Selingan — Kenangan Subjek Percobaan
Kenangan 'makhluk itu'
dipenuhi dengan hal-hal yang sangat tidak ingin diingat. Entah sejak kapan dirinya memiliki hati, atau apakah lebih baik jika dirinya tidak memilikinya sama sekali.
“Bunuhlah satu sama lain, bunuh satu sama
lain, sampai cuma ada satu
dari kalian yang tersisa, bunuh
satu sama lain.”
Suara
yang penuh kebencian. Siapa pun itu, mungkin itu
suara dalang di balik situasi ini? Dari mana suara itu
bergema, dan mengapa dirinya
berada di tempat seperti ini, semuanya masih tidak
jelas. Dalam kegelapan yang pekat, ada banyak
aura termasuk dirinya yang
terkurung.
Makhluk itu
tidak tahu seberapa banyak kehadiran makhluk lain,
tetapi jika dirinya bergerak
sedikit, mereka mungkin
akan bertabrakan. Ketika makhluk
berusaha mengintip dalam kegelapan, ada cahaya
aneh yang menyelimuti sekeliling.
Cahaya
merah yang mirip seperti darah
memberikan kesan menakutkan... warnanya terlalu mencolok, tetapi setidaknya mereka bisa melihat satu sama lain.
Apakah jumlahnya lebih dari seratus? Walaupun mereka
semua tidak memiliki hubungan apa pun, tetapi satu kesamaan membuat semua orang
tegang.
Mereka
yang terkurung memiliki senjata berbahaya. Senjata yang bisa membunuh satu sama
lain—senjata dengan daya bunuh tinggi. Bentuk dan sifatnya berbeda, tetapi
tetap saja itu berbahaya.
“Bunuhlah satu sama lain, bunuh satu sama
lain, sampai cuma ada satu
dari kalian yang tersisa, bunuh
satu sama lain.”
Ada suara
seseorang bergema. Suara yang berat dan menggoda. Tidak ada kewajiban untuk
mematuhi, tetapi entah kenapa, makhluk itu
merasa seolah-olah itu
adalah hal yang harus
dilakukannya.
Seolah-olah lebih baik jika mereka
membunuh lawan yang dekat dengan senjata yang mereka
miliki. Cahaya merah ini juga, entah bagaimana, membangkitkan semangat. Ruang
yang sempit dan suara yang mengalir secara teratur... tidak butuh waktu lama
sebelum pertempuran sebenarnya dimulai.
Pertarungan
yang sengit terjadi. Darah dibalas dengan darah, pembunuhan dan dibunuh dalam
battle royale. Tidak ada waktu untuk berteriak mengapa atau bagaimana, semua
orang terlibat dalam pembunuhan yang tidak masuk akal.
Matahari
dan bulan tidak terbit. Oleh karena itu, sensassi
waktu yang mengalir sama sekali tidak terasa.
Satu per satu, orang-orang mati, tetapi kehidupan masih berusaha untuk
bertahan. Dalam cahaya merah yang gelap, pertempuran yang berlangsung lama.
Pada akhirnya, hanya satu kehidupan yang tersisa dengan susah payah.
Semua musuh
yang mengancamnya sudah
dihabisi, dan tidak ada bahaya serangan. Namun, tangan
penyelamat tampak jauh. Tidak ada keriuhan
yang megah, dan dalang tidak muncul untuk menyelamatkan. Setelah beberapa waktu
memandangi mayat musuh-musuhnya, makhluk itu mulai merasa lapar.
Tidak ada
pilihan lain. Satu-satunya cara adalah memakan mayat. Makhluk itu tidak punya cara lain selain mengubah
musuh yang telah dihabisinya
menjadi daging dan darah sendiri... pada tahap akhir, pembusukan juga mulai
terjadi, dan tidak ada cara lain untuk bertahan hidup. Dalam kegelapan yang
tidak bisa menemukan jalan keluar, tubuh makhluk itu yang
kelelahan secara fisik dan mental terbaring dalam kegelapan.
Setelah
beberapa hari, bantuan penyelematan mencapai
kehidupan yang sudah sangat kelelahan
dan semakin lemah itu... Pada saat makhluk
itu mulai menyerah pada harapan untuk bertahan hidup, sudut ruangan dengan
cahaya merah diterangi oleh cahaya putih.
Ketika
melihat ke arah sana, tiba-tiba ada lubang yang terbuka. Apa itu berarti dirinya harus bergerak ke sana? Dengan
hati-hati, makhluk itu
mendekati pintu yang terlihat seperti pintu masuk.
Saat berusaha maju, ada sebuah ruangan kecil.
Jalan yang dilalui makhluk itu sudah tertutup, tetapi dirinya baru menyadarinya setelah itu.
Bagaimanapun, ada tempat tidur bersih dengan kain bersih, makanan yang layak,
dan fasilitas air bersih yang bisa diminum sepuasnya.
Tempat
tanpa adanya musuh. Tempat tanpa pertikaian.
Tempat tanpa masalah makanan. Tempat di mana dirinya
bisa tidur dengan tenang...
Setelah
pertempuran di ruang tertutup, makhluk itu
akhirnya menemukan tempat istirahat yang aman.
Tubuhnya yang sudah sangat kelelahan mulai terbaring, dan akhirnya tertidur
nyenyak.
── Dalang
yang mengamati dari jauh, perlahan berbisik.
“Cuma dia
satu-satunya yang selamat. Persiapan berikutnya... harus dilakukan.”
Makhluk yang
sedang tertidur itu tidak mengetahuinya.
── Mimpi
buruk belum berakhir.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
