya…” Itu adalah kalimat yang keluar
saat dia melihat teman sekelas yang mencurigakan dalam game 'Kizuyoru',
yang menjadi pemicu untuk quest mengusir iblis yang merasuki siswa tersebut.
Dan ada
pengaturan bahwa seorang Saintess
atau pendeta tinggi dapat segera mendeteksi iblis atau makhluk serupa. Artinya,
buku ini, atau lebih tepatnya dokumen aneh yang tertulis di dalamnya, mungkin
menyimpan informasi tersembunyi. Dengan pemikiran itu, aku memutuskan untuk
meminta Aldy menyelidikinya.
“Tentu
saja aku akan memberikan imbalan. Bagaimana? Apa kamu bisa menerimanya?”
“Kamu tidak
perlu memberi imbalan segala!
Aku sudah banyak dibantu oleh Ash-san!
Hanya saja, informasi itu kemungkinan baru bisa disampaikan paling cepat minggu
depan…”
“Kalau
memang begitu, itu sudah lebih dari cukup. Jadi, kita bertemu
lagi di kantin pada siang hari minggu depan, dan saat itu kamu bisa
memberitahuku.”
“Baik!”
Aku
berterima kasih kepada Agnes karena mau membantuku, lalu memberinya buku
sejarah yang kutemukan di saluran bawah tanah. Dengan begitu, pertemuan hari
itu pun berakhir dengan baik.
※※※※
“Ash-san, Fine-chan, sampai jumpa besok.”
“Iya,
sampai jumpa besok.”
“Sampai
jumpa lagi, Agnes-chan.”
Setelah berpisah
dengan Agnes di depan gedung sekolah, kami berdua pulang bersama.
Sekarang,
karena cuacanya buruk, tidak banyak orang yang berjalan di jalan utama ibukota.
Dengan waktu yang ada, Aisha pasti sudah pulang ke rumah, jadi jika ingin
bertanya, ini adalah waktu yang tepat…
“Fine,
aku ingin bertanya sesuatu…”
“Apa
itu tentang apa yang terjadi antara aku dan Agnes-chan
tadi?”
“Ah,
ya. Kamu benar.”
Usai mendengar tanggapanku, tatapan Fine mulai
menghindar.
“Sebenarnya,
sejak kemarin saat Ash-san menyebut nama Agnes-chan,
aku jadi merasa cemas…”
“Eh,
kenapa?”
“…
Aku bertanya apakah ada yang mengganggu pikiran Ash-san. Setelah mengatakannya, aku
merasa itu sangat tidak peka dan tidak sopan… Dan aku jadi berpikir, apakah aku
sudah membuatmu tidak suka padaku…”
Eh?
Tidak, tidak, itu terlalu berpikir negatif.
Aku
hampir mengatakannya, tetapi melihat wajah Fine yang benar-benar sedih dan
khawatir dengan air mata di matanya, aku terdiam.
Kalau
diingat-ingat kembali, belakangan ini aku tidak bisa
menghabiskan banyak waktu bersamanya karena berbagai hal. Selain itu, meskipun dia semakin
baik, Fine pernah mengalami pengkhianatan yang menyakitkan dari Elise, yang
dulunya dianggap sebagai sahabatnya.
Memikirkan
itu, wajar jika Fine merasa cemas.
“Maaf.
Aku tidak memikirkan perasaanmu.”
“Ak-Aku
hanya merasa sedih sendiri, jadi Ash-san tidak melakukan kesalahan sama
sekali! Ja-Jadi tolong angkat kepalamu…!”
Saat aku
menundukkan kepalaku, Fine
terlihat sangat panik.
“Kurasa itu
takkan membuatmu
merasa lebih baik. Bukan permintaan maaf, tapi izinkan aku
melakukan sesuatu untuk menebusnya.”
“Menebus?
Itu tidak perlu──”
Di situ,
Fine tampak terkejut seolah mendapatkan ide, tetapi segera menggelengkan kepala
dan mencoba mengabaikannya.
“Jika
ada yang ingin kamu minta, jangan ragu untuk mengatakannya. Meski aku tidak bisa melakukan
segalanya, tetapi aku akan berusaha memenuhi permintaanmu sebisa mungkin.”
“…
Umm, kamu yakin?”
“Iya.”
Fine
menggeliat dan mengeluarkan pertanyaan itu dengan susah payah. Ketika aku langsung menjawab, dia
menundukkan kepalanya dan berkata,
“Kalau
begitu, um, bisakah kamu memanjakanku selama sehari penuh…?”
Fine menyuarakan permintaannya dengan
mata yang berkaca-kaca dan
pipinya yang memerah, membuatnya terlihat
sangat menggemaskan seperti seorang malaikat.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya