Kodoku na Kanojo Chapter 2.5 Bahasa Indonesia

 

Selingan — Ritual Kodoku

 

Aku telah dipelihara. Di dalam ruangan yang disiapkan oleh pria itu. Aku selamat dari kegelapan untuk pertama kalinya, dan hidup di dalamnya untuk kedua kalinya. Aku telah memakan banyak racun, menampung racun tersebut, dan tubuhku juga tumbuh lebih besar.

Tubuhku tanpa diragukan lagi sedang berkembang… dan corak berbisa semakin banyak. Hanya mata oranyeku saja yang masih tetap sama. Aku penasaran apa yang terjadi padaku… pikirku dengan samar-samar.

Di dalam tubuhku, serangga beracun yang telah kumakan bergerak menggeliat. Setiap kali aku melihat pria itu, rasa gelisah muncul, berusaha untuk menyuntikkan racun, kutukan.

Aku berpikir hal-hal yang mengerikan. Habisnya memang begitu, ‘kan? Ia telah menyelamatkanku dari kegelapan dua kali, dari dalam guci yang seperti neraka, kan? Mengutuk atau menggigit orang itu, pasti tidak boleh. Namun, sesuatu di dalam diriku… semua yang telah aku makan, berteriak bahwa itu seharusnya dilakukan.

“...Dia takkan bisa melewati tahap yang berikutnya. Aku berharap dia bisa bertahan hidup… karena dia mudah diatur.”

Aku tidak mengerti arti kata-kata tersebut. Namun, pria itu sedang mengelap tubuhku. Kadang-kadang ia juga mengelus kepalaku. Aku terjebak di antara perasaan yang hangat dan racun serta kutukan yang mengamuk di sekujur tubuhku.

Orang ini sudah menyelamatkanku, dan juga memperlakukanku dengan kasih sayang. Tempat tinggal yang indah dan aman, makanan yang lezat, tempat tidur, dunia tanpa musuh. Kurasa tidak ada yang lebih baik dari ini, apalagi menyerang orang ini… pada saat itu, aku bahkan tidak bisa membayangkannya.

 

──Alasan untuk menyerang muncul ketika aku menyadari bahwa seseorang di dalam tubuhku… seperti yang dikatakan orang-orang yang telah aku makan. Aku kembali berada di dalam kegelapan.

Kenapa… kenapa kedamaianku bisa berakhir begitu saja? Saat aku tertidur, aku kembali dilempar ke dalam kegelapan yang pekat. Aku membuka mata. Keputusasaan muncul di hatiku. Dan racun… racun dan kutukan yang berputar di dalam diriku membakar seluruh tubuhku dengan kebencian yang luar biasa.

Panas.

Panas, panas, panas…!

Rasanya sangat menyakitkan, menyedihkan, sangat… ada sesuatu yang dibenci. Aku tidak bisa langsung memahami apa yang sebenarnya terjadi. Jika seperti biasanya, pasti akan ada serangga beracun lainnya yang datang. Aku bertekad untuk melawan kemarahan dan kebencian ini… ketika aku bersiap, tiba-tiba dunia menjadi terang.

Kali ini… di dalam ruangan besar yang utuh, serangga beracun termasuk diriku dikumpulkan. Mereka terlihat jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Begitu tatapan mata kami bertemu… pada saat itu kami akhirnya menyadari bahwa itu adalah 'cermin'.

──Pria itu telah menciptakan takdir seperti ini untuk kami…

Kami dikurung dalam guci dan dipaksa untuk saling membunuh. Setelah saling membunuh dan melemah, pria penyihir yang muncul seperti juru selamat itu tidak menyelamatkanku. Akhirnya, aku mengerti alasan racun dan kutukan yang bergejolak di dalam tubuhku—pria itu telah mengulangi hal yang sangat kejam.

Pertama kalinya hanyalah pertarungan antara serangga beracun biasa. Kedua kalinya, ia memaksa serangga beracun yang telah melewati 'pertarungan pertama' untuk saling membunuh. Dan di tempat ini—ia memaksa kami yang telah melewati 'pertarungan kedua' untuk saling membunuh sampai hanya tersisa satu orang...

Hal yang aku rasakan... pada saat pertaruangn kedua, kekuatan di sekitarku terlalu besar karena 'kami semua telah bertahan hidup dengan cara yang sama'. Dan serangga beracun yang telah kumakan bergerak di dalam tubuhku… berteriak dengan kemarahan dan ketidakpercayaan terhadap pria itu.

Kebaikan itu hanyalah kebohongan. Meskipun ia telah menyelamatkanku dari tempat yang seperti neraka… dan memperlakukanku dengan lembut, semua itu adalah kebohongan. Begitu aku menyadari hal tersebut, aku merasakan racun dan kutukan di dalam tubuhku menyatu dengan hatiku.

──Serangga beracun di sekitarku… teman-teman yang berada dalam posisi yang sama denganku juga berusaha untuk beradaptasi dengan kebencian dan kutukan. Beberapa ada yang tidak bisa bertahan dan mati dengan memuntahkan darah di tempat itu.

Kami yang hendak melakukan pertarungan ketiga kalinya… tidak saling membunuh. Pengalaman sebelumnya, kebohongan kebaikan pria itu, dan kesadaran bahwa dialah sumber dari semua masalah membuat kami berpikir bahwa saling membunuh hanya akan menyenangkan pria itu. Perasaan kami semua sama. Kami ingin keluar dari sini—dan pasti akan membunuh pria itu. Rasa terima kasih yang pernah kumiliki kini telah berubah sepenuhnya menjadi kutukan dan kebencian. Kami yang bertekad untuk melarikan diri bekerja sama untuk keluar dari ruangan ini.

Namun… ruangan ini luar biasa. Bukan hanya racun tetapi juga kutukan tidak berpengaruh padanya. Aku dan… kadal besar bergantian menabrak tempat yang sama berulang kali tanpa hasil. Semua orang tampaknya kuat, mereka tidak akan mati dengan mudah… tetapi hal yang paling menyiksa adalah rasa lapar.

Hanya pada beberapa kali pertama, sesuatu seperti datah jatuh dari atas ruangan. Terlihat seperti darah manusia, dan mereka yang bisa meminumnya melakukannya. Namun ketika tidak bisa bertahan lagi… kami memakan mayat teman-teman yang mati setelah memuntahkan kutukan untuk bertahan hidup.

Setiap kali itu terjadi, racun menyebar.

Setiap kali itu terjadi, kutukan menyebar.

Kami semakin merasakan bahwa kami perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang semakin mengerikan dan menakutkan. Meskipun begitu, rasanya tidak seburuk saat pertarungan kedua kalinya. Mungkin… karena semua orang memiliki kebencian dan dendam yang sama terhadap pria itu… kutukan yang tidak bisa ditahan lagi menyebabkan mereka mati dengan memuntahkan darah… dan itu menjadi makanan bagi serangga beracun yang selamat.

Satu per satu, ada banyak yang menyerah karena racun dan kelaparan. Meskipun tidak ada pertarungan yang mencolok, jumlahnya berkurang perlahan… tapi kami masih belum menemukan cara untuk keluar. Setelah beberapa hari, hanya aku yang tersisa dengan si kadal besar.

Kadal itu juga kelihatannya sudah dalam keadaan yang sangat menderita. Aku juga kesakitan, tetapi masih bisa bertahan. Kami saling menjilati luka masing-masing, berusaha untuk bertahan hidup, tetapi kadal itu akhirnya menutup mata dengan putus asa.

──Jika kamu menjadi satu-satunya yang tersisa, mungkin kammu bisa keluar dari ruangan ini. Maka… kadal itu memilih untuk mati.

Ia memuntahkan racun dan menyiramkan ke tubuhnya sendiri. Setelah berjuang dengan kesakitan, ia memberikan isyarat kepadaku dengan tatapan.

Tolong bertahan hidup, dan bunuh pria itu…

Aku kini sendirian lagi. Aku memakan kadal yang penuh racun tersebut, dab bertekad untuk bertahan hidup sampai pintu terbuka. Racun dan kutukan yang mengalir di tubuhku tidak lagi menyakitkan. Semuanya… memiliki satu tujuan yang sama.

Hehehe! Hihihihihihihihi! Selesai! Selesai!! Ini adalah—triploid racunku!! Lihatlah mereka… aku akan membunuh semuanya, dan setelah mati, mereka akan menjadi pelayanku!!”

Pria itu, yang jauh lebih lemah dan tidak memiliki racun, mendekatiku tanpa merasa curiga.

──Aku mengerahkan semua kekuatanku, menusukkan taring, racun, dan kutukan kepada pria itu.

 

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Orang Ketiga)

'Makhluk itu' tertegun sejenak di dalam fasilitas setelah memberontak dari penciptanya. Ada rasa pencapaian. Setelah dikurung, dijadikan bahan untuk bahan perapalan sihir, dan dipaksa menjalani takdir yang tidak adil, membunuh penyihir dengan tangannya sendiri memberikan sensasi lega.

Namun, apa yang harus dilakukan selanjutnya? Dirinya memang sudah mendapatkan kebebasan dan menguburkan musuh. Tidak ada lagi yang mengelola atau merawatnya di sini. Namun, karena dirinya bukan manusia… akan sulit untuk memanfaatkan fasilitas yang diciptakan oleh manusia ini.

Tetapi 'makhluk itu' merasakan sesuatu. Bahwa dirinya tidak akan bisa kembali ke alam.

Ada banyak segerombolan serangga beracun yang telah mati karena ritual magis. 'Makhluk itu' yang merupakan kumpulan dari semua makhluk yang menjadi asalnya, adalah bentuk penyelesaian sihir. Bukan tidak mungkin dirinya berperilaku secara naluriah dan biologis, tetapi tingkat racun yang dimiliki telah mencapai dimensi yang 'tidak seharusnya berada di alam'.

Selain bisa menangani berbagai racun yang tak terhitung jumlahnya. 'Makhluk itu' juga mengandung racun spiritual dan sihir… dengan kata lain, memiliki dua jenis racun yang tidak dapat berdampingan. Racun dari sisi ilmiah dan medis, serta racun dari sisi okultisme dan kutukan. 'Makhluk itu' yang memiliki dua jenis racun yang terkonsentrasi, telah berubah menjadi monster yang mengerikan.

Meskipun 'Makhluk itu' menjadi keberadaan yang melanggar rasionalitas, tetapi… dirinya masih mempertahankan sifat sebagai makhluk hidup. Oleh karena itu, dirinya tidak bisa tinggal di sini. Untungnya, 'Makhluk itu' dapat merasakan tempat di mana udara luar mengalir, jadi dia perlahan-lahan keluar mengikuti aliran tersebut.

'Makhluk itu' melihat dunia luar setelah sekian lama, yang ternyata adalah hutan yang sangat dalam. Di kejauhan, tampak gunung besar dengan puncak putih. 'Makhluk itu' yang hanya menghirup udara pengap, merasa terkesan dengan udara alami.

Namun pada saat yang sama──'Makhluk itu' merasakan bahwa alam, hutan, sangat takut pada keberadaan asing yang muncul. 'Makhluk itu' yang telah berubah menjadi sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini, mengeluarkan aura yang seolah menolak. Meskipun tidak ada pesan yang jelas, 'Makhluk itu merasakan sensasi menyengat di kulitnya.

Sepertinya lebih baik kalau dirinya segera menjauh dari sini. Meskipun terasa menyedihkan, 'makhluk itu' menyadari bahwa tidak ada tempat bagi dirinya di hutan ini.

'Makhluk itu' mulai bergerak secara acak, tetapi lurus, mengikuti dorongan dari udara di sekitarnya. Saat melintasi hutan yang dalam, 'makhluk itu' menemukan bangkai hewan.

Bukan hal yang aneh bila dirinya menemukan bangkai hewan di hutan. Alasan 'makhluk itu' memperhatikan adalah karena bangkai tersebut berasal dari ras yang sama yang melakukan kutukan padanya… mungkin. Selain ada yang tergeletak di tanah, ada juga bangkai yang tergantung entah kenapa.

'Makhluk itu' sempat merasa ragu, tetapi setelah mempertimbangkan kondisi tubuhnya, dirinya pun mendekat. Meski tidak terlalu kelaparan, mungkin karena pengalaman hidup di lingkungan yang keras… 'Makhluk itu' memutuskan bahwa sebaiknya dirinya harus makan saat ada kesempatan. Meskipun daging tersebut sudah mulai membusuk, bagi hewan liar, memakan bangkai bukanlah hal yang aneh. Jika tidak ada racun, itu adalah hidangan mewah bagi 'makhluk itu'.

Setelah memakan bangkai secara acak, sesuatu yang aneh masuk ke dalam pikirannya. Pada saat itulah 'makhluk itu' menyadari untuk pertama kalinya bahwa dirinya bisa menyerap informasi dari makhluk yang dimakannya. Selama ini dirinya bertarung dengan makhluk beracun, memakan bangkai untuk bertahan hidup, 'makhluk itu' memperoleh sifat ini.

Mungkin karena sebelumnya telah menyerap banyak kehidupan… 'Makhluk itu' mulai mendapatkan kecerdasan. Kecerdasan yang sedang tumbuh itu menerima kebijaksanaan yang dimiliki oleh bangkai. Saat 'makhluk itu' memfokuskan pikirannya, sebagian dari tubuhnya terlepas dan menjadi bagian yang terpisah. 'Makhluk itu' menyadari bisa memisahkan dan bergerak bebas. Ternyata 'makhluk itu' bisa memisahkan makhluk yang dimakan dan mengendalikannya sampai batas tertentu. 'Makhluk itu' menyadari bahwa ini adalah kemampuannya.

'Makhluk itu' mulai mencari bangkai hewan yang memiliki kecerdasan. Menariknya, rekan-rekan penyihir tergeletak dalam keadaan mengenaskan di dalam hutan. Semua jelas terlihat lemah. Setiap kali 'makhluk itu' memangsa, 'makhluk itu' memperoleh informasi dan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, 'makhluk itu' berubah menjadi makhluk yang sebelumnya merupakan mayat untuk memperdalam pemikirannya. Mayat tersebut lebih lemah daripada makhluk mana pun yang pernah dilawan 'makhluk itu', dan tidak memiliki racun. Namun, mayat itu lebih cerdas daripada makhluk mana pun yang pernah dihadapi. 'Makhluk itu' yang menyamar untuk mencari kebijaksanaan mulai berjalan dengan dua kaki secara samar.

Terlalu lemah. Itulah kesan pertama yang dirasakannya.

Kekuatan ototnya lemah, dan posisi berjalan dengan dua kaki tampaknya akan kehilangan keseimbangan. Kulitnya juga tidak dilindungi secara khusus, dan kuku serta taringnya tampaknya tidak berguna. Saat berpikir bahwa mungkin wajar jika makhluk ini mati… 'makhluk itu' menyadari fakta bahwa sekarang dirinya bisa 'berpikir' dengan stabil.

Jika memiliki kekuatan ini… jika kebijaksanaan ini sudah ada sejak awal, mungkin 'makhluk itu' bisa mengubur penyihir yang menciptakan mereka lebih cepat. Mungkin dirinya bisa menyadari lebih awal dan melarikan diri sebelum menjadi satu-satunya yang tersisa.

'Makhluk itu' merasa bingung. Dalam bentuk ini, berbagai pemikiran dan emosi berputar-putar. Ibarat manusia yang pertama kali memperoleh kebijaksanaan melalui rayuan ular… 'Makhluk itu' hampir terseret oleh kerumitan dan emosi yang muncul.

Jika ada perbedaan──'Makhluk itu' berada di sisi makhluk aneh, dan sifatnya terbuat dari emosi negatif yang terkonsentrasi. Jika 'makhluk itu' tidak tahu, mungkin tidak akan pernah memahami kekuatan kebencian dan kutukan yang kelam itu.

Setelah berdiri diam sejenak, 'makhluk itu' membuat pilihan yang paling bijaksana. 'Makhluk itu' berhenti menggunakan kebijaksanaan yang tidak dapat dikelola, dan menghentikan bentuk kehidupan yang berjalan dengan tegak dan dua kaki.

Bentuk yang paling familiar bagi 'makhluk itu' … adalah sosok makhluk yang pemalu dan patuh, namun memiliki taring beracun yang sangat kuat. 'Makhluk itu' bergerak dengan gerakan yang sudah dikenal di dalam hutan, tetapi hutan tetap berisik meminta 'makhluk itu' untuk pergi.

Setelah memperoleh kebijaksanaan, 'makhluk itu' mulai mendekati pemukiman yang berjalan dengan dua kaki. Jika mendekat dalam bentuk ular… 'Makhluk itu' percaya rasa sakit karena ditolak dari luar akan teralihkan dengan kesepian yang dirasakan.

Butuh waktu sedikit lebih lama untuk membuat ‘makhluk itu’ menyadari bahwa emosi yang dirasakannya adalah 'kesepian' dan 'keterasingan.

 


Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama