Chapter 7 — Temukan Janji Kampanye
“Ngomong-ngomong,
Alya-san, janji kampanye apa yang akan kamu buat?”
Beberapa
hari kemudian, saat istirahat makan siang
di kelas, ketika mereka berempat sedang makan di kelas, Takeshi bertanya kepada Alisa
dengan nada santai.
“Janji
kampanye...?”
“Ah,
bukan apa-apa, aku hanya penasaran saja. Dalam
sambutan pada upacara penutupan semester kedua, kandidat pemilihan biasanya
membahas janji kampanye mereka, jadi aku sedikit penasaran.”
Melihat
Takeshi melambaikan tangannya seolah-olah
tidak ada makna mendalam, Alisa mulai berpikir.
Memang,
Alisa sudah mendengar tentang sambutan pada upacara penutupan semester kedua
cukup lama yang lalu. Namun, dia belum memutuskan apa yang akan
dibicarakannya.
(Apa yang
harus kulakukan...)
Ketika
Alisa kesulitan menjawab, Masachika mengulurkan
tangan padanya.
“Itu sih, itulah bagian serunya dari upacara
penutupan.”
“Eh~
serius?!”
Takeshi berseru dengan nada suara yang tidak
puas, tapi saat itu, Hikaru yang menerima tatapan Masachika segera mengalihkan
topik pembicaraan.
“Janji
kampanye ketua sekarang adalah perubahan seragam musim panas, ‘kan?”
“Memang itu
janji utamanya.
Sepertinya ia juga menyebutkan beberapa perubahan kecil yang sudah ketinggalan zaman...”
“Ah,
itu, rasanya luar biasa bahwa itu benar-benar
terwujud. Sejujurnya, saat pertama kali mendengarnya, aku berpikir 'bukannya itu mustahil, ya?'...”
Takeshi
yang dengan santai ikut dalam pembicaraan membuat Masachika sedikit tertawa
sambil mengangkat bahunya.
“Yah,
jika ia mengatakannya dan akhirnya tidak terwujud, bisa jadi dirinya akan menghadapi mosi tidak
percaya. Berbeda dengan politisi di dunia nyata, ia pasti akan melakukannya
dengan baik.”
“Seolah-olah
politisi di dunia nyata tidak memenuhi janji kampanye mereka... yah, aku
mengerti maksudmu sih.”
Ketika
Hikaru berkata dengan senyum pahit,
Alisa membuka mulutnya.
“Mosi
tidak percaya itu, maksudnya ialah
menyatakan bahwa ketua dan wakil ketua saat ini tidak layak menjabat, ‘kan...? Kurasa itu semacam sarana pengawas OSIS,
bukan? Apa hal itu
pernah terjadi sebelumnya?”
“Hmm...
sepertinya dalam beberapa tahun terakhir tidak banyak sih, tapi... oh, aku pernah
mendengar bahwa sekitar lima tahun yang lalu ada yang kehilangan kelayakan mereka untuk bergabung dengan Raikoukai.”
“Eh,
seriusan?”
“Ya,
sepertinya ia tidak dicopot dari jabatan ketua, tapi... jika dipikir-pikir,
tidak bisa bergabung dengan Raikoukai tetapi tetap harus bekerja
sampai akhir masa jabatan, bukannya itu malah lebih berat, kan?”
“Ada
benarnya juga...”
“Itu
benar-benar kerja tanpa imbalan.”
“Ngomong-ngomong,
kenapa ketua pada masa itu
mendapat mosi tidak percaya?”
“Hmm~... aku ingat itu karena dirinya tidak bisa memenuhi janji
kampanyenya, tapi aku lupa detailnya.”
Saat
Masachika menjawab pertanyaan Alisa, Hikaru tiba-tiba berkata.
“Ngomong-ngomong
tentang janji kampanye... sepertinya sampai beberapa tahun yang lalu, klub
musik ringan itu dilarang. Ketua saat itu yang mengizinkannya.”
“Eh,
seriusan? Aku juga tidak tahu tentang
itu.”
“Ya,
itu bukan hanya sebatas untuk
klub musik ringan saja. Rupanya dibandingkan sekarangg, syarat
untuk mendirikan klub sangat ketat... hampir tidak mungkin, dan pelonggaran itu
dijadikan janji kampanye yang kemudian diwujudkan.”
“Hee~”
Saat
Masachika memberikan penjelasan tambahan kepada Takeshi, Alisa memiringkan
kepalanya dan bertanya.
“Apa maksudnya
mendirikan klub itu tidak mungkin? Bagaimana bisa?”
"Hmm,
bisa dibilang hanya klub yang sesuai dengan martabat dan
status Akademi Seirei yang diizinkan untuk ada? Ketika guru
menilai 'tidak sesuai dengan sekolah kami', maka permintaan tersebut langsung ditolak.”
“Meski
jumlah anggotanya cukup?”
“Meski
jumlah anggotanya cukup.
Jadi, klub orkestra dan klub piano boleh, tetapi klub musik ringan
dilarang."
“Kenapa?”
“Entahlah?
Sepertinya ada anggapan di masa lalu bahwa 'band itu hanya untuk anak berandalan'?”
Saat
Masachika berkata demikian,
Hikaru dan Takeshi juga mengangguk.
“Aku
juga pernah mendengar bahwa ada masa seperti itu dari orang tuaku.”
“Ya,
band-band klasik yang baik itu sepertinya melawan masyarakat dan nilai-nilai
yang sudah ada. Malahan sebenarnya,
ada banyak cerita konyol tentang
band-band lama.”
“Eh,
begitu ya. Aku tidak
tahu itu.”
“Sekarang
tidak ada lagi prasangka terhadap band. Kurasa fakta
bahwa sekolah ini melarang
mereka sampai beberapa tahun yang lalu memang ketinggalan
zaman.”
Setelah
mengatakan itu, Masachika tiba-tiba menambahkan dengan senyum pahit.
“Yah,
setelah pembatasan itu dilonggarkan, klub musik ringan dan berbagai klub
lainnya meningkat pesat... sekarang, ruang klub menjadi tidak cukup, dan
terjadilah keributan seperti sebelumnya.”
“Ah...”
Saat
Alisa berseru pelan seolah-olah mengerti, Takeshi berkata sambil
menggaruk kepalanya dengan rasa bersalah.
“Maaf...
sepertinya karena kami mencari ruang klub baru, Alya-san terlibat dalam
konspirasi, jadi aku benar-benar minta maaf...”
“Eh?
Ah, Takeshi-kun tidak seharusnya meminta
maaf untuk itu...”
Mengabaikan
respons Alisa yang
bingung, Takeshi bergumam setengah hati sambil mengingat kejadian saat itu
dengan nada setengah mengeluh.
“Seriusan~....
aku tidak menyangka bakalan
jadi seperti itu. Aku memang merasa ruang klub sempit dan tidak nyaman, tapi
tidak menyangka kalau mereka akan
pergi bernegosiasi dengan klub piano... lalu tiba-tiba diadakan rapat majelis siswa, dan wakil ketua klub
piano yang benar-benar terpojok kelihatan
kasihan sekali, dan orang-orang aneh muncul~...”
“Ya...
Sejujurnya aku juga merasa bingung dengan
semua ini... Alya-san benar-benar bisa menangani situasi itu dengan tenang.”
Saat
Hikaru melihat Alisa dengan penuh kekaguman, Takeshi juga mengangguk dengan
semangat sambil setuju.
“Benar banget! Dari kursi penonton, aku
melihatnya—kamu benar-benar keren, Alya-san!Rasanya
seperti, wow,
luar biasa!”
“Te-Terima
kasih...”
“Asli deh~
aku terkesan banget~! Alya-san
yang diam-diam membalas serangan orang-orang yang curang itu! Seolah-olah aku,
sebagai mantan anggota band, merasa bangga... Sebenarnya, itu sangat menjadi
bahan pembicaraan di klub musik ringan loh!”
“Eh,
masa?”
Saat
Alisa bertanya sambil berkedip
berkali-kali, Hikaru tersenyum lembut dan mengangguk.
“Ya.
Banyak orang yang bilang Alya-san sangat keren. Sebenarnya, sejak festival Shureisai saat band tampil, sudah banyak
orang di klub musik ringan yang menyukai Alya-san... Dengan penampilan seperti
itu, sepertinya di pemilihan ketua tahun depan, hampir semua orang dari klub
musik ringan akan memilih Alya-san.”
“Eh?
...Benarkah?”
Melihat
Alisa yang kebingungan dan tidak mempercayainya, Masachika lalu menambahkan seolah-olah itu hal yang paling jelas untuk
dikatakan.
“Itu
bukan hal yang aneh, ‘kan? Minggu
lalu, ketika kita mencari
seseorang bersama Tsukamoto-senpai, ada banyak orang yang bersikap ramah padamu."
“Ah,
ya... mungkin...”
Sebenarnya,
ke mana pun dirinya pergi, dia menerima banyak pujian atas perilakunya dalam majelis
siswa dan memberikan dukungan hangat. Namun, Alisa masih
tampak bingung, seolah-olah itu
bukan urusannya, sambil menggelengkan kepala. Melihat reaksinya, Takeshi dan Hikaru tersenyum hangat.
“Sepertinya Alya-san perlu tahu kenyataannya saat upacara penutupan semester
kedua.”
“Haha,
iya juga. Aku
yakin kamu pasti akan terkejut. Ada banyak orang di sekolah ini yang
mendukungmu, Alya-san.”
“...Benarkah?”
Saat
Alisa bertanya lagi dengan ragu-ragu,
Takeshi dan Hikaru saling
memandang dan tertawa... Tiba-tiba, Hikaru seolah menyadari sesuatu dan menatap
Masachika.
“Ngomong-ngomong,
kita baru saja melewatkan satu hal... pencarian orang itu, kalian sedang mencari dalangnya, ‘kan?”
“Eh?
Ah... yah, benar.”
“Oh,
sepertinya ada seseorang yang ditangkap. Apa
Kimishima-san yang menangkapnya? Tapi dengar-dengar, karena
buktinya tidak
cukup, jadi dia dibebaskan...”
Itu
adalah informasi yang disampaikan kepada para siswa.
Sebenarnya, dalang tersebut belum ditangkap. Terlebih lagi, Hikaru dan Takeshi takkan pernah mengetahui bahwa
dalang yang berusaha menjatuhkan Alisa dalam majelis
siswa adalah Nonoa.
Masachika juga tidak berniat memberitahu mereka,
jadi dirinya mengangguk dengan wajah berpura-pura tidak tahu.
“Ah,
kira-kira begitulah. Oh, tapi asal kalian tahu saja, aku
tidak bisa memberitahukan siapa orangnya.”
“Ah,
sudah kuduga, kamu tidak mau bagi-bagi sedikit infonya
gitu?”
“Hmm,
begitu~... yah, aku sangat penasaran.
Seperti yang baru saja dibicarakan oleh Takeshi, tapi
itu benar-benar serangkaian
kejadian yang mengejutkan... tapi jika dipikir-pikir, semua itu pasti
direncanakan oleh dalang itu, ‘kan?”
“...Eh,
ah, maksudnya begitu?”
Usai mendengar
kata-kata Hikaru, Takeshi tampak baru menyadari sesuatu dan berkedip-kedip.
Melihat reaksinya, Hikaru tidak bisa menahan
senyum pahit.
“Yah,
begitulah. Tiba-tiba diadakan majelis
siswa, mungkin itu karena dalang tersebut mengatur semuanya dari balik layar, ‘kan?”
“Eh,
oh~... begitu ya~~... ah~, aku jadi semakin penasaran dengan identitas
dalangnya~!”
Takeshi mencondongkan badannya ke depan dan
membisikkan sesuatu kepada
Masachika sambil meletakkan tangan di samping mulutnya.
“(Hei,
apa kamu bisa memberitahuku secara
diam-diam? Sebagai teman!)”
“Tidak
bisa. Ada kewajiban untuk menjaga kerahasiaan.”
“Eh~ayolah~! Serius? Aku sangat penasaran!”
aat
seluruh tubuh Takeshi menunjukkan ketidakpuasan dan rasa ingin tahunya,
sementara Masachika dan Alisa saling bertukar pandang... sedikit tersenyum getir. Hikaru melihat mereka dengan
ekspresi bingung.
◇◇◇◇
“(…Hei)”
“Hmm?”
Setelah selesai makan siang dan semua orang bersiap-siap untuk pelajaran sore, Masachika
mendengar panggilan lembut dari Alisa di sampingnya dan memastikan bahwa guru
belum datang sebelum mendekat.
“(Ada
apa?)”
“(Umm, ini tentang Nonoa-san...)”
“(…Ah)”
Hanya
dengan satu kata itu saja,
Masachika sudah bisa menebak apa yang ingin disampaikan Alisa, dan sambil
sedikit memperhatikan Hikaru yang duduk
di depannya, ia segera menggelengkan
kepala.
“(Kita tidak perlu membicarakannya. Meskipun dibicarakan, tidak ada
yang akan bahagia, kan?)”
“(Yah...kurasa ada benarnya.)”
Sebenarnya,
kemungkinann Nonoa
melakukan sesuatu kepada Takeshi atau Hikaru saat ini sangat kecil. Justru,
masalahnya adalah jika Takeshi dan Hikaru mengetahui kebenaran, Nonoa bisa saja
bersikap defensif. Alisa tampaknya juga menyadari hal ini.
“...”
Meski
demikian, sepertinya Alisa masih menunjukkan ekspresi tidak
puas... karena Nonoa adalah anggota band Takeshi dan Hikaru. Dan Takeshi serta Hikaru
adalah teman bagi Alisa.
(Yah, aku
mengerti perasaan bahwa Takeshi dan Hikaru sebaiknya tidak tahu
apa-apa...)
Dalam
hatinya, Masachika menunjukkan pemahaman
terhadap perasaan pasangannya, tapi ia dengan sengaja mengangkat bahu dengan
nada ringan.
“(Walaupun tidak tahu sifat asli orang lain, kurasa itu tidak masalah karena kita masih tetap bisa bergaul dan
bersahabat. Bukannya kamu dan Yuki
juga begitu, kan?)”
“(Ah!
...Memang, itu benar.)”
Setelah
Masachika memberikan contoh yang jelas, Alisa tersenyum kecil. Masachika
membalas senyumnya dan melanjutkan dengan ceria.
“(Jadi,
lupakan saja tentang itu, dan pikirkan tentang janji kampanye yang dikatakan
Takeshi.)”
“(Tunggu... aku jadi sedikit tersinggung jika
dikatakan seolah-olah aku
tidak memikirkan apa-apa.)”
“(Oh?
Apa benar?)”
Kemudian
pada saat itu, guru masuk ke dalam kelas, dan Masachika
menarik tubuhnya kembali sambil memberikan pernyataan terakhir.
“(Yah,
masih ada hampir sebulan sampai upacara penutupan
semester. Kamu
bisa memikirkannya dengan tenang.)”
Sebuah
kalimat yang ditambahkan tanpa berpikir itu. Masachika akan menyadari beberapa
jam kemudian bahwa itu justru
pemikiran yang terlalu naif.
◇◇◇◇
“Jadi,
keberlangsungan klub piano telah diputuskan secara resmi, ya?”
“Iya,
yah, kurasa
wajar saja karena mereka
berhasil mengembalikan jumlah anggota dalam waktu kurang dari sebulan setelah
kekurangan anggota.”
Di ruang
OSIS sepulang sekolah, para anggota OSIS mendiskusikan hasil rapat OSIS minggu
lalu.
“Selain
itu, tentang pencarian dalang yang dilakukan oleh Chisaki dan yang lainnya... Sesuai
dengan rencana Kuze,
meskipun tersangka telah ditangkap, mereka dibebaskan karena bukti yang tidak
cukup. Jadi, tidak ada pencarian pelaku di sekolah setelah itu. Sebenarnya,
seluruh keributan ini tampaknya dianggap sebagai bagian dari kampanye pemilihan.
Berbeda dengan saat festival Shureisai,
tidak ada siswa yang benar-benar terkena dampak langsung, jadi tidak ada yang
serius berusaha menangkap pelaku... Bahkan, saat ini, sepertinya ada banyak
spekulasi tentang siapa yang berusaha menjatuhkan Adik Kujou dan Kimishima.”
“Aku
juga sudah menyelidikinya sedikit, dan sepertinya ada teori bahwa
seseorang selain Alya-chan dan Yuki-chan sedang mengincar kursi ketua OSIS dan berusaha menjatuhkan kedua
pasangan itu. Dan diskusi tentang siapa yang mengincar kursi ketua siswa itu
sangat memanas.”
“Ahaha, yah begitulah,
rasanya memang khas sekolah
ini."
Sambil
mendengar dua senior yang tampak ceria, Masachika tersenyum pahit. Kemudian,
Touya yang berada di belakang kacamata menatap Masachika dan bertanya.
“Jadi?
Sampai sejauh mana kalian memahami kebenarannya?”
“…Ah~”
Menjawab
pertanyaan Touya, Masachika mengalihkan pandangannya dan saling melirik dengan
Yuki di hadapannya. Namun, sebelum mereka memutuskan bagaimana berbicara, Touya
mengangkat bahu dan berkata.
“Yah,
sejak awal, ketua dan wakil ketua siswa tidak boleh campur tangan dalam urusan kampanye pemilihan juniornya... Jika kalian tidak ingin
membahasnya, aku tidak akan mempermasalahkannya.”
“Terima
kasih atas perhatianmu...”
“Tapi,
jangan sampai lengah dan terjatuh sebelum pemilihan.”
Masachika
tersenyum lembut dan mengangguk setuju dengan nasihat seniornya.
“Ya,
aku mengerti.”
“Jika
jumlah orang berkurang dari sekarang, OSIS
tidak akan berjalan dengan baik!”
“Itu
benar-benar masalah hidup dan mati, ya.”
Sambil
menjawab dengan setengah senyuman pada Touya yang menambahkan situasi yang
cukup serius dengan bercanda, Yuki mengangkat tangan dan bersuara.
“Permisi,
ketua, aku ingin membicarakan tentang
rencana yang itu, boleh?”
“Eh?
Ah... tentang itu ya, tidak
masalah.”
“Terima
kasih.”
Setelah
tersenyum dan mengucapkan terima kasih, Yuki mengeluarkan beberapa dokumen dari
tasnya.
(Rencana
yang itu...? Apa maksudnya?)
Karena
Masachika tidak memiliki petunjuk, dirinya
saling memandang dengan Alisa di sampingnya dan menatap dokumen yang diberikan
oleh Yuki.
“Eh,
pesta Natal...?”
Alisa,
yang juga menerima dokumen, mengeluarkan suara terkejut. Di dalam dokumen itu
tertulis bahwa Yuki dan Ayano akan menjadi penyelenggara, dengan sukarelawan
siswa sebagai staf pengelola, dan mereka akan mengadakan pesta Natal di sekolah
setelah upacara penutupan semester pada tanggal 24 Desember. Perlu dicatat
bahwa acara pesta Natal tidak termasuk dalam kegiatan tahunan Akademi Seirei. Dengan kata lain... ini
adalah percobaan yang sepenuhnya baru.
“Seperti
yang pernah kukatakan pada upacara penutupan
semester pertama, jika aku terpilih
sebagai ketua OSIS, aku berencana untuk mendengarkan
keinginan siswa dan melaksanakan berbagai acara. Acara
ini merupakan
percobaan pertama dari rencana tersebut.”
Penjelasan
yang disampaikan dengan santai itu membuat ekspresi Masachika semakin
serius.
(Oi, oi, oi, ini... jadi ketua sudah mengetahuinya,
sementara kita baru tahu sekarang.)
Jelas-jelas ini merupakan upaya
untuk membangun prestasi menjelang pemilihan ketua OSIS. Ada niat yang terlihat untuk
menunjukkan bahwa apa yang dinyatakan pada upacara penutupan semester pertama
bukanlah omong kosong.
(Aku tidak tahu sejak kapan persiapan
ini dimulai... cih,
ini...)
Personel
yang diperlukan untuk pengelolaan sudah dipastikan, dan izin dari pihak sekolah
juga telah didapatkan. Dengan rencana yang sudah begitu matang, tidak ada yang
bisa dilakukan lagi. Jika ini masih dalam tahap perencanaan, Masachika mungkin bisa mengatakan, “Sepertinya itu sulit, jadi aku akan membantu,” dan memaksakan diri untuk
terlibat dalam pengelolaan, sambil berkata, “Memang
benar bahwa ide ini berasal dari Yuki, tetapi ini bukan proyek yang hanya
dilakukan oleh pasangan Yuki dan Ayano,”
tetapi...
(Yah,
mungkin karena dia mengetahui adanya campur
tangan semacam itu, makanya dia memberitahu kita pada waktu
ini.)
Entah
Yuki menyadari pemikiran Masachika atau tidak, dia dengan senyum polos
menggabungkan kedua tangannya dan berkata dengan nada yang tampaknya tidak
memiliki maksud tersembunyi.
“Pengelolaan
pesta ini akan dilakukan oleh diriku
dan para sukarelawan, jadi bantuan dari OSIS
tidak diperlukan. Kalian semua juga dipersilakan untuk berpartisipasi dengan
santai, ya?”
◇◇◇◇
“Kita
benar-benar kecolongan... aku tidak menyangka ada rencana
seperti ini.”
Setelah rapat OSIS, Masachika dan Alisa kembali ke
kelas 1-B untuk mengadakan rapat darurat. Agenda pertemuan ini jelas-jelas tentang pesta Natal yang direncanakan
Yuki yang baru saja terungkap.
“Meski Yuki-san bilang begitu, tapi...
bagaimana? Apa kita akan ikut serta?”
“Kita
tidak punya pilihan lain... Ketua dan Masha-san
juga bilang akan ikut. Jika kita memilih untuk tidak hadir dan terlihat seperti
menolak, itu akan menunjukkan betapa kecilnya jiwa kita di mata seluruh siswa.”
Mendengar
pertanyaan Alisa, Masachika menjawab dengan ekspresi cemberut dan menghela
napas.
“Tapi,
dengan acara besar seperti ini, topik upacara penutupan semester kedua pasti
akan sepenuhnya teralihkan...”
“Itu
benar...”
Mendengar
suara Masachika yang penuh kepahitan, Alisa juga memberikan ekspresi
serius.
“Kebetulan sekali kita juga membahasnya saat makan
siang tadi... Pada upacara penutupan
semester kedua, biasanya ada pembicaraan tentang janji kampanye, ‘kan?”
“Ah,
ya... Di semester pertama, kita melakukan perkenalan diri, dan di semester
kedua, kita membahas janji kampanye. Dalam kasus Yuki, dia sudah memiliki
tingkat popularitas yang tidak memerlukan perkenalan diri, jadi dia sudah
membahas janji kampanyenya di semester pertama.”
Setelah
mengatakan itu, Masachika melambaikan dokumen pesta Natal.
“Jadi,
di semester kedua, sambil membahas kembali janji kampanye, dia akan memberikan
kekuatan pada kata-kata itu melalui rencana ini... Seratus kali mendengar tidak
sebanding dengan satu kali melihat. Tidak ada cara yang lebih efektif untuk
membuat orang merasakan visi sekolah yang ingin dia wujudkan.”
“Itu
benar... hal ini juga
akan menjadi penekanan pada kemampuan eksekusi bahwa dia bisa mewujudkan proyek
sebesar ini hanya dengan jaringan yang dia miliki.”
“Ya.
Sejujurnya... Dengan pesaing seperti ini,
janji kampanye biasa tidak akan menarik perhatian siswa. Di sisi lain, jika dia
mengajukan janji kampanye yang besar dan berdampak, orang akan meragukan
kemungkinannya di depan rencana ini. Mereka akan tertawa sinis, 'Kamu menjanjikan hal-hal yang hebat, tapi apa kamu
benar-benar bisa melakukannya?'”
“Itu
pasti akan terjadi.”
Semakin dipikirkan,
semakin jelas bahwa inilah langkah yang sangat cerdik. Bisa dibilang,
protagonis upacara penutupan semester kedua sudah pasti Yuki. Saat itu,
Masachika tiba-tiba teringat sesuatu dan berbisik.
“Sebaliknya,
jika rencana ini ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan atau ada
skandal yang terjadi, maka popularitas
Yuki akan hancur. Dukungan para siswa
juga akan merosot tajam....”
Namun,
setelah menatap kembali dokumen rencana, dia segera menggelengkan kepala.
“Tidak,
setelah melihat dokumen ini, sepertinya
mereka tidak akan lengah di bagian ini.”
“Itu
benar. Selain itu... aku tidak ingin berharap pada kegagalan lawan.”
“Ya,
memang. Masalah utamanya adalah upacara penutupan semester sebelum pesta Natal.”
Sembari
mengangkat bahu, Masachika tampak seperti ingin mengatakan, “Apa yang harus kita lakukan?” sambil menggaruk-garuk
kepalanya.
Jika
mereka maju tanpa rencana, pada hari upacara penutupan, isi pikiran siswa akan dipenuhi
dengan pesta Natal yang diselenggarakan oleh Yuki. Mudah untuk membayangkan
bahwa sambutan dari Alisa dan Masachika akan berlalu begitu saja.
(Sama
seperti mengundang Alya ke siaran sekolah menjelang upacara penutupan semester
pertama, persiapan semacam ini memang luar biasa... Tidak, ini bukan saatnya
untuk terkesan padanya.)
Masachika
tanpa sadar terkesan dengan ketelitian adiknya dan menggelengkan kepala.
“Jadi,
apa yang harus kita lakukan? Meskipun baru saja mendengarnya siang tadi, apa
ada ide tentang janji kampanye?”
Ada
suasana yang jelas bahwa Masachika hanya bertanya untuk sekadar bertanya, namun
Alisa perlahan mengangguk.
“...Ya,
sebenarnya, aku sedang memikirkan sesuatu.”
“Oh,
begitu ya?”
Tanpa
menyembunyikan rasa terkejutnya... atau mungkin tidak ada waktu untuk
menyembunyikannya, Masachika menatap Alisa dengan mata terbelalak. Mungkin dia
berpikir bahwa Alisa hanya ingin menjadi ketua OSIS
tanpa memikirkan apa yang ingin dia lakukan setelah itu.
(Yah, itu
memang benar sih.)
Seraya
bergumam sendiri dalam hati, Alisa tersenyum pahit.
Sebenarnya,
itulah yang dia rasakan pada masa semester pertama. Dia hanya
ingin berada di posisi puncak.
Dia ingin diakui oleh banyak orang. Itu saja, dan dia tidak memikirkan apa yang
akan dilakukan setelah itu. Namun...
“...”
OSIS.
Keributan yang terjadi saat festival Shureisai. Harapan Masachika dan Yuki
untuk bergabung dalam Raikoukai.
Aliansi sementara yang terbentuk karena pengkhianatan Nonoa. Semua pengalaman
itu memberikan Alisa sebuah pemikiran. Dia perlahan mengungkapkan pemikirannya
dengan kata-kata.
“Aku──”
Mata Masachika
semakin terbelalak semakin dirinya endengar
idealisme yang diungkapkan Alisa. Sebenarnya, Alisa
sendiri sadar bahwa reaksi seperti itu tidak bisa
dihindari.
“...Bagaimana
menurutmu?”
Dengan
pertanyaan yang diajukan secara ragu, bahkan Masachika pun menundukkan
pandangannya dan merenung.
Tidak mengherankan. Walaupun
Alisa sendiri yang mengatakannya, tapi sejujurnya, dia sama sekali tidak
memiliki gambaran tentang bagaimana mewujudkannya. Hanya saja, dia tahu bahwa
itulah tujuan yang bahkan lebih sulit daripada sekadar sulit. Selain itu...
tujuan ini bertentangan dengan tujuan rekannya
yang ingin mewarisi keluarga Suou sebagai pengganti
Yuki.
(Tetapi...
meskipun begitu, aku...)
Dengan
tekad yang tak tergoyahkan di hatinya, Alisa
menatap tajam pasangannya yang duduk di seberangnya... kemudian, Masachika menghela napas dan
dengan cepat mengangkat pandangannya. Di matanya, terdapat tekad yang jelas dan
mantap, dan Alisa merasakan hatinya tergetar.
“──Baiklah, aku mengerti.”
Sebuah
pernyataan singkat namun sangat menguatkan bagi Alisa. Dia tidak bisa segera
membalas, dan setelah beberapa kali menelan ludah, akhirnya dia bisa
menjawab.
“...Kamu yakin itu baik-baik saja?”
“Ya,
jika memang itulah yang kamu inginkan.”
“Tapi,
jika ini terwujud...”
Saat
Alisa menghentikan kata-katanya dan menggigit
bibirnya, Masachika tersenyum untuk menenangkan.
“Jangan
khawatir tentang itu. Yang terpenting bagiku adalah... kamu menjadi ketua OSIS dengan cara yang kamu inginkan.”
“Masachika-kun...”
Dengan
kata-kata yang penuh pengabdian dan tanpa keraguan, seolah-olah ada semangat
pengorbanan, hati Alisa dipenuhi dengan kebahagiaan dan kesedihan.
Dia
sangat senang bahwa Masachika begitu mengabdikan diri untuknya. Namun, di sisi lain, dia merasa sangat
bersalah karena menempelkan harapan yang bertentangan dengan tujuan
Masachika.
Berbagai
emosi saling berkecamuk di dalam
hatinya, dan Alisa menundukkan pandangannya sambil mengerutkan kening, menahan
air mata.
“Jangan
membuat wajah seperti itu, Alya.”
Saat itu,
suara lembut Masachika memanggilnya. Ketika dia mengalihkan pandangannya,
Masachika melihat Alisa dengan tatapan tenang namun kuat.
“Aku
tidak sedang mengubah diriku untuk mendukungmu. Niatku adalah mendukungmu. Jadi...
tujuanmu adalah tujuanku.”
Saat itu,
perkataan Yuki yang didengar beberapa hari
lalu kembali terlintas di benak Alisa.
[Namun,
aku mencintai sifat Onii-sama
yang bisa berusaha keras demi orang lain]
Bayangan
Yuki yang mengungkapkan hal itu dengan tenang muncul di pikirannya... dan Alisa
tiba-tiba merasa ingin menangis.
(Itu
benar...)
Dia memejamkan matanya dengan erat, berusaha menahan air matanya, dan perlahan berbisik.
【Aku juga berpikir begitu】
“Eh?”
Ketika
Masachika yang bingung berkedip, Alisa menjawab,
“Bukan apa-apa,”
sebelum berdiri.
“Baiklah!
Jadi, janji kampanye yang akan dibicarakan di upacara penutupan sudah
diputuskan!”
“Ah,
ya... Hahaha, aku tidak
menyangka kita akan mengajukan janji kampanye sebesar ini.”
Masachika
juga berdiri sambil menggaruk kepalanya dengan senyum pahit, dan Alisa
menatapnya dengan senyuman menggoda.
“Oh,
kamu mmulai merasa takut?”
“Tentu
saja tidak. Aku bersemangat dengan tujuan yang menantang ini.”
Masachika
langsung menjawab, dan senyumannya
berubah menjadi senyuman ganas.
Di matanya yang hitam, ada cahaya tajam yang seolah membuktikan bahwa
kata-katanya tidak bohong... Alisa mengangguk puas dan dengan percaya diri
menyatakan.
“Kalau
begitu, baiklah. Kita akan mengejutkan semua orang di upacara penutupan dan
dengan percaya diri bergabung dalam pesta Natal yang diselenggarakan oleh Yuki-san.”
“Haha,
semangat yang bagus... Apa aku bisa
bertugas sebagai pendampingmu?”
Dengan
nada bercanda, Masachika membungkuk, dan Alisa tertawa dengan santai.
“Ya,
tentu saja. Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya.”
“Itu
akan menjadi kehormatan terbesar.”
Masachika
meletakkan tangan di dadanya dan membungkuk, sementara Alisa mengulurkan tangan
kanannya. Masachika berkedip sejenak sebelum menerima tangannya, memiringkan
kepalanya dan tersenyum.
“Bagaimana
kalau ciuman?”
“?”
“Kamu akan mendukungku, kan? Kalau
begitu, bagaimana kalau kamu memberiku ciuman sumpah?”
Alisa mendesak dengan nada agak bangga, dan
Masachika tersenyum kecut... lalu berlutut dengan satu lutut, menekan bibirnya
dengan lembut ke punggung tangannya.
“Seperti
yang kamu perintahkan... Wahai putriku.”
“Ara...
panggilan 'Putriku' itu rasanya tidak buruk.”
Dengan
kata-kata itu, sang Putri
yang kini tidak lagi kesepian tersenyum dengan semangat dan percaya diri.
◇◇◇◇
Keesokan
harinya, sepulang sekolah. Saat Masachika yang datang untuk
berlatih di klub musik tiup selesai bermain dan masuk ke waktu istirahat, dia
merasakan tatapan aneh dan mengangkat wajahnya dari tuts piano.
Ternyata,
banyak anggota klub menatapnya dengan tajam, dan dia secara tidak sadar
membungkukkan tubuhnya.
“…Eh,
ada apa?”
Ketika dirinya bertanya dengan sedikit ragu, ketua klub,
Elena, mendekatinya dengan ekspresi terkesan.
“Iyaahh~,
Kuze-kun, sepertinya ada peningkatan
dalam permainanmu!”
“Elena-senpai...
Benarkah?”
“Ya,
ya. Memangnya ada sesuatu yang terjadi?”
“Sesuatu...?”
Ia
sebenarnya tahu jawabannya. Itu adalah saat dia mendengarkan permohonan Alisa
kemarin dan berjanji untuk mendukungnya.
(Aku
merasa... seolah-olah aku masuk ke mode tak terkalahkan lagi.)
Seolah-olah
kabut yang menghalangi jalannya mendadak menghilang, dan puncak gunung yang
harus dirinya tuju mulai terlihat... itulah yang dirasakan Masachika. Itu
memberinya energi yang mirip dengan rasa mampu dan semangat untuk maju.
“…Mungkin
aku terinspirasi oleh rekanku
yang pekerja keras.”
“Oh,
maksudnya Alisa-chan?”
“Ya.”
“Hoho~, kedengarannya
sangat romantis~!”
Mendengar
suara Elena yang sedikit menggoda, Masachika merasakan aura yang merepotkan dan
segera berdiri.
“Aku
mau pergi ke toilet sebentar.”
Ia
hanya mengatakannya dan segera keluar dari ruang musik. Di punggungnya, tatapan
hangat dari anggota wanita lain tertuju padanya, tapi Masachika tampaknya tidak menyadarinya.
“Oya, rupanya
Kuzecchi toh!”
“Nonoa...”
Nonoa
memanggilnya begitu dirinya melangkah keluar ke
lorong, dan Masachika secara refleks mengernyitkan dahi.
Nonoa, dengan tatapan setengah terbuka dan senyuman santai, dengan akrab
menepuk-nepuk lengan Masachika.
“Ehh~
reaksimu sedikit menyakitkanku,
tau~.”
“…Apa ada urusan denganku?”
Tanpa meladeni perkataan Nonoa, Masachika langsung
bertanya tentang keperluannya. Nonoa kemudian melambai-lambaikan tangannya dan
mengajaknya ke ujung koridor yang sepi, bersandar pada dinding dan menyilangkan
kedua tangan, lalu mulai berbicara dengan nada santai.
“Jadi
begini~, tadi siang ada pengumuman di siaran sekolah
tentang pesta Natal yang diselenggarakan oleh Yukki,
iya ‘kan?”
“Ah,
ya.”
“Kalau
Kuzecchi mau, aku bisa
menghancurkannya."
“Kamu...”
Dengan
nada seolah-olah meminjamkan buku pelajaran, Nonoa mengatakan sesuatu yang
jahat dengan percaya diri, dan Masachika menajamkan tatapannya... namun segera
menyadari bahwa itu sia-sia dan menghela napas, menjawab dengan singkat.
“Tidak
perlu.”
“Oh,
masa?”
Mungkin
dia sudah memperkirakan bahwa Masachika akan menjawab seperti itu. Tanpa
menambah kata-kata lain, Nonoa mengangkat bahunya. Namun, jika Masachika
meminta Nonoa melakukan hal itu, dia pasti akan melakukannya tanpa ragu. Itulah
sebabnya Masachika merasa perlu memberikan peringatan.
“Jangan
melakukan hal yang tidak perlu. Bahkan tanpa itu, aku akan menunjukkan
sesuatu yang melebihi harapanmu.”
“Hee...”
Nonoa sedikit
mengangkat alisnya mendengar kata-kata Masachika, menatap wajahnya dengan tersenyum lebar.
“Kuzecchi, rasanya seperti ada yang berbeda, ya?”
“Mungkin.”
“Hemm~”
Sembari
mendengus sengau, Nonoa menjauhkan punggungnya dari dinding
dan berbalik dengan cepat.
“Baiklah, kalau begitu, aku menantikan sesuatu
yang melebihi harapanmu. Oh, aku juga berencana untuk ikut pesta, jadi jika
kamu mau, ayo kita berdansa, ya~”
Sambil
melambaikan tangan di atas bahunya, Nonoa berjalan pergi,
dan setelah sedikit ragu, Masachika memanggilnya.
“Nonoa!”
Nonoa
berhenti seketika dan sedikit memiringkan
kepalanya. Masachika dengan hati-hati merangkai kata-kata.
“Aku...
sejujurnya, aku sudah tidak bisa lagi
memanggilmu teman dengan sepenuh hati.”
Setelah
menyadari bahwa niat jahat Nonoa bisa ditujukan kepada dirinya dan Alisa,
Masachika merasa itu tidak mungkin.
“Tapi...
Alya berbeda. Alya dengan sungguh-sungguh masih
menganggapmu sebagai temannya.”
Ekspresi
Nonoa yang menghadap ke depan tidak bisa dibaca oleh Masachika. Namun, ia
berusaha untuk menyampaikan perasaannya agar sedikit sampai ke dalam hati
Nonoa.
“Dengar...
Apa kamu tidak bisa membalas persahabatan Alya sebagai teman biasa?”
Setelah
beberapa saat terdiam, Nonoa menjawab dengan suara datar tanpa menoleh.
“Jika
aku bisa melakukan itu, aku takkan menjadi seperti
ini sekarang.”
Setelah
mengatakannya, Nonoa melanjutkan langkahnya. Masachika melihat punggungnya
pergi... lalu membalikkan badan dan mulai berjalan ke arah yang berlawanan
dengan Nonoa.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
