Chapter 7 — Sepuh Cosplay
“Eh!
Tsukino-chan, hari ini kamu juga tidak bisa datang!?”
“Maaf, karena aku ada keperluan lain.”
Awal
minggu.
Di
belakangku, anggota kelompok
utama yang biasanya berkumpul, hari ini juga membahas cara menghabiskan waktu
setelah sekolah.
Watanabe
sepertinya ingin makan “kari keju” edisi terbatas dari minimarket, dan pembicaraan hampir sepakat
ke arah itu, tapi Yukikawa yang menyatakan ketidakikutsertaannya membuat
situasi menjadi rumit.
“Memangnya ada keperluan apa? Kamu selalu bilang begitu tapi
belakangan ini kamu jarang sekali ikut
bermain.”
“Tidak ada salahnya, kan? Lagipula, ada gunanya kita
berkumpul setiap hari? Kita tidak
perlu terlalu banyak bermain.”
“Hahhh…! Kamu tidak perlu ngomong begitu juga kali? Kita ini berteman, ‘kan!?
“Teman…”
Yukikawa
bergumam.
Apa
mereka benar-benar bisa disebut teman sejati?
Jika
mereka memang teman, apa dia harus selalu ikut serta dalam ajakan mereka?
────Hubungan
seperti itu hanya akan melelahkan.
Meskipun aku hanya mendengarkan
percakapan mereka, tapi itulah
yang kupikirkan.
“Persis seperti yang dikatakan Yuka.
Belakangan ini kamu jarang ikut nongkrong dengan
kami, Yukikawa. Kita semua
kelompok tetap, ‘kan?
Tanpa keberadaanmu, rasanya kurang seru.”
“Walaupun
kamu bilang begitu…”
“……Yah,
jika ada rencana lain, aku
tidak bisa memaksakanmu. Tapi, seharusnya kamu bisa lebih memprioritaskan kita,
‘kan?”
────Itu
tergantung pada apa yang diinginkan Yukikawa.
“Ah,
maaf. Sebenarnya aku juga ada rencana hari ini…”
“Eh, Haru
juga?”
Momoki
menggabungkan kedua tangannya dan meminta maaf kepada semua orang. Situasi ini pasti sangat
mengecewakan bagi anggota tim utama.
“Eh, bukannya Haru juga belakangan ini jarang ikutan nongkrong, ya?”
“Apa yang
terjadi dengan kalian berdua… jangan-jangan kalian bergaul dengan orang
lain!?”
Suara
Yamanaka terdengar sangat panik. Anggota
kelompok utama jelas-jelas melihat
Yukikawa dan Momoki sebagai pusat grup. Artinya, keberadaan mereka adalah
kunci tim utama.
Jika
kedua orang ini tidak ada secara bersamaan, posisi mereka akan terancam. Seluruh kehidupan sekolah mereka
bisa berubah total. Sangat
jelas bahwa Yukikawa belakangan ini menjadi kurang kooperatif.
Setidaknya,
jika Momoki bisa ditahan, kelompok
utama benar-benar akan berakhir, pikir anggota
lainnya.
Mendengar
hal itu, Momoki segera membantah.
“Tidak!
Sebenarnya, itu karena… masalah keluarga, kok?”
“……Benarkah?”
“Eh, apa
kamu bilang… aku berbohong?”
“Ah… bu-bukan begitu maksudku!? Ya, jika itu masalah keluarga,
tidak apa-apa…”
“Begitulah…
maaf ya?”
────Sungguh
tidak meyakinkan.
Siapa pun
yang mendengar tahu bahwa perkataan
Momoki adalah kebohongan. Namun,
tidak ada yang bisa mempertanyakan lebih jauh. Dengan tekanan yang ditunjukkan sesaat oleh Momoki, Watanabe menyadari
posisinya.
Jika ia
terus mendesak, dirinya
akan diusir dari grup ini.
“Mulai
sekarang aku akan lebih berhati-hati, jadi untuk hari ini aku benar-benar minta
maaf, ya?”
“……”
Para anggota
kelompok utama terdiam ketika mendengar ucapan Momoki.
Meskipun
mereka memiliki banyak hal yang ingin diungkapkan, begitu mereka mengatakannya,
mereka sudah kalah.
Memang,
aku tidak merasa sedikit pun iri pada mereka.
Mereka selalu
bergantung pada Yukikawa dan Momoki, takut diusir, sehingga tidak bisa
mengungkapkan perasaan sebenarnya, hidup selalu dalam ketegangan. Imbalannya hanya rasa iri dari
orang-orang di sekitar. Aku sama sekali tidak
memahami apa yang menyenangkan dari hal itu.
◇◆◇
Sepulang sekolah, aku dan Yukikawa menuju
Ikebukuro untuk mencari bahan kostum.
“……”
Di dalam
gerbong kereta yang bergoyang, aku mencuri pandang ke wajah
Yukikawa.
Dia
kelihatan tidak marah—meskipun jelas terlihat ada
ketidakpuasan di wajahnya.
“……Hm,
ada apa?”
“Ah,
tidak… aku hanya berpikir kamu terlihat kurang bersemangat.”
“Tidak juga… Terima kasih sudah mencemasskanku. Aku baik-baik saja.
Hanya saja, ini jadi sedikit merepotkan.”
“Maksudmu tentang Watanabe atau
Yamanaka?”
“Ya, bisa
dibilang begitu… Aku tahu mereka bukan orang jahat.”
Sebuah
desahan keluar dari mulut Yukikawa.
Sepertinya,
dia cukup tertekan.
“……Meskipun
rasanya aneh kalau aku
bilang begini, memangnya kamu
benar-benar perlu bergaul dengan mereka?”
“Hmm… ya,
perkataanmu memang sedikit
benar.”
Yukikawa
tampak sangat serius. Sepertinya
dia sedang mencoba merapikan
pikirannya, lalu mengangguk-angguk sejenak.
Yukikawa
diajari oleh orang tuanya tentang pentingnya hubungan antar manusia, dan dia berusaha mengingatnya dalam
hidup.
Itu
adalah hal yang baik. Aku sangat menghormatinya karena aku sendiri tidak bisa
melakukannya.
Namun,
dengan siapa dia
berteman adalah hak Yukikawa. Jika dia
mau, masih banyak orang lain yang bisa bersahabat. Tidak ada alasan untuk terikat
pada mereka.
“Tapiii… rasanya
sedikit menjengkelkan jika kami berhenti bergaul, kan? Kita baru
saja masuk sekolah… rasanya bakal lebih
melelahkan jika keadaannya menjadi canggung.”
Yukikawa terus melanjutkan sambil memainkan jemarinya.
“Bukannya mereka melakukan hal yang tidak menyenangkan
padaku, rasanya cuma sedikit
merepotkan saja… dan
memutuskan persahabatan itu seperti… terlalu sulit, bukan?”
“Aku
bahkan kesulitan untuk mencari
teman.”
“Maaf,
mungkin aku berbicara dengan orang yang salah.”
────Jangan
merasa kasihan padaku.
“Jika aku terus memutuskan hubungan hanya karena
masalah ini, hal yang sama akan terjadi di manapun aku pergi, ‘kan? Mungkin aku hanya perlu
sedikit bersabar.”
“Hmm…”
Aku
mengerti apa yang ingin dia katakan.
Namun,
menurutku, tidak ada gunanya memikirkan orang-orang yang menjadikan hubungan
dengan Yukikawa sebagai status dan merasa lebih unggul.
“Yah, aku akan terus melakukannya dengan bersikap
santai… tapi jika keadaannya semakin buruk, aku akan memikirkannya kembali.”
“Begitu
ya.”
Untuk
saat ini, sepertinya dia akan
menunda masalah ini.
Sambil
berbincang-bincang seperti itu,
kami akhirnya tiba di Ikebukuro.
Tujuan
kami adalah toko kerajinan yang pernah kami kunjungi sebelumnya.
Sambil
memegang erat uang yang diperolehnya dari pekerjaan paruh waktunya, Yukikawa
sekali lagi berhadapan dengan bahan-bahan yang sebelumnya tidak dapat dibelinya.
“Aku sudah menghitung jumlah kain yang dibutuhkan... kamu
bisa membelinya, kan?”
“Ya.
Mungkin bisa! Pertama-tama, kain yang paling besar────”
Yukikawa
meraih kain dasar. Namun,
tangannya bertabrakan dengan tangan orang lain.
“Ah,
maafkan aku…”
Orang itu
menarik tangannya dan melihat ke arah kami.
Yang tak
disangka-sangka, aku mengenali wajah “orang itu”.
“……Haru?”
“Tsu-Tsukino!? Dan Nagai jugaaa… kenapa kalian berdua ada di sini… ah!?”
Momoki
yang bingung segera menyembunyikan kantong kertas yang dipegangnya.
Namun,
karena itu dilakukan secara terburu-buru, isi kantong itu tidak tersembunyi dengan baik.
“……Wig?”
Terdapat
rambut berwarna-warni di dalam kantong kertas
tersebut. Wig itu
sangat mirip dengan wig karakter yang pernah kami lihat
di toko cosplay.
“Ini…
ehm… Be-Benar! Aku ingin menjadi penata rambut
di masa depan, jadi aku berencana menggunakannya untuk latihan
memotong────”
“……Lalu,
apa urusanmu dengan toko kerajinan?”
“Itu…
untuk melanjutkan ke jalur desain pakaian…?”
“Jangan
tanyakan padaku…”
“Uh,
uhh…”
Mungkin
karena akhirnya menyerah, Momoki terjatuh di tempat. Mungkin dia datang ke sini untuk
membeli barang-barang cosplay.
“Aku tidak percaya kalian berdua memergokiku di tempat
seperti ini… Tunggu, kenapa kalian berdua ada di sini?”
““……””
Untuk
memastikan niat satu sama lain, aku dan Yukikawa saling memandang. Kurasa sepertinya tidak ada salahnya
untuk berbicara jujur di sini.
“……Sebenarnya,
Haru....”
Yukikawa
tampaknya sepakat denganku, dan mulai menceritakan semuanya dengan tenang.
Mengenai
bagaimana bahwa secara kebetulan kami memiliki hobi yang sama
dan kami menjadi teman otaku.
Bahwa dia
berusaha membuat kostum untuk cosplay.
Momoki
yang mendengarkan dengan serius akhirnya menghela napas seolah terkesan.
“Hahhh~~~~~
jadi itulah sebabnya kalian kelihatan sangat akrab.”
“Eh?
Y-ya… bisa dibilang begitu.”
“Ah, jadi
begitu rupanya. Baguslah, rasanya
seperti masa muda banget.
Mirip seperti di dunia ‘Gyaru Otaku Ingin Berpenampilan
Menarik’.”
Momoki
berkata demikian sambil
mengangguk-angguk.
‘Gyaru Otaku Ingin Berpenampilan
Menarik’ adalah sebuah karya tentang seorang mahasiswa
pria di sekolah mode yang membuat kostum cosplay untuk teman masa kecilnya yang
ditemuinya kembali.
Teman
masa kecilnya adalah seorang gadis gyaru,
tetapi selama bertahun-tahun tidak bertemu, dia telah menjadi otaku garis keras, dan protagonis terus-menerus
terombang-ambing.
Namun, ia
mulai tertarik pada sifat percaya diri sang heroine
yang terus mengungkapkan apa yang dia suka, dan akhirnya mereka semakin dekat
melalui hobi otaku dan cosplay.
Sebuah
komedi romantis yang luar biasa yang mengikuti tren gadis gyaru yang baik hati terhadap otaku. Hanya saja, karena kontennya
sedikit lebih dewasa, karya ini tidak pernah benar-benar dikenal luas. (TN: Parodi sono bisque doll wa koi wo suru wkwkwk)
Jadi,
dengan menyebutkan nama karya tersebut,
itu berarti Momoki juga berada di ‘pihak
sini’.
“Jadi Haru
juga... ternyata seorang otaku, ya.”
“……Iya!
Aku memang otaku!”
Momoki
yang sudah menyerah untuk menyembunyikan itu, mengungkapkannya dengan mata
berkaca-kaca.
“Kalau
kalian berdua bukan otaku, aku pasti sudah melakukan seppuku di sini…!”
“Apa
kamu benar-benar sebegitu bencinya ketahuan
sebagai otaku…?”
“Sebenarnya,
aku tidak berniat memberitahu teman sekelas sama sekali! Jika mereka tahu aku
seorang otaku, mereka pasti
akan menjauh... terutama Yuka!"
Memang benar kalau orang-orang seperti mereka
biasanya tidak suka dengan otaku.
Setelah
bertahun-tahun menjadi otaku, kita bisa langsung mengenali orang-orang yang membenci
kita hanya dengan melihatnya.
“……Bagaimana
kalau kita berpindah tempat sebentar? Ngobrol di sini agak tidak nyaman.”
“Ya,
itu ide yang bagus.”
Setelah
mendapatkan persetujuan dari keduanya, kami meninggalkan toko kerajinan.
◇◆◇
Setelah pergi meninggalkan toko,
kami masuk ke dalam kafe
terdekat. Sambil dikelilingi
suasana yang agak aneh, kami bertiga saling
memandang.
“Umm…
jadi, apa aku harus menceritakan kisahku?"
“Jika kamu tidak keberatan…”
“……Aku hanya memberitahu hal ini kepada Tsukino dan Nagai
saha. Jadi
jangan sekali-kali bilang pada orang lain, oke?”
Mendengar
permintaan itu, kami mengangguk dalam-dalam.
“Jadi,
alasan kenapa aku bisa berada di toko kerajinan…”
Setelah
meneguk teh susu, Momoki mulai bercerita dengan suara lembut.
“Aku
mulai menyadari hobi otaku saat kelas satu SMP. Kebetulan aku sangat ketagihan dengan anime larut malam,
dan sejak saat itu aku terus mengikuti kabar dunia
otaku.”
“Jadi…
Haru mulai suka cosplay saat kapan?"
“Mungkin
saat kelas dua SMP? Aku pergi ke Comiket dengan teman otaku yang aku kenal di
internet, dan melihat cosplayer untuk pertama kalinya.”
Momoki
menjawab pertanyaan Yukikawa dengan menyipitkan
matanya seolah-olah sedang mengingatnya kembali.
“Orang
itu sangat cantik… Setelah itu, aku mulai membeli bahan kostum sedikit demi
sedikit dengan uang saku… mungkin dalam dua tahun aku sudah membuat sepuluh
kostum. Yah, berkat itulah aku
selalu kekurangan uang."
Momoki
tertawa terbahak-bahak.
Aku sudah
merasakan betapa cepatnya uang bisa menghilang hanya untuk membeli bahan
kostum. Jika satu
kostum bisa menghabiskan banyak uang, pasti tidak ada cukup uang untuk membeli
manga atau light novel.
“Ngomong-ngomong,
apa kostummu dari awal memang buatan
tangan?"
“Iya.
Nenekku ahli menjahit, jadi aku membuatnya sambil meminta bantuannya. Pada awalnya aku sama sekali tidak bisa
dan hasilnya berantakan, tetapi setidaknya dari jauh terlihat lebih baik.”
“……Nee, Momoki. Apa kamu mempunyai foto dari waktu itu?”
“Eh!?
Itu… memalukan."
“Apa
kamu tidak mengunggahnya di media sosial?”
“Tidak…
aku mengunggahnya sih, tapi
jika harus menunjukkannya kepada
teman sekelas tuh rasanya
jadi hal yang berbeda…”
Meskipun dengan agak ragu-ragu, Momoki menunjukkan layar
ponselnya kepada kami. Layar tersebut
memperlihatkan Momoki yang berpose seperti berbagai
karakter dari berbagai karya.
Kami
semua terkejut. Jika tidak diperhatikan dengan seksama, sulit untuk mengenali
bahwa semua karakter tersebut adalah Momoki.
Semua
foto tersebut memiliki kualitas tinggi, dan
terlihat seperti karakter asli.
“Woahh... tingkat kemiripannya terlalu tinggi.”
“Kualitasnya
seperti keluar dari anime...”
Saat kami
memujinya, Momoki menggaruk pipinya dengan
malu-malu.
“Y-Yah?
Mungkin tidak seberapa sih?”
Momoki
lebih pendek dari Yukikawa dan memiliki tubuh yang ramping. Dalam foto-foto itu, dia
berpura-pura menjadi karakter yang mirip dengan gaya tubuhnya.
Seberapa
dekat dia bisa meniru karakter asli──── dari cosplay Momoki, aku merasakan
tantangan semacam itu.
Aku
benar-benar terkesan dengan hal-hal seperti itu.
“Hobiku
seperti ini... jadi, Yukino, kamu
juga berpikir untuk cosplay, ‘kan?”
“Iya,
aku sudah lama ingin mencobanya.
Aku berencana membeli bahan-bahannya
dengan bantuan Nagai...”
“Karakter
apa yang akan kamu cosplaykan?”
“Merry dari 'Marihare'.”
“Ah!
Rambutmu juga berwarna perak, dan secara gaya kamu memang kelihatan cocok!”
Momoki
yang matanya berbinar berkata dengan penuh semangat.
“Bagus
deh, Yukino punya payudara dan bokong yang besar, jadi mungkin tidak perlu
ditambah lagi. Tingginya juga pas, sepertinya tidak perlu pakai sepatu
platform... enak deh, cosplay-nya pasti menyenangkan!”
“H-Haru?”
“Ah,
maaf, maaf. Kalau sudah bicara cosplay, aku jadi terbawa suasana... jadi, apa
kamu sudah mengukur ukuran tubuhmu?”
“Ukuran?”
“Ukuran
tubuhmu. Jika kamu mau membeli bahan, kamu pasti
sudah tahu berapa banyak yang dibutuhkan, ‘kan?”
“U-uhm...
yah, gitu deh?”
Yukikawa
melihat ke arahku. Sejujurnya,
aku agak ragu untuk mengangguk. Aku
menentukan panjang kain berdasarkan ukuran umum, tetapi bukan berdasarkan tubuh
Yukikawa.
Kain
biasanya dibeli dalam satuan sepuluh sentimeter, jadi aku rasa tidak akan ada
perbedaan besar────.
“Jangan-jangan,
kamu belum mengukur ukuran tubuhmu?”
“……Iya.
Maaf.”
“Astaga! Kamu
tidak boleh seperti itu! Kamu harus membeli kain sesuai ukuran
tubuhmu! Jika tidak, bisa jadi boros dan malah kurang! Sesuaikan dengan
tubuhmu, belilah dengan tambahan sepuluh sampai dua puluh sentimeter! Dengan
begitu, jika ada sedikit kesalahan, kamu masih
bisa memperbaikinya!”
Aku
mengangguk, merasa paham, dan mencatat kata-kata itu.
“Apa
kamu sudah mencatat semua yang diperlukan?”
“Sebagai
catatan, aku sudah mencoba bekerja sama dengan Nagai...”
“Bolehkah
aku melihatnya?”
Aku
menunjukkan semua yang aku rencanakan untuk dibeli hari ini yang tercatat di
catatan ponsel.
Setelah
melihatnya, Momoki mengangguk sambil
melihat layar.
“Ya,
bahan-bahannya bukan hanya
ini saja, ‘kan?
Aku bisa mengurus lapisan
belakangnya nanti... Kalian berdua, punya
pengalaman menjahit?”
Aku dan
Yukikawa menggelengkan kepala secara bersamaan.
Kami
pernah memasukkan benang ke jarum di pelajaran keterampilan rumah, tapi itu terlalu
lemah untuk disebut pengalaman.
“Kalau
begitu, mungkin akan sulit di awal... apakah ada mesin jahit yang bisa
digunakan?”
“Tidak,
aku tidak punya mesin jahit... paling buruk, aku berpikir untuk meminjam yang
ada di ruang pakaian...”
“Kalau
Tsukino melakukan itu di sekolah, dia pasti akan terlalu menonjol, kan?
Pasti lebih baik jika punya mesin jahit pribadi.”
Semua
kata-kata Momoki sangat meyakinkan. Untuk
membuat kostum cosplay, dibutuhkan waktu kerja yang cukup banyak. Tak peduli seberapa sembunyi-sembunyi
pun kita melakukannya, jika di sekolah, rasanya tidak mungkin untuk tidak
ketahuan.
“Ya,
mesin jahit yang kualitasnya bagus
memang mahal... jadi wajar saja kalau kalian tidak
punya.”
“Momoki,
ada ide bagus tidak? Aku pikir menyewa mesin jahit
bisa menjadi pilihan yang terbaik, tetapi aku tidak tahu sampai
kapan harus menyewanya, jadi aku tidak bisa melakukannya.”
Sebelum aku
menyadarinya, aku sudah bertanya kepada Momoki. Aku yang tidak tahu banyak
tentang cosplay, kini mendapatkan guru terbaik di sini.
Maaf,
tapi aku sudah siap untuk bergantung padanya.
“Umm...
kalau begitu, mau pakai punyaku?”
““Eh?””
“Itu
adalah mesin jahit warisan nenekku, dan aku kebetulan dapat dua. Aku akan
meminjamkan salah satunya.”
“Seriusan?”
“Tentu
saja! Karena ini untuk sahabatku.”
Momoki
berkata sambil menunjukkan senyum yang menyenangkan.
“…Sebagai
gantinya, boleh aku minta sesuatu?”
“…?”
“Aku
juga ingin pergi ke kamar Nagai, boleh, ‘kan!?”
Momoki mencondongkan badannya ke
arahku.
Aku
saling memandang lagi dengan Yukikawa.
Sebenarnya, jika bisa meminjam mesin
jahit dengan cara itu, aku akan dengan senang hati
menyambut kedatangannya sesering mungkin.
◇◆◇
────Aku tidak pernah membayangkan
bahwa aku bisa
mengundang dua gadis secepat ini
setelah masuk sekolah...
Aku
memikirkan hal itu sambil
melihat keluar jendela dalam perjalanan pulang naik kereta. Kehidupanku yang tadinya pasti akan kesepian di SMA kini
sudah berubah total.
Rasanya
agak malu juga merasa senang dengan hal itu. Padahal aku sudah bersikap bahwa aku sama sekali tidak masalah jika tidak
punya teman.
“Kalau mau melakukan cosplay, kamu juga harus memikirkan penggunaan
nipless atau nu-bra. Kalau pakai bra biasa saja,
talinya akan terlihat.”
“Memang
benar. Setelah kamu bilang begitu, aku jadi mengingatnya...”
Percakapan
antara Yukikawa dan Momoki adalah topik yang sulit untuk dibicarakan oleh
laki-laki.
Namun,
mereka berdua sangat serius.
Supaya
tidak mengganggu, aku tetap diam.
…Ini
bukan karena aku merasa canggung.
◇◆◇
“Ohhhhhh...!
Jadi inilah istana Nagai!”
Setelah
sampai di kamar unit
apartemen, Momoki berseru dengan
mata berbinar. Reaksinya terasa sangat segar.
“…Jangan
terlalu berharap, ya. Ini hanya rumah biasa.”
Aku
membuka kunci pintu dan mengundang mereka berdua masuk.
Begitu
masuk ke dalam ruang
tamu, Momoki berseru.
“Wow!
Keren! Banyak rak buku!”
Sambil
melihat sekeliling ruang tamu, Momoki mendekati rak buku terdekat.
“Wahhh, semuanya penuh sesak...
Bagaimana kamu bisa mengumpulkannya sebanyak ini?”
“Sejak
dulu aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit... Silakan bersantai dan anggap saja seperti di rumah sendiri.
Oh, kamu boleh membaca manga atau light novel dengan bebas, tapi kalau mau
berhenti, pakailah penanda buku.”
“Baik!”
Jawaban
yang ceria.
Aku
menuju dapur untuk membuat kopi instan.
“Momoki,
kamu bisa minum kopi?”
“Kopi? Aku
bisa meminumnya asalkan dicampur susu dan gula!”
“Baiklah.”
Saat
menunggu air mendidih di dapur, aku mendengar percakapan antara Momoki dan
Yukikawa di ruang tamu.
“Uwaahh!
Bahkan semua jilid manga 'Marihare'
juga lengkap...! Aku sudah membacanya cukup lama.”
“Ceritanya menarik banget ya, 'Marihare'. Karakter mana yang kamu suka?”
“Aku
suka Mikoto... Sepertinya cocok dengan bentuk tubuhku.”
“Itu
pandangan dari sisi cosplayer!”
“Begitu
sudah terlanjur terjun, pandanganku jadi seperti itu! Tsukino juga
pasti langsung tahu!”
“Eh,
benar begitu ya...?”
Entah
kenapa, semangat Momoki terasa lebih tinggi dibandingkan saat di kelas. Ketika Yukikawa pertama kali
datang ke ruangan ini, dia juga terlihat sangat senang.
“Tempat
ini bikin betah... terlalu nyaman. Ini seperti surga.”
Melihatku
kembali dari dapur, Momoki duduk di sofa.
Lalu, dia
mulai melihat-lihat lagi di dalam ruangan.
“Ngomong-ngomong,
meskipun ini rumah seorang pria yang
tinggal sendiri, tapi ruangannya sangat
bersih, ya? Jangan-jangan, Tsukino yang membersihkan seperti istri yang datang
berkunjung...”
“Istri
yang datang berkunjung...!”
Wajah
Yukikawa seketika langsung memerah.
Melihat
dia terkejut begitu, aku juga ikut merasa
malu...
“Aku
sendiri yang membersihkannya. Karena ruangan yang berantakan bisa
merusak buku.”
“Eh...!?
Kamu sendiri!?”
Momoki
membuka matanya lebar-lebar karena terkejut.
Orang
tuaku adalah pekerja keras sejati. Mereka sangat tidak terampil dalam hal lain. Jadi sejak tinggal di rumah, aku
yang mengurus pekerjaan rumah. Ini
adalah alasan mengapa rumah ini tidak berantakan, karena pengalaman itu masih
berguna.
“Hm...
Hebat... Entah kenapa, aku jadi merasa kalah.”
“Benar sekali...”
Melihat
kedua orang itu tiba-tiba merasa murung,
aku menggaruk pipi.
Yah,
setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangannya
masing-masing. Aku
hanya kebetulan tidak merasa terbebani dengan pekerjaan rumah.
“Tsukino,
kamu tidak boleh membiarkan pria ini lolos begitu
saja. Tidak diragukan lagi, ia
pasti punya masa depan yang cerah.”
“Sudah
kubilang, kamu lagi ngomong apaan sih!?”
Yukikawa
sepertinya jadi sasaran ejekan saat bersama Momoki...
Biasanya,
aku yang selalu dijadikan bahan ejekan, jadi pemandangan ini cukup jarang
terlihat.
“…Ngomong-ngomong,
kenapa kita tidak membuat kostum di sini saja? Kalau aku membawa mesin jahitnya kemari, kita bisa bekerja di sini, ‘kan?
Tempatnya juga cukup luas, dan tidak ada yang akan menemukan kita.”
“…Memang
benar.”
Ngomong-ngomong,
aku belum memikirkan soal tempat.
Seperti
yang dikatakan Momoki, tidak ada tempat yang
lebih cocok untuk bekerja tanpa diketahui orang lain. Ini benar-benar seperti
pepatah “tempat yang tergelap adalah tepat di bawah
lampu”.
“‘Kan?
Jika Nagai setuju, ayo kita lakukan di sini. Aku juga bisa punya alasan untuk
sering datang.”
────Jadi
itu motivasi sebenarnya.
“Nagai,
apa itu baik-baik saja?”
Ditanya
seperti itu oleh Yukikawa, aku segera mengangguk.
“Tidak
masalah. Aku juga mungkin bisa membantu.”
Begitu
aku menjawab demikian, Momoki bertepuk
tangan.
“Kalau
begitu, sudah diputuskan! Mari kita mulai besok!”
“Tunggu,
tunggu. Kita belum membeli bahan-bahannya, kan...?”
“Oh,
benar. Jadi, besok kita juga harus berbelanja?”
Ya, kami
harus pergi belanja lagi. Namun,
sebelum itu, sepertinya ada yang harus dilakukan terlebih dahulu.
“Yukikawa.”
“Hmm,
ada apa?”
“Bagaimana
kalua kamu meminta bantuan Momoki untuk mengukur ukuran tubuhmu? Kamu akan membutuhkannya jika
kamu membuat kostum, ‘kan?”
“Ah iya, benar juga.”
Menurut Momoki,
mengetahui ukuran tubuh yang akurat sangat penting saat membuat kostum. Tentu saja, mengukurnya sendiri
akan sulit.
Karena aku
tidak bisa membantunya, jadi
sepertinya lebih baik jika diukur saat Momoki ada di sini.
“Haru,
bagaimana cara mengukur ukuran tubuh seseorang?
Kita pasti membutuhkan pita pengukur,
‘kan?”
“Ya,
aku akan menggunakan ini.”
Sambil
berkata begitu, Momoki mengeluarkan pita
pengukur dari tasnya.
“Jangan-jangan,
kamu membawanya kemana-mana?”
“Karena
aku tidak tahu kapan akan diperlukan. Jadi, aku selalu
membawanya supaya aku bisa mengukur di luar.”
Semangat Momoki
terhadap cosplay tampaknya sangat tulus. Pita meteran
yang dia miliki tampaknya digunakan untuk pengukuran keliling.
“Kalau
begitu, ayo kita ukur sekarang.”
“Ya,
baik. Tolong ya.”
Karena
cepatnya perkembangan ini, Yukikawa tampak sedikit terkejut.
“Kalau
begitu, aku akan mengukur di kamar tidur, jadi Nagai
tunggu di sini, ya. Oh, jangan sekali-kali mengintip oke!”
“Aku
tahu kok...”
“Tidak,
seharusnya kamu tetap mengintip.”
“Apa
sih yang kamu katakan?!”
Saat aku
menatap Momoki yang terus berbicara aneh, dia tertawa dan menggenggam tangan
Yukikawa.
“Ah!
Nagai marah! Tsukino, ayo kabur!”
“Eh?
Oh, tunggu sebentar...!”
Momoki
menarik Yukikawa ke dalam kamar
tidur dan langsung menutup pintu. Dia
tampak sangat senang. Sepertinya
Yukikawa dan Momoki juga merasa senang dengan suasana ini.
Aku pun
merasakan hal yang sama.
Beberapa
waktu telah berlalu setelah Yukikawa dan Momoki masuk
ke dalam kamar tidur.
Sambil
menunggu mereka, aku membaca light novel, tetapi
suara percakapan yang berasal dari kamar tidur secara alami terdengar di
telingaku.
『Tsukino, payudaramu benar-benar besar sekali ya... Apa yang kamu makan sampai bisa menjadi seperti ini?』
『Aku hanya menyantap makanan
yang biasa-biasa saja... Ah, tunggu! Kamu tidak perlu mengukurnya
seakurat itu────』
『Tidak boleh! Jika kamu ingin membuat kostum Merry, ukuran dada juga
penting! Ehm, sembilan puluh...』
『...Kenapa kamu diam?』
『Tidak, entah kenapa... aku tiba-tiba merasa kalah...』
『...Ya, mau bagaimana lagi kalau itu kamu, Haru』
『Tunggu! Apa maksudmu!?』
────Rasanya
canggung.
Sebagai
pria yang sehat, mau tak mau aku jadi
merasa penasaran. Tentu
saja, aku tidak berniat untuk mengintip. Aku tidak punya keberanian untuk
itu.
Rasanya
sungguh konyol merasa gelisah hanya karena hal ini. Aku
mencoba berkonsentrasi pada light novel dan menundukkan pandanganku.
『Eh!? Bokongmu juga besar...』
『Jangan bahas bokong! Itu
membuatku merasa tidak nyaman!』
『Jangan bercanda! Sebaliknya,
banggalah! Aku merasa sangat
iri, tau!』
『Jangan pegang pinggangku!
Belakangan ini sedikit... umm,
ada daging...』
『Bagian mana!? Perutmu terlihat
sangat indah!』
Jangan
pedulikan percakapan mereka.
Hapus
semua pemikiran bejat. Fokus pada membaca dengan
perasaan murni.
『Apa-apaan dengan bentuk
tubuh ideal ini...
Pahamu juga,
meskipun sangat ramping, saat disentuh ternyata kenyal...』
『Haru, kamu ini... Bolehkah aku
marah sekarang?』
『Akulah yang seharusnya merasa
marah! Ini sudah berbeda dari struktur tubuh! Tidak
adil, rasanya tidak
adil!』
『Eh, eh...?』
Percuma saja.
Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.
Aku sudah
menyerah dan mulai bermeditasi.
◇◆◇
“Kami sudah
selesai mengukur!”
Saat aku sedang bermeditasi, pintu kamar tidur
terbuka. Keduanya
tampak sedikit lelah, tidak kalah dari diriku.
“Karena
Haru terus-menerus
mengganggu, jadi mengukurnya butuh waktu
lebih lama.”
“Semua ini
salah tubuh Tsukino sendiri!
Wajar saja aku ingin menyentuh yang
seperti itu!”
“Tidak
boleh. Sudah dilarang menyentuh.”
“Dasar pelit!”
Entahlah,
apa ini hubungan yang terbuka atau bagaimana. Jarak di antara keduanya tampaknya lebih
dekat daripada sebelumnya.
“Dengarin aku deh, Nagai! Tsukino benar-benar
punya tubuh yang sangat bagus!”
“Ya...
itu sih bisa terlihat.”
“Kenapa
pakai bahasa sopan? Lucu.”
“Tidak
lucu, aku ini...”
Karena
percakapan mereka yang meresahkan benar-benar
membuatku merasa lelah. Padahal aku di kamarku sendiri,
tapi dari tadi tidak bisa tenang.
“Ah...
jadi, besok kita pergi ke Ikebukuro lagi,
ya?”
“Ya,
begitulah. Mari kita lakukan.”
Akhirnya
sepertinya kami bisa mulai membeli
bahan. Kami
sudah memutuskan untuk membuat kostum dari awal, dan sudah sekitar tiga minggu
berlalu.
Kami
bahkan belum sampai di titik awal. Aku
tidak tahu apakah ada yang bisa kubantu ke depannya. Namun, setelah sampai sejauh ini,
aku akan terus menemaninya.
“Ah,
ngomong-ngomong. Nagai, boleh aku menginap lagi hari ini? Rasanya terlalu merepotkan buat pulang.”
“Ah,
baiklah────ah.”
Saat aku
menerima permintaan Yukikawa tanpa berpikir, aku terkejut.
“Menginap...
eh?”
Melihat
wajah Momoki yang terkejut, sepertinya Yukikawa juga menyadari
kesalahannya.
Kami
telah membicarakan bagaimana kami bisa saling terlibat, tetapi kami tidak
banyak berbicara tentang bagaimana aku dan Yukikawa menghabiskan waktu di
ruangan ini.
Tentu
saja, aku juga tidak pernah membicarakan bahwa Yukikawa sering menginap di
tempatku. Baik aku
maupun Yukikawa merasa sedikit bersalah tentang hal itu.
“Ehm,
begini, kalian berdua tidak pacaran, ‘kan?”
Saat
Momoki bertanya seperti itu, aku mengangguk.
“Hahaha, mana
mungkin aku pacaran dengan Yukikawa! Kami berdua hanya
teman otaku kok, teman otaku!”
“......”
“Eh,
Yukikawa────guk!”
Perutku
disikut dari samping, dan
suara aneh keluar dari mulutku.
Kenapa
aku dimarahi?
“......Hahann~. Jadi
begitu ya.”
Momoki
mengangguk seolah-olah mengerti
dan menepuk bahuku.
“Yah yang emangat
ya, Nagai. Tidak,
Nagacchi.”
“Nagacchi...?”
“Aku
juga sudah menjadi teman otakumu, kan? Jadi aku akan memanggilmu dengan
Nagacchi.”
“......Oh,
begitu.”
“Nagacchi
juga boleh memanggilku dengan sebutan Haru!
Karena kita berdua ‘kan teman
otaku!”
Sambil
berkata begitu, Momoki mengacungkan
jari jempolnya.
Aku belum
pernah memanggil orang dengan nama julukan
sebelumnya. Momoki mengatakannya seolah itu hal yang biasa, tetapi bagiku itu
cukup menekan.
“......Enggak adil. Masa cuma Haru saja.”
Suara itu
keluar dari mulut Yukikawa.
Dia tampak cukup tidak senang.
Ketika
dia tidak senang, pipinya menggembung bulat,
jadi aku langsung mengetahuinya.
“Kamu juga
bisa memanggilku Tsukino. Bukan dengan nama belakang.”
“Tapi,
itu...”
“Apa?
Tidak mau?”
“Ugh...”
Dia masih
bertanya dengan cara yang licik. Tentu
saja bukan berarti aku tidak mau, hanya saja terasa terlalu menghormati.
Namun, saat
dia menatapku dengan tatapan memohon seperti itu, aku merasa telah melakukan
kesalahan jika menolaknya.
“......Baiklah.
Tsukino────dan, Haru.”
“Aku
hanya jadi tambahan!?”
Melihat Momoki yang bereaksi
berlebihan, aku tidak bisa menahan tawa. Itu juga merupakan cara aku untuk
menyembunyikan rasa malu.
“……Kentaro,
mulai sekarang panggil aku dengan namaku ya."
“Ah,
baiklah…… eh?”
“Sebentar,
aku mau ke toilet.”
Yukikawa,
yang sekarang bernama Tsukino, membelakangiku dan keluar dari ruang tamu.
Dalam kehidupanku sejauh ini, aku belum pernah
dipanggil dengan nama oleh seorang gadis. Semakin aku memikirkannya,
wajahku semakin panas.
“Ah,
jadi ini namanya masa muda~. Serius, aku iri banget.”
“Haah……
jangan menggodaku……”
“Eh,
jangan-jangan Nagacchi…… kamu masih perjaka?”
“T-tidak……
itu tidak ada hubungannya.”
“Memang
tidak ada hubungannya, tapi Tsukino
tidak menyukai orang yang bersikap besar
kepala, jadi mungkin dia lebih
suka perjaka yang rendah hati seperti
Nagacchi."
────Begitu
ya……
Eh,
kenapa aku merasa lega? Maksudku, aku sudah ditentukan sebagai perjaka tanpa perlu menyangkal. Walaupun itu memang benar sih.
“Yah,
aku juga tidak punya pengalaman pacaran, jadi aku tidak tahu sih.”
“Eh,
serius?”
“Mengejutkan
banget, ‘kan?
Meski terlihat seperti ini, aku memang
seperti itu.”
Keras
kepala, ya. Mungkin itu kata yang baru aku pelajari.
“Baiklah,
aku mungkin pulang sekarang. Nagacchi, jangan terlalu banyak melakukan hal-hal mesum dengan Tsukino, ya?”
“Aku
tidak melakukan itu, dan tidak akan melakukannya ke depannya.”
“Heh~?
Ayo kita lihat sampai kapan kamu bisa sanggup menahan diri.”
Momoki
membawa tasnya dan menuju pintu depan. Aku
menghela napas sambil mengikutinya untuk mengantarnya.
“Jadi,
sampai jumpa besok ya. Oh, jangan sekali-sekali menjadwalkan hal lain! Meski
terlihat seperti ini, aku sangat bersemangat karena ini adalah teman otaku
pertamaku di dunia nyata! Kalau janji dibatalkan, aku akan marah.”
“Ak-Aku
mengerti……”
“Bagus.
Oh, Tsukino? Aku pulang duluan ya!”
Saat
Momoki berteriak seperti itu, Tsukino muncul dari toilet.
“……Cepat
pulang saja sana.”
“Baiklah,
baiklah, setan pengganggu
memang harus pulang.”
“Haru!”
“Ah,
Tsukino marah!”
Momoki
keluar dari ruangan sambil berteriak ceria.
Dengan danya
keheningan yang tersisa di rumahku, aku dan Tsukino saling
bertukar pandang.
Aku penasaran apa yang akan terjadi pada kami di masa
depan nanti.
