Downer-kei Gyaru Chapter 7 Bahasa Indonesia

 Chapter 7 — Sepuh Cosplay

 

 

“Eh! Tsukino-chan, hari ini kamu juga tidak bisa datang!?

“Maaf, karena aku ada keperluan lain.” 

Awal minggu. 

Di belakangku, anggota kelompok utama yang biasanya berkumpul, hari ini juga membahas cara menghabiskan waktu setelah sekolah. 

Watanabe sepertinya ingin makan “kari keju” edisi terbatas dari minimarket, dan pembicaraan hampir sepakat ke arah itu, tapi Yukikawa yang menyatakan ketidakikutsertaannya membuat situasi menjadi rumit. 

Memangnya ada keperluan apa? Kamu selalu bilang begitu tapi belakangan ini kamu jarang sekali ikut bermain.” 

“Tidak ada salahnya, kan? Lagipula, ada gunanya kita berkumpul setiap hari? Kita tidak perlu terlalu banyak bermain.” 

Hahhh…! Kamu tidak perlu ngomong begitu juga kali? Kita ini berteman, ‘kan!? 

“Teman…” 

Yukikawa bergumam

Apa mereka benar-benar bisa disebut teman sejati? 

Jika mereka memang teman, apa dia harus selalu ikut serta dalam ajakan mereka

────Hubungan seperti itu hanya akan melelahkan. 

Meskipun aku hanya mendengarkan percakapan mereka, tapi itulah yang kupikirkan

Persis seperti yang dikatakan Yuka. Belakangan ini kamu jarang ikut nongkrong dengan kami, Yukikawa. Kita semua kelompok tetap, ‘kan? Tanpa keberadaanmu, rasanya kurang seru.” 

“Walaupun kamu bilang begitu…” 

“……Yah, jika ada rencana lain, aku tidak bisa memaksakanmu. Tapi, seharusnya kamu bisa lebih memprioritaskan kita, kan?” 

────Itu tergantung pada apa yang diinginkan Yukikawa. 

“Ah, maaf. Sebenarnya aku juga ada rencana hari ini…” 

“Eh, Haru juga?” 

Momoki menggabungkan kedua tangannya dan meminta maaf kepada semua orang. Situasi ini pasti sangat mengecewakan bagi anggota tim utama. 

“Eh, bukannya Haru juga belakangan ini jarang ikutan nongkrong, ya?” 

“Apa yang terjadi dengan kalian berdua… jangan-jangan kalian bergaul dengan orang lain!?” 

Suara Yamanaka terdengar sangat panik. Anggota kelompok utama jelas-jelas melihat Yukikawa dan Momoki sebagai pusat grup. Artinya, keberadaan mereka adalah kunci tim utama. 

Jika kedua orang ini tidak ada secara bersamaan, posisi mereka akan terancam. Seluruh kehidupan sekolah mereka bisa berubah total. Sangat jelas bahwa Yukikawa belakangan ini menjadi kurang kooperatif. 

Setidaknya, jika Momoki bisa ditahan, kelompok utama benar-benar akan berakhir, pikir anggota lainnya. 

Mendengar hal itu, Momoki segera membantah. 

“Tidak! Sebenarnya, itu karena… masalah keluarga, kok?” 

“……Benarkah?” 

“Eh, apa kamu bilang… aku berbohong?” 

“Ah… bu-bukan begitu maksudku!? Ya, jika itu masalah keluarga, tidak apa-apa…” 

“Begitulah… maaf ya?” 

────Sungguh tidak meyakinkan. 

Siapa pun yang mendengar tahu bahwa perkataan Momoki adalah kebohongan. Namun, tidak ada yang bisa mempertanyakan lebih jauh. Dengan tekanan yang ditunjukkan sesaat oleh Momoki, Watanabe menyadari posisinya. 

Jika ia terus mendesak, dirinya akan diusir dari grup ini. 

“Mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati, jadi untuk hari ini aku benar-benar minta maaf, ya?” 

“……” 

Para anggota kelompok utama terdiam ketika mendengar ucapan Momoki. 

Meskipun mereka memiliki banyak hal yang ingin diungkapkan, begitu mereka mengatakannya, mereka sudah kalah. 

Memang, aku tidak merasa sedikit pun iri pada mereka. 

Mereka selalu bergantung pada Yukikawa dan Momoki, takut diusir, sehingga tidak bisa mengungkapkan perasaan sebenarnya, hidup selalu dalam ketegangan. Imbalannya hanya rasa iri dari orang-orang di sekitar. Aku sama sekali tidak memahami apa yang menyenangkan dari hal itu. 

 

◇◆◇

 

Sepulang sekolah, aku dan Yukikawa menuju Ikebukuro untuk mencari bahan kostum. 

“……” 

Di dalam gerbong kereta yang bergoyang, aku mencuri pandang ke wajah Yukikawa. 

Dia kelihatan tidak marah—meskipun jelas terlihat ada ketidakpuasan di wajahnya. 

“……Hm, ada apa?” 

“Ah, tidak… aku hanya berpikir kamu terlihat kurang bersemangat.” 

Tidak juga… Terima kasih sudah mencemasskanku. Aku baik-baik saja. Hanya saja, ini jadi sedikit merepotkan.” 

Maksudmu tentang Watanabe atau Yamanaka?” 

“Ya, bisa dibilang begitu… Aku tahu mereka bukan orang jahat.” 

Sebuah desahan keluar dari mulut Yukikawa. 

Sepertinya, dia cukup tertekan. 

“……Meskipun rasanya aneh kalau aku bilang begini, memangnya kamu benar-benar perlu bergaul dengan mereka?” 

“Hmm… ya, perkataanmu memang sedikit benar.” 

Yukikawa tampak sangat serius. Sepertinya dia sedang mencoba merapikan pikirannya, lalu mengangguk-angguk sejenak. 

Yukikawa diajari oleh orang tuanya tentang pentingnya hubungan antar manusia, dan dia berusaha mengingatnya dalam hidup. 

Itu adalah hal yang baik. Aku sangat menghormatinya karena aku sendiri tidak bisa melakukannya. 

Namun, dengan siapa dia berteman adalah hak Yukikawa. Jika dia mau, masih banyak orang lain yang bisa bersahabat. Tidak ada alasan untuk terikat pada mereka. 

“Tapiiirasanya sedikit menjengkelkan jika kami berhenti bergaul, kan? Kita baru saja masuk sekolah… rasanya bakal lebih melelahkan jika keadaannya menjadi canggung.” 

Yukikawa terus melanjutkan sambil memainkan jemarinya

Bukannya mereka melakukan hal yang tidak menyenangkan padaku, rasanya cuma sedikit merepotkan saja… dan memutuskan persahabatan itu seperti… terlalu sulit, bukan?” 

“Aku bahkan kesulitan untuk mencari teman.” 

“Maaf, mungkin aku berbicara dengan orang yang salah.” 

────Jangan merasa kasihan padaku

“Jika aku terus memutuskan hubungan hanya karena masalah ini, hal yang sama akan terjadi di manapun aku pergi, kan? Mungkin aku hanya perlu sedikit bersabar.” 

“Hmm…” 

Aku mengerti apa yang ingin dia katakan. 

Namun, menurutku, tidak ada gunanya memikirkan orang-orang yang menjadikan hubungan dengan Yukikawa sebagai status dan merasa lebih unggul. 

Yah, aku akan terus melakukannya dengan bersikap santai… tapi jika keadaannya semakin buruk, aku akan memikirkannya kembali.” 

“Begitu ya.”

Untuk saat ini, sepertinya dia akan menunda masalah ini. 

Sambil berbincang-bincang seperti itu, kami akhirnya tiba di Ikebukuro. 

Tujuan kami adalah toko kerajinan yang pernah kami kunjungi sebelumnya. 

Sambil memegang erat uang yang diperolehnya dari pekerjaan paruh waktunya, Yukikawa sekali lagi berhadapan dengan bahan-bahan yang sebelumnya tidak dapat dibelinya. 

Aku sudah menghitung jumlah kain yang dibutuhkan... kamu bisa membelinya, kan?” 

“Ya. Mungkin bisa! Pertama-tama, kain yang paling besar────” 

Yukikawa meraih kain dasar. Namun, tangannya bertabrakan dengan tangan orang lain. 

“Ah, maafkan aku…” 

Orang itu menarik tangannya dan melihat ke arah kami. 

Yang tak disangka-sangka, aku mengenali wajah orang itu”. 

“……Haru?” 

Tsu-Tsukino!? Dan Nagai jugaaa… kenapa kalian berdua ada di sini… ah!?” 

Momoki yang bingung segera menyembunyikan kantong kertas yang dipegangnya. 

Namun, karena itu dilakukan secara terburu-buru, isi kantong itu tidak tersembunyi dengan baik

“……Wig?” 

Terdapat rambut berwarna-warni di dalam kantong kertas tersebut. Wig itu sangat mirip dengan wig karakter yang pernah kami lihat di toko cosplay. 

“Ini… ehm… Be-Benar! Aku ingin menjadi penata rambut di masa depan, jadi aku berencana menggunakannya untuk latihan memotong────” 

“……Lalu, apa urusanmu dengan toko kerajinan?” 

“Itu… untuk melanjutkan ke jalur desain pakaian…?” 

“Jangan tanyakan padaku…” 

“Uh, uhh…” 

Mungkin karena akhirnya menyerah, Momoki terjatuh di tempat. Mungkin dia datang ke sini untuk membeli barang-barang cosplay. 

Aku tidak percaya kalian berdua memergokiku di tempat seperti ini… Tunggu, kenapa kalian berdua ada di sini?” 

““……”” 

Untuk memastikan niat satu sama lain, aku dan Yukikawa saling memandang. Kurasa sepertinya tidak ada salahnya untuk berbicara jujur di sini

“……Sebenarnya, Haru....” 

Yukikawa tampaknya sepakat denganku, dan mulai menceritakan semuanya dengan tenang. 

Mengenai bagaimana bahwa secara kebetulan kami memiliki hobi yang sama dan kami menjadi teman otaku. 

Bahwa dia berusaha membuat kostum untuk cosplay. 

Momoki yang mendengarkan dengan serius akhirnya menghela napas seolah terkesan. 

Hahhh~~~~~ jadi itulah sebabnya kalian kelihatan sangat akrab.” 

“Eh? Y-ya… bisa dibilang begitu.” 

“Ah, jadi begitu rupanya. Baguslah, rasanya seperti masa muda banget. Mirip seperti di dunia ‘Gyaru Otaku Ingin Berpenampilan Menarik’.” 

Momoki berkata demikian sambil mengangguk-angguk. 

Gyaru Otaku Ingin Berpenampilan Menarik’ adalah sebuah karya tentang seorang mahasiswa pria di sekolah mode yang membuat kostum cosplay untuk teman masa kecilnya yang ditemuinya kembali. 

Teman masa kecilnya adalah seorang gadis gyaru, tetapi selama bertahun-tahun tidak bertemu, dia telah menjadi otaku garis keras, dan protagonis terus-menerus terombang-ambing. 

Namun, ia mulai tertarik pada sifat percaya diri sang heroine yang terus mengungkapkan apa yang dia suka, dan akhirnya mereka semakin dekat melalui hobi otaku dan cosplay. 

Sebuah komedi romantis yang luar biasa yang mengikuti tren gadis gyaru yang baik hati terhadap otaku. Hanya saja, karena kontennya sedikit lebih dewasa, karya ini tidak pernah benar-benar dikenal luas. (TN: Parodi sono bisque doll wa koi wo suru wkwkwk)

Jadi, dengan menyebutkan nama karya tersebut, itu berarti Momoki juga berada di ‘pihak sini

“Jadi Haru juga... ternyata seorang otaku, ya. 

……Iya! Aku memang otaku!

Momoki yang sudah menyerah untuk menyembunyikan itu, mengungkapkannya dengan mata berkaca-kaca. 

Kalau kalian berdua bukan otaku, aku pasti sudah melakukan seppuku di sini…!

Apa kamu benar-benar sebegitu bencinya ketahuan sebagai otaku…?

Sebenarnya, aku tidak berniat memberitahu teman sekelas sama sekali! Jika mereka tahu aku seorang otaku, mereka pasti akan menjauh... terutama Yuka!" 

Memang benar kalau orang-orang seperti mereka biasanya tidak suka dengan otaku. 

Setelah bertahun-tahun menjadi otaku, kita bisa langsung mengenali orang-orang yang membenci kita hanya dengan melihatnya. 

……Bagaimana kalau kita berpindah tempat sebentar? Ngobrol di sini agak tidak nyaman.

Ya, itu ide yang bagus.

Setelah mendapatkan persetujuan dari keduanya, kami meninggalkan toko kerajinan.

 

◇◆◇

 

Setelah pergi meninggalkan toko, kami masuk ke dalam kafe terdekat. Sambil dikelilingi suasana yang agak aneh, kami bertiga saling memandang. 

“Umm… jadi, apa aku harus menceritakan kisahku?" 

Jika kamu tidak keberatan…

……Aku hanya memberitahu hal ini kepada Tsukino dan Nagai saha. Jadi jangan sekali-kali bilang pada orang lain, oke?

Mendengar permintaan itu, kami mengangguk dalam-dalam. 

Jadi, alasan kenapa aku bisa berada di toko kerajinan…

Setelah meneguk teh susu, Momoki mulai bercerita dengan suara lembut. 

Aku mulai menyadari hobi otaku saat kelas satu SMP. Kebetulan aku sangat ketagihan dengan anime larut malam, dan sejak saat itu aku terus mengikuti kabar dunia otaku. 

Jadi… Haru mulai suka cosplay saat kapan?" 

Mungkin saat kelas dua SMP? Aku pergi ke Comiket dengan teman otaku yang aku kenal di internet, dan melihat cosplayer untuk pertama kalinya.

Momoki menjawab pertanyaan Yukikawa dengan menyipitkan matanya seolah-olah sedang mengingatnya kembali. 

Orang itu sangat cantik… Setelah itu, aku mulai membeli bahan kostum sedikit demi sedikit dengan uang saku… mungkin dalam dua tahun aku sudah membuat sepuluh kostum. Yah, berkat itulah aku selalu kekurangan uang." 

Momoki tertawa terbahak-bahak. 

Aku sudah merasakan betapa cepatnya uang bisa menghilang hanya untuk membeli bahan kostum. Jika satu kostum bisa menghabiskan banyak uang, pasti tidak ada cukup uang untuk membeli manga atau light novel. 

Ngomong-ngomong, apa kostummu dari awal memang buatan tangan?" 

Iya. Nenekku ahli menjahit, jadi aku membuatnya sambil meminta bantuannya. Pada awalnya aku sama sekali tidak bisa dan hasilnya berantakan, tetapi setidaknya dari jauh terlihat lebih baik.

……Nee, Momoki. Apa kamu mempunyai foto dari waktu itu?

Eh!? Itu… memalukan." 

Apa kamu tidak mengunggahnya di media sosial?

Tidak… aku mengunggahnya sih, tapi jika harus menunjukkannya kepada teman sekelas tuh rasanya jadi hal yang berbeda… 

Meskipun dengan agak ragu-ragu, Momoki menunjukkan layar ponselnya kepada kami. Layar tersebut memperlihatkan Momoki yang berpose seperti berbagai karakter dari berbagai karya. 

Kami semua terkejut. Jika tidak diperhatikan dengan seksama, sulit untuk mengenali bahwa semua karakter tersebut adalah Momoki. 

Semua foto tersebut memiliki kualitas tinggi, dan terlihat seperti karakter asli. 

Woahh... tingkat kemiripannya terlalu tinggi.

Kualitasnya seperti keluar dari anime...

Saat kami memujinya, Momoki menggaruk pipinya dengan malu-malu

Y-Yah? Mungkin tidak seberapa sih? 

Momoki lebih pendek dari Yukikawa dan memiliki tubuh yang ramping. Dalam foto-foto itu, dia berpura-pura menjadi karakter yang mirip dengan gaya tubuhnya. 

Seberapa dekat dia bisa meniru karakter asli──── dari cosplay Momoki, aku merasakan tantangan semacam itu. 

Aku benar-benar terkesan dengan hal-hal seperti itu. 

Hobiku seperti ini... jadi, Yukino, kamu juga berpikir untuk cosplay, kan? 

Iya, aku sudah lama ingin mencobanya. Aku berencana membeli bahan-bahannya dengan bantuan Nagai...

Karakter apa yang akan kamu cosplaykan? 

Merry dari 'Marihare'.

Ah! Rambutmu juga berwarna perak, dan secara gaya kamu memang kelihatan cocok!

Momoki yang matanya berbinar berkata dengan penuh semangat. 

Bagus deh, Yukino punya payudara dan bokong yang besar, jadi mungkin tidak perlu ditambah lagi. Tingginya juga pas, sepertinya tidak perlu pakai sepatu platform... enak deh, cosplay-nya pasti menyenangkan! 

H-Haru?

Ah, maaf, maaf. Kalau sudah bicara cosplay, aku jadi terbawa suasana... jadi, apa kamu sudah mengukur ukuran tubuhmu?

Ukuran?

Ukuran tubuhmu. Jika kamu mau membeli bahan, kamu pasti sudah tahu berapa banyak yang dibutuhkan, kan? 

U-uhm... yah, gitu deh?”

Yukikawa melihat ke arahku. Sejujurnya, aku agak ragu untuk mengangguk. Aku menentukan panjang kain berdasarkan ukuran umum, tetapi bukan berdasarkan tubuh Yukikawa. 

Kain biasanya dibeli dalam satuan sepuluh sentimeter, jadi aku rasa tidak akan ada perbedaan besar────. 

Jangan-jangan, kamu belum mengukur ukuran tubuhmu?

……Iya. Maaf.

Astaga! Kamu tidak boleh seperti itu! Kamu harus membeli kain sesuai ukuran tubuhmu! Jika tidak, bisa jadi boros dan malah kurang! Sesuaikan dengan tubuhmu, belilah dengan tambahan sepuluh sampai dua puluh sentimeter! Dengan begitu, jika ada sedikit kesalahan, kamu masih bisa memperbaikinya! 

Aku mengangguk, merasa paham, dan mencatat kata-kata itu. 

Apa kamu sudah mencatat semua yang diperlukan?

Sebagai catatan, aku sudah mencoba bekerja sama dengan Nagai...

Bolehkah aku melihatnya?

Aku menunjukkan semua yang aku rencanakan untuk dibeli hari ini yang tercatat di catatan ponsel. 

Setelah melihatnya, Momoki mengangguk sambil melihat layar. 

Ya, bahan-bahannya bukan hanya ini saja, kan? Aku bisa mengurus lapisan belakangnya nanti... Kalian berdua, punya pengalaman menjahit?

Aku dan Yukikawa menggelengkan kepala secara bersamaan. 

Kami pernah memasukkan benang ke jarum di pelajaran keterampilan rumah, tapi itu terlalu lemah untuk disebut pengalaman. 

Kalau begitu, mungkin akan sulit di awal... apakah ada mesin jahit yang bisa digunakan?

Tidak, aku tidak punya mesin jahit... paling buruk, aku berpikir untuk meminjam yang ada di ruang pakaian...

Kalau Tsukino melakukan itu di sekolah, dia pasti akan terlalu menonjol, kan? Pasti lebih baik jika punya mesin jahit pribadi.

Semua kata-kata Momoki sangat meyakinkan. Untuk membuat kostum cosplay, dibutuhkan waktu kerja yang cukup banyak. Tak peduli seberapa sembunyi-sembunyi pun kita melakukannya, jika di sekolah, rasanya tidak mungkin untuk tidak ketahuan. 

Ya, mesin jahit yang kualitasnya bagus memang mahal... jadi wajar saja kalau kalian tidak punya.

Momoki, ada ide bagus tidak? Aku pikir menyewa mesin jahit bisa menjadi pilihan yang terbaik, tetapi aku tidak tahu sampai kapan harus menyewanya, jadi aku tidak bisa melakukannya.

Sebelum aku menyadarinya, aku sudah bertanya kepada Momoki. Aku yang tidak tahu banyak tentang cosplay, kini mendapatkan guru terbaik di sini. 

Maaf, tapi aku sudah siap untuk bergantung padanya. 

Umm... kalau begitu, mau pakai punyaku?

““Eh?””

Itu adalah mesin jahit warisan nenekku, dan aku kebetulan dapat dua. Aku akan meminjamkan salah satunya.

Seriusan?

Tentu saja! Karena ini untuk sahabatku.

Momoki berkata sambil menunjukkan senyum yang menyenangkan. 

…Sebagai gantinya, boleh aku minta sesuatu?

…? 

Aku juga ingin pergi ke kamar Nagai, boleh, ‘kan!? 

Momoki mencondongkan badannya ke arahku. 

Aku saling memandang lagi dengan Yukikawa. 

Sebenarnya, jika bisa meminjam mesin jahit dengan cara itu, aku akan dengan senang hati menyambut kedatangannya sesering mungkin.

 

◇◆◇

 

────Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku bisa mengundang dua gadis secepat ini setelah masuk sekolah...

Aku memikirkan hal itu sambil melihat keluar jendela dalam perjalanan pulang naik kereta. Kehidupanku yang tadinya pasti akan kesepian di SMA kini sudah berubah total. 

Rasanya agak malu juga merasa senang dengan hal itu. Padahal aku sudah bersikap bahwa aku sama sekali tidak masalah jika tidak punya teman. 

Kalau mau melakukan cosplay, kamu juga harus memikirkan penggunaan nipless atau nu-bra. Kalau pakai bra biasa saja, talinya akan terlihat.

Memang benar. Setelah kamu bilang begitu, aku jadi mengingatnya...

Percakapan antara Yukikawa dan Momoki adalah topik yang sulit untuk dibicarakan oleh laki-laki. 

Namun, mereka berdua sangat serius. 

Supaya tidak mengganggu, aku tetap diam. 

…Ini bukan karena aku merasa canggung.

 

◇◆◇

 

“Ohhhhhh...! Jadi inilah istana Nagai!

Setelah sampai di kamar unit apartemen, Momoki berseru dengan mata berbinar. Reaksinya terasa sangat segar. 

…Jangan terlalu berharap, ya. Ini hanya rumah biasa.

Aku membuka kunci pintu dan mengundang mereka berdua masuk. 

Begitu masuk ke dalam ruang tamu, Momoki berseru. 

Wow! Keren! Banyak rak buku! 

Sambil melihat sekeliling ruang tamu, Momoki mendekati rak buku terdekat. 

Wahhh, semuanya penuh sesak... Bagaimana kamu bisa mengumpulkannya sebanyak ini?

Sejak dulu aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit... Silakan bersantai dan anggap saja seperti di rumah sendiri. Oh, kamu boleh membaca manga atau light novel dengan bebas, tapi kalau mau berhenti, pakailah penanda buku.

Baik!

Jawaban yang ceria. 

Aku menuju dapur untuk membuat kopi instan. 

Momoki, kamu bisa minum kopi?

“Kopi? Aku bisa meminumnya asalkan dicampur susu dan gula!”

“Baiklah.”

Saat menunggu air mendidih di dapur, aku mendengar percakapan antara Momoki dan Yukikawa di ruang tamu. 

“Uwaahh! Bahkan semua jilid manga 'Marihare' juga lengkap...! Aku sudah membacanya cukup lama.

“Ceritanya menarik banget ya, 'Marihare'. Karakter mana yang kamu suka? 

Aku suka Mikoto... Sepertinya cocok dengan bentuk tubuhku.

Itu pandangan dari sisi cosplayer!

Begitu sudah terlanjur terjun, pandanganku jadi seperti itu! Tsukino juga pasti langsung tahu!

Eh, benar begitu ya...?

Entah kenapa, semangat Momoki terasa lebih tinggi dibandingkan saat di kelas. Ketika Yukikawa pertama kali datang ke ruangan ini, dia juga terlihat sangat senang. 

Tempat ini bikin betah... terlalu nyaman. Ini seperti surga. 

Melihatku kembali dari dapur, Momoki duduk di sofa. 

Lalu, dia mulai melihat-lihat lagi di dalam ruangan. 

Ngomong-ngomong, meskipun ini rumah seorang pria yang tinggal sendiri, tapi ruangannya sangat bersih, ya? Jangan-jangan, Tsukino yang membersihkan seperti istri yang datang berkunjung... 

Istri yang datang berkunjung...!

Wajah Yukikawa seketika langsung memerah. 

Melihat dia terkejut begitu, aku juga ikut merasa malu... 

Aku sendiri yang membersihkannya. Karena ruangan yang berantakan bisa merusak buku.

Eh...!? Kamu sendiri!?

Momoki membuka matanya lebar-lebar karena terkejut

Orang tuaku adalah pekerja keras sejati. Mereka sangat tidak terampil dalam hal lain. Jadi sejak tinggal di rumah, aku yang mengurus pekerjaan rumah. Ini adalah alasan mengapa rumah ini tidak berantakan, karena pengalaman itu masih berguna. 

Hm... Hebat... Entah kenapa, aku jadi merasa kalah.

Benar sekali...

Melihat kedua orang itu tiba-tiba merasa murung, aku menggaruk pipi. 

Yah, setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Aku hanya kebetulan tidak merasa terbebani dengan pekerjaan rumah. 

Tsukino, kamu tidak boleh membiarkan pria ini lolos begitu saja. Tidak diragukan lagi, ia pasti punya masa depan yang cerah. 

“Sudah kubilang, kamu lagi ngomong apaan sih!? 

Yukikawa sepertinya jadi sasaran ejekan saat bersama Momoki...

Biasanya, aku yang selalu dijadikan bahan ejekan, jadi pemandangan ini cukup jarang terlihat. 

…Ngomong-ngomong, kenapa kita tidak membuat kostum di sini saja? Kalau aku membawa mesin jahitnya kemari, kita bisa bekerja di sini, kan? Tempatnya juga cukup luas, dan tidak ada yang akan menemukan kita.

…Memang benar.

Ngomong-ngomong, aku belum memikirkan soal tempat. 

Seperti yang dikatakan Momoki, tidak ada tempat yang lebih cocok untuk bekerja tanpa diketahui orang lain. Ini benar-benar seperti pepatah tempat yang tergelap adalah tepat di bawah lampu

“‘Kan? Jika Nagai setuju, ayo kita lakukan di sini. Aku juga bisa punya alasan untuk sering datang.

────Jadi itu motivasi sebenarnya. 

Nagai, apa itu baik-baik saja?

Ditanya seperti itu oleh Yukikawa, aku segera mengangguk. 

Tidak masalah. Aku juga mungkin bisa membantu.

Begitu aku menjawab demikian, Momoki bertepuk tangan. 

Kalau begitu, sudah diputuskan! Mari kita mulai besok! 

Tunggu, tunggu. Kita belum membeli bahan-bahannya, kan...?

Oh, benar. Jadi, besok kita juga harus berbelanja?

Ya, kami harus pergi belanja lagi. Namun, sebelum itu, sepertinya ada yang harus dilakukan terlebih dahulu. 

Yukikawa.

“Hmm, ada apa?

Bagaimana kalua kamu meminta bantuan Momoki untuk mengukur ukuran tubuhmu? Kamu akan membutuhkannya jika kamu membuat kostum, kan?

Ah iya, benar juga. 

Menurut Momoki, mengetahui ukuran tubuh yang akurat sangat penting saat membuat kostum. Tentu saja, mengukurnya sendiri akan sulit. 

Karena aku tidak bisa membantunya, jadi sepertinya lebih baik jika diukur saat Momoki ada di sini. 

Haru, bagaimana cara mengukur ukuran tubuh seseorang? Kita pasti membutuhkan pita pengukur, kan?

Ya, aku akan menggunakan ini.

Sambil berkata begitu, Momoki mengeluarkan pita pengukur dari tasnya. 

Jangan-jangan, kamu membawanya kemana-mana?

Karena aku tidak tahu kapan akan diperlukan. Jadi, aku selalu membawanya supaya aku bisa mengukur di luar. 

Semangat Momoki terhadap cosplay tampaknya sangat tulus. Pita meteran yang dia miliki tampaknya digunakan untuk pengukuran keliling. 

Kalau begitu, ayo kita ukur sekarang.

Ya, baik. Tolong ya. 

Karena cepatnya perkembangan ini, Yukikawa tampak sedikit terkejut. 

“Kalau begitu, aku akan mengukur di kamar tidur, jadi Nagai tunggu di sini, ya. Oh, jangan sekali-kali mengintip oke! 

Aku tahu kok...

Tidak, seharusnya kamu tetap mengintip.

Apa sih yang kamu katakan?!”

Saat aku menatap Momoki yang terus berbicara aneh, dia tertawa dan menggenggam tangan Yukikawa. 

Ah! Nagai marah! Tsukino, ayo kabur!

Eh? Oh, tunggu sebentar...!

Momoki menarik Yukikawa ke dalam kamar tidur dan langsung menutup pintu. Dia tampak sangat senang. Sepertinya Yukikawa dan Momoki juga merasa senang dengan suasana ini. 

Aku pun merasakan hal yang sama.

Beberapa waktu telah berlalu setelah Yukikawa dan Momoki masuk ke dalam kamar tidur. 

Sambil menunggu mereka, aku membaca light novel, tetapi suara percakapan yang berasal dari kamar tidur secara alami terdengar di telingaku. 

Tsukino, payudaramu benar-benar besar sekali ya... Apa yang kamu makan sampai bisa menjadi seperti ini? 

Aku hanya menyantap makanan yang biasa-biasa saja... Ah, tunggu! Kamu tidak perlu mengukurnya seakurat itu──── 

Tidak boleh! Jika kamu ingin membuat kostum Merry, ukuran dada juga penting! Ehm, sembilan puluh... 

...Kenapa kamu diam? 

Tidak, entah kenapa... aku tiba-tiba merasa kalah... 

...Ya, mau bagaimana lagi kalau itu kamu, Haru 

Tunggu! Apa maksudmu!? 

────Rasanya canggung. 

Sebagai pria yang sehat, mau tak mau aku jadi merasa penasaran. Tentu saja, aku tidak berniat untuk mengintip. Aku tidak punya keberanian untuk itu. 

Rasanya sungguh konyol merasa gelisah hanya karena hal ini. Aku mencoba berkonsentrasi pada light novel dan menundukkan pandanganku. 

Eh!? Bokongmu juga besar... 

Jangan bahas bokong! Itu membuatku merasa tidak nyaman! 

Jangan bercanda! Sebaliknya, banggalah! Aku merasa sangat iri, tau! 

Jangan pegang pinggangku! Belakangan ini sedikit... umm, ada daging... 

Bagian mana!? Perutmu terlihat sangat indah! 

Jangan pedulikan percakapan mereka

Hapus semua pemikiran bejat. Fokus pada membaca dengan perasaan murni. 

Apa-apaan dengan bentuk tubuh ideal ini... Pahamu juga, meskipun sangat ramping, saat disentuh ternyata kenyal... 

Haru, kamu ini... Bolehkah aku marah sekarang? 

Akulah yang seharusnya merasa marah! Ini sudah berbeda dari struktur tubuh! Tidak adil, rasanya tidak adil! 

Eh, eh...? 

Percuma saja. Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. 

Aku sudah menyerah dan mulai bermeditasi. 

 

◇◆◇

 

“Kami sudah selesai mengukur!

Saat aku sedang bermeditasi, pintu kamar tidur terbuka. Keduanya tampak sedikit lelah, tidak kalah dari diriku. 

Karena Haru terus-menerus mengganggu, jadi mengukurnya butuh waktu lebih lama.

“Semua ini salah tubuh Tsukino sendiri! Wajar saja aku ingin menyentuh yang seperti itu!

Tidak boleh. Sudah dilarang menyentuh.

“Dasar pelit! 

Entahlah, apa ini hubungan yang terbuka atau bagaimana. Jarak di antara keduanya tampaknya lebih dekat daripada sebelumnya. 

Dengarin aku deh, Nagai! Tsukino benar-benar punya tubuh yang sangat bagus!

Ya... itu sih bisa terlihat.

Kenapa pakai bahasa sopan? Lucu.

Tidak lucu, aku ini...

Karena percakapan mereka yang meresahkan benar-benar membuatku merasa lelah. Padahal aku di kamarku sendiri, tapi dari tadi tidak bisa tenang. 

Ah... jadi, besok kita pergi ke Ikebukuro lagi, ya?

Ya, begitulah. Mari kita lakukan.

Akhirnya sepertinya kami bisa mulai membeli bahan. Kami sudah memutuskan untuk membuat kostum dari awal, dan sudah sekitar tiga minggu berlalu.

Kami bahkan belum sampai di titik awal. Aku tidak tahu apakah ada yang bisa kubantu ke depannya. Namun, setelah sampai sejauh ini, aku akan terus menemaninya

Ah, ngomong-ngomong. Nagai, boleh aku menginap lagi hari ini? Rasanya terlalu merepotkan buat pulang.

Ah, baiklah────ah.

Saat aku menerima permintaan Yukikawa tanpa berpikir, aku terkejut. 

“Menginap... eh?

Melihat wajah Momoki yang terkejut, sepertinya Yukikawa juga menyadari kesalahannya. 

Kami telah membicarakan bagaimana kami bisa saling terlibat, tetapi kami tidak banyak berbicara tentang bagaimana aku dan Yukikawa menghabiskan waktu di ruangan ini. 

Tentu saja, aku juga tidak pernah membicarakan bahwa Yukikawa sering menginap di tempatku. Baik aku maupun Yukikawa merasa sedikit bersalah tentang hal itu. 

Ehm, begini, kalian berdua tidak pacaran, kan?

Saat Momoki bertanya seperti itu, aku mengangguk. 

Hahaha, mana mungkin aku pacaran dengan Yukikawa! Kami berdua hanya teman otaku kok, teman otaku!

......

Eh, Yukikawa────guk! 

Perutku disikut dari samping, dan suara aneh keluar dari mulutku. 

Kenapa aku dimarahi? 

......Hahann~. Jadi begitu ya. 

Momoki mengangguk seolah-olah mengerti dan menepuk bahuku. 

“Yah yang emangat ya, Nagai. Tidak, Nagacchi.

Nagacchi...?

Aku juga sudah menjadi teman otakumu, kan? Jadi aku akan memanggilmu dengan Nagacchi.

......Oh, begitu.

Nagacchi juga boleh memanggilku dengan sebutan Haru! Karena kita berdua ‘kan teman otaku!

Sambil berkata begitu, Momoki mengacungkan jari jempolnya. 

Aku belum pernah memanggil orang dengan nama julukan sebelumnya. Momoki mengatakannya seolah itu hal yang biasa, tetapi bagiku itu cukup menekan. 

......Enggak adil. Masa cuma Haru saja.

Suara itu keluar dari mulut Yukikawa. Dia tampak cukup tidak senang. 

Ketika dia tidak senang, pipinya menggembung bulat, jadi aku langsung mengetahuinya

“Kamu juga bisa memanggilku Tsukino. Bukan dengan nama belakang.

Tapi, itu...

Apa? Tidak mau?

Ugh...

Dia masih bertanya dengan cara yang licik. Tentu saja bukan berarti aku tidak mau, hanya saja terasa terlalu menghormati. 

Namun, saat dia menatapku dengan tatapan memohon seperti itu, aku merasa telah melakukan kesalahan jika menolaknya. 

......Baiklah. Tsukino────dan, Haru.

Aku hanya jadi tambahan!?”

 Melihat Momoki yang bereaksi berlebihan, aku tidak bisa menahan tawa. Itu juga merupakan cara aku untuk menyembunyikan rasa malu. 

……Kentaro, mulai sekarang panggil aku dengan namaku ya." 

Ah, baiklah…… eh?

Sebentar, aku mau ke toilet.

Yukikawa, yang sekarang bernama Tsukino, membelakangiku dan keluar dari ruang tamu. 

Dalam kehidupanku sejauh ini, aku belum pernah dipanggil dengan nama oleh seorang gadis. Semakin aku memikirkannya, wajahku semakin panas. 

Ah, jadi ini namanya masa muda~. Serius, aku iri banget.

Haah…… jangan menggodaku……

Eh, jangan-jangan Nagacchi…… kamu masih perjaka?

T-tidak…… itu tidak ada hubungannya.

Memang tidak ada hubungannya, tapi Tsukino tidak menyukai orang yang bersikap besar kepala, jadi mungkin dia lebih suka perjaka yang rendah hati seperti Nagacchi." 

────Begitu ya…… 

Eh, kenapa aku merasa lega? Maksudku, aku sudah ditentukan sebagai perjaka tanpa perlu menyangkal. Walaupun itu memang benar sih. 

Yah, aku juga tidak punya pengalaman pacaran, jadi aku tidak tahu sih.

Eh, serius?

“Mengejutkan banget, kan? Meski terlihat seperti ini, aku memang seperti itu.

Keras kepala, ya. Mungkin itu kata yang baru aku pelajari. 

Baiklah, aku mungkin pulang sekarang. Nagacchi, jangan terlalu banyak melakukan hal-hal mesum dengan Tsukino, ya?

“Aku tidak melakukan itu, dan tidak akan melakukannya ke depannya.

“Heh~? Ayo kita lihat sampai kapan kamu bisa sanggup menahan diri.

Momoki membawa tasnya dan menuju pintu depan. Aku menghela napas sambil mengikutinya untuk mengantarnya. 

Jadi, sampai jumpa besok ya. Oh, jangan sekali-sekali menjadwalkan hal lain! Meski terlihat seperti ini, aku sangat bersemangat karena ini adalah teman otaku pertamaku di dunia nyata! Kalau janji dibatalkan, aku akan marah.

“Ak-Aku mengerti……

Bagus. Oh, Tsukino? Aku pulang duluan ya!

Saat Momoki berteriak seperti itu, Tsukino muncul dari toilet. 

……Cepat pulang saja sana.

“Baiklah, baiklah, setan pengganggu memang harus pulang. 

Haru!

Ah, Tsukino marah!

Momoki keluar dari ruangan sambil berteriak ceria

Dengan danya keheningan yang tersisa di rumahku, aku dan Tsukino saling bertukar pandang

Aku penasaran apa yang akan terjadi pada kami di masa depan nanti.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama