Gimai Seikatsu Volume 16 Chapter 4 Bahasa Indonesia

Chapter 4 — Tahun Pertama Perkuliahan, Oktober, Ayase Saki

 

Tepat di hadapanku, terbentang pemandangan yang benar-benar menggambarkan Shin-Okubo. 

... aku yakin siapapun akan merasa bingung jika dikatakan begitu tiba-tiba, iya kan? Aku juga bingung. Namun, Kyouka memang mengucapkan kalimat seperti itu. 

“Ini dia, Shin-Okubo! Aku selalu berpikir begitu setiap kali turun dari kereta.” 

“Meski kamu bilang begitu, tapi baru pertama kalinya aku turun di stasiun ini...”

Teman yang kukenal sejak masuk universitas—Mizukami Kyouka—mengajakku, bersama dengan teman lain yang juga aku kenal sejak masuk universitas, Kaneko Mayu. 

Kami tiba dan melihat sekeliling di pintu keluar stasiun dengan bingung harus berbuat apa. Tidak ada gedung tinggi yang memenuhi langit seperti di Shinjuku atau Shibuya, melainkan tampak seperti toko-toko kecil yang berjejer rapat. Ada satu jalan besar yang membentang, tapi jalan-jalan lainnya tidak terlalu lebar dan toko-toko yang ada tidak memiliki keseragaman dalam penampilannya. 

“Eh, ini pertama kalinya kamu ke Shin-Okubo, Saki?” 

“Ya, bisa dibilang begitu.”

“Aku juga baru pertama kali. Aku tahu kalau tempat ini terkenal sih.”

“Mayu juga, ya? Jadi kita semua sama-sama ohatsukubo!”

Apanya yang 'ohatsukubo'? ... Apa maksudnya 'baru pertama kali ke Shin-Okubo'? Dengan cara pemendekan itu, apa sama saja antara Shin-Okubo dan Ohkubo? Meskipun aku ingin bertanya begitu, aku sudah belajar dari pengalaman bahwa itu sia-sia, jadi aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. 

“Aku sangat senang kita bertiga bisa datang! Rasanya sangat menyenangkan!”

“Kita baru saja tiba, ‘kan...”

Aku tanpa sadar menyela. 

“Bisa datang saja sudah menyenangkan!”

“Ah, iya. Baiklah.”

“Aku juga senang bisa bermain bersama kalian berdua setelah sekian lama,” kata Mayu. 

“Belakangan ini, hubungan Mayu semakin baik, ya?”

Saat Kyouka mengatakannya dengan santai, Mayu sedikit menundukkan kepalanya seolah merasa canggung. Dia sepertinya kelihatan ragu untuk mengungkapkan sesuatu. Mari kita alihkan pembicaraan. 

“Ehm, Kyouka, Mayu. Kamu bilang tempat ini terkenal, tapi kenapa bisa sampai terkenal?”

Saat seperti ini, saatnya untuk mengalihkan topik. Sambil menghubungkan pembicaraan, aku berusaha keras untuk mencari di ingatan tentang “Tempat Terkenal di Shin-Okubo”. Hmm, mungkin Kuil Inari? Tidak, karena Kyouka dan Mayu yang membicarakannya, sepertinya bukan itu. 

“Kalau mau beli kosmetik Korea, ya tempatnya di sini.” ucap Mayu. 

“Ah... Begitu ya, kosmetik.”

“Ya! Baru-baru ini, tempat ini juga terkenal dengan boks foto Korea dan makanan manisnnya! Aku sudah mencatat semuanya, jadi mari kita jelajahi semuanya!”

Kyouka mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan catatannya. Boks foto Korean print, makanan manis... Ah, aku pernah mendengar tentang tren itu.

Kyouka, yang memiliki rambut cerah berwarna oranye ashy, adalah tipe gadis yang tidak ada di SMA Suisei. Dia sangat berbeda dariku. Dia sangat menyukai tren dan sepertinya tidak bisa tenang jika tidak mengikuti semua acara yang ditujukan untuk anak muda secara langsung, bukan hanya dalam hal fesyen saja. 

“Jangan terlalu berlebihan, ya.”

Mayu, yang datang bersamaku, berkata demikian sambil sedikit mengangkat bahu dengan nada pasrah kepada Kyouka. Mayu memiliki aura yang lebih tenang dan terlihat lebih dewasa dibandingkan Kyouka. Dari yang kudengar, dia seharusnya seumuran denganku, jadi tidak ada kesan dia sedang mengulang tahun, tetapi aku merasa usia mentalnya satu atau dua tahun lebih tua. Itu terlihat dari berbagai hal, seperti bentuk tubuh, riasan, parfum, dan pakaian yang semuanya memberikan kesan dewasa. 

Namun, itu bukanlah hal yang penting. Sepertinya, aku harus bersiap untuk terus-menerus dibawa-bawa oleh Kyouka sepanjang sore ini. Kenapa semuanya bisa jadi begini? 

Pemicunya adalah kalimat Kyouka yang berkata, “Halloween sudah dekat, iya ‘kan?”. 

Dia mengatakannya dengan nada ceria, tetapi sebenarnya Halloween di Shibuya tidak semeriah dulu. Tentu saja, acara tersebut tetap ramai, tetapi karena keramaian itu, masalah yang muncul juga semakin banyak. 

Sebenarnya, aku tidak terlalu tertarik dengan kostum. Jika iti Shiori-san atau Maya, mungkin mereka akan dengan semangat mengenakan kostum penyihir atau vampir dan berjalan-jalan. Tertarik pada fesyen dan tertarik pada cosplay adalah dua hal yang berbeda. Meskipun banyak orang yang menyukai keduanya juga sih. 

Tapi, aku tidak ingin menjadi orang lain; aku hanya ingin menjadi Ayase Saki yang paling hebat. Setelah aku menjawab begitu, 

“Saki tuh serius banget ya. Padahal kamu tidak perlu memikirkannya seberat itu.”

“Aku mengerti kalau itu menyenangkan.”

Ada percakapan seperti itu, dan mungkin karena aku tidak menunjukkan minat yang besar pada Halloween, Kyouka kemudian berkata, “Tapi, aku ingin berjalan-jalan bersama semua orang. Aku ingin window shopping. Aku ingin mengambil purikura.”

Mayu juga mengatakan bahwa dia bisa ikut hari ini. 

Kalau gitu, ayo pergi ke Shin-Okubo! Dan begitulah yang terjadi. 

Tunggu, apa maksudnya? Bagaimana ini bisa terhubung secara logis? 

Meskipun aku merasa bingung, aku sendiri tidak memiliki pekerjaan di tempat Ruka-san hari ini, dan karena dia sering mengajakku, kupikir aku sebaiknya ikut dengannya. 

Ruka-san dan Wada-san juga pernah bilang, jika kamu melakukan desain, jangan sampai melewatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan hal-hal baru. 

Kami pun tiba di Stasiun Shin-Okubo. 

Jika menggunakan Jalur Yamanote, stasiun ini terletak di antara Stasiun Ikebukuro dan Stasiun Shinjuku. Hanya satu stasiun dari Shinjuku. Dari Shibuya, hanya perlu naik Yamanote ke arah luar selama sekitar 10 menit. 

Namun, aku belum pernah turun di Stasiun Shin-Okubo. Lingkunganku terbatas di sekitar Shibuya, Harajuku, Yoyogi, dan Shinjuku, dan biasanya aku sudah bisa berbelanja di sana. Jadi, bisa dibilang inilah pengalaman pertamaku di Shin-Okubo. 

Aku melihat sekeliling dengan seksama. Ada banyak papan nama toko yang ditulis dalam huruf Hangul.

Aku hanya mengetahuinya sebagai pengetahuan. Di daerah ini, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai toko dari berbagai wilayah Asia telah berkumpul. Aku yakin ada tempat yang disebut “Kota Etnik”. Etnik berarti sesuatu yang berkaitan dengan budaya asing. Melihat orang-orang yang berjalan, banyak kelompok yang tampaknya adalah wisatawan. 

Dan sekarang, Kyouka sedang menarik lenganku dan Mayu untuk masuk ke dalam toko yang memiliki papan nama bertuliskan Hangul, yaitu toko kosmetik Korea. Seperti yang dikatakan Mayu, Korea terkenal dengan kosmetik—cosmetic, atau dalam artian, produk kecantikan. 

Setelah masuk ke dalam toko, pengunjungnya didominasi oleh wanita. Usianya bervariasi, mungkin karena sekarang adalah waktu pulang sekolah, ada juga yang tampak seperti siswi SMA dengan baju seragam mereka. Melihat itu, aku merasa aneh dan nostalgia, padahal hanya beberapa bulan yang lalu aku juga mengenakan seragam yang sama. Mereka berbicara dengan nada suara sedikit tinggi, penuh semangat. 

Aku tidak bisa kembali ke masa itu. Namun anehnya, tidak ada rasa sakit, hanya ada fakta yang tidak bisa diubah yang memang ada di sana. 

Setelah berkeliling di dalam toko, kami kemudian masuk ke toko yang memiliki mesin purikura. 

Aku yang tidak suka foto, sebenarnya tidak terlalu paham tentang purikura. Oleh karena itu, banyak mesin yang ada di sana sangat berbeda dari pengetahuanku yang sudah usang, dan aku merasakan sedikit kejutan budaya. Dalam ingatanku, purikura identik dengan foto yang sudah diedit, tetapi Kyouka berkata, “Saki, informasimu sudah ketinggalan zaman!” dan aku merasa sedikit murung. Ternyata, purikura Korea yang sekarang tidak melakukan pengeditan wajah yang berlebihan. 

Ada berbagai jenis mesin yang tersedia. Salah satunya ialah mesin yang menampilkan empat foto secara vertikal, terlihat seperti komik empat panel. Aku terus terkejut dengan hal-hal baru yang ada. Ketika aku bertanya, “Ini apa?” sambil mengernyitkan dahi, itu adalah mesin purikura yang disebut elevator puri. Mayu juga terlihat kebingungan di sampingku. 

Menurut penjelasan Kyouka, foto yang diambil akan terlihat seolah-olah diambil di dalam elevator yang nyata. Kenapa harus ada pengaturan aneh seperti itu untuk mengambil foto? 

“Perhatikan posisi kameranya,” kata Kyouka. 

Ketika aku melihat ke arah yang ditunjuk Kyouka, aku melihat lensa berada di bagian atas dalam kotak yang terlihat seperti elevator logam. Mungkin seperti kamera pengawas di dalam elevator. 

Gambar kami yang ditampilkan di monitor juga diambil dari sudut sedikit miring ke atas. 

Ah... aku mengerti. 

“Efek wajah kecil.”

“Betul sekali!”

Kyouka langsung menimpali, sementara Mayu masih terlihat bingung. “Apa itu?”

“Ketika mengambil foto, jika diambil dari bawah, kaki kita akan terlihat lebih panjang. Sebaliknya, jika diambil dari atas seperti itu, area dagu akan terlihat lebih kencang dan wajah terlihat lebih kecil. Tarik dagu ke belakang—”

Aku mencoba menarik dagu di depan kamera. Dengan sedikit memiringkan wajah dan mengubah posisi bayangan, wajahku terlihat lebih kencang (penting untuk memeriksa di cermin mana yang terlihat lebih imut, baik dari kanan maupun kiri). 

“──Jika difoto seperti ini, garis wajah kita akan terlihat lebih ramping, jadi disarankan begitu jika kamu ingin mendapatkan foto yang bagus,” aku menjelaskan padanya. 

“Disarankan di mana?” tanya Mayu. 

“Sebuah buku yang ada di tempat kerja paruh waktuku dulu.” 

Karena kadang-kadang aku menggunakan foto model sebagai bahan, aku juga mengumpulkan pengetahuan tentang hal-hal seperti itu setiap hari. 

“Ehhh~~ Saki, kamu tahu banyak tentang hal-hal seperti ini, ya?”

Kyouka berkata begitu, tetapi pengetahuanku tentang kamera mungkin masih di level bayi dibandingkan dengan desainer-desainer di seluruh negeri. Aku justru lebih tertarik pada bagaimana purikura ini bisa diambil. 

Sepertinya Mayu juga merasakan hal yang sama dan berkata,”"Terdengar menarik. Aku ingin mencobanya.” 

Kyouka mengangguk seolah setuju. 

“Jadi, Saki juga ikutan, ya?”

“Ah, iya.”

“Syukurlah!”

“Eh? Kenapa kamu merasa bersyukur?”

“Habisnya, karena saat kita makan siang, kadang-kadang wajahmu terlihat tegang saat kita berfoto.”

Aku sedikit terkejut mendengar Kyouka berkata begitu. Memang, sampai aku SMA, aku tidak suka difoto. Aku merasa canggung. Hingga kini, aku masih merasa tegang ketika ada kamera yang mengarah ke arahku. Tapi aku tidak menyangka Kyouka bisa melihat itu. 

“Baiklah, mari kita berfoto bersama!”

Jadi begitulah, kami bertiga mengambil foto purikura bersama, dan setelah itu kami mengunjungi beberapa toko rekomendasi Kyouka sebelum masuk ke sebuah toko makanan manis yang trendi. 

Kami menemukan meja untuk empat orang di sudut toko dan langsung duduk di sana. Sambil mengobrol dan saling menunjukkan purikura yang telah diambil, pesanan kami pun tiba. 

Memang, semua makanan manis yang disajikan tampaknya sesuai dengan selera Kyouka dan sangat Instagramable. Ada minuman berwarna mirip biru Hawaii, dan makanan yang terdiri dari marshmallow panggang dan cokelat yang diapit oleh Oreo. Warna dan penampilannya sangat berbeda dari yang biasa kumakan, jadi rasanya cukup menyegarkan. 

Dan yang lebih penting, rasanya enak. 

Sambil menikmati rasa manis dan berbincang tentang hal-hal lain, Kyouka tiba-tiba mengungkapkan, “Senang sekali bisa datang bertiga! Mayu, hingga baru-baru ini kita sama sekali tidak bisa menjadwalkan waktu bersama, kan?” 

Aku juga berpikir begitu. 

Sebelum liburan musim panas, Mayu sering menolak undangan kami dengan mengatakan, “Hari ini tidak bisa”. Namun, setelah liburan musim panas berakhir, sepertinya dia lebih sering menerima undangan. Tadi kami juga membicarakan hal itu. 

“Apa ada yang terjadi?” 

Kyouka bertanya langsung. 

Mayu, yang sedang menghisap sedotan, hanya mengangkat pandangannya. Ketika dia melihat ke atas, kesan dewasanya semakin terlihat. Sedotan yang dipegang oleh bibirnya yang sedikit berisi sangat mencolok. Ketika dia melepaskan sedotan, ada sedikit jejak lipstik merah yang tertinggal. 

Kupikir dia akan tertawa dan mengalihkan pembicaraan. Dia sebelumnya tidak banyak bicara. Namun, Mayu mulai berbicara, “Sebenarnya...” 

“Aku mulai sedikit menguranginya.”

Sebelum aku sempat bertanya apa yang dimaksudnya, Kyouka berkata, “Eh, masa?” dan melanjutkan dengan “Enggak nyangka.” Aku pun menyadari bahwa Kyouka sudah mengerti hanya dari kalimat itu. Aku sendiri masih merasa bingung. 

Apa yang harus kulakukan? Apa aku boleh bertanya? Wajah cemas Kyouka saat pertama kali membahas topik ini terbayang di benakku. Mungkin Kyouka membaca ekspresiku, dia menurunkan suaranya dan berkata.

“Itu loh, tentang perkara Papa. Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya.” 

Aku tersentak tanpa sadar. Setelah itu, aku melihat sekeliling dengan hati-hati. Untungnya, ada cukup jarak antara meja-meja, dan suara ramai para siswi SMA cukup keras sehingga tidak ada yang mendengar percakapan kami.

Benar juga. Aku pernah mendengar kalau Mayu terlibat dalam apa yang disebut [Papa Katsu]—seperti yang dijelaskan Kyouka, yaitu “kegiatan bantuan yang didasarkan pada kesepakatan antara wanita muda yang ingin mendapatkan dukungan finansial dan pria muda yang ingin memberikan dukungan.”

Awalnya, aku khawatir Mayu mungkin hidup dalam kesulitan sehingga harus menerima bantuan, tetapi dia sendiri dengan santai mengatakan, “Aku menginginkan uang, jadi aku melakukan pekerjaan paruh waktu yang bisa menghasilkan banyak dalam waktu singkat.” 

Masalahnya justru isi pekerjaan itu sendiri. Setelah berdiskusi dengan Kyouka dan Mayu, aku mencoba mencari tahu batasan yang bisa kulakukan. Pertemuan di akhir pekan, berbincang ringan dengan pasangan, makan bersama, dan selesai. Ada juga yang seperti itu... sepertinya. Namun, ada kalanya semuanya tidak berakhir di situ saja. 

Aku bisa membayangkannya. Ketika aku pertama kali bertemu Yuuta, aku juga sempat berpikir tentang kegiatan saling membantu yang mirip dengan itu. Sekarang, aku merasa ketakutan saat mengingat betapa berbahayanya jembatan yang kulalui. Karena dia terlihat dapat dipercaya, aku berani mengajukan ide begituan pada waktu itu, tetapi wajar saja jika Yuuta marah. 

Sekarang, aku merasakannya lebih dalam setelah aku benar-benar berhubungan dengan Yuuta. Meskipun kami sudah bersiap dan menggunakan alat kontrasepsi, aku masih merasa khawatir di dalam hati. Meskipun aku berpikir bahwa aku sudah mengelola risiko dan siap, rasa takut tersebut masih tetap ada. Apalagi jika harus berkencan dengan seseorang yang hanya kutemui melalui aplikasi perjodohan, rasanya sudah cukup menakutkan. 

“Selama liburan musim panas, ada banyak hal yang terjadi...” 

Mayu berkata pelan. 

“Oh! Ceritakan lebih detail tentang 'banyak hal' yang dimaksud!”

Kyouka kelihatan antusias. 

“Mayu-tan, demi ilmu pengetahuan, beritahu kami dong!”

“Umm... hmm...” 

Suara Mayu yang sepertinya hendak berbicara terhenti karena suara Kyouka yang penuh rasa ingin tahu. Melihat wajah Mayu yang bingung, aku tanpa berpikir langsung berkata. 

“Kyouka.”

Kyouka terkejut dan menarik tubuhnya dari meja. 

“Ini bukan hal yang boleh ditanyakan karena rasa penasaran saja, oke?” 

“Ugh...”

Wajah Kyouka seketika tampak ingin menangis mendengar nada suaraku yang dingin. Melihat wajahnya, aku menutupi wajah dengan kedua tangan dan menunduk kepalaku di meja. 

Aku sudah membuat kesalahan. Di dalam pikiranku, Ruka-san yang ada di dalam kepalaku mengangkat bahu dengan ekspresi “Itu ‘kan.” Aku baru saja menyatakan niat untuk memperbaiki kebiasaanku yang impulsif dan tidak memikirkan konsekuensi sebelum berbicara... 

“L-Loh? Kenapa malah Saki yang merasa tertekan dan bukannya aku?” 

Suara Kyouka terdengar di telingaku. Namun, perhatian aku lebih tertuju pada pernyataanku sendiri. 

“Aku merasa seolah-olah baru saja dijatuhi vonis bersalah dalam pengadilan pikiran.” 

“Eh? Apa-apaan itu?”

Kyouka yang seharusnya hampir menangis berkata dengan suara bingung. Ah, aku merasa malu dan tidak berani mengangkat wajahku. Seharusnya ada cara lain untuk mengatakannya. 

Aku sudah bukan remaja lagi, jadi seharusnya aku tidak keberatan untuk menerima baik yang baik maupun yang buruk. Aku berpikir untuk berhenti dengan mudah menolak tindakan orang lain yang berbeda dari diriku dengan nilai-nilai yang kumiliki. Aku sendirilah yang harus bertanggung jawab atas tindakanku sendiri. Aku tidak berhak memaksakannya pada orang lain. 

Hal ini membuatku tidak berbeda dengan diriku yang di kelas satu SMA hanya bergaul dengan Maya dan menolak semua orang yang mendekat... 

Suara Mayu sampai ke telingaku yang tertunduk. 

Saki tuh memang baik sekali ya... Hmm, atau mungkin tidak. Mungkin dia orang yang menghargai keadilan.

Suara Mayu yang lembut tidak lagi mengandung keraguan seperti saat dia mengatakan Selama liburan musim panas, banyak hal dengan canggung. Dia adalah Mayu yang biasanya. 

“Apa maksudmu?

Suara Kyouka juga kembali seperti biasanya. Tidak, kamu harus sedikit lebih berhati-hati. 

Ini tentang tidak langsung menolak bahkan tindakan yang mencoba menggali urusan pribadi teman hanya karena rasa penasaran.

Umm... maaf. Aku sangat penasaran.

Kyouka mengeluarkan suara penyesalan. 

Tidak apa-apa. Aku tahu Kyouka tidak berniat buruk. Tapi yang lebih penting lagi, Saki, angkat wajahmu. Kamu tidak perlu merasa terpuruk seperti itu, kan? Kamu hanya menghentikan teman yang terjun telanjang ke ladang ranjau. 

Setelah Mayu mengatakan itu, akhirnya aku mengangkat kepalaku. 

Yah, sedikit... aku juga punya banyak hal, ya. Maaf. 

Setelah menundukkan kepala, Mayu menatapku dengan lembut dan berkata, 

Kalau dipikir-pikir, seharusnya aku yang paling perlu minta maaf dalam cerita ini...

Benarkah?

“Sudah kuduga Kyouka akan mengatakan itu. Tapi, kurasa dari sudut pandang masyarakat, 'hal-hal seperti itu' tidak disukai, kan? 

Aku tidak melakukannya, tapi tidak masalah jika orang lain melakukannya.

Begitu ya. Yah, seharusnya aku akan menceritakan ini sebagai lelucon kepada Kyouka. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana Saki akan menerimanya.

Aku?

Ya. Jadi, jika kamu tidak menyukai obrolan yang seperti ini, beri tahu saja. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi padamu.

...Aku baik-baik saja.

Setelah itu, kami sedikit mendekatkan wajah agar tidak terdengar oleh orang lain, dan aku serta Kyouka mendengarkan cerita Mayu. Cerita yang disampaikan Mayu adalah tentang pengalaman Papa katsu”-nya yang tidak bisa kubayangkan. 

Jika dirangkum secara singkat, beginilah yang terjadi pada Mayu selama liburan musim panas.

Setelah lama tidak bertemu, dirinya dipanggil oleh Papa—dan mereka sepakat untuk bertemu di Hawaii. 

Seriusan, dari ceritanya saja sudah melampaui pemahamanku. 

Apa maksudnya dia dan Papanya bertemu di luar negeri? Selain itu, tiket pesawat dan hotel di sana semua disiapkan oleh Papanya. Artinya, itu adalah ajakan untuk berlibur. Untungnya, Mayu yang sudah memiliki paspor dari perjalanan sekolah di SMA, meskipun sedikit bingung, mengikuti ajakan untuk pergi ke Hawaii. 

Lalu, ketika dirinya tiba di hotel, anehnya Papanya tidak ada di kamar itu. Dia menginap di kamar lain di hotel yang sama. Saat Mayu berpikir ada yang aneh, ternyata di kamar Papanya ada istri dan anak-anaknya. 

Dengan kata lain, Papanya itu datang ke Hawaii untuk liburan keluarga. 

Kemudiam, si Papa bilang istrinya dan anak-anaknya pergi bermain, lalu mengunjungi kamar Mayu untuk makan, dan melakukan hal-hal lebih dari itu... 

“Kurasa ia tipe yang menyukai risiko, ya, ucap Kyouka, tapi itu adalah keadaan mental yang tidak bisa kupahami. 

Meskipun itu kamar Mayu, mereka berada di hotel yang sama, jadi ada kemungkinan orang lain akan melihatnya keluar masuk kamar. Jika kebetulan bertemu, bisa jadi situasi yang sangat kacau, jadi kenapa melakukan hal seperti itu? Apalagi, lawannya adalah seorang pria paruh baya yang memiliki kedudukan. 

“Uwahh, parah banget. Aku mengerti kalau ada risiko membuatnya lebih menarik, tapi yang begitu sih sudah keterlaluan.

Umm... aku tidak bisa memahaminya.

“Iya ‘kan?

Benarkah? Kalian berdua tidak pernah merasakan perasaan seperti itu?

Saat aku ingin menjawab tidak, aku mendadak teringat. Kalau dipikir-pikir, saat aku melakukannya pertama kali dengan Yuuta, meskipun mereka sedang tidur, keluargaku ada di rumah. Mungkin... aku juga tanpa sadar mencari sensasi seperti itu. Tidak, tidak, itu berbeda. Itu hanya masalah waktu. Aku tidak perlu membayar mahal untuk pergi ke daerah hotel yang tidak aman, aku hanya ingin merasakan kedekatan di rumah yang tenang dan aman. 

Yah, aku tidak peduli dengan psikologi seperti itu. Jika itu membuatnya lebih bergairah, biarlah ia sendiri yang mengambil risikonya. Bagiku, jika ketahuan, itu hanya akan mengurangi satu pelanggan.

...... Hmm.

Mayu tuh terlihat seksi, kamu kelihatan seperti gadis yang banyak kelembapannya, tapi padahal sebenarnya sangat kering. 

Jangan membicarakan orang seolah-olah aku ini ikan kering." 

"Gadis ikan kering! Bukannya itu agak jadul?

Pertama-tama, penggunaan istilah itu saja sudah salah.

Sambil mendengarkan percakapan Mayu dan Kyouka yang seperti lelucon, aku berpikir apa orang benar-benar mencari sensasi dalam cinta. Yah meskipun, saat aku mengalami kekurangan nutrisi Asamura Yuuta, aku pernah meminta pelukan Yuuta di rumah orang tua kami. Itu bukan karena aku ingin merasakan rasa bersalah. 

Yah, apapun alasannya, kupikir itu adalah tindakan yang sangat buruk. Manusia adalah makhluk hidup, jadi memiliki hasrat seksual itu wajar. Dan jika tidak bisa melepaskannya di dalam rumah, mencari sensasi di luar juga bisa dimengerti. Tapi, melakukannya di tempat yang bisa membuatnya dipergoki keluarga—itu sangat buruk! Benar-benar brengsek! Bersalah!

Kyouka berbicara dengan semangat yang tidak biasa. 

Aku tidak peduli apa yang orang lain lakukan, tapi jika ia orang yang seperti itu, aku tidak ingin Mayu bertemu dengannya.

Dan setelah mendengar kata-kata itu, aku berpikir bahwa dalam arti tertentu, Kyouka lebih dewasa daripada diriku. Kyouka tidak mencoba mengikat Mayu dengan etika pribadinya. Dalam arti tertentu, dia membiarkannya. Namun, dia dengan tegas menyampaikan perasaannya bahwa dia tidak ingin temannya terluka. 

Mayu menatap temannya di sampingnya. Aku merasa ada cahaya lembut yang bersinar di matanya. 

“Menurutku, kamu lebih baik tidak melakukan pekerjaan yang berbahaya! Hidup itu berharga!

Kyouka berkata dengan tegas. Perkataannya memang sangat benar. Karena aku setuju, aku juga mengangguk di samping Kyouka. Mayu menghela napas. 

Aku merasa seperti hanya bekerja paruh waktu. Melakukan apa yang bisa kulakukan dan menerima imbalan yang sesuai untuk pekerjaanku.

Apa pekerjaan paruh waktu lainnya.... tidak bisa?

Aku terpesona oleh jumlah uang yang bisa kudapatkan. Tapi...”

Mayu perlahan menutup matanya seolah mengingat sesuatu dan mulai berbicara. Ah, begitu ya. Jadi dia ingin aku mendengar ini. 

Saat aku check-out lebih awal, aku melihat istri dan anak-anaknya di lobi hotel, dan itu membuatku sedikit agak gimana gitu.

Rasa pahit menyebar di mulutku. Aku merasa seolah-olah aku berada di sana saat itu. 

Sebelumnya, aku bahkan tidak pernah memikirkan bahwa ada keluarga dari pihak lain. Saat bekerja, aku merasa seperti berperan sebagai seseorang yang berbeda, seolah-olah aku adalah seorang aktor yang berperan saat melakukan ‘papa katsu’ dan menganggapnya sebagai tindakan yang terpisah dari kenyataan. 

—Hanya berperan sebagai diriku yang bekerja, bukan diriku yang sebenarnya

Oleh karena itu, dia tidak pernah memikirkan isi pekerjaannya secara mendalam—. 

Bukannya itu menakutkan? 

Tapi, ketika aku melihat ada keluarga di sisinya, hal-hal yang sebelumnya tidak aku pedulikan mulai menjadi perhatian... Bagiku, itu seperti panggung teater, dan mungkin bagi pria itu juga demikian, tapi bagi keluarganya, itu adalah kehidupan yang nyata dan berharga yang tidak ingin mereka hancurkan.

Sekali lagi, napas berat keluar dari mulut Mayu

Kehidupan yang berharga dan tidak ingin dihancurkan, ya. 

Yah, itu memang benar, kata Kyouka. 

Dalam kehidupan Jepang modern, meskipun ada yang namanya istri siri atau pernikahan kontrak, tidak ada yang namanya istri yang sah. Kehidupan sebagai istri siri tidak mungkin ada.

Kyouka mulai mengucapkan hal-hal yang aneh. Secara istilah, itu seharusnya merujuk pada istri yang terikat oleh hubungan perkawinan, bukan oleh hubungan darah, tapi pada dasarnya istri bukanlah hubungan darah. Ada yang pernah mengatakan bahwa hanya pasangan suami istri yang tidak memiliki ikatan darah dalam keluarga. Masalahnya bukan tentang bisa menikah dengan sepupu, tapi menikah dengan orang lain yang cukup jauh secara genetik adalah syarat dalam pernikahan modern. 

Tapi, sebenarnya pembicaraan seperti itu tidak terlalu penting. Kupikir Kyouka hanya berusaha mengubah suasana yang mulai suram dengan mengucapkan hal-hal aneh. 

“Pokoknya, jika kamu sudah memutuskan hubunganmu dengannya, maka pembicaraan ini cukup sampai di sini, katanya. 

Ya, benar, jawabku. 

Karena Kyouka merangkum pembicaraan dan Mayu mengangguk, jadi situasi itu pun berakhir. Namun, saat aku memikirkan kembali, aku sadar bahwa Mayu hanya mengatakan aku sedikit mengurangi, dan tidak lebih dari itu. 

Dengan segala yang terjadi, kami selesai makan dessert dan kemudian berpisah. 

Setelah berpisah dari Mayu yang memiliki rute berbeda, aku dan Kyouka naik kereta yang sama menuju Shinjuku

“Tapi meskipun begitu, kurasa ada juga pria yang pergi jauh-jauh ke Hawaii untuk liburan keluarga, dan kemudian mereka ingin selingkuh dari pasangan mereka saat di sana, ya?

Aku merasa bingung ketika diminta untuk merespons hal semacam itu. 

“Meski kamu bilang Pria... bukankah subjeknya terlalu umum?

Tidak, tidak. Kurasa kita tidak pernah tahu apa yang dilakukan para pria saat mereka sendirian. 

Begitu ya.

“Mantan pacarku yang sebelumnya itu anggota klub baseball yang menjabat ketua OSIS dan sekaligus penerima beasiswa di bimbel. 

“Haa.

“Ia mencoba menjalin hubungan dengan manajer di klubnya dan berhubungan badan dengan wakil ketua di ruang OSIS, serta pergi ke hotel dengan guru wanita di tempat bimbelnya.

Aku terdiam. 

Yah, itulah sebabnya kami putus.

“Be-Begitu rupanya.”

Karena aku merasa kesal, aku akan mencari pria yang lebih baik di sini! Aku akan mendapatkan pekerjaan di industri hiburan, lalu mencari pira seperti dokter, CEO, atau atlet, seseorang dengan peluang sukses terbaik! 

Saat melihat berita di dunia, aku merasa tipe seperti itu justru yang akan membuat namanya terkenal. Namun, aku merasa tidak enak jika terlalu menggeneralisasi, jadi aku memilih untuk diam agar tidak merusak semangat Kyouka. 

Kyouka melirikku sejenak. 

Bagaimana denganmu, Master? 

“Sudah kubilang, jangan panggil aku Master. Kita sebaya. Aku hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang bisa membantuku mandiri dengan baik, jawabku. 

Ah, jadi kamu tidak butuh pria... Oh, Saki bilang kalau kamu sudah punya pacar, kan? 

Yah...

Jadi, mungkin sebaiknya aku jangan terlalu sering mengajakmu? Karena kamu mungkin punya jadwal kencan dengan pacarmu, ‘kan?

Aku menggelengkan kepala dengan cepat. Sayangngnya, tidak ada rencana seperti itu minggu ini atau minggu depan. 

Saat ini, dia sibuk dengan kuliah dan pekerjaan paruh waktunya, jadi aku tidak bisa bertemu dengannya sampai dua minggu lagi.

“Jadi kamu merasa kesepian, ya?

Iya, aku merasa kesepian. Tapi, mau bagaimana lagi. Dialah yang memutuskan, dan aku sudah memutuskan untuk mendukungnya. 

Sebulan telah berlalu sejak Yuuta pindah ke apartemen dekat kampusnya

 

◇◇◇◇ 

 

 

Jadi, hari ini kita akan mengadakan perayaan pasca acara. 

Setelah sore hari, Ruka-san yang pergi ke suatu tempat kembali ke kantor. 

Beberapa hari setelah aku melakukan kunjungan ke Shin-Okubo, Ruka-san mengumumkan hal itu, dan suara sorak-sorai menggema di dalam kantor kecil kami

Jika ditanya perayaan apa yang dimaksud, tentu saja itu perayaan untuk Roppongi Art Festa. 

Acara tersebut berjalan dengan sukses, dan semua pekerjaan seperti pembongkaran dan pengangkutan karya seni juga telah selesai, termasuk ucapan terima kasih kepada semua pihak terkait, penghargaan kepada para seniman, dan pembayaran imbalan (ini adalah pihak yang dibayar, bukan yang membayar). 

Setelah itu, Ruka-san kembali ke kantor, mengumpulkan semua orang, dan mengajak untuk merayakan. 

Aku berterima kasih kepada kalian semua. Pekerjaan yang diterima oleh 'Lucca Design. Studio' kali ini sangat sukses. Terakhir, kami bahkan melibatkan semua orang di kantor. Keberhasilan ini berkat usaha semua orang.

Ruka-san bertanggung jawab dalam pengawasan desain konsep keseluruhan acara, tapi karena ini adalah pekerjaan besar, pada akhirnya semua orang membantu sambil menjalankan tugas masing-masing. Ruka-san menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih atas hal itu. 

Berkat kalian, acara ini sangat sukses. Aku tidak tahu kapan, tetapi jika ada kesempatan berikutnya, aku ingin melakukannya lagi dengan tim yang sama. 

Tim yang dimaksud adalah semua orang yang terlibat dalam suatu pekerjaan. Perusahaan desain kecil kami tidak hanya harus menyelesaikan setiap pekerjaan, tetapi juga harus berusaha agar pekerjaan tersebut dapat mengarah ke pekerjaan berikutnya—seperti yang selalu dikatakan Ruka-san dan Wada-san. 

Pekerjaan yang berhasil akan memanggil pekerjaan berikutnya—itulah yang dimaksud dengan menghasilkan hasil. 

Jika pekerjaan selesai, imbalan akan didapat. Jika menghasilkan hasil—akan ada kelanjutan. Menuju pekerjaan yang lebih besar. Dalam arti tertentu, itu mungkin lebih menggembirakan daripada sekadar kenaikan gaji. 

Tentu saja, ini tidak diwajibkan, jadi jika kalian tidak bisa datang, tidak apa-apa.”

Dia menambahkan itu dengan mempertimbangkan orang-orang yang tidak suka dengan acara minum atau yang memiliki rencana lain. Di zaman modern, memaksakan kehendak adalah bentuk pelecehan. Ruka-san mengatakan bahwa tidak masalah jika datang atau tidak, dan tidak akan ada perlakuan berbeda. 

Melihat sorak-sorai sebelumnya, sepertinya semua orang akan ikut. 

Ya, ya! Aku pasti akan ikutan! 

Seseorang mengangkat tangan dengan semangat dan sangat setuju. Dia adalah Tatsumi-san, yang dikenal sebagai pelawak di kantor dengan rambutnya yang dicat warna pink mencolok (aku juga menganggapnya begitu). Dirinya lebih tua empat tahun dariku, jadi ia pasti berusia 22 tahun. 

Tatsumi-san mengangkat tangannya dengan senyuman lebar, dan seorang wanita yang duduk di depannya menyela dengan suara rendah yang kuat, Hei. 

Kamu tidak bisa datang dengan alasan lain. Bagaimana dengan tenggat waktumu? 

Sambil berkata demikian, Satozaki Ryouko-san, yang bekerja di bagian penjualan, menatap Tatsumi-san dengan tajam. 

Wanita bagian penjualan yang duduk di sebelahku ini sangat membantuku ketika aku pertama kali magang di kantor ini. Dia memiliki sifat seperti kakak yang perhatian, jadi mungkin itulah sebabnya aku ditempatkan di sebelahnya. 

Kalau dipikir-pikir kembali, nama Ryouko-san sama dengan temanku, Satou Ryouko. Namun, Ryouko di sini tidak terasa seperti Ryou-chin

Ryouko-san, itu sih enggak bangettt. Aku pasti akan ikut berpartisipasi! 

Tidak boleh. Kamu tidak akan diizinkan berpartisipasi sampai kamu menyelesaikan apa yang sedang kamu kerjakan sekarang.

Satozaki-san memperingatkan Tatsumi-san sembari menatap tajam ke arahnya. Tatsumi-san terlihat terkejut. Memang, Satozaki-san lebih cocok dipanggil Ryouko-san daripada Ryou-chin. 

“Se-Sebentar lagi juga hampir selesai! Setelah acara minum, aku akan kembali ke kantor dan bekerja sampai pagi!

Aku akan menanyakan kemajuanmu saat jam kerja selesai. Itu tergantung pada hasilnya.

Aku akan berusaha semaksimal mungkin! Ryouko-neesan!

Tatsumi-san menjawab dengan nada seperti anak buah yang setia. 

Baiklah, lakukan yang terbaik. Aku akan sangat senang jika semua orang bisa ikut berpartisipasi.

Ruka-san berkata sambil tersenyum kaku. 

Sementara itu, bunyi notifikasi berbunyi. Ketika aku melihat laptopku, ada notifikasi email masuk. Setelah mengkliknya, aku melihat informasi tentang izakaya dekat stasiun terdekat. 

Tempat sudah dipesan. Sekarang, aku sudah mengirimkan informasi tentang restoran ke alamat kalian semua. 

Oh, terima kasih, Wada-san.

Ruka-san yang berdiri di depan semua orang berbalik dan mengucapkan terima kasih. Wada-san yang duduk di sebelah meja Ruka-san memiliki posisi setara dengan wakil presiden, tetapi entah kenapa dia hanya melakukan pekerjaan administratif. 

Dari delapan karyawan di Lucca Design, nama pertama yang kuingat adalah Wada-san, Satozaki-san, dan Tatsumi-san. 

Jadi, kami menunggu waktu kerja selesai (Tatsumi-san tidak bisa melanjutkan sampai mendapatkan izin dari Satozaki-san), dan rombongan [Lucca Design. Studio] berangkat ke izakaya dekat stasiun. 

Wada-san telah menyiapkan paket kursus nabe dengan pilihan minuman sepuasnya. Kami mengambil tempat di sudut belakang restoran persegi panjang yang bisa menampung sekitar sepuluh orang duduk berhadapan. 

“Karena Saki-chan tidak bisa minum, jadi minuman ringan saja, ya.

Yang memimpin suasana adalah Satozaki-san. 

Baik. Tolong, teh Oolong saja.

Baiklah. Selain itu—

“Toriaezunama!

Orang yang mengucapkan dengan semangat adalah Tatsumi-san dengan rambut pink-nya. Ketika aku tahu bahwa kata misterius Toriaezunama berarti aku mau pesan bir dulu, aku merasa seolah-olah terlempar ke dunia lain. Bukan berarti ada bir segar di izakaya dunia lain. Mungkin tidak ada. 

Dan pesta perayaan pun dimulai. Seperti yang diharapkan, semua orang dari kantor ikut berpartisipasi.

Jadi, total ada sembilan orang. Jika dibilang sedikit, memang sedikit, tetapi apa aku sudah mengenal semua orang dengan baik? Tidak juga. 

Aku mulai magang di kantor ini sejak bulan Mei, jadi belum genap enam bulan. Selain itu, sebagian besar waktuku terlibat sebagai sekretaris Ruka-san untuk acara Roppongi Art Festa, sehingga percakapan dengan orang lain di kantor sangat terbatas. Aku juga sering keluar untuk rapat. 

Aku merasa cukup akrab dengan Satozaki-san yang duduk di sebelahku, Tatsumi-san yang duduk di depanku, dan Higashide Yume-san yang usianya cukup dekat denganku. Selain itu, ada Wada-san yang bertugas administratif. Dengan Ruka-san sebagai presiden perusahaan, aku akhirnya bisa memahami lima orang ini. 

Tiga orang sisanya masih menjadi misteri bagiku. 

Aku hanya mengingat namanya. Ada Shimoyanagi Hidetaka-san, Abe Natsuko-san, dan Nomura Ichika. Shimoyanagi-san adalah pria, sedangkan dua lainnya adalah wanita. Shimoyanagi-san satu-satunya karyawan yang berusia tiga puluhan, sementara kedua wanita tersebut masih di usia dua puluhan. 

Jika ini buku harianku, mungkin pembaca tidak akan bisa mengingatnya jika aku mencantumkan semuanya sekaligus. Aku pun sama. 

Oleh karena itu, acara minum-minum ini bisa menjadi kesempatan yang baik. Aku ingin berbicara dengan mereka sebanyak mungkin dan mengenal mereka lebih dekat. 

Jika ini adalah perusahaan yang lebih besar, mungkin aku takkan memikirkan hal-hal seperti ini. Misalnya, jika ada seratus orang di lantai yang sama, jumlah kenalan yang sudah kuingat akan melebihi yang pernah aku catat.

Ngomong-ngomong, ibuku pernah bilang bahwa dia bisa mengingat wajah semua pelanggan yang datang dan duduk di depannya. Kemampuan macam apa itu ya? Kurasa aku takkan pernah bisa melakukannya

Bartender memang hebat, atau mungkin aku merasa itu bukan untukku. 

Kerja paruh waktu di toko buku sangat membantu dalam hal ini. Pelanggan yang datang bergantian memiliki jenis kelamin dan usia yang beragam, jadi aku merasa tidak perlu berusaha keras untuk mengingat mereka. 

Dan inilah 'Lucca Design. Studio.' 

Ruka-san tampaknya ingin mengembangkan perusahaan ini lebih besar lagi, tapi aku merasa bersyukur bisa bergabung saat jumlah kami hanya sembilan orang. 

Aku bukan seorang profesional di bidang desain. Dan aku juga tidak sedang bersekolah di jurusan khusus. Universitas tempatku belajar cukup terkenal, tapi pengalaman belajar di sana tidak langsung berkaitan dengan pekerjaanku. Minatku terbagi antara etika dan desain. 

...Tiba-tiba aku teringat wajah Asisten Profesor Kudou. Mungkin aku akan bergabung di seminar beliau paling cepat dua tahun lagi, dan realistisnya mungkin tiga tahun. Apa itu akan membawa perubahan dalam rutinitas kehidupanku? 

Tapi itu urusan lain. 

Pamflet dan poster yang dibuat oleh Ruka-san merupakan pekerjaan pertama yang benar-benar menarik minatku. Setelah lulus, aku masih belum tahu arah karierku, dan aku tidak berpikir bisa dengan mudah bekerja di bidang desain, tapi aku ingin mencoba tantangan sekecil apapun untuk melihat apa yang bisa kulakukan. 

Oleh karena itu, aku perlu belajar tentang desain, jadi aku ingin bergabung dengan orang-orang di kantor yang sudah berpengalaman sebagai desainer dan menyerap sebanyak mungkin pengetahuan dari mereka. 

Dengan delapan orang, aku bisa mengingat wajah dan kepribadian mereka. 

Jadi, sekarang aku melihat sekeliling meja untuk memutuskan dengan siapa aku akan berbicara. Pertama, aku akan mengamati—. Sambil menyantap nabe yang dihidangkan, aku hanya memperhatikan orang-orang di sekitarku di awal acara minum. 

Kemudian, aku mulai melihat ciri-ciri orang-orang yang terlibat dalam percakapan, ada yang aktif berbicara dan ada juga yang jarang berbicara

Sepertinya Wada-san yang berada di posisi wakil presiden dan Shimoyanagi-san yang merupakan desainer senior di antara karyawan lainnya sedang terlibat percakapan yang hangat. 

Saat aku mendengarkan, meskipun ini acara perayaan, topik percakapan mereka tidak jauh dari pekerjaan yang sedang mereka kerjakan, seperti desain kemasan terbaru, dan percakapan mereka tidak berbeda dengan saat bekerja. Kadang-kadang, mereka menjadi bersemangat dan suara mereka meninggi.

Orang-orang lainnya sepertinya juga memiliki teman bicara yang cocok, dan biasanya pria berbicara dengan pria, sementara wanita berbicara dengan wanita. Yah, kurasa siapapun bisa membayangkannya kalau ini pasti terjadi secara alami

Sementara itu, aku duduk di antara Ruka-san di sebelah kanan dan Satozaki-san di sebelah kiri yang terus menerus membahas pendapat dan kesan tentang Roppngi Art Festa. Karena prang yang banyak berbicara adalah Ruka-san dan Satozaki-san, aku merasa seperti pengganggu, tapi mereka terus mengajukan pertanyaan, jadi aku hanya bisa menjawab, Ah, iya, benar. Saat itu memang sulit, dan berfungsi sebagai mesin penjawab

Kenapa aku harus duduk di tempat seperti ini? Mungkin karena aku adalah sekretaris Ruka-san. Yah, kurasa aku harus menahannya sampai suasana mulai tenang. 

Sekitar satu jam berlalu dengan situasi seperti itu. 

Saat aku mulai berpikir untuk berbicara dengan seseorang, hal itu terjadi ketika Tatsumi-san yang sudah sepenuhnya mabuk berdiri dan berkata ingin pergi ke toilet. 

Permisi sebentar. Aku mau lewat di belakang.

Mendengar kata-kata Tatsumi-san, Ruka-san yang duduk dekat pintu masuk membungkukkan tubuhnya ke depan. Rambut Ruka-san meskipun lebih pendek dibandingkan rambutku yang panjang, tetap tidak bisa disebut pendek, jadi tengkuk lehernya takkan terlihat kecuali dia mencondongkan badannya ke depan

Restoran izakaya yang hangat membuat Ruka-san melepas jaketnya, dan ketika dia membungkuk ke depan, lehernyajadi  terlihat. Bahkan aku yang duduk di sampingnya merasa terkejut. Tatsumi-san yang lewat di belakangnya menatap lehernya dengan ekspresi bingung. 

Setelah kembali dari toilet, Tatsumi-san kembali melewati belakang Ruka-san, lalu duduk dan dengan santai berkata, 

Ruka-san, ada bekas kemerahan di bagian belakang lehermu, apa jangan-jangan itu bekas cupang? 

Dalam sekejap, suasana menjadi hening. 

Semua mata di meja seketika tertuju ke arah Ruka-san dengan perasaan Eh?”.

Ruka-san yang mendapatkan perhatian itu tampak cemberut dan berkata.

Itu hanya gigitan serangga.

Eh? Kelihatannya beda deh. 

“Hahh? 

Uwahh Ruka-san terlihat jarang marah dengan matanya yang tajam. Bukan berarti matanya benar-benar berbentuk segitiga, tapi itu adalah ungkapan yang biasa. Jika Yuuta ada di sini, dia pasti akan menjelaskan, tetapi aku hanya ingat tatapan marah. 

Pokoknya, dia memancarkan aura tidak menyenangkan. Dia seolah-olah ingin mengatakan, Jangan berbicara lebih jauh. 

Ruka-san pasti punya pacar, kan? Lagipula, kamu sepertinya pulang sampai larut malam. Jika itu terjadi semalam, pasti sangat panas—" 

Tat. su .mi. 

Satozaki-san memanggilnya dengan suara rendah yang terdengar seperti dari dasar neraka, memisahkan namanya dengan penekanan. 

Kamu sudah terlalu mabuk. Kurasa kamu tidak seharusnya bertanya lebih banyak karena penasaran.

Suara dingin Satozaki-san sampai membuatku bergetar meskipun aku bukan orang yang terlibat. Menakutkan. Jika dibandingkan, suaraku saat menghentikan Kyouka terasa sejuk seperti air keran di musim panas. 

Uh... 

Ke sini sebentar." 

Sambil berkata demikian, Satozaki-san bergerak menuju sudut ruangan yang lebih dalam. 

Eehhhh” 

Sudahlah, ayo ke sini.

Karena tidak berani melawan Satozaki-san, jadi Tatsumi-san dengan lesu berpindah tempat duduk. Selama itu, semua orang di sekitar berhenti berbicara. Satozaki-san berdiri di pojokan dan mulai memberi ceramah kepada Tatsumi-san yang duduk bersimpuh di hadapannya. 

Setelah mereka mulai berbicara dengan jarak yang cukup jauh dari yang lain, suasana di meja perlahan kembali normal. Dalam kesempatan itu, aku diam-diam mengeluarkan ponsel dan mencari tahu tentang apa itu bekas cupang. 

Yah, aku tahu tentang bekas lipstik. Aku pernah melihatnya di manga, tanda merah yang berbentuk bibir. Namun, pernyataan Tatsumi-san dan suasana di ruangan ini sepertinya tidak bisa dijelaskan hanya dengan itu. 

Aku memasukkan kata kunci ke dalam kolom pencarian dan melihat hasilnya. Hmm? Ada yang terdengar seperti istilah medis, seperti pendarahan subkutan akibat hisapan. Apa? Pendarah… eh, pendarahan!? 

Aku buru-buru membacanya, tampaknya itu adalah perilaku romantis di mana seseorang mencium kulit pasangannya dengan erat sehingga menyebabkan pendarahan subkutan. …Kenapa mereka melakukan hal seperti itu? Tunggu, ini hanya pengetahuan dari internet. Tidak baik untuk mempercayai semuanya. Ada yang menyebutkan kalau itu bisa karena kecelakaan fatal. Apa maksudnya… 

Aku terus membaca, tetapi pada akhirnya ini hanya artikel dari internet. Banyak informasi yang tidak jelas apakah itu benar atau tidak. 

Namun, berdasarkan apa yang kuteliti secara diam-diam, tampaknya hal ini merupakan salah satu bentuk ungkapan kasih sayang. Setidaknya, itulah kesimpulan yang bisa kuambil

Jadi, aku juga mengerti mengapa Ryouko-san marah. 

Rasanya tidak pantas bagi orang asing untuk mengolok-olok perilaku cinta antara sepasang kekasih dalam kehidupan pribadi mereka. Meskipun hubungan mereka dekat satu sama lain, itu tetap merupakan bentuk pelecehan yang serius. 

Bohong rasanya jika aku bilang tidak memedulikannya. Jika itu benar-benar bekas cupang, itu berarti Ruka-san memiliki pacar. Terlebih lagi pacar yang sudah dewasa pula

Ketika aku pertama kali bertemu Ruka-san, dia berbicara sangat terbuka dengan temannya, Melissa, meskipun aku ada di sana. Aku pikir dia adalah orang yang terbuka tentang hal-hal semacam itu, tapi setelah mulai bekerja dengannya, ternyata dia adalah orang yang cukup tertutup tentang kehidupan pribadinya. 

Ahh, tapi, sudah setahun berlalu sejak konser Melissa diadakan.

Perusahaan Ruka-san juga kini mulai mendapatkan pekerjaan besar, jadi mungkin dia sedang berusaha untuk tidak membawa urusan pribadinya ke dalam pekerjaan. 

Jika memang begitu, mana mungkin Ruka-san dengan ceroboh membiarkan bekas pribadi di tubuhnya begitu saja. Bahkan hari ini, Ruka-san kembali ke kantor setelah mengunjungi beberapa klien. 

Ketika dia menginap semalaman, Ruka-san biasanya mengganti pakaian dengan celana jogger yang lusuh dan tidur dalam kantong tidur, tapi dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kelemahan saat rapat. 

Aku merasa sulit membayangkan pacar Ruka-san melakukan sesuatu yang membuatnya terbebani, terutama jika pacarnya adalah orang yang meninggalkan bekas cupang yang terlihat begitu jelas. Jika itu terjadi, Ruka-san mungkin akan mencampakkannya keesokan harinya.

Jadi, mungkin saja itu benar-benar bekas gigitan serangga persis seperti yang dikatakan Ruka-san. Namun, jika itu benar, pernyataan Tatsumi-san semakin terasa tidak peka dan tidak sopan. 

“U-Umm, aku benar-benar minta maaf… Aku mohon, jangan pecat aku. Maaf." 

Setelah ceramah selesai, Tatsumi-san duduk bersimpuh di depan Ruka-san dan memohon. 

Baiklah, tidak masalah. Tapi jangan sekali-kali melakukannya lagi.

Ruka-san tersenyum pahit sambil memberi peringatan. 

Wajah Tatsumi-san tampak tidak lagi merah, sepertinya ia sudah sadar dari keadaan mabuknya. Mungkin setelah ini, dirinya akan lebih berhati-hati agar tidak terlalu mabuk. 

Setelah acara selesai, orang-orang mulai berpisah antara yang ingin pergi ke acara kedua dan yang pulang. Karena aku tidak bisa minum alkohol, aku memutuskan untuk pulang. Aku berniat untuk kembali ke rumah. 

Meskipun aku pulang lebih awal, Yuuta tidak ada di rumah… 

Aku ingin bertemu dengannya… 

Setelah pulang, aku ingin meneleponnya. Tapi mungkin ia sudah tidur karena kelelahan

“Aku pulang, kataku dengan pelan. 

Di balik pintu masuk yang terbuka, terdapat lorong sempit. Lampunya redup dan terasa gelap serta dingin. Tidak ada suara yang menjawab sapaan selamat datangku. Ayah tiri dan ibuku pasti sudah tidur. Suara tenang yang biasanya kudengar dari Yuuta sudah menghilang sebulan yang lalu. 

Aku melepas sepatuku dan menyimpannya sebelum melanjutkan menyusuri lorong. 

Ketika melewati depan kamar Yuuta, aku tiba-tiba tergerak untuk membuka pintunya. Pintu hanya terkunci dari dalam, jadi saat ini bisa dibuka. Kadang-kadang, aku bertanggung jawab untuk membersihkannya agar tidak berdebu. Namun, karena sudah rapi, aku belum pernah melakukannya. 

Aku menyalakan lampu. Kamar Yuuta yang diterangi lampu gantung terlihat kosong, seolah-olah tidak ada orang yang tinggal di sana untuk waktu yang lama. Seakan-akan tidak ada pemiliknya yang pernah ada di sana… 

Ah, tapi tidak juga… Karena kalian masih ada di sini.

Aku mendekati rak buku yang memenuhi satu dinding dan mengelus punggung buku-buku tersebut. Memanggil buku seolah-olah mereka adalah teman yang hidup, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh diriku di masa lalu. Namun sekarang, semua buku tersebut terasa seperti bukti bahwa Yuuta pernah ada di sini. 

Di antara buku-buku yang tertata rapi, ada satu tempat yang tampak kosong, seolah-olah ada satu buku yang telah diambil. 

Ah, di sinilah.

Buku album catatan perjalananku dengan Yuuta. Tempat di mana album foto disimpan. Yuuta yang menyimpannya. Album itu ada di apartemen barunya. 

Ia bisa melihatnya setiap hari, tapi aku tidak bisa. Kenangan itu masih tetap kosong sampai aku pergi ke tempatnya dan melihatnya. Seperti celah di rak buku yang kosong ini. 

Setelah menghela napas, aku mematikan lampu dan keluar dari kamarnya

Ketika melihat ke ruang makan, ada selembar catatan di meja. 

Rupanya itu dari ibu. 

Sarapan untuk besoik sudah disiapkan, jadi kamu bisa tidur nyenyak. 

Oh tidak, pikirku sambil melihat jam dinding. Meskipun aku pulang tanpa ikut acara kedua, waktu sudah menunjukkan lebih dari jam 11 malam. Aku sudah memberitahunya bahwa aku akan pulang terlambat karena ada perayaan pasca-acara. Namun, aku seharusnya menyiapkan sarapan sebagai tugasku. 

Ketika aku melihat ke dalam kulkas, aku menemukan daging sudah dipersiapkan yang kemungkinan untuk sarapan besok dan bahkan sayur tumisan sudah dibuat. 

Ngomong-ngomong, Yuuta tidak tahu kalau daging yang sudah dipersiapkan rasanya lebih enak.”

Aku jadi mengingat hal ini. 

Yuuta sepertinya tidak pernah memasak sebelumnya, tapi setelah ayahnya menikah lagi dan tinggal bersama kami, ia mulai membantu dengan aktif. Dirinya bukan orang yang suka menghindar, hanya malas. 

Ketika aku menjelaskan tentang cara memasak yang sederhana, ia mendengarkan dengan serius, jadi aku juga senang mengajarinya.

Kami pernah membuat makanan bersama dengan akrab. 

Aku menatap dapur sistem dan memikirkan hal-hal seperti itu —gawat. Besok ada jadwal perkuliahan dari jam pertama. Aku harus cepat mandi, belajar, dan tidur… 

Jam 11 malam… 

“Kalau larut malam begini sih ia pastinya sudah tidur. Meneleponnya mungkin mengganggunya

Ketika aku pulang ke rumah, dirinya ada di sini dan aku tahu apa yang ia lakukan, tapi sekarang aku tidak tahu apa yang dilakukan Yuuta, jadi aku merasa cemas. Bagaimana jika aku tidak bisa meneleponnya sama sekali? 

Sudah kuduga—kurasa sudah saatnya. 

Keesokan harinya, setelah jadwal perkuliahan dan pekerjaan di tempat Ruka-san selesai. 

Sekitar pukul 7 malam. 

Sebelum pulang, aku memeriksa ponselku. Aku melihat kembali pesan yang kukirim setelah keputusan semalam. 

Yuuta membalas dengan jawaban, Oke. 

Baiklah, aku mengumpulkan keberanian di dalam hati. 

Dari stasiun Nakano Uesaka di mana kantor magangku berada ke stasiun Hino tempat Yuta tinggal, dibutuhkan sekitar 40 menit dengan berpindah dari jalur Marunouchi ke jalur Chuo. Memikirkan perjalanan pulang pergi, aku tidak mempunyai banyak waktu lagi. Aku keluar dari kantor dan berjalan cepat menuju stasiun kereta bawah tanah. 

40 menit kemudian. 

Aku menekan bel pintu depan unit kamar apartemen, dan kemudian aku mendengar suara yang menjawab seraya diikuti oleh suara langkah kaki yang mendekat dan pintu pun terbuka.


 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama