Chapter 7 — Ketidaknyamanan
Waktunya dimundurkan kembali setelah Satoshi meninggalkan ruangan untuk mengejar Hibise.
“Haah......”
Akhirnya aku
bisa menghela napas lega setelah pintu tertutup dan
merasakan lkalau angkah
kaki Satoshi-kun menjauh.
Lututku mendadak terasa lemas, dan aku
jatuh ke lantai.
“Kamu memang
wanita yang baik ya, Satsuki.”
Aku merasakan ada kehadiran yang mendekatiku. Reine meletakkan tangannya di
kepalaku tanpa ragu.
“......Tidak
juga.”
Aku
merasakan panas menjalar di
pipiku.
“Reine sendiri bagaimana? Bukannya kamu habis dipukul
oleh Hibise?”
“Aku
sudah terbiasa dengan kekerasan.”
Jawabannya
langsung. Dan dia
tersenyum saat mengatakannya.
“......Tapi,
aku cukup terkejut dengan Hibise.”
“Bener
banget~. Aku bisa menduga dia terlibat dengan Satoshi-kun selama masa SMA, tapi aku tak pernah menyangka kalau Satoshi-kun juga bisa melupakan semuanya, ya~.”
Perkataan
Shino dan Shuna membuat hatiku terasa sakit.
“Satoshi-kun juga...... merupakan korban dari 'kekuatan pengoreksian dunia',
ya?”
Satoshi
adalah karakter mob, tapi dirinya juga
seorang reinkarnator. Reinkarnator tidak terpengaruh
oleh 'kekuatan pengoreksian dunia'. Mereka adalah makhluk istimewa
yang berbeda dari kami. Itulah
pemikiran egois kami sendiri.
“Satoshi
berusaha mengubah skenario untuk bertahan hidup.”
Reine
melanjutkan dengan tenang.
“Mana
mungkin ia tidak pernah terpengaruh oleh 'kekuatan pengoreksian dunia'......
sebaliknya, itu tidak alami.”
"Dan
yang terlupakan adalah—— Harusora Hibise. Dia juga merupakan 'korban kekuatan pengoreksian' dalam
【LoD】, ya............”
“Dia
pasti menderita, ya~.........”
Keputusasaan
saat pria yang dicintainya pergi menuju kematiannya demi
wanita lain.
Kelegaan
karena menentang takdir itu dan kembali hidup-hidup.
Namun, ketika mereka berdua bertemu
kembali, Satoshi-kun tertawa bersama kami.
Semua
waktu dan perasaan yang telah dia
curahkan dilupakan sepenuhnya.
“Haah............”
Jika
lawannya adalah orang-orang biasa, kami bisa mengancamnya agar tidak pernah
mendekati Satoshi-kun lagi,
dan itu akan menjadi akhir dari semuanya.
Tetapi, rasanya terlalu menyedihkan untuk melakukan itu.
“...............Apa
yang harus kita lakukan?”
Aku
memandang mereka bertiga dan
bertanya.
“Kupikir
tidak apa-apa jika aku memperlakukannya sebagai junior dan teman Satoshi....aku takkan mempermasalahkannya.”
Reine bergumam pelan.
“Tentu
saja, aku tidak mau oke? Aku tidak mau mengizinkan seorang
wanita yang mencintai Satoshi terus berada dekat
dengannya. Tapi.....”
Reine
tampak menunduk, seolah-olah dia bersimpati pada Hibise.
“Secara
pribadi, aku juga menentangnya.
Orang-orang istimewaku adalah Satoshi dan
kalian semua.”
Ucap Shino
sambil menghela napas ke arah
kosong.
“Namun,
melakukan itu terlalu kejam............”
“............Bagaimana
denganmu, Shuna?”
Ketika
aku bertanya demikian, Shuna
sedikit memiringkan
kepalanya.
“Aku
merasa tidak terlalu peduli mengenai apa yang terjadi.
Pada akhirnya, semuanya terserah pada Satoshi-kun yang akan memilih~.”
Setelah
mendengar hal tersebut, pandangan semua orang tertuju
pada Shuna.
“Bahkan
kita harus menerima Hibise sebagai yang
kelima...?
“Ya,
benar~. Karena dalam artian tertentu, 【LoD】 sudah mengacaukan kehidupannya, jadi aku
tidak menemukan alasan untuk menolaknya.”
“Benar............”
“Memang
benar......”
“Aku
setuju dengan apa yang dikatakan Shuna-san.”
Pendapat kami semua mulai saling bertumpang tindih. Perasaan emosi yang berbeda menuju kesimpulan
yang sama.
Aku menghela
napas dalam-dalam dan sedikit merilekskan bahuku. Udara yang tegang mulai
melonggar, dan suasana ceria kembali ke ruangan.
“Yah,
meskipun begitu, aku masih merasa
untuk langsung mengakui Hibise sebagai yang kelima. Tapi aku bisa menerima bahwa dia adalah
teman Satoshi-kun untuk
saat ini.”
“Bukannya lebih baik begitu?”
Reine
mengangguk pelan.
“Aku
juga akan kesulitan jika diminta untuk memperlakukannya sama seperti kalian.”
Saat
mengatakannya, Reine sedikit mengalihkan pandangannya.
——Jika itu membuatmu merasa
malu, seharusnya kamu tidak
perlu mengatakannya.
“Aku
juga memikirkan hal yang sama.”
Shino
melanjutkan dengan tenang.
“Kurasa
kita harus mengenal Hibise-san
terlebih dahulu.”
Setelah
jeda sejenak, Shino menundukkan pandangannya sedikit.
“Selain
itu, aku merasa bahwa kecemburuan dan keposesifan
kita tidak seharusnya mengikat hubungan pertemanan Satoshi-san.....”
Dia
mengatakannya dengan lembut, tetapi isi kata-katanya cukup tajam.
“Mungkin
benar apa yang dikatakan Shino~.”
Shuna membalas dengan senyuman masam sambil
mengangkat bahunya.
“Lagipula,
jika Satoshi-kun terlibat dengan orang aneh karena dia tidak punya teman, hal itu bisa menjadi masalah yang tidak bisa diubah,
kan~?"
“......
Itu mungkin benar.”
Aku
terdiam sejenak.
“Selain
itu, aku cukup menyukai
Hibise-chan~. Dia
mirip dengan Reine-chan~.”
“...............
Apa maksudmu?”
Reine
langsung memelototinya.
“Ah,
aku paham banget! Dia seperti adik yang
tidak bisa dibiarkan begitu saja!”
“Benar banget~. Dia terlalu
menyedihkan sampai-sampai ingin diperhatikan.”
“Sudah
kubilang, berhentilah memperlakukanku seperti adik perempuan!”
“Hehe,
kamu lucu banget.”
“............”
Shino
secara tidak sengaja mengulurkan tangannya ke kepala Reine, dan Reine hanya menunjukkan sedikit
perlawanan. Akhirnya,
dia sedikit membungkukkan kepalanya
agar Shino bisa mengelusnya dengan mudah.
“Jangan
seenaknya mengelus kepalaku........... dasar bodoh.”
Suasana
lembut mengalir di dalam ruangan.
Tidak ada
yang salah jika Satoshi-kun memiliki
teman.
“――Kalau
begitu.”
Aku berdehem ringan untuk membersihkan
tenggorokanku.
“Apa
kita bisa menganggap kalau masalah Hibise sudah selesai sekarang?”
“Ya,
benar.”
“Ya.”
“Iya~.”
Suara
kami saling berpadu sempurna. Suara angin dari AC terasa sangat
jelas. Bunyi-bunyi mesin yang sebelumnya
tidak mengganggu kini terdengar sangat dekat.
Dari luar
jendela, suara langkah
kaki orang-orang yang berjalan pulang di malam hari dengan ritme yang teratur bisa terdengar.
Tak, tok,
tak, tok, pengulangan tanpa jalan keluar.
Poni rambut
depanku tiba-tiba jatuh ke pandanganku. Pencahayaan di ruangan sedikit
lebih redup dibandingkan sebelumnya.
“——Rasanya memang aneh, kan?”
Suaraku sendiri anehnya
terdengar jauh. Ketika
aku melihat wajah mereka bertiga,
tidak ada satu pun dari mereka
yang tampak bercanda.
“Ya.”
Reine
langsung mengangguk.
“Bagaimanapun aku melihatnya, rasanya
memang aneh.”
“Kupikir cumaa aku yang merasakan hal ini,
tapi ternyata kalian juga merasakannya?”
Kami
saling memandang.
“Ada dua hal~”
Aku memiringkan kepalaku dan mengangkat dua jari.
“Yang
pertama. Bahkan kita sebagai heroine
utama pun tidak memiliki ingatan tentang
berinteraksi dengan Satoshi-kun di 【LoD】,
tapi cuma Hibise yang memiliki ingatan tersebut.”
Setelah
mengetahui bahwa Satoshi-kun
kehilangan ingatan tentang Hibise karena 'kekuatan pengoreksian dunia',
aku menyadari bahwa bahkan sebagai reinkarnator, dirinya tidak terkecuali.
Jika melihat
dari cara Hibise berbicara, sepertinya dia cukup dekat
dengan Satoshi-kun saat berada di SMA. Sebagai 'korban kekuatan pengoreksian dunia', aku
merasa kasihan pada Hibise yang dilupakan oleh Satoshi-kun.
“...........
Aku sangat terkejut bahwa Satoshi ingat semua murid
baru.”
Reine
menghela napas seolah lelah.
Satoshi-kun berhasil menemukan
Hibise di dalam CG saat
upacara penerimaan siswa baru. Reaksinya
sangat mudah ditebak ketika Shuna dan Shino sengaja berbohong.
Namun.
Kami
tidak bisa menemukan Hibise ——————
di dalam CG itu.
Hibiki
pasti sudah berusaha keras untuk melakukan debutnya di universitas.
Tetapi, Hibise berhasil menemukan kami.
Reaksi Hibise
barusan. Tatapannya yang jelas-jelas campuran kebencian dan kewaspadaan. Tatapan seolah-olah dia mengetahui dosa-dosa kami.
Perasaan
jijik yang tak dapat dijelaskan membara di dalam diri kami, sensasi tidak
menyenangkan seolah-olah dipahami.
“Hibise
sudah lama————mengamati kita, ya?”
Kami
tidak tahu bagaimana seharusnya sebuah permainan simulasi
kencan pada umumnya. Sebenarnya,
kecuali Shuna, kami semua bukanlah orang yang bermain game.
Namun,
karena dia adalah karakter dalam game, kami bisa merasakan penyimpangan perspektif.
“Ngomong-ngomong,
menurut kalian, dari sudut pandang siapa game 【LoD】 ini?”
【LoD】
adalah game yang diciptakan oleh Sano Yuuto
dengan memproyeksikan dirinya ke dalam Tanino Yuu. Teksnya jelas-jelas ditulis dari sudut pandang orang
pertama pria itu.
Kalau
begitu, bagaimana dengan CG-nya?
Mengapa
ada CG yang menunjukkan Tanino Yuu
bersama Nishikawa Mutsuki dan yang lainnya?
Yang
melihatnya adalah————
“————dalam
artian itu, Hibise adalah 'korban paksaan'.
Dia harus terus mengamati itu meskipun tidak mau. Dia harus mengingatnya
sendirian tanpa bisa berbagi dengan siapa pun.”
Fenomena
di mana hanya dia satu-satunya yang
bisa mengingatnya sementara
yang lain melupakannya.
Orang
yang sebelumnya akrab dengannya tiba-tiba melihatnya dan menatap dengan kebingungan.
Dia dipaksa
untuk mengalami rasa sakit itu berulang kali.
Sungguh.
Seandainya
hanya itu saja, aku
hanya bisa merasa kasihan dan bersimpati padanya.
Shino lalu membuka lemari.
“Aku
menyimpannya sebagai tindakan pencegahan.”
Sebuah
ponsel yang diletakkan di atas meja.
“Itu
hampir saja.”
Shino
akhirnya menghela napas.
“Aku tidak pernah menyangka bahwa Satoshi-san...... menyadari ada kamera pengawas.”
Kami
mengambil barang tersebut
malam itu. Setelah membuka
ponselnya, aku melihat isinya untuk
pertama kalinya.
Nama
tampilan di LINE jelas-jelas
tertulis 'Harusora Hibise'. Reine mengernyitkan dahinya ketika
melihat riwayat pesan.
“Memang benar kalau ia mengirimkannya secara
sepihak kepada Hibise.... sangat menjijikkan.”
“Aku penasaran bagaimana rasanya
mengirim video begitu kepada
juniornya?”
Baik
Reine maupun Shuna tidak menyembunyikan rasa jijik
mereka.
Dan fakta tersebut berarti.....
“Kedua————
Hibise menyadari identitas asli dari penulis
【LoD】.”
Mana mungkin
dia tidak menyadarinya. Kami
mengenalnya lebih baik daripada siapa pun. Pria
yang penuh dengan kesombongan, budak nafsu.
Sekarang,
jika dipikir-pikir lagi, mengapa
aku bisa jatuh cinta pada pria seperti itu?
Aku
berusaha menahan diri untuk tidak menggali kenangan kelam masa laluku.
“Walaupun Hibise
menyadari itu, tapi sepertinya dia tidak
memberitahu Satoshi-kun.”
Aku
mengangguk setuju dengan perkataan
Shuna. Jika dia terus berada di sisi Satoshi-kun, dia pasti tahu kalau Satoshi-kun adalah otaku 【LoD】. Dirinya pasti merasa penasaran siapa
penulisnya.
...........
Aku penasaran bagaimana reaksinya jika ia tahu identitas aslinya.
“————Saat
membicarakan ini, ada satu pertanyaan yang muncul dalam pikiranku.”
Shino
meletakkan tangannya di atas meja dan
mengetuk-ngetuk.
“Pertama-tama,
mengapa game 【LoD】 masih bisa dirilis tanpa masalah meski
penulisnya hilang?”
“——Memang.”
Tidak ada
informasi bahwa penulisnya telah meninggal. Namun, produksi berjalan lancar dan
dirilis.
“Aku
merasa ada sesuatu di balik ini~......” gumam Shuna.
“Shuna?”
“Mm~
Bukan apa-apa~ kurasa mungkin aku hanya
terlalu khawatir.”
Dia
tersenyum tipis dan melanjutkan.
“Hibise
pasti akan berusaha mendekati
Satoshi-kun lagi, kan~?”
“Ya,
benar.”
Bukan
berdasarkan emosi, tetapi sebagai fakta. Dia memiliki perasaan untuk
Satoshi-kun dan bertujuan untuk merebutnya. Aku meyakini dua hal tersebut.
“Apa
yang akan kita lakukan saat mengetahui bahwa dia
membahayakan Satoshi-san atau
kita?”
“Itu
pertanyaan bodoh.”
Reine
langsung menjawab.
“Jika
dia mengganggu kebahagiaan kita—”
———— lagi, iya ‘kan?
