
Selingan — Riwayat Panggilan
Yuuta : "Halo?”
Saki : “Halo.
... kamu masih
hidup?"
Yuuta : “Apa itu hal
pertama yang kamu katakan?”
Saki : “Habisnya,
kamu baru meneleponku sekarang setelah membaca pesanku.”
Yuuta : “Maafin aku atas keterlambatannya.
Bukan aku yang mati, tapi Wi-Fi-nya.
Sebenarnya, aku belum pernah mengutak-atik router sendiri, jadi aku sempat kesulitan. Di rumah, ayah
selalu mengurusnya.”
Saki :
“Oh... Jadi, sekarang sudah pulih?”
Yuuta : “Entah bagaimana bisa hidup kembali.
Sepertinya tidak akan sampai menghabiskan gaji untuk biaya telepon.”
Saki : “Bagus.
... Ngomong-ngomong, kamu makan apa buat
makan malam?”
Yuuta : “Hmm,
oyakodon dari minimarket.”
Saki :
“Gizinya...?”
Yuuta : “Tenang saja, ada proteinnya kok...”
Saki :
“Sayuran?"
Yuuta : “... Ada bawang di oyakodon itu.”
Saki :
“Hah...”
Yuuta : “Tunggu. Aku baru mulai hidup
sendiri. Aku masih
dalam proses menata lingkungan kehidupanku.”
Saki :
“Yha, itu memang hakmu. Tapi... aku
khawatir kalau kesehatanmu terganggu.”
Yuuta : “... Aku akan mengingatnya.”
Saki :
“Bagus.”
Yuuta : “Bagaimana denganmu? Apa ada
perubahan di rumah?”
Saki :
“Ada. Koridornya terlalu panjang.”
Yuuta : “Kurasa
mana mungkin panjangnya
mendadak berubah...”
Saki :
“Ini soal perasaan. ... Ketika aku
pulang, tiba-tiba entah kenapa lorongnya terasa
panjang.”
Yuuta : “...........”
Saki :
“Kenapa kamu mendadak diam?”
Yuuta : “Tidak, di sini juga rasanya sepi. Hanya ada suara
mesin kulkas.”
Saki : “Apa
kamu sudah rindu dengan rumah?”
Yuuta : “Tentu saja
belum sampai segitunya. Tapi, aku mulai merasakan
keinginan untuk menyalakan TV atau smartphone. Dulu, saat di rumah, waktu sepi
itu bisa digunakan untuk membaca dengan baik. Tentu saja, perasaan menunggu
keluarga pulang dan tahu mereka tidak akan kembali itu sangat berbeda.”
Saki :
“... Mungkin aku pernah
merasakannya di masa lalu.”
Yuuta : “Saki?”
Saki : “Ah,
lupakan apa yang kubilang tadi.
... Bagaimana dengan cucian?”
Yuuta : “Sudah.”
Saki :
“Bagus sekali. Sudah dijemur?"
Yuuta : “Iya,
sudah."
Saki : “Sudah
diambil?”
Yuuta : “Tidak,
tidak, tidak. Kuharap
kamu bisa sedikit lebih percaya padaku. Saat di rumah, aku juga melakukan
bersih-bersih dan mencuci.”
Saki : “Bagaimana
dengan dapur? Apa kamu punya
spons?”
Yuuta : “...
Mungkin tidak ada.”
Saki : “Hehem~.”
Yuuta : “Kenapa
kamu kelihatan senang begitu?”
Saki : “Karena
barang-barang yang
biasa ada di rumah sekarang harus kamu
siapkan sendiri. Jadi kurasa ada
banyak hal yang mungkin kamu lupakan."
Yuuta :
“egitu.”
Saki : “Ya,
meskipun aku belum pernah tinggal sendiri. Sebelum ibu menikah lagi, aku hampir
bisa dibilang hidup
sendiri. Kamu bisa memanggilku
Sensei.”
Yuuta : “Saki-sensei, aku menantikan
bimbingan dan arahanmu yang bijak.”
Saki : “Fufufu.
Baiklah. Hehehe.”
Yuuta : “Haha.”
Saki : “........................”
Yuuta : “Saki?”
Saki : “Ya?”
Yuuta : “Apa
terasa aneh saat aku tidak ada di rumah?”
Saki : “Iya.
Meskipun pintu
kamarmu tertutup, tapi tidak ada aura kehadiranmu. Rasanya aneh.”
Yuuta : “......”
Saki : ”Apa?”
Yuuta : “Maaf.”
Saki : “Jangan
minta maaf. Itu keputusanmu. Aku tidak punya hak untuk menghentikannya.”
Yuuta : “Ya...
terima kasih.”
Saki : “...
Hmm.”
Yuuta : “Umm,
begini, aku ingin kamu menganggap ini sebagai cerita konyol sih.”
Saki : “Apa
itu?”
Yuuta : “Tadi...
aku hampir bilang 'aku pulang'.”
Saki : “...
Aku juga sama.
Aku hampir mengatakan 'selamat
datang kembali'.”
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya