Chapter 13 — Tanaka Sumika Adalah Karakter Mob
(Sudut
Pandang Tanaka)
Maaf atas
pertanyaan mendadak ini, tapi mimpi seperti apa yang kalian semua miliki saat
masih kecil? Apa kalian ingin
menjadi idola yang dicintai secara nasional? Atau mungkin gadis penyihir
terkuat yang mengalahkan penjahat? Kurasa setiap orang memiliki mimpinya
masing-masing.
Kalian
mungkin berpikir bahwa karena aku bertanya, mimpiku pasti sangat tidak biasa,
tetapi kalian salah. Mimpiku bukanlah sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang
dimiliki setiap gadis muda.
“Aku
ingin menjadi seorang putri!”
Hanya itulah impianku—menjadi seorang putri,
seperti dalam buku-buku bergambar. Bertemu dengan pangeran yang hebat di atas
kuda putih, menikah dengannya, dan membangun keluarga yang bahagia. Aku
berpegang teguh pada mimpi umum itu dan benar-benar berniat mewujudkannya.
Aku akan
meniru para putri dari buku-buku cerita, kabur dari rumah sesuka hati, berlatih
menyanyi, dan memohon kepada orang tuaku untuk gaun berenda. Setelah memikirkannya sekarang, diriku
yang lebih muda cukup merepotkan, benar-benar pembuat onar. Aku masih merasa
menyesal atas semua masalah yang kusebabkan pada orang tuaku.
Titik
balik pertama bagi diriku yang tomboy itu terjadi di sekolah SD. Pada hari orang tuaku
mengantarku melewati gerbang sekolah untuk pertama kalinya, aku bertemu
dengannya: seorang putri sungguhan. Namanya Fuyusora Reno. Dia adalah gadis
cantik dengan rambut panjang dan halus serta fitur wajah sempurna seperti
boneka.
Selain
itu, dia pintar, pandai bernyanyi dan berolahraga, dan tanpa takut mengatakan
apa yang ada di pikirannya kepada siapa pun, layaknya
seorang putri dari dongeng. Dia benar-benar gadis yang seolah-olah keluar
langsung dari buku cerita.
Aku
terpikat. Aku mulai mengaguminya, ingin menjadi seperti dirinya. Sejak saat itu, aku mulai
mengamati Fuyusora-san dari jauh dan menirunya. Jika dia membaca buku yang
sulit, aku akan meminjam buku yang sama dari perpustakaan keesokan harinya.
Jika dia
menengahi perkelahian, aku akan ikut campur untuk menghentikan anak laki-laki
berkelahi. Jika dia mulai belajar kaligrafi, aku juga akan mengikuti kelas
kaligrafi. Karena berbagai masalah seperti kemampuan fisik dan uang, aku tidak
bisa meniru semuanya, tetapi aku terus mengejarnya.
Namun,
semakin aku mengejar bayangannya,
semakin aku menyadari bahwa aku takkan pernah bisa menjadi seorang putri
seperti Fuyusora-san. Bakat yang kami miliki sejak lahir berbeda. Aku orang yang kikuk.
Meskipun kami melakukan hal yang sama, jarak
antara kami hanya semakin jauh. Saat itu, aku masih percaya bahwa jika aku
berusaha cukup keras, aku entah bagaimana bisa mengejar ketinggalan. Jika bakat
kami berbeda, aku hanya perlu bekerja lebih keras. Jadi, aku berhenti bermain
dengan teman-teman dan menahan malam tanpa tidur untuk melanjutkan usahaku.
Tetapi jaraknya tidak menyusut; malah justru semakin
jauh.
Aku tidak
ingin menerima kenyataan itu, jadi aku tetap terus bekerja keras. Tetapi
kenyataan selalu kejam.
Tidak peduli seberapa putus asa aku berjuang, hasilnya tidak pernah berubah,
dan akhirnya, tubuhku hancur karena tekanan.
Itu bukan
sesuatu yang terlalu serius, hanya jari yang patah karena terlalu banyak
memberi tekanan saat latihan terompet. Karena itulah,
aku tidak bisa ikut serta dalam kompetisi yang akan datang, dan aku merajuk.
Ibuku yang tidak sanggup melihatku seperti itu, menyarankan agar kami
setidaknya pergi menonton.
Di sana,
aku mendengar penampilan Fuyusora-san untuk pertama kalinya. Itu sangat luar
biasa. Suaranya, temponya, permainan jarinya, tatapannya—semuanya berada di
level yang sama sekali berbeda.
Hal-hal
yang tidak pernah kupahami dari belakang panggung, sekarang bisa kupahami
dengan jelas dari penonton. Pada saat itulah aku akhirnya bisa mengakuinya: dia
istimewa, dan aku biasa-biasa
saja.
Sejak
hari itu, aku berhenti mengejar Fuyusora-san dan malah menjadi penggemarnya.
Aku bahkan tidak ingin melihat wajahnya lagi ketika aku mengejarnya, tapi
begitu aku berhenti, anehnya itu tidak lagi menyakitkan, dan aku mendapati
diriku semakin terpikat oleh pesonanya. Pada saat setahun berlalu, hasil
kompetisiku sendiri menjadi hal sekunder dibandingkan dengan menantikan
penampilannya dengan penuh semangat.
Tapi aku
tidak ingin kalian salah
paham; aku masih belum menyerah pada mimpiku. Aku menerima kenyataan bahwa
Fuyusora-san adalah seorang putri bangsawan dan memutuskan untuk bercita-cita
menjadi tipe putri yang bangkit dari status rakyat biasa.
Jadi,
meskipun aku berhenti mengejarnya, aku tidak berhenti berusaha. Aku terus
mengerahkan upaya secukupnya dalam akademi
dan bermain terompet, dan aku mulai mempelajari memasak dan kecantikan, percaya
bahwa suatu hari nanti, seorang pangeran tampan di atas kuda putih pasti akan
muncul untuk menemukanku.
Meskipun
aku melukai jariku atau keluargaku menertawakan riasanku yang kreatif dan
seperti monster, aku tetap berusaha.
Namun, tak peduli seberapa lama aku
menunggu, seorang pangeran tak pernah muncul.
“Aku
menyukaimu, Fuyusora-san! Maukah kamu
berpacaran denganku?”
“Kamu siapa?
Aku tidak yakin bagaimana harus menanggapi pengakuan dari seseorang yang tidak
kukenal.”
“Fuyusora,
kamu pantas untuk berpacaran denganku. Aku akan menjadikanmu
pacarku.”
“Seseorang
sepertimu pantas untukku? Jangan membuatku tertawa. Lihat dirimu di cermin dan
ulangi lagi.”
“U-Um,
ini… ini cincin pertunangan. Terimalah.”
“Pertunangan
di SD, kamu idiot ya?
Lagipula, kamu
membelinya dengan uang orang tuamu, ‘kan?
Melamar dengan itu sungguh menggelikan. Jika kamu
seorang pria, tunjukkan sedikit keberanian dan belilah sendiri.”
Mereka
yang muncul selalu untuk Fuyusora-san. Namun, tidak ada pangeran di sekolah SD kami yang sebanding dengan putri
istimewa itu, jadi semua anak laki-laki, tanpa kecuali, ditolak.
Mengetahui
hal ini, aku berpikir Fuyusora-san luar biasa, dan pada saat yang sama, aku
menyadari tidak ada pangeran di sekolah ini yang akan menemukanku. Tidak, kalau
dipikir-pikir sekarang, aku mungkin sudah tahu seperti apa keberadaanku. Tapi
aku berpura-pura tidak menyadarinya.
Dan
begitulah, aku lulus dari SD
dan menjadi siswa SMP. Gaya kehidupanku tidak banyak berubah, dan
setelah setahun, titik balik keduaku tiba. Itu terjadi pada suatu hari di musim
gugur kelas 2 SMP-ku.
Matsukaze-kun,
seorang anak laki-laki tampan yang terkenal di seluruh kelas kami, datang ke
kelasku. Ia berada
di pintu masuk kelas, melihat-lihat, dan kemudian matanya berhenti padaku. Ia berjalan ke arahku dan berkata,
“Tanaka-san, ada sesuatu yang
ingin kubicarakan denganmu. Apa kamu
ada waktu luang setelah sekolah nanti?”
Aku jujur
terkejut. Kami hanya sedikit
berbicara sebagai anggota panitia festival olahraga; kami tidak terlalu dekat.
“Aku
punya waktu luang sebentar sebelum kegiatan klubku dimulai,” jawabku.
“Benarkah!?
Kalau begitu, mari kita bertemu di halaman setelah jam pelajaran selesai.” Melihatnya begitu bahagia,
kenyataan situasi perlahan mulai meresap. Pangeranku akhirnya tiba.
“Jangan-jangan?
Apa ini akhirnya?”
“Untuk
mendapatkan anak laki-laki tampan itu, kamu
benar-benar hebat, Sumika,”
teman-temanku menyemangatiku, dan aku benar-benar terbawa suasana. Tapi,
sayangnya, rupanya itu cuma
kesalahpahaman.
“Tanaka-san,
kamu satu SD dengan Fuyusora-san, kan?
Bisakah kamu
memberitahuku hal-hal apa yang dia sukai, atau tipe cowok seperti apa yang dia sukai?”
“Eh?”
Benar.
Matsukaze-kun bukanlah pangeranku. Ia
hanyalah anak laki-laki biasa yang tertarik pada sosok yang tulus,
Fuyusora-san. Untuk berkencan dengan sang putri, dia datang kepadaku untuk
meminta bantuan. Pada saat itu, aku jelas mendengar suara sesuatu yang retak di
dalam diriku.
“Aku
tidak terlalu banyak bicara dengan Fuyusora-san, jadi aku tidak bisa mengatakan
apa pun dengan pasti, tapi apa itu masih tidak apa-apa?”
“Ya.
Aku tidak keberatan. Aku tetap ingin kamu
memberitahuku.”
Tapi, aku
pura-pura tidak memperhatikan dan menceritakan tentang Fuyusora-san kepadanya. “Terima kasih banyak! Aku akan
melakukan yang terbaik.”
“Ya.
Aku akan berdoa untuk hasil yang baik." Melihatnya pergi dengan senyum
lebar, kupikir ini langkah
yang terbaik. Tapi ternyata tidak.
Keesokan
harinya, fakta bahwa aku dan Fuyusora-san bersekolah di SD yang sama diketahui di seluruh
sekolah. Kemudian, anak laki-laki yang menyukainya mulai mendatangiku.
“Aku
ingin tahu apa makanan favorit Fuyusora-san.”
“Di
mana rumah Fuyusora Reno?”
“Apa kamu punya informasi rahasia
tentang Fuyusora?”
Mereka
semua menanyakan hal-hal seperti itu kepadaku. Aku menjawab apa yang bisa
kujawab, tentu saja tidak memberi tahu mereka alamatnya atau rahasianya. Namun
seiring berjalannya hari-hari itu, retakan di dalam diriku semakin membesar.
Dan suatu hari, retakan itu pecah.
“Terima
kasih, Tanaka-san.”
“Ya.
Aku senang bisa membantu.”
Sepulang
sekolah, setelah memberikan nasihat yang mungkin sudah kesekian kalinya, aku
sedang menuju ruang klub ketika aku mendengar anak-anak laki-laki di kelasku
berbicara.
“Tanaka-san
sangat membantu karena memberi tahu kita tentang Fuyusora-san, tapi… dia agak
biasa-biasa saja, ya?”
“Eh?”
“Iya banget
lagi. Dibandingkan dengan Fuyusora-san, dia tidak
terlalu menarik, ya?”
“Padahal mereka
sekolah di tempat yang sama, jadi kenapa ada perbedaan yang begitu besar?”
“Bodoh!
Itu karena Fuyusora-san berada di levelnya sendiri. Perbandingannya tidak adil.”
“Tidak
diragukan lagi. Dia bukan tipe waifu, kan?”
Itu tidak
terlalu kasar. Mereka hanya membandingkanku dengan Fuyusora-san. Tapi itu
pukulan terakhir.
“...Bodohnya
aku.”
Pandanganku
kabur, dan tiba-tiba, semuanya menjadi
tidak penting lagi. Sesuatu yang berharga di dalam diriku hancur berantakan.
Aku tahu. Aku sudah tahu bahwa aku bukanlah seorang putri.
Aku sudah
mengetahui itu sejak lama. Tapi aku ingin
percaya bahwa suatu hari pangeranku akan datang. Aku ingin terus percaya. Tapi
kemudian aku mengetahui bahwa bagi para laki-laki, aku sama sekali bukanlah seorang putri, melainkan hanya
karakter sampingan, pemeran
tambahan untuk Fuyusora-san.
Setelah
aku tahu itu, mustahil untuk mempertahankan mimpi yang telah hancur
berkeping-keping. Mana mungkin
aku bisa menyatukannya kembali.
Jadi pada
hari itu, gadis yang bermimpi itu meninggal. Dia menyerah untuk menjadi seorang
putri, untuk seorang pangeran dengan kuda putih. Dan dia mengerti.
Aku,
Tanaka Sumika, adalah karakter mob
yang tidak diperhatikan siapa pun.
Waktu pun berlalu, dan aku menjadi siswa
kelas tiga SMP,
memikirkan SMA mana yang akan kupilih. Untungnya, aku memiliki kemampuan
akademis untuk bersekolah di sebagian besar SMA di prefektur, jadi aku tidak
terlalu gugup.
Jaring
pengaman berupa kemampuan untuk melanjutkan ke SMA afiliasi juga merupakan
faktor besar. Yang kuprioritaskan
adalah jarak dari rumah. Aku hanya
ingin pergi ke tempat di mana tidak ada yang tahu tentang hubunganku dengan Fuyusora-san.
Itulah sebabnya aku memutuskan untuk
mengikuti ujian masuk SMA Shikigaoka, yang merupakan tempat terjauh yang
diizinkan orang tuaku.
Aku
lulus dengan nilai yang sangat baik. Aku
sangat bahagia. Rasa kebebasan karena akhirnya bisa mengucapkan selamat tinggal
pada kehidupan yang menyesakkan itu sangat luar biasa, dan pada hari pengumuman
hasil, aku melompat-lompat kegirangan di tempat tidur di rumah sampai
ibuku marah. Tapi aku masih sangat bahagia, aku tidak bisa berhenti tersenyum.
Dan
kemudian, upacara penerimaan siswa SMA yang telah aku tunggu-tunggu. Sebuah fakta yang
luar biasa terungkap. Entah bagaimana, Fuyusora-san juga menjadi siswa di SMA Shikigaoka.
Bahkan
setelah semua itu, Fuyusora-san tetaplah seseorang yang kukagumi, mungkin karena dia
sendiri tidak pernah melakukan apa pun kepadaku
secara langsung.
Jadi,
meskipun aku
terkejut, aku tidak
membencinya. Namun, pikiran bahwa kehidupan SMA-ku akan sama seperti SMP
sangatlah menyedihkan. Aku telah membangun ketahanan selama setahun terakhir,
jadi aku menguatkan diri, berpikir aku entah bagaimana bisa melewatinya.
Tahun
pertamaku dimulai. “Ta-chan.
Ayo makan siang.”
“Oke,
tentu.”
Suasananya
begitu damai, seolah-olah masa-masa SMP-ku hanyalah kebohongan belaka. Kurasa
masuk akal, karena tidak ada seorang pun dari SMP-ku yang melanjutkan ke SMA
ini. Jadi, meskipun Fuyusora-san ada di sana, tidak ada yang tahu hubungan
kami. Berkat itu, aku bisa menikmati kehidupan sekolah yang menyenangkan dengan
teman-teman baruku, tanpa ditegur oleh siapa pun setelah sekolah.
Aku
bahagia. Tetapi pada saat yang sama, aku juga merasakan kekosongan. Karena aku
hanyalah karakter mob, bahkan
di SMA ini.
Selain
Fuyusora-san, ada dua putri lain yang setara dengannya, jadi tidak ada satu pun
anak laki-laki yang melirikku. Kupikir aku sudah terbiasa dengan kehidupan itu,
tetapi sepertinya aku hanya berpikir begitu.
Tiba-tiba,
dengan bodohnya, mataku tertuju pada pecahan kaca yang berserakan di kakiku.
Aku
bertanya-tanya ‘apa benar-benar tidak ada pangeran
yang akan menemukanku’?
Meskipun
seharusnya aku sudah menyerah. Meskipun aku berusaha melupakan. Hari-hari damai
ini memberiku begitu banyak waktu sehingga aku akhirnya menoleh ke belakang.
Setelah aku melakukannya, semuanya menjadi tidak baik.
“Kya!?”
“M-Maaf.
Aku sedang terburu-buru, salahku.”
Mau
bagaimana lagi bahwa aku menabrak seorang anak laki-laki dan
kertas-kertasku jatuh. Tidak bisa dihindari bahwa dia tidak membantuku
mengambilnya. Karena aku bukan seorang putri yang bisa memikat mereka, tetapi
karakter biasa tanpa pesona sama sekali. Ya, mau
bagaimana lagi.
Mau
bagaimana lagi...
“...Tapi
tetap saja, rasanya
menyakitkan.”
Biasanya
aku bisa menahan itu, tapi bendungan yang selama ini kutahan dengan mudah
jebol.
“...Siapa
pun boleh. Siapa pun. Tolong temukan aku. Tolong, selamatkan aku.”
Aku telah
menyuarakan jeritan seorang gadis muda yang telah lama kusimpan jauh di dalam
hatiku. Itu adalah tangisan yang seharusnya tidak pernah sampai ke siapa
pun—atau begitulah pikirku.
“Ahhh,
serius, menabrak seorang gadis dan meninggalkannya begitu saja itu tidak bisa
dipercaya. Kamu
baik-baik saja?”
“Eh?”
Secara
alami, dengan ekspresi acuh tak acuh, pria itu,
Nakayama Tooru-kun, muncul di duniaku.
