Chapter 3 — Setelah Malam Berakhir
Aku bisa
mendengar suara burung yang berkicau,
dan sinar matahari masuk melalui celah tirai. Waktu menunjukkan pukul tujuh
pagi. Aku yang
duduk di sofa memanggil Yukikawa yang duduk di sampingku.
“Sudah pagi... ya.”
“Ya...
seekarang sudah pagi.”
“Kita
begadang semalaman, ya...”
“Benar...”
Kami
berdua menunduk lemas.
Pertama-tama,
mari aku ceritakan kronologi kejadian.
Semalam,
kami masing-masing menghabiskan waktu sesuai keinginan.
Namun,
ketika sudah melewati tengah malam, setelah Yukikawa selesai membaca manga “Pelayanan paket yang
Melintasi Waktu,” kami
mengadakan sesi tukar pendapat────.
“Ah,
bukannya ini 'Smashis'!”
Yukikawa
mengambil game yang terletak di dekat televisi.
“Smash
Sisters,”
disingkat “Smashsis”. Sebuah game pertarungan yang
mengumpulkan karakter wanita dari berbagai game.
Saat ini,
game ini sangat terkenal hingga memiliki divisi profesional.
“Ah,
aku belum pernah memainkannya sama sekali sejak aku membelinya, tapi aku membawanya untuk berjaga-jaga.”
“Eh,
kenapa? Padahal ini seru ‘kan, ya?”
“Karena
tidak ada teman untuk bermain...”
“......Oh,
begitu ya.”
“Umm,
tolong jangan merasa kasihan padaku, ya?”
Itu hanya
membuatku semakin merasa malang.
“Kalau
begitu, ayo kita main bareng. Aku sudah
penasaran dengan ini.”
“Boleh
sih... tapi apakah kita punya waktu? Sudah lewat tengah malam, kita harus tidur
supaya tidak mengganggu besok.”
“Umm...
kalau sebentar saja sih
sepertinya tidak masalah, kan?”
“......Ya,
mungkin sebentar saja tidak
apa-apa.”
Lagipula,
meskipun aku mencoba tidur sekarang, aku tidak akan langsung bisa tidur.
Pertama-tama,
aku menghubungkan konsol game yang hampir tidak terpakai ke televisi. Kemudian, aku menggenggam
controller dan menyalakan game.
────Tapi justru itulah
kesalahan terbesarku.
“Nagai,
bukankah karakternya terlalu sedikit
sekali?”
“Aku
tidak pernah memainkannya sama
sekali... Sepertinya, karakter akan terbuka setelah menyelesaikan mode cerita?”
“Apa mode
cerita bisa dimainkan bersama?”
“Sepertinya
bisa...”
“Kalau
begitu, mari kita lakukan dengan cepat.”
Bersama Yukikawa,
kami mulai menyelesaikan mode cerita. Karena
kami berdua masih pemula, awalnya kami kesulitan bahkan melawan musuh
biasa.
Namun,
perlahan-lahan kami belajar mengendalikan permainan, dan akhirnya bisa
mengalahkan bos. Setelah
itu, karakter yang kami inginkan akhirnya terbuka...
“Rasanya,
setelah sejauh ini, kita jadi ingin
menyelesaikannya, ‘kan?”
“......Aku
setuju.”
Karakter
yang kami inginkan terbuka hampir di akhir permainan. Waktu yang kami habiskan untuk
mencapai titik ini sekitar tiga jam.
Sekitar
satu jam lagi, seharusnya tidak masalah jika mengurangi waktu tidur────.
“Baiklah,
ayo!”
“Ya,
ayo semangat!”
────Namun,
ingatan tentang apa yang terjadi setelah itu agak kabur.
Pertama-tama,
aku ingat bahwa bos terakhir sangat kuat. Dan musuh-musuh yang muncul di
sepanjang jalan juga sangat kuat.
Setiap
pertarungan kami mengalami kesulitan, dan ketika akhirnya kami berhasil
mengalahkan bos terakhir, layar akhir mulai muncul, waktu menunjukkan pukul
tujuh pagi... begitulah ceritanya.
“Itu
menyenangkan, tapi... kita sudah terlanjur melakukan ini, ya?”
“Kita
terlalu bersemangat... aku tidak
menyangka akan kalah sebanyak itu.”
“Anak-anak
juga bisa bermain ini, kan? Apa mereka bisa menang?”
“Anak-anak
sekarang pasti lebih mahir bermain game dibanding kita.”
“......Rasanya
mengejutkan.”
Yukikawa
menguap lebar sambil berkata begitu.
“......Aku
harus bersiap-siap. Bolehkah aku meminjam mejamu
sebentar?”
“Tentu
saja tidak masalah...”
“Terima
kasih. Setidaknya aku harus terlihat segar...”
Sambil
berkata begitu, Yukikawa mengeluarkan alat makeup-nya.
“Semua
ini alat makeup?”
Sekilas,
sulit untuk mengetahui alat ini digunakan untuk apa. Aku cuma mengetahui kegunaan lipstik,
tapi yang lainnya?
“Iya.
Yang ini adalah primer, ini foundation.
Dan ini face powder, eyeshadow, eyeliner, mascara, dan eyebrow pencil. Selain
itu, ada toner dan catok rambut.”
Dia
memberitahu nama-nama alat satu per satu, tetapi semuanya sulit untuk kuingat. Ternyata semuanya itu ada di dalam tas sekolahnya, tidak heran kalau itu terasa berat.
“Jangan bilang... kamu membawanya setiap hari?”
“Tentu
saja aku tidak membawa semuanya, sih. Primer dan toner ini aku beli di
minimarket di tengah jalan. Yang lainnya aku pakai untuk merapikan riassan, jadi aku selalu menyimpannya di dalam tas.”
“Serius?”
“Masa aku harus berangkat ke sekolah tanpa makeup?
Ini sih sudah biasa.”
“......Aku
merasa terkesan.”
Jangan-jangan,
hal ini merupakan hal yang wajar bagi kalangan
gadis-gadis?
──── Setelah melihat ini, menjadi pria itu benar-benar lebih mudah...
Aku tinggal
berganti baju menjadi seragam, merapikan rambut sedikit, dan
selesai.
Setidaknya,
persiapanku tidak lebih dari itu. Namun
persiapan Yukikawa benar-benar berbeda jauh.
“Jadi,
kamu sudah berjuang keras setiap hari, ya...”
“Sekarang
aku sudah terbiasa dengan ini
sih. ...Eh, kalau dipikir-pikir, aku masih punya primer dan toner di rumah,
tapi malah beli lagi.”
Setelah berkata demikian,
Yukikawa menunjukkan ekspresi lelah.
“Aku
biasanya tidak mau repot-repot memulai dengan
primer saat memperbaiki riasan,
jadi biasanya aku tidak membawanya... tapi kalau mau memulai makeup, ini harus ada. Kurasa hal-hal seperti ini bisa terjadi saat menginap di rumah
orang lain, aku benar-benar teledor.”
“......Kamu
bisa menghabiskannya? Riasan itu?”
“Tidak
mungkin. Itulah sebabnya
aku bingung.”
“Terus,
gimana?”
“Umm...
Oh, iya, benar juga. Kalau begitu, boleh
enggak kalau aku meninggalkannya di sini?”
“Eh?”
Ketika aku tiba-tiba
ditanya begitu, aku tanpa sadar mengerutkan dahi.
“Siapa
tahu aku mungkin akan
menginap lagi, dan rasanya merepotkan juga kalau harus beli baru, ‘kan? Jadi kalau bisa ditinggal,
itu sangat membantu.”
“Oh...
itu sih tidak masalah.”
────
Tunggu, tunggu.
“Kamu
mau menginap lagi...?”
“Ya.
Aku belum selesai membaca manganya, dan aku ingin menginap dengan
tenang... apa itu tidak
boleh?”
“Tidak...
bukannya berarti tidak boleh.”
“Asyikkk!
Kalau begitu, kapan aku boleh datang lagi?”
“Se-Sebenarnya
kapan saja tidak masalah, asalkan
aku ada di sini."
“Baiklah.
...Kamu sendiri yang sudah mengizinkanku, ya.”
Sambil
berkata demikian, Yukikawa menyenggol bahuku
sedikit.
◇◆◇
Kami berdua berangkat sedikit lebih awal dan
naik kereta dari stasiun terdekat.
“Hoaamm...”
Yukikawa
yang duduk di sampingku menutup mulutnya sambil menguap.
Seolah-olah
ketularan, aku juga ikutan
menguap.
“Ah,
tertular.”
“Ngantuk...”
Sambil
berkata begitu, kami berdua menguap bersamaan.
Ngantuk.
Terlalu ngantuk.
“Hah...
kenapa sih kita harus pergi ke sekolah dengan susah payah seperti ini?”
“Benar...”
“Seharusnya
kita bisa istirahat kapan saja.”
“Benar...”
“......Hei, semua jawabanmu kok sama terus,
sih.”
Aku
hampir saja mengatakan “benar” lagi, tapi aku menutup
mulut.
“Apa boleh
buat... kepalaku tidak bisa berpikir.”
“Aku
juga... Oh, iya.”
Yukikawa
terlihat seolah-olah
mendapatkan ide dan menatapku.
“Nee,
bisa pinjam bahumu sebentar?”
“Bahu?”
“Iya,
bahu.”
“Umm...
tidak masalah sih, tapi────”
Sebelum
aku sempat mengucapkannya, Yukikawa sudah menyandarkan kepalanya di pundakku. Rasanya berat, tapi juga ringan.
Ada beban yang anehnya terasa nyaman di bahuku.
“Ap—...!?”
Jantungku
mulai berdetak kencang. Mungkin karena
itulah, tiba-tiba otakku terbangun, dan
rasa kantukku lenyap entah ke mana.
Kepala
Yukikawa sejajar dengan ketinggian
hidungku, dan aroma wanginya
menggelitik rongga hidungku.
Seharusnya
kami menggunakan sampo yang sama, tapi kenapa baunya terasa begitu
berbeda?
Untuk
bisa mengikuti pelajaran dengan serius, aku juga ingin tidur sedikit.
Aku memejamkan mata dan berusaha keras untuk
tidur. Namun,
dengan menutup mata, indra lain terasa
lebih tajam, dan kehangatan serta aroma Yukikawa semakin terasa.
Akhirnya,
aku menghabiskan waktu tanpa tidur sampai kami tiba di sekolah.
◇◆◇
Setibanya
di sekolah, aku langsung jatuh tengkurap
di mejaku.
────
Sepertinya pelajaran hari ini akan berantakan.
Begitu aku terpisah dari Yukikawa, rasa
kantuk yang kuat kembali muncul. Dalam
keadaan seperti ini, mana mungkin aku bisa mengikuti pelajaran dengan normal. Masalah yang paling penting justru terletak di jam
kelima, karena ada pelajaran olahraga.
Sepertinya
hari ini ada permainan basket di
gedung olahraga. Jika aku melamun,
bisa-bisa aku mengalami cedera. Aku harus memanfaatkan waktu
istirahat untuk tidur dan membangunkan pikiranku.
“Loh~?
Bukannya Tsukino kelihatan ngantuk banget?”
Aku
mendengar suara Momoki, dan melirik sebentar. Seperti biasa, anggota tim utama
berkumpul di sekitaran
Yukikawa, berbincang dengan semangat tinggi sejak pagi.
Namun,
Yukikawa tampak lebih tenang dari biasanya. Atau lebih tepatnya, lebih pendiam dari biasanya. Wajar saja dia bereaksi begitu setelah
begadang, tapi────.
“Jangan-jangan
kamu habis begadang? Ah, aku tahu! Kamu habis marathon nonton drama, ‘kan?”
“Drama...?
Ah, iya, drama... benar.”
“Eh, apaan!? Drama apaan!? Lain
kali kasih tahu aku juga dong!”
"Ah...
baiklah, aku akan cari tahu."
Drama,
ya.
Apa
Yukikawa suka menonton hal-hal seperti itu?
Ngomong-ngomong,
aku biasanya menonton semua adaptasi live-action. Menurutku, untuk membicarakan
suatu karya, aku harus menonton semua kontennya.
────
Sepertinya mereka tidak pernah kepikiran
bahwa Yukikawa adalah seorang otaku...
Aku merasa
ada perbedaan dalam posisi kita dalam kenyataan bahwa hal pertama yang
ditanyakan orang adalah drama, bukan game atau anime.
Sebagai tipe orang penyendiri, aku
tidak bisa memahami itu, tapi jika aku berada di
posisi mereka, pasti aku akan merasa tertekan.
Aku juga
mengerti kenapa suasananya tidak terlalu ceria.
────
Hmm?
Saat aku
mengalihkan pandanganku dari
anggota tim utama dan berusaha tidur sebelum pelajaran dimulai,
Aku mendapat
pemberitahuan pesan di smartphone-ku.
Sepertinya
Yukikawa mengirimkan pesan.
'Ngantuk'
Muncul satu
kata itu di layar kontak yang
baru saja kami tukar tanpa ada interaksi sebelumnya.
Tanpa
sengaja, aku hampir tertawa dan membalas dengan 'Setuju banget'.
────
Tidak kusangka, aku akan berinteraksi seperti ini dengan Yukikawa...
Aku
menyimpan smartphone dan berbaring tengkurap
di meja untuk tidur.
Aku berpikir kalau kehidupan SMA-ku tidak berbeda
dengan SMP, tetapi prediksi itu sudah meleset jauh.
◇◆◇
──── Pada akhirnya, aku tidur sampai waktu
istirahat siang...
Aku
menghela napas dalam-dalam sambil makan roti yang kubeli di kantin. Rasa kantukku masih terlalu kuat, sehingga hampir
tidak ada ingatan dari jam pertama hingga jam keempat.
Jam pelajaran pertama saja, aku tidak tahu
kapan dimulai karena tidur begitu nyenyak. Untungnya, kepalaku sudah cukup
segar...
──── Yah,
aku sudah merekam materi pelajarannya, jadi seharusnya tidak
masalah.
Sebagai
langkah berjaga-jaga, aku merekam semua pelajaran dengan smartphone. Walaupun aku tidak suka belajar, tetapi aku
harus melakukannya dengan baik.
Aku juga
tidak pandai membangun hubungan sosial dan tidak memiliki keahlian khusus.
Demi
melanjutkan kegiatan otaku yang menghabiskan banyak uang, aku hanya bisa
bekerja keras. Lulus dari universitas yang baik, mendapatkan pekerjaan yang
layak, dan menghasilkan uang yang cukup.
Aku tidak
akan segan berusaha untuk terus menikmati karya-karya yang kucintai.
────
Sekarang aku sudah jadi siswa SMA, mungkin aku harus mencari pekerjaan paruh
waktu...?
Terkait
biaya hidup, orang tuaku sudah memberiku
sejumlah uang saat aku masuk SMA. Karena
aku tidak memiliki pengeluaran mencolok selain mengonsumsi
konten otaku, aku masih belum menyentuh uang
itu.
Sejujurnya, aku ingin terus menyimpannya sampai lulus sebisa mungkin. Aku benar-benar merasa tidak nyaman jika harus terjun ke
dalam masyarakat tanpa tabungan sama sekali.
Kelemahan
ini muncul setelah aku menggunakan semua uang saku dan angpao yang aku
kumpulkan untuk membeli Blu-ray dengan bonus anime yang aku inginkan saat naik
ke SMP, dan kemudian dimarahi habis-habisan oleh
orang tuaku.
Orang
tuaku merasa masalahnya bahwa aku
menghabiskan uang tanpa perencanaan. Setelah
itu, aku tidak punya uang untuk membeli manga, dan sekarang aku merasa bahwa
teguran orang tuaku sangat beralasan.
Di dunia
ini, kita tidak tahu kapan barang-barang terbatas akan dirilis.
Aku harus
selalu hidup dengan cukup keleluasan
untuk menghadapi apa pun yang terjadi kapan saja. Sebagai seorang otaku, aku membutuhkan banyak tabungan.
“Oi!
Para pria akan segera berganti pakaian, jadi para
wanita silakan keluar dari kelas!”
Tiba-tiba,
guru olahraga muncul dan memberi tahu kelas. Waktu istirahat makan siang hampir berakhir. Setelah berganti pakaian, aku
langsung menuju gedung olahraga.
◇◆◇
“Hei!
Pass, pass!”
“Ugh...”
Pertandingan
bola basket yang dibagi menjadi dua
tim. Dengan bola di tanganku, aku mengoper bola kepada teman satu tim yang
mengenakan nomor punggung yang sama.
“Oryaa!”
Orang ang
menerima adalah salah satu anggota tim utama, Yamanaka, yang katanya pernah
bermain basket sampai SMP. Yamanaka
melewati salah satu anggota tim lawan di depannya dan mencetak poin dengan layup yang anggun.
Sambil
dipuji oleh semua orang, Yamanaka kembali ke pertahanan untuk menjaga
daerahnya.
────Setidaknya... aku sedikit berguna?
Aku tidak
pandai berolahraga.
Namun,
aku tidak ingin dianggap malas dan tidak bergerak, jadi aku berusaha
menunjukkan kontribusiku meskipun sedikit, supaya
setidaknya tidak disebut sebagai orang yang tidak berguna.
“Nice
pass, Nagai.”
“Hah?”
Sementara
aku hanya melakukan pekerjaan minimum dan seharusnya tidak diperhatikan oleh
siapa pun, Kijima tiba-tiba memanggilku. Ia
menepuk punggungku dengan wajah serius dan pergi dengan percaya diri.
Daripada
merasa senang, aku justru bingung.
Ketika semua
orang memuji Yamanaka, mengapa ia memanggilku yang seharusnya
tidak terlalu terlibat?
────
Mungkin inilah alasan dirinya
memiliki banyak teman, karena pandangannya yang luas.
Saat aku
berpikir seperti itu, tim lawan mulai menyerang. Sekarang bukan saatnya untuk
memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Aku
berlari untuk menutup jalur umpan tim lawan agar bisa berguna semaksimal
mungkin.
──── Rasanya sungguh melelahkan...
Setelah
terus berlari sampai berganti dengan anggota lain, aku duduk terengah-engah di
dekat dinding. Hasil dari terus dipaksa oleh pemain yang berpengalaman adalah
seperti ini.
“…
Hei, lihat itu.”
“Yuhuu,
Yukikawa memang ajib
ya~”
Dua anak
laki-laki di dekatku berbicara sambil melihat lapangan cewek.
“Dia
itu gadis blasteran, ‘kan? Badannya juga bagus.”
“Ahhh, serisusan
aku benar-benar ingin dijepitnya
dua gunung besar itu.”
“Oi, oi, itu terlalu menjijikkan... tapi
aku setuju.”
“Memang,
itu adalah romantisme pria.”
Bukan
hanya mereka berdua. Yukikawa
yang berlari-lari bersama teman-temannya menarik perhatian banyak anak
laki-laki. Alasannya
tentu saja ada di bagian dadanya yang semakin menonjol setiap kali dia
berlari.
Jika
tidak secara sadar mengalihkan pandangan, mataku pasti tertarik ke sana.
Pria memang
makhluk yang bodoh, sungguh.
────
Termasuk aku...
Tanpa
sadar, aku menghela napas panjang.
Bahkan
pandanganku yang tidak tertarik pada dunia tiga dimensi pun tertarik... kamu sungguh menakutkan, Yukikawa
Tsukino.
“Tsukino!
Tembak!”
“Eh!”
Momoki
mengoper bola yang dicurinya dari tim lawan kepada Yukikawa. Dari garis tiga poin, Yukikawa
melepaskan tembakan ke arah gawang. Bola
yang melengkung indah itu tidak memantul dari ring dan langsung masuk.
Dan untuk
merayakan tembakan yang berhasil, rekan-rekannya berbondong-bondong
mendekatinya.
──── Apa
dia juga memiliki bakat olahraga yang luar biasa...?
Jika diperlihatkan hal seperti
itu, dia pasti akan semakin dipuja. Namun, Yukikawa sendiri tetap
mempertahankan sikap dinginnya meskipun dikelilingi teman sekelas.
Dengan
tampak lesu, dia mengusap keringat di dahinya dan bahkan menghela napas. Sulit
dipercaya bahwa dia adalah gadis yang menangis begitu banyak saat membaca 'Marihare'.
“Ngomong-ngomong,
sepertinya Katakura-senpai
dari tim sepak bola sudah berusaha menembaknya.”
“Eh,
seriusan?! Bagaimana hasilnya?!”
“Kabarnya
dia ditolak mentah-mentah. Berita
itu menyebar dari orang yang kebetulan melihat.”
“Katakura
itu, kan, anggota andalan dan
sangat tampan itu? Bagaimana bisa ditolak... jika aku jadi cewek, aku pasti langsung menerimanya.”
“Karena dia
sangat cantik, jadi mungkin harapannya juga tinggi, kan? Misalnya saja seperti sultan
minyak atau semacamnya.”
“Itu
terlalu tidak realistis...”
Dua orang
tadi tertawa terbahak-bahak sambil membicarakan hal itu.
Aku tidak
tahu siapa Katakura-senpai yang dimaksud,
tetapi jika ia terkenal bahkan di kalangan siswa baru, pasti tingkat
ketampanannya berbeda. Jika
seseorang ditolak, wajar jika dianggap memiliki harapan yang tinggi.
Namun,
tentang Yukikawa.
Aku bisa
membayangkan dia akan dengan santai mengatakan bahwa dia merasa risih jika ada
orang yang tidak dikenal menunjukkan ketertarikan padanya.
Bagaimanapun juga, itu bukan urusanku.
◇◆◇
Pelajaran
pun berakhir dan hari itu sudah sepulang sekolah. Saat aku berencana pulang seperti
kemarin, anggota
tim utama kembali berdiskusi tentang sesuatu di
belakangku.
“Hari
ini mau kemana? Mumpung besok
libur, jadi mari mampir ke suatu tempat.”
Orang yang
mengatakannya adalah Yamanaka, yang sangat aktif selama pelajaran olahraga. Tatapan anggota tim utama yang
menunjukkan persetujuan segera beralih ke Yukikawa.
“…
Hari ini juga? Kemarin kita sudah ke karaoke,
‘kan?”
“Ti-Tidak, tapi lihat, kemarin bukan hanya kita-kitaan saha, dan
kurasa kita ingin bermain bersama anggota tim, ‘kan?”
Melihat
Yukikawa yang tampak tidak antusias, Yamanaka berbicara dengan
tergesa-gesa.
Apa ia
benar-benar ingin Yukikawa ikutan?
Jika dia
tidak tertarik, maka seharusnya
ia bisa mengajak orang-orang yang ingin pergi dengannya
saja.
“Ditambah lagi, Tsukino-chan tiba-tiba pulang, kan?
Hati-hati, hal seperti itu membuat suasana jadi tidak enak.”
Seorang
gadis lain mengungkapkan hal itu kepada Yukikawa. Permintaan yang terlalu tidak
masuk akal itu membuatku tanpa sadar mengernyitkan wajah.
Mungkin
Yukikawa juga berpikir sama, wajahnya sedikit tampak tegang.
“Hah?
Kenapa aku harus hati-hati? Lagipula, semua orang di kelas ada di sana, jadi mereka bisa
bersenang-senang tanpa aku.”
“Bu-Bukan
begitu maksudku, karena kita
seharusnya seperti grup..."
Ketika
suasana mulai tidak nyaman, Momoki menyela di antara mereka.
“Oke, stop,
stop! Tsukino dan Yuka, tenanglah. Tidak ada gunanya buat berdebat, tau?”
“Tapi
Haru...!”
“Yuka?
Meskipun kita teman, bukannya berarti kita harus
selalu bermain bersama setiap hari, ‘kan?
Tsukino juga pasti punya alasannya tersendiri.”
“U-uhm...”
Dengan
bujukan Momoki, gadis lainnya mundur.
Sungguh
hebat sekali, Momoki bisa mengatasi situasi
dengan cepat.
“Baiklah,
aku akan ikut hari ini! Jadi, apa Tsukino tidak bisa ikutan hari ini?”
“…
Tidak, aku bisa sampai sore.”
“Benarkah!?
Terima kasih banyak~”
Momoki
memang pandai dalam menjalin hubungan. Dia
mungkin adalah orang dengan kemampuan komunikasi terbaik yang aku kenal. Meski begitu, Yukikawa juga lumayan toleran.
Jika itu diriku, aku
pasti tidak akan pergi, setidaknya tidak hari ini.
“Bagaimana
dengan Kijima?”
“Ah,
aku tidak bisa. Hari ini aku pergi ke gym.”
“Begitu,
kalau begitu mari kita pergi dengan anggota lain.”
Setelah pembicaraan
selesai, anggota tim utama mulai keluar dari kelas. Karena aku mendengarkan sampai
akhir, aku menunggu sebentar sebelum keluar dari kelas.
“Hmm...?”
Saat
berjalan menyusuri koridor,
ponselku menerima pesan dari Yukikawa.
[Bolehkah
aku datang ke sana sekitar jam delapan malam ini?]
“...”
Menanggapi pertanyaan itu, aku segera
membalas dengan 'Oke'.
Sebelumnya | Selanjutnya
