Chapter 4 — Pertemuan yang Tak Terelakkan
Keesokan
paginya, ketika Amane melihat wajah Satoshi, ia merasa
bahwa mata Satoshi sedikit kemerahan, tetapi Amane memilih untuk tidak
membahasnya dan hanya menyerahkan handuk sambil menyuruhnya untuk mencuci
muka.
Mungkin
Satoshi merasa gelisah setelah Amane tertidur,
tapi jika Satoshi tidak mengatakannya, maka itu
merupakan keputusan Satoshi sendiri dan sesuatu yang ingin
ia sembunyikan. Amane berniat menghormati keinginannya, jadi dirinya tidak mengatakan apa-apa.
“Terima
kasih banyak atas semuanya. Aku benar-benar minta maaf telah merepotkan.” Ucap Satoshi dengan sopan.
Setelah
sarapan, mereka melakukan perpisahan di luar pintu masuk, dan Satoshi dengan
sopan menundukkan kepala, sementara Amane dan Mahiru tersenyum samar. Mungkin
karena sudah satu malam berlalu, Mahiru juga terlihat jauh lebih tenang saat
mengantarkan mereka.
“Jangan
khawatir tentang menginap semalam.
Itu adalah keadaan yang tidak bisa dihindari.”
“Memang
ada itu, tapi kunjungan kali ini juga... Aku telah merepotkan Onee-san.”
“Sudah
terlambat untuk itu. Dan, aku lebih tenang sekarang dibandingkan yang kamu
pikirkan.”
“...
Terima kasih.”
Tidak ada
kesan berpura-pura kuat di dalam perkataan
Mahiru, dan dia sudah kembali ke keadaan normal. Amane merasa lega dan tersenyum
pada Satoshi yang terlihat sedikit formal.
“Satoshi-kun, tantangan sebenarnya baru dimulai setelah
kamu sampai di rumah.”
“Ya. ...
Tapi sebelum itu, aku harus cepat pulang sebelum ibu dan yang lainnya mengetahuinya.”
Meskipun
ia telah memberitahu bahwa dirinya
menginap di rumah teman, seorang ibu pasti akan khawatir tentang putranya dan
memperhatikan keluarga yang dituju.
Meskipun
saat ini ibunya tampaknya tidak ada di rumah, dia mungkin akan pulang lebih
awal. Seperti ayah Satoshi yang pernah melakukannya. Alibat kekhawatiran itu, Satoshi
tersenyum pahit dan berkata, “Seharusnya aku pergi lebih awal.”
Sekarang
sudah hampir pukul sebelas siang.
Satoshi
terlambat karena mencuci dan mengeringkan pakaiannya, tapi jika berangkat pada
waktu ini, masih dalam batas wajar untuk menginap.
“Sekali
lagi, terima kasih banyak atas bantuannya. ... Meskipun sulit untuk mengatakan 'sampai
jumpa lagi'.”
“Ya,
sebaiknya tidak ada pertemuan kedua demi kebaikan kita masing-masing.”
“... Itu
benar.”
Satoshi
tersenyum samar dengan nuansa pahit dan membungkuk dengan sopan sebelum
membelakangi mereka. Punggung kecilnya terlihat
sedikit lebih dapat diandalkan
dibandingkan saat dirinya datang,
dan Amane menyipitkan matanya.
Satoshi
berusaha pergi tanpa menyadari perasaan mendalam Amane, tetapi tiba-tiba dirinya berhenti.
Amane
mengira Satoshi melihat mobil yang masuk ke bundaran
apartemen dan ingin menghindar agar tidak mengganggu, tetapi situasinya
berbeda.
Ketika
Satoshi menoleh, ekspresinya dipenuhi dengan keterkejutan dan ketegangan.
Mahiru yang berada di sampingnya juga
langsung kaku.
Pintu
mobil tersebut terbuka, dan seorang wanita
dengan rambut cokelat yang halus turun dari kursi belakang. Wanita yang tampak penuh energi
dan berkeinginan kuat ini sudah dikenali Amane.
“Ibu,
kenapa?”
“Aku baru menyadarinya karena merasa
ada yang tidak beres. GPS ponselmu menunjukkan
lokasi aneh, jadi aku khawatir apakah kamu diculik.”
Wanita
itu menghela napas dengan jelas... Dia adalah Sayo, tokoh utama dalam
pembicaraan kemarin dan salah satu orang yang paling dihindari Mahiru. Suaranya
terdengar sedikit lelah dan terkejut saat dia mengungkapkan
kekhawatirannya.
Apa yang
dia katakan memang mencerminkan pengawasan, tetapi mengetahui lokasi anak
selama masa pendidikan dasar adalah hal yang tidak salah bagi orang tua. Kali
ini, itu hanya berujung pada situasi yang sangat buruk bagi Satoshi.
Tanpa
perlu berpikir keras, jelas sekali bahwa
Satoshi adalah anak dari keluarga yang cukup baik.
Untuk
menghindari terlibat dalam masalah atau insiden aneh, seharusnya dia
mempertimbangkan untuk mendapatkan informasi lokasi sebagai langkah pencegahan.
Alasan
mengapa Satoshi tidak menyadari hal ini bukan karena dirinya lupa, tetapi karena dirinya tidak tahu tentang GPS, dan
orang tuanya tidak mengganggu saat tidak perlu, sehingga ia tidak
mengetahuinya.
“Ketika
aku melihat tempat yang familiar, aku sempat
berpikir ada kemungkinan begitu. Ternyata kamu sangat
peduli.”
“... Maaf
karena aku pergi diam-diam.”
“Jadi,
kamu sampai berbohong, ya, Satoshi. Ya ampun...
seharusnya aku sudah memberitahumu dari awal, lagipula kamu sudah cukup
besar.”
“Kamu
sungguh anak yang merepotkan,” katanya
sambil tersenyum kecut,
tapi tidak ada warna kebencian dalam tatapannya, lebih terlihat seperti rasa jengkel terhadap dirinya sendiri. Ekspresi lembut itu sangat
berbeda dari yang pernah dia tunjukkan kepada Mahiru. Penuh kasih sayang layaknya seorang ibu.
Amane mendengar
suara kepalan tangan kecil di sampingnya.
“Aku tahu
apa yang ingin kamu tanyakan kepada mereka, bahkan tanpa harus bertanya. Dan juga, apa yang ingin kamu tanyakan
kepadaku.”
Setelah
mengetahui lokasi, dia pasti sudah memahami alasannya.
“Aku tidak
akan menjawab pertanyaanmu sekarang.”
Dia
bahkan memahami jawaban apa yang akan diberikan dan mendahului keinginan
Satoshi.
Satoshi
berniat untuk bertanya kepada Sayo tentang kebenaran saat pulang dan takut
hubungan mereka akan berubah, tapi itu semua bergantung pada jawaban Sayo. Jika Sayo tidak menjawab,
maka keputusan dan keraguan Satoshi tidak akan berarti apa-apa.
“Itu...”
“Aku
tidak mengatakan kalau aku
takkan menjawab. Tapi ini
bukanlah sesuatu yang seharusnya kita bicarakan di sini, kan?”
Baru pada saat itu, tatapan jelas diarahkan
ke arah mereka. Tepatnya, ke arah Mahiru.
Tatapan matanya yang menunjukkan kesan berbeda saat melihat
Satoshi, terlihat mengarah langsung pada Mahiru, dan Amane secara naluriah melindungi dirinya dengan tatapan
dingin.
Pandangan matanya menyipit karena Amane
menunjukkan ekspresi serius.
“Aku akan
menjawab pertanyaanmu setelah pulang dan tenang. Kamu
tidak keberatan dengan itu, ‘kan?”
“...
Ya.”
Tujuan
Satoshi adalah untuk mengetahui kebenaran. Jika hal itu
terjamin, maka tidak ada alasan baginya untuk menolak. Satoshi mengangguk dengan tulus,
dan Sayo terlihat puas sambil mengalihkan pandangannya
dan menghela napas pelan.
“Baiklah.
Kembali saja dulu.”
“Eh,
tapi...”
“Aku akan
pulang setelah mengucapkan terima kasih kepada kedua orang itu karena sudah
menjagamu. Oke?”
“Tapi,
itu...”
Satoshi
melihat ke arah mereka dengan khawatir, terutama ke arah Mahiru. Melihat
penampilannya yang pucat, jauh berbeda dari kemarin, ia mungkin menyadari bahwa
membiarkannya berbicara dengan Sayo bukanlag
perkara yang baik.
Sayo yang
melihat Satoshi khawatir tampak terkejut, tapi kali ini dia menghela napas
dalam-dalam, seolah mengeluarkan beban berat.
“Setidaknya
aku tidak akan melakukan apa-apa kepada mereka. Mereka adalah orang yang
membantu Satoshi. Kan?”
“... Aku
bisa mempercayai ibu, ‘kan?”
“Apa aku
pernah berbohong kepadamu?”
“Bukannya ibu selalu
berbohong sejak aku mempunyai kesadaran diri?”
“Ara, ... fufufu. Benar. Aku memang pembohong
besar, jadi Satoshi benar. Baiklah, aku berjanji. Aku tidak akan membahayakan
kedua orang ini. Setelah pulang, aku akan menjawab pertanyaan Satoshi
semampuku. Apa itu baik-baik saja?
... Aku tidak pernah melanggar janji, kan?”
“...
Ya.”
Dia sama
sekali tidak tampak tersinggung oleh sedikit pembangkangan Satoshi; sebaliknya, dia menertawakannya
dengan geli dan senang, pemandangan yang akan membuat
siapapun akan menganggapnya sebagai seorang ibu.
Mungkin
ini semacam tindakan percobaan, tetapi Satoshi merasa lega karena diterima
dengan mudah, dan mungkin karena itu sosok ibunya yang biasa ia kenal. Dirinya mengangguk pelan dan berlari
kecil menuju Sayo.
Melihat pemandangan itu, Mahiru menarik lengan
baju Amane dengan lembut, mendekat dengan cara yang ragu dan tak berdaya. Meskipun hanya melihat
wajah Mahiru dari atas saat dirinya
menunduk, Amane bisa membayangkan bahwa ekspresinya termasuk dalam kategori
kesedihan dari berbagai emosi yang ada.
“Jadi,
sampai jumpa lagi. Tidak apa-apa, tidak akan terjadi seperti yang kamu
bayangkan.”
Sayo
menempatkan Satoshi di dalam mobil yang dia naiki, kemudian memberi instruksi
singkat kepada sopir, “Antarkan anak ini
pulang.”
Dari
jendela kursi belakang, Amane melihat wajah Satoshi yang tampak khawatir, jadi
dirinya tersenyum untuk menenangkan
Satoshi, dan Satoshi sepertinya menerima isyarat bahwa Mahiru akan dijaga
dengan anggukan kecil.
Mobil itu segera menghilang dari bundaran apartemen, dan ketika
bayangannya tidak terlihat lagi, Sayo kembali menghadap mereka. Amane kembali merasakan tekanan darinya. Meskipun ada sedikit kesamaan
dengan Mahiru, perbedaan yang mencolok adalah jenis suasananya.
Mahiru
memiliki aura yang lembut, kuat, dan fleksibel, meskipun terkesan
sederhana.
Sebaliknya,
Sayo memiliki kehadiran yang sangat kuat hanya dengan keberadaannya, meskipun
dia juga memiliki kelembutan, dia memiliki suasana yang berat dan keras seperti
logam.
Sekilas,
mereka tidak terlihat seperti ibu dan anak. Hanya jika diperhatikan lebih
dekat, mungkin ada sedikit kemiripan di wajah mereka.
Tekanan
intens dan menusuk yang membuat Mahiru terdiam dan merasa terintimidasi sedikit
mereda ketika Sayo menghela
napas panjang.
“Aku
tidak pernah menyangka dia akan benar-benar datang
mengunjungi tempatmu.”
Suara
yang ditujukan kepada Mahiru terdengar lebih datar dari yang diharapkan.
“Anak itu
benar-benar merepotkan. Ketika aku mendengar dari Rei, aku tidak mempercayainya. Ternyata ia mewarisi semangat
dari Rei.”
Rei,
sepertinya nama itu merujuk
pada ayah Satoshi.
Mungkin
saat itu Rei sudah merasakan sesuatu. Jika ia mengetahui lokasi Satoshi melalui GPS, ia pasti menyadari, dan mungkin ia
juga bisa menebak bahwa anaknya
berada di sini, sehingga ia berbicara seperti itu.
“Baiklah,
tidak apa-apa. Pertama-tama, terima kasih. Aku berterima kasih karena telah
menjaga anak itu. Pasti merepotkan karena ia
tiba-tiba datang.”
Dengan
sikap yang tampaknya tidak memiliki niat baik atau buruk, Sayo menundukkan
kepala sedikit, tapi Amane tidak akan mengabaikan kewaspadaan. Hanya saja, ia
tidak ingin bersikap terlalu defensif, jadi ia tetap tersenyum ramah dan
menggelengkan kepala.
“Itu sama sekali tidak
merepotkan. Lagipula, itu
keputusan kami untuk menerimanya.
Jadi, jangan khawatir.”
“Oh
begitu. Kamu serius, ya? Aku sudah menduga.”
“... Aku
akan menganggapnya sebagai pujian.”
“Terserah.”
Dari
pernyataan bahwa dia sudah menduga, jelas bahwa Sayo telah membaca laporan
dengan baik, dan mungkin dia juga telah menyelidiki latar belakang Amane.
Meskipun hal itu
membuatnya sedikit tidak nyaman, tapi Amane tidak menunjukkan perasaan
tersebut.
“...
Jadi, bagaimana denganmu?”
Pertanyaan
yang terlambat diajukan membuat Mahiru sedikit terkejut.
Mahiru
pernah mengatakan bahwa dia tidak menganggap Sayo sebagai orang tuanya lagi, tetapi tampaknya dia masih
merasakan penolakan yang kuat untuk bertemu langsung dengan Sayo, mungkin
mengingat kembali kenangan masa lalu. Namun, dia tidak melarikan diri atau
menangis; lebih tepatnya, dia merasakan ketakutan yang mendekati perasaan
tersebut.
Mahiru
yang menyadari bahwa dia tidak bisa tetap diam saat diajak bicara, keluar dari
bayangan Amane dan menundukkan kepalanya dengan gerakan canggung.
“...
Selamat pagi, Ibunda. Aku senang melihatmu dalam keadaan
baik.”
“Ya, aku
baik-baik saja. Tapi sepertinya kamu tidak dalam keadaan baik.”
ia pantas
dipuji karena tidak bertanya karena itu salah siapa.
“Yah, ini
memang salahku dan Satoshi, jadi tidak adil jika aku menyalahkan kalian. Tapi,
pacarmu yang ada di sana sebaiknya sedikit lebih menyembunyikan
emosinya.”
“...
Maafkan aku.”
Meskipun
tidak diucapkan, ekspresi di wajah Amane menunjukkan hal itu, dan Sayo
memberikan nasihat dengan nada suara yang penuh keheranan, membuat Amane
kembali mengatupkan bibirnya.
Untungnya,
Sayo tidak menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Mungkin lebih tepat untuk
mengatakan bahwa Amane tidak
dipandang sebagai setara. Tatapannya seakan menyiratkan seperti
seorang anak yang sedang melakukan sesuatu.
Dari
informasi yang didapatkan Amane dari Mahiru, dirinya mendapat kesan kalau Sayo cukup sulit dihadapi,
tapi setelah berbicara, meskipun ada kesan wajah dan cara berbicara yang keras,
sikapnya tidak sepenuhnya keras. Dalam beberapa menit ini, kesan yang
didapatkan lebih cenderung bersikap toleran.
“Kamu
tampak ingin mengatakan sesuatu. Jika ada yang ingin kamu katakan, silakan saja.”
Berbeda
dengan Satoshi yang pasti akan menjawab, Amane merasakan bahwa ada kemungkinan
Mahiru tidak akan mengungkapkan satu pun dari apa yang ingin dia ketahui,
tetapi dia terkejut melihat Sayo menunjukkan sikap terbuka untuk
mendengarkan.
Tidak ada
nuansa permusuhan, tapi juga tidak ada nuansa positif. Sayo memberikan izin
dengan datar, dan meskipun Amane ragu, dirinya
mulai memikirkan apa yang ingin diketahui Satoshi dan mengungkapkannya.
“Aku
ingin mendengar ceritanya. Aku
sudah mendengar banyak dari Satoshi-kun
tentang hal itu.”
“Wah,
kamu sangat tamak, ya. Apa
kamu memintaku untuk berbicara tentang hal yang belum aku ceritakan kepada Satoshi?”
Meskipun
Sayo tidak mengatakan bahwa dia akan menjawab, suaranya terdengar tajam. Namun,
Amane sudah memperhitungkan kemungkinan ini. Kemungkinan untuk mendapatkan
jawaban lebih kecil.
“Jika ingin mendengarnya, bukannya anak itu yang lebih penasaran? Itu
lebih bisa diterima.”
“...
Aku...”
“Kamu
ingin mengetahuinya? Jika kamu ingin mendengarnya, aku akan bercerita, tapi itu
pasti bukan hal yang baik untukmu.”
Pendapat
Sayo sangat masuk akal, dan tidak ada kewajiban bagi Amane untuk menjawab pertanyaan
yang diajukan secara sepihak. Namun,
jika Mahiru yang merupakan putri kandung dan korban pengabaian yang ingin
mendengarnya, maka situasinya berbeda.
Dia
memiliki hak untuk mengetahuinya. Dan Sayo juga bersedia untuk
berbicara.
Masalahnya
terletak pada Mahiru sebagai pihak yang
terlibat.
Dia ingin
tahu, tetapi dia juga tidak
ingin mendengar dari Sayo, tidak ingin berada di dekatnya—perasaan itu terasa
jelas, dan perasaan itu tercermin dalam tindakannya saat dia mundur
selangkah.
Tindakan
itu mungkin tidak disadari. Namun, melihat mata Mahiru bergetar dan wajahnya yang memucat, Amane merasa bahwa
membiarkan mereka berhadapan seperti ini tidak baik. Mendengarkan pembicaraan
sama sekali tidak mungkin.
“Mahiru.
Apa kamu ingin mendengarnya?”
“Aku...”
“Maaf,
aku akan mengubah cara bertanyaku.
Apa kamu ingin mengetahuinya, tapi tidak perlu mendengarnya
sendiri?”
Jika itulah yang dia inginkan, dan jika diperbolehkan,
Amane berniat menjadi perpanjangan tangan Mahiru dan membawa informasi yang
dibutuhkan kembali untuknya.
Sekarang,
Amane tidak yakin apakah Mahiru bisa menerima kata-kata Sayo
dengan tenang. Jika kebenaran yang lebih kejam dari yang dibayangkan Amane
dihadapkan pada Mahiru, ia takkan membiarkan adanya
terjadi kesalahan.
Meskipun
tidak mungkin dia akan merasa putus asa, jelas bahwa ini bukanlah kejutan yang
ingin dia terima secara langsung. Sepertinya
Mahiru memahami niat Amane, dia mengangguk kecil dengan wajah pucat. Itu
berarti dia setuju.
Ketika
Amane mengalihkan pandangannya
kembali ke arah Sayo,
Sayo memandangnya dengan cermat, tampak
sedikit senang.
“Jika
diizinkan, aku akan mendengarkan mewakili Mahiru. Jika itu tidak memungkinkan, aku akan memilih untuk tidak
mendengar. Bagaimana?”
Jika Sayo
mengatakan dia tidak akan berbicara, maka tidak ada yang bisa dilakukannya. Amane mencintai Mahiru apa
adanya, tidak peduli dalam kondisi lingkungan seperti apa dia dibesarkan, dan
itu bukan masalah besar baginya.
Amane
sudah tahu bahwa Mahiru telah mengalami pengabaian dalam pengasuhan dan telah
menghabiskan waktu bersamanya tanpa masalah yang berarti. Dengan kata lain, selain dari
aspek psikologis, ia tidak
perlu mengetahui alasan di balik pengabaian Mahiru.
Amane dan
yang lainnya akan hidup dengan pemahaman itu. Setidaknya, fakta bahwa Mahiru tidak dicintai oleh orang tua
mereka tidak dapat diubah, dan Amane akan terus mencintai dan menjaga Mahiru.
Mahiru menerima hal itu dan merasa baik-baik saja.
Amane
mengamati bagaimana Sayo menerima tawaran ini—
dirinya dengan waspada memperhatikan ekspresi Sayo yang
menunjukkan tekad yang kuat, dan Sayo dengan ringan mengangguk sambil berkata,
“Baiklah, tidak apa-apa.”
Amane
terkejut bahwa Sayo menerima dengan begitu mudahnya, tetapi Sayo tetap menatap
Mahiru dengan tatapan tajam.
“Jadi,
kamu baik-baik saja dengan itu?”
“...”
“Apa kamu benar-benar akan
menyerahkan semuanya kepadanya?”
Meskipun
itu hanya sekedar konfirmasi, ada tekanan dalam
suaranya yang membuat Mahiru terengah-engah, dan Amane tidak bisa menahan diri
untuk melangkah maju dan menghalangi tatapan itu.
“Tolong hentikan. Apa kamu tidak melihat
bagaimana keadaannya?”
“Aku bisa melihatnya. Sangat jelas. Dia
benar-benar mirip seperti
ayahnya, mengisolasi diri ketika merasa sedih.”
Sayo
mengucapkan kata-kata yang terdengar seperti sindiran kepada Mahiru, tapi tidak
ada niat jahat dalam suara atau ekspresinya. Dengan sikap tegas, Amane tetap
menghadap Sayo, meskipun wajah Mahiru tampak pucat.
“Memangnya karena ulah siapa yang
membuat Mahiru seperti ini? Tolong jangan memberi tekanan yang
berlebihan.”
“Jangan
terlalu garang begitu. Sesuai
harapanmu, aku akan menyediakan teh. Itu tidak masalah, kan?”
Meskipun
ada keluhan, jika Amane pergi bersama Sayo, Mahiru akan terbebas dari tekanan.
Jika perdebatan berlanjut, pembicaraan mungkin akan terhenti, jadi lebih baik
untuk segera mengeluarkan Mahiru dari situasi ini.
“Rupanya,
sepertinya si idiot
itu juga pernah minum teh
bersama anak ini sebelunya, dan ia terlalu gampang terlena. Apa gunanya
terus-menerus mengalihkan pandangan?”
“Bukankah
kamu juga mengalihkan pandanganmu?”
“Ara, ... fufu, mungkin itu benar?”
Meskipun Amane mengatakan sesuatu yang jelas-jelas tidak menyenangkan
baginya, Sayo tertawa dengan gembira dan mengucapkan kata-kata yang bisa
ditafsirkan dengan berbagai cara, sambil mengamati reaksinya.
Tatapan
Sayo yang seolah-olah menilai, tetapi di sisi lain, tampak memiliki makna yang
lebih positif. Setidaknya, itulah yang
terlihat dari sudut pandang Amane.
“Baiklah,
demi pacarmu juga, aku tidak akan
mengatakan apa-apa padamu. Pikirkanlah dengan baik-baik sendirian.”
“Kamu...”
Sayo
mundur lebih cepat dari yang diperkirakan, dan dari sikapnya, tidak ada tanda-tanda ketertarikan terhadap Mahiru.
Sepertinya dia tidak memiliki niat untuk menyerang Mahiru, dan lebih memilih
untuk beralih perhatian kepada Amane.
“Terlalu
memanjakannya juga bukan ide yang bagus. Aku tahu kamu menyukainya, tetapi batasi
sikap memanjakanmu dalam batas yang bisa kau tangani.”
“Aku akan
berada di sisinya dengan tekad dan tanggung jawab.”
“Gitu ya.”
Kata-kata
singkat yang dingin itu mencerminkan perasaan Sayo
bahwa dia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Mahiru.
“Mahiru,
tunggu sebentar di rumahku. Aku bakalan baik-baik saja,
oke?”
Mahiru
yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa dia bukanlah objek yang menarik
perhatian tetap terlihat pucat, tetapi itu jauh lebih baik daripada dipaksa
melakukan sesuatu.
Amane
berharap Mahiru bisa mendapatkan ketenangan di rumahnya, jadi ia menggenggam tangan
Mahiru dengan senyum lembut untuk menenangkannya, dan sedikit getaran di tubuh
Mahiru perlahan-lahan mereda.
Karena
dia sedang bertahan menghadapi sosok yang bisa dibilang sumber traumanya, kondisi mental Mahiru sudah
cukup seimbang, meskipun dia belum sepenuhnya sembuh untuk bisa berbicara
secara langsung.
“Baiklah, kalau begitu, aku akan meminjamnya dulu. Tidak apa-apa, kan?”
“...
Ya.”
Mahiru
mengangguk kecil, dan Sayo menunjukkan sedikit warna kekecewaan, tetapi perasaan
apa yang sebenarnya dia miliki?
Amane
tahu bahwa tidak ada gunanya bertanya, jadi ia berkata, “Aku permisi,” dengan suara pelan dan
melihat Mahiru yang membelakangi mereka menghilang ke dalam gedung
apartemen.
Sayo
segera menelepon untuk mengatur mobil, dan dalam waktu kurang dari lima menit,
mobil lain sudah berhenti di rotunda.
“Silakan masuk. Aku tidak akan membawamu ke
tempat yang aneh.”
“Aku
tidak khawatir tentang itu. ... Kita akan
pergi mana?”
“Kita
akan pergi ke restoran yang merupakan bagian dari grup kami. Di sekitar sini,
hanya tempat ini yang bisa diakses dengan bebas dan bisa mengusir
orang-orang.”
Seperti
yang sudah diperkirakan, Sayo tampaknya memiliki jabatan
yang cukup baik, dengan mudah mengatur tempat yang biasanya tidak dikunjungi
Amane, dan berbicara tentang hal itu seolah-olah itu hal yang biasa.
Mahiru
pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah kekurangan
uang, jadi bisa diperkirakan bahwa pendapatannya cukup untuk memberikan sedikit
uang kepada putrinya tanpa merasa kesulitan, tetapi ternyata Sayo adalah wanita
yang memiliki status lebih tinggi dari yang dibayangkan Amane.
“Jika
kamu tidak mau, kita bisa berbicara di sekitar sini, tapi jika kamu berteriak,
itu akan menarik perhatian, ‘kan?”
“Apa kamu
berniat membahas sesuatu yang membuatku berteriak?”
“Sepertinya
kamu tidak bisa tetap tenang ketika berkaitan
dengan anak itu. Setidaknya, kamu memang menunjukkan
sikap defensif, bukan?”
Meskipun
sulit untuk membantahnya, semua
ini berawal dari tindakan Sayo dan Asahi, jadi tidak adil untuk meminta Amane
menghilangkan kemarahannya.
Mungkin
Sayo bisa melihat perasaan Amane, dia melengkungkan bibirnya yang penuh dengan
senyuman yang menggoda.
“Menunjukkan
permusuhan secara terbuka bukanlah tindakan yang bijaksana. Lebih baik memilih
waktu dan tempat saat ingin menyerang.”
“... Maaf atas kelancanganku.”
“Yah, aku
bukan orang yang berpikiran sempit sampai
memarahi tindakan
kurang sopan seorang anak, jadi mari kita anggap ini tidak
terjadi.”
Sambil
berkata demikian, Sayo masuk ke dalam mobil tanpa memperhatikan reaksi Amane.
Amane sejenak mengernyitkan dahi, tetapi dirinya
menahan perasaannya dan mengikuti Sayo.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
