Chapter 2 — Festival Sekolah dan Dirinya
Hibiki
Kanae terbangun dengan rasa sakit yang hebat. Beberapa hari yang lalu, atau
mungkin sudah lebih dari seminggu? Setelah pulang dari acara kencan buta, ia
pulang dengan menaiki kereta yang hampir mendekati
jadwal terakhir. Begitu sampai di
apartemen sewaan, ia langsung tertidur... dan keesokan
harinya, ia bisa beristirahat
dengan perlahan.
Hari ini,
sepertinya adalah hari pertama festival sekolah. Di pagi yang seperti ini, Kanae berharap tidak ada masalah.
Meskipun ia tidak tahu penyebab ketidaknyamanannya, semuanya jelas setelah
melihat sosok yang ada di
sebelahnya.
Teman
serumahnya, Akase Nakon, sedang memeluk lengan Kanae. Dengan mata tertutup dan
tubuh gemetaran, dia pasti sedang mengalami mimpi
buruk yang mengerikan. Meskipun dia tidur di sampingnya, ekspresi wajahnya
tampak menyedihkan.
Dia
mengekspresikan rasa sakit, kesedihan, dan... yang paling kuat, kebencian,
dengan gigi yang berderak. Dengan tangan yang tidak terluka, Kanae menahan rasa
sakitnya dan mengelus kepala Nakon.
“Nakon...
jangan khawatir. Semuanya baik-baik saja.”
Dengan
suara mengerikan, dia memeluk lengan Kanae. Ini bukan pertama kalinya dia
mengalami 'gejala' seperti ini.
Beberapa
orang mungkin ada yang berpikir kalau seharusnya mereka tidak tidur
dalam satu selimut... Kanae juga pernah berpikir begitu, tetapi jika ia
melakukannya, Nakon akan menunjukkan ekspresi yang sedih. Meskipun Kanae belum mendengar
semua masa lalu Nakon, jelas sekali
bahwa dia memiliki beberapa trauma. Rasa sakit di lengan Kanae semakin kuat,
tetapi ia terus mengelus Nakon agar dia merasa tenang.
“Adududududuh... Nakon. Tidak apa-apa.
Semuanya baik-baik saja.”
Pernapasan
Nakon semakin terdengar berat. Keringatnya
mengalir deras. Ketika Kanae berusaha mengelapnya,
tangannya mulai sedikit mati rasa. Mungkin ini adalah salah satu efek dari
kekuatan kutukan yang dimiliki Nakon. Nakon mengeluarkan suara kecil saat sensasi kebasnya semakin parah.
“Ugh!!”
“Nakon!”
“Ah...”
Apa Kanae telah membangunkannya? Atau apa
dia ingin terbangun dari mimpi buruk? Setelah terbangun, Nakon tidak melawan,
tetapi berusaha mengatur napasnya yang tidak teratur... dan kemudian mulai
menangis.
“Kanae...
aku, lagi-lagi...! Maafkan aku. Maafkan
aku...!”
“Tidak
apa-apa... aku baik-baik saja...
ah, tapi tolong lepaskan tanganku. Aduh...”
“U...
um.”
Meskipun Nakon
memiliki tubuh yang kecil, dia memiliki kekuatan yang luar biasa. Jika dia
serius, dia bisa dengan mudah mematahkan satu atau dua lengannya. Kanae merasa beruntung bisa
dibebaskan sebelum itu terjadi... tetapi tidak begitu. Yang lebih
mengkhawatirkan Nakon adalah tangan Kanae yang mulai meradang.
“Ga...
gawat...!”
“Tidak
apa-apa. Tanganku cuma sedikit
meradang...”
“Tidak
boleh begitu! Maafkan aku untuk itu!”
Kanae pikir
dia hanya mengucapkan permintaan maaf yang tulus, tetapi
Nakon justru dengan panik mengambil tangannya. Dia dengan
cepat menarik tangan itu dan mendekatkannya ke mulutnya. Dia membuka mulutnya,
dan gigi taringnya yang tajam menggigit tangan Kanae.
“Eh!?”
Tindakan Nakon yang terlalu mendadak
ini membuat Kanae terkejut. Pada situasi biasa, dia pasti akan merasa panik. Meskipun bisa
disalahartikan sebagai serangan, Kanae sudah tahu cara menangani Nakon.
Jika Nakon
benar-benar berniat melukainya,
dia tidak akan menggigit dengan lembut. Kanae pasti akan mati dalam sekejap. Pasti ada alasan
tertentu di balik tindakannya ini.
Oleh
karena itu, Kanae mempercayainya. Oleh karena itu, ia menyerahkannya. Meskipun dengan cara yang canggung
dan tidak bisa menyampaikan sepenuhnya, Kanae
percaya kalau Nakon tidak memiliki niat
jahat. Saat ia menatapnya,
Kanae merasakan sensasi aneh...
seolah sesuatu di dalam dirinya sedang diambil. Rasa sakit dan pembengkakan di
tangan yang meradang mulai mereda, kembali ke warna aslinya.
“Ini...”
Sementara
itu, Nakon mengeluarkan suara dari tenggorokannya. Apa dia sedang menghisap sesuatu dari Kanae?
Dengan pemikiran yang samar, Kanae
mengamati situasi tersebut. Ketika Nakon perlahan-lahan melepaskan mulutnya dari tangan
Kanae, bekas gigitan itu masih
tersisa sedikit. Untungnya, tidak ada pendarahan.
“…Aku
sudah menghisapnya. Sekarang sudah aman.”
“Eh?
Apa yang kamu maksud?”
“Kutukan
atau racun. Sekarang, apa yang Kanae sentuh... kupikir itu adalah kutukan atau
racun milikku. Walaupum itu
bukan yang kuat, tapi... karena aku sudah menghisapnya, jadi tidak apa-apa.
Tapi, maafkan aku.”
“Begitu ya... Ngomong-ngomong, yang paling
kuat dari milikmu itu apa, Nakon?”
“Hmm...”
Dia jelas-jelas merupakan makhluk
aneh sekaligus memiliki kehendak yang jelas.
Dengan tatapan yang melayang kemana-mana
dan berpikir, dia memberi beberapa opsi.
“Yang
bisa mematikan dalam sepuluh detik setelah disuntik... mungkin? Ada banyak jug yang bisa digunakan...”
“Benarkah?”
“Ya.
Pertama-tama, itu akan menyebabkan sedikit pusing...
lalu, seminggu kemudian, pasti akan membunuh dengan jeda
waktu... atau sebaliknya, menyiksa selama sekitar tiga bulan sebelum membunuh.
Ada juga yang membuat seluruh tubuh melepuh dan meledak hingga mati. Kanae,
menurutmu mana yang paling kuat?”
“Membandingkan
itu saja sudah salah. Bukannya semua itu mengerikan!?”
“Apa iya...
Mungkin iya begitu?”
“Tentu saja
lah!?”
Daftar
yang dia sebutkan terlalu mengerikan.
Ketidaksadaran Nakon terhadap hal ini justru menambah ketakutan. Di sisi lain, rasanya menyedihkan bahwa Nakon tidak
memiliki niat jahat. Meskipun dia mempunyai kemampuan
sempurna sebagai monster... Kanae merasa bahwa hati Akase Nakon mana mungkin takkan
tercemar. Setidaknya untuk saat ini.
(Jika aku
meninggalkan atau mengabaikan gadis
ini... dia benar-benar akan menjadi 'monster'...)
Dia
terjebak dalam kenangan masa lalu. Dia yang membawa kutukan jahat. Sekarang,
dia masih kadang-kadang ketakutan, bergetar dalam kesedihan dan ketakutan. Jika
dia dibiarkan sendirian dengan kenangan yang muncul kembali dan mimpi buruk
yang menyiksanya... hatinya bisa-bisa
hancur seiring berjalannya waktu. Yang
terpenting, Nakon berusaha sekuat tenaga untuk berbaur dengan masyarakat manusia.
Dia masih mengusap tangan Kanae, berulang kali membisikkan kata-kata permohonan
maaf yang kecil.
Selama
dia terus berusaha menjadi manusia... Kanae juga ingin mendukung Nakon di
sampingnya. Meskipun ia merasa enggan meninggalkan kehangatan selimut, ia harus
bangun demi memikirkan rencana ke depan.
“Aku
sudah baik-baik saja... ayo, kita buat sarapan.”
“Hmm...
maaf ya?”
“Santai
saja, santai saja. Tapi... yah,
bantu aku membuatnya.”
“Baik.”
Agar dia
tidak terlalu terbebani, Kanae berusaha berbicara dengan suara ceria. Wajah Nakon
yang penuh air mata terlihat seperti gadis kecil.
◇◇◇◇
Walaupun setelah
bangun tidur ada beberapa kendala.... tapi keduanya memutuskan untuk bangun
setelah masalah itu teratasi. Kanae merasa kalau mereka
bisa melakukannya nanti setelah mendingan, tetapi Nakon
yang tidur di sampingnya masih khawatir tentang dirinya.
“Lenganmu...
apa itu baik-baik saja? Aku sudah
menghisapnya dengan benar...”
“Tanganku
bisa bergerak dengan baik. Tidak apa-apa. Belakangan ini
aku juga membantu pekerjaan berat, jadi ototku semakin kuat.”
“Begitu...
syukurlah.”
Dia
menatap lengan Kanae yang kuat. Sepertinya semalam dia mengalami mimpi buruk,
sehingga dia menggenggamnya dengan erat. Meskipun lengannya sedikit kemerahan dan bengkak,
itu bukan keadaan yang perlu dikhawatirkan.
Dengan
senyum yang meyakinkan, Kanae bangkit dari tempat tidur. Ia mencuci wajahnya sebentar untuk
menyegarkan diri, lalu keduanya segera mulai menyiapkan sarapan.
“Apa sarapan roti, bacon, dan telur mata sapi
saja sudah cukup?”
“Ya.
Bagaimana dengan salad?”
“Sepertinya
agak merepotkan... bagaimana kalau kita buat sup instan?”
“Baiklah.
Aku akan menggunakan teko."
“Terima
kasih, Nakon.”
“Hehehe..."
Mereka
saling mengobrol dengan sangat alami. Nakon yang duduk di sebelahnya terlihat
seperti wanita yang sedikit ceroboh. Ada saat-saat seperti kejadian pagi ini...
saat dia menyadari bahwa dia adalah monster, tapi dia sama sekali tidak
terlihat sebagai makhluk jahat. Nakon tampak seperti wanita normal bagi siapa saja yang melihatnya saat dia
bekerja keras membantu dengan ketel yang terbalik di tangannya.
“Aku
juga harus melakukannya... ah.”
Kanae
mengambil dua paket bacon tipis dari dalam kulkas
dan paket telur yang dibeli dalam harga diskon.
Dirinya juga menyiapkan kompor dan
menempatkan wajan kecil. Setelah mengoleskan
minyak sayur, ia memutar kenop untuk menyalakan api. Dengan suara keras, api
besar keluar, lalu ia menurunkannya ke api sedang dan menyusun bacon tipis di
dalam wajan.
Minyak
mulai mendesis, dan uap harum mulai terbang. Suara minyak yang menari di bawah
daging merangsang rasa lapar yang muncul setelah bangun tidur.
“Mm~♪”
Nakon
juga dalam suasana hati yang baik dan
menyalakan api di sebelahnya setelah meletakkan teko.
Teko tua berwarna kuning coklat itu adalah pemberian dari pengelola kontrakan. Meskipun sudah berkarat dan
penyok, teko itu masih bisa digunakan.
Setelah
memperhatikan suhu api sejenak, sisi bacon segera matang. Kanae mengecilkan api dan membaliknya
dengan sumpit. Ketika ia memegang dua telur dari paket bungkusan, Nakon di sebelahnya mengulurkan
tangan.
Dengan
senyum hangat, Kanae memberikan satu telur. Ia
memukul telur di sudut meja, lalu dengan cekatan memecahnya dengan satu tangan.
Sementara itu, Nakon dengan hati-hati membuat retakan kecil sebelum memecahnya
dengan kedua tangan agar tidak ada cangkang yang masuk.
Setelah
melakukan itu, Nakon tampak sedikit lesu dan berkata.
“Kanae,
kamu sangat terampil...”
Memang. Hal itu sulit dilakukan bagi orang yang tidak terampil. Ia tidak ingin membanggakan diri,
jadi dengan malu-malu, Kanae berkata.
“Sebenarnya,
aku sudah berlatih.”
“Apa iya?”
“Iya.
Karena di manga memasak, memecahkan telur dengan
satu tangan terlihat keren...”
“Hee”
Sambil
berbicara ringan, telur di wajan mulai matang. Zat transparan itu dengan cepat
berubah menjadi putih. Melihat gelembung-gelembung kecil terbentuk dan
mengeras, Kanae meminta peralatan untuk langkah selanjutnya.
“Ambil
tutupnya.”
“Mm.”
Dia
memberikan tutup transparan dan setengah gelas air. Dengan menutup tutup di
atas tempat minyak dan air yang berbuih, ia mengukusnya. Mengatur fungsi timer
di ponsel dan menunggu. Selanjutnya, ia akan bersiap-siap dengan peralatan
makan sambil memperhatikan agar tidak ada bau hangus.
“Tempat
makan kertas dan sumpit, ‘kan?”
“Iya, betul.
Oh! Jangan membalikkan wajannya!”
“Mm.”
Ia
ingin menghindari menjatuhkan kuning telur dengan menarik pegangan... Sambil
hati-hati menyiapkan peralatan makan dan gelas. Setelah menyiapkan untuk dua
orang, Nakon tiba-tiba berkata dengan suara kecil.
“Ah...
Kanae! Aku lupa memanggang roti!!”
“Ah...!”
Pemanggang
roti kecil kosong, tapi tidak ada
roti yang dipanggang di dalamnya. Kanae
menarik roti tawar delapan iris dari lemari es dan segera menyiapkannya.
Setelah menunggu sekitar lima menit, roti akan siap, tetapi telur mata sapi
mungkin lebih cepat.
Waktu
yang sibuk masih berlanjut. Setelah menyiapkan semuanya, kini teko mengeluarkan
suara tinggi dan mengeluarkan uap. Kanae segera mematikan api untuk mencegahnya
meluap.
Berbahaya,
berbahaya. Jika air meluap dan api mati,
dalam kasus terburuk bisa terjadi ledakan gas. Karena ini rumah tua, jika terjadi
kebakaran, itu bukan hal yang bisa dianggap sepele. Kanae menghela napas, dan Nakon
juga tersenyum. Ia
menuangkan air panas ke dalam cangkir kecil untuk bubuk sup instan yang sudah
disiapkan.
Dengan
suara “topopopopo”... sup krim
jagung berwarna kuning siap. Hanya dengan mengaduk sedikit menggunakan sendok,
sup itu sudah selesai. Sambil merasakan betapa praktisnya, ia memasukkan
kantong teh ke dalam teko yang masih menyisakan air panas dan menutupnya.
“Begini
saja, ‘kan?”
“Iya,
benar. Sebelum disajikan, kita harus mengeluarkan kantongnya. Aku rasa ini akan
mengukus dengan baik.”
“Baik.”
Jawaban Nakon
dan bunyi alarm berbunyi bersamaan. Ketika Kanae
membuka tutup telur mata sapi, aroma telur setengah matang yang lembut
menyebar. Agar tidak menghancurkan kuning telur, ia menggunakan spatula untuk
membagi telur menjadi dua dan menyajikannya di piring. Kuning telur yang gelap
bergetar, membuat Nakon menelan ludahnya.
Kanae
menempatkan piring kecil itu di meja dan menyusun sup di sebelah kanan. Tepat
pada waktunya, roti selesai dipanggang, dan suara tinggi dari pemanggang roti
membuat suasana di dalam ruangan menjadi ceria. Kanae dengan cepat mengoleskan
margarin, sementara Nakon menuangkan teh ke dalam cangkir.
“Mm~♪
Kelihatannya enak.”
“Iya,
benar. Kita berhasil membuatnya dengan
baik.”
Sarapan
sederhana bergaya Barat sudah siap. Pemandangan sehari-hari yang biasa. Bahkan
membuat sarapan terasa sangat menyenangkan sejak kedatangan Nakon.
Melihat
hidangan hari ini, perutnya berbunyi. Kanae
bertatap mata dengan Nakon──
““Selamat
makan””
Selagi masih hangat, mereka berdua
menikmati sarapan hari ini.
Pada
dasarnya, Kanae adalah tipe orang
yang memasak makanannya sendiri.
Bahkan
sebelum mulai hidup sendiri, Kanae adalah orang yang tidak merasa keberatan
dengan pekerjaan rumah. Saat ini, tidak jarang kedua orang tua bekerja. Banyak
orang memiliki pengalaman mencuci, membersihkan, dan memasak makanan instan di
waktu luang mereka. Kanae juga termasuk dalam kategori itu, dan dia bisa
memasak beberapa hal kecil. Berkat itu, dia bisa membuat sarapan dengan Nakon,
jadi bisa dibilang kemampuannya tidaklah buruk.
“Terima
kasih untuk makanannya~♪”
“Seperti
biasa, kamu selalu cepat ya!?”
“Iya.”
Dan Nakon terlihat sangat menikmati
makanannya. Benar-benar memuaskan untuk membuatnya, tetapi Nakon makan dengan
sangat cepat. Meskipun Kanae sudah
menyiapkan jumlah yang hampir sama, Nakon pasti akan menghabiskannya lebih
cepat daripada Kanae.
“Aku
akan mencucinya lebih dulu.”
“Terima
kasih.”
Nakon
dengan aktif mulai mencuci piring, termasuk wajan. Saat Kanae masih makan telur mata sapi yang
hampir setengahnya tersisa, Nakon bertanya sambil melakukan pekerjaan rumah.
“Hari ini
kamu sedang libur?”
“Karena
hari Sabtu sih.
Biasanya begitu.”
“Hmm...
memangnya kamu ada rencana?”
“Sebenarnya,
hari ini ada festival sekolah.”
“Hmm?
Apa akan ramai seperti saat kita minum sebelumnya?”
“U-umm...
Memang akan ramai, tapi kupikir itu sedikit berbeda dari yang sebelumnya...”
Nakon
yang bukan manusia tidak memiliki pengetahuan umum. Dia tidak memiliki
pengetahuan atau pengalaman yang secara alami membuatnya memahami perbedaan
antara acara kencan buta dan festival sekolah.
Namun, Kanae kesulitan menjelaskan perbedaan
itu dengan cara yang 'mudah dimengerti'. Karena dia tidak memiliki pengetahuan
dasar, jadi cara menjelaskannya menjadi
sulit. Setelah berpikir sejenak, Kanae akhirnya bisa mengeluarkan penjelasan.
“Yang
sebelumnya... ya, itu adalah pertemuan orang-orang yang berkumpul di tempat
itu, sedangkan festival terasa lebih terbuka...? Yang sebelumnya hanya
orang-orang yang diundang yang datang, dan festival merupakan tempat yang
bebas dinikmati bagi siapa saja yang mau datang?”
“Hee...
begitu ya?”
"Hahaha,
kamu tidak paham ya?”
“Iya!”
Kanae
berharap kalau Nakon
tidak menjawab dengan semangat yang berlebihan... meskipun ia tahu itu tidak
mungkin. Kanae dengan
lembut mengulurkan tangannya ke arah
kepala Nakon dan mengelusnya, membuat Nakon menyipitkan mata. Mereka berdua
seperti itu untuk sementara, tetapi ponsel Kanae berbunyi, memaksa mereka untuk
berhenti. Ia memberi
tahu Nakon dengan ringan dan memeriksa siapa yang menghubunginya.
“Nakazawa
akan datang menjemput.”
“Orang
yang di pesta minum sebelumnya?”
“Benar sekali! Ia
bilang akan mentraktir, kan? Dalam hal ini... mungkin sebagai ucapan terima
kasih karena telah membantunya.
Ia akan membayar makanan di
restoran.”
“Serius!?
Asyikkk!”
Akase Nakon
melompat-lompat dengan ceria. Kanae tersenyum melihat Nakon yang
polos, tetapi melihat ponselnya berbunyi terus-menerus, ia menunjukkan
tanda-tanda panik.
“Ah,
gawat!”
“Ada
apa?”
“Nakazawa
sepertinya sudah dekat. Tidak enak kalau membuatnya menunggu, jadi mari kita
cepat bersiap!”
“Hmm,
aku mengerti.”
Rasanya
bikin canggung jika mereka membuat orang yang datang
menjemput itu menunggu. Mereka
buru-buru merapikan dan bersiap-siap untuk bertemu teman. Mereka memilih pakaian yang sedikit
kasual dan mudah bergerak. Setelah menyelesaikan pembersihan minimal, Kanae dan
Nakon keluar.
“Hei!
Kalian berdua! Ke sini, ke sini!”
“Maaf,
maaf! Kami datang!”
“Nakazawa-san.
Selamat pagi!”
Mereka
berjalan menuju teman mereka, Nakazawa, yang melambaikan tangan memanggil
mereka. Tujuan mereka adalah kampus Kanae dan Nakazawa, dan hari ini ada
festival sekolah yang menyenangkan──
◇◇◇◇
“Wuahhh...! Festival tahun ini lebih luar biasa dari
sebelumnya!!”
“Seperti
biasa, ya...”
Waktu
festival di universitas sangat
bervariasi tergantung wilayahnya.
Mengadakan acara di bulan Juni terasa awal, tetapi alasannya sangat sepele.
Hanya sekadar menggeser waktu agar tidak bersamaan dengan festival universitas
lain yang dibangun di dekatnya. Tanpa mengetahui hal itu, Nakon mengamati
kampus dengan mata berbinar.
“Ini
benar-benar sangat berbeda
dari kencan buta tempo hari! Tapi
menyenangkan!”
“Hahaha...
iya, benar. Sangat berbeda...”
Penampilannya
mengenakan pakaian kasual yang agak longgar. Lebih baik daripada pakaian yang
biasa dipakai di rumah, dan lebih santai dibandingkan pakaian saat kencan
kelompok sebelumnya... Intinya, dia mengenakan rok panjang dan kemeja lengan
pendek serta jaket agar tidak terlihat mencolok di kampus. Akasen Nakon menikmati festival dengan
senyum cerah sambil berputar-putar.
Tidak hanya Kanae, Nakazawa pun tidak bisa menahan senyumnya.
“Kalau
dilihat seperti ini, dia terlihat
biasa saja, ya~?”
“…Tolong
jangan terlalu banyak bicara. Ini adalah hal yang ingin kusembunyikan.”
“Maaf,
maaf, tapi kamu pasti tidak bisa menghindarinya, kan?”
“Yah, memang sih...”
Nakon
mengamati banyaknya stan makanan dengan
mata yang bersinar penuh keceriaan. Dia bergerak seperti menari, menikmati
berbagai stan. Dengan semangat, dia menarik ujung jaket Kanae dan memintanya.
“Hei, hei!
Boleh kita melihat-lihat dulu sebelum
pergi ke tempat profesor?”
“Benar.
Kita harus memanfaatkan kesempatan ini dan menjelajahi banyak tempat.”
“Baiklah! Maka aku akan mentraktir banyak
hal~!”
“Yay!!”
Nakon
melompat-lompat seperti anak kecil yang ceria. Meskipun kedua pemuda itu belum
berada di usia seperti itu... mereka tidak bisa menahan senyum lembut seolah
melihat cucu mereka. Sambil menerima tatapan hangat dari sekitar, Nakon
mendekati stan yang ada di dekatnya.
“Kanae!
Kanae! Itu apa!?”
“Itu
mungkin cumi bakar? Aku biasanya tidak memakannya…”
“Permisi!
Aku pesan tiga, tolong!!”
“Cepat
sekali!?”
Nakon
sudah berada di stan dan dalam sekejap menyelesaikan
pesanan. Matanya berkilau cerah saat dia mendekati pelayan. Penjaga stan yang tersenyum kepada pelanggan
yang antusias itu tampak sedikit tertekan karena kedekatan Nakon. Nakazawa
buru-buru menghentikannya.
“Akase-san!
Bukannya jarakmu terlalu dekat!?”
“Begitu
ya?”
“Iya,
benar!”
Maafkan aku, pelayan...
Nakon menundukkan kepala, dan pelayan yang berperan sebagai mahasiswa itu
membalas dengan senyuman ramah. Dari luar, mereka terlihat seperti tiga sahabat
yang ceria. Pelayan itu dengan cepat menyerahkan tiga cumi bakar kepada Nakon
yang bersinar penuh semangat.
“Slurp...
Selamat makan♪”
Dia
membuka mulutnya
lebar-lebar dan menggigit cumi bakar. Kedua pemuda itu juga menikmati cumi yang
dipanggang dengan baik. Saus manis dan pedasnya harum menyengat hidung, dan
mereka mengunyah dagingnya yang kenyal. Sementara Kanae dan Nakazawa memakannya dengan perlahan, Nakon sudah
menghabiskan makanannya dalam sekejap. Dengan senyum lebar, dia segera menuju
ke stan berikutnya.
“Kanae!
Kanae! Yang bulat-bulat itu apa!?”
“Itu
takoyaki. Apa kamu belum pernah membelinya sebelumnya…?”
“Mungkin pernah! Tapi ini pertama kalinya aku
melihatnya!! Oh, jadi cara membuatnya seperti itu!!”
“Memang
terlihat unik jika dilihat untuk pertama kalinya...”
Jika tidak
pernah mengetahuinya, cara membuat takoyaki pasti akan
terlihat menarik. Adonan tepung dituangkan ke dalam cetakan bulat yang panas.
Sambil memasukkan potongan gurita satu per satu, tusuk besi berkilau di atas
adonan setengah matang. Dengan bagian yang kecokelatan berputar, Nakon semakin
bersemangat seperti anak kecil.
Mahasiswa
yang berperan sebagai pelayan sangat antusias, dan dengan teriakan semangat, ia
menempatkan delapan bola takoyaki ke dalam wadah berbentuk perahu. Mungkin
karena sudah terbiasa, gerakannya sangat terampil saat menuangkan saus,
mayones, bonito katsuobushi, nori hijau, dan terakhir, jahe merah.
Seluruh
proses ini hanya memakan waktu lima detik. Dengan gerakan yang sangat terampil
dan efisien, Kanae yang ada di belakang pun tidak bisa menahan kekagumannya.
Nakazawa juga bersiul, tetapi setelah melihat harganya, ekspresinya sedikit
berubah. Meskipun harganya agak mahal, ia berharap bisa menganggapnya sebagai
biaya pertunjukan. Ketika Nakon menerima takoyaki untuk tiga orang, dia segera
membuka mulutnya.
“Selamat
makan~~!!”
Huff!
Huff! Nakon melahap takoyaki yang baru dibuat. Kulitnya
yang renyah dan isi yang lembut serta saus manis-pedas berpadu sempurna.
Berbagai topping mengubah rasa satu sama lain, dan Nakon tampak sangat puas.
“Lezat!”
“Panasss!
Aouch!”
Lidahnya
hampir terbakar, tetapi ini adalah kesenangan dari stan makanan. Kenikmatan
makan yang baru dibuat langsung dari tempatnya sulit ditemukan di tempat lain. Nakon
yang tampak sangat senang, dengan cepat menghabiskan takoyaki itu.
“…Slurp.”
“Ah,
masih kurang? Mau satu lagi?"
“Apa boleh!?”
“Kamu benar-benar
memiliki nafsu makan yang tak terbatas...”
Melihat Nakon
dengan mata bersinar membuat Nakazawa sedikit tertegun. Sementara itu, Kanae
dengan tulus menawarkan takoyaki padanya. Nakon segera membuka mulut lebar-lebar
dan memakannya, kemudian matanya tertuju pada satu takoyaki terakhir. Dengan
senyum, Kanae memberikannya lagi, dan takoyaki itu pun masuk ke dalam perut Nakon.
“Mm~♪”
Dengan
senyum penuh kebahagiaan, Nakon menikmati makanan sambil berjalan. Porsi Kanae
berkurang, tetapi waktu dan suasana ini tak ternilai. Melihat wajahnya yang
menunjukkan kebahagiaan, Nakazawa juga tersenyum dan berpikir, “Ya sudah, tidak apa-apa!” Namun, Nakon tampaknya masih
belum puas.
“Kanae!
Kanae! Masih ada lagi!! Itu
apaan!?”
"Eh,
eh, Nakon!? Masih mau pergi!? "
“…Tidak
boleh?”
“Tidak,
itu… dompetku...”
Nakon
terus melompat dari satu stan ke stan lainnya, tetapi jenis toko seperti ini
memang cenderung mahal. Nakazawa yang sudah menyatakan akan mentraktirnya, tampaknya tidak mengantisipasi seberapa besar nafsu makan Nakon. Kanae
juga tidak ingin merusak hubungan dengan Nakazawa. Ia meletakkan tangannya di bahu
temannya dan mengusulkan.
“…Bagaimana
kalau kita bagi dua dari sini?”
“Baik,
terima kasih! Itu sangat membantu!”
Dengan
ini, persahabatan mereka tetap terjaga. Meskipun ada pilihan untuk menghentikan
Nakon, dia lebih ingin agar Nakon menikmati sepenuhnya. Untungnya, perasaan itu
bisa saling dipahami. Meskipun dompet mereka terkuras, ada momen yang lebih
penting untuk diutamakan.
Akase Nakon
yang tidak menyadari persahabatan
antara kedua pria itu... Dia segera tertarik pada stan lain.
“Itu
apaan~!? Itu apaan~!?”
“Eh,
umm… sepertinya itu churros. Karena itu cemilan yang
manis, jadi sebaiknya dimakan terakhir—”
“Tapi
itu kelihatannya tidak manis, ‘kan?”
“Hm?
Hm? Loh?”
“Apa
itu? Warnanya merah?”
Pada
stan yang ditunjuk Nakon, memang ada churros yang dijual. Namun, aroma yang
tercium jelas bukan aroma makanan manis...
Warnanya
begitu merah. Ada siluet churros yang panjang dan tipis
berwarna cokelat, tetapi di atasnya ditaburi 'shichimi togarashi' (bumbu
cabai).
“Eh…?”
“Kanae,
memangnya itu makanan yang seperti itu?”
“Tidak,
pasti bukan begitu. Churros
biasanya pakai kayu manis atau cokelat, kan!?”
“Kadang-kadang
ada rasa ubi atau rasa manis lainnya, tapi… kenapa harus shichimi togarashi!?
Orang yang memikirkan ini pasti sudah gila!”
Semangat
dan kegembiraan khas mahasiswa tiba-tiba menghasilkan sesuatu yang aneh, dan
meskipun ini adalah festival, mereka menawarkan makanan aneh yang berbeda. Jika
ini adalah pekan raya atau pameran umum, pasti akan ada keluhan,
tetapi karena ini festival para mahasiswa,
pertunjukan yang unik pun diperbolehkan.
Meninggalkan
kedua pria yang tertegun, Nakon tampak sangat tertarik. “Tapi terlihat enak!” dia berkata sambil meneteskan
air liur, dan perlahan-lahan tertarik ke arah sana. Betapa mengerikannya, nafsu
makan Akase Nakon! Tidak memiliki banyak akal
sehat juga mungkin menjadi faktor yang membuatnya tidak ragu, seperti Kanae dan
Nakazawa.
“Yang
merah itu apaan?”
“Pelangan
yang terhormat, Anda memang hebat sekali! Ini adalah menu rahasia
dari toko churros kami, 'Benikurenai'!! Rasanya pedas-manis dan sangat
menggugah selera!”
“Aku pesan tiga,
tolong!”
“Baik!
Tiga 'Benikurenai' siap!”
“Na-Na-Na-Na-Nakon!?”
“Hei
bodoh! Jangan seret aku juga kali~~!”
Dia
secara tidak terduga memesan untuk semua orang. Nakon tampaknya memperhatikan,
tetapi kali ini, dia senang diabaikan. Tiba-tiba, waktu untuk tantangan makanan
aneh pun tiba. Melihat apa yang ditawarkan Nakon, kedua pemuda itu menerima
dengan rasa cemas.
Churros
yang dipanggang dengan baik di sisi, ditaburi gula putih di bawahnya. Warna
merah dari shichimi dengan berani menonjol, menutupi kilau gula putih. Aroma
yang gurih dan pedas yang berpadu dengan kayu manis… memang benar-benar
menggugah selera. Namun, memangnya
ini bisa dimakan? Atau tidak? Kedua pria itu saling memandang, benar-benar merasa ragu.
“Bagaimana
ini...?”
“Kita
tidak bisa membuangnya, kan?”
“Kalau
ternyata tidak bisa dimakan...”
Di
hadapan kedua pria yang tertegun, Nakon tidak mengenal rasa takut. Dia langsung
menggigit churros merah dan putih.
“Mm~~!!
Pedas! Manis! Enak sekali!!”
“Eeeeeeehhhhhhhhhh…”
“Dia tanpa
ragu langsung memakannya…”
Entah itu
keberanian atau kebodohan, Nakon mengunyah dengan lahap. Kedua pria itu
terkejut, tetapi dia terlihat sangat menikmati makanan itu. Dengan hati-hati,
kedua pria itu juga mencoba mengambil sedikit, dan mereka terkejut dengan rasa
yang baru bagi mereka.
Bagian
luar adonan yang dipanggang itu terassa renyah
dan keras, serta tekstur
gula yang berbutir terasa di gigi. Setelah merasakan manis dan aroma kayu
manis, rasa pedas mulai menusuk lidah.
Churros yang ditambahkan rasa gurih dan
pedas justru memperkuat rasa manis dari gula dan adonan. Saat menggigit adonan
yang lembut di bagian dalam, minyak yang meresap perlahan-lahan mengurangi rasa
pedas. Berbeda dengan penampilannya yang aneh, ternyata rasanya cukup enak…?
“Kenapa
ini bisa enak…? Atau kenapa aku berpikir untuk mencoba hal seperti ini?”
“Entahlah…?
Tapi kalau enak, ya sudah.”
“Benar!
Oke!”
Berbeda
dengan kedua pria itu yang kebingungan, Nakon tampaknya sudah
menganggap ini sebagai 'makanan yang
seperti ini'. Dia terus mengeluarkan suara kagum sambil
melanjutkan makan churros merah. Meskipun tatapan orang-orang di sekelilingnya
sedikit menakutkan, mereka yang penasaran juga mulai mendekati toko churros.
“Na-Nakon, kita sebaiknya menjauh
sedikit. Kita menghalangi toko.”
“Baik!”
Tanpa
sengaja, ketiga orang ini menjadi bahan
promosi. Hal itu menjadi
kesempatan bagus, dan di dalam toko, para karyawan sibuk memproduksi churros
menu rahasia. Saat satu atau dua orang mulai makan, perhatian orang-orang di
sekitar pun tertuju kepada mereka.
Yang
tersenyum lebar bukan hanya para karyawan. Teman mereka, Nakazawa, dengan mata
yang bersinar tajam, menjauh dari Nakon dan Kanae.
“Ini
kesempatan emas! Aku
akan membuat koneksi!”
“Nakazawa-san? Kamu
mau melakukan apa?”
“Tentu
saja, aku akan mempromosikan 'menu rahasia yang aneh tapi enak'! Selamat
datang!!”
“Lagi-lagi begitu, itu anak…”
“Eh?
Apa maksudnya?”
Begitulah
sisi baik dan buruk dari Nakazawa. Pria yang
bernama Nakazawa Kentaro,
adalah orang yang akan membuat koneksi dengan siapa saja jika dirinya merasa bisa. Setelah sedikit
kerjasama, ia dengan cepat bertukar kontak dengan orang asing melalui beberapa
percakapan dan obrolan. Karena itulah, ia dikenal memiliki jaringan yang luas
di berbagai kalangan… begitulah
rumor yang beredar.
Selain
itu──Nakazawa tampaknya memiliki insting yang aneh. Ia memiliki kemampuan untuk mencium
kesempatan, dan kabarnya, ia juga bertindak sebagai perantara menggunakan
jaringan yang dimilikinya.
“Permisiiii!
Apa kamu tertarik mencoba churros
merah!?”
Nakazawa
yang tiba-tiba menjadi penggoda pelanggan mulai memanggil orang-orang di
sekitarnya. Dengan reaksi dari ketiga orang itu… beberapa orang merasa takut, sementara yang lain membeli
dengan semangat dan antusias,
mencoba menu rahasia yang aneh. Melihat tindakan mendadak itu, para karyawan
tampak terkejut, dan Nakazawa mengangkat jempol sambil tersenyum.
“Gerakanmu cepat sekali…”
“Lebih baik cepat daripada hanya omongan saja, ‘kan? Itu juga bisa memberikan kesan yang baik. Setelah itu, aku bisa meminta kontak… itulah maksudnya!”
“…Bukannya kadang-kadang kamu jadi mendapat orang yang aneh?”
“Itu
adalah kesepakatan yang tidak boleh dibicarakan. Secara statistik, kemungkinan
menarik orang baik lebih tinggi…”
“Apa
ada kemungkinan menarik orang yang salah…?”
“Tentu
saja. Tidak semua orang yang terlibat itu baik.”
Di
belakang Nakazawa yang tersenyum pahit, kerumunan mulai terbentuk. Karena aksi
mendadak ini, tampaknya menu rahasia churros mulai populer. Para karyawan
bersorak gembira melihat kerumunan yang terbentuk… dan saling bertukar pandang
dengan Nakazawa. Apa ini pekerjaan paruh waktu… atau dalam hal ini, lebih
tepatnya relawan? Nakazawa yang mulai bekerja mengucapkan selamat tinggal
kepada Kanae dan Nakon.
“Maaf,
aku akan bekerja di sini sebentar. Mungkin sudah saatnya kalian berdua pergi ke tempat profesor, ‘kan?”
“Hm…
apa begitu…? Mungkin iya?”
“Selain
itu, aku sudah cukup mentraktir. Tolong jangan meminta lagi lebih dari ini!”
“Bukannya
perasaanmu yang sebenarnya baru saja muncul!?”
“Tehepero.”
Melihat temannya
yang sengaja menjulurkan lidah, Kanae tidak bisa menahan tawa. Secara
finansial, jumlahnya cukup besar untuk standar mahasiswa. Mereka sudah cukup
bersenang-senang, dan Nakazawa juga memiliki urusan. Kanae dan Nakon juga
memiliki tempat yang harus dituju… jadi mereka bisa berpisah di sini.
“Jadi,
kita akan berpisah di sini hari ini?”
“Begitulah!
Sampai jumpa lagi, Akase-san!”
“Hm…
sampai jumpa, Nakazawa-san. Tadi itu seru sekali~”
“Yoi!
Ah! Selamat datang~!”
Nakazawa
yang sepenuhnya berperan sebagai karyawan mulai menyapa orang-orang di
sekitarnya. Kanae yang memahami situasi segera
menarik tangan Nakon. Kerumunan semakin banyak, dan kedua orang yang sudah
membeli tidak memiliki alasan untuk tetap tinggal. Terakhir, Nakon melambaikan
tangan kepada Nakazawa, dan keduanya pun pergi.
◇◇◇◇
Karena acara
festival sekolah, ada banyak
perhatian tertuju pada stan luar ruangan dan pertunjukan di aula, tetapi… itu
bukan segalanya. Di dalam ruangan juga ada pertunjukan yang menarik. Saat
mereka melewati stan 'Riset Budaya', Nakon dengan lembut bertanya kepada
Kanae.
“Kanae,
apa kita tidak mampir ke tempat profesor?”
Profesor
yang bertanggung jawab atas penelitian budaya dan juga sebagai penasihat
kelompok sepertinya memiliki banyak hal yang ingin ditanyakan kepada Nakon.
Karena telah beberapa kali dibantu, Kanae
tidak bisa menolak permintaan itu. Namun, Kanae dengan smartphone di tangan
berkata kepada Nakon.
“'Saat
ini, aku sedang berbicara dengan profesor lain. Kalian boleh
menikmati festival sekolah sedikit lebih lama.' Tadi aku menerima pesan melalui aplikasi.”
“Begitu?
Horeee! Profesor itu baik sekali ya.”
“Entahlah…”
Apa ini
kunjungan sebagai profesor, ataukah terkait hal-hal gaib? Tidak jelas mana yang
benar, tetapi mungkin ia tidak ingin berinteraksi dengan Nakon saat ada tamu… Nakon
tampaknya menangkap perasaan rumit Kanae dengan samar. Dia dengan jujur
melewati stan penelitian budaya dan menunjuk ke ruang kelas gelap yang terletak
tiga ruang lebih dalam.
“Eh?
Kenapa tirainya ditutup padahal belum malam? Itu kan gelap?”
“Hm…
karena ini memang
pertunjukan seperti itu.”
Di pintu
masuk, ada papan besar yang tertempel dengan tulisan 'Rumah Hantu'—sebuah
pertunjukan klasik di festival sekolah. Dari dalam terdengar jeritan ketakutan,
dan dua gadis berlari keluar dari tempat itu. Apa tingkat ketakutannya cukup
tinggi? Sambil merenung, Nakon tertarik pada tulisan 'Kelas Ketakutan'
yang ditulis dengan spidol kuning menyala di papan hitam.
“Eh?
Nakon?"
“Kanae!
Gimana kalau
selanjutnya kita ke sini?”
“Eh…?”
Nakon,
Akase Nakon-san. Bukannya identitasmu yang
sebenarnya justru
menakut-nakuti orang?
Ia hampir saja menginterupsi,
tetapi Kanae berhasil menahan diri. Sekilas ia curiga bahwa ini hanyalah provokasi, tetapi sorot mata Nakon yang berkilau penuh
rasa penasaran. Daripada menjelaskan panjang
lebar, lebih baik langsung merasakan pengalaman, jadi mereka pun mengantri.
“Aku
merasa ada kontradiksi yang sangat besar…”
“Eh?
Kenapa? Ada banyak orang yang masuk berdua seperti
kita, ‘kan?”
“Rumah
hantu memang seperti itu…”
“Begitu
ya?”
“Iya.”
“Kalau
begitu, aku sangat menantikannya!”
Jika dia
merasa puas, itu sudah baik. Hal-hal sepele
tidak perlu dipusingkan! Pemikiran kuno semacam itu melintas di benaknya, Kanae
memutuskan untuk berhenti berpikir. Terkadang merasakan dengan insting juga
penting. Jika ini adalah rumah hantu yang menyenangkan, lebih baik tidak
berpikir terlalu rumit. Satu per satu orang di depan mereka masuk, dan akhirnya
giliran Kanae dan Nakon tiba. Pemandu tersenyum misterius, menggunakan
smartphone sebagai radio dadakan untuk memberi tahu orang di dalam.
Aku ingin
mempercayai kalau bisikan “Pasangan berikutnya akan masuk.
Dalam mode serius,” hanyalah perasaanku saja…
“Berdua
ya?”
“Ah,
eh… iya.”
“Silakan
tunggu sebentar ya, sepertinya orang di depan terjebak."
Tidak,
jelas-jelas mereka sedang bersiap-siap, ‘kan!?
Bacaan yang datar juga sengaja, kan!? Dari bisikan sebelumnya, sepertinya
mereka sedang mengubah ruangan ke 'mode serius'. Jika bacaan datar ini berasal
dari orang yang sudah dikenal, pasti dia akan segera mendekat dan memaksa untuk
mengaku. Di samping Kanae yang sudah menyesal, Nakon yang tidak tahu apa-apa
tampak bersinar melihat rumah hantu. Ekspresi pemandu yang terlihat sekilas,
apakah itu rasa bersalah ataukah niat nakal──
'Sudah
siap. Aku akan menjatuhkan mangsa berikutnya ke dalam ketakutan yang
mendalam…!'
“Hai-hai…
Sepertinya sudah kosong. Silakan masuk!”
“Yay!”
“Nakon—!!”
Dengan
keberanian yang tanpa mengetahui rasa takut,
Nakon membuka pintu kelas yang gelap. Dengan semangat seperti naik bianglala, Kanae
segera mengikutinya. Setelah memastikan mereka masuk, pemandu menutup pintu,
dan ruangan itu langsung terbenam dalam kegelapan total. Bahkan tidak ada
cahaya samar untuk panduan, udara di dalam terasa berat dan pengap. Dari entah
dari mana, suara menyeramkan mulai terdengar, dan kelembapan terasa tinggi dan
dingin. Dengan suasana yang menyeramkan hingga ke detail terkecil, meskipun
tahu itu adalah pertunjukan, rasa cemas mulai muncul──dan gadis yang ada di
depan mulai membungkuk dan membeku.
“Ge-Gelap
sekali… sempit… menakutkan…”
“Eh?
Na-Nakon…!?”
Nakon tiba-tiba terlihat sangat
putus asa. Keberanian yang tadi hilang ke mana? Dia melihat sekeliling dengan
gelisah, kemudian bergerak ke belakang kiri Kanae. Dia bergetar kecil,
menggenggam siku Kanae dengan erat dan tidak mau melepaskannya. Kanae bertanya.
“Ad-Ada apa!? Apa kamu baik-baik
saja!?”
“Ak-Aku…
tidak suka tempat seperti ini…”
“Apa
kamu tidak menyukai rumah
hantu!?”
“Bukan
itu… tapi 'tempat yang sempit, gelap, dan membuat sesak napas' itu yang
tidak suka…!”
Tidak, itulah sebabnya, Akase Nakon-san.
Kamu seharusnya berada di sisi yang menakut-nakuti, kan!?
Nakon yang membungkuk di kegelapan tampak benar-benar kehilangan keberaniannya.
Seolah-olah dia telah menjadi gadis biasa di sini, dia benar-benar ketakutan.
“Apa
yang harus kita lakukan? Mau mundur?”
“Se-Setidaknya…
sampai akhir… tapi Kanae! Aku tidak akan melepaskan tanganmu──Kyaaahh!!”
“Nakon—!?”
Sesuatu yang
basah menyentuh pipi Nakon, dan dia berteriak dari lubuk hatinya. Matanya
berkaca-kaca, bergetar seperti anak burung. Ketika Kanae menariknya untuk
melindungi dan melihat pelakunya, itu adalah benda yang sangat murahan.
Meskipun itu hanya alat peraga murah, tampaknya cukup efektif jika itu adalah
pengalaman pertama. Segera, Kanae mengelus punggung Nakon.
“Tenang
saja. Tidak apa-apa… kamu tidak perlu takut sampai segitunya…”
“Uuuuu…!”
Dengan berlinangan air mata, dia menggenggam Kanae. Ia pikir Nakon akan bersenang-senang dengan
keceriaan seperti biasanya, tetapi ternyata dia sepenuhnya terserap dalam
suasana 'rumah hantu'. Jujur, perkembangan ini tidak terduga.
“Ummm Nakon… dari sini ke depan, mungkin akan lebih menakutkan…”
“…ak-aku… akan berusaha."
“Jangan
terlalu memaksakan diri…”
“Aku
akan berusyaha…”
“Bukannya bahasamu jadi tidak
jelas!?”
Nakon
menggenggam erat tangan kiri Kanae. Untungnya, kekuatan yang dia gunakan tidak
menyakitkan, jadi tidak perlu khawatir seperti pagi tadi. Dia tampak ketakutan
seperti hewan kecil, jadi Kanae dengan hati-hati memimpin jalan.
Kegelapan
yang dibuat terasa dalam, dan suara langkah kaki terdengar sepi. Dari lengan
yang bersentuhan, detak jantungnya terasa sangat jelas. Detak jantung ini bukan
akting. Setiap kali mereka mulai berjalan dan ada alat peraga yang mengeluarkan
suara menyeramkan, Nakon akan menempel lebih dekat dengan teriakan kecil.
“Uuu!
Seharusnya aku berhenti saja tadi…”
“Apakah
kamu benar-benar takut?”
“Habisnya!
Aku sama sekali tidak mengerti! Hantu yang asli lebih tidak menakutkan…”
“Lah kok
malah jadi kebalik begitu!?”
“Kalau
hantu asli, aku tinggal
memakannya saja, ‘kan!?”
“Orang
biasa tidak bisa melakukannya, tahu!?”
Ah, jadi
begitu. Aku sedikit mengerti.
Artinya──
bagi Nakon, 'hantu atau makhluk asli' adalah sesuatu yang bisa dihadapi,
tetapi rumah hantu ini… yaitu 'penampilan ketakutan dan makhluk yang
dibuat-buat' adalah sesuatu yang tidak diketahui. Standar normal dan
abnormal yang dimiliki orang biasa terbalik. Karena Nakon membalikkan persepsi
'buatan' dan 'asli', dia jadi sangat ketakutan.
“Ha,
ha, ayo cepat pergi, Kanae…!”
Dia sudah
hampir pingsan. Melihat dia terkejut oleh manusia membuat Kanae merasa segar,
dan dia terus mengingatkan dirinya sendiri.
“Tenang.
Jika kamu panik, kamu bisa terluka, lho?”
“Uu…
kenapa kamu bisa tenang, Kanae?”
“Ah…
karena Nakon takut, jadi sebaliknya?”
“Aku
tidak mengerti…”
Ada
kalanya melihat orang lain tercekik ketakutan membuat kita ikut ketakutan, dan
ada kalanya justru membuat kita tenang. Sepertinya Kanae termasuk yang
terakhir, dan ia mendukung Nakon yang bergetar dan berjalan di depan.
“Tidak
apa-apa. Mungkin ini menakutkan, tapi aku akan selalu bersamamu.”
“U-Un…”
Kata-kata
yang keluar terasa memalukan. Rasanya juga agak aneh, tetapi jika Kanae tidak bersikap percaya diri,
tidak mungkin ia bisa menghilangkan ketidakpastian Nakon. Di sepanjang jalan,
lampu biru pucat yang berkedip-kedip secara tidak teratur dan sesuatu yang
bergerak di semak-semak yang dibuat-buat membuatnya terus terkejut, mirip
dengan wanita penakut. Satu langkah, lagi satu langkah, dan mereka melihat
pintu terang di kejauhan.
“Jadi,
itu pintu keluar…!”
“Kamu
sudah berusaha, Nakon.”
“Ak-Aku
pasti tidak akan masuk rumah hantu lagi!”
Ketika dia
terburu-buru, cahaya tiba-tiba padam. Dari akhir yang akhirnya terlihat, Nakon
yang terwarnai oleh keputusasaan dan ketakutan segera mengulurkan tangan ke
pintu geser, tetapi…
“Eh? Hah!? Kenapa!? Tidak bisa dibuka!?”
Kanae
mencoba menarik Bersama dengannya,
tetapi… entah terkunci atau ada seseorang yang menahannya, tidak ada
tanda-tanda gerakan sama sekali. Setelah menunjukkan harapan, mata Nakon yang
kehilangan warna menjadi seperti reptil…
Ini
buruk. Sangat buruk. Sebelum dia bisa menunjuk bahwa 'sifat aslinya muncul'
karena ketakutan, terdengar suara basah menyeret dari belakang.
Kanae
yang tenang melihat Nakon mengagumi pertunjukan rumah hantu di sini.
Mengurung
orang di ambang keluar dan menghadirkan ketakutan tertinggi di akhir. Tentu
saja, yang disiapkan di sini adalah staf di dalam yang mengenakan makeup khusus.
'Oiwa-san' yang sempurna membisikkan dengan wajah bengkak.
“A~kan~aku~ku~tuk~kau~!!"
Itu
sempurna. Sambil sesekali meledakkan ketakutan, mereka didorong ke ambang
kebebasan, menunjukkan harapan sebelum menjatuhkannya. Bahkan Kanae yang
menyadari pertunjukan itu merasakan ketakutan ketika dihadapkan pada makeup
hantu yang sangat meyakinkan.
Satu
masalah fatal ada di sini──
Orang
yang ditakut-takuti, yang membuatnya ketakutan, adalah sosok 'asli',
sesuatu yang tidak terduga.
Akhirnya,
Nakon mencapai batasnya, dan
dari ketakutan dan kecemasan, dia menunjukkan 'aura sebagai makhluk aneh'
secara penuh──
“Shaaaaaaaaaa!!!!”
Sebuah
ancaman sungguhan. Tanpa sempat dihentikan, Nakon menunjukkan sekilas sifat monsternya. Kanae yang ada di samping juga
merasakan bulu kuduknya berdiri, dan Nakon menyebarkan aura spiritual di
sekitarnya.
──Yang
malang adalah, orang yang berperan sebagai Oiwa-san.
Tidak
disangka, ia
menerima ancaman sungguhan dari monster yang
asli──hingga terjatuh dan pingsan.
◇◇◇◇
Chapter 2 — Festival
Sekolah dan Dirinya
Bahu Amakusa
Taichi tersentak dan bergetar. Hal
itu dikarenakan ia merasakan aura kuat dari makhluk aneh dari
kelas terdekat…
Tidak diragukan
lagi, sumbernya adalah 'rumah hantu'. Inilah hukum umum tentang makhluk
aneh. Ketika mendengarkan cerita horor atau pengalaman menakutkan, roh atau
makhluk aneh akan tertarik. Fenomena di mana yang asli menyusup di antara yang
palsu atau cerita rekaan tidak berubah hingga saat ini. Baru-baru ini, ada
banyak momen di mana makhluk aneh mengganggu selama siaran permainan horor.
Jadi, munculnya 'hal-hal seperti itu' di rumah hantu adalah suatu
keharusan. Amakusa
mengangkat wajahnya sedikit, lalu mengabaikan, ketika Iblis yang melekat karena
hubungan leluhur mulai berteriak.
“Kamu berisik
sekali, Halphas. Dari aura, itu pasti Akase Nakon, ‘kan?”
Bagi para
tamu yang datang, suara Iblis hanya bisa didengar oleh profesor. Di atas tempat
bertengger yang terbuat dari pohon tua, seekor merpati yang tidak terlihat oleh
orang biasa berbicara dengan suara serak. Ketika dia mengarahkan senapan buatan
sendiri ke makhluk bising itu, Halphas dengan panik bersiap-siap.
“Jangan
takut pada yang seperti ini. Apa ini benar-benar salah satu dari tujuh puluh
dua pilar Salomo? ── Jika iya, maka ubahlah dirimu menjadi bangau. ── Huh,
hidup ini sulit. Apa ini yang disebut pembalikan posisi?”
Iblis
yang mengeluh dalam bentuk merpati. Ia
tampak seperti profesor yang baik yang sedang mengoceh sendirian, tetapi
mungkin ada 'sesuatu' yang bisa dirasakan dari ekspresi dan gerakannya. Atau
mungkin terlihat seperti manusia aneh yang gila. Apa seseorang percaya atau
tidak, interpretasi dan kesan akan sangat berbeda.
Profesor
itu tersenyum sinis dan mengulurkan tangan kirinya. Burung yang sudah terbiasa
itu dengan lembut terbang, dan Halphas mendarat di bahunya yang biasa.
“Yah,
sepertinya aku harus pergi memeriksa. Mungkin roh yang melarikan diri akan
datang.”
Profesor
itu mulai berjalan keluar dari ruangan belakang dan menampakkan wajahnya di stan laboratorium penelitian daerah.
Ruang
yang dipenuhi dengan pameran yang membosankan ini… tidak menarik bagi siapa pun
kecuali mereka yang mencari ketenangan di pedesaan atau yang tertarik pada
dunia okultisme. Apalagi di tengah 'festival' seperti festival sekolah,
hanya sedikit orang yang akan datang ke tempat lembab seperti ini. Amakusa
melihat sekeliling dan tidak melihat sesuatu yang aneh dengan matanya.
“Perasaan
itu… apa Kanae baik-baik saja? Semoga dia tidak mengganggu orang lain. Rasanya akan sulit untuk membereskannya nanti.”
Akase Nakon──makhluk
aneh yang mengambil bentuk manusia tidaklah jarang sejak zaman dahulu. Cerita
tentang roh air, rubah, dan bahkan Iblis yang meniru bentuk manusia ada di
seluruh dunia.
Poin unik
tentang dirinya adalah… makhluk aneh yang seharusnya tidak memiliki bentuk
manusia kini memiliki wujud manusia. Di festival sekolah hari ini, Amakusa sangat ingin mendengar lebih
banyak tentangnya.
Namun sebelum
itu… profesor melirik ke arah pintu masuk. Iblis
merpati yang mendarat di bahunya tampaknya juga merasakan kehadiran yang suci.
Sepertinya ada tamu dari dunia itu yang sedang melihat-lihat stan ini.
Meskipun
begitu, penampilannya tidak berbeda dari orang biasa. Mengenakan jaket pink
muda dengan kemeja putih. Dia berpakaian santai dengan celana jeans biru yang
boyish. Tanpa diberitahu, tidak ada yang akan menyangka dia adalah 'sister'. Ketika
dia menyadari tatapan profesor dan makhluk lain, wanita itu berbicara dengan
ekspresi tegang.
“Apa-apaan itu tadi… Profesor, apa kamu
melakukan sesuatu?”
“Tidak
ada. Ada rumah hantu di dekat sini. Sepertinya ada keributan di sana.”
“Aku
merasa itu melebihi kekuatan roh. Apa itu ulahmu? Iblis.”
Wanita
itu menatap tajam ke arah burung yang ada di bahunya. Tentu saja, Halphas
terlihat olehnya dan seharusnya suaranya juga bisa didengar. Namun, melihat
tidak ada bantahan bising seperti biasanya, wanita Barat itu mengerutkan
kening.
“Ada
apa? Kenapa kamu tidak ribut seperti biasanya?”
“Ah…
kemarin, si Law itu
mengamuk. Katanya, 'Aku tidak ingin berbicara dengan Iblis dan tidak ingin
mendengarkan.' Jadi, terpaksa aku membuat suaranya tidak terdengar untuk
sementara. Tapi kamu sudah datang, Mellysha.”
“Maaf,
Profesor. Law itu…
dulunya adalah pria yang memiliki pengalaman mengerikan terkait makhluk aneh. Ia tidak akan menunjukkan belas
kasihan pada sesuatu yang
tidak biasa.”
“Ada
orang seperti itu, tidak hanya pada makhluk aneh. Apa boleh buat.”
Misalnya
kecelakaan, misalnya perang, misalnya diskriminasi, misalnya bencana.
Apa pun
penyebabnya, sebagian orang yang mengalami keadaan atau pengalaman tragis
berusaha menghilangkan kerugian yang mirip dengan pengalaman mereka. Semakin
kuat trauma mereka, semakin
ekstrem dan radikal cara mereka mencoba menyelesaikannya.
Artinya──teman
Mellysha yang menderita akibat
makhluk aneh menunjukkan reaksi berlebihan terhadap makhluk aneh yang ada di
bahu profesor. Ini bisa disebut sebagai kecelakaan yang malang.
Meskipun
ia mengerti… profesor bukanlah pria yang mudah mengabaikan hal semacam itu.
“Namun
demikian… ada beberapa dampak yang
tidak bisa dianggap enteng. Meskipun sudah dibicarakan, mereka tidak
mendengarkan, dan beberapa barang berharga juga hilang. Apa yang akan kamu
lakukan?”
“Aku
datang juga untuk meminta maaf tentang hal itu. Sebenarnya, seharusnya ia yang
melakukannya, tapi…”
“Kamu
tidak ingin masalah lain muncul, ya? Itu adalah keputusan yang wajar.”
Profesor
Amakusa mendengus. Di depan pandangannya, Mellysha
mengeluarkan sebuah tabung kaca seukuran pergelangan tangan. Di tengahnya
terdapat batu mineral berwarna biru yang memancarkan cahaya biru kobalt. Sambil
menerima dan memeriksanya,
profesor mulai mendengarkan penjelasan tentang barang tersebut.
“Ini
adalah kobalt yang dihasilkan oleh kobold. Di Jepang, sulit untuk
mendapatkannya, bukan? ── Jangan keluarkan dari wadahnya. Nantinya akan teroksidasi.”
“Sepertinya
itu adalah makhluk peri dari Jerman… yang tinggal di tambang. Aku juga
mendengar bahwa itu adalah subspesies dari zashiki-warashi.”
Kilauan
yang terkandung di dalamnya pasti memiliki nilai magis. Bahan yang berasal dari
peri Jerman sulit didapatkan di Jepang. Sebagai kompensasi, ini tidak buruk,
tetapi Amakusa mulai mempertanyakan.
“Aku
tidak tahu tingkat kesulitannya… tapi, bukannya
ini terlalu berlebihan cuma demi permintaan maaf?”
“……
Peka sekali.”
“Ya, itu
karena Iblis selalu ada di sampingku.”
Burung di
bahunya seolah ingin berteriak “Berisik!”,
tetapi diabaikan oleh Amakusa yang terus menatap lawan bicaranya. Menyadari
bahwa alasan yang berbelit-belit tidak diperlukan, Mellysha langsung memulai.
“Salah
satu manusia yang datang ke sini… Apa kamu masih mengingat
Shigik?”
“Aku
ingat. Sebelum Mellysha
datang, kami juga sempat berbicara."
“──Kapan
itu?”
“Kapan
ya… Apa aku harus memeriksa riwayatnya?”
Dengan
mengangkat ponselnya sedikit, wanita itu mengangguk. Setelah memeriksa aplikasi
kontak, ditemukan catatan sekitar enam bulan yang lalu. Mellysha langsung mendekat.
“Dia
menghubungimu, profesor…!
Apa yang dia tanyakan?!”
“Oi, oi, apa yang sebenarnya terjadi sih? Karena
itu cerita yang cukup lama, dan aku tidak ingat isinya…”
“Tolong.
Apa pun itu.”
Dia
menundukkan kepala dengan tulus, memohon dengan sungguh-sungguh. Profesor yang
memejamkan mata untuk menggali ingatannya
mulai mengingat dan menyebutkan isi percakapan.
“Kalau aku
tidak salah mengingatnya… Dia bertanya tentang ilmu sihir
dari daratan, terutama yang berasal dari Tiongkok kuno. Itu cukup dikenal umum.”
“Sialan! Apa semuanya sudah terlambat…?”
“Aku
tidak bisa menelaah maksudmu. Memangnya ada apa dengan Shigik?”
“……
Dia sudah keluar.”
“Apa?!”
'Keluar'
── berarti dia telah keluar dari lingkup komunitas
yang mengelola makhluk aneh. Ini adalah kejadian yang bisa terjadi, tetapi jika
wajah yang dikenal melakukannya, itu akan mengganggu. Amakusa segera bertanya.
“Kapan
itu terjadi?”
“Sekitar
enam bulan yang lalu. Dia pasti menghubungi profesor segera setelah keluar.”
“Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih cepat?”
“Kamu juga sibuk dengan
pekerjaan utamamu, bukan?”
Jika enam
bulan yang lalu, itu sekitar bulan Desember. Artinya, itu adalah musim akhir
tahun, dan profesor universitas sangat sibuk. Memangnya itu saat-saat yang perlu merassa sungkan? Menggerutu
sambil mengangguk, profesor Amakusa
mendorong wanita itu untuk melanjutkan.
“Ia
awalnya… pria yang memiliki rasa inferioritas yang kuat. Ia mencari pengetahuan profesor
untuk membentuk sihir atau ritual baru. Ia pasti
sedang bereksperimen di suatu tempat.”
“……
Itu adalah kecenderungan yang buruk. Biasanya orang seperti itu akan secara
aktif melanggar larangan dan tabu.”
“Ia
mungkin sudah tidak hidup lagi?”
“Andaikan
saja memang itu yang terjadi. Di mana tempatnya?”
“──Dia
hilang di sekitar Gunung Fuji.”
“Oi, oi, yang benar
saja, kamu pasti bercanda, ‘kan?”
Ekspresi
profesor seketika berubah saat endengar lokasi yang disebutkan.
Burung merpati di sampingnya juga kehilangan keberaniannya untuk mengejek dan
terdiam.
“Tempat itu
adalah… tempat spiritual yang terkenal bahkan bagi orang awam. Ah sial, jadi ia
mendengar tentang ilmu sihir dari daratan, ya!? Pasti tidak ada yang baik yang
akan terjadi!”
“Itu
di luar keahlianku, tetapi… memangnya seburuk itu?”
“Buruk,
sangat buruk! Jika harus diumpamakan secara kasar──seperti melemparkan korek
api menyala ke tumpukan dinamit!”
“Itu
sama sekali bukan lelucon! Jadi
Shigik──”
“Ia
hampir pasti akan hancur berkeping-keping… Bahkan jika kita bisa mengambil
sebagian dari peninggalannya, itu sudah dianggap sebagai keajaiban. Maafkan aku,
Mellysha… tapi, bersiaplah.”
“…………”
──Sejujurnya,
ada lebih banyak elemen buruk. Wanita di depannya terdiam,
tetapi jika situasi yang dibicarakan saat ini berakhir di sini, dia harus
mengatakan bahwa 'masih lebih baik'. Dalam keadaan terburuk, mungkin
perlu untuk mengisolasi seluruh area tersebut. Profesor
segera mendesaknya.
“Kita
harus segera mencari dan menemukan markas
Shigik serta menangani masalah ini. Jika hanya dirinya saja yang mati, itu masih bisa
diterima… tetapi jika ritualnya melampaui
batas atau memberi dampak buruk pada tanah──”
“……
Aku tidak ingin memikirkannya.”
Tidak
jelas penelitian apa yang dilakukan penyihir yang membelot itu dan eksperimen apa yang
dijalankannya… tetapi
jika ia telah keluar dari organisasi sebelumnya dan menuju tempat spiritual
yang terkenal, bisa dibayangkan bahwa ia terlibat dalam tindakan berbahaya.
Seperti yang dikatakan Mellysha, 'aku
tidak ingin memikirkannya', tetapi mana
mungkin untuk mengabaikannya begitu saja.
Profesor dengan cepat mengeluarkan buku catatannya dan memberikan beberapa
kontak kepada Mellysha.
“Aku
akan menghubungi para penyihir yang mengelola daerah itu… tetapi kalian juga
jangan lengah. Jika ada yang tidak jelas atau kalian diminta untuk memberikan
bukti dari atas, gunakan daftar ini.”
“Maaf,
ini sangat membantu.”
“Aku
akan bekerja keras untuk membayar setidaknya bagian kobalt yang sudah dibayar
di muka. Dan jika ia masih hidup… aku akan mengatur kelas khusus untuk Shigik.
Ada harga yang harus dibayar untuk meremehkan
seseorang.”
“……
Memang benar.”
Ia
hampir pasti tidak hidup lagi. Ini adalah harapan yang jelas. Namun, profesor
tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengatakan lelucon yang menyakitkan.
Untungnya,
Mellysha mungkin merasakan hal yang
sama. Meskipun menghela napas berat, ekspresinya tidak sepenuhnya mati.
◇◇◇◇
Melarikan
diri dari rumah hantu sangat sulit. Akase Nakon, yang sudah berada di batas
ketakutannya,
menunjukkan sedikit 'sifat aslinya'
kepada sosok yang mengejutkan. Meskipun seharusnya tidak ada yang berbahaya,
tekanan itu terlalu berat bagi orang awam. Sambil merawat pemain hantu yang
pingsan, dia buru-buru melarikan diri sebelum yang lain sadar.
“Ugh…
itu menakutkan…”
“Ahahahaha…”
Orang
yang pingsan mungkin memiliki perasaan yang sama. Tidak ada yang menyangka
bahwa pihak yang mengejutkan akan menghadapi ketakutan yang membuatnya pingsan.
Beruntungnya, ini terjadi di 'rumah hantu'. Jika mereka terbangun dan
menceritakan kebenaran, tidak ada yang akan mempercayainya. Paling-paling, itu
akan menyebar di forum internet dengan keterangan 'kejadian seperti ini
terjadi', tanpa ada kepastian kebenarannya.
“Maaf
ya, Kanae. Mungkin aku terlalu penakut…”
“Aku
juga minta maaf. Aku tidak menyangka kamu seburuk itu. Aku akan mentraktirmu di
sini.”
“Terima
kasih. Tapi tempat ini, cukup aneh ya?”
“Kurasa ini
agak berbeda dari yang biasa, sih…”
Hibiki Kanae
dan Akase Nakon pindah ke booth di gedung lain. Mereka menjauh dari tempat
keributan dan mencari hiburan yang lebih tenang. Alih-alih berkeliling di stan,
mereka memilih untuk masuk ke dalam sebuah kafe. Setelah bingung, mereka
memilih──
“Selamat
datang, Nona muda dan Tuan muda. Ini kopi untuk kalian.”
Nakon
membungkuk dengan sopan, sementara Kanae mengucapkan terima kasih dengan senyum
pahit. Panggilan yang tidak biasa itu terasa gatal, tetapi karena sifat tempat
ini, itu tidak bisa dihindari. Sebaliknya, ini adalah 'kafe butler'
yang biasa dikunjungi orang-orang yang ingin
mendapatkan perlakuan dan pelayanan seperti ini.
Jika kita
menganggapnya sebagai versi wanita dari 'kafe pelayan' yang populer di
kalangan wanita, yang dipopulerkan oleh Akihabara dengan maid café, itu akan
lebih mudah dipahami. Faktanya, sebagian besar pelanggan di dalam kafe adalah
wanita, dan mahasiswa tampan berpakaian jas yang melayani mereka. Terkadang ada
pelayan yang menunjukkan sisi asli mereka, tetapi… mengingat ini adalah acara
festival sekolah, wajar jika mereka masih pemula. Kanae, satu-satunya pelanggan
pria yang sedikit, meminta maaf kepada pelayan butler yang bertugas.
“Maaf.
Aku merasa seperti orang asing di sini…”
“Ahahaha,
jangan khawatir. Nikmati saja. Aku juga akan berusaha untuk menyenangkan
kalian.”
“Terima
kasih. Sebenarnya, dia juga belum terbiasa…”
“Memang.
Dia tampaknya tidak suka 'tempat seperti ini'.”
“Itu
benar.”
“Ahahaha,
kalau begitu, selamat bersenang-senang.”
Untungnya,
pelayannya sangat ramah. Dia menjawab dengan senyuman terhadap sikap Nakon yang
tidak tahu cara bersenang-senang, serta Kanae yang merasa tidak pada tempatnya.
Dengan begitu, mereka bisa beristirahat sedikit lebih lama.
“Kanae!
Ayo makan sesuatu!”
“Kamu
memang rakus, ya…”
Meskipun
mereka sudah melewati rumah hantu, mereka sudah banyak makan dan minum di stan.
Kenyataannya, Kanae tidak terlalu lapar. Yang dipesannya hanya kopi panas.
Namun,
mata Nakon tetap tertuju pada makanan. Suara ‘slurpp’ bisa terdengar dari mulutnya. Meskipun terasa sedikit
berlebihan, inilah kebiasaan Nakon yang sebenarnya. Dia sering mengubah
ekspresi dan makan dengan baik. Dengan tatapan manja yang tidak disadari, Kanae
akhirnya mengizinkannya.
“Kalau
begitu, ini! Aku mau makan panekuk!”
“Kamu
memilih yang cukup berat, ya!?”
Setelah
memakan cumi bakar, takoyaki, dan churros… meskipun mereka beristirahat sejenak
dari rumah hantu, Kanae tidak merasa lapar untuk pergi makan pancake. Dirinya merasa
ragu untuk memesan hal yang sama, akhirnya memilih untuk
memesan es krim. Pelayan butler menulis pesanan dengan tangan dan membungkuk
dengan anggun sebelum pergi ke belakang.
“Kanae
tidak mau makan panekuk?”
“Perutku
masih kenyang…”
“Apa
kamu mau mencicipi sedikit dari milikku?”
“Eh?”
“Kanae
selalu memberiku lebih banyak… jadi sesekali tidak
masalah, iya ‘kan?”
Itu
adalah pembicaraan di dalam asrama. Melakukannya di luar, tentu membutuhkan keberanian
yang lebih. Selain itu, ini adalah kafe butler. Kanae
bisa membayangkan bagaimana pandangan dari para pelanggan wanita di sekitar
mereka.
Namun,
untuk membuat Nakon──dia yang bukan manusia itu memahami, waktu tidak cukup. Dirinya bingung tentang bagaimana cara
menyampaikannya, ketika pelayan butler datang membawa pesanan.
“Maaf
sudah membuat kalian
berdua menunggu. Ini panekuk untuk Nona muda, dan es krim untuk Tuan muda, kan?”
“Eh,
uhm,
ya.”
“Yeayyy.
Oh! Boleh aku minta satu piring lagi?”
“Ahahaha,
kalian berdua tampak akrab. Aku sudah membawa dua porsi seperti yang kalian
katakan.”
“Pelayan-san, kamu hebat!”
“Ahahaha,
itu terlalu berlebihan, Nona muda.”
Keberuntungan
dan kepekaan pelayan justru menjadi bumerang. Pelayan itu memberikan senyuman
misterius kepada Kanae sebelum menjauh. Pasti ada kesalahpahaman, tetapi jika
ia membantah, tidak ada yang akan mempercayainya.
“Ya,
Kanae! Aku akan memberimu satu piring!”
“Ugh…
terima kasih.”
Tatapan
di sekeliling terasa menyakitkan. Mungkin hanya Kanae yang terlalu sadar, dan
itu bisa jadi salah paham. Namun, ia tidak bisa mengabaikan tatapan wanita yang
dipenuhi rasa cemburu dari suatu tempat. Sementara ia merasakan keringat dingin
mengalir di punggungnya, tatapan Nakon tertuju pada es krim Kanae.
“…Slurpp.”
“Iya,
iya…”
Sesuatu
yang bisa diprediksi dan tak bisa
dihindari. Kanae membelah
es krim vanila dengan pisau dan meletakkannya di atas panekuk Nakon. Mentega yang meleleh
dan aroma yang bercampur, warna putih menyerap ke dalam adonan pancake.
“Kelihatannya
enak~ Kanae juga mau makan, ‘kan?”
“Iy-Iya.”
Entah
kenapa, rasa cemburu itu sepertinya semakin kuat. Seolah ada aura jahat yang
lebih pekat, membuatnya merasa seperti terbakar dari belakang. Sementara Kanae
merasakan ketegangan itu sendirian, Nakon menggigit panekuk yang ditambahkan es krim dengan
mulut lebar.
“Mm~!
Enaknya~! Rasanya
lembut sekali~…”
Sepertinya
Nakon menyukainya. Dia menyipitkan mata dengan senyum lebar, tetapi sirup maple
menetes di sudut mulutnya. Ketika Kanae
menawarkan serbet kertas kepada Nakon yang tidak memperhatikan orang lain, dia
mengelapnya seperti anak kecil.
──Rasa
dingin semakin kuat. Hampir mendekati aura membunuh. Kanae yang jelas-jelas
bergetar akhirnya disadari oleh Nakon.
“Ada
apa? Kanae. Apa tidak enak?”
“Bu-Bukan begitu… rasanya aneh.”
“Begitu
ya?”
“Iya!
Maksudku, seharusnya Nakon yang lebih sensitif terhadap hal-hal seperti ini…”
“Eh?
Aku tidak mengerti.”
Apa Nakon
yang merupakan kumpulan kutukan tidak merasakan niat jahat? Mungkin ini adalah
sesuatu yang ditujukan langsung kepada Kanae… Di tempat ini yang dipenuhi
wanita, seharusnya ada tatapan cemburu yang mengarah pada Nakon, ‘kan?
“Kamu
tidak ingin terlalu lama di sini?”
“Maaf,
jujur saja, aku merasa begitu.”
“Baiklah…
sepertinya kita harus pergi ke profesor sekarang, ‘kan?”
“Ah,
kamu mengingatnya, ya.”
“Iya!”
Profesor
Amakusa sangat tertarik pada Nakon. Kanae tidak mengerti, tetapi tampaknya
keberadaan dan asal-usulnya cukup langka. Meskipun akan merepotkan jika terjadi
hal aneh, Kanae juga ingin tahu lebih banyak tentang Nakon. Ketika ia memeriksa
jam di ponselnya, waktunya sudah
lewat tengah hari. Sepertinya sudah saatnya.
Setelah
menghubungi profesor, Nakon tampaknya sudah selesai makan. Mereka buru-buru membayar
dan keluar dari kafe yang dipenuhi pelayan.
“Su-Sudah kuduga, sepertinya
ada seseorang yang melihat kita di dalam…”
“Ada
apa?”
“Tidak,
rasanya ada tatapan aneh, tapi begitu keluar, rasanya hilang, jadi tidak
apa-apa.”
“Oh,
begitu.”
Jika Nakon
tidak merasakannya, mungkin itu hanya perasaannya saja? Kanae menggelengkan kepala dan melihat
sekeliling, tetapi tidak ada orang yang mengalihkan pandangannya.
“Kanae?
Ayo cepat pergi.”
“Iya,
sepertinya itu hanya perasaanku saja, ya?”
Mengabaikan
asal-usul rasa dingin itu, mereka berdua
menuju ke [Ruang
Penelitian Budaya] tempat
profesor berada. Kanae mempercayai
bahwa tidak ada yang terjadi, dan itu pasti hanya perasaannya saja.
◇◇◇◇
“Astaga,
tadi itu apa yang sebenarnya teradi?
Aura Nakon terlihat keluar.”
Suara profesor yang menyambut Nakon dan
Kanae di [Ruang
Penelitian Budaya]
mengandung nada teguran. Penyebabnya jelas, itu tentang keributan di rumah
hantu. Setelah Kanae meminta maaf dengan tulus dan menceritakan kejadian serta
detailnya… nada keras profesor berubah, dan ia mulai tertawa pelan.
“Maaf,
itu memang tidak terduga. Mana
mungkin ada makhluk aneh yang benar-benar ketakutan di rumah hantu, kan?”
“Iya,
‘kan! Ak-Aku tidak salah, kan!?”
“Kanae
bukan ahlinya, dan aku juga tidak bisa memprediksinya. Hmm. Itu adalah
kecelakaan yang tidak beruntung. Tidak ada yang mati, dan tidak ada banyak
orang yang tahu. Mungkin hanya sedikit tidak beruntung… tapi, ya, seharusnya
tidak masalah.”
“Syukurlah…”
Dengan
dukungan profesor, Kanae merasa tenang. Sepertinya Nakon bisa membaca situasi,
dia menundukkan kepala dengan malu. Seiring waktu berlalu dan setelah mereka
makan camilan, perasaannya mulai sedikit tenang. Nakon lalu mengeluh dengan suara penuh
kegelisahan.
“Ha-Habisnya!
Itu menakutkan! Gelap dan sempit itu menakutkan!”
“Tidak…
banyak orang pasti berpikir 'kamu tidak berhak mengatakannya'...”
“Maaf
Nakon, aku juga tidak memprediksinya. Aku pikir kamu akan melanjutkan dengan
percaya diri…”
“Kalau
begitu, tempat pemakaman yang layak jauh lebih
tidak menakutkan!”
“Apa
itu lelucon yang ditunggu-tunggu? Kamu
telah mengajarkan lelucon yang canggih padanya ya,
Kanae.”
“Bukan
begitu!?”
Mengabaikan
bantahan dengan wajah tenang, profesor menyentuh dagunya dan berpikir.
Bagaimana bisa sesuatu yang buatan lebih menakutkan daripada yang nyata?
“Hmm…
Ketakutan terhadap ruang tertutup. Jika mempertimbangkan asal-usulnya… hmm.”
“Profesor
Amakusa, apa ada sesuatu yang
kamu ingat?”
“Ada,
tapi aku tidak bisa memastikan tanpa memeriksanya.
Itulah alasan mengapa aku meminta Nakon untuk datang.”
──Sejauh
ini, profesor hanya mengira Nakon berdasarkan cerita Kanae. Poin-poin yang
dianggap penting dan saran untuk beradaptasi dengan zaman modern adalah fokus
utama, dan tidak ada penyebutan langsung tentang Nakon.
Namun, meski ia tampak menyebalkan, profesor
adalah seorang akademisi, rasa ingin tahunya melebihi rata-rata. Bahkan untuk
pameran festival sekolah, ia tidak menunjukkan tanda-tanda mengabaikan. Dari
sudut pandang orang awam, semuanya terlihat teratur.
Ilmu kearifan lokal sangat terkait dengan
yang disebut okultisme. Pekerjaan utamanya mungkin merupakan produk sampingan
dari sifat asli profesor. Dengan suasana unik, profesor melirik Kanae dan
memberitahunya.
“Kanae,
bisakah kamu keluar sebentar?”
“Eh?
Kenapa?”
“Malah
tanbya kenapa....
Jika kamu ingin kehilangan akal sehat, aku tidak
masalah sama sekali.”
“Bukannya itu
juga berbahaya bagi Nakon!?”
“Memangnya
kamu ini bodoh? Kamu sudah mengalami
banyak hal yang berbeda dari orang biasa, ‘kan?
Semua itu tidak ada artinya bagi anak ini.”
Selain
identitasnya, Nakon juga memiliki mental yang berbeda dari makhluk biasa. Apa yang ingin
disampaikan profesor adalah bahwa dia ingin membahas elemen sihir atau
okultisme secara terbuka… Nakon terlihat tegang, tetapi dia tidak secara jelas
menolak. Apa dia merasa ini adalah pembicaraan yang perlu dilakukan di suatu
tempat? Menghadapi kebingungan dari keduanya, profesor melanjutkan.
“Jika
kalian terlalu lama bersama, itu bisa menjadi ketergantungan yang tidak baik.
Aku sudah memberi saran agar sesekali kalau kalian
harus berpisah, ‘kan?”
“Umm…
itu karena… aku khawatir tentang Nakon.”
“Aku
mengerti perasaanmu. Akase Nakon adalah anak yang tidak tahu
norma umum. Itu benar, tetapi akan
merepotkan jika dia terus-menerus diawasi.”
“Hmm…
begitu ya?”
“Begitulah
adanya. Terlebih lagi, ini adalah tentang sihir. Jika kamu terlalu bergantung
dan situasinya menjadi rumit, itu pasti akan membawa bencana. Tidak baik untuk
mengabaikannya begitu, tetapi kamu perlu menjaga jarak yang sesuai.
Bukanknya begitu?"
Bahasa
yang digunakan adalah bahasa orang yang ahli, dan isi pembicaraannya sangat
masuk akal. Kanae kehilangan argumen dan terdiam. Nakon menunggu kata-kata,
mengamati interaksi keduanya.
“Dan…
mungkin ini terlalu mencampuri urusan, tapi bukannya
ada tempat yang ingin kamu kunjungi sendirian?”
“Hmm…
ada beberapa stan temanku. Jika aku bersama Nakon…"
“Kamu takut
akan digoda mereka, ya?”
“Iya.
Kecuali Nakazawa.”
“Kalau
begitu, pergilah berkeliling. Anggap saja seperti menitipkan Nakon di sini.”
“Memangnya
ini pusat penitipan anak-anak!?”
Profesor
cuma bisa tersenyum kering saat mendapatkan tanggapan lawakan Kanae. Pemikirannya hampir
sama, tetapi ia menggambarkan sifat Nakon sebagai benda terkutuk.
“Secara
mental memang benar begitu, tetapi kerusakan saat dia marah
tidak bisa dianggap enteng. Dengan aku sebagai ahli, kamu seharusnya merasa
aman, ‘kan?”
“Itu…
yah.”
“Kamu
harus melakukan ini suatu saat. Jangan berlama-lama, ayo pergi saja sana.”
Kanae
yang ragu-ragu didorong keluar dengan paksa. Saat pandangan matanya bertemu
tatapan Nakon yang cemas, ia tersenyum sedikit sedih, tetapi dirinya tetap melambaikan tangan dengan
ceria.
Mungkin
seperti yang dikatakan profesor, Kanae terlalu khawatir. Memang, mereka tidak
bisa selalu bersama, dan jika dia bisa berjalan sendirian… itu adalah hal yang
menggembirakan, bukan?
Kanae beberapa
kali hampir berhenti, tetapi ia meyakinkan dirinya bahwa itu adalah sikap
overprotektif. Dengan tujuan menuju stan kenalan lainnya, Kanae perlahan
meninggalkan [Ruang
Penelitian Budaya].
◇◇◇◇
(Sudut
Pandang Akase Nakon)
“Sungguh…
Kamu sedikit terlalu overprotektif ya, Kanae.”
Kami menyaksikan
Kanae menjauh. Perasaan kesepian itu nyata, tetapi ada hal yang harus dibicarakan.
Karena sudah lama aku mengetahuinya, jadi aku
menahan diri.
“Ngomong-ngomong…
ini pertama kalinya kita berbicara seperti ini ya,
Akase Nakon.”
“Eh…
iya, benar.”
Aku
merasa tidak nyaman dengan orang ini. Suasana? Aura? Mungkin itu adalah sifat orang ini… dia
terlalu mirip dengan orang-orang
yang kami benci… meskipun aku tahu dia berbeda, aku tetap tidak menyukainya.
“Aku
mendengar bahwa aku membuatmu tidak nyaman… tetapi aku ingin bertanya tentang
itu. Aku sudah mendengar sedikit tentang situasimu
dari Kanae. Namun, ia adalah orang yang terlibat, jadi kurasa ia tidak tahu
detailnya. Atau, jika ia memiliki sedikit kemampuan spiritual, ia pasti akan
melarikan diri dalam sekejap.”
“Begitukah?”
“Benar.
Aku hanya mendengar ceritanya secara sekilas,
tetapi aku bisa menebak bahwa esensi sihirmu
adalah 'Kodoku (racun serangga)’.”
Sepertinya
aku pernah mendengar tentang itu, atau mungkin tidak. Apa itu ingatan seseorang
yang aku makan? Dalam kebingunganku, profesor melanjutkan berbicara.
“Racun
serangga itu terkenal dan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Namun… ini
adalah pertama kalinya aku mendengar bahwa kutukan yang lahir dari sihir tersebut memiliki kepribadian. Itu adalah
poin yang paling menarik bagiku.”
“…?”
Apa yang
sedang ia bicarakan? Saat aku masih tidak mengerti, profesor mulai
berpikir. Sepertinya ia memiliki kebiasaan menyentuh dagunya dengan kepalan
tangan saat merenung. Setelah beberapa saat berdiri, profesor mengajakku masuk
ke ruangan dalam.
“Ah...
tenang saja. Tidak ada yang
aneh-aneh yang disiapkan. Jika orang sepertiku ikut campur, ujung-ujungnya pasti takkan memiliki akhir yang bagus.”
Ruangan
dalam profesor dipenuhi dengan berbagai benda yang sulit dimengerti. Bau yang
mengalir dari sana... ya. Pasti itu adalah alat dari sisi kami. Alat kutukan dan alat
pengusir dipisahkan, tetapi yang lebih banyak adalah alat kutukan? Batu biru
yang indah dalam tabung juga memberikan kesan jauh dari tanah dan terasa 'aneh'.
Mungkin
profesor suka mengumpulkan berbagai 'benda aneh' seperti topeng atau
alat pertanian? Tapi seperti yang dikatakan profesor, tidak ada rasa ingin
menyerangku. Ruangan ini sepertinya aman, tapi aku—melihat sesuatu yang
tidak terlihat oleh Kanae—bertanya.
“Termasuk
burung di bahumu juga?”
“Makhluk ini... adalah iblis yang selalu menempel padaku sejak lahir. Apa kamu mengerti
tentang iblis?”
“Hmm...
meskipun dari pihakku, rasanya sedikit berbeda?”
“Ya,
mari kita bicarakan itu juga.”
Burung iblis
itu bergerak, tetapi suaranya tidak terdengar. Entah apa, tetapi sepertinya ia tidak bisa berbicara... mungkin.
Bagaimanapun, sepertinya tidak ada niat untuk melawanku. Ketika aku menoleh ke arah profesor, ia menyerahkan beberapa
buku yang tampak biasa saja. Ini pasti... manga?
“Eh? Bukannya ini buku tebal yang penuh dengan
tulisan?”
“Ini
mungkin sulit kamu baca, ‘kan? Ini
adalah karya manga yang terinspirasi dari 'Kodoku'
yang dirilis baru-baru ini. Selain itu, ada
banyak manga dan karya tentang jujutsu yang juga sering membahas 'Kodoku'.”
“Terkenal sekali... ya. Aku.”
“Bukan
kamu. Yang terkenal adalah teknik itu sendiri.
Ada penanda di dalamnya, jadi bacalah dari situ. Tolong periksa apakah itu
sesuai dengan proses kelahiranmu... mungkin kamu akan
merasa kesulitan.”
“Hmm...
baiklah.”
Aku membolak-balik halaman dan membaca cerita dalam
buku itu. Ada berbagai cerita, tetapi—'dalam ruang yang terkurung' dan 'bertempur
sampai menjadi yang terakhir' adalah perkembangan yang sama. Baik serangga beracun maupun kutukan, ada juga
yang saling membunuh antar manusia.
Sementara
aku membaca, profesor mulai menjelaskan pengetahuannya tentang 'Kodoku'.
“Seperti yang kamu lihat, 'Kodoku' masih terkenal hingga saat ini. Hal itu sering dijadikan tema dalam suatu cerita, tetapi
sejarahnya juga sangat tua.
Awalnya merupakan jujutsu dari daratan. Ketika berinteraksi dengan Tiongkok dan
Semenanjung Korea, kutukan ini juga disampaikan. Ini mirip dengan aliran ketika
yokai seperti Dakki dan Feng Shui dibawa ke Jepang. Dan yang merepotkan adalah...
kutukan 'Kodoku'
ini sangat mudah direproduksi.”
“Ehmmm, apa itu? Maksudnya bagaimana?”
“Bahan
dan persiapan, pelaksanaan dan penyelesaian ritualnya sederhana. Tidak perlu
ritual atau alat yang rumit. Intinya adalah 'memasukkan banyak makhluk ke
dalam tempat yang sempit dan membunuh satu sama lain sampai tersisa satu'.
Bahkan jika tidak ada serangga
beracun di dalam
bahan, memasukkan manusia ke dalamnya juga tidak masalah. Karena terlalu mudah,
pada zaman ketika jujutsu dipercaya— ada saatnya'Kodoku dilarang oleh hukum, dan ada hukuman jika
ditemukan'.”
“Jadi, bakal ditahan... maksudnya begitu?”
“Pemahamanmu
sudah benar. Tergantung pada waktu dan
daerah, orang yang mempraktekkannya bisa dijatuhi hukuman berat.”
Aku tidak
tahu rinciannya, tetapi sepertinya ini adalah hal yang sangat buruk. Meskipun
membaca buku, setiap cerita menyampaikan interaksi yang kotor dan kutukan.
Meskipun pemandangan itu tidak menyenangkan, aku merasa ada rasa nostalgia...
profesor melanjutkan.
“Yah,
dari sudut pandang yang diciptakan, proses kelahiran itu bukan urusanku. Jika
itu adalah karya yang menggunakan manusia sebagai tema, itu lebih mudah
dipahami... tetapi orang yang memaksa situasi ini adalah orang yang paling jahat.”
“Hm...
benar. Aku tidak pernah mempercayai sampai harus mengulangi
hal yang sama hingga tiga
kali.”
“Tunggu,
tiga kali? Ceritakan lebih detail tentang itu.”
Ada yang
aneh. Ekspresi profesor seketika langsung berubah.
Dirinya yang sebelumnya berbicara dengan
tenang tiba-tiba tampak berbeda. Aku menjawab dengan jujur.
“Tiga
kali... ya, tiga kali. Kami terkurung di tempat sempit, dan kami harus bertahan
sampai tersisa satu orang...”
“...dan kamu mengalaminya sampai tiga
kali?”
“Ya.
Setelah yang pertama selesai, di tempat yang indah... ehm, maksudku, kami dipelihara oleh
pria itu.”
“Kamu bilang kalau ia adalah pria... mirip
dengan suasana diriku, seorang praktisi, ‘kan?”
“Ya. Kami
bisa hidup normal untuk sementara, tetapi setelah itu, hal yang sama terjadi ‘lagi’.
Setelahnya aku baru menyadari... yang kedua adalah antara 'makhluk yang
telah melewati yang pertama.'”
“──Aku
belum pernah mendengar itu.”
Aku belum
menyadarinya saat itu. Aku
tidak menyadari bahwa pria itu telah menciptakanku. Aku hanya merasa
diselamatkan dari dunia yang menyakitkan itu.
Kenangan
pahit, 'racun' di dalam diriku mulai bergejolak. Profesor menghela napas dan
menyerahkan minuman dari bagian belakang ruangan.
“Kamu terlihat kesakitan. Kutukanmu
mulai terlihat. Yah, apa pun itu... minumlah ini dan bersantailah. Kamu
bisa membicarakannya secara pelan-pelan,
dan jika terasa sulit, jangan ragu untuk berhenti.”
“Terima
kasih, banyak.”
Aku
menerima kaleng jus yang ditawarkan dan meminumnya sekaligus.
Ada
sesuatu yang bergejolak di dalam diriku... tetapi di
suatu tempat, aku rasa aku ingin seseorang mendengarnya. Begitu aku mulai
berbicara, ceritaku yang lama tidak pernah berakhir.
◇◇◇◇
(Sudut
Pandang orang ketiga)
“──… jika
dikatakan sebagai akhir yang umum, itu memang benar. Namun, mendengar dari
orangnya sendiri masih terasa
berat.”
Alur
cerita ini bukanlah sesuatu yang jarang. Seorang praktisi yang salah langkah,
lalu mati karena kutukan yang diciptakannya sendiri. Ungkapan “Jika kamu mengutuk orang lain, berhati-hatilah dengan senjata makan tuan”
sangat tepat.
Dirinya memahami
kekuatan racun itu, tetapi Profesor Amakusa memiliki pertanyaan baru yang
muncul di dalam hatinya. Karena ini belum sepenuhnya dibahas, meskipun merasa
tidak enakan, ia
langsung bertanya.
“Tapi... mengapa kamu memiliki bentuk manusia? Dari
yang kudengar, ritual racun serangga tidak melibatkan manusia, ‘kan? Jika ada, itu hanya untuk
yang pertama. Karena ini bukan yang kedua atau seterusnya...”
“? Apa itu aneh?”
“Aku
tidak bisa membayangkan penyebab kamu
mengambil bentuk manusia. Kamu
telah menjadi kumpulan kutukan dan racun... jika itu adalah racun serangga yang
menggunakan manusia sebagai bahan dasarnya,
mungkin bisa dimengerti, tetapi racun serangga biasa tidak perlu menyamar
menjadi manusia.”
Makhluk
aneh tidak selalu harus mengambil bentuk manusia. Jika ingin mengutuk atau
menghantui manusia, lebih baik menyerupai monster atau makhluk lain. Dari apa
yang ia dengar, sifat asli Akase Nakon adalah... sejenis makhluk yang memiliki racun. Jika
ingin membahayakan seseorang, tidak ada kebutuhan untuk menyamar menjadi
manusia.
Jika
begitu... apa sifat mental Akase Nakon
berpengaruh besar?
Amakusa Taichi bertanya.
“Apa
kepribadianmu masih sama
seperti dulu?”
“Ehmmm... maksudnya bagaimana, ya?”
“Ingatan sebelum menjadi [Kodoku]... mungkin ada ingatan sebelum
itu, iya ‘kan?
Apakah kepribadianmu sudah ada sejak saat itu?”
“Hm...
aku tidak bisa memikirkannya dengan jelas, tetapi mungkin sama...”
“Hmm...
aku mendengar bahwa kamu bisa
mengendalikan makhluk yang kamu
makan. Apa kepribadian dari makhluk aslimu tercampur?”
“Kurasa itu sangat kuat ketika aku
membunuhnya atau sesaat
sebelum aku membunuhnya. Terkadang, aku merasa ingin mengamuk, tetapi setelah
bersama Kanae, aku menjadi jauh lebih tenang.”
Seolah-olah
ini adalah pemeriksaan di rumah sakit. Gejalanya saat ini tampak dalam keadaan
stabil. Karena dia awalnya
adalah kutukan yang kuat, jika terjadi serangan, dampaknya tidak akan hanya
pada dirinya. Profesor yang merasa sedikit lega mulai bertanya lagi.
“Dengan kata lain──tidak ada kepribadian
lain yang tercampur. Intinya adalah Akase Nakon... dan jiwa sebelumnya menjadi
pusat, ‘kan?”
“Ya. Aku
adalah diriku sendiri sejak dulu.”
“Dan
karena tidak pernah memakannya, pengetahuan atau kepribadian
dari praktisi juga tidak ada... ya?”
“Cuma orang itu satu-satunya
yang tidak akan pernah aku makan.”
“Begitu.
Namun itu... sulit.”
Yang
sulit bukanlah situasi Nakon, melainkan dari sudut pandang profesor
sebagai 'ahli okultisme'.
Dirinya ingin menangkap praktisi yang
melakukan sihir ini dan mendapatkan informasi tentang kejahatan lainnya...
tetapi orang itu mati seketika karena kutukan yang diciptakannya sendiri. Jika Nakon memakannya, mungkin ia bisa menggali pengetahuan
atau informasi darinya,
tetapi berdasarkan kronologinya, bisa dipastikan semuanya hilang. Hal tersebut menimbulkan satu masalah besar.
Siapa
sebenarnya praktisi ini. Di mana peralatan ini digunakan. Dan saat ini,
bagaimana kondisi peralatan tersebut... semuanya tidak jelas. Jika berada di
area yang terkenal dan terlihat di mata umum,
Nakon dan Kano pasti sudah menginjakkan kaki di sana. Jika demikian, ia pasti
mati sendirian di tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun. Dengan begitu,
kemungkinan besar artefak yang dimiliki praktisi tersebut dibiarkan begitu
saja. Tempat yang bisa menciptakan kutukan seperti ini terlalu berbahaya jika
terlihat oleh orang biasa.
“Apa kamu mengingat
tempat di mana kamu
diciptakan... maaf, tempat di mana pria itu melakukan eksperimen? Apapun
tanda-tandanya tidak masalah.”
“Kenapa?”
“Kita
perlu membersihkan sisa-sisa. Tidak mungkin pria itu hanya menciptakan 'kamu'.
Bisa jadi ia juga melakukan penelitian sihir lainnya secara bersamaan. Jika
artefak yang tersisa atau dokumen penelitian disalahgunakan, hal itu bisa menimbulkan dampak kedua.
Baik untuk dibuang atau disimpan, hal tersebut
perlu ditangani dengan tepat.”
Profesor
berbicara dengan nada seorang ahli. Ia menyadari wajahnya yang pucat
dan terus membicarakan bahaya, tapi semuanya
tidak didengar baik-baik oleh Akase Nakon.
Setelah menunjukkan ekspresi kosong, Nakon
mulai menggali ingatannya sedikit
demi sedikit.
“Meski
begitu... aku sama sekali tidak memiliki alat yang praktis seperti ponsel.
Pemandangannya juga berada di dalam hutan yang dalam, tidak ada tanda-tanda
apapun──ah, tetapi aku bisa melihat gunung
besar. Puncaknya juga terlihat putih.”
“Itu
membuatnya sulit untuk diidentifikasi. Apa ada
yang lain?”
“Hmm...
rasanya udara di dalam hutan itu sangat dekat dengan kami. Selain itu... ini
mungkin membuatku dimarahi, tapi...”
“Apa
itu?”
“Di dalam
hutan itu, ada banyak
orang yang mati. Baik pria, wanita, orang muda, maupun orang tua. Ada banyak mayat di dalam hutan sana.”
“Itu bisa
menjadi referensi, tetapi... sulit. Sering kali orang hilang atau bunuh diri
ditemukan di dalam hutan. Selain itu, hutan mudah menjadi dunia lain baik di
Barat maupun di Timur. Ini benar-benar merepotkan.”
Amakusa Taichi merenung. Jujur saja, dirinya hampir kehabisan akal. Sebagai
seseorang yang tahu seberapa
menakutkannya makhluk aneh, ia ingin mengidentifikasi tempat di mana Nakon diciptakan.
Bisa
diibaratkan seperti 'sebuah gudang yang berisi bahan berbahaya yang
memerlukan pengetahuan khusus untuk ditangani... ditinggalkan tanpa pemilik,
tidak terkelola dan dibiarkan begitu saja.' Dirinya ingin menghindari agar para
ahli praktisi liar menemukannya dan
menyalahgunakannya. Berbahaya jika orang awam yang tidak tahu cara menangani
berinteraksi dengan hal itu. Ia
ingin menangani ini, tetapi petunjuknya terlalu sedikit.
“Sepertinya
kita tidak punya pilihan selain menangani ini... apa
boleh buat. Aku akan mencoba mengatasinya. Maaf, kita
sedikit menyimpang dari topik. ...Tapi sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu.”
“Aku...
itu, ada beberapa mayat.”
Dengan
ragu-ragu, Akase Nakon tampak ingin mengungkapkan
sesuatu. Setelah menyadari
ini, profesor langsung menyimpulkan tanpa membiarkannya berbicara lebih jauh.
“...Apa
kamu memakannya?”
“...Ya.”
“Mau bagaimana lagi. Karena
manusia tidak termasuk dalam bahan ‘Kodoku’,
kamu pasti harus mengambil manusia
di suatu tempat... agar bisa menyamar.”
Dengan
kemampuannya untuk
meniru dari makhluk yang dimakannya, Akase Nakon
mendapatkan tubuhnya. Jika dipikirkan dengan cara manusia, itu termasuk dalam
pengrusakan mayat... tetapi menerapkan hukum manusia pada hewan terasa sia-sia.
Memakan bangkai dan mengembalikannya ke bumi adalah hal yang alami dalam siklus
kehidupan. Sambil belajar tentang tubuh dan jiwa manusia, Nakon bertanya kepada profesor
dengan ragu.
“Eh...
apa kamu tidak marah?”
“Apanya?”
“Tentang
apa yang aku lakukan.”
“Apa itu
tentang memakan mayat? Atau... tentang membunuh seseorang?”
“...Dua-duanya
adalah hal yang buruk, kan?”
Pertanyaannya
tampak tulus, tetapi entah bagaimana terdengar
hampa. Mungkin kesadarannya tidak sinkron. Dia tidak
merasa sedang berbicara dengan Kanae, jadi profesor mencoba menghiburnya dengan
kata-katanya sendiri.
“Entahlah.
Jika dipikirkan dengan nilai-nilai hewan liar, itu bukan perilaku yang aneh.
Mayat manusia di alam adalah tumpukan daging. Dan jika seseorang merasa lapar,
itu bisa dimengerti... dalam keadaan ekstrem, hal itu bisa terjadi pada manusia
juga.”
“Hmm...
tapi, kalau tentang membunuh orang itu?”
Itu
adalah pertanyaan yang wajar jika dilihat dari sudut pandang manusia. Namun,
kata-kata Nakon tidak
memiliki gairah atau
inti. Ada kesan seolah-olah dia tidak memiliki rasa bersalah.
Seolah-olah
seperti penjahat manusia. Seseorang yang telah membunuh satu orang dan tidak
menunjukkan sedikit pun gejolak emosi tidaklah normal. Namun, identitas Akase Nakon
pada dasarnya bukanlah manusia. Dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk
belajar tentang moralitas atau sosialitas sebagai manusia. Reaksi yang
mendekati kegagalan sejak awal memang tidak bisa dihindari.
Apalagi,
jika itu hanya orang biasa... lawannya adalah manusia yang menggunakan sihir.
Jika dilihat dari sudut pandang korban... meskipun dibunuh dengan penuh
kebencian, tidak ada keluhan yang bisa diajukan.
Saat
profesor dengan hati-hati mencari jawaban, si iblis
menghela napas dengan penuh sarkasme. Meski merasa
ini tidak biasanya, profesor membela Nakon.
“Itu
adalah pertanyaan yang tidak pantas. Jika kamu
tidak membunuh si praktisi
sihir, kamu akan
menjadi budak pelaku sihir atau hanya dianggap sebagai alat.”
“Alat?”
“Kutukan
pada dasarnya adalah sesuatu yang menimbulkan bencana bagi orang lain. Di sana,
kepribadian atau kehendak tidak diperlukan. Dalam istilah modern, itu mirip seperti misil atau peluru.
Singkatnya, itu adalah 'senjata spiritual yang merugikan lawan'...
itulah yang dinamakan kutukan. Dengan kata lain... kamu hanya memiliki pilihan untuk
membunuh seseorang sesuai perintah pelaku sihir, membunuh pelaku sihir itu
sendiri, atau hanya dibunuh. Itu bukanlah situasi yang bisa diselamatkan oleh
etika mewah umat manusia. Dalam pilihan yang sangat buruk, aku menilai bahwa
hasil yang relatif lebih baik adalah pilihan
yang harus diambil.”
Terlibat
dalam ritual sihir. Itu saja sudah cukup sial, tetapi pilihan yang dihadapkan
padanya sangat mengerikan. Apa dia akan digunakan sebagai senjata spiritual,
memberontak dan membunuh pelaku sihir, atau ragu dan diproses oleh pelaku
sihir... berdiskusi tentang etika atau dosa dari hasil tersebut adalah hak
mereka, tetapi setelah mendengar kesaksian dirinya... sulit untuk menyatakan
bahwa dia adalah penjahat,
bahkan tanpa mempertimbangkan perhitungannya.
“Namun...
aku masih tidak mengerti. Mengapa kamu bisa memperoleh kesadaran diri?”
“Apa
maksudnya...?”
Mata Nakon menyipit. Ada sedikit
ketidaknyamanan dan kemarahan yang terlihat, dan profesor serta iblis di bahunya
bergetar ringan. Dengan tetap tenang, ia mengungkapkan pendapatnya sebagai
seorang ahli.
“Seperti
yang telah disebutkan sebelumnya, sihir dan kutukan adalah senjata yang
merugikan orang lain. Oleh karena itu, jika tidak ditangani dengan benar, itu bisa
melukai diri sendiri. Dalam beberapa kasus, hal itu bisa
juga mengakibatkan kehilangan nyawa, dan bisa jadi, efeknya akan terasa bahkan
setelah kematian. Itulah sebabnya para pelaku sihir dan penyihir harus
ditangani dengan hati-hati.”
“Maaf.
Aku tidak mengerti.”
“Begitu.
Kalau begitu, apa kamu
memerlukan contoh? ──Aku mendengar bahwa kamu pernah memasak dengan Kanae.
Apa itu benar?”
“Ya.
Tapi hanya sedikit, sih.”
“Apa
kamu pernah menggunakan pisau atau
api? Alat-alat itu diperlukan untuk mengolah bahan makanan menjadi masakan.
Namun... jika tidak ditangani dengan benar, itu bisa
melukai jari atau menyebabkan kebakaran. Kamu
mengerti itu, kan?”
Setelah
berpikir sejenak, Akase Nakon
mengangguk. Profesor Amakusa ingin
percaya bahwa mata yang bisa membaca emosi itu terhubung. Dengan menyadari
bahwa ini mungkin terdengar sedikit kejam, profesor menyampaikan fakta
tersebut.
“Namun...
misalnya jika pisau itu atau
alat pemicu api bisa bergerak dengan kehendaknya sendiri? Misalnya, jika dengan
sengaja berniat jahat, menyerang pemiliknya atau menyebabkan kebakaran?”
“Itu...
menakutkan.”
“Benar,
‘kan? Alat seharusnya tetap
menjadi alat. Yang terpenting adalah alat tersebut berfungsi dengan stabil
sesuai pengguna. Di sana—kehendak dan penilaian alat itu sendiri tidak
diperlukan. 'Ketidakstabilan' semacam itu hanya akan menjadi elemen
berbahaya. Itu juga berlaku untuk 'kutukan'.”
“──...
Apa itu berarti, aku tidak diperlukan?”
Tekanan
yang perlahan-lahan muncul
tanpa pertanda. Tidak ada jiwa yang tidak akan menolak
ketika identitasnya ditolak. Reaksi ini bisa dianggap sebagai bukti bahwa dia
memiliki kesadaran diri yang jelas. Untuk mencegah ledakan emosi, profesor
menahan ketakutan yang muncul di dalam hatinya dan menyampaikan pengetahuannya.
“Jika
seorang pelaku sihir yang baik, ia tidak akan memberikan kepribadian pada
kutukan. Jika ada, ia akan segera menghapusnya. Tidak, seharusnya ia mengikuti
prosedur agar kepribadian tidak 'muncul' sama sekali.”
“Apa
yang ingin kamu
katakan?”
“Baik
itu Akase Nakon
maupun kepribadian makhluk yang menjadi pendahulunya—semua yang tersisa, yang
muncul, dan yang sekarang ada di sini adalah hal yang tidak terduga. Entah kamu merupakan kasus
khusus atau pelaku sihirnya yang belum matang... berdasarkan ceritamu,
kemungkinan besar yang terakhir. Ia
terlalu fokus untuk menciptakan kutukan yang kuat dan mengabaikan kendali. Begitulah.”
Profesor
menjelaskan situasinya dengan
tenang, berdasarkan fakta, dan tanpa menyalahkan sama
sekali. Meskipun ini mungkin menyakitkan, Kanae, pria
baik itu, pasti akan melindungi Nakon.
Dia tidak
bermaksud menyakiti dengan sengaja. Namun, dirinya
juga tidak bisa menganggap hidup tanpa mengalami luka sebagai hal yang baik.
Itu adalah sesuatu yang harus dihadapi Nakon
suatu saat nanti.
Mungkin
ini masih terlalu awal. Namun, tidak baik juga jika tidak pernah menyentuhnya.
Dalam arti memastikan waktu yang tepat untuk bertanya, percakapan ini
diperlukan. Setelah menunggu reaksi dalam keheningan, emosi Nakon menunjukkan penolakan.
“Aku...
tapi aku tidak ingin menjadi seperti ini karena aku
menginginkannya.”
“......
Benar. Kamu mendapatkan kekuatanmu bukan karena kamu menginginkannya.
Kamu tidak berada dalam situasi ini
karena keinginanmu sendiri.
Kamu adalah korban, tetapi—pada saat
yang sama, kamu juga pasti
merupakan pelaku. Ada ruang untuk pertimbangan, tetapi orang yang kaku akan
berkata, 'Dosa adalah dosa.'”
“......”
“Namun,
pada saat yang sama, aku juga berpikir demikian. 'Rasionalitas semacam itu
tidak ada artinya.' Sayangnya... ada kalanya takdir ditentukan di luar
kehendak dan pilihan kita, di tempat di mana kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Tidak peduli seberapa keras usaha kita, ada ketidakadilan yang tidak bisa
diubah. Akase Nakon... menurutku kamu
tidak bisa menghindari menjadi kutukan
atau memiliki kesadaran diri melalui usaha pribadimu.”
“......”
Reaksi
yang ditunjukkan tidak terlalu kuat, tetapi tidak ada tanda-tanda penolakan
atau penyangkalan. Tatapan yang berusaha menerima kebenaran itu menatap
Profesor Amakusa.
“Hanya ada
sedikit hal yang bisa diubah dengan kesadaran atau tindakan individu. Kekuatan seorang individu
sangatlah lemah daripada arus dunia.
Namun—ada hal-hal yang dapat dihindari dengan melakukan perubahan kecil. Bahkan dalam suatu situasi di
mana kamu tidak punya kendali atas nasibmu, jika kamu berusaha keras,
setidaknya kamu akan bisa bertahan.”
“Apa
menurutmu, aku juga harus melakukan itu?”
“Lakukan
saja sesukamu. Terpuruk karena merasa tidak berdaya, berjuang dengan sekuat
tenaga hingga jatuh ke neraka, atau meraih dan menggenggam kemungkinan kecil...
lakukan saja sesukamu. Setidaknya, kamu
sudah bukan lagi alat. Sesuatu yang dulunya malapetaka kini memiliki kehendak.
Jika demikian, aku tidak akan mengabaikannya. 'Memperlakukan sesuatu yang
memiliki ego dan jiwa sebagai benda' adalah salah satu tindakan yang sangat
dibenci. Pada akhirnya... hanya kamu
yang bisa menentukan cara hidupmu sendiri."
“......
Belum sampai ke situ.”
“Apa
sulit untuk dipikirkan? Kepekaanmu
sebagai manusia masih belum matang, jadi itu bisa dimengerti. Manusia pun ada
banyak yang belum matang di zaman ini. Meskipun begitu, suatu saat kamu harus memutuskannya.”
Aku juga
berpikir bahwa ini masih terlalu awal... dan
mungkin ada kemungkinan kecil bahwa saran ini akan diterima. Namun, hal ini tidak bisa terus-menerus
menunda. Terlepas
dari mereka yang mengetahui situasinya,
orang luar akan memperlakukan dirinya
sesuai dengan 'usia yang terlihat.' Dari ukuran tubuhnya, dia pasti akan
diperlakukan sebagai mahasiswa seperti Kanae... tidak, dari gerakannya yang
kekanak-kanakan dan postur tubuhnya, dia pasti akan dianggap sebagai siswa SMA
atau SMP.
Namun,
karena asal-usulnya adalah makhluk hidup, kemungkinan untuk tumbuh pasti ada.
Meski tidak tahu tentang masa
hidupnya, ada kemungkinan bahwa dia melampaui batasan yang ada.
Jika
demikian... entah bagaimana caranya dan bentuknya,
dia perlu berusaha untuk berbaur dengan masyarakat. Untuk saat ini, hubungan
ini bisa dianggap sebagai langkah darurat, tetapi... suatu saat hidup hanya
dalam komunitas keluarga akan menjadi sulit. Iblis yang bertengger di bahu
profesor tertawa ceria, sementara Gadis kutukan itu cuma memiringkan kepalanya. Profesor menghela napas—namun,
napas itu sedikit berbeda dari sebelumnya, dengan senyuman kecil—dan mengakhiri
pembicaraan panjang ini.
“Apakah
keinginanmu masih belum jelas? Apa kamu
masih tidak tahu alasan untuk hidup?”
“Ehm... iya.”
“Begitu.
Alasan kamu hidup,
alasan kamu berada di sini... mungkin itu yang
dimaksud. Hewan biasa tidak memikirkan hal semacam itu, tetapi ketika mendapatkan
kecerdasan... entah bagaimana, kita tetap akan memikirkannya. Saat ini kamu
adalah... mungkin berada di antara manusia dan hewan.”
“......
Apa kamu benar-benar mengkhawatirkanku?”
“Ya.
Selain itu... aku tidak ingin melihat wajah-wajah yang kukenal mati karena
kutukan. Meskipun terlibat, aku akan berusaha untuk melakukan pencegahan dengan
lembut. Meskipun itu mungkin berakhir sia-sia.”
“Apakah
begitu cara hidupmu, Profesor?”
“Yah begitulah. Berkat
dari usaha yang baik, aku bisa bergaul dengan Iblis jahat yang ribut ini.
Meskipun tidak semudah yang dibayangkan Kanae, perdamaian dan dialog tidaklah
sesulit yang banyak orang bayangkan.”
Hubungan
antara profesor dan Halphas adalah ‘takdir
yang tidak bisa dihindari dengan usaha,’
tetapi sekarang mereka berdua bersikap tenang. Meskipun iblis itu bukanlah sosok yang sepenuhnya
bisa dipercaya, mereka berdua tahu bagaimana seharusnya berinteraksi satu sama
lain.
Tidak
semua hal dapat diselesaikan dengan usaha. Namun, mereka bisa mencapai kesepakatan.
Dalam proses usaha, ada pengetahuan yang bisa didapatkan. Meskipun pada momen
tertentu tidak berguna, atau tidak membuahkan hasil, pengalaman yang didapat
dalam proses tersebut tidaklah sia-sia. Setidaknya, profesor mempercayai demikian.
“Ini
bukan sesuatu yang bisa disimpulkan dengan cepat... baik itu mendekati sisi
makhluk aneh atau sisi manusia, pertama-tama, sebaiknya kamu mengasah pengetahuan dan
pendidikanmu. Meskipun latar belakangmu tidak beruntung, lingkungan di
sekitarmu sedikit lebih baik.
Jika kamu ingin memantapkan hati atau
mencari bahan untuk itu, datanglah kemari.
Aku akan memberikan saran menurut caraku.”
“Terima
kasih, Profesor.”
“Tidak
perlu berterima kasih. Ini adalah pekerjaan utamaku. Atau...”
“Ini
tujuan hidup Profesor?”
“...
Mungkin begitu. Menawarkan sedikit masa depan dan jalan yang lebih baik bagi
orang lain. Itu... mungkin adalah caraku berada di sini.”
Pada
akhirnya, Amakusa menjadi 'profesor' karena dirinya
memiliki kemampuan untuk itu dan karena ia menginginkannya. Dirinya juga merupakan manusia yang
memilih jalannya dari pilihan yang terbatas.
Pilihan
dalam cara hidup sendiri... ada yang bisa dipilih sendiri, dan ada juga yang
terombang-ambing oleh takdir yang tidak bisa dihindari. Masalahnya... sangat
sulit untuk membedakan mana yang bisa diubah dan mana yang tidak. Bahkan dari
sudut pandang orang ketiga, perbedaan antara usaha dan keberuntungan sering
kali tidak jelas.
Banyak
orang yang mengeluh tentang nasib buruk mereka sebenarnya adalah hal-hal yang
bisa dihindari dengan usaha. Orang yang menyalahkan kekurangan diri mereka,
kenyataannya adalah serangkaian ketidakberuntungan yang luar biasa.
Mengapa
persepsi manusia dan kenyataan sering kali tidak sejalan? Banyak tragedi telah
terjadi, dan diceritakan dalam banyak
cerita, namun... hal itu terus berulang tanpa henti dalam kenyataan.
“Apakah
suatu saat aku juga... akan bisa berpikir seperti itu?”
“Secara
pribadi, aku berharap begitu. ...Nah, sepertinya Kanae sudah kembali ke sini lagi. Mumpung masih ada sedikit waktu, apa ada
yang menarik di laboratorium ini?”
“Hmm...
ada makanan enak?”
“Oi,
oi...”
Profesor
yang terkejut, sementara Nakon terlihat bingung. Ada beberapa makanan yang bisa
dimakan, tetapi tidak ada yang bisa diberikan dengan santai. Iblis yang bertengger
di bahu juga tertawa terbahak-bahak. Dalam suasana yang tidak bisa dijelaskan, Nakon
menoleh saat mendengar langkah kaki yang
mendekat.
Sepertinya
Kanae sudah kembali. Nakon baru saja selesai dengan
pemeriksaan, dan waktunya juga
tepat. Dengan harapan bahwa masa depan mereka akan menjadi lebih baik...
profesor mengawasi sosok-sosok muda-mudi
itu. Ia menatap mereka sampai mereka
pergi, tetapi... matanya yang penuh kekhawatiran tiba-tiba bergetar seolah-olah
tersentak.
“...Tumben sekali kamu jadi tenang begini, Halphas. Cerita tentang Akase Nakon
pasti sesuai dengan seleramu.”
Burung
yang tidak terlihat oleh orang biasa di bahu... Iblis yang menempel pada
profesor berbisik. Suara yang hanya bisa didengar oleh Profesor Amakusa, menyampaikan
niat hanya kepadanya.
“Kamu juga... ah, kamu memang pandai memprovokasi,
tetapi tidak bisa menang dalam pertempuran langsung? ──Oh, jadi aku juga akan
terlibat dalam dampaknya. Meskipun begitu, kamu
juga memikirkan tentang hidup berdampingan denganku, bukan?”
Profesor
terdiam sejenak. Apa ia sudah selesai berbicara sendiri? Setelah beberapa saat
berdiri, profesor kembali membuka mulutnya di ruangan yang sepi.
“──Aku
mengerti. Ini bukan hal yang mudah. Namun, dia... masih berada pada tahap dilema. Kita hanya bisa mengawasinya
dengan hati-hati. ──Sungguh, dasar makhluk
yang berselera buruk.”
Sambil
menggerutu, profesor kembali ke dalam ruangan
belakang. Di tangannya, ia
mengeluarkan sebuah buku catatan yang ditulis tentang Nakon.


