Kodoku na Kanojo Chapter 5 Bahasa Indonesia

 Chapter 5 — Kodoku dan Dirinya

 

Sudah berapa bulan telah berlalu? Sejak Akase Nakon datang ke tempat Hibiki Kanae.

Akhir-akhir ini, Nakon mulai terbiasa dengan kehidupan modern dan secara bertahap mendapatkan pengetahuan umum. Dia sudah bisa menggunakan perangkat elektronik... Nakon memegang mesin yang sama dengan Kanae dan bersenang-senang di sampingnya.

“Kanae! Kanae! Selanjutnya ini ya~?”

“Boleh. Jadi, simpan dulu...” 

“Eh, cara melakukannya bagaimana ya?” 

“Coba kasih aku.” 

Setelah berkata demikian, Kanae mengambil konsol permainan Nakon. Membeli satu lagi konsol permainan terbaru merupakan pengeluaran yang cukup besar bagi Kanae yang masih mahasiswa, tetapi... dengan bantuan dari bibinya dan uang saku yang dikumpulkan Nakon sedikit demi sedikit, mereka berhasil mengatasinya.

Pada awalnya, Nakon agak kebingungan, tetapi seiring berjalannya waktu, dia lebih banyak memiliki waktu luang. Mereka bisa menciptakan waktu untuk bermain bersama, dan banyak permainan yang bisa dimainkan secara online. Meskipun akan merepotkan jika dia kecanduan, untungnya, sepertinya itu tidak akan terjadi.

“Kalau bermain terlalu lama, mataku jadi mulai perih...” 

Meski begitu, bukannya itu cepat banget?” 

Ada pernyataan untuk anak-anak yang mengatakan 'bermain game satu jam sehari', tetapi berapa banyak orang yang benar-benar mematuhi itu di zaman modern yang penuh hiburan ini? Namun, Nakon lebih cepat merasa lelah daripada terjebak dalam permainan. Meskipun dia berusaha keras, batas konsentrasinya hanya sekitar satu jam lebih sedikit. Meskipun ada rasa kesepian, itu mungkin baik untuk beradaptasi dengan masyarakat. Jika dia terlalu terjebak dan menjadi pengangguran, itu juga akan menjadi masalah.

“Karena aku mulai lelah... aku akan segera menyelesaikannya.” 

“Eh?” 

Suasana Nakon seketika berubah. Ada sedikit aura aneh yang muncul, tetapi melihat layar permainan, semuanya jelas. Gadis ini—terutama dalam permainan yang berfokus pada 'pertarungan', sangat kuat. Dalam hal permainan aksi dan pertarungan, dia jauh lebih cepat beradaptasi dibandingkan Kanae. Saat ini, mereka sedang bermain permainan di mana mereka harus bekerja sama untuk mengalahkan musuh—Nakon yang terus menempel pada musuh dan memberikan serangan dengan presisi seperti gerakan seorang ahli.

“Lihat...!!” 

“Tidak mungkin...” 

Dengan teknik serangan balik—kombinasi teknik counter, karakter yang dikendalikan Nakon melancarkan serangan pamungkas. Itu menjadi serangan penentu, dan musuh yang seharusnya kuat itu runtuh. Karakter Kanae yang ternganga melihat momen itu, pada saat itu memang benar-benar menjadi perwujudan Kanae...

“Yay berhasil! Horeee! Aku hebat!?” 

Uh, ya. Hebat. Kamu terlalu hebat. Aku benar-benar dibantu di sini...” 

“Aku tidak mengerti!”

“Eh, maksudku, aku dibantu oleh Nakon yang hebat...” 

“Begitu ya!? Aku bisa membantu Kanae!? Senangnya!” 

“Benar-benar... terima kasih.” 

“Hehehe...”

Saat berbicara seperti ini, dia tidak berbeda dari manusia biasa. Meskipun masih ada beberapa ketidaksesuaian, Kanae merasa bahwa tidak mustahil bagi Nakon untuk berbaur dengan dunia manusia. Melihat tingkah lakunya yang ceria dan polos, Kanae benar-benar berpikir demikian.

Nakon belakangan ini menjadi jauh lebih ceria. Meskipun terkadang dia masih terbangun dari mimpi buruknya, frekuensinya jelas menurun. Kasus di mana dia secara tidak sengaja menyuntikkan kutukan atau racun kepada Kanae juga berkurang, begitu pula dengan menggigit dan menghisap racun setelahnya.

Kanae bisa menyatakan dengan tegas. Dia secara bertahap mendekatkan hatinya kepada manusia. Hidup bersama seperti ini... pasti bukan hal yang mustahil. Setidaknya itulah yang dirasakan Kanae yang melihatnya dari dekat.

“Ah! Sudah hampir siang, ya? Mau masak apa?” 

“Sudah jam segini, ya. Jadi—”

Sambil mengutak-atik layar permainan, Kanae memikirkan menu hari ini. Mengingat isi kulkas dan memunculkan beberapa pilihan, tiba-tiba, sebuah bau menusuk hidungnya.

Ia merasakan sedikit ketidaknyamanan. Sepertinya bukan bau gas uang busuk. Itu adalah bau dari dupa atau kemenyan, yang biasanya digunakan untuk mengusir serangga atau di tempat pemakaman. Kanae tidak membakar apa pun, jadi mungkin ada yang membakarnya? Namun, apa sampai mengeluarkan bau yang bisa sampai ke rumah tetangga? Dalam kebingungan itu, Nakon terbatuk.

“Nakon?” 

“Ini... aku tidak terlalu menyukainya.” 

Dia terbatuk-batuk, dan sepertinya wajahnya sedikit pucat. Seharusnya dia bisa berkata 'membencinya' dengan jelas, tetapi mungkin dia menahan diri karena merasa sungkan kepada Kanae.

Mempertimbangkan hubungan antar tetangga, meminta mereka untuk berhenti mungkin akan sulit. Karena sebentar lagi memasuki waktu makan siang, jadi Kanae mengusulkan.

“Kalau begitu... bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Ayo sekalian makan siang di luar juga.” 

“... Kamu yakin?” 

Habisnya, kamu tidak menyukainya ‘kan, Nakon?” 

Iya juga sih. Ah! Kalau begitu, biar aku yang traktir, ya?” 

Aku merasa senang dengan niatmu, tapi jangan memaksakan diri, ya?” 

“Ya!” 

Selama percakapan, dia terus terbatuk beberapa kali lagi. Sangat jelas bahwa dia tidak menyukainya, dan Kanae mendorongnya.

“Aku yang akan urus persiapan barang, mengunci pintu, dan bersih-bersih. kamu bisa keluar lebih dulu, Nakon.” 

Apa boleh?” 

“Wajahmu pucat, dan sepertinya kamu sangat kesakitan. Bukannya itu jarang terjadi?” 

“Mungkin begitu.” 

Dia masih batuk, dan sepertinya cukup parah. Kanae merasa aneh karena dia baik-baik saja, tetapi Nakon yang menderita.

Untungnya, penyebabnya jelas. Asap yang dibakar oleh seseorang di luar, jadi mereka bisa bergerak menjauh dari sumber api dan pergi ke tempat yang bebas asap. Kanae mendorongnya untuk pergi lebih dulu agar Nakon bisa merasa lebih baik secepatnya.

Kanae seharusnya bisa merasakan hal itu. Fenomena ini adalah bagian dari rencana pihak-pihak yang bermusuhan.

 

◇◇◇◇

 

Tiga orang sedang menatap kos-kosan tua dengan tatapan serius.

Dari jarak jauh, terlihat asap dupa yang terbawa angin menyebar. Jika ada bau menyengat atau asap yang pekat, itu pasti akan menimbulkan keluhan. Namun, tidak ada tanda-tanda seperti itu. Wajar saja. Karena dupa ini adalah sepenuhnya tidak berbahaya bagi manusia biasa.

Dengan kata laindampak dari dupa ini hanya terbatas pada makhluk ghaib atau bentuk abnormal. Salah satu kamar di kos-kosan terbuka, dan seorang wanita melangkah keluar. Melihatnya berjalan perlahan sambil memegang pegangan, salah satu dari ketiga orang itu bersuara.

“Akhirnya dia keluar... eh, kenapa dia baik-baik saja!? Dia bergerak normal!?

Penampilan wanita yang terlihat gelisah itu sangat mengesankan. Dia mengenakan pakaian gothic lolita hitam yang biasa... penampilan yang seolah-olah dikenakan oleh boneka barat atau boneka bisque. Dengan bahan hitam pekat sebagai dasarnya, dihiasi dengan banyak renda. Jika ini adalah Eropa, berjalan di jalan dengan pakaian seperti ini pasti akan menarik perhatian. Beberapa bagian pakaiannya—terutama kancing dan serat kain—memiliki kilau dan pola aneh yang tidak bisa diabaikan.

Di sampingnya, ada dua orang dengan penampilan yang sama-sama mencolok.

Salah satu dari mereka biasa yang disebut sister... berpakaian seperti pelayan Tuhan yang mengucapkan doa, tetapi mungkin memiliki citra berbeda di Jepang modern.

Orang terakhir adalah seorang pria. Dengan kepala botak, mengenakan jubah yang terbuat dari bahan putih dan biru yang mengingatkan pada paus atau uskup, dihiasi dengan bordir emas. Dia memegang tongkat yang sedikit membesar di bagian atas, dengan penampilan yang sangat mirip dengan "biksu" ataupendeta”.

Mereka bertiga—datang untuk mengusir monster aneh yang tidak biasa. Mereka datang ke sini dengan niat yang jelas. Untuk melenyapkan ‘triploid kodoku’ yang diciptakan oleh mantan rekan mereka.

Namun, ekspresi ketiga orang itu tampak kurang bagus. Mereka merasa cemas karena makhluk aneh itu tidak selemah yang mereka duga. Sang biksu bertanya kepada wanita berpakaian gothic.

“Luna... apa yang terjadi? Keahlianmu biasanya bisa diandalkan. Jelas sekali bahwa sihir juga sudah aktif. Jangan-jangan, lawan terlalu kuat?

“Itu sama sekali tidak lucu. Jika cdia cuma roh jahat biasa, dia pasti sudah lenyap seketika...?

Wanita berpakaian gothic itu terlihat pucat. Di depan matanya, ada asrama dan altar kecil yang menyala dengan api. Bentuknya... bisa dibilang seperti api unggun kecil? Di tengah kotak kayu, sesuatu yang berupa rumput atau benda aneh dilemparkan, dan api menyala dengan warna ungu yang misterius, mengeluarkan asap.

Wanita yang terpapar itu terlihat tidak sehat meskipun dari jauh. Namun, langkahnya tegap, dan sepertinya dia tidak akan segera kehabisan tenaga.

Shigik... kamu meninggalkan warisan yang merepotkan.

Aku akan membuat penghalang dulu. Rassanya akan merepotkan jika ada seseorang yang melaporkan atau merekam.

Karena kita sudah berada di zaman yang cukup merepotkan dan sulit. Dulu, kita bisa mengusir dengan bebas di tengah kota." 

“Kamu bisa mengeluhkan itu nanti saja. Mari kita mulai.

Sister Merrysha memegang botol berisi cairan jernih. Dia melemparkan botol berisi [air suci] itu dengan sekuat tenaga ke arah wanita tersebut──

 

◇◇◇◇

 

Kejadian tersebut terjadi setelah dirinya menyelesaikan urusan kecil. Kanae mendengar ada teriakan nyaring seorang wanita dari dekat. Butuh waktu beberapa saat baginya untuk menyadari bahwa itu adalah suara Nakon. Dia jarang berteriak. Sulit membayangkan dia mengalami situasi berbahaya... Kanae tidak bisa mengabaikan bahwa dirinya lengah.

Apa pun itu, pasti ada situasi abnormal. Ketika ia terburu-buru keluar, Kanae menyadari ada tiga orang berpakaian aneh yang mengelilingi Nakon. Mereka bertiga mengelilinginya dengan formasi yang membentuk formasi segitiga sama sisi.

Satu orang adalah sister... berpakaian seperti sister pada umumnya. Dengan gaun yang sebagian besar berwarna hitam dan putih, dia mengenakan salib di lehernya.

Satu orang lagi adalah wanita berpakaian gothic lolita... penampilannya sangat mirip dengan boneka barat. Ini juga memiliki warna hitam dan putih, tetapi jumlah rendanya sangat berbeda. Ekspresinya datar, dan matanya yang menyipit tidak menunjukkan emosi.

Satu orang lagi adalah pria yang mengenakan jubah dengan bahan berwarna putih dan biru, dihiasi dengan bordir emas. Di balik ekspresi ramahnya, ada niat permusuhan yang kuat yang tidak bisa disembunyikan.

Ketiga orang ini memberikan kesan magis atau misterius. Jika diperhatikan baik-baik, ada pola aneh di atas permukaan tanah. Melihat pemandangan itu, entah mengapa... Kanae merasa merinding.

“Jika melihat data Shigik, seharusnya tidak ada manusia yang digunakan sebagai bahan... mengapa monster ini berbentuk manusia?

Aku tidak tahu. Itu bukan bidangku.

Dua di antara mereka adalah wanita. Kebingungan terlihat di wajah mereka saat berdiskusi. Namun, orang terakhir berbicara dengan nada mengutuk.

Itu sama sekali tidak penting. Monster yang menyamar sebagai manusia dan menyerang merupakan hal yang biasa. Bentuk manusia lebih mudah menipu manusia... jadi mereka mengambil bentuk wanita pada usia yang sesuai. Ini semua hanya akting yang tidak berarti. Mari kita segera menghabisinya. 

…Aku tidak suka sifatmu yang terlalu blak-blakan.

Aku lebih tidak suka dunia sekarang yang tidak jelas dan selalu menimbulkan salah paham dan penafsiran yang salah.

Apa yang menjadi sumber ketidaksenangan itu? Meskipun tidak ada yang jelas, hanya kemarahan, kebencian, dan niat permusuhan yang kuat yang terasa di dalam diri pria itu. Dua wanita itu tampak ragu, tetapi emosi mereka tampak sama saat mengarah ke pola tertentu. Ketika Kanae mengalihkan pandangannya... di sana, Nakon terlihat bergetar dan berjongkok.

Pikiran yang rumit dan campur aduk itu langsung lenyap seketika. Kanae langsung berlari dengan napas terengah-engah tanpa ragu-ragu. Menghadapi tiga orang yang tampak acuh tak acuh, dirinya berteriak. 

Apa yang… sedang kalian lakukan!? 

“““!??”””

Mereka bertiga memandang Kanae secara bersamaan. Pada awalnya mereka tampak terkejut. Mereka saling memandang, tetapi pria berpakaian jubah itu menunjukkan senyum menolak. 

Itu bukan urusanmu. Ini adalah pembicaraan tentang dunia yang lebih baik tidak dilihat.

Meskipun pria itu tersenyum, wajahnya menyembunyikan sesuatu di balik topeng—merasa ada sesuatu yang tak terduga, Kanae tidak gentar dan mengangkat suaranya. 

Tentu saja aku tidak bisa mengabaikan keadaan teman sekamarku! 

Sejak kapan itu menjadi jelas?

Awal musim semi tahun ini! Ketika pintu asrama yang aku tinggali rusak!

…Hmm. Mungkin penyebabnya adalah wanita ini.

“Aku sudah tahu!

Heh, jangan bercanda. Mana mungkin manusia biasa bisa merusak pintu…

“Aku juga sudah tahu kalau dia bukan manusia biasa!

Untuk pertama kalinya, sepertinya ketiga orang itu mengubah ekspresi mereka. Setelah mendengar pernyataan Kanae, mereka terdiam sejenak. Namun, mereka masih tampak tidak berniat untuk membebaskan Akase Nakon. Mereka hanya mengatakan untuk mundur dengan tenang, seolah tidak ingin mendengarkan argumen Kanae. 

Jangan terlalu ikut campur lebih jauh, anak muda. 'Makhluk' yang ada di sampingmu bukanlah sesuatu yang bisa ditangani oleh manusia.

Kenapa kamu melindunginya?

…………Mungkin kamu tidak bisa memahami situasinya, tetapi sekarang ikuti perintah kami.

Ketiga orang itu saling melemparkan kata-kata. Sekilas, penampilan mereka mungkin kelihatan konyol, tetapi jika melihat sifat dan identitas Nakon, bisa disimpulkan── 

Kalian datang untuk melenyapkan Nakon, bukan?

Pemahamanmu bagus. Benar sekali. 

Kenapa? Dia… dia sama sekali tidak mengganggu siapa pun, kan!?

…Sampai saat ini, memang begitu. Namun, kutukan dan kekuatannya sudah melampaui batas. Kami ingin bertindak sebelum terjadi ledakan yang tidak terduga. Jadi begitulah adanya.

Sister yang berbicara dengan tenang tampak seolah menekan emosinya. Sementara itu, pria berpakaian jubah menunjukkan kebencian yang jelas dan melontarkan kata-kata dengan sinis.  

“Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu sampai memberinya nama dan memeliharanya… Hentikan selera buruk yang berbahaya ini.

Kalian yang datang tiba-tiba dan berbicara seperti itu tanpa tahu apa-apa!?

“Orang yang sama sekali tidak mengetahui apapun adalah kamu! 

Pria berpakaian jubah itu memukul tongkatnya ke tanah. Suara itu, seperti palu kayu yang dipukul oleh hakim, memotong pembicaraan dengan serius, tenang, dan paksa. Kanae terdiam sejenak, dan pria berpakaian jubah itu melangkah lebih dekat dan mengumumkan. 

Makhluk aneh tidak memiliki hati. Semua itu hanyalah akting dan tipu daya untuk menipu manusia. Ketika kamu merasa aman dan menurunkan kewaspadaanmupada saat itulah kemungkinan terburuk bisa terjadi.”

Kalau begitu, di mana alasan Nakon untuk menyakiti manusia!? Dia… Nakon hanya tidak suka kesepian sejak awal!

Makhluk aneh ini sudah membunuh satu orang. Bahkan setelah mati… dia terus-menerus mengutuk orang yang sudah meninggal. Dengan sisa-sisa dan dampaknya saja, kami sudah cukup ketakutan. Apa kamu ingin bersimpati pada sesuatu seperti itu… memangnya kamu ingin mati ya, hahh!? 

Pria berpakaian jubah itu dipenuhi kemarahan. Seorang penghukum yang tidak mentolerir makhluk aneh atau bentuk-bentuk yang berbeda, memberikan pernyataan seperti hakim yang absolut. Mungkin apa yang dikatakannya tidak salah. Namun, alasan itu tidak bisa diterima. Kanae yang sudah mempersiapkan dirinya, kali ini diserang oleh sesuatu yang tidak terlihat. Melihat Kanae yang terlempar dengan hebat, Nakon yang terkurung berkata. 

Jangan buat membuat Kanae sedih. Jangan sakiti Kanae.

………Apa kamu telah membuat kontrak perjanjian dengannya?

Aku hanya ingin bersama Kanae…!

Apa yang kamu bicarakan? Kamu adalah sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Kelahiranmu merupakan suatu kesalahan. Memangnya kamu piker kamu bisa merassakan kebahagiaan? Sementara dirimu sendiri adalah kutukan?" 

Itu adalah kenyataan yang jelas. Karena fakta tersebut, Nakon merassa sangat terluka dan hanya bisa diam. 

Kutukan 'Kodoku' yang diselesaikan dengan melemparkan serangga beracun ke dalam guci dan membiarkan mereka saling membunuh hingga tersisa satu spesies, diciptakan karena manusia mencari kutukan.

Makhluk yang berada di luar tatanan dunia ini. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini. Sesuatu yang berada jauh dari kebahagiaan… itulah sebabnya, dia berteriak mengungkap tangisan hatinya

──Bukan aku yang menciptakannya. Aku juga… aku juga tidak ingin hidup seperti ini. Dengan tubuh seperti ini, dengan kutukan ini, aku tidak ingin hidup. Bukannya orang yang membuat dan menciptakanku adalah manusia?

──……

“Keberadaanku diperlukan, dicari, dilahirkan… menderita, bersedih, tapi kamu ingin mengatakan semua itu disebut palsu? Hei, kenapa aku diciptakan? Aku tidak ingin dilahirkan seperti ini. Aku tidak ingin hidup seperti ini. Apa kamu ingin mengatakan… kalau itu salah? Meskipun aku sedang kesulitan maupun merasa sedih, orang yang selalu berada di sampingku adalah Kanae, tau? Kanae lah yang menghentikan kesepian dan kesedihanku, tau? Jadi, biarkan aku terus bersamanya.

Itu adalah kata-kata yang lebih menyentuh jiwa daripada kutukan yang buruk. Kalimat tersebut bukankah kata-kata yang diucapkan oleh kutukan itu sendiri. 

……Rasa setelahnya, tidak enak.

Wanita berpakaian gothic mengernyitkan wajahnya. Apa ada kemungkinan mereka bisa saling memahami? Sementara Kanae bergetar lebih besar, teguran pria itu kembali terdengar. 

“Dasar amatiran──! Jangan tertipu oleh makhluk yang berpura-pura seperti ini! Luna, kamu harus kembali ke negara asalmu dan belajar…

“Law. Bukannya kamu terlalu sombong?

Merrysha! Apa yang kamu katakan!?

Dia tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan yang berarti dan hanya diam. Yang terpenting… apakah perkataannya itu keluar berdasarkan perhitungan?

“Aku meyakini makhluk yang bisa membaca hati manusia dan mengucapkan kata-kata yang menyenangkan bukanlah sesuatu yang jarang, iya ‘kan!?

“Sudah cukup. Kamu sudah membaca dokumen tentang latar belakang kelahirannya, kan? Setidaknya, tidak ada kontradiksi dalam kata-kata dan tindakannya, bukan?

Terserah. Sejak awal, satu-satunya pilihan adalah menghancurkannya.

Kamu…!

Mengabaikan wajah Merrysha yang terkejut, pria berpakaian jubah itu mendekati Nakon dengan tenang dan serius. Di depan Kanae dan Nakon yang saling memandang melewati dinding yang tidak terlihat, ia memukul kuat-kuat tongkatnya ke arah kepala Nakon. 

Suara benturan benda tumpul terdengar. Suara pukulan yang berat seolah-olah mengakhiri nyawa dalam satu serangan. 

Namun… hampir tidak ada darah yang keluar. Nakon terjatuh tak berdaya dan kehilangan kesadaran tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pemikiran bahwa keadaannya sudah memburuk sebelumnya… apa itu hanyalah pikiran Kanae yang ingin menolak kenyataan? Saat kesadarannya perlahan-lahan mulai memudar──sebuah kehadiran mulai bocor. 

Kehadiran 'makhluk aneh'. Kehadiran 'wujud asli' Akase Nakon yang pernah dirasakan Kanae beberapa kali. Ketiga orang lainnya berubah wajah dan menatap tubuhnya yang terjatuh. 

──Tubuh wanita yang dibungkus kabut hitam perlahan-lahan hancur menjadi makhluk yang memiliki serangga dan racun. Semua orang bersiap dengan cepat, tetapi itu terlalu tidak berarti. 

Hah… hahahaha, hahahahaha!?

Luna!? Jangan panik! Cepat…!

Monster… monster!

Di tengah-tengah area yang dikelilingi ketiga orang tersebut──sejumlah besar serangga berkumpul, membentuk sebuah gumpalan hitam pekat. 

Seekor ular raksasa… ular terkutuk dengan penampilan yang mengerikan, menyala dengan cahaya mata oranye. 

Jika dihitung dari panjangnya, mungkin mencapai sepuluh meter? Tubuh raksasa itu bisa dengan mudah menelan manusia secara utuh. Di sekelilingnya, sejumlah besar serangga beracun beterbangan, dan ditambah lagi──menyebarkan aura yang mengerikan dan jahat. 

Apa ini…!? Apa-apaan ini!?

Sial… Law! Cepat ambil alih pengembangan penghalang! 

Itu… itu…

Ular raksasa itu menatap ketiga pemburu. Kelemahan yang terlihat sebelumnya, apa sebenarnya itu? Sekarang, dia merayap dengan santai di tanah dan perlahan-lahan mendekat. 

Penghalang dan asap yang dinyalakan telah kehilangan semua kekuatannya. Racun yang terkonsentrasi dari makhluk itu tidak dapat ditangani oleh tiga pemburu saja. 

Mata beracun ular itu membekukan jiwa. Dalam sekejap, semua orang merasakan bahwa mereka akan mati── 

Kanae berlari menuju makhluk itu. 

"!? Da-Dasar bodoh!?

──Ketiga orang itu memperkirakan bahwa ia akan dibunuh terlebih dahulu. 

Kutukan besar yang wujud aslinya terungkap. Ribuan serangga beracun saling membunuh, menciptakan perwujudan sihir yang terkonsentrasi. Mana mungkin orang biasa dapat menghadapi ini, dan bahkan jika mereka ingin melarikan diri, mereka tidak bisa melakukannya. Setelah pemuda itu meninggal, mereka bisa membayangkan dengan mudah bahwa selanjutnya adalah giliran mereka

Akan tetapi, perkiraan itu dengan mudah dibalikkan. 

Nakon! Nakon! Apa kamu baik-baik saja!?

Ya… bagaimana denganmu, Kanae? Apa kamu baik-baik saja?

Aku baik-baik saja… aku baik-baik saja…

Syukurlah…

Ular raksasa itu mengangkat kepalanya dan mendekati seorang manusia. Kanae merentangkan kedua tangannya, mereka saling mendekat, seolah-olah ingin memastikan keselamatan satu sama lain. Saling berhadapan secara langsung, manusia dan makhluk itu tampak berinteraksi secara setara. Aura menakutkan itu belum sepenuhnya hilang, tetapi anehnya, rasa takut itu menghilang. 

Reaksi ketiga orang itu beragam, tetapi… biarawati Merrysha bertanya kepada rekannya. 

Apa kamu masih ingin mengatakankalau dia tidak memiliki hati? Law.

……………… Itu hanya kebetulan, semuanya berjalan dengan baik.

Memang bisa jadi. Namun… aku tidak bisa ikut campur lagi.

Setelah udara beracun perlahan-lahan menghilang, ketiga orang itu kehilangan niat untuk memburu dan meletakkan senjata mereka masing-masing

Nakon dan Kanae yang tidak menyadari hal tersebut, saling bersentuhan dengan erat.



 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama