Chapter 4 — Tahun Pertama Perkuliahan, Oktober, Ayase Saki
Tepat di
hadapanku, terbentang pemandangan yang benar-benar menggambarkan Shin-Okubo.
... aku
yakin siapapun akan merasa bingung jika dikatakan begitu tiba-tiba, iya kan? Aku
juga bingung. Namun, Kyouka memang mengucapkan kalimat seperti itu.
“Ini dia,
Shin-Okubo! Aku selalu berpikir begitu setiap kali turun dari kereta.”
“Meski kamu
bilang begitu, tapi baru pertama kalinya aku turun di stasiun ini...”
Teman yang kukenal
sejak masuk universitas—Mizukami Kyouka—mengajakku, bersama dengan teman lain
yang juga aku kenal sejak masuk universitas, Kaneko Mayu.
Kami tiba
dan melihat sekeliling di pintu keluar stasiun dengan bingung harus berbuat apa.
Tidak ada gedung tinggi yang memenuhi langit seperti di Shinjuku atau Shibuya,
melainkan tampak seperti toko-toko kecil yang berjejer rapat. Ada satu jalan
besar yang membentang, tapi jalan-jalan lainnya tidak terlalu lebar dan
toko-toko yang ada tidak memiliki keseragaman dalam penampilannya.
“Eh, ini
pertama kalinya kamu ke Shin-Okubo, Saki?”
“Ya, bisa
dibilang begitu.”
“Aku juga
baru pertama kali. Aku tahu kalau tempat ini terkenal sih.”
“Mayu juga,
ya? Jadi kita semua sama-sama ohatsukubo!”
Apanya yang
'ohatsukubo'? ... Apa maksudnya 'baru pertama kali ke Shin-Okubo'?
Dengan cara pemendekan itu, apa sama saja antara Shin-Okubo dan Ohkubo?
Meskipun aku ingin bertanya begitu, aku sudah belajar dari pengalaman bahwa itu
sia-sia, jadi aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.
“Aku sangat
senang kita bertiga bisa datang! Rasanya sangat menyenangkan!”
“Kita baru
saja tiba, ‘kan...”
Aku tanpa
sadar menyela.
“Bisa datang
saja sudah menyenangkan!”
“Ah, iya.
Baiklah.”
“Aku juga
senang bisa bermain bersama kalian berdua setelah sekian lama,” kata Mayu.
“Belakangan
ini, hubungan Mayu semakin baik, ya?”
Saat Kyouka
mengatakannya dengan santai, Mayu sedikit menundukkan kepalanya seolah merasa
canggung. Dia sepertinya kelihatan ragu untuk mengungkapkan sesuatu. Mari kita
alihkan pembicaraan.
“Ehm,
Kyouka, Mayu. Kamu bilang tempat ini terkenal, tapi kenapa bisa sampai
terkenal?”
Saat seperti
ini, saatnya untuk mengalihkan topik. Sambil menghubungkan pembicaraan, aku
berusaha keras untuk mencari di ingatan tentang “Tempat Terkenal di
Shin-Okubo”. Hmm, mungkin Kuil Inari? Tidak, karena Kyouka dan Mayu yang
membicarakannya, sepertinya bukan itu.
“Kalau mau
beli kosmetik Korea, ya tempatnya di sini.” ucap Mayu.
“Ah... Begitu
ya, kosmetik.”
“Ya!
Baru-baru ini, tempat ini juga terkenal dengan boks foto Korea dan makanan
manisnnya! Aku sudah mencatat semuanya, jadi mari kita jelajahi semuanya!”
Kyouka
mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan catatannya. Boks foto Korean print,
makanan manis... Ah, aku pernah mendengar tentang tren itu.
Kyouka, yang
memiliki rambut cerah berwarna oranye ashy, adalah tipe gadis yang tidak ada di
SMA Suisei. Dia sangat berbeda dariku. Dia sangat menyukai tren dan sepertinya
tidak bisa tenang jika tidak mengikuti semua acara yang ditujukan untuk anak
muda secara langsung, bukan hanya dalam hal fesyen saja.
“Jangan
terlalu berlebihan, ya.”
Mayu, yang
datang bersamaku, berkata demikian sambil sedikit mengangkat bahu dengan nada
pasrah kepada Kyouka. Mayu memiliki aura yang lebih tenang dan terlihat lebih
dewasa dibandingkan Kyouka. Dari yang kudengar, dia seharusnya seumuran denganku,
jadi tidak ada kesan dia sedang mengulang tahun, tetapi aku merasa usia
mentalnya satu atau dua tahun lebih tua. Itu terlihat dari berbagai hal,
seperti bentuk tubuh, riasan, parfum, dan pakaian yang semuanya memberikan
kesan dewasa.
Namun, itu
bukanlah hal yang penting. Sepertinya, aku harus bersiap untuk terus-menerus
dibawa-bawa oleh Kyouka sepanjang sore ini. Kenapa semuanya bisa jadi
begini?
Pemicunya
adalah kalimat Kyouka yang berkata, “Halloween sudah dekat, iya ‘kan?”.
Dia
mengatakannya dengan nada ceria, tetapi sebenarnya Halloween di Shibuya tidak
semeriah dulu. Tentu saja, acara tersebut tetap ramai, tetapi karena keramaian
itu, masalah yang muncul juga semakin banyak.
Sebenarnya, aku
tidak terlalu tertarik dengan kostum. Jika iti Shiori-san atau Maya, mungkin
mereka akan dengan semangat mengenakan kostum penyihir atau vampir dan
berjalan-jalan. Tertarik pada fesyen dan tertarik pada cosplay adalah dua hal
yang berbeda. Meskipun banyak orang yang menyukai keduanya juga sih.
Tapi, aku
tidak ingin menjadi orang lain; aku hanya ingin menjadi Ayase Saki yang paling
hebat. Setelah aku menjawab begitu,
“Saki tuh
serius banget ya. Padahal kamu tidak perlu memikirkannya seberat itu.”
“Aku
mengerti kalau itu menyenangkan.”
Ada
percakapan seperti itu, dan mungkin karena aku tidak menunjukkan minat yang
besar pada Halloween, Kyouka kemudian berkata, “Tapi, aku ingin
berjalan-jalan bersama semua orang. Aku ingin window shopping. Aku ingin
mengambil purikura.”
Mayu juga
mengatakan bahwa dia bisa ikut hari ini.
Kalau gitu, ayo
pergi ke Shin-Okubo! Dan begitulah yang terjadi.
Tunggu, apa
maksudnya? Bagaimana ini bisa terhubung secara logis?
Meskipun aku
merasa bingung, aku sendiri tidak memiliki pekerjaan di tempat Ruka-san hari
ini, dan karena dia sering mengajakku, kupikir aku sebaiknya ikut dengannya.
Ruka-san dan
Wada-san juga pernah bilang, jika kamu melakukan desain, jangan sampai
melewatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan hal-hal baru.
Kami pun
tiba di Stasiun Shin-Okubo.
Jika
menggunakan Jalur Yamanote, stasiun ini terletak di antara Stasiun Ikebukuro
dan Stasiun Shinjuku. Hanya satu stasiun dari Shinjuku. Dari Shibuya, hanya
perlu naik Yamanote ke arah luar selama sekitar 10 menit.
Namun, aku
belum pernah turun di Stasiun Shin-Okubo. Lingkunganku terbatas di sekitar
Shibuya, Harajuku, Yoyogi, dan Shinjuku, dan biasanya aku sudah bisa berbelanja
di sana. Jadi, bisa dibilang inilah pengalaman pertamaku di Shin-Okubo.
Aku melihat
sekeliling dengan seksama. Ada banyak papan nama toko yang ditulis dalam huruf
Hangul.
Aku hanya mengetahuinya
sebagai pengetahuan. Di daerah ini, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai
toko dari berbagai wilayah Asia telah berkumpul. Aku yakin ada tempat yang
disebut “Kota Etnik”. Etnik berarti sesuatu yang berkaitan dengan budaya
asing. Melihat orang-orang yang berjalan, banyak kelompok yang tampaknya adalah
wisatawan.
Dan
sekarang, Kyouka sedang menarik lenganku dan Mayu untuk masuk ke dalam toko
yang memiliki papan nama bertuliskan Hangul, yaitu toko kosmetik Korea. Seperti
yang dikatakan Mayu, Korea terkenal dengan kosmetik—cosmetic, atau dalam
artian, produk kecantikan.
Setelah
masuk ke dalam toko, pengunjungnya didominasi oleh wanita. Usianya bervariasi,
mungkin karena sekarang adalah waktu pulang sekolah, ada juga yang tampak
seperti siswi SMA dengan baju seragam mereka. Melihat itu, aku merasa aneh dan
nostalgia, padahal hanya beberapa bulan yang lalu aku juga mengenakan seragam
yang sama. Mereka berbicara dengan nada suara sedikit tinggi, penuh
semangat.
Aku tidak
bisa kembali ke masa itu. Namun anehnya, tidak ada rasa sakit, hanya ada fakta
yang tidak bisa diubah yang memang ada di sana.
Setelah
berkeliling di dalam toko, kami kemudian masuk ke toko yang memiliki mesin
purikura.
Aku yang
tidak suka foto, sebenarnya tidak terlalu paham tentang purikura. Oleh karena
itu, banyak mesin yang ada di sana sangat berbeda dari pengetahuanku yang sudah
usang, dan aku merasakan sedikit kejutan budaya. Dalam ingatanku, purikura
identik dengan foto yang sudah diedit, tetapi Kyouka berkata, “Saki,
informasimu sudah ketinggalan zaman!” dan aku merasa sedikit murung. Ternyata,
purikura Korea yang sekarang tidak melakukan pengeditan wajah yang
berlebihan.
Ada berbagai
jenis mesin yang tersedia. Salah satunya ialah mesin yang menampilkan empat
foto secara vertikal, terlihat seperti komik empat panel. Aku terus terkejut
dengan hal-hal baru yang ada. Ketika aku bertanya, “Ini apa?” sambil
mengernyitkan dahi, itu adalah mesin purikura yang disebut elevator puri. Mayu
juga terlihat kebingungan di sampingku.
Menurut
penjelasan Kyouka, foto yang diambil akan terlihat seolah-olah diambil di dalam
elevator yang nyata. Kenapa harus ada pengaturan aneh seperti itu untuk
mengambil foto?
“Perhatikan
posisi kameranya,” kata Kyouka.
Ketika aku
melihat ke arah yang ditunjuk Kyouka, aku melihat lensa berada di bagian atas
dalam kotak yang terlihat seperti elevator logam. Mungkin seperti kamera
pengawas di dalam elevator.
Gambar kami
yang ditampilkan di monitor juga diambil dari sudut sedikit miring ke
atas.
Ah... aku
mengerti.
“Efek wajah
kecil.”
“Betul
sekali!”
Kyouka langsung
menimpali, sementara Mayu masih terlihat bingung. “Apa itu?”
“Ketika
mengambil foto, jika diambil dari bawah, kaki kita akan terlihat lebih panjang.
Sebaliknya, jika diambil dari atas seperti itu, area dagu akan terlihat lebih
kencang dan wajah terlihat lebih kecil. Tarik dagu ke belakang—”
Aku mencoba
menarik dagu di depan kamera. Dengan sedikit memiringkan wajah dan mengubah
posisi bayangan, wajahku terlihat lebih kencang (penting untuk memeriksa di
cermin mana yang terlihat lebih imut, baik dari kanan maupun kiri).
“──Jika
difoto seperti ini, garis wajah kita akan terlihat lebih ramping, jadi disarankan
begitu jika kamu ingin mendapatkan foto yang bagus,” aku menjelaskan padanya.
“Disarankan
di mana?” tanya Mayu.
“Sebuah buku
yang ada di tempat kerja paruh waktuku dulu.”
Karena
kadang-kadang aku menggunakan foto model sebagai bahan, aku juga mengumpulkan
pengetahuan tentang hal-hal seperti itu setiap hari.
“Ehhh~~
Saki, kamu tahu banyak tentang hal-hal seperti ini, ya?”
Kyouka
berkata begitu, tetapi pengetahuanku tentang kamera mungkin masih di level bayi
dibandingkan dengan desainer-desainer di seluruh negeri. Aku justru lebih
tertarik pada bagaimana purikura ini bisa diambil.
Sepertinya
Mayu juga merasakan hal yang sama dan berkata,”"Terdengar menarik. Aku
ingin mencobanya.”
Kyouka
mengangguk seolah setuju.
“Jadi, Saki
juga ikutan, ya?”
“Ah, iya.”
“Syukurlah!”
“Eh? Kenapa
kamu merasa bersyukur?”
“Habisnya,
karena saat kita makan siang, kadang-kadang wajahmu terlihat tegang saat kita
berfoto.”
Aku sedikit
terkejut mendengar Kyouka berkata begitu. Memang, sampai aku SMA, aku tidak
suka difoto. Aku merasa canggung. Hingga kini, aku masih merasa tegang ketika
ada kamera yang mengarah ke arahku. Tapi aku tidak menyangka Kyouka bisa
melihat itu.
“Baiklah,
mari kita berfoto bersama!”
Jadi begitulah,
kami bertiga mengambil foto purikura bersama, dan setelah itu kami mengunjungi
beberapa toko rekomendasi Kyouka sebelum masuk ke sebuah toko makanan manis
yang trendi.
Kami
menemukan meja untuk empat orang di sudut toko dan langsung duduk di sana. Sambil
mengobrol dan saling menunjukkan purikura yang telah diambil, pesanan kami pun
tiba.
Memang,
semua makanan manis yang disajikan tampaknya sesuai dengan selera Kyouka dan
sangat Instagramable. Ada minuman berwarna mirip biru Hawaii, dan makanan
yang terdiri dari marshmallow panggang dan cokelat yang diapit oleh Oreo. Warna
dan penampilannya sangat berbeda dari yang biasa kumakan, jadi rasanya cukup menyegarkan.
Dan yang
lebih penting, rasanya enak.
Sambil
menikmati rasa manis dan berbincang tentang hal-hal lain, Kyouka tiba-tiba
mengungkapkan, “Senang sekali bisa datang bertiga! Mayu, hingga baru-baru ini
kita sama sekali tidak bisa menjadwalkan waktu bersama, kan?”
Aku juga
berpikir begitu.
Sebelum
liburan musim panas, Mayu sering menolak undangan kami dengan mengatakan, “Hari
ini tidak bisa”. Namun, setelah liburan musim panas berakhir, sepertinya dia
lebih sering menerima undangan. Tadi kami juga membicarakan hal itu.
“Apa ada
yang terjadi?”
Kyouka
bertanya langsung.
Mayu, yang
sedang menghisap sedotan, hanya mengangkat pandangannya. Ketika dia melihat ke
atas, kesan dewasanya semakin terlihat. Sedotan yang dipegang oleh bibirnya
yang sedikit berisi sangat mencolok. Ketika dia melepaskan sedotan, ada sedikit
jejak lipstik merah yang tertinggal.
Kupikir dia
akan tertawa dan mengalihkan pembicaraan. Dia sebelumnya tidak banyak bicara.
Namun, Mayu mulai berbicara, “Sebenarnya...”
“Aku mulai sedikit
menguranginya.”
Sebelum aku
sempat bertanya apa yang dimaksudnya, Kyouka berkata, “Eh, masa?” dan
melanjutkan dengan “Enggak nyangka.” Aku pun menyadari bahwa Kyouka sudah
mengerti hanya dari kalimat itu. Aku sendiri masih merasa bingung.
Apa yang
harus kulakukan? Apa aku boleh bertanya? Wajah cemas Kyouka saat pertama kali
membahas topik ini terbayang di benakku. Mungkin Kyouka membaca ekspresiku, dia
menurunkan suaranya dan berkata.
“Itu loh,
tentang perkara Papa. Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya.”
Aku tersentak
tanpa sadar. Setelah itu, aku melihat sekeliling dengan hati-hati. Untungnya,
ada cukup jarak antara meja-meja, dan suara ramai para siswi SMA cukup keras
sehingga tidak ada yang mendengar percakapan kami.
Benar juga. Aku
pernah mendengar kalau Mayu terlibat dalam apa yang disebut [Papa Katsu]—seperti
yang dijelaskan Kyouka, yaitu “kegiatan bantuan yang didasarkan pada
kesepakatan antara wanita muda yang ingin mendapatkan dukungan finansial dan
pria muda yang ingin memberikan dukungan.”
Awalnya, aku
khawatir Mayu mungkin hidup dalam kesulitan sehingga harus menerima bantuan,
tetapi dia sendiri dengan santai mengatakan, “Aku menginginkan uang, jadi aku
melakukan pekerjaan paruh waktu yang bisa menghasilkan banyak dalam waktu
singkat.”
Masalahnya justru
isi pekerjaan itu sendiri. Setelah berdiskusi dengan Kyouka dan Mayu, aku
mencoba mencari tahu batasan yang bisa kulakukan. Pertemuan di akhir pekan,
berbincang ringan dengan pasangan, makan bersama, dan selesai. Ada juga yang
seperti itu... sepertinya. Namun, ada kalanya semuanya tidak berakhir di situ
saja.
Aku bisa
membayangkannya. Ketika aku pertama kali bertemu Yuuta, aku juga sempat
berpikir tentang kegiatan saling membantu yang mirip dengan itu. Sekarang, aku
merasa ketakutan saat mengingat betapa berbahayanya jembatan yang kulalui.
Karena dia terlihat dapat dipercaya, aku berani mengajukan ide begituan pada
waktu itu, tetapi wajar saja jika Yuuta marah.
Sekarang, aku
merasakannya lebih dalam setelah aku benar-benar berhubungan dengan Yuuta.
Meskipun kami sudah bersiap dan menggunakan alat kontrasepsi, aku masih merasa
khawatir di dalam hati. Meskipun aku berpikir bahwa aku sudah mengelola risiko
dan siap, rasa takut tersebut masih tetap ada. Apalagi jika harus berkencan
dengan seseorang yang hanya kutemui melalui aplikasi perjodohan, rasanya sudah
cukup menakutkan.
“Selama
liburan musim panas, ada banyak hal yang terjadi...”
Mayu berkata
pelan.
“Oh!
Ceritakan lebih detail tentang 'banyak hal' yang dimaksud!”
Kyouka kelihatan
antusias.
“Mayu-tan,
demi ilmu pengetahuan, beritahu kami dong!”
“Umm...
hmm...”
Suara Mayu
yang sepertinya hendak berbicara terhenti karena suara Kyouka yang penuh rasa
ingin tahu. Melihat wajah Mayu yang bingung, aku tanpa berpikir langsung
berkata.
“Kyouka.”
Kyouka
terkejut dan menarik tubuhnya dari meja.
“Ini bukan
hal yang boleh ditanyakan karena rasa penasaran saja, oke?”
“Ugh...”
Wajah Kyouka
seketika tampak ingin menangis mendengar nada suaraku yang dingin. Melihat
wajahnya, aku menutupi wajah dengan kedua tangan dan menunduk kepalaku di
meja.
Aku sudah
membuat kesalahan. Di dalam pikiranku, Ruka-san yang ada di dalam kepalaku
mengangkat bahu dengan ekspresi “Itu ‘kan.” Aku baru saja menyatakan niat untuk
memperbaiki kebiasaanku yang impulsif dan tidak memikirkan konsekuensi sebelum
berbicara...
“L-Loh?
Kenapa malah Saki yang merasa tertekan dan bukannya aku?”
Suara Kyouka
terdengar di telingaku. Namun, perhatian aku lebih tertuju pada pernyataanku
sendiri.
“Aku merasa
seolah-olah baru saja dijatuhi vonis bersalah dalam pengadilan pikiran.”
“Eh? Apa-apaan
itu?”
Kyouka
yang seharusnya hampir menangis berkata dengan suara bingung. Ah, aku merasa malu dan tidak berani mengangkat wajahku. Seharusnya
ada cara lain untuk mengatakannya.
Aku sudah
bukan remaja lagi, jadi seharusnya aku tidak
keberatan untuk menerima baik yang baik maupun yang buruk. Aku berpikir untuk
berhenti dengan mudah menolak tindakan orang lain yang berbeda dari diriku
dengan nilai-nilai yang kumiliki. Aku sendirilah yang harus bertanggung jawab
atas tindakanku sendiri. Aku tidak berhak memaksakannya pada orang lain.
Hal ini
membuatku tidak berbeda dengan diriku yang
di kelas satu SMA hanya bergaul dengan Maya dan menolak semua orang yang
mendekat...
Suara
Mayu sampai ke telingaku yang tertunduk.
“Saki
tuh memang baik sekali ya... Hmm, atau mungkin tidak.
Mungkin dia orang yang menghargai keadilan.”
Suara
Mayu yang lembut tidak lagi mengandung keraguan seperti saat dia mengatakan “Selama liburan musim panas,
banyak hal” dengan
canggung. Dia adalah Mayu yang biasanya.
“Apa
maksudmu?”
Suara Kyouka
juga kembali seperti biasanya. Tidak, kamu
harus sedikit lebih berhati-hati.
“Ini
tentang tidak langsung menolak bahkan tindakan yang mencoba menggali urusan
pribadi teman hanya karena rasa penasaran.”
“Umm...
maaf. Aku sangat penasaran.”
Kyouka
mengeluarkan suara penyesalan.
“Tidak
apa-apa. Aku tahu Kyouka tidak berniat buruk. Tapi
yang lebih penting lagi, Saki, angkat wajahmu. Kamu tidak perlu merasa terpuruk seperti itu, kan? Kamu
hanya menghentikan teman yang terjun telanjang ke ladang ranjau.”
Setelah
Mayu mengatakan itu, akhirnya aku mengangkat kepalaku.
“Yah,
sedikit... aku juga punya banyak hal, ya. Maaf.”
Setelah menundukkan
kepala, Mayu menatapku dengan lembut dan berkata,
“Kalau
dipikir-pikir, seharusnya aku yang paling perlu minta maaf dalam cerita ini...”
“Benarkah?”
“Sudah
kuduga
Kyouka akan mengatakan itu. Tapi, kurasa dari
sudut pandang masyarakat, 'hal-hal seperti itu' tidak
disukai, ‘kan?”
“Aku
tidak melakukannya, tapi tidak masalah jika orang lain melakukannya.”
“Begitu
ya. Yah, seharusnya aku akan menceritakan ini sebagai lelucon kepada Kyouka.
Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana Saki akan menerimanya.”
“Aku?”
“Ya.
Jadi, jika kamu tidak menyukai obrolan yang seperti ini, beri tahu saja. Aku
tidak akan pernah melakukannya lagi padamu.”
“...Aku baik-baik saja.”
Setelah
itu, kami sedikit mendekatkan wajah agar tidak terdengar oleh orang lain, dan
aku serta Kyouka mendengarkan cerita Mayu. Cerita yang disampaikan Mayu
adalah tentang pengalaman “Papa katsu”-nya
yang tidak bisa kubayangkan.
Jika
dirangkum secara singkat, beginilah
yang terjadi pada Mayu selama
liburan musim panas.
Setelah
lama tidak bertemu, dirinya
dipanggil oleh Papa—dan mereka
sepakat untuk bertemu di Hawaii.
Seriusan, dari
ceritanya saja sudah melampaui pemahamanku.
Apa
maksudnya dia dan Papanya bertemu di luar negeri? Selain
itu, tiket pesawat dan hotel di sana semua disiapkan oleh Papanya. Artinya, itu adalah ajakan untuk berlibur.
Untungnya, Mayu yang sudah memiliki paspor dari perjalanan sekolah di SMA,
meskipun sedikit bingung, mengikuti ajakan untuk pergi ke Hawaii.
Lalu, ketika
dirinya tiba di hotel, anehnya Papanya tidak ada di kamar itu. Dia
menginap di kamar lain di hotel yang sama. Saat Mayu
berpikir ada yang aneh, ternyata di kamar Papanya
ada istri dan anak-anaknya.
Dengan
kata lain, Papanya itu
datang ke Hawaii untuk liburan keluarga.
Kemudiam, si
Papa bilang istrinya dan anak-anaknya pergi bermain,
lalu mengunjungi kamar Mayu untuk makan, dan melakukan hal-hal lebih dari
itu...
“Kurasa ia
tipe yang menyukai risiko, ya,” ucap Kyouka, tapi itu adalah keadaan mental yang tidak bisa
kupahami.
Meskipun
itu kamar Mayu, mereka berada di hotel yang sama, jadi ada kemungkinan orang
lain akan melihatnya keluar masuk kamar. Jika
kebetulan bertemu, bisa jadi situasi yang sangat kacau, jadi kenapa melakukan
hal seperti itu? Apalagi, lawannya adalah seorang pria paruh baya yang memiliki
kedudukan.
“Uwahh,
parah banget. Aku mengerti kalau ada
risiko membuatnya lebih menarik, tapi yang begitu
sih sudah keterlaluan.”
“Umm...
aku tidak bisa memahaminya.”
“Iya ‘kan?”
“Benarkah?
Kalian berdua tidak pernah merasakan perasaan seperti itu?”
Saat aku
ingin menjawab tidak, aku mendadak teringat.
Kalau dipikir-pikir, saat aku melakukannya pertama kali dengan
Yuuta, meskipun mereka sedang tidur, keluargaku ada di
rumah. Mungkin... aku juga tanpa sadar mencari sensasi seperti itu. Tidak, tidak, itu berbeda. Itu hanya masalah
waktu. Aku tidak perlu membayar mahal untuk pergi ke daerah hotel yang tidak
aman, aku hanya ingin merasakan kedekatan di rumah yang tenang dan aman.
“Yah,
aku tidak peduli dengan psikologi seperti itu. Jika itu membuatnya lebih bergairah, biarlah ia sendiri yang mengambil risikonya.
Bagiku, jika ketahuan, itu hanya
akan mengurangi satu pelanggan.”
“......
Hmm.”
“Mayu
tuh terlihat seksi, kamu kelihatan seperti gadis
yang banyak kelembapannya, tapi padahal sebenarnya sangat kering.”
“Jangan
membicarakan orang seolah-olah aku ini ikan
kering."
"Gadis
ikan kering! Bukannya itu agak jadul?”
“Pertama-tama,
penggunaan istilah itu saja sudah
salah.”
Sambil mendengarkan
percakapan Mayu dan Kyouka yang seperti lelucon, aku berpikir apa orang
benar-benar mencari sensasi dalam cinta. Yah meskipun,
saat aku mengalami kekurangan nutrisi Asamura Yuuta,
aku pernah meminta pelukan Yuuta di
rumah orang tua kami. Itu bukan
karena aku ingin merasakan rasa bersalah.
“Yah,
apapun alasannya, kupikir itu adalah tindakan yang sangat buruk. Manusia adalah
makhluk hidup, jadi memiliki hasrat seksual itu wajar. Dan jika tidak bisa
melepaskannya di dalam rumah, mencari sensasi di
luar juga bisa dimengerti. Tapi, melakukannya
di tempat yang bisa membuatnya dipergoki keluarga—itu
sangat buruk! Benar-benar brengsek!
Bersalah!”
Kyouka
berbicara dengan semangat yang tidak biasa.
“Aku
tidak peduli apa yang orang lain lakukan, tapi jika ia orang yang seperti itu,
aku tidak ingin Mayu bertemu dengannya.”
Dan
setelah mendengar kata-kata itu, aku berpikir bahwa dalam arti tertentu, Kyouka
lebih dewasa daripada diriku. Kyouka
tidak mencoba mengikat Mayu dengan etika pribadinya. Dalam arti tertentu, dia
membiarkannya. Namun, dia dengan tegas menyampaikan perasaannya bahwa dia tidak
ingin temannya terluka.
Mayu
menatap temannya di sampingnya. Aku merasa ada cahaya lembut yang bersinar di
matanya.
“Menurutku,
kamu lebih baik tidak melakukan pekerjaan yang
berbahaya! Hidup itu berharga!”
Kyouka
berkata dengan tegas. Perkataannya memang sangat
benar. Karena
aku setuju, aku juga mengangguk di samping Kyouka. Mayu menghela napas.
“Aku
merasa seperti hanya bekerja paruh waktu. Melakukan apa yang bisa kulakukan dan
menerima imbalan yang sesuai untuk pekerjaanku.”
“Apa
pekerjaan paruh waktu lainnya.... tidak bisa?”
“Aku
terpesona oleh jumlah uang yang bisa kudapatkan.
Tapi...”
Mayu
perlahan menutup matanya seolah mengingat sesuatu dan mulai berbicara. Ah,
begitu ya. Jadi dia ingin aku mendengar ini.
“Saat
aku check-out lebih awal, aku melihat istri dan anak-anaknya di lobi hotel, dan itu membuatku
sedikit agak gimana gitu.”
Rasa
pahit menyebar di mulutku. Aku merasa seolah-olah aku berada di sana saat
itu.
“Sebelumnya,
aku bahkan tidak pernah memikirkan bahwa ada
keluarga dari pihak lain. Saat
bekerja, aku merasa seperti berperan sebagai seseorang yang berbeda,
seolah-olah aku adalah seorang aktor yang berperan saat melakukan ‘papa katsu’ dan menganggapnya sebagai
tindakan yang terpisah dari kenyataan.”
—Hanya
berperan sebagai diriku yang bekerja, bukan diriku yang sebenarnya.
Oleh
karena itu, dia tidak
pernah memikirkan isi pekerjaannya
secara mendalam—.
Bukannya itu
menakutkan?
“Tapi,
ketika aku melihat ada keluarga di sisinya,
hal-hal yang sebelumnya tidak aku pedulikan mulai menjadi perhatian... Bagiku,
itu seperti panggung teater, dan mungkin bagi pria itu juga demikian, tapi bagi
keluarganya, itu adalah kehidupan yang nyata dan berharga yang tidak ingin
mereka hancurkan.”
Sekali
lagi, napas berat keluar dari mulut Mayu.
Kehidupan
yang berharga dan tidak ingin dihancurkan, ya.
“Yah,
itu memang benar,” kata Kyouka.
“Dalam kehidupan Jepang modern, meskipun
ada yang namanya istri siri atau pernikahan
kontrak, tidak ada yang namanya istri yang sah. Kehidupan sebagai istri siri tidak mungkin ada.”
Kyouka
mulai mengucapkan hal-hal yang
aneh. Secara istilah, itu seharusnya merujuk pada istri yang terikat oleh
hubungan perkawinan, bukan oleh hubungan darah, tapi pada dasarnya istri
bukanlah hubungan darah. Ada yang pernah mengatakan bahwa hanya pasangan suami
istri yang tidak memiliki ikatan darah dalam keluarga. Masalahnya bukan tentang
bisa menikah dengan sepupu, tapi menikah dengan orang lain yang cukup jauh
secara genetik adalah syarat dalam pernikahan modern.
Tapi,
sebenarnya pembicaraan seperti itu tidak terlalu penting. Kupikir Kyouka hanya berusaha
mengubah suasana yang mulai suram dengan mengucapkan hal-hal aneh.
“Pokoknya,
jika kamu sudah memutuskan hubunganmu dengannya, maka pembicaraan ini
cukup sampai di sini,”
katanya.
“Ya,
benar,” jawabku.
Karena Kyouka
merangkum pembicaraan dan Mayu mengangguk, jadi situasi
itu pun berakhir. Namun, saat aku memikirkan kembali, aku sadar bahwa Mayu
hanya mengatakan “aku
sedikit mengurangi,”
dan tidak lebih dari itu.
Dengan
segala yang terjadi, kami selesai makan dessert dan kemudian berpisah.
Setelah
berpisah dari Mayu yang memiliki rute berbeda, aku dan Kyouka naik kereta yang
sama menuju Shinjuku.
“Tapi
meskipun begitu, kurasa ada juga
pria yang pergi jauh-jauh ke Hawaii untuk
liburan keluarga, dan kemudian mereka ingin selingkuh dari pasangan mereka saat
di sana, ya?”
Aku
merasa bingung ketika diminta untuk merespons hal semacam itu.
“Meski kamu
bilang Pria... bukankah subjeknya terlalu umum?”
“Tidak,
tidak. Kurasa kita tidak
pernah tahu apa yang dilakukan para pria saat mereka sendirian.”
“Begitu
ya.”
“Mantan
pacarku yang sebelumnya itu anggota klub baseball yang menjabat ketua OSIS dan sekaligus penerima beasiswa di bimbel.”
“Haa.”
“Ia
mencoba menjalin hubungan dengan manajer
di klubnya dan berhubungan badan dengan wakil ketua di ruang OSIS, serta pergi ke hotel dengan
guru wanita di tempat bimbelnya.”
Aku
terdiam.
“Yah,
itulah sebabnya kami putus.”
“Be-Begitu
rupanya.”
“Karena
aku merasa kesal, aku akan mencari pria yang lebih baik di sini! Aku akan
mendapatkan pekerjaan di industri hiburan, lalu mencari
pira seperti dokter, CEO, atau atlet, seseorang dengan
peluang sukses terbaik!”
Saat
melihat berita di dunia, aku merasa tipe seperti itu justru yang akan membuat
namanya terkenal. Namun, aku merasa tidak enak jika terlalu menggeneralisasi,
jadi aku memilih untuk diam agar tidak merusak semangat Kyouka.
Kyouka
melirikku sejenak.
“Bagaimana
denganmu, Master?”
“Sudah
kubilang, jangan panggil aku Master. Kita sebaya. Aku hanya ingin
mendapatkan pekerjaan yang bisa membantuku mandiri dengan baik,” jawabku.
“Ah,
jadi kamu tidak butuh pria... Oh, Saki bilang kalau
kamu sudah punya pacar, kan?”
“Yah...”
“Jadi,
mungkin sebaiknya aku jangan terlalu sering mengajakmu? Karena
kamu mungkin punya jadwal kencan dengan pacarmu, ‘kan?”
Aku
menggelengkan kepala dengan cepat. Sayangngnya,
tidak ada rencana seperti itu minggu ini atau minggu depan.
“Saat
ini, dia sibuk dengan kuliah dan pekerjaan paruh waktunya, jadi aku tidak bisa bertemu dengannya sampai dua minggu lagi.”
“Jadi kamu
merasa kesepian, ya?”
Iya, aku
merasa kesepian. Tapi,
mau bagaimana lagi. Dialah yang memutuskan, dan aku sudah
memutuskan untuk mendukungnya.
Sebulan telah berlalu sejak Yuuta pindah ke apartemen dekat kampusnya.
◇◇◇◇
“Jadi,
hari ini kita akan mengadakan perayaan pasca
acara.”
Setelah
sore hari, Ruka-san yang pergi ke suatu tempat kembali ke kantor.
Beberapa
hari setelah aku
melakukan kunjungan ke Shin-Okubo,
Ruka-san mengumumkan hal itu, dan suara sorak-sorai menggema di dalam kantor
kecil kami.
Jika ditanya
perayaan apa yang dimaksud, tentu saja
itu perayaan untuk ‘Roppongi Art Festa’.
Acara
tersebut berjalan dengan sukses,
dan semua pekerjaan seperti pembongkaran dan pengangkutan karya seni juga telah
selesai, termasuk ucapan terima kasih kepada semua pihak terkait, penghargaan
kepada para seniman, dan pembayaran imbalan (ini adalah pihak yang dibayar,
bukan yang membayar).
Setelah
itu, Ruka-san kembali ke kantor, mengumpulkan semua orang, dan mengajak untuk
merayakan.
“Aku
berterima kasih kepada kalian semua. Pekerjaan yang diterima oleh 'Lucca
Design. Studio' kali ini sangat sukses. Terakhir, kami bahkan melibatkan
semua orang di kantor. Keberhasilan ini berkat usaha semua orang.”
Ruka-san
bertanggung jawab dalam pengawasan desain konsep keseluruhan
acara, tapi karena ini adalah pekerjaan besar, pada akhirnya semua orang
membantu sambil menjalankan tugas masing-masing. Ruka-san menundukkan kepala
dan mengucapkan terima kasih atas hal itu.
“Berkat
kalian, acara ini sangat sukses. Aku tidak tahu kapan, tetapi jika ada
kesempatan berikutnya, aku ingin melakukannya lagi dengan tim yang sama.”
Tim yang
dimaksud adalah semua orang yang terlibat dalam suatu pekerjaan. Perusahaan
desain kecil kami tidak hanya harus menyelesaikan setiap pekerjaan, tetapi juga
harus berusaha agar pekerjaan tersebut dapat mengarah ke pekerjaan
berikutnya—seperti yang selalu dikatakan Ruka-san dan Wada-san.
Pekerjaan
yang berhasil akan memanggil pekerjaan berikutnya—itulah yang dimaksud dengan “menghasilkan hasil.”
Jika
pekerjaan selesai, imbalan akan didapat. Jika menghasilkan hasil—akan ada
kelanjutan. Menuju pekerjaan yang lebih besar. Dalam arti tertentu, itu mungkin
lebih menggembirakan daripada sekadar kenaikan gaji.
“Tentu
saja, ini tidak diwajibkan, jadi jika kalian tidak
bisa datang, tidak apa-apa.”
Dia
menambahkan itu dengan mempertimbangkan orang-orang yang tidak suka dengan
acara minum atau yang memiliki rencana lain.
Di zaman modern, memaksakan kehendak
adalah bentuk pelecehan. Ruka-san mengatakan bahwa tidak masalah jika datang
atau tidak, dan tidak akan ada perlakuan berbeda.
Melihat
sorak-sorai sebelumnya, sepertinya semua orang akan ikut.
“Ya, ya! Aku pasti akan ikutan!”
Seseorang
mengangkat tangan dengan semangat dan sangat setuju. Dia adalah Tatsumi-san,
yang dikenal sebagai pelawak di
kantor dengan rambutnya yang dicat warna pink mencolok (aku juga menganggapnya
begitu). Dirinya lebih
tua empat tahun dariku, jadi ia pasti berusia 22 tahun.
Tatsumi-san
mengangkat tangannya dengan senyuman lebar,
dan seorang wanita yang duduk di depannya menyela dengan suara rendah yang
kuat, “Hei.”
“Kamu tidak bisa datang dengan alasan
lain. Bagaimana dengan tenggat waktumu?”
Sambil
berkata demikian, Satozaki Ryouko-san, yang bekerja di bagian penjualan,
menatap Tatsumi-san dengan tajam.
Wanita bagian penjualan yang duduk di sebelahku
ini sangat membantuku ketika aku pertama kali magang di kantor ini. Dia
memiliki sifat seperti kakak yang perhatian, jadi mungkin itulah sebabnya aku
ditempatkan di sebelahnya.
Kalau
dipikir-pikir kembali, nama Ryouko-san sama dengan
temanku, Satou Ryouko. Namun, Ryouko di sini tidak
terasa seperti “Ryou-chin”.
“Ryouko-san,
itu sih enggak bangettt. Aku
pasti akan ikut berpartisipasi!”
“Tidak
boleh. Kamu tidak akan
diizinkan berpartisipasi sampai kamu
menyelesaikan apa yang sedang kamu
kerjakan sekarang.”
Satozaki-san
memperingatkan Tatsumi-san sembari menatap tajam
ke arahnya. Tatsumi-san terlihat terkejut. Memang,
Satozaki-san lebih cocok dipanggil “Ryouko-san” daripada “Ryou-chin”.
“Se-Sebentar
lagi juga hampir selesai! Setelah acara minum, aku akan
kembali ke kantor dan bekerja sampai pagi!”
“Aku
akan menanyakan kemajuanmu saat jam kerja selesai. Itu tergantung pada
hasilnya.”
“Aku
akan berusaha semaksimal mungkin!
Ryouko-neesan!”
Tatsumi-san
menjawab dengan nada seperti anak buah yang setia.
“Baiklah,
lakukan yang terbaik. Aku akan sangat senang jika semua orang
bisa ikut berpartisipasi.”
Ruka-san
berkata sambil tersenyum kaku.
Sementara
itu, bunyi notifikasi berbunyi. Ketika aku melihat laptopku, ada notifikasi
email masuk. Setelah mengkliknya, aku melihat informasi tentang izakaya dekat
stasiun terdekat.
“Tempat
sudah dipesan. Sekarang, aku sudah mengirimkan informasi tentang restoran ke
alamat kalian semua.”
“Oh,
terima kasih, Wada-san.”
Ruka-san
yang berdiri di depan semua orang berbalik dan mengucapkan terima kasih.
Wada-san yang duduk di sebelah meja Ruka-san memiliki posisi setara dengan
wakil presiden, tetapi entah kenapa dia hanya melakukan pekerjaan
administratif.
Dari
delapan karyawan di Lucca Design, nama pertama yang kuingat adalah Wada-san,
Satozaki-san, dan Tatsumi-san.
Jadi,
kami menunggu waktu kerja selesai (Tatsumi-san tidak bisa melanjutkan sampai
mendapatkan izin dari Satozaki-san), dan rombongan [Lucca Design. Studio] berangkat ke izakaya dekat
stasiun.
Wada-san
telah menyiapkan paket kursus nabe dengan pilihan minuman
sepuasnya. Kami mengambil tempat di sudut
belakang restoran persegi panjang yang bisa menampung sekitar sepuluh orang
duduk berhadapan.
“Karena Saki-chan
tidak bisa minum, jadi minuman ringan saja, ya.”
Yang
memimpin suasana adalah Satozaki-san.
“Baik.
Tolong, teh Oolong saja.”
“Baiklah.
Selain itu—”
“Toriaezunama!”
Orang yang
mengucapkan dengan semangat adalah Tatsumi-san dengan rambut pink-nya. Ketika
aku tahu bahwa kata misterius “Toriaezunama” berarti “aku mau pesan bir dulu,” aku merasa seolah-olah terlempar
ke dunia lain. Bukan berarti ada bir segar di izakaya dunia lain. Mungkin tidak
ada.
Dan pesta perayaan pun dimulai. Seperti yang diharapkan, semua orang dari kantor ikut
berpartisipasi.
Jadi,
total ada sembilan orang. Jika dibilang sedikit, memang sedikit, tetapi apa aku
sudah mengenal semua orang dengan baik? Tidak juga.
Aku mulai
magang di kantor ini sejak bulan Mei,
jadi belum genap enam bulan. Selain itu, sebagian besar waktuku terlibat
sebagai sekretaris Ruka-san untuk acara “Roppongi Art Festa,” sehingga percakapan dengan orang
lain di kantor sangat terbatas. Aku juga sering keluar untuk rapat.
Aku
merasa cukup akrab dengan Satozaki-san yang duduk di sebelahku, Tatsumi-san
yang duduk di depanku, dan Higashide Yume-san yang usianya cukup dekat denganku. Selain itu, ada Wada-san yang
bertugas administratif. Dengan Ruka-san sebagai presiden perusahaan, aku akhirnya bisa memahami lima
orang ini.
Tiga
orang sisanya masih menjadi misteri bagiku.
Aku hanya
mengingat namanya. Ada Shimoyanagi Hidetaka-san,
Abe Natsuko-san, dan
Nomura Ichika. Shimoyanagi-san adalah pria, sedangkan dua lainnya adalah
wanita. Shimoyanagi-san satu-satunya karyawan yang
berusia tiga puluhan, sementara kedua wanita tersebut masih di usia dua
puluhan.
Jika ini buku harianku,
mungkin pembaca tidak akan bisa mengingatnya jika aku mencantumkan semuanya
sekaligus. Aku pun sama.
Oleh
karena itu, acara minum-minum ini bisa menjadi
kesempatan yang baik. Aku ingin berbicara dengan mereka sebanyak mungkin dan
mengenal mereka lebih dekat.
Jika ini
adalah perusahaan yang lebih besar, mungkin aku takkan memikirkan hal-hal
seperti ini. Misalnya, jika ada seratus orang di lantai yang sama, jumlah
kenalan yang sudah kuingat akan melebihi yang pernah aku catat.
Ngomong-ngomong,
ibuku pernah bilang bahwa dia bisa mengingat wajah semua pelanggan yang datang
dan duduk di depannya. Kemampuan macam apa itu
ya? Kurasa aku takkan pernah bisa melakukannya.
Bartender
memang hebat, atau mungkin aku merasa itu bukan untukku.
Kerja
paruh waktu di toko buku sangat membantu dalam hal ini. Pelanggan yang datang
bergantian memiliki jenis kelamin dan usia yang beragam, jadi aku merasa tidak
perlu berusaha keras untuk mengingat mereka.
Dan
inilah 'Lucca Design. Studio.'
Ruka-san
tampaknya ingin mengembangkan perusahaan ini lebih besar lagi, tapi aku merasa
bersyukur bisa bergabung saat jumlah kami hanya sembilan orang.
Aku bukan
seorang profesional di bidang desain. Dan aku juga tidak sedang bersekolah di
jurusan khusus. Universitas tempatku belajar cukup terkenal, tapi pengalaman
belajar di sana tidak langsung berkaitan dengan pekerjaanku. Minatku terbagi antara etika
dan desain.
...Tiba-tiba
aku teringat wajah Asisten Profesor
Kudou. Mungkin aku akan bergabung di
seminar beliau paling cepat dua tahun lagi, dan realistisnya mungkin tiga
tahun. Apa itu akan membawa perubahan dalam rutinitas kehidupanku?
Tapi itu
urusan lain.
Pamflet
dan poster yang dibuat oleh Ruka-san merupakan
pekerjaan pertama yang benar-benar menarik minatku. Setelah lulus, aku masih
belum tahu arah karierku, dan aku tidak berpikir bisa dengan mudah bekerja di
bidang desain, tapi aku ingin mencoba tantangan sekecil apapun untuk melihat
apa yang bisa kulakukan.
Oleh karena
itu, aku perlu belajar tentang desain, jadi aku ingin bergabung
dengan orang-orang di kantor yang sudah berpengalaman sebagai desainer dan
menyerap sebanyak mungkin pengetahuan dari mereka.
Dengan
delapan orang, aku bisa mengingat wajah dan kepribadian mereka.
Jadi,
sekarang aku melihat sekeliling meja untuk memutuskan dengan siapa aku akan
berbicara. Pertama, aku akan mengamati—. Sambil menyantap nabe yang
dihidangkan, aku hanya memperhatikan orang-orang di sekitarku di awal acara
minum.
Kemudian,
aku mulai melihat ciri-ciri orang-orang yang terlibat dalam percakapan, ada
yang aktif berbicara dan ada juga yang jarang
berbicara.
Sepertinya
Wada-san yang berada di posisi wakil presiden dan Shimoyanagi-san yang
merupakan desainer senior di antara karyawan lainnya sedang terlibat percakapan
yang hangat.
Saat aku
mendengarkan, meskipun ini acara
perayaan, topik percakapan mereka tidak jauh dari pekerjaan yang sedang mereka
kerjakan, seperti desain kemasan terbaru, dan percakapan mereka tidak berbeda
dengan saat bekerja. Kadang-kadang, mereka menjadi bersemangat dan suara mereka
meninggi.
Orang-orang
lainnya sepertinya juga memiliki teman bicara yang cocok, dan biasanya pria
berbicara dengan pria, sementara wanita berbicara dengan wanita. Yah, kurasa
siapapun bisa membayangkannya kalau ini pasti terjadi secara alami.
Sementara
itu, aku duduk di antara Ruka-san di sebelah kanan dan Satozaki-san di sebelah
kiri yang terus menerus membahas pendapat dan kesan
tentang Roppngi Art Festa. Karena prang yang banyak berbicara adalah
Ruka-san dan Satozaki-san, aku merasa seperti pengganggu, tapi mereka terus
mengajukan pertanyaan, jadi aku hanya bisa menjawab, “Ah, iya, benar. Saat itu memang
sulit,” dan
berfungsi sebagai mesin penjawab.
Kenapa
aku harus duduk di tempat seperti ini? Mungkin karena aku adalah sekretaris
Ruka-san. Yah, kurasa aku harus menahannya
sampai suasana mulai tenang.
Sekitar
satu jam berlalu dengan situasi seperti itu.
Saat aku
mulai berpikir untuk berbicara dengan seseorang, hal itu terjadi ketika
Tatsumi-san yang sudah sepenuhnya mabuk berdiri dan berkata ingin pergi ke
toilet.
“Permisi
sebentar. Aku mau lewat di belakang.”
Mendengar
kata-kata Tatsumi-san, Ruka-san yang duduk dekat pintu masuk membungkukkan
tubuhnya ke depan. Rambut Ruka-san meskipun lebih pendek dibandingkan rambutku
yang panjang, tetap tidak bisa disebut pendek, jadi tengkuk lehernya takkan terlihat kecuali dia mencondongkan badannya ke depan.
Restoran
izakaya yang hangat membuat Ruka-san melepas jaketnya, dan ketika dia
membungkuk ke depan, lehernyajadi terlihat. Bahkan aku yang duduk di sampingnya
merasa terkejut. Tatsumi-san yang lewat di belakangnya menatap lehernya dengan
ekspresi bingung.
Setelah
kembali dari toilet, Tatsumi-san kembali melewati belakang Ruka-san, lalu duduk
dan dengan santai berkata,
“Ruka-san,
ada bekas kemerahan di bagian belakang lehermu,
apa jangan-jangan itu bekas
cupang?”
Dalam sekejap,
suasana menjadi hening.
Semua
mata di meja seketika tertuju ke arah
Ruka-san dengan perasaan “Eh?”.
Ruka-san
yang mendapatkan perhatian itu tampak cemberut dan berkata.
“Itu
hanya gigitan serangga.”
“Eh?
Kelihatannya beda deh.”
“Hahh?”
Uwahh
Ruka-san terlihat jarang marah dengan matanya yang tajam. Bukan berarti matanya
benar-benar berbentuk segitiga, tapi itu adalah ungkapan yang biasa. Jika Yuuta ada di sini, dia pasti akan
menjelaskan, tetapi aku hanya ingat “tatapan
marah”.
Pokoknya,
dia memancarkan aura tidak menyenangkan.
Dia seolah-olah ingin mengatakan,
“Jangan berbicara lebih jauh.”
“Ruka-san
pasti punya pacar, ‘kan?
Lagipula, kamu sepertinya
pulang sampai larut
malam. Jika itu terjadi semalam, pasti sangat panas—"
“Tat. su .mi.”
Satozaki-san
memanggilnya dengan suara rendah yang terdengar seperti dari dasar neraka, memisahkan
namanya dengan penekanan.
“Kamu sudah terlalu mabuk. Kurasa kamu tidak seharusnya bertanya lebih
banyak karena penasaran.”
Suara
dingin Satozaki-san sampai membuatku
bergetar meskipun aku bukan orang yang terlibat. Menakutkan. Jika dibandingkan,
suaraku saat menghentikan Kyouka terasa sejuk seperti air keran di musim
panas.
“Uh...”
“Ke
sini sebentar."
Sambil
berkata demikian, Satozaki-san bergerak menuju sudut ruangan yang lebih
dalam.
“Eehhhh”
“Sudahlah, ayo ke sini.”
Karena tidak
berani melawan Satozaki-san, jadi Tatsumi-san dengan
lesu berpindah tempat duduk. Selama itu, semua orang di sekitar berhenti
berbicara. Satozaki-san berdiri di pojokan dan mulai memberi ceramah kepada
Tatsumi-san yang duduk bersimpuh
di hadapannya.
Setelah
mereka mulai berbicara dengan jarak yang cukup jauh dari yang lain, suasana di
meja perlahan kembali normal. Dalam kesempatan itu, aku diam-diam mengeluarkan
ponsel dan mencari tahu tentang apa itu “bekas
cupang.”
Yah, aku
tahu tentang bekas lipstik. Aku pernah melihatnya di manga, tanda merah yang
berbentuk bibir. Namun, pernyataan Tatsumi-san dan suasana di ruangan ini
sepertinya tidak bisa dijelaskan hanya dengan itu.
Aku
memasukkan kata kunci ke dalam kolom pencarian dan melihat hasilnya. Hmm? Ada
yang terdengar seperti istilah medis, seperti pendarahan
subkutan akibat hisapan. Apa? Pendarah… eh, pendarahan!?
Aku
buru-buru membacanya,
tampaknya itu adalah perilaku romantis
di mana seseorang mencium kulit pasangannya dengan
erat sehingga menyebabkan pendarahan
subkutan. …Kenapa mereka melakukan
hal seperti itu? Tunggu, ini hanya pengetahuan dari internet. Tidak baik untuk
mempercayai semuanya. Ada yang menyebutkan kalau itu bisa karena kecelakaan fatal. Apa
maksudnya…
Aku terus
membaca, tetapi pada akhirnya ini hanya artikel dari
internet. Banyak informasi yang tidak jelas apakah itu benar atau tidak.
Namun,
berdasarkan apa yang kuteliti secara
diam-diam, tampaknya hal ini merupakan
salah satu bentuk ungkapan kasih sayang.
Setidaknya, itulah kesimpulan
yang bisa kuambil.
Jadi, aku
juga mengerti mengapa Ryouko-san marah.
Rasanya tidak
pantas bagi orang asing untuk mengolok-olok perilaku
cinta antara sepasang kekasih dalam kehidupan pribadi mereka.
Meskipun hubungan mereka dekat
satu sama lain, itu tetap merupakan bentuk pelecehan yang serius.
Bohong
rasanya jika aku bilang tidak memedulikannya. Jika itu benar-benar bekas cupang, itu berarti Ruka-san memiliki pacar.
Terlebih lagi pacar yang sudah dewasa pula.
Ketika aku pertama kali bertemu
Ruka-san, dia berbicara sangat terbuka dengan temannya, Melissa, meskipun aku
ada di sana. Aku pikir dia adalah orang yang terbuka tentang hal-hal semacam
itu, tapi setelah mulai bekerja dengannya,
ternyata dia adalah orang yang cukup tertutup tentang kehidupan
pribadinya.
Ahh, tapi,
sudah setahun berlalu sejak konser
Melissa diadakan.
Perusahaan
Ruka-san juga kini mulai mendapatkan pekerjaan besar, jadi mungkin dia sedang
berusaha untuk tidak membawa urusan pribadinya
ke dalam pekerjaan.
Jika memang begitu, mana mungkin Ruka-san dengan ceroboh membiarkan bekas pribadi
di tubuhnya begitu saja. Bahkan hari ini, Ruka-san kembali ke kantor setelah
mengunjungi beberapa klien.
Ketika
dia menginap semalaman, Ruka-san biasanya mengganti pakaian dengan celana
jogger yang lusuh dan tidur dalam kantong
tidur, tapi dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kelemahan saat rapat.
Aku
merasa sulit membayangkan pacar Ruka-san melakukan sesuatu yang membuatnya
terbebani, terutama jika pacarnya adalah orang yang meninggalkan bekas cupang yang terlihat begitu jelas. Jika itu terjadi,
Ruka-san mungkin akan mencampakkannya keesokan harinya.
Jadi,
mungkin saja itu benar-benar bekas gigitan serangga
persis seperti yang dikatakan Ruka-san. Namun, jika itu benar, pernyataan
Tatsumi-san semakin terasa tidak peka dan tidak sopan.
“U-Umm,
aku benar-benar minta maaf… Aku
mohon, jangan pecat aku. Maaf."
Setelah
ceramah selesai, Tatsumi-san duduk bersimpuh
di depan Ruka-san dan memohon.
“Baiklah, tidak masalah. Tapi jangan sekali-kali melakukannya lagi.”
Ruka-san
tersenyum pahit sambil memberi peringatan.
Wajah
Tatsumi-san tampak tidak lagi merah, sepertinya ia sudah sadar dari keadaan mabuknya. Mungkin setelah ini,
dirinya akan lebih berhati-hati agar
tidak terlalu mabuk.
Setelah
acara selesai, orang-orang mulai berpisah antara yang ingin pergi ke acara
kedua dan yang pulang. Karena aku tidak bisa minum alkohol, aku memutuskan
untuk pulang. Aku berniat untuk kembali ke rumah.
Meskipun
aku pulang lebih awal, Yuuta tidak
ada di rumah…
Aku ingin
bertemu dengannya…
Setelah
pulang, aku ingin meneleponnya. Tapi mungkin ia sudah tidur karena kelelahan.
“Aku pulang,” kataku dengan pelan.
Di balik
pintu masuk yang terbuka, terdapat
lorong sempit. Lampunya redup dan terasa gelap serta dingin. Tidak ada suara
yang menjawab sapaan selamat datangku. Ayah tiri
dan ibuku pasti sudah tidur. Suara tenang yang biasanya kudengar dari Yuuta sudah menghilang sebulan yang
lalu.
Aku
melepas sepatuku dan menyimpannya sebelum melanjutkan menyusuri lorong.
Ketika
melewati depan kamar Yuuta, aku
tiba-tiba tergerak untuk membuka pintunya.
Pintu hanya terkunci dari dalam, jadi saat ini bisa dibuka. Kadang-kadang, aku
bertanggung jawab untuk membersihkannya agar tidak berdebu. Namun, karena sudah
rapi, aku belum pernah melakukannya.
Aku
menyalakan lampu. Kamar Yuuta yang
diterangi lampu gantung terlihat kosong, seolah-olah tidak ada orang yang
tinggal di sana untuk waktu yang lama. Seakan-akan tidak ada pemiliknya yang
pernah ada di sana…
“Ah, tapi tidak juga… Karena kalian masih ada di sini.”
Aku
mendekati rak buku yang memenuhi satu dinding dan mengelus punggung buku-buku
tersebut. Memanggil buku seolah-olah mereka adalah teman yang hidup, sesuatu
yang tidak pernah terpikirkan oleh diriku
di masa lalu. Namun sekarang, semua
buku tersebut terasa seperti bukti bahwa Yuuta pernah ada di sini.
Di antara
buku-buku yang tertata rapi, ada satu tempat yang tampak kosong, seolah-olah ada satu buku yang telah diambil.
Ah, di
sinilah.
Buku album catatan
perjalananku dengan Yuuta. Tempat di mana album foto
disimpan. Yuuta yang
menyimpannya. Album itu ada di apartemen barunya.
Ia
bisa melihatnya setiap hari, tapi aku tidak bisa. Kenangan itu masih tetap
kosong sampai aku pergi ke tempatnya dan melihatnya. Seperti celah di rak buku
yang kosong ini.
Setelah
menghela napas, aku mematikan lampu dan keluar dari kamarnya.
Ketika
melihat ke ruang makan, ada selembar catatan di meja.
Rupanya itu
dari ibu.
【Sarapan untuk besoik
sudah disiapkan, jadi kamu bisa tidur nyenyak.】
Oh tidak,
pikirku sambil melihat jam dinding. Meskipun aku pulang tanpa ikut acara kedua,
waktu sudah menunjukkan lebih dari jam 11 malam.
Aku sudah memberitahunya bahwa aku akan pulang terlambat karena ada perayaan pasca-acara. Namun,
aku seharusnya menyiapkan sarapan sebagai tugasku.
Ketika
aku melihat ke dalam kulkas, aku menemukan
daging sudah dipersiapkan yang kemungkinan untuk
sarapan besok dan bahkan sayur
tumisan sudah dibuat.
“Ngomong-ngomong,
Yuuta tidak tahu kalau daging yang
sudah dipersiapkan rasanya lebih enak.”
Aku jadi
mengingat hal ini.
Yuuta sepertinya tidak pernah
memasak sebelumnya, tapi setelah ayahnya menikah lagi dan tinggal bersama kami,
ia mulai membantu dengan aktif. Dirinya
bukan orang yang suka menghindar, hanya malas.
Ketika
aku menjelaskan tentang cara memasak yang sederhana, ia mendengarkan dengan
serius, jadi aku juga senang mengajarinya.
Kami
pernah membuat makanan bersama dengan akrab.
Aku
menatap dapur sistem dan memikirkan hal-hal seperti itu —gawat. Besok ada jadwal perkuliahan dari jam
pertama. Aku harus cepat mandi, belajar, dan tidur…
Jam 11 malam…
“Kalau larut
malam begini sih ia pastinya sudah
tidur. Meneleponnya mungkin
mengganggunya…”
Ketika
aku pulang ke rumah, dirinya ada di sini dan aku tahu apa yang ia
lakukan, tapi sekarang aku tidak tahu apa yang dilakukan Yuuta, jadi aku merasa cemas.
Bagaimana jika aku tidak bisa meneleponnya
sama sekali?
Sudah kuduga—kurasa sudah saatnya.
Keesokan
harinya, setelah jadwal perkuliahan dan pekerjaan di tempat Ruka-san
selesai.
Sekitar
pukul 7 malam.
Sebelum
pulang, aku memeriksa ponselku.
Aku melihat kembali pesan yang kukirim setelah keputusan semalam.
Yuuta
membalas dengan jawaban, “Oke.”
Baiklah,
aku mengumpulkan keberanian di dalam hati.
Dari
stasiun Nakano Uesaka di mana
kantor magangku berada ke stasiun Hino tempat
Yuta tinggal, dibutuhkan sekitar 40 menit dengan berpindah dari jalur
Marunouchi ke jalur Chuo. Memikirkan perjalanan pulang pergi, aku tidak mempunyai banyak waktu lagi. Aku keluar
dari kantor dan berjalan cepat menuju stasiun kereta bawah tanah.
40 menit
kemudian.
Aku menekan bel
pintu depan unit kamar apartemen, dan kemudian aku mendengar suara yang menjawab seraya
diikuti oleh suara langkah kaki yang mendekat dan pintu pun terbuka.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya

