Kawaii Tanaka-san Vol 1 Chapter 9 Bahasa Indonesia

 

Chapter 9 Tanaka-san Punya Nasib Apes

 

Hari itu cuacanya begitu mendung dan suram. Setelah bangun tidur, aku dengan linglung menonton program informasi di ruang tamu.

Zodiak paling sial hari ini adalah, maaf, Virgo. Motivasi Anda akan salah arah hari ini, dan segala sesuatunya tidak akan berjalan dengan baik. Oleh karena itu, harap berhati-hati dalam segala hal. Barang keberuntungan Anda adalah perban.

Heh, kasihan buat para Virgo, pikirku sambil melihat daftar peringkat horoskop. Omong-omong, apa ya zodiak Tanaka-san?

Aku perlahan membolak-balik halaman ingatanku, dan tanggal lahirnya langsung terlintas di benakku: 2 September. Pencarian cepat di ponselku mengkonfirmasinya. Dia adalah seorang Virgo, zodiak paling sial hari ini.

Fakta ini membuatku merasa tak terlukiskan.

...Yah, itu cuma ramalan bintang. Dia akan baik-baik saja, kataku pada diriku sendiri, tetapi untuk berjaga-jaga, aku bersiap untuk yang terburuk dan mengambil perban dari kotak obat.

Apa kamu terluka di suatu tempat? tanya ibuku.

Tidak, kupikir aku akan membawanya untuk berjaga-jaga.

Hmm. Begitu. Jadi musim semi akhirnya tiba untukmu juga, ya.

Bagaimana kamu bisa sampai pada kesimpulan itu!?

Bukan hal yang aneh bagiku untuk membawa perban, jadi mengapa ibuku bisa begitu peka di saat-saat seperti ini? Ibuku memberiku seringai nakal yang menggoda, dan kupikir percuma saja mengatakan apa pun lagi.

Aku meninggalkan ruang tamu dan melewatkan sarapan. Jika aku tinggal lebih lama, ayahku pasti akan ikut meledekku. Aku tidak ingin dipermalukan di depan umum seperti itu di pagi hari.

Aku segera bersiap, menaiki sepedaku yang baru saja diperbaiki, dan menuju ke minimarket. Di sana, aku membeli onigiri, sate ayam goreng, dan permen karet, lalu kembali berangkat ke sekolah seperti biasa.

Beberapa puluh menit kemudian, gedung sekolah mulai terlihat. Karena aku tiba lebih awal dari biasanya, dan halaman sekolah terasa sangat sepi dengan jumlah siswa yang lebih sedikit.

Hei, Nakayama. Kamu berangkat lebih awal hari ini ya.

Kebetulan aku bangun lebih awal.

Selamat pagi, Nakayama-kun. Boleh aku menaruh barang-barangku di keranjangmu?

Kamu meninggalkan buku pelajaranmu di sekolah, jadi tasmu sangat ringan. Bawa sendiri. Baiklah, aku akan membawa kotak kaligrafi itu untukmu.

Beberapa teman sekelas yang melihatku datang untuk mengobrol. Aku dengan santai mengabaikan mereka dan melewati gerbang sekolah. Ruang kelas praktis kosong, hanya ada dua atau tiga orang di sana. Aku mengangguk pelan, meletakkan barang-barangku di meja, dan mengeluarkan makanan yang kubeli.

Sate ayam goreng ini lebih mirip sate tatsuta-age, bukan? Yah, rasanya tetap enak meskipun dingin, jadi sebenarnya tidak masalah. (TN: Tatsuta-age (竜田揚げ) adalah gaya ayam goreng (atau ikan) Jepang yang pertama-tama direndam dalam kecap dan bumbu, kemudian dilapisi dengan tepung kentang (katakuriko) sebelum digoreng. Dibandingkan dengan karaage, teksturnya lebih ringan dan renyah)

Saat aku sedang melamun memikirkan hal-hal sepele sambil memandang ke luar jendela, aku melihat Fuyusora tiba di sekolah. Beberapa anak laki-laki yang tampak lebih muda mengelilinginya, tampaknya mereka mencoba berbicara dengannya.

Dari cara mereka mengulurkan tangan dan menunjuk tasnya, mereka mungkin menawarkan untuk membawakan barang-barangnya. Tapi Fuyusora yang membenci laki-laki tidak akan menerima tawaran itu. Dia hanya mengabaikan mereka dan berjalan cepat.

Dia benar-benar tidak goyah. Itulah sebabnya kejadian beberapa hari yang lalu sangat mengejutkanku. Seriusan, bagaimana kami bisa mengobrol?

Aku mencoba memikirkan apa yang berbeda antara aku dan para pria yang tertinggal, masih merindukan mereka, tapi aku tidak bisa menemukan jawabannya.

Namun, begitu aku melihat Kaisei datang agak terlambat, dan melihat pemandangan mengharukan saat sang heroine merapikan rambutnya, aku akhirnya menyerah berpikir, menganggap bahwa tidak ada tanda-tanda percintaan, jadi tidak apa-apa.

Saat ini, Tanaka-san jauh lebih penting daripada heroine utama mana pun. Jika memungkinkan, aku ingin menggunakan barang keberuntungan—plester—untuk lebih dekat dengannya, tetapi itu sama saja dengan berharap dia terluka. Merasa tidak nyaman, aku memasukkan plester yang telah kukeluarkan ke saku dadaku dan memutuskan untuk membuat rencana lain.

Namun, seolah-olah mengejekku, kesempatan untuk menggunakan plester itu datang lebih cepat dari yang kuharapkan.

Kejadian tersebut terjadi saat istirahat makan siang, setelah lebih dari setengah hari sekolah berlalu.

 

◇◇◇◇

 

Tanaka. Maaf merepotkanmu, tapi bisakah kamu membawa hasil cetakan ini ke ruang guru setelah semuanya terkumpul?

Dipahami.

Tanaka-san bukanlah perwakilan kelas untuk pelajaran sastra klasik, tetapi karena kebetulan dia lewat di dekat guru, dia dibebani tugas yang merepotkan itu. Tapi bidadari kita, Tanaka-san, menerimanya tanpa mengeluh sedikit pun. Setelah makan siang dengan Norimizu-san, dia meninggalkan kelas dengan setumpuk hasil cetakan.

Entah kenapa aku merasa khawatir, jadi aku berbohong kepada teman-temanku bahwa aku akan pergi ke kamar mandi dan mengikutinya.

Dan di situlah keapesan Tanaka-san dimulai.

Hah!?

Ah, maaf!

Pertama, saat dia berjalan di lorong, sekelompok siswa kelas satu yang bermain kejar-kejaran berlari melewatinya. Tidak ada kontak, hanya sedikit kejutan. Setelah beberapa detik terdiam, dia mulai berjalan lagi.

Dasar bodoh! Apa yang harus kulakukan tentang ini!?

“Ak-Ak-Aku minta maaf!

Setelah meninggalkan lorong, kecelakaan lain terjadi. Seorang anggota klub berkebun, yang sedang membawa berbagai barang ke petak bunga di atap, tanpa sengaja menjatuhkan sekantong pupuk yang sudah terbuka dari tangannya. Sejumlah besar pupuk itu berhamburan di tangga, mengenai sepatu dan seragam Tanaka-san.

Maafkan aku!

Tidak apa-apa. Lebih penting lagi, kita perlu membersihkannya dengan cepat. Aku akan mengambil sapu dan pengki dari loker.

Namun, Tanaka-san tidak marah. Dirinya dengan lembut menghibur anggota klub berkebun yang membungkuk itu dan mulai membantu membersihkan.

Untuk sementara, aku juga membantu dari tempat persembunyianku, sampai anggota baru klub berkebun datang untuk mengambil alih. Setelah tugas kami selesai, Tanaka-san dan aku mulai berjalan menuju ruang staf lagi, menjaga jarak tertentu.

Saat kami menuruni tangga, tujuan akhirnya terlihat. Saat aku berpikir tidak akan terjadi apa-apa lagi, sebuah suara menggema di lorong, Hei, dengar-dengar wakil ketua dan Natsuse akan bertanding di gedung olahraga untuk Ketos Akizuki!?

Aku melupakannya karena aku khawatir tentang Tanaka-san, sebuah acara utama dari cerita aslinya akan berlangsung hari ini.

Seriusan!?

Kita tidak bisa  berdiam diri di sini, kita harus pergi menyemangati wakil ketua!

Woooooah----! Ayo cepat----!?

Jangan berlarian di lorong------!!

Para pemuda, yang tergila-gila pada heroine utama dan menyimpan kebencian terhadap Kaisei, bersatu mendengar kalimat itu dan berlari menuju gedung olahraga.

Mustahil untuk tiba-tiba menghindari gelombang besar pemuda yang kelihatan antusias begitu, dan Tanaka-san dan aku benar-benar tertelan. Pada saat mereka lewat, sejumlah besar cetakan berserakan di lantai.

Di tengah-tengah semuanya, Tanaka-san duduk di lantai dengan ekspresi terkejut. Beberapa detik kemudian, dia pulih dan dengan panik meraih hasil cetakan di dekatnya, hanya untuk meringis kesakitan di tengah jalan.

Ugh!

Sepertinya dia terluka di suatu tempat. Dari cara dia melihat kaki kanannya, dia mungkin terkilir.

Aku akan mengambilnya. Tanaka-san, kamu diam saja.

N-Nakayama-kun!?

Melihat gadis yang kusukai terluka membuat kepalaku hampir mendidih, tetapi entah bagaimana aku berhasil menahannya dan dengan cepat mengumpulkan hasil cetakan yang dipenuhi jejak kaki.

Tanaka-san, yang jelas tidak menyangka aku berada di dekatnya, matanya membelalak, tetapi dia dengan cepat berkata, Aku juga akan membantu, dan mulai mengambil hasil cetakan yang ada dalam jangkauannya. Berkat kerja sama kami, kami dapat mengumpulkan semuanya dalam waktu kurang dari satu menit.

Tapi aku tidak bisa membiarkan Tanaka-san membawa hasil cetakan itu saat dia terluka. Dalam pikiranku, itu benar-benar tidak terpikirkan.

Terima kasih, Nakayama-kun. Kamu sangat membantu.

Ya, senang bisa membantu. Bisakah kamu pegang ini sebentar?"

Ya, aku mengerti-- Kyaa!?

Lalu, aku mendorong hasil cetakan itu ke arah Tanaka-san dan menggendongnya dengan gaya yang disebut gendongan ala putri.

Na-Nakayama-kyun!? Apa ini?

Aku hanya mengantarmu ke ruang UKS. Jangan khawatir, kataku, meskipun aku sama gugupnya dengan dirinya.

Pikiranku begitu terfokus untuk membawanya ke UKS dengan cepat sehingga inilah hasilnya. Seharusnya aku hanya meminjamkan bahuku padanya. Tapi sekarang sudah terlambat. Jika aku menurunkannya, rasanya terlihat seperti aku menganggapnya berat, dan itu akan menunjukkan bahwa aku telah bertindak tanpa sadar. Jadi, aku tidak punya pilihan selain melakukannya.

Sadar akan wajahku yang memerah, aku menggendong Tanaka-san ke UKS.

Permisi... Hah?

Sepertinya dia tidak ada di sini.

Entah dalam artian baik atau buruk, guru cantik berjas putih itu tidak ada. Aku menghela napas lega dan dengan lembut membaringkan Tanaka-san di ranjang tidur.

Wajahku tidak dalam keadaan yang pantas untuk dilihat, jadi aku melihat ke bawah ke kakinya dan melihat goresan ringan. Aku tahu dia juga mengalami keseleo ringan, tetapi aku ragu untuk membuka kulkas, jadi aku hanya meminjam disinfektan dan tisu.

Ini mungkin akan sedikit perih.

Oke. Ugh!?

Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyentuhnya, aku membersihkan luka itu dan menempelkan perban dari saku dadaku. Aku merasa sedikit bersalah ketika harus menekan kakinya yang telanjang untuk memastikan perban itu menempel, tetapi aku mengatakan pada diri sendiri bahwa itu perlu dan berhasil melewatinya.

Setelah perawatan selesai, aku pergi untuk membuang sampah. Tanaka-san mulai menatap perban itu dengan saksama.

Apa aku melakukan kesalahan? Aku memperhatikannya dengan kecemasan yang semakin meningkat, lalu dia berbicara.

...Ini pertama kalinya seorang laki-laki melakukan hal seperti ini untukku.

Eh?

Ucapannya membuatku langsung membeku. Caranya mengatakannya agak sugestif, dan fakta bahwa aku telah menggendongnya pertama terlalu mengejutkan. Tentu saja, menggendong gadis yang terluka ke UKS seperti seorang putri biasanya tidak terjadi, jadi itu sudah bisa diduga. Namun, menjadi pertama bagi gadis yang kusukai merupakan hal yang membahagiakan.

Tapi aku tidak bisa cuma merasa Bahagia saja. Ada kemungkinan bahwa pertama  ini tidak memiliki arti positif. Tanaka-san itu baik hati, jadi dia mungkin tidak menyukai cara menggendongku seperti itu tetapi tidak bisa mengatakannya.

Saat aku mencari kata-kata selanjutnya, dia turun dari ranjang dengan satu kaki. Dia melompat ke lemari es, mengambil kompres dingin, dan mengambil sepotong kain kasa. Dengan tangan yang terlatih, dia menggabungkannya dan menempelkannya ke area yang terluka, meringis, Ooh, dingin.

Kelihatannya kamu tahu banget dengan ruang UKS ya.

Yah, hal serupa sering terjadi padaku sejak kecil. Jadi aku secara alami... Itulah sebabnya aku akrab dengan guru UKS, dan dia mengizinkanku menggunakan hal-hal seperti kompres dingin kapan pun aku mau. Jadi, bukan berarti aku menggunakannya tanpa izin, oke? jelasnya dengan gugup.

Keseriusannya menggemaskan, tetapi satu hal yang dia katakan terus terngiang di benakku.

Ngomong-ngomong, seberapa sering kamu harus datang ke sini sampai-sampai bisa akran dengan guru UKS?

Um, kira-kira sebulan sekali, kurasa?

Tanaka-san, apa jangan-jangan kamu itu ceroboh?

...Kurasa tidak begitu... mungkin, katanya, sambil mengalihkan pandangannya.

Melihat tanggapannya yang bgitu, aku yakin. Dia memang agak ceroboh dan selalu sial sejak kecil.

Kalau begitu, mulai sekarang, aku akan menjagamu agar kamu tidak terluka, kataku.

Kamu tidak perlu melakukan itu!? Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa.

Tidak, aku akan melakukannya. Lebih baik tidak terbiasa dengan ini, desakku. Aku tidak ingin melihatnya memaksakan diri untuk bersikap tegar lagi.

...Nakayama-kun, kamu baik sekali sejak pertama kali kita bertemu, katanya, matanya melebar dan kemudian alisnya mengerut karena khawatir.

...Rasanya aku hanya mengucapkan salam biasa saja. Aku tidak berpikir dia akan mengingat pertemuan pertama kita. Lebih tepatnya, aku tidak ingin dia mengingat diriku yang dulu, yang masih tergila-gila pada cinta pandangan pertama.

Aku tanpa sengaja berbohong, dan dia menjawab dengan senyum ambigu, Kalau dipikir-pikir, itu benar.

Setelah beberapa saat, pintu ruang UKS terbuka.

Ara, Sumika-chan. Kamu di sini? Bagaimana lukamu?"

Guru UKS cantik itu telah kembali. Fakta bahwa dia memanggil Tanaka-san dengan nama depannya menunjukkan bahwa mereka cukup dekat.

Ah, Toyohashi-sensei. Ya, teman sekelas yang baik merawatku dengan baik hari ini, jadi aku baik-baik saja.

Begitu, bagus. Sepertinya musim semi juga telah tiba untukmu, Sumika-chan.

Aku dan Nakayama-kun bukan seperti itu! Itu tidak sopan kepada Nakayama-kun, bantahnya, wajahnya memerah.

Namun, itu bukannya tidak sopan. Di sampingnya, aku diam-diam menundukkan bahuku. Ditolak dengan begitu keras berarti bahwa hari di mana aku bisa berpacaran dengannya masih jauh.

 

◇◇◇◇

 

Sepulang sekolah, saat aku mengemasi barang-barangku, aku mendengar Tanaka-san dan Norimizu-san berbicara.

Ta-chan, kamu bolos kegiatan klub? Begitu ya, hati-hati. Aku berharap bisa mengantarmu pulang, tapi aku ada urusan hari ini.

Sepertinya Tanaka-san pergi ke stasiun sendirian. Itu hanya keseleo ringan, tapi mengingat nasib buruknya hari ini, aku masih khawatir.

Hei, Tanaka-san, mau jalan pulang bersama sampai setengah jalan? tanyaku saat dia mengambil sepatunya dari rak sepatu. Jantungku berdebar kencang. Aku belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, dan aku sangat cemas dia akan menganggapku curiga.

Namun, bertentangan dengan kekhawatiranku, bibirnya melengkung membentuk senyum. “Jika kamu tidak keberatan dengan orang sepertiku, aku akan senang.

Ya. Kalau begitu, ayo kita pergi?

Aku merasa sangat lega. Saat kami berjalan, aku memperhatikan dia dalam suasana hati yang sangat baik.

Kamu sepertinya dalam suasana hati yang baik?

Itu, um, karena kamu sudah memperhatikanku, Nakayama-kun, katanya, tersenyum malu-malu namun bahagia. Aku menyadari apa yang kamu katakan saat makan siang bukanlah kebohongan, dan itu... membuatku bahagia.

Hatiku tidak cukup kuat untuk menahan komentar yang mendadak itu, dan yang bisa kuucapkan hanyalah Begitu ya”.

Kami terus berjalan dalam diam, mengambil sepedaku, dan meninggalkan gerbang sekolah.

Kamu bisa menyimpan tasmu.

Kalau begitu, aku akan menerima tawaranmu.

Tanaka-san, apa kamu naik kereta ke sekolah setiap hari?

Ya. Dan kamu biasanya datang dengan sepeda, Nakayama-kun.

Ya, pada dasarnya naik sepeda kecuali jika hujan.

Kecanggungan itu segera hilang, dan kami kembali ke percakapan santai seperti biasa.

Hei, tahu enggak? Kedai ramen di sini rupanya menawarkan tambahan mie gratis setiap hari Jumat.

Serius? Aku harus mencobanya suatu saat nanti.

Menurut juniorku, rasanya sangat enak, jadi kamu harus mencobanya.

Saat kami mendekati stasiun, percakapan pagi kami kembali seperti biasa.

Tidak terjadi apa-apa," kataku.

Fufu, ini berkat kamu yang menjagaku, Nakayama-kun, katanya sambil tersenyum bahagia.

“Kuharap begitu.

Serius, dia sangat tidak adil hari ini dengan serangan mendadak ini. Menyadari wajahku sedikit memerah, aku mengembalikan tasnya.

Terima kasih banyak untuk semuanya. Sampai jumpa besok, katanya, dan menuju ke peron. Saat aku melambaikan tangan kepadanya, dia berbalik tepat sebelum naik eskalator.

Aku sudah menerima benda keberuntungan darimu, Nakayama-kun, jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir.

Wajahku pasti menunjukkan kecemasanku. Dia tersenyum untuk menenangkanku dan menaiki peron.

...Memalukan sekali. Dia sudah mengetahuinya?

Begitu dia benar-benar menghilang dari pandanganku, aku mencapai batas kesabaranku dan berjongkok di tempat. Para siswa lain menatapku dengan aneh, tapi pikiranku begitu dipenuhi oleh Tanaka-san sehingga aku tidak menyadarinya.

 


 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama