Chapter 2 —
Pertama-tama, Makanlah Dulu
Aku tidak
pernah menyangka akan
mengundang orang lain selain keluarga dan kenalanku ke rumah, jadi aku sangat
bersyukur bahwa aku terbiasa menjaga kebersihan rumah,
pikir Amane.
Satoshi,
yang mengikuti Amane dengan tenang, tampak gelisah saat melangkah masuk melalui
pintu depan. Dari caranya
merapikan sepatu dan perilakunya saat naik ke lorong, tampaknya ia telah
diajarkan etika yang baik, dan bisa jadi orang tuanya sangat menekankan hal tersebut.
Saat pemikiran itu melintas di benak Amane,
perasaannya menjadi rumit, tapi dirinya
berusaha mempertahankan ekspresi kalemnya
supaya tidak terdeteksi oleh Mahiru.
Berbeda
dengan
Amane, Mahiru berjalan tanpa
suara dengan ekspresi wajahnya yang tampak dingin dan seolah-olah kehilangan kehangatannya. Ketika mereka tiba di ruang tamu
dan bersiap untuk duduk dan berdiskusi, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari
belakang mereka, seperti suara perut yang
menggeram, tetapi juga terdengar lucu.
Amane
menoleh dan melihat Satoshi yang tampak bersalah.
‘Suara
itu berasal dari mana?’
Itu
adalah suara yang sangat familiar. Ya, itu adalah suara yang biasa terdengar
saat Amane berada di depan masakan Mahiru.
“Maaf,
jangan pedulikan perutku.”
Suara
perut yang menggelegar itu membuat wajah Satoshi
sedikit memerah karena malu, dan
dirinya memegang perutnya dengan cemas. Amane
tidak bisa menahan senyum kecil di wajahnya.
Ketika Mahiru
tampak terkejut, Amane melihat jam dan
dirinya menyadari bahwa sekarang merupakan waktu
ketika mereka biasanya sudah mulai menyiapkan
makanan. Wajar jika seorang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan merasa
lapar, dan meskipun perut Amane
tidak sampai mengeluarkan suara, dirinya
juga merasa lapar.
Satoshi
tampak sangat malu, seolah ingin mengatakan, “Mengapa
sekarang?” tetapi
suara perutnya kembali mengeluarkan suara nyaring yang memilukan.
Ketegangan
di antara mereka perlahan menghilang, dan suasana canggung mulai terasa dari
arah Satoshi, tapi Amane hanya tertawa ringan dan bertepuk tangan untuk
mengusir suasana yang kaku.
“Bagaimana
kalau kita membicarakannya setelah
makan?”
“Eh?”
Satoshi
tampak bingung ketika Amane tiba-tiba mengatakan untuk menunda pembicaraan. Amane
berbalik dan mengangkat bahunya dengan santai.
“Apa kita
sepakat bahwa apa yang akan kita bicarakan nanti
merupakan hal yang serius bagi kalian berdua?”
“Ya.”
“Kalau
begitu, mari kita isi perut kita terlebih
dahulu. Kurasa kamu tidak mungkin berkonsentrasi
dalam keadaan lapar, dan ketika perut kosong, tidak ada ruang untuk bersantai.
Meskipun ada banyak hal yang ingin kalian bicarakan, lebih baik kita
menciptakan situasi di mana kita semua merasa nyaman secara fisik dan mental
terlebih dahulu.”
Meskipun
menunda pembicaraan juga bisa menjadi beban mental, Amane berpikir bahwa
mendengarkan dalam keadaan tidak nyaman akan memiliki dampak yang lebih besar
di kemudian hari. Setidaknya, lebih baik memiliki ruang untuk bernapas daripada
tidak.
Selain
itu, melihat keadaan Mahiru, mungkin ada baiknya
memberinya waktu untuk mempersiapkan diri, meskipun hanya sedikit. Wajahnya
tampak tidak sehat, dan
tidak ada tanda-tanda ketegangannya akan mereda.
“Satoshi-kun, apa kamu tidak keberatan dengan makanan buatan
orang lain? Jika tidak mau, aku
bisa membelikan sesuatu.”
“Ak-Aku baik-baik saja... tapi, umm, apa itu tidak masalah?”
“Aku sih tidak keberatan sama sekali, dan aku
merasa tidak enak jika membiarkan perut yang lapar dibiarkan begitu saja.”
Wajah Satoshi
semakin memerah saat dirinya masih
memegang perutnya, tetapi sepertinya ia tidak bisa membantah lebih jauh dan
memilih untuk diam. Amane
kemudian tersenyum lembut kepada Mahiru yang masih diam.
“...Mahiru,
apa kamu baik-baik saja? Jika kamu merasa tidak
sanggup buat bergabung, mungkin kamu bisa menunggu di rumah.”
Jika
Mahiru merasa tidak nyaman, Amane
berpikir untuk membiarkannya menunggu di rumah untuk menenangkan diri—tetapi
Mahiru pelan-pelan menggelengkan kepalanya.
“...Aku
baik-baik saja. Sebenarnya, aku memiliki beberapa pemikiran dan masih ada yang
tidak kumengerti, tapi rasanya tidak nyaman
membiarkan anak kecil yang
kelaparan sendirian seperti
ini.”
“An-Anak kecil.... Aku sudah bukan
anak-anak lagi.”
“Memang umurmu berapa?”
“...Tiga
belas tahun.”
“Kalau begitu,
kamu masih anak-anak.”
“Ugh...”
Dari
sudut pandang orang dewasa, Amane juga masih terlihat seperti anak-anak, tapi
dirinya tidak memperhitungkan itu dan
tetap memperlakukan Satoshi sebagai anak yang lebih muda.
Tiga
belas tahun.
Ia
mungkin pelajar kelas satu atau dua SMP. Selisih
usianya dengan Mahiru adalah empat
tahun. Meskipun
ada banyak pemikiran tentang hal itu, itu bukan sesuatu yang seharusnya
diungkapkan oleh Amane. Jika ada yang harus diungkapkan, maka Mahir ulah yang harus mengucapkannya.
“Jadi,
apa yang akan kita lakukan? Jika kamu tidak keberatan dengan makanan yang kami
buat, aku bisa menyiapkan makanannya.”
“...Aku
akan dengan senang hati menerima tawaranmu.”
“Kamu
tahu beberapa kata yang sulit, ya?”
“Ja-Jangan memperlakukanku sepert anak kecil.”
Satoshi
mengerutkan alisnya, tetapi dirinya
tetap terlihat sangat polos. Setelah
mengatakannya, Satoshi tampak sedikit kesal, jadi Amane tersenyum sambil
mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.
Amane
menyentuh punggung Mahiru dengan lembut dan
mendorongnya ke arah pintu depan.
Dirinya berusaha menjawab tatapan
bingung Mahiru dengan sorot mata yang ramah dan suasana yang
hangat, lalu perlahan menjauh dari Satoshi dan mendekati pintu depan sebelum
membuka mulut dengan suara pelan.
“Mahiru,
silakan ganti pakaianmu dulu. Aku
akan menyiapkan makanan, jadi silakan santai saja.
Datanglah setelah kamu merasa tenang. Oke?”
“Tapi...”
“Sekarang
wajahmu terlihat kurang sehat,
jadi mari kita mulai dengan menenangkan diri. ...Sebenarnya, aku ingin tetap
bersamamu, tapi aku yakin kamu
juga tidak ingin meninggalkannya
sendirian, kan? Mengenal dirimu,
kamu pasti akan merasa tidak nyaman. Maaf, aku tidak bisa berada di
sampingmu.”
Sejujurnya,
Amane berpikirkan
bahwa bukan ide yang bagus untuk membiarkan Mahiru sendirian,
tetapi Mahiru yang curiga dan ragu terhadap Satoshi pasti juga tidak ingin
meninggalkan Satoshi sendirian di rumah Amane.
Setelah
mempertimbangkan banyak hal, akhirnya dirinya
memutuskan bahwa memberikan Mahiru waktu untuk
menenangkan diri sendirian merupakan langkah
yang terbaik. Selain
itu, ada hal-hal yang ingin ditanyakan
Amane kepada Satoshi sebelum
Mahiru kembali.
“Akulah yang salah karena melibatkanmu
dalam masalah ini.”
“Tidak
apa-apa, aku merasa baik-baik saja...
atau lebih tepatnya, aku tidak merasa buruk sama sekali. Aku sangat senang
Mahiru begitu jujur mengandalkanku.”
Sebaliknya,
Amane menganggapnya sebagai kemajuan. Mahiru, yang biasanya
memendam banyak hal dan tidak terbuka,
sekarang bisa dengan jujur bergantung pada Amane.
Meskipun
itu situasi yang menyakitkan dan mengejutkan, Amane
merasa senang bahwa Mahiru
mengulurkan tangan untuk meminta bantuan padanya.
“Luangkan
waktumu dan lakukanlah dengan santai. Utamakan menenangkan
perasaanmu terlebih dahulu. Tidak apa-apa, aku akan berada di sini... meskipun
secara fisik mungkin aku akan berada beberapa meter jauhnya, hati kita saling
mendukung.”
“...Duhh, dasar Amane-kun.”
Mungkin
suasana hatinya sedikit membaik, atau mungkin berkat
sedikit lelucon dari Amane, Mahiru tersenyum kecil dan
menyandarkan kepalanya di lengan Amane.
“Aku akan
berusaha kembali secepat mungkin. ...Aku tidak ingin membuatmu khawatir, Amane-kun.”
“Aku merasa ragu. Mahiru, kamu selalu
bersikap kuat. Jangan memaksakan diri, dan pastikan untuk menenangkan
pikiranmu.”
Mahiru
menyandarkan kepalanya ke arah Amane, dan Amane
juga tersenyum kecil sambil menggenggam tangan Mahiru dengan lembut sebagai
bentuk dukungan.
Setelah
Mahiru pergi, Amane mengganti pakaiannya dan menuju dapur, tetapi Satoshi yang
menunggu di sofa tampak masih tegang dan tidak nyaman, dirinya duduk dengan postur yang kaku.
Ketika Satoshi
membungkuk dengan postur yang sangat rapi seperti menggunakan penggaris, Amane
merasa tidak nyaman.
Di rumah
orang lain, terutama sebelum membahas hal yang serius, dan di lingkungan di
mana jelas ada seorang pria yang tidak memiliki pandangan baik terhadapnya, wajar-wajar saja jika seseorang merasa tidak nyaman. Namun, Amane
sama sekali tidak berniat untuk membahayakan Satoshi. Meskipun ia tidak
bersikap positif, Amane sendiri tidak merasa negatif terhadapnya, tetapi Satoshi
mungkin tidak berpikir demikian.
“...Hmm, aku
tidak akan memakanmu kok. Aku
tidak mengatakan kalau kamu bisa
bersantai, tetapi kamu bisa merasa nyaman.”
“Ak-Aku mengerti.”
Ketika Amane
mencoba berbicara untuk menghibur Satoshi yang tampak kesulitan dengan
posisinya, Satoshi terkejut dan mengguncang tubuhnya, lalu dengan ragu-ragu
bersandar sedikit pada sandaran sofa.
Amane
merasa sedikit bersalah karena membuat anak sekecil itu
merasa canggung, tetapi di sisi lain, tidak ada alasan bagi Satoshi untuk
tegang, jadi mungkin Amane justru membuatnya lebih canggung.
Namun,
tampaknya terus-menerus tegang itu melelahkan dirinya,
dan Satoshi sedikit melonggarkan ekspresinya sambil mengamati Amane.
Amane
tersenyum kecut, berpikir bahwa dirinya
tidak akan melakukan hal aneh, lalu menyiapkan beras yang telah dicuci ke dalam
penanak nasi dan menekan tombol
masak.
“Apa kamu
tidak merasa aneh?”
Saat
suara *bip* dari alat elektronik
berbunyi, Amane bertanya, dan Satoshi kembali menatapnya.
“Apa
maksudmu?”
“Yah,
tentang keberadaanku? Kenapa aku yang mengatur segalanya? Apa kamu tidak merasa keheranan?”
Bagi Satoshi,
Amane hanyalah sosok yang tidak perlu ada. Dirinya
mungkin ingin berbicara hanya dengan Mahiru, tapi ia justru mengikuti Amane tanpa
mengeluh.
“...Kalau
aku sendirian, kurasa aku tidak akan bisa berbicara dengan Nee-san... dengan Onee-san.”
“Benar
juga.”
“Selain
itu, memang benar aku menyampaikan sesuatu yang tidak menyenangkan bagi Onee-san. Kurasa
tidak mengherankan jika dia waspada dan
melibatkan pihak ketiga. Apalagi, kamu berhasil membuat Onee-san bersedia untuk mendengarkanku, jadi kamu pasti seseorang
yang cukup dekat dengannya...
kamu pacar Onee-san,
kan?”
“Benar.”
Seorang
pria yang terlihat akrab di sisi kakak
perempuannya (sementara), pasti dengan mudah bisa dibayangkan
sebagai pacar oleh seorang remaja.
“Selain
itu... umm, fotomu ikut terlampir di laporan penyelidikan Ibu.”
“Laporan penyelidikan,
ya?”
Amane
terhenti sejenak saat mendengar kata yang tidak terduga itu, tapi setelah
dipikir-pikir, tampaknya ayah Mahiru, Asahi, telah menyelidiki Amane sampai
batas tertentu, jadi tidak aneh jika ibunya, Sayo, juga melakukan hal yang
sama. Secara pribadi, itu bukan hal yang menggembirakan.
“Jadi,
ibumu sudah mengetahui keberadaanku, ya?”
“Begitulah.”
“Rasanya
tidak mengenakan, ya, ketika ada seseorang menyelidiki kita tanpa sepengetahuan kita. Meskipun tidak terlalu aneh
jika menyelidiki orang-orang di sekitar anaknya, aku terkejut mengetahui bahwa aku
juga telah diselidiki.”
“Terkejut?”
Memang
benar bahwa menyelidiki identitas pria yang mendekati putrinya adalah hal yang lumrah, tetapi biasanya itu dilakukan
karena cinta dan perhatian terhadap putrinya.
Itulah sebabnya Amane terkejut mengetahui
bahwa Sayo menyelidiki dirinya.
“Hmm,
entahlah, ini sangat mengejutkan. Kupikir
orang itu sama sekali tidak tertarik pada Mahiru.”
Amane
tidak pernah berbicara langsung dengan Sayo. Dirinya
hanya mendengar Mahiru berbicara dengan
ibunya dan melihat mereka berbicara satu sama lain dari
kejauhan.
Meskipun
hubungan mereka sangat dangkal dan tidak ada interaksi langsung, Sayo tampaknya
bukan orang yang akan meluangkan waktu dan perhatiannya untuk Mahiru.
“...Jadi begitulah dari sudut pandangmu,
ya.”
“Aku
tidak bisa banyak bicara karena aku tidak pernah berbicara langsung dengannya,
tetapi itulah kesanku. Mungkin ini bukan hal yang ingin kamu dengar.”
“Tidak.
Dari sudut pandang Onee-san,
memang begitulah faktanya, dan kurasa tidak masalah jika
dia menganggapnya begitu. Kurasa
wajar-wajar saja jika kamu berpikir seperti itu
sebagai orang yang dekat dengan Onee-san... Maaf telah membawa masalah ini.”
“Aku
tidak merasa terganggu, tetapi ini sangat rumit. Apa ini baik untuk aku dan
Mahiru? Memang benar bahwa setidaknya sudah ada satu penyelidikan sejak kami
mulai berpacaran.”
Amane
mengingat festival olahraga yang menjadi awal hubungan mereka saat dirinya mengeluarkan daging babi untuk
direndam dalam saus. Festival
olahraga itu terjadi sekitar bulan Juni tahun lalu, jadi setelah itu pasti ada
penyelidikan.
Apa
tujuan mereka menyelidiki Mahiru dan Amane?
Untuk
putrinya yang tinggal sendiri, itu bisa dianggap sebagai tanda kasih sayang yang penuh perhatian,
tetapi Amane tidak mempercayai orang tua Mahiru dan merasa mereka tidak
melakukan hal yang dapat dipercaya.
Apa
sebenarnya tujuan mereka?
“Aku
ingin bertanya, apakah Sayo-san
yang kukenal adalah ibumu, ‘kan?”
“...Aku
akan menjelaskan lebih lanjut ketika kita bersama. Bagiku, dia jelas-jelas ibuku.”
“Begitu.”
Dengan
cara ini, kemungkinan bahwa Sayo adalah ibu kandungnya sangat kecil.
Meskipun
ada kemungkinan bahwa dia adalah saudara kandung atau saudara tiri, tapi Satoshi kelihatan mirip seperti Sayo
maupun Asahi, dan jika dia adalah ibu
kandungnya, tidak perlu ada keraguan
seperti ini.
Maka
penjelasan yang paling mungkin ialah Satoshi merupakan
anak dari kekasih Sayo, seperti yang pernah disebutkan Mahiru, tetapi
bagaimana dengan kebenarannya?
Jika Satoshi adalah anak dari pasangan
tersebut dan lebih diutamakan daripada anak kandungnya senidri, perasaan panas menyebar di
perut Amane, tetapi dirinya tidak
bisa mengungkapkan hal itu kepada anak yang tidak bersalah.
Amane
menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan dengan hati-hati mencuci
tangan yang telah menyentuh daging babi saat merendamnya. Ia
kemudian mencucinya dengan air dingin untuk membantu
dirinya kembali tenang.
“Aku
tidak ingin berbicara hal yang jelek
tentang ibumu, tetapi menurut pendapat pribadiku, ibumu bersikap dingin
terhadap Mahiru, jadi aku benar-benar terkejut bahwa dia memiliki ketertarikan
pada Mahiru.”
Ada perasaan
terkejut dan bingung, serta rasa tidak nyaman saat mendengar hal ini. Jika ini situasi di mana Mahiru
menghadapi masalah yang tidak menguntungkan, bagaimana Amane bisa melindungi
Mahiru?
“...Bagi Ibu, dia adalah putri kandungnya sendiri, ‘kan?”
“Benar. Tapi, kurasa sikap ibumu yang kulihat
berbeda dengan sikap yang mungkin kamu lihat. Seringkali orang berubah sikap
tergantung pada siapa yang mereka hadapi.”
Tidak ada
orang yang sepenuhnya jujur, dan tidak ada yang tanpa sisi gelap.
Mahiru,
yang pernah dipanggil bidadari,
pernah bersikap cukup dingin kepada Amane, dan Mahiru saat ini juga menunjukkan
wajah yang berbeda kepada teman sekelasnya dibandingkan kepada Amane. Amane pun
mengerti karena dia sering diejek oleh Itsuki dan yang lainnya, tetapi sikap
Mahiru terhadapnya berbeda dengan sikapnya terhadap orang lain.
Setiap
orang pasti memiliki perbedaan seperti itu.
Sekalipun
ibunya adalah orang tua ideal bagi Satoshi,
dia bisa dengan mudah dianggap
gagal sebagai orang tua bagi Mahiru. Mendengar
kemungkinan ini dari orang lain, Satoshi menutup bibirnya dan menundukkan
pandangannya.
“...Ibu
yang kulihat selalu lembut, meskipun kata-katanya tegas, dia adalah seseorang yang selalu
berusaha untukku.”
“Begitu,
jika ibumu dalam pandanganmu tampak seperti orang
yang seperti itu, kurasa
memang seperti itulah kenyataannya.”
Ah,
betapa tidak berharganya,
pikir Amane.
Membayangkan
Mahiru di masa lalu, yang mati-matian berusaha untuk dilihat, hanya ingin
dilihat sekali saja, perasaan pahit muncul di mulutnya, tetapi ia menelannya
tanpa membiarkannya keluar.
“...Tapi, bagi Onee-san, itu berbeda, kan?”
“Dari
sudut pandang Mahiru, memang pasti
berbeda. Aku tidak akan membahas lebih lanjut tentang hal ini.”
Masa lalu
Mahiru adalah miliknya sendiri. Amane yang tidak melihatnya secara langsung,
tidak seharusnya dengan sembarangan membicarakannya. Selain itu, ini juga
adalah fakta yang bisa melukai Satoshi, jadi Amane ingin menghindari berbicara
tentang hal itu. Dirinya tidak
berniat untuk menyakiti Satoshi.
Setelah
menghentikan aliran air dan melakukan percakapan,
Satoshi sedikit terdiam sejenak sebelum mengangkat wajahnya.
“...Onee-san sekarang, itu... tinggal
sendirian, kan?”
“Benar.”
“Ibu diam-diam mengizinkan itu.”
“Lebih
tepatnya, dia membiarkannya.”
Mungkin
sebenarnya dia lebih mendorongnya menjauh,
tetapi Amane memilih untuk tidak mengatakannya di sini.
“...Aneh
sekali, kan? Aku menyadari itu. Aku tahu ini aneh.”
Tadi, Satoshi
mengatakan bahwa dirinya berusia
tiga belas tahun.
Pada usia
itu, ia seharusnya bisa memahaminya.
Ketidaknormalan dari seorang ibu yang terfokus pada dirinya sendiri sementara
putri kandungnya dibiarkan begitu saja.
Semakin
ibunya mempedulikan Satoshi, semakin jelas
fakta bahwa dia mengabaikan putrinya. Satoshi
mulai meragukan apakah wajahnya sebagai ibu yang baik itu benar-benar
tulus.
Karena
itulah, Satoshi mungkin datang ke sini.
“Apa Onee-san sekarang bahagia?”
“Entahlah.
Jika ingin memastikan apa dia merasa bahagia,
kita harus bertanya langsung padanya. Namun, aku sudah memutuskan untuk
membuatnya bahagia dan berusaha keras, dan dari sudut pandangku, dia terlihat
bahagia. Asalkan aku tidak terlalu percaya diri, tentu saja.”
Terlepas
Mahiru bahagia atau tidak, hal itu hanya
bisa diketahui dengan menanyakannya langsung.
Namun,
dari sudut pandang Amane, Mahiru terlihat puas dan bahagia, dan Amane telah
berusaha untuk membuatnya tersenyum, dan dirinya
bangga akan hal itu. Setidaknya, bayangan suram yang terlihat saat mereka pertama
kali bertemu sudah tidak ada lagi.
Amane
berdiri di sini sekarang,
bersumpah untuk terus membuat Mahiru bahagia dan berbagi kebahagiaan
bersamanya.
Meskipun
dirinya masih anak-anak dan tidak bisa
melakukan banyak hal, ketika dewasa, Amane
akan bisa membebaskan Mahiru dari belenggu “Shiina”. Ia ingin melindungi Mahiru yang
cenderung kuat tetapi juga kesepian.
Jika
memang Sayo melakukan sesuatu, Amane akan mengandalkan Shihoko dan Shuto, serta
Koyuki, untuk mengumpulkan bukti pengabaian dan menyerahkannya kepada pihak
berwenang, dan dirinya takkan
ragu untuk mengandalkan Asahi yang masih
sedikit peduli pada Mahiru.
Amane
bertekad untuk membuat Mahiru bahagia dengan segala cara dan berada di
sisinya.
“Jadi,
kedatanganku ke sini cuma mengganggu kebahagiaan Onee-san, ya?”
“Ya,
mungkin. Mungkin sekarang dia sedang berusaha berdamai dengan dirinya
sendiri.”
“Maafkan
aku.”
“Aku
bingung jika kamu meminta maaf kepadaku. ...Tetapi, apa masalah yang kamu bawa
ini adalah jenis masalah yang bisa diabaikan begitu saja? Jika aku tidak salah, kurasa ini merupakan masalah
yang pada akhirnya akan muncul.”
“...Itu...”
Bahkan
jika Satoshi tidak mengunjungi Mahiru sekarang, mana
mungkin dirinya akan
terus hidup tanpa mempertanyakan keadaan Mahiru.
Nyatanya,
Satoshi sudah mengetahui tentang Mahiru
dan datang dengan pertanyaan. Semakin dewasa
dirinya, Satoshi
akan semakin menyadari ketidaknormalan keadaan
ini dan ingin tahu lebih banyak. Pada saat tertentu, ini bisa memberikan dampak
besar pada Mahiru.
“Jika aku
ada di sampingnya saat masalah ini muncul, kurasa itu akan lebih baik bagi
kesehatan mental Mahiru. Menghadapi ini sendirian adalah hal yang menyakitkan.
Lagipula, sekarang adalah liburan musim semi, jadi ada waktu luang. Ini jauh
lebih baik daripada jika masalah ini muncul di tengah-tengah musim ujian,
bukan?”
“...Aku
minta maaf karena membuatnya merasa tidak nyaman karena keadaanku.”
“Itulah sebabnya aku sebenarnya tidak ingin kau
meminta maaf kepadaku. Aku ingin mengatakan, 'Minta maaf padanya...'
tetapi jika kamu
mengatakannya kepada Mahiru sendiri, dia mungkin tidak punya pilihan selain
mengatakan tidak apa-apa, jadi aku sebenarnya tidak ingin kamu meminta maaf.”
Ia
menyadari bahwa ucapannya
terdengar egois. Namun,
itulah perasaan tulus Amane.
“Sejujurnya,
apa yang kamu sampaikan itu merupakan hal
yang tidak menguntungkan bagi Mahiru, tapi apa itu salahmu? Kamu hanya tumbuh
dalam situasi itu, dan kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.”
Jelas sekali
kalau akar masalahnya adalah orang tua Mahiru, Sayo dan
Asahi, dan Satoshi, yang merupakan anak dari pasangan
Sayou, tidak bertanggung jawab atas hal ini.
Jika Satoshi
mengatakan sesuatu yang merendahkan Mahiru, mungkin ada tanggung jawab di sana,
tapi dari cara bicara Satoshi, tampaknya ia tidak mengetahui keberadaan Mahiru
hingga baru-baru ini.
Sebenarnya,
mengingat perbedaan usia antara Mahiru dan Satoshi, pengabaian dalam pengasuhan
Mahiru kemungkinan besar merupakan niat dari pihak Sayo. Sangat tidak adil jika
menyalahkan Satoshi atas tindakan ibunya sebelum dirinya lahir dan saat dirinya masih bayi.
Meskipun
demikian, wajar saja jika
Mahiru menunjukkan rasa tidak nyaman terhadap keberadaan Satoshi.
“Mahiru
juga memahami hal itu, jadi
jika kamu meminta maaf, dia mungkin akan
menilai bahwa itu bukan salahmu dan memilih untuk menahan perasaan tidak nyaman
dan memaafkanmu.”
Mahiru
pada dasarnya adalah orang yang tenang dan rasional, jadi jika Satoshi
benar-benar meminta maaf, dia mungkin tidak akan memilih untuk tidak
memaafkan.
Karena
yang bersalah adalah Sayo, bukan Satoshi, jadi
Mahiru akan menerima permintaan maaf tersebut. Meskipun perasaannya mungkin
sangat mendalam, dia akan menahan semua itu.
Amane tidaj
tahu seberapa banyak kesedihan yang telah dialami Mahiru
selama ini. Namun,
setidaknya di hadapannya, dirinya
tidak ingin Mahiru menanggung penderitaan semacam
itu.
“Aku
lebih memilih Mahiru daripada kamu, jadi aku tidak ingin melakukan sesuatu yang
membuat Mahiru merasa tidak nyaman. Hal ini
mungkin terdengar kejam.”
“...Tidak,
sama seperti aku yang
memprioritaskan kebutuhanku sendiri, kupikir wajar jika Onii-san memprioritaskan kebutuhan Onii-san sendiri. Lagipula, dari sudut
pandang orang lain, ini jelas-jelas
kesalahanku, jadi wajar jika kalian berdua
menjauhiku.”
Meskipun
Amane menyatakan bahwa dirinya akan mengabaikan Satoshi, Satoshi
menerima hal itu dengan tenang seolah itu adalah hal yang biasa.
Satoshi
menunjukkan kekuatan yang lebih dari yang Amane bayangkan, dan Amane
terkejut.
“Kamu
tidak pernah diberitahu bahwa kamu sangat kuat, ya?”
“...Aku
berusaha sebaik mungkin agar
tidak memalukan orang tuaku.”
“Begitu.”
Dengan
berusaha agar tidak memalukan orang tuanya,
itu berarti Satoshi menganggap orang tuanya sebagai sosok yang baik.
Itu
adalah hal yang sangat bagus, dan Amane juga merasa bangga pada orang tuanya,
jadi ia bisa memahami perasaan tersebut. Namun, lebih dari itu—ia menyadari
bahwa ayah Satoshi, yang tidak dikenal oleh Mahiru
dan Amane, terlibat dalam pengasuhan dengan baik, dan itu membuatnya sedikit
merasa tidak berdaya.
Tidak
peduli seberapa besar Mahiru menginginkannya, tidak peduli seberapa keras dia
berusaha, dia tidak bisa mendapatkannya, namun Satoshi
mendapatkannya dengan begitu mudah. Dan
dari orang yang sama yang dia
inginkan.
Memikirkan
hal itu membuat perasaan bersalah dan tidak nyaman menyebar di dalam dada
Amane, tetapi dirinya tahu
bahwa Satoshi tidak bersalah. Oleh
karena itu, Amane hanya mendengarkan cerita Satoshi dengan tenang.
Satoshi
tampaknya tidak menyadari perubahan dalam diri Amane dan hanya sedikit merasa
tidak nyaman sambil menundukkan pandangannya ke arah kakinya.
Ketika
makan malam sudah siap, Mahiru juga telah berganti pakaian dan kembali ke rumah
Amane.
Dari
ekspresinya, tampaknya Mahiru sudah lebih
tenang dibandingkan sebelumnya, wajahnya yang pucat kini mulai kembali
berwarna. Meskipun saat melihat Satoshi, ekspresinya sedikit berubah, itu bukan
tampak suram, melainkan lebih kepada rasa khawatir.
Sepertinya
waktu yang dihabiskan untuk berpikir sendiri telah membuahkan hasil. Amane merasa lega dalam hati
melihat Mahiru yang akhirnya bisa tenang, sambil menyiapkan makanan untuk tiga
orang di meja makan.
Menu hari
ini adalah daging babi jahe dengan banyak kol cincang, tomat rebus, dan kinpira
paprika, yang sudah diputuskan
sebelum mereka pulang dari karaoke. Sup miso yang dibuat berdasarkan keinginan Amane sendiri terdiri dari
rumput laut, tahu, dan jamur enoki yang cukup banyak.
Meskipun
sekarang sudah terbiasa memasak sendiri, masih ada rasa tegang saat menyajikan
makanan biasa kepada orang lain, meskipun itu bukan untuk acara khusus. Namun,
Amane tidak menunjukkan perasaannya dan mulai menata piring di ruang tamu.
Satoshi
tampak masih tidak nyaman dan terus-menerus terlihat gelisah, tetapi saat
makanan disajikan, perutnya berbunyi kembali,
dan ia dengan malu-malu menundukkan kepalanya.
Amane
berpikir kalau dirinya jarang-jarang menyiapkan
makanan untuk tiga orang, dan setelah selesai menyiapkan, ia duduk di depan Satoshi
dengan meja kopi di antara mereka.
Tentu
saja, Mahiru duduk di sisinya. Dia tidak akan duduk di samping
tamu, dan tampaknya dia sama sekali tidak berniat untuk duduk di sebelah Satoshi.
Makanan yang disiapkan juga ada di sisinya.
“Maaf
jika tidak bisa membuat sesuatu yang istimewa. Silakan nikmati.”
“Aku
sangat berterima kasih karena telah membuatkan makanan. Aku akan
menikmatinya.”
Mungkin Satoshi
merasa bahwa terlalu banyak bersikap rendah hati justru bisa menjadi masalah,
dia dengan tulus mengucapkan terima kasih, mengatupkan kedua tangan dan
mengucapkan “itadakimasu” sebelum dengan lembut berkata,
“Hangat
dan enak.”
Kata-kata
yang keluar dengan sendirinya itu tampaknya tulus.
Meskipun
hanya sup miso yang dibuat dengan kaldu sederhana dan mencampurkan miso
favoritnya, baik miso barley maupun miso koji, rasanya sangat sederhana, tetapi
tampaknya Satoshi merasakan sesuatu yang lebih mendalam dan bahkan
terkesan.
Dia bisa
merasakan bahwa makanan itu enak, tetapi ketika kata “hangat” muncul dari mulutnya, Amane merasa sedikit
khawatir, jadi dirinya fokus
menatap Satoshi yang matanya membulat.
“...Di
rumah, apa kamu biasanya makan makanan dingin?”
“Ya,
begitulah.”
Satoshi
tampak sedikit merasa bersalah atau mungkin bingung, matanya melirik ke
sekeliling sebelum ia meletakkan mangkuk supnya dan menghela napas pelan.
“Yah,
ibuku pada dasarnya bisa melakukan segalanya, tetapi dalam hal memasak, tidak
terlalu... Awalnya, sering kali makanan yang disajikan rasanya sangat hambar atau
terlalu kuat, atau bahkan terbakar.”
Amane
satu-satunya yang memahami bahwa Mahiru tampak tegang mendengar kata-kata itu. Amane bisa menebak kenapa Mahiru
terlihat kaku.
(Mahiru
tidak pernah...)
Ketika
Mahiru sudah cukup besar untuk
berbicara, Koyuki sudah ada di sana, dan sebelumnya juga ada pengasuh, sehingga
Mahiru sepertinya tidak memiliki banyak pengalaman berinteraksi dengan
ibunya.
Tidak
memiliki pengalaman berarti tidak pernah berkumpul di meja makan, dan tentu
saja tidak pernah merasakan masakan rumah.
Hal yang
sangat diinginkan oleh Mahiru di masa lalu, kini dengan mudah didapatkan oleh Satoshi
di depannya. Hal itu pasti
sangat mengejutkan baginya.
“Sekarang
memang ada pengasuh yang membantu karena itu tidak baik untuk pertumbuhan, tapi
biasanya dia sudah selesai bekerja ketika aku pulang dari les. Pada dasarnya,
aku hanya memanaskan makanan yang sudah dingin.”
Meskipun
sama-sama dalam keadaan kedua orang tua yang tidak pulang
saat anak-anak mereka beraktivitas, tapi perhatian dan kasih sayang yang diberikan sangat berbeda.
Mahiru tampaknya merasakannya, terlihat dari ketidakmampuannya untuk mengambil
sumpit dan menutup erat
bibirnya.
Satoshi
juga tampaknya menyadari perubahan pada Mahiru, mengarahkan tatapan cemas yang
campur aduk antara kebingungan dan ketidakpastian ke arahnya.
“...Apa
aku telah mengucapkan sesuatu yang tidak sopan?”
“Tidak, sama sekali tidak. Jangan
khawatir tentang itu.”
“Tapi,
sepertinya aku telah membuatmu
merasa jengkel...”
“Jangan
khawatirkan hal itu. Itu bukan sesuatu yang perlu kamu pikirkan.”
Mahiru
tampaknya benar-benar merasa seperti itu daripada
hanya berpura-pura tegar, dan dia
segera mengembalikan wajahnya ke ekspresi tenang. Satoshi sepertinya tidak bisa
mengatakan lebih banyak dan kembali melanjutkan makan dengan canggung.
Meskipun
ia masih terlihat tidak nyaman, sepertinya dirinya
cukup lapar, karena meskipun sebelumnya ada suasana ragu dan bimbang, kini
perhatian Satoshi semakin terfokus pada makanan, terlihat dari seberapa cepat
ia menggunakan sumpit.
Pada usia
masa pertumbuhan, Satoshi memiliki nafsu
makan yang tak kalah dari Amane, seorang remaja laki-laki biasa, dan dirinya makan dengan lahap. Meskipun
Mahiru sebelumnya tampak sedikit murung, kini dia terlihat terkejut dan
kemudian tersenyum kecil saat melihat Satoshi makan dengan semangat.
“Senang
rasanya makanan ini cocok di lidahmu. Aku jarang memberi orang lain
makan.”
“Ak-Aku minta maaf karena hanya aku
yang lahap.”
“Tidak
masalah, tidak masalah. Itu kepuasan
bagi pembuatnya.”
Mahiru
biasanya tersenyum saat makan, tetapi dalam kasus Satoshi, dia tampak lebih
bersemangat dan terlibat, sehingga ada perasaan mendalam yang berbeda dari
biasanya.
Satoshi,
yang dengan malu-malu mengelap saus yang menempel di mulutnya dengan tisu
sambil menundukkan kepala, membuat Amane tersenyum kecil.
“Yah,
mungkin aneh jika aku yang mengatakannya, tetapi kurasa kamu bisa merasa
percaya diri. ...Aku dilarang menggunakan pisau di tempat yang tidak terlihat
oleh ibuku, dan aku tidak pandai memasak. Jadi, umm, kurasa
kamu luar biasa.”
“Terima
kasih. Oh, maaf, aku belum memperkenalkan diri setelah melakukan semua ini. Aku
adalah Fujimiya Amane. Silakan panggil aku dengan nama atau sebutan apa pun
yang kamu suka.”
Amane
baru menyadari bahwa dirinya belum
memperkenalkan diri setelah mengundang Satoshi ke dalam rumahnya, dan segera memperkenalkan
dirinya.
Mungkin
namanya tercantum dalam laporan, tetapi percakapan di pintu masuk terlalu
terfokus pada Mahiru sehingga Amane
melewatkan kesempatan untuk memperkenalkan diri, dan Satoshi terus memanggilnya
“Onii-san”,
sehingga ia merasa sulit untuk memperkenalkan dirinya.
Satoshi
menjawab dengan ekspresi yang sama, “Baiklah, aku akan memanggilmu Onii-san.” Mungkin da memanggilnya Onii-san karena mengikuti Mahiru, tetapi
ada rasa geli yang sedikit muncul dalam diri
Amane.
“Onii-san, apa kamu selalu makan seperti
ini dengan Onee-san?”
Tatapan Satoshi
tertuju pada Mahiru yang duduk diam-diam makan sambil mendengarkan percakapan,
meskipun tidak ikut berpartisipasi, dan Amane yang makan seperti biasa,
berusaha tidak terlalu memperhatikan agar tidak merepotkan Satoshi dan
Mahiru.
“Yah... aku ingin menjawab iya, tetapi biasanya kami bergiliran memasak, atau yang bisa memasak akan
memasak, jadi untuk urusan memasak, kami bagi dua. Jika berbicara tentang makan
bersama, maka jawabannya adalah ya.”
Sekitar
setahun yang lalu, Mahiru yang lebih banyak memasak dan Amane hanya menikmati
masakannya, tapi sekarang Amane juga mulai memasak, dan saat waktu mereka
kosong, mereka akan memasak bersama. Jika hanya satu pihak yang memiliki waktu, maka yang
bisa memasak akan melakukannya.
Karena
pekerjaan paruh waktunya, beban Mahiru sering kali meningkat, jadi di
hari libur, Amane berusaha untuk memimpin
dalam memasak. Namun, kebiasaan makan bersama ini tidak berubah sejak Mahiru
mulai datang ke rumahnya setiap
hari.
“Itu luar
biasa.”
“Terima
kasih. Meski mungkin ada banyak hal yang ingin kamu tanyakan.”
“Hal yang
ingin ditanyakan?”
“Ya,
seperti mengapa kami makan bersama, dan mengapa dia ada di sini seolah-olah itu
hal yang biasa.”
Ketika
Amane mengundang Satoshi ke dalam rumahnya, pasti banyak hal yang bisa
dipertanyakan, dan pemandangan mereka makan dengan mangkuk, piring, dan
peralatan makan yang serasi, tampaknya memang aneh di mata orang lain.
Jika ada
yang ingin dipertanyakan, ya silakan saja sih...
Amane berpikir demikian, dan
setelah sekali berkedip beberapa kali,
Satoshi tersenyum tipis yang mirip dengan senyuman pahit.
“Rumah kalian bersebelahan, dan pasangan
kekasih yang saling mengunjungi kamar satu sama lain, ya, itu mungkin saja
terjadi... Tapi sebelum menunjuk hal itu, mungkin ada lebih banyak hal yang
seharusnya ditunjukkan dari pihakku.”
Kata-kata
yang bisa dianggap sebagai ejekan diri membuat Mahiru sedikit mengernyitkan
dahinya, tetapi melihat ekspresi Satoshi
yang tampak penuh kekhawatiran, dia tidak mengatakan apa-apa.
Keberadaan
dan tindakan Sayo yang membayangi hati Satoshi membuat Amane menghela napas
pelan dalam hati, berusaha agar kedua orang itu tidak menyadarinya.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya