Chapter 6 — Daripada itu, Mendingan Onii-chan!!
“Ara...?”
Sepulang
sekolah, Alisa tiba
di ruang OSIS setelah menyelesaikan tugas piketnya.
Dia terkejut melihat hanya Yuki dan
Ayano yang ada di dalam ruangan OSIS.
“Terima
kasih atas kerja kerasnya, Alya-san,
ada apa?”
“Teruma
kasih juga atas kerja kerasnya, Yuki-san... Di mana yang
lainnya?”
“Sarashina-senpai
sedang berada di Komite Kedisiplinan. Ketua dipanggil oleh guru
barusan, dan Masha-senpai menemani ketua untuk menggantikan
Sarashina-senpai.”
“Oh,
begitu ya?”
“Masachika-kun
ada di klub musik tiup, kan?”
“Iya.”
“Jadi,
untuk sementara waktu hanya ada
kita bertiga saja, ya.
Ayano, tolong siapkan teh untuk Alya-san.”
“Baik,
saya mengerti.”
“Terima
kasih, Ayano-san.”
Setelah
duduk di tempat duduknya
yang biasanya dan meletakkan tasnya,
Ayano segera membawakan teh.
“Terima
kasih, Ayano-san.”
“Tidak
apa-apa.”
Saat
melihat ekspresi tanpa emosi Ayano yang menjawab dengan sedikit kata, ingatan
Alisa kembali pada peristiwa beberapa hari lalu ketika ekspresinya benar-benar berubah.
“Umm,
ngomong-ngomong, Ayano-san...”
“Iya?”
“...Eh,
maksudku... meskipun terlambat, apa kamu
baik-baik saja? Tentang... Nonoa-san...”
Saat
Alisa ragu-ragu mengucapkan kalimat itu,
Ayano sepertinya mengerti maksud Alisa, lalu perlahan berkedip sebelum
menundukkan kepala.
“Saya
mohon maaf atas penampilan saya yang sangat tidak pantas saat itu.”
“Oh,
tidak, tidak, itu tidak pantas sama sekali...”
“Terima
kasih atas perhatianmu. Namun, saya sudah baik-baik saja sekarang.”
“...Oh,
benarkah? Syukurlah
kalau begitu.”
Alisa
merasa sedikit tidak nyaman karena tidak bisa mengatakan lebih banyak, tapi kemudian... saat itu, Ayano tampak
tersenyum tipis, membuat Alisa terkejut. Namun, Ayano segera kembali menjadi ekspresi tanpa emosi dan kembali
ke tempat duduknya setelah memberi hormat.
Setelah
menatap situasi itu selama beberapa detik, Alisa menggelengkan kepalanya seolah ingin mengubah pikirannya
dan mulai merapikan formulir yang diajukan dari masing-masing departemen.
Kemudian, melihat Yuki yang tampaknya sedang membuat naskah untuk publikasi di
tempat duduk depannya, Alisa tiba-tiba teringat kata-kata Touya dari kemarin.
(Kalau
dipikir-pikir... mereka berdua itu kakak beradik, ya.
Masachika-kun dan Yuki-san.)
Alasan mengapa
Alisa baru menyadari hal itu sekarang karena dia merasa tidak ada yang aneh
dengan perilaku Yuki yang berinteraksi dengan Masachika sebagai teman masa
kecil di akademi. Selain itu, Alisa hanya melihat Yuki berperilaku sebagai adik
selama beberapa puluh menit. Kedua hal ini mungkin menjadi alasan besar.
Sekarang, Alisa bahkan mulai meragukan
bahwa apa yang dia saksikan di rumah Suou
mungkin hanyalah ilusi
semata.
“Alya-san? Apa ada yang salah?”
“Ah,
tidak, bukan apa-apa...”
“?”
Yuki
sedikit memiringkan kepalanya dengan
ekspresi bingung sambil terus mempertahankan
senyuman anggunnya. Bahkan gerakannya itu memiliki pesona
tersendiri, dan rambut hitamnya yang mengalir lembut di bahu seolah menjadi
bagian dari sebuah lukisan, membuat Alisa merasa malu dan mengalihkan wajahnya.
(Benar
juga. Di dalam akademi, Yuki-san adalah Yuki-san yang ini... tentang Yuki-san yang itu sih, ya. Untuk saat ini, mari kita
lupakan saja.)
Setelah
mengambil keputusan itu dalam hati, Alisa menatap formulir
di tangannya. Setelah beberapa saat berkonsentrasi pada pekerjaan
masing-masing, tiba-tiba Yuki memanggilnya, “Alya-san,” dan Alisa mengangkat wajahnya.
“Ada
apa?”
“Maaf,
apa aku bisa berbicara denganmu sebentar?”
“Iya,
tidak masalah.”
“Mengenai
majelis siswa minggu lalu, aku ingin memastikan apakah isi
penjelasan untuk seluruh siswa ini sudah benar... apakah Arya-san bisa
memeriksanya?”
“! Baiklah, aku mengerti.”
Masalah
tersebut sangat berkaitan dengan Alisa.
Dan terkait masalah ini, ada informasi yang boleh dipublikasikan dan yang tidak
boleh, jadi Alisa juga membaca dengan serius.
(...Hmm,
sepertinya tidak ada masalah. Nanti, aku
juga ingin pendapat Masachika-kun...)
Dalam hal
menangkap maksud tersembunyi dari tulisan semacam ini atau manipulasi opini,
Masachika sebagai mitranya jauh
lebih peka. Alisa mengakui kemampuannya dan mengandalkannya.
“Kurasa ini
sudah cukup. Nanti kamu
akan meminta Masachika-kun dan ketua untuk memeriksanya, ‘kan?”
“Iya,
rencananya begitu.”
“Kalau
begitu, kurasa tidak ada masalah.”
“Terima
kasih.”
“Namun,
ada satu kesalahan ketik, ya?”
“Eh,
benarkah?”
“Lihat,
di sini...”
“Ah,
benar! Terima kasih, Alya-san.”
Yuki
mulai memperbaiki naskah sambil tersenyum cerah.
Tepat ketika Alisa
sedang duduk kembali di kursinya, sebuah pertanyaan santai tiba-tiba
dilontarkan kepadanya.
“Ngomong-ngomong,
Alya-san, sudah sejauh mana hubunganmu dengan
Masachika-kun?”
“Maksudnya sampai
mana?”
“Tentu
saja, aku membicarakan hal ini.”
Dengan
senyum anggun, Yuki membuat lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan
kanannya, lalu menyelipkan jari telunjuk tangan kirinya ke dalamnya. Namun,
meskipun melihat gerakan tangan itu, Alisa sama sekali tidak mengerti
maksudnya. Dia hanya
merasa bahwa itu gerakan yang agak vulgar.
“Ehm... maaf. Yang mana maksudnya?”
“(Oi~~ Onii-chan~,
orang ini rupanya benar-benar
polos dan tidak tahu apa-apa dari yang kubayangkan...)”
“Hah?”
Alisa memiringkan
kepalanya saat
mendengar suara rendah yang bergumam. Namun, Yuki tetap dengan senyum
anggunnya, seolah tidak terjadi apa-apa,
dengan anggun menyatukan kedua tangan di atas meja.
“Tidak,
aku hanya penasaran apakah ada kemungkinan Alya-san
dan Onii-sama akan menjalin hubungan berpacaran.”
“Eh!?”
“Oh,
tidak ada maksud yang mendalam kok.
Aku pernah mendengar bahwa dalam pemilihan
ketua OSIS, pasangan pria dan wanita sering
kali menjadi pasangan, dan aku
juga sering dicurigai seperti
itu saat di SMP dulu... jadi,
aku penasaran bagaimana dengan Alya-san.”
“Ah,
eh, begitu rupanya...”
Sekilas,
Alisa merasa jantungnya berdebar-debar seolah perasaannya yang cinta sudah
terungkap, tapi usai mendengar perkataan
Yuki selanjutnya, Alisa merasa lega dan menghela napas.
“Ngomong-ngomong...
ternyata ada juga, ya, spekulasi seperti itu.”
“Hehehe,
itu sih sudah pasti... membuat kita bermasalah juga, bukan? Bahkan sebagai
saudara kandung, kita tidak bisa berbicara jujur.”
“Eh,
iya, benar.”
Sambil
mengangguk berulang kali, Alisa
melirik ke arah pintu, bertanya-tanya apakah aman untuk berbicara terbuka
seperti itu, dan Yuki seolah mengerti, tersenyum.
“Tenang saja. Ayano sedang berjaga di luar
pintu.”
“Oh,
benarkah... kapan itu terjadi?"
Alisa bahkan tidak mendengar suara pintu
dibuka atau ditutup, tetapi tampaknya mereka sudah sendirian sejak beberapa
waktu lalu. Setelah Alisa mengonfirmasi itu, Yuki maju sedikit dan bertanya.
“Oleh karena
itu, kita bisa membicarkan tentang
kisah cinta sepuasnya, kan? Jadi, bagaimana?”
“Maksudnya bagaimana...?”
Setelah jeda singkat untuk menenangkan diri,
Alisa mulai berpikir dengan tenang. Tentu saja, di dalam hatinya, ada kemajuan.
Perasaannya terhadap tetangga yang malas tetapi dapat diandalkan itu telah
berkembang dari ketertarikan menjadi kasih sayang, dan tanpa disadari akhirnya menjadi cinta.
Namun, hal yang ingin ditanyakan Yuki
adalah hubungan ‘mereka berdua’.
Jika mempertimbangkan perubahan hubungan mereka berdasarkan fakta saja...
“Tidak
ada... tidak ada apa-apa, kok?”
“Oh,
begitu, ya?”
“Iya,
tidak ada apa-apa, tidak ada sama sekali...”
“...Alya-san? Cahaya di matamu kok mendadak hilang, ya?”
“Itu
tidak mungkin...”
Sebenarnya,
tidak ada apa-apa. Memang, mereka telah mengalami berbagai acara bersama dan
melakukan hal-hal yang mirip dengan kencan beberapa kali... tetapi, Masachika
tidak pernah menyatakan ketertarikan sebagai lawan jenis, dan Alisa juga tidak
pernah mengungkapkannya.
(Sebenarnya,
aku pernah mengungkapkan sesuatu yang mirip seperti
itu beberapa kali dalam bahasa Rusia, tapi.... Masachika-kun tidak memahaminya, jadi
tidak dihitung...)
Pada akhirnya,
ikatan mereka sebagai pasangan dalam pemilihan semakin kuat, tetapi jika
ditanya apa ada kemajuan dalam hubungan romantis...
tidak ada yang bisa dikatakan. Alisa sendiri pernah menggoda dan mencoba merayu Masachika, tetapi tidak pernah
berusaha untuk mendekatkan diri sebagai lawan jenis.
(Loh? Mungkin hubungan pria dan
wanita tidak akan berkembang kecuali salah satu dari mereka mengungkapkan
perasaan...?)
Pada
saat itu, Alisa menyadari sesuatu yang sangat terlambat.
(Ah,
tunggu? Tapi, bukannya
pengakuan merupakan
acara terakhir dalam hubungan?
Seperti, setelah beberapa kencan, mengembangkan perasaan cinta... dan pada
akhirnya ada pengakuan, kan??)
Sampai sekarang, Alisa berpikir bahwa begitulah cara kerjanya, dan
kenyataannya, dia telah mengubah perasaannya terhadap Masachika menjadi cinta
melalui interaksi. Namun... jika dipikirkan dengan tenang, jika Masachika tidak
merasakan hal yang sama, hubungan ‘keduanya’ tidak akan pernah berkembang.
(Jadi,
itu berarti... jika aku tidak menyatakan
perasaanku setelah pemilihan selesai, maka tidak akan ada
kemajuan...?)
Setelah
berpikir sejauh itu dengan terkejut... tiba-tiba, sebuah pemikiran terbalik
muncul dalam diri Alisa.
(Tunggu
sebentar? Tapi, sebaliknya... ketidakberhasilan kami dalam mengembangkan hubungan
tidak ada hubungannya dengan apa Masachika-kun memiliki perasaan padaku atau
tidak... kan?)
Ya,
benar. Ketidakberhasilan mereka dalam mengembangkan hubungan hanya karena
mereka belum melewati acara besar pengakuan. Mungkin Masachika juga, sama seperti Alisa, sedang
mengembangkan perasaan cintanya.
(Jadi,
mungkin saat ini ada kemungkinan kami berdua
saling menyukai!?)
Dengan
kesadaran yang sangat cerdas, chibi Alya di dalam hati Alisa mulai
mengadakan parade marching yang meriah.
(Sebenarnya,
Masachika juga menyukaiku... tapi, ia tidak bisa mengungkapkannya karena terlalu malu...?)
Dalam
benaknya, Alisa membayangkan Masachika yang malu-malu dan menggaruk pipinya.
Imajinasi yang sangat menyenangkan ini membuatnya merinding, dan chibi Alya
di dalam hatinya bersorak gembira.
【Ampun deh... dia
sangat menggemaskan♡】
“Alya-san?”
Dengan
tawa misterius yang terlepas dalam bahasa Rusia, Yuki yang duduk di hadapannya
memanggil namanya dengan sedikit ragu, tetapi... Alisa
tidak mendengarnya sama sekali. Karena dia sedang berada dalam
dunia impiannya.
(Jangan-jangan, jika aku menyatakan perasaaanku,
hubungan kami bisa berkembang dengan cepat? Sebaliknya, fakta
bahwa hubungan kami
sebagai pasangan belum berkembang adalah bukti bahwa kami menganggap pemilihan OSIS ini serius dan tanpa motif
tersembunyi...)
Dengan
pemikiran itu, Alisa dengan cepat mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.
(Benar juga! Kami akan terus
memperkuat ikatan kami sebagai
pasangan dalam pemilihan, dan kemudian memajukan hubungan kita sebagai pasangan
setelah pemilihan selesai. Itulah jalan yang logis!)
“Alya-san~?”
“!!”
Alisa terkejut dan tersadar ketika
Yuki mencondongkan tubuh ke depan di seberang meja panjang dan memanggil
namanya.
(Apa?
Kami sedang membahas apa ya... oh iya,
aku ditanya tentang hubungan antara aku dan Masachika-kun.)
Mengingat
percakapannya dengan Masachika sebelum parade, Alisa
mengembalikan cahaya ke matanya dan dengan percaya diri menyatakan.
“Iya,
tidak ada apa-apa! Kami──”
Dia
berhenti sejenak dan menambahkan dengan suara pelan, “Sekarang masih belum.”
“Tetap
saja, kami adalah pasangan dalam pemilihan!”
“Kenapa kamu tiba-tiba begitu percaya
diri...?”
Sambil
sedikit menarik tubuhnya di atas kursi, Yuki menatap Alisa, yang mengangguk
dengan penuh keyakinan. Di dalam hatinya, chibi
Alya bersorak, “Aku bilang 'sekarang masih belum' kyaaa~~! Aku sudah mengatakannya! Aku mengatakannya kepada adiknya!”.
Kemudian,
Yuki yang kembali ke posisi semula tersenyum dan bertanya.
“Tapi
kamu sudah pernah menunjukkan
tubuh telanjangmu padanya, kan?”
“Aku
tidak menunjukkan apa-apa!?”
Mendengar
pertanyaan misterius yang disampaikan
begitu saja, mata Alisa
melebar karena terkejut dan menyangkalnya. Chibi
Alya juga terdiam sejenak,
terkejut. Namun, Yuki tampak bingung.
“Oh?
Tapi sebelumnya, aku mendengar kamu terlihat sedang mengganti pakaian musim
panas...”
“Waktu
itu aku pakai pakaian dalam dengan benar! Aku tidak terlihat telanjang──ah!”
Setelah
berbicara dengan cepat, Alisa menyadari bahwa dia telah dijebak dalam permainan kata-kata
dan terpaksa mengaku, sehingga ekspresinya berubah menjadi pahit.
“...Kamu memang merencanakannya, ya?”
“Apa yang kamu bicarakan?”
“Jika
hanya mengganti pakaian musim panas, kamu
seharusnya tahu kalau mana mungkin ia
bakalan melihatku telanjang!”
“Tidak,
bisa saja ada kemungkinan kamu
melepas pakaian dalam untuk mengelap keringat sebelum mengganti pakaian...”
“Ugh...”
Melihat
Yuki yang sedikit merasa bersalah dan merendahkan diri, perasaan Alisa
tiba-tiba muncul, “Apa aku
terlalu berlebihan?” Namun...
(Aku takkan tertipu.)
Ya, Alisa seharusnya mengingatnya.
Meskipun saat ini Yuki tampak seperti ini, sifat aslinya adalah anak nakal yang
suka berbuat iseng. Meskipun dia menunjukkan wajah seolah-olah “itu bukan niatku...”, tapi
itu jelas-jelas disengaja. Jangan tertipu. Chibi
Alya di dalam hatinya juga bersorak,
“Benar~Benar~! Jangan tertipu!”
“Pokoknya,
aku tidak menunjukkan tubuh
telanjangku...
maksudku, bahkan dalam keadaan berpakaian dalam, itu bukan berarti aku 'menunjukkannya'!
Itu hanya 'terlihat' saja!”
“Memangnya
itu benar-benar penting?"
“Tentu
saja penting! Aku telah memutuskan bahwa satu-satunya orang yang boleh melihat
kulit telanjangku adalah orang yang berjanji masa depan denganku!”
“Sungguh
berat sekali.”
Tanpa sengaja,
Yuki mengungkapkan pendapatnya dengan serius, lalu mengubah ekspresinya dan
memiringkan kepala.
“Tapi,
meskipun itu kecelakaan, kamu
tetap terlihat, kan? Apa itu baik-baik saja?”
“Ugh...”
Sama
sekali tidak baik. Tidak ada yang baik tentang itu, tetapi... karena itu
kecelakaan dan orang yang melihatnya adalah Masachika, cinta pertamanya, itu
masih bisa ditoleransi... atau lebih tepatnya, dia memutuskan untuk menundanya.
(Ya,
benar. Jika kami
bisa mengembangkan hubungan kami
mulai sekarang, menjadi sepasang kekasih, dan suatu hari nanti... maka
urutannya akan terbalik. Tapi itu
takkan bertentangan dengan sumpahku untuk mencintai
satu orang saja seumur hidup.)
Namun,
Alisa tidak bisa mengatakan semua itu dengan jujur, jadi dia mengangguk dengan
ekspresi enggan.
“Yah,
itu hanya sekejap? Aku memutuskan untuk melupakan itu...”
“Oh,
begitu, ya?”
“...Maksudku,
kamu berbicara seolah-olah itu urusan orang lain,
tapi... bukannya kamu yang menyembunyikan
pakaian dalamku selama pelatihan musim panas, ‘kan?”
Mengingat
tindakan jahat Yuki yang terungkap di rumah Suou,
Alisa menatapnya dengan dingin. Itulah
sebabnya dia harus terlihat dalam keadaan yang memalukan di depan Masachika,
bukan karena pakaian dalamnya. Yuki tetap mempertahankan ekspresi anggun sambil
tersenyum sedikit merasa bersalah.
“Oh,
memang ada kejadian begitu, ya... aku minta maaf soal itu. Aku tidak bisa menahan rasa
isengku.”
Memangnya
itu bisa dianggap sebagai alasan? Alisa menatap Yuki dengan
tajam dan memberi peringatan.
“Perlu
kuingatkan, jika kamu
melakukan hal yang sama lagi, aku akan benar-benar marah, ya? Jika orang yang melihatnya adalah──”
Masachika,
itu masih bisa diterima. Saat dia ingin mengatakannya, Alisa
tiba-tiba menelan kata-katanya. Namun, Yuki langsung menangkap ujung kalimatnya.
“Jika
orang yang melihatnya adalah...
kira-kira apa, ya?”
“...Tidak
ada apa-apa.”
“Bagaimana kalau kutebak? Kamu ingin mengatakan, 'Jika orang yang melihatnya adalah
Masachika, itu masih bisa diterima,' kan?”
“!!”
Alisa dibuat terkejut dengan seberapa akuratnya jawaban Yuki seolah-olah dia bisa membaca pikirannya. Usai melihat reaksinya, Yuki malah semakin bersemangat.
“Apa
maksudnya dengan itu? Sudah kuduga, Alya-san sebenarnya... tentang Onii-sama──”
“Tidak...
maksudku ini bukan tenatng
Masachika-kun atau semacamnya,
tapi... itu, jumlah! Masalah jumlah! Jika hanya ada satu orang yang melihatku
dalam keadaan memalukan, maka kehormatan diriku masih terjaga...cuma itu saja!”
“Dengan kata
lain, Alya-san
berencana untuk menikah dengan Onii-sama sesuai dengan keyakinanmu, ya?”
“Aku
tidak mengatakan itu! Pembicaraannya melompat terlalu jauh! Atau lebih
tepatnya, aku merasa seperti sedang diinterogasi dengan kesimpulan yang sudah
ditentukan!”
“Ara,
begitu, ya?”
“Iyalah!”
Dengan
tatapan skeptis, Alisa bertanya kepada Yuki yang masih berpura-pura bingung.
“Ngomong-ngomong, Yuki-san, apa maksud dari perkataanmu? Apa kamu ingin... aku dan Masachika-kun ja-jadian?”
Setelah
mengajukan pertanyaan tanpa berpikir, sebuah pemikiran
terlintas di benak Alisa, “Hah? bagaimana jika dia
menjawab 'TIDAK'?”.
Bagaimanapun,
dia adalah adik perempuan dari
orang yang disukainya. Dulu,
Alisa berpikir, “Yuki-san bukanlah saingan! Hore~hore~ ayo kita
menari~!” Namun, jika dipikir-pikir, adik perempuan dari orang yang disukai adalah
sosok yang lebih rumit daripada saingan. Terutama
karena Masachika... tampaknya seorang siscon yang cukup serius (※ungkapan tersebut diekspresikan
dengan sangat hati-hati). Jika Yuki berkata, “Aku tidak setuju jika Alya-san menjadi pacar Onii-sama,” maka perjalanan
cinta Alisa akan semakin terjal.
(Jika Yuki-san sebagai adik
perempuan yang melindungi Onii-channya
yang tercinta, menghalangi jalanku...)
Akibat
pikiran-pikiran suram itu, chibi Alya
di dalam hati Alisa mulai merasa terancam, dan mereka berlarian ketakutan.
Sementara itu, Yuki dengan senyum ceria berkata.
“Ya, memang, aku berharap hal itu bisa terjadi.”
“Eh──”
Ketika Alisa
menatap Yuki dengan mata terbelalak, Yuki tersenyum dan mengulangi kembali ucapannya.
“Aku
berharap Onii-sama dan Alya-san bisa menjadi sepasang kekasih.”
“──!!!”
Persetujuan
resmi dari adik perempuan!
Diterima!!.
Dunia
seolah dipenuhi cahaya gemerlap,
dan dari mana entah muncul menara sampanye raksasa, di atasnya chibi Alya
yang mengenakan bikini mulai bermain air dengan riang.
Alisa pun
tiba-tiba merasa ingin melompat ke sana dan
bermain seluncuran air dengan sampanye yang mengalir, tetapi...
(Tunggu
sebentar.)
Sembari
memukul pipinya sendiri untuk menghentikan pikirannya yang melambung tinggi.
Sambil memanggil chibi Alya di dalam hatinya untuk
bersiap-siap dan mundur.
(Benar.
Jangan lengah. Lawanku
adalah Yuki yang itu, jadi kemungkinan untuk dijatuhkan setelah diangkat
sangatlah besar.)
Belajar
dari pengalaman masa lalu, Alisa menarik napas
dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya dan kembali bertanya kepada Yuki.
“Kenapa
kammu berpikiran begitu?”
Pertanyaan
langsung Alisa
membuat Yuki tiba-tiba tersenyum dengan ekspresi dewasa. Itu ekspresi yang sama
yang pernah ditunjukkan Yuki di rumah keluarga Suou sebelumnya.... membuat Alisa tertegun.
“Onii-sama
membutuhkan seseorang... Seseorang yang membuatnya ingin
berusaha, seseorang yang bisa membuatnya berpikir, 'Aku ingin berusaha keras demi orang ini...'”
Yuki
mulai bercerita dengan
tatapan yang seolah melihat jauh ke depan.
“Onii-sama
adalah seseorang yang hidup bukan untuk
dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain... Meskipun jika aku mengatakan ini, Onii-sama hanya akan
merendahkan dirinya sendiri sembari,
'Aku hanya tidak memiliki identitas diri
sendiri.'”
“......”
Melihat
Yuki yang tersenyum kecil dengan ekspresi kebingungan,
Alisa bisa membayangkan situasi itu dan tidak bisa berkata apa-apa. Yuki juga
tidak memaksa untuk mendapatkan jawaban, dan dengan tenang melanjutkan sambil
menyatukan tangannya di depan dada.
“Meski
begitu....aku mencintai sifat Onii-sama yang bisa berusaha
sungguh-sungguh demi orang
lain. Itulah sebabnya... rasanya menyakitkan melihat
Onii-sama yang
meninggalkan rumah Suou
dan kehilangan tujuannya.”
Dengan
kata-kata yang tenang dan menyentuh, Alisa merasakan hatinya pun ikut merasa sesak. Tanpa
sadar, ia menundukkan pandangannya dan menggenggam tangannya erat-erat... lalu
tangan Yuki dengan lembut menyentuh tangannya. Yuki
berkata dengan lembut sembari menatap langsung ke arah Alisa, yang matanya melebar karena terkejut.
“Tapi,
itulah sebabnya... aku sangat senang. Onii-sama
mendapatkan tujuan untuk berjuang dalam pemilihan bersama Alya-san, dan ia mulai melangkah
lagi. Jadi... aku benar-benar berterima kasih kepadamu, Alya-san.”
“Ah...”
“Terima
kasih, Alya-san. Karena telah membuat Onii-sama melangkah maju. Jika memungkinkan, aku berharap kamu bisa terus berjalan bersamanya
dan menjadi penunjuk
jalannya.”
“Ak-Aku...”
Usai mendengar
perasaan tulus Yuki, Alisa tiba-tiba berpikir, “Apa mungkin sudah waktunya untuk memberitahunya tentang perasaanku?”
Apa tidak
apa-apa jika dirinya
mengungkapkan perasaannya terhadap
Masachika kepada Yuki? Alisa merasa bahwa Yuki yang sekarang akan menerimanya tanpa mengolok-olok dan akan
mendukungnya.
“Aku...!”
Seakan-akan
didorong oleh instingnya, Alisa berusaha membuka mulutnya... Namun, pada
saat itu, Yuki melepaskan tangan Alisa dan mengangkat kedua tangannya.
“Canda deh~.”
“Hah?”
“Maaf,
aku tidak bermaksud memberi tekanan yang aneh
padamu, Alya-san. Sejujurnya,
aku tidak peduli siapa pun yang menjadi pacar Onii-sama.”
“Eh...?”
Alisa
merasa seperti kehilangan pijakan secara tiba-tiba dan mengeluarkan suara
terkejut. Yuki tertawa kecil dan mengangkat bahunya.
“Tidak
masalah siapa pacarnya. Asalkan
dia seseorang yang bisa membuat Onii-sama tersenyum dari lubuk hatinya... aku tidak keberatan ia berpacaran dengan gadis mana pun.”
“Yuki-san...”
“Namun,
sebaliknya, jika ada gadis yang
membuat Onii-sama sedih, aku takkan
segan-segan buat menghancurkannya.”
“Haha...”
Meskipun
diucapkan dengan nada bercanda, perkataan
Yuki jelas-jelas serius, membuat Alisa hanya bisa tersenyum pahit tanpa emosi
negatif.
Itu pasti
perasaan tulus Yuki. Dia ingin kakaknya yang sangat dia cintai bahagia.
Perasaan yang umum ini, Yuki benar-benar menginginkannya dari lubuk hatinya.
“Begitu ya... hehe, aku paham.”
“Yah,
lagipula dia akan menjadi kakak iparku, kan? Aku akan
merasa senang jika dia bisa akrab denganku juga.”
“Ah,
ya... kurasa itu ada benarnya.”
Meskipun
Alisa terlihat mengangguk seolah mengatakan “aku
mengerti,” di dalam
hatinya dia diam-diam tersenyum lebar.
(Jadi, maksudnya,
seseorang sepertiku, ‘kan!)
“Dan
kalau bisa, aku berharap dia cantik.”
(Jadi,
itu berarti seseorang sepertiku!)
“Dan
kalau memungkinjan, aku juga berharap dia
memiliki payudara yang besar.”
(Jadi, maksudnya, dia
ingin seseorang sepertiku... eh?)
“Kalau
memungkinkan, aku juga berharap dia
punya bokong yang besar dan paha yang montok, dan memiliki kepribadian yang bisa digoda! Itu akan sangat sempurna!”
(Apa itu berarti maksudnya..... tentang
diriku?!)
“Itulah
sebabnya Alya-san
adalah pasangan yang ideal!”
“Tapi dari
sudut pandangku itu cukup
rumit, tau!?”
Alisa
merasa tertekan dengan keinginan Yuki yang langsung diungkapkan, dan dia
mengeluarkan suara protes. Yuki menutupi mulutnya dan tertawa, lalu tiba-tiba
tampak mendapatkan ide dan mengangkat pandangannya.
“Oh,
tapi jika kita berbicara tentang itu... mungkin Masha-senpai juga bisa menjadi pasangan ideal.
Jika itu Masha-senpai, dia pasti akan senang melakukan kontak fisik juga.”
“Eh──”
“Uhehehe,
sebagai adik ipar Masha-senpai, aku ingin sekali mandi bersamanya dan
berbincang-bincang di atas ranjang...
Aku sangat ingin melakukannya!”
“......”
Tiba-tiba,
kakaknya sendiri, yang tampaknya entah mengapa semakin dekat dengan
Masachika akhir-akhir ini, disebut-sebut sebagai kandidat. Kehadiran musuh
tersembunyi yang tak terduga.... Gambaran tentang Masha yang akrab dengan adik ipar lainnya, serta Masha yang terlihat
senang ketika dipanggil ‘Onee-chan’
oleh Ayano dan Yuki kemarin, saling tumpang tindih,
membuat Alisa merasa gelisah. Demi
menutupi perasaannya, Alisa menyibakkan rambutnya ke belakang dan berkata.
“Sebenarnya...
aku juga tidak membenci kontak fisik, sih...”
“Ara?
Benarkah? Aku punya kesan bahwa kamu
tampak tidak menyukainya ketika
Masha-senpai mendekatimu...”
“Itu
karena... jika aku membiarkannya,
dia akan melakukannya tanpa batas... bukan
berarti aku menghindari kontak fisik,
selama dalam batas yang wajar, aku juga...”
“Hmmm~?”
Mendengar
suaranya yang meragukan, Yuki menanggapinya dengan memiringkan
kepalanya, Alisa terkejut dan menajamkan tatapannya.
“Maksudku,
bukannya berarti aku menghindari kontak fisik, oke? Hanya saja, aku tidak
menghindarinya sama sekali... itu saja!”
“Hmm...
begitu ya? Jika begitu, berarti kamu tidak merasa
keberatan dengan pelukan sebagai salam?”
“Pelukan?
Yah, kami juga melakukannya di rumah, jadi kurasa itu tidak masalah...”
Mengingat
ciuman pipi yang biasa dilakukan dengan
keluarganya, di mana dia meletakkan tangannya di bahu
mereka dan menekan pipi mereka bersama-sama, Alisa jadi berpikir, “Yah, itu memang mirip seperti
pelukan,” tetapi
pelukan yang dimaksud Yuki jauh
melebihi imajinasinya.
“Kamu yakin?
Pelukan kami bukan hanya melibatkan lengan, tapi juga kaki.”
“Eh,
kaki?”
“Ya,
kami memeluk dengan lengan dan juga dengan kaki.”
Setelah
dibuat kebingungan dengan perkataan Yuki yang mengatakannya dengan tenang,
Alisa mencoba membayangkannya.
(Berpelukan
dengan lengan... lalu berpelukan dengan kaki juga?)
Bayangan
yang terlintas di benak Alisa adalah gambaran konyol dan menggelikan di mana dia berpegangan erat pada orang
lain dengan kedua kakinya yang terbuka
lebar. Sambil mengeluarkan suara “nngh” aneh di tenggorokannya, Alisa mengira Yuki sedang
mengolok-oloknya dan menatap Yuki dengan tatapan menuduh.
“Mana
mungkin ada salam yang seperti
itu.”
“Ehh, tapi kami benar-benar
melakukannya...”
“Begini...”
Saat Yuki
memiringkan kepalanya dengan raut wajah ngeyel, Alisa mengeluarkan suara yang
sedikit kesal... pada saat itu, pintu ruang OSIS
terbuka, dan Masachika masuk sambil berkata, “Kerja
bagus~.”
Seketika itu juga, Yuki sudah berlari menuju Masachika.
“Lebih
tepatnya, inilah yang kulakukan!”
Melepaskan
topeng kesopanan, Yuki berseru dengan semangat dan berlari cepat menuju
Masachika, lalu melompat dengan lincah. Dia melompat ke arah Masachika dengan kedua lengan dan
kakinya, memeluknya erat.
“Dan
begini!”
Dengan
suara yang keras, Yuki menggosokkan pipinya ke pipi Masachika dan berteriak dengan nada centil, “Yeay♪
Ada Onii-chan~~♡”
“Dan
lebih lagi!”
Sebagai
penutup, Yuki menggenggam kedua bahu Masachika, mengangkat tubuhnya, dan
memeluk kepalanya dengan kedua kakinya.
“Selamat
datang kembali~♪ Onii-chan~♡”
Sambil
menyambut dengan suara manja, Yuki kembali menggosokkan pipinya ke kepala
Masachika, lalu berbalik ke arah Alisa dengan ekspresi penuh percaya diri dan
memberi jari jempol.
“Jadi,
ayo coba lakukan!”
“Mana
mungkin aku akan melakukannya!?”
Saat
Alisa secara refleks menjawab, Masachika yang baru saja masuk dan langsung
dipeluk oleh adik perempuannya
mengeluarkan suara teredam dari dada Yuki.
“(…Permainan macam apa ini?)”
Mendengar
suara Masachika yang teredam, Yuki
merayap turun dari tubuh kakaknya dan membenamkan
wajahnya di leher Masachika.
“Hmm~?
Kupikir aku akan mengajarkan
pelukan khas keluarga kita kepada Alya-san. Pelukan, pelukan.”
“Sudah
kubilang jangan menggigit!”
Masachika
memberi Yuki tamparan ringan di belakang kepala sambil tetap dipeluk. Mendengar kata-katanya, Alisa menyadari
bahwa Yuki tampaknya menggigit leher Masachika.
(Ehh, menggigit...? Tunggu,
sepertinya ini pernah terjadi sebelumnya...)
Kombinasi
posisi di leher dan tindakan menggigit itu mengingatkan Alisa pada suatu kejadian... Ketika
dia mengunjungi rumah Masachika selama liburan musim panas, dia melihat bekas
gigitan di leher Masachika.
(Ah!
Jadi, waktu itu
maksudnya begini...)
Saat itu,
Masachika beralasan bahwa
itu adalah hasil dari permainan gulat, tapi....
melihat pemandangan ini, sepertinya tindakan ini cukup sering dilakukan.
Tindakan
mencium leher orang yang disukainya (Masachika)
dengan segenap tubuhnya. Fakta bahwa gadis di depannya melakukan itu sebagai
bentuk salam.
【Padahal, ia itu pasanganku...】
Dibarengi dengan api kemarahan yang menyala di dalam hatinya, Alisa bergumam dalam bahasa Rusia yang rendah. Kemudian, seolah-olah
bisa merasakan sesuatu, Yuki
berbalik sambil tetap memeluk Masachika dan berpura-pura menggigil.
“Uwohhh,
kecemburuan Alya-san
terasa sangat berat. Ini cukup menjadi tugas
berat.”
“Jangan
bilang seperti babysitter.”
“Kamu yang akan jadi babysitter!”
“Aku tidak
membutuhkan bayi yang sebesar ini.”
“Ogyaa,
ogyaa~”
“Memangnya
kamu tidak punya rasa malu, ya?”
Bahkan Alisa
pun merasa terkejut melihat Yuki, yang memeluk erat kakaknya sambil
menggoyangkan tubuhnya seperti bayi. Yuki kemudian meletakkan tangannya di bahu
Masachika, meraih dan menggantungkan badannya.
“Wah,
awas!!”
Masachika
buru-buru menggeser berat badannya ke
belakang untuk menjaga keseimbangan, sementara Yuki melihat Alisa dalam posisi
terbalik yang sedikit mengerikan.
“Jadi yah,
beginilah yang terjadi setiap hari ketika kamu datang ke rumah kami. Apa kamu baik-baik saja?”
“Mustahil!”
Alisa langsung menjawab seketika dengan serius, dan Yuki
membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai ke lantai sambil tersenyum
lebar.
“Alya-san, kamu pasti lengah. Aku tidak akan menunjukkan
penampilanku seperti ini di akademi.”
“!”
Alisa
terkejut dan tidak bisa menahan napasnya ketika Yuki dengan bangga tertawa dan
berteriak.
“Dasar
bodoh! Aku selalu mencari-cari
kesempatan untuk menggoda Onii-chan!
Sekarang jati diriku sudah
terungkap, memangnya kamu pikir aku akan segan pada Alya-san?
Sayang sekali! Jika kamu tidak
bisa menyesuaikan diri dalam suasana
ini, selama masih ada aku,
tidak ada tempat untukmu, Alya-san!!”
“!!”
Alisa
terhuyung mundur karena provokasi yang mirip seperti anak berandalan. Yuki
mendengus dan mengangkat tubuhnya kembali, memeluk Masachika sekali lagi sambil
menyandarkan dagunya di bahu Masachika.
“Oleh karena
itu, jika sudah begini, kurasa
sepertinya Onii-chan tidak punya lain selain harus
menikahi Ayano~.”
“Eh!?”
Tiba-tiba,
nama Ayano disebut sebagai kandidat,
dan Alisa mengeluarkan teriakan
kecil. Namun, Masachika tampaknya
terlalu lelah untuk menyadarinya dan mengeluh dengan suara yang putus asa.
“Tidak,
aku sudah panik karena terlalu banyak informasi dari tadi...”
Masachika
bingung dengan luapan emosi yang
dilontarkan kepadanya, tetapi Yuki terus berbicara tanpa memperdulikan keadaannya.
“Kalau
Onii-chan menikah dengan Ayano, kita bertiga bisa hidup bahagia selamanya, ‘kan?”
“!”
Seketika,
Masachika tampak terkejut dan menatap pintu ruang OSIS...
mengarahkan pandangannya ke arah Ayano
yang berada di balik sana.
“Hehe...
rasanya pasti akan menyenangkan, ‘kan?”
Masachika
terdiam sejenak dengan kata-kata lembut Yuki...
Dirinya lalu tersenyum kecil dan menjawab
dengan suara lembut sambil meletakkan tangannya di punggung Yuki.
“...Mungkin
saja.”
“Iya dong~!”
“...”
Tanpa disadari, sebuah
dunia yang lembut terbentuk di
antara mereka sendiri dengan mengesampingkan Alisa. Pasangan
pernikahan Masachika telah ditentukan tanpa persetujuannya.
Pada saat
itu... sesuatu di dalam kepala Alisa terputus.
“Aku
akan melakukannya.”
“Hah?”
“Oh?”
Berjalan mendekati
kakak beradik yang memandangnya dengan
tanda tanya, Alisa menangkap tengkuk Yuki dan menariknya dengan keras, lalu
menempatkan kedua tangannya di bahu Masachika dengan tatapan tajam.
“O-Ohh,
ada apa?”
“Sudah kubilang
aku akan melakukannya... tadi itu
salam ala keluarga Suou, ‘kan?”
Sepertinya
Masachika menyadari apa yang ingin dilakukan Alisa, sehingga dirinya menggelengkan kepala
dengan cepat.
“Tidak,
tidak, tidak, jelas-jelas itu
bohong! Bahkan tanpa itu, Alya
tidak mungkin bisa!? Kamu bakalan jatuh!”
“Apaan sih, kamu ingin
mengatakan kalau aku ini
berat!?”
“Kalau dibandingkan Yuki, kamu itu
memang lebih berat dan besar!”
“Sembarangan
saja kalau bicara!”
“Kenyataannya
memang begitu... tidak, mungkin
aku bisa menopangnya kalaupun aku boleh memegang kakimu, tapi itu sudah sepenuhnya──”
“Itu
mirip seperti bento stasiun, aku paham banget.”
“Oi,
hentikannn!!”
“Bento
stasiun...? Apa yang kamu maksud
dengan bento stasiun?”
“Eh,
itu...”
“Apa?
Ayo katakan dengan jelas.”
“Aku
tidak bisa mengatakannya dengan jelas karena itu
kode rahasia tauuu!?”
Masachika
dan Alisa terlibat dalam perdebatan yang ribut. Sementara itu, Yuki mengamati
dari samping dan berbisik pelan.
“(Sudah kuduga, kamu memang menyukainya.)”
Suaranya yang terdengar bahagia sekaligus menyimpan kesedihan itu
tidak sampai ke telinga dua orang yang sedang bertengkar dengan akrab.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
