Downer-kei Gyaru Chapter 5 Bahasa Indonesia

Chapter 5 — Berpapasan

 

Sudah seminggu berlalu sejak aku berteman dengan Yukikawa. Masih sama seperti biasa, Yukikawa tetap menjadi pusat perhatian di kelas. Hari ini pun, dia tampak lesu sambil memainkan ponselnya sambil dikelilingi oleh anggota tim utama.

“Eh, hari ini kita mampir ke sana sebelum pulang, ya? Ada restoran keluarga baru di depan stasiun.” 

Ide bagus tuh!” 

Saat istirahat siang, anggota tim utama tampaknya sedang merencanakan untuk bermain di suatu tempat. Di sekeliling mereka, anggota tim kedua dan ketiga terlihat iri. Seharusnya mereka menghargai hubungan di sekitar mereka, tapi manusia cenderung merasa iri pada mereka yang berada di atas. 

Kalau kamu gimana, Tsukino?” tanya Momoki kepada Yukikawa. 

Yukikawa menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya

“Maaf, hari ini aku sudah ada janji, jadi aku pulang dulu.” 

“Begitu ya, baiklah.” 

Momoki melambaikan tangan untuk mengantar Yukikawa yang berdiri. Namun, kecuali Kijima, semua laki-laki di tim utama menunjukkan ekspresi kecewa. Mungkin mereka berharap mendapatkan kesempatan dengan Yukikawa. Banyak yang berusaha masuk tim utama hanya untuk mendekatinya. 

─── Ups, sekarang bukan saatnya untuk melihat-lihat. 

Aku segera berdiri dan keluar dari kelas. Dengan langsung menuju gerbang sekolah, aku melihat sosok Yukikawa yang sedang memainkan ponselnya di dekat gerbang. 

“Maaf sudah membuatmu menunggu.” 

“Hmm.” 

Kami berjalan berdua menuju stasiun. Kami tidak berusaha menyembunyikan hubungan ini, meskipun kurasa orang-orang di sekitar belum menyadarinya. Meskipun jika mereka melihat kami di sini, mungkin mereka tidak akan percaya bahwa orang introvert seperti diriku bisa bersama Yukikawa. 

“Apa yang kamu lakukan? Ayo cepat, nanti buku barunya keburu habis.” 

Kurasa mana mungkin bakalan cepat habis…?” 

Ya, kami akan pergi ke Animite’ di Ikebukuro untuk membeli edisi baru Day After Future.

Day After Future, yang biasa disebut Dayaf, adalah cerita tentang kehidupan orang-orang yang selamat setelah peradaban hancur oleh meteorit raksasa. Dunia yang menjadi indah karena hilangnya manusia digambarkan dengan sangat detail dalam manga yang sangat populer ini. 

“Seharusnya kita bisa mendapatkan buku seni 'Dayaf' juga, ya.” 

“Aku setuju. Mungkin setelah serialnya berakhir, mereka akan mengeluarkannya.”

Sambil membicarakan topik seperti itu, kami naik kereta menuju Ikebukuro. Setelah keluar dari pintu timur dan berjalan selama dua atau tiga menit, aku dan Yukikawa tiba di toko Animite yang baru direnovasi. 

“Ini baru pertama kalinya aku mengunjungi Animite, tapi bahkan di hari biasa pun cukup ramai, ya.” 

Begitu kami masuk ke dalam toko, memang ada banyak orang sehingga sulit dipercaya itu adalah hari biasa. Aku sering datang untuk berbelanja, tetapi tidak pernah memperhatikan hal ini sebelumnya. 

“Jangan sampai terpisah, ya.” 

“Jangan perlakukan aku seperti anak kecil.” 

“Maaf, maaf.” 

Aku membawa Yukikawa naik tangga. Kami menuju sudut buku baru di lantai manga. 

Ah, itu dia!” 

Aku mengambil edisi baru Dayaf yang kutemukan. 

“Baiklah… Ada lagi yang ingin kamu beli?” 

“Bolehkah aku melihat-lihat dulu? Mungkin aku akan membelinya jika ada yang menarik.” 

“Baiklah.”

Kami berdua berkeliling di sudut manga. Ketika melihat rak buku di rumah, terkadang aku merasa bangga karena sudah mengumpulkan banyak, tetapi melihat begitu banyak buku yang tidak terhitung jumlahnya di sini membuatku menyadari bahwa masih banyak yang harus dilakukan. 

Ah, edisi baru manga ini sudah keluar, ya.” 

“Kalau itu, aku sudah punya di rumah.” 

“……Nanti aku mau membacanya setelah pulang.” 

Yukikawa mengembalikan manga yang dipegangnya ke tempat semula. 

Ah, yang ini juga sudah ada edisi barunya.” 

“Yang itu juga ada di rumah.” 

“……Kamu benar-benar punya semuanya, ya.” 

“Tidak juga sih.” 

Kami mengulangi percakapan seperti itu beberapa kali. Tanpa disadari, Yukikawa mulai menyebut kunjungannya ke rumahku sebagai pulang. Hal itu terasa sedikit memalukan. 

“……” 

“Ada apa? Kamu tidak enak badan?” 

“Tidak, aku baik-baik saja. Tidak ada apa-apa.” 

“……?” 

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Rasanya terlalu malu untuk membicarakannya

“U-Untuk sementara, aku akan membeli 'Dayaf' dulu. Tunggu sebentar, ya.” 

“Eh, kenapa? Aku juga mau ikut.” 

“Hah?” 

“Karena itu juga buku yang ingin aku baca, kan? Mendingan kita bagi dua pembayarannya.” 

“……” 

Ada juga cara berpikir seperti itu. Memang, buku ini seharusnya dibaca berdua. Membagi biayanya masuk akal. 

“……Tidak, aku tetap akan membayar sendiri.” 

Namun, aku memutuskan untuk menolak tawaran itu. 

“Kenapa?” 

“Karena mengumpulkan buku adalah hobiku. Jika tidak membeli dengan uangku sendiri, aku takkan merasa seperti mengumpulkannya.” 

“Hmm…… Kalau begitu, aku akan mundur.” 

“Terima kasih, sudah peduli.”  

Aku menuju kasir. Meskipun dia sudah berusaha begitu perhatian, aku merasa menyesal karena harus memaksanya mengikuti keinginanku. Namun, mengumpulkan karya dengan usaha sendiri… itu adalah hal yang tidak bisa aku kompromikan. 

 

◇◆◇

 

Nee, boleh aku membaca ini sekarang?” 

Begitu kami keluar meninggalkan gedung Animite, Yukikawa bertanya demikian sembari menunjuk 'Dayaf' yang baru kubeli. 

“Eh, kamu mau membaca di sini?!” 

Habisnya aku sudah tidak sabar lagi.” 

“Y-Yah, tidak masalah sih…” 

Kami duduk di bangku taman terdekat, dan Yukikawa membuka kemasan manga tersebut. Awalnya aku merasa bingung, tetapi cuaca hari ini bagus, dan membaca santai di luar juga rasanya tidak buruk. 

Karena mumpung ada kesempatan begini, aku juga akan membaca sesuatu. Aku lalu mengeluarkan novel ringan yang belum selesai dibaca dari tas, aku membuka halaman lanjutannya. Novel ringan… atau lebih tepatnya novel, menurutku adalah bacaan yang memiliki nilai lebih.

Dengan harga yang sama seperti manga, aku bisa membaca lebih lama. Hal yang begitu luar biasa seperti ini jarang ditemukan.

Setelah beberapa saat, kami memiliki waktu membaca, dan sekitar tiga puluh menit telah berlalu. Tiba-tiba, aku bisa mendengar suara Yukikawa yang terisak dari sebelah. 

Hiks… uuh…” 

“……Perlu tisu?” 

Iya…! Terima kasih…” 

Aku menyerahkan beberapa tisu saku kepada Yukikawa yang sedang menangis terisak. Seberapa menyedihkannya edisi terbaru 'Dayaf' ini? Nanti setelah pulang, aku akan segera membacanya. 

“……Maaf, bolehkah aku memperbaiki riasanku sebentar? Sekarang aku pasti terlihat jelek banget.” 

“Ah, ya, tidak apa-apa.” 

“Aku akan segera kembali…!” 

Yukikawa berdiri dari bangku dan pergi meninggalkan taman. Aku rasa dia tidak terlihat jelek sama sekali, tetapi standar kecantikan perempuan sepertinya akan selalu sulit untuk aku pahami. 

“Baiklah……” 

Aku kembali membuka novel ringan lagi. Sebenarnya aku bisa membaca 'Dayaf' sekarang, tetapi merasa tidak enak jika meninggalkan karya yang sedang aku baca, jadi aku menundanya dulu. 

“Eh──── jangan-jangan, Nagai?” 

“Eh?” 

Ketika mendengar namaku dipanggil, dan aku mengangkat wajahku. Di sana, entah kenapa, berdiri Momoki Haruru, anggota tim utama di kelas. Suasana tegang langsung muncul. 

Sebenarnya, aku tidak terlalu peduli jika hubungan antara aku dan Yukikawa terbongkar, tetapi saat kesempatan itu muncul, ada banyak hal yang mulai aku pikirkan. Yukikawa sekarang sedang menolak ajakan anggota tim utama dan datang ke sini. Jika alasan dia keluar adalah karena ada janji dengan orang sepertiku… pasti ada yang merasa kecewa pada Yukikawa. 

──── Tidak, tenanglah… aku masih bisa menyembunyikannya sekarang

Untungnya, Yukikawa sedang pergi untuk memperbaiki riasannya. Sekarang aku bisa mengaku bahwa aku sendirian. 

“Ke-Kebetulan sekali, Momoki…” 

“Eh? Nagai di sini lagi ngapain?” 

“Ah, aku datang untuk membeli edisi baru manga yang aku suka.” 

Sambil berkata demikian, aku menunjukkan edisi terbaru 'Dayaf'. Semoga dia puas dan pergi. Dia pasti tidak tertarik dengan obrolan ini. 

“Eh! Bukannya itu 'Dayaf'! Edisi terbaru hari ini, ya…” 

“……Eh? Kamu mengetahuinya?” 

“Eh!? Nggak, eh… ya, ah… Onii-chan ku yang membacanya!” 

“……?” 

Sepertinya Momoki juga tahu tentang 'Dayaf'. Namun, ada yang aneh dengan sikapnya. Kenapa dia terlihat begitu gelisah? 

Jadi Nagai menyukai manga, ya?” 

“Ah, iya! Tentu saja! Aku sangat menyukai manga, anime, dan novel ringan!” 

H-Hee begitu ya…” 

Nah lihat, aku adalah otaku yang dibenci oleh anggota tim utama. Cepetan sana pergi sebelum Yukikawa kembali. 

──── Eh?

Aku menyadari ada sesuatu yang aneh dan melihat sekeliling. 

“Ngomong-ngomong, anggota tim utama yang lain… eh, maksudku, anggota lainnya di mana?” 

“Ah, aku keluar karena ada urusan. Sekarang aku sendirian.” 

Oh, pantas saja aku tidak melihat anggota tim utama lainnya. 

“……Begini, Nagai. Sebenarnya…” 

“Hmm?” 

“──── Tidak, maaf. Bukan apa-apa! Lagipula, apa kamu ada waktu setelah ini, Nagai?” 

“Eh?” 

“Karena kita sudah bertemu, gimana kalau kamu pergi kencan sebentar denganku?” 

“Ke-Kencan!?” 

Tiba-tiba dia mengajakku dengan tawaran yang tidak terduga, dan suara terkejutku yang konyol keluar begitu saja. Mendengar itu, Momoki tertawa sama seperti saat dia mengajakku karaoke sebelumnya. 

“Ahaha! Suaramu lucu!” 

Suaraku tidak lucu sama sekali….” 

“Tidak, lucu banget kok? Jadi, bagaimana? Mau kencan sama aku?” 

“……Maaf, tapi aku juga ada urusan setelah ini.” 

“Ah… sayang sekali!” 

Sambil tertawa, Momoki menepuk dahinya. Dalam sekejap, aku merasa dia benar-benar terlihat kecewa, tetapi mungkin itu hanya perasaanku saja. 

Bagaimanapun juga, tidak baik jika pembicaraan ini terlalu berlarut-larut. Aku akan berhenti menanyakan hal-hal yang aneh. 

“Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Nagai. Sampai ketemu lagi di sekolah, ya!” 

“Ah iya, sampai jumpa.” 

Momoki melambaikan tangan dan pergi. Setelah memastikan punggungnya semakin menjauh, aku menghela napas. Dia benar-benar orang yang baik, mau mengajakku bicara meskipun aku ini introvert. 

Aku merasa sedikit bersalah karena tidak bisa memberikan respons yang baik. 

──── Ngomong-ngomong… 

Bukannya Momoki berjalan dari arah Animite

…Tidak mungkin, ‘kan? 

Dia juga seorang otaku, tidak mungkin ada cerita yang menguntungkan seperti itu. Mungkin dia hanya berjalan dari arah yang sama. 

“……Maaf sudah membuatmu menunggu.” 

Saat aku mengusir pikiran yang tidak jelas itu, suara Yukikawa terdengar dari belakang. 

“Ah, kamu sudah kembali… eh, kenapa kamu kelihatan tidak senang begitu?” 

Enggak juga kok? Tidak ada apa-apa.” 

Sambil mengatakan itu, Yukikawa duduk dengan keras di bangku. Apa ada seusatu yang terjadi saat dia memperbaiki riasannya? Aku tidak ingat melakukan kesalahan apapun. 

“……Tadi ada Haru di sini, kan?” 

“Eh? Ah, ya, kamu melihatnya?” 

“Aku tidak ingin diselidiki, jadi aku hanya melihatnya dari jauh. Aku juga melihat saat Nagai kelihatan kegeeran.” 

“Aku kegeeran!? Aku!? 

“Ya, kamu kelihatan kegeeran, karena Haru mendekat.” 

Entah kenapa, Yukikawa terlihat cemberut dengan pipi yang mengembung. Namun, aku rasa itu hanya tuduhan yang tidak berdasar jika dia bilang aku kegeeran

Duhhpadahal kita sedang berkencan, jangan terlalu akrab dengan gadis lain.” 

“Tu-Tunggu, ini kencan?” 

“──── Ah, tunggu! Itu tidak dihitung! Tidak dihitung!” 

Yukikawa buru-buru membantah pernyataannya. Meskipun tidak seintens saat di sekolah, biasanya dia berbicara dengan tenang di depanku, tetapi sekarang dia mengeluarkan suara sebesar itu. 

Pasti itu adalah kesalahan besarnya, mungkin. 

Karena sepertinya situasi ini bisa semakin rumit, aku memutuskan untuk tidak mengusik lebih jauh. 

“……Aku tidak begitu tahu, tapi… maaf ya.” 

“Tidak, kamu tidak salah… ya, tidak salah.” 

Kata-kata di bagian akhirnya seperti dia mengingatkan dirinya sendiri. Dia sepertinya sudah tenang sekarang. 

“……Untuk saat ini, ayo kita pulang saja?” 

“Ya…” 

Suasananya menjadi aneh. Namun, kami tidak bisa berlama-lama di sini. Kami mulai berjalan menuju stasiun. 

“……Ah.” 

“Hmm?” 

Yukikawa yang berjalan di sampingku mengeluarkan suara.

Di depan pandangan matanya, ada seorang wanita yang mengenakan kostum ‘Mikoto’, karakter utama dari Marionette Harem, yang terinspirasi dari boneka Jepang. 

Itu adalah apa yang disebut cosplay. 

“Bagus ya… yang seperti itu.” 

“Yukikawa, kamu tertarik dengan cosplay?” 

“Eh? Ah… ya, sedikit saja.” 

Yukikawa terlihat sedikit malu dan menggaruk pipinya. 

“Menjadi karakter dari karya yang disukai itu sangat menyenangkan, bukan? Apalagi biayanya juga cukup mahal… itu berarti kita harus benar-benar mencintai karya tersebut, bukan?” 

“……Mungkin saja.” 

Seseorang takkan melakukan cosplay jika tidak menyukai karya tersebut… itu benar. 

Wanita yang sedang berjalan itu pasti sangat menyukai MariHare dari lubuk hatinya. 

“Ehmm begini, ada suatu tempat yang ingin aku kunjungi. Boleh?” 

“Boleh saja sih, tapi mau ke mana?” 

“Ke tempat yang menjual barang cosplay.” 

Sambil berkata demikian, Yukikawa tersenyum malu-malu

 

◇◆◇

 

Mengikuti petunjuk Yukikawa, setelah beberapa menit berjalan, aku dan Yukikawa tiba di depan toko khusus barang cosplay. 

Aku merasakan semacam perasaan unik yang membuatku ragu untuk masuk. Masuk ke sini seolah-olah mengumumkan bahwa “Aku tertarik dengan cosplay.” 

“Sebenarnya, aku sudah beberapa kali datang ke sini… biasanya aku tidak berani masuk, tapi karena hari ini ada Nagai, jadi aku merasa bisa masuk.” 

Setelah mengatakan itu, Yukikawa melangkah masuk ke dalam toko. Setelah dia mengatakan itu, aku tidak bisa mundur di sini. Aku memberanikan diri dan mengikuti Yukikawa dari belakang. 

“Selamat datang!” 

Saat kami melangkah masuk, seorang pegawai toko menyapa kami dari kejauhan

Di dalam toko tersebut terdapat banyak kostum dan aksesori karakter anime yang berjejer rapi. Kostumnya berwarna-warni dan membuat mataku berkilau. Seolah-olah tempat ini adalah dunia dua dimensi. 

“──── Jadi, Yukikawa.... kamu mau cosplay jadi apa?” 

Aku bertanya pada Yukikawa yang juga tampak terpesona. 

Yukikawa yang hampir membeku itu kembali terbangun dan membuka mulutnya dengan tatapan melayang. 

“Ah, ehmm… aku ingin mencoba jadi ‘Merry’ dari ‘MariHare’.” 

“Merry… sepertinya dia memang cocok untukmu.” 

Merry adalah boneka yang terinspirasi dari cerita hantu. Karakter yandere ini muncul di belakang protagonis setiap kali ada kesempatan. Itu adalah pengaturan yang mirip dengan legenda urban tentang “Marry-san”. 

Dan ciri khasnya adalah “rambut perak” yang panjang dan indah. Jika Yukikawa bercosplay menjadi karakter itu, dia hanya perlu mengubah gaya rambutnya untuk menirunya. 

“Ngomong-ngomong, rambut Yukikawa itu rambut asli atau bukan?” 

“Tidak, sebenarnya rambutku cenderung ke perak, tapi warnanya sedikit pudar. Jadi aku mewarnainya di salon untuk mendapatkan warna ini.” 

Jadi begitu ya.” 

“Ketika aku pertama kali mewarnainya… aku menunjukkan gambar Merry dan meminta orang salon untuk mewarnainya dengan warna ini.” 

Yukikawa berkata demikian dengan tatapan penuh nostalgia. 

Kira-kira apa ada bagian khusus ‘MariHare’? Ayo cari bersama.” 

“Ah, baiklah.” 

Aku memutuskan untuk mencari di dalam toko yang berantakan itu demi Yukikawa. Di dalam toko, karakter pria dan wanita tidak bisa dibedakan. 

Sepertinya mereka sudah dikelompokkan berdasarkan karya, tetapi jumlah kostumnya terlalu banyak sehingga sulit untuk menemukan karya yang diinginkan. 

“Di lantai atas ada bagian khusus aksesori…” 

Sepertinya hanya lantai tempat kami berada yang menjual kostum. Di lantai lain, mereka menjual wig dan property lainnya. Jika begitu, seharusnya kami bisa menemukannya jika mencari dengan teliti di lantai ini────. 

“Nagai, aku menemukannya…!” 

“Eh…” 

Yukikawa memanggilku dengan nada suara yang lebih ceria dari biasanya. Saat kami bergabung, di sana ada memang bagian khususMariHare’. 

“Woahh, luar biasa banget, ada kostum untuk semua karakter!” 

Di sana, ada kostum untuk protagonis dan empat heroine yang berjejer. Setiap kostum memiliki desain yang rumit dan ditampilkan dengan setia. 

Hee~, sepertinya desainnya lebih rumit dari yang aku kira…” 

“Ya. Sejujurnya, kupikir ini akan lebih murahan.” 

Sambil berkata demikian, Yukikawa menyentuh kostum itu. 

Namun, tiba-tiba ekspresinya sedikit muram. 

“……Ada apa?” 

“……Nagai, kamu coba sentuh ini juga.” 

“Ah, iya…” 

Saat aku menyentuhnya, aku langsung mengerti alasan mengapa ekspresi Yukikawa kelihatan muram. 

Kostum ini memang memiliki tingkat reproduksi yang cukup tinggi, tetapi bahan dari kostum itu sangat murahan. Seolah-olah hanya terlihat mirip, tetapi sebenarnya tidak. 

Ya, aku tahu bahwa untuk kostum cosplay, penampilan seakurat mungkin merupakan hal yang paling penting. Tapi, jika bahan yang dipakai terlihat murahan, kostum ini tampak seperti tiruan, dan kekaguman yang dirasakan saat pertama kali melihatnya jadi memudar. 

“Belum lagi ini, coba lihat harganya.” 

“Eh? ……Hah?” 

Setelah melihat harga kostum, aku tidak bisa menahan suara terkejut. Di sana tertera harga yang jauh lebih tinggi dari yang aku bayangkan. 

Harga kostum bervariasi tergantung karakter, tetapi untuk kostum karakter termurah, harganya lebih dari sepuluh ribu yen. Ini bukan barang yang bisa dibeli dengan mudah. 

“Sepertinya di bagian atas ada aksesori juga, lho.” 

“……Mari kita lihat.” 

Kami berdua melangkah ke lantai atas. Sesuai dengan panduan yang tertera, di lantai ini ada wig karakter, senjata, dan aksesori lainnya. 

Sebagai seorang pria, aku memiliki ketertarikan yang kuat terhadap pedang dan senjata, tetapi setelah melihat harganya, aku kembali terkejut. 

“Harganya tidak jauh berbeda dari kostum…” 

Harga rata-ratanya lebih dari sepuluh ribu yen. 

Untungnya, karakter Merry tidak membawa pedang atau senjata. Sebagai gantinya, dia membawa sabit besar setinggi tubuhnya. Dan yang mengejutkan, toko ini juga menjual sabit besar itu dengan harga dua puluh ribu yen.

Jika harus melengkapi semuanya, sepertinya dompet seorang pelajar SMA tidak akan cukup. Kemungkinan besar, harga segini pun sudah termasuk yang cukup murah. 

Biaya bahan dan lainnya ditekan hingga batas maksimum, sehingga harga terjangkau agar semua orang bisa melakukan cosplay. 

Memang penampilannya tetap sama, jadi harga segitu mungkin cukup terjangkau bagi orang dewasa yang bekerja

“Wah, kostum cosplay tuh ternyata semahal ini… yah, namanya juga pakaian.” 

“Benar… aku juga mendapat uang saku dari Papa dan Mama, tapi jika aku membeli ini, bulan ini aku hanya bisa hidup dengan roti.” 

Cosplay dan sejenisnya, hanyalah angan-angan belaka. 

Saat berpikir demikian, aku teringat sesuatu. 

Hei, kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan jika kita mau membuatnya sendiri?” 

“Eh, membuatnya sendiri?” 

“Ya, karena kupikir mungkin itu lebih murah.” 

Seperti halnya memasak di rumah yang lebih hemat dibandingkan makan di luar, jika kita bisa membuat semuanya sendiri, mungkin biaya yang diperlukan bisa lebih murah. 

Lagipula, jika kita membuatnya sendiri, kita bisa memilih bahan yang diinginkan, sehingga bisa mengurangi kesan murahan. 

“……Benar juga. Bagaimana kalau kita lihat-lihat dulu? Mungkin di toko kerajinan, atau tempat seperti itu ada yang jual.” 

“Baiklah, ayo kita coba.” 

Setelah memutuskan demikian, tujuan kita selanjutnya adalah toko kerajinan. 

Usai mencari lokasinya di smartphone, akhirnya kami sampai di toko yang suasananya sangat berbeda dari yang biasa aku kunjungi. 

Keren bangettempat ini benar-benar hanya menjual perlengkapan kerajinan.” 

“Yah, namanya juga toko khusus. Tapi lihat, kain itu sepertinya bisa digunakan untuk cosplay, kan?” 

Di tempat yang ditunjuk Yukikawa, ada kain berwarna-warni yang tertata rapi. Saat melihatnya dari jarak dekat untuk memastikan kualitasnya, ternyata warnanya dan bahan tersebut cukup mirip dengan citra Merry. Kesan mewah atau ketebalannya berbeda. 

“Sepertinya kita bisa membelinya per sepuluh sentimeter. Jika membeli sesuai kebutuhan, mungkin lebih murah daripada kostum cosplay.” 

“……Aku mulai merasa ada harapan.” 

Kemudian kami melihat gambar Merry dan memilih bahan yang diperlukan. 

Namun, ketika menghitung biayanya, kenyataan yang tidak menyenangkan menanti kami. 

“Jika ingin membuat semua aksesori sendiri… harganya tidak jauh berbeda dengan membeli satu set lengkap di toko sebelumnya.” 

“Ya, benar… lagipula Merry memiliki banyak dekorasi.”

Kami berdua terkulai lesu. Ditambah dengan harga sepatu dan kontak lensa. Jika semua dekorasi kecil itu juga dihitung, biaya untuk membuat kostum sendiri akan jauh melebihi kostum yang ada di toko cosplay. 

“Tapi, yang begitu pastu membuatnya jadi lebih nyata, kan?” 

“……Ya, itu benar.” 

Membuat pakaian dari awal menggunakan bahan-bahan ini pasti menciptakan kesan lebih mewah daripada membeli set pakaian lengkap yang sudah jadi

Masalahnya adalah harga dan keterampilan. Harga mungkin bisa diatasi dengan mencari pekerjaan paruh waktu, tetapi keterampilan saat ini tidak bisa diubah begitu saja. 

Jika mulai berlatih sekarang, apa kami bisa membuatnya dengan benar

Namun, untuk berlatih, kami juga memerlukan bahannya, dan itu berarti membutuhkan uang lagi────. 

“……Yukikawa, kamu lebih menyukai yang mana?” 

“Eh?” 

“Apa kamu lebih suka membeli satu set kostum sudah jadi, atau membeli bahan dan membuat kostum Merry dari awal?” 

“……” 

Yang ingin mengenakan kostum adalah bukanlah aku. 

Semua tergantung pada keinginan Yukikawa. 

“────Selama ini… aku selalu merasa iri pada orang yang bisa terobsesi pada sesuatu.” 

Sambil memandang berbagai kain, Yukikawa mulai bercerita. 

“Aku tidak begitu pandai hal olahraga maupun belajar, semuanya dilakukan dengan setengah-setengah… rasanya selalu tidak bersemangat. Sejujurnya, aku menghormatimu, Nagai. Orang yang terobsesi pada sesuatu itu kelihatan keren, kan?” 

Tatapan Yukikawa seolah-olah langsung menembusku. Aku tidak pernah menyangka dia berpikir seperti itu, jadi aku merasa sedikit terkejut. 

Makanya… aku ingin mencoba terobsesi pada satu hal dengan sepenuh hati.” 

“……Jadi maksudmu…” 

“Aku akan mencoba membuat kostum dari awal.” 

Tatapan matanya yang tajam menunjukkan tekad yang kuat. Bagiku, tekad itu sangat mengagumkan. Hati yang ingin berubah meski sekarang, terasa sangat bersinar bagiku. 

“Ngomong-ngomong… Nagai, bisakah kamu sedikit membantuku?” 

“Boleh saja, tapi apa yang harus aku lakukan? Maaf, aku juga pemula dalam cosplay…” 

Kita bisa mengesampingkan hal itu, aku ingin kamu mencarikan pekerjaan paruh waktu bersamaku.” 

Cuma itu saja? Aku sih tidak keberatan karena aku bisa mencarikan banyak…” 

“Sekalian, aku ingin kamu bekerja paruh waktu bersamaku.” 

Bukannya itu sudah lebih dari sekadar permintaan kecil?!” 

Itu adalah permintaan yang mengejutkan. Namun, setelah dipikir-pikir, aku juga sedang mencari pekerjaan paruh waktu, jadi mungkin ini bisa menjadi momen yang pas

“……Baiklah. Aku akan ikut membantumu.” 

“Eh, serius!? Makasih banget ya, Nagai!” 

“Wah!? Tunggu…!” 

Dia tiba-tiba memelukku dan aku bisa merasakan sensasi lembutnya secara langsung. 

Seorang otaku perjaka yang menerima rangsangan berlebihan hanya bisa panik. 

 

◇◆◇

 

Setelah kami pulang ke rumah, kami segera mulai mencari pekerjaan paruh waktu.

Tujuan kami adalah menyelesaikan kostum Merry. Untuk mendapatkan dana tersebut, pekerjaan harian yang membayar langsung di hari yang sama sangat diinginkan. 

Idealnya, kita melakukan pekerjaan paruh waktu yang bisa dilakukan di akhir pekan, dengan penghasilan sekitar sepuluh ribu per hari.” 

“Ya. Dengan begitu, kita bisa mengumpulkan empat puluh ribu yen dalam dua minggusepertinya uang segitu sudah cukup untuk biaya bahannya.” 

“Benar, kurasa 40 ribu yen seharusnya sudah cukup.” 

Tiga puluh ribu sudah pas-pasan, tapi empat puluh ribu akan memberikan sedikit kelonggaran──── seperti itulah perasaannya. 

Jika bisa memenuhi target itu dalam dua minggu, rasanya malah terasa singkat. 

Hanya saja, pekerjaan yang cocok dengan syarat itu sulit ditemukan. Setelah mencari dengan berbagai cara selama beberapa puluh menit, 

“Hmm…? Hei, bagaimana kalua yang ini?” 

Aku menunjukkan pekerjaan yang kutemukan kepada Yukikawa. Di situ tertulis, Mencari Staf Acara. 

Sepertinya mereka merekrut staf untuk acara yang berlangsung pada akhir pekan. Tempatnya tidak jauh dari sini, dan gajinya sebelas ribu yen per hari. Dengan begini, kami mungkin bisa mengumpulkan 44 ribu yen dalam dua minggu

“Staf acara… mungkin ini bagus. Bayarannya juga pas.” 

“Dan lihatlah ini.” 

“Eh!?” 

Di bagian yang menjelaskan tentang pekerjaan, tertulis bahwa mereka mencari staf untuk acara cosplay. 

Sepertinya mereka sedang merekrut staf untuk acara cosplay besar yang akan diadakan tiga minggu lagi. Waktunya sangat pas sekali. Bisa dibilang ini adalah takdir. 

“Sepertinya kita harus mendaftar untuk ini, kan?” 

Acara cosplay tersebut hanya berlangsung selama satu hari, tetapi acara lainnya seperti konser artis juga terlihat menarik. 

“Ya, aku akan segera mendaftar. Nagai juga harus ikutan.” 

“Aku tahu, kok.” 

Pertama-tama, kami mengisi formulir pendaftaran dan mengirimkannya ke tempat yang merekrut. Setelah menunggu sebentar, kami menerima email berjudul Informasi Pertemuan Pendaftaran. 

Sepertinya kita harus berpartisipasi dalam pertemuan pendaftaran ini…?” 

Mungkin ini mirip seperti wawancara?” 

“Mungkin seperti itu?” 

Kami saling menyesuaikan jadwal dan memutuskan untuk ikut pertemuan pendaftaran minggu ini. Semuanya berjalan terlalu lancar sehingga terasa menakutkan, tetapi ini bukanlah hal yang merugikan. 

Aku memutuskan untuk tidak mundur demi membantu Yukikawa dan mendapatkan uang untuk aktivitas otaku. 

Haa… ini adalah pengalaman pertamaku bekerja paruh waktu, aku penasarana apa aku bisa melakukannya dengan baik?” 

“Yah, kita harus mencobanya dulu. Segala sesuatu dimulai dari yang pertama.” 

“……Kurasa itu juga benar.” 

Kami memenuhi syarat pendaftaran dengan baik. 

Terlepas kami bisa melakukan pekerjaan itu atau tidak, yang penting adalah mendaftar dengan percaya diri. 

Aku juga tidak bekerja sendirian. Karena Nagai juga ada bersamaku.” 

Sambil mengatakan itu, Yukikawa sedikit menyenggol bahuku.  Aku sudah beberapa kali menerima sentuhan tubuh seperti ini, tetapi aku masih belum terbiasa. 

“……Ngomong-ngomong, jika kostum cosplay-nya sudah selesai, selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?” 

Selanjutnya?” 

Kamu tidak mau melakukan pemotretan atau semacamnya?” 

“Ah…… aku belum memikirkannya.” 

Melihat wajah Yukikawa yang kebingungan, sepertinya dia benar-benar tidak memikirkan hal itu. 

Mungkin aneh jika aku yang tidak terkait mengatakan ini, tetapi sayang sekali jika sudah berusaha keras untuk mendapatkan bahan berkualitas dan meningkatkan tingkat keasliannya, tapi hanya menyelesaikannya dengan pemotretan yang sembarangan. 

Benar juga… aku ingin mencoba pemotretan. Mungkin membuat kostum sendiri hanya terjadi sekali seumur hidup.” 

“……Apa kamu tidak berniat melanjutkannya?” 

“Aku ingin melanjutkannya sih, tapi… aku masih belum tahu.” 

────Begitu ya

Bagi Yukikawa, cosplay ini hanyalah eksperimen untuk melihat seberapa jauh dia bisa terobsesi terhadap sesuatu

“Pertama-tama, satu kostum… aku akan menyelesaikannya dengan segenap tenaga. Aku akan memikirkan hal selanjutnya nanti.” 

“……Begitu ya.” 

Jika ini harus berakhir dalam sekali percobaan, maka aku harus mengerahkan segenap tenagaku────.

 

◇◆◇

 

“Ah… Suasananya jadi kurang seru kalau enggak ada Momoki dan Yukikawa.” 

Di restoran keluarga yang baru dibuka di depan stasiun, anggota utama kelas 1-A berkumpul. Suasana hati mereka secara keseluruhan tampak buruk. Semua ini karena Yukikawa Tsukino dan Momoki Haruru tidak hadir. 

“Belakangan ini sepertinya hubungan kita jadi semakin buruk, ya? Terutama Yukikawa.” 

“Belakangan ini? Bukannya kita baru sebulan menjadi sekelas?... Yah, aku juga setuju sih kalau hubungan kita jadi semakin memburuk.” 

Saat Yamanaka dan Watanabe membicarakan hal itu, anggota lainnya mengangguk seolah setuju. 

Mereka yang biasanya bermain setiap hari, tetapi Yukikawa hanya ikut sekitar dua hari sekali. 

Momoki juga semakin sering pulang lebih awal selama beberapa hari terakhir.

Anggota utama hanya bisa terbentuk karena Yukikawa Tsukino dan Momoki Haruru yang memiliki penampilan mencolok. 

Intinya, kelompok yang mereka ikuti adalah yang disebut sebagai kelompok inti. Jika kedua orang itu berkumpul dengan anggota berbeda, maka kelompok itulah yang menjadi inti. 

Hal ini bukanlah situasi yang diinginkan bagi mereka yang menganggap bahwa kelompok utama merupakan simbol status

Hei, menurutmu bagaimana, Kijima?” 

“Hmm?” 

Kijima yang tidak ikut dalam pembicaraan dan hanya asyik bermain ponselnya, mengarahkan tatapan dinginnya seperti biasa ke arah Yamanaka. 

“Ah… yah, kurasa tidak masalah, kan? Mereka juga pasti punya waktu yang tidak tepat. Aku sendiri juga tidak bisa ikut saat ada jadwal gym.” 

“Kamu bisa karena kamu mengerti situasinya! Tapi, mereka hanya bilang ada urusan, dan tidak memberitahu apa yang mereka lakukan sama sekali…” 

“……” 

“Selain itu, ada rumor yang beredar. Ada yang bilang kalau mereka melihat Yukikawa berjalan dengan seorang pria…” 

Begitu Yamanaka mengatakannya, semua pria di sana, kecuali Kijima, mencondongkan tubuh mereka ke depan karena tertarik dengan topik tersebut

“Seriusan!? Siapa orangnya!?” 

“Apa namanya… cowok yang dari kelas kita… Nagata?” 

“Hmm? Emangnya ada orang yang seperti itu?” 

Nama-nama seperti Nagayama dan Nagahama disebut-sebut. Namun, mereka pada akhirnya tidak dapat mengingat nama teman sekelas mereka. 

Hal itu menunjukkan seberapa tidak tertariknya mereka dengan keberadaan orang lain. 

Hanya Kijima yang berbeda. 

“────Maksdumu Nagai?” 

“Ah! Iya! Nagai! Eh, Kijima, kamu tahu tentang Nagai?” 

“Karena ia teman sekelas kita, setidaknya aku tahu namanya.” 

“Nagai tuh orang yang itu, ‘kan? Yang… introvert, cowok yang selalu makan sendirian?” 

Meskipun sudah sampai di situ, banyak anggota kelompok inti yang masih tidak paham. 

“Yah, seharusnya tidak mungkin Yukikawa berpacaran dengan orang itu. Terlalu tidak seimbang.” 

“Benar banget!” 

Sementara semua orang tertawa terbahak-bahak, hanya Kijima yang tampak tidak nyaman dan mengernyitkan wajahnya. Setelah menghela napas panjang, ia mengeluarkan uang seribu yen dari dompetnya dan meletakkannya di meja. 

“Maaf, aku juga pulang lebih awal hari ini. Aku jadi ingin menggerakkan badanku.” 

“O-oh, begitu. Sampai jumpa di sekolah.” 

“Ya, sampai jumpa.” 

Kijima berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari restoran keluarga tanpa menoleh ke belakang. Dirinya kemudian menatap ke langit dan menghela napas panjang sekali lagi. 

“……Rasanya jadi merepotkan.” 

Kata-kata itu jelas tidak pernah terdengar oleh siapa pun. Kakinya terus melangkah menuju stasiun.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama