Shibo End Vol 2 Chapter 4 Bahasa Indonesia

Chapter 4 — Harusora Hibise

 

……Apa sih yang sedang kulakukan……

Bunyi berderik gerbong kereta terdengar teratur. Aku terbenam di bangku panjang, dengan tangan disilangkan, mengangkat dagu, dan menyandarkan kepala pada jendela dingin. Pemandangan di luar jendela mengalir monoton dan membosankan.

Demi menjaga ketenangan pikiran, aku menatap kosong ke atas dan menghela napas. Iklan di langit-langit bertuliskan, “Seminar Sekolah — Pendaftaran Sedang Dibuka!

Meskipun aku sudah tidak terlibat lagi dengan ujian masuk universitas, aku merasa malu karena di dalam hati berbisik, Semangat ya pada diriku sendiri

── Ini sudah keterlaluan dalam menghindari kenyataan.

"Uuh…… tidak, bukan begitu. Aku tidak berselingkuh……!"

Tanpa sengaja aku mengatakannya dengan keras.

Akhir-akhir ini, tatapan Satsuki dan yang lainnya menjadi sangat tajam. Atau lebih tepatnya, aku benar-benar dicurigai.

── Karena berselingkuh.

Keraguan itu menyebar di seluruh rumah kami. Yang paling aneh adalah perilaku keempat orang itu justru semakin aneh.

Reine yang menyatakan kalau dirinya ingin menjadi idola, berlatih tersenyum di depan cermin di kamarnya, mencari kostum berwarna cerah di Amazon, dan menunjukkan padaku sambil bertanya, "Ini cocok enggak? Kamarnya sudah mirip seperti ruang tunggu di teater.

Satsuki mulai memilih pakaian yang anehnya seksi melulu, memperlihatkan bahu, punggungnya dengan berani, dan berdandan lebih tebal, berpura-pura menjadi wanita dewasa.

Gerakan dan senyumannya mengingatkanku pada Hisui-san dan jujur saja, itu membuat jantungku berdebar.

Shino telah mengumumkan niatnya untuk menjadi biarawati.

……Aku tidak mengerti maksudnya.

Dia hanya mengatakan sesuatu seperti, Aku akan mengakhiri segala keinginan duniawiku, dan kemudian, menyadari bahwa kebahagiaan adalah ajaran tertinggi Buddha, dia menguras semua energiku..

Sejujurnya, aku tidak mengerti pelatihan macam apa itu.

Dan yang paling menakutkan adalah Shuna. Hebatnya, Shuna berhenti dari semua pengeluaran dan perjudian, dan mulai belajar untuk ujian PNS.

Ketika aku bertanya alasannya, dia hanya berkata, Kesederhanaan dan ketekunan adalah tren zaman sekarang, tanpa memberitahuku alasan sebenarnya.

……Dikatakan bahwa meteor akan jatuh lebih menakutkan.

Aku tahu……

Penyebab perilaku aneh mereka semua karena salahku. Atau lebih tepatnya, keberadaanku bersama Hibise mungkin sudah terungkap. Karena itulah, tidak mengherankan jika aku dicurigai berselingkuh.

Tapi, kali ini ada alasan yang tidak bisa kujelaskan kepada mereka. Tidak peduli seberapa banyak mereka mencurigaiku, seberapa pun salah pahamnya mereka──.

Aku tidak bisa melibatkan Satsuki dan yang lainnya.

Karena ini berkaitan tentang LoD.

"Ada apa, Satoshi-senpai? Mau makan Pocky?"

Aku tiba-tiba tersadar kembali pada kenyataan. Di sampingku, Hibise menatapku dengan mata berbinar sambil mengigit Pocky di mulutnya.

……Tidak, wajahmu terlalu dekat.

Aku tidak bisa menahan diri untuk menghela napas.

……Kita sedang di dalam kereta.

Aku juga tidak akan melakukan hal seperti ini jika ada banyak orang. Sekarang sedang sepi ya ‘kan?”

Memang, di dalam gerbong itu sangat sepi. Hanya pemandangan yang mengalir di luar jendela.

……Tapi itu tidak menjadi alasan untuk mendekat sambil menggigit Pocky.

Mm……

Hibise mengulurkan bagian Pocky yang tidak ada cokelatnya ke arahku. 

Mm~!

Dia menggerak-gerakkannya dengan penuh percaya diri. Tatapan matanya berbinar, seolah-olah menantikan sesuatu. Pipinya sedikit memerah. Sepasang mata birunya yang indah menembus mataku dengan tajam. 

── Ahh~, jadi begitu rupanya

Aku menggenggam batang Pocky dan dengan tenang mematahkannya di tengah. 

Terima kasih atas makanannya. 

Aku langsung memasukkannya ke dalam mulut. Rasa manis cokelat menyebar, dan gula mengalir ke otakku. Perasaan murung yang kurasakan seketika lenyap. 

Gula memang luar biasa. 

“O-Oi, oi, oi,oi, apa yang sedang kamu lakukan!?

Hibise membeku di sampingku dengan wajah merah padam. Matanya berkedip-kedip, mulutnya bergerak-gerak. Memangnya dia ikan mas? 

Apa aku tidak boleh memakannya? 

Tidak, itu boleh dimakan, tapi ada etika atau semacam ritual, atau template…… 

Suara Hibise semakin mengecil. Sambil memainkan poni rambutnya, wajahnya merah padam seperti apel. Kenapa dia begitu malu……? 

Aku sudah pernah bilang sebelumnya, kamu seharusnya jangan melakukan hal seperti itu sembarangan. Nanti dianggap permainan Pocky.

……Akan aku hati-hati....

Aku memperingatkan sambil mengangkat bahu, tapi dia sepertinya tidak belajar dari kesalahannya. Hibise benar-benar punya masalah dengan jarak pribadi. Dia baru saja meraih bahuku seolah itu hal yang paling alami di dunia, dan mendekat hingga hampir menyentuh pipiku. 

Jika bukan aku, seseorang pasti akan salah paham

Wajahnya juga cantik (meski sangat disayangkan), dan saat dia tertawa, dia terlihat sangat imut (meski sangat disayangkan), jika melakukan hal-hal yang dekat seperti itu, pasti banyak anak laki-laki yang akan salah paham (meski sangat disayangkan)

Namun, dia sama sekali tidak menyadari hal itu. 

Sungguh disayangkan…… 

Sepertinya aku merasa sedikit diremehkan?

“Mungkin itu hanya perasaanmu saja.

Karena merasa dia akan membaca pikiranku, aku berdehem dan mengalihkan perhatian. 

Karena ada Satsuki dan yang lainnya, mana mungkin aku bakalan salah paham dengan keisengan Hibise. Sayang sekali. 

Karena kami sudah cukup lama bersama, mungkin aku sudah kebal. 

……Tiba-tiba aku merasa marah. Boleh aku serius?

Hibise menatapku dengan urat-urat menonjol di dahinya. 

── Aku ingin kamu tahu satu hal ini, Hibise.

Ya? 

Dengan senyum pahit, aku merangkai kata-kata. 

Jika aku kalah pada rayuan Hibise── Satsuki dan yang lainnya akan memberi cinta berlebihan selama seminggu. 

Begitu ya, maaf…… Hiks.

Ada yang kamu katakan? 

“Bukan apa-apa!" 

Sambil mengembungkan pipinya seolah-olah berusaha tegar, dia mengenakan headphone. Rambut pirangnya berayun mengikuti goyangan kereta. Hibise adalah gadis yang baik hati. Aku sudah merasakannya selama waktu yang cukup lama. 

Mengeluh tentang kehidupan haremku dengan empat orang itu pasti sangat merepotkan, tetapi dia selalu mendengarkan dengan serius. Tanpa mengejek, tanpa tertawa, hanya menerimaku di sampingnya. 

Dia mendengarkan seolah-olah merasa kasihan padaku, dengan ekspresi yang benar-benar prihatin. 

Mm?

Getaran merambat di dalam kereta. Suara rem yang nyaring terdengar, dan bodi kereta bergetar hebat. Jantungku terasa sedikit terangkat. Ketika suara logam berderak mereda, hawa panas langsung mengalir masuk. 

“Kita sudah sampai?

“Kelihatannya begitu~”

Stasiun tujuan. Ketika turun dari peron, keramaian di pintu timur dan pintu barat sangat berbeda. Dari yang kudengar, sewa tempat tinggal juga hampir tiga kali lipat perbedaannya. Dikatakan bahwa stasiun ini dibangun menyerupai Stasiun Tokyo, tapi terasa agak mengecewakan. Dinding bata merah menyerap sinar matahari, mengeluarkan panas perlahan. 

Mm~ sudah lama tidak mampir kemari ya~ 

Hibise mengaitkan tangannya di belakang kepala dan menatap langit. Rambut pirangnya lengket di tengkuk karena keringat, memantulkan cahaya. 

Ketika kami menyusuri jalan di depan stasiun, pantulan aspal semakin kuat. Angin dari lonceng yang tergantung di pintu masuk pasar tampaknya bergetar lemah, seolah menyerah pada panas. 

Banyak yang berubah, ya?

“Masa~? Aku sudah tidak kemari selama lebih dari dua tahun, tetapi sepertinya tidak banyak yang berubah. 

“Hee~ begitu ya~?

Hibise berjalan sambil melihat sekeliling. Aku tidak bisa menahan diri untuk ikut berkomentar. 

Ya, mungkin saja itu salah ingatanku.

Sebenarnya aku datang ke sini bulan lalu.

Aku menggenggam pita Hibise. 

Kembalikan perhatianku. 

“Aduh, aduh, aduh! Jangan menarik pitaku! Aku cuma bercanda! Aku hanya ingin membuatmu lebih santai karena aku melihatmu tegang! 

Sambil menggerutu di dalam hati, aku menghela napas. Akhirnya, setelah melewati kawasan perbelanjaan, sebuah persimpangan yang familiar muncul. Aspal terasa panas, dan ilusi panas yang menjulang dari tanah membuat pemandangan terlihat melengkung. 

──Kita sudah sampai.

……Iya.

Ketika aku melihat jalan di depan, di sana berdiri megah sebuah sekolah. 

Tidak kusangka, aku akan kembali ke sini……

Jalanan telah sepenuhnya diperbaiki, tidak ada jejak darah atau bekas ban yang terbakar. Tempat di mana aku dan Hibise berdiri ini adalah akhir dari LoD, tempat di mana aku── Iriya Satoshi dan Satsuki serta Gadis Elok Empat Arah seharusnya sudah hancur di sini. 

Apa kamu merasa nostalgia? 

Hibise mengintip wajahku. Rambut emasnya yang basah keringat berkilau terkena sinar matahari. 

Ya, sedikit……

Sebagian besar kenangan itu adalah kenangan yang ingin kulupakan. Setiap hari, ketakutan yang tercatat di dalam Buku Harian, seolah-olah menghitung kematianku sendiri. 

Mengetahui bahwa semua usahaku sia-sia, tetapi tetap berjuang melawan perasaan hampa. Kesunyian yang terasa seperti tenggelam ke dalam permukaan air setelah rasa sakit yang menyengat. 

Meski begitu, kenyataan bahwa aku mampu memciptakan celah di dunia──bahwa aku mampu menyelamatkan Satsuki dan yang lainnya adalah hal yang paling menyelamatkan. 

Sebagai bonus, aku juga selamat. 

……Jadi, skenario akhir pemusnahan dalam LoD berakhir di sini, ya. 

Hibise mengeluarkan ponselnya, memeriksa layar, lalu menutupnya dengan tenang. Kemudian, dia tersenyum seolah menata napasnya. 

Terima kasih telah ikut bersamaku.

Hibise menundukkan kepala. 

Jangan khawatir. Ini sudah menjadi kontrak.

Aku membalas dengan singkat, dan Hibise tersenyum lembut. Tidak perlu kata-kata lebih. 

Kalau begitu, mari kita pergi!

Ya……

Setiap kali sol sepatuku menginjak aspal, panas terasa meresap ke telapak kaki. Suara lonceng angin bergemerincing terdengar lagi dari kejauhan.

 

◇◇◇◇

 

Bunyi guyuran hujan yang mengetuk jendela semakin lama semakin keras. Pemandangan di luar menjadi abu-abu, dan seluruh dunia tampak tenggelam dalam lapisan air yang samar. 

Anak-anak SD yang terlihat melalui kaca mengenakan topi sekolah, berputar-putar dengan payung seolah-olah sedang berperang. Suara kering saat tulang payung bertabrakan seolah bisa terdengar. Mampu tertawa meskipun basah kuyup adalah hak istimewa anak-anak. 

Sebaliknya, suasana di dalam kafe begitu tenang dan hangat. Suara biji kopi yang digiling, aroma pahit kopi. Permukaan cairan hitam dalam gelasku bergetar, memantulkan cahaya dari lampu, bersinar. 

──

“Hmm, hmm~hmmm~♪

Harusora Hibise menyanyikan lagu ceria sambil tanpa henti menambahkan banyak gula ke dalam gelasnya. Setiap kali dia mengaduk dengan sedotan, es di dalam gelas berbunyi pelan. 

Dia meminumnya secara perlahan. 

Pada saat itu, dia melepas ketegangan di bahunya dan menghela napas. 

Wajahmu seakan menyuruhku untuk segera melanjutkan cerita, ya~ 

Ya…… aku tidak menyangkal.

Mendengar nama Sano Yuuto saja, aku tidak terkejut. Namun, kata-kata berikutnya jelas-jelas tidak bisa kuterima. 

……Apa maksudnya dengan heroine kelima di LoD?

Hibise seolah mengabaikan pertanyaanku dan mengambil sendok dari piring di sampingnya yang berisi jelly kopi edisi terbatas. 

Uhm, enak sekali~! 

Dia berseru dengan suara yang lembut dan menggoda. Sendok itu dibawa ke dalam mulutnya, dan dia sedikit menyipitkan mata. Gerakannya menunjukkan kepolosan yang tampaknya tidak ada hubungannya dengan percakapan saat ini. 

Akhirnya, dia mengusap mulutnya dengan serbet dan tersenyum. 

“Maksudnya ya secara harfiah~. Aku adalah heroine kelima di LoD── Harusora Hibise. 

Saat kata-kata itu diucapkan di tengah suara hujan, suasana di dalam toko terasa lebih berat. 

……Mana mungkin ada orang seperti itu. 

Kata-kata yang keluar secara refleks mengandung lebih banyak kekasaran daripada yang kuharapkan. Dadaku terasa panas, dan kata-kataku terus mengalir tanpa henti. 

LoD adalah permainan simulasi kencan di mana Sano Yuuto menggaet Gadis Elok Empat Arah. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada yang namanya heroine kelima. 

Secara naluriah aku mengencangkan cengkeramanku pada meja. Es di gelasku berbunyi lembut. Tidak ada orang yang memainkan LoD dengan serius sebanyak diriku

Semua CG yang berbeda sudah terkumpul. Gambar, musik, dan dialog semuanya sudah terpatri di dalam ingatanku. Apa aku yang telah menghabiskan ratusan jam di dunia itu melewatkan heroine kelima? 

Itu mustahil

Ketika aku menatap tajam Hibise, dia mengernyitkan alisnya seolah-olah ingin menerima tatapanku secara langsung. 

Yah, apa boleh buat. Aku juga tidak bisa mengatakan lebih dari itu~ 

Nada suaranya tenang, seakan-akan dia hanya menyatakan sebuah fakta. Tidak ada kesombongan atau kegelisahan dalam nada bicaranya. Hibise mengangkat sendoknya dengan lembut dan menunjukannya ke arahku seperti seorang guru yang memegang penggaris

“Pertama-tama, aku sudah mengetahui kalau Satoshi-senpai dan yang lainnya adalah karakter dalam LoD── karakter dalam permainan, bukannya ini bisa dijadikan bukti? 

Itu……

Aku terdiam. Suara petir di luar mengguncang kaca, membuat tetesan air di atas meja bergetar kecil. Hanya aku, Satsuki, Reine, Shuna, dan Shino yang mengetahui bahwa dunia ini adalah dunia permainan. 

Namun, ada pihak ketiga yang menyebutkan hal itu tanpa peringatan, seolah-olah itu adalah hal yang biasa. Sensasi dingin mulai merayapi tulang punggungku. Pinggiran pandanganku mulai kabur. 

“Meski aku cuma heroine yang kalah, sih~

Hibise berbisik dengan nada datar seolah-olah tidak ada yang istimewa. 

Dulu, aku tidak bisa merasakan perasaan cinta apapun terhadap Sano Yuuto. 

Suaranya terdengar anehnya lembut, dan masih terngiang di telingaku. Senyum tipisnya terpantu; di permukaan kopi. Hibise mengambil jelly dengan sendok dan membawanya ke mulut. Saat dia kembali menempelkan bibirnya pada kopi, senyumnya terlihat tipis. 

──Gadis Elok Empat Arah. Saionji Satsuki, Kitagawa Rein, Nanjo Shuna, dan Shinonome Shino── keempat orang ini selalu menjadi pusat perhatian, kan? Mereka adalah sosok yang kita kagumi. 

Dia tersenyum nostalgia

Dan mereka semua dimiliki oleh Sano Yuuto. Ia benar-benar hebat ya~.

Ya…… 

Aku kehilangan kata-kata. Seolah-olah sebuah video dari masa lalu diputar secara otomatis, dan kenangan pahit saat itu kembali membanjiri pikiranku. Semua itu dirampas oleh orang bodoh yang bernama Sano Yuuto. 

Tapi, yang paling mengejutkan justru kenyataan bahwa posisi Sano Yuuto diambil oleh Satoshi-senpai. Apa yang sebenarnya terjadi?

Ah, yah, ada banyak hal yang terjadi…… 

“Hmm~.

Dia mengarahkan tatapan seolah-olah sedang menyelidiki. 

──Aku ikutan senang melihat Satoshi-senpai tampaknya membuahkan hasil. 

“?Terima kasih.

Tidak masalah~. 

Meskipun cara bicaranya sedikit aneh, tapi hal itu segera disembunyikan oleh senyuman Hibise. Aku meminum es kopiku. Karena tidak ada gula atau sirup, rasanya pahit, tetapi cukup baik untuk mendinginkan otak yang panas. 

Fyuh……

Sambil menatap gelas, aku berusaha keras mengingat tujuan dari percakapan ini── alasanku berada di sini dengan Hibise. 

……Jadi, apa maksudmu ingin mengetahui tentang Sano?

Aku meletakkan kopiku dan langsung bertanya. 

Jika Hibise adalah heroine yang kelima, aku bisa memahami kenapa kamu menyukai Sano, tapi…… 

Tidak, tidak, mana mungkin aku menyukai pria seperti itu! mustahil! Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Satsuki-senpai dan yang lainnya suka pada pria semacam itu!

“Memangnya itu hal yang pantas diucapkan karena statusmu sebagai heroine di LoD…… 

Hibise benar-benar terlihat jijik dan mengerutkan wajahnya, menggerakkan kedua tangannya dengan semangat. Gelombang kecil muncul di permukaan kopi karena gerakannya. 

Di masa SMA, aku hanya sebatas kenalan dan cuma berbicara sesekali dengan Sano Yuuto. 

Dia mengatakannya seolah itu hal biasa dan mengangkat bahunya. 

“Kami bertemu lagi saat aku mengunjungi acara kampus terbuka dan saat itu kami berbicara banyak──

Dia terdiam sejenak. 

……Dan ia menjadi penguntit. 

Apa maksudnya?

Suara yang keluar secara spontan dari mulutku membuat Hibise mengembungkan pipinya. 

“Seharusnya aku yag bertanya begitu! Hal itu benar-benar berdampak buruk pada kesehatan mentalku daripada ujian masuk, tau?!

Suara dentuman kering menggema di seluruh kafe

Setiap hari, ia mengirimkan puisi menjijikkan dan cerita narsis tentang dirinya! Sementara aku sama sekali tidak tertarik padanya! Karena betapa menjijikkannya, aku takut untuk memblokirnya! Siapa tahu apa yang akan ia lakukan jika aku membuatnya marah?!

Te-Tenanglah dulu.

“Ah, maaf.

Seolah-olah baru menyadari perbuatannya, Hibise mengendurkan semua ketegangannya dan duduk dengan santai di kursi. 

Meski aku tidak memedulikannya, tapi apa yang sedang direncanakan Sano…… 

Ya, berkat itu, ada banyak hal yang terjadi……, tapi itu tidak masalah.

Hibise memperbaiki posisinya. Suasana ringan yang sebelumnya hilang, dan suasana di sekitarnya berubah. Aku pun ikut terpengaruh dan meluruskan punggungku

“Mulai sekarang aku akan langsung ke topik pembicaraan kita.

Tatapannya menusuk langsung ke mataku. 

Sano Yuuto telah keluar dari universitas, kan?

Eh? Benarkah? 

Aku secara refleks langsung menjawabnya

Karena kita berada di fakultas yang sama, jadi setidaknya kamu harus menunjukkan sedikit minat, kan…… 

Aku tidak bisa membantah itu……

Sejak memasuki masa tahun kedua, aku memang belum melihat Sano. Waktu yang kuhabiskan bersama Satsuki dan yang lainnya terlalu menyenangkan, jujur saja, aku sudah melupakan keberadaannya sepenuhnya. Terakhir kali kami berbicara ialah saat ia bertengkar denganku di awal-awal semester

Meskipun aku kadang-kadang melihatnya selama perkuliahan, Sano selalu sendirian. Dirinya duduk tenang di kursi dekat jendela, mengikuti pelajaran dengan patuh. 

──Tapi, itu hanya di permukaan saja.

Di permukaan?

Ya.

Sekilas, lampu di dalam jafe bergetar lembut. Cahaya yang memantul di tepi gelas menerangi wajah Hibise dengan cahaya kebiruan. 

──Keberadaannya hilang dan tidak diketahui.

Bersamaan dengan suara guntur, lampu padam, dan sekelilingnya terbenam dalam kegelapan. 

Detik berikutnya, cahaya lampu kembali menyala

Eh? Sano menghilang?

Ya. 

Mataku terbuka lebar tak mempercayai ucapan Hibise. Aku kesulitan untuk memahami derasnya informasi yang kudapat

Kurasa Satsuki-senpai, teman masa kecil Sano Yuuto, mengetahui tentang itu, tapi sepertinya dia belum memberi tahu Satoshi-senpai ya~. 

Ya…… Jika Hibise tidak memberitahuku tentang Sano, aku juga takkan mengingatnya. 

Mengingat kepribadian Satsuki-senpai, kurasa dia tidak akan repot-repot memberitahu Satoshi-senpai tentang Sano Yuuto. 

……Itu benar.

Ada sedikit nuansa ketidaknyamanan dalam cara Hibise berbicara seolah-olah dia sudah lama mengenal Satsuki. 

Aku sebenarnya ingin bertanya kepada Sano Yuuto, tetapi aku tidak bisa menghubunginya, dan aku tidak tahu di mana keberadaannya, jadi jujur saja, aku kesulitan. Seriusan…… saat tidak ada urusan, dia menghubungiku tanpa henti, tetapi saat aku membutuhkannya, ia malah menghilang. Cih. 

Nada bicaranya bercanda. Namun, ada kejujuran yang tersembunyi di balik desahan dan suara mendengusnya. 

……Aku ingin sekali membantu, tetapi yang aku tahu tentang Sano hanya dari dalam LoD. Aku tidak tahu apa-apa tentang kehidupannya setelah menjadi mahasiswa.

Saat itulah, Hibise perlahan mengeluarkan ponselnya. Dia meletakkannya di atas meja, mengarahkannya secara horizontal, dan menggeser layarnya ke arahku. 

"Seharusnya ini bukan hal yang perlu kuminta kepada Satoshi-senpai, tapi…… aku tidak dalam situasi yang bisa pilih-pilih sekarang.” 

Itu adalah── video. 

“Apa ini── eh?

Video itu menunjukkan aku dan empat orang lainnya tampak saling berpelukan, terengah-engah, dan dalam keadaan berantakan. Suara dari speaker ponsel mengalirkan desahan manis dan suara kulit yang bergesekan. 

“Ka-Kamarku……?

Jantungku mulai berdetak semakin cepat. 

Satu di loteng. Satu di kamar. Satu di kamar mandi Tiga video muncul di layar ponsel. Aku dengan panik terus menggulir layar dengan cepat sembari menahan napas. 

Setiap hari. 

Setiap hari. 

Setiap hari. Setiap hari. Setiap hari. Setiap hari. Setiap hari──. 

Semua kehidupan kami ada di sana. 

“Oi……! Ap-Apaan ini……?

Jari-jemariku bergetar dan aku hampir menjatuhkan ponsel Hibise. Di sudut pandangku, permukaan kopi bergetar sedikit. Aku merasa seolah-olah bisa mendengar suara darah mendidih di dalam kepalaku

Tunggu dulu sebentar!

Hibise segera mencondongkan badannya ke depan dengan panik

“Bukan aku yang memasang kamera pengintai ini! Itu Sano, Sano Yuuto!

“Haa? 

Suara yang keluar dari tenggorokanku lebih menunjukkan penolakkan untuk memahami daripada marah. 

“Aku sudah pernah memberitahumu kalau aku mendapatkan pesan yang obsesif setiap hari, kan? Saat itu, video juga dilampirkan. Ia bilang, ‘Karena kita komplotan, aku akan membagikan rekaman videonya juga…… 

“Komplotan……?

Aku juga sama sekali tidak tahu tentang itu! Aku sama sekali tidak tertarik, dan sudah menolak, tapi ia terus mengirimkannya kepadaku melalui berbagi layar!

Dasar, brengsek……!

Aku hampir memukul meja, tapi aku berhasil menahan diri dengan mengepalkan tinjuku erat-erat. Kukuku menekan telapak tanganku, dan rasa sakit menjalar. Setelah merasa tenang, aku merasa mual mengetahui si bajingan itu melakukan hal yang begitu menjijikkan.  

Jika video ini sampai bocor ke internet──. 

Dadaku bergetar, dan perutku terasa mual

Tolong, tenangkan dirimu.

Suara Hibise yang ringan malah terdengar mengganggu. 

Bagaimana mungkin aku bisa tenang! Kamarku sedang direkam secara diam-diam!?” teriakku dengan suara bergetar

Ketika aku menyadari kesalahanku, semua tatapan di sekitar tertuju padaku. Aku menahan napas dan segera menutup mulut. Suara detak jantungku terdengar dengan sangat keras. 

Setelah menghela napas, aku perlahan-lahan kembali duduk di kursi. Telapak tanganku basah oleh keringat, namun getaran jari-jariku tidak berhenti karena kemarahan. 

Aku mengerti perasaanmu. Jika kamu menangkapnya, seharusnya kamu bisa melapor ke polisi. ──Tapi, aku ingin kamu mendengarkan kelanjutannya.

Apa maksudmu……

Tenggorokanku terasa sakit seperti terbakar. Demi menahan dorongan untuk berteriak, aku mencubit paha dengan kuat. Kuku menekan kulit, dan rasa sakit menjalar. Dengan rasa sakit itu untuk mengalihkan perhatian, aku mengambil gelas dan meneguk kopi. 

Pahit. 

Rasanya masih sama seperti sebelumnya, tetapi sekarang rasanya seakan menusuk hingga ke dalam perut. Hibise melihatku tanpa mengubah ekspresinya. 

“Coba perhatikan video hari terakhir. 

Ibu jariku secara alami menggulir layar. 

Hari terakhir. 

Di sudut kanan atas layar terdapat tanggal── setahun setelah upacara kelulusan SMA. 

Sekarang setelah kupikir-pikir lagi──. 

Pada hari itu, Satsuki mengalahkan ketiga orang lainnya dan pergi bersamaku untuk memperingati hari jadian kami. Dia mengambil lenganku sambil tersenyum malu-malu

Ketiga orang lainnya sedikit cemburu malam itu. Kenangan yang hangat dan nostalgia

Video itu menunjukkan kamarku. Reine, Shuna, dan Shino sedang berbincang santai

[Haa, Satsuki-san memang cepat bertindak hanya pada saat-saat seperti ini,] 

ucap Shino sambil tersenyum masam. Meskipun nada suaranya sopan, ada sedikit nada ketidakpuasan yang terlihat. 

[Menyerahkan persiapan kepada kami dan pergi begitu saja... apa yang harus kulakukan?] ucap Reine dengan menyilangkan kakinya dan menghela napas

[Yah, memang begitulah sifat Satsuki-chan~.]  Suara Shuna yang berakhir panjang terdengar sangat ceria. 

[Tapi, kita harus mengadakan perayaan Satoshi-san dengan benar.] 

Shino melanjutkan dengan santai. 

[Untuk sekarang, mari kita pergi berbelanja. Satsuki-san akan mendapatkan teguran yang layak nanti.] 

Shino berdiri dan merapikan ujung roknya dengan lembut. Pada detik berikutnya, Reine tersenyum nakal. 

[Aku penasaran, hukuman apa yang harus kita berikan padanya karena menyelinap pergi?]

[Hehe~ itu akan menjadi topik diskusi selanjutnya dalam Pertemuan Empat Arah ~.] 

Shuna mengatakannya dengan nada riang, dan mereka bertiga saling bertukar pandang dan tersenyum. Reine dan yang lainnya mulai berjalan menuju pintu masuk. Aku melihat itu dan berusaha mempercepat video sampai mereka kembali. 

Pada saat itulah.... 

[──Ah iya, benar juga. Aku hampir lupa.]

Suara Reine mengubah suasana dengan cepat. Meskipun seharusnya dalam nada ringan, tapi begitu aku mendengarnya, sesuatu yang dingin menjalar di punggungku. 

Mereka bertiga berhenti secara bersamaan di dalam layar. Saat mereka menghilang dari ruangan, Shino muncul di kamar mandi. Di dalam ruangan, Shuna menghentikan tangannya yang menutup tirai dan melihat ke arahku. 

Setelah menyelesaikan menaiki tangga ke loteng, Reine perlahan-lahan mengarahkan wajahnya ke kamera. 

──Tatapan mata kami bertemu. 

Shino, Shuna, Reine. 

Tak satu pun dari mereka berkedip. 

Mereka bertiga hanya menatap lurus dengan tatapan mata dingin seolah-olah menembus ke sisi layar. 

Apa-apaan dengan tatapan mereka ini? 

......Tatapan mereka sangat mirip dengan tatapan Satsuki saat ia melukai Sano di kampus──. 

[──Menghilanglah, dasar sampah.] 

Makian sombong yang dirancang dengan sempurna.  Seolah-olah pisau tajam yang dingin telah mengambil bentuk kata-kata dan terbang menyerang

[Akhirnya…… hari ini telah tiba.] 

Nada suaranya tenang dan sopan. 

Namun, di balik itu tersembunyi penghinaan yang penuh keyakinan. 

[──Aku akan mendengarkan pendapatmu nanti di akhir~.] 

Senyum mereka yang muncul di kegelapan itu tampak seperti senyum iblis.

Reine mengulurkan tangannya ke dalam loteng. 

Shuna berjongkok di balik sofa. 

Shino menyelipkan tangannya di belakang cermin. 

Sssingg……. 

Suara kering meledak. 

Gambar bergetar sejenak. 

Ujung jari yang tampak kabur, rambut yang berantakan dalam kebisingan, dan garis senyum terputus. 

Cahaya tiba-tiba muncul, dan kegelapan menyelimuti segalanya. 

Teks putih mulai memudar di tengah monitor. 

──R E S E T 

 

Apa-apaan ini……?

Tenggorokanku terasa kering. Tanganku terus gemetar tanpa menunjukkan tanda-tanda berhenti

Kami telah diam-diam direkam oleh kamera pengintai. Hanya kenyataan itu saja sudah cukup untuk membuatku mual, tapi kemudian ada rekaman terakhir. 

Ketiganya tahu mengenai keberadaan kamera pengintai itu. Dan mereka mengarahkan niat membunuh kepada seseorang di balik layar. 

Seseorang yang tak perlu disebutkan. 

──Sano Yuuto

Perutku terasa menegang. Keringat dingin mengalir di punggungku dan menempel di kaos. 

──Setelah video ini, keberadaan Sano Yuuto menghilang. 

Aku mendengar bunyi dentingan sendok yang bergetar di tepi cangkir, musik latar di dalam toko terdengar anehnya jelas. Kemudian, aku diperlihatkan percakapan pesan LINE antara Hibise dan Sano. 

Pesan Hibise sejak 14 Maret tidak pernah terbaca. 

“Biar kukatakan dengan jelas. Aku meyakini bahwa keempat orang itu terlibat dalam hilangnya Sano Yuuto. 

“!!!!

Aku menggigit bibirku. Aku bsia merasakan darah di mulutku. Aku ingin berteriak bahwa itu tidak mungkin benar. Namun, kata-kata penyangkalan tidak bisa keluar dari tenggorokanku. 

Rekaman video dari kamera pengintai. Tatapan ketiga orang itu. Keyakinan bahwa mereka tahu. Alasan mengapa mereka membiarkan keberadaan kamera pengintai meski mengetahuimua

Aku merasakan niat yang disengaja, seolah-olah semuanya terhubung oleh satu benang. Keringat dingin mengalir di leherku, perlahan-lahan menetes ke punggungku. 

……Lalu, apa yang kamu inginkan dariku?

Akhirnya, suara yang terpaksa keluar terdengar serak. 

Aku ingin kamu membantuku mencari Sano Yuuto. 

Tidak ada keraguan dalam kata-kata Hibise. 

“Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku sadar bahwa aku adalah heroine kelima. Namun, aku belum pernah terlibat dalam LoD.

Hibise menatapku dengan jelas dan melanjutkan. 

Aku ingin memahami apa sebenarnya dunia ini. Aku ingin memahami siapa sebenarnya Harusora Hibise── aku ingin tahu.

Kemudian, dia melirik dan tersenyum padaku. 

Satoshi-senpai. Meskipun kita berdua mempunyai tujuan berbeda, kita pasti memiliki kepentingan yang sama dalam mencari Sano Yuuto, kan? 

Dan kemudian, dia mengulurkan tangan kanannya. 

……Bukannya kamu ingin memukulnya setidaknya sekali? 

Tangan kananku yang sebelumnya tidak bergerak karena kecelakaan kini terasa berenergi. 

Kalau begitu── apa kita berdua sepakat?

……Ya, senang bekerja sama denganmu.

Ya.

Aku menggenggam tangannya kembali.

 

──Hei, apa yang sebenarnya kalian pikirkan……?

 

◇◇◇◇

 

“Begonya aku menyerahkan hal ini kepada Hibise……! 

“Perkataanmu nyelekit banget, Satoshi-senpai! Hanya karena sekang hari libur, bukannya berarti tidak ada orang di sini! 

“Meski begitu, mana mungkin kita bisa menerobos masuk tanpa izin ke dalam sekolah?! 

Sesampainya di sekolah SMA tempat kami pernah bersekolah, gerbangnya tertutup rapat. Setelah memeriksanya, ternyata hari ini adalah hari libur. Bahkan tidak ada guru di sini. 

Keliling halaman yang luas itu sepenuhnya dikelilingi oleh jaring pelindung hijau. Kurasa itu wajar saja karena demi melindungi para siswa dari bahaya di luar. 

──Karena jika ada penyusup seperti kami, itu akan menjadi masalah besar. 

“Jaring pengaman sekolah kita juga tidak lebih baik, ya~. Tidak di sanagka ada lubang seperti ini di sini.

Hibise menunjuk ke arah sebuah lubang yang terbuka lebar di bagian bawah jaring. Bingkai logamnya melengkung, dan ujung kawatnya berkarat. Ukurannya cukup besar untuk dilalui satu orang. 

……Jangan-jangan, kedatanganmu ke sekolah bulan lalu adalah untuk membuka lubang ini? 

“Bahkan orang yang seperti diriku juga tidak bisa melakukan kejahatan~. Lubang ini sudah ada sejak aku masih jadi siswa. Ada anak-anak yang menyelinap keluar karena mereka membenci lari jarak jauh. 

Hibise mengatakannya sambil tersenyum, dengan campuran rasa nostalgia dan nakal di wajahnya. 

“Aku memeriksanya saat bulan lalu, dan bersyukur karena lubangnya masih ada.

Setelah hari ini selesai, aku akan menghubungi pihak sekolah sebagai alumni. 

Baiklah── ayo ikuti aku, Holmes-kun. 

“Bukankah seharusnya Watson.

Meskipun begitu, pandanganku secara alami tertarik pada gerakan Hibise. Dia berjongkok di depan jaring pelindung, menggeser jaring dengan tangannya, lalu meluncurkan tubuhnya ke dalam. 

Uhmm, masuk……" 

Hembsan angin bertiup, dan pepohonan di sekitar berdesir

──Meski aku enggak memedulikannya, tapi itu kelihatan jelas loh…… 

Gaun model bahu terbukanya yang berwarna merah melambai lembut, memperlihatkan garis bahu dan punggungnya. Kain lembutnya memantulkan cahaya, menonjolkan kulitnya yang putih. 

Ah. 

Saat dia tidak sengaja keceplosan, angin kembali bertiup lagi. Ujung gaunnya berkibar, dan kakinya terlihat dengan jelas. 

──Lihat, bukannya kusudah bilang. Ini benar-benar terlihat…… 

Kamu berharap bisa melihatnya, ya~? 

Hibise menoleh dengan menatapku dengan pandangan mata yang nakal. 

Eh? 

Ujung gaunnya berayun lagi, dan celana pendek hitamnya terlihat sekilas. Merah dan hitam, serta kulitnya yang putih. Kontras itu anehnya membekas di mataku. 

Sayang sekali! Ini adalah salah satu fashion yang disebut skapan. Jika ingin melihat lebih dalam, itu akan menjadi kesenangan setelah kita jadi pacar── 

“Cepetan lewat sana.

“Aduh! Aduh! Jangan tendang pantatku! 

Aku melepas sepatu dan mendorong pantat Hibise, dan meskipun dia terhuyung, dia berhasil melewati jaring. 

Aku juga mengikuti dan membungkuk, merayap di bawah kawat. Pasir menempel di lututku, dan celanaku sedikit kotor. Setelah mengusapnya dengan tangan dan mengangkat wajahku, di hadapanku terbentang halaman sekolah yang sudah lama tidak kulihat. Dalam keheningan, ada rasa berdebar aneh yang muncul dalam diriku

Saat keluar ke belakang lapangan, aku melihat pagar pelindung hijau yang tinggi untuk tim bisbol. Di sisi pagar, trek atletik melingkar membentang. Garis putih yang ditarik dengan kapur memantulkan cahaya sore dengan cerah. 

Kami melintasi lapangan dengan hati-hati agar tidak menginjak garis tersebut. 

Pekerjaan seperti ini adalah tugas untuk siswa tahun pertama. Meskipun aku tidak punya pengalaman di klub olahraga, aku pernah melihat beberapa kali ketika garisnya bengkok atau ketebalan warnanya tidak merata, para senior atau guru akan berteriak. 

“Diam-diam menyelinap masuk ke dalam sekolah yang sepi rasanya cukup menyenangkan, ya~.

……Tapi agak menakutkan juga sih.

Suara Hibise berpadu dengan hembusan angin. Seharusnya para guru sedang berkeliling, tetapi kini tidak ada seorang pun. Jendela gedung sekolah tertutup, dan cahaya yang dipantulkan memantul kembali seperti cermin ke arah kami. 

Angin bertiup mengenai dinding dan pagar, sesekali mengeluarkan suara rendah seperti geraman. Di lapangan yang terlalu luas ini, hanya ada kami berdua. Rasanya seperti berada di taman kecil yang terpisah dari kenyataan. 

Bagaimana caranya kita masuk ke gedung sekolah?

Tingkat kesulitan untuk masuk ke area dan masuk ke dalam gedung sangat berbeda. 

Ada satu area yang terbuka di suatu tempat, katanya sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya

Rencana yang setengah-setengah banget…… 

Bangunan sekolah ini luas, iya ‘kan? Satu atau dua pintu tertinggal terbuka itu hal biasa. Lagipula, mereka adalah junior kita~. 

Itu juga benar…… tunggu sebentar. Jangan libatkan aku dalam hal ini. 

Bagaimanapun juga, aku merasa sangat tidak nyaman jika disamakan dengan Hibise. 

Aku berkeliling ke belakang gedung sekolah. Aku berpikir pasti pintu depan terkunci, jadi aku mencari pintu belakang. Permukaan beton terasa hangat oleh sinar matahari, panas terasa menyebar dari sol sepatuku. Angin bertiup, dan pagar bergetar lagi. 

Ketika Hibise menarik pegangan pintu geser, pintu itu sedikit berderit saat dibuka. 

“Lihat nih!

Senyum bangganya saat dia berbalik membuatku terpesona. 

“Ada banyak sekali orang yang mengecewakan di level yang sama dengan Hibise…… Hasil penerimaan tahun ini sangat mengecewakan…… 

Apa maksudnya itu!?

Aku menghela napas kecil dan mengikuti di belakangnya. Di luar, sinar matahari terasa menyengat, membuat kulitku seolah terbakar, sementara di dalam, karena tidak ada sinar matahari secara langsung, suasananya agak gelap dan terasa sedikit lembab. 

Kebisingan di luar semakin jauh, dan hanya suara langkah kaki kami yang bergema di koridor. 

Saat aku memutar keran air, air hangat keluar bersamaan dengan suara logam. Aku meneguknya untuk melembapkan tenggorokan. Meskipun tidak dingin, rasanya anehnya sangat familiar. Hibise juga mencuci tangannya di sampingku sambil tersenyum. 

Deretan loker berjejer rapi di koridor. Di atasnya terdapat barang-barang pribadi yang ditumpuk secara acak. 

Baju olahraga yang dilipat, kotak makan siang yang terlupakan, botol minum yang hanya tersisa setengah, poster idola, majalah bintang K-Pop, dan Jump edisi dua minggu lalu. Bahkan, ada kotak figur yang tampaknya dibiarkan. 

Tempat ini tidak berubah sema sekali ya…… 

“Bener banget~.

Kami berdua bertukar pandang dan tidak bisa menahan senyum kecut. Karena nilai kami sama, mungkin kekacauan ini juga mirip. Rasanya seperti melihat kembali masa-masa SMA kami, sedikit memalukan. 

Mari kita masuk ke dalam kelas!

“Oi, tunggu! 

Hibise berkata demikian dan mulai berjalan ke ujung koridor. Tangannya terlipat di belakang punggungnya, rambut pirangnya bergoyang lembut.

Cahaya sore hari menerobos masuk melalui jendela, menciptakan bayangan panjang di wajah Hibise. Sosoknya menghilang ke dalam ruang kelas. 

Ketika aku mengikutinya masuk, Hibise sudah duduk di kursi dekat jendela.

Hibise membuka sedikit jendela dengan sembarangan dan bersandar pada tangan sambil memandang ke luar. Angin yang masuk menggerakkan tirai, dan cahaya memantul pada rambut pirangnya. 

Aku juga duduk di samping Hibise dan melihat sekeliling kelas. 

“Aku tidak menyadari kalau ruang kelas ini ternyata sekecil ini ya.

“Itu artinya kita sudah dewasa, ya ‘kan?” 

“Kurasa itu benar juga. 

Apa kamu berpikir, 'Hibise juga sudah tumbuhd ewasa, ya slurpp'? Dasar Senpai mesum” 

Heh.” 

“Apa kamu baru saja mendengus!?!

Sambil mengabaikan lelucon Hibise, aku perlahan-lahan bersandar pada kursi. Sensasi nostalgia terasa di bokong dan punggungku. 

──Ngomong-ngomong, apa kamu pernah berharap ingin kembali menjadi siswa SMA, Senpai?

Dia bertanya dengan nada ringan sambil menyandarkan dagunya di tangan. Akan tetapi, suaranya terdengar agak hati-hati, seolah-olah mencari jawaban dariku. 

Tidak sama sekali. Satsuki dan yang lainnya tidak ada di sini. 

“Tolong jangan memamerkan kemesraan kalian di sini juga……

Hibise menundukkan kepala dan menghela napas pelan. 

Sore bulan Juli yang segera memasuki liburan musim panas. Angin panas mengalir masuk melalui jendela yang terbuka, perlahan-lahan menggoyangkan tirai. Aroma kayu tua yang melekat pada meja dan kursi, kenangan yang menghangatkan. 

Serbuk kapur yang tersisa di papan tulis. Dinding luar gedung sekolah yang tampak putih kabur terkena sinar matahari. Rasa nostalgia yang sedikit berbeda. 

Ada sesuatu yang tidak bisa diingat namun terasa dekat. 

Aku menarik napas dalam-dalam.

 

──Mungkin sudah saatnya berhenti berpura-pura.

 

……Hei, Hibise.

Ya?

──Kenapa kamu berpura-pura menjadi heroine yang kelima dan mendekatiku?

Saat kata-kata terlontar dari mulutku, angin kencang bertiup masuk. Tirai melambai besar dan menghantam bingkai jendela, menghasilkan suara kering yang menggema di kelas. 

──Kejam banget~. Aku benar-benar heroine yang kelima, loh? 

Hibise mengembungkan pipinya dan memprotes dengan sikap dramatis

Itu sama sekali tidak benar.

──

Hibise seketika terdiam saat aku mengatakannya dengan tegas. 

Saat pertama kali bertemu denganku, Hibise pasti sudah mengetahui tentang konten LoD dan mendekatiku dengan pengetahuan itu.

Pendekatannya cukup Sempurna. Itulah sebabnya, aku sempat mempercayai── bahwa ada heroine kelima. 

Tapi. 

──Aku sudah memainkan LoD sampai bosan di kehidupan sebelumnya.

Satu-satunya hal yang bisa kubanggakan dalam hidupku yang biasa-biasa saja.

CG-nya, teksnya, semuanya. 

Cabang-cabang akhir ceritanya, perbedaan halus dalam dialognya.

Aku memainkannya berulang-ulang sampai aku menghafal semuanya. 

Awal mula dari LoD── aku sudah melihat upacara penerimaan kalian berkali-kali. Saking banyaknya sampai-sampai aku bisa mengingat wajah-wajah karakter sampingan. 

──

Hibise tidak berkata apa-apa. Hanya menatapku tanpa ekspresi. 

Sudah cukup, kan? 

Aku melangkah maju. 

“Harusora Hibise── adalah karakter mob. 

Begitu aku mengatakannya, suasana di dalam ruang kelas terasa sedikit mendingin. Alasan mengapa aku tidak segera mengenali penampilannya sangat sederhana. 

Debut penampilan di universitas. Warna rambut, pakaian, dan suasananya berubah seperti orang lain. 

……Satoshi-senpai memang hebat ya.

Hibise menghela napas kecil seolah-olah sudah menyerah. Kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan mengangkatnya di depanku. Gambar yang ditampilkan adalah── CG pertama dari LoD

Ketika Hibise memperbesar layar dengan jarinya, di sana ada seorang gadis berkacamata dengan rambut yang sulit disebut pirang, sedikit kecokelatan, dan diikat. 

Seorang siswi baru yang sederhana dan tidak mencolok, tipe gadis yang paling cocok dengan deskripsi gadis sastra

...... Mau dilihat bagaimanapun juga, dia sudah terlalu banyak berubah. 

Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu menyadarinya?

Dia bertanya dengan nada ringan seolah melanjutkan obrolan. 

Saat akita pergi ke acara jabat tangan. 

“Uwahh, kamu sudah menyadarinya cukup cepat…… Seharusnya kamu bilang saja padaku.

Hibise mengembungkan pipinya dan mengungkapkan ketidakpuasan. Jika hanya melihat gerakannya, itu terlihat seperti lelucon. Namun, akulah yang ingin menghela napas. 

──Karena Hibise menyembunyikan sesuatu.

Eh?”

Jika seandainya Harusora Hibise hanyalah seorang mob── aku juga tidak akan mengambil jalan memutar sejauh ini. 

Begitu aku menyadari identitasnya, aku bisa saja menjauhkan diri dan semuanya akan berakhir. 

Ketika aku menyadari bahwa Hibise hanyakah karakter mob, ada satu pertanyaan yang terus menghantui kepalaku. 

Aku tidak mengalihkan pandangan. 

“Harusora Hibise merupakan karakter dari LoD, tapi…… kenapa dia bisa menyadari bahwa dunia ini adalah LoD?

Aku ingin kalian membayangkannya

Jika suatu hari, dunia yang kamu tinggali ternyata hanyalah dunia permainan. Kamu adalah karakter sampingan. Kamu adalah protagonis. Kamu adalah heroine yang berpasangan dengan protagonis. Kamu adalah antagonis. Kamu adalah raja iblis. 

Begitu kehidupanmu dibagi dengan penjelasan seperti itu. 

Bisakah kamu menertawainya

Bisakah kamu menerimanya? 

.....Mustahil. 

Jika kamu benar-benar mempercayainya, entah itu akal sehat atau mentalmu pasti telah rusak. Bisa-bisa kamu bahkan harus dirawat paksa di rumah sakit jiwa

Itu adalah reaksi yang wajar. Tidak ada yang aneh dengan hal itu. Satsuki dan yang lainnya adalah pengecualian dari pengecualian. 

Karena aku, yang merupakan reinkarnator, meninggalkan bom waktu berupa Buku Harian, sehingga mereka mengetahui kebenaran dunia ini. Namun, jika mereka bukan pihak yang terlibat, buku harian itu hanya mirip seperti catatan pengamatan kepuasan diri dari seorang penguntit jahat. 

Jika orang yang membacanya berbeda, mungkin aku sekarang dilindungi dengan cara yang berbeda. 

Satu-satunya orang yang mungkin menyadari bahwa dunia ini adalah dunia permainan──. 

Apa Senpai mengira kalau aku adalah reinkarnator?

Suara Hibise dengan tenang menyela. 

Seolah-olah dia bisa mengintip pikiranku dari dalam. 

Benar……

Tidak ada ruang untuk membantah atau menutupinya

──Hanya saja. 

“Kamu salah……

Eh?

Suara tanggapanku terdengar pendek dan penuh kebingungan

Saat aku kembali duduk di kursi, kursi itu berderit. Sampai pad atitik tertentu, aku benar-benar mengira kalau Hibise adalah seorang reinkarnator. 

Bahkan sekarang aku berharap dia mengatakannya begitu. 

Aku menundukkan pandanganku dan meraih tasku

Jari-jariku meraba sesuatu yang keras di bagian bawah. 

Sesuatu yang tajam. Sekumpulan kertas. Berat yang familiar. 

Sesuatu di dalam dadaku terasa dingin.

 

──Mungkin Satsuki dan yang lainnya merasakan hal yang sama saat mereka mengungkapkan perasaan mereka padaku……

 

Aku mempererat genggamanku

Lalu, aku menariknya keluar dari tas. 

Saat itu, mata Hibise melebar

Mata birunya yang seperti langit, tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi terdiam. 

Itu……!

Hibise tidak bisa menyembunyikan emosinya dan suaranya keluar. 

Seolah-olah Hibise yang telah melakukan perjalanan panjang──Buku Harianmilik Hibise.

……Kamu ini benar-benar jahat ya, Senpai.

Hibise menghela napas kecil. 

Dia tidak terlihat marah atau menyalahkanku

Hanya saja, suaranya terdengar seolah-olah dia sudah pasrah. 

Aku adalah orang yang licik.

……Aku tidak pernah mengetahuinya.

Dia menanggapi sambil tersenyum. 

Namun, senyumannya terasa lemah. 

……Sejak kapan?

Saat kamu membaca novel 'reinkarnasi'. 

Begitu Hibise meninggalkan tempat duduknya, aku mulai mengacak-acak tasnya. Karena ada kemungkinan Satsuki dan yang lainnya terlibat, aku tidak bisa pilih-pilih soal cara. 

Namun, aku tidak ingin mengetahui fakta tersebut──. 

“Jadi begitu ya~~. 

Hibise bergumam lemah. 

Isinya──

……Tentu saja, aku sudah membacanya. 

Begitu ya~. Begitu ya……

Suara Hibise semakin melemah. 

……Jadi, kamu sudah mengetahuinya.

……Ya.

Satu-satunya cara bagi penduduk dunia ini untuk mengetahui bahwa dunia ini adalah LoD adalah dengan bertanya langsung kepadaku, seorang reinkarnator. 

Satsuki dan yang lainnya mengetahui rahasia itu setelah membaca Buku Harian-ku. 

Lalu, bagaimana dengan Hibise──? 

Senyuman sedih yang kadang-kadang dia tunjukkan. 

Tatapan seolah-olah memohon sesuatu. 

Kenangan-kenangan yang tersebar itu terhubung menjadi satu garis lurus dalam pikiranku. 

──Hibise selalu berada di sampingku.

Hibise tetap diam. 

Seolah-olah itu adalah jawaban yang benar. 

Mungkin aku merasa terlalu sombong di suatu titik

Kupikir akulah satu-satunya yang tahu kebenaran, satu-satunya yang menyelamatkan Satsuki dan yang lainnya, dan satu-satunya yang menghancurkan skenario LoD

Satsuki dan yang lainnya mengetahui tindakanku secara tidak langsung. 

Namun, tidak ada yang benar-benar tahu tentang diriku saat itu. 

Sebuah pemikiran yang sangat sombong dan angkuh

Kenapa aku tidak menyadari kemungkinan ini…… 

Mengapa aku berpikir bahwa hanya aku yang merasakan penderitaan yang bisa dilupakan. 

Tenggorokanku terasa perih. 

 

Aku──telah melupakanmu……"

 

Hibise adalah 'korban dari kekuatan pengoreksian dunia'.






Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama