Shibo End Vol 2 Chapter 3 Bahasa Indonesia

 Chapter 3 Let’s Play!

 

Seminggu kemudian. 

Baiklah, aku pergi dulu.” 

“Selamat jalan~” 

Aku melambaikan tangan ringan saat pintu masuk ditutup. 

Dengan suara “kacha”, udara di ruangan langsung menjadi hening. Setelah memastikan kalau Satoshi-kun sudah pergi, kami berempat menghela napas lega bersamaan. 

“♪~~~”

Melodi ceria segera mulai keluar dari mulut Reine. 

Sejak dia menyatakan ingin menjadi idola, dia benar-benar berusaha keras. Setiap hari dia tidak pernah melewatkan latihan vokal, memeriksa gerakan di depan cermin, dan jika dirasa masih kurang puas, dia menunjukkan tariannya kepada kami. 

...Dia benar-benar bisa menjadi idola, ya. 

Bisa turunkan volumenya sedikit~. Aku sedang belajar, lho~” 

Dari balik buku referensi yang terbuka di meja, Shuna tersenyum dengan wajah canggung

“Ya. Maaf.” 

“Tidak apa-apa~” 

Reine mengangkat bahunya dengan ringan. Shuna terus membalik halaman buku referensinya dengan ekspresi serius. 

──Shuna adalah yang paling parah

Dia telah berubah menjadi manusia yang baik

...Apa maksudnya berubah menjadi manusia yang baik

Tapi, tidak ada cara lain untuk menggambarkannya. Aku mengira dia diam-diam terlibat dalam perjudian atau pengeluaran uang, tapi dia hanya terus belajar dengan tekun. 

Mimpinya adalah menjadi PNS

Meskipun di satu sisi aku merasa lega, tetapi di sisi lain, aku merasakan kekosongan. Kenapa ya

Aku melihat ke arah Shino. 

“...Kamu sedang melakukan apa, Shino?” 

Bukannya itu sudah jelas. Aku sedang bermeditasi.” 

Ya, aku tahu. Aku bisa melihatnya. Tapi, bukan itu yang ingin kutanyakan

“Fyuh… aku masih amatiran. Demi bisa mencapai ‘kebahagiaan tertinggi’, aku perlu bantuan Satoshi-san.” 

...Syukurlah. Dia masih mesum seperti biasanya. 

Sambil bernapas terengah-engah, dia bukan berada di jalan menuju kebuddhaan, melainkan berenang di dalam lautan nafsu duniawi

“Semua orang sudah gila, ya…” 

“Aku tidak ingin mendengarnya darimu, Satsuki.” 

Tanggapan dingin dari Reine membuatku tanpa sadar melihat ke arah cermin di samping.  Bayangan yang terpantul di cermin besar itu adalah kecantikan yang sempurna dan tanpa cela. 

Lipstik merah tua yang mengkilap. Garis bibir yang sedikit terangkat seolah-olah menunjukkan lambang rayuan. Dengan blush on yang terlihat segar dan eyeliner yang lebih panjang dari biasanya. Rambutku diikat samping, dan aku mengenakan gaun celemek yang biasa dikenakan istri yang menggoda suaminya dalam drama. 

Saat aku memutar pinggulku, sosok pantulanku di cermin tersenyum seperti iblis kecil. Melihatku yang seperti itu, mereka bertiga menghela napas. 

Kenapa? 

Meskipun mereka semua sibuk melakukan urusan mereka masing-masing, suasana di ruangan terasa anehnya terkoordinasi. 

“Fiuh.” 

Untuk memecah keheningan, Shuna meletakkan cangkirnya di atas meja. 

“──Hibise, sebenarnya dia itu siapa, sih?” 

Suara itu terdengar seperti monolog, tetapi kami semua menunggu kata-katanya

“Setidaknya sudah dipastikan dia tergila-gila pada Satoshi~.” 

“Benar juga sih~.” 

Shuna dan aku menghela napas hampir bersamaan. 

──Itulah masalah yang paling rumit. 

“Teman-teman, apa kalian punya sedikit waktu? Reine juga.”

Shino dengan tenang memanggil dan duduk di sisi Timur meja. 

Dia kemudian menepuk-nepuk ringan bokong Reine yang tergeletak di lantai. 

“Ada apa…?” 

“Ini pembicaraan yang penting.” 

“Ya, ya.” 

Reine dengan enggan bangkit dari posisi duduknya dan duduk di posisi Utara

“Aku sudah menyelidiki siapa identitas Hibise sebenarnya dengan menggunakan kekuatan keluarga Shinonome.” 

“Wah!” 

Seperti yang diharapkan dari Shino-chan~” 

Aku dan Shuna bertepuk tangan bersamaan seolah-olah sudah sepakat. 

“Kalau kamu mau menyewa profesional, seharusnya kamu melakukannya saja begitu dari awal.” 

“Siapa yang paling antusias berpura-pura jadi detektif kalau bukan kamu, Reine-san?” 

“...Dasar Shino jahat.” 

Reine memeluk bantal duduknya dan meringkuk. Dia seharusnya tidak perlu mengatakan itu karena pertahanan dirinya sudah nol… 

Shino tampak tidak mempedulikannya dan mengelus kepala Reine dengan tangan kanannya sambil menggunakan tangan kirinya untuk mengoperasikan smartphone, lalu membaca hasil penyelidikan dengan tenang. 

“Nama aslinya adalah Harusora Hibise. Dia di jurusan ekonomi yang sama dengan Satoshi-san dan sekarang dia mahasiswi tahun kedua.” 

Shino mengumumkannya dengan tenang sambil menatap smartphone. 

“Struktur keluarganya terdiri dari orang tua dan Hibise saja. Saat ini, dia tinggal sendirian dekat universitas. Hubungan dengan teman-temannya juga umumnya baik, dan dengan penampilannya, dia tampaknya cukup populer.” 

Di sini, ada jeda sejenak dalam kata-katanya. 

“Namun, mereka yang mengetahui sifat aslinya tidak menilainya dengan baik. Mereka sering berkata, 'Sangat diakungkan.” 

“Hmmm~” 

Aku menghela napas lemah. Kupikir nama belakangnya agak aneh, tapi selain itu dia tampak seperti mahasiswi biasa yang bisa kau temukan di mana saja.

Setelah memastikan reaksi kami, Shino mengangguk sekali dan melanjutkan. 

“Dan──dia juga Kouhai kita.” 

“Hmm~? Apa maksudnya~?” 

Dia bersekolah di SMA yang sama dengan kita.” 

“...Kalau begitu, mungkin kita pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Termasuk Satoshi juga.” 

Aku mengangguk pada kata-kata Reine. Jika dia bersekolah di SMA yang sama dengan kami, kemungkinan Satoshi-kun jatuh cinta pada Hibise saat SMA tidak bisa diabaikan. 

Setidaknya untuk saat ini, tidak ada indikasi bahwa dia terlibat dengan organisasi berbahaya atau transaksi mencurigakan

Fakta ini membuat sedikit melegakan hatiku

“──Namun…” 

Suara Shino sedikit lebih rendah. 

“Masalahnya tidak sesederhana itu.” 

Suasana seketika menjadi tegang. 

“Aku menyuruh seseorang menyelidiki apa yang dicari Satoshi-san dan Hibise... dan kami telah menemukan beberapa fakta yang cukup menarik.” 

“Fakta menarik?” 

“Ya.” 

Setelah menjawab demikian, Shino melirik Shuna dan mengarahkan layar smartphone-nya ke arah kami. 

“Apa kalian mengenali pria ini?” 

Shino menunjukkan layar smartphone-nya kepadaku dan Shuna. 

Ahh~ bukannya itu pria yang berusaha merayu Hibise~” 

“...Sudah kuduga.” 

Shino menghela napas pelan. Desahannya bercampur dengan rasa frustrasi dan kejengkelan yang tak terbantahkan. 

“Ada apa?” 

“Pria Ouzuki ini──ia adalah mantan tunanganku.” 

“““Eh!?””” 

Aku, Shuna, dan Reine, yang sedang berbaring di lantai, semuanya langsung bangkit dan menatap smartphone dengan penuh perhatian. 

Jadi tipe pria seperti ini yang disukai Shino──” 

Mana mungkin pria semacam ini seleraku, kan?” 

Senyum ceria Shino masih tetap terpampang jelas di wajahnya, tetapi urat-uratnya menonjol seakan menunjukkan ekspresi marah. 

“Aku akan membunuhmu, Reine-san.” 

“Eek!?”

Reine segera mundur dan kembali ke tempat duduknya, lalu kali ini dia berlindung di atas pangkuanku dan mulai bergetar. Aku mengelus kepala Reine yang bergetar dengan gerakan tangan yang sudah terbiasa. Rambutnya lembut banget~. 

“...Ketika kami bertunangan, dirinya kelihatan sangat serius di luar.” 

Shino melanjutkan dengan nada sinis. 

“Tapi, aku merasa ada sesuatu yang janggal mengenai dirinya. Penampilannya yang sekarang adalah sifat aslinya. Jadi rasanya sama sekali tidak aneh.” 

Shino melanjutkan dengan nada yang sama. 

“Orang kaya yang tidak tahu diri…” 

Membahas mantan tunangan lebih dalam merupakan hal yang berbahaya. Aku mencoba menutup mulut dengan perlahan, tapi saat itu, aku jadi teringat sesuatu. 

“Ah, jadi itulah sebabnya Satoshi-kun sangat marah!” 

Dalam game LoD, Shino kehilangan nyawanya karena mantan tunangannya──kisah itu juga tercatat di dalam buku harian. Dirinya pasti telah menambahkan gambaran Hibise yang dirayu ke dalam ketidakmauan Shino. 

Setelah mendengar ucapanku, Shino membusungkan dadanya dan tersenyum lebar seolah-olah semua rasa frustrasi sebelumnya hilang. 

“Ya. Satoshi-san menyebutku sebagai orang yang penting baginya karena ia mempedulikanku. Dia bilang aku orang yang penting.” 

Kamu tidak perlu mengatakannya sampai dua kali, kan~?” 

Sudah, sudah tenanglah dulu.” 

Kalau aku terus-terusan merasa jengkel dengan perkataan Shino, pembicaraan kami tidak akan berjalan. Tapi, setelah mengetahui kebenarannya, aku merasa bersimpati pada Hibise. 

‘Orang penting’ yang disebutkan Satoshi-kun adalah Shino, bukan Hibise. 

Jika dia jatuh cinta pada Satoshi-kun karena kesalahpahaman—Satoshi-kun benar- benar orang yang sangat jahat…... 

Saat suasana simpati terhadap Hibise mengalir di antara kami, aku berdeham pelan untuk mencairkan suasana

Ta-Tapi, kurasa mantan tunangan Shino tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang dicari Satoshi-kun dan Hibise, kan?” 

“Ya. Benar sekali.” 

Shino mengakuinya tanpa ragu. 

“──Oleh karena itu, sekarang kita akan masuk ke inti pembicaraan.” 

Setelah memberi pengantar, Shino mengarahkan pandangannya ke arah Reine. 

“Aku ingin bertanya kepadamu, Reine-san.” 

“...Apa?” 

Reine yang sedari tadi berbaring di lantai perlahan-lahan bangkit dengan waspada. 

Meguri’──Hibise dan Satoshi-san pernah bertemu di kafe dekat universitas, kan?” 

Benar sekali.” 

“Eh? Masa?” 

Hah? Memangnya ada yang salah?” 

Melihat tanggapan kagetku, Reine mengernyitkan alisnya dengan keheranan

──Karena, di sana… 

Di situlah aku… berbicara tentang aku yang memutuskan untuk berhenti menjadi model gravure.” 

Reine membuka matanya lebar-lebar dengan terkejut. 

Be-Begitu ya, kebetulan yang luar biasa.” 

“Ini bukan kebetulan.” 

Shino mengoperasikan smartphonenya lagi dan menampilkan foto sebuah gedung di depan kami. 

Tempat acara jabat tangan (bukan)”” 

Suara kami, Reine dan aku, kembali serempak. Sejenak, suasana di dalam ruangan kembali hening

“Eh? Reine juga tahu?” 

“Kalau kamu mengetahuinya, seharusnya kamu memberitahuku, Satsuki…” 

Nada suara yang menuduh membuatku mengalihkan pandangan. 

──Karena itu bukan kenangan yang baik

“Ahh~ jadi begitu alasannya~” 

Shuna menepuk telapak tangannya. 

“Kalian berdua benar-benar saling salah paham~” 

Shuna menatap kamu secara bergantian

“Satsuki-chan hanya mengetahui kalau tempat itu pernah digunakan sebagai acara jabat tangan saat kamu masih menjadi model gravure, iya ‘kan?” 

“Ah, benar!” 

“Reine-chan cuma tahu bahwa acara jabat tangan idola yang dihadiri Hibise dan Satoshi-kun kebetulan di tempat yang sama, kan?” 

“...Benar. Sungguh kesalahpahaman yang aneh.” 

“Memang benar…” 

Aku dan Reine saling memandang. 

Kalau gitu, yang ini?” 

Shino menampilkan gambar berikutnya. 

Bukannya itu Hisui…” 

“Bukannya itu ibuku…” 

Aku dan Reine kembali sama-sama dibuat terkejut

“Jangan-jangan, wanita selingkuhan Satoshi tuh…” 

Jangan bilang Hisui adalah… Mamahnya Reine…?”

Saat membandingkan wajah Reine dan Hisui, memang ada sedikit kemiripan yang terlihat. 

“Jadi, pembicaraan tentang menginap itu rupanya saat Reine pulang ke rumahnya, ya…” 

“...Sepertinya begitu.” 

Reine mengangguk dengan tenang. 

Wanita itu membuat Satoshi mabuk berat dan memaksanya untuk menginap di rumahku…” 

“Jadi, soal simpanan itu maksudnya…” 

“Mungkin dia cuma mencoba menggoda Hibise. ...Mungkin.” 

Kamu harusnya yakin pada perkataanmu sendiri.” 

“...Wanita itu sangat menyukai Satoshi.” 

Kalau begitu dia juga sama-sama bersalah dong.” 

Perkataan itu tanpa sadar keluar dari mulutku. 

──Rupanya Musuh telah berada di dekat kami jauh lebih lama sebelum Hibise

Hari di mana Satoshi-kun pergi untuk mengambil kembali Reine Aku harus segera menanyakan dengan baik kepada Hisui, mamahnya Reine, tentang apa yang terjadi. 

Kemudian, terdengar suara “kot” di atas meja. Pandangan kami tertarik ke sana. 

“──Jadi, inilah ‘Reinkarnasi yang dicetak perusahaan keluargaku ya~” 

Shuna bergumam seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri. Dia menatap ke dalam cangkir yang uapnya mulai menghilang. 

“Ini bukan kebetulan saja, iya kan?” 

“...Seperti yang diharapkan, Shuna-san. Apa kamu menyadarinya?” 

Shino mengangguk dengan tenang. 

“Eh? Hah? Apa maksudnya?” 

Ayo, jelaskan agar kami mengerti.

Aku dan Reine benar-benar tidak memahami alur pembicaraan mereka.

“Pertanyaannya, mengapa Satoshi-kun membiarkan Hibise membaca 'Reinkarnasi,' yang ia sendiri tidak mau menunjukkannya kepada kita~?” 

Pada saat itu.... 

“──Karena keedua orang itu terlibat dalam LoD.” 

Sistem pendingin udara mengeluarkan suara yang tidak pada tempatnya. 

Tempat acara jabat tanganku. 

Novel ‘Reinkarnasi’ yang dicetak di perusahaan orang tua Shuna. 

Ibu Reine, Hisui. 

Tunangan Shino. 

Titik-titik dari teka-teki tersebut mulai terhubung satu demi satu di dalam pikiranku

Setelah kamu menyebutkannya begitu…” 

“Memang benar juga…” 

Jika begitu rupanya

Jadi Hibise sebenarnya pihak yang terlibat dalam LoD?” 

“Ya.” 

Shino mengangguk tanpa ragu. 

“Ta-Tapi…” 

Reine berbicara ragu-ragu. 

Walaupun Hibise pihak yang terlibat dalam LoD, tidak ada alasan bagi Satoshi untuk merahasiakannya dari kita.” 

“Benar sekali. Dirinya melakukan sesuatu yang tampak seperti perselingkuhan dan menipu kita…” 

“Di situlah~” 

Dengan suara yang melambat, Shuna memecah suasana. Dia tersenyum. Wajahnya menunjukkan senyum ringan yang biasa. 

Aku pertanyaan untuk Reine-chan yang suka membaca~.” 

Aku dan Reine sedikit terlambat bereaksi dengan perkataannya

Kenapa kamu ingin membaca ‘Reinkarnasi karya Satoshi-kun~?” 

Reine dan aku saling bertukar pandang

Reine segera melihat Shuna dan menjawab dengan percaya diri. 

Bukannya itu sudah jelas? Aku ingin tahu seperti apa gaya penulisan Satoshi. Sebaliknya, aku ingin mengenal Satoshi lebih dalam melalui tulisannya.” 

“Ya, ya. Memang begitu~. Meskipun aku tidak memiliki kemampuan membaca seperti Hibise~, wajar saja jika kita penasaran dengan tulisan orang yang kita sukai ‘kan~.” 

Kemudian, Shuna tertawa dengan gembira. 

“Tapi~ apa kamu tahu siapa penulis ‘Reinkarnasi~?” 

Bukannya itu jelas-jelas buatan Satoshi──” 

Reine terdiam di tengah kalimat. Dari samping wajahnya, aku bisa melihat kalau raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi

Aku juga──mulai menyadarinya

“...Cuma kita satu-satunya yang tahu bahwa Satoshi-kun hanyalah penulis bayangan.” 

Ketidaknyamanan mulai terbentuk. Shino yang diam-diam mendengarkan, mulai mengangguk. 

Jadi begitulah. Jika Hibise merupakan pihak yang terlibat dalam LoD, maka penulis ‘Reinkarnassi’──” 

Dia tidak perlu melanjutkan ucapannya. Sebuah kesimpulan tunggal diam-diam terbentuk dalam diri kami. 

Mereka sedang mencari orang itu, atau sesuatu yang berkaitan dengannya…” 

Pada saat itu, senyuman ceria Shuna tiba-tiba menghilang. 

“──Apa kita ketahuan?” 

Perkataan Shuna membuat udara di ruangan ini menjadi dingin lebih cepat.  Hawa dingin tersebut bukan karena hembusan angin AC. Hawa dingin itu seolaj-olah menyusup ke dalam hati kami

“““──”””” 

Kami──telah membunuh Sano Yuuto. 

Alasannya hanya satu. 

Orang itu adalah protagonis dari LoD dan pencipta dunia ini. 

LoD terus berlanjut tanpa henti, seperti spiral. 

Terus-menerus mengulangi keputusasaan yang sama, rasa sakit yang sama, dalam berbagai bentuk. 

──Itulah sebabnya, kami membunuhnya.

Pada malam itu, udara di pegunungan yang dalam terasa sangat lembab. 

Suara langkah kaki di tanah, napas seseorang, tidak ada yang berbicara sama sekali, hanya melakukan pekerjaan yang terus berlanjut. 

Kulit, organ dalam, tulang──semuanya dicairkan dan dibuang. Tanpa jejak. 

Hingga kini, orang tuanya masih bertanya tentang keberadaan anak mereka. Rasa sakit yang terpendam di dalam dadaku. Mereka tidak bersalah. Namun, orang itu adalah keberadaan yang seharusnya tidak ada di dunia ini. 

“──Kemungkinan itu memang bisa dipertimbangkan, tapi sepertinya mustahil.” 

“Benar juga.” 

Reine juga segera mengangguk. 

“Seandainya dia tahu bahwa kitalah yang membunuhnya, dia pasti sudah melaporkan kita. Atau mungkin, demi tujuannya sendiri, dia akan mengancam kita, bukannya Satoshi.” 

“...Memang benar. Aku setuju dengan pendapat Reine.” 

Aku menghela napas kecil. 

“Hmm, ya.” 

Shuna akhirnya bisa melepaskan ketegangan di bahunya. Niat membubuh yang sebelumnya begitu tegang perlahan mulai menghilang. 

“Apa kamu masih belum mengetahui apa yang dicari Satoshi-kun dan Hibise?” 

“Maaf. Penyelidikan yang kuterima tidak sampai sejauh itu.” 

“...Ya, memang.” 

Reine menatap langit-langit. 

Karena mereka berdua mencari sesuatu tanpa melibatkan kita, tentu saja mereka akan menyembunyikannya dengan baik.” 

“Kalau begitu, kira-kira hubungan seperti apa yang dimiliki Hibise dengan Satoshi-kun, ya…” 

Pada akhirnya, pembicaraan kami selalu kembali membahas identitas asli Hibise. Kami sudah sampai pada kesimpulan bahwa dia adalah orang yang terlibat dalam LoD. Namun, kami tidak bisa menyelidikinya lebih dari itu

Tidak ada nama Hibise di dalam Buku Harian, jadi seharusnya dia tidak terlibat dengan Satoshi-kun…” 

Aku menatap benda di atas meja. 

“Jika dia sedang melakukan napak tilas ke tempat-tempat suci LoD, sudah dipastikan kalau dia pihak yang terlibat ya ‘kan~.” 

“Namun, jika tidak ada catatan tentang dirinya di dalam Buku Harian, mana mungkin kita bisa mengetahui tentang Hibise…” 

Kami berempat menghela napas pelan. Rasanya jawabannya sudah sangat dekat, tetapi tidak bisa dijangkau. 

Bertanya langsung kepada Satoshi-kun. 

Hal itu juga bisa menjadi salah satu pilihan. Namun, Satoshi-kun berusaha menjauhkan kami dari LoD

Itulah sebabnya, kami tidak bisa melangkah lebih jauh. 

“...Ah.” 

Shino tersentak sejenak

“Shino?” 

Saat aku memanggilnya untuk menanyakan apa yang terjadi. Shino justru berdiri dengan gerakan kasar, seolah-olah menendang bantal duduknya. Dia biasanya tidak akan melakukan gerakan kasar seperti itu. 

“Eh, kamu mau ke mana!?” 

Sebelum kami sempat memanggilnya, Shino sudah berlari menuju pintu masuk. Tanpa mengenakan sepatunya, dia membuka pintu dengan semangat dan melompat keluar. 

Kami bertiga cuma terdiam karena saking terkejutnya, meninggalkan suara langkah kaki yang menjauh. Aku menyadari bahwa dia menuju ke kamarnya di apartemen ketika aku mendengar suara pintu yang ditutup dengan kasar. 

Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki berlari kembali. Dan kemudian, pintu masuk terbuka. 

“Haah… haah…” 

Shino kembali. Napasnya terdengar terengah-engah, rambutnya sedikit berantakan, dan dadanya naik turun. Tanpa berkata apa-apa, Shino berjalan ke meja dan meletakkan sesuatu yang dipegangnya

“──Aku hampir saja melewatkan benda penting ini…” 

Kami terdiam melihat benda yang diletakkan di atas meja. Di sampul kotak tersebut tertulis, 

Tooyama Aoi. 

Nishikawa Mutsuki. 

Minamino Reina. 

Kitamoto Rin. 

──Empat karakter yang sangat mirip dengan kami. 

Dan protagonis yang sangat mirip dengan itu──Tanino Yuu. 

Inilah dunia──LoD

“Ini juga pasti sama dengan LoD yang kita alami.” 

Shino meletakkan tangannya di dada, akhirnya mengatur napasnya sambil berbicara. 

“Benar juga, bukannya ada itu…” 

“Kenapa aku bisa melupakan hal itu…?” 

Benar ‘kan~” 

Kami semua mengeluarkan desahan menyedihkan, seolah-olah baru menyadari kesalahan bodoh. Perasaan benci pada diri sendiri mulai menumpuk ketimbang rasa penyesalan

“Jika Hibise benar-benar terlibat dalam LoD, dia pasti akan muncul di suatu tempat.” 

“Ya, kan…” 

“Benar. Cuma itu satu-satunya kemungkinan…” 

“Haah~” 

Apa yang dikatakan Shino memang benar. Tidak ada cara yang lebih baik untuk memahami siapa Hibise sebenarnya. Namun, meskipun kami semua mengetahui bahwa inilah cara terbaik, kami tetap tidak bisa bergerak. 

Bukan cuma karena merasa enggan, tapi lebih tepatnya, aku tidak ingin melakukannya bahkan jika harus mati. 

Karena──. 

“Aku benar-benar benci membayangkan diriku ditaklukkan oleh makhluk itu…” 

Perasaanku yang sebenarnya keluar tanpa sengaja. Ini bukan sesuatu yang bisa kutertawakan, dan aku tidak punya kemewahan untuk menjadikannya lelucon. 

“Benar…” 

Reine juga mengalihkan pandangannya dan setuju dengan singkat. 

“──” 

Coba katakan sesuatu juga lah, Shuna-san…” 

Kami telah membeli game LoD sejak lama. Meski begitu, tidak ada satu pun dari kami yang membuka kotak itu. 

Alasannya sederhana. 

Karena itu berarti membuat kami menghidupkan kembali sejarah kelam dengan tangan kami sendiri. 

Hal itu sama seperti adegan seluruh keluarga menonton video masa kecil kita yang direkam dengan kamera video. Perasaan merinding. Ketidaknyamanan. Tidak ada tempat untuk melarikan diri. 

Semua itu akan direproduksi dalam bentuk yang sempurna. 

Ditambah lagi, bagi kami, ini hanyalah babak dalam sejarah kelam kami.. 

Semua itu berkat Satoshi. Diselamatkan dan dibantu──. 

Namun, kami salah paham dan jatuh cinta pada ‘orang itu, sebuah fakta yang tidak bisa kami hapus sekeras apa pun kami mencoba. 

“...Yah, mau bagaimana lagi. Mari kita berusaha yang terbaik demi Satoshi-kun juga.” 

Kami mengangkat bahu dan menyerah. 

“...Di antara kita, orang yang paling tahu tentang permainan adalah Shuna, jadi bolehkah aku meminta bantuanmu untuk mengoperasikannya?” 

“...Serahkan saja padaku~” 

Baru pertama kalinya aku melihat wajah Shuna yang begitu enggan memainkan game…” 

Kami menyalakan komputer, dan secara alami berkumpul di sekitar Shuna. 

Beberapa detik kemudian, layar menjadi gelap dan urutan pembukaan mulai dimainkan

“Hmm, musik ini…” 

“Ini lagu idola yang baru-baru ini sering didengarkan Reine-san, ya.” 

Begitu rupanya~. Aku tidak pernah membayangkan Satoshi-kun akan menyukai idola, tetapi sekarang aku mengerti~.” 

“Jika dihitung dari kehidupan sebelumnya, memang sudah lama, ya… Ini membingungkan.” 

Akhirnya, karakter muncul di layar. 

Wajah yang sangat mirip dengan kami. 

“──” 

Tanpa berpikir, kami melanjutkan dengan pikiran kosong. 

Ceritanya dimulai ketika mereka menginjak bangku kelas dua SMA. Dimulai dari upacara penerimaan siswa baru untuk siswa kelas satu. 

[Waduhh gawat… Aku ketiduran di halaman dan lupa menghadiri upacara penerimaan. Untuk saat ini, kurasa aku akan mengintip dari pintu masuk.] 

Tanino Yuu bergumam dan melihat ke bawah pada upacara penerimaan dari atas

Bersamaan dengan suasana upacara pembukaan, versi diri kami yang ada di dunia berikutnya ditampilkan. 

[Yuu-kun, ia ada di mana ya~?]

Nishikawa Mutsuki mencari-cari keberadaannya

[...Sungguh merepotkan.] 

Meskipun sedang berlangsung upacara penerimaan, Kitamoto Rin sedang membaca buku. 

[──]

Higashiyama Aoi menyaksikan upacara pembukaan dengan tenang dan gerakan yang sempurna. 

[Sebagai perwakilan siswa, namaku Minamino Reina~]

Minamino Reina yang sudah terkenal sebagai ketua OSIS sejak kelas satu

Keempat orang ini diperlihatkan di layar. 

“...Ayo, mulai saja.” 

Saat aku bergumam, Shuna melanjutkan. 

Cerita terus berlanjut dengan cepat.

 

[Selamat pagi, Yuu-kun!] 

Nishikawa Mutsuki memeluk Tanino Yuu dengan senyuman cerianya

“Ugh…”

 

[Silakan pergi. Aku tidak menyukai orang-orang yang sembrono sepertimu.] 

Kitamoto Rin tanpa ampun menolak Tanino Yuu. 

Benar-benar, ampas…”

 

[Jika kamu ada masalah, jangan ragu untuk curhat padaku ya~]

Minamino Reina dengan senyuman lembut menyapanya. 

“──”

 

[Fufu, kamu sepertinya orang yang menarik, ya.]

Higashiyama Aoi menatap Tanino Yuu seolah-olah mengujinya. 

“Apa aku terlihat seperti ini…?”

 

Layar berganti, dan teks muncul. 

[Sekarang, aku harus menyapa siapa ya~] 

Pilihan muncul. 

1. Nishikawa Mutsuki 

2. Kitamoto Rin 

3. Minamino Reina 

4. Higashiyama Aoi 

 

Begitu rupanya.... jadi begini cara melanjutkannya.” 

Aku mulai memahami struktur LoD

Namun──. 

“...Aku ingin mati saja.” 

Tanpa bisa menahan diri, aku langsung mengucapkannya. 

Entah itu dari segi suara, penampilan, dan suasana── semuanya terlalu mirip dengan kami. Yang paling membuatku tertekan adalah emosi dan kata-kata yang tertulis di teks tersebut terlalu familiar. 

Istilah sejarah kelam terasa terlalu ringan. Ini jelas-jelas neraka. 

“Menjadi tokoh protagonis yang kita benci dan menaklukkan diri kita sendiri… tidak ada penghinaan yang lebih besar dari ini.” 

Shino menggumam hal itu dengan raut muka yang jelas-jelas menunjukkan kebencian. Ketenangannya yang biasa dia tunjukkan telah lenyap tak tersisa

Kemudian saat itu. 

“──Ayo kita hancurkan.” 

Shuna berkata demikian sambil tersenyum. Dia memegang cangkir dan berusaha mengayunkannya ke komputer. 

“Jangan begitu, Shuna!” 

“Kita juga sudah bersabar, lho!?” 

Aku dan Reine langsung menerkam Shuna dan menahan badannya dari belakang. Dengan dorongan yang kuat, kami hampir terjatuh, tapi kami dengan gigih menahan lengan Shuna. 

Akhirnya, kami berhasil membuatnya melepaskan cangkir, dan kami bisa bernapas sejenak. 

──Saat aku berpikir demikian. 

Enggak mau, enggak mau, enggak mau, enggak mau, enggak mau, enggak mau, enggak mauuu~” 

Hei!?” 

Shuna tiba-tiba mulai merengek seperti bayi. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Reine dan berusaha tidak melepaskannya dengan sekuat tenaga. 

Reine berusaha melepaskannya, tetapi rengekan “Enggak mau, enggak mau~” dari Shuna tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Tatapan SOS yang meminta bantuan muncul di mata Reine. 

Namun, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi Shuna yang sudah kehilangan akal sehatnya. Tanpa sadar, aku mengalihkan pandanganku. Secara bersamaan, aku merasakan kemarahan dari Reine dan berkeringat dingin. 

“──Tenangkan dirimu!” 

Suara Shino yang tajam dan tegas menggema di dalam ruangan. Sebelum aku menyadarinya, kami secara refleks memperbaiki posisi duduk kami

“...Sungguh memalukan.” 

Bantal duduk yang murahan dan cangkir teh. Sebuah ruangan di apartemen biasa yang sudah cukup tua. Namun, aku bahkan sampai merasakan ilusi seolah-olah mendengar suara shishi-odoshi dari suatu tempat. 

Dia benar-benar seperti Yamato Nadeshiko, memang layak menjadi putri keluarga Shinonome. Shuna yang sebelumnya berteriak seperti bayi kini tiba-tiba menjadi tenang. 

“Ini adalah dosa kita. Bukankah kita seharusnya menerimanya dengan lapang dada?” 

“Y-Yah, kalau kamu mengatakannya seperti itu, memang ada benarnya…” 

Ketika aku melihat penampilan Nishikawa Mutsuki di layar, dia tersenyum ceria. Kami bertiga menampilkan ekspresi getir. Melihat kami yang seperti itu, Shino menarik napas sejenak sebelum dengan tenang berkata. 

“Jika begini, aku tidak punya pilihan selain menjadi istri sah…” 

──Hah

Apa yang baru saja dia katakan? 

Jika telingaku tidak salah dengar. 

Aku mendengarnya dengan jelas sekali tadi

Istri sah──aku mendengar kata tersebut

Kami sangat memahami beratnya kata itu. Melihat ekspresi Shino yang penuh ketegasan, kami secara alami saling memandang. Dan kemudian, kami tersenyum lebar. 

Menggunakan kata-kata itu berarti──perang. 

“Kalau begitu, mari kita mulai dari Shino-chan dulu~.” 

Suara tersebut tanpa ampun menghancurkan suasana. 

Hah?” 

Perkataan Shuna membuat ekspresi bermartabat Shino langsung runtuh seketika

Seperti yang diharapkan dari istri sah!” 

“Benar. Meskipun tidak perlu disebutkan siapa.” 

Sebuah kesepakatan diam-diam tercapai di antara kami. 

“Kalau begitu, mari kita saksikan tingkah laku mesum Shino!” 

“Aku menantikannya” 

“Tidak boleh!?” 

Teriakan Shino hampir bersamaan dengan itu. Saat Shuna mencoba mengklik mouse, Shino mendorong Shuna yang berada di depan layar bersamaku. 

Hei!?” 

Memangnya ada istri sah yang tidak terhormat seperti itu! Memulai dari diriku itu tidak adil!” 

“Aku hanya menghormati martabat istri sah~” 

“Istri sah siapa! Aku ini milik Satoshi-san!” 

Aku sama sekali tidak peduli, jangan berkelahi di atas tubuhku!?” 

Terjepit di lantai, aku benar-benar terjebak di tengah baku tembak. Shuna dan Shino benar-benar bertengkar di atasku. 

──Berat banget. Dalam banyak artian

Ketika aku mendongakkan wajahku, pandangan mataku bertemu dengan Reine. 

Kami tidak memerlukan kata-kata. Hanya dengan kontak mata saja, aku bisa tahu apa yang dia pikirkan. Reine bergerak cepat dan berdiri di depan mouse. 

Tekan pilihan Shino! 

“...Hmph.” 

Senyum merendahkan. 

──Eh? 

Aku secara naluriah mendongak dan melihat Reine menatapku. Begitu melihat senyumannya, sensasi dingin seperti air es menyentuh tulang belakangku. 

Aku secara harfiah mendorong Shuna dan Shino yang berada di atas tubuhku, lalu dengan momentum tersebut, aku berbalik ke belakang Reine dan mengunci lengannya. 

“Apa yang ingin kamu lakukan!?” 

“...Lepaskan aku!” 

Reine berushaa melawan, tetapi aku mengabaikannya. Aku menarik Reine dari depan komputer dan menjatuhkannya ke lantai. 

“Menjadikan Satsuki sebagai pengorbanan adalah solusi yang paling efisien dan damai!” 

Kalau gitu pilihlah dirimu sendiri! Itulah solusi terbaik!” 

Mana sudi! Aku tidak ingin melihat diriku terlibat dengan sampah seperti itu!” 

“Aku juga tidak mau! Lagipula, kenapa harus aku!?” 

“Karena kamu sudah memakan pudingku!” 

“Maaf~~!” 

Aku secara refleks meminta maaf. Aku tahu persis apa yang kulakukan. Tatapan tajam Reine menusukku tanpa ampun. 

“Dendam karena makanan akan berlangsung seumur hidup! Terimalah hukumannya!” 

“Namun, aku menolak!” 

Dasar parah!?” 

Itu ya itu Ini ya ini

Pada akhirnya, kami hanya terus saling menyalahkan karena mendapat giliran yang buruk, melanjutkan perdebatan kami yang tak berujung. 

“Haah... haah...” 

Kami hanya menghabiskan tenaga tanpa hasil, dan ketika menyadari, semua Setelah kelelahan tanpa alasan, kami semua terengah-engah. Meja bundar yang tadinya berada di tengah ruangan kini berada di posisi yang sama sekali berbeda, gelas di atasnya terbalik. 

Dan, laptop terjatuh dengan menyedihkan di atas karpet. Karpet yang bergelombang di seluruh lantai. Sofa yang miring pada sudut yang setengah hati. Ruangan itu tampak sepenuhnya berantakan, seolah mencerminkan kekacauan yang baru saja terjadi. 

“Ayo kita bersihkan…” 

Tidak ada alasan atau keluhan yang muncul. Kami mulai membereskan ruangan dalam keheningan. Kami mengembalikan meja ke posisi semula, mengambil gelas yang terjatuh, dan merapikan kerutan di karpet. Suara gaduh yang sebelumnya ada kini seolah menghilang, meninggalkan keheningan di ruangan. 

“...Jika diingat-ingat.” 

Shino berhenti sejenak dari pekerjaannya dan bergumam seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri. Suara yang menelusuri ingatan tanpa ditujukan kepada siapa pun. 

Kalau tidak salah, Satoshi-san mulai terlibat dalam LoD sejak 31 Oktober.” 

Aku mengeluarkan Buku Harian dan memeriksanya. 

“Benar! Sampai sebelumnya, Satoshi-kun hanyalah pengamat.” 

Setelah dipikir-pikir, ada beberapa hal yang terlintas di benakku. Kami semua memiliki kesan negatif secara umum terhadapnya selama waktu itu. 

“Sampai saat itu, kita hanya bersikap apa adanya terhadap orang-orang yang tidak kita sukai, ‘kan?” 

“Benar~. Sejarah kelam kita baru saja dimulai sejak Satoshi-kun terlibat~” 

Benar. Semuanya sejak Satoshi-kun mulai ikut campur.” 

Kemudian, kata-kata itu mendadak terhenti. 

“““......”””” 

Tatapan kami bertemu. Tidak ada yang mengucapkan kata-kata. Namun, pasti ada pikiran yang sama di dalam benak kami. 

──Bukannya ini semua salah Satoshi-kun

Kata-kata itu mulai terbentuk di dalam hati kami. Aku tahu bahwa pemikiran ini tidak benar. Lagipula, tidak peduli seberapa keras Satoshi-kun membantu kami, jika 'kekuatan paksaan dunia' ikut campur, kami akan melupakan keberadaannya

Meski begitu──. 

Tidak dapat disangkal bahwa ini adalah kesalahan Satoshi-kun karena aku jatuh cinta begitu dalam padanya. 

Penyesalan karena jatuh cinta pada orang bodoj yang tidak berharga. 

Kekeliruan kami karena salah memilih orang yang seharusnya dicintai. 

Meski demikian, perasaan cinta kami kepada Satoshi-kun yang telah rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan kami. 

Semuanya. Semuanya

Semuanya itu karena salah Satoshi-kun

“Cinta memang selalu ada rintangan, tapi ini juga merupakan ujian, bukan?” 

Persis seperti yang dikatakan Shino. Ketika berkaitan dengan Satoshi, ini adalah kesempatan baik untuk memperbaiki kelemahan yang membuat kita tidak bisa melihat sekeliling.” 

“Mungkin itu benar~. Kita perlu sedikit introspeksi diri~.” 

Secara perlahan, kami mulai mendapatkan kembali ketenangan kami.

Kebencian yang kami rasakan tidak sepenuhnya lenyap. Perasaan itu masih mendidih dan bergejolak di dalam dadaku. Akan tetapi, apa yang harus kami lakukan sekarang sudah jelas. 

“Kalau begitu, mari kita lihat satu per satu.” 

Aku menempatkan Shuna di depan komputer, dan kami mengintip dari belakangnya.

 

Kami berusaha memendam perasaan jijik kami dan memutuskan untuk terus bermain LoD

Meskipun kami sudah memutuskan demikian, jari-jariku masih bergetar sedikit karena kebencian. Demi menekan emosiku, aku menggigit bibirku dengan kuat dan mencengkeram ujung celanaku. Hanya sensasi kain yang berdesir terasa sangat nyata. 

──Baiklah. 

Aku sekali lagi menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya sebelum berkata. 

“...Dari sini, mari kita lanjutkan sesuai dengan Buku Harian Satoshi-kun.” 

Semua orang juga mengangguk. Kami menggunakan Buku Harian Satoshi-kun sebagai buku panduan strategi, memeriksa pilihan yang ada. 

Pilihan yang muncul terlalu sederhana. Tidak peduli bagaimana seseorang melihatnya, pilihan tersebut tidak mungkin dipilih oleh orang biasa. 

Misalnya──.

 

[Hey, Yuu-kun. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, bisakah kamu mendengarkanku?] 

1. “Tentu saja!” 

2. “Maaf, aku sibuk (terlihat merepotkan)”

 

...Terlalu kejam. 

Sekarang setelah aku mengetahui sisi dalamnya, hal itu membuatku semakin yakin bahwa aku telah melakukan hal yang benar dengan membunuhnya.” 

Reine mengatakannya dengan tenang. Mengetahui perasaan halus lawan mungkin adalah hak istimewa kami. Sekali lagi, aku bersyukur tidak terikat dengan itu. Dengan suasana seperti itu, kami berempat terus melanjutkan permainan meskipun tidak bisa menahan rasa kesal──. 

“Wah... rupanya kita sudah sampai di sini...” 

Tanggal 31 Oktober, kelas dua SMA. 

Hari ini adalah hari di mana Satoshi-kun menyadari bahwa dirinya juga terlibat dan akan mati. 

“──Ngomong-ngomong.” 

Reine berbisik dengan cemas. 

“Bagaimana seharusnya kita memilih dari sini?” 

Apa maksudmu dengan bagaimana? Kita hanya perlu memilih pilihan terburuk, kan?”

 

[Hey, Yuu-kun. Akhir-akhir ini, pekerjaan model gravureku tidak berjalan dengan baik. Bisakah kamu membantuku?] 

1. [Tentu saja! Beritahu aku apa pun!] 

2. [Maaf, aku sibuk, jadi lain kali (lagi? Merepotkan banget...)]

 

Dan, dia tanpa ragu memilih 2. Aku pernah mengalami itu. 

“Jika dia memilih 2, itu mungkin menghubungkan kita dengan keadaan sekarang, tapi Satoshi pasti menginginkan orang itu memilih 1.” 

“Ah, begitu. Kalau begitu──” 

“Namun,” 

Shino dengan tenang menyela

“Hal yang paling penting bagi kita selanjutnya adalah bertemu Satoshi-san. Mungkin lebih baik memilih opsi sesuai dengan nalurinya…” 

“Ugh…” 

Apa yang harus kulakukan. 

Bagaimana caranya──. 

“──Kita hanya perlu menyimpan permainannya~.” 

Shuna berkata sambil menekan tombol simpan. 

“Jika kita melakukannya dengan dua cara, jadi seharusnya tidak masalah, kan~?” 

“Ah, ya.” 

Mengabaikan kami bertiga yang sama sekali tidak mengerti permainan, Shuna segera memulai. Dia terus memilih pilihan yang salah. Hanya pilihan yang tidak menyembunyikan sifat asli pria itu. 

Dan kemudian──.

 

Seorang pelajar SMA ditabrak truk yang menerobos lampu merah. BAD END

 

“...Yah, tentu saja jadi begini.” 

“Benar.” 

Shino juga setuju dengan tenang. Tidak ada kejutan atau kesedihan yang muncul di hati kami. 

──Ini adalah konsekuensi yang sudah pasti. 

“Tapi, ini sedikit berbeda dari kehancuran total yang kita alami di LoD. Lagipula, kita bahkan belum mengungkapkan perasaan kita kepadanya.” 

“Ah, memang benar.” 

“...Jadi, apa itu berarti opsi 1 adalah jawaban yang benar?” 

“Kalau begitu, mari kita lanjut dari data terakhir yang kita simpan~” 

Shuna berkata dengan nada ringan. Kali ini, kami akan memilih pilihan yang seharusnya diinginkan Satoshi. Di tepi layar, tingkat ketertarikan Nishikawa Mutsuki terhadap Yuu semakin meningkat dengan cepat. 

“Sejarah kelam yang terlalu berat...” 

“Benar sekali...” 

Meskipun merasa jijik, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari layar. Aku sebenarnya ingin mengatakan kepada diri kami di dalam layar. 

Kalian memilih orang yang salah untuk meningkatkan tingkat kasih sayang kalian. Namun, kami tidak mempunyai cara untuk menyampaikan hal itu kepada mereka

Setiap kali tulisan “ketertarikan meningkat” muncul, jantungku terasa seperti akan hancur. 

“...Menurut Buku Harian, Satoshi sekali pernah mundur sebelum liburan musim panas kelas 3.” 

“Ah... tertulis dia patah semangat...” 

Semua tindakan yang kami pilih untuk diri kami sendiri, semuanya direnggut oleh orang itu. Membayangkan kekosongan itu, aku terus-menerus menyalahkan diriku sendiri karena tidak menyadarinya. 

Mulai sekarang, mari kita merenungkankan apa yang sudah kita alami.” 

“Ya, ya~.” 

Acara liburan musim panas. 

Bukan hanya aku saja

Reine, Shino, dan Shuna juga. 

Masa terburuk ketika kami jatuh cinta pada itu. 

Kami berusaha saling mengalahkan, saling mencurigai, dan berselisih. Konflik seperti pertengkaran menjadi hal sehari-hari, dan hubungan kami hampir di titik terburuk. 

Dan sekarang.... 

Setelah bermain LoD, akhirnya aku mengerti. 

Itu tidak pernah berniat memilih kami. 

Itu hanya mengumpulkan dan menata kami seperti boneka untuk diperlakukan sesuka hatinya

Kami hanyalah karya dagingnya

Dan akhirnya, hari itu tiba. 

Acara pengakuan cinta.

 

[Yuu-kun, aku menyukaimu!] 

[Aku juga suka padamu, Yuu!] 

[Yuu-kun, aku sangat mencintaimu~] 

[Aku mencintai Yuu-san lebih dari siapa pun.]

 

“““Uwah...”””” 

Kami semua mengerang kesakitan secara bersamaan

Sejarah kelam terburuk telah diputar ulang lengkap dengan suaranya juga.

 

[Maaf, tunggu sampai upacara kelulusan.]

 

Ketika protagonis di layar mengatakannya, kami di dalam layar──putus asa. 

Karena sudah melihat akhir itu, teks yang sudah dibaca menjadi seperti akhir kehancuran total. Ketika terus melanjutkan, tulisan yang belum dibaca muncul.

 

[Marilah kita menjadi teman seks.]

 

Upacara kelulusan. Pengakuan cinta terburuk dalam sejarah. 

Dan, terakhir──.

 

[Seorang pelajar SMA ditabrak truk yang menerobos lampu merah. BAD END.]

 

Gambar CG Satoshi-kun yang ditabrak truk kembali muncul lagi. 

Satoshi-kun di dunia ini memang ada di sana. 

Namun, di dalam rute ini, namanya saja bahkan tidak disebutkan. 

──Pada saat itu, kita tidak pernah tahu siapa dirinya

“Kita mencoba melihat cerita kita dari sudut pandangnya, dan itu benar-benar mengerikan dan menjijikkan...” 

“Aku setuju. Bahkan setelah mati, orang itu masih berhasil membuat kita merasa tidak nyaman... hal itu mengagumkan dengan caranya yang aneh sampai-sampai layak dihormati.” 

Dengan nada sarkastik, Reine dan Shino menghela napas sambil merendahkan bahu. 

Selain itu~” 

Shuna mengeluarkan suara yang jelas-jelas kesal. 

“Berkali-kali, kita disuguhkan CG di mana kami bersama orang itu dengan penekanan yang kuat. Ini adalah galge, kan? Kenapa kita harus melihat wajah menjijikkan itu? Aura narsismenya itu langsung membuatku mual...” 

“Jangan terlalu kasar begitu, Shuna. Tenangkan dirimu sejenak.” 

Aku mencoba menenangkan Shuna yang paling kesal dalam beberapa waktu terakhir. 

“““──””””

Setelah menenangkan Shuna, perasaan hampa yang tak terlukiskan menyerang hati kami. 

“──Hibise tidak muncul, ya.” 

“Benar…” 

Kami telah memainkan permainan ini sambil menekan emosi kami demi mengungkap identitas asli Hibise, tapi jejaknya tidak ada di mana pun dalam cerita. 

Bahkan Satoshi hanya muncul pada detik-detik terakhir di rute inis…” 

“Ya. Aku tidak pernah membayangkannya akan mati sebagai seseorang yang namanya saja bahkan tidak kami ketahui…” 

Mengingat CG yang muncul di layar, kata-kataku menjadi pelan. Jika begitu, identitas Hibise adalah──. 

“Untuk saat ini, mari kita coba memainkannya sekali lagi. Mungkin ada yang terlewat.” 

Karena itu dialog yang dibaca, kami bisa melewatinya. Kami tidak perlu mendengarkan dialog. Kami sudah mengingat isinya dengan sangat baik. 

Meski begitu──. 

Dia sama sekali tidak ada, ya~.” 

Aneh sekali…” 

“Mungkin asumsi kita bahwa dia pihak yang terlibat dalam LoD itu salah…” 

Shuna, Reine, dan Shino menutup mata mereka dan terjatuh. Aku terus bermain sendirian. Mataku terasa sakit. Setiap kali aku berkedip, tepi pandanganku menjadi kabur. Meskipun begitu, aku tetap menggerakkan mouse. 

──Dari awal lagi. 

Kira-kira, sudah berapa kali aku melihat upacara penerimaan siswa baru ya?” 

Aku bergumam pada diriku sendiri. 

Tapi, kenapa? 

Mengapa cerita ini dimulai dari upacara penerimaan adik kelas kami, bukan dari diri kami sendiri? 

Di layar, Shuna… eh bukan, Minamino Reina memberikan sambutan sebagai perwakilan siswa. 

Dari sudut pandang Yuu, aku bisa melihat Mutsuki yang mencari seseorang yang tidak ada di tempat duduknya, Rin yang membaca buku dengan tampak mengantuk, dan Aoi yang duduk dengan anggun ditampilkan. 

Dan wajah para siswa baru. 

“...Mengapa kita memulai dari sini padahal kami tidak memiliki hubungan dengan adik kelas?” 

Aku merasa sepertinya ada alasannya. Namun, aku tidak bisa memahami garis besar alasan itu. 

Saat itulah. 

──Klick. 

Aku mendengar suara sesuatu yang terhubung di dalam kepalaku. Garis-garis yang terpisah terasa seperti ditarik menjadi satu. 

“Ah!” 

Suara itu keluar dari bibirku tanpa sengaja

“Ada apa? Satsuki?” 

Reine bangkit dengan penasaran dan mendekatiku. Tanpa mengalihkan pandanganku dari layer komputer, aku berkata. 

Nee, Hibise itu adik kelas kita, kan?” 

“Ya, benar.” 

Shino menjawab dengan cepat. 

“Jika memang begitu…” 

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat. 

“Dia pasti ada di antara mereka, kan?” 

CG pertama. 

──Upacara penerimaan adik kelas. 

“Ah~ memang benar~!” 

“Kalau dipikir-pikir, benar juga!” 

Dari kedua pundakku, Shuna dan Shino bersandar maju. Reine meletakkan dagunya di kepalaku dan mengintip layar. Hibise cantik dan imut. Meskipun dia berada di antara para siswa baru, dia pasti bisa ditemukan jika kami mencarinya. Kami menahan napas dan fokus pada layar. 

Satu per satu. 

Semakin jauh jaraknya, wajah-wajah karakter tambahan semakin disederhanakan. Ekspresi dan garis wajah menjadi samar. 

“Hmm~ kira-kira di mana ya~” 

Saat Shuna bergumam demikian....

“Ah!” 

“Kamu menemukannya, Reine?” 

“Tidak, bukan itu.” 

Reine menggeleng dan menunjuk layar. 

“Ini, bukannya ini Satoshi?”

Semua mata kami tertuju pada satu titik yang sama. 

“Benar! Satoshi-kun, imut sekali!” 

“Bajunya juga cocok!” 

Reine dan aku saling memandang dan tanpa sadar menunjuk. Kami berdua bersemangat dan heboh sendiri saat melihat sosok masa lalu pacar kami. 

“Kalian berdua~?” 

Tolong lakukan pekerjaan kalian dengan serius.” 

“Ah, iya.” 

“Maafkan kami…” 

Sambil berkata demikian, kami berdua memperbesar layar dan menyimpan gambar dengan baik. Setelah itu, kami membagi tugas dan fokus pada layar. 

Kita masih belum bisa menemukan Hibise ya~.” 

Jika dia berambut pirang, seharusnya dia akan terlihat mencolok…” 

Aku menekan sudut mataku dan meneteskan obat tetes mata. 

“...Ah.” 

Kali ini, Shino mengepakkan tangannya kecil. 

“Ngomong-ngomong, dia bilang dia seorang gadis sastra sampai SMA. Mungkin dia berubah drastis saat debut di universitas…” 

“Seharusnya kamu bilang begitu dong lebih awal…” 

“Maafkan aku.” 

Shino dengan tenang meminta maaf atas sarkasme Reine. 

“Rasanya kita tidak bisa mengingat karena itu, ya~.” 

“Memang….” 

Harapan kami perlahan-lahan sirna tanpa suara. Tiba-tiba, rasanya seperti permainan yang mustahil, dan aku akhirnya terjatuh ke belakang. 

Bersandar di bantal pangkuan Shuna dan Shino terasa sangat lembut. Aku memejamkan mataku saat mereka mengelus kepalaku

“Padahal kupikir kita bisa mengetahui identitas asli Hibise…” 

“Mungkin memang tidak realistis untuk mencari identitas wanita selingkuhan di dalam permainan…” 

“Kalau dipikir-pikir, itu benar…” 

Perasaan sia-sia karena menyia-nyiakan waktu menyerang kami. 

“Tapi~” 

Shuna melanjutkan. 

“Dengan begini, kita sudah kehabisan pilihan lain, kan~? Sepertinya sudah waktunya kita harus langsung bertanya pada Satoshi-kun~” 

“Mungkin cuma itu satu-satunya cara…” 

Aku tahu itu akan tidak disukai. Namun, kali ini, aku merasa tidak boleh mundur. 

“──Eh…?” 

Aku mendengar suara Reine, lalu bangkit dari pangkuan Shuna dan Shino. 

“Ada apa?” 

Bukannya ini aneh…?” 

Itu adalah adegan di mana Tanino Yuu dan kami berempat sedang mengungkapkan perasaan. 

Sekilas, itu hanya CG biasa. Adegan yang seharusnya sudah familiar dan sering ditampilkan berkali-kali

Namun──. 

“...Bagaimana menurut kalian?” 

Reine bertanya dengan hati-hati. 

Aku menyadari bahwa napasku seketika tercekat

“...Ini tidak mungkin, kan?” 

Ta-Tapi selain kemungkinan itu…” 

“Ah~ tidak mengherankan kalau kita tidak bisa menemukannya~” 

Tidak ada yang membantahnya

“Jangan-jangan, identitas asli Harusora Hibise itu adalah──”

 


Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama