Roshidere Jilid 11 Chapter 7 Bahasa Indonesia

Chapter 7 Temukan Janji Kampanye

 

Ngomong-ngomong, Alya-san, janji kampanye apa yang akan kamu buat?

Beberapa hari kemudian, saat istirahat makan siang di kelas, ketika mereka berempat sedang makan di kelas, Takeshi bertanya kepada Alisa dengan nada santai. 

Janji kampanye...?

Ah, bukan apa-apa, aku hanya penasaran saja. Dalam sambutan pada upacara penutupan semester kedua, kandidat pemilihan biasanya membahas janji kampanye mereka, jadi aku sedikit penasaran.

Melihat Takeshi melambaikan tangannya seolah-olah tidak ada makna mendalam, Alisa mulai berpikir. 

Memang, Alisa sudah mendengar tentang sambutan pada upacara penutupan semester kedua cukup lama yang lalu. Namun, dia belum memutuskan apa yang akan dibicarakannya. 

(Apa yang harus kulakukan...) 

Ketika Alisa kesulitan menjawab, Masachika mengulurkan tangan padanya

Itu sih, itulah bagian serunya dari upacara penutupan. 

Eh~ serius?!

Takeshi berseru dengan nada suara yang tidak puas, tapi saat itu, Hikaru yang menerima tatapan Masachika segera mengalihkan topik pembicaraan. 

Janji kampanye ketua sekarang adalah perubahan seragam musim panas, kan? 

“Memang itu janji utamanya. Sepertinya ia juga menyebutkan beberapa perubahan kecil yang sudah ketinggalan zaman... 

Ah, itu, rasanya luar biasa bahwa itu benar-benar terwujud. Sejujurnya, saat pertama kali mendengarnya, aku berpikir 'bukannya itu mustahil, ya?'... 

Takeshi yang dengan santai ikut dalam pembicaraan membuat Masachika sedikit tertawa sambil mengangkat bahunya. 

Yah, jika ia mengatakannya dan akhirnya tidak terwujud, bisa jadi dirinya akan menghadapi mosi tidak percaya. Berbeda dengan politisi di dunia nyata, ia pasti akan melakukannya dengan baik.

Seolah-olah politisi di dunia nyata tidak memenuhi janji kampanye mereka... yah, aku mengerti maksudmu sih.

Ketika Hikaru berkata dengan senyum pahit, Alisa membuka mulutnya. 

Mosi tidak percaya itu, maksudnya ialah menyatakan bahwa ketua dan wakil ketua saat ini tidak layak menjabat, kan...? Kurasa itu semacam sarana pengawas OSIS, bukan? Apa hal itu pernah terjadi sebelumnya?

Hmm... sepertinya dalam beberapa tahun terakhir tidak banyak sih, tapi... oh, aku pernah mendengar bahwa sekitar lima tahun yang lalu ada yang kehilangan kelayakan mereka untuk bergabung dengan Raikoukai.

Eh, seriusan?

Ya, sepertinya ia tidak dicopot dari jabatan ketua, tapi... jika dipikir-pikir, tidak bisa bergabung dengan Raikoukai tetapi tetap harus bekerja sampai akhir masa jabatan, bukannya itu malah lebih berat, kan?

“Ada benarnya juga...

Itu benar-benar kerja tanpa imbalan.

Ngomong-ngomong, kenapa ketua pada masa itu mendapat mosi tidak percaya?

Hmm~... aku ingat itu karena dirinya tidak bisa memenuhi janji kampanyenya, tapi aku lupa detailnya.

Saat Masachika menjawab pertanyaan Alisa, Hikaru tiba-tiba berkata. 

Ngomong-ngomong tentang janji kampanye... sepertinya sampai beberapa tahun yang lalu, klub musik ringan itu dilarang. Ketua saat itu yang mengizinkannya. 

Eh, seriusan? Aku juga tidak tahu tentang itu.

Ya, itu bukan hanya sebatas untuk klub musik ringan saja. Rupanya dibandingkan sekarangg, syarat untuk mendirikan klub sangat ketat... hampir tidak mungkin, dan pelonggaran itu dijadikan janji kampanye yang kemudian diwujudkan.

“Hee~

Saat Masachika memberikan penjelasan tambahan kepada Takeshi, Alisa memiringkan kepalanya dan bertanya. 

“Apa maksudnya mendirikan klub itu tidak mungkin? Bagaimana bisa?

"Hmm, bisa dibilang hanya klub yang sesuai dengan martabat dan status Akademi Seirei yang diizinkan untuk ada? Ketika guru menilai 'tidak sesuai dengan sekolah kami', maka permintaan tersebut langsung ditolak. 

Meski jumlah anggotanya cukup?

Meski jumlah anggotanya cukup. Jadi, klub orkestra dan klub piano boleh, tetapi klub musik ringan dilarang." 

Kenapa?

Entahlah? Sepertinya ada anggapan di masa lalu bahwa 'band itu hanya untuk anak berandalan'?

Saat Masachika berkata demikian, Hikaru dan Takeshi juga mengangguk. 

Aku juga pernah mendengar bahwa ada masa seperti itu dari orang tuaku.

Ya, band-band klasik yang baik itu sepertinya melawan masyarakat dan nilai-nilai yang sudah ada. Malahan sebenarnya, ada banyak cerita konyol tentang band-band lama. 

Eh, begitu ya. Aku tidak tahu itu. 

Sekarang tidak ada lagi prasangka terhadap band. Kurasa fakta bahwa sekolah ini melarang mereka sampai beberapa tahun yang lalu memang ketinggalan zaman.

Setelah mengatakan itu, Masachika tiba-tiba menambahkan dengan senyum pahit. 

Yah, setelah pembatasan itu dilonggarkan, klub musik ringan dan berbagai klub lainnya meningkat pesat... sekarang, ruang klub menjadi tidak cukup, dan terjadilah keributan seperti sebelumnya. 

Ah...

Saat Alisa berseru pelan seolah-olah mengerti, Takeshi berkata sambil menggaruk kepalanya dengan rasa bersalah. 

Maaf... sepertinya karena kami mencari ruang klub baru, Alya-san terlibat dalam konspirasi, jadi aku benar-benar minta maaf... 

Eh? Ah, Takeshi-kun tidak seharusnya meminta maaf untuk itu...

Mengabaikan respons Alisa yang bingung, Takeshi bergumam setengah hati sambil mengingat kejadian saat itu dengan nada setengah mengeluh. 

“Seriusan~.... aku tidak menyangka bakalan jadi seperti itu. Aku memang merasa ruang klub sempit dan tidak nyaman, tapi tidak menyangka kalau mereka akan pergi bernegosiasi dengan klub piano... lalu tiba-tiba diadakan rapat majelis siswa, dan wakil ketua klub piano yang benar-benar terpojok kelihatan kasihan sekali, dan orang-orang aneh muncul~...

Ya... Sejujurnya aku juga merasa bingung dengan semua ini... Alya-san benar-benar bisa menangani situasi itu dengan tenang.

Saat Hikaru melihat Alisa dengan penuh kekaguman, Takeshi juga mengangguk dengan semangat sambil setuju. 

“Benar banget! Dari kursi penonton, aku melihatnya—kamu benar-benar keren, Alya-san!Rasanya seperti, wow, luar biasa! 

“Te-Terima kasih...

“Asli deh~ aku terkesan banget~! Alya-san yang diam-diam membalas serangan orang-orang yang curang itu! Seolah-olah aku, sebagai mantan anggota band, merasa bangga... Sebenarnya, itu sangat menjadi bahan pembicaraan di klub musik ringan loh!

Eh, masa?

Saat Alisa bertanya sambil berkedip berkali-kali, Hikaru tersenyum lembut dan mengangguk. 

Ya. Banyak orang yang bilang Alya-san sangat keren. Sebenarnya, sejak festival Shureisai saat band tampil, sudah banyak orang di klub musik ringan yang menyukai Alya-san... Dengan penampilan seperti itu, sepertinya di pemilihan ketua tahun depan, hampir semua orang dari klub musik ringan akan memilih Alya-san.

Eh? ...Benarkah?

Melihat Alisa yang kebingungan dan tidak mempercayainya, Masachika lalu menambahkan seolah-olah itu hal yang paling jelas untuk dikatakan. 

Itu bukan hal yang aneh, ‘kan? Minggu lalu, ketika kita mencari seseorang bersama Tsukamoto-senpai, ada banyak orang yang bersikap ramah padamu." 

Ah, ya... mungkin...

Sebenarnya, ke mana pun dirinya pergi, dia menerima banyak pujian atas perilakunya dalam majelis siswa dan memberikan dukungan hangat. Namun, Alisa masih tampak bingung, seolah-olah itu bukan urusannya, sambil menggelengkan kepala. Melihat reaksinya, Takeshi dan Hikaru tersenyum hangat. 

Sepertinya Alya-san perlu tahu kenyataannya saat upacara penutupan semester kedua.

Haha, iya juga. Aku yakin kamu pasti akan terkejut. Ada banyak orang di sekolah ini yang mendukungmu, Alya-san.

...Benarkah?

Saat Alisa bertanya lagi dengan ragu-ragu, Takeshi dan Hikaru saling memandang dan tertawa... Tiba-tiba, Hikaru seolah menyadari sesuatu dan menatap Masachika. 

Ngomong-ngomong, kita baru saja melewatkan satu hal... pencarian orang itu, kalian sedang mencari dalangnya, kan?

Eh? Ah... yah, benar.

Oh, sepertinya ada seseorang yang ditangkap. Apa Kimishima-san yang menangkapnya? Tapi dengar-dengar, karena buktinya tidak cukup, jadi dia dibebaskan...

Itu adalah informasi yang disampaikan kepada para siswa. Sebenarnya, dalang tersebut belum ditangkap. Terlebih lagi, Hikaru dan Takeshi takkan pernah mengetahui bahwa dalang yang berusaha menjatuhkan Alisa dalam majelis siswa adalah Nonoa. Masachika juga tidak berniat memberitahu mereka, jadi dirinya mengangguk dengan wajah berpura-pura tidak tahu. 

Ah, kira-kira begitulah. Oh, tapi asal kalian tahu saja, aku tidak bisa memberitahukan siapa orangnya.

Ah, sudah kuduga, kamu tidak mau bagi-bagi sedikit infonya gitu?

Hmm, begitu~... yah, aku sangat penasaran. Seperti yang baru saja dibicarakan oleh Takeshi, tapi itu benar-benar serangkaian kejadian yang mengejutkan... tapi jika dipikir-pikir, semua itu pasti direncanakan oleh dalang itu, kan? 

...Eh, ah, maksudnya begitu?

Usai mendengar kata-kata Hikaru, Takeshi tampak baru menyadari sesuatu dan berkedip-kedip. Melihat reaksinya, Hikaru tidak bisa menahan senyum pahit. 

Yah, begitulah. Tiba-tiba diadakan majelis siswa, mungkin itu karena dalang tersebut mengatur semuanya dari balik layar, kan? 

Eh, oh~... begitu ya~~... ah~, aku jadi semakin penasaran dengan identitas dalangnya~!

Takeshi mencondongkan badannya ke depan dan membisikkan sesuatu kepada Masachika sambil meletakkan tangan di samping mulutnya. 

(Hei, apa kamu bisa memberitahuku secara diam-diam? Sebagai teman!)

Tidak bisa. Ada kewajiban untuk menjaga kerahasiaan.

Eh~ayolah~! Serius? Aku sangat penasaran! 

aat seluruh tubuh Takeshi menunjukkan ketidakpuasan dan rasa ingin tahunya, sementara Masachika dan Alisa saling bertukar pandang... sedikit tersenyum getir. Hikaru melihat mereka dengan ekspresi bingung. 

 

◇◇◇◇

 

(…Hei) 

“Hmm?

Setelah selesai makan siang dan semua orang bersiap-siap untuk pelajaran sore, Masachika mendengar panggilan lembut dari Alisa di sampingnya dan memastikan bahwa guru belum datang sebelum mendekat. 

(Ada apa?) 

(Umm, ini tentang Nonoa-san...)

(…Ah)

Hanya dengan satu kata itu saja, Masachika sudah bisa menebak apa yang ingin disampaikan Alisa, dan sambil sedikit memperhatikan Hikaru yang duduk di depannya, ia segera menggelengkan kepala. 

(Kita tidak perlu membicarakannya. Meskipun dibicarakan, tidak ada yang akan bahagia, kan?)

(Yah...kurasa ada benarnya.) 

Sebenarnya, kemungkinann Nonoa melakukan sesuatu kepada Takeshi atau Hikaru saat ini sangat kecil. Justru, masalahnya adalah jika Takeshi dan Hikaru mengetahui kebenaran, Nonoa bisa saja bersikap defensif. Alisa tampaknya juga menyadari hal ini. 

...

Meski demikian, sepertinya Alisa masih menunjukkan ekspresi tidak puas... karena Nonoa adalah anggota band Takeshi dan Hikaru. Dan Takeshi serta Hikaru adalah teman bagi Alisa. 

(Yah, aku mengerti perasaan bahwa Takeshi dan Hikaru sebaiknya tidak tahu apa-apa...) 

Dalam hatinya, Masachika menunjukkan pemahaman terhadap perasaan pasangannya, tapi ia dengan sengaja mengangkat bahu dengan nada ringan. 

(Walaupun tidak tahu sifat asli orang lain, kurasa itu tidak masalah karena kita masih tetap bisa bergaul dan bersahabat. Bukannya kamu dan Yuki juga begitu, kan?)

(Ah! ...Memang, itu benar.)

Setelah Masachika memberikan contoh yang jelas, Alisa tersenyum kecil. Masachika membalas senyumnya dan melanjutkan dengan ceria.  

(Jadi, lupakan saja tentang itu, dan pikirkan tentang janji kampanye yang dikatakan Takeshi.)

(Tunggu... aku jadi sedikit tersinggung jika dikatakan seolah-olah aku tidak memikirkan apa-apa.)

(Oh? Apa benar?)

Kemudian pada saat itu, guru masuk ke dalam kelas, dan Masachika menarik tubuhnya kembali sambil memberikan pernyataan terakhir. 

(Yah, masih ada hampir sebulan sampai upacara penutupan semester. Kamu bisa memikirkannya dengan tenang.)

Sebuah kalimat yang ditambahkan tanpa berpikir itu. Masachika akan menyadari beberapa jam kemudian bahwa itu justru pemikiran yang terlalu naif.

 

◇◇◇◇

 

Jadi, keberlangsungan klub piano telah diputuskan secara resmi, ya?

“Iya, yah, kurasa wajar saja karena mereka berhasil mengembalikan jumlah anggota dalam waktu kurang dari sebulan setelah kekurangan anggota. 

Di ruang OSIS sepulang sekolah, para anggota OSIS mendiskusikan hasil rapat OSIS minggu lalu. 

Selain itu, tentang pencarian dalang yang dilakukan oleh Chisaki dan yang lainnya... Sesuai dengan rencana Kuze, meskipun tersangka telah ditangkap, mereka dibebaskan karena bukti yang tidak cukup. Jadi, tidak ada pencarian pelaku di sekolah setelah itu. Sebenarnya, seluruh keributan ini tampaknya dianggap sebagai bagian dari kampanye pemilihan. Berbeda dengan saat festival Shureisai, tidak ada siswa yang benar-benar terkena dampak langsung, jadi tidak ada yang serius berusaha menangkap pelaku... Bahkan, saat ini, sepertinya ada banyak spekulasi tentang siapa yang berusaha menjatuhkan Adik Kujou dan Kimishima.

Aku juga sudah menyelidikinya sedikit, dan sepertinya ada teori bahwa seseorang selain Alya-chan dan Yuki-chan sedang mengincar kursi ketua OSIS dan berusaha menjatuhkan kedua pasangan itu. Dan diskusi tentang siapa yang mengincar kursi ketua siswa itu sangat memanas.

Ahaha, yah begitulah, rasanya memang khas sekolah ini." 

Sambil mendengar dua senior yang tampak ceria, Masachika tersenyum pahit. Kemudian, Touya yang berada di belakang kacamata menatap Masachika dan bertanya. 

Jadi? Sampai sejauh mana kalian memahami kebenarannya? 

…Ah~” 

Menjawab pertanyaan Touya, Masachika mengalihkan pandangannya dan saling melirik dengan Yuki di hadapannya. Namun, sebelum mereka memutuskan bagaimana berbicara, Touya mengangkat bahu dan berkata. 

Yah, sejak awal, ketua dan wakil ketua siswa tidak boleh campur tangan dalam urusan kampanye pemilihan juniornya... Jika kalian tidak ingin membahasnya, aku tidak akan mempermasalahkannya.

Terima kasih atas perhatianmu...

Tapi, jangan sampai lengah dan terjatuh sebelum pemilihan.

Masachika tersenyum lembut dan mengangguk setuju dengan nasihat seniornya. 

Ya, aku mengerti.

Jika jumlah orang berkurang dari sekarang, OSIS tidak akan berjalan dengan baik!

Itu benar-benar masalah hidup dan mati, ya.

Sambil menjawab dengan setengah senyuman pada Touya yang menambahkan situasi yang cukup serius dengan bercanda, Yuki mengangkat tangan dan bersuara. 

Permisi, ketua, aku ingin membicarakan tentang rencana yang itu, boleh?

Eh? Ah... tentang itu ya, tidak masalah.

Terima kasih.

Setelah tersenyum dan mengucapkan terima kasih, Yuki mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya. 

(Rencana yang itu...? Apa maksudnya?) 

Karena Masachika tidak memiliki petunjuk, dirinya saling memandang dengan Alisa di sampingnya dan menatap dokumen yang diberikan oleh Yuki. 

Eh, pesta Natal...?

Alisa, yang juga menerima dokumen, mengeluarkan suara terkejut. Di dalam dokumen itu tertulis bahwa Yuki dan Ayano akan menjadi penyelenggara, dengan sukarelawan siswa sebagai staf pengelola, dan mereka akan mengadakan pesta Natal di sekolah setelah upacara penutupan semester pada tanggal 24 Desember. Perlu dicatat bahwa acara pesta Natal tidak termasuk dalam kegiatan tahunan Akademi Seirei. Dengan kata lain... ini adalah percobaan yang sepenuhnya baru. 

Seperti yang pernah kukatakan pada upacara penutupan semester pertama, jika aku terpilih sebagai ketua OSIS, aku berencana untuk mendengarkan keinginan siswa dan melaksanakan berbagai acara. Acara ini merupakan percobaan pertama dari rencana tersebut.

Penjelasan yang disampaikan dengan santai itu membuat ekspresi Masachika semakin serius. 

(Oi, oi, oi, ini... jadi ketua sudah mengetahuinya, sementara kita baru tahu sekarang.) 

Jelas-jelas ini merupakan upaya untuk membangun prestasi menjelang pemilihan ketua OSIS. Ada niat yang terlihat untuk menunjukkan bahwa apa yang dinyatakan pada upacara penutupan semester pertama bukanlah omong kosong. 

(Aku tidak tahu sejak kapan persiapan ini dimulai... cih, ini...) 

Personel yang diperlukan untuk pengelolaan sudah dipastikan, dan izin dari pihak sekolah juga telah didapatkan. Dengan rencana yang sudah begitu matang, tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Jika ini masih dalam tahap perencanaan, Masachika mungkin bisa mengatakan, Sepertinya itu sulit, jadi aku akan membantu, dan memaksakan diri untuk terlibat dalam pengelolaan, sambil berkata, Memang benar bahwa ide ini berasal dari Yuki, tetapi ini bukan proyek yang hanya dilakukan oleh pasangan Yuki dan Ayano, tetapi... 

(Yah, mungkin karena dia mengetahui adanya campur tangan semacam itu, makanya dia memberitahu kita pada waktu ini.) 

Entah Yuki menyadari pemikiran Masachika atau tidak, dia dengan senyum polos menggabungkan kedua tangannya dan berkata dengan nada yang tampaknya tidak memiliki maksud tersembunyi. 

Pengelolaan pesta ini akan dilakukan oleh diriku dan para sukarelawan, jadi bantuan dari OSIS tidak diperlukan. Kalian semua juga dipersilakan untuk berpartisipasi dengan santai, ya? 

 

◇◇◇◇

 

Kita benar-benar kecolongan... aku tidak menyangka ada rencana seperti ini.

Setelah rapat OSIS, Masachika dan Alisa kembali ke kelas 1-B untuk mengadakan rapat darurat. Agenda pertemuan ini jelas-jelas tentang pesta Natal yang direncanakan Yuki yang baru saja terungkap. 

“Meski Yuki-san bilang begitu, tapi... bagaimana? Apa kita akan ikut serta?

Kita tidak punya pilihan lain... Ketua dan Masha-san juga bilang akan ikut. Jika kita memilih untuk tidak hadir dan terlihat seperti menolak, itu akan menunjukkan betapa kecilnya jiwa kita di mata seluruh siswa.

Mendengar pertanyaan Alisa, Masachika menjawab dengan ekspresi cemberut dan menghela napas. 

Tapi, dengan acara besar seperti ini, topik upacara penutupan semester kedua pasti akan sepenuhnya teralihkan...

Itu benar...

Mendengar suara Masachika yang penuh kepahitan, Alisa juga memberikan ekspresi serius. 

Kebetulan sekali kita juga membahasnya saat makan siang tadi... Pada upacara penutupan semester kedua, biasanya ada pembicaraan tentang janji kampanye, kan?

Ah, ya... Di semester pertama, kita melakukan perkenalan diri, dan di semester kedua, kita membahas janji kampanye. Dalam kasus Yuki, dia sudah memiliki tingkat popularitas yang tidak memerlukan perkenalan diri, jadi dia sudah membahas janji kampanyenya di semester pertama.

Setelah mengatakan itu, Masachika melambaikan dokumen pesta Natal. 

Jadi, di semester kedua, sambil membahas kembali janji kampanye, dia akan memberikan kekuatan pada kata-kata itu melalui rencana ini... Seratus kali mendengar tidak sebanding dengan satu kali melihat. Tidak ada cara yang lebih efektif untuk membuat orang merasakan visi sekolah yang ingin dia wujudkan. 

Itu benar... hal ini juga akan menjadi penekanan pada kemampuan eksekusi bahwa dia bisa mewujudkan proyek sebesar ini hanya dengan jaringan yang dia miliki.

Ya. Sejujurnya... Dengan pesaing seperti ini, janji kampanye biasa tidak akan menarik perhatian siswa. Di sisi lain, jika dia mengajukan janji kampanye yang besar dan berdampak, orang akan meragukan kemungkinannya di depan rencana ini. Mereka akan tertawa sinis, 'Kamu menjanjikan hal-hal yang hebat, tapi apa kamu benar-benar bisa melakukannya?'

Itu pasti akan terjadi.

Semakin dipikirkan, semakin jelas bahwa inilah langkah yang sangat cerdik. Bisa dibilang, protagonis upacara penutupan semester kedua sudah pasti Yuki. Saat itu, Masachika tiba-tiba teringat sesuatu dan berbisik. 

Sebaliknya, jika rencana ini ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan atau ada skandal yang terjadi, maka popularitas Yuki akan hancur. Dukungan para siswa juga akan merosot tajam....”

Namun, setelah menatap kembali dokumen rencana, dia segera menggelengkan kepala. 

Tidak, setelah melihat dokumen ini, sepertinya mereka tidak akan lengah di bagian ini.

Itu benar. Selain itu... aku tidak ingin berharap pada kegagalan lawan. 

Ya, memang. Masalah utamanya adalah upacara penutupan semester sebelum pesta Natal.

Sembari mengangkat bahu, Masachika tampak seperti ingin mengatakan, Apa yang harus kita lakukan? sambil menggaruk-garuk kepalanya. 

Jika mereka maju tanpa rencana, pada hari upacara penutupan, isi pikiran siswa akan dipenuhi dengan pesta Natal yang diselenggarakan oleh Yuki. Mudah untuk membayangkan bahwa sambutan dari Alisa dan Masachika akan berlalu begitu saja. 

(Sama seperti mengundang Alya ke siaran sekolah menjelang upacara penutupan semester pertama, persiapan semacam ini memang luar biasa... Tidak, ini bukan saatnya untuk terkesan padanya.) 

Masachika tanpa sadar terkesan dengan ketelitian adiknya dan menggelengkan kepala. 

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Meskipun baru saja mendengarnya siang tadi, apa ada ide tentang janji kampanye? 

Ada suasana yang jelas bahwa Masachika hanya bertanya untuk sekadar bertanya, namun Alisa perlahan mengangguk. 

...Ya, sebenarnya, aku sedang memikirkan sesuatu.

Oh, begitu ya?

Tanpa menyembunyikan rasa terkejutnya... atau mungkin tidak ada waktu untuk menyembunyikannya, Masachika menatap Alisa dengan mata terbelalak. Mungkin dia berpikir bahwa Alisa hanya ingin menjadi ketua OSIS tanpa memikirkan apa yang ingin dia lakukan setelah itu. 

(Yah, itu memang benar sih.) 

Seraya bergumam sendiri dalam hati, Alisa tersenyum pahit. 

Sebenarnya, itulah yang dia rasakan pada masa semester pertama. Dia hanya ingin berada di posisi puncak. Dia ingin diakui oleh banyak orang. Itu saja, dan dia tidak memikirkan apa yang akan dilakukan setelah itu. Namun... 

...

OSIS. Keributan yang terjadi saat festival Shureisai. Harapan Masachika dan Yuki untuk bergabung dalam Raikoukai. Aliansi sementara yang terbentuk karena pengkhianatan Nonoa. Semua pengalaman itu memberikan Alisa sebuah pemikiran. Dia perlahan mengungkapkan pemikirannya dengan kata-kata. 

Aku──

Mata Masachika semakin terbelalak semakin dirinya endengar idealisme yang diungkapkan Alisa. Sebenarnya, Alisa sendiri sadar bahwa reaksi seperti itu tidak bisa dihindari. 

...Bagaimana menurutmu?

Dengan pertanyaan yang diajukan secara ragu, bahkan Masachika pun menundukkan pandangannya dan merenung. 

Tidak mengherankan. Walaupun Alisa sendiri yang mengatakannya, tapi sejujurnya, dia sama sekali tidak memiliki gambaran tentang bagaimana mewujudkannya. Hanya saja, dia tahu bahwa itulah tujuan yang bahkan lebih sulit daripada sekadar sulit. Selain itu... tujuan ini bertentangan dengan tujuan rekannya yang ingin mewarisi keluarga Suou sebagai pengganti Yuki. 

(Tetapi... meskipun begitu, aku...)

Dengan tekad yang tak tergoyahkan di hatinya, Alisa menatap tajam pasangannya yang duduk di seberangnya... kemudian, Masachika menghela napas dan dengan cepat mengangkat pandangannya. Di matanya, terdapat tekad yang jelas dan mantap, dan Alisa merasakan hatinya tergetar. 

──Baiklah, aku mengerti.

Sebuah pernyataan singkat namun sangat menguatkan bagi Alisa. Dia tidak bisa segera membalas, dan setelah beberapa kali menelan ludah, akhirnya dia bisa menjawab. 

...Kamu yakin itu baik-baik saja? 

Ya, jika memang itulah yang kamu inginkan.

Tapi, jika ini terwujud...

Saat Alisa menghentikan kata-katanya dan menggigit bibirnya, Masachika tersenyum untuk menenangkan. 

“Jangan khawatir tentang itu. Yang terpenting bagiku adalah... kamu menjadi ketua OSIS dengan cara yang kamu inginkan.

Masachika-kun...

Dengan kata-kata yang penuh pengabdian dan tanpa keraguan, seolah-olah ada semangat pengorbanan, hati Alisa dipenuhi dengan kebahagiaan dan kesedihan. 

Dia sangat senang bahwa Masachika begitu mengabdikan diri untuknya. Namun, di sisi lain, dia merasa sangat bersalah karena menempelkan harapan yang bertentangan dengan tujuan Masachika. 

Berbagai emosi saling berkecamuk di dalam hatinya, dan Alisa menundukkan pandangannya sambil mengerutkan kening, menahan air mata. 

Jangan membuat wajah seperti itu, Alya. 

Saat itu, suara lembut Masachika memanggilnya. Ketika dia mengalihkan pandangannya, Masachika melihat Alisa dengan tatapan tenang namun kuat. 

Aku tidak sedang mengubah diriku untuk mendukungmu. Niatku adalah mendukungmu. Jadi... tujuanmu adalah tujuanku.

Saat itu, perkataan Yuki yang didengar beberapa hari lalu kembali terlintas di benak Alisa. 

[Namun, aku mencintai sifat Onii-sama yang bisa berusaha keras demi orang lain]

Bayangan Yuki yang mengungkapkan hal itu dengan tenang muncul di pikirannya... dan Alisa tiba-tiba merasa ingin menangis. 

(Itu benar...) 

Dia memejamkan matanya dengan erat, berusaha menahan air matanya, dan perlahan berbisik. 

Aku juga berpikir begitu

Eh?

Ketika Masachika yang bingung berkedip, Alisa menjawab, “Bukan apa-apa, sebelum berdiri. 

Baiklah! Jadi, janji kampanye yang akan dibicarakan di upacara penutupan sudah diputuskan!

Ah, ya... Hahaha, aku tidak menyangka kita akan mengajukan janji kampanye sebesar ini.

Masachika juga berdiri sambil menggaruk kepalanya dengan senyum pahit, dan Alisa menatapnya dengan senyuman menggoda. 

Oh, kamu mmulai merasa takut?

Tentu saja tidak. Aku bersemangat dengan tujuan yang menantang ini. 

Masachika langsung menjawab, dan senyumannya berubah menjadi senyuman ganas. Di matanya yang hitam, ada cahaya tajam yang seolah membuktikan bahwa kata-katanya tidak bohong... Alisa mengangguk puas dan dengan percaya diri menyatakan. 

Kalau begitu, baiklah. Kita akan mengejutkan semua orang di upacara penutupan dan dengan percaya diri bergabung dalam pesta Natal yang diselenggarakan oleh Yuki-san.

Haha, semangat yang bagus... Apa aku bisa bertugas sebagai pendampingmu? 

Dengan nada bercanda, Masachika membungkuk, dan Alisa tertawa dengan santai. 

Ya, tentu saja. Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya.

Itu akan menjadi kehormatan terbesar. 

Masachika meletakkan tangan di dadanya dan membungkuk, sementara Alisa mengulurkan tangan kanannya. Masachika berkedip sejenak sebelum menerima tangannya, memiringkan kepalanya dan tersenyum.

Bagaimana kalau ciuman?

?

Kamu akan mendukungku, kan? Kalau begitu, bagaimana kalau kamu memberiku ciuman sumpah?

Alisa mendesak dengan nada agak bangga, dan Masachika tersenyum kecut... lalu berlutut dengan satu lutut, menekan bibirnya dengan lembut ke punggung tangannya.

Seperti yang kamu perintahkan... Wahai putriku.

Ara... panggilan 'Putriku' itu rasanya tidak buruk.

Dengan kata-kata itu, sang Putri yang kini tidak lagi kesepian tersenyum dengan semangat dan percaya diri

 

◇◇◇◇

 

Keesokan harinya, sepulang sekolah. Saat Masachika yang datang untuk berlatih di klub musik tiup selesai bermain dan masuk ke waktu istirahat, dia merasakan tatapan aneh dan mengangkat wajahnya dari tuts piano

Ternyata, banyak anggota klub menatapnya dengan tajam, dan dia secara tidak sadar membungkukkan tubuhnya. 

…Eh, ada apa?

Ketika dirinya bertanya dengan sedikit ragu, ketua klub, Elena, mendekatinya dengan ekspresi terkesan. 

“Iyaahh~, Kuze-kun, sepertinya ada peningkatan dalam permainanmu!

Elena-senpai... Benarkah?” 

Ya, ya. Memangnya ada sesuatu yang terjadi? 

“Sesuatu...?

Ia sebenarnya tahu jawabannya. Itu adalah saat dia mendengarkan permohonan Alisa kemarin dan berjanji untuk mendukungnya. 

(Aku merasa... seolah-olah aku masuk ke mode tak terkalahkan lagi.) 

Seolah-olah kabut yang menghalangi jalannya mendadak menghilang, dan puncak gunung yang harus dirinya tuju mulai terlihat... itulah yang dirasakan Masachika. Itu memberinya energi yang mirip dengan rasa mampu dan semangat untuk maju. 

…Mungkin aku terinspirasi oleh rekanku yang pekerja keras.

Oh, maksudnya Alisa-chan?

Ya.

Hoho~, kedengarannya sangat romantis~!

Mendengar suara Elena yang sedikit menggoda, Masachika merasakan aura yang merepotkan dan segera berdiri. 

Aku mau pergi ke toilet sebentar.

Ia hanya mengatakannya dan segera keluar dari ruang musik. Di punggungnya, tatapan hangat dari anggota wanita lain tertuju padanya, tapi Masachika tampaknya tidak menyadarinya. 

Oya, rupanya Kuzecchi toh! 

Nonoa...

Nonoa memanggilnya begitu dirinya melangkah keluar ke lorong, dan Masachika secara refleks mengernyitkan dahi. Nonoa, dengan tatapan setengah terbuka dan senyuman santai, dengan akrab menepuk-nepuk lengan Masachika. 

“Ehh~ reaksimu sedikit menyakitkanku, tau~. 

…Apa ada urusan denganku?

Tanpa meladeni perkataan Nonoa, Masachika langsung bertanya tentang keperluannya. Nonoa kemudian melambai-lambaikan tangannya dan mengajaknya ke ujung koridor yang sepi, bersandar pada dinding dan menyilangkan kedua tangan, lalu mulai berbicara dengan nada santai. 

“Jadi begini~, tadi siang ada pengumuman di siaran sekolah tentang pesta Natal yang diselenggarakan oleh Yukki, iya ‘kan? 

Ah, ya.

Kalau Kuzecchi mau, aku bisa menghancurkannya." 

Kamu...

Dengan nada seolah-olah meminjamkan buku pelajaran, Nonoa mengatakan sesuatu yang jahat dengan percaya diri, dan Masachika menajamkan tatapannya... namun segera menyadari bahwa itu sia-sia dan menghela napas, menjawab dengan singkat. 

Tidak perlu.

“Oh, masa? 

Mungkin dia sudah memperkirakan bahwa Masachika akan menjawab seperti itu. Tanpa menambah kata-kata lain, Nonoa mengangkat bahunya. Namun, jika Masachika meminta Nonoa melakukan hal itu, dia pasti akan melakukannya tanpa ragu. Itulah sebabnya Masachika merasa perlu memberikan peringatan. 

Jangan melakukan hal yang tidak perlu. Bahkan tanpa itu, aku akan menunjukkan sesuatu yang melebihi harapanmu.

“Hee...

Nonoa sedikit mengangkat alisnya mendengar kata-kata Masachika, menatap wajahnya dengan tersenyum lebar. 

Kuzecchi, rasanya seperti ada yang berbeda, ya?

Mungkin.

“Hemm~

Sembari mendengus sengau, Nonoa menjauhkan punggungnya dari dinding dan berbalik dengan cepat. 

Baiklah, kalau begitu, aku menantikan sesuatu yang melebihi harapanmu. Oh, aku juga berencana untuk ikut pesta, jadi jika kamu mau, ayo kita berdansa, ya~ 

Sambil melambaikan tangan di atas bahunya, Nonoa berjalan pergi, dan setelah sedikit ragu, Masachika memanggilnya. 

Nonoa!

Nonoa berhenti seketika dan sedikit memiringkan kepalanya. Masachika dengan hati-hati merangkai kata-kata. 

Aku... sejujurnya, aku sudah tidak bisa lagi memanggilmu teman dengan sepenuh hati.

Setelah menyadari bahwa niat jahat Nonoa bisa ditujukan kepada dirinya dan Alisa, Masachika merasa itu tidak mungkin. 

Tapi... Alya berbeda. Alya dengan sungguh-sungguh masih menganggapmu sebagai temannya.

Ekspresi Nonoa yang menghadap ke depan tidak bisa dibaca oleh Masachika. Namun, ia berusaha untuk menyampaikan perasaannya agar sedikit sampai ke dalam hati Nonoa. 

Dengar... Apa kamu tidak bisa membalas persahabatan Alya sebagai teman biasa?

Setelah beberapa saat terdiam, Nonoa menjawab dengan suara datar tanpa menoleh. 

Jika aku bisa melakukan itu, aku takkan menjadi seperti ini sekarang.

Setelah mengatakannya, Nonoa melanjutkan langkahnya. Masachika melihat punggungnya pergi... lalu membalikkan badan dan mulai berjalan ke arah yang berlawanan dengan Nonoa.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama