Chapter 3 — Tahun Pertama Perkuliahan, Akhir Agustus, Asamura Yuuta
Hari
kencan berkendara yang sudah kami sepakati
telah tiba. Waktunya sudah
lewat pertengahan Agustus. Pagi itu adalah hari yang baik, dengan langit biru
yang sedikit memutih dan awan kecil yang tersebar. Sepertinya hari ini juga cuacanya akan panas lagi.
Aku
membuka kursi belakang dan bagasi untuk memastikan tidak ada barang yang
terlupakan. Aku terlalu sering memeriksa sehingga pada akhirnya Saki hanya bisa
menggelengkan kepala dan tersenyum lelah.
“Kita ‘kan bukan
pergi ke tempat terpencil di pegunungan, kalau ada
yang kurang, kita bisa membelinya di sana. Tidak apa-apa.”
Dia memang
benar sih. Meski begitu, aku tetap
khawatir jika ada yang terlupakan.
“Daripada
itu, kurasa masalahnya adalah jika kamu tidak membawa SIM atau dompet.”
“Yang
itu sih jelas-jelas tidak kulupakan.”
“Ini
dia,” kataku sambil berusaha mengeluarkannya
dari saku, tetapi ternyata tidak ada saku. Hah? Oh, iya, aku ingat, aku melepas
jaket karena cuaca ini tidak membutuhkannya. … Dompetku di mana?
“Jangan bilang kalau kamu melupakannya.”
“Aku
ingat membawanya kok. … Tapi
di mana ya?”
Saat aku berusaha mengingat-ngingatnya kembali,
aku ingat bahwa aku memasukkan dompet ke saku jaket tipis. Lalu, jaket itu ada
di mana? Karena panas, aku melepasnya dan melipatnya ke dalam tas. Tas itu ada
di mana?
Di dalam
bagasi.
Dan begitulah,
aku membuka kembali bagasi yang baru saja kututup, menurunkan barang-barang
yang ada, dan mengambil jaket yang terlipat dari dalam tas untuk mendapatkan
dompet. Tatapan Saki yang penuh keheranan terasa menyakitkan. Awal yang buruk, ampun deh.
“Apa kamu sudah memasang sabuk
pengaman?”
“Ya.”
“Kalau
begitu, ayo pergi.”
Sambil
ditemani Saki yang duduk
di kursi penumpang depan, kami mulai meluncur dan bergerak menjauh dari
tempat parkir apartemen.
Aku
merasa gugup. Ketika ayahku duduk di kursi
penumpang depan, aku bisa merasa tenang karena mengingat pelajaran mengemudi,
tapi kali ini yang duduk di samping aku adalah pacarku—Saki. Meskipun begitu,
jika aku terlalu tegang, itu juga bisa menyebabkan kecelakaan. Yang dibutuhkan
adalah ketegangan yang wajar.
Saki
memeriksa tujuan perjalanan.
“Kita akan
ke Yuigahama, ‘kan?”
“Ya,
betul. Kalau di sekitar situ, kurasa pengemudi pemula
bisa mengatasinya.”
Daerah Yuigahama
terletak di kaki Semenanjung Miura—di selatan Kota Kamakura—sehingga jika seseorang tinggal di Kanto, mereka mungkin bisa memahami posisinya.
Dari situ, jika kita pergi menuju
barat, ada Inamuragasaki, dan Shicirigahama yang berurutan.
Keduanya
adalah nama tempat yang muncul dalam buku sejarah dari zaman Kamakura. Tempat
pertempuran terkenal. Aku yakin ada legenda tentang melemparkan pedang untuk
menarik air pasang di sana. Aku bahkan bisa mengingatnya meskipun aku tidak
terlalu tahu banyak tentang sejarah seperti Saki.
Dari
Stasiun Shibuya, aku
menggunakan Jalan Ketiga Keihinkai atau Jalan Tol Metropolitan dan Jalan Tol
Tomei, melewati Yokohama dan
Yokohama Yokosuka, lalu keluar melewati
persimpangan Asahina, dengan total jarak lebih dari 50
kilometer.
Waktu
tempuh sekitar satu setengah jam. Tentu saja, konsentrasi pengemudi baru tidak
bisa bertahan selama 90 menit, jadi kami memutuskan untuk sering beristirahat
di area layanan di sepanjang perjalanan.
Kami
menghindari libur panjang dan memilih waktu pagi hari kerja, jadi aku berharap
perjalanan tidak terlalu padat, dan ternyata benar, kami tiba tanpa terjebak
dalam kemacetan besar setelah sekitar dua jam.
Namun,
ketika kami sampai di pantai, mungkin karena rasa tegang, aku merasa lelah dan
terdiam sejenak. Karena kami
berangkat pagi-pagi sekali,
jadi waktunya masih sebelum pukul 9. Meskipun
begitu, sudah ada banyak
orang di sana.
Kami
berdua berganti pakaian menjadi baju renang di ruang ganti. Baju renang Saki sudah
diperbarui dari tahun lalu. Apa wanita harus memperbarui baju renang setiap
tahun? Baju renangku sendiri malah tidak berubah sama sekali.
“Apa ini
kelihatan aneh?”
“Kelihatan bagus
kok.”
Wajahnya
tampak lega setelah aku mengatakan itu.
Syukurlah.
Baju renang satu bahu berwarna biru tahun lalu juga cocok untuknya, tapi tahun ini dia mengenakan baju renang berwarna biru muda yang sedikit lebih sedikit menampilkan kulit. Pita tipis yang menghiasi pinggang dan bahunya menjadi aksen. Dari yang sebelumnya, baju renang ini memberikan kesan yang lebih dewasa. Dia mengenakan atasan transparan di bahunya, mungkin untuk melindunginya dari sinar matahari.
Sedangkan aku
sendiri—ya, penampilan baju renang pria itu semua sama saja. Tidak ada
perubahan dari tahun lalu. Meskipun begitu, melihat Saki, jika aku membeli yang
baru, aku ingin mendengar saran darinya sebelum memilih. Aku tidak percaya diri
dengan seleraku sendiri.
“Apa
kamu membawa kamera?”
Alih-alih
mengangguk atas pertanyaan Saki, aku menunjukkan case tahan
air untuk smartphone yang aku pegang. Secara struktural, ini adalah case
plastik yang sederhana yang mencegah air masuk, tetapi aku membeli ini karena slogan iklannya yang mengatakan bahwa itu bisa digunakan di laut maupun di
kamar mandi. Jika ingin mengambil foto kenangan di laut, aku harus membawanya.
Case ini
bisa digantung di leher dengan tali. Aku
juga bisa menggunakan
smartphone-ku untuk berbelanja,
jadi sepertinya takkan ada masalah
jika aku hanya membawa ini dari mobil.
“Casing itu bagus. Seharusnya aku juga
membelinya.”
Saki
tampaknya memutuskan untuk membawa barang-barangnya dalam tas pouch kecil tahan air.
“Mau aku membawanya?”
“Tidak
apa-apa. Karena ini cukup ringan.”
Setelah
meninggalkan pakaian yang kami lepas di mobil, aku dan Saki mulai berjalan di
tepi ombak. Ini adalah hal yang tidak bisa dilakukan ketika keramaian sedang
memuncak.
Saat
merasakan aroma laut, aku melihat ke samping dan Saki tiba-tiba sudah
mengenakan kacamata hitam.
“Jadi
kamu membawa barang semacam itu?”
Saki
memegang kacamata hitam yang sedikit besar dengan jari-jarinya sambil menatapku
dengan tatapan mata nakal. Dengan lensa yang
cerah, kesan wajahnya menjadi berbeda. Rasanya dia
jadi terlihat sedikit lebih dewasa.
“Bagaimana”
“Ya,
kurasa itu kelihatan bagus.”
“Menurut
orang, sinar UV bisa merusak mata lebih dari yang kita
bayangkan. Sekarang semua orang mengenakannya saat di luar.”
Begitu
rupanya, jadi itu saran dari Narasaka-san.
“Selain
itu, jika kita pergi ke
pantai yang ramai di musim panas, barang
semacam ini bisa mengusir serangga jahat supaya tidak mendekat."
Ah...
Begitu
rupanya. Sejak tadi aku sedikit memperhatikannya. Ada banyak orang yang mencuri-curi pandang ke arah Saki
yang berjalan di sampingku. Saki sudah mencolok sejak SMA. Meskipun tidak
banyak siswa yang mendekat karena “persenjataan” yang mengancam. Jika kacamata
hitamnya bisa
membuatnya terlihat sedikit menakutkan dan menjauhkan orang, maka aku berterima kasih pada saran
Narasaka-san.
Kupikir
aku adalah tipe orang yang tidak terlalu memperhatikan hal-hal seperti itu,
jadi aku terkejut merasa sedikit lega. Ini adalah rasa cemburu. Sepertinya aku
juga memiliki sedikit perasaan seperti itu. Meskipun aku sering disebut “kering” oleh Maru.
Kami
berjalan berdampingan sambil menikmati pemandangan
laut. Jumlah orang semakin bertambah, seperti yang diharapkan di musim liburan
musim panas, suara ceria anak-anak yang bersemangat mulai terdengar di
mana-mana. Anak-anak berlarian dan orang tua yang kewalahan. Meskipun begitu,
keduanya tampak senang──.
“Yuuta, kurasa aku ingin makan sesuatu.”
“Eh...?
Oh, maaf. Aku melamun. Ehm.”
“Waktunya masih
sedikit terlalu pagi untuk makan siang, tapi aku sudah lapar."
Oh, aku
mengerti. Memang, meskipun kami sudah membeli minuman di area layanan, sarapan
kami juga sangat pagi, jadi wajar jika perut sudah keroncongan.
Aku
mengalihkan wajah yang menghadap laut ke arah yang berlawanan. Toko-toko
makanan... sepertinya ada banyak
pilihan. Takoyaki, okonomiyaki... tidak, itu bukan makanan yang dimakan sebelum
makan utama. Bagaimana dengan es serut, mungkin karena panas? Saat aku berpikir
begitu, Saki sepertinya juga memikirkan hal yang sama.
“Es
serut, mungkin?”
“...Aku
juga baru saja memikirkannya. Tapi
sepertinya porsinya cukup banyak.”
Tampaknya
ukurannya kira-kira sebesar mangkuk
ramen yang terbalik. Karena besar, harganya juga cukup mahal. Satu porsi
seharga 1000 yen.
“Bagaimana
jika kita membeli satu dan membaginya?”
“Ah...
itu mungkin pas.”
Saat kami
mendekat untuk melihat menu, ada banyak variasinya.
Karena ini kesempatan yang baik, aku memutuskan untuk memesan es serut dengan
rasa “yogurt plum”. Plum dan yogurt. Aku bahkan
tidak pernah mencoba mencampurkan keduanya dalam masakan. Sebenarnya, aku juga
tidak banyak mengingat makan plum.
Namun, kedengarannya menarik.
Setelah
menerima es serut, aku membawanya ke meja berdiri untuk memakannya. Saat aku bersiap dengan sendok
untuk mulai memakannya, Saki tiba-tiba berkata.
“Aku tahu kalau aku cuma
ikut-ikutan, tetapi Yuuta tidak
memesan menu yang standar di sini.”
Eh?
“Habisnya
jika rasa es serut ini tidak enak, itu akan menjadi kenangan buruk. Banyak
orang yang tidak suka dengan hal-hal seperti itu, kan? Ini adalah perjalanan
pertama kita.”
“Aku
tidak memikirkannya. Maaf.”
“Kamu tidak
perlu meminta maaf. Kamu sudah mendiskusikannya denganku dan
tidak memutuskan sendiri, dan aku juga setuju. Hanya saja, kupikir itu menarik.”
“Menarik?”
“Yuuta, kamu terlihat konservatif
karena jarang mengubah kebiasaan, tetapi terkadang kamu suka melakukan hal-hal
aneh.”
Aku tidak
menyadari hal itu.
“Beberapa
waktu lalu, kamu juga membeli natto dengan rasa plum.”
“Kupikir
kalau selalu dengan rasa yang sama bisa membuat bosan.”
Kurasa aku
menjawabnya tanpa banyak berpikir, tapi kemudian Saki tiba-tiba berkata begini.
“Apa
kamu takut terus melakukan hal yang sama?”
Aku
terkejut saat mendengar hal itu. Aku
merasa seolah-olah dia bisa membaca pergerakan hatiku dengan tepat.
Semenjak
Ayahku menikah lagi pada musim panas dua tahun yang lalu,
aku mulai tinggal bersama dua orang asing.
Bisa
dibilang, lingkunganku berubah secara drastis.
Namun, anehnya, aku tidak merasakan perubahan itu begitu besar.
Mungkin
itu karena percakapan yang kulakukan dengan Saki saat pertemuan pertama kami,
di mana kami sepakat untuk berhenti saling berharap, dan juga karena janji yang
kami buat untuk meminimalkan stres yang pasti akan muncul saat tinggal dengan
orang lain, yaitu “kontrak
kehidupan bersama”.
Kami
memutuskan untuk berhenti mengira-ngira maksud satu sama lain (orang
menyebutnya 'memperhatikan perasaan orang lain'). Kami menghargai kebiasaan
masing-masing dan tidak mencampuri tindakan satu sama lain. Jika ada yang
mengganjal, kami akan saling “menyesuaikan”. Kami telah sepakat dengan
itu.
Dan semuanya berjalan terlalu lancar.
Dua tahun
telah berlalu, dan sekarang kehidupan kami sebagai keluarga berempat menjadi
etenang seolah-olah ini sudah terjadi sejak lama. Seharusnya itulah hal yang baik
jika dipikirkan sebagai sebuah keluarga.
Namun,
melangkah keluar dari keadaan tenang itu berarti membawa perubahan baru ke
dalam rumah, dan bagiku, itu sesuatu
yang tidak kuinginkan.
Sama seperti ketika kehidupanku dengan
ibu kandungku yang hancur berantakan.
Namun, semenjak masuk universitas, Saki telah
berhenti dari pekerjaan paruh waktunya di toko buku yang sudah dikenalnya dan
mencoba pekerjaan baru. Dia mulai serius menggunakan Instagram dan meningkatkan
interaksinya dengan orang lain. Sepertinya dia secara aktif memilih untuk menjalani kehidupan dengan
angin baru, keluar dari kehidupan yang tenang.
Tunggu,
jika dipikir-pikir, bukan hanya Saki saja.
Ibu tiri dan ayah juga ingin menambah
setidaknya satu anggota keluarga baru. Itu juga merupakan perubahan yang takkan
terjadi jika mereka ingin melanjutkan kehidupan yang tenang.
Mereka
tidak takut akan perubahan, kecuali aku.
Mungkin aku
merasa tertekan karenanya.
Namun,
tantangan “hal baru” yang kuhadapi tidak lebih dari
mencoba rasa es serut yang aneh, dan aku merasa jadi
orang yang berpikiran sempit. Selain itu, aku seharusnya tidak melibatkan Saki dalam tantangan
aneh itu.
“Kira-kira
rasanya enak gak ya, es serut rasa yogurt
plum...?”
Aku mulai
khawatir.
“Kurasa
yogurt dan buah itu cocok, jadi tidak apa-apa,”
Saki
tampaknya bisa membayangkan rasanya. Inilah
perbedaan antara orang yang suka memasak dan orang yang hanya memasak karena
kebutuhan. Saki sendiri mengatakan bahwa dia hanya melakukannya karena
terpaksa.
Kami
bergantian menyendok es serut yang diletakkan di tengah meja. Meskipun terlihat besar, tapi es serut itu langsung habis dalam sekejap
saat dibagi.
Rasanya
juga enak. Segar, tetapi ada sedikit rasa manis, dan es yang perlahan-lahan
mencair di mulut sangat pas untuk mendinginkan tubuh yang terpapar sinar
matahari musim panas yang panas.
Kami
kembali ke pantai dan kali ini mencoba masuk sedikit lebih ke dalam laut.
Alih-alih benar-benar berenang, kami hanya merendam kaki hingga lutut. Kami
juga mencari kerang yang indah di tepian
ombak.
Saat kami kembali ke laut setelah makan siang,
keramaian di pantai sudah mencapai puncaknya, dan jumlah payung yang berdiri
juga sangat banyak. Lebih
tepatnya, ini bukan hanya deretan, melainkan
sudah seperti hutan payung.
Kami
berjalan di antara hutan payung berwarna-warni itu dan kembali masuk ke laut. Kami tidak menjauh dari pantai sehingga tidak
sampai bisa berenang, tetapi hanya merendam tubuh kami sedikit di air laut, dan
itu sudah cukup untuk membuat kami merasa nyaman dari panas.
Ketika
mendengar suara "Maaf!", aku menoleh dan melihat sebuah bola pantai
besar terbawa ombak melayang ke arah kami. Ada seorang anak laki-laki yang
berjalan ke arah kami dengan setengah badan terendam air dari jarak yang
sedikit jauh. Sepertinya dia berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Dia tampak
kesulitan berjalan melawan ombak. Di belakang anak itu, ada tiga orang yang
tampaknya keluarganya. Mereka melihat ke arah kami dan membungkuk.
Setelah
menangkap bola pantai yang mengapung, aku melemparkannya kembali kepada anak laki-laki
yang melambai ke arah kami. Anak laki-laki dan keluarganya mengucapkan terima
kasih berulang kali.
Keluarga itu
terdiri dari ayah, ibu, anak laki-laki yang datang mengambil
bola pantai, dan seorang gadis kecil yang tampaknya adiknya, mungkin sekitar
usia sekolah dasar. Sepertinya mereka adalah keluarga berempat.
“Sepertinya
mereka sedang melakukan
perjalanan keluarga, ya” kata
Saki.
“Ya,
mungkin,”
Wajah
anak laki-laki dan gadis itu mirip dengan kedua orang tua mereka.
Kami
mulai merasa tubuh kami mengelupas dari air, jadi kami keluar dari laut. Karena
kami tidak membawa mainan apapun, sebagian besar waktu yang tersisa kami
habiskan duduk di pantai, hanya menikmati angin dan melihat laut.
Kami
duduk di tepi pantai, jauh dari keramaian . Meskipun ombak mulai naik, area ini
masih kering. Saat pertama kali duduk, aku harus menggali pasir di permukaan
karena terlalu panas untuk duduk.
Kami
duduk di antara hutan payung yang saling bertumpuk. Meskipun pandangan kami
terhalang dan pemandangannya tidak begitu baik, area di tepi air benar-benar
ramai, dan baik aku maupun Saki tidak merasa ingin masuk ke dalam keramaian
itu, jadi kami duduk dengan tenang dan berbincang.
“Oh iya, ngomong-ngomong, beberapa waktu
lalu, ketua kelas menelepon,”
“Ooyama-san,
dia masih dipanggil ketua kelas, ya?”
Ooyama
Chiharu-san, teman sekelas kami saat kelas 3
SMA, memang adalah ketua kelas, tetapi itu hanya saat kelas 3 saja. Namun, dia sudah dijuluki ‘ketua kelas’ sejak
sekolah SD. Dia memang memiliki aura
seperti itu.
“Habisnya,
ketua kelas tetaplah ketua kelas,”
Yah, aku
mengerti, jadi tidak masalah.
“Terus?”
“Sebenarnya
bukan perkara yang penting sih—”
Kami
berbincang pelan, seolah-olah mengenang
sesuatu di antara waktu yang mengalir lambat. Meskipun kami hanya berbicara beberapa patah kata,
aku merasakan kebebasan sejenak dari kehidupan baru yang sibuk. Pasir yang kupegang
secara tidak sadar jatuh ketika aku membuka tanganku. Rasanya cukup
menyenangkan saat pasir halus mengalir di telapak tanganku.
Ketika aku
menoleh ke samping, Saki juga duduk di
sana, mengumpulkan pasir di sekitar pinggangnya dan melakukan hal yang
sama.
“—dan
akhirnya Ryochin mengungkapkan perasaannya... ups,
tidak, itu tidak boleh. Aku tidak bisa mengatakannya. Ya, begitulah, jadi kami
berbicara cukup lama di telepon.”
Meskipun aku
hampir mengerti isi pembicaraannya. Aku menyadari bahwa Saki dengan sangat
alami memanggil Sato Ryouko dengan nama julukannya, dan aku teringat perbedaan
antara saat kami bertemu dulu dan sekarang.
Ketika
sekolah yang kamu hadiri
berubah dan kebiasaan hidup berubah, wajar jika ada orang yang secara alami
menjauh. Namun, Saki mungkin beruntung dalam hal pertemuan. Setelah memikirkan
itu, aku kembali membantah pemikiran itu. Tidak, ini berbeda. Ini karena Saki
tampaknya lebih sedikit bersikap defensif terhadap orang-orang di sekitarnya
dibandingkan saat dirinya kelas satu
SMA.
Jika dia terus menunjukkan sikap dingin seperti
landak, berusaha untuk tidak menunjukkan celah,
maka wajar jika orang-orang enggan mendekatinya.
Saki saat kelas satu SMA memang seperti itu. Sekarang berbeda.
Sepertinya toleransinya terhadap orang-orang dengan sudut pandang yang berbeda
telah meningkat.
“Ngomong-ngomong...”
Hah?
Dengan tatapan penuh tanda tanya, Saki mendengarkan gumamanku.
“Umm,
siapa mereka? Teman yang katanya kamu kenal saat kuliah."
“Maksudmu
Mayu dan Kyouka?”
“Sayangnya
aku tidak ingat nama mereka...
Tapi, lihat itu. Sejak awal, kamu sudah memanggil
mereka dengan nama depan mereka.”
Setelah aku
menunjukkan itu, Saki sejenak tampak terkejut.
“...aneh ya?”
“Tidak
sama sekali. Jika mereka teman, kurasa itu
wajar-wajar saja."
“Ya...
Mayu dan Kyouka marah jika aku memanggil mereka
dengan nama belakang. Mereka bilang itu membuat jarak
di antara kami terasa jauh.”
Tapi, dia
bukan tipe yang akan dengan mudah mengurangi jarak hanya karena dikatakan
begitu. Meskipun aku berpikir demikian, aku tidak mengatakannya.
“Yuuta tidak terlalu sering memanggil orang dengan nama depan, ‘kan?
Maru-kun juga dipanggil 'Maru'. Yoshida-kun juga begitu. Eh, dan juga, setelah masuk
universitas... umm...”
“Nakamura
dan Kikuchi?”
“Iya, mereka.”
Setelah
dia menyebutkan itu, aku menyadarinya.
“Tapi,
Nakamura memanggilku dengan panggilan 'Yuuta',
sementara Kikuchi memanggil dengan nama belakang 'Asamu' saja.”
Sepertinya
aku tidak satu-satunya yang memiliki jarak yang jauh. Aku mulai berpikir
tentang pembelaan diri semacam itu. Mungkin aku masih memiliki tembok yang
tinggi dalam hubungan dengan orang lain...
Saat aku
merenungkan hal itu, aku tiba-tiba menyadari bahwa Saki sedang melihat wajahku
dengan tatapan seolah-olah melihat sesuatu yang aneh. Eh, memangnya aku mengatakan sesuatu yang
aneh ya?
“A-Asamu?”
“Ah,
ya. Tanpa kusadari, aku sudah dipanggil
seperti itu.”
“Asamuuu! ...Eeehhhhhhhhhhhhh. Yuuta dipanggil Asamu!”
“Tidak,
namaku Yuuta, oke? Itu hanya
singkatan dari Asamura.”
“Di
mana biasanya orang menyebutnya seperti itu? Asamu itu terdengar seperti
mantra, bukan?”
“Mantra...”
Apa iya begitu?
“Asamu,
Hirumu, Yorumu...”
Tunggu,
tunggu, tunggu sebentar.
“Berhenti.
'Asa' dalam nama Asamura itu bukan 'morning',
tapi 'shallow'!”
“Eh?
Oh iya, benar juga. Kalau
gitu, kebalikan dari dangkal
adalah dalam, ‘kan?”
Bagaimanapun,
itu tidak ada hubungannya dengan panggilan Asamu. Kenapa Saki yang pandai
bahasa Inggris berpikir seperti itu?
“Rasanya
jadi seperti orang yang berbeda...”
“Yah, kurasa panggilan julukan memang
seperti itu. Jika kita tahu itu merujuk pada diri kita, selama itu tidak
terlalu negatif, kita takkan terlalu peduli."
“Kalau
aku, karena nama belakangku Ayase,
jadi Ayasee... rasanya jadi tidak
terlalu berbeda, ya.”
“Kurasa
nama yang memiliki lebih dari empat huruf cenderung disingkat. Meskipun tidak
ada bukti, itu berdasarkan pengalaman.”
Kami
kemudian mengingat cara orang-orang di sekitar kami memanggil satu sama lain
dan mengobrol tanpa arah. Diskusi yang sangat tidak penting itu ternyata menyenangkan.
Ketika aku
menyadarinya,
matahari yang sudah melewati puncak kini turun ke tengah langit. Setelah melewati pukul tiga sore,
jumlah orang mulai berkurang sedikit demi sedikit. Kami harus segera
mempersiapkan diri untuk pulang.
“Sudah
lama kita tidak berduaan
seperti ini,” ucap Saki,
dan aku balas mengangguk.
“Aku juga kepikiran, kapan terakhir kali aku
mengobrol selama ini denganmu, Saki.”
Saat aku
mengatakan itu dan melihat ke arah Saki, dia juga menatapku dengan penuh
perhatian. Ketika tatapan kami bertemu, wajah kami secara alami mendekat, dan
kami saling menatap ke dalam mata satu sama lain. Tanpa ada yang memulai, kami
semakin mendekat, dan wajah kami saling mendekat tanpa berhenti. Tanpa sadar, aku
merasakan sentuhan lembut di bibirku.
Cinta
adalah saat dua orang bersama-sama menjadi bodoh—begitulah kalimat yang pernah dikatakan oleh seorang penyair Prancis.
Meskipun
kami bersembunyi di balik hutan payung, kurasa baik
Saki maupun diriku bukan tipe orang yang
akan berciuman di tempat terbuka seperti ini. Setelah merasa tenang nanti, mungkin
aku akan merasa malu dan gelisah, tapi saat itu, kami bisa melakukan kontak
mata dengan perasaan yang sama secara alami dan terbawa suasana.
Namun—.
Pada saat
yang sama, aku juga merasa murung ketika mengingat alasan aku
datang ke laut.
Ketika aku
menggali pikiranku, aku menyadari bahwa aku datang ke sini karena pemandangan
yang kulihat dalam mimpi. Sebuah masa
depan yang mungkin saja terjadi. Pemandangan pergi ke laut bersama Saki dan
keluarga. Tidak diragukan lagi, itulah yang menjadi
pemicunya.
Namun, aku
menyadari bahwa meskipun aku mencoba membayangkan pemandangan masa depan, hal itu tidak mendekatkanku pada
mimpi tersebut.
Tentu
saja, aku merasa senang telah datang ke sini. Tapi, jika ditanya apakah itu
harus di laut, jawabannya adalah tidak.
Mengapa aku
merasa tertekan dan terburu-buru untuk pergi ke laut? Mungkin karena aku ingin
memiliki petunjuk yang jelas untuk mendekati pemandangan dalam mimpi itu.
Setiap
kali aku melihat Saki dan merasakan perubahannya sejak pertama kali kami
bertemu, aku merasa tidak berdaya karena diriku sendiri
yang tidak berubah. Sudah berapa
kali aku harus mengulangi introspeksi yang sama?
Ini tidak
baik. Tidak baik rasanya jika aku merasa depresi di tengah kencan kami berdua yang sudah lama
dinanti.
Ketika aku
mendengar suara familiar *ckrek*,
aku menoleh dan melihat Saki tampaknya sedang mengambil fotoku dengan
ponselnya. Dia memutar layar dan menghadapkannya kepada aku. Aku terlihat
sedang merenung dengan ekspresi bingung.
“Kamu tidak
perlu memotret hal seperti itu.”
“Kamu
sedang memikirkan sesuatu?”
“Yah, begitulah.”
“Lalu,
foto mana yang akan dipilih?”
Sambil
berkata demikian, dia mendekat dan menyisipkan ponsel di antara kami,
menunjukkan daftar foto yang diambil. Aku juga menunjukkan foto-foto yang
diambil sejak kami datang ke laut.
Kami
memutuskan untuk membuat album foto bersama. Kami
bisa mengambil sebanyak mungkin foto dengan
ponsel, jadi rasanya tidak
praktis untuk mencetak semuanya dan menempelkannya. Jadi—.
“Jadi,
hanya satu foto saja, ya?”
“Kita berdua
sudah sepakat. Jadi mari kita pilih
hanya satu foto.”
Hanya
satu foto untuk setiap kenangan.
Aku ingin menyimpan yang terbaik dalam album. Meskipun terasa sedikit disayangkan,
jika aku mencoba menyimpan semuanya, aku akan terfokus hanya pada pengambilan
foto. Dari sini, aku harus memilih satu foto saja.
Aku
melihat kembali foto-foto yang aku ambil. Sial...
ternyata cuma ada
sedikit foto kami berdua. Hanya ada thumbnail Saki yang
tersenyum.
“Semua foto
yang kuambil, hanya wajah Yuuta
yang terlihat,” kata Saki
sambil memeriksa foto-fotonya.
“Ah,
aku punya dua saran. Bagaimana kalau kita mengubah pendekatan kita sedikit? Pilih satu foto
yang memperlihatkan kita berdua. Jika tidak ada, dua foto juga bisa.”
“...Ya, aku sejutu, itu mungkin lebih baik.”
“Bagaimana
kalau kita ambil satu foto lagi untuk jaga-jaga?”
Aku
mengalihkan ke mode kamera depan dan berdekatan. Aku memastikan laut terlihat
di antara kami sebelum menekan tombol shutter. Dengan suara *ckrek* yang ringan, gambar kami berdua
terhenti sejenak di layar.
Meskipun
matahari sudah hampir terbenam,
masih ada cukup cahaya karena musim panas. Kami berdua terlihat mengenakan
pakaian renang dengan latar belakang langit biru dan laut musim panas.
Pemandangan yang kupinjam dari mimpi. Semoga foto dari kencan pertama kami ini
akan menjadi kenangan yang indah saat dilihat di masa depan.
◇◇◇◇
Setelah
berganti pakaian, kami naik mobil untuk pulang melalui Shibuya.
Saat
beristirahat di area layanan, setelah kami selesai menggunakan toilet dan
kembali ke mobil, aku melihat langit yang berwarna senja dan berpikir bahwa
besok sepertinya akan cerah.
Saki
kemudian berkata,
“Hei,
ada tempat yang ingin aku singgahi.”
“Boleh saja, tapi di mana?"
“Aku
ingin kita melaju di pintu keluar dekat Iikura,
bukan di pintu keluar Shibuya.”
Dia ingin
mampir ke Roppongi. Mendengar
nama tempat itu, aku langsung mengerti. Aku bertanya apa yang dia maksud acara itu, dan dia
mengangguk setuju.
Dia ingin
melihat acara 'Roppongi Art Festival' yang dia kerjakan.
Saki bilang acara malam itu sangat
luar biasa dan ingin aku ikut menontonnya.
“Kalau
kamu sudah lelah, aku tidak ingin memaksakannya sih,”
Aku menggeleng.
Jika begitu, aku juga ingin melihatnya. Ketika bersama ayah, aku hanya melihat
belakang panggung sebelum acara dimulai.
“Kamu
tidak lelah, Saki?’
“Aku
baik-baik saja. Lagipula, aku tidak tahu kapan jadwal kita berdua bisa cocok
lagi.”
Kurasa itu masuk akal, jadi aku mengatur navigasi dari rumah ke
Roppongi dan turun dari jalan tol di tengah jalan. Karena aku pernah ke sana,
menemukan jalannya cukup mudah. Aku lalu memarkirkan mobil di
tempat yang sama di Midtown seperti sebelumnya.
“Oh...
lalu, bagaimana dengan peta?"
Aku
meninggalkan brosur yang aku dapatkan sebelumnya di rumah karena tidak berniat
mampir ke sini.
“Jangan
khawatir, aku mengingatnya. Menurut Tatsumi-san—”
“Tatsumi-san?”
Karena
nama yang tidak aku kenal muncul, aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya padanya.
“Oh,
ia kolega senior dari kantor. Ia bilang kalau aku ingin melihat karya yang
diterangi dengan latar belakang pemandangan malam dari Roppongi Hills, itu sangat Instagramable
dan ia sangat merekomendasikannya.”
Pemandangan
malam Roppongi Hills, ya.
Daerah
yang dikenal sebagai Roppongi Hills terletak di jalan
Roppongi—yaitu di sisi selatan Jalan Raya 412 Kasumigaseki,
dekat jalur Shibuya. Midtown tempat kami parkir berada di sisi utara jalan,
jadi kami harus berjalan cukup jauh.
“Jadi,
mungkin jaraknya bisa jauh lebih dekat jika kita
tidak parkir di Midtown, ya?”
“Bukannya
lebih baik jika kita tinggal jalan-jalan saja?”
Setelah
Saki menyebutkan, aku membayangkan peta di dalam kepalaku. Dari Midtown tempat kami memarkir mobil,
melewati area Museum Suntory, lalu menuju Pusat seni National.
Setelah menyeberang jalan, kami akan menuju Museum Seni Mori untuk melihat pemandangan malam
di Hills sebelum kembali.
Karena aku
pernah datang ke sini sebelumnya, aku bisa membayangkan rute yang akan dilalui,
tapi kupikir bagi orang yang tidak familiar dengan Roppongi, hanya mendengar
nama-nama bangunan saja tidak akan cukup jelas.
Untungnya, karena ada Saki sebagai pemanduku, jadi aku tidak perlu khawatir
tersesat.
“Kalau gitu,
mari kita lihat-lihat. Mohon penjelasannya,”
“Serahkan
saja padaku.”
Dengan
begitu, aku akhirnya
menikmati 'Roppongi Art Festival' dengan panduan Saki. Setelah keluar dari tempat
parkir, kami mulai berjalan di sisi utara jalan Roppongi.
Saat kami
mulai menjelajah kembali, aku menyadari bahwa ada banyak hal yang terlewatkan.
Memang, pada kunjungan sebelumnya, itu sebelum acara dimulai, jadi meskipun ada
karya yang dipamerkan, aku mungkin tidak menyadarinya.
Meski begitu,
acara pameran ini sangat luas.
Karena
ini adalah acara berbasis jalur, kami bisa melihat karya seni sambil berjalan
santai. Banyak karya yang dipajang di alun-alun yang memungkinkan kami
berhenti, dengan sedikit keterangan di depan masing-masing karya.
Aku
penasaran tentang pekerjaan apa yang telah dilakukan Saki di acara ini, tapi
Saki lebih banyak berbicara tentang bagaimana atasannya, Ruka-san, dengan
perhatian yang halus, menentukan rute pameran karya seni, dan bagaimana dia
memilih lokasi pameran.
Daripada
membanggakan pekerjaannya, aku malah jadi lebih tahu tentang pekerjaan Akihiro Ruka-san.
“Tapi,
Saki juga sudah berusaha keras, ‘kan?”
“Aku
bisa bilang kalau aku
berusaha keras... tapi peranku hanya membantu Ruka-san. Aku tidak melakukan hal
yang terlalu besar. Ketimbang itu,
lihat, misalnya yang itu.”
Sambil
berkata demikian, dia menunjuk ke sebuah lukisan yang dipajang sedikit lebih
tinggi dari pandangan kami.
Itu
adalah lukisan abstrak yang menggabungkan lingkaran dan oval, dan sangat besar.
Mungkin lebarnya hampir 4 meter. Tingginya sekitar 2,5 meter.
“Penggunaan
warna merahnya cukup unik,”
ucapku memberi kesan.
“Itu
dia!”
Ups,
aku tidak sengaja mengeluarkan reaksi yang sangat kuat. Ternyata Saki mulai
bercerita dengan semangat tentang bagaimana dia memasang lukisan itu. Rupanya, saat melihatnya di tengah neon
malam, bagian bawah lukisan yang dipasang di dinding gedung itu sedikit
diterangi oleh cahaya merah.
Oleh
karena itu, mereka harus memasangnya kembali sekitar satu meter lebih
tinggi.
Namun,
dengan ukuran lukisan sebesar itu, meskipun hanya sedikit dipindahkan, pasti
ada banyak kesulitan bagi orang-orang yang melakukan pemasangan.
“Ruka-san
dan para seniman harus membungkuk di sana-sini, dan karena pengirimannya yang sangat mepet, itu benar-benar sangat sulit,”
Aku
mendengar bahwa itu terjadi pada hari ketika mereka pulang pagi setelah bekerja
semalaman.
Setelah
menunggu Saki selesai bercerita, aku mendekat beberapa langkah dan mengamati
karya seni dengan saksama. Karena mereka telah berusaha keras untuk menampilkan
karya ini, aku mencoba menarik beberapa kesan dari lukisan tersebut, tetapi sayangnya,
aku tidak bisa mengatakan lebih dari “terlihat
indah.” Seni modern memang sulit
dipahami. Akhirnya, aku hanya bisa berkata, “Ini indah, ya.”
“Maaf
jika kesanku cukup
sederhana,”
“Aku
juga hanya bisa memberikan kesan yang mirip. Memang seperti itu.”
Aku
mendengar suara Saki dari belakangku.
“Masa?”
“Menurut
Ruka-san, jika kita melihat karya seni dengan harapan untuk 'terkesan',
itu akan membuat kita cepat lelah, jadi dia tidak merekomendasikannya.”
Ternyata
Saki juga awalnya berjuang untuk menginterpretasi karya-karya yang dipamerkan
seperti diriku.
“Ruka-san
bilang, penting untuk terbiasa melihatnya terlebih dahulu. Jika sudah terbiasa,
kepribadian masing-masing karya akan terlihat. Dari situ, kita bisa merasakan
wajah sang seniman, kepribadian? Karakter? Hal-hal seperti itu. Jika kita
mengetahui konteks seni dan tekniknya, reaksi intuitif kita juga akan berubah.
Misalnya, seniman ini terkenal dengan cara penggunaan warna merahnya.”
“Hee begitu
rupanya...”
Jadi,
kesan pertamaku ternyata cukup akurat.
Lingkaran dan oval tersebar di atas alas berwarna kuning cerah.
Dalam cahaya yang menyilaukan, lingkaran merah yang seperti darah tampak
melompat-lompat dengan ceria.
“Dari
ciri-ciri itu, jika kita bisa membedakan karya di sana dan di sini, itu akan
menjadi menyenangkan,”
katanya.
Apa ini
mirip dengan bagaimana ilmu pengetahuan dimulai dari sejarah alam?
“Itulah
sebabnya, aku juga berusaha untuk melihat sebanyak mungkin
karya yang dipamerkan oleh seniman yang sama sebelumnya... tapi, banyak sekali.
Hanya seniman yang ikut saja lebih dari 30 orang. Jika dihitung dengan jumlah
karya masa lalu mereka, jumlahnya sudah
tidak terhitung lagi...”
Wah, itu
pasti sulit.
“Aku
sudah melihat sekitar 10 karya per orang. Tapi, itu saja tidak cukup untuk
memahami apa-apa.”
“Hanya itu
saja sudah luar biasa. Kamu
hebat.”
“Jika
aku pergi ke pameran pelukis terkenal dalam sejarah, aku bisa melihat karya
yang jauh lebih banyak. Aku merasa tidak puas dengan pengetahuan seniku yang
dangkal. Namun, berkat itu, aku bisa melihat banyak lukisan, patung, dan seni
tiga dimensi, dan itu sangat menyenangkan!”
Aku
berpikir bahwa Saki memiliki pengalaman yang baik. Suaranya yang penuh semangat
membuatku merasa sedikit iri.
Saki
mengatakan kalau dirinya hanya membantu Ruka-san, jadi dia
tidak merasakan bahwa dia telah melakukan pekerjaan itu. Aku bisa mengerti
perasaannya. Namun, kami masih mahasiswa, dan membantu pekerjaan sebesar ini saja sudah menjadi hal yang
luar biasa.
Ketika aku
mengatakan itu, Saki mengangguk.
“Wada-san
juga selalu bilang hal yang sama. Jangan terburu-buru. Pertama-tama, fokuslah
untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan dengan sebaik-baiknya.
Menyelesaikannya saja sudah cukup. Gaji akan dibayarkan di situ. Tapi—”
Suara
Saki bergema dari belakangku.
“Aku
ingin melakukan lebih dari sekadar menyelesaikan
sesuatu.”
Kata-kata
yang diucapkan dari belakangku menusuk hatiku, dan secara naluriah aku berbalik.
Dari
kejauhan, gedung-gedung Hills menjulang tinggi. Dengan
latar belakang langit malam yang hitam pekat dan gedung pencakar langit yang
berkilauan, Saki mengangkat wajahnya. Di
dalam pantulan mata Saki, ada lukisan merah yang
baru saja kulihat. Melihat Saki yang menengadah, aku merasakan déjà vu yang
entah keberapa kalinya.
Ah, ini
dia. Inilah Ayase Saki.
Sama seperti ketika
kami baru saja bertemu,
dia pernah berkata bahwa penampilannya ini merupakan
bentuk pertahanan diri.
Gaya Saki, Ayase-san, yang kuat.
Kupikir
dia telah kehilangan semua duri-duri tajam
seperti landak atau ikan buntal,
tapi ternyata tidak. Dia hanya menyembunyikan jarum-jarum itu dengan taburan
gula di antara duri-duri tersebut.
Anting-anting
di dekat telingannya bersinar terang, memantulkan cahaya malam. Rambut panjangnya yang berwarna
cerah melambai-lambai karena hembusan angin.
Dari
posisiku yang melihat Saki, aku bahkan bisa melihat bulan bersinar di antara
celah-celah gedung pencakar langit. Dalam keadaan yang terlalu sempurna itu,
aku tanpa sadar menghidupkan kamera ponsel dan mengambil gambar.
Suara
shutter yang kutekan mengejutkanku sendiri. Saki juga yang tadinya melihat ke arah lukisan, memperhatikan tanganku dengan ekspresi kaget.
“Kenapa
kamu memotret aku?”
“Ah, enggak...”
Aku tidak
bisa mengatakan bahwa aku terharu sampai-sampai memfotonya
tanpa sengaja.
“Y-Yah, karena ini pekerjaan pertama Saki. Kupikir ini bisa menjadi kenang-kenangan.”
Saki
membuat wajah aneh.
“Kalau
begitu, bukannya lebih baik kamu memotret pamerannya daripada aku?”
Masuk akal
juga.
“Ya,
kamu benar. Bagaimana kalau kita ambil foto dengan pameran yang sudah kamu
susah payahkan itu?”
Saat aku
mencoba mengubah posisi kami untuk mengambil gambar lagi, Saki dengan kuat
mengaitkan lengannya di lenganku.
“Tidak ada
gunanya kalua kita tidak berfoto bersama.”
Aku
mengambil foto diriku dan Saki dengan latar belakang lukisan
abstrak yang bergaya geometris. Setelah
melihat foto yang baru saja diambil, Saki berkata,
“Yup. Kenangan hari ini mungkin cukup
dengan satu foto ini.”
Meskipun
itu tidak mencatat kencan kami ke pantai.
Tapi, jika Saki merasa senang,
aku tidak masalah. Saki berkata sambil
mengembalikan ponselku kepadaku.
“Entah
kenapa aku merasa puas. Tapi aku baru melihat setengah dari pameran. Lalu,
bagaimana dengan sisanya? ...Yuuta?”
Aku
sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa aku mengucapkan itu.
Aku tidak
bermaksud mengatakannya pada saat itu, bahkan sampai saat itu aku belum pernah
merasakan perasaan seperti itu. Namun, aku sudah mengucapkan kata-kata
itu.
“Aku...
berpikir untuk tinggal sendiri.”
Ketika
aku perlahan-lahan mengangkat
wajahku, seperti yang kuduga, Saki tampak membeku dengan ekspresi terkejut.

