Kodoku na Kanojo Chapter 1.5 Bahasa Indonesia

 

Selingan — Kenangan Subjek Percobaan

 

Kenangan 'makhluk itu' dipenuhi dengan hal-hal yang sangat tidak ingin diingat. Entah sejak kapan dirinya memiliki hati, atau apakah lebih baik jika dirinya tidak memilikinya sama sekali.

Bunuhlah satu sama lain, bunuh satu sama lain, sampai cuma ada satu dari kalian yang tersisa, bunuh satu sama lain.

Suara yang penuh kebencian. Siapa pun itu, mungkin itu suara dalang di balik situasi ini? Dari mana suara itu bergema, dan mengapa dirinya berada di tempat seperti ini, semuanya masih tidak jelas. Dalam kegelapan yang pekat, ada banyak aura termasuk dirinya yang terkurung.

Makhluk itu tidak tahu seberapa banyak kehadiran makhluk lain, tetapi jika dirinya bergerak sedikit, mereka mungkin akan bertabrakan. Ketika makhluk berusaha mengintip dalam kegelapan, ada cahaya aneh yang menyelimuti sekeliling.

Cahaya merah yang mirip seperti darah memberikan kesan menakutkan... warnanya terlalu mencolok, tetapi setidaknya mereka bisa melihat satu sama lain. Apakah jumlahnya lebih dari seratus? Walaupun mereka semua tidak memiliki hubungan apa pun, tetapi satu kesamaan membuat semua orang tegang.

Mereka yang terkurung memiliki senjata berbahaya. Senjata yang bisa membunuh satu sama lain—senjata dengan daya bunuh tinggi. Bentuk dan sifatnya berbeda, tetapi tetap saja itu berbahaya.

Bunuhlah satu sama lain, bunuh satu sama lain, sampai cuma ada satu dari kalian yang tersisa, bunuh satu sama lain.

Ada suara seseorang bergema. Suara yang berat dan menggoda. Tidak ada kewajiban untuk mematuhi, tetapi entah kenapa, makhluk itu merasa seolah-olah itu adalah hal yang harus dilakukannya. Seolah-olah lebih baik jika mereka membunuh lawan yang dekat dengan senjata yang mereka miliki. Cahaya merah ini juga, entah bagaimana, membangkitkan semangat. Ruang yang sempit dan suara yang mengalir secara teratur... tidak butuh waktu lama sebelum pertempuran sebenarnya dimulai.

Pertarungan yang sengit terjadi. Darah dibalas dengan darah, pembunuhan dan dibunuh dalam battle royale. Tidak ada waktu untuk berteriak mengapa atau bagaimana, semua orang terlibat dalam pembunuhan yang tidak masuk akal.

Matahari dan bulan tidak terbit. Oleh karena itu, sensassi waktu yang mengalir sama sekali tidak terasa. Satu per satu, orang-orang mati, tetapi kehidupan masih berusaha untuk bertahan. Dalam cahaya merah yang gelap, pertempuran yang berlangsung lama. Pada akhirnya, hanya satu kehidupan yang tersisa dengan susah payah.

Semua musuh yang mengancamnya sudah dihabisi, dan tidak ada bahaya serangan. Namun, tangan penyelamat tampak jauh. Tidak ada keriuhan yang megah, dan dalang tidak muncul untuk menyelamatkan. Setelah beberapa waktu memandangi mayat musuh-musuhnya, makhluk itu mulai merasa lapar.

Tidak ada pilihan lain. Satu-satunya cara adalah memakan mayat. Makhluk itu tidak punya cara lain selain mengubah musuh yang telah dihabisinya menjadi daging dan darah sendiri... pada tahap akhir, pembusukan juga mulai terjadi, dan tidak ada cara lain untuk bertahan hidup. Dalam kegelapan yang tidak bisa menemukan jalan keluar, tubuh makhluk itu yang kelelahan secara fisik dan mental terbaring dalam kegelapan.

Setelah beberapa hari, bantuan penyelematan mencapai kehidupan yang sudah sangat kelelahan dan semakin lemah itu... Pada saat makhluk itu mulai menyerah pada harapan untuk bertahan hidup, sudut ruangan dengan cahaya merah diterangi oleh cahaya putih.

Ketika melihat ke arah sana, tiba-tiba ada lubang yang terbuka. Apa itu berarti dirinya harus bergerak ke sana? Dengan hati-hati, makhluk itu mendekati pintu yang terlihat seperti pintu masuk.

Saat berusaha maju, ada sebuah ruangan kecil. Jalan yang dilalui makhluk itu sudah tertutup, tetapi dirinya baru menyadarinya setelah itu. Bagaimanapun, ada tempat tidur bersih dengan kain bersih, makanan yang layak, dan fasilitas air bersih yang bisa diminum sepuasnya.

Tempat tanpa adanya musuh. Tempat tanpa pertikaian. Tempat tanpa masalah makanan. Tempat di mana dirinya bisa tidur dengan tenang...

Setelah pertempuran di ruang tertutup, makhluk itu akhirnya menemukan tempat istirahat yang aman. Tubuhnya yang sudah sangat kelelahan mulai terbaring, dan akhirnya tertidur nyenyak.

── Dalang yang mengamati dari jauh, perlahan berbisik.

“Cuma dia satu-satunya yang selamat. Persiapan berikutnya... harus dilakukan.

Makhluk yang sedang tertidur itu tidak mengetahuinya.

── Mimpi buruk belum berakhir.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama