Downer-kei Gyaru Chapter 3 Bahasa Indonesia

 

Chapter 3 — Setelah Malam Berakhir

 

Aku bisa mendengar suara burung yang berkicau, dan sinar matahari masuk melalui celah tirai. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku yang duduk di sofa memanggil Yukikawa yang duduk di sampingku. 

Sudah pagi... ya.

Ya... seekarang sudah pagi. 

Kita begadang semalaman, ya...

Benar...

Kami berdua menunduk lemas. 

Pertama-tama, mari aku ceritakan kronologi kejadian. 

Semalam, kami masing-masing menghabiskan waktu sesuai keinginan. 

Namun, ketika sudah melewati tengah malam, setelah Yukikawa selesai membaca manga Pelayanan paket yang Melintasi Waktu, kami mengadakan sesi tukar pendapat────.

 

Ah, bukannya ini 'Smashis'! 

Yukikawa mengambil game yang terletak di dekat televisi. 

Smash Sisters, disingkat Smashsis”. Sebuah game pertarungan yang mengumpulkan karakter wanita dari berbagai game. 

Saat ini, game ini sangat terkenal hingga memiliki divisi profesional. 

Ah, aku belum pernah memainkannya sama sekali sejak aku membelinya, tapi aku membawanya untuk berjaga-jaga. 

Eh, kenapa? Padahal ini seru ‘kan, ya? 

Karena tidak ada teman untuk bermain...

......Oh, begitu ya.

“Umm, tolong jangan merasa kasihan padaku, ya? 

Itu hanya membuatku semakin merasa malang. 

Kalau begitu, ayo kita main bareng. Aku sudah penasaran dengan ini.

Boleh sih... tapi apakah kita punya waktu? Sudah lewat tengah malam, kita harus tidur supaya tidak mengganggu besok.

Umm... kalau sebentar saja sih sepertinya tidak masalah, kan?

......Ya, mungkin sebentar saja tidak apa-apa. 

Lagipula, meskipun aku mencoba tidur sekarang, aku tidak akan langsung bisa tidur. 

Pertama-tama, aku menghubungkan konsol game yang hampir tidak terpakai ke televisi. Kemudian, aku menggenggam controller dan menyalakan game.

 

────Tapi justru itulah kesalahan terbesarku.

 

Nagai, bukankah karakternya terlalu sedikit sekali?

“Aku tidak pernah memainkannya sama sekali... Sepertinya, karakter akan terbuka setelah menyelesaikan mode cerita? 

“Apa mode cerita bisa dimainkan bersama?

Sepertinya bisa...

Kalau begitu, mari kita lakukan dengan cepat.

Bersama Yukikawa, kami mulai menyelesaikan mode cerita. Karena kami berdua masih pemula, awalnya kami kesulitan bahkan melawan musuh biasa. 

Namun, perlahan-lahan kami belajar mengendalikan permainan, dan akhirnya bisa mengalahkan bos. Setelah itu, karakter yang kami inginkan akhirnya terbuka... 

Rasanya, setelah sejauh ini, kita jadi ingin menyelesaikannya, kan? 

......Aku setuju.

Karakter yang kami inginkan terbuka hampir di akhir permainan. Waktu yang kami habiskan untuk mencapai titik ini sekitar tiga jam. 

Sekitar satu jam lagi, seharusnya tidak masalah jika mengurangi waktu tidur────. 

Baiklah, ayo!

Ya, ayo semangat!

────Namun, ingatan tentang apa yang terjadi setelah itu agak kabur. 

Pertama-tama, aku ingat bahwa bos terakhir sangat kuat. Dan musuh-musuh yang muncul di sepanjang jalan juga sangat kuat. 

Setiap pertarungan kami mengalami kesulitan, dan ketika akhirnya kami berhasil mengalahkan bos terakhir, layar akhir mulai muncul, waktu menunjukkan pukul tujuh pagi... begitulah ceritanya. 

Itu menyenangkan, tapi... kita sudah terlanjur melakukan ini, ya?

Kita terlalu bersemangat... aku tidak menyangka akan kalah sebanyak itu.”

Anak-anak juga bisa bermain ini, kan? Apa mereka bisa menang?

Anak-anak sekarang pasti lebih mahir bermain game dibanding kita.

......Rasanya mengejutkan.

Yukikawa menguap lebar sambil berkata begitu. 

......Aku harus bersiap-siap. Bolehkah aku meminjam mejamu sebentar?

Tentu saja tidak masalah...

Terima kasih. Setidaknya aku harus terlihat segar...

Sambil berkata begitu, Yukikawa mengeluarkan alat makeup-nya. 

Semua ini alat makeup?

Sekilas, sulit untuk mengetahui alat ini digunakan untuk apa. Aku cuma mengetahui kegunaan lipstik, tapi yang lainnya? 

“Iya. Yang ini adalah primer, ini foundation. Dan ini face powder, eyeshadow, eyeliner, mascara, dan eyebrow pencil. Selain itu, ada toner dan catok rambut. 

Dia memberitahu nama-nama alat satu per satu, tetapi semuanya sulit untuk kuingat. Ternyata semuanya itu ada di dalam tas sekolahnya, tidak heran kalau itu terasa berat. 

Jangan bilang... kamu membawanya setiap hari?”

Tentu saja aku tidak membawa semuanya, sih. Primer dan toner ini aku beli di minimarket di tengah jalan. Yang lainnya aku pakai untuk merapikan riassan, jadi aku selalu menyimpannya di dalam tas. 

Serius?

Masa aku harus berangkat ke sekolah tanpa makeup? Ini sih sudah biasa.

......Aku merasa terkesan.

Jangan-jangan, hal ini merupakan hal yang wajar bagi kalangan gadis-gadis

──── Setelah melihat ini, menjadi pria itu benar-benar lebih mudah... 

Aku tinggal berganti baju menjadi seragam, merapikan rambut sedikit, dan selesai. 

Setidaknya, persiapanku tidak lebih dari itu. Namun persiapan Yukikawa benar-benar berbeda jauh. 

Jadi, kamu sudah berjuang keras setiap hari, ya... 

“Sekarang aku sudah terbiasa dengan ini sih. ...Eh, kalau dipikir-pikir, aku masih punya primer dan toner di rumah, tapi malah beli lagi. 

Setelah berkata demikian, Yukikawa menunjukkan ekspresi lelah. 

Aku biasanya tidak mau repot-repot memulai dengan primer saat memperbaiki riasan, jadi biasanya aku tidak membawanya... tapi kalau mau memulai makeup, ini harus ada. Kurasa hal-hal seperti ini bisa terjadi saat menginap di rumah orang lain, aku benar-benar teledor.

......Kamu bisa menghabiskannya? Riasan itu?”

Tidak mungkin. Itulah sebabnya aku bingung.

Terus, gimana?

Umm... Oh, iya, benar juga. Kalau begitu, boleh enggak kalau aku meninggalkannya di sini?

Eh?

Ketika aku tiba-tiba ditanya begitu, aku tanpa sadar mengerutkan dahi. 

Siapa tahu aku mungkin akan menginap lagi, dan rasanya merepotkan juga kalau harus beli baru, kan? Jadi kalau bisa ditinggal, itu sangat membantu.

Oh... itu sih tidak masalah. 

──── Tunggu, tunggu. 

Kamu mau menginap lagi...?

Ya. Aku belum selesai membaca manganya, dan aku ingin menginap dengan tenang... apa itu tidak boleh?

Tidak... bukannya berarti tidak boleh.

“Asyikkk! Kalau begitu, kapan aku boleh datang lagi? 

Se-Sebenarnya kapan saja tidak masalah, asalkan aku ada di sini." 

Baiklah. ...Kamu sendiri yang sudah mengizinkanku, ya.

Sambil berkata demikian, Yukikawa menyenggol bahuku sedikit.

 

◇◆◇

 

Kami berdua berangkat sedikit lebih awal dan naik kereta dari stasiun terdekat. 

“Hoaamm...

Yukikawa yang duduk di sampingku menutup mulutnya sambil menguap. 

Seolah-olah ketularan, aku juga ikutan menguap. 

Ah, tertular.

Ngantuk...

Sambil berkata begitu, kami berdua menguap bersamaan. 

Ngantuk. Terlalu ngantuk. 

Hah... kenapa sih kita harus pergi ke sekolah dengan susah payah seperti ini?

Benar...

Seharusnya kita bisa istirahat kapan saja.

Benar...

......Hei, semua jawabanmu kok sama terus, sih. 

Aku hampir saja mengatakan benar lagi, tapi aku menutup mulut. 

“Apa boleh buat... kepalaku tidak bisa berpikir.

Aku juga... Oh, iya.

Yukikawa terlihat seolah-olah mendapatkan ide dan menatapku. 

“Nee, bisa pinjam bahumu sebentar?

Bahu?

Iya, bahu. 

Umm... tidak masalah sih, tapi────

Sebelum aku sempat mengucapkannya, Yukikawa sudah menyandarkan kepalanya di pundakku. Rasanya berat, tapi juga ringan. Ada beban yang anehnya terasa nyaman di bahuku. 

“Ap—...!?

Jantungku mulai berdetak kencang. Mungkin karena itulah, tiba-tiba otakku terbangun, dan rasa kantukku lenyap entah ke mana. 

Kepala Yukikawa sejajar dengan ketinggian hidungku, dan aroma wanginya menggelitik rongga hidungku. 

Seharusnya kami menggunakan sampo yang sama, tapi kenapa baunya terasa begitu berbeda? 

Untuk bisa mengikuti pelajaran dengan serius, aku juga ingin tidur sedikit. 

Aku memejamkan mata dan berusaha keras untuk tidur. Namun, dengan menutup mata, indra lain terasa lebih tajam, dan kehangatan serta aroma Yukikawa semakin terasa. 

Akhirnya, aku menghabiskan waktu tanpa tidur sampai kami tiba di sekolah.

 

◇◆◇

 

Setibanya di sekolah, aku langsung jatuh tengkurap di mejaku

──── Sepertinya pelajaran hari ini akan berantakan. 

Begitu aku terpisah dari Yukikawa, rasa kantuk yang kuat kembali muncul. Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin aku bisa mengikuti pelajaran dengan normal. Masalah yang paling penting justru terletak di jam kelima, karena ada pelajaran olahraga. 

Sepertinya hari ini ada permainan basket di gedung olahraga. Jika aku melamun, bisa-bisa aku mengalami cedera. Aku harus memanfaatkan waktu istirahat untuk tidur dan membangunkan pikiranku. 

“Loh~? Bukannya Tsukino kelihatan ngantuk banget? 

Aku mendengar suara Momoki, dan melirik sebentar. Seperti biasa, anggota tim utama berkumpul di sekitaran Yukikawa, berbincang dengan semangat tinggi sejak pagi. 

Namun, Yukikawa tampak lebih tenang dari biasanya. Atau lebih tepatnya, lebih pendiam dari biasanya. Wajar saja dia bereaksi begitu setelah begadang, tapi────. 

Jangan-jangan kamu habis begadang? Ah, aku tahu! Kamu habis marathon nonton drama, kan?

Drama...? Ah, iya, drama... benar. 

“Eh, apaan!? Drama apaan!? Lain kali kasih tahu aku juga dong! 

"Ah... baiklah, aku akan cari tahu." 

Drama, ya. 

Apa Yukikawa suka menonton hal-hal seperti itu? 

Ngomong-ngomong, aku biasanya menonton semua adaptasi live-action. Menurutku, untuk membicarakan suatu karya, aku harus menonton semua kontennya. 

──── Sepertinya mereka tidak pernah kepikiran bahwa Yukikawa adalah seorang otaku... 

Aku merasa ada perbedaan dalam posisi kita dalam kenyataan bahwa hal pertama yang ditanyakan orang adalah drama, bukan game atau anime. 

Sebagai tipe orang penyendiri, aku tidak bisa memahami itu, tapi jika aku berada di posisi mereka, pasti aku akan merasa tertekan. 

Aku juga mengerti kenapa suasananya tidak terlalu ceria. 

──── Hmm? 

Saat aku mengalihkan pandanganku dari anggota tim utama dan berusaha tidur sebelum pelajaran dimulai, 

Aku mendapat pemberitahuan pesan di smartphone-ku. 

Sepertinya Yukikawa mengirimkan pesan. 

'Ngantuk' 

Muncul satu kata itu di layar kontak yang baru saja kami tukar tanpa ada interaksi sebelumnya. 

Tanpa sengaja, aku hampir tertawa dan membalas dengan 'Setuju banget'. 

──── Tidak kusangka, aku akan berinteraksi seperti ini dengan Yukikawa...

Aku menyimpan smartphone dan berbaring tengkurap di meja untuk tidur. 

Aku berpikir kalau kehidupan SMA-ku tidak berbeda dengan SMP, tetapi prediksi itu sudah meleset jauh.

 

◇◆◇

 

──── Pada akhirnya, aku tidur sampai waktu istirahat siang... 

Aku menghela napas dalam-dalam sambil makan roti yang kubeli di kantin. Rasa kantukku masih terlalu kuat, sehingga hampir tidak ada ingatan dari jam pertama hingga jam keempat. 

Jam pelajaran pertama saja, aku tidak tahu kapan dimulai karena tidur begitu nyenyak. Untungnya, kepalaku sudah cukup segar... 

──── Yah, aku sudah merekam materi pelajarannya, jadi seharusnya tidak masalah. 

Sebagai langkah berjaga-jaga, aku merekam semua pelajaran dengan smartphone. Walaupun aku tidak suka belajar, tetapi aku harus melakukannya dengan baik. 

Aku juga tidak pandai membangun hubungan sosial dan tidak memiliki keahlian khusus. 

Demi melanjutkan kegiatan otaku yang menghabiskan banyak uang, aku hanya bisa bekerja keras. Lulus dari universitas yang baik, mendapatkan pekerjaan yang layak, dan menghasilkan uang yang cukup. 

Aku tidak akan segan berusaha untuk terus menikmati karya-karya yang kucintai. 

──── Sekarang aku sudah jadi siswa SMA, mungkin aku harus mencari pekerjaan paruh waktu...? 

Terkait biaya hidup, orang tuaku sudah memberiku sejumlah uang saat aku masuk SMA. Karena aku tidak memiliki pengeluaran mencolok selain mengonsumsi konten otaku, aku masih belum menyentuh uang itu. 

Sejujurnya, aku ingin terus menyimpannya sampai lulus sebisa mungkin. Aku benar-benar merasa tidak nyaman jika harus terjun ke dalam masyarakat tanpa tabungan sama sekali. 

Kelemahan ini muncul setelah aku menggunakan semua uang saku dan angpao yang aku kumpulkan untuk membeli Blu-ray dengan bonus anime yang aku inginkan saat naik ke SMP, dan kemudian dimarahi habis-habisan oleh orang tuaku. 

Orang tuaku merasa masalahnya bahwa aku menghabiskan uang tanpa perencanaan. Setelah itu, aku tidak punya uang untuk membeli manga, dan sekarang aku merasa bahwa teguran orang tuaku sangat beralasan. 

Di dunia ini, kita tidak tahu kapan barang-barang terbatas akan dirilis. 

Aku harus selalu hidup dengan cukup keleluasan untuk menghadapi apa pun yang terjadi kapan saja. Sebagai seorang otaku, aku membutuhkan banyak tabungan. 

“Oi! Para pria akan segera berganti pakaian, jadi para wanita silakan keluar dari kelas!

Tiba-tiba, guru olahraga muncul dan memberi tahu kelas. Waktu istirahat makan siang hampir berakhir. Setelah berganti pakaian, aku langsung menuju gedung olahraga.

 

◇◆◇

 

Hei! Pass, pass!

Ugh...

Pertandingan bola basket yang dibagi menjadi dua tim. Dengan bola di tanganku, aku mengoper bola kepada teman satu tim yang mengenakan nomor punggung yang sama. 

“Oryaa!

Orang ang menerima adalah salah satu anggota tim utama, Yamanaka, yang katanya pernah bermain basket sampai SMP. Yamanaka melewati salah satu anggota tim lawan di depannya dan mencetak poin dengan layup yang anggun. 

Sambil dipuji oleh semua orang, Yamanaka kembali ke pertahanan untuk menjaga daerahnya. 

────Setidaknya... aku sedikit berguna? 

Aku tidak pandai berolahraga. 

Namun, aku tidak ingin dianggap malas dan tidak bergerak, jadi aku berusaha menunjukkan kontribusiku meskipun sedikit, supaya setidaknya tidak disebut sebagai orang yang tidak berguna. 

Nice pass, Nagai.

Hah?

Sementara aku hanya melakukan pekerjaan minimum dan seharusnya tidak diperhatikan oleh siapa pun, Kijima tiba-tiba memanggilku. Ia menepuk punggungku dengan wajah serius dan pergi dengan percaya diri. 

Daripada merasa senang, aku justru bingung. 

Ketika semua orang memuji Yamanaka, mengapa ia memanggilku yang seharusnya tidak terlalu terlibat? 

──── Mungkin inilah alasan dirinya memiliki banyak teman, karena pandangannya yang luas. 

Saat aku berpikir seperti itu, tim lawan mulai menyerang. Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Aku berlari untuk menutup jalur umpan tim lawan agar bisa berguna semaksimal mungkin.

 

──── Rasanya sungguh melelahkan... 

Setelah terus berlari sampai berganti dengan anggota lain, aku duduk terengah-engah di dekat dinding. Hasil dari terus dipaksa oleh pemain yang berpengalaman adalah seperti ini. 

… Hei, lihat itu.

“Yuhuu, Yukikawa memang ajib ya~

Dua anak laki-laki di dekatku berbicara sambil melihat lapangan cewek. 

Dia itu gadis blasteran, kan? Badannya juga bagus.

Ahhh, serisusan aku benar-benar ingin dijepitnya dua gunung besar itu. 

“Oi, oi, itu terlalu menjijikkan... tapi aku setuju.

Memang, itu adalah romantisme pria.

Bukan hanya mereka berdua. Yukikawa yang berlari-lari bersama teman-temannya menarik perhatian banyak anak laki-laki. Alasannya tentu saja ada di bagian dadanya yang semakin menonjol setiap kali dia berlari. 

Jika tidak secara sadar mengalihkan pandangan, mataku pasti tertarik ke sana. 

Pria memang makhluk yang bodoh, sungguh. 

──── Termasuk aku... 

Tanpa sadar, aku menghela napas panjang. 

Bahkan pandanganku yang tidak tertarik pada dunia tiga dimensi pun tertarik... kamu sungguh menakutkan, Yukikawa Tsukino. 

Tsukino! Tembak!

Eh!

Momoki mengoper bola yang dicurinya dari tim lawan kepada Yukikawa. Dari garis tiga poin, Yukikawa melepaskan tembakan ke arah gawang. Bola yang melengkung indah itu tidak memantul dari ring dan langsung masuk. 

Dan untuk merayakan tembakan yang berhasil, rekan-rekannya berbondong-bondong mendekatinya. 

──── Apa dia juga memiliki bakat olahraga yang luar biasa...? 

Jika diperlihatkan hal seperti itu, dia pasti akan semakin dipuja. Namun, Yukikawa sendiri tetap mempertahankan sikap dinginnya meskipun dikelilingi teman sekelas. 

Dengan tampak lesu, dia mengusap keringat di dahinya dan bahkan menghela napas. Sulit dipercaya bahwa dia adalah gadis yang menangis begitu banyak saat membaca 'Marihare'. 

Ngomong-ngomong, sepertinya Katakura-senpai dari tim sepak bola sudah berusaha menembaknya.” 

Eh, seriusan?! Bagaimana hasilnya?!

Kabarnya dia ditolak mentah-mentah. Berita itu menyebar dari orang yang kebetulan melihat.

Katakura itu, kan, anggota andalan dan sangat tampan itu? Bagaimana bisa ditolak... jika aku jadi cewek, aku pasti langsung menerimanya. 

“Karena dia sangat cantik, jadi mungkin harapannya juga tinggi, kan? Misalnya saja seperti sultan minyak atau semacamnya. 

Itu terlalu tidak realistis...

Dua orang tadi tertawa terbahak-bahak sambil membicarakan hal itu. 

Aku tidak tahu siapa Katakura-senpai yang dimaksud, tetapi jika ia terkenal bahkan di kalangan siswa baru, pasti tingkat ketampanannya berbeda. Jika seseorang ditolak, wajar jika dianggap memiliki harapan yang tinggi. 

Namun, tentang Yukikawa. 

Aku bisa membayangkan dia akan dengan santai mengatakan bahwa dia merasa risih jika ada orang yang tidak dikenal menunjukkan ketertarikan padanya. 

Bagaimanapun juga, itu bukan urusanku.

 

◇◆◇

 

Pelajaran pun berakhir dan hari itu sudah sepulang sekolah. Saat aku berencana pulang seperti kemarin, anggota tim utama kembali berdiskusi tentang sesuatu di belakangku

Hari ini mau kemana? Mumpung besok libur, jadi mari mampir ke suatu tempat.

Orang yang mengatakannya adalah Yamanaka, yang sangat aktif selama pelajaran olahraga. Tatapan anggota tim utama yang menunjukkan persetujuan segera beralih ke Yukikawa. 

… Hari ini juga? Kemarin kita sudah ke karaoke, kan?

Ti-Tidak, tapi lihat, kemarin bukan hanya kita-kitaan saha, dan kurasa kita ingin bermain bersama anggota tim, kan?

Melihat Yukikawa yang tampak tidak antusias, Yamanaka berbicara dengan tergesa-gesa. 

Apa ia benar-benar ingin Yukikawa ikutan

Jika dia tidak tertarik, maka seharusnya ia bisa mengajak orang-orang yang ingin pergi dengannya saja

Ditambah lagi, Tsukino-chan tiba-tiba pulang, kan? Hati-hati, hal seperti itu membuat suasana jadi tidak enak.

Seorang gadis lain mengungkapkan hal itu kepada Yukikawa. Permintaan yang terlalu tidak masuk akal itu membuatku tanpa sadar mengernyitkan wajah. 

Mungkin Yukikawa juga berpikir sama, wajahnya sedikit tampak tegang. 

Hah? Kenapa aku harus hati-hati? Lagipula, semua orang di kelas ada di sana, jadi mereka bisa bersenang-senang tanpa aku.

“Bu-Bukan begitu maksudku, karena kita seharusnya seperti grup..." 

Ketika suasana mulai tidak nyaman, Momoki menyela di antara mereka. 

“Oke, stop, stop! Tsukino dan Yuka, tenanglah. Tidak ada gunanya buat berdebat, tau?

Tapi Haru...!

Yuka? Meskipun kita teman, bukannya berarti kita harus selalu bermain bersama setiap hari, kan? Tsukino juga pasti punya alasannya tersendiri. 

U-uhm...

Dengan bujukan Momoki, gadis lainnya mundur. 

Sungguh hebat sekali, Momoki bisa mengatasi situasi dengan cepat. 

Baiklah, aku akan ikut hari ini! Jadi, apa Tsukino tidak bisa ikutan hari ini?

… Tidak, aku bisa sampai sore.

Benarkah!? Terima kasih banyak~

Momoki memang pandai dalam menjalin hubungan. Dia mungkin adalah orang dengan kemampuan komunikasi terbaik yang aku kenal. Meski begitu, Yukikawa juga lumayan toleran

Jika itu diriku, aku pasti tidak akan pergi, setidaknya tidak hari ini. 

Bagaimana dengan Kijima? 

Ah, aku tidak bisa. Hari ini aku pergi ke gym.

Begitu, kalau begitu mari kita pergi dengan anggota lain.

Setelah pembicaraan selesai, anggota tim utama mulai keluar dari kelas. Karena aku mendengarkan sampai akhir, aku menunggu sebentar sebelum keluar dari kelas. 

Hmm...?

Saat berjalan menyusuri koridor, ponselku menerima pesan dari Yukikawa. 

[Bolehkah aku datang ke sana sekitar jam delapan malam ini?]

...

Menanggapi pertanyaan itu, aku segera membalas dengan 'Oke'.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama