Chapter 9 — Memanjakan
“……Ahh,
mengantuk.”
Sambil
menguap lebar, aku bangkit dari tempat tidur, membuka jendela untuk mengganti
udara di ruangan, lalu melangkah perlahan ke dalam
ruang tamu.
Waktu
menunjukkan kalau sekarang masih pagi.
Biasanya, pada jam segini, aku sudah tertidur nyenyak di dalam selimut, tetapi
karena permintaan Fine kemarin, aku bangun lebih awal sebagai langkah
berjaga-jaga.
(Dia
bilang ingin dimanjakan, tapi isi permintaannya tidak diberitahukan karena dia terlalu malu. Yah, mengingat Fine, mana mungkin dia akan
meminta hal yang aneh-aneh…
‘kan?)
Sambil
berpikir demikian, aku menggosok mata yang masih
mengantuk dan membuka pintu ruang tamu, dan bau yang menggugah selera tercium
di udara.
“Ah,
selamat pagi, Ash-san.”
Saat
mengikuti aroma itu, aku menemukan Fine yang mengenakan gaun rumah dan apron, sedang mengaduk panci di
dapur.
“Ah,
selamat pagi, Fine. Ehm, itu apaan…?”
“Ini
persiapan untuk makan malam nanti. Masakan ini
rasanya akan lebih enak jika didinginkan di dalam kulkas.”
Fine
menjawabnya dengan senyuman tenang seolah tidak terjadi
apa-apa. Aku mengira dia hanya ingin
bantuan untuk pekerjaan rumah, tetapi jika dia sedang memasak dengan cara yang
biasa, mungkin itu berarti berbeda.
Tidak,
bisa jadi aku hanya salah dengar atau salah mengartikan mimpi menjadi
kenyataan…
…
Baiklah, aku akan memeriksa.
“Ehm, Fine. Tentang permintaanmu
untuk dimanjakan kemarin──”
“!?”
Saat aku
bertanya padanya, Fine seketika terkejut dan secara tidak sengaja
menjatuhkan sendok sayurnya.
Kemudian, saat mematikan api dan menoleh, wajahnya memerah karena rasa malu.
Hmm,
sepertinya itu memang benar-benar terjadi sesuai ingatanku.
“Ma-Maafkan
aku! Aku
benar-benar telah mengatakan hal yang tidak sopan… Itu hanya karena panik, jadi
lupakan saja…!”
“Jadi,
kamu tidak sungguh-sungguh saat
memintaku untuk memanjakanmu?”
“S-Sebenarnya bukan begitu juga…”
“Kalau
begitu, jangan ragu untuk bersikap manja. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu,
dan sejujurnya, aku pikir kamu seharusnya lebih manja.”
Saat aku
menyampaikan itu, Fine menatapku dengan cemas dari bawah. Dia sangat menggemaskan.
“Apa
kamu, umm, benar-benar berpikir seperti
itu…?”
“Ya,
aku benar-benar berpikir dari lubuk hatiku.”
“…
Kalau begitu.”
Fine mendekat
dengan tampak tegang ke arahku.
“Pertama-tama, bisakah kamu mengelus kepalaku?”
“Eh?
Begini saja sudah cukup?”
Saat aku
mengelus rambutnya dengan lembut, Fine tampak sangat nyaman dan menggesekkan
kepalanya agar aku mengelusnya lebih banyak. Melihat betapa imutnya Fine
membuatku tersenyum sambil menarik tubuhnya lebih dekat──.
“Jii…”
“Eh!?”
“Aisha-chan!?”
Pada saat
itu, aku mendengar suara datang dari belakangku, dan saat menoleh, aku melihat
Aisha yang mengenakan gaun tidur imut dengan tatapan menyengat, menatap kami
dengan serius.
“Onii-chan,
Onee-chan, kalian berdua sangat
bersemangat banget pagi-pagi begini.
Jadi ini yang disebut
bermesra-mesraan, ya?”
Aisha
yang masuk ke dalam dapur
tersenyum lebar sambil mengambil pisang yang ada di dekatnya.
“Sarapanku cukup dengan ini saja.
Dan karena hari ini aku pergi ke rumah teman, jadi tidak perlu makan siang.
Sampai jumpa!”
Aisha
mengupas kulit pisang dan memakannya sambil melambaikan tangan sebelum kembali
ke kamarnya.
“…
K-Kalau begitu, sebaiknya kita makan
sarapan dulu, ya?”
“Y-ya.”
Dalam
suasana yang canggung, saat aku mengusulkan itu, Fine mulai menyiapkan sarapan
dengan wajah memerah.
…
Meskipun ada gangguan yang tidak terduga, di sisi lain, ini berarti kami berdua
bisa menghabiskan waktu bersama hari ini.
Dengan pemikiran begitu, aku berusaha untuk
memastikan waktu yang lebih lama bersama Fine, jadi aku memutuskan untuk
membantu membuat sarapan.
※※※※
“Ah,
jadi apa yang harus kulakukan?”
Setelah mengantar
Aisha yang akan pergi bermain ke rumah temannya, aku kembali ke ruang tamu dan
bertanya kepada Fine.
“…
Benar juga. Pe-Pertama-tama, bisakah kamu duduk di sofa?”
“Ya,
tentu.”
Aku
bertanya-tanya apakah itu saja yang perlu dilakukan, tetapi jika itu yang
diinginkan Fine, aku akan menurut. Sementara
itu, Fine setelah memastikan aku duduk, mengambil sesuatu yang tampak seperti
kotak dari lemari.
Kemudian,
seolah-olah memantapkan hatinya,
Fine menarik napas sebelum duduk di sebelahku sambil memeluk kotak itu.
“Ehm,
jika memungkinkan, aku ingin meminta Ash-san melakukan ini,
bolehkah?"
Fine
mengeluarkan cotton bud dari kotak dan dengan hati-hati menyerahkannya
padaku.
“…
Kamu ingin aku membersihkan
telingamu?”
“Iy-Iya. … Apa itu enggak boleh?”
Melihat Fine
yang bertanya dengan cemas, aku merasa ingin memeluknya, tetapi aku berusaha
menahan diri.
“Tidak,
itu tidak masalah. Tapi aku belum pernah membersihkan telinga orang lain
sebelumnya. Apa kamu yakin?”
“Ya!
Aku yakin!”
“Baiklah.
Kalau begitu, ayo bersandar di
pangkuanku…”
Saat aku
mengatakan itu, aku tiba-tiba menyadari sesuatu yang mengejutkan. Membersihkan telinganya berarti Fine akan berbaring di pangkuanku, bukan?
“Ash-san?”
“Bu-Bukan
apa-apa. Jika terasa sakit, segera beri tahu aku,
ya?”
“Ya.
Jadi, aku serahkan padamu.”
Te-Tenanglah.
Aku hanya akan membersihkan telinga Fine. Ini bukan hal yang tidak senonoh. Jadi, tidak ada alasan untuk
merasa gugup…!
Aku
berusaha meyakinkan diri sendiri di dalam hati sambil mengambil cotton bud,
lalu menyentuh wajah Fine yang berbaring
di pangkuanku.
“Aku mulai
ya?”
Setelah
mengucapkan satu kata itu, aku mendekatkan cotton bud ke bagian luar
telinganya dan dengan lembut menggosok telinganya. Telinga Fine tidak kotor, dan sepertinya
tidak membutuhkan pembersihan sama sekali. Sebenarnya, dengan kondisi sebersih
ini, aku jadi bingung kapan seharusnya berhenti membersihkan telinganya.
“…
Ah, di situ rasanya nikmat…”
… Untuk sekarang, mungkin
lebih tepatnya mirip seperti
pijat telinga daripada sekadar membersihkan telinga.
Melihat Fine
yang menyipitkan mata dengan nyaman, aku berpikir begitu dan terus menggosok
telinganya dengan lembut, merasakan sensasi yang mendekati keadaan setengah
hidup.
“Baik,
membersihkan telinga sudah selesai. Bagaimana? Apa terasa
sakit atau tidak bisa mendengar?”
“Ak-Aku
baik-baik saja. Terima kasih banyak. Rasanya sangat
menyegarkan.”
Pada awalnya,
aku merasa cemas jika secara tidak sengaja melukai gendang telinganya, tetapi
semakin lama aku menjadi lebih terbiasa, dan menjelang akhir, aku bisa kembali
tenang.
Sementara
itu, meskipun awalnya Fine tampak menikmati saat telinganya dibersihkan, dia
perlahan-lahan mulai merasa malu, dan sekarang wajahnya kelihatan memerah
sambil menutup mata.
Hmm,
meskipun aku pikir dia sudah terbiasa, sepertinya ini lebih kepada betapa
imutnya Fine saat merasa malu, jadi aku jadi semakin terhibur.
“Jadi,
apa yang ingin kamu minta selanjutnya? Jika itu permintaan Fine, aku akan
memenuhi apapun.”
“En-Entah
kenapa aku merasa senyumanmu
agak menakutkan!?”
“Hmm?
Mungkin itu hanya perasaan Fine doang?
Atau mungkin karena Fine membayangkan hal-hal luar biasa?”
“Ak-Aku
tidak membayangkan apa-apa!"
Fine
membalas dengan ekspresi cemberut, tetapi dia tetap tidak mau menjauh dariku.
Ya, sisi itu memang menggemaskan.
“Maaf,
maaf. Jadi, apa yang ingin kamu lakukan?”
“…
Kalau gitu, aku mau tidur
siang sekarang, jadi jadilah bantal pelukku.”
Oh, tidur
siang. Dan menjadi bantal peluk berarti…
“Apa itu
berarti kita akan tidur bersama?”
“…
Iy-Iya.
Biarkan aku memelukmu sampai aku puas. Kamu
akan mengabulkan apa pun yang kuinginkan, kan? Kamu
sudah berjanji padaku, kan?”
Wajah Fine
semakin memerah karena malu, tapi dia tetap
menunjukkan sedikit perlawanan dengan membusungkan pipinya seolah marah.
Begitu,
ya?
“Baiklah.
Kalau begitu, mari kita tidur siang sekarang. Lalu, kita mau tidur di mana?”
“Eh,
apa itu boleh?"
Saat aku
menjawab dengan cepat, Fine terlihat kebingungan dan balik bertanya.
“Fine
juga sudah bilang, ‘kan? Karena aku sudah berjanji, jadi aku akan menepatinya.”
“U-Uh… ya, benar. Ja-Jadi,
tolong ya…!”
Mungkin
Fine melihat reaksiku saat membersihkan telinganya dan berpikir bahwa aku lemah
jika dia mendekat, jadi dia meminta untuk menjadi bantal peluk sebagai balas
dendam.
Dan dia
memang memiliki sifat yang tidak bisa melanggar janji.
“…
Pertama-tama, Ash-san harus berbaring di sofa.”
Fine
dengan cemas meminta agar aku tidur terlebih dahulu di sofa. Setelah aku melakukannya, Fine
dengan suara yang sangat kecil berkata, “Permisi,” lalu berbaring di depanku dan
menyelinap ke pelukanku, merangkul punggungku.
“Kamu
tidak kepanasan?”
“Wajahku
memang sangat panas, tetapi aku
baik-baik saja. Bagaimana dengan Ash-san?
Kamu tidak merasa sesak, ‘kan?”
“Aku
sama sekali tidak masalah. Ngomong-ngomong, setelah ini kita harus bagaimana?”
“…
Tolong elus kepalaku sampai aku ketiduran.”
Fine
menggosokkan wajahnya ke tubuhku sambil meminta dengan tatapan menunduk. Sambil berpikir bahwa dia
terlihat seperti bayi, aku mulai mengelus kepalanya seperti yang diminta.
Fine
tetap mengeluarkan aroma manis yang menyenangkan, dan dengan cuaca dingin yang
akhir-akhir ini melanda ibukota, tubuhnya yang hangat membuatku merasa sangat
nyaman saat memeluknya.
Saat aku
mengelus Fine yang memelukku, aku mulai merasa mengantuk…
Tidak,
tapi aku sudah memutuskan untuk memenuhi permintaan Fine, jadi aku tidak boleh
tertidur di sini…
(… Tidak,
ini tidak mungkin.)
Pemburu
menjadi yang diburu. Atau lebih tepatnya, dalam hal ini, bantal peluk menjadi
mangsa bantal peluk, kurasa?
Bagaimanapun,
aku tidak bisa melawan godaan Fine yang imut, harum, dan lembut, yang membuatku
semakin berat dan merasa seolah-olah tubuhku dibebani besi, pikiranku mulai
kabur, dan tak lama kemudian, aku pun memejamkan
mata.
※※※※
“…?”
Tiba-tiba
aku menyadari aku berada di dalam semacam kendaraan. Awalnya kupikir itu kereta api,
tapi anehnya sempit dan hanya sedikit penumpang. Aku mencoba berdiri untuk mencari
tahu di mana aku berada, tetapi entah kenapa tubuhku sama sekali tidak bisa
digerakkan.
Rasanya
seperti tubuhku menyatu dengan kursi tempat duduk. Sepertinya hanya penglihatanku
yang bisa sedikit bergerak, jadi aku melihat sekeliling.
“…
Ini… bis, ya?”
Berdasarkan
bentuk kursi, pegangan yang menggantung dari langit-langit, dan tempat duduk
pengemudi yang bisa kulihat dari posisiku sekarang, kurasa aku berada di dalam bus.
Di dalam dunia ‘Kizuyoru’, sarana
transportasi utamanya adalah kereta kuda, sehingga
mobil, motor, serta bus belum ada. Meskipun
ada kereta sihir, mungkin tidak lama lagi kendaraan seperti itu akan
muncul.
Namun,
kembali ke topik.
Setelah
melihat-lihat interior bus, aku langsung
menyadari kalau aku sedang menaiki bus Jepang dari iklan di
dalamnya dan tulisan pada tombol untuk turun. Namun entah kenapa, pemandangan
dari jendela bus tertutup kabut putih tebal, sehingga aku tidak bisa melihat
apa pun, dan wajah penumpang lain juga tampak kabur.
Akhirnya,
aku menyadari bahwa aku sedang bermimpi. Meskipun aku merasakan getaran, tidak
ada suara atau bau, bahkan tubuhku pun hanya merasakan sensasi melayang aneh,
jadi ini pasti mimpi. Namun,
aku pernah mendengar bahwa mimpi ada untuk mengatur ingatan dan emosi.
Dan aku
tidak pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya. Jadi, ini sebenarnya mimpi
berdasarkan ingatan siapa…?
(Kalau aku perhatikan baik-baik,
iklan di dalam bus juga dalam bahasa Jepang, tetapi aku tidak bisa memahami
isinya. Kenapa aku bisa bermimpi seperti ini?)
… Tunggu.
Jika ini beneran mimpi,
berarti aku sedang tidur sekarang?
Gawat,
gawat, gawat…! Padahal aku
sudah berjanji untuk memenuhi permintaan Fine, tetapi jika aku tertidur, itu
tidak baik!
(Ah,
kenapa! Aku tahu ini mimpi, tetapi kenapa aku tidak bisa bangun?!)
…
Seharusnya lebih baik jika aku tidak menyadari ini adalah mimpi sampai aku
terbangun.
Saat aku
memikirkan hal-hal menyedihkan seperti itu, penglihatanku tiba-tiba berubah
drastis.
(Apa aku
sedang merasuki tubuh seseorang?)
Sepertinya
di dunia mimpi ini, aku berbagi pandangan dengan pemilik tubuh ini. Aku bisa melihat sekeliling tadi
karena pemilik tubuh ini yang melihat ke sekitar.
Sekarang,
orang yang aku rasuki tampaknya mengambil sesuatu dari tas kertas besar yang
ada di kakinya, yang menggambarkan seorang gadis cantik atau pemuda tampan yang
tampak familiar, serta sebuah kotak yang dibungkus plastik dengan tanda tangan
seperti artis dan tulisan “Untuk
Onii-chan”.
Setelah
menatap kotak itu, aku hati-hati mengupas plastiknya agar tidak merobek bagian
tanda tangan. Sepertinya
itu adalah kotak dengan bonus khusus dari
sebuah game.
Karena
paket game ini ialah untuk
konsol game rumahan biasa, kurasa ini bukan game dewasa, tetapi tetap saja,
mengingat hampir tidak ada penumpang lain, mungkin lebih baik jika aku
membukanya setelah sampai di rumah?
Namun,
saat ini aku tidak bisa menggerakkan tubuhku atau menghentikannya, dan tanganku
justru meraih gambar gadis cantik berambut pink di kotak itu.
'… Hmm. …
Datanglah, tolong… Nnn!'
Suara
yang familiar mengalir entah dari mana, tetapi aku tidak bisa melakukan
apa-apa, jadi aku hanya menunggu dengan tenang sampai aku terbangun.
'He-Hentikan… A… san!
Rasanya begitu… nikmat…!'
Setelah
dengan hati-hati mengupas kemasan dan meletakkannya di pangkuan, aku membalik
kotak itu dan menatap daftar pemeran serta staf yang tertera di bagian
belakang.
Sekarang,
pemilik tubuh ini mengalihkan pandangannya ke nama pengisi suara yang tercantum
bersama ilustrasi gadis cantik berambut pink yang tampaknya adalah protagonis,
sambil mengusap nama itu dengan sangat berhati-hati.
—Namun,
sesaat kemudian, pandangannya berubah, dan tubuhnya terbentur keras ke kursi di
seberangnya.
Dirinya pasti terluka di dahinya.
Pandangannya berlumuran darah merah terang, dan ia merasakan kesadarannya
perlahan goyah.
Meskipun
begitu, ia mati-matian mencoba meraih gim itu, tetapi bus berguncang hebat,
menyebabkan pemilik tubuh itu membenturkan kepala dan lehernya ke sandaran
tangan. Di ruang yang sebelumnya sunyi, terdengar suara retakan yang tidak
menyenangkan, suara yang seharusnya tidak pernah berasal dari tubuh manusia,
dan pandangannya mulai bergetar lebih hebat lagi.
Namun
dengan tangan gemetar, pemilik tubuh itu dengan lemah mencoba menarik kotak gim
itu—atau lebih tepatnya, kemasan dengan tanda tangan di atasnya—lebih dekat ke
dadanya.
'Jika terus seperti
ini… rasanya… bakalan....semakin nikma… tolong…
bangun…!'
Pertama-tama,
aku tidak bisa mengingat apa pun tentang diriku, mengapa aku
berada di bus ini, ke mana aku akan pergi, atau mengapa aku membeli game
ini.
Namun,
aku tahu bahwa ini adalah sesuatu yang sangat penting.
… Judul
paket game itu adalah [Kizuna
no Mahou to Seinaru Yakai].
Itu
adalah karya spesial di mana dia berperan. Jadi, aku membeli semua edisi dengan
bonus dari setiap toko dan merasa percaya diri karena aku telah memainkan game
ini berkali-kali hingga aku mengenal semua isinya.
Namun,
ini adalah sesuatu yang spesial yang dia berikan padaku──.
(Dia yang dimaksud itu....siapa?)
'… To-Tolong bangunlah…!'
Kemudian,
dunia tiba-tiba menjadi dingin dan gelap, dan kesadaranku terpisah dari tubuhku
yang sekarat dan kembali ke kenyataan.
Dan
begitulah, saat aku bangun lagi, yang ada di hadapanku adalah...…
“…
Se-Selamat pagi, Ash-san.”
Bahu
Fine terangkat dan wajahnya memerah, seolah-olah dia berusaha keras menahan
sesuatu. Namun,
gaun yang dia kenakan tampak aneh dan sedikit berantakan dibandingkan sebelum
aku tertidur, bahkan kulitnya terlihat lebih banyak…?
“──!?”
Aku
mengikuti pandangan Fine dan mendapati tangan kananku menyelip di bawah
gaunnya, mencengkeram payudaranya yang besar.
“Ma-Maaf! Tidak, aku sama sekali tidak
berniat melakukan itu!”
Sambil
terus meminta maaf, aku segera melepaskan tanganku, tapi Fine justru
menggenggam tanganku erat.
“…
Kamu benar-benar tidak berniat
melakukan itu?”
“Apa
maksudmu──”
Wajah
Fine yang sudah memerah karena malu, dan dia
bernapas dengan cepat. Namun
entah kenapa, meskipun aku merasakan rasa malu dan ketidakpuasan dari ekspresinya,
aku tidak merasakan kemarahan atas kesalahanku yang besar.
“Meskipun
aku sendiri yang mengatakannya, tapi aku merasa
percaya diri dengan bentuk tubuhku, kamu tidak berniat untuk memperhatikannya?”
Fine
berbicara sambil menatapku dengan tatapan menggoda, dan tanpa sadar aku mundur
sedikit. Namun,
Fine mendekat seolah-olah tidak akan membiarkanku pergi.
“Ash-san,
kamu sudah bilang sendiri,
‘kan? Bahwa kamu akan
memanjakanku. Kamu juga akan memenuhi permintaanku.”
“…
Fine, kamu tidak membicarakan tentang
ingin berciuman… atau semacamnya, kan?”
“Aku
juga ingin menciummu. Tapi,
karena kita sudah menjadi pasangan, aku ingin mencoba hal-hal yang lebih jauh.”
Aku juga seorang pria. Jika ditanya apakah aku
ingin melakukan hal-hal yang dimaksud Fine,
tentu saja aku menginginkannya.
“…
Aku harus memberi tahu ini terlebih dahulu, aku belum pernah melakukan hal
seperti ini sebelumnya, jadi aku tidak bisa menjamin akan melakukannya dengan
lembut. Jika terasa sakit atau ingin berhenti, jangan ragu untuk memberi tahuku, ya?”
“Tidak
masalah. … Aku akan menerima semua yang diberikan oleh Ash-san.”
Meskipun
dia kelihatan malu-malu,
senyuman Fine sangat
menggemaskan, dan secara naluriah aku memeluknya erat-erat dan kami bertukar
ciuman penuh gairah sebagai permulaan.
Dan
kemudian, Fine dan aku──. (TN: Ngewe dan ceritanya pun tamat~:v)

