Tenshi-sama Volume 12 Chapter 4 Bahasa Indonesia

Chapter 4 Pertemuan yang Tak Terelakkan

 

Keesokan paginya, ketika Amane melihat wajah Satoshi, ia merasa bahwa mata Satoshi sedikit kemerahan, tetapi Amane memilih untuk tidak membahasnya dan hanya menyerahkan handuk sambil menyuruhnya untuk mencuci muka. 

Mungkin Satoshi merasa gelisah setelah Amane tertidur, tapi jika Satoshi tidak mengatakannya, maka itu merupakan keputusan Satoshi sendiri dan sesuatu yang ingin ia sembunyikan. Amane berniat menghormati keinginannya, jadi dirinya tidak mengatakan apa-apa. 

“Terima kasih banyak atas semuanya. Aku benar-benar minta maaf telah merepotkan.” Ucap Satoshi dengan sopan. 

Setelah sarapan, mereka melakukan perpisahan di luar pintu masuk, dan Satoshi dengan sopan menundukkan kepala, sementara Amane dan Mahiru tersenyum samar. Mungkin karena sudah satu malam berlalu, Mahiru juga terlihat jauh lebih tenang saat mengantarkan mereka. 

“Jangan khawatir tentang menginap semalam. Itu adalah keadaan yang tidak bisa dihindari.” 

“Memang ada itu, tapi kunjungan kali ini juga... Aku telah merepotkan Onee-san.” 

“Sudah terlambat untuk itu. Dan, aku lebih tenang sekarang dibandingkan yang kamu pikirkan.” 

“... Terima kasih.” 

Tidak ada kesan berpura-pura kuat di dalam perkataan Mahiru, dan dia sudah kembali ke keadaan normal. Amane merasa lega dan tersenyum pada Satoshi yang terlihat sedikit formal. 

“Satoshi-kun, tantangan sebenarnya baru dimulai setelah kamu sampai di rumah.” 

“Ya. ... Tapi sebelum itu, aku harus cepat pulang sebelum ibu dan yang lainnya mengetahuinya.” 

Meskipun ia telah memberitahu bahwa dirinya menginap di rumah teman, seorang ibu pasti akan khawatir tentang putranya dan memperhatikan keluarga yang dituju. 

Meskipun saat ini ibunya tampaknya tidak ada di rumah, dia mungkin akan pulang lebih awal. Seperti ayah Satoshi yang pernah melakukannya. Alibat kekhawatiran itu, Satoshi tersenyum pahit dan berkata, “Seharusnya aku pergi lebih awal.” 

Sekarang sudah hampir pukul sebelas siang.  Satoshi terlambat karena mencuci dan mengeringkan pakaiannya, tapi jika berangkat pada waktu ini, masih dalam batas wajar untuk menginap. 

“Sekali lagi, terima kasih banyak atas bantuannya. ... Meskipun sulit untuk mengatakan 'sampai jumpa lagi'.” 

“Ya, sebaiknya tidak ada pertemuan kedua demi kebaikan kita masing-masing.” 

“... Itu benar.” 

Satoshi tersenyum samar dengan nuansa pahit dan membungkuk dengan sopan sebelum membelakangi mereka.  Punggung kecilnya terlihat sedikit lebih dapat diandalkan dibandingkan saat dirinya datang, dan Amane menyipitkan matanya. 

Satoshi berusaha pergi tanpa menyadari perasaan mendalam Amane, tetapi tiba-tiba dirinya berhenti. 

Amane mengira Satoshi melihat mobil yang masuk ke bundaran apartemen dan ingin menghindar agar tidak mengganggu, tetapi situasinya berbeda. 

Ketika Satoshi menoleh, ekspresinya dipenuhi dengan keterkejutan dan ketegangan. 

Mahiru yang berada di sampingnya juga langsung kaku. 

Pintu mobil tersebut terbuka, dan seorang wanita dengan rambut cokelat yang halus turun dari kursi belakang. Wanita yang tampak penuh energi dan berkeinginan kuat ini sudah dikenali Amane. 

“Ibu, kenapa?” 

“Aku baru menyadarinya karena merasa ada yang tidak beres. GPS ponselmu menunjukkan lokasi aneh, jadi aku khawatir apakah kamu diculik.” 

Wanita itu menghela napas dengan jelas... Dia adalah Sayo, tokoh utama dalam pembicaraan kemarin dan salah satu orang yang paling dihindari Mahiru. Suaranya terdengar sedikit lelah dan terkejut saat dia mengungkapkan kekhawatirannya. 

Apa yang dia katakan memang mencerminkan pengawasan, tetapi mengetahui lokasi anak selama masa pendidikan dasar adalah hal yang tidak salah bagi orang tua. Kali ini, itu hanya berujung pada situasi yang sangat buruk bagi Satoshi. 

Tanpa perlu berpikir keras, jelas sekali bahwa Satoshi adalah anak dari keluarga yang cukup baik. 

Untuk menghindari terlibat dalam masalah atau insiden aneh, seharusnya dia mempertimbangkan untuk mendapatkan informasi lokasi sebagai langkah pencegahan.

Alasan mengapa Satoshi tidak menyadari hal ini bukan karena dirinya lupa, tetapi karena dirinya tidak tahu tentang GPS, dan orang tuanya tidak mengganggu saat tidak perlu, sehingga ia tidak mengetahuinya. 

“Ketika aku melihat tempat yang familiar, aku sempat berpikir ada kemungkinan begitu. Ternyata kamu sangat peduli.” 

“... Maaf karena aku pergi diam-diam.” 

“Jadi, kamu sampai berbohong, ya, Satoshi. Ya ampun... seharusnya aku sudah memberitahumu dari awal, lagipula kamu sudah cukup besar.” 

“Kamu sungguh anak yang merepotkan,” katanya sambil tersenyum kecut, tapi tidak ada warna kebencian dalam tatapannya, lebih terlihat seperti rasa jengkel terhadap dirinya sendiri. Ekspresi lembut itu sangat berbeda dari yang pernah dia tunjukkan kepada Mahiru. Penuh kasih sayang layaknya seorang ibu. 

Amane mendengar suara kepalan tangan kecil di sampingnya

“Aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan kepada mereka, bahkan tanpa harus bertanya. Dan juga, apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku.” 

Setelah mengetahui lokasi, dia pasti sudah memahami alasannya. 

“Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu sekarang.” 

Dia bahkan memahami jawaban apa yang akan diberikan dan mendahului keinginan Satoshi. 

Satoshi berniat untuk bertanya kepada Sayo tentang kebenaran saat pulang dan takut hubungan mereka akan berubah, tapi itu semua bergantung pada jawaban Sayo. Jika Sayo tidak menjawab, maka keputusan dan keraguan Satoshi tidak akan berarti apa-apa. 

Itu...” 

“Aku tidak mengatakan kalau aku takkan menjawab. Tapi ini bukanlah sesuatu yang seharusnya kita bicarakan di sini, kan?”  

Baru pada saat itu, tatapan jelas diarahkan ke arah mereka. Tepatnya, ke arah Mahiru. 

Tatapan matanya yang menunjukkan kesan berbeda saat melihat Satoshi, terlihat mengarah langsung pada Mahiru, dan Amane secara naluriah melindungi dirinya dengan tatapan dingin. 

Pandangan matanya menyipit karena Amane menunjukkan ekspresi serius. 

“Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah pulang dan tenang. Kamu tidak keberatan dengan itu, ‘kan?” 

“... Ya.” 

Tujuan Satoshi adalah untuk mengetahui kebenaran. Jika hal itu terjamin, maka tidak ada alasan baginya untuk menolak. Satoshi mengangguk dengan tulus, dan Sayo terlihat puas sambil mengalihkan pandangannya dan menghela napas pelan. 

“Baiklah. Kembali saja dulu.” 

“Eh, tapi...” 

“Aku akan pulang setelah mengucapkan terima kasih kepada kedua orang itu karena sudah menjagamu. Oke?” 

“Tapi, itu...” 

Satoshi melihat ke arah mereka dengan khawatir, terutama ke arah Mahiru. Melihat penampilannya yang pucat, jauh berbeda dari kemarin, ia mungkin menyadari bahwa membiarkannya berbicara dengan Sayo bukanlag perkara yang baik. 

Sayo yang melihat Satoshi khawatir tampak terkejut, tapi kali ini dia menghela napas dalam-dalam, seolah mengeluarkan beban berat. 

“Setidaknya aku tidak akan melakukan apa-apa kepada mereka. Mereka adalah orang yang membantu Satoshi. Kan?” 

“... Aku bisa mempercayai ibu, kan?” 

“Apa aku pernah berbohong kepadamu?” 

Bukannya ibu selalu berbohong sejak aku mempunyai kesadaran diri?” 

Ara, ... fufufu. Benar. Aku memang pembohong besar, jadi Satoshi benar. Baiklah, aku berjanji. Aku tidak akan membahayakan kedua orang ini. Setelah pulang, aku akan menjawab pertanyaan Satoshi semampuku. Apa itu baik-baik saja? ... Aku tidak pernah melanggar janji, kan?” 

“... Ya.” 

Dia sama sekali tidak tampak tersinggung oleh sedikit pembangkangan Satoshi; sebaliknya, dia menertawakannya dengan geli dan senang, pemandangan yang akan membuat siapapun akan menganggapnya sebagai seorang ibu.

Mungkin ini semacam tindakan percobaan, tetapi Satoshi merasa lega karena diterima dengan mudah, dan mungkin karena itu sosok ibunya yang biasa ia kenal. Dirinya mengangguk pelan dan berlari kecil menuju Sayo. 

Melihat pemandangan itu, Mahiru menarik lengan baju Amane dengan lembut, mendekat dengan cara yang ragu dan tak berdaya. Meskipun hanya melihat wajah Mahiru dari atas saat dirinya menunduk, Amane bisa membayangkan bahwa ekspresinya termasuk dalam kategori kesedihan dari berbagai emosi yang ada. 

“Jadi, sampai jumpa lagi. Tidak apa-apa, tidak akan terjadi seperti yang kamu bayangkan.” 

Sayo menempatkan Satoshi di dalam mobil yang dia naiki, kemudian memberi instruksi singkat kepada sopir, “Antarkan anak ini pulang.” 

Dari jendela kursi belakang, Amane melihat wajah Satoshi yang tampak khawatir, jadi dirinya tersenyum untuk menenangkan Satoshi, dan Satoshi sepertinya menerima isyarat bahwa Mahiru akan dijaga dengan anggukan kecil. 

Mobil itu segera menghilang dari bundaran apartemen, dan ketika bayangannya tidak terlihat lagi, Sayo kembali menghadap mereka. Amane kembali merasakan tekanan darinya. Meskipun ada sedikit kesamaan dengan Mahiru, perbedaan yang mencolok adalah jenis suasananya. 

Mahiru memiliki aura yang lembut, kuat, dan fleksibel, meskipun terkesan sederhana. 

Sebaliknya, Sayo memiliki kehadiran yang sangat kuat hanya dengan keberadaannya, meskipun dia juga memiliki kelembutan, dia memiliki suasana yang berat dan keras seperti logam. 

Sekilas, mereka tidak terlihat seperti ibu dan anak. Hanya jika diperhatikan lebih dekat, mungkin ada sedikit kemiripan di wajah mereka. 

Tekanan intens dan menusuk yang membuat Mahiru terdiam dan merasa terintimidasi sedikit mereda ketika Sayo menghela napas panjang. 

“Aku tidak pernah menyangka dia akan benar-benar datang mengunjungi tempatmu.” 

Suara yang ditujukan kepada Mahiru terdengar lebih datar dari yang diharapkan. 

“Anak itu benar-benar merepotkan. Ketika aku mendengar dari Rei, aku tidak mempercayainya. Ternyata ia mewarisi semangat dari Rei.” 

Rei, sepertinya nama itu merujuk pada ayah Satoshi. 

Mungkin saat itu Rei sudah merasakan sesuatu. Jika ia mengetahui lokasi Satoshi melalui GPS, ia pasti menyadari, dan mungkin ia juga bisa menebak bahwa anaknya berada di sini, sehingga ia berbicara seperti itu. 

“Baiklah, tidak apa-apa. Pertama-tama, terima kasih. Aku berterima kasih karena telah menjaga anak itu. Pasti merepotkan karena ia tiba-tiba datang.” 

Dengan sikap yang tampaknya tidak memiliki niat baik atau buruk, Sayo menundukkan kepala sedikit, tapi Amane tidak akan mengabaikan kewaspadaan. Hanya saja, ia tidak ingin bersikap terlalu defensif, jadi ia tetap tersenyum ramah dan menggelengkan kepala. 

Itu sama sekali tidak merepotkan. Lagipula, itu keputusan kami untuk menerimanya. Jadi, jangan khawatir.” 

“Oh begitu. Kamu serius, ya? Aku sudah menduga.” 

“... Aku akan menganggapnya sebagai pujian.” 

Terserah.” 

Dari pernyataan bahwa dia sudah menduga, jelas bahwa Sayo telah membaca laporan dengan baik, dan mungkin dia juga telah menyelidiki latar belakang Amane. 

Meskipun hal itu membuatnya sedikit tidak nyaman, tapi Amane tidak menunjukkan perasaan tersebut. 

“... Jadi, bagaimana denganmu?” 

Pertanyaan yang terlambat diajukan membuat Mahiru sedikit terkejut. 

Mahiru pernah mengatakan bahwa dia tidak menganggap Sayo sebagai orang tuanya lagi, tetapi tampaknya dia masih merasakan penolakan yang kuat untuk bertemu langsung dengan Sayo, mungkin mengingat kembali kenangan masa lalu. Namun, dia tidak melarikan diri atau menangis; lebih tepatnya, dia merasakan ketakutan yang mendekati perasaan tersebut.

Mahiru yang menyadari bahwa dia tidak bisa tetap diam saat diajak bicara, keluar dari bayangan Amane dan menundukkan kepalanya dengan gerakan canggung. 

“... Selamat pagi, Ibunda. Aku senang melihatmu dalam keadaan baik.” 

“Ya, aku baik-baik saja. Tapi sepertinya kamu tidak dalam keadaan baik.” 

ia pantas dipuji karena tidak bertanya karena itu salah siapa. 

“Yah, ini memang salahku dan Satoshi, jadi tidak adil jika aku menyalahkan kalian. Tapi, pacarmu yang ada  di sana sebaiknya sedikit lebih menyembunyikan emosinya.”

“... Maafkan aku.” 

Meskipun tidak diucapkan, ekspresi di wajah Amane menunjukkan hal itu, dan Sayo memberikan nasihat dengan nada suara yang penuh keheranan, membuat Amane kembali mengatupkan bibirnya. 

Untungnya, Sayo tidak menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Mungkin lebih tepat untuk mengatakan bahwa Amane tidak dipandang sebagai setara. Tatapannya seakan menyiratkan seperti seorang anak yang sedang melakukan sesuatu. 

Dari informasi yang didapatkan Amane dari Mahiru, dirinya mendapat kesan kalau Sayo cukup sulit dihadapi, tapi setelah berbicara, meskipun ada kesan wajah dan cara berbicara yang keras, sikapnya tidak sepenuhnya keras. Dalam beberapa menit ini, kesan yang didapatkan lebih cenderung bersikap toleran. 

“Kamu tampak ingin mengatakan sesuatu. Jika ada yang ingin kamu katakan, silakan saja.” 

Berbeda dengan Satoshi yang pasti akan menjawab, Amane merasakan bahwa ada kemungkinan Mahiru tidak akan mengungkapkan satu pun dari apa yang ingin dia ketahui, tetapi dia terkejut melihat Sayo menunjukkan sikap terbuka untuk mendengarkan. 

Tidak ada nuansa permusuhan, tapi juga tidak ada nuansa positif. Sayo memberikan izin dengan datar, dan meskipun Amane ragu, dirinya mulai memikirkan apa yang ingin diketahui Satoshi dan mengungkapkannya. 

“Aku ingin mendengar ceritanya. Aku sudah mendengar banyak dari Satoshi-kun tentang hal itu.” 

“Wah, kamu sangat tamak, ya. Apa kamu memintaku untuk berbicara tentang hal yang belum aku ceritakan kepada Satoshi?” 

Meskipun Sayo tidak mengatakan bahwa dia akan menjawab, suaranya terdengar tajam. Namun, Amane sudah memperhitungkan kemungkinan ini. Kemungkinan untuk mendapatkan jawaban lebih kecil. 

“Jika ingin mendengarnya, bukannya anak itu yang lebih penasaran? Itu lebih bisa diterima.” 

“... Aku...” 

“Kamu ingin mengetahuinya? Jika kamu ingin mendengarnya, aku akan bercerita, tapi itu pasti bukan hal yang baik untukmu.” 

Pendapat Sayo sangat masuk akal, dan tidak ada kewajiban bagi Amane untuk menjawab pertanyaan yang diajukan secara sepihak. Namun, jika Mahiru yang merupakan putri kandung dan korban pengabaian yang ingin mendengarnya, maka situasinya berbeda. 

Dia memiliki hak untuk mengetahuinya. Dan Sayo juga bersedia untuk berbicara. 

Masalahnya terletak pada Mahiru sebagai pihak yang terlibat. 

Dia ingin tahu, tetapi dia juga tidak ingin mendengar dari Sayo, tidak ingin berada di dekatnya—perasaan itu terasa jelas, dan perasaan itu tercermin dalam tindakannya saat dia mundur selangkah. 

Tindakan itu mungkin tidak disadari. Namun, melihat mata Mahiru bergetar dan wajahnya yang memucat, Amane merasa bahwa membiarkan mereka berhadapan seperti ini tidak baik. Mendengarkan pembicaraan sama sekali tidak mungkin. 

“Mahiru. Apa kamu ingin mendengarnya?” 

“Aku...” 

“Maaf, aku akan mengubah cara bertanyaku. Apa kamu ingin mengetahuinya, tapi tidak perlu mendengarnya sendiri?” 

Jika itulah yang dia inginkan, dan jika diperbolehkan, Amane berniat menjadi perpanjangan tangan Mahiru dan membawa informasi yang dibutuhkan kembali untuknya.

Sekarang, Amane tidak yakin apakah Mahiru bisa menerima kata-kata Sayo dengan tenang. Jika kebenaran yang lebih kejam dari yang dibayangkan Amane dihadapkan pada Mahiru, ia takkan membiarkan adanya terjadi kesalahan. 

Meskipun tidak mungkin dia akan merasa putus asa, jelas bahwa ini bukanlah kejutan yang ingin dia terima secara langsung. Sepertinya Mahiru memahami niat Amane, dia mengangguk kecil dengan wajah pucat. Itu berarti dia setuju. 

Ketika Amane mengalihkan pandangannya kembali ke arah Sayo, Sayo memandangnya dengan cermat, tampak sedikit senang. 

“Jika diizinkan, aku akan mendengarkan mewakili Mahiru. Jika itu tidak memungkinkan, aku akan memilih untuk tidak mendengar. Bagaimana?” 

Jika Sayo mengatakan dia tidak akan berbicara, maka tidak ada yang bisa dilakukannya. Amane mencintai Mahiru apa adanya, tidak peduli dalam kondisi lingkungan seperti apa dia dibesarkan, dan itu bukan masalah besar baginya

Amane sudah tahu bahwa Mahiru telah mengalami pengabaian dalam pengasuhan dan telah menghabiskan waktu bersamanya tanpa masalah yang berarti. Dengan kata lain, selain dari aspek psikologis, ia tidak perlu mengetahui alasan di balik pengabaian Mahiru. 

Amane dan yang lainnya akan hidup dengan pemahaman itu. Setidaknya, fakta bahwa Mahiru tidak dicintai oleh orang tua mereka tidak dapat diubah, dan Amane akan terus mencintai dan menjaga Mahiru. Mahiru menerima hal itu dan merasa baik-baik saja. 

Amane mengamati bagaimana Sayo menerima tawaran ini— dirinya dengan waspada memperhatikan ekspresi Sayo yang menunjukkan tekad yang kuat, dan Sayo dengan ringan mengangguk sambil berkata, “Baiklah, tidak apa-apa.” 

Amane terkejut bahwa Sayo menerima dengan begitu mudahnya, tetapi Sayo tetap menatap Mahiru dengan tatapan tajam. 

“Jadi, kamu baik-baik saja dengan itu?” 

“...” 

Apa kamu benar-benar akan menyerahkan semuanya kepadanya?” 

Meskipun itu hanya sekedar konfirmasi, ada tekanan dalam suaranya yang membuat Mahiru terengah-engah, dan Amane tidak bisa menahan diri untuk melangkah maju dan menghalangi tatapan itu. 

“Tolong hentikan. Apa kamu tidak melihat bagaimana keadaannya?” 

“Aku bisa melihatnya. Sangat jelas. Dia benar-benar mirip seperti ayahnya, mengisolasi diri ketika merasa sedih.” 

Sayo mengucapkan kata-kata yang terdengar seperti sindiran kepada Mahiru, tapi tidak ada niat jahat dalam suara atau ekspresinya. Dengan sikap tegas, Amane tetap menghadap Sayo, meskipun wajah Mahiru tampak pucat. 

Memangnya karena ulah siapa yang membuat Mahiru seperti ini? Tolong jangan memberi tekanan yang berlebihan.” 

“Jangan terlalu garang begitu. Sesuai harapanmu, aku akan menyediakan teh. Itu tidak masalah, kan?” 

Meskipun ada keluhan, jika Amane pergi bersama Sayo, Mahiru akan terbebas dari tekanan. Jika perdebatan berlanjut, pembicaraan mungkin akan terhenti, jadi lebih baik untuk segera mengeluarkan Mahiru dari situasi ini. 

“Rupanya, sepertinya si idiot itu juga pernah minum teh bersama anak ini sebelunya, dan ia terlalu gampang terlena. Apa gunanya terus-menerus mengalihkan pandangan?” 

“Bukankah kamu juga mengalihkan pandanganmu?” 

Ara, ... fufu, mungkin itu benar?” 

Meskipun Amane mengatakan sesuatu yang jelas-jelas tidak menyenangkan baginya, Sayo tertawa dengan gembira dan mengucapkan kata-kata yang bisa ditafsirkan dengan berbagai cara, sambil mengamati reaksinya

Tatapan Sayo yang seolah-olah menilai, tetapi di sisi lain, tampak memiliki makna yang lebih positif. Setidaknya, itulah yang terlihat dari sudut pandang Amane. 

“Baiklah, demi pacarmu juga, aku tidak akan mengatakan apa-apa padamu. Pikirkanlah dengan baik-baik sendirian.” 

“Kamu...” 

Sayo mundur lebih cepat dari yang diperkirakan, dan dari sikapnya, tidak ada tanda-tanda ketertarikan terhadap Mahiru. Sepertinya dia tidak memiliki niat untuk menyerang Mahiru, dan lebih memilih untuk beralih perhatian kepada Amane. 

“Terlalu memanjakannya juga bukan ide yang bagus. Aku tahu kamu menyukainya, tetapi batasi sikap memanjakanmu dalam batas yang bisa kau tangani.” 

“Aku akan berada di sisinya dengan tekad dan tanggung jawab.” 

Gitu ya.” 

Kata-kata singkat yang dingin itu mencerminkan perasaan Sayo bahwa dia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Mahiru. 

“Mahiru, tunggu sebentar di rumahku. Aku bakalan baik-baik saja, oke?”

Mahiru yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa dia bukanlah objek yang menarik perhatian tetap terlihat pucat, tetapi itu jauh lebih baik daripada dipaksa melakukan sesuatu. 

Amane berharap Mahiru bisa mendapatkan ketenangan di rumahnya, jadi ia menggenggam tangan Mahiru dengan senyum lembut untuk menenangkannya, dan sedikit getaran di tubuh Mahiru perlahan-lahan mereda. 

Karena dia sedang bertahan menghadapi sosok yang bisa dibilang sumber traumanya, kondisi mental Mahiru sudah cukup seimbang, meskipun dia belum sepenuhnya sembuh untuk bisa berbicara secara langsung. 

“Baiklah, kalau begitu, aku akan meminjamnya dulu. Tidak apa-apa, kan?” 

“... Ya.” 

Mahiru mengangguk kecil, dan Sayo menunjukkan sedikit warna kekecewaan, tetapi perasaan apa yang sebenarnya dia miliki? 

Amane tahu bahwa tidak ada gunanya bertanya, jadi ia berkata, “Aku permisi,” dengan suara pelan dan melihat Mahiru yang membelakangi mereka menghilang ke dalam gedung apartemen. 

Sayo segera menelepon untuk mengatur mobil, dan dalam waktu kurang dari lima menit, mobil lain sudah berhenti di rotunda. 

“Silakan masuk. Aku tidak akan membawamu ke tempat yang aneh.” 

“Aku tidak khawatir tentang itu. ... Kita akan pergi mana?” 

“Kita akan pergi ke restoran yang merupakan bagian dari grup kami. Di sekitar sini, hanya tempat ini yang bisa diakses dengan bebas dan bisa mengusir orang-orang.” 

Seperti yang sudah diperkirakan, Sayo tampaknya memiliki jabatan yang cukup baik, dengan mudah mengatur tempat yang biasanya tidak dikunjungi Amane, dan berbicara tentang hal itu seolah-olah itu hal yang biasa. 

Mahiru pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah kekurangan uang, jadi bisa diperkirakan bahwa pendapatannya cukup untuk memberikan sedikit uang kepada putrinya tanpa merasa kesulitan, tetapi ternyata Sayo adalah wanita yang memiliki status lebih tinggi dari yang dibayangkan Amane

“Jika kamu tidak mau, kita bisa berbicara di sekitar sini, tapi jika kamu berteriak, itu akan menarik perhatian, kan?” 

“Apa kamu berniat membahas sesuatu yang membuatku berteriak?” 

“Sepertinya kamu tidak bisa tetap tenang ketika berkaitan dengan anak itu. Setidaknya, kamu memang menunjukkan sikap defensif, bukan?” 

Meskipun sulit untuk membantahnya, semua ini berawal dari tindakan Sayo dan Asahi, jadi tidak adil untuk meminta Amane menghilangkan kemarahannya. 

Mungkin Sayo bisa melihat perasaan Amane, dia melengkungkan bibirnya yang penuh dengan senyuman yang menggoda. 

“Menunjukkan permusuhan secara terbuka bukanlah tindakan yang bijaksana. Lebih baik memilih waktu dan tempat saat ingin menyerang.” 

“... Maaf atas kelancanganku.” 

“Yah, aku bukan orang yang berpikiran sempit sampai memarahi tindakan kurang sopan seorang anak, jadi mari kita anggap ini tidak terjadi.” 

Sambil berkata demikian, Sayo masuk ke dalam mobil tanpa memperhatikan reaksi Amane. Amane sejenak mengernyitkan dahi, tetapi dirinya menahan perasaannya dan mengikuti Sayo.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama