Chapter 4 — Tanaka-san Begitu Peduli
Berikut
pertanyaan singkat untuk kalian semua:
tipe orang seperti apa yang disukai oleh pria dan wanita? Apa seseorang yang
baik kepada semua orang, apa pun situasinya? Atau sebaliknya—seseorang yang
tegas tetapi adil kepada semua orang? Jawabannya mungkin bervariasi dari masing-masing orang, tetapi
jika kalian bertanya padaku, aku punya teori.
Orang
yang benar-benar disukai oleh semua orang, tanpa memandang jenis kelamin,
adalah ‘seseorang yang hebat dalam
merawat orang lain’. Ketika kalian dalam kesulitan, siapa pun akan
merasa berterima kasih kepada seseorang yang mengulurkan tangan, bukan?
Nah,
tergantung bagaimana mereka menawarkan bantuan itu, kalian mungkin merasakan sedikit rasa
kesal pada awalnya. Tetapi pada akhirnya, seiring pemahamanmu tentang mereka semakin dalam dan
kamu memahami niat mereka yang
sebenarnya, perasaan buruk itu cenderung hilang.
Hal tersebut
lalu membawa pada
pertanyaan lain. Apa yang terjadi ketika
perasaan buruk terhadap seorang teman di mana
kamu telah bekerja sama
dengannya untuk memecahkan masalah, telah sepenuhnya
hilang?
Jawabannya
sederhana: persahabatan pun berkembang.
Atau,
mungkin saja, mereka jatuh cinta.
Itulah sebabnya orang yang pandai merawat orang
lain secara alami disukai oleh semua orang.
Aku
sampai pada kesimpulan ini karena seseorang yang kukenal.
“Oh,
Nakayama-kun, apa yang kamu lakukan
di tempat seperti ini?”
“Ah,
Akizuki-senpai. Heya.”
“Fufu, heya juga untukmu.”
Orang
yang memanggilku adalah seorang gadis berambut merah cantik dengan sosok yang
bisa menghentikan kerumunan lalu
lintas. Aku sedang melamun di lorong yang sepi sepulang sekolah ketika suaranya
memecah keheningan.
Dia
adalah Akizuki Madoka-senpai, yang dikenal di seluruh sekolah sebagai “Akihime.”
Sekilas, dia memberikan kesan dingin, hampir mengintimidasi, tetapi
bertentangan dengan penampilannya, dia penuh humor, sangat terampil dalam
mendekati orang, dan sangat bersemangat.
Oleh sebab
itu, dia adalah orang yang sangat baik yang sering mendengarkan
kekhawatiran orang lain, melakukan yang terbaik untuk membantu mereka menemukan
solusi yang paling cocok untuk mereka.
Tentu
saja, karena aku memiliki ingatan tentang kehidupan masa laluku, aku sudah mengenal tentang dirinya. Tetapi melihat dan
mengalaminya secara langsung adalah dua hal yang sangat berbeda. Melihatnya
benar-benar khawatir dan berjuang bersama orang lain, semua demi mereka,
sungguh menakjubkan untuk disaksikan. Tidak heran dirinya populer tidak hanya di kalangan
laki-laki, tetapi juga di kalangan perempuan.
Aku masih
terkekeh ketika mengingat pemilihan ketua OSIS tahun lalu, di mana setiap siswa
memilihnya. Serius, semua orang terlalu menyukainya.
Dan entah
bagaimana, aku memiliki hubungan yang cukup akrab
dengan ketua OSIS yang sangat dipuja semua
orang ini. Ketika aku pertama kali masuk, aku pikir
kami tidak akan pernah berinteraksi, karena berada di kelas yang berbeda.
Tetapi karena takdir, aku ditunjuk menjadi panitia festival budaya.
Secara
alami kami memiliki lebih banyak kesempatan untuk berbicara, dan sekarang kami
bahkan saling mengirim pesan singkat di aplikasi perpesanan. Saat itu, aku
tidak mengerti mengapa seorang senior yang terkenal pelit dengan informasi
kontaknya mau bertukar nomor ponselnya
dengan karakter sepertiku. Namun setelah mengenalnya lebih dekat, aku menemukan bahwa dia sebenarnya
seorang otaku sejati.
Tokoh-tokoh
utama di sekitarnya, seperti Kaisei dan Haruno, adalah penggemar biasa yang
hanya tertarik pada hal-hal yang sedang populer saat ini.
Jadi, dia
mungkin menginginkan seorang teman yang bisa diajak berdiskusi tentang otaku
sepuasnya, tanpa ada perasaan romantis yang menghalangi. Mengingat percakapan
LINE kami baru-baru ini, ternyata isinya
hanya manga dan anime.
“Jadi,
ada apa?” tanyanya
lagi, menarikku dari
lamunan. “Berdiri
sendirian di lorong seperti ini.”
“Ah, yah, guru
wali kelasku memintaku untuk membantu membawa beberapa
meja untuk kelas besok. Tapi dia tiba-tiba harus pergi untuk perjalanan bisnis,
jadi sekarang aku bingung
harus berbuat apa.”
“Begitu,”
katanya, ekspresinya berubah. “Kalau begitu,” dia berdeham, berpose. “Wahai
domba yang malang, apa kamu
menginginkan kekuatan diriku yang agung ini?”
Setelah
memahami situasiku, Akizuki-senpai mengulurkan tangannya dengan suara yang
sedikit teatrikal. Rupanya, dia sedang ingin memeragakan adegan dari anime
fantasi isekai terbaru.
Aku
menghela napas dalam hati tetapi memutuskan untuk ikut bermain. “‘Aku
menginginkannya! Pinjamkan kekuatanmu, wahai Roh Kegelapan Agung.’”
“‘Baiklah,’”
serunya, matanya berbinar. “Kalau begitu, aku, Akizuki Madoka, Roh Kegelapan
Agung, akan meminjamkan kekuatanku kepadamu.”
Dia
dengan gembira meraih
tanganku, dan aku harus menahan senyum. Sejujurnya, dengan rambut merah terangnya itu, aku rasa dia tidak bisa
dianggap sebagai Roh Kegelapan.
Dengan
guru yang memberiku tugas itu sekarang sudah pergi, bantuannya sangat
diperlukan. Tidak baik mengatakan sesuatu yang tidak perlu dan merusak suasana
hatinya.
“Terima
kasih,” kataku, sedikit menundukkan kepala.
Sikap
dramatis Akizuki-senpai lenyap, digantikan oleh senyum malu-malu. “Ahaha,
terima kasih sudah ikut meladeni kekonyolanku.”
Kurasa aktingnya sudah berakhir, dan rasa malu akhirnya menghampirinya.
Jika dia
akan merasa gugup seperti ini, seharusnya dia tidak memulainya dari awal.
Sekarang, berkat dia, gelombang rasa malu yang menular menghampiriku, dan aku
tidak bisa berhenti gelisah.
“Jadi,
bisakah kamu ambil
sisi itu?” tanyanya, sambil menunjuk ke tumpukan meja.
“Baik.”
Seolah-olah ingin menghilangkan rasa canggung yang
masih tersisa, kami bergabung, mengangkat sekitar empat meja sekaligus dan
menuju ke lorong.
“Hei, apa
kau menonton anime romansa kantor kemarin?” dia memulai, antusiasmenya kembali.
“Ketika tokoh utamanya, yang begitu polos, akhirnya menyadari perasaannya
sendiri. Oh, itu bagian terbaiknya!”
“Ah, itu
bagus sekali,” aku setuju. “Mereka menggambarkannya dengan sangat baik, aku
benar-benar bisa berempati dengannya.”
“Benar, ‘kan?!
Haaah~ Aku juga menginginkan kisah cinta seperti itu.”
“Dalam
kasusmu, Akizuki-senpai, kisah cinta yang berkembang perlahan tidak mungkin
terjadi dengan begitu banyak saingan. Jika kamu
menunggu terlalu lama, seseorang akan merebutnya.”
“Ugh, aku
tahu itu,” dia cemberut. “Tapi tidak ada salahnya
untuk bermimpi, kan?”
“Dari
sudut pandangku, kamu sudah menjalani kehidupan seperti di anime romantis, Senpai.”
“Aku
bukan penggemar hal-hal harem!” balasnya. “Yang lebih penting, dengarkan ini!
Beberapa hari yang lalu, Kaisei-kun—”
Selama
sepuluh menit berikutnya, saat kami membawa meja bolak-balik, aku disuguhi
ocehannya—campuran kacau antara pembicaraan anime dan keluhan yang sebenarnya
hanyalah pamer terselubung tentang kehidupan cintanya. Akhirnya, pada
perjalanan keempat kami, pekerjaan itu selesai.
“Kamu sangat membantu, senpai,”
kataku, sambil mengeluarkan dompetku saat kami berdiri di kelas yang sekarang
kosong. “Izinkan aku membelikanmu jus.”
Dia
perlahan menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku melakukannya karena aku
ingin.”
Respons
itu sepenuhnya sesuai dengan harapanku. Aku sudah menyiapkan balasan. “Aku
sangat haus. Mau minum denganku?”
Balasanku
tepat sasaran. Akizuki-senpai menatapku dengan tatapan kosong dan tercengang
sejenak sebelum bahunya mulai bergetar karena geli. “Fufu, kamu tidak pernah kehabisan
kata-kata, ya, kouhai? Kalau begitu, aku tidak punya pilihan. Akizuki Madoka
ini akan menemanimu.”
Dengan
ini, aku akhirnya bisa membayar sebagian hutang yang telah menumpuk,
pikirku sambil menghela napas.
Wanita
ini, dia tidak pernah menerima apa pun hanya karena dia seniorku.
Sungguh
orang yang merepotkan. Dengan pemikiran
begitu, aku mulai berjalan menuju
mesin penjual otomatis. Di
perjalanan, suara pertunjukan klub orkestra
terdengar dari gedung sekolah di seberang kami.
“Oh,
ini ‘Same Blue’ dari ‘Seishun no Hako,’ kan?” Akizuki-senpai langsung mengenali
lagu itu sebelum aku sempat mengingatnya. Seperti yang diharapkan dari seorang
otaku yang lebih hebat dariku; dia ahli dalam hal lagu tema anime. (TN: Mereka merujuk pada Same Blue, lagu pembuka Anime Blue Box)
“Apa itu anime yang baru?” tanyaku.
“Bukan,
itu anime romantis bertema olahraga yang tayang musim gugur lalu. Begitu PV-nya
keluar, aku tahu itu sesuai seleku,
dan benar saja, itu sangat populer. Saking bagusnya, aku membeli semua volume
manganya,” jelasnya, sebelum menoleh kepadaku dengan tatapan menuduh. “Dan hei,
kita pernah membicarakan ini sebelumnya, kan? Kenapa kamu tidak mengingatnya?”
“Eh,
yah, itu…” Aku segera mengalihkan pandanganku. Tidak mungkin aku bisa mengatakan
padanya bahwa aku terlalu sibuk dengan Tanaka-san sehingga tidak memperhatikan.
Aku
pertama kali bertemu Tanaka-san sekitar musim gugur lalu. Yang kulakukan
hanyalah mengambil lembar kerja yang dia jatuhkan; kami bahkan tidak sempat
berbincang sungguh-sungguh.
Jika
dipikir-pikir kembali, jika aku berbicara dengannya
saat itu, mungkin kami akan lebih dekat sekarang. Tapi saat itu, aku sedang
dilanda cinta pandangan pertama yang hebat dan tidak dalam kondisi untuk
melakukan percakapan yang layak. Aku mungkin hanya akan mempermalukan diriku
sendiri, jadi mungkin itu yang terbaik.
Tidak,
ini semua salah Tanaka-san karena terlalu imut. Dia benar-benar wanita yang
berdosa.
Saat aku
secara mental membebankan semua tanggung jawab kepada Tanaka-san, penampilan klub orkestra, digantikan oleh
suara-suara riang dari gedung seberang. Di antara mereka, aku mendengar suara
yang kukenali, dan aku menajamkan telinga untuk mendengarkan.
“Tenang,
tenang, kamu berhasil memainkannya sampai selesai kali
ini! Kamu hampir tidak membuat kesalahan,
itu luar biasa!”
“Terima
kasih! Ini semua berkatmu karena telah mengajariku dengan sangat teliti,
Tanaka-senpai.”
“Aku baru
saja mengajarimu beberapa trik kecil. Kamu
bisa melakukannya karena kamu sendiri
bekerja keras, Hamada-san.”
Ternyata
itu Tanaka-san. Aku menoleh dan melihatnya menepuk-nepuk kepala seorang gadis yang
tampaknya juniornya.
“A-!?”
Bikin iri
banget! Hei, anak kelas satu,
tukar tempat denganku! Aku akan memberimu seratus juta yen!
Tangisan
iri hatiku yang tak disengaja membuatku mendapat tatapan terkejut dari
Akizuki-senpai. “Mendadak ada apaan,
Nakayama-kun?”
Jika dia
tahu tentang Tanaka-san di sini, segalanya pasti akan menjadi rumit. “Bukan
apa-apa,” kataku, berusaha menepisnya sebisa mungkin.
“Hmm,
begitu. Tapi aku penasaran~?” katanya sambil mendekat. “Aku benar-benar
penasaran tau~~?”
Setelah
berkenalan begitu lama, dia merasakan aku menyembunyikan sesuatu, dan sekarang
dia tidak akan membiarkannya begitu saja.
“Seriusan, itu bukan
apa-apa.”
“Ehh~
suara dan wajah itu mirip dengan ekspresi
yang kamu buat ketika ada sesuatu yang
terjadi~ Ayolah, ayolah, akui saja.”
Godaan ini
berlanjut sampai ke mesin penjual otomatis. Tepat ketika kesabaranku mulai
menipis, Tanaka-san sendiri muncul dari gedung sekolah.
“Oh,
Nakayama-kun,” katanya, matanya berkedip penasaran. “Tidak biasanya melihatmu
di sekolah pada jam segini. Apalagi bersama Ketua OSIS Akizuki.”
“Begini,
guru wali kelask kita,
Yamamoto-sensei, meminta bantuanku,” jelasku. “Aku sedang membawa beberapa
barang. Akizuki-senpai membantuku, jadi aku berterima kasih padanya sekarang.”
“Hei,
hei, dengar ini!” Akizuki-senpai memanfaatkan kesempatan itu, merangkul bahu
Tanaka-san. “Nakayama-kun sangat keras kepala. Dia tidak mau bicara sepatah
kata pun. Sebagai teman sekelasnya,
apa kamu tidak tahu cara yang baik untuk
membuatnya bicara?”
“Ah, um…”
Terkejut dengan pelukan tiba-tiba dari ketua OSIS, Tanaka-san menatapku,
alisnya berkerut karena khawatir.
Melihat
kesulitannya, aku memberinya jalan keluar. “Tanaka-san, lebih baik jangan
menganggap serius orang seperti ini.”
Seperti
yang diharapkan, perhatian Akizuki-senpai kembali tertuju padaku. “Dasar jahat!
Jujur saja, Nakayama-kun, kurasa kamu
perlu lebih menghormati seniormu.”
“Aku
menghormati orang yang memang pantas dihormati.”
“Apa-apaan itu tadi~!? Kurang ajar sekali!”
Saat kami
saling melontarkan candaan ringan, senyum kecil yang manis muncul di bibir
Tanaka-san. “Kalian berdua akur sekali.”
Namun,
entah kenapa, kata-katanya terasa sedikit menyakitkan.
Gaway.
Dia akan salah paham dan berpikir aku punya perasaan untuk Akizuki-senpai! Aku
harus menjelaskan ini, dan secepatnya.
“Kami
tidak akur,” kataku tegas, mungkin sedikit terlalu keras. “Yang lebih penting,
Tanaka-san, apa yang sedang kamu lakukan di sini?”
Meskipun
aku tahu dia mungkin belum menganggapku seperti itu, aku harus menyangkal
hubungan khusus apa pun yang kumiliki dengan
Akizuki-senpai.
“Ah, ya.
Aku datang untuk membeli jus untuk memberi hadiah kepada junior yang telah
bekerja keras,” jawabnya.
Dengan
itu, suasana mencekam beberapa saat yang lalu lenyap, dan senyum Tanaka-san
yang tadi tampak tajam melunak.
Mungkinkah
dia penyebab ketegangan itu? Tidak, itu tidak mungkin. Dia adalah malaikat yang
membelikan jus untuk juniornya yang pekerja keras. Tidak mungkin dia
menciptakan suasana seperti itu.
Aku
segera menyingkir untuk membiarkan Tanaka-san menggunakan mesin penjual
otomatis. Dia memasukkan uangnya dan membeli sekaleng jus.
“Baiklah,
kalau begitu, aku
permisi,” katanya sambil sedikit membungkuk.
“Ah,
tunggu sebentar. Ambil ini juga.”
Aku
merasa terganggu karena dia hanya membeli satu minuman. Secara impulsif, aku
menghentikannya dan melemparkan botol teh susu yang baru saja kubeli untuk
diriku sendiri.
“Um, apa
ini?” tanyanya, bingung dengan gerakan tiba-tiba itu. Dia menatap teh susu di
tangannya, lalu melirik wajahku, seolah mencoba memahami maksudku. Mana mungkin aku bisa
mengatakan yang sebenarnya padanya—bahwa itu untuk menebus kesalahanku karena
telah menyalahkannya secara mental atas gangguanku sebelumnya.
“Ini
untukmu, Tanaka-san,” kataku, berimprovisasi. “Kamu
membantu juniormu berlatih, kan? Aku sedikit mendengarnya. Jadi, ini hadiah untuk itu.”
“…”
Dia
terdiam, pandangannya tertuju pada botol teh susu.
Apa aku
melakukan kesalahan?
Kecemasan
yang tak terlukiskan mencengkeramku. Setelah beberapa saat, dia mendongak, dan
dengan suara lemah, berkata, “…Terima kasih.” Kemudian, tanpa sepatah kata pun,
dia berbalik dan berlari kembali ke gedung sekolah.
Ahhhhh—!
Aku melakukan kesalahan lagiiiii—!
Aku menghina diriku di masa lalu karena
mengira dia akan senang hanya karena aku memberinya minuman favoritnya. Tidak
peduli bagaimana kamu
melihatnya, itu adalah kegagalan komunikasi total. Saking terkejutnya, aku ambruk di tempatku berdiri.
“Hei,
Nakayama-kun! Mendadak kamu kenapa sih!?”
Suara Akizuki-senpai terdengar dari kejauhan. “Tidak ada yang salah dengan apa
yang baru saja kamu
lakukan, bahkan itu cukup bagus—”
Namun
kata-katanya tidak mampu menembus kabut keputusasaanku.
◇◇◇◇
“Ah,
selamat datang kembali. Tanaka-senpai, itu apaan?”
“Ah, um.
Hadiah. Aku membelikannya untukmu karena kamu
telah bekerja keras, Hamada-san,” jawab Tanaka sambil menyodorkan jus jeruk.
“Benarkah!?
Terima kasih banyak! Kalau begitu, boleh aku minta yang teh susu?” tanya juniornya sambil
menunjuk botol yang lain.
“Jangann!” Jawaban Tanaka tajam dan
tiba-tiba.
“Apa-!? Ma-Maafkan aku! Karena terlalu lancang memilih sendiri!”
“Ah,
tidak, tidak, m-maaf,” Tanaka tergagap sambil menggelengkan kepalanya. “Bukan
seperti itu. Yang ini… hadiah. Apa jus jeruk saja tidak
masalah? Kamu
menyukainya, kan, Hamada-san?”
“Kalau
begitu, tidak apa-apa! Hari ini aku sedang ingin minum teh susu, tapi aku juga
sangat, sangat, sangat suka jus jeruk. Aku senang kamu
masih mengingatnya, Senpai.”
“Tentu saja.
Ini dia.”
“Terima
kasih.”
“Sama-sama.”
Setelah
memberikan minuman itu kepada juniornya, Tanaka memeluk botol teh susu itu
erat-erat di dadanya, tatapannya kosong.
Hadiah… darinya…
“Um, ada
apa, senpai?”
Suara lembut
keluar dari bibirnya. “…Kyuuu.”
“Waaahhh—!
Tanaka-senpai mendadak pingsan—!”
Sebelumnya | Selanjutnya
