
Selingan — Ritual Kodoku
Aku telah
dipelihara. Di dalam ruangan yang disiapkan oleh pria itu. Aku selamat dari
kegelapan untuk pertama kalinya, dan hidup di dalamnya untuk kedua kalinya. Aku
telah memakan banyak racun, menampung racun tersebut, dan tubuhku juga tumbuh
lebih besar.
Tubuhku
tanpa diragukan lagi sedang berkembang… dan corak berbisa semakin banyak. Hanya
mata oranyeku saja yang masih tetap sama. Aku penasaran apa yang
terjadi padaku… pikirku dengan samar-samar.
Di dalam
tubuhku, serangga beracun
yang telah kumakan bergerak menggeliat.
Setiap kali aku melihat
pria itu, rasa gelisah muncul, berusaha untuk menyuntikkan racun, kutukan.
Aku
berpikir hal-hal yang mengerikan. Habisnya
memang begitu, ‘kan? Ia
telah menyelamatkanku dari kegelapan dua kali, dari dalam guci yang seperti
neraka, ‘kan? Mengutuk atau menggigit
orang itu, pasti tidak boleh. Namun, sesuatu
di dalam diriku… semua yang telah aku makan, berteriak bahwa itu seharusnya
dilakukan.
“...Dia takkan bisa melewati tahap yang berikutnya. Aku berharap dia
bisa bertahan hidup… karena dia
mudah diatur.”
Aku tidak
mengerti arti kata-kata tersebut.
Namun, pria itu sedang mengelap tubuhku. Kadang-kadang ia juga mengelus kepalaku.
Aku terjebak di antara perasaan
yang hangat dan racun serta kutukan yang mengamuk di sekujur tubuhku.
Orang ini sudah menyelamatkanku, dan juga
memperlakukanku dengan kasih sayang.
Tempat tinggal yang indah dan aman, makanan yang lezat, tempat tidur, dunia
tanpa musuh. Kurasa tidak ada
yang lebih baik dari ini, apalagi menyerang orang ini… pada saat itu, aku bahkan tidak bisa membayangkannya.
──Alasan
untuk menyerang muncul ketika aku menyadari bahwa seseorang di dalam tubuhku…
seperti yang dikatakan orang-orang yang telah aku makan. Aku kembali berada di
dalam kegelapan.
Kenapa…
kenapa kedamaianku bisa berakhir begitu saja?
Saat aku tertidur, aku
kembali dilempar ke dalam kegelapan yang pekat. Aku membuka mata. Keputusasaan
muncul di hatiku. Dan racun… racun dan kutukan yang berputar di dalam diriku
membakar seluruh tubuhku dengan kebencian yang luar biasa.
Panas.
Panas,
panas, panas…!
Rasanya
sangat menyakitkan, menyedihkan, sangat… ada sesuatu yang
dibenci. Aku tidak bisa langsung memahami apa yang
sebenarnya terjadi. Jika seperti biasanya, pasti akan ada
serangga beracun lainnya yang datang. Aku bertekad untuk melawan kemarahan dan
kebencian ini… ketika aku bersiap, tiba-tiba dunia menjadi terang.
Kali ini…
di dalam ruangan besar yang utuh, serangga beracun termasuk diriku dikumpulkan. Mereka terlihat
jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Begitu tatapan mata
kami bertemu… pada saat itu kami akhirnya menyadari bahwa itu
adalah 'cermin'.
──Pria
itu telah menciptakan takdir seperti ini untuk kami…
Kami
dikurung dalam guci dan dipaksa untuk saling membunuh. Setelah saling membunuh dan melemah,
pria penyihir yang muncul seperti juru selamat itu tidak menyelamatkanku.
Akhirnya, aku mengerti alasan racun dan kutukan yang bergejolak di dalam tubuhku—pria
itu telah mengulangi hal yang sangat kejam.
Pertama
kalinya hanyalah pertarungan antara
serangga beracun biasa. Kedua kalinya, ia memaksa serangga beracun yang telah
melewati 'pertarungan pertama' untuk saling membunuh. Dan di tempat
ini—ia memaksa kami yang telah melewati 'pertarungan kedua' untuk saling
membunuh sampai hanya tersisa satu orang...
Hal
yang aku rasakan... pada saat pertaruangn kedua,
kekuatan di sekitarku terlalu
besar karena 'kami semua telah bertahan hidup dengan cara yang sama'.
Dan serangga beracun yang telah kumakan bergerak di dalam tubuhku… berteriak
dengan kemarahan dan ketidakpercayaan terhadap pria itu.
Kebaikan
itu hanyalah kebohongan. Meskipun ia telah
menyelamatkanku dari tempat yang seperti neraka… dan memperlakukanku dengan
lembut, semua itu adalah kebohongan. Begitu aku menyadari hal tersebut, aku merasakan racun dan kutukan
di dalam tubuhku menyatu dengan hatiku.
──Serangga
beracun di sekitarku…
teman-teman yang berada dalam posisi yang sama denganku juga berusaha untuk
beradaptasi dengan kebencian dan kutukan. Beberapa ada yang tidak bisa bertahan dan mati
dengan memuntahkan darah di tempat itu.
Kami yang hendak melakukan pertarungan ketiga kalinya…
tidak saling membunuh. Pengalaman sebelumnya, kebohongan kebaikan pria itu, dan
kesadaran bahwa dialah sumber dari semua masalah membuat kami berpikir bahwa
saling membunuh hanya akan menyenangkan pria itu. Perasaan kami semua sama.
Kami ingin keluar dari sini—dan pasti akan membunuh pria itu. Rasa terima kasih
yang pernah kumiliki kini telah berubah sepenuhnya menjadi kutukan dan
kebencian. Kami yang bertekad untuk melarikan diri bekerja sama untuk keluar
dari ruangan ini.
Namun…
ruangan ini luar biasa. Bukan
hanya racun tetapi juga kutukan tidak berpengaruh padanya. Aku dan… kadal besar bergantian
menabrak tempat yang sama berulang kali tanpa hasil. Semua orang tampaknya
kuat, mereka tidak akan mati dengan mudah…
tetapi hal yang paling menyiksa adalah rasa
lapar.
Hanya
pada beberapa kali pertama, sesuatu seperti datah
jatuh dari atas ruangan. Terlihat seperti darah manusia, dan mereka yang bisa
meminumnya melakukannya. Namun ketika tidak bisa bertahan lagi… kami memakan
mayat teman-teman yang
mati setelah memuntahkan kutukan untuk bertahan hidup.
Setiap
kali itu terjadi, racun menyebar.
Setiap
kali itu terjadi, kutukan menyebar.
Kami
semakin merasakan bahwa kami perlahan-lahan berubah menjadi
sesuatu yang semakin mengerikan dan menakutkan. Meskipun begitu, rasanya tidak seburuk saat pertarungan kedua kalinya. Mungkin… karena semua orang
memiliki kebencian dan dendam yang
sama terhadap pria itu… kutukan yang tidak bisa ditahan lagi menyebabkan mereka
mati dengan memuntahkan darah… dan itu menjadi makanan bagi serangga beracun
yang selamat.
Satu per
satu, ada banyak yang menyerah
karena racun dan kelaparan. Meskipun tidak ada pertarungan yang mencolok,
jumlahnya berkurang perlahan… tapi kami masih
belum menemukan cara untuk keluar. Setelah beberapa hari, hanya aku yang tersisa dengan si kadal besar.
Kadal itu
juga kelihatannya sudah dalam keadaan yang
sangat menderita. Aku juga kesakitan, tetapi masih bisa bertahan. Kami saling
menjilati luka masing-masing, berusaha untuk bertahan hidup, tetapi kadal itu
akhirnya menutup mata dengan putus asa.
──Jika kamu menjadi satu-satunya yang
tersisa, mungkin kammu
bisa keluar dari ruangan ini. Maka… kadal itu memilih untuk
mati.
Ia
memuntahkan racun dan menyiramkan ke tubuhnya
sendiri. Setelah berjuang dengan kesakitan, ia memberikan
isyarat kepadaku dengan tatapan.
Tolong
bertahan hidup, dan bunuh pria itu…
Aku kini
sendirian lagi. Aku memakan kadal yang penuh racun tersebut, dab
bertekad untuk bertahan hidup sampai pintu terbuka. Racun dan kutukan yang
mengalir di tubuhku tidak lagi menyakitkan. Semuanya…
memiliki satu tujuan yang sama.
“Hehehe!
Hihihihihihihihi! Selesai! Selesai!! Ini
adalah—triploid racunku!! Lihatlah mereka… aku akan membunuh semuanya, dan
setelah mati, mereka akan menjadi pelayanku!!”
Pria itu,
yang jauh lebih lemah dan tidak memiliki racun, mendekatiku tanpa merasa curiga.
──Aku
mengerahkan semua kekuatanku, menusukkan taring, racun, dan kutukan kepada pria
itu.
◇◇◇◇
(Sudut
Pandang Orang Ketiga)
'Makhluk itu'
tertegun sejenak di dalam fasilitas setelah memberontak
dari penciptanya. Ada rasa pencapaian. Setelah
dikurung, dijadikan bahan untuk bahan perapalan sihir, dan dipaksa
menjalani takdir yang tidak adil, membunuh penyihir dengan tangannya sendiri memberikan sensasi lega.
Namun,
apa yang harus dilakukan selanjutnya? Dirinya
memang
sudah mendapatkan kebebasan dan menguburkan
musuh. Tidak ada lagi yang mengelola atau merawatnya
di sini. Namun, karena dirinya
bukan manusia… akan sulit untuk memanfaatkan fasilitas yang diciptakan oleh
manusia ini.
Tetapi 'makhluk itu'
merasakan sesuatu. Bahwa dirinya
tidak akan bisa kembali ke alam.
Ada banyak
segerombolan serangga beracun yang telah mati karena ritual magis. 'Makhluk itu'
yang merupakan kumpulan dari semua makhluk yang menjadi asalnya, adalah bentuk
penyelesaian sihir. Bukan
tidak mungkin dirinya
berperilaku secara naluriah dan biologis, tetapi tingkat racun yang dimiliki
telah mencapai dimensi yang 'tidak seharusnya berada di alam'.
Selain bisa
menangani berbagai racun yang tak terhitung jumlahnya.
'Makhluk itu'
juga mengandung racun spiritual dan sihir… dengan kata lain, memiliki dua jenis
racun yang tidak dapat berdampingan. Racun dari sisi ilmiah dan medis, serta
racun dari sisi okultisme dan kutukan. 'Makhluk itu'
yang memiliki dua jenis racun yang terkonsentrasi, telah berubah menjadi
monster yang mengerikan.
Meskipun 'Makhluk itu' menjadi
keberadaan yang melanggar rasionalitas,
tetapi… dirinya masih mempertahankan sifat
sebagai makhluk hidup. Oleh karena itu, dirinya tidak
bisa tinggal di sini. Untungnya, 'Makhluk itu'
dapat merasakan tempat di mana udara luar mengalir, jadi dia perlahan-lahan keluar mengikuti
aliran tersebut.
'Makhluk itu'
melihat dunia luar setelah sekian lama,
yang ternyata adalah hutan yang sangat dalam. Di kejauhan, tampak gunung besar
dengan puncak putih. 'Makhluk itu'
yang hanya menghirup udara pengap, merasa terkesan dengan udara alami.
Namun
pada saat yang sama──'Makhluk itu'
merasakan bahwa alam, hutan, sangat takut pada keberadaan asing yang muncul. 'Makhluk itu' yang telah berubah menjadi
sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini, mengeluarkan aura yang seolah
menolak. Meskipun tidak ada pesan yang jelas, 'Makhluk itu’ merasakan sensasi menyengat di
kulitnya.
Sepertinya
lebih baik kalau dirinya segera
menjauh dari sini. Meskipun terasa menyedihkan, 'makhluk itu'
menyadari bahwa tidak ada tempat bagi dirinya di hutan ini.
'Makhluk itu'
mulai bergerak secara acak, tetapi lurus, mengikuti dorongan dari udara di
sekitarnya. Saat melintasi hutan yang dalam, 'makhluk itu'
menemukan bangkai hewan.
Bukan hal
yang aneh bila dirinya menemukan bangkai hewan di
hutan. Alasan 'makhluk itu'
memperhatikan adalah karena bangkai tersebut berasal dari ras yang sama yang melakukan kutukan padanya… mungkin. Selain ada yang tergeletak di tanah, ada juga bangkai yang tergantung entah kenapa.
'Makhluk itu'
sempat merasa ragu, tetapi setelah mempertimbangkan kondisi
tubuhnya, dirinya pun mendekat.
Meski tidak terlalu kelaparan, mungkin karena pengalaman hidup di lingkungan
yang keras… 'Makhluk itu' memutuskan bahwa sebaiknya dirinya harus makan saat ada kesempatan.
Meskipun daging tersebut sudah mulai membusuk, bagi hewan liar, memakan bangkai
bukanlah hal yang aneh. Jika tidak ada racun, itu adalah hidangan mewah bagi 'makhluk itu'.
Setelah
memakan bangkai secara acak,
sesuatu yang aneh masuk ke dalam pikirannya. Pada
saat itulah 'makhluk itu'
menyadari untuk pertama kalinya bahwa dirinya
bisa menyerap informasi dari makhluk yang dimakannya.
Selama ini dirinya bertarung
dengan makhluk beracun, memakan bangkai untuk bertahan hidup, 'makhluk itu'
memperoleh sifat ini.
Mungkin
karena sebelumnya telah menyerap banyak kehidupan… 'Makhluk itu'
mulai mendapatkan kecerdasan. Kecerdasan yang sedang tumbuh itu menerima
kebijaksanaan yang dimiliki oleh bangkai.
Saat 'makhluk itu'
memfokuskan pikirannya, sebagian
dari tubuhnya terlepas dan menjadi bagian yang terpisah. 'Makhluk itu'
menyadari bisa memisahkan dan bergerak bebas. Ternyata 'makhluk itu'
bisa memisahkan makhluk yang dimakan dan mengendalikannya sampai batas
tertentu. 'Makhluk itu'
menyadari bahwa ini adalah kemampuannya.
'Makhluk itu'
mulai mencari bangkai hewan yang memiliki kecerdasan. Menariknya, rekan-rekan
penyihir tergeletak dalam keadaan mengenaskan di dalam hutan. Semua jelas
terlihat lemah. Setiap kali 'makhluk itu'
memangsa, 'makhluk itu'
memperoleh informasi dan kebijaksanaan.
Pada akhirnya,
'makhluk itu'
berubah menjadi makhluk yang sebelumnya merupakan mayat untuk memperdalam pemikirannya. Mayat tersebut lebih lemah daripada
makhluk mana pun yang pernah dilawan 'makhluk itu',
dan tidak memiliki racun. Namun, mayat
itu lebih cerdas daripada makhluk mana pun yang pernah dihadapi. 'Makhluk itu'
yang menyamar untuk mencari kebijaksanaan mulai berjalan dengan dua kaki secara
samar.
Terlalu
lemah. Itulah kesan
pertama yang dirasakannya.
Kekuatan
ototnya lemah, dan posisi berjalan dengan dua kaki tampaknya akan kehilangan
keseimbangan. Kulitnya juga tidak dilindungi secara khusus, dan kuku serta
taringnya tampaknya tidak berguna. Saat berpikir bahwa mungkin wajar jika
makhluk ini mati… 'makhluk itu' menyadari fakta bahwa sekarang dirinya bisa 'berpikir' dengan
stabil.
Jika
memiliki kekuatan ini… jika kebijaksanaan ini sudah ada sejak awal, mungkin 'makhluk itu'
bisa mengubur penyihir yang menciptakan mereka lebih cepat. Mungkin dirinya bisa menyadari lebih awal dan
melarikan diri sebelum menjadi satu-satunya yang tersisa.
'Makhluk itu'
merasa bingung. Dalam bentuk ini, berbagai
pemikiran dan emosi berputar-putar. Ibarat manusia yang pertama kali memperoleh
kebijaksanaan melalui rayuan ular… 'Makhluk
itu' hampir terseret oleh
kerumitan dan emosi yang muncul.
Jika ada
perbedaan──'Makhluk itu'
berada di sisi makhluk aneh, dan sifatnya terbuat dari emosi negatif yang
terkonsentrasi. Jika 'makhluk itu'
tidak tahu, mungkin tidak akan pernah memahami kekuatan kebencian dan kutukan
yang kelam itu.
Setelah
berdiri diam sejenak, 'makhluk itu'
membuat pilihan yang paling bijaksana. 'Makhluk itu'
berhenti menggunakan kebijaksanaan yang tidak dapat dikelola, dan menghentikan
bentuk kehidupan yang berjalan dengan tegak dan
dua kaki.
Bentuk
yang paling familiar bagi 'makhluk itu'
… adalah sosok makhluk yang pemalu dan patuh, namun memiliki taring beracun
yang sangat kuat. 'Makhluk itu'
bergerak dengan gerakan yang sudah dikenal di dalam hutan, tetapi hutan tetap
berisik meminta 'makhluk itu'
untuk pergi.
Setelah
memperoleh kebijaksanaan, 'makhluk itu'
mulai mendekati pemukiman yang berjalan dengan dua kaki. Jika mendekat dalam
bentuk ular… 'Makhluk itu' percaya rasa sakit karena ditolak
dari luar akan teralihkan dengan kesepian yang dirasakan.
Butuh waktu
sedikit lebih lama untuk membuat ‘makhluk itu’ menyadari bahwa emosi
yang dirasakannya adalah 'kesepian' dan
'keterasingan’.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya