Chapter 8 — Tanaka-san Badannya Harum
Sehari
setelah Tanaka-san mengundangku pada pertunjukkan
klub orkestra di acara open day
sekolah, aku sedang mengirim pesan singkat kepada
manajerku—permohonan putus asa agar hari itu tetap kosong—ketika si idiot
berotot itu, Hayashi, berjalan mendekat.
“Yo,
Nakayama, apa kamu pernah mendengar rumor ini?” ia memulai pembicaraan,
merangkul bahuku dengan lengannya yang familiar. “Jika
kau berpikir seseorang berbau harum, itu berarti dia belahan jiwamu.”
Hayashi
selalu tipe yang terlalu akrab, tetapi hari ini dia praktis menempel padaku.
Pasti ada sesuatu yang baik telah terjadi.
“Mendadak ada
apa denganmu?” tanyaku,
dengan enggan menerima umpannya. Temanku praktis bergetar karena ingin
menceritakannya padaku.
Seperti
yang kuduga, wajah Hayashi tersenyum lebar penuh kemenangan. “Jadi begini. Kemarin, aku melihat
artikel online tentang aroma. Lihat ini.”
“Hmph,
begitu,” kataku, hampir tidak melirik
ponselnya. “Coba
tebak, pasti salah satu dari Shikihime kesayanganmu wangi sekali, ya?"
“Tepat
sekali!” serunya. “Aku satu kereta dengan Haruno-san
pagi ini, dan dia wangi sekali. Itu artinya dia jodohku, kan?! Jadi, aku akan
menyatakan perasaanku padanya sepulang sekolah nanti. Kamu tahu tempat romantis yang
bagus, Nakayama?”
Ia
benar-benar termakan umpan online itu dan sekarang sedang klepek-klepek, merasa sangat yakin bahwa Haruno adalah
satu-satunya miliknya.
Namun,
kenyataan yang menyedihkan ialah
Haruno merupakan heroine utama
dalam cerita. Sangat jelas bahwa menyatakan perasaan pada gadis yang
tergila-gila pada Kaisei hanya akan berakhir dengan penolakan yang cepat dan
brutal.
Tapi,
seperti kata pepatah, cinta itu buta.
“Hei,
tunggu sebentar! Jangan terlalu gegabah,” Aku
berusaha memperingatkannya,
mencoba menariknya kembali ke kenyataan. “Bertindak
hanya berdasarkan itu terlalu terburu-buru. Kamu
bakalan cari mati doang!”
“Berisik!” Ia balas membentak, tekadnya tak
tergoyahkan. “Haruno-san
adalah takdirku. Ini akan berhasil! Hmph! Seharusnya aku tidak memberitahumu.
Aku akan mencari tempat sendiri. Tunggu saja—besok, kamu bakalan iri ketika mendengar Haruno-san
dan aku berpacaran.”
“H-Hei!”
Upaya
putus asaku untuk membujuknya berakhir sia-sia.
Hayashi keluar dari kelas dengan marah, meninggalkanku hanya bisa menggelengkan
kepala melihat kebodohannya.
Astaga,
orang itu pasti akan mati.
“Um,
apa Hayashi-kun akan baik-baik saja?”
sebuah suara khawatir bertanya dari sampingku.
Aku
berbalik dari ambang pintu yang kini kosong untuk melihat Tanaka-san menatapku
dengan keprihatinan yang tulus. Menyia-nyiakan simpatinya pada orang bodoh yang
berpikiran sederhana seperti itu… Tanaka-san benar-benar seorang bidadari. Sungguh misteri bagiku mengapa
dia tidak dipuja oleh seluruh sekolah.
“Ia
akan baik-baik saja,” aku
meyakinkannya, meskipun mungkin sedikit dingin. “Kejadian
ini bisa menjadi pelajaran yang baik baginya tentang
bahaya mempercayai semua yang kamu
baca online.”
“Kamu ternyata cukup kasar pada
teman-temanmu, Nakayama-kun,”
katanya sambil tersenyum masam.
Sifat
lembutnya tampak terganggu oleh nada meremehkanku.
Ini tidak
baik.
“Bukan
begitu masalahnya,” bantahku,
mencoba menyelamatkan situasi. “Aku
memang mencoba menghentikannya, tau.”
Kilatan
lega melintas di wajahnya. “Oh,
kalau begitu, kurasa itu tidak bisa dihindari,”
katanya, akhirnya mengalihkan pandangannya dari lorong. Aku menghela napas
pelan, menyeka keringat dingin. Aku nyaris saja kehilangan poin kasih
sayangnya.
Tepat
ketika aku mulai tenang, dia berbalik kepadaku, sedikit tergagap. “J-Jadi, omong-omong… seberapa
banyak dari apa yang kalian berdua bicarakan… yang benar-benar kredibel?”
“Seberapa
banyak? Maksudmu soal aroma tadi?”
“Ya.
Apa benar-benar lebih mudah berpacaran
dengan seseorang jika kau berpikir mereka berbau harum?” Aku tak pernah menyangka
Tanaka-san tertarik dengan pembicaraan seperti ini, tapi rupanya dia sangat
antusias.
Bagaimana
bisa dia semanis ini?
Tekadku
terasa luntur. Aku akan menuruti rasa penasarannya
selama yang dia mau. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk memulai
dengan kesimpulanku. “Kurasa
itu memang mempermudah, ya.”
Kepalanya
sedikit miring, gambaran sempurna dari rasa ingin tahu. “Apa itu karena aroma yang harum
memberikan kesan pertama yang baik?”
“Memang itu
sebagian alasannya,” jelasku.
“Tapi dalam konteks ini, 'aroma
yang harum' mungkin berarti aroma yang kamu
anggap menyenangkan dan ingin terus kamu
hirup. Jadi, itu
menjadi faktor positif yang berkelanjutan. Kamu
akan berpikir, 'Ah, orang ini wanginya enak,' atau 'Ya, aroma orang
ini benar-benar menenangkan.' Itu keuntungan yang cukup besar, bukan?”
“Begitu ya,”
katanya, ekspresinya serius saat dia
menegakkan postur tubuhnya dan mengangguk penuh pertimbangan. “Itu akan menjadi keuntungan yang
cukup besar.”
Imutnya.
“Tentu
saja,” imbuhku,
tak mampu menahan diri untuk menyindir temanku yang telah pergi, “Tapi itu takkan berarti apa-apa jika
mereka tidak menganggapmu wangi sebagai balasannya.”
Tawa
kering dan gelisah keluar dari bibirnya. “Ahaha,
itu benar, bukan?”
Maaf,
Hayashi. Sepertinya tidak ada seorang pun di sini yang bertaruh pada
kesuksesanmu. Aku memanjatkan doa dalam hati untuk temanku, yang mungkin sudah
dalam perjalanan menuju kehancurannya.
“Umm, Nakayama-kun,” Tanaka-san memulai, sedikit rasa
ingin tahu dalam suaranya, “Apa
ada bau yang tidak kamu sukai?”
“Yang tidak
kusukai, ya... Yah, aku bukan penggemar bau busuk atau
bau keringat. Dan aku benar-benar tidak tahan dengan pengharum ruangan atau
parfum yang menyengat. Berada di
dekat benda-benda itu terlalu lama membuatku merasa mual.”
“Setuju
banget!” seru Tanaka-san. “Aku benar-benar tidak suka bau pengharum ruangan untuk mobil.”
“Iya,
‘kan? Setelah lima menit, aku
harus menurunkan jendela atau aku tidak tahan.”
“Hei,
hei, kalian berdua sedang membicarakan apa?”
Norimizu-san ikut berkomentar, rasa ingin tahunya muncul saat dia bergabung
dengan lingkaran kecil kami.
“Heeh,
kecocokan aroma, ya~” gumamnya
setelah kami menjelaskan. Sambil berpegangan pada lengan Tanaka-san, dia
menambahkan, “Ta-chan,
boleh aku menghirup
sedikit?"
“Eh!?” Tanaka-san tersentak, jelas-jelas merasa bingung. “Um, kalau itu kamu, Mikoto-chan,
aku tidak keberatan, tapi…”
Tatapannya melirik antara Norimizu-san dan aku. Dia pasti merasa malu bahwa aromanya
dinilai di depan seorang pria.
“Aku
hanya—”
“Benarkah!?
Kalau begitu, permisi.” *kung**kung*
Sebelum
aku sempat campur tangan, Norimizu-san membenamkan wajahnya di leher
Tanaka-san. Sesaat kemudian, suara hiksnya bergema tanpa ampun di ruang kelas
yang sunyi.
Wah,
Norimizu-san tidak punya ampun.
“Mmm.
Badanmu wangi sekali, seperti bunga
mawar~"
“Eh!?” “Ah!” usai mendengar
komentar Norimizu-san, pipi Tanaka-san memerah seperti apel matang. Dia segera menutupi wajahnya dengan
kedua tangan, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
Pasti rasanya
memalukan kalau aroma tubuhmu dibicarakan di depan umum, ‘kan? Maaf, Tanaka-san. Aku kurang cukup cepat. Tapi tetap saja, dia sangat imut. Terlalu imut.
Serius, kerja bagus, Norimizu-san.
Aku
merasakan sedikit rasa bersalah, tetapi ekspresi malunya sangat menggemaskan
sehingga aku tidak bisa fokus pada hal lain. Aku mengacungkan jempol secara
diam-diam kepada Norimizu-san dari bawah meja.
“Astaga, ihh, Mikoto-chan, kamu jahat sekali!” protes Tanaka-san, suaranya teredam
oleh tangannya. “Melakukan
ini di depan Nakayama-kun!”
“Ah,
maaf, maaf,”
Norimizu-san terkekeh, tidak terpengaruh. “Aku
hanya sangat penasaran dengan aroma Ta-chan, aku tidak bisa menahan diri. Sebagai gantinya, kamu boleh menghirup badanku sepuasmu, oke?” Dia berpose dramatis seolah
ingin dipeluk.
“Aku
tidak membutuhkannya!”
Tapi
bukan itu yang diinginkan Tanaka-san sama sekali. Dia hanya ingin bumi
menelannya hidup-hidup.
“Tenang,
tenang, jangan terlalu emosi,”
Norimizu-san membujuk, terus mendesak. “Jadi,
Ta-chan, aku seperti apa baunya?”
“......”
Tanaka-san
menatap temannya dengan curiga, tetapi dia tampak bingung untuk membalas.
Dengan desahan pasrah, dia mencondongkan tubuh dan mendekatkan wajahnya ke
leher Norimizu-san.
“Kung*kung*.
...Kamu berbau manis, seperti karamel.”
Kesan
jujurnya sangat khas darinya—dia bahkan tidak akan berbohong dan mengatakan
temannya berbau tidak sedap atau aneh.
“Benar!
Kalau begitu kita sangat cocok. Ta-chan,
ayo kita menikah!” seru
Norimizu-san, kasih sayangnya pada sahabatnya yang imut itu tampak meluap. Dia
memeluk Tanaka-san dengan erat lagi.
“Aku
tidak akan menikahi seseorang yang menggodaku seperti ini!”
Tanaka-san
berusaha melepaskan diri, tapi dia tidak mampu melawan kekuatan Norimizu-san
yang secara mengejutkan cukup kuat. Protesnya yang berlinang air
mata sangat menggemaskan, dan aku menghabiskan sisa waktu istirahat menikmati
tontonan yuri yang indah yang mereka ciptakan.
Sebagai
catatan tambahan, Hayashi kembali sebelum jam pelajaran dimulai, sangat kecewa.
Dirinya telah ditolak mentah-mentah dan
menghabiskan waktu istirahat berikutnya dengan mengeluh, “Aku tidak akan pernah mempercayai
internet lagi!”
◇◇◇◇
Keesokan
paginya, aku mendapat
kejutan yang tidak menyenangkan.
“Ugh, yang benar saja.”
Saat aku hendak berangkat ke sekolah
dengan sepeda, aku
menyadari ban depan kempes total. Aku pasti
menabrak sesuatu yang tajam saat pulang kemarin. Setelah diperiksa lebih dekat,
aku menemukan batu kecil seukuran
kacang adzuki tertanam di karet ban.
“Haaah.
Mau bagaimana lagi. Hari ini aku
naik kereta saja.”
Aku menarik
batu itu keluar, mengambil tasku
dari keranjang, dan mulai berlari.
Seperti
yang diharapkan, suasana di starsiun tampak penuh
sesak dengan orang-orang di pagi hari. Inilah alasan mengapa aku biasanya menghindari kereta,
tetapi hari ini aku tidak punya pilihan lain.
Aku
mengeluarkan kartu IC yang selama ini tersimpan di dasar tasku dan melewati gerbang tiket. Di
peron, aku menemukan antrean terpendek dan
menunggu. Tiga menit kemudian, kereta pun
tiba.
Sempit banget!
Aku
berhasil masuk, tetapi aku hampir
tidak bisa bergerak. Bahkan mengeluarkan ponsel untuk menghabiskan waktu pun
tidak mungkin. Aku dengan
pasrah menatap ke luar jendela, menyaksikan pemandangan yang berlalu dengan
cepat.
Setelah
beberapa saat, kereta mulai bergerak lagi. Di pemberhentian berikutnya,
seolah-olah kerumunan orang sebelumnya adalah kebohongan—separuh penumpang
turun. Itu bukan daerah yang ramai atau distrik perkantoran; sepertinya hanya
kebetulan bahwa begitu banyak orang memiliki tujuan yang sama.
Saat aku
merenungkan hal ini, seorang gadis yang kukenal masuk dari gerbong sebelah.
Fuyusora?
Dia
tak lain adalah ‘Putri
Musim Dingin’ sendiri,
seorang gadis di kelasku yang konon menyaingi kecantikan Haruno. Dia mungkin
sudah muak dengan keramaian, atau mungkin tatapan terus-menerus dari para pria
sudah terlalu berat untuk ditanggung. Saat aku mengamatinya, pandangan mata kami bertemu.
Aku tahu
dia memiliki reputasi tidak menyukai pria, tapi rasanya salah untuk sepenuhnya
mengabaikan teman sekelas. Aku mengangguk pelan padanya. Yang mengejutkanku,
dia mengerutkan kening karena kesal tetapi membalas anggukan itu.
Aku
terbelalak, sepenuhnya mengharapkan untuk diabaikan. Rupanya, reputasiku di
matanya tidak seburuk yang kupikirkan, meskipun aku tidak tahu alasannya. Namun, fakta bahwa seorang
heroine utama yang biasanya memberikan respons dingin kepada pria mana pun
selain Kaisei telah memperhatikanku membuatku merasa anehnya bahagia. Sebagai
ucapan terima kasih kecil, aku memutuskan untuk membantunya.
“Kamu bisa menggunakan tempat itu,” kataku, menunjuk ke kursi dua
tempat duduk di sudut tempat aku berencana untuk duduk. “Kamu
tidak akan terlalu mencolok di sana.”
Tapi
Fuyusora Reno bukanlah tipe orang yang menerima kebaikan seperti itu begitu
saja.
“...Kamu tidak akan duduk di sebelahku, ‘kan?” tanyanya, tatapannya tajam dan
menusuk.
“Tentu saja
tidak,”
jawabku, menatap matanya secara langsung.
“Aku tidak ingin gadis yang
kusukai salah paham, jadi aku tidak akan pernah duduk denganmu, Fuyusora.”
Matanya
melebar karena terkejut, dan kemudian sebuah “heh” kecil keluar dari bibirnya. “Begitu. Kalau begitu, aku menerima tawaranmu.”
“Aku
bahkan akan mengawasi cowok-cowok aneh,”
tambahku.
“Oh,
kamu akan melakukan itu untukku?
Seperti yang diharapkan dari 'Pria Terhormat Nomor Satu di Kelas'.”
“Apa-apaan dengan julukan itu? Jangan
mengarang hal yang aneh-aneh.”
“Aku
tidak mengarangnya. Semua orang di kelas mengatakannya.”
“...Seriusan?”
Setelah
menerima informasi yang tidak diminta dan agak memalukan ini dari heroine utama, aku memegangi kepalaku.
Apa-apaan sih arti ‘pria terhormat’? Aku tidak pernah melakukan
sesuatu yang benar-benar terhormat. Rasanya mirip
seperti ketika perempuan berkata, “Dia
orang yang baik”—cukup
baik untuk menjadi teman, tetapi bukan tipe yang cocok untuk menjalin hubungan.
Ini yang
terburuk.
Saat aku
mengerang dalam hati tentang apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki citraku,
Fuyusora mulai terkekeh.
“Kamu mungkin baik-baik saja seperti
ini,” katanya, seolah membaca
pikiranku.
“Apa kamu
seorang cenayang, Fuyusora?”
tanyaku, gemetar.
Dia
menatapku dengan sangat kesal. “Tidak
juga. Kamunya
saja yang terlalu mudah ditebak.”
“Begitu.
Terima kasih atas sarannya,”
kataku, merasa sedikit malu. “Oh,
Bu, tempat ini kosong. Silakan duduk.”
Aku memberi isyarat kepada seorang wanita tua yang tampak ramah untuk duduk di
sebelah Fuyusora.
Saat aku
beranjak, aroma segar seperti mint dari Fuyusora tercium oleh hidungku. Itu
bukan tipe aroma yang kusuka. Dan untuk memperjelas, aku tidak menyimpan dendam
atas godaannya.
Setelah
memastikan Fuyusora duduk, aku meninggalkan tempat duduk dan mencari tempat
kosong lainnya. Saat itulah aku melihat seorang gadis lain yang kukenal.
“...Nenek,
jika Nenek mau, tempat duduk ini kosong.”
“...Oh
ya ampun, terima kasih. Apa kamu
menyimpannya untukku? Seharusnya kau mengambilnya sendiri.”
“...Tidak,
aku akan segera turun.”
“...Begitu
ya. Terima kasih.”
“...Sama-sama.”
Melihatnya
tersenyum lembut pada wanita tua itu sungguh seperti bidadari. Ketika
mengamati dari kejauhan, hatiku berdebar lagi karena kebaikan
dan keimutan Tanaka-san.
Aku baru
menyadarinya sekarang, tapi seperti Fuyusora, dia berada di kereta yang sama
sepanjang waktu. Aku mengutuk diriku sendiri karena kurangnya kesadaran.
Seandainya aku menyadarinya lebih awal, kami bisa berangkat ke sekolah bersama.
Tapi
menyesalinya tidak ada gunanya. Aku mencoba berjalan ke arahnya, tetapi saat
itu juga, kereta mulai bergerak lagi. Dengan pasrah, aku meraih pegangan tangan
di dekatnya dan mengeluarkan ponselku.
Setelah
menghabiskan waktu, gerbong kereta
akhirnya tiba di stasiunku—bukan yang
terdekat dengan sekolah, tapi yang tepat sebelum itu. Aku bergeser ke samping
untuk menghindari menghalangi orang dan menunggu pintu tertutup ketika aku
mendengar namaku dipanggil dari sampingku.
“...Nakayama-kun.”
“Hah!?”
Karena benar-benar
terkejut, aku menoleh untuk melihat Tanaka-san berdiri di sana.
“...Tanaka-san?
Kamu benar-benar membuatku kaget.”
“...Fufu,
aku melihatmu, Nakayama-kun, dan aku tidak bisa menahan diri. Kejutan~,” katanya, menyeringai seperti
anak kecil yang leluconnya berhasil sempurna.
Kekuatan
destruktif dari senyumannya hampir membuatku mimisan. Aku berhasil menahannya
dengan cepat melihat ke atas.
“Gah!?
Uhuk*uhuk*”
“Woah...
ka-kamu baik-baik saja!? Nakayama-kun!”
“Aku
baik-baik saja. *uhuk*
aku hanya sedikit tersedak.”
Sayangnya,
gerakan tergesa-gesaku menyebabkan darah masuk ke saluran yang salah, dan aku
tersedak hebat. Sungguh menyedihkan.
Saat aku
menyeka mulutku, merasa sedih karena mengungkapkan sisi diriku yang menyedihkan
kepada Tanaka-san, kereta berguncang hebat.
“Hah!?”
Aku sendiri baik-baik saja karena bersandar di kursi dua tempat
duduk, tetapi Tanaka-san, yang baru saja melepaskan pegangan tangan untuk
memeriksaku, kehilangan keseimbangannya.
“Wah,
hati-hati!?”
Jika dia
jatuh, dia bisa terluka. Bertindak berdasarkan refleks murni, aku mengulurkan
tangan dan menariknya ke arahku. Sebelum aku menyadarinya, dia sudah jatuh ke
pelukanku, dan sesuatu yang lembut menempel di dadaku.
Tubuhku seketika membeku.
Disengaja
atau tidak, aku memeluk gadis yang kusukai. Tak heran otakku mengalami
korsleting.
““...””
Keheningan
menyelimuti kami, hanya diisi oleh suara kereta yang ramai dan derak rel. Kedua bunyi itu, dan detak jantungku
sendiri yang sangat keras. Mau tak mau aku jadi
merasa khawatir kalau dia
juga bisa mendengarnya. Tetapi pikiran bahwa kesempatan seperti ini mungkin
tidak akan pernah datang lagi membuatku tidak bergerak.
Setelah jeda sejenak yang terasa seperti selamanya itu, Tanaka-san akhirnya
memecah keheningan. “...T-Terima kasih.”
“...Ti-Tidak,
ka-kamu tidak perlu mengucapkan
terima kasih,” aku
tergagap, mantra akhirnya terpecah. Aku segera meminta maaf dan mundur. “Maksudku, maaf. Terjadi hal yang begini. Kamu tidak menyukainya,
‘kan? Aku akan melepaskanmu sekarang.”
“Ah...
Tidak, um, bukan berarti aku tidak menyukainya,”
katanya, matanya melirik ke sana kemari. “Aku
tahu kamu melakukannya demi aku”.
Dia
memaafkanku, tapi aku tidak tahu apakah dia benar-benar jujur. Mungkin ada hal
lain yang harus kuminta maafkan.
“...Ya,
tapi aku pasti bau keringat, kan? Aku baru saja berlari ke stasiun, jadi aku
banyak berkeringat. Aku benar-benar minta maaf.”
“...Bukan...
Sebenarnya, badanmu wangi,
seperti sabun, dan, ah, um, pokoknya, aku tidak
membencinya. Ya. Sebenarnya, apa aku bau?”
“...Tidak
sama sekali. Kamu
memiliki aroma bunga yang manis dan lembut, itu menyenangkan—maksudku.
Pokoknya, aku senang jika kau tidak keberatan.”
“...Baik.”
Balasannya
yang tak terduga membuat tubuhku kembali panas, dan aku segera memalingkan
muka. Keheningan kembali menyelimuti di antara
kami, dan tetap seperti itu sampai kami tiba di
stasiun terdekat dengan sekolah.
Ingatanku
tentang saat itu samar-samar; satu-satunya hal yang dapat kuingat dengan jelas
adalah kelembutan dada Tanaka-san yang montok
dan aroma menyenangkan yang terpancar darinya.
“Hei,
Nakayama, tahu enggak? Katanya kalau kamu menganggap seseorang berbau
harum, mereka adalah jodohmu.”
“Yah,
meskipun kamu
menganggap mereka berbau harum, itu tidak ada
gunanya jika mereka tidak menganggapmu berbau harum
sebagai balasannya.”
“...Bukan
begitu... Sebenarnya, badanmu baunya
harum, seperti sabun, dan, ah, um, pokoknya, tidak tidak menyenangkan. Ya.”
“~~~~!?”
Dalam
perjalanan menuju sekolah,
percakapan kemarin dan ucapan Tanaka-san terulang kembali di benakku, dan tentu
saja aku merasa sangat tersiksa.
........................
............
........
“Ah,
Ta-chan! Selamat pagi! Kamu kelihatannya
dalam suasana hati yang sangat baik hari ini, apa terjadi sesuatu?”
“Fueh!? Ti-Tidak
terjadi apa-apa kok.”
“Pfft,
reaksimu yang begitu jelas berarti ada sesuatu yang telah terjadi. Kamu mudah ditebak,
Ta-chan.”
“Ugh,
sudah kubilang, tidak terjadi apa-apa~~
...Fufu."
“...Sudah kubilang, kamu tidak bisa menyembunyikannya. Kamu biasanya sangat bisa
diandalkan, tapi kamu sangat
ceroboh, Ta-chan. Kurasa kamu
akan seperti ini untuk sementara waktu.”
Sebelumnya | Selanjutnya

