Roshidere Jilid 11 Chapter 6 Bahasa Indonesia

 Chapter 6 — Daripada itu, Mendingan Onii-chan!!

 

Ara...?

Sepulang sekolah, Alisa tiba di ruang OSIS setelah menyelesaikan tugas piketnya. Dia terkejut melihat hanya Yuki dan Ayano yang ada di dalam ruangan OSIS.

“Terima kasih atas kerja kerasnya, Alya-san, ada apa?

“Teruma kasih juga atas kerja kerasnya, Yuki-san... Di mana yang lainnya?

Sarashina-senpai sedang berada di Komite Kedisiplinan. Ketua dipanggil oleh guru barusan, dan Masha-senpai menemani ketua untuk menggantikan Sarashina-senpai.

Oh, begitu ya?

Masachika-kun ada di klub musik tiup, kan?

Iya.

Jadi, untuk sementara waktu hanya ada kita bertiga saja, ya. Ayano, tolong siapkan teh untuk Alya-san.

“Baik, saya mengerti.

Terima kasih, Ayano-san.

Setelah duduk di tempat duduknya yang biasanya dan meletakkan tasnya, Ayano segera membawakan teh.

Terima kasih, Ayano-san.

Tidak apa-apa.

Saat melihat ekspresi tanpa emosi Ayano yang menjawab dengan sedikit kata, ingatan Alisa kembali pada peristiwa beberapa hari lalu ketika ekspresinya benar-benar berubah.

“Umm, ngomong-ngomong, Ayano-san...

“Iya?

...Eh, maksudku... meskipun terlambat, apa kamu baik-baik saja? Tentang... Nonoa-san...

Saat Alisa ragu-ragu mengucapkan kalimat itu, Ayano sepertinya mengerti maksud Alisa, lalu perlahan berkedip sebelum menundukkan kepala.

Saya mohon maaf atas penampilan saya yang sangat tidak pantas saat itu.

Oh, tidak, tidak, itu tidak pantas sama sekali...

“Terima kasih atas perhatianmu. Namun, saya sudah baik-baik saja sekarang.

...Oh, benarkah? Syukurlah kalau begitu.

Alisa merasa sedikit tidak nyaman karena tidak bisa mengatakan lebih banyak, tapi kemudian... saat itu, Ayano tampak tersenyum tipis, membuat Alisa terkejut. Namun, Ayano segera kembali menjadi ekspresi tanpa emosi dan kembali ke tempat duduknya setelah memberi hormat.

Setelah menatap situasi itu selama beberapa detik, Alisa menggelengkan kepalanya seolah ingin mengubah pikirannya dan mulai merapikan formulir yang diajukan dari masing-masing departemen. Kemudian, melihat Yuki yang tampaknya sedang membuat naskah untuk publikasi di tempat duduk depannya, Alisa tiba-tiba teringat kata-kata Touya dari kemarin.

(Kalau dipikir-pikir... mereka berdua itu kakak beradik, ya. Masachika-kun dan Yuki-san.)

Alasan mengapa Alisa baru menyadari hal itu sekarang karena dia merasa tidak ada yang aneh dengan perilaku Yuki yang berinteraksi dengan Masachika sebagai teman masa kecil di akademi. Selain itu, Alisa hanya melihat Yuki berperilaku sebagai adik selama beberapa puluh menit. Kedua hal ini mungkin menjadi alasan besar. Sekarang, Alisa bahkan mulai meragukan bahwa apa yang dia saksikan di rumah Suou mungkin hanyalah ilusi semata.

Alya-san? Apa ada yang salah?

Ah, tidak, bukan apa-apa...

?

Yuki sedikit memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung sambil terus mempertahankan senyuman anggunnya. Bahkan gerakannya itu memiliki pesona tersendiri, dan rambut hitamnya yang mengalir lembut di bahu seolah menjadi bagian dari sebuah lukisan, membuat Alisa merasa malu dan mengalihkan wajahnya.

(Benar juga. Di dalam akademi, Yuki-san adalah Yuki-san yang ini... tentang Yuki-san yang itu sih, ya. Untuk saat ini, mari kita lupakan saja.)

Setelah mengambil keputusan itu dalam hati, Alisa menatap formulir di tangannya. Setelah beberapa saat berkonsentrasi pada pekerjaan masing-masing, tiba-tiba Yuki memanggilnya, Alya-san, dan Alisa mengangkat wajahnya.

Ada apa?

Maaf, apa aku bisa berbicara denganmu sebentar?

Iya, tidak masalah.

“Mengenai majelis siswa minggu lalu, aku ingin memastikan apakah isi penjelasan untuk seluruh siswa ini sudah benar... apakah Arya-san bisa memeriksanya?

“! Baiklah, aku mengerti.

Masalah tersebut sangat berkaitan dengan Alisa. Dan terkait masalah ini, ada informasi yang boleh dipublikasikan dan yang tidak boleh, jadi Alisa juga membaca dengan serius.

(...Hmm, sepertinya tidak ada masalah. Nanti, aku juga ingin pendapat Masachika-kun...)

Dalam hal menangkap maksud tersembunyi dari tulisan semacam ini atau manipulasi opini, Masachika sebagai mitranya jauh lebih peka. Alisa mengakui kemampuannya dan mengandalkannya.

“Kurasa ini sudah cukup. Nanti kamu akan meminta Masachika-kun dan ketua untuk memeriksanya, kan?

Iya, rencananya begitu.

Kalau begitu, kurasa tidak ada masalah.

Terima kasih.

Namun, ada satu kesalahan ketik, ya?

Eh, benarkah?

Lihat, di sini...

Ah, benar! Terima kasih, Alya-san.

Yuki mulai memperbaiki naskah sambil tersenyum cerah. Tepat ketika Alisa sedang duduk kembali di kursinya, sebuah pertanyaan santai tiba-tiba dilontarkan kepadanya.

Ngomong-ngomong, Alya-san, sudah sejauh mana hubunganmu dengan Masachika-kun?

“Maksudnya sampai mana?

Tentu saja, aku membicarakan hal ini.

Dengan senyum anggun, Yuki membuat lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya, lalu menyelipkan jari telunjuk tangan kirinya ke dalamnya. Namun, meskipun melihat gerakan tangan itu, Alisa sama sekali tidak mengerti maksudnya. Dia hanya merasa bahwa itu gerakan yang agak vulgar.

Ehm... maaf. Yang mana maksudnya?

(Oi~~ Onii-chan~, orang ini rupanya benar-benar polos dan tidak tahu apa-apa dari yang kubayangkan...)

“Hah?

Alisa memiringkan kepalanya saat mendengar suara rendah yang bergumam. Namun, Yuki tetap dengan senyum anggunnya, seolah tidak terjadi apa-apa, dengan anggun menyatukan kedua tangan di atas meja.

Tidak, aku hanya penasaran apakah ada kemungkinan Alya-san dan Onii-sama akan menjalin hubungan berpacaran.

Eh!?

Oh, tidak ada maksud yang mendalam kok. Aku pernah mendengar bahwa dalam pemilihan ketua OSIS, pasangan pria dan wanita sering kali menjadi pasangan, dan aku juga sering dicurigai seperti itu saat di SMP dulu... jadi, aku penasaran bagaimana dengan Alya-san.”

Ah, eh, begitu rupanya...

Sekilas, Alisa merasa jantungnya berdebar-debar seolah perasaannya yang cinta sudah terungkap, tapi usai mendengar perkataan Yuki selanjutnya, Alisa merasa lega dan menghela napas.

Ngomong-ngomong... ternyata ada juga, ya, spekulasi seperti itu.

Hehehe, itu sih sudah pasti... membuat kita bermasalah juga, bukan? Bahkan sebagai saudara kandung, kita tidak bisa berbicara jujur.

Eh, iya, benar.

Sambil mengangguk berulang kali, Alisa melirik ke arah pintu, bertanya-tanya apakah aman untuk berbicara terbuka seperti itu, dan Yuki seolah mengerti, tersenyum.

Tenang saja. Ayano sedang berjaga di luar pintu.

Oh, benarkah... kapan itu terjadi?"

Alisa bahkan tidak mendengar suara pintu dibuka atau ditutup, tetapi tampaknya mereka sudah sendirian sejak beberapa waktu lalu. Setelah Alisa mengonfirmasi itu, Yuki maju sedikit dan bertanya.

“Oleh karena itu, kita bisa membicarkan tentang kisah cinta sepuasnya, kan? Jadi, bagaimana?

“Maksudnya bagaimana...?

Setelah jeda singkat untuk menenangkan diri, Alisa mulai berpikir dengan tenang. Tentu saja, di dalam hatinya, ada kemajuan. Perasaannya terhadap tetangga yang malas tetapi dapat diandalkan itu telah berkembang dari ketertarikan menjadi kasih sayang, dan tanpa disadari akhirnya menjadi cinta.

Namun, hal yang ingin ditanyakan Yuki adalah hubungan mereka berdua’. Jika mempertimbangkan perubahan hubungan mereka berdasarkan fakta saja...

Tidak ada... tidak ada apa-apa, kok?

Oh, begitu, ya?

Iya, tidak ada apa-apa, tidak ada sama sekali...

...Alya-san? Cahaya di matamu kok mendadak hilang, ya?

Itu tidak mungkin...

Sebenarnya, tidak ada apa-apa. Memang, mereka telah mengalami berbagai acara bersama dan melakukan hal-hal yang mirip dengan kencan beberapa kali... tetapi, Masachika tidak pernah menyatakan ketertarikan sebagai lawan jenis, dan Alisa juga tidak pernah mengungkapkannya.

(Sebenarnya, aku pernah mengungkapkan sesuatu yang mirip seperti itu beberapa kali dalam bahasa Rusia, tapi.... Masachika-kun tidak memahaminya, jadi tidak dihitung...)

Pada akhirnya, ikatan mereka sebagai pasangan dalam pemilihan semakin kuat, tetapi jika ditanya apa ada kemajuan dalam hubungan romantis... tidak ada yang bisa dikatakan. Alisa sendiri pernah menggoda dan mencoba merayu Masachika, tetapi tidak pernah berusaha untuk mendekatkan diri sebagai lawan jenis.

(Loh? Mungkin hubungan pria dan wanita tidak akan berkembang kecuali salah satu dari mereka mengungkapkan perasaan...?)

Pada saat itu, Alisa menyadari sesuatu yang sangat terlambat.

(Ah, tunggu? Tapi, bukannya pengakuan merupakan acara terakhir dalam hubungan? Seperti, setelah beberapa kencan, mengembangkan perasaan cinta... dan pada akhirnya ada pengakuan, kan??)

Sampai sekarang, Alisa berpikir bahwa begitulah cara kerjanya, dan kenyataannya, dia telah mengubah perasaannya terhadap Masachika menjadi cinta melalui interaksi. Namun... jika dipikirkan dengan tenang, jika Masachika tidak merasakan hal yang sama, hubungan keduanya tidak akan pernah berkembang.

(Jadi, itu berarti... jika aku tidak menyatakan perasaanku setelah pemilihan selesai, maka tidak akan ada kemajuan...?)

Setelah berpikir sejauh itu dengan terkejut... tiba-tiba, sebuah pemikiran terbalik muncul dalam diri Alisa.

(Tunggu sebentar? Tapi, sebaliknya... ketidakberhasilan kami dalam mengembangkan hubungan tidak ada hubungannya dengan apa Masachika-kun memiliki perasaan padaku atau tidak... kan?)

Ya, benar. Ketidakberhasilan mereka dalam mengembangkan hubungan hanya karena mereka belum melewati acara besar pengakuan. Mungkin Masachika juga, sama seperti Alisa, sedang mengembangkan perasaan cintanya.

(Jadi, mungkin saat ini ada kemungkinan kami berdua saling menyukai!?)

Dengan kesadaran yang sangat cerdas, chibi Alya di dalam hati Alisa mulai mengadakan parade marching yang meriah.

(Sebenarnya, Masachika juga menyukaiku... tapi, ia tidak bisa mengungkapkannya karena terlalu malu...?)

Dalam benaknya, Alisa membayangkan Masachika yang malu-malu dan menggaruk pipinya. Imajinasi yang sangat menyenangkan ini membuatnya merinding, dan chibi Alya di dalam hatinya bersorak gembira.

Ampun deh... dia sangat menggemaskan

“Alya-san?

Dengan tawa misterius yang terlepas dalam bahasa Rusia, Yuki yang duduk di hadapannya memanggil namanya dengan sedikit ragu, tetapi... Alisa tidak mendengarnya sama sekali. Karena dia sedang berada dalam dunia impiannya.

(Jangan-jangan, jika aku menyatakan perasaaanku, hubungan kami bisa berkembang dengan cepat? Sebaliknya, fakta bahwa hubungan kami sebagai pasangan belum berkembang adalah bukti bahwa kami menganggap pemilihan OSIS ini serius dan tanpa motif tersembunyi...)

Dengan pemikiran itu, Alisa dengan cepat mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.

(Benar juga! Kami akan terus memperkuat ikatan kami sebagai pasangan dalam pemilihan, dan kemudian memajukan hubungan kita sebagai pasangan setelah pemilihan selesai. Itulah jalan yang logis!)

Alya-san~?

“!!”

Alisa terkejut dan tersadar ketika Yuki mencondongkan tubuh ke depan di seberang meja panjang dan memanggil namanya.

(Apa? Kami sedang membahas apa ya... oh iya, aku ditanya tentang hubungan antara aku dan Masachika-kun.)

Mengingat percakapannya dengan Masachika sebelum parade, Alisa mengembalikan cahaya ke matanya dan dengan percaya diri menyatakan.

Iya, tidak ada apa-apa! Kami──

Dia berhenti sejenak dan menambahkan dengan suara pelan, Sekarang masih belum.

Tetap saja, kami adalah pasangan dalam pemilihan!

“Kenapa kamu tiba-tiba begitu percaya diri...?

Sambil sedikit menarik tubuhnya di atas kursi, Yuki menatap Alisa, yang mengangguk dengan penuh keyakinan. Di dalam hatinya, chibi Alya bersorak, “Aku bilang 'sekarang masih belum' kyaaa~~! Aku sudah mengatakannya! Aku mengatakannya kepada adiknya!”.

Kemudian, Yuki yang kembali ke posisi semula tersenyum dan bertanya.

Tapi kamu sudah pernah menunjukkan tubuh telanjangmu padanya, kan?

“Aku tidak menunjukkan apa-apa!?

Mendengar pertanyaan misterius yang disampaikan begitu saja, mata Alisa melebar karena terkejut dan menyangkalnya. Chibi Alya juga terdiam sejenak, terkejut. Namun, Yuki tampak bingung.

Oh? Tapi sebelumnya, aku mendengar kamu terlihat sedang mengganti pakaian musim panas...

Waktu itu aku pakai pakaian dalam dengan benar! Aku tidak terlihat telanjang──ah!

Setelah berbicara dengan cepat, Alisa menyadari bahwa dia telah dijebak dalam permainan kata-kata dan terpaksa mengaku, sehingga ekspresinya berubah menjadi pahit.

...Kamu memang merencanakannya, ya?

Apa yang kamu bicarakan?

Jika hanya mengganti pakaian musim panas, kamu seharusnya tahu kalau mana mungkin ia bakalan melihatku telanjang!

Tidak, bisa saja ada kemungkinan kamu melepas pakaian dalam untuk mengelap keringat sebelum mengganti pakaian...

Ugh...

Melihat Yuki yang sedikit merasa bersalah dan merendahkan diri, perasaan Alisa tiba-tiba muncul, Apa aku terlalu berlebihan? Namun...

(Aku takkan tertipu.)

Ya, Alisa seharusnya mengingatnya. Meskipun saat ini Yuki tampak seperti ini, sifat aslinya adalah anak nakal yang suka berbuat iseng. Meskipun dia menunjukkan wajah seolah-olah itu bukan niatku..., tapi itu jelas-jelas disengaja. Jangan tertipu. Chibi Alya di dalam hatinya juga bersorak, Benar~Benar~! Jangan tertipu!

Pokoknya, aku tidak menunjukkan tubuh telanjangku... maksudku, bahkan dalam keadaan berpakaian dalam, itu bukan berarti aku 'menunjukkannya'! Itu hanya 'terlihat' saja!

“Memangnya itu benar-benar penting?"

Tentu saja penting! Aku telah memutuskan bahwa satu-satunya orang yang boleh melihat kulit telanjangku adalah orang yang berjanji masa depan denganku!

Sungguh berat sekali.

Tanpa sengaja, Yuki mengungkapkan pendapatnya dengan serius, lalu mengubah ekspresinya dan memiringkan kepala.

Tapi, meskipun itu kecelakaan, kamu tetap terlihat, kan? Apa itu baik-baik saja?

Ugh...

Sama sekali tidak baik. Tidak ada yang baik tentang itu, tetapi... karena itu kecelakaan dan orang yang melihatnya adalah Masachika, cinta pertamanya, itu masih bisa ditoleransi... atau lebih tepatnya, dia memutuskan untuk menundanya.

(Ya, benar. Jika kami bisa mengembangkan hubungan kami mulai sekarang, menjadi sepasang kekasih, dan suatu hari nanti... maka urutannya akan terbalik. Tapi itu takkan bertentangan dengan sumpahku untuk mencintai satu orang saja seumur hidup.)

Namun, Alisa tidak bisa mengatakan semua itu dengan jujur, jadi dia mengangguk dengan ekspresi enggan.

Yah, itu hanya sekejap? Aku memutuskan untuk melupakan itu...

Oh, begitu, ya?

...Maksudku, kamu berbicara seolah-olah itu urusan orang lain, tapi... bukannya kamu yang menyembunyikan pakaian dalamku selama pelatihan musim panas, kan?

Mengingat tindakan jahat Yuki yang terungkap di rumah Suou, Alisa menatapnya dengan dingin. Itulah sebabnya dia harus terlihat dalam keadaan yang memalukan di depan Masachika, bukan karena pakaian dalamnya. Yuki tetap mempertahankan ekspresi anggun sambil tersenyum sedikit merasa bersalah.

Oh, memang ada kejadian begitu, ya... aku minta maaf soal itu. Aku tidak bisa menahan rasa isengku.

Memangnya itu bisa dianggap sebagai alasan? Alisa menatap Yuki dengan tajam dan memberi peringatan.

Perlu kuingatkan, jika kamu melakukan hal yang sama lagi, aku akan benar-benar marah, ya? Jika orang yang melihatnya adalah──

Masachika, itu masih bisa diterima. Saat dia ingin mengatakannya, Alisa tiba-tiba menelan kata-katanya. Namun, Yuki langsung menangkap ujung kalimatnya.

Jika orang yang melihatnya adalah... kira-kira apa, ya?

...Tidak ada apa-apa.

Bagaimana kalau kutebak? Kamu ingin mengatakan, 'Jika orang yang melihatnya adalah Masachika, itu masih bisa diterima,' kan?

“!!”

Alisa dibuat terkejut dengan seberapa akuratnya jawaban Yuki seolah-olah dia bisa membaca pikirannya. Usai melihat reaksinya, Yuki malah semakin bersemangat.

Apa maksudnya dengan itu? Sudah kuduga, Alya-san sebenarnya... tentang Onii-sama──

Tidak... maksudku ini bukan tenatng Masachika-kun atau semacamnya, tapi... itu, jumlah! Masalah jumlah! Jika hanya ada satu orang yang melihatku dalam keadaan memalukan, maka kehormatan diriku masih terjaga...cuma itu saja!

“Dengan kata lain, Alya-san berencana untuk menikah dengan Onii-sama sesuai dengan keyakinanmu, ya?

Aku tidak mengatakan itu! Pembicaraannya melompat terlalu jauh! Atau lebih tepatnya, aku merasa seperti sedang diinterogasi dengan kesimpulan yang sudah ditentukan!

“Ara, begitu, ya?

“Iyalah!

Dengan tatapan skeptis, Alisa bertanya kepada Yuki yang masih berpura-pura bingung.

Ngomong-ngomong, Yuki-san, apa maksud dari perkataanmu? Apa kamu ingin... aku dan Masachika-kun ja-jadian?

Setelah mengajukan pertanyaan tanpa berpikir, sebuah pemikiran terlintas di benak Alisa, “Hah? bagaimana jika dia menjawab 'TIDAK'?”.

Bagaimanapun, dia adalah adik perempuan dari orang yang disukainya. Dulu, Alisa berpikir, Yuki-san bukanlah saingan! Hore~hore~ ayo kita menari~! Namun, jika dipikir-pikir, adik perempuan dari orang yang disukai adalah sosok yang lebih rumit daripada saingan. Terutama karena Masachika... tampaknya seorang siscon yang cukup serius (ungkapan tersebut diekspresikan dengan sangat hati-hati). Jika Yuki berkata, Aku tidak setuju jika Alya-san menjadi pacar Onii-sama, maka perjalanan cinta Alisa akan semakin terjal.

(Jika Yuki-san sebagai adik perempuan yang melindungi Onii-channya yang tercinta, menghalangi jalanku...)

Akibat pikiran-pikiran suram itu, chibi Alya di dalam hati Alisa mulai merasa terancam, dan mereka berlarian ketakutan. Sementara itu, Yuki dengan senyum ceria berkata.

Ya, memang, aku berharap hal itu bisa terjadi.

Eh──

Ketika Alisa menatap Yuki dengan mata terbelalak, Yuki tersenyum dan mengulangi kembali ucapannya.

“Aku berharap Onii-sama dan Alya-san bisa menjadi sepasang kekasih.

──!!!”

Persetujuan resmi dari adik perempuan! Diterima!!.

Dunia seolah dipenuhi cahaya gemerlap, dan dari mana entah muncul menara sampanye raksasa, di atasnya chibi Alya yang mengenakan bikini mulai bermain air dengan riang.

Alisa pun tiba-tiba merasa ingin melompat ke sana dan bermain seluncuran air dengan sampanye yang mengalir, tetapi...

(Tunggu sebentar.)

Sembari memukul pipinya sendiri untuk menghentikan pikirannya yang melambung tinggi. Sambil memanggil chibi Alya di dalam hatinya untuk bersiap-siap dan mundur.

(Benar. Jangan lengah. Lawanku adalah Yuki yang itu, jadi kemungkinan untuk dijatuhkan setelah diangkat sangatlah besar.)

Belajar dari pengalaman masa lalu, Alisa menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya dan kembali bertanya kepada Yuki.

Kenapa kammu berpikiran begitu?

Pertanyaan langsung Alisa membuat Yuki tiba-tiba tersenyum dengan ekspresi dewasa. Itu ekspresi yang sama yang pernah ditunjukkan Yuki di rumah keluarga Suou sebelumnya.... membuat Alisa tertegun.

“Onii-sama membutuhkan seseorang... Seseorang yang membuatnya ingin berusaha, seseorang yang bisa membuatnya berpikir, 'Aku ingin berusaha keras demi orang ini...'

Yuki mulai bercerita dengan tatapan yang seolah melihat jauh ke depan.

“Onii-sama adalah seseorang yang hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain... Meskipun jika aku mengatakan ini, Onii-sama hanya akan merendahkan dirinya sendiri sembari, 'Aku hanya tidak memiliki identitas diri sendiri.'

......

Melihat Yuki yang tersenyum kecil dengan ekspresi kebingungan, Alisa bisa membayangkan situasi itu dan tidak bisa berkata apa-apa. Yuki juga tidak memaksa untuk mendapatkan jawaban, dan dengan tenang melanjutkan sambil menyatukan tangannya di depan dada.

Meski begitu....aku mencintai sifat Onii-sama yang bisa berusaha sungguh-sungguh demi orang lain. Itulah sebabnya... rasanya menyakitkan melihat Onii-sama yang meninggalkan rumah Suou dan kehilangan tujuannya.

Dengan kata-kata yang tenang dan menyentuh, Alisa merasakan hatinya pun ikut merasa sesak. Tanpa sadar, ia menundukkan pandangannya dan menggenggam tangannya erat-erat... lalu tangan Yuki dengan lembut menyentuh tangannya. Yuki berkata dengan lembut sembari menatap langsung ke arah Alisa, yang matanya melebar karena terkejut.

Tapi, itulah sebabnya... aku sangat senang. Onii-sama mendapatkan tujuan untuk berjuang dalam pemilihan bersama Alya-san, dan ia mulai melangkah lagi. Jadi... aku benar-benar berterima kasih kepadamu, Alya-san.

Ah...

Terima kasih, Alya-san. Karena telah membuat Onii-sama melangkah maju. Jika memungkinkan, aku berharap kamu bisa terus berjalan bersamanya dan menjadi penunjuk jalannya.

Ak-Aku...

Usai mendengar perasaan tulus Yuki, Alisa tiba-tiba berpikir, Apa mungkin sudah waktunya untuk memberitahunya tentang perasaanku?

Apa tidak apa-apa jika dirinya mengungkapkan perasaannya terhadap Masachika kepada Yuki? Alisa merasa bahwa Yuki yang sekarang akan menerimanya tanpa mengolok-olok dan akan mendukungnya.

Aku...!

Seakan-akan didorong oleh instingnya, Alisa berusaha membuka mulutnya... Namun, pada saat itu, Yuki melepaskan tangan Alisa dan mengangkat kedua tangannya.

“Canda deh~.

“Hah?

Maaf, aku tidak bermaksud memberi tekanan yang aneh padamu, Alya-san. Sejujurnya, aku tidak peduli siapa pun yang menjadi pacar Onii-sama.

Eh...?

Alisa merasa seperti kehilangan pijakan secara tiba-tiba dan mengeluarkan suara terkejut. Yuki tertawa kecil dan mengangkat bahunya.

Tidak masalah siapa pacarnya. Asalkan dia seseorang yang bisa membuat Onii-sama tersenyum dari lubuk hatinya... aku tidak keberatan ia berpacaran dengan gadis mana pun.

Yuki-san...

Namun, sebaliknya, jika ada gadis yang membuat Onii-sama sedih, aku takkan segan-segan buat menghancurkannya.

Haha...

Meskipun diucapkan dengan nada bercanda, perkataan Yuki jelas-jelas serius, membuat Alisa hanya bisa tersenyum pahit tanpa emosi negatif.

Itu pasti perasaan tulus Yuki. Dia ingin kakaknya yang sangat dia cintai bahagia. Perasaan yang umum ini, Yuki benar-benar menginginkannya dari lubuk hatinya.

Begitu ya... hehe, aku paham.

Yah, lagipula dia akan menjadi kakak iparku, kan? Aku akan merasa senang jika dia bisa akrab denganku juga.

Ah, ya... kurasa itu ada benarnya.

Meskipun Alisa terlihat mengangguk seolah mengatakan aku mengerti, di dalam hatinya dia diam-diam tersenyum lebar.

(Jadi, maksudnya, seseorang sepertiku, ‘kan!)

Dan kalau bisa, aku berharap dia cantik.

(Jadi, itu berarti seseorang sepertiku!)

Dan kalau memungkinjan, aku juga berharap dia memiliki payudara yang besar.

(Jadi, maksudnya, dia ingin seseorang sepertiku... eh?)

Kalau memungkinkan, aku juga berharap dia punya bokong yang besar dan paha yang montok, dan memiliki kepribadian yang bisa digoda! Itu akan sangat sempurna!

(Apa itu berarti maksudnya..... tentang diriku?!)

“Itulah sebabnya Alya-san adalah pasangan yang ideal!

“Tapi dari sudut pandangku itu cukup rumit, tau!?

Alisa merasa tertekan dengan keinginan Yuki yang langsung diungkapkan, dan dia mengeluarkan suara protes. Yuki menutupi mulutnya dan tertawa, lalu tiba-tiba tampak mendapatkan ide dan mengangkat pandangannya.

Oh, tapi jika kita berbicara tentang itu... mungkin Masha-senpai juga bisa menjadi pasangan ideal. Jika itu Masha-senpai, dia pasti akan senang melakukan kontak fisik juga.

Eh──

“Uhehehe, sebagai adik ipar Masha-senpai, aku ingin sekali mandi bersamanya dan berbincang-bincang di atas ranjang... Aku sangat ingin melakukannya!

......

Tiba-tiba, kakaknya sendiri, yang tampaknya entah mengapa semakin dekat dengan Masachika akhir-akhir ini, disebut-sebut sebagai kandidat. Kehadiran musuh tersembunyi yang tak terduga.... Gambaran tentang Masha yang akrab dengan adik ipar lainnya, serta Masha yang terlihat senang ketika dipanggil ‘Onee-chan’ oleh Ayano dan Yuki kemarin, saling tumpang tindih, membuat Alisa merasa gelisah. Demi menutupi perasaannya, Alisa menyibakkan rambutnya ke belakang dan berkata.

Sebenarnya... aku juga tidak membenci kontak fisik, sih...

“Ara? Benarkah? Aku punya kesan bahwa kamu tampak tidak menyukainya ketika Masha-senpai mendekatimu...

Itu karena... jika aku membiarkannya, dia akan melakukannya tanpa batas... bukan berarti aku menghindari kontak fisik, selama dalam batas yang wajar, aku juga...

Hmmm~?

Mendengar suaranya yang meragukan, Yuki menanggapinya dengan memiringkan kepalanya, Alisa terkejut dan menajamkan tatapannya.

“Maksudku, bukannya berarti aku menghindari kontak fisik, oke? Hanya saja, aku tidak menghindarinya sama sekali... itu saja!

Hmm... begitu ya? Jika begitu, berarti kamu tidak merasa keberatan dengan pelukan sebagai salam?

Pelukan? Yah, kami juga melakukannya di rumah, jadi kurasa itu tidak masalah...

Mengingat ciuman pipi yang biasa dilakukan dengan keluarganya, di mana dia meletakkan tangannya di bahu mereka dan menekan pipi mereka bersama-sama, Alisa jadi berpikir, Yah, itu memang mirip seperti pelukan, tetapi pelukan yang dimaksud Yuki jauh melebihi imajinasinya.

“Kamu yakin? Pelukan kami bukan hanya melibatkan lengan, tapi juga kaki.”

Eh, kaki?

Ya, kami memeluk dengan lengan dan juga dengan kaki.

Setelah dibuat kebingungan dengan perkataan Yuki yang mengatakannya dengan tenang, Alisa mencoba membayangkannya.

(Berpelukan dengan lengan... lalu berpelukan dengan kaki juga?)

Bayangan yang terlintas di benak Alisa adalah gambaran konyol dan menggelikan di mana dia berpegangan erat pada orang lain dengan kedua kakinya yang terbuka lebar. Sambil mengeluarkan suara nngh aneh di tenggorokannya, Alisa mengira Yuki sedang mengolok-oloknya dan menatap Yuki dengan tatapan menuduh.

“Mana mungkin ada salam yang seperti itu.

Ehh, tapi kami benar-benar melakukannya...

Begini...

Saat Yuki memiringkan kepalanya dengan raut wajah ngeyel, Alisa mengeluarkan suara yang sedikit kesal... pada saat itu, pintu ruang OSIS terbuka, dan Masachika masuk sambil berkata, “Kerja bagus~. Seketika itu juga, Yuki sudah berlari menuju Masachika.

“Lebih tepatnya, inilah yang kulakukan!

Melepaskan topeng kesopanan, Yuki berseru dengan semangat dan berlari cepat menuju Masachika, lalu melompat dengan lincah. Dia melompat ke arah Masachika dengan kedua lengan dan kakinya, memeluknya erat.

Dan begini!

Dengan suara yang keras, Yuki menggosokkan pipinya ke pipi Masachika dan berteriak dengan nada centil, Yeay♪ Ada Onii-chan~~

Dan lebih lagi!

Sebagai penutup, Yuki menggenggam kedua bahu Masachika, mengangkat tubuhnya, dan memeluk kepalanya dengan kedua kakinya.

Selamat datang kembali~Onii-chan~

Sambil menyambut dengan suara manja, Yuki kembali menggosokkan pipinya ke kepala Masachika, lalu berbalik ke arah Alisa dengan ekspresi penuh percaya diri dan memberi jari jempol.

Jadi, ayo coba lakukan!

“Mana mungkin aku akan melakukannya!?

Saat Alisa secara refleks menjawab, Masachika yang baru saja masuk dan langsung dipeluk oleh adik perempuannya mengeluarkan suara teredam dari dada Yuki.

(…Permainan macam apa ini?)

Mendengar suara Masachika yang teredam, Yuki merayap turun dari tubuh kakaknya dan membenamkan wajahnya di leher Masachika.

“Hmm~? Kupikir aku akan mengajarkan pelukan khas keluarga kita kepada Alya-san. Pelukan, pelukan.

“Sudah kubilang jangan menggigit!

Masachika memberi Yuki tamparan ringan di belakang kepala sambil tetap dipeluk. Mendengar kata-katanya, Alisa menyadari bahwa Yuki tampaknya menggigit leher Masachika.

(Ehh, menggigit...? Tunggu, sepertinya ini pernah terjadi sebelumnya...)

Kombinasi posisi di leher dan tindakan menggigit itu mengingatkan Alisa pada suatu kejadian... Ketika dia mengunjungi rumah Masachika selama liburan musim panas, dia melihat bekas gigitan di leher Masachika.

(Ah! Jadi, waktu itu maksudnya begini...)

Saat itu, Masachika beralasan bahwa itu adalah hasil dari permainan gulat, tapi.... melihat pemandangan ini, sepertinya tindakan ini cukup sering dilakukan.

Tindakan mencium leher orang yang disukainya (Masachika) dengan segenap tubuhnya. Fakta bahwa gadis di depannya melakukan itu sebagai bentuk salam. 

Padahal, ia itu pasanganku... 

Dibarengi dengan api kemarahan yang menyala di dalam hatinya, Alisa bergumam dalam bahasa Rusia yang rendah. Kemudian, seolah-olah bisa merasakan sesuatu, Yuki berbalik sambil tetap memeluk Masachika dan berpura-pura menggigil. 

“Uwohhh, kecemburuan Alya-san terasa sangat berat. Ini cukup menjadi tugas berat.

Jangan bilang seperti babysitter.

Kamu yang akan jadi babysitter!

“Aku tidak membutuhkan bayi yang sebesar ini.

Ogyaa, ogyaa~

“Memangnya kamu tidak punya rasa malu, ya?

Bahkan Alisa pun merasa terkejut melihat Yuki, yang memeluk erat kakaknya sambil menggoyangkan tubuhnya seperti bayi. Yuki kemudian meletakkan tangannya di bahu Masachika, meraih dan menggantungkan badannya. 

Wah, awas!!

Masachika buru-buru menggeser berat badannya ke belakang untuk menjaga keseimbangan, sementara Yuki melihat Alisa dalam posisi terbalik yang sedikit mengerikan. 

“Jadi yah, beginilah yang terjadi setiap hari ketika kamu datang ke rumah kami. Apa kamu baik-baik saja?

“Mustahil!

Alisa langsung menjawab seketika dengan serius, dan Yuki membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai ke lantai sambil tersenyum lebar. 

Alya-san, kamu pasti lengah. Aku tidak akan menunjukkan penampilanku seperti ini di akademi.

!

Alisa terkejut dan tidak bisa menahan napasnya ketika Yuki dengan bangga tertawa dan berteriak. 

Dasar bodoh! Aku selalu mencari-cari kesempatan untuk menggoda Onii-chan! Sekarang jati diriku sudah terungkap, memangnya kamu pikir aku akan segan pada Alya-san? Sayang sekali! Jika kamu tidak bisa menyesuaikan diri dalam suasana ini, selama masih ada aku, tidak ada tempat untukmu, Alya-san!! 

!!

Alisa terhuyung mundur karena provokasi yang mirip seperti anak berandalan. Yuki mendengus dan mengangkat tubuhnya kembali, memeluk Masachika sekali lagi sambil menyandarkan dagunya di bahu Masachika. 

“Oleh karena itu, jika sudah begini, kurasa sepertinya Onii-chan tidak punya lain selain harus menikahi Ayano~.

Eh!?

Tiba-tiba, nama Ayano disebut sebagai kandidat, dan Alisa mengeluarkan teriakan kecil. Namun, Masachika tampaknya terlalu lelah untuk menyadarinya dan mengeluh dengan suara yang putus asa. 

Tidak, aku sudah panik karena terlalu banyak informasi dari tadi...

Masachika bingung dengan luapan emosi yang dilontarkan kepadanya, tetapi Yuki terus berbicara tanpa memperdulikan keadaannya

Kalau Onii-chan menikah dengan Ayano, kita bertiga bisa hidup bahagia selamanya, kan?

!

Seketika, Masachika tampak terkejut dan menatap pintu ruang OSIS... mengarahkan pandangannya ke arah Ayano yang berada di balik sana. 

Hehe... rasanya pasti akan menyenangkan, kan? 

Masachika terdiam sejenak dengan kata-kata lembut Yuki... Dirinya lalu tersenyum kecil dan menjawab dengan suara lembut sambil meletakkan tangannya di punggung Yuki. 

...Mungkin saja.

“Iya dong~!

...

Tanpa disadari, sebuah dunia yang lembut terbentuk di antara mereka sendiri dengan mengesampingkan Alisa. Pasangan pernikahan Masachika telah ditentukan tanpa persetujuannya. 

Pada saat itu... sesuatu di dalam kepala Alisa terputus. 

Aku akan melakukannya.

“Hah? 

“Oh?

Berjalan mendekati kakak beradik yang memandangnya dengan tanda tanya, Alisa menangkap tengkuk Yuki dan menariknya dengan keras, lalu menempatkan kedua tangannya di bahu Masachika dengan tatapan tajam. 

“O-Ohh, ada apa? 

“Sudah kubilang aku akan melakukannya... tadi itu salam ala keluarga Suou, ‘kan? 

Sepertinya Masachika menyadari apa yang ingin dilakukan Alisa, sehingga dirinya menggelengkan kepala dengan cepat. 

Tidak, tidak, tidak, jelas-jelas itu bohong! Bahkan tanpa itu, Alya tidak mungkin bisa!? Kamu bakalan jatuh!

Apaan sih, kamu ingin mengatakan kalau aku ini berat!? 

“Kalau dibandingkan Yuki, kamu itu memang lebih berat dan besar!

“Sembarangan saja kalau bicara!”

“Kenyataannya memang begitu... tidak, mungkin aku bisa menopangnya kalaupun aku boleh memegang kakimu, tapi itu sudah sepenuhnya──

Itu mirip seperti bento stasiun, aku paham banget.

“Oi, hentikannn!!

Bento stasiun...? Apa yang kamu maksud dengan bento stasiun?

Eh, itu...

Apa? Ayo katakan dengan jelas.

Aku tidak bisa mengatakannya dengan jelas karena itu kode rahasia tauuu!?

Masachika dan Alisa terlibat dalam perdebatan yang ribut. Sementara itu, Yuki mengamati dari samping dan berbisik pelan. 

(Sudah kuduga, kamu memang menyukainya.)

Suaranya yang terdengar bahagia sekaligus menyimpan kesedihan itu tidak sampai ke telinga dua orang yang sedang bertengkar dengan akrab.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama